Anda di halaman 1dari 17

Rizqi Juarsa

(123010132) T.I-C
Metal Forming
Prinsip Dasar Metal Forming
Prinsip dasar pembentukan logam, metal forming adalah melakukan perubahan
bentuk pada benda kerja dengan cara memberikan gaya luar sehingga terjadi deformasi
plastik. Dengan gaya luar ini akan terjadi perubahan bentuk benda kerja secara permanen.
Pembentukan umumnya bertujuan untuk mendapatkan suatu produk logam sesuai dengan
bentuk yang diinginkan. Selain itu pembentukan memungkinkan diperoleh sifat-sifat mekanik
tertentu sesuai dengan yang dibutuhkan atau yang dipersyaratkan.Pembentukan logam
selalu mengunakan perkakas yang berfungsi sebagai pemberi gaya luar dan pengarah bentuk
yang diinginkan.
Deformasi Secara Makroskopis
Secara makroskopis, deformasi dapat dilihat sebagai perubahan bentuk dan ukuran..
Perubahan bentuk yang terjadi dapat dibedakan atas deformasi elastis dan deformasi plastis.
Deformasi elastis adalah perubahan yang terjadi pada material bila ada gaya yang bekerja,
serta akan kembali kebentuk dan ukuran semula bila gayanya ditiadakan. Sedangkan
deformasi plastik adalah perubahan bentuk yang permanen, meskipun gayanya telah
dihilangkan.
Bila suatu material diberi gaya sampai daerah plastis, maka perubahan bentuk yang terjadi
adalah gabungan antara deformasi plastis dengan deformasi elastis atau biasa disebut
deformasi total. Bila gaya dihilangkan, maka deformasi elastis akan hilang pula, sehingga
perubahan bentuk yang ada hanyalah deformasi plastis.

Gambar 1. Konsep Dasar Pembentukan Logam
Deformasi Secara Mikroskopis
Perubahan mikroskopik yang terjadi setelah logam mengalami deformasi dapat
diamati melalui observasi mikroskop. Pada Gambar 2 dapat dilihat perubahan struktur mikro
baja karbon rendah setelah mengalami deformasi plastis. Perubahan tampak pada bentuk butir
yang semula cenderung bundar dengan sumbu yang sama atau equiaxial grains, menjadi
butiran berbentuk pipih memanjang atau elongated grains. Semakin besar deformasi yang
dialami oleh logam, semakin pipih struktur butirannya.
Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C

Gambar 2. Struktur Mikro Sebelum dan Setelah Deformasi
Deformasi Secara Atomik
Secara mikro, perubahan bentuk, baik deformasi elastis maupun deformasi plastis,
terjadi dengan adanya pegeseran kedudukan atom-atom dari tempatnya yang semula. Pada
deformasi elastis, adanya gaya luar akan menggeser atom-atom ke tempat kedudukkan atom
yang baru, dan atom-atom tersebut akan menempati kedudukan atom semula bila tegangan
dihilangkan. Pada deformasi ini pergeseran kedudukan atom-atom relatif kecil, sehingga
deformasi elastis yang terjadi juga relatif kecil.
Pada deformasi plastis, atom-atom yang bergeser akan menempati kedudukan atom
baru yang stabil. Ini berati atom-atom tersebut akan tetap berada pada kedudukan yang baru
walaupun gaya dihilangkan. Secara mikroskopis perubahan bentuk yang terjadi adalah
permanen.

