Anda di halaman 1dari 13

Demensia Alzheimer dan Penatalaksanaanya

Oswaldus G. G. Binsasi
102012046
C6
e-mail : oswaldgratia@gmail.com
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Kebun Jeruk-Jakarta Barat 11510


Pendahuluan
Penyakit Alzheimer adalah penyakit otak dari penyebab yang tidak diketahui yang mengarah
pada demensia. Kebanyakan pasien dengan penyakit Alzheimer's berusia di atas 65 tahun.Ada 10 tanda-
tanda peringatan klasik dari penyakit Alzheimer: kehilangan memori, kesulitan melakukan tugas akrab,
masalah dengan bahasa, disorientasi waktu dan tempat, penilaian buruk atau menurun, masalah dengan
pemikiran abstrak, hal-hal misplacing, perubahan mood atau perilaku, perubahan kepribadian , dan
kehilangan inisiatif. Pasien dengan gejala demensia harus dievaluasi secara menyeluruh sebelum mereka
menjadi tidak tepat atau lalai berlabel penyakit Alzheimer. Meskipun tidak ada obat untuk penyakit
Alzheimer, perawatan yang tersedia untuk mengurangi banyak gejala yang menyebabkan penderitaan.
Manajemen penyakit Alzheimer terdiri dari pengobatan perawatan berdasarkan berbasis dan non-obat
terorganisir untuk merawat pasien dan keluargaPerawatan ditujukan untuk mengubah program dasar
penyakit (menunda atau membalikkan kemajuan itu) sejauh ini telah sebagian besar tidak berhasil. Obat
yang memulihkan cacat, atau rusak, dalam utusan kimia sel saraf telah terbukti memperbaiki gejala.
Akhirnya, obat yang tersedia yang berhubungan dengan manifestasi psikiatrik penyakit Alzheimer.
Anamnesis
Anamnesis harus terfokus pada awitan (onset),lamanya,dan bagaimana laju progresi penurunan fungsi
kognitif yang terjadi. Seorang usia lanjut dengan kehilangan memori yang berlangsung lambat selama
beberapa tahun kemungkinan menderita penyakit Alzheimer. Hampir 75% pasien penyakit Alzheimer
dimulai dengan gejala memori,tetapi gejala awal juga dapat meliputi kesulitan mengurus keuangan,
berbelanja,mengikuti perintah,menemukan kata,atau mengemudi. Perubahan
kepribadian,disinhibisi,peningkatan berat badan atau obsesi terhadap makanan mengarah pada fronto-
temporal dementia (FTD),bukan penyakit Alzheimer. Pada pasien yang menderita penyakit
serebrovaskular dapat sulit ditentukan apakah demensia yang terjadi adalah penyakit Alzheimer,demensia
multi-infark,atau campuran keduanya.
2

Bila dikaitkan dengan berbagai penyebab demensia,makan anamnesis harus diarahkan pula pada
berbagai fator risiko seperti trauma kepala berulang,infeksi susunan saraf pusat akibat sifilis,konsumsi
alkohol berlebihan,intoksikasi bahan kimia pada pekerja pabrik,serta penggunaan obat-obat jangka
panjang (sedatif dan tranquilizer). Riwayat keluarga juga harus selalu menjadi bagian dari
evaluasi,mengingat bahwa pada penyakit Alzheimer terdapat kecenderungan familial
1

Pemeriksaan Fisik
Umumnya penyakit alzheimer tidak menunjukan gangguan sistem motorik kecuali pada tahap
lanjut. Pemeriksaan kognitif dan neuropsikiatrik pada penyakit alzheimer defisit yang terlibat berupa
memori episodik, category generation ( sebutkan binatang sebanyak banyaknya dalam 1 menit) dan
kemampuan visuokonstruktif. Defisit pada kemampuan verbal dan memori episodik visual sering
merupakan abnormalitas neuropsikologias awal yang terlihat pada penyakit alzheimer. Dan tugas yang
membutuhkan pasien untuk menyebutkan ulang daftar panjang kata atau gambar setelah jeda waktu
tertentu akan menunjukan defisit pada sebagian pasien alzheimer
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang juga direkomendasikan adalah CT/MRI kepala. Pemeriksaan ini
dapat mengidentifikasi tumor primer atau sekunder,lokasi area infark,hematoma subdural,dan
memperkirakan adanya hidrosefalus bertekanan-normal atau penyakit white matter yang luas. MRI dan
CT juga dapat mendukung diagnosis penyakit Alzheimer,terutama bila terdapat atrofi hipokampus selain
adanya atrofi kortikal yang difus. Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT) dan Positron
Emission Tomography (PET) dapat menunjukkan hipoperfusi atau hipometabolisme temporal-parietal
pada penyakit Alzheimer.
2

