Anda di halaman 1dari 12

PENGGUMPALAN LATEKS

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karet merupakan polimer alam terpenting dan dipakai secara luas dilihat
dari sudut industri. Ia dipakai selama berabad-abad oleh bangsa Maya di belahan bumi
barat sebelum diperkenalkan di Eropa oleh Columbus. Orang-orang Maya memperoleh
bahan tersebut dari suatu pohon yang mereka namakan Caoutchouc (’pohon menangis’),
suatu istilah yang masih dipakai untuk menyatakan polimer tersebut dibanyak Negara.
Akan tetapi, Joseph Priestley yang telah menciptakan istilah rubber ketika mencatat
bahwa Caoutchouc bias dipakai untuk menghapus tulisan pensil.
Sifat dari karet alam itu sendiri yaitu apabila dipanaskan akan menjadi lunak dan lekat
dan kemudian mengalir, larut sedikit demi sedikit dalam benzene, akan tetapi bila divulkanisasi
yaitu dipanaskandengan belerang sekitar 2% maka lateks akan menjadi bersambung silangan dan
terjadi perubahan yang sangat luar biasa pada sifatnya. Karet yang belum divulkanisasi bersifat
regas ketika diregangkan, yakni makin melunak karena rantainya pecah-pecah dan kusut. Namun
karet yang tervulkanisasi jauh lebis regas atau lebih renggang. Kelarutan berkurang dengan
semakin banyaknya sambung silang dan bahan tervulkanisasi hanya menggembung sedikit jika
disimpan dalam pelarut. Jika karet divulkanisasi dengan jumlah belerang yang lebih banyak maka
kira-kira 30% dihasilkan bahan yang sangat keras dan tahan secara kimia, yang dikenal sebagai
ebonite atau karet keras. Laju reaksi antara karet alam dengan belerang dapat ditingkatkan
dengan penambahan pemercepat.

1.2 Tujuan Percobaan


Adapun tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut :
1) Untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan lateks untuk menggumpal berdasarkan
perbedaan suhu.
2) Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penggumpalan lateks.
3) Untuk mengetahui proses terjadinya penggumpalan lateks.
4) Untuk mengetahui sifat karet yang telah digumpalkan

II. TINJAUAN PUSTAKA


Karet adalah tanaman perkebunan tahunan berupa pohon batang lurus. Pohon karet
pertama kali hanya tumbuh di Brasil, Amerika Selatan, namun setelah percobaan berkali-kali
oleh Henry Wickham, pohon ini berhasil dikembangkan di Asia Tenggara, di mana sekarang ini
tanaman ini banyak dikembangkan sehingga sampai sekarang Asia merupakan sumber karet
alami. Di Indonesia, Malaysia dan Singapura tanaman karet mulai dicoba dibudidayakan pada
tahun 1876. Tanaman karet pertama di Indonesia ditanam di Kebun Raya Bogor. Indonesia
pernah menguasai produksi karet dunia, namun saat ini posisi Indonesia didesak oleh dua negara
tetangga Malaysia dan Thailand. Lebih dari setengah karet yang digunakan sekarang ini adalah
sintetik, tetapi beberapa juta ton karet alami masih diproduksi setiap tahun, dan masih merupakan
bahan penting bagi beberapa industri termasuk otomotif dan militer. Klasifikasi botani tanaman
karet adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Keluarga : Euphorbiaceae
Genus : Hevea
Spesies Hevea brasiliensis.
Karet merupakan politerpena yang disintesis secara alami melalui polimerisasi enzimatik
isopentilpirofosfat. Sesungguhnya isoprena merupakan produk degradasi utama karet, yang
diidentifikasi sebagaimana pada awal 1860-an. Rumus empiris karet adalah C10H16 dan ini adalah
polimer yang tinggi.

CH2 C=CH CH2

CH3

Ternyata karet mempunyai isomer ruang yang berbentuk cis dan trans.