Gambar 3. Deformasi Secara Atomik

Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C


a) Proses Pengerjaan Panas Pada Logam, Hot Working

Pengertian Definisi
Pengerjaan panas pada logam merupakan proses deformasi pada logam yang dilakukan pada
kondisi temperature dan laju regangan tertentu sehingga proses deformasi dan proses recovery
terjadi secara bersamaan. Deformasi dilakukan di atas temperature rekristalisasi. Pada
temperature ini, pengerasan regang dan struktur butir yang terdeformasi akan segera
tergantikan dengan struktur baru yang bebas regangan. Struktur baru bebas regangan
dimungkinkan karena selama proses deformasi selalu diiringi dengan proses rekristalisasi.
Temperatur Pengerjaan Panas
Pengerjaan panas umumnya dilakukan pada temperature di atas 0,6 temperature lebur
dengan laju regangan antara 0,5 sampai 500 detik
-1
. Sedangkan temperature
rekristalisasi dapat diperkirakan dengan formula berikut:
T
rek
= 0,4 0,5 T
m
(K)
T
rek
adalah temperature rekristalisasi
T
m
adalah temperature lebur bahan logam
Selama proses deformasi selalu terjadi proses rekristalisasi dari butir-butir yang
terdeformasi, sehingga benda kerja tidak mengalami pengerasan regang atau selalu
dalam keadaan bebas regangan dan lunak. Semakin tinggi temperature, semakin
rendah tegangan alir material. Dengan demikian tingkat deformasi yang dapat
dilakukan semakin besar dengan semakin tingginya temperature.
Temperatur Terrendah Pengerjaan panas
Batas bawah dari temperature pengerjaan panas ditentukan oleh temperature terendah
di mana laju rekritalisasi masih dapat mengimbangi mekanisme pengerasan regang.
Pada umumnya semakin tinggi deformasi semakin rendah temperature
rekristalisasinya. Artinya, temperature terrendah untuk pengerjaan panas menjadi lebih
rendah jika deformasi dilakukan pada tingkat yang lebih tinggi.
Temperatur Tertinggi Pengerjaan Panas
Batas atas dari temperature pengerjaan panas ditentukan oleh temperatur di mana telah
mulai terjadinya oksidasi berlebihan atau temperature titik leleh logamnya. Umumnya
temperatur tertinggi pengerjaan panas dibatasi sampai 100 Fahrenheit di bawah titik
leburnya. Batas ini didasari oleh kemungkinan terdapatnya segregasi bahan logam
yang memiliki titik lebur yang lebih rendah.
Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C
Tahapan Operasi-Proses Pengerjaan Panas
Secara umum, proses pengerjaan panas dilakukan secara bertahap. Pada tahap
awal dan antara, pengerjaan panas cenderung dilakukan pada temperature yang
relative tinggi. Hal ini untuk memanfaatkan tegangan alir yang lebih rendah. Gaya
deformasi menjadi lebih rendah. Pada tahap akhir biasanya dilakukan pada
temperature yang lebih rendah. Dilakukan sedikit di atas temperatur rekristalisasi. Hal
ini dilakukan untuk mendapatkan struktur butiran yang halus. Sebagian produk akhir
pengerjaan panas mensyaratkan struktur butir yang halus. Sebagai usaha untuk
memastikan agar mendapatkan struktur butir yang halus, maka pengerjaan panas pada
tahap akhir dilakukan dengan tingkat deformasi yang lebih tinggi.
Keuntungan Pengerjaan Panas Untuk Deformasi Logam
1. Energy deformasi relative rendah
2. Kemampuan alir logam relative lebih tinggi
3. Mengurangi ketidakseragaman atau segregasi unsur kimia
4. Mengurangi porositas
5. Mengurangi struktur coran, butir kolumnar menjadi lebih halus
6. Memecah dan mendistribusikan inklusi non logam menjadi lebih kecil dan
memanjang
7. Meningkatkan keuletan dan ketangguhan benda kerja
Keterbatasan Pengerjaan Panas Pada Deformasi Logam
1. Terjadi oksidasi pada permukaan logam, kehilangan sebagian logam menjasi
kerak/karat
2. Terjadi dekarburisasi pada permukaan, khusus baja
3. Terjadi penurunan kualitan permukaan akibat ter-rolling lapisan oksida
4. Dimensi produk Kurang akurasi karena sulit memperhitungkan factor ekspansi dan
konstraksi yang terjadi.
5. Ada kemungkinan terjadi hor shortness atau rapuh panas
6. Terjadi ketidak homogenan struktur pada permukaan dengan bagian dalam akibat
perbedaan temperature dan deformasi.
Jenis Pengerjaan Panas:

1. Pengerolan panas/dingin (Rolling)
Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C
Rolling atau dalam bahasa Indonesia teknik disebut pencanaian adalah proses reduksi atau
pengurangan luas penampang atau pengurangan ketebalan atau proses pembentukan logam
melalui deformasi dengan melewatkan benda kerja pada satu pasang roll yang berputar
dengan arah berlawanan.proses Rolling bisa dilakukan melalui Hot Working maupun Cold
Working Skematika dari proses pencanaian ditunjukkan pada gambar di bawah:

Proses Pembentukan Logam Teknologi Rolling, Animasi
Celah atau gap antara dua roll yang berputar lebih kecil daripada ketebalan H
0
bar atau logam
yang akan masuk. Benda kerja terjepit diantara dua roll, sehingga timbul gaya gesek yang
diperlukan untuk menggigit dan menarik benda kerja, bar atau lembaran agar dapat melewati
roll.Batang atau lembaran logam yang melewati roll berputar akan mengalami tegangan tekan
dan tegangan geser permukaan. Tegangan geser menimbulkan tegangan gesek antara
permukaan roll dengan benda kerja. Gaya gesek ini bertanggung jawab untuk menarik benda
kerja agar dapat masuk ke dalam celah roll. Deformasi akan menghasilkan benda kerja
menjadi bertambah panjang dengan luas penampang atau tebal yang menurun.
Jumlah deformasi atau reduksi yang dicapai dalam operasi pencanaian flat/datar biasanya
dihitung dari pengurangan ketebalan dan dapat ditentukan dengan menggunakan formula
sebagai berikut:
R = 100% x ( H
0
- H
1
) / H
0

R = besar reduksi dinyatakan dalam persen,
H
1
= tebal benda kerja setelah rolling, tebal akhir
H
0
= tebal benda kerja sebelum rolling, tebal awal
Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C
Mesin yang digunakan untuk melakukan proses pencanaian logam disebut Rolling Mill Stand
atau biasa disebut mill stand saja. Mill Stand pada Rolling mill terdiri dari satu pasang roll
yang digerakkan oleh motor listrik yang mentransmisikan gaya torsi melalui gigi dan cardans.
Roll dilengkapi dengan bantalan dan dipasang dalam stand dengan mekanisme screw-down.
Mill stand dibatasi oleh nilai maksimum dari roll separating force dan torsinya. Sedangkan
Jumlah maksimum deformasi (reduksi ketebalan) yang dapat dicapai pada single rolling pass
(satu kali reduksi) ditentukan oleh roll separating force maksimum, torsi maksimum, diameter
work roll, koefisien gesekan, kekuatan mekanik benda kerja, dan lebarnya benda kerja
yang di-rolling.
Roll berdiameter kecil akan menghasilkan bidang kontak rolling menjadi kecil, sehingga
mengakibatkan rendahnya nilai absolut dari maximum roll separating force dan torsi.
Sehingga akan membatasi besarnya deformasi yang diperlukan untuk mencapai pengurangan
ketebalan tertentu.
Roll umumnya rentan terhadap bending dan hal ini menyebabkan tidak seragamnya distribusi
ketebalan benda kerja yang dihasilkan. Untuk itu, rolling mill yang lebih Kompleks dirancang
dengan menggunakan back-up roll untuk mengurangi efek bending:

Gambar2. Skematika Teknologi Tipe Mill Stand Pada Rolling Mill
Berdasarkan pada daerah temperature operasinya, proses rolling dikelompokan menjadi dua
teknologi yaitu hot rolling dan cold rolling.
Proses Canai Panas, Hot Rolling
Hot rolling adalah operasi pencanaian yang dilakukan pada temperature yang lebih tinggi
daripada temperature rekristalisasi. Pada proses Hot rolling, deformasi tidak menyebabkan
terjadinya penguatan logam. Tegangan alir bahan akan semakin kecil dengan semakin
tingginya temperature operasi. Energy deformasi yang dibutuhkan menjadi lebih kecil pada
temperature lebih tinggi. Dengan demikian, deformasi dapat dilakukan pada benda kerja yang
berukuran relative besar dengan total deformasi besar.
Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C

Pabrik Pengerolan Panas-Hot Rolling/Canai Panas
2. Penempaan(Forging)
Proses penempaan atau forging adalah proses pembentukan logam untuk
menghasilkan produk akhir dengan memberikan gaya tekan dengan laju pembebanan tertentu.
Pada pembentukan ini, benda kerja di pukul atau ditekan dengan perkakas melalui beberapa
tahapan.Produk hasil tempa memiliki struktur serat/garis alir yang searah dengan kekuatan
yang diharapkannya. Garis alir proses tempa cenderung mengikiuti pola bentuk luar benda
tempanya. Pada umumnya proses tempa diaplikasikan untuk menghasilkan bentuk-bentuk
yang tak beraturan, dengan ukuran mulai dari bentuk ukuran kecil sampai besar.Operasi
tempa pada umumnya dilakukan pada temperatur tinggi atau hot working, terutama untuk
benda kerja ukuran besar. Sebagian operasi tempa dilakukan pada temperatur rendah atau cold
working untuk benda kerja berukuran relatif kecil. Untuk dapat menjadi Produk
akhir, biasanya pembentukan dengan forging dilakukan secara bertahap seperti ditunjukkan
pada gambar di bawah.

