Anda di halaman 1dari 5

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan :


1,2,3
1. Anamnesis.
Pada anamnesis biasanya didapatkan keluhan suara parau yang diderita sudah cukup
lama, tidak hilang dengan pengobatan konservatif selama 3 minggu atau nyeri tenggorok
ringan yang menetap. Penderita memiliki faktor resiko seperti merokok, peminum alkohol,
sering terpajan radiasi, pajanan industri, dan kekebalan tubuh yang menurun.
1.2

2. Pemeriksaan Fisik
1,2,4
Pemeriksaan untuk melihat ke dalam laring dapat dilakukan dengan cara tak langsung
maupun langsung, yaitu:
a. Laringoskop indirek adalah pemeriksaan menggunakan kaca laring yang dimasukkan ke
rongga mulut dengan arah kaca ke bawah dan disandarkan pada uvula dan palatum molle.
Jika terlihat massa tumor, maka dilakukan pengambilan jaringan untuk pemeriksaan
patologi, atau apusan untuk pemeriksaan sitologi.
1

b. Laringoskop serat optik bertujuan untuk melihat dengan jelas bagian yang sulit dilihat
melalui laringoskop indirek. Dengan pemeriksaan laringoskop serat optik dapat
membantu untuk menjepit jaringan tumor yang digunakan pada pemeriksaan patologi,
sebagai dasar diagnosa dari tumor laring.
5

3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Sinar-X (Rontgen)
-Rontgen polos laring frontal, lateral dapat melihat lokasi dan lingkup tumor,
destruksi pada kartilago tiroidea dan kondisi saluran napas, dll.
6,7

-Foto dengan kontras menggunakan barium dilakukan terutama untuk lihat kondisi
hipofaring dan aditus esofagus. Tetapi pemeriksaan ini sudah jarang dilakukan.
6,7

b. Pemeriksaan CT-Scan
1,8

CT-Scan membantu dalam mengidentifikasi perluasan submukosa transglotis yang
tersembunyi. Untuk mendapatkan gambaran yang baik, ketebalan potongan tidak boleh lebih
dari 3 mm dan laring dapat dicitrakan dalam beberapa detik, dan dengan artefak minimal
akibat gerakan.
Kriteria pencitraan lesi T3 adalah perluasan ke ruang pra-epiglotis (paralayngeal fat)
atau tumor yang mengerosi kebagian dalam korteks dari kartilago tiroid. Tumor yang
mengerosi ke bagian luar korteks kartilago tiroid merupakan stadium T4a. ada yang
berpendapat bahwa kerterlibatan korteks bagian luar saja tanpa keterlibatan sebagian besar
tendon bisa memenuhi kriteria pencitraan lesi T4.
8
Tumor stadium T4 (a dan b) sulit diidentifikasikan hanya dengan pemeriksaan klinis
saja, karena sebagian besar kriteria tidak dapat dinilai dengan palpasi dan endoskopi.
Pencitraan secara Cross-sectional diindikasikan untuk mengetahui komponen anatomi yang
terlibat untuk menentukan stadium tumor.
8
C. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
1,6,7

MRI memiliki beberapa kelebihan daripada CT yang mungkin membantu dalam
perencanaan pre-operasi. Pencitraan koronal membantu dalam menentukan keterlibatan
ventrikel laryngeal dan penyebaran transglottic. Pencitraan Midsagittal membantu untuk
memperlihatkan hubungan antara tumor dengan komisura anterior. MRI juga lebih unggul
daripada CT untuk karakterisasi jaringan spesifik. Namun, pencitraan yang lebih lama dapat
menyebabkan degradasi gambar akibat pergerakan.
D. Pemeriksaan hispatologi
Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan patologi anatomik dari bahan biopsi
laring dan biopsi jarum halus pada pembesaran kelenjar getah bening di leher. Dari hasil
patologi anatomik yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa.

Diagnosis Banding
2

Tumor faring dapat dibanding dengan :
1. TBC laring: Lesi umumnya terdapat pada celah (kartilago aritenoid) yang tampak sebagai
tukak yang dangkal dan tertutup sekret purulen. Selain itu di paru-paru juga terdapat lesi TB.
Gejala klinis lainnya berupa batuk dan nyeri dada.
2. Nodul dan polip plika vokalis : Terjadi pada perbatasan 1/3 anterior dan tengah plika
vokalis. Permukaan polip plika vokalis licin, putih kelabu, dan bergerak sesuai nafas. Nodul
plika vokalis sering kali bersifat bilateral, simetris, dan basisnya hiperemis.
3. Papilloma laring: Dapat ditemukan pada anak maupun dewasa, yang tampak seperti
tonjolan papilar, tunggal atau multipel. Papilloma pada dewasa dianggap sebagai lesi
prakanker.
4. Keratosis dan leukoplakia laring: Gejala yang timbul adalah suara serak dan rasa tak enak
di laing. Pada pemeriksaan laringoskop indirek tampak pita suara menebal dan terdapat
bercak merah muda atau putih. Karakteristik histopatologik beryupa hiperplasia epitel dengan
derajat bervariasi, dan timbul lapisan keratin dan submukosa yang berisi sebukan sel radang.