Diagnosa Kerja
Menegakkan penyakit Alzheimer harus dilakukan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik yang
teliti,serta didukung oleh pemeriksaan penunjang yang tepat. Untuk diagnosis klinis penyakit Alzheimer
diterbitkan suatu konsensus oleh the National Institute of Neurological and Communicative Disorders
and Stroke (NINCDS) dan the Alzheimers Disease and Related Disorders Association (ADRA )
Tabel 1. Kriteria untuk Diagnosis Klinis Penyakit Alzheimer
Kriteria diagnosis klinis untuk probable penyakit Alzheimer mencakup:
- Demensia yang tidtegakkan oleh pemeriksaan klinis dan tercata dnegan pemeriksaan the
mini-mental test,Blessed Dementia Scale,atau pemeriksaan sejenis,dan dikonfirmasi oleh
tes neuropsikologis
- Defisit pada dua atau lebih area kognitif
- Tidak ada gangguan kesadaran
- Awitan antara umur 40 dan 90,umunya setelah umur 65 tahun
- Tidak adanya kelinan sistemik atau penyakit otak lain yang dapat menyebabkan defisit
progresif pada memori dan kognitif
Diagnosis probable penyakit Alzheimer didukung oleh:
- Penurunan progresif fungsi kognitif spesifik seperti afasia,apraksia,dan agnosia
- Gangguan aktivitas hidup sehari-hari dan perubahan pola perilaku
- Riwayat keluarga dengan gangguan yang sama,terutama bila sudah dikonfirmasi secara
neuropatologi
- Hasil laboratorium yang menunjukkan
- Pungsi lumbal yang normal yang dievaluasi dengan teknik standar
Pola normal atau perubahan yang nonspesifik pada EEG,seperti peningkatan atktivitas
slow-wave
- Bukti adanya atrofi otak pada pemeriksaan CT yang progresif dan terdokumentasi oleh
pemeriksaan serial
Gambaran klinis lain yang konsisten dengan diagnosis probable penyakit Alzheimer,setelah
mengeksklusi penyebab demensia selain penyakit Alzheimer:
- Perjalanan penyakit yang progresif namun lambat (plateau)
- Gejala-gejala yang berhubungan seperti depresi,insomnia,inkontinensia,delusi,
halusinasi,verbal katastrofik,emosional,gangguan seksual,dan penurunan berat badan
- Abnormalitas neurologis pada beberapa pasien,terutama pada penyakit tahap
lanjut,seperti peningkatan tonus otot,mioklunus,dan gangguan melangkah
- Kejang pada penyakit yang lanjut
- Pemeriksaan CT normal untuk usianya
Gambaran yang membuat diagnosis probable penyakit Alzheimer menjadi tidak cocok
adalah:
- Onset yang mendadak dan apolectic
- Terdapat defisit neurologis fokal seperti hemiparesis,gangguan sensorik,defisit lapang
pandang,dan inkoordinasi pada tahap awal penyakit;dan kehang atau gangguan
melangkah pada saat awitan atau tahap awal perjalanan penyakit

Diagnosis possible penyakit Alzheimer:
- Dibuat berdasarkan adanya sindrom demensia,tanpa adanya gangguan neurologis
psikiatrik,atau sistemik alin yang dapat menyebabkan demensia,dan adandya variasi pada
awitan,gejala klinis,atau perjalanan penyakit
- Dibuat berdasarkan adanya gangguan otak atau sistemik sekunder yang cukup untuk
menyebabkan demensia,namun penyebab primernya bukan merupakan penyabab
demensia
Kriteria untuk diagnosis definite penyakit Alzheimer adalah:
- Kriteria klinis untuk probable penyakit Alzheimer
- Bukti histopatologi yang didapat dari biopsi atau atutopsi
Klasifikasi penyakit Alzheimer untuk tujuan penelitian dilakukan bila terdapat gambaran
khusus yang mungkin merupakan subtipe penyakit Alzheimer,seperti:
- Banyak anggota keluarga yang mengalami hal yang sama
- Awitan sebelum usia 65 tahun
- Adanya trisomi-21
- Terjadi bersamaan dengan kondisi lain yang relevan seperti penyakit Parkinson