CH2 CH2 H2C CH2


C=C C=C
H3C H H3C H

Hampir semua karet alam diperoleh sebagai lateks yang terdiri dari sekitar 32-35% karet
dan sekitar 5% senyawa lain, termasuk asam lemak, gula, protein, sterol ester, dan garam. Karet
guayule merupakan kecualian, yang diperoleh melalui pulping dan parboiling tumbuhan sebelum
dimurnikan. Residu panen selulosik merupakan sumber alcohol fermentasi yang potensial.Karet
termasuk polimer dengan berat molekul yang sangat tinggi (rata-rata sekitar 1 juta) dan amorfus
meskipun menjadi terkristalisasi secara acak pada suhu rendah. Karet alam dibuat dari sari getah
pohon (lateks). Sari yang berupa susu dipanaskan untuk dibuat karet mentah. Kemudian
diplastisasikan agar dapat diproses dengan lebih mudah dan dicampur pengisi kolom seperti
karbon hitam, zat pewarna, belerang, dibuat campuran dibentuk dengan tekanan dan
divulkanisasi dengan reaksi penyilangan sambil dipanaskan untuk mendapatkan bentuk cetakan.
Disamping itu, pemlastik juga dapat meningkatkan elastisitas bahan. Membuat bahan
lebih tahan beku, dan menurunkan suhu alir, sehingga pemlastis kadang-kadang juga merupakan
elastikator. Bahan pemlastis yang berupa zat cair perlu mempunyai titik didih yang cukup tinggi
sehingga tidak menguap selama pengolahan.
Lateks pekat merupakan produk olahan lateks alam yang dibuat dengan proses tertentu.
Pemekatan lateks alam dilakukan dengan menggunakan empat cara yaitu: sentrifugasi,
pendadihan, penguapan, dan elektrodekantasi. Diantara keempat cara tersebut sentrifugasi dan
pendadihan merupakan cara yang telah dikembangkan secara komersial sejak lama. Pemekatan
lateks dengan cara sentrifugasi dilakukan menggunakan sentrifuge berkecepatan 6000-7000 rpm.
Lateks yang dimasukkan kedalam alat sentrifugasi (separator) akan mengalami pemutaran yaitu
gaya sentripetal dan gaya sentrifugal. Gaya sentrifugal tersebut jauh lebih besar daripada
percepatan gaya berat dan gerak brown sehingga akan terjadi pemisahan partikel karet dengan
serum. Bagian serum yang mempunyai rapat jenis besar akan terlempar ke bagian luar (lateks
skim) dan partikel karet akan terkumpul pada bagian pusat alat sentrifugasi. Lateks pekat ini
mengandung karet kering 60%, sedangkan lateks skimnya masih mengandung karet kering antara
3-8% dengan rapat jenis sekitar 1,02 g/cm3. Pemekatan lateks dengan cara pendadihan
memerlukan bahan pendadih seperti Natrium atau amonium alginat, gum tragacant, methyl
cellulosa, carboxy methylcellulosa dan tepung iles-iles. Adanya bahan pendadih menyebabkan
partikel-partikel karet akan membentuk rantai-rantai menjadi butiran yang garis tengahnya lebih
besar. Perbedaan rapat jenis antara butir karet dan serum menyebabkan partikel karet yang
mempunyai rapat jenis lebih kecil dari serum akan bergerak keatas untuk membentuk lapisan,
sedang yang dibawah adalah serum.
Mutu lateks yang dihasilkan ditentukan berdasarkan spesifikasi menurut ASTM dan SNI.
Menurut ASTM lateks pekat dibagi menjadi 3 jenis berdasarkan sistem pengawetan dan
metode pembuatannya yaitu :
♣ Jenis I : Lateks pekat pusingan dengan amonia saja atau dengan pengawet formaldehida
dilanjutkan dengan pengawet amonia.
♣ Jenis II : Lateks pekat pendadihan yang diawetkan dengan amonia saja atau dengan
pengawet formaldehida dilanjutkan dengan amonia.
♣ Jenis III : Lateks pusingan yang diawetkan dengan kadar amonia rendah dan bahan
pengawet sekunder.
Lateks biasa dikonfersi kekaret busa dengan aerasi mekanik yang diikuti dengan
vulkanisasi. Sarung tangan karet dan balon biasanya dibuat dengan mengkoting lateks di atas
cetakannya sebelum vulkanisasi. Sebagian besar lateks dikoagulasi (misalnya dengan asam
asetat) dan dipakai dalam bentuk padat. Sebagian besar karet Havea (sekitar 65%) digunakan
dalam pembuatan ban, tetapi juga ditemukan dalam sekelompokproduk-produk komersial
termasuk alas kaki, segel karet, weather striping, insulasi listrik, asesoris olah-raga dan lain-
lain.Salah satu diantara beberapa aplikasi karet yang tidak divilkanisir adalah dalam bentuk
kerisut yang karena ketahanan abrasinya istimewa, dipakai untuk tapak sepatu.
Prakoagulasi merupakan pembekuan pendahuluan yang menghasilkan lumps atau
gumpalan-gumpalan pada cairan getah sadapan. Kejadian ini sering terjadi diareal perkebunan
karet sebelum sampai kepabrik atau tempat pengolahan. Bila hal ini terjadi akan timbul kerugian
yang tidak sedikit. Hasil sadapan yang mengalami prakoagulasi hanya dapat diolah menjadi karet
yang bukan jenis baku dan kualitasnyapun rendah.
Prakoagulasi terjadi karena kemampuan bagian koloidal yang terkandung dalam berkurang.
Bagian-bagian koloidal ini kemudian menggumpal menjadi satu dan membentuk komponen yang
berukuran besar. Komponen koloidal yang leih besar ini akan membeku. Inilah yang
menyebabkan terjadinya pra koagulasi.
Penyebab terjadinya prakoagulasi antara lain sebagai berikut :
1) Jenis karet yang ditanam
Perbedaan antara jenis yang ditanam akan menghasilkan lateks yang berbeda-beda pula.
Otomatis kestabilan dan kemantapan koloidalnya berbeda.
2) Enzim-enzim
Enzim dikenal sebagai biokatalis yang mampu mempercepat berlangsungnya suatu reaksi
walaupun hanya terdapat dalam jumlah kecil. Cara kerjanya adlah dengan mengubah
susunan protein yang melapisi bahan-bahan karet. Akibatnya kemantapan lateks
berkurang dan terjadilah prakoagulan.

