Anda di halaman 1dari 11

CERVICOGENIC HEADACHE :

A REVIEW OF DIAGNOSTIC AND TREATMENT STRATEGIES









OLEH
HARSA RUSDA 0910311011
MEGA REDHA PUTRI 0910312038





BAGIAN NEUROLOGI
RSUP DR M DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2014


CERVICOGENIC HEADACHE :
A REVIEW OF DIAGNOSTIC AND TREATMENT STRATEGIES

Cervicogenic headache merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan nyeri kronik
hemikranial pada kepala dari struktur tulang atau jaringan lunak pada leher. Inti
trigeminocervical merupakan daerah pada sumsum tulang belakang bagian atas dimana
serabut saraf sensorik pada traktus descenden dari saraf trigeminal (trigeminal nucleus
caudalis) dapat beriteraksi dengan serabut sensorik dari serabut servikal bagian atas.
Konvergensi fungsional ini pada servikal atas dan trigeminal untuk sensasi nyeri antara leher
dan sensorik dari wajah dan kepala. Sebuah konvergensi fungsional serat sensorimotor pada
tulang belakang (N. Cranial XI) dan akar saraf servikalis, pada akhirnya menyatu dengan
traktus descenden dari N. Trigeminal dan bertanggungjawab atas nyeri servikal ke kepala.
Kriteria diagnostik ditegakkan dari nyeri kepala cervicogenic, tetapi manifestasi yang
ditampilkan kadang-kadang menjadi sulit untuk dibedakan dari gangguan nyeri kepala primer
seperti migrain, tension type headache atau hemicranial.
Artikel ini meninjau mengenai gejala klinis dari cervicogenic headache, kriteria
diagnostik, patofisiologi, dan metode evaluasi diagnostik. Pedoman untuk mengembangkan
keberhasilan dari multidisiplin program penanganan nyeri menggunakan obat-obatan, terapi
fisisk, osteopathic manipulative treatment (OMT), metode pengobatan non farmako lainnya
dan penggunaan anestesi .
Nyeri leher dan kekakuan otot leher merupakan gejala umum dan utama pada sakit
kepala primer. Sakit kepala sebenarnya muncul dari struktur tulang atau jaringan lunak pada
leher, sebuah kondisi yang dikenal sebagai cervicogenic headache. Cervicogenic headache
dapat menjadi hal yang membingungkan pada gangguan nyeri jika pengobatannya tidak jelas.
Patofisiologi dan sumber nyeri telah diperdebatkan, tetapi nyeri kemungkinan yang dimaksud
adalah dari satu atau lebih otot, saraf, tulang, sendi, atau struktur vaskular pada leher.
Trigeminocervical nucleus merupakan daerah pada upper cervical spinal cord dimana
serabut saraf sensorik pada traktus descenden dari nervus trigeminal (trigeminal nucleus
caudalis) diyakini dapat berinteraksi dengan serabut saraf sensorik dari upper cervical root.
Fungsi ini pada jalur sensorik cervical bagian atas dan trigeminal memberikan dua sumber
arah dari sensasi nyeri diantara leher dan sensorik trigeminal di wajah dan kepala.
Nyeri kepala sebagai manifestasi dari migren
Nyeri leher dan ketegangan otot merupakan gejala umum dari serangan migren. Pada
sebuah studi terhadap 50 pasien dengan migren, 64% dilaporkan nyeri leher atau kekakuan
dihubungkan dengan serangan migren dengan 31% gejala dialami pada leher selama gejala
prodromal, 93 % selama fase sakit kepala, 31% selama penyembuhan. Dalam studi oleh blau
dan mac gregor, 7 pasien dilaporkan bahwa nyeri ditujukan ke bahu ipsilateral dan 1 pasien
melaporkan bahwa nyeri meluas dari leher ke daerah pinggang.
Pada studi lain university-based head clinic, dari 144 pasien 75% dari pasien
dilaporkan mengalami nyeri leher yang berhubungan dengan serangan migrain. Pada pasien
ini, 64% mengatakan nyeri dirasakan seperti diikat, 17% mengatakan kekakuan dan 5%
berdenyut.
Nyeri leher unilateral tanpa sakit kepala dilaporkan sebagai jenis dari migrain.
Riwayat pada kasus nyeri leher berulang ditemukan bahwa gejala sebelumnya yang dialami
sama atau identik terkait migrain.
Perbedaan postur leher, tingkatan dari ketegangan otot dan hal pemicu myofascial,
diamati pada subjek dengan migrain, tension type headache, atau kombinasi keduanya. Tetapi
tidak dalam hal kelompok kontrol non headache. Perbandingan dari kelompok sakit kepala
menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada gejala dan tanda myofascial, ini
menghilangkan keyakinan umum bahwa tension type headache adalah berhubungan dengan
besarnya derajat keterlibatan muskuloskeletal dibanding migrain.