Diagnosa Banding
Vertigo
Salah satu bentuk gangguan keseimbangan dalam telinga bagian dalam sehingga menyebabkan
penderita merasa pusing dalam artian keadaan atau ruang di sekelilingnya menjadi serasa 'berputar'
ataupun melayang. Vertigo menunjukkan ketidakseimbangan dalam tonus vestibular. Hal ini dapat terjadi
akibat hilangnya masukan perifer yang disebabkan oleh kerusakan pada labirin dan saraf vestibular atau
juga dapat disebabkan oleh kerusakan unilateral dari sel inti vestibular atau aktivitas vestibulocerebellar .
Penderita merasa seolah-olah dirinya bergerak atau berputar; atau penderita merasakan seolah-olah benda
di sekitarnya bergerak atau berputar. Vertigo patogologis bisa bermacam-macam jenis. Ada yang
sementara atau persisten, fungsional atau struktural penurunan nilai vestibular atau nilai visual, atau
sistem proprioseptif sistem atau dari pusat integratif mealui suatu mekanisme juga menyebabkan
"ketidakcocokan". Dengan kata lain banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum menentukan
diagnosis vertigo.Evaluasi vertigo memiliki dua tujuan mendasar yakni: menentukan lokalisasi sumber
asalnya dan menentukan etiologinya/penyebabnya. Sebelum memulai pengobatan, harus ditentukan sifat
dan penyebab dari vertigo. Gerakan mata yang abnormal menunjukkan adanya kelainan fungsi di telinga
bagian dalam atau saraf yang menghubungkannya dengan otak. Nistagmus adalah gerakan mata yang
cepat dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah. Arah dari gerakan tersebut bisa membantu dalam
menegakkan diagnosa. Nistagmus bisa dirangsang dengan menggerakkan kepala penderita secara tiba-
tiba atau dengan meneteskan air dingin ke dalam telinga. Untuk menguji keseimbangan, penderita diminta
berdiri dan kemudian berjalan dalam satu garis lurus, awalnya dengan mata terbuka, kemudian dengan
mata tertutup.Tes pendengaran seringkali bisa menentukan adanya kelainan telinga yang memengaruhi
keseimbangan dan pendengaran.Pemeriksaan lainnya adalah CT scan atau MRI kepala, yang bisa
menunjukkan kelainan tulang atau tumor yang menekan saraf. Jika diduga suatu infeksi, bisa diambil
contoh cairan dari telinga atau sinus atau dari tulang belakang. Jika diduga terdapat penurunan aliran
darah ke otak, maka dilakukan pemeriksaan angiogram, untuk melihat adanya sumbatan pada pembuluh
darah yang menuju ke otak.
Parkinson
Penyakit degeneratif syaraf yang pertama ditemukan pada tahun1817. Dengan pengertian
penyakit ini yaitu kekurangan dopamine yang disebut zat yang merubah masalah progresif dari sistem
saraf dan bisa mengganggu gerakan-gerakan tubuh diluar kendali hingga jadikan si pasien lakukan
gerakan-gerakan yang tidak disadari. Gejala Penyakit Parkinson : 1) Hilangnya indera penciuman 2) Jadi
sukar untuk tidur 3) Alami sembelit serta masalah berkemih 4) Kurang ekspresi wajah 5 ) Nyeri pada
sekita leher 6) Lambat waktu menulis 7) Pergantian pada suara 8) Lengan tidak berayun bebas 9)
Berkeringat terlalu berlebih 10 ) Pergantian pada suasan hati serta kepribadian. Penyebab Penyakit
Parkinson Umumnya orang yang menderita parkinson disease ( pd ) tidak diketahui penyebab tentunya (
idiopatik ). tetapi ada juga perihal yang lain yang diperkirakan mengakibatkan pd seperti genetic, toksin,
trauma kepala, anoksia serebral, serta parkinson yang dikarenakan oleh obat-obatan.
Osteatritis
Kondisi di mana sendi terasa nyeri akibat inflamasi ringan yang timbul karena gesekan ujung-
ujung tulang penyusun sendi.Pada sendi, suatu jaringan tulang rawan yang biasa disebut dengan nama
kartilago biasanya menutup ujung-ujung tulang penyusun sendi. Suatu lapisan cairan yang disebut cairan
sinovial terletak di antara tulang-tulang tersebut dan bertindak sebagai bahan pelumas yang mencegah
ujung-ujung tulang tersebut bergesekan dan saling mengikis satu sama lain.Pada kondisi
kekurangan cairan sinovial lapisan kartilago yang menutup ujung tulang akan bergesekan satu sama lain.
Gesekan tersebut akan membuat lapisan tersebut semakin tipis dan pada akhirnya akan menimbulkan rasa
nyeri. Setiap orang pasti pernah mengalami nyeri sendi. Masyarakat awam dan bahkan
beberapa dokter (secara keliru) langsung beranggapan karena disebabkan oleh rematik atau asam
urat.Sebagian lagi berpikir akibat osteoporosis. Namun kenyataannya penyebab utamanya nyeri