3) Mikroorganisme atau jasad-jasad renik


Lateks yang berasal dari pohon karet yang sehat dan baru disadap dapat dikatakan steril
atau bersih sama sekali dari mikroorganisme. Tetapi pohon yang baru disadap mudah
sekali terinfeksi oleh jasad-jasad renik.
4) Faktor cuaca atau musim
Penyadapan jarang dilakukan untuk mencegah terjadinya koagulasi. Akan tetapi bila
tindak pencegahan prakoagulasi telah dilaksanakan maka penyadapan pada musim hujan
dapat terus dilakukan.
5) Kondisi tanaman
Tanaman karet yang sedang sakit, masih muda atau telah tua bias mempengaruhi
koagulasi. Penyadapan pada tanaman yang belum siap akan menghasilkan lateks yang
kurang mantap dan menggumpal.
6) Air sadah
7) Cara pengangkutan
8) Kotoran atau bahan lain yang tercampur
Senyawa-senyawa kimia yang digunakan sebagai bahan anti koagulan adalah :
a) Soda (Natrium karbonat, Na2CO3 dan Na2CO3. 10H2O)
b) Amoniak (NH4OH)
c) Natrium sulfit (Na2SO3)

Bahan-bahan penggumpalnya :
a) Asam semut (disebut juga asam formiat CHOOH )
Berupa cairan jernih dan tidak berwarna, mudah larut dalam air, berbau merangsang
dan masih bereaksi asam pada pengenceran.
b) Asam cuka (disebut juga asam CH3COOH )
Berupa cairan yang tidak berwarna dan jernih, berbau merangsangdan mudah
diencerkan dalam air..
Pemakaian bahan anti koagulan harus dibatasi karena pemakaiannya memakan biaya yang
banyak.

III. METODOLOGI PERCOBAAN


3.1 Alat
1) Beaker glas 250ml
2) Erlemeyer 250ml
3) Gelas ukur 10ml
4) Statif dan klem
5) Stop watch
6) Hot plate
7) Botol aquadest
3.1 Bahan
1) Lateks alam
2) Aquadest
3) CH3COOH 0,01N
4) CH3COOH 0,02N
5) CH3COOH 0,03N
6) CH3COOH 0,04N
7) CH3COOH 0,05N
3.1 Prosedur Kerja
1) Dimasukkan 10ml lateks kedalam erlemeyer sebanyak 5 buah. Pada tiap-tiap
erlemeyer ditambahkan larutan CH3COOH dengan konsentrasi yang bervariasi yaitu :
0,01N ; 0,02N ; 0,03N ; 0,04N ; 0,05N, dan catat waktu yang diperlukan untuk
menggumpal dengan menggunakan stopwatch.
2) Dimasukkan 10ml lateks kedalam erlemeyer sebanyak 5 buah lalu dipanaskan dengan
variasi suhu 35, 40, 45, 50,dan 550C. Kemudian catat waktu yang dibutuhkan untuk
menggumpal dengan menggunakan stopwatch.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN.


