Anda di halaman 1dari 12

Minggu, 19 Februari 2012

Tumor Laring
20:15 o No comments
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Latar Belakang
Di Indonesia , tumor laring di pita suara suara mencapai 1 % dari semua keganasan.
Selain rokok faktor resiko lain adalah alkohol, paparan radiasi, paparan bahan
industri, faktor kekebalan tubuh serta faktor genetik.
( 1 )

Seperti dikemukakan oleh dr Sri Susilawati memaparkan data di RS
Ciptomangunkusumo, selama 5 tahun terakhir ada sekitar 144 kasus kanker laring.
Penyakit itu telah menjadi pembunuh nomor tiga setelah nasofaring dan hidung atau
sinus. Perbandingan antara pasien pria dan wanita adalah tujuh banding satu. Usia
terbanyak 51 sampai 60 tahun.
( 2 )



Embriologi
Faring, laring, trakea dan paru paru merupakan derivat foregut embrional yang
terbentuk sekitar 18 hari setelah konsepsi. Tak lama sesudahnya, terbentuk alur
faring median yang berisi petunjuk petunjuk pertama sistem pernafasan dan benih
laring. Sulkus atau alur laringotrachea menjadi nyata pada sekitar hari ke 21
kehidupan embrio. Perluasan alur kearah kaudal merupakan primordial paru. Alur
menjadi lebih dalam dan berbentuk kantung dan kemudian menjadi dua lobus pada
hari ke 27 atau ke 28. bagian yang paling proksimal dari tuba yang membesar ini
akan menjadi laring. Pembesaran aritenoid dan lamina epithelial dapat dikenali
menjelang 33 hari, sedangkan kartilago, otot dan sebagian besar pita suara ( korda
vokalis ) terbentuk dalam tiga atau empat minggu berikutnya.
( 3 )

Hanya kartilago epiglottis yang tidak terbentuk hingga masa midfetal. Karena
perkembangan laring berkaitan erat dengan perkembangan arkus brankialis embrio,
maka banyak struktur laring merupakan derivat dari apparatus brankialis.
( 3 )

Gangguan perkembangan dapat berakibat kelainan yang dapat didiagnosis melalui
pemeriksaan laring secara langsung. Laring sendiri mungkin kecil atau mungkin
terdapat berbagai tingkatan selaput diantara korda vokalis sejati. Jarang, lengan
posterior dari sulcus laringotrachea yang berbentuk T dapat menetap, meninggalkan
celah laring terbuka antara esofagus dan trakea. Laringomalasia suatu tingkat
abnormal flasiditas pada kerangka laring, sehingga laring menjadi kolaps pada waktu
respirasi, merupakan kelainan kongenital laring yang paling sering tampak sebagai
penyebab untuk stridor pada neonatus. Hal ini hampir selalu merupakan kondisi jinak
yang sembuh spontan dengan pertumbuhan dan perkembangan.
(3 )


Anatomi Laring
Struktur penyangga
Struktur kerangka laring terdiri dari satu tulang dan beberapa kartilago yang
berpasangan ataupun tidak . Disebelah superior terdapat os hioideum, struktur yang
berbentuk U dan dapat dipalpasi di leher depan dan lewat mulut pada dinding faring
lateral. Meluas dari masing masing sisi bagian tengah atau os atau korpus
hioideum adalah suatu prosesus panjang dan pendek yang mengarah ke posterior
dan suatu prosesus pendek yang mengarah ke superior.tendon dan otot otot lidah,
mandibula , dan kranium, melekat pada permukaan superior korpus kedua prosesus.
Saat menelan kontraksi otot otot ini mengangkat laring . Namun bila laring dalam
keadaan stabil, maka otot otot tersebut akan membuka mulut dan akan berperan
dalam gerakan lidah. Di bawah os hioideum dan menggantung pada ligamentum
tirohioideum adalah dua alae atau sayap kartilago tiroidea (perisai). Ke dua alae
menyatu di garis tengah pada sudut yang lebih dulu dibentuk pada pria, lalu
membentuk jakun (Adam apple). Pada tepi masing masing alae, terdapat kornu
superior dan inferior. Artikulasio kornu inferius dan kartilago krikoidea,
memungkinkan sedikit pergeseran atau pergerakan antara kartilago tiroidea dan
krikodea.
(3 )

Kartilago krikoidea yang juga mudah teraba dibawah kulit, melekat pada kartilago
tiroidea lewat ligamentum krikotiroideum. Tidak seperti struktur penyokong lainnya
dari jalan pernapasan, kartilago krikoidea berbentuk lingkaran penuh dan tak mampu
mengembang. Permukaan posterior atau lamina krikoidea cukup lebar, sehingga
kartilago ini tampak seperti signet ring. Intubasi endotrakea yang lama sering kali
merusak lapisan mukosa cincin dan dapat menyebabkan stenosis subglotis, didapat
disebelah inferior, kartilago trakealis pertama melekat pada krikoid lewat ligamentum
interkartilaginosa.
(3)

