Anda di halaman 1dari 37

1

LAPORAN KEGIATAN
KERJA LAPANGAN

PEMANFAATAN KEDELAI (Glycine max L.) SEBAGAI BREAK CROP DALAM
UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TEBU (Saccharum officinarum L.)
DI PT. GULA PUTIH MATARAM, SUGAR GROUP COMPANIES






OLEH
RIVANDI PRANANDITA PUTRA
10/304773/PN/12175





PROGRAM STUDI AGRONOMI
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2

2012
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN KERJA LAPANGAN SEMESTER II
TAHUN AKADEMIK 2012/2013

PEMANFAATAN KEDELAI (Glycine max L.) SEBAGAI BREAK CROP DALAM
UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TEBU (Saccharum officinarum L.) DI
PT. GULA PUTIH MATARAM, SUGAR GROUP COMPANIES

DISUSUN OLEH:
RIVANDI PRANANDITA PUTRA
10/304773/PN/12175

disetujui untuk disahkan

Dosen Pembimbing


Eka Tarwaca Susila Putra, S.P., Ph.D.


Komisi Kerja Lapangan


Ir. Sri Muhartini, S.U.


Ketua Jurusan Budidaya Pertanian


Dr. Ir. Taryono

Tanda tangan





Tanda tangan





Tanda tangan



Tanggal





Tanggal





Tanggal
3


ABSTRAKSI
Hingga saat ini, tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan salah satu komoditas
penting di Indonesia. Hal ini karena komoditas ini menghasilkan gula yang banyak dikonsumsi
manusia. Salah satu perusahaan penghasil gula terbesar di Indonesia adalah Sugar Group
Companies (SGC) yang terletak di Lampung. Perusahaan ini merupakan perusahaan terkemuka
penyumbang produksi gula terbesar skala nasional. Sistem pertanaman tebu yang digunakan
adalah monokultur. Jika sistem ini dilakukan secara kontinu, maka hal ini akan mengurangi
kesuburan tanah dan berpengaruh pada penyerapan unsur-unsur hara dan air oleh tanaman tebu
yang pada akhirnya dapat menurunkan produktivitas (kadar rendemen per satuan luas per satuan
waktu) tanaman tebu. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan suatu upaya menyuburkan lahan
pertanaman tebu tersebut. Salah satu cara yang efektif adalah dengan menanam break crop
(tanaman penyela), misalnya tanaman kedelai (Glycine max). Sistem yang digunakan adalah
tumpang gilir (relay cropping), dimana tanaman tebu ditanam menjelang panen tanaman kedelai.
Pada dasarnya, unsur nitrogen (N) bisa ditambahkan dengan cara mencampur tanah yang berasal
dari lahan yang mengandung bintil akar seperti kedelai ke dalam tanah yang akan digunakan
dengan harapan bakteri Rhizobium sp. dapat dipindahkan bersama tanah. Dengan memanfaatkan
kedelai sebagai break crop ini, maka kesuburan tanah dipelihara dan ditingkatkan dengan
memanfaatkan mikrobia yang berperan dalam siklus nitrogen (mikrobia penambat nitrogen,
mikrobia amonifikasi, nitrifikasi, dan denitrifikasi), fosfor (mikrobia pelarut fosfat), sulfur
(mikrobia pengoksidasi sulfur), dan logam-logam (Fe, Cu, Mn, dan Al). Selain itu, dengan sistem
pertanaman semacam ini maka kesehatan tanah sama saja telah dipelihara dengan adanya
Rhizobium sp. Bakteri nitrogen mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan mengubahnya
menjadi suatu senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan. Dengan kemampuannya mengikat
nitrogen di udara tersebut, bakteri-bakteri tersebut dapat meningkatkan level kesuburan tanah
dan berpengaruh terhadap nilai ekonomi pertanaman tebu yang bersangkutan.












4

BAB I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sugar Group Companies (SGC) merupakan salah satu perusahaan terkemuka di
Indonesia yang bergerak di bidang pertanian dengan komoditas tebu. Perusahaan ini
terletak di provinsi Lampung dan merupakan perkebunan tebu terbesar di Indonesia.
Adapun Sugar Group Companies memiliki tiga anak perusahaan yang ketiganya
produktif menghasilkan gula pasir, yaitu PT. Gula Putih Mataram (GPM), PT. Sweet
Indolampung (SIL), dan PT. Indolampung Perkasa (ILP), serta satu anak perusahaan
yang menghasilkan etanol, yaitu PT. Indolampung Distillery (ILD). Hingga saat ini,
Sugar Group Companies berkontribusi besar terhadap produksi gula nasional.
Profit yang diperoleh perusahaan tentunya terkait dengan produktivitas tebu.
Untuk menghasilkan profit maksimum bagi perusahaan maka produktivitas tanaman
tebu haruslah ditingkatkan. Peningkatan produktivitas berarti harus disertai dengan
peningkatan nilai rendemen tanaman tebu per satuan luas per satuan waktu. Salah satu
cara untuk meningkatkan produktivitas tebu adalah dengan cara memanfaatkan tanaman
kedelai (Glycine max L.) sebagai break crop (tanaman penyela). Sistem yang digunakan
adalah tumpang gilir (relay cropping), yakni cara bercocok tanam dimana satu bidang
lahan ditanami dengan dua atau lebih jenis tanaman dengan pengaturan waktu panen
dan tanam. Pada sistem ini, tanaman kedua ditanam menjelang panen tanaman musim
pertama.
Kedelai berpeluang untuk digunakan sebagai break crop pada tanaman tebu.
Peluang tersebut didasarkan oleh kemampuan tanaman kedelai untuk meningkatkan
kesuburan lahan, khususnya lahan yang akan ditanami tebu. Kedelai memiliki
kemampuan untuk menyuburkan lahan melalui aktivitas simbiosis mutualisme dengan
bakteri Rhizobium sp. Bakteri Rhizobium sp. hidup dengan menginfeksi akar tanaman
kedelai dan berasosiasi dengan tanaman. Bakteri Rhizobium sp. yang hidup dalam bintil
akar bersimbiosis dengan tanaman inangnya (legume), serta dapat menyediakan
kebutuhan nitrogen bagi inangnya dan tanaman di sekitarnya. Bakteri tersebut
melakukan fiksasi N2 dari udara dan mengubahnya menjadi NH3 dengan bantuan enzim
5

nitrogenase (Sy et al., 2001 cit Widiawati, 2010). Oleh karena itu, kedelai berperan
sebagai biofertilizer alami untuk meningkatkan produktivitas lahan.

