Anda di halaman 1dari 33

1

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN ASI


EKSKLUSIF DI KELURAHAN BANDULAN KEC. SUKUN KOTA MALANG







MUTHMAINNAH
NIM : 1201013026


STIKES WIDYA CIPTA HUSADA MALANG
PROGRAM STUDI ILMU GIZI
2013
PROPOSAL SKRIPSI

GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN
ASI EKSKLUSIF DI KELURAHAN BANDULAN KEC. SUKUN KOTA
MALANG



2






MUTHMAINNAH
NIM : 1201013026


STIKES WIDYA CIPTA HUSADA MALANG
PROGRAM STUDI ILMU GIZI
2013
GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN
ASI EKSKLUSIF DI KELURAHAN BANDULAN KEC. SUKUN KOTA
MALANG


SKRIPSI


3
Diajukan Untuk Memenuhi sebagian Persyaratan dalam Memperoleh Gelar
Sarjana Gizi
Program Studi Ilmu Gizi
STIKes Widya Cipta Husada Malang

Disusun oleh :
MUTHMAINNAH
NIM : 1201013026

STIKes WIDYA CIPTA HUSADA MALANG
2013






DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL DALAM 2
HALAMAM PERSYARATAN GELAR 3
DAFTAR ISI 4
DAFTAR TABEL


4
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR ARTI LAMBANG, SINGKATAN DAN ISTILAH
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Masalah Penelitian
BAB II Tinjauan Pustaka
2.1 Air Susu Ibu
2.1.1 Pengertian Air Susu Ibu
2.1.2 Manfaat Menyusui
2.1.3




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka kematian bayi di Indonesia masih cukup tinggi meskipun secara
umum angka kematian bayi di Dunia turun dalam dasa warsa terakhir. UNISEF
menyatakan bahwa jika dibandingkan dengan Malaysia kematian bayi di


5
Indonesia masih lebih tinggi 3,4 kali sedangkan dibandingkan dengan Negara
Philipina masih 1,3 kali lebih tinggi.
Angka kematian bayi (AKB) merupakan salah satu indikator Standart
Pelayanan Minimal (SPM) dan indikator yang sensitive. Pada tahun 2003, AKB di
Indonesia tercatat 35 per 1000 kelahiran hidup, meskipun AKB di Indonesia tidak
mengalami perbaikan tetapi keadaan tetap jauh lebih buruk, sedangkan dilihat dari
data ASEAN Statistik Pocketbook dinegara asia bagian timur dan tengah, angka
kematian bayi di Vietnam 18, Thailand 17, Filipina 26, Malaysia 5,6, dan
Singapura 3 per 1000 kelahiran hidup (Sampurno, 2007).
Kelahiran bayi kiranya merupakan momen yang paling menggembirakan
bagi orang tua manapun. Mereka ingin bayi mereka sehat dan memiliki
lingkungan emosi dan fisik yang terbaik. Setelah lahir, nutrisi memainkan peran
terpenting bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. ASI adalah makanan
terbaik bagi bayi sampai ia berumur sekitar enam bulan (Ramaiah, 2007).
Riset terbaru WHO pada tahun 2005 menyebutkan bahwa 42 persen
penyebab kematian balita di dunia adalah akibat penyakit, yang terbesar adalah
pneumonia (20 persen), selebihnya (58 persen) terkait dengan malnutrisi yang
seringkali terkait dengan asupan ASI (Siswono, 2006). Dan berdasarkan hasil
penelitian Ridwan Amirudin 2007, anak yang tidak diberi ASI ekslusif lebih cepat
terserang penyakit kronis seperti kanker, jantung, hipertensi, dan diabetes setelah
dewasa,.kemungkinan anak menderita kekurangan gizi dan obesitas (Amiruddin,
2007).


6
Angka kematian bayi yang cukup tinggi di Indonesia dapat dihindari
dengan pemberian air susu ibu (ASI). Pemberian ASI semaksimal mungkin
merupakan kegiatan yang berperan penting dalam pemeliharaan anak dan
persiapan generasi penerus dimasa depan (Arifin, 2004). Bayi yang diberi susu
selain ASI, mempunyai 17 kali lebih besar mengalami diare, dan 3 sampai 4 kali
lebih besar kemungkinan terkena infeksi saluran pernafasan (ISPA) salah satu
factor adalah karena buruknya pemberian ASI (Dep.Kes,RI, 2005) hasil Survey
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002 2003 hanya 8 % bayi
Indonesia yang mendapat ASI ekslusif 6 bulan dan 4% yang mendapat ASI dalam
satu jam kelahirannya (Amori, 2007).
Menteri negara pemberdaya perempuan dinews Antara pada Peringatan
Pekan Asi Sedunia 2007, mengatakan meskipun usaha meningkatkan pemberian
Air Susu Ibu (ASI) sangat gencar dilakukan, tapi kesadaran masyarakat untuk
pemberian ASI di Indonesia masih memprihatinkan, berdasarkan data yang ada
pada tahun 2002 2003 bayi dibawah usia 4 bulan yang diberikan ASI ekslusif
hanya 55 % sementara itu pemberian ASI ekslusif pada bayi usia 2 bulan hanya
64%, pada bayi berumur 2-3 bulan hanya 46 % dan pada bayi berumur 4-5 bulan
haya 14 %. Dan berdasarkan hasil penelitian Ridwan Amirudin 2007, proporsi
pemberian ASI Ekslusif pada bayi kelompok usia 0 bulan sebesar 73,1 %, usia 1
bulan sebesr 55,5 %, usia 2 bulan sebesar 43 %, usia 3 bulan sebesar 36%, dan
usia 4 bulan 16,7% (Amiruddin, 2007).