Pada permukaan superior lamina terletak pasangan kartilago aritenoidea masing
masing berbentuk sepertipiramid berisi tiga. Basis piramidalis berartikulasi dengan
krikoid pada artikulasio krikoatenoidea, sehingga dapat terjadi gerakan meluncur dari
medial ke lateral dan rotasi. Tiap kartilago aritenoidea mempunyai dua prosesus ,
prosesus vokalis anterior dan prosesus muskularis lateralis. Ligamentum vokalis
meluas ke anterior dan masing masing prosesus vokalis dan berisensi ke dalam
kartilago tiroidea di garis tengah. Prosesus membentuk dua perlima bagian belakang
dari korda vokalis. Sementara ligamentum vokalis membentuk bagian membranosa
atau bagian pita suara yang dapat bergetar. Ujung bebas dan permukaan superior
korda vokalis suara membentuk glotis. Bagian laring diatasnya disebut supraglotis
dan dibawahnya subglotis. Terdapat dua pasang kartilago kecil didalam laring yang
tidak memiliki fungsi. Kartilago kornikulata terletak dalam jaringan diatas menutupi
aritenoid. Disebelah lateralnya, yaitu didalam plika ariepiglotika terletak kartilago
kuneiformis.
(3)

Kartilago epiglotika merupakan struktur garis tengah tunggal yang berbentuk
seperti batpingpong. Pegangan atau petiolus melekat melalui suatu ligamentum
pendek pada kartilago tiroidea tepat diatas korda vokalis, sementara
bagian racquet meluas keatas dibelakang korpus hioideum ke dalam lumen faring,
memisahkan pangkal lidah dan laring. Epiglotis dewasa umumnya sedikit cekung
pada bagian posterior. Namun pada anak dan sebagian orang dewasa, epiglotis
jelas melengkung dan disebut epiglottis omega atau juvenilis. Fungsi epiglottis
sebagai lunas yang mendorong makanan yang ditelan ke samping jalan napas
laring. Selain itu, laring juga disokong oleh jaringan elastik. Di sebelah superior, pada
ke dua sisi laring terdapat membran kuadrangularis yang meluas ke belakang dari
tepi lateral epiglotis hingga tepi lateral kartilgo aritenoidea. Dengan demikian,
membran ini membagi dinding antara laring dan sinus piriformis, dan batas
superiornya disebut plika ariepiglotika. Jaringan pasangan elastik lainnya adalah
konus elastikus ( membrana krikovokalis). Jaringan ini jauh lebih kuat daripada
membran kuadrangularis, dan meluas keatas dan medial dari arkus kartilaginis
krikoidea untuk bergabung dengan ligamentum vokalis pada masing masing sisi.
Jadi konus elaktikus terletak dibawah mukosa di bawah permukaan korda vokalis
sejati.
(3)


Otot otot laring
Otot otot laring dapat dibagi dalam dua kelompok. Otot ekstrinsik yang terutama
bekerja pada laring secara keseluruhan, sementara otot intrinsik menyebabkan
gerakan antara struktur struktur laring sendiri. Otot ekstrinsik dapat digolongkan
menurut fungsinya. Otot depresor atau otot- otot leher ( omohioideus,
sternotyroideus, sternohyoideus ) berasal dari bagian inferior. Otot elevator (
milohyoideus, geniohyoideus, genioglosus, hyoglosus, digastrikus dan stilohyoideus )
meluas dari os hyoideum ke mandibula, lidah dan prosessus stiloideus pada
kranium. Otot tirohioideus walaupun digolongkan sebagai otot otot leher, terutama
berfungsi sebagai elevator. Melekat pada os hioideum dan ujung posterior alae
kartilago tiroidea adalah otot konstriktor medius dan inferior yang melingkari faring
disebelah posterior dan berfungsi pada saat menelan. Serat serat paling bawah
dari otot konstriktor inferior berasal dari krikoid, membentuk krikofaringeus yang kuat,
yang berfungsi sebagai sfingter esophagus superior.
(3)