sendi(khususnya yang dialami oleh yang berusia lebih dari 45 tahun) adalah osteoartritis.
Penyebab osteoartritis bermacam-macam. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara
osteoarthritis dengan reaksi alergi, infeksi, dan invasi fungi (mikosis). Riset lain juga menunjukkan
adanya faktor keturunan (genetik) yang terlibat dalam penurunan penyakit ini. Namun demikian, beberapa
faktor risiko terjadinya osteoartritis adalah sebagai berikut: 1) Wanita berusia lebih dari 45 tahun 2)
Kelebihan berat badan 3)Aktivitas fisik yang berlebihan, seperti para olahragawan dan pekerja kasar 4)
Menderita kelemahan otot paha 5) Pernah mengalami patah tulang disekitar sendi yang tidak
mendapatkan perawatan yang tepat
Demensia Vaskular
Disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di otak. Dan setiap penyebab atau faktor resiko
stroke dapat berakibat terjadinya demensia,. Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat
gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi itu dapat didiuga sebagai demensia vaskuler. Gejala
depresi lebih sering dijumpai pada demensia vaskuler daripada Alzheimer. Hal ini disebabkan karena
kemampuan penilaian terhadap diri sendiri dan respos emosi tetap stabil pada demensia vaskuler.
Diabetes Melitus Tipe 2
DM type II atau disebut DM yang tak tergantung pada insulin. DM ini disebabkan insulin yang
ada tidak dapat bekerja dengan baik,kadar insulin dapat normal, rendah atau bahkan bahkan meningkat
tetapi fungsi insulin untuk metabolisme glukosa tidak ada/kurang. Akibatnya glukosa dalam darah tetap
tinggi sehingga terjadi hiperglikemia, 75% dari penderita DM type II dengan obersitas atau ada sangat
kegemukan dan biasanya diketahui DM setelah usia 30 tahun. Diabetes tipe 2, yang diakibatkan oleh
defisiensi sekresi insulin, seringkali disertai dengan sindrom resistansi insulin. Pada penderita diabetes
mellitus tipe 2, penatalaksanaan pengobatan dan penanganan difokuskan pada gaya hidup dan aktivitas
fisik. Pengontrolan nilai kadar gula dalam darah adalah menjadi kunci program pengobatan, yaitu dengan
mengurangi berat badan, diet, dan berolahraga. Jika hal ini tidak mencapai hasil yang diharapkan, maka
pemberian obat tablet akan diperlukan. Bahkan pemberian suntikan insulin turut diperlukan bila tablet
tidak mengatasi pengontrolan kadar gula darah.
Etiologi
Penyebab yang pasti belum diketahui. Beberapa alternatif penyebab yang telah dihipotesa adalah
intoksikasi logam, gangguan fungsi imunitas, infeksi virus, polusi udara/industri, trauma, neurotransmiter,
defisit formasi sel-sel filament, presdiposisi heriditer. Dasar kelainan patologi penyakit alzheimer terdiri
dari degenerasi neuronal, kematian daerah spesifik jaringan otak yang mengakibatkan gangguan fungsi
kognitif dengan penurunan daya ingat secara progresif.Adanya defisiensi faktor pertumbuhan atau asam
amino dapat berperan dalam kematian selektif neuron. Kemungkinan sel-sel tersebut mengalami
degenerasi yang diakibatkan oleh adanya peningkatan calsium intraseluler, kegagalan metabolisme
energi, adanya formasi radikal bebas atau terdapatnya produksi protein abnormal yang non
spesifik.Penyakit alzheimer adalah penyakit genetika, tetapi beberapa penelitian telah membuktikan
bahwa peran faktor genetika, tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran faktor non-
genetika (lingkungan) juga ikut terlibat, dimana faktor lingkungan hanya sebagai pencetus factor
genetika.
Epidemiologi
Insidensi demensia meningkat secara bermakna seiring meningkatnya usia. Setelah usia 65
tahun,prevalensi demensia meningkat dua kali lipat setiap pertumbuhan usia lima tahun. Secara
keseluruhan prevalensi demensia pada populasi berusia lebih dari 60 tahun adalah 5,6%. Penyebab
tersering demensia di Amerika Serikat dan Eropa adalah penyakit Alzheimer,sedangkan di Asia
diperkirakan demensia vaskular.
1
Dari seluruh penuduk sentenarian di Jepang,70% mengalami demensia
dengan 76%-nya menderita penyakit Alzheimer. Berbagai penelitian menunjukkan laju insidensi
penyakit Alzheimer meningkat secara eksponensial seiring bertambahnya umur,walaupun terjadi
penurunan insidensi pada usia 95 tahun yang diduga karena terbatasnya jumlah subyek di atas usia 90
tahun.
1