Skematika Tahapan Forging Pada Proses Pembentukan Komponen Automeotive.
Produk Yang Dihasilkan Teknologi Forging/Tempa
Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C
Beberapa contoh produk yang dihasilkan dengan menggunakan teknologi pembentukan tempa
dapat dilihat pada gambar di bawah. Peralatan dapur seperti sendok, garpu dan pisau makan
merupakan produk-produk yang dibentuk dengan proses tempa. Sebagian suku cadang
otomotive baik untuk sepeda motor maupu kendaraan roda empat juga dibentuk melalui
teknologi forging.


Contoh Produk Hasil Pembentukan Dengan Metoda Forging/Tempa
Berdasarkan kecepatan pembentukannya, atau kecepatan pembebanannya, peralatan atau
mesin operasi tempa dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a) Penempaan cepat seperti Forging Hammer dan Drop Hammer
b) Penempaan lambat seperti Forging Press
Berdasarkan jenis cetakan, atau dies yang digunakan, operasi tempa biasanya dikelompokkan
menjadi Open Die Forging dan Closed Die Forging.
a. Open Die Forging, Tempa Dengan Cetakan Terbuka, Atau Tanpa Cetakan
Open die forging adalah penempaan yang dilakukan dengan meletakkan benda kerja di antara
die yang berbentuk datar, atau flat die atau yang berbentuk sederhana. Proses ini digunakan
untuk produk yang berukuran besar dengan produktivitas rendah.
Open die forging Biasanya digunakan untuk memberikan bentuk awal benda kerja yang akan
dilanjutkan dengan penempaan yang menggunakan die tertutup, atau closed die forging.
Beberapa contoh dari open die forging adalah: upsetting, edging, fullering, drawing,
swagging, piercing dan punching.
Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C

Pabrik Pembentukan Dengan Teknologi Tempa Panas, Open Die Hot Forging Machine
b. Closed Die Forging, Tempa Dengan Cetakan Tertutup
Closed die forging adalah operasi penempaan yang menggunakan sepasang die block yang
secara presisi membentuk benda kerja yang diinginkan. Die block dibuat melalui pemesinan
atau casting. Penempaan dengan menggunakan die block ini akan menghasilkan produk yang
memiliki toleransi ukuran yang lebih presisi. Die block terdiri dari dua bagian, yaitu die
bagian atas, dan die bagian bawah. Closed die forging umumnya diaplikasikan untuk benda
kerja berukuran relatif kecil.
Closed die forging diterapkan secara bertahap dimulai dengan proses fullering dan edging
pada bahan baku untuk memberikan bentuk awal benda kerja. Kemudian dilakukan
penempaan kasar dengan rough die block. Pada tahapan ini terjadi perubahan bentuk yang
relatif besar. Tahap penempaan akhir dilakukan dengan finishing die untuk memperoleh
benda kerja yang sesuai dengan bentuk dan ukuran dari rancangan produk akhir.
Pada proses tempa ini, volume benda kerja harus cukup untuk dapat mengisi seluruh rongga
cetakan dengan sempurna. Sulitnya menentukan volume yang tepat, maka sering digunakan
volume benda kerja yang relatif lebih besar.
Kelebihan volume ini akan menyebabkan terjadinya aliran material secara lateral yang
melebar ke luar dari rongga die dan membentuk pita logam tipis yang biasa disebut sebagai
sirip atau flash. Untuk mencegah terjadinya flash yang berlebihan, atau flash terlalu lebar,
pada die block disediakan rongga penampung yang disebut flash gutter. Setelah tahapan
tempa terakhir, flash dipotong dengan menggunakan trimming die.
Flash berfungsi sebagai penutup atau katup pengaman kelebihan logam pada rongga cetakan
tertutup dan selain itu berfungsi sebagai penghambat aliran logam sehingga terjadi tekanan
yang tinggi untuk memastikan logam akan mengisi rongga cetakan yang masih kosong.
Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C

Pabrik Pembentukan Dengan Teknologi Tempa Panas, Closed Die Hot Forging Machine
3. Ekstrusi
Ekstrusi merupakan proses pembentukan logam dengan memaksa logam keluar dari
die dengan tekanan yang tinggi. Pada proses ini dapat dimungkinkan untuk terjadi deformasi
yang berat. Pada direct atau forwaard extrusion, produlk keluar dari die searah dengan arah
gerakan punch, sedang pada indirect (reverse atau back) extrusion produk keluar berlawanan
dengan arah gerakan punch.