Anatomi otot otot intrinsik laring paling baik dimengerti dengan mangaitkan
fungsinya. Serat serat otot interaritenoideus ( aritenoideus ) tranversus dan oblikus
meluas antara kedua kartilago aritenoidea. Bila berkontraksi, kartilago aritenoidea
akan bergeser kearah garis tengah, mengaduksi korda vokalis. Otot
krikoaritenoideus posterior meluas dari permukaan posterior lamina krikoidea untuk
berinsersi kedalam procesus muskularis aritenoidea; otot ini menyebabakan rotasi
aritenoid kearah luar dan mengaduksi korda vokalis. Antagonis utama otot ini, yaitu
otot krikoaritenoideus lateralis berorigo pada arkus krikoidea lateralis; insersinya juga
pada prosesus muskularis dan menyebabakan rotasi aritenoid ke medial,
menimbulkan aduksi. Yang membentuk tonjolan korda vokalis adalah otot vokalis
dan dan tiroaritenoideus yang hampir tidak dapat dipisahkan; kedua otot ini ikut
berperan dalam membentuk tegangan korda vokalis. Pada individu lanjut usia, tonus
otot vokalis dan tiroaritenoideus agak berkurang; korda vokalis tampak membusur
keluar dan suara menjadi lemah dan serak. Otot otot laring utama lainnya adalah
pasangan otot krikotiroideus, yaitu otot yang berbentuk kipas berasal dari arkus
krikoidea disebelah anterior dan berinsersi pada permukaan lateral alae tiroid yang
luas. Kontraksi otot ini menarik kartrilago tiroidea kedepan, meregang dan
menegangkan korda vokalis. Kontraksi ini secara pasif juga memutar aritenoid ke
medial, sehingga otot krikotiroideus juga dianggap sebagai otot abduktor. Maka
secara ringkas dapat dikatakan terdapat satu otot abduktor, tiga aduktor dan tiga otot
tensor seperti yang diberikan berikut ini :

Persarafaan, Perdarahan dan Drainase limfatik
Dua pasangan saraf mengurus laring dengan persarafan sensorik dan motorik. Dua
saraf laringeus superior dan dan dua inferior atau laringeus rekurens saraf laringeus
merupakan cabang cabang saraf vagus. Saraf laringeus superior meninggalkan
trunkus vagalis tepat dibawah ganglion nodusum melengkung ke anterior dan medial
dibawah arteri karotis eksterna dan interna, dan bercabang dua menjadi suatu
cabang sensorik interna dan cabang motorik eksterna. Cabang interna menembus
membrana tirohioidea untuk mengurus persarafan sensorik valekula, epiglottis, sinus
piriformis dan seluruh mukosa laring superior interna tepi bebas korda vokalis sejati.
Masing masing cabang eksterna merupakan suplai motorik untuk satu otot saja,
yaitu otot krikotiroideus. Disebelah inferior, saraf rekurens berjalan naik dalam alur
diantara trakea dan esofagus, masuk kedalam laring tepat dibelakang artikulasio
krikotiroideus, dan mengurus persarafan motorik semua otot interinsik laring kecuali
krikotiroideus. Saraf rekurens juga mengurus sensasi jaringan dibawah korda vokalis
sejati ( regio subglotis ) dan trakea superior.
(3)

Karena perjalan saraf inferior kiri yang lebih panjang serta hubungannya dengan
aorta, maka saraf ini lebih rentan cedera dibanding saraf kanan.
(3)

Suplai arteri dan drainase venosus dari laring paralel dengan suplai sarafnya. Arteri
dan vena laringea superior merupakan cabang cabang arteri dan vena tiroidea
superior, dan keduanya bergabung dengan cabang interna saraf laringeus superior
untuk membentuk pedikulus neurovaskuler superious. Arteri dan vena laringea
inferior berasal dari pembuluh tiroidea inferior dan masuk ke laring bersama saraf
laringeus rekurens.
(3)

Pengetahuan mengenai drainase limfatik pada laring adalah penting pada terapi
kanker. Terdapat dua system drainase terpisah, superior dan inferior, dimana garis
pemisah adalah korda vokalis sejati. Korda vokalis sendiri mempunyai suplai limfatik
yang buruk. Disebelah superor, aliran limfe menyertai pedikulus neurovaskuler
superior untuk bergabung dengan nodi limfatisis superior dari rangkaian servikalis
profunda setinggi os hioideus. Drainase subglotis lebih beragam, yaitu ke nodi
limfatisi pretrakeales ( satu kelenjar terletak tepat didepan krikoid dan disebut nodi
Delphian ), kelenjar getah bening servikalis profunda inferior, nodi supraklavikularis
dan bahkan nodi mediastinalis superior.
(3)

Struktur Laring Dalam
Sebagian besar laring dilapisi oleh mukosa toraks bersilia yang dikenal sebagai
epitel respiratorius. Namun, bagian bagian laring yang terpapar aliran udara yang
terbesar, misalnya permulaan lingua pada epiglottis, permukaan superior plika
ariepiglotika, dan permukaan superior serta tepi batas korda vokalis sejati, dilapisi
epitel gepeng yang lebih keras. Kelenjar penghasil mukus banyak ditemukan dalam
epitel respiratorius.
(3)