Proporsi perempuan yang mengalami penyakit Alzheimer lebih tinggi dibandingkan laki-laki
(sekitar 2/3 pasien adalah perempuan). Hal ini disebabkan perempuan memiliki harapan hidup lebih baik
dan bukan karena perempuan lebih mudah menderita penyakit ini. Tingkat pendidikan yang rendah juga
disebutkan berhubungan dengan risiko terjadinya penyakit Alzheimer. Faktor-faktor risiko lain yang dari
berbagai penelitian diketahui berhubungan dengan penyakit Alzheimer adalah hiperetensi,diabetes
melitus,dislipidemia,serta berbagai faktor risiko timbulnya aterosklerosis dan gangguan sirkulasi
pembuluh darah otak.
1

Mutasi beberapa gen familial penyakit Alzheimer pada kromosom 21,koromosim 14,dan
kromosom 1 ditemukan pada kurang dari 5% pasien dengan penyakit Alzheimer. Sementara riwayat
keluarga dan munculnya alel e4 dari Apolipoprotein E pada lebih dari 30% pasien dengan penyakit ini
mengindikasikan adanya faktor genetik yang berperan pada munculnya penyakit ini. Seseorang dengan
riwayat keluarga pada anggota keluarga tingkat pertama mempunyai risiko dua sampai tiga kali menderita
penyakit Alzheimer,walaupun sebagaian besar pasien tidak mempunyai riwayat keluarga yang positif.
Walaupun alel e4 Apo E bukan penyebab timbulnya demensianamun munculnya alel ini merupakan
faktor utama yang mempermudah seseorang menderita penyakit Alzheimer.
3

Patofisiologi
Komponen utama patologi penyakit Alzheimer adalah plak senilis dan neuritik, neurofibrillary
tangles, hilangnya neuron atau sinaps, degenerasi granulovakuolar, dan hirano bodies. Plak neuritik
mengandung b-amyloid ekstraseluler yang dikelilingi neuritis distrofik, sementara plak difus (atau
nonneuritik) adalah istilah yang kadang digunakan untuk deposisi amyloid tanpa abnormalitas neuron.
Deteksi adanya Apo E didalam plak beta amyloid dan studi mengenai ikatan high avidity antara Apo E
dengan beta amyloid menunjukan bukti hubungan antara dengan amyloidogenesis dan Apo E. Plak
neuritik juga mengandung protein komplemen, mikroglia yang teraktivasi, sitokin-sitokin, dan protein
fase akut, sehingga komponen inflamasi juga diduga terlihat pada patogenesis penyakit alzheimer. Gen
yang mengkode the amyloid prekursor protein (APP) terletak pada kromosom 21, menunjukan hubungan
potensial patologi penyakit alzheimer dengan sindrom down (trisome-21), yang diderita oleh semua
pasien penyakit alzheimer yang muncul pada usian 40 tahun. Berbagai mekanisme yang terlibat pada
patogenesis tersebut bila dapat di modifikasi dengan obat yang tepat dapat diharapkan dapat
mempengaruhi perjalanan penyakit alzheimer. Adanya dan jumlah plak senilis adalah satu gambaran
patologis utama yang penting untuk diagnosis penyakit alzheimer. Sebenarnya jumlah plak meninggkat
seiriing jumlah usia, dan plak ini juga muncul di jaringan otak orang usian lanjut yang tidak dimensia.
Juga dilaporkan bahwa satu dari tiga orang berusia 85 tahun yang tidak demensia mempunyai deposisi
amyloid yang cukup di korteks serebri untuk memenuhi kriteria penyakit alzheimer, namun apakah ini
mencerminkan fase preklinik dari penyakit yang masih belom diketahui.Defisit neurotransmitter utama
pada penyakit alzheimer, juga pada dimensia tipe lain, adalah sistem kolinergik. Walaupun sistem
noradrenergik dan serotonin, somatostatin-like reactivity, dan corticotropin-releasing factor juga
berpengaruh pada penyakit alzheimer, defisit asetilkolin tetap menjadi proses utama penyakit dan menjadi
target sebagian besar terapi yang tersedia saat ini untuk penyakit alzheimer.