7
ASI sebagai makanan bayi yang mengandung laktosa didalam usus laktosa
akan dipermentasi menjadi asam laktat yang bermanfaat sebagai zat antibodi,
menghambat pertumbuhan bakteri yang bersifat pathogen, ASI tidak mengandung
beta lactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi (Arifin, 2004).
Meskipun ASI sangat besar manfaatnya bagi bayi, namun survei yang
dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrition dan Health Surveillance System
(NSS) kerja sama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di
4 perkotaan dan 8 pedesaan menunjukan bahwa cakupan ASI ekslusif 4-5 bulan
di perkotaan antara 4% - 12 %, sedangkan dipedesaan 4% - 25 % pencapaian ASI
ekslusif, pencapaian ASI ekslusif 5-6 bulan diperkotaan berkisar antara
1% - 13%, sedangkan dipedesaan 2% - 13 %.
Berdasarkan data dari NSS yang bekerjasama dengan Balitbangkes dan
Hellen Keller International permasalahan yang mengakibatkan masih rendahnya
penggunaan ASI di Indonesia adalah faktor sosial budaya, kesadaran akan
pentingnya ASI, pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang belum
sepenuhnya mendukung PP-ASI, gencarnya promosi susu formula dan ibu bekerja
(Judarwanto, 2006).
Menurut penelitan Arifin Siregar 2004 dijelaskan alasan ibu tidak
menyusui bayinya, di aspek kehidupan kota kurangnya pengertian dan
pengetahuan ibu tentang manfaat ASI dan meyusui yang menyebabkan ibu
terpengaruh kepada susu formula. Kesehatan / status gizi bayi serta kelangsungan
akan lebih baik pada ibu yang berpendidikan rendah. Hal


8
ini karena ibu yang berpendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan yang luas
serta kemampuan untuk menerima informasi lebih tinggi.
Faktor lain yang berpengaruh terhadap pemberian ASI adalah sikap ibu
terhadap lingkungan sosialnya dan kebudayaan dan dilihat faktor intern dari ibu
seperti terjadinya bendungan ASI, luka-luka pada puting susu, kelainan pada
puting susu dan adanya penyakit tertentu seperti tuberkolose, malaria. (Arifin,
2004).
Berkurangnya jumlah ibu yang menyusui bayinya dimulai di kota-kota,
terutama pada warga yang berpenghasilan cukup yang kemudian menjalar ke
daerah pinggiran kota, penelitian para ahli mengapa jumlah ibu yang menyusui
bayinya cenderung menurun, semakin banyak ibu bekerja,adanya anggapan
menyusui adalah lambang keterbelakangan budaya dan alasan estetika (M,
Sjahnien, 2008). Dan berdasarkan hasil penelitian Ridwan Amirudin 2007 dengan
bertambahnya usia bayi tejadi penurunan pola pemberian ASI sebesar 1,3 kali /
77,2 %. Hal ini memberikan adanya hubungan antara pemberian ASI dengan
sosial ekonomi ibu dimana ibu yang mempunyai sosial yang rendah mempunyai
peluang 4,6 kali untuk memberikan ASI dibanding ibu dengan sosial yang tinggi
bertambahnya pendapatan keluarga atau status sosial ekonomi yang tinggi serta
lapangan pekerjaan bagi perempuan, berhubungan dengan cepatnya pemberian
susu botol artinya mengurangi kemungkinan untuk menyusui bayi dalam waktu
yang lama. (Amirudin, 2007).
Hasil pendataan ASI Eksklusif Pencapaian pemberian ASI Eksklusif (E0
E5) di Kota Malang Tahun 2011 yaitu 66,62%, sedangkan ASI Eksklusif