Struktur pertama yang diamati pada pemeriksaan memakai kaca adalah epiglottis.
Tiga pita mukosa ( satu pita glosoepiglotika mediana dan dua plika glosoepiglotika
lateralis ) meluas dari epiglottis ke lidah. Diantara pita median dan setiap pita lateral
terdapat suatu kantong kecil, yaitu valekula. Dibawah tepi bebas epiglotis, dapat
terlihat aritenoid sebagai dua gundukan kecil yang dihubungkan oleh otot
interaritenoid yang tipis. Perluasan dari masing masing aritenoid ke anterolateralis
menuju tepi lateral bebas dari epiglottis adalah plika ariepiglotika, merupakan suatu
membran kuadragularis yang dilapisi mukosa. Dilateral plika ariepiglotika terdapat
sinus atau resesus piriformis. Struktur ini bila dilihat dari atas, merupakan suatu
kantung berbentuk segitiga dimana tidak memiliki dinding posterior. Dinding
medialnya dibagian atas adalah kartilago kuadrangularis dan dibagian bawah
kartilago aritenoidea dengan otot otot lateral yang melekat padanya, dan dinding
lateral adalah permukaan dalam alae tiroid. Disebelah posterior sinus piriformis
berlanjut sebagai hipofaring. Sinus piriformis dan faring bergabung ke bagian inferior,
ke dalam introitus esofagi yang dikelilingi oleh otot krikofaringeus yang kuat.
(3)

Dalam laring sendiri, terdapat dua pasang pita horizontal yang berasal dari aritenoid
dan berinsersi kedalam kartilago tiroidea bagian anterior. Pita superior adalah korda
vokalis palsu atau pita ventricular, dan lateral terhadap kda vokalis sejati. Korda
vokalis palsu terletak tepat di inferior tepi bebas membrane kuadrangularis. Ujung
korda vokalis sejati ( plika vokalis ) adalah batas superior konus elastikus. Otot
vokalis dan tiroaritenoideus membentuk massa dari korda vokalis ini. Karena
permukaan superior korda vokalis adalah datar, maka mukosa akan memantulkan
cahaya dan tampak berwarna putih pada laringoskopi indirek. Korda vokalis palsu
dan sejati dipisahkan oleh ventrikulus laringis. Ujung anterior ventrikel meluas ke
superior sebagai suatu divertikulum kecil yang dikenal sebagai sakulus laringis,
dimana terdapat sejumlah kelenjar mucus yang diduga melumasi korda vokalis.
Pembesaran sakulus secara klinis dikenal sebagai laringokel.
(3)

Struktur disekitarnya
Disebelah anterior terdapat ismus kelenjar tiroid yang menutup beberapa cincin
trakea pertama, sementara lobus tiroid terletak diatas dinding lateral trakea dan
dapat meluas hingga ke alae tiroid. Ismus perlu diangkat dan terkadang diinsisi saat
melakukan trakeostomi menembus cincin kartilaginus trakealis yang ketiga. Otot
otot leher menutup laring dan kelenjar tiroid, kecuali digaris dimana raphe
median menyebabkan struktur struktur laring terletak dalam posisi subkutan.
Membrana krikotiroidea mudah dipalpasi dan dalam keadaan darurat, dapat dengan
cepat diinsisi unutk membuat jalan napas, arteri inominata tidak jarang melewati
didepan trakea servikalis, sehingga perlu dilakukan palpasi yang cermat dalam
pelaksanaan trakeostomi. Dilateral dan posterior terhadap laring adalah selubung
karotis yang masing masing berisi arteri karotis, vena jugularis dan saraf vagus.
(3)

Pembagian tumor
1. Tumor jinak laring.
Tumor jinak laring tidak banyak ditemukan, hanya kurang dari 5 % dari senua jenis
tumor laring.
Tumor jinak laring dapat berupa
(4)

1. Papiloma laring ( terbanyak frekuensinya ).
2. Nodulus vokal.
3. Kondroma.
4. Mieloblastoma sel granuler.
5. Hemangioma.
6. Poliposis korda vokalis difus.
7. Ulkus kontak.
8. Leukoplakia dan eritroplakia
2. Tumor ganas laring
Sebagai gambaran perbandingan, diluar negeri karsinoma laring menempati urutan
pertama dalam urutan keganasan dibidang THT, sedangkan di RS Cipto
Mangunkusumo, Jakarta, karsinoma laring menduduki urutan ketiga setelah
karsinoma nasofaring dan tumor ganas hidung dan sinus paranasal.
(4)

Etiologi karsinoma laring belum diketahui dengan pasti. Dikatakan oleh para ahli
bahwa perokok dan peminim alkohol merupakan kelompok orang orang dengan
resiko tinggi terhadap karsinoma laring.
(4)