Manifestasi Klinis
Penderita alzheimer, akan kehilangan ingatan secara bertahap, mengalami disorientasi dan
perubahan kepribadian. Hal tersebut membuat pasien kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Gejala Alzheimer dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:
A. Gejala ringan
Lebih sering bingung dan melupakan informasi yang baru dipelajari
Disorientasi: tersesat di daerah sekitar yang dikenalnya dengan baik
Bermasalah dalam melaksanakan tugas rutin
Mengalami perubahan dalam kepribadian dan penilaian

B. Gejala menengah
Kesulitan dalam mengerjakan aktivitas hidup sehari-hari, seperti makan dan mandi
Cemas, curiga, dan agitasi
Mengalami gangguan tidur
Keluyuran
Kesulitan mengenali keluarga dan teman.

C. Gejala akut
Sulit / kehilangan kemampuan berbicara
Kehilangan nafsu makan, menurunnya berat badan
Tidak mampu mengontrol buang air kecil dan buang air besar
Sangat tergantung pada caregiver/pengasuh

Penatalaksanaan Medika Mentosa
Pengaturan penyakit Alzheimer terdiri dari pengobatan perawatan berdasarkan berbasis dan non-
obat. Dua kelas yang berbeda dari obat-obatan yang disetujui oleh FDA untuk mengobati penyakit
Alzheimer: cholinesterase inhibitor dan antagonis glutamat parsial. Baik kelas obat telah terbukti untuk
memperlambat laju perkembangan penyakit Alzheimer. Meskipun demikian, banyak uji klinis
menunjukkan bahwa obat ini lebih unggul daripada plasebo (pil gula) dalam mengurangi beberapa gejala.
Cholinesterase inhibitor
Pada pasien dengan penyakit Alzheimer ada kekurangan relatif dari bahan kimia
neurotransmitter otak yang disebut asetilkolin. (Neurotransmitter adalah pembawa pesan kimiawi
yang dihasilkan oleh saraf saraf yang digunakan untuk berkomunikasi satu sama lain dalam
rangka untuk melaksanakan fungsi mereka.) Substansial penelitian telah menunjukkan bahwa
asetilkolin penting dalam kemampuan untuk membentuk kenangan baru. The cholinesterase
inhibitor ini (ChEIs) blok pemecahan asetilkolin. Akibatnya, asetilkolin lebih tersedia di otak, dan
mungkin menjadi lebih mudah untuk membentuk kenangan baru.
Empat ChEIs telah disetujui oleh FDA, tetapi hanya hidroklorida Donepezil (Aricept),
rivastigmine (Exelon), dan galantamine (Razadyne - Reminyl sebelumnya disebut) digunakan
oleh kebanyakan dokter karena obat keempat, tacrine (Cognex) memiliki efek samping yang
tidak diinginkan lebih dibandingkan dengan tiga lainnya. Kebanyakan ahli dalam penyakit
Alzheimer tidak percaya ada perbedaan penting dalam efektivitas ketiga obat Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa perkembangan gejala pasien pada obat ini tampaknya dataran tinggi selama
enam sampai 12 bulan, tapi pasti perkembangan kemudian dimulai lagi.
Dari tiga sakit banyak digunakan, rivastigmine dan galantamine hanya disetujui oleh
FDA untuk ringan sampai sedang penyakit Alzheimer, sedangkan Donepezil telah disetujui untuk
penyakit Alzheimer ringan, sedang, dan berat itu. Hal ini tidak diketahui apakah rivastigmine dan
galantamine juga efektif pada penyakit Alzheimer berat, meskipun ada tampaknya tidak menjadi
alasan bagus mengapa mereka tidak seharusnya.
Efek samping utama ChEIs melibatkan sistem pencernaan dan termasuk mual , muntah ,
kram, dan diare . Biasanya efek samping ini dapat dikontrol dengan perubahan ukuran atau
waktu atau administrasi dosis obat dengan jumlah kecil makanan. Antara 75% dan 90% dari
pasien akan mentolerir dosis terapi ChEIs.
Parsial antagonis glutamat
Glutamat adalah neurotransmitter rangsang utama dalam otak. Satu teori menyatakan
bahwa banyak glutamat mungkin terlalu buruk bagi dan menyebabkan kerusakan sel saraf otak.
Memantine (Namenda) bekerja dengan parsial mengurangi pengaruh glutamat untuk
mengaktifkan sel-sel saraf. Belum terbukti bahwa memantine memperlambat laju perkembangan
penyakit Alzheimer. Penelitian telah menunjukkan bahwa beberapa pasien di memantine dapat
merawat diri mereka lebih baik dibandingkan pasien pada pil gula (plasebo). Memantine telah
disetujui untuk pengobatan demensia sedang dan berat, dan studi tidak menunjukkan hal itu
membantu dalam demensia ringan. Hal ini juga mungkin untuk mengobati pasien dengan baik
sakit dan memantine tanpa kehilangan efektivitas obat baik atau peningkatan efek samping.