1.2. Tujuan Kerja Lapangan
1. 2.a. Tujuan Umum
1. Melatih mahasiswa agar mendapatkan pengetahuan dan pengalaman praktik dalam
kegiatan budidaya tanaman tebu di lapangan.
2. Melibatkan mahasiswa secara langsung dalam kegiatan persiapan lahan tanam dan
penanaman tebu untuk mengembangkan kepekaan yang berbasis tindakan ilmiah
terhadap berbagai persoalan yang timbul dalam praktek.
3. Mempertajam daya analisis mahasiswa terhadap persoalan-persoalan yang mungkin
timbul pada penerapan/aplikasi sistem tumpang gilir tanaman kedelai dengan tanaman
tebu di lahan.
4. Memberikan gambaran kepada mahasiswa tentang hubungan antara teori sistem
pertanaman tanaman tebu dengan penerapannya di lapangan serta faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
5. Memberikan bekal pengalaman praktek pembudidayaan tanaman tebu kepada
mahasiswa untuk bekerja dalam masyarakat setelah menyelesaikan studinya di
universitas.
1. 2.b. Tujuan Khusus
1. Mengikuti serangkaian kegiatan persiapan lahan tanam tebu di PT. Gula Putih
Mataram, Sugar Group Companies.
2. Mengikuti serangkaian kegiatan evaluasi teknik penanaman (planting) dengan sistem
pertanaman bergilir tanaman tebu dalam rangka peningkatan produksi tanaman tebu di
PT. Gula Putih Mataram, Sugar Group Companies.
6

3. Mengetahui pengaruh pertanaman kedelai terhadap produktivitas tanaman tebu di PT.
Gula Putih Mataram, Sugar Group Companies.

1.3. Manfaat dan Kegunaan Kerja Lapangan
1. Memenuhi persyaratan mata kuliah kerja lapangan dalam kurikulum S1 di Fakultas
Pertanian Universitas Gadjah Mada.

2. Memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang luas tentang sistem/teknik
persiapan lahan tebu (Saccharum officinarum L.) di wilayah perkebunan Sugar Group
Companies (SGC).

3. Menambah wawasan dan mempertajam kemampuan menganalisis pengaruh
pertanaman kedelai sebagai break crop di suatu lahan pertanian tebu.
4.Meningkatkan kemampuan berpikir secara komprehensif dari berbagai sudut pandang
keilmuan khususnya yang berkaitan dengan pembudidayaan tanaman tebu.











7

BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan merupakan salah satu
komoditi yang strategis dari jenis tanaman semusim perkebunan. Peran tebu bagi
masyarakat cukup besar, hal ini karena aktivitas produksi dan pemasarannya melibatkan
sejumlah penduduk untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan. Berbagai jenis tebu
dengan berbagai kegunaannya diusahakan di Indonesia, baik oleh rakyat maupun oleh
perusahaan (Sparks, 2008).
2.1. Taksonomi dan Morfologi Tanaman Tebu
Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) termasuk ke dalam sub-kingdom
Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh), divisi Spermatophyta, subdivisi
magnoliophyta, kelas liliopsida, ordo poales, familia poaceae, serta genus saccharum.
Secara morfologi, tanaman tebu dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu batang,
daun, akar, dan bunga. Batang tanaman tebu memiliki memiliki anakan tunas dari
pangkal batang yang membentuk rumpun. Tanaman ini berumur antara 11- 12 bulan.
Tebu berasal dari daerah tropis basah sebagai tanaman liar (Spidermenik, 2011).
2.2. Syarat Tumbuh Tanaman Tebu
Tanaman tebu dapat tumbuh di daerah beriklim panas dan sedang (daerah tropis dan
sub-tropis) dengan daerah penyebaran yang sangat luas yaitu antara 35 LS dan 39 LU.
Anasir-anasir iklim yang penting bagi pertumbuhan tanaman tebu adalah curah hujan,
sinar matahari, angin, suhu, dan kelembaban udara, serta keadaan tanah. Tanaman tebu
banyak membutuhkan air selama masa pertumbuhan vegetatif, namun menghendaki
keadaan kering menjelang berakhirnya masa petumbuhan vegetatif agar proses
pemasakan (pembentukan gula) dapat berlangsung dengan baik. Radiasi sinar matahari
sangat diperlukan oleh tanaman tebu untuk pertumbuhan dan terutama untuk proses
fotosintesis yang menghasilkan gula. Angin dengan kecepatan kurang dari 10 km/jam
adalah baik bagi pertumbuhan tebu karena dapat menurunkan suhu/temperatur di sekitar
tajuk tebu sehingga fotosintesis tetap berlangsung dengan baik. Suhu optimal untuk
pertumbuhan tebu berkisar antara 24 30 C, beda suhu musiman tidak lebih dari 6 C,
8

dan beda suhu siang dan malam hari tidak lebih dari 10 C. Kelembaban udara tidak
banyak berpengaruh pada pertumbuhan tebu asalkan kadar air cukup tersedia di dalam
tanah. Tanah yang cocok adalah bersifat kering, yaitu curah hujan kurang dari 2000 mm
per tahun. Tanah tidak terlalu masam, pH diatas 6,4, serta ketinggian tempat kurang dari
500 m di atas permukaan laut (Siddiqi, 1969).
2.3. Sistem Pertanaman Tumpang Gilir (Relay Cropping)
Pola tanam adalah sistem pengaturan waktu tanam dan jenis tanaman sesuai dengan
iklim, kesesuaian tanah dengan jenis tanaman, luas lahan, ketersediaan tenaga, modal,
dan pemasaran. Pola tanam berfungsi meningkatkan intensitas penutupan tanah dan
mengurangi terjadinya erosi. Sistem ini bertujuan untuk mempertinggi intensitas
penggunaan lahan, dan dapat mengurangi risiko gagal panen untuk salah satu tanaman,
meningkatkan nilai tambah bagi petani dan juga termasuk tindakan pengendalian hama
dan pengendalian erosi. Dengan penerapan pertanaman majemuk, penutupan tanah akan
lebih rapat sehingga mampu melindungi tanah dari pukulan air hujan secara langsung
dan menahan aliran permukaan. Sistem pertanaman secara tumpang gilir (relay
cropping), yakni cara bercocok tanam dimana satu bidang lahan ditanami dengan dua
atau lebih jenis tanaman dengan pengaturan waktu panen dan tanam. Pada sistem ini,
tanaman kedua ditanam menjelang panen tanaman musim pertama (Thohiron, 2012).
2.4. Manfaat Legume Sebagai Biofertilizer
Pada dasarnya, penambahan unsur hara N ke dalam tanah dapat melalui dua
cara, yaitu melalui pemupukan, misalnya urea dan penambatan N dari udara.
Pemupukan anorganik mempunyai pengaruh sampingan yang kurang baik karena selain
memasamkan tanah, juga dapat menimbulkan polusi lingkungan seiring dengan
kenaikan laju pencucian N pada lahan pertanian intensif. Pupuk N juga merupakan
sarana produksi yang sangat mahal. Konsep pengelolaan N secara biologi mencakup
upaya mencapai efisiensi terbesar dalam penggunaan pupuk anorganik dan
mengoptimalkan pemanfaatan sumber N alternatif seperti bahan organik dan
penambatan N bebas di udara. Udara yang kita hirup sebenarnya mengandung banyak N
(kurang lebih 78%), namun tidak dapat kita manfaatkan seperti yang dilakukan oleh
9