Sakit kepala sebagai manifestasi gangguan leher
Sakit kepala yang berasal dari struktur tulang leher atau jaringan lunak pada leher
yang biasa disebut cervicogenic headache. Hal ini sering merupakan sequele dari trauma
leher atau kepala, tetapi dapat juga terjadi pada non trauma.
Prevalensi cervicogenic headache pada populasi umum diperkirakan diantara 0,4%
dan 2,5%. Tetapi pada manajemen nyeri, prevalensi sebesar 20% dari pasien dengan sakit
kepala kronis. Usia rata-rata pasien pada kondisi ini adalah 42,9 tahun dan cervicogenic
headache 4 kali lebih sering terjadi pada wanita. Pasien dengan cervicogenic headache
memiliki penurunan yang substansial pada pengukuran kualitas hidup yang mirip dengan
kualitas hidup pasien migrain dan tension type headache ketika dibandingkan dengan subjek
kontol, tetapi mereka memperlihatkan kehilangan terbesar pada fungsi fisik ketika
dibandingkan dengan kelompok dengan gangguan sakit kepala lain. Studi kelompok
cervicogenic headache internasional mengembangkan kriteria diagnostik yang disajikan
secara lengkap. Secara klinis, ini berguna menjelaskan kondisi. Diagnosis servikogenik
headache dapat sering dibuat tanpa menyingkirkan diagnosis neural dengan berdasarkan pada
riwayat dan pemeriksaan fisik.