Yang terpenting pada penanggulangan karsinoma laring ialah diagnosis dini dan
pengobatan / tindakan yang tepat dan kuratif, karena tumornya masih terisolasi dan
dapat diangkat secara radikal. Tujuan utama ialah mengeluarkan bagian laring yang
terkena tumor dengan memperhatikan fungsi respirasi, fonasi serta fungsi sfingter
laring.
(4)

Klasifikasi Tumor Ganas Laring ( AJCC dan UICC 1988 )
Tumor primer ( T )
Supraglotis
Tis : karsinoma insitu
T1 : tumor terdapat pada satu sisi suara / pita suara palsu ( gerakan masih baik ).
T2 : Tumor sudah menjalar ke 1 dan 2 sisi daerah supraglotis dan glotis masih bisa
bergerak ( tidak terfiksir ).
T3 :tumor terbatas pada laring dan sudah terfiksir atau meluas ke daerah ke krikod
bagian belakang, dinding medial dari sinus piriformis, dan kearah rongga
preepiglotis.
T4 : Tumor sudah meluas keluar laring, menginfiltrasi orofaring jaringan lunak pada
leher atau sudah merusak tulang rawan tiroid.
Glotis
Tis : karsinoma insitu.
T1 : Tumor mengenai satu atau dua sisi pita suara, tetapi gerakan pita suara masih
baik, atau tumor sudah terdapat pada kommisura anterior atau posterior.
T2 : Tumor meluas ke daerah supraglotis atau subglotis, pita suara masih dapat
bergerak atau sudah terfiksir ( impaired mobility ).
T3 : Tumor meliputi laring dan pita suara sudah terfiksir.
T4 : Tumor sangat luas dengan kerusakan tulang rawan tiroid atau sudah keluar dari
laring.
Subglotis
Tis : Karsinoma insitu.
T1 : Tumor terbatas pada daerah subglotis.
T2 : Tumor sudah meluas ke pita, pita suara masih dapat bergerak atau sudah
terfiksir.
T3 : Tumor sudah mengenai laring dan pita suara sudah terfiksir.
T4 : Tumor yang luas dengan destruksi tulang rawan atau perluasan ke luar laring
atau dua duanya.

Penjalaran ke kelenjar limfe ( N )
Nx : Kelenjar limfe tidak teraba.
N0 : Secara klinis kelenjar tidak teraba.
N1 : Secara klinis teraba satu kelenjar limfe dengan ukuran diameter 3 cm
homolateral.
N2 : Teraba kelenjar limfe tunggal, ipsilateral dengan ukuran diameter 3-6 cm.
N2a : Satu kelenjar limfe ipsilateral, diameter lebih dari 3 cm tapi tidak lebih dari 6
cm.
N2b : Multipel kelenjar limfe ipsilateral, diameter tidak lebih dari 6 cm.
N2c : Metastasis bilateral atau kontralateral, diameter tidak lebih dari 6 cm.
N3 : Metastasis kelenjar limfe lebih dari 6 cm.

Metastasis jauh ( M )
Mx : Tidak terdapat / terdeteksi.
M0 : Tidak ada metastasis jauh.
M1 : Terdapat metastasis jauh.
Staging (Stadium)
ST1 : T1 N0 M0
ST II : T2 N0 M0
ST III : T3 N0 M0, T1/T2/T3 N1 M0
ST IV : T4 N0/N1 M0
T1/T2/T3/T4 N2/N3
T1/T2T3/T4 N1/N2/N3 M1

4. Tumor Jinak laring
4.1. Papiloma laring
Tumor ini dapat digolongkan dalam 2 jenis :
1. Papiloma laring juvenil, ditemukan pada anak, biasanya berbentuk multiple dan
mengalami regresi pada waktu dewasa.
2. Pada orang dewasa biasanya berbentuk tunggal , tidak akan mengalami resolusi
dan merupakan prekanker.
Bentuk Juvenil
Tumor ini dapat tumbuh pada pita suara bagian anterior atau daerah subglotik. Dapat
pula tumbuh di plika ventrikularis atau daerah subglotik. Dapat pula tumbuh di plika
ventrikularis atau aritenoid.
Secara makroskopik bentuknya seperti buah murbei, berwarna putih kelabu dan
kadang kadang kemerahan. Jaringan tumor ini sangat rapuh dan kalau dipotong
tidak menyebabkan perdarahan. Sifat yang menonjol dari tumor ini ialah sering
tumbuh lagi setelah diangkat, sehingga operasi pengangkatan harus dilakukan
berulang ulang.
Gejala
Gejala papiloma laring yang utama ialah suara parau. Kadang kadang terapat pula
batuk. Apabila papiloma telah menutup rima glotis maka timbul sesak nafas dengan
stridor.
Diagnosis
Diagnosis berdasarkan anamnesis, gejala klnik, pemeriksaan laring langsung,biopsi,
serta pemeriksaan patologi anatomik.
Terapi
- Ekstirpasi papiloma dengan bedah mikro atau juga dengan sinar laser. Oleh karena
sering tumbuh lagi, maka tindakan ini diulamh berkali kali. Kadang kadang dalam
seminggu sudah tampak papiloma yang tumbuh lagi.
- Terapi terhadap penyebabnya belum memuaskan, karena sampai sekarang
etiologinya belum diketahui dengan pasti.
Sekarang tersangka penyebabnya ialah virus, tetapi pada pemeriksaan dengan
mikroskop elektron inclusion body tidak ditemukan.
Untuk terapinya diberikan juga vaksin dari massa tumor, obat anti virus, hormon,
kalsium atau ID methionin ( essential aminoacid ).
Tidak dianurkan memberikan radioterapi, oleh karena papiloma dapat berubah
menjadi ganas.
(4)