mikroorganisme tertentu. Unsur N bebas di udara tersebut dapat tersedia bagi tanaman
melalui aktivitas mikroorganisme yang ada dalam tanah (Works, 2004).
Di antara banyak pilihan penyediaan N dari udara, penambatan N bebas dari
udara oleh simbiosis legume-rhizobium merupakan sistem yang paling efektif. Bakteri
rhizobium yang ada dalam tanah akan menempel pada permukaan bulu akar, kemudian
biasanya ujung bulu akan membengkak/ melingkar karena kecepatan pembelahan sel
pada kedua sisi akar yang tidak sama terhenti. Pada bagian dalam lekukan, kerusakan
dinding sel tanaman yang terjadi mengakibatkan bakteri rhizobium dapat memasuki
bulu akar. Hal ini diawali dengan pembentukan benang infeksi yang tumbuh sepanjang
akar rambut dan akhirnya mencapai korteks. Bintil akar kemudian terbentuk, dimana
penambatan N dari udara bebas berlangsung (Werner, 1992).
Bakteri bintil akar kacang-kacangan yang biasa dikenal dengan nama kolektif
rhizobia merupakan bakteri tanah yang mampu melakukan penambatan nitrogen udara
melalui simbiosis dengan tanaman kacang-kacangan. Untuk menambat nitrogen, bakteri
ini menggunakan enzim nitrogenase, dimana enzim ini akan menambat gas nitrogen di
udara dan merubahnya menjadi gas amoniak dan kemudian asteylen menjadi ethylen.
Gen yang mengatur proses penambatan ini adalah gen nif (nitrogen fixation)
(Simarmata dan Hindersah, 2004).
Rhizobium hidup dalam bintil akar, menggunakan N bebas dari udara, dan
kemudian mengubahnya menjadi bentuk NH3. Pemanfaatan rhizobia sebagai inokulan
pupuk hayati sangat mendukung upaya peningkatan produktivitas tanaman pangan di
Indonesia. Kesuksesan inokulasi rhizobia sangat dipengaruhi oleh kesesuaian inokulan
rhizobia dengan jenis tanah yang diinokulasi dan faktor kompetisi (Simanungkalit et al.,
2003).
Menurut Padmowijoto (2006), simbiosis rhizobia pada legume merupakan
bioindustri yang paling canggih di dunia karena menyediakan sumber nitrogen bagi
petani, seperti halnya pupuk urea. Biaya produksinya murah dan tidak mencemari
lingkungan. Tanaman legume yang ditanam diantara tanaman pangan, akarnya yang
dalam mampu berfungsi sebagai pompa mineral yang menyerap hara. Hara yang
10

mengalami pencucian ditarik ke atas daun dan jatuh kembali di permukaan daun sebagai
serasah.
Legume cover crop (LCC) adalah tanaman dari genus Leguminosa (buah
berpolong/ kacangan). Kriteria yang digunakan dalam memilih legume cover crop,
antara lain: sistem perakarannya tidak mengganggu tanaman utama, bukan pesaing berat
bagi tanaman utama dalam penyerapan unsur hara dan air, mudah diperbanyak baik
secara vegetatif maupun generatif, pertumbuhannya cepat dan berpotensi menekan
gulma, tahan terhadap hama, penyakit, dan kekeringan, serta bukan merupakan tanaman
inang bagi hama dan penyakit tanaman utama, dan memberikan bahan organik yang
tinggi (Purwanto, 2007).
Pada umumnya, tanaman legume seperti kacang kedelai dapat meningkatkan
produksi tanaman perkebunan atau tanaman pangan bila ditanam secara tumpang sari
atau tumpang gilir, karena jumlah N tanah meningkat akibat adanya penambatan N
bebas di udara. Banyakanya N yang diikat dari udara bervariasi tergantung dari jenis
tanamannya. Beberapa jenis legume dari famili Caesalpinioideae tidak membentuk
bintil akar, dan pada umumnya tanaman dari famili tersebut tidak mampu menambat N
dari udara bebas, sebagai contohnya adalah petaian (Peltophorum dasyrrachis).
Pemanfaatan tanaman legume sebagai break crop di wilayah perkebunan
merupakan salah satu cara untuk menjaga produktivitas tanah dan tanaman. Keuntungan
penggunaan tanaman kacangan ini telah banyak dikemukakakn, antara lain dapat
menambah bahan organik (BO) ke dalam tanah melalui hijauan dan seresah yang
dihasilkan, menekan tingkat erosi terutama pada lahan-lahan dengan topografi yang
miring, memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, mengurangi pemakaian pupuk nitrogen
(N), mengurangi kemungkinan serangan penyakit tanaman, mempercepat stadium
pertumbuhan, dan meningkatkan produksi tanaman (Susetyo dan Sudiharto, 2006).
Potensi penggunaan tanaman legume telah banyak mendapatkan perhatian dari
pakar mikrobiologi tanah dan penyakit tanaman, karena sifat dari rizobakteria yang
ditambat tanaman legume sangat agresif dalam mengkolonisasi akar menggantikan
tempat mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit pada tanaman (Burr, 1972
cit Kennedy et al., 1997). Hubungan antara tanaman dan mikroorganisme terjadi di
11

daerah rizosfer. Mikroorganisme dapat hidup dari substrat yang dikeluarkan oleh
tanaman melalui akar (Vancura, 1964 cit Kennedy et al., 1997). Mikroorganisme
menghasilkan senyawa-senyawa yang mempercepat pertumbuhan (Bowen dan Rovira,
1961 cit Kennedy et al., 1997). Sebagai contoh, bakteri Rhizobium yang terseleksi
mampu menstimulasi pertumbuhan, baik pada tanaman Leguminoceae (tanaman kacang
- kacangan) maupun yang bukan Legumonoceae pada skala lapangan. Bakteri tersebut
terbukti mampu memproduksi fitohormon yaitu sitokinin dan auksin. Hasil penelitian
lain menyebutkan bahwa Streptomyces griseoviridis juga mampu memprodukasi auksin
yaitu IAA (indol-3-acetic acid) secara in vitro. Metabolit ini dapat berperan sebagai
stimulator pertumbuhan tanaman, tetapi pada skala lapangan produksi IAA ini perlu
dikaji lebih lanjut. Penelitian lain menyebutkan bahwa bakteri epifitik (hidup pada
permukaan tanaman tertentu) dapat memproduksi fitohormon, IAA, dalam jumlah
besar. Beberapa strain bakteri dari genus Azospirillum memiliki kemampuan
phytostimulatory. Hal ini disebabkan karena bakteri tersebut mampu memproduksi
fitohormon, yaitu IAA (Novita, 2011).
Menurut Anonim (2011), manfaat tanaman break crop adalah sebagai berikut:
a. Menekan pertumbuhan gulma, sehingga dapat menghemat biaya pengendalian gulma.
b. Meningkatkan kandungan bahan organik tanah.
c. Memperbaiki kondisi fisik tanah, yaitu aerasi dan menjaga kelembaban tanah.
d. Mencegah dan mengurangi erosi permukaan tanah.
e. Mengikat (fiksasi) unsur hara nitrogen dari udara, sehingga tingkat ketersediaan N
dalam tanah meningkat.
f. Menekan pertumbuhan hama dan penyakit tertentu.




12

BAB III.
METODE PELAKSANAAN KERJA LAPANGAN

3.1. Tempat Dan Waktu Pelaksanaan Kerja Lapangan
Kerja Lapangan ini dilaksanakan di Divisi Research and Development (R&D) PT.
Gula Putih Mataram, Sugar Group Companies (SGC), Kecamatan Mataram Udik,
Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung. Pelaksanaan Kerja Lapangan dimulai
sejak hari Selasa, tanggal 10 Juli 2012 hingga hari Selasa, tanggal 14 Agustus 2012
selama 31 hari kerja.