Pengujian diagnosis untuk kemungkinan cervicogenic headache
Pasien dengan cervicogenic headache akan sering mengubah posisi leher atau megalami
keterbatasan pergerakan servikal. Nyeri kepala dapat dicetuskan atau ditimbulkan oleh
pergerakan aktif pada leher, posisi leher pasif khususnya pada ekstensi atau ekstensi dengan
rotasi ke bagian yang nyeri atau penggunaan tekanan digital yang terlibat pada daerah
gelombang atau ipsilateral persarafan yang lebih besar. Daerah pencetus muscular biasanya
ditemukan pada suboksipital, servikal, otot bahu dan hal pencetus dapat juga mengacu pada
nyeri kepala ketika distimulasi secara fisik atau secara manual. Tidak ada temuan neurologis
pada servikal radikulopati. Diperkirakan pasien mungkin melaporkan rasa kesemutan di kulit
kepala atau dysestesia (perasaan seperti terbakar).
Pemeriksaaan diagnosis imaging seperti radiografi, MRI, CT, Myelografi, tidak dapat
mengkonfirmasi diagnosis dari cervicogenic headache tetapi dapat mendukung diagnosis.
Sebuah studi melaporkan tidak ada perbedaan pada tampilan struktur servikal spine pada
MRI ketika 24 pasien dengan tampilan klinis pada cervicogenic headache dibandingkan
dengan 20 subject kontrol. Tonjolan diskus servikal dilaporkan sama pada kedua kelompok
(45,5% vs 45%)
Suatu riwayat lengkap, dari pemeriksaan fisik dan sistem termasuk penilaian
neurologik komplit akan sering diidentifikasi, gangguan struktural potensial atau penyakit
sistemik. Pemeriksaan pencitraan (imaging) terutama digunakan untuk mencari kemungkinan
penyebab sekunder nyeri yang mungkin membutuhkan bedah atau bentuk penanganan lain.
Perbedaan diagnosis pada kasus dari kemungkinan cervicogenic headache dapat termasuk
posterior fossa tumor, arnold chiari malformasi, cervical spondilosis atau arthropathy,
herniasi diskus intervertebra, komponen persarafan tulang belakang atau tumor dan
intramedular atau ekstramedular tumor pada tulang belakang.
Evaluasi labor mungkin diperlukan untuk mencari penyakit sistemik yang dapat
berdampak negatif terhadap otot, tulang, atau pencetus (rheumatoid artritis, sistemic lupus
eritomatosus, parathtoid, tiroid, penyakit otot primer, dan lain-lain).
Hambatan zygapophyseal joint, saraf servikal atau cabang medial, digunakan untuk
mengkonfirmasi diagnosis dari cervicogenic headache dan memprediksi modalitas
pengobatan yang kemungkinan besar akan menimbulkan manfaat terbesar. Persarafan
cervical 1,3 dan rami adalah struktur sara perifer primer yang dapat mengacu pada nyeri
kepala.
Persarafan suboccipital menginervasi hubungan atlantooksipital. Oleh karena itu,
kondisi patologik atau persambungan/ persendian ini sebagai sumber yang potensial untuk
nyeri kepala yang merujuk pada regio oksipital.
Saraf spinal C2 dan dorsal root ganglion memiliki hubungan terhadap kapsul lateral
atlantoaxial (C1-2) zygopophyseal joint dan inervasi atlantoaxial dan C2-3 zygapophyseal
joint. Oleh karena itu, trauma atau perubahan pada patologik disekitar persambungan ini
dapat menjadi sumber nyeri kepala. Neuralgia dari C2 adalah tipe yang menjelaskan seberapa
dalam nyeri yang biasanya menyebar dari oksipital ke parietal, temporal, frontal, dan regio
periorbita.
Nyeri tajam yang tiba-tiba atau nyeri seperti terkejut kadang timbul pada nyeri yang
konstan. Lakrimasi mata pada ipsilateral dan injeksi konjungtiva adalah tanda umum yang
berhubungan dengan kompresi pada arteri atau vena pada saraf C2 spinal atau dorsal root
ganglion yang telah dipercaya merupakan penyebab C2 neuralgia pada beberapa kasus. Saraf