4.1 Data Percobaan
1) Pengaruh konsentrasi
No Perlakuan Pengamatan
1 10 ml lateks alam + 10 ml CH3COOH 0,01N 1090 detik
2 10 ml lateks alam + 10 ml CH3COOH 0,02N 803 detik
3 10 ml lateks alam + 10 ml CH3COOH 0,03N 926 detik
4 10 ml lateks alam + 10 ml CH3COOH 0,04N 185 detik
5 10 ml lateks alam + 10 ml CH3COOH 0,05N 79 detik

2) Pengaruh suhu
No Perlakuan Pengamatan
1 10 ml lateks alam dipanaskan pada suhu 350C 288 detik
2 10 ml lateks alam dipanaskan pada suhu 400C 56 detik
3 10 ml lateks alam dipanaskan pada suhu 450C 34 detik
4 10 ml lateks alam dipanaskan pada suhu 500C 9 detik
5 10 ml lateks alam dipanaskan pada suhu 550C 4 detik

4.2 Reaksi dan Perhitungan


NH
OH
NH3
OH 2
CH3 COOH CH3COOH
(-)
R-CH-C=O R-CH-C=O R-CH-C=O
4.3 Diskusi
Pada percobaan ini tidak mendapatkan suhu 80 0C dan 90 0C dikarenakan suhu
penggumpalan lateks alam adalah 70 0C.

V PERTANYAAN
1) Sebutkan sifat-sifat dari karet atau elastomer !
Jawab :
Karet atau elastomer merupakan polimer yang memperlihatkan resiliensi ( daya
pegas ), atau kemampuan merenggang dan kembali ke keadaan semula dengan cepat.
Sebagian besar mempunyai struktur jaringan.
Sifat –sifat elastomer ditimbulkan oleh adanya gaya-gaya ikatan ion atau sekunder.
2) Karet sintetis muncul dalam berbagai bentuk dan produksinya hampir melampaui
karet alam. Sebutkanlah beberapa jenis karet sintetis yang utama!
Jawab :
Beberapa jenis karet sintetis adalah :
➢ Stirena-butadiena → Kopolimer dari dua monomer dengan berbagai proporsi
yang bergantung pada sifat-sifat yang diinginkan, disebut SBR ( styrene-
butadiena rubber)
➢ Polibutadiena → Hampir seluruhnya terdiri dari cis-1,4-polibutadiena
➢ Etilena-propilena → Sering disingkat EPDM (ethylene-propylene-diene
monomer) dibuat terutama dari unit-unit etilena dan propilena dengan
sejumlah kecil diena untuk memberikan efek ketidakjenuhan.
➢ Poliisoprena → Terutama polimer cis-1,4 ; kadang-kadang disebut “karet
alam sintetis”.
➢ Nitril → Kopolimer dari akrilonitril dan butadiene, terutama butadiene.
➢ Silikon → Mengandung rangka anorganik dari atom oksigen dan silicon
termetilasi yang berselang-seling, juga disebut polisiloksana.