Variabel-variabel utama yang mempengaruhi gaya ekstruksi adalah
Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C
tipe dari ekstrusi (direct atau indirect), rasio ekstrusi, temperatur kerja, kecepatan deformasi
dan gesekan logam antara dinding kontainer dan die. Gaya yang diperlukan untuk kedua
proses ini berbeda dari segi besar gaya yang dikenakan. Bila Direct Extrusion gaya yang
dibutuhkan lebih besar dari pada indirect extrusion, dikarenekan ada beberapa hal :
Pada saat yang sama untuk kedua proses, tekanan akan naik dengan cepat pada awal langkah
dari punch. Hal ini diperlukan guna menekan billet untuk mengisi kontainer.
- untuk direct, logam mulai mengalir melalui die pada tekanan yang maksimum (break
through pressure). Setelah ada bagian billet yang keluar dari die maka tekanan akan
berangsur-angsur turun sesuai dengan pengurangan panjang billet yang ada dalam kontainer.
- untuk lndirect, disinl tidak ada gerakan reratif antara billet dan dinding kontainer, oleh
karena itu tekanan ekstrusi lebih rendah dan tampak hampir konstan dengan
bertambahnya langkah punch (menunjukan besar tegangan yang diperlukan untuk
mendeformasi logam melalui die)
- Pada akhir langkah dari punch untuk kedua proses, tekanan akan. naik dengan cepat dan
langkah punch harus segera dihentikan (sisa billet yang harus dibuang).
4. Drawing
drawing, penarikan kawat merupakan suatu proses pembentukan logam dengan cara
menarik wire rod, kawat batangan, melalui dies atau cetakan oleh gaya tarik yang bekerja
pada bagian luar dan ditarik ke arah luar dies, cetakan. Proses drawing bias dilakukan dengan
pengerjaan panas maupun dingin. Terjadinya aliran plastis pada pembentukan ini disebabkan
oleh adanya gaya tekan yang timbul sebagai reaksi dari logam terhadap cetakan.

Proses Pembentukan Logam Teknologi Wire Drawing,
Tujuan utama dari penarikan kawat adalah untuk mengecilkan diameter batang kawat, wire
rod. Batang Kawat berdiameter D1 direduksi dengan memberi gaya tarik melalui cetakan
menjadi kawat beriameter D2. Sehingga terjadi reduksi area atau pengurangan luas
penampang yang dinyatakan dengan formula berikut:
Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C
r = reduksi area = 1 (D
2
/D
1
)
2

Skematika cetakan untuk wire drawing ditunjukan pada Gambar 2. Konstruksi tempat
masuknya logam ke cetakan (die) dibuat sedemikian, sehingga kawat yang masuk cetakan
akan menarik pelumas bersama dengan masuknya batang kawat. Bentuk lonceng dibuat agar
dapat meningkatkan tekanan hidrostatis dan memindahkan aliran pelumas.

Gambar 2. Skematika Die Untuk Wire Drawing, Penarikan Kawat
Sudut reduksi (reduction angle) adalah bagian dari cetakan di mana terjadi reduksi diameter.
Sudut reduksi ini merupakan variabel dies yang sangat penting dalam proses wire drawing.
Pada daerah bantalan (bearing) tidak terjadi reduksi diameter, namun menambah gesekan
pada permukaan kawat. Fungsi utama daerah permukaan bantalan adalah untuk memastikan
diameter dan roundness kawat sesuai dengan targetnya. Tirus belakang (backrelief)
pada dies memungkinkan kawat untuk mengembang sedikit, setelah kawat keluar dari
cetakan.