oksipital ketiga (dorsal ramus C3)memiliki hubungan dan inervasi C2-3 zygopophiseal joint.
Hubungan ini dan saraf occipital ketiga muncul paling mudah terkena saat trauma dinamis
(pukulan) pada leher. Nyeri dari C2-3 zygopohyseal joint merupakan regio occipital tetapi
juga regio frontotemporal dan periorbita. Cedera pada daerah ini merupakan penyebab umum
dari cervicogenic headache, kebanyakan dari cervicogenic headache terjadi setelah pukulan
dalam setahun kejadian.
Hal menarik dari laporan pasien dengan sakit kepala kronik mengalami nyeri
substansial yang berkurang setelah diskectomy pada spinal C5-6
Diagnosis anestesi blokade untuk evaluasi servikogenik headache dapat secara
langsung untuk beberapa strukstur anatomis. Blokade anestesi untuk diagnosrik untuk
evaluasi nyeri kepala servikogenik dapat ditujukan langsung kepada beberapa struktur
anatomi seperti saraf oksipital besar (ramus dorsal C2), saraf oksipital lebih kecil, sendi
atlanto-oksipital, sendi atlantoaksial, saraf C2-C3, saraf okspitial ketiga (ramus dorsal C3),
sendi zygapophyscal atau diskus intervetebral berdasarkan karakteristik klinis nyeri dan
penemuan dari pemeriksaan fisik. Blokade yang menggunakan fluoroskopik atau MRI
interventional mungkin penting untuk keakuratan dan melokalisasi secara spesifikdari sumber
nyeri.
Neuralgia oksipitaladalah gangguan nyeri spesifik yang mempunyai karakter nyeri
yang terisolasi poada daerah sensorik saraf oksipital besar. Deskripisi klasik dari neuralgia
oksipital termasuk adanya nyeri yang dalam atau terbakar yang konstan yang tumpang tindih
dengan nyeri paroksismal seperti ditembak atua disentrum. Parestesia dan kebas pada kepala
bagian okspitial biasanya ada. Biasanya sulit untuk menentukan sumber nyeri sebenarnya
pada kondisi ini. Pada definisi klasik ini, nyeri okspital dipercayai berasal dari trauma atau
terjepitnya saraf oksipital di dalam leher atau kepala, tapi nyeri juga dapat berasal dari akar
spina C2. C1-2 atau C2-3 atau perubahan patologis dari fossa kranium posterior.
Blokade nervus oksipital, seperti yang dilakukan di klinis, sering menghasilkan
blokade nonspesifik regional dibandingkan dengan spesifik dan mungkin dapat menghasilkan
identifikasi yang salah atas saraf oksipital sebagai sumber nyeri. Lokalisasi yang salah ini
dapat menuntun ke intervensi yang tidak diperlukan yang ditujukan kepada saraf oksipital,
seperti operasi transeksi dan prosedur neurolitik lainnya.
Sebuah sindrom nyeri myofasial (MPS) mempengaruhi otot leher,perokarnial dan
otot mengunyahyang dapat berhubungan dengan nyeri kepala. Serat saraf aferen sensorik
dari wilayah servik bagian atas telah diketahui bahwa saraf spinal aksesori masuk ke spinal
sebelum memasuki spinal dorsal. Hubungan yang dekat antara serat saraf sensorimotor
pada saraf spinal aksesori dengan saraf sensorik spinal dipercayai untuk memudahkan
sebuah pergantian fungsi somatosensorik, propioseptif dan nosisptif dari informasi dari
trapezius, sternocleidomastoideus, dan otot leher lainnya untuk bergabung dengan nukleus
trigeminoservikal dan menghasilkan nyeri menjalar pada daerah sensorik trigeminus pada
kepala dan wajah.
Muscular trigger point, sebuah titik penting pada MPS, adalah daerah dengan otot
yang berkontraksi dan hiperiritabilitas yang menurunkan ambang batas nyeri dan menjalarkan
nyeri ke daerah lebih jauh pada pola yang dapat diprediksi. Injeksi anestesi pada trigger
point ini dapat dilakukan pada evaluasi diagnostik dan manajemen terapi pada nyeri kepala
dan wajah menjalar dari sumber otot-leher.