1) Apa yang terjadi jika kontaminasi (zat pencemar) terjadi pada karet dan mengapa
koagulan yang disarankan hingga saat ini adalah asam semut, asam cuka atau asam
lemah lainnya?
Jawab :
Kontaminan bisa menyebabkan karet mudah teroksidasi, memperlemah elastisitas,
menurunkan kekuatan tarik, dan ketahanan sobek dari vulkanisatnya.
Sebagai contoh kasus untuk karet, tawas sebagai koagulan bisa dianggap sebagai
kontaminan, karena didalam tawas terkandung logam alkali yang bersifat sebagai pro-
oksidan, serta berdampak menahan air yang memudahkan berkembangnya
mikroorganisme pengurai protein dan hidrokarbon karet. Itulah sebabnya mengapa
koagulan yang disarankan hingga kini adalah asam semut, asam cuka atau asam lemah
lainnya. Koagulan-koagulan tersebut tidak berbahaya, bahkan meningkatkan mutu
karena bersifat mendorong air/serum untuk segera keluar dari koagulum. Contoh lain
yang sering terjadi di dalam bahan baku crumb rubber adalah sering masuknya pasir
dan tatal ke dalam bokar secara sengaja maupun tidak disengaja. Untuk mengeluarkan
kedua zat pengotor tersebut diperlukan serangkaian proses pengecilan dan pencucian
yang banyak memerlukan air, listrik dan waktu proses. Dengan demikian, kontaminan
tidak hanya berpengaruh langsung terhadap mutu produk, namun juga memerlukan
biaya ekstra untuk membersihkannya.
2) Apa saja cara yang dilakukan untuk pemekatan lateks alam ?
Jawab :
Pemekatan lateks alam dilakukan dengan menggunakan empat cara yaitu: sentrifugasi,
pendadihan, penguapan, dan elektrodekantasi. Diantara keempat cara tersebut
sentrifugasi dan pendadihan merupakan cara yang telah dikembangkan secara
komersial sejak lama. Pemekatan lateks dengan cara sentrifugasi dilakukan
menggunakan sentrifuge berkecepatan 6000-7000 rpm. Lateks yang dimasukkan
kedalam alat sentrifugasi (separator) akan mengalami pemutaran yaitu gaya sentripetal
dan gaya sentrifugal. Gaya sentrifugal tersebut jauh lebih besar daripada percepatan
gaya berat dan gerak brown sehingga akan terjadi pemisahan partikel karet dengan
serum. Bagian serum yang mempunyai rapat jenis besar akan terlempar ke bagian luar
(lateks skim) dan partikel karet akan terkumpul pada bagian pusat alat sentrifugasi.
Lateks pekat ini mengandung karet kering 60%, sedangkan lateks skimnya masih
mengandung karet kering antara 3-8% dengan rapat jenis sekitar 1,02 g/cm3.
Pemekatan lateks dengan cara pendadihan memerlukan bahan pendadih seperti
Natrium atau amonium alginat, gum tragacant, methyl cellulosa, carboxy
methylcellulosa dan tepung iles-iles. Adanya bahan pendadih menyebabkan partikel-
partikel karet akan membentuk rantai-rantai menjadi butiran yang garis tengahnya
lebih besar. Perbedaan rapat jenis antara butir karet dan serum menyebabkan partikel
karet yang mempunyai rapat jenis lebih kecil dari serum akan bergerak keatas untuk
membentuk lapisan, sedang yang dibawah adalah serum.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan
1) Teknik penggumpalan karet dapat dilakukan dengan pemanasan dan penambahan
bahan kimia.
2) Bahwa semakin tinggi suhu maka penggumpalan lateks akan semakin cepat.
3) Waktu yang dibutuhkan lateks untuk menggumpal pada masing-masing suhu 35, 40,
45, 50, dan 55 0C adalah 288, 56, 34, 9, 4 detik.
4) Semakin besar konsentrasi asam asetat maka penggumpalan lateks akan semakin
cepat.
5) Waktu yang dibutuhkan lateks untuk menggumpal pada masing-masing konsentrasi
0,01 ; 0,02 ; 0,03 ; 0,04 ; dan 0,05 N adalah 1090, 803, 926, 185, dan 79detik.
6) Teknik penyadapan yang baik adalah pada waktu pagi hari dan tanaman yang disadap
sehat agar diperoleh lateks yang bagus.

6.2 Saran
Agar sample lateks yang digunakan untuk percobaan benar-benar lateks yang segar dan
belum menggumpal agar praktikum dapat berjalan dengan lancar.
DAFTAR PUSTAKA

Hartono, Aj. MEMAHAMI POLIMER DAN PEREKAT . Edisi I, cetakan pertama.

Yokyakarta, 1992 Hal :4-6.

Setyamidjaja, Djoehana. KARET BUDIDAYA DAN PENGOLAHAN. Cetakan kedua .

Kanisius Yogyakarta, 1995. Hal : 156-157.

Stevens. M. P. KIMIA POLIMER. Penerbit Pradnya Paramita : Jakarta, 1991.


Hal : 588-589.

Tim Penulis PS. KARET. Cetakan 6. Penerbit Swadaya : Jakarta , 1999. Hal 291-293.

Wirjosentono, Basuki. KINETIKA DAN MEKANISME POLIMERISASI USU. Medan,


1994. Hal : 2.