9
Paripurna (E6) yaitu 41,54% dimana cakupan tersebut masih kurang dari target
50%. Target pada Tahun 2012 meningkat menjadi 55%, sedangkan pencapaian
ASI Eksklusif di Puskesmas Mulyorejo Kota Malang adalah % (Dinkes Kota
Malang, 2012).
Berdasarkan data tersebut dapat disimp\ulkan bahwa setiap ibu akan
menginginkan bayinya sehat dan akan memberikan yang terbaik buat bayinya.
Air Susu Ibu ( ASI ) merupakan makanan yang paling cocok untuk bayi, karena
dibutuhkan oleh bayi untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang
optimal, dengan pemberian ASI secara eksklusif sampai bayiberusia 6 bulan
bayi dapat tumbuh lebih sehat dan cerdas. Namun kenyataannya masih banyak
ibu-ibu yang bekerja tidak memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya.
Maka penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian pemberian ASI
eklusif dengan m engambil judul faktor faktor yang mempengaruhi rendahnya
cakupan ASI ekslusif pada bayi usia dibawah 6 bulan di Kelurahan Bandulan Kec.
Sukun Kota Malang Tahun 2013.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka penulis merumuskan
masalah dalam penelitian ini yaitu : faktor-faktor apakah yang menjadi penyebab




10
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Tujuan Umum
Dapat diketahuinya faktor-faktor penyebab rendahnya cakupan ASI Eksklusif
di Kelurahan Bandulan Kec. Sukun Kota Malang.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus pada penelitian ini adalah untuk :
a. Diketahuinya faktor-faktor rendahnya pemberian ASI eksklusif pada bayi
usia di bawah 6 bulan ditinjau dari faktor Ibu variable Usia, Pendidikan,
psikologis, pekerjaan..
b. Diiketahuinya rendahnya pemberian ASI eksklusif pada bayi usia di
bawah 6 bulan ditinjau dari tingkat lingkungan variable status ekonomi,
pekerjaan dan keaktipan petugas kesehan
c. Diketahunyai rendahnya pemberian ASI eksklusif pada bayi usia di bawah
6 bulan ditinjau dari faktor bayi variable berat badan bayi lahir kurang

D. Manfaat Penelitian
Dengan diketahuinya faktor-faktor penyebab rendahnya pemberian ASI
eksklusif pada bayi usia di bawah 6 bulan, maka diharapkan :
1. Manfaat Aplikatif Pukesmas Mulyorejo.
Penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai faktor-faktor
mempengaruhi rendahanya cakupan ASI Eksklusif . Hasil penelitian ini
diharapkan dapat sumber informasi untuk mengetahui factor-faktor yang
mempengaruhi rendahnya cakupan ASI Eksklusif di Kelurahan Bandulan


11
Kec. Sukun Kota Malang. Selanjutnya petugas kesehatan atau pemerintah
dapat menentukan setrategi atau cara meningkatkan cakupan ASI
Eksklusif berdasarkan factor-faktor yang diteliti.
2. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan
tentang pentingnya pemberian ASI Eksklusif dan Faktor-faktor apa saja
yang mempengaruhi rendahnya cakupan ASI Eksklusif.
3. Faktor Metodologi
Penelitian ini dapat menjadi dasar bagi peneliti selanjutnya yang berkaitan
dengan ASI Eksklusif untuk melihat kembali factor-faktor lebih
mendalam. Penelitian ini juga dapat menjadi bahan referensi atau data bagi
penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan ASI Eksklusif.













12

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air Susu Ibu
2.1.1 Pengertian Air Susu Ibu
ASI adalah cairan yang keluar yang mengandung zat
gizi dan keluar dari payudara ibu setelah ibu melahirkan
(Depkes RI, 2007). ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja
tanpa disertai makanan atau minuman lain kecuali obat. Bayi
harus mendapatkan ASI secara eksklusif sejak lahir, sesegera
mungkin (setengah hingga 1 jam sejak lahir) sampai
setidaknya 4 bulan dan bila memungkinkan hingga usia 6
bulan. ASI sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangan kecerdasan anak. Berdasarkan penelitian
anak-anak yang tidak diberi ASI mempunyai IQ lebih rendah
dibandingkan dengan anak-anak yang diberi ASI secara
eksklusif (Prasetya, 2005).
2.1.2 Manfaat Menyusui
Pemberian ASI pada bayi merupakan cara yang
paling baik untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia
(SDM) sejak dini. ASI merupakan makanan yang pali
sempurna bagi bayi. Pemberian ASI berarti memberikan zat-