Terapi nyeri servikogenik
Terapi yang sukses pada nyeri kepala servikogenik biasanya membutuhkan
pendekatan banyak hal menggunakan intervensi farmakologis, nonfarmakologis, manipulasi,
anestesi dan biasanya juga pembedahan. Pengobatan sendiri biasanya tidak efektif atau hanya
membantu sedikit pada kondisi ini.
Injeksi anestesi biasanya dapat menurunkan beratnya nyeri sementara tetapi
keuntungan terbesar mereka adalah membuat partisipasi dalam modalitas tatalaksana fisik
yang lebih besar. Kesuksesan dalam blokade diagnostik dari saraf servikal atau sendi
zypophyseal dapat memprediksi respon terhadap neurolisis yang berhubungan dengan suhu.
Rencana perkembangan tatalaksana secara individual dapat memberikan hasil yang sukses.
Tatalaksana farmakologis
Modalitas tatalaksana farmakologis untuk nyeri kepala servikogenik mencakup
banyak obat yang digunakan untuk tatalaksana preventif dan paliatif dari nyeri kepala tipe
tegang, migrain dan sindrom nyeri neuropatik. Medikasi yang tercatat tidak disetujui oleh
USA Food and Drug Admission ataupun uji klinis terhadap tatalaksana nyeri kepala
servikogenik dan hanya dianjurkan sebagai terapi yang potensial berdasarkan pengalaman
klinisi yang menatalaksana pasien dengan keluahan nyeri yang mirip. Efek samping dan
petunjuk monitoring secara laboratorium yang ada tidak komprehensif dan konsultasi
terhadap rujukan standar dan pengemasan produk, direkomdeasikan sebelum meresepkan
obat-obatan ini.
Banyak pasien dengan nyeri kepala servikogenik menggunakan obat-obatan secara
berlebihan atau menjadi ketegantungan dengan analgetik. Obat-obatan ketika digunakan
sebagai satu-satunya terapi untuk nyeri kepala servikogenik biasanya tidak mringankan nyeri
secara umum pada kebanyakan kasus. Disamping itu, penggunaka obat-obatan secara bijak
dapat memberikan pengurangan nyeri yang cukup sehingga pasien dapat mengikuti
fisioterapi dan program rehabilitasi. Untuk meningkatkan ketahanan, obat-obatan biasanya
diberikan pada dosis rendah dan ditingkatkan pada 4 -8 minggu berikutnya seperlunya dan
sejauh toleransi pasien.
Peringatan dalam kombinasi obat pada obat-obat yang berbeda kelasnya atau dengan
farmakologis yang saling melengkapi dapat memberikan efektifitass lebih besar
dibandingkan dengan hanya satu obat saja. Visite berkala untuk dosis obat, penyesuaina,
monitor pada level serum obat dan toksisitas obat dianjurkan.
- Anti depresan
TCA telah lamadigunakan dalam terapi beragam sindrom nyeri neuropatik,
muskuloskeletal, kepala dan wajah. Dosis analgetik biasanya rendah daripada dosis yang
dibutuhkan oleh pasien dengan depresi. Serotonin dan norepinefrin intake inhibitor(SNRI)
seperti hidroklorid venlafaksin dan hidroklirda duloksetin telah diketahui membantu dalam
tatalaksana migrain. Pengawasan yang sama juga dilaporkan terhadap venlafaksin dalam
terapi neuropati DM yang nyeri, fibromialgia, dan sindrom nyeri myelofasial sedangkan
duloksetin diindikasikan pada neuropati DM.
Selective serotonin reuptake inhibitor(SSRI) secara umum tidak efektif untuk mengontrol
nyeri.
-
-
- Obat anti-epilepsi
The Anti Epileptic Drugs(AED) dipercaya dapat menjadi modulator atau stabilisasi
dari transmisi nyeri perifer dan sentral dan secara umum digunakan dalam terapi sindrom
nyeri neuropatik, wajah dan kepala. Sodium divalproex diindikasikan pada terapi prefentif
pada nyeri kepala migrain dan mungkin efektif pada nyeri kepala tipe klaster dan juga
sindrom nyeri neurogenik. Level obat di serum dapat digunakan sebagai petunjuk dosis
terapetik. Monitor bulanan terhadap level transamin hati dan sel darah lengkap untuk bukti
toksisitas obat direkomendasikan, terutama pada bulan 3-4 pertama pengobatan atau ketika
dosis obat diubah.
Gabapentin diindikasikan pada posterapi neuralgia dan telah digunakan pada
manajemen sindrom nyeri neuropatik lainnya serta migrain. Monitor laboratiroum spesifik
tidak dibutuhkan.
Topiramate diindikasikan pada profilaksis migrain dan telah dilaporkan efektif pada
terapi manajemen nyeri neuropatik akibat DM dan nyeri kepala tipe kluster. Monitorin labor
secara berkaladan elektrolit dibutuhkan karena diuresis obat ini bergantung kepada inhibisi
karbonik anhidrase.
Karbamazepin efektif untuk terapi pasien dengan neuralgia trigeminaldan nyeri
neuropatik sentral. Level obat di serum dapat digunakan sebagai petunjuk dosis terapetik.
Monitor secara berkala pada level transaminase hati dan hitung darah lengkap
direkomendasikan , terutama pada bulan 3-4 pertama pengobatan atau ketika dosis obat
diubah.
- Analgetik
Analgetik sederhanda seperti asetaminofen dan NSAID dapat digunakan secara
berkala pada manajemen nyeri kronis atau kapan dibutuhkan pada manajemen nyeri yang
akut.
The selective cyclooxygenase-2 (COX-2) antagonis memiliki toksisitas lebih sedikit
terhadap gastrointestinal dari pada NSAID tetapi toksik terhadap ginjal setelah pemakaian
lama perlu menjadi perhatian. Laporan baru-baru ini menghubungkan penggunaan COX-2
antagonis dengan peningkatan resiko kejadian kardiovaskular dan serebrovaskular, sehingga
rasio keuntungan-resiko pada penggunaanya membutuhkan pertimbangan yang besar.
Direkomendasikan untuk klinisi melihat informasi keamaanan dan peringatan didalam
kemasan produk.
Analgetik narkose tidak direkomendasikan secara umum pada penggunaan jangka
panjang pada manajemen terapi nyeri kepala servikogenik, tetapi dapat diresepkan dengan
hati-hati untuk mengurangi nyeri sementara untuk terapi atau meningkatkan toleransi pada
intervensi anestesi.
Obat-obatan spesifik migrain seperti derivat ergot atau triptan tidak efektif untuk
nyeri kronik tapi dapat mengurangi nyeri pada episode migrain yang dapat terjadi pada
beberapa pasien dengan nyeri kepala servikogenik.
- Obat-obatan lainnya
Muscle relaxant , terutama dengan efek aktivitas sentral seperti tiazid hidroklorida
dan baclofen dapat memberikan efek analgetik. Botulonium toksin tipe A diinjeksikan pada
otot perikranium dan leher merupaka terapi yang menjanjikan pada pasien dengan migrain
dan nyeri kepala servikogenik tetapi penelitian klinis dan sains lebih lanjut dibutuhkan.