Gambar 3. Dies Untuk Wire Drawing, Penarikan Dalam
b) Proses Pengerjaan Dingin Pada Logam, Cold Working
Pengertian Definisi
Pengerjaan dingin pada logam merupakan proses deformasi pada yang dilakukan pada
temperature di bawah temperature rekristalisasi. Pada temperature ini, deformasi akan
Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C
menyebabkan benda kerja mengalami pengerasan regang dan perubahan struktur butiran.
Benda kerja menjadi lebih keras dan kuat dengan Struktur yang mengadung sejumlah
regangan. Denda kerja kehilangan sebagian besar keuletannya sehingga menjadi
getas.Peningkatan kekuatan menyebabkan logam menjadi sulit dideformasi lebih lanjut.
Dalam keadaan yang ekstrim benda kerja menjadi tidak dapat dibentuk dan menjadi sangat
rapuh atau getas. Peningkatan kekuatan pada pengerjaan dingin terkait dengan peningkatan
kerapatan dislokasi pada logamnya. Semakin besar deformasi yang diberikan, maka semakin
tinggi kerapatan dislokasinya dan semakin keras logam yang dihasilkan.Agar benda kerja
hasil dari pengejaan dingin ini dapat di bentuk menjadi produk akhir, maka dilakukan proses
perlakuan panas anil. Dengan melakukan proses anil, maka benda kerja hasil pengerjaan
dingin dapat dibentuk sesuai dengan aplikasinya. Keuletan banda kerja yang hilang selama
pengerjaan dingin dapat diperoleh kembali dengan proses anil. Namun demikian, peningkatan
keuletan ini diikuti dengan menurunnya kekuatan dan kekerasan.
Pengaruh Pengerjaan Dingin Terhadap Sifat Mekanik Bahan Logam
Perubahan sifat mekanik akibat pengerjaan dingin dapat dilihat pada gambar 1 di bawah.
Kekuatan benda kerja meningkat dengan meningkatnya tingkat atau persen pengerjaan dingin.
Namun demikian, peningkatan ini diiringi dengan penurunan sifat keuletan benda kerjanya.
Hal ini menunjukan bahwa benda kerja akan menjadi lebih getas setelah proses pengerjaan
dingin.

Gambar 1. Pengaruh Deformasi Terhadap Sifat Mekanik Bahan Logam
Pengaruh Pengerjaan Dingin Terhadap Struktur Mikro Bahan Logam
Gambar 2 menunjukkan pengaruh deformasi terhadap perubahan struktur mikro baja karbon
seri 1008. Butir-butir awal yang semula adalah ekuiaksial (relative bulat) menjadi butir-butir
yang memanjang atau pipih setelah dideformasi dengan tingkat reduksi 42 persen dan 64
persen. Semakin tinggi tingkat deformasinya, maka butir-butirnya menjadi semakin pipih.
Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C

Gambar 2. Pengaruh Deformasi Terhadap Struktur Mikro Baja
Dibandingkan dengan pengerjaan panas, pengerjaan dingin menpunyai Keunggulan antara
lain :
1. Tidak perlu pemanasan
2. Hasil pengerjaan permukaan lebih baik.
3. Kontrol terhadap dimensi bisa lebih teliti.
4. Menaikkan kekuatan.
Keterbatasannya antara lain :
1. Perlu energi yang lebih besar.
2. perlu peralatan yang besar dan kuat pula.
3. ductility dari barang menjadi menurun.
4. Permukaan logam yang akan dikerjakan harus bersih.
5. Terjadi penambahan kekerasan ( stain hardening ).
Jika prose pengerjaan dingin terjadi secara berlebihan, mak logam akan pecah sebelum
mencapai bentuk dan ukuran yang dikehendaki.
Jenis jenis cold working
Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C




1.pembengkokan (bending)

Dalam proses ini benda kerja dikenal beban / tekanan secara permanent sehingga
terjadi distorsi sesuai bentuk yang diinginkan. Gambar berikut menunjukkan beberapa contoh
hasil proses pembengkokkan (bending) lembaran logam :
Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C

Produk hasil proses bending
2.Shearing
Proses pengguntingan (shearing) : merupakan proses pemotongan dengan cara menekan dua
sisi pisau tajam ke lembaran logam (sheet metal). Proses proses seperti blanking, parting,
punching, nibbling, nothcing dan shearing semuanya merupakan shearing operatin




Beberapa Contoh Proses Pengguntingan (Shearing)
Proses pembubutan (turning) : merupakan pemotongan logam yang dilaksanakan dengan jalan
memutar (turning) benda kerja dan kemudian memotong / merautnya dengan memakankan
sebuah pisau / pahat potong ke benda kerja tersebut. Proses perautan disini umumnya
Rizqi Juarsa
(123010132) T.I-C
dilaksanakan melalui sebuah mesin bubut (engine lathe) dan meliputi proses facing, contour
turning, threading, parting, drilling, knurling, dan lain lain. Berikut sketsa sederhana dari
proses pembubutan.