Anda di halaman 1dari 5

1

Penerimaan Proposal Penelitian


Tentang Praktik Tata Kelola Pemerintahan Berbasis Keterbukaan

KEMITRAAN BAGI PEMBARUAN TATA PEMERINTAHAN
(Partnership for Governance Reform)

Tujuan: memberikan gambaran terkait proses penerimaan proposal penelitian, tema penelitian dan
persyaratan teknis lainnya.

Tata Kelola Pemerintahan berbasis Keterbukaan

Governance atau tata kelola adalah proses menyelaraskan kebiasaan budaya, institusi
politik, dan sistem ekonomi yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dengan tujuan utama
menciptakan kehidupan bersama yang lebih baik (Berggruen dan Gardels, 2013). Dalam konteks
pemerintahan, tata kelola diartikan sebagai proses memformulasi dan menjalankan kebijakan,
peraturan, serta prioritas-prioritas pembangunan, melalui interaksi antara pihak eksekutif, legislatif
dan birokrasi dengan partisipasi dari masyarakat sipil dan masyarakat ekonomi (Indonesia
Governance Index, 2012). Arena tata kelola berdasarkan definisi di atas mencakup arena pemerintah
(badan pembuat kebijakan baik eksekutif maupun legislatif), arena birokrasi (pelaksana kebijakan
dan memiliki peran melayani maupun sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat), arena
masyarakat sipil (terdiri atas organisasi, asosiasi, yayasan, forum, serikat buruh, dan lain-lain), dan
arena masyarakat ekonomi (mencakup entitas bisnis dan asosiasi yang bertujuan mendapatkan
profit). Lebih jauh, Indonesia Governance Index yang dirancang oleh Kemitraan juga menekankan
prinsip-prinsip partisipasi, keadilan, akuntabilitas, transparansi, efisiensi dan efektivitas untuk
membangun tata kelola pemerintahan yang baik. Secara garis besar, prinsip-prinsip tersebut bisa
dirangkum menjadi tiga hal pokok. Pertama, transparasi akan informasi publik sebagai fondasi
utama tata kelola yang baik. Kedua, partisipasi untuk memastikan adanya keterlibatan dari seluruh
pihak terkait. Ketiga, akuntabilitas dalam pengertian seluruh pihak dapat dan wajib
mempertanggungjawabkan keputusan dan aksi yang diambil. Inilah kemudian yang menjadi basis
bagi sebuah tata kelola pemerintahan yang berbasis keterbukaan (open governance).

Tata kelola berbasis keterbukaan adalah fondasi penting bagi proses pembangunan yang
inklusif dan berkeadilan. Adanya transparansi dan akuntabilitas di dalam setiap jenjang tata kelola
yang disertai dengan transparansi di dalam keseluruhan proses tata kelola akan bisa mendorong
terjadinya proses pembangunan yang melibatkan dan memenuhi kepentingan semua orang. Untuk
itulah maka keterbukaan harus menjadi prasyarat utama, agar tercipta ruang bagi setiap elemen di
masing-masing arena tata kelola untuk memainkan perannya masing-masing, berinteraksi antara
satu dengan yang lain dan mengisi ruang-ruang kosong yang belum terisi.

Selain menciptakan ruang interaksi di seluruh arena, keterbukaan juga diharapkan dapat
menjadi alat untuk memperkuat akuntabilitas. Dalam arti yang lebih luas, pemerintahan yang bersih
dan kuat tentunya membutuhkan sistem check-and-balance dari luar sistem, di sinilah masyarakat
sipil dapat memainkan perannya secara aktif. Interaksi antar arena birokasi dan pemerintah juga
turut diuntungkan dengan adanya keterbukaan. Adanya keterbukaan dapat menciptakan mekanisme
pembagian kekuasaan yang efektif, serta sinergi kerja antar pembuat kebijakan, pelaksana kebijakan
2

dan pengawas kebijakan. Pada arena yang lain, business environment juga dapat menjadi lebih
kondusif berkat adanya kebijakan yang kuat. Hal ini berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan
ekonomi serta arena masyarakat ekonomi. Pada akhirnya, tata kelola pemerintahan berbasis
keterbukaan diharapkan dapat berkontribusi langsung terhadap masyarakat secara luas.