Terapi fisik dan manual.
Terapi fisik dan mode manual penting untuk modalitas terapetik untuk rehabilitasi
akut pada nyeri kepala servikogenik. Sebuah trial terkontrol menguji efketifitas dari latihan
terapetik dan terapi manipulasi pada kasus nyeri kepala servikogenik, ditemukan bahwa
efektifitas nya tidak bergantung kepada usia, jenis kelamin ataupun kronisitas nyeri kepala
pada pasien dengan berat nyeri kepala sedang. Penelitian ini menganjurkan bahwa seluruh
pasien dengan nyeri kepala servikogenik dapat diuntungkan dari mode manual terapi dan
fisioterapi.
Penelitian lain yang membandingkan program latihan dengan terapi manipulasi untuk
nyeri kepala servikogenik dilaporkan penurunan frekuensi dan intensitas nyeri kepala yang
mirip antara kedua kelompok pasien tetapi lebih efektif jika kedua modalitas digabungkan.
Review dari literatur medis menyebutkan bahwa efektifitas fisioterapi untuk prevensi jangka
lama dan pengontrolan nyeri kepala cukup besar pada pasien yang tergabung dalam program
latihan dan fisioterapi.
Teknik manipulasi osteopati seperti teknik craniosacral, energi otot adalah praktikal.
Manipulasi tegangan tinggi, amplitudo rendah dapat digunakan secara hati-hati pada
beberapa pasien walaupun tidak umum ditemukan peningkatan berat nyeri setelah terapi
manual tipe ini, terutama pada yang dilakukan terlalu kasar. Modalitas fisioterapi secara
umum lebih baik ditoleransi ketika diawali dengan stretching dan penarikan manual leher.
Terapi dapat secara lambat dilakukan sejauh toleransi termasuk straightening dan kondisi
akrobatik. Penggunaan prosedur blokade anestesi dan neurolitik pada pengurangan nyeri
sementara dapat meningkatkan efektifitas modalitas fisioterapi.