Penatalaksanaan Non Medika Mentosa
Tujuan utama penatalaksanaan pada seorang pasien dengan demensia adalah mengobati penyebab
demensia yang dapat dikoreksi dan menyediakan situasi yang nyaman dan mendukung bagi pasien dan
pramuwerdhanya. Bila pasien cenderung depresi ketimbang demensia,maka depresi harus diatasi dengan
adekuat. Anti depresi yang mempunyai efek samping minimal terhadap fungsi kognitif,seperti serotonin
selective receptors inhibitor (SSRI),lebih dianjurkan pada pasien demensia dengan gejala
depresi.
1
Imobilisasi,asupan makanan yang kurang,nyeri,konstipasi,infeksi,dan intoksikasi obat adalah
beberapa faktor yang dapat mencetuskan gangguan perilaku,dan bila diatasi maka tidak perlu memberikan
obat-obatan antipsikosis.
Dalam mengelola pasien dengan demensia,perlu pula diperhatikan upaya-upaya mempertahankan
kondisi fisik atau kesehatan pasien. Seiring dengan progresi demensia,maka banyak sekali komplikasi
yang akan muncul seperti pneumonia dan infeksi saluran nafas bagian atas,septikemia,ulkus
dekubitus,fraktur,dan berbagai masalah nutrisi. Kondisi-kondisi ini terkadang merupakan sebab utama
kematian pasien dengan demensia. Pada stadium awal penyakit,seorang dokter harus mengusahakan
berbagai aktivitas dalam rangka mempertahankan status kesehatan pasien,seperti melakukan
latihan,mengendalikan hipertensi dan berbagai penyakit lain,memperhatikan higiene mulut dan gigi,serta
mengupayakan kaca mata dan alat bantu dengar bila terdapat gangguan penglihatan atau pendengaran.
Pada fase lanjut demensia,merupakan hal yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dasar pasien
seperti nutrisi,hidrasi,mobilisasi,dan perawatan kulit untuk mencegah ulkus dekubitus.
2
Kerja sama yang
baik antara dokter dengan pramuwerdha juga sangat penting dalam pengelolaan secara paripurna pasien
dengan demensia.
Prognosis
Penyakit Alzheimer adalah selalu progresif. penelitian yang berbeda telah menyatakan bahwa
penyakit Alzheimer berkembang lebih dari dua sampai 25 tahun dengan pasien yang paling dalam rentang
delapan sampai 15 tahun. Meskipun demikian, mendefinisikan ketika penyakit Alzheimer dimulai,
terutama dalam retrospeksi, bisa sangat sulit. Pasien biasanya tidak mati langsung dari penyakit
Alzheimer. Mereka mati karena mereka memiliki kesulitan menelan atau berjalan dan perubahan-
perubahan ini membuat infeksi yang luar biasa, seperti pneumonia , jauh lebih mungkin. Sebagian orang
dengan penyakit Alzheimer dapat tetap di rumah selama beberapa bantuan diberikan oleh orang lain
sebagai penyakit berlangsung. Selain itu, sepanjang perjalanan banyak penyakit, individu
mempertahankan kemampuan untuk memberi dan menerima cinta, berbagi hubungan interpersonal yang
hangat, dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang berarti dengan keluarga dan teman-teman.
Seseorang dengan penyakit Alzheimer mungkin tidak lagi dapat melakukan matematika tetapi
masih mungkin dapat membaca majalah dengan kesenangan. Bermain piano mungkin menjadi terlalu