Berdasarkan uraian di atas, kinerja dan hubungan antara keempat arena yang dimaksud
menduduki posisi penting dalam keseluruhan gagasan dan praktik open governance. Pertama-tama
transparansi, partisipasi dan akuntabilitas wajib menjadi prinsip utama pemerintah, birokrasi, sektor
bisnis dan OMS. Ketiga prinsip ini tidak bisa dan tidak boleh dipraktikkan secara berat sebelah,
misalnya, tuntutan terlalu besar untuk mempraktikannya hanya ditujukan kepada pemerintah dan
birokrasi. Dalam banyak hal masyarakat ekonomi dan masyarakat sipil merupakan dua arena yang
selama ini cenderung tercecer dari pembahasan tentang wajibnya bersikap transparan, partisipatif
dan akuntabel.

Selain itu kinerja keempat arena ini juga harus bersandar pada dua prinsip penting dalam
demokrasi, yakni division of power dan separation of power. Prinsip pertama menekankan
pentingnya pembedaan tugas dalam pengelolaan kekuasaan berdasarkan spesifikasi masing-masing
arena. Prinsip kedua berkaitan erat dengan upaya menghindari bertumpuknya kekuasaan di satu
arena, sembari menekankan arti penting mekanisme check-and-balance. Artinya, jika dikembangkan
dengan ide yang jelas dan dipraktikkan secara tepat, open governance bukan saja akan melahirkan
tata kelola pemerintahan yang efisien dan efektif, tapi juga memperkuat sendi-sendi demokrasi.

Kemitraan dan Tata Kelola Pemerintahan berbasis Keterbukaan

Kemitraan bagi Pembaharuan Tata Kelola Pemerintahan secara konsisten mendukung isu-isu
yang dapat mewujudkan tata kelola yang lebih baik sebagai pengejawantahan dari misi utama
organisasi. Demi mewujudkan tata kelola yang lebih baik, Kemitraan percaya bahwa setiap aktor
pembangunan memiliki peran kunci yang saling terkait. Keterlibatan setiap aktor dari masing-masing
arena harus mampu mendorong perubahan yang akhirnya memberikan dampak langsung kepada
masyarakat. Untuk itu, Kemitraan akan merekrut konsultan peneliti untuk mengeksplor tentang
praktik-praktik nyata terkait tata kelola pemerintahan yang terbuka di semua tingkatan tata kelola,
baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Hal ini penting untuk dilakukan karena eksplorasi
terhadap konsep dan praktik tentang tata kelola pemerintahan yang terbuka (open governance)
harus dilakukan secara menyeluruh di semua tingkatan tata kelola dan dikaitkan dengan konteks
lokal di Indonesia yang heterogen. Lebih lanjut, kontekstualisasi ini menjadi penting agar konsep tata
kelola pemerintah yang terbuka dapat dijalankan secara nyata dan konkret dalam rangka menjawab
kebutuhan masyarakat setempat. Selain itu, penelitian yang akan dilakukan juga diharapkan dapat
memberikan temuan empiris yang bisa menjadi basis untuk memahami secara detil gambaran nyata
terkait praktik tata kelola pemerintahan yang terbuka.

Kegiatan penelitian ini akan berada di bawah payung program LEAD Indonesia (Leveraging
and Educating Accountable Democracy in Indonesia) yang saat ini dijalankan oleh Kemitraan dan
didanai oleh Pemerintah Belanda dan Lembaga Bantuan Pemerintah Denmark. Program LEAD
Indonesia ini bertujuan untuk mendorong pemerintahan yang akuntabel dan bersih melalui tata
kelola pemerintahan yang terbuka. Penelitian ini akan menjadi basis penting untuk mendorong tata
3

kelola pemerintahan yang terbuka di Indonesia. Selain itu, hasil penelitian juga akan berisi dan
mendokumentasikan tentang praktik-praktik inovasi yang dilakukan oleh aktor-aktor di semua arena
tata kelola di tingkat pusat maupun daerah dalam melaksanaan tata kelola pemerintahan yang
terbuka diharapkan akan menjadi acuan bagi semua pihak dalam mendorong tata kelola berbasis
keterbukaan di Indonesia, baik di tingkat nasional maupun di tingkat lokal.

Tujuan
Tujuan pelaksanaan penelitian ini adalah;

Mendorong adopsi dan adaptasi konsep tata kelola berbasis keterbukaan melalui praktik-
praktik tata kelola pemerintahan yang lebih baik di semua tingkatan dan di semua arena,
baik di tingkat lokal maupun nasional;
Mendorong pelayanan publik yang lebih baik melalui tata kelola berbasis keterbukaan; dan
Mendokumentasikan praktik-praktik inovasi yang dilakukan oleh aktor-aktor di semua arena
tata kelola di tingkat lokal dan nasional dalam mendukung terlaksananya tata kelola
pemerintahan yang terbuka.