Tatalaksana
Tatalaksana tumor laring umumnya adalah pebedahan, radiasi, obat statistika maupun
kombinasi tergantung pada stadium penyakit dan keadaan umum pasiennya.
1. Pembedahan
Pada tumor laring pembedahan dapat dilakukan dengan 2 cara:
5
a. Laringektomi
- Laringektomi parsial
Laringektomi parsial dilakukan pada kanker stadium awal. Pengangkatan laring
dilakukan hanya pada bagian yang terkena, kemudian dibuat muara kedalam
laring melalui kartilago tirodea dan pengangkatan. Tumor yang terbatas pada
bagian pita suara.
- Laringektomi total
Laringektomi total adalah tindakan pengangkatan seluruh struktur laring mulai
dari batas atas (epiglotis dan os hioid) sampai batas bawah cincin trakea.
b. Diseksi leher radikal
Diseksi leher radikal dilakukan pada tumor stadium lanjut dan sudah mengalami
metastase ke kelenjar limfe leher. Tumor supraglotis, subglotis dan tumor glotis
stadium lanjut sering kali mengadakan metastase ke kelenjar limfe leher sehingga
perlu dilakukan tindakan diseksi leher. Pembedahan ini tidak disarankan bila telah
terdapat metastase jauh.
2

2. Radioterapi
Radioterapi merupakan terapi keganasan menggunakan pengion. Terapi dapat
diberikan untuk mengobati mengobati tumor glotis dan supraglotis T1 dan T2 dengan
angka kesembuhannya 90%. Keuntungan dari pemberain radiasi adalah laring
terhindar dari cedera sehingga suara masih bisa dipertahankan. Dosis yang dianjurkan
adalah 200 rad perhari sampai dosis total 6000 7000 rad.
9

Efek radioterapi pada tumor dan jaringan normal bergantung pada dosis yang
diberikan dan lama pemberian radioterapi. Pemberian radioterapi mempunyai
beberapa efek samping seperti
9
:
- Sakit tenggorok dan sulit menelan
- Perubahan pada suara
- Perubahan kulit disekitar leher
- Perubahan pada tiroid
- Lemah
- Penurunan berat badan
3. Kemoterapi
Penggunaan obat kemoterapi digunakan secara intravena. Obat yang diberikan adalah
cisplatinum 80-120mg/m
2
dan 5 FU 800-1000mg/m
2.
Kemoterapi memiliki beberapa
efek samping seperti gangguan pada sistem pencernaan, gangguan pada sel darah, dan
menyebabkan rambut rontok
5
4. Rehabilitasi Suara
Pembedahan dengan laringektomi total mengakibatkan penderita menjadi
afonia dan bernafas melalui stoma permanen di leher sehingga diperlukan rehabilitasi
terhadap penderita agar dapat berkomunikasi dengan oang lain dalam kehidupan
sehari-hari. Rehabilitasi dilakukan menggunakan alat bantu suara berupa vibrator
yang ditempelkan di daeah submandibula ataupun dengan suara yang dihasilkan dari
esofagus (esophageal speech) melalui proses belajar.
Suatu hal yang sangat membantu adalah pembentukan wadah perkumpulan
guna menghimpun pasien-pasien tuna-laring guna menyokong aspek psikis dalam
lingkup yang luas dari pasien, baik sebelum maupun sesudah operasi.
1,7


2.2.10 Prognosis Tumor Laring
5
Prognosis tumor laring ditentukan oleh beberapa hal yaitu stadium tumor,
lokasi tumor, metastasis, serta pilihan pengobatan yang diberikan,. Untuk five years
survival rate pada karsinoma laring stadium I sebesar 90-98%, stadium II 78-85%,
stadium III 60-70% dan stadium IV 40-50%. Namun, 5 years survival rate akan
berkurang sampai 505 apabila ada metastases ke kelenjar limfe regional.





1. Hermani B, Abdurrachman H. Tumor Laring. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N,
Bashiruddin J, Restuti RD editors. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung
tenggorok kepala & leher.Edisi 6. Balai Penerbit FKUI Jakarta 2008: h. 194-98.
2. Adam, GL. Tumor-tumor Ganas Kepala dan Leher. Dalam: Adam GL, Boies LR Jr,
Higler PA editors. Boies Buku ajar penyakit THT. Edisi Bahasa Indonesia, Alih
bahasa Wijaya C. Jakarta EGC.1997: 430-452.
3. Wim de Jong, Sjamsuhidayat R.Buku Ajar Ilmu Bedah.. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. 1997. hal : 461 463.
4. Hermani B, Hutauruk S. Disfonia. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J,
Restuti RD editors. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala &
leher.Edisi 6. Balai Penerbit FKUI Jakarta 2008: h. 234
5. Hajar SH. Tumor Ganas Laring diakses pada tanggal 9 Februari 2014 dari
http://library.usu.ac.id/download/fk/tht-siti%20hajar.pdf
6. Haryuna Sh, Tumor Ganas Laring. Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara. Diunduh dari www . repository.usu.ac.id
7. Iqbal N. Laryngeal Carcinoma. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/875436-overview Tanggal 9 Februari 2014.
8. Henrot P, Blum A, Toussaint B, Troufleau P, Stines J, Roland J. Dynamic
Maneuvers in Local Staging of Head and Neck Malignancies with Current Imaging
Techniques: Principles and Clinical Applications. Diunduh dari http:
http://radiographics.rsna.org tanggal 10 Februari 2014..
9. Terence M. Jones. Head and neck cancer British Association of
Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery. Edisi ke-4. Diagnosis and
menagement of head and neck cancer. 2006. SIGN.