stres dalam menghadapi kesalahan meningkat, tetapi bernyanyi bersama dengan orang lain mungkin
masih memuaskan. papan catur mungkin harus disingkirkan, tapi bermain tenis mungkin masih
menyenangkan. Jadi, meskipun banyak saat-saat menjengkelkan dalam kehidupan pasien dengan penyakit
Alzheimer dan keluarga mereka, masih banyak peluang untuk interaksi positif. Tantangan, frustrasi,
kedekatan, kemarahan, kehangatan, kesedihan, dan kepuasan semua mungkin dialami oleh mereka yang
bekerja untuk membantu orang dengan penyakit Alzheimer. Reaksi pasien dengan penyakit Alzheimer's
penyakit dan atau dia kapasitasnya untuk mengatasinya juga berbeda-beda, dan mungkin tergantung pada
faktor-faktor seperti pola kepribadian seumur hidup dan sifat dan tingkat keparahan stres di lingkungan
terdekat. Depresi, kegelisahan paranoid, parah, atau delusi dapat menyertai atau hasil dari penyakit, tetapi
kondisi ini sering dapat diperbaiki dengan perawatan yang tepat. Although there is no cure for Meskipun
tidak ada obat untuk penyakit Alzheimer, perawatan yang tersedia untuk mengurangi banyak gejala yang
menyebabkan penderitaan.
Kesimpulan
Pengetahuan tentang Penyakit Alzheimer telah berkembang jauh dari berpikir bahwa itu hanya
kehilangan memori. Penyakit ini menghasilkan-blown demensia penuh pada pasien dan mempengaruhi
jutaan orang dan keluarga mereka. Orang-orang dan keluarga mereka memiliki kebutuhan khusus.
Akibatnya, program, lingkungan, dan pendekatan perawatan harus mencerminkan keunikan ini.
Mengembangkan perawatan yang efektif / paket layanan bagi orang dengan demensia memerlukan
penilaian hati-hati dari orang tersebut, rencana rinci, dan perhatian terhadap kebutuhan individual orang
dengan demensia. Semua orang (termasuk orang dengan penyakit Alzheimer's, keluarga, dan staf) harus
terlibat dalam pelaksanaan, pengembangan, dan evaluasi penilaian dan perawatan / proses pelayanan
rencana.

Daftar Pustaka
1. Sudoyo A, Setyohadi B, Alwi I, K.Marcellinus S, Setati S. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi
V. Jakarta: internal Publishing, 2009. P 837-44
2. Gelb, Douglas. Gelb, Douglas. (2000). Measurement of progression in Alzheimer's disease: A
clinician's perspective. Statistics In Medicine , 19, 1393-1400. (2000):. Pengukuran kemajuan
pada penyakit Alzheimer's perspektif. Klinisi Sebuah Statistik Dalam Kedokteran 19,, 1393-1400.
3. Bird TD,Miller BL.Alzheimers disease and other dementias.Dalam: Kasper DL,Braunwald
E,Fauci AS,Hauser SL,Longo DL,penyunting. Harrisons Principles of Internal Medicine,Edisi
ke-16. New York: McGraw-Hill Medical Publishing Division;2005.h.2393-406
4. Rochmach W,Harimurti K. Demensia.Dalam: Sudoyo A,Setiyohadi B,Alwi I,Setiati
S,penyunting. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi ke-4.Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;2006.h.1374-8
5. Cummings JL. Alzheimers disease. N Engl J Med. 2004;351:56-67