Persyaratan dari Penerimaan Proposal

Kemitraan mengadakan proses seleksi secara adil dan mengacu kepada prinsip-prinsip good
governance. Proses seleksi didasarkan pada proposal yang diajukan oleh konsultan dan juga jejak
rekam dari konsultan. Kemitraan berkomitmen untuk mendorong kebijakan demi tujuan kesetaraan
dan keragaman. Kami mendorong individu perseorangan atau kelompok untuk mengirimkan
proposal tanpa mengindahkan identitas gender, usia, orientasi seksual, disabilitas, etnis dan agama,

Kualifikasi Proposal
Proposal yang dikirimkan harus mencakup:
Penjelasan mengenai fokus isu yang akan diteliti beserta dengan tujuan dan pertanyaan
penelitian;
Penjelasan tentang manfaat strategis maupun praktis dari implementasi dari penelitian;
Penjelasan tentang kerangka konseptual yang akan digunakan dan argumentasi yang hendak
dibangun;
Penjelasan mengenai strategi yang akan dilakukan termasuk metodologi pengambilan data,
waktu pelaksanaan, analisis data dan pihak-pihak yang akan dilibatkan;
Nama dan CV lengkap dari peneliti.

Tenggat waktu penyerahan proposal penelitian adalah 14 Agustus 2014, Pukul 12.00 WIB.
Proposal penelitian harus dikirimkan dalam bentuk soft copy melalui email kepada Joan Wicitra:
joan.wicitra@kemitraan.or.id.







4

Kriteria Penilaian Proposal

Proses penilaian proposal akan dilakukan oleh tim penilai yang terdiri dari staf internal Kemitraan
dan ahli terkait. Tim ini akan mengacu kepada aspek-aspek berikut:


Nilai dari kontrak peneliti tidak melebihi nilai Rp 10.000.000,00. Pembayaran akan dilakukan setelah
hasil penelitian dikaji oleh tim internal Kemitraan. Penjadwalan terperinci terlampir di bagian lain
dari kerangka acuan ini.




No Kriteria & Penjelasan Bobot
1 Struktur Proposal ( Skor Maksimal= 10)
(Jumlah total kata: 1000 1500 kata)
a) Latar Belakang Penelitian:
b) Pertanyaan Penelitian
c) Konsep Penelitian
d) Metodologi Penelitian
e) Peluang atau Kemanfaatan


100%
2 Substansi (Skor Maksimal= 40)
a) Relevansi dan kebaruan/Orisinalitas: Proposal yang diajukan harus
sesuai dengan topik Open Governance . Selain itu proposal juga harus
menunjukkan kebaruan akan tema penelitian yang dilakukan.
b) Kontribusi dan Implikasi/Kemanfaatan: Proposal yang diajukan harus
bisa menguraikan implikasi yang bisa ditimbulkan dari penelitian yang
bersangkutan terhadap ide dan gerakan open governance terutama di
Indonesia. Terdapat dua aspek yang dapat dilihat yaitu:
- Teori
- Aktivisme/Praktis

70%


30%
3 Teknis (Skor Maksimal= 40)
a) Bahasa EYD : Penulisan proposal harus mengikuti kaidah tata bahasa
Indonesia yang baik dan benar.
a) Logika penulisan : Proposal koheren, logis dan berurutan.
b) Sistematika penulisan : Proposal yang diajukan harus memiliki pola
tertentu yang mudah dipahami dan jelas.

20%

40%

40%
4 Pengalaman penelitian dan kerja relevan lainnya (Skor Maksimal= 10) :
Peneliti diharapkan dapat menunjukkan jejak rekam terkait aktivitas
penelitian yang relevan. Penilaian ini didasarkan pada CV yang dikirimkan.
100%
5

Durasi dan Lokasi Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan selama kurang lebih 1 bulan dari 1 September 15 Oktober 2014.
Peneliti diwajibkan untuk menyerahkan laporan sebelum tanggal kontrak berakhir.

Lokasi penelitian dapat dilakukan di seluruh wilayah Indonesia.

Jadwal dan Tahapan Seleksi

Seleksi awal Proposal Minggu II Bulan Agustus 2014
Penilaian dari Tim Panel Minggu II III Agustus 2014
Pengumuman Proposal yang Lulus 22 Agustus 2014
Proses Kontrak Awal September 2014
Penulisan Penelitian September Oktober 2014
Penilaian Laporan Penelitian Oktober Minggu II 2014
Revisi Laporan Penelitian berdasarkan masukan Tim
Penilai
Oktober Minggu III IV 2014
Pengiriman Laporan Akhir 5 November 2014

Penutup
Demikian kerangka acuan ini disusun untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

***