4.2. Nodulus Vokal
Terdapat berbagai sinonim klinik untuk polip nodular vokalis, termasuk screamers
nodule, singers node atau teachers node. Nodulus jinakdapat unilateral dan timbul
akibat penggunaan korda vokalis yang tidak tepat atau berlangsung lama. Seringkali
bilamana disertai peradangan, maka korda vokalis akan saling melekat kuat,
sehingga terbentuk suatu polip atau nodul. Nodul dapat bervariasi secara histologis
dari suatu tumor edematosa yang longgar dan lunak, hingga massa fibrosa yang
padat, atau suatu lesi vascular dengan banyak pembuluh kecil sebagai gambaran
utamanya. Beberapa pasien berespon baik dengan pembatasan dan re edukasi
vokal, namun banyak juga yang memerlukan pembedahan endoskopik.
(

3 )

4.3. Kondroma
Kondroma merupakan tumor kartilago hialin yang tumbuh lambat, dapat berasal dari
kartilago krikoidea, tiroidea, aritenoidea dan epiglotika. Suara serak akibat
keterbatasan gerak korda vokalis dan dispnea disebabkan obstruksi jalan nafas
merupakan gejala utama. Banyak tumor kemudian mengalami klasifikasi dan dapat
dicurigai melalui pemeriksaan radiografik. Terapi bersifat bedah, di mana asal dan
besarnya tumor menentukan teknik bedah. Karena tumor ini tumbuh lambat, maka
terkadang dapat diangkat sebagai guna meringankan gejala penderita, tanpa perlu
mengorbankan laring.
(3)

4.4. Mioblastoma Sel Granular
Tumor ini cenderung timbul pada lidah dan laring. Suara serak merupakan gejala
utama tumor kecil ini, dan tidak sering rekurens setelah pengangkatan secara
endoskopis. Mukosa yang menutup mioblastoma sel granular dapat memperlihatkan
hiperplasi pseudoepitelial, yang dapat dikelirukan dengan karsinoma.
4.5. Hemangioma
Hemangioma pada daerah subglotis pada laring dibicarakan di sini karena
merupakan suatu tumor yang terjadi pada bayi dibawah usia enam bulan. Separuh
penderita hemangioma laring juga memiliki suatu hemangioma eksterna pada kepala
atau leher. Stridor plus hemangioma yang nyata sangat kuat menyokong diagnosis.
Tumor-tumor ini bukanlah neoplasma sejati namun lebih merupakan kelainan
vascular, tumor cenderung beregresi biasanya menjelang usia 12 bulan. Gejala
hemangioma tidak berupa perdarahan, namun berupa sumbatan jalan nafas. Suara
dan proses menelan biasanya normal. Hemangioma terletak sangat dekat dengan
korda vokalis, yaitu diatas lokasi trakeotomi dan benar-benar subglotis. Radiogram
lateral dapat memperlihatkan suatu massa dalam jalan nafas. Secara endoskopis,
ditemukan massa yang licin dan dapat ditekan, seringkali pada dinding posterior atau
lateral. Terapi seringkali dengan trakeotomi dan membutuhkan waktu untuk regresi.
Eksisi laser kini dilakukan. Radiasi dosis rendah juga telah dilakukan, namun kini
dihindari karena kekhawatiran akan timbulnya karsinoma tiroid lanjut.
(3)

4.6. Poliposis Korda Vokalis
Degenerasi polipoid di sepanjang korda vokalis biasanya berkaitan dengan
penggunaan vokal yang lama, merokok, dan radang yang menetap. Pengangkatan
bedah harus dilakukan pada satu sisi berturut-turut, untuk mencegah pembentukan
sinekia pada komisura anterior. Pembedahan harus diikuti menghentikan merokok
dan re-edukasi vokal. Jika tidak demikian, mungkin akan terjadi kekambuhan
jaringan polipoid yang tebal sepanjang korda vokalis.
(3)