13
zat gizi yang bernilai tinggi yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan dan perkembangan syarat dan otak,
memberikan zat-zat kekebalan terhadap beberapa penyakit
dan mewujudkan ikatan emosional antara ibu dan bayinya
(Sunaryo, 2008)
ASI sangat bermanfaat bagi bayi, karena dalam ASI
terkandung berbagai zat gizi. Adapun manfaat dari ASI
adalah sebagai berikut :
a. Bagi Bayi
- ASI mengandung semua zat gizi dan cairan yang
dibutuhkan untuk memenuhi seluruh gizi pada bayi
pada 6 bulan pertama kehidupannya.
- Pada umum 6-12 bulan, ASI masih merupakan
makanan utama bagi bayi karena mengandung lebih
dari 60% kebutuhan bayi.
- Setelah umur 1 tahun, meskipun ASI hanya bisa
memenuhi 30% dari kebutuhan bayi, akan tetapi
pemberian ASI tetap dianjurkan karena masih
memberikan manfaat.
- ASI sesuai secara umik bagi bayi manusia, seperti
halnya susu sapi adalah yang terbaik untuk anak sapi.
- Komposisi ASI ideal untuk bayi


14
- Dokter sepakat bahwa ASI mengurangi resiko infeksi
lambung-usus, sembelit dan alergi.
- Bayi ASI memiliki kekebalan lebih tinggi terhadap
penyakit. Contohnya, ketika ibu tertular penyakit
(misalnya melalui makanan seperti gastroentritis atau
polio), antibodi sang ibu terhadap penyakit tersebut
diteruskan kepada bayi melalui ASI.
- ASI lebih bisa menghadapi efek kuning (jaundice).
Level bilirubin dalam darah bayi banyak berkurang
seiring dengan diberikannya kolostrum dan mengatasi
kekuningan, asalkan bayi tersebut disusui sesering
mungkin dan tanpa pengganti ASI.
- ASI selalui siap sedia setiap saat bayi
menginginkannya, selaluidalamm keadaan steril dan
suhu yang pas.
- Dengan adanya kontak mata dan badan pemberian
ASI juga memberikan kedekatan antara ibu dan anak.
Bayi merasa nyaman, aman dan terlindungi, dan ini
mempengaruhi kemapanan emosi si anak dimasa
depan.
- Apabila bayi sakit, ASI adalah makanan terbaik untuk
diberikan karena sangat mudah dicerna. Bayi akan
lebih cepat sembuh.


15
- Bayi prematur lebih cepat tumbuh apabila mereka
diberi ASI Perah. Komposisi ASI akan teradaptasi
sesuai dengan kebutuhan bayi, dan ASI bermanfaat
untuk meningkatkan berat badan dan menumbuhkan
sel otak pada bayi prematur.
- Beberapa penyakit lebih jarang muncul pada bayi
yang diberi ASI karena bayi ASI mempunyai
kekebalan yang lebih tinggi dari penyakit.
- IQ pada bayi yang diberi ASI lebih tinggi 7-9 point
daripada IQ bayi non-ASI. Menurut penelitian pada
tahunj 1997, kepandaian anak yang minum ASI pada
usia 9,5 tahun mencapai 12.9 point lebih tinggi
daripada anak-anak yang minum susu formula.
- Menyusui bukanlah sekedar memberi makan, tapi
juga mendidik anak. Sambil menyusui, eluslah bayi
dan dekaplah dengan hangat. Tindakan ini sudah
dapat menimbulkan rasa aman pada bayi sehingga
kelak ia akan memiliki tingkat emosi dan spiritual
yang tinggi. Ini menjadi dasar bagim pertumbuhan
manusia menuju sumber daya manusia yang baik dan
lebih mudah untuk menyayangi orang lain.
b. Bagi Ibu


16
- Hisapan bayi membantu rahim ibu menciut,
mempercepat kondisi ibu untuk kembali ke masa pra-
kehamilan dan mengurangi resiko perdarahan.
- Lemak disekitar panggul dan paha yang ditimbun
pada masa kehamilan pindah kedalam ASI, sehingga
ibu lebih cepat langsing kembali.
- Penelitian menunjukkan bahwa ibu yang menyusui
memiliki resiko lebih rendah terhadap kangker rahim
dan kanker payudara.
- ASI lebih hemat waktu karena tidak usah menyiapkan
botol susu, dot, dll.
- ASI lebih praktis karena ibu bisa jalan-jalan keluar
rumah tanpa harus membawa banyak perlengkapan
seperti, botol susu, susu formula dalam kaleng, ar
panas, dll.
- ASI lebih murah.
- ASI selalu bebas kuman.
- Penelitian medis menunjukkan bahwa ibu yang
menyusui mkendapatkan manfaat fisik dan emosional.
- ASI tidak akan pernah basi. Asi selalu diproduksi oleh
pabrik di wilayah payudara. Bila gudang ASI telah
kosong, ASI yang tidak dikeluarkan akan diserap
kembali oleh tubuh ibu, jadi ASI dalam payudara tak


