Anda di halaman 1dari 4

http://wirakid.wordpress.

com/2011/03/27/cara-kerja-obat-
analgesik-antipiretik-nsaid-dan-steroid/



Cara kerja obat analgesik-antipiretik NSAID dan steroid
Posted on March 27, 2011 | Leave a comment
Menurut Ganiswarna et al. (1995), obat analgesik antipiretik serta obat anti-inflamasi nonsteroid
(NSAIDs) merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, dan beberapa obat memiliki
perbedaan secara kimia. Namun, obat-obat NSAID mempunyai banyak persamaan dalam efek
terapi dan efek sampingnya. Prototipe obat golongan ini adalah aspirin, sehingga sering disebut
juga sebagai aspirin like drugs. Efek terapi dan efek samping dari obat golongan NSAIDs
sebagian besar tergantung dari penghambatan biosintesis prostaglandin. Namun, obat golongan
NSAIDs secara umum tidak menghambat biosintesis leukotrien yang berperan dalam peradangan.
Golongan obat NSAIDs bekerja dengan menghambat enzim siklo-oksigenase, sehingga dapat
mengganggu perubahan asam arakhidonat menjadi prostaglandin. Setiap obat menghambat enzim
siklo-oksigenase dengan cara yang berbeda. Parasetamol dapat menghambat biosintesis
prostaglandin apabila lingkungannya mempunyai kadar peroksida yang rendah seperti di
hipotalamus, sehingga parasetamol mempunyai efek anti-inflamasi yang rendah karena lokasi
peradangan biasanya mengandung banyak peroksida yang dihasilkan oleh leukosit. Aspirin dapat
menghambat biosintesis prostaglandin dengan cara mengasetilasi gugus aktifserin dari enzim
siklo-oksigenase. Thrombosit sangat rentan terhadap penghambatan enzim siklo-oksigenase
karena thrombosit tidak mampu mengadakan regenerasi enzim siklo-oksigenase. Semua obat
golongan NSAIDs bersifat antipiretik, analgesik, dan anti-inflamasi. Efek samping obat golongan
NSAIDs didasari oleh hambatan pada sistem biosintesis prostaglandin. Selain itu, sebagian besar
obat bersifat asam sehingga lebih banyak terkumpul dalam sel yang bersifat asam seperti di
lambung, ginjal, dan jaringan inflamasi. Efek samping lain diantaranya adalah gangguan fungsi
thrombosit akibat penghambatan biosintesis tromboksan A2 dengan akibat terjadinya
perpanjangan waktu perdarahan. Namun, efek ini telah dimanfaatkan untuk terapi terhadap
thrombo-emboli. Selain itu, efek samping lain diantaranya adalah ulkus lambung dan perdarahan
saluran cerna, hal ini disebabkan oleh adanya iritasi akibat hambatan biosintesis prostaglandin
PGE2 dan prostacyclin. PGE2 dan PGI2 banyak ditemukan di mukosa lambung dengan fungsi
untuk menghambat sekresi asam lambung dan merangsang sekresi mukus usus halus yang bersifat
sitoprotektan.
Menurut Insel (1991), Reynolds (1982) diacu dalam Mansjoer (2003), obat antiradang menurut
struktur kimia dapat dibagai menjadi delapan golongan, diantaranya adalah :
- Turunan asam salisilat, yaitu asam asetilsalisilat dan diflunisal
- Turunan pirazolon, yaitu fenilbutazon, oksifenbutazon, antipirin, dan arninopirin
- Turunan para-aminofenol, yaitu fenasetin
- Indometasin dan senyawa yang masih berhubungan, yaitu indometasin dan sulindak
- Turunan asam propionat, yaitu ibuprofen, naproksen, fenoprofen, ketoprofen, dan
flurbiprofen
- Turunan asam antranilat, yaitu asam flufenamat dan asam mafenamat
- Obat antiradang yang tidak mempunyai penggolongan tertentu, yaitu tolmetin, piroksikam,
diklofenak, etodolak, dan nebutemon
- Obat pirro (gout), yaitu kolkisin dan alopurinol
Menurut Martin (1989), Obat-obatan yang dapat menghambat produksi prostaglandin (NSAIDs)
melalui