4.7. Ulkus Kontak
Kerja mekanis korda vokalis terhadap pasangannya lebih cenderung membentuk
nodulus vokalis pada wanita dan anak-anak, sedangkan pada pria kemungkinan
besar membentuk ulkus kontak. Gerakan korda vokalis pria yang kuat menyebabkan
kedua kartilago aritenoidea bersentuhan, dan iritasi yang terjadi membentuk suatu
granuloma yang disebut ulkus kontak. Secara khas, pasien mengeluh nyeri dan
namun perubahan suara hanya ringan. Ulkus kontak menyembuh dengan lambat,
biasanya dalam dua hingga tiga bulan. Terapi bicara lazimnya dapat membantu
kesembuhan. Biopsi berguna untuk mengurangi jaringan granulasi yang berlebihan
dan memberi keyakinan pada pasien bahwa granuloma tersebut tidak ganas.
(3)

4.8. Leukoplakia dan Eritroplakia
Iritasi laring yang menetap terutama akibat merokok, dapat berakibat timbulnya suatu
daerah keputih-putihan. Secara klinis, daerah putih ini disebut sebagai leukoplakia.
Sebaliknya, daerah dengan makna klinis dan histology seringkali tampak
kemerahan(eritroplakia). Tiap daerah laring dapat terlihat, namun biasanya korda
vokalis paling sering terserang. Keluhan umumnya berupa suara serak. Biopsi
daerah ini memperlihatkan hyperkeratosis, karsinoma in situ atau karsinoma sejati.
Hiperkeratosis ditemukan pada hampir seluruh biopsy. Terapinya adalah dengan
pengangkatan total secara endoskopis, dan pengawasan pasien dengan cermat.
Merokok harus dikurangi. Hiperkeratosis dapat menjadi karsinoma invasif setelah
beberapa waktu, namun hal ini tidak sering terjadi, kebanyakan ahli memperlihatkan
angka insidens sebesar 15 persen atau kurang.
(3)

II.5. Tumor ganas laring
Dalam periode 6 tahun ( 1980 1985 ), di bagian THT RS Cipto Mangunkusumo,
Jakarta didapatkan 14 penderita karsinoma laring dengan perbandingan laki laki
dan perempuan sebanyak 7 : 1. perbandingan ini agak tinggi diluar negeri, mungkin
karena ada kecendrungan meningkatnya kebiasaan kaum wanita diluar negeri (
negeri barat ) untuk merokok dan minum alkihol.
Karsinoma laring terbanyak didapatkan pada pasien yang berumur menjelang tua,
dengan usia antara 50 60 tahun.

Epidemiologi
Kebanyakan ( 70 90 % ) karsinoma laring ditemukan pada pria usia lanjut. Tipe
glotik merupakan 60 65 %, supraglotik 30 35 %, dan infraglotik hanya 5 %.
Merokok merupakan penyebab utama.
(5)


Diagnosis
Pada anamnesis biasanya didapatkan keluhan suara parau yang diderita sudah
cukup lama, tidak bersifat hilang - timbul meskipun sudah diobati dan bertendens
makin lama menjadi berat. Penderita kebanyakan adalah seorang perokok berat
yang juga kadang kadang adalah seorang yang juga banyak memakai suara
berlebihan dan salah ( vocal abuse ), peminum alkohol atau seorang yang sering
atau pernah terpapar sinar radioaktif, misalnya pernah diradiasi didaerah lain. Pada
anamnesis kadang kadang didapatkan hemoptisis, yang bisa tersamar bersamaan
dengan adanya TBC paru, sebab banyak penderita menjelang tua dan dari sosial -
ekonomi yang lemah.
Sesuai pembagian anatomi, lokasi tumor laring dibagi menjadi 3 bagian yakni
supraglotis, glottis dan subglotis, dan gejala serta tanda tandanya sesuai dengan
lokasi tumor tersebut.
Gejala yang sering dijumpai adalah suara parau, yang disebabkan oleh lesi yang
mengenai daerah pita suara. Disusul oleh sesak nafas yang disebabkan oleh
tertutupnya jalan nafas oleh tumor, dan batuk yang kadang kadang dengan reak
yang bercampur darah yang dikarenakan adanya ulserasi pada tumor tersebut, serta
penurunan berat badan sebagai gejala umum.
Dari pemeriksaan fisik sering didapatkan tidak adanya tanda yang khas dari luar,
terutama pada stadium dini / permulaan, tetapi bila tumor sudah menjalar ke kelenjar
limfe leher, terlihat perubahan kontur leher, dan hilangnya krepitasi tulang rawan
tulang rawan laring.
Pemeriksaan untuk melihat kedalam laring dapat dilakukan dengan cara tak
langsung maupun langsung dengan menggunakan laringoskop unutk menilai lokasi
tumor, penyebaran tumor yang terlihat ( field of cancerisation ), dan kemudian
melakukan biopsi.
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan selain pemeriksaan laboratorium darah,
juga pemeriksaan radiologik. Foto toraks diperlukan untuk menilai keadaan paru ,
ada atau tidaknya proses spesifik dan metastasis diparu. Foto jaringan lunak ( soft
tissue ) leher dari lateral kadang kadang dapat menilai besarnya dan letak tumor,
bila tumornya cukup besar. Apabila memungkinkan, CT scan laring dapat
memperlihatkan keadaan tumor dan laring lebih seksama, misalnya penjalaran tumor
pada tulang rawan tiroid dan daerah pre-epiglotis.
Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan patologi-anatomik dari bahan biopsi
laring, dan biosi jarum-halus pada pembesaran kelenjar limf dileher. Dari hasil
patologi anatomik yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa.
Dari semua hasil pemeriksaan, dirangkum dalam penentuan stadium tumor, yang
didasari dari klasifikasi menurut UICC.
Staging ( = Stadium )
ST1 : T1 N0 M0
STII : T2 N0 M0
STIII : T3 N0 M0, T1/T2/T3 N1 M0
STIV :T4 N0/N1 Mo
T1/T2/T3/T4 N2/N3
T1/T2/T3/T4 N1/N2/N3 M1