17
pernah basi dan ibu tidak perlu membuang ASInya
sebelum menyusui.

c. Bagi Negara
Manfaat pemberian ASI eksklusif bagi Negara antara lain :
(Kristiansari, 2009, pp.20-22).
a) Menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi.
b) Menghemat devisa Negara
ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika
semua ibu menyusui diperkirakan dapat menghemat
devisa sebesar Rp. 8,6 miliyar yang seharusnya dipakai
untuk mambiayai susu formula
c) Mengurangi subsidi untuk Rumah Sakit
Subsidi Rumah Sakit berkurang, karena rawat gabung
akan memperpendek lama rawat ibu dan bayi,
mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi
nosokomial serta mengurangi biaya yang diperlukan
untuk perawatan anak sakit. Anak yang mendapat ASI
lebih jarang dirawat di Rumah Sakit dibandingkan anak
yang mendapatkan susu formula.
d) Peningkatan kualitas generasi penerus
Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kembang secara
optimal sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan
terjamin.


18



2.1.3 Macam-macam Zat Kekebalan Dalam ASI Eksklusif
Pemberian ASI sampai bayi mencapai usia 4-6 bulan, akan
memberikan kekebalan terhadap berbagai macam penyakit
karena ASI adalah cairan yang mengandung zat kekebalan
tubuh yang dapat melindungi dirinya dari berbagai penyakit
infeksi, bakteri, virus, jamur, maupun parasit. Dengan adanya
zat anti infeksi dalam ASI maka bayi dapat terhindar dari
berbagai macam infeksi. ASI mengandung faktor-faktor
kekebalan seperti :
(Khasanah, 2011, pp.54-56).
1) Faktor Bifidus
Hal ini merupakan suatu karbohidrat yang diperukan untuk
rertumbuhan bakteri menguntungkan, yaitu bakteri
Lactobacillus bifidus.
Dalam usus bayi yang diberi ASI, bakteri tersebut
mendominasi flora bakteri dan memproduksi asam laktat dari
laktosa. Asam laktat akan menghambat pertumbuhan bakteri
yang berbahaya, dan parasit lainnya.
2) Faktor laktoferin
Laktoferin adalah suatu protein yang mengikat zat besi yang
terdapat dalam ASI. Zat besi yang terikat tidak dapat


19
digunakan oleh bakteribakteri usus yang berbahaya, yang
membutuhkannya untuk pertumbuhan sehingga bakteri
berbahaya tidak dapat tumbuh
3) Faktor laktospirosidase Laktospirosidase merupakan
enzim yang terdapat dalam ASI yang membantu
membunuh bakteri berbahaya.
4) Faktor sel-sel fagosit
Sel-sel fagosit berfungsi sebagai pemakan bakteri yang
berbahaya bagi tubuh bayi.
5) Faktor sel limfosit dan makrofag
Sel limfosit dan makrofag mampu mengeluarkan zat
antibodi untuk meningkatkan imunitas terhadap penyakit
pada tubuh bayi.
6) Faktor lisozim
Lisozim merupakan salah satu enzim yang terdapat dalam
ASI. Enzim tersebut memiliki fungsi membunuh berbagai
macam bakteri dan kuman, serta berperan sebagai
pelindung terhadap berbagai macam virus.
7) Faktor interferon
Interferon berfungsi menghambat pertumbuhan virus
sehingga tubuh bayi dapat terhindar dari beragam
penyakit yang disebabkan oleh virus
2.1.4 Jenis ASI Berdasarkan Waktu Produksi


20
Berdasarkan waktu di produksi, ASI dapat dibagi menjadi 3
(tiga) jenis. Antara lain : (Khasanah, 2010, pp.126-129)


1) Kolostrum
ASI yang dihasilkan pada hari pertama sampai hari ketiga
setelah bayi lahir. Kolostrum merupakan cairan yang agak
kental berwarna kekuning kuningan, lebih kuning dibanding
dengan ASI mature, bentuknya agak kasar karena
mengandung butiran lemak dan selsel epitel, dengan kasiat
kolostrum sebagai berikut :
o Kaya antibodi yang berguna untuk melindungi bayi
terhadap infeksi dan alergi
o Banyak sel darah putih yang berguna untuk
melindungi bayi terhadap infeksi
Pencahar yang berguna untuk membersihkan air
ketuban, dan membantu mencegah bayi kuning
(ikterus)
o Faktor pertumbuhan yang membantu usus bayi
berkembang lebih matang, mencegah alergi dan
keadaan tidak tahan
o Kaya vitamin A yang berguna untuk mengurangi
keparah infeksi, mencegah penyakit mata pada bayi
2) ASI masa transisi