Terapi psikologis dan perilaku
Intervensi psikologis dan nonfarmokologis seperti biofeedback, relaksasi dan terapi
tingkah-laku kognitif penting untuk terapi penyesuaian pada manajemen nyeri yang
komprehensif. Fisioterapi individual sering dibutuhkan jika pada pasien dengan nyeri kronik
memiliki kelainan tingkah laku dan nyeri tetap ada walaupun dengan terapi agresif.

Blokade anestesi dan neurolisis
Injeksi steroid epidural leher mungkin diindikasikan pada pasien dengan degenerasi
diskus dan spina multilevel. Blokade saraf oksipital besar dan kecil mungkin dapat
memberikan pengurangan nyeri sementara pada beberapa kasus. Pada sebuah laporan yang
diterbitkan menganjurkan bahwa blokade berulang pada saraf oksipital besar memiliki
efektifitas yang sama dengan blokade pada saraf C2-C3. Penemuan ini mengajukan bahwa
blokade saraf oksipital besar pada prosedur adalah pilihan terapi yang beralasan sebelum
mempertimbangkan intervensi yang lebih invasif dan lebih mahal.
Injeksi pada trigger point dengan anastesi lokal dapat juga menurunkan nyeri secara
sementara dan merelaksasi otot lokal. Jika blokade diagnostik pada saraf servikal, cabang
tengah dan sendi zygapophyseal berhasil dalam mengurangi sementara nyeri kepala,
algortima terapi dapat diproses untuk dipertimbangkan dengan prosedur neurolisis long-
acting seperti radiofrequency thermal neurolysis.
Pelatihan fisioterapi dan rehabilitasi direkomendasikan setelah blokade anestesi dan
prosedur neurolisis untuk meningkatkan fungsional yang berefek pada keuntungan analgesik
yang lebih lama

Terapi pembedahan
Intervensi pembedahan yang beragam telah dilakukan pada kasus dengan nyeri
kepala servikogenik. Liberasi pembedahan pada saraf oksipital dari jebakan otot trapezius
atau jaringan penyokong disekeliling dapat memberikan pengurangan nyeri sementara pada
beberapa pasien. Hal yang sama, pengurangan nyeri semetara terlihat pada transeksi
pembedahan pada saraf oksipital besar. Pengurangan nyeri dan anestesi adalah hasil yang
potensial yang harus dipertimbangkan secara serius ketika menggunakan intevensi
pembedahan.
Telah ada laporan mengenai efektifitas dalam penuruan frekuensi, berat dan
disabilitas yang berhubungan dengan nyeri kepala pada kasus migrain kronik setelah
implantasi beah pada stimulator saraf oksipital atau spinal. Berdasarkan model patgenik pada
nyeri servikogenik,neurostimulasi muncul sebagai pilihan yang beralasan pada manajemen
nyeri kepala servikogenik, tetapi keamanan dan keefektifitasannya belum diketahui. Secara
keseluruhan, prosedur bedah seperti neurektomi, dorsal rhizotomy, dan dekompresi pada akar
saraf atau saraf perifer secara umum tidak direkomendasikan tanpa bukti radilogis untuk
perbaikan secara bedahatau sebuah riwayat modalitas nonbedah yang tidak sukses.

Komentar
Nyeri servikogenik relatif menjadi penyebab umum nyeri kepala kronik yang
biasanya salah diagnosa atau tidak diketahui. Hal ini menunjukan gejala yang kompleks yang
dapat sama dengan nyeri kepala primer yang lebih umum seperit migrain atau nyeri kepala
tipe tension. Diagnosis awal dan manajemen dengan program tatalaksana nyeri yang
komprehensif dan multidisipin dapat menurunkan secara signifikan penyebab tatalaksana
yang mahal dan disabilitas yang sering berhubungan dengan gangguan nyeri.