Penanggulangan
Setelah diagnosis dan stadium tumor ditegakkan, maka ditentukan tindakan yang
akan diambil sebagai penanggulangannya.
Ada 3 cara penanggulangan yang lazim dilakukan, yakni pembedahan, radiasi, obat
sitostatika ataupun kombinasi daripadanya, tergantung pada stadium penyakit dan
keadaan umum pasien.
Sebagai patokan dapat dikatakan stadium 1 dikirim untuk mendapatkan radiasi,
stadium 2 dan 3 dikirim untuk dilakukan operasi, stadium 4 dilakukan operasi dengan
rekonstruksi, bila masih memungkinkan atau dikirim untuk mendapatkan radiasi.
Jenis pembedahan adalah laringektomia totalis atau pun parsial, tergantung lokasi
dan penjalaran tumor, serta dilakukan juga diseksi leher radikal bila terdapat
penjalaran ke kelenjar limf leher. Dibagian THT RSCM tersering dilakukan
laringektomi totalis, karena beberapa pertimbangan, sedangkan laringektomi parsial
jarang dilakukan, karena teknik sulit untuk menentukan batas tumor.
Pemakaian sitostatika belum memuaskan, biasanya jadwal pemberian Sitostatika
tidak sampai selesai karena, keadaan umum memburuk, di samping harga obat ini
yang relative mahal, sehingga tidak terjangkau oleh pasien.
Para ahli berpendapat, bahwa tumor laring ini mempunyai prognosis yang paling baik
diantara tumor-tumor daerah traktus aero-digestivus, bila dikelola dengan tepat,
cepat dan radikal.

Rehabilitasi suara
Laringektomi total yang dikerjakan untuk mengobati karsinoma laring menyebabkan
cacat pada penderita. Dengan dilakukannya pengangkatan laring beserta pita-suara
yang ada dalamnya, maka penderita akan menjadi afonia dan bernafas melalui
stoma permanent di leher.
Untuk itu diperlukan rehabilitasi terhadap pasien, baik yang bersifat umum, yakni
agar pasien dapat memasyarakat dan mandiri kembali, maupun rehabilitasi khusus
yakni rehabilitasi suara (voice rehabilitation), agar penderita dapat berbicara
(bersuara), sehingga berkomunikasi verbal. Rehabilitasi suara dapat dilakukan
dengan pertolongan alat bantu suara, yakni semacam vibrator yang ditempelkan di
daerah submandibula, ataupun dengan suara yang dihasilkan dari esophagus (eso-
phageal speech) melalui proses belajar. Banyak faktor yang mempengaruhi
suksesnya proses rehabilitasi suara ini, tetapi dapat disimpulkan menjadi 2 faktor
utama, ialah faktor fisik dan faktor psiko-sosial.
(4)

Suatu hal yang sangat membantu adalah pembentukan wadah perkumpulan guna
menghimpun pasien-pasien tuna-laring guna menyokong aspek psikis dalam lingkup
yang luas dari pasien, baik sebelum maupun sesudah operasi.
(4)


DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.Kompas.com/
2. http://www.suarakarya-online.com/news
3. Higler BA, 1997, Buku Ajar Penyakit THT, Ed VI, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, hal : 369 396.
4. Soepardi AE, Dr, 2000, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telingga
Hidung Tenggorok, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, hal : 159 162.
5. Wim de Jong, Sjamsuhidayat R, 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, hal :461 463.