21
ASI yang dihasilkan mulai hari keempat sampai hari
kesepuluh. Merupakan peralihan dari ASI kolostrum sampai
menjadi ASI mature. Pada masa ini, kadar protein berkurang,
sedangkan karbohidrat dan lemak serta volumenya semakin
meningkat.
3) ASI mature
ASI yang dihasilkan mulai hari kesepuluh sampai seterusnya.
ASI mature merupakan nutrisi bayi yang terus berubah di
sesuaikan dengan perkembangan bayi sampai usia 6 bulan.
Setelah 6 bulan, ASI tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan
gizi bayi sehingga mulai dikenalkan dengan MP-ASI
(Makanan Pendamping ASI).
2.1.5 Kandungan Gizi Dalam ASI Eksklusif
ASI (Air susu Ibu) selalu merupakan bahan makanan terbaik
untuk bayi, walaupun ibu sedang sakit, hamil, haid atau
kurng gizi. ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan
bayi dalam 4-6 bulan kehidupan sehingga dianjurkan agar
pada masa ini hanya diberikan ASI.
Komposisi ASI sesuai dengan kebutuhan bayi. Kandungan
gizi dalam ASI antara lain : (Khasanah, 2011, pp.129-134)
1) Karbohidrat
Laktosa (gula susu) merupakan satu-satunya karbohidrat
yang terdapat dalam ASI paling tinggi dibandingkan
dengan susu sapi. Kelebihan laktos adalah mudah terurai


22
menjadi glukosa, lalu galaktosa. Laktosa juga berfungsi
mempertinggi penyerapan kalsium. Selain terdapat
sebagai sumber energi, laktosa juga terdapat di dalam
usus sehingga sebagian laktosa akan diubah menjadi asam
laktat yang berfungsi mencegah pertumbuhan bakteri
yang tidak diinginkan dan membantu penyerapan kalsium
serta mineral-mineral lainnya di dalam usus.
2) Protein
Protein dalam susu adalah kasein dan whey. Protein whey
sangat mudah dicerna dibandingkan kasein. Protein dalam
ASI adalah lebih banyak whey (60%) daripada kasein
sehingga tidak memberatkan pencernaan bayi. ASI juga
mengandung asam amino sistin dan taurin yang
diperlukan untuk pertumbuhan otak bayi dan tidak
terdapat dalam susu sapi.
3) Lemak
Lemak dalam ASI lebih mudah dicerna dan diserap oleh
bayi dibandingkan dengan lemak susu sapi karena ASI
mengandung lebih banyak enzim pemecah lemak. Lemak
ASI lebih banyak mengandung asam lemak tak jenuh,
sedangkan lemak susu sapi lebih banyak mengandung
asam jenuh dan rantai panjang. Penyerapan asam lemak
tak jenuh lebih cepat di bandingkan dengan asam lemaak
jenuh oleh bayi. ASI yang pertama keluar


23
mengandung sekitar 1-2% lemak dan terlihat encer. ASI
berikutnya mengandung 3-4 kali lebih banyak
mengandung lemak.
4) Vitamin dan Mineral
Vitamin merupakan nutrisi yang diperoleh tubuh dari luar.
Hanya sedikit terdapat vitamin D dalam ASI. Vitamin D
yang terlarut dalam air telah ditemukan didalam ASI,
meskipun fungsi vitamin merupakan tambahan terhadap
vitamin D yang terlarut lemak. Sementara itu, Kadar
mineral yang terdapat pada susu sapi 4 kali lebih banyak
dibandingkan dengan ASI. Kadar mineral yang tinggi
dapat menyebabkan cairan tubuh bayi lebih pekat dan
memberi beban yang berlebihan pada ginjalnya yang
masih belum sempurna fungsinya.
5) Zat kekebalan tubuh
Selain mengandung zat gizi, ASI juga mengandung zat
kekebalan yang membantu tubuh bayi melawan infeksi.
Kandungan zat kekebalan dalam ASI telah disesuaikan
dengan kebutuhan bayi.
2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemberian ASI eksklusif
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemberian ASI eksklusif
adalah faktor ibu, faktor bayi, faktor keluarga dan masyarakat
(lingkungan), faktor pelayanan kesehatan, faktor industry susu
formula.


24



a. Faktor Ibu
1) Psikologis
(1) ASI tidak cukup
Alasan ini merupakan dukungan utama para ibu untuk tidak
memberikan ASI eksklusif walaupun banyak ibu-ibu yang
merasa ASInya kurang, tetapi hanya sedikit sekali (2-5%)
yang secara biologis memang kurang produksi ASInya,
selebihnya 95-98% lebih dapat menghasilkan ASI yang
cukup untuk bayinya (Roesli, 2000, pp.46)
(2) Takut ditinggal suami
Dari survey Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
(1995), terhadap ibu SEJABOTABEK, diperoleh data
bahwa alasan pertam berhenti memberikan ASI adalah
takut ditinggal suami. Hal ini dikarenakan adanya mitos
yang mengatakan bahwa menyusui akan mengubah bentuk
payudara menjadi jelek, padahal sebenarnya yang
menyebabkan perubahan pada payudara bukan karena
menyusui melainkan karena kehamilan Roesli (2000,
pp.46)
(3) Takut bertambah gemuk


25
Pendapat bahwa ibu menyusui akan sukar menurunkan
berat badannya adalah tidak benar. Didapat bukti bahwa
menyusui akan membantu ibu-ibu menurunkan berat
badannya lebih cepat daripada ibu yang tidak menyusui
secara Eksklusif. (Kristiansari, 2009, pp.18-20)
2) Fisik
(1) Ibu sakit
Ibu yang dalam keadaan sakit seperti puting susu lecet,
mastitis, payudara bengkak akan membuat ibu enggan dan
takut menyusui sehingga ASI eksklusif tidak diberikan
Roesli (2000, pp.)
(2) Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan ibu sebenarnya bukan satu- satunya
faktor yang menurunkan kemampuan ibu dalam menyusui
dan menyiapkan hidangan yang bergizi. faktor pendidikan
dapat mempengaruhi kemampuan ibu menyerap
pengetahuan gizi yang diperoleh secara biologi ibu adalah
sumber hidup anak. Anak-anak dari ibu yang mempunyai
latar belakang pendidikan lebih tinggi akan mendapat
kesempatan hidup serta tumbuh lebih baik. Keterbukaan
mereka untuk menerima perubahan atau hal yang baru
lebih banyak mempergunakan rasio pada emosi seperti
halnya ibu yang berpendidikan rendah atu mereka yang
tidak berpendidikan (BKKBN, 1998)


26
(3) Pengetahuan tentang ASI
Perilaku ibu terhadap pemberian ASI dipengaruhi oleh
beberapa faktor antara lain : pengetahuan, keyakinan, nilai
yang dianut ibu tentang pemberian ASI yang benar akan
menunjang keberhasilan menyusui. Pengetahun ibu akan
meningkat berkat pendidikan yang akhirnya akan
berdampak pada peningkatan gizi dan kesehatan
masyarakat. Meningkatnya pendidikan, pengetahuan dan
kesehatan masyarakat akan meningkatkan produktifitas dan
kualitas kerja dan kesejahteraan penduduk (BKKBN, 1998)
3) Faktor pekerjaan
(1) Ibu yang bekerja
Tekanan ekonomi menyebabkan banyak ibu-ibu yang
bekerja di luar rumah, sehingga pemberian ASI eksklusif
sering diabaikan, meskipun sebenarnya bekerja bukanlah
alasan untuk tidak memberikan ASI eksklusif karena
waktu ibu bekerja bayi dapat diberi ASI perah yang
diperoleh sebelumnya dari ASI itu sendiri (DEPKES, 2005)
(2) Jam kerja ibu
Beberapa orang ibu ragu-ragu untuk mulai menyusukan
anaknya oleh karena mereka harus kembali bekerja.
Sebenarnya hal ini tergantung pada jam kerja ibu jika ibu
bekerja selama 3-4 jam sehari, ibu masih dapat menyusui
bayinya dengan 1 kali menyusui. Ibu yang bekerja lebih


27
dari 5 jam sehari, bayi akan kehilangan 2-3 kali waktu
menyusui akibatnya bayi akan menolak untuk menetek
karena merasa upaya menghisap tidak memberikan hasil
sesuai yang diharapkan (DEPKES, 2005)
b. Faktor bayi
Bayi dengan isapan lemah dan kurang sering akan membuat ibu
beranggapan bahwa si bayi tidak suka dengan ASInya, sehingga
ibu memberi susu selain ASI (Roesli, 2000)
c. Faktor keluarga dan masyarakat (lingkungan)
Dengan kemajuan teknologi, dukungan keluarga pengaruh
modernisasi, mengakibatkan menyusui di pandang kuno dan
mengaggap susu formula sebagai symbol kedudukan. Faktor lain
yang berpengaruh terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif
adalah :
a) Lingkungan fisik
Perilaku dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan
organisme tersebut dipengaruhi baik oleh faktor genetik
(keturunan) dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan
bahwa faktor genetik. Dan lingkungan ini merupakan perilaku
makhluk hidup termasuk perilaku menurun. Lingkungan fisik
adalah lahan fisik untuk perkembangan perilaku yang meliputi
iklim, cuaca, manusia, dan lain-lain.
b) Lingkungan non fisik


28
Lingkungan non fisik adalah kondisi selain fisik atau
merupakan lahan non fisik untuk perkembangan perilaku,
yang meliputi sosial, ekonomi, kebudayaan, dan lain-lain.
d. Faktor pelayanan kesehatan
Kurangnya bimbingan dan persiapan saat awal menyusui,
kurangnya informasi serta penyuluhan tentang pentingnya ASI,
pemberian informasi yang kurang baik petugas kesehatan, serta
keterbatasan fasilitas pelayanan kesehatan dapat menyebabkan
terjadinya penurunan cakupan pemberian ASI.
e. Faktor industri susu formula
Makin gencarnya iklan promosi produsen susu formula dengan
disertai hadiah-hadiah dan pendapat bahwa bahwa susu formula
lebih praktis dapat menyesatkan dan menyebabkan orang salah
mengerti sehingga mereka beranggapan susu formula lebih baik.












29



2.2 Kerangka Konsep
Variabel Independen Variabel Dependen
Faktor Ibu :
Psikologis
Fisik
Faktor Pekerjaan

Pemberian ASI Eskklusif
Faktor Bayi

Faktor Keluarga dan
Masyarakat

Faktor Pelayanan
Kesehatan

Faktor Industri Susu
Formula


Gambar 1. Kerangka Konsep
Fator yang berpengaruh terhadap Pemberian ASI Eksklusif
adalah : Faktor Ibu, Faktor bayi, Fakyor keluarga dan Masyarakat,
Faktor Pelayanan Kesehatan serta faktor Industri Susu Formula


30


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian
Desain penelitian adalah cross sectional
3.2 Lokasi dan waktu penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Kelurahan Bandulan Kec, Sukun Kota Malang
3.2.2 Waktu Penelitian
Pelaksanaan penelitain dimulai dari pengumpulan data awal pada bulan
Oktober 2013 sampai dengan
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki bayi
berusia 6 12 bulan pada bulan Oktober 2013 di KelurahanBandulan
Kec. Sukun Kota Malang sebanyak 89 orang. Alasan pengambilan
populasi adalah ibu yang baru selesai memberikan ASI kepada bayinya
dan usia bayi dibatasi sampai usia 12 bulan agar ibu masih mengingat
waktu pemberian ASInya.
3.3.2 Sampel


31
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh populasi yang ada sebanyak
89 orang.

3.4 Metode Pengumpulan Data
3.4.1 Data Primer
Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara langsung
menggunakan kuesioner yang telah disusun mengacu pada variabel
yang diteliti dengan kunjungan rumah.
3.4.2 Data Skunder
Data skunder diperoleh dari laporan data ibu yang memiliki bayi usia 6-
12 bulan pada bulan Oktober 2013 di Kelurahan Bandulan Kec. Sukun
Kota Malang.
3.5 Definisi Operasional
1. Faktor Ibu adalah faktor yang berhubungan dengan identitas responden
yang meliputi :
- Psikologis ibu adalah kondisi perasaan ibu terkait dengan sara ASI tidak
cukup, rasa takut ditinggal suami dan rasa takut gemuk
- Fisik Ibu kondisi yang berhubungan dengan keadaan ibu (sakit atau
tidak) , Tingkat Pendidikan Ibu dan Pengetahuan Ibu tentang ASI
Eksklusif.
- Faktor Pekerjaan Ibu adalah faktor yang berhubungan dengan jenis
pekerjaan ibu dan lama ibu di tempat kerja.
2. Faktor Bayi


32
Faktor kekuatan isapan bayi
3. Faktor Keluarga dan Masyarakat
Faktor yang meliputi Fisik dan non Fisik
4. Faktor Pelayanan Kesehatan
Faktor yang berkaitan dengan kurangnya bimbingan dan persiapan
saat awal menyusui, kurangnya informasi serta penyuluhan tentang
pentingnya ASI, pemberian informasi yang kurang baik petugas
kesehatan, serta keterbatasan fasilitas pelayanan kesehatan dapat
menyebabkan terjadinya penurunan cakupan pemberian ASI.
5. Faktor industri susu formula
Faktor yang berkaitan dengan makin gencarnya iklan promosi
produsen susu formula dengan disertai hadiah-hadiah dan pendapat
bahwa bahwa susu formula lebih praktis dapat menyesatkan dan
menyebabkan orang salah mengerti sehingga mereka beranggapan
susu formula lebih baik.
3.6 Tehnik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang telah
diuji yang dilakukan dengan kunjungan rumah sampel.
3.7 Analisis Data
Data yang telah terkumpul selanjutnya akan diolah dengan cara komputerisasi
dengan tahapan sebagai berikut :
a. Analisis Univariat untuk mengetahui distribusi masing-masing variabel
dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi.


33
b. Analisis Bivariat untuk mengetahui pengaruh variabel Independen terhadap
variabel dependen dengan uji Chi-Square.


DAFTAR PUSTAKA