3.2. Ruang Lingkup yang Dipelajari
3. 2.a. Masalah umum yang dipelajari di PT. Gula Putih Mataram
1. Keadaan umum perkebunan tebu di PT. Gula Putih Mataram.
2. Manajemen pengelolaan kebun tebu secara umum di PT. Gula Putih Mataram.
3. Lokasi, batas wilayah, dan luas areal pertanaman tebu.
4. Topografi, keadaan tanah, dan iklim lahan secara umum di PT. Gula Putih
Mataram.
5. Peranan dan kontribusi Sugar Group Companies terhadap produksi gula
nasional.
6. Produktivitas tanaman tebu per periode tanam dari tahun ke tahun yang dilihat
dari data/statistik yang ada.
7. Kendala yang dihadapi oleh Sugar Group Companies dalam kegiatan
budidaya tanaman tebu.
8. Kegiatan budidaya tebu secara umum, yang meliputi:
a. Persiapan lahan (land preparation)
13

b. Penanaman (planting)
c. Pemeliharaan/ perawatan tanaman

3.2.b. Masalah khusus yang dipelajari di PT. Gula Putih Mataram.
a. Teknik persiapan lahan tanam tebu yang tepat untuk meningkatkan produktivitas
tanaman tebu.
b. Cara bertanam kedelai yang diperuntukkan sebagai tanaman break crop.
c. Penghitungan besarnya biomassa yang diperoleh dari tanaman break crop.

3.3. Metode Pelaksanaan Kerja Lapangan
Kegiatan Kerja Lapangan ini bertujuan untuk mengetahui, mendapatkan
informasi, dan mempraktikkan secara langsung mengenai budidaya tembakau dengan
lengkap dan meningkatkan kemampuan logika dalam menghadapi persoalan atau
masalah yang timbul dalam lapangan. Terdapat dua metode dalam pengumpulan data
dalam kegiatan kerja lapangan ini, yaitu metode langsung dan metode tidak langsung.
3.3.a. Metode Langsung
Mengikuti dan mempelajari praktik kegiatan persiapan lahan tanaman tebu di
areal Divisi Research and Development, PT. Gula Putih Mataram, Sugar Group
Companies (SGC) yang meliputi:
1. Penanaman tanaman kedelai break crop di lahan, yang meliputi:
- Persiapan areal (land preparation).
- Penanaman (planting).
- Pengamatan germinasi dan biomassa.
2. Teknik pengelolaan tanaman kedelai break crop.
14

3. Pengaturan populasi tanaman kedelai sebagai break crop pertanaman tebu.
4. Mengikuti dan mempelajari serangkaian kegiatan praktik penanaman
(planting) tanaman tebu di Sugar Group Companies (SGC) yang meliputi:
- Teknik penanganan lahan pasca penanaman kedelai break crop untuk
keperluan penanaman tebu.
- Penanaman (planting) tanaman tebu.
3. 3.b. Metode Tidak Langsung
Memperoleh informasi maupun pengetahuan yang lebih banyak mengenai teknik
budidaya tanaman tebu yang dilakukan di tempat tersebut, sistem pertanaman yang
digunakan, dan manfaat penggunaan kedelai sebagai break crop pada pertanaman tebu.
Metode ini dilaksanakan dengan tiga cara, yaitu:
1. Melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan pemanfaatan tanaman legume
sebagai break crop.
2. Mempelajari kondisi dan sejarah penggunaan lahan dari tahun ke tahun melalui
kegiatan wawancara dengan manajer yang mengurus lahan tempat
dilaksanakannya kerja lapangan.
3. Mempelajari tingkat produktivitas tebu dari tahun ke tahun berdasarkan data
statistik yang ada.
Dengan melakukan kajian pustaka, selanjutnya antara informasi yang telah
diperoleh dari lokasi kerja lapangan dengan pustaka yang dipelajari dapat dilihat
kesesuaiannya.





15

BAB 1V
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan
Sugar Group Companies (SGC) merupakan salah satu perusahaan nasional yang
bergerak di bidang perkebunan tebu dan pabrik gula terpadu. SGC juga merupakan
salah satu pabrik gula terbesar di Indonesia dan terdiri dari 3 pabrik gula, yaitu PT. Gula
Putih Mataram (PT. GPM), PT. Sweet Indolampung (PT. SIL), dan PT. Indolampung
Perkasa (PT. ILP) serta satu pabrik penyulingan etanol, yaitu PT. Indolampung
Distillery (PT. ILD). SGC memiliki luas areal pertanaman tebu seluas kurang lebih
67.850 hektar yang merupakan tanah marginal.
Pembangunan pabrik PT. GPM dimulai pada bulan Juni 1986 dan dapat diselesaikan
pada bulan Juli 1987, dan pada bulan September 1987 telah dilaksanakan percobaan
giling (commisioning). Pada awalnya kapasitas giling didesain dengan kapasitas giling
8.000 ton tebu per hari, dan sejak tahun 1994 kapasitas giling pabrik sudah ditingkatkan
menjadi 10.000 ton tebu per hari.
PT. GPM berkantor pusat di Jakarta, dengan lokasi usaha di Kabupaten Lampung
Tengah, Propinsi Lampung. Area konsesi berstatus Hak Guna Usaha (HGU) atas tanah
seluas 26.000 hektar. Pemanfaatan area tersebut sampai saat ini telah mencapai optimal
dengan 71% areal ditanami tebu, 7% digunakan untuk jalan, 3% untuk perumahan
karyawan dan perkantoran, dan 19% untuk lebung/ penampung air. PT Gula Putih
Mataram ini didirikan secara umum bertujuan untuk (a). Menunjang dan mendukung
program pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gula nasional maupun penyediaan
lapangan kerja bagi masyarakat, (b). Berusaha mendayagunakan dan memanfaatkan
lahan yang kurang produktif menjadi lebih produktif serta menggali potensi,
pengalaman dan pengetahuan mengenai budidaya tanaman tebu khususnya di lahan
kering, (c). Mampu menunjang, mendukung dan mewujudkan upaya peningkatan
kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar lingkungan perusahaan.
Keberadaan perusahaan SGC yang merupakan perusahaan agroindustri yang padat
karya memerlukan karyawan dan pekerja dalam jumlah yang sangat besar, bahkan
16

mencapai ribuan orang, untuk kegiatan operasionalnya. Masyarakat yang tinggal di
sekitar SGC maupun masyarakat umum yang ingin bekerja di perusahaan terbuka
kesempatannya khususnya untuk pekerjaan di areal dan pabrik. Tenaga kerja di SGC
dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu karyawan tetap, karyawan kontrak, dan
tenaga harian. Karyawan tetap memiliki posisi sebagai mandor (attendant), field
assistant, clerk, supervisor, dan staf, mulai dari officer sampai manajer. Karyawan
kontrak mengisi posisi sebagai supervisor dan officer. Sistem penggajian untuk
karyawan tetap dan karyawan kontrak adalah sistem penggajian bulanan yang besarnya
disesuaikan dengan eselon dan grade masing-masing karyawan tersebut. Tenaga harian
digolongkan sebagai berikut:
- Unskilled
- Semi skilled A
- Semi skilled B
- Skilled A
- Skilled B

4.2. Topografi, Letak Geografis, Luas Areal, dan Tata Guna Lahan Perusahaan
Areal ketiga perkebunan SGC relatif menyatu dan tidak terpisah walaupun secara
administrasi berada di dua wilayah kabupaten yang berbeda (kabupaten Tulang Bawang
dan Kabupaten Lampung Tengah). Perkebunan PT. SIL dan PT. ILP berbatasan
langsung dengan perkampungan masyarakat sekitar, sedangkan perkebunan PT. GPM
yang berada di Lampung Tengah berbatasan dengan perkebuan besar lainnya (PT. GPM
dan PT. GGPC). Kondisi di lapangan ketiga perkebunan SGC tersebut berada dalam
satu hamparan yang menyatu dan relatif tidak terpisah. PT. GPM dan PT. ILD terletak
di kecamatan Seputih Mataram, Kabupaten Lampung Tengah dengan rincian batas
wilayah PT. GPM dan PT. ILD sebagai berikut:
Sebelah Utara : Sungai Way Terusan
17

Sebelah Selatan : PT. Gunung Madu Plantation (PT. GMP)
Sebelah Timur : PT. Indotani
Sebelah Barat : PT. Great Giant Pineapple
Secara klimatologi, wilayah SGC memiliki iklim tropika basah dengan curah
hujan tahunan > 2.000 mm per tahun dengan distribusi yang relatif merata sepanjang
tahun dengan total bulan basah (BB) sebanyak 6 bulan berturut-turut (November-April)
dengan curah hujan > 200 mm dan memiliki 2-4 bulan kering (Juni-September) dengan
curah hujan < 100 mm. Dengan demikian berdasarkan klasifikasi Oldeman, wilayah
SGC termasuk zone agroklimat C2.
Topografi wilayah SGC bervariasi, mulai dari datar sampai bergelombang,
dengan rincian PT. SIL meliputi areal yang datar 45% dan areal bergelombang seluas
50%, serta berbukit 5%. PT. ILP 95% didominasi areal datar dan 5% areal
bergelombang. PT. GPM memiliki 80% areal datar dan 20% areal bergelombang.
Secara umum, areal SGC dibagi ke dalam dua system fisiografi, yaituL:
a. Sistem aluvial yang terdiri dari rawa dan daratan aluvial.
b. Sistem dataran yang terdiri dari dataran rendah sampai agak berbukit
Berdasarkan hasil analisa dan interpretasi profil tanah,sebagian besar areal SGC
terdiri dari jenis tanah ultisol (podsolik merah kuning) yang merupakan tanagh marginal
dengan segala keterbatasannya. Adapun tanah ultisol merupakan tanahyang mengalami
penimbunan lempung pada horizon bawah. Jenis tanah tersebut meliputi gleisol,
podsolik, alluvial, kombisol, dan rogosol. Ciri-ciri umum tanah tersebut adalah
bersolum dalam, tekstur tanah sedang sampai halus, gejala erosi ringan sampai sedang,
keadaan fisiografi menyebar pada ketinggian 15-10 meter di atas permukaan laut
dengan bentuk wilayah datar sampai berombak. Umumnya drainase baik, reaksi tanah
sangat masam (pH 4,5 5,0), Kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa rendah,
P2O5 tersedia sangat rendah, K2O tersedia sangat rendah, kejenuhan Al tinggi, bahan
organik sangat rendah sampai rendah, dan terdapat konkresi besi pada kedalaman 30-70
cm.
18

PT. Gula Putih Mataram mempunyai luas areal perkebunan sekitar 40.305,61 ha,
untuk pertanaman tebu seluas 24.508,87 ha, 2.557,15 ha yang digunakan untuk jalan,
fasilitas lainnya sebesar 863,24 ha, hutan sebesar 234,05 ha dan sungai serta rawa-rawa
sebesar 12.142,3 ha. Berikut ini disajikan data luas areal dan tata guna lahan PT. GPM
pada tabel 1.
Tabel 1. Luas Areal dan Tata Guna Lahan PT. Gula Putih Mataram
No Pemanfaatan Lahan Luas (ha)
1. Luas areal tanam
Divisi 1
Divisi 2
Divisi 3
Divisi 4
Divisi 5 (Inti dan plasma)
Research and Development

5.030,38
4.446,23
4.941,7
4.960,47
4.989,22
140,87
2. Jalan 36,75
3. Empasmen
Areal pabrik
Areal perkantoran
Areal perumahan
Areal bedeng
Run way
Areal parkir dan lain-lain

22,07
43,85
278,07
40,05
16,5
462,7
4. Hutan 234,05
5. Rawa-rawa dan sungai 12.142,3
Total 40.305,61


19

4.3. Kegiatan Budidaya Tebu Secara Umum
Budidaya tanaman tebu secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Persiapan Lahan (Land Preparation)
Kegiatan dalam persiapan lahan ini dapat dibagi menjadi:
a. Burshing
Merupakan tindakan pemotongan tunggul dan sampah guna
memudahkan pembajakan, meratakan tanah, dan mencacah sampah yang
tidak terbakar. Tindakan ini dilaksanakan di areal yang akan ditanami
kembali /9replanting cane) atau ratoon yang akan dibongkar.
b. Ploughing (Pembajakan)
Pembajakan adalah tindakan membalik dan menggemburkan tanah serta
memperbaiki aerasi dan drainase tanah.
c. Harrowing (Penggaruan Tanah)
Tindakan ini dilaksanakan setelaqh ploughing yang bertujuan untuk
meremahkan tanah sehingga tidak ada lagi bongkahan tanah.
d. Track Marking
Track marking merupakan tindakan membuat alur tanam/ guludan
sementara dengan jarak antara pusat ke pusat 1,85 meter dan membuat
jalur untuk masuknya traktor dan truk ke areal pertanaman.
e. Ripping
Ripping merupakan tindakan memecah dan menggemburkan lapisan
tanah kedap air dan sebagai reservoir air.
f. Furrowing dan Pupuk Basal
Tindakan ini bertujuan untuk membuat alur tanam dengan jaraqk antara
60 cm dengan kedalaman alur tanam > 35 cm. Furrowing sekaligus
20

dilakukan untuk menempatkan pupuk basal secara merata dengan
kedalaman kurang lebih 30 cm sebagai nutrisi awal tanaman di alur
tanam.

2. Penanaman (Planting)
Setelah semua kegiatan persiapan lahan selesai, legiatan selanjutnya adalah
penanaman denagn urutan sebagai berikut:
a. Penebangan Bibit
b. Pengangkutan Bibit
c. Pengeceran Bibit
d. Pencacahan Bibit
e. Irigasi (pengairan)
f. Covering (penutupan bibit dengan remah)
g. Compaction (meminimalkan rongga-rongga di daerah pertanaman
sehingga air tidak cepat menguap dan tidak hilang karena run-off).
3. Pemeliharaan Tanaman (Maintenance)
Setelah bibit ditanam (untuk replanting cane) atau setelah panen (ratoon
cane), kegiatan selanjutnya adalah pemeliharaan dengan urutan kegiatan
sebagai berikut:





21



1 hr 1 hr 1 ha
Bagan 1. Pemeliharaan Tanaman Replanting Cane


1,5 hr 1 hr
1 hr

Bagan 2. Pemeliharaan Tanaman Ratoon Cane

4.4. Pelaksanaan Kegiatan Break Crop
Pelaksanaan program break crop dalam kerja lapangan ini dilaksanakan di salah
satu areal milik Divisi Research and Development (R&D) PT. Gula Putih Mataram,
Sugar Group Companies. Tanaman legume yang digunakan untuk break crop adalah
tanaman kedelai (Glycine max L.), sedangkan sisa lahan yang ada ditanami tanaman
kacang hijau (Vigna radiata L.). Adapun areal yang digunakan untuk break crop
memiliki luas 0,5 hektar. Dalam penanaman kedelai break crop di areal, digunakan lima
macam perlakuan, yaitu sebagai berikut:
A = Benih kedelai sebar dengan dosis 30 kg/ha tambahan.
B = Benih kedelai sebar dengan dosis 25 kg/ha.
C = Benih kedelai sebar dengan dosis 20 kg/ha.
D = Benih kedelai sebar dengan dosis 30 kg/ha.
E = Benih kedelai ditugal.
Kultivasi Top Dressing Pre Emergence
Pemupukan Stuble Saver Irigasi Harvest
Pemupukan Pemupukan Pemupukan Pemupukan
22


Gambar 1. Areal yang digunakan dalam pelaksanaan break crop
Selain menanam kedelai secara langsung di areal tersebut, dilakukan juga
penanaman kedelai di baki/nampan untuk kemudian diukur tingkat pertumbuhannya,
meliputi jumlah benih berkecambah, tinggi tanaman, dan jumlah daun. Nantinya data
yang diperoleh akan dibandingkan dengan data pertumbuhan kedelai di areal.

Gambar 2. Baki/ nampan tempat perkecambahan benih kedelai

4.5. Pengamatan Kegiatan Break Crop
Pengamatan yang dilakukan meliputi:
1. Analisa tanah awal
2. Persentase benih kedelai yang berkecambah (% germinasi)
3. Tinggi tanaman dan jumlah daun tanaman
4. Biomassa (Crop Estimate) sebelum tanaman di sleser
23


Gambar 3. Pengambilan Sampel Tanah Awal
Pengambilan sampel tanah dilakukan untuk mengambil top soil dan sub soil.
Sampel tanah tersebut diambil dengan menggunakan bor tanah. Top soil memiliki
kedalaman sekitar 0-20 cm, sedangkan sub soil memiliki kedalaman 20-40 cm. Analisa
tanah awal pada areal tempat dilaksanakannya break crop ditunjukkan dalam tabel
sebagai berikut.
Tabel 2. Hasil Analisis Tanah Awal
No. Ulangan Layer
(cm)
pH % C-
organik
% N C/N Ppm
P-
Avlb
ppm
H2O KCl K Na Ca Mg
1. 1 0-20 4,43 4,05 1,19 0,12 10,37 61,78 0,9 3,6 5,6 1,4
2. 20-40 4,35 4,02 0,71 0,09 7,69 27,38 0,8 3,3 5,2 1,3
3. 2 0-20 4,51 4,05 1,35 0,13 10,48 66,33 1,5 3,8 4,4 1,4
4. 20-40 4,28 3,95 0,61 0,08 7,56 16,18 1,0 3,7 2,8 0,8
5. 3 0-20 4,51 4,05 1,34 0,14 9,45 52,70 2,3 3,6 5,3 2,1
6. 20-40 4,15 3,86 0,62 0,07 8,43 10,48 0,8 3,3 3,3 1,2
RERATA 0-20 4,48 4,05 1,29 0,13 10,10 60,27 1,6 3,7 5,1 1,6
20-40 4,26 3,94 0,65 0,08 7,89 18,01 0,9 3,4 3,8 1,1

Pada dasarnya, tingkat kesuburan tanah sangat bergantung pada kandungan
organik dalam tanah Berdasarkan data hasil analisis tersebut, dapat diketahui bahwa
kandungan N (nitrogen) dalam tanah tersebut cukup rendah, sehingga cocok untuk
dilakukan program break crop pada lahan tersebut. Persentase C organik juga diketahui
cukup rendah, dengan rerata C organik pada jeluk 0-20 cm yang hanya sebesar 1,29%
dan rerata C organik pada jeluk 20-40 cm yang hanya sebesar 0,65% . Berdasarkan
24

Sarwono (2010), semakin tinggi kadar C-Organik dalam tanah maka pH tanah akan
mampu mencapai netral, sehingga meningkatkan kesuburan. Padahal, pada hasil
analisis, kandungan C-organik tidak terlalu besar sehingga diketahui pH pada tanah
tersebut juga agak masam (kisaran 4). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sampel
tanah yang diuji diatas dapat dikatakan merupakan tanah yang masam karena kadar
organik tanah tersebut sangat sedikit dan dapat dikatakan kurang subur.
Selain analisis tanah, dilakukan pula pengamatan biomassa untuk masing-
masing perlakuan, dengan hasil sebagai berikut:
Tabel 3. Hasil Pengukuran Biomassa Kedelai Break Crop
No. Perlakuan Berat Basah/BB
(Fresh
Biomassa)
Berat
Kering/BK
(Dry Biomassa)
Kadar Air
(KA)
1 Dosis 30 kg/ha tambahan 32,35 gram 9,02 gram 72,11 %
2 Dosis 25 kg/ha 24,65 gram 6,04 gram 75,49 %
3 Dosis 20 kg/ha 16,92 gram 4,45 gram 73,69 %
4 Dosis 30 kg/ha 33,18 gram 8,10 gram 75,58 %
5 Tanam Tugal 75,82 gram 17,76 gram 76,57 %

Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintetik, baik
berupa produk maupun buangan. Dalam hal ini biomassa berupa tananan kedelai.
Adapun besarnya kadar air diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Selanjutnya data besarnya BB, BK, dan KA dapat dibandingkan dalam grafik
berikut.
% KA = (BB-BK)/ BB x 100%

25


Gambar 4. Grafik Perbandingan BB dan BK Antar Perlakuan
Keterangan label perlakuan pada grafik:
A = Benih kedelai sebar dengan dosis 30 kg/ha tambahan.
B = Benih kedelai sebar dengan dosis 25 kg/ha.
C = Benih kedelai sebar dengan dosis 20 kg/ha.
D = Benih kedelai sebar dengan dosis 30 kg/ha.
E = Benih kedelai ditugal.
Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa BB dan BK sama-sama
memiliki nilai tertinggi pada perlakuan E (dengan cara ditugal), diikuti dengan
perlakuan D (disebar dosis 30 kg/ha), perlakuan A (disebar dosis 30 kg/ha tambahan),
perlakuan B (disebar dosis 25 kg/ha), dan yang terendah adalah pada perlakuan C
(disebar dosis 20 kg/ha). Dengan demikian, dapat diketahui bahwa kedelai break crop
dapat tumbuh dengan lebih baik pada perlakuan tanam tugal dibandingkan tanam sebar.
Hal ini terjadi karena pada tanam tugal, benih kedelai yang ditanam tertutup tanah
sehingga proses perkecambahan terjadi secara lebih optimal. Sementara itu, pada tanam
sebar, benih kedelai tidak tertutupi tanah sehingga benih mengalami kontak lebih besar
26

dengan lingkungan sekitar. Hal ini menyebabkan proses perkecambahan benih menjadi
kurang optimal.
Meskipun demikian, pada kondisi di PT. Gula Putih Mataram sistem tanam tugal
mkurang cocok diterapkan. Tugal merupakan cara penanaman yang paling sederhana
yang dapat digerakkan dengan tangan dan cocok untuk menanam benih dengan jarak
tanam lebar. Penanaman sistem sebar merupakan cara penanaman yang paling lama dan
sederhana. Penebaran benih dengan mengunakan mesin lebih teliti dan cepat bila
dibandingkan penebaran dengan tangan. Penanaman sistem sebar ini memerlukan
adanya pembuka alur, maka dari itu harus disiapkan dengan pengolahan tanah yang
menggunakan peralatan seperti garu piring. Dan juga sistem ini tidak memerlukan
penutupan. Penutupan kemudian dapat dilakukan dengan garu paku atau yang lainnya.
Pada perlakuan tanam tugal, berat tanaman yang dihasilkan terbukti lebih berat
dibandingkan dengan perlakuan tanam sebar sehingga bahan organik yang dihasilkan
pun tentunya jauh lebih banyak. Namun kenyataan yang ada di lapangan, benih kedelai
break crop yang diterapkan di PT. GPM justru ditanam dengan cara disebar. Hal ini
karena cara sebar ini lebih efektif, efisien, dan jauh lebih mudah untuk dilakukan.

Gambar 5. Grafik Perbandingan Kadar Air (KA) Antar Perlakuan
27

Keterangan label perlakuan pada grafik:
A = Benih kedelai sebar dengan dosis 30 kg/ha tambahan.
B = Benih kedelai sebar dengan dosis 25 kg/ha.
C = Benih kedelai sebar dengan dosis 20 kg/ha.
D = Benih kedelai sebar dengan dosis 30 kg/ha.
E = Benih kedelai ditugal.
Berdasarkan grafik perbandingan kadar air (KA) antar perlakuan, dapat
diketahui bahwa kadar air tertinggi dimiliki oleh perlakuan E (benih tanam tugal),
diikuti oleh perlakuan D (benih sebar dosis 30 kg/ha), perlakuan B (benih sebar dosis 20
kg/ha), perlakuan A (benih sebar 30 kg/ha tambahan), dan yang terendah adalah pada
perlakuan C (benih sebar dosis 20 kg/ha). Selain itu, dihitung juga tinggi tanaman
kedelai yang tumbuh di areal. Penghitungan dilakukan untuk tiap perlakuan tiap
ulangan.

Gambar 6. Pertumbuhan Kedelai di Areal Saat Pengukuran Biomassa
Supaya dapat diketahui tingkat pertumbuhan kedelai terbaik antar perlakuan,
dihitung pula tinggi tanaman dan jumlah daun tiap-tiap perlakuan. Penghitungan tinggi
tan\aman dilakukan dengan menggunakan mistar/penggaris, sedangkan penghitungan
jumlah daun dilakukan dsecara manual. Daun yang dihitunjg tidak termasuk
kotiledonnya. Sampel yang digunakan tiap perlakuan sebanyak lima tanaman kedelai.


28

Tabel 4. Rerata Tinggi Tanaman Kedelai (dalam cm) Semua Perlakuan
No Perlakuan Pengamatan hari ke-
1 2 3 4 5 6 7
1. Benih sebar 30
kg/ha
5,78 6,48 7,16 7,64 8,14 8,98 9,68
2. Benih sebar 25
kg/ha
5,56 6,28 7,05 8,05 8,68 9,11 9,78
3. Benih sebar 20
kg/ha
5,37 6,11 7,04 7,66 8,07 8,86 9,91
4. Benih sebar 30
kg/ha tambahan
4,39 5,33 6,06 6,61 7,18 7,96 8,76
5. Tanam Tugal 5,94 6,58 7,28 7,94 8,50 9,08 9,88








29


Gambar 7. Grafik Tinggi Tanaman Kedelai di Areal Berbagai Perlakuan
Keterangan label perlakuan pada grafik:
A = Benih kedelai sebar dengan dosis 30 kg/ha tambahan.
B = Benih kedelai sebar dengan dosis 25 kg/ha.
C = Benih kedelai sebar dengan dosis 20 kg/ha.
D = Benih kedelai sebar dengan dosis 30 kg/ha.
E = Benih kedelai ditugal.
Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa terjadi kenaikan tinggi
tanaman dari hari ke hari. Tanaman kedelai yang paling tinggi adalah pada perlakuan E
(tanam tugal), sedangkan yang terpendek adalah pada perlakuan A (benih sebar dosis 30
kg/ha tambahan). Hal ini menunjukkan bahwa pertanaman kedelai dengan cara ditugal
memberikan biomassa terbanyak karena ukurannya yang jauh lebih besar dibandingkan
dengan perlakuan lain (lebih tinggi).



30

Tabel 5. Rerata Jumlah Daun Kedelai (helai) Semua Perlakuan
No Perlakuan Pengamatan hari ke-
1 2 3 4 5 6 7
1. Benih sebar 30
kg/ha
2,00 2,78 2,94 3,22 4,22 3,78 3,94
2. Benih sebar 25
kg/ha
2,00 2,94 3,00 4,00 5,00 4,61 4,83
3. Benih sebar 20
kg/ha
2,17 2,72 2,78 3,28 3,83 3,89 4,89
4. Benih sebar 30
kg/ha tambahan
2,00 2,22 2,83 3,33 3,72 4,00 4,06
5. Tanam Tugal 2,00 2,80 3,20 3,20 3,40 3,40 3,60


Gambar 8. Grafik Jumlah Daun Kedelai di Areal Berbagai Perlakuan




31

Keterangan label perlakuan pada grafik:
A = Benih kedelai sebar dengan dosis 30 kg/ha tambahan.
B = Benih kedelai sebar dengan dosis 25 kg/ha.
C = Benih kedelai sebar dengan dosis 20 kg/ha.
D = Benih kedelai sebar dengan dosis 30 kg/ha.
E = Benih kedelai ditugal.
Berdasarkan grafik di atas, diketahui bahwa jumlah daun terbesar dimiliki oleh
tanaman kedelai pada perlakuan B (benih sebar dosis 25 kg/ha), sementara itu jumlah
daun terkecil justru dimiliki oleh kedelai perlakuan E (tanam tugal).
Tabel 5. Data Produksi Tebu Tahun 2008 2012 di PT. Gula Putih Mataram
No. Tahun Produksi
Gula (Ton)
Ton
Tebu/Ton
Gula
Ton Tebu/
ha
Ton Gula/
ha
1 2008 168.265 10,41 77,78 7,47
2 2009 152.966 11,37 77,83 6,85
3 2010 157.571 12,76 86,73 6,80
4 2011 116.097 12,23 63,58 5,20
5 2012 145.291 9,93 64,42 6,49

32

Produksi Gula Total (Ton)
0
20000
40000
60000
80000
100000
120000
140000
160000
180000
2008 2009 2010 2011 2012
Tahun ke-
T
o
n

G
u
l
a
Produksi Gula (Ton)

Gambar 9. Histogram Produksi Gula Total (Ton) di PT. Gula Putih Mataram Lima
Tahun Terakhir
Statistik Ton Tebu dan Ton Gula
0
20
40
60
80
100
2008 2009 2010 2011 2012
Tahun
T
o
n
Ton Tebu/ Ton Gula
Ton Tebu/ha
Ton Gula/ ha

Gambar 10. Histogram Ton Tebu, Ton Gula, dan Ton Tebu/ Ton Gula di PT. Gula
Putih Mataram Lima Tahun Terakhir
33

Berdasarkan hasil wawancara dengan pembimbing Kerja Lapangan, diketahui
bahwa program break crop di PT. Gula Putih Mataram dilakukan pada saat produksi
tebu menurun atau statis (tidak naik/ tetap). Hal ini dimaksudkan untuk menambah
bahan organik ke dalam lahan sehingga produksi tanaman tebu dapat ditingkatkan.
Berdasarkan sejarah yang dilihat melalui statistik produtivitas lahan, di PT. GPM
sendiri terjadi penurunan produksi pada tahun 2009, namun produksi sedikit demi
sedikit merangkak naik pada tahun 2010. Hal tersebut terjadi berkat adanya usaha
penerapan program break crop, dimana program break crop dilakukan pada tahun 2010
sehingga terjadi peningkatan produksi. Namun demikian, terjadi penurunan produksi
tebu pada tahun 2011 dan 2012. Hal ini karena usaha untuk melaksanakan program
break crop dihentikan sementara. Adapun jenis tanaman yang digunakan dalam
program break crop ini adalah kedelai (Glycine max L.), orok-orok (Crotalaria sp.),
kacang hijau (Vigna radiata L.), dan tanaman kacangan lainnya.













34

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Setelah kegiatan kerja lapangan tentang kegiatan break crop di PT. Gula Putih
Mataram, Sugar Group Companies selesai dilaksanakan, maka diperoleh beberapa
kesimpulan sebagai berikut.
1. Kegiatan break crop sangat bermanfaat untuk : menambah unsur hara dan bahan
organik (BO) dari tanaman break crop ke dalam suatu lahan, sehingga tingkat
kesuburan tanah meningkat; memperbaiki sifat fisik tanah; serta mencegah
timbulnya serangan hama dan penyakit tumbuhan (mengganti siklus hidup hama
dan penyakit tumbuhan).
2. Kegiatan break crop di PT. Gula Putih Mataram biasanya dilakukan apabila
produksi tebu sudah sangat menurun (rendemen tebu rendah), yang berarti pada
lahan yang demikian jumlah mikroorganisme berkurang sehingga bahan organik
dalam tanah tersebut juga sedikit.
3. Perawatan tanaman legume untuk keperluan break crop dilakukan seadanya saja
(tanpa pemupukan) dan biasanya dilakukan pada musim penghujan supaya tidak
perlu dilakukan tindakan irigasi yang memakan biaya.
4. Penanaman kedelai break crop dengan cara ditugal memberikan pertumbuhan
kedelai yang lebih baik dibandingkan penanaman dengan cara disebar, namun cara
ini tidak efektif dan tidak diterapkan dalam kegiatan break crop di areal yang luas.
5. Kegiatan budidaya tebu secara umum meliputi persiapan lahan (land preparation),
penanaman (planting), dan pemeliharaan tanaman (maintenance).
6. Sampel tanah yang diuji di laboratorium pada tanah yang tidak diperlakukan break
crop dapat dikatakan tanah yang masam karena kadar organik tanah tersebut sangat
sedikit. Dan dapat dikatakan kurang subur.



35

5.2. Saran
Kegiatan break crop di PT. Gula Putih Mataram (Sugar Group Companies)
sangat bermanfaat untuk menambah bahan organik ke dalam tanah di suatu lahan,
sehingga kegiatan ini sebaiknya lebih sering dilakukan (tidak perlu menunggu sampai
produksi tebu menurun).


















36

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011. Cara Menanam Tanaman Penutup Tanah/ Legume Cover Crop (LCC).
<http://konsultasisawit.blogspot.com/2011/10/cara-menanam-tanamanpenutup
tanah.html>. Diakses pada tanggal 20 Maret 2012.
Ghayal, Nivedita, Pravin Taware, dan Kondhiram Dhumal. 2011. Influence of
sugarcane monocropping on rhizospere microflora, soil enzymes, and NPK
status. International Journal of Pharma and Bio Sciences 2 : 188-202.
Kennedy, I. R., Lily L., Pereg-Grek, Wood C., Deaker R., Gilchrist K., dan Katupitiya
S. 1997. Biological nitrogen fixation in non-legumonous field crops: Facilitating
the evaluation of an effective association between Azospirillum and wheat.
Journal of Plant and Soil 194 : 65 79.
Novita, Trias. 2011. Eksplorasi Cendawan Endofit Dari Beberapa Varietas Kedelai
Sebagai Agens Pemacu Pertumbuhan Tanaman. <http://online
journal.unja.ac.id/index.php/sains/article/view/102/90>. Diakses pada tanggal 20
Maret 2012.
Padmowijoto, Soemitro. 2006. Integrasi Legume Dengan Tanaman Pangan dan Ternak
Kambing dalam Mratani Sistem. Buletin Prospect 2 : 1 4.
Roach, B.T. and Daniels. 1987. A Review of the Origin and Improvement of
Sugarcane In: Copersucar Int. Sugarcane Workshop. CopersucarTech. Center,
Piracicaba-SP, Brasil.
Sarwono. 2010. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo, Jakarta.

Sparks, Donald L. 2008. Advances in Agronomy. Academic Press, United States.
Spidermenik, Tyo. 2011. Tata Cara Tanam Tebu (Planting).
<http://tyospidermenk.blogspot.com/2011/12/tata-cara-tanam-tebu
planting.html> Diakses pada tanggal 20 Maret 2012.
Siddiqi, Mohamed Ismail. 1969. Sugarcane Cultivation in The Indus Valley. Bangalore
Printing & Publishing Co. Pakistan.
37

Sri Andani dan E.D Purbayanti. 1981. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Simanungkalit, R. D. M., Rasti S., Ratih D.H., dan Edi H. 2003. Pupuk Organik dan
Pupuk Hayati. Kanisius, Yogyakarta.
Simermata, T., dan Hindersah R. 2004. Potensi rizobakteri Azetobacter dalam
meningkatkan kesehatan tanah. Jurnal Natur Indonesia 5 : 127 133.
Susetyo, I. dan Sudiharto. 2006. Penutup Tanah Kacangan (Legume Cover Crops) di
Perkebunan Karet. <http://www.perkebunanku.com/2010/03/penutup-tanah
kacangan-legume-cover.html>. Diakses pada tanggal 25 April 2012.
Thohiron, Dion. 2012. Penerapan Pola Tanam. <http://id.shvoong.com/exact-sciences
/agronomy-agriculture/2271841-penerapan-pola-tanam/#ixzz1t4WyhKai>.
Diakses pada tanggal 25 April 2012.
Werner, D. 1992. Symbiosis of Plant and Microbes. Champman and Hall Publishing,
London.
Widiawati, Sri. 2010. Introduksi inokulan mikrobia tanah sebagai pemacu pertumbuhan
tanaman legume pada tanah marginal. Jurnal Penelitian Hayati 4 : 37 42.
WW Works. 2004. Pemecahan Masalah : Upaya Menuju Pertanian Berkelanjutan.
<http://www.worldagroforestry.org/sea/Publications/files/book/BK002804/BK
028-04-3.pdf>. Diakses pada tanggal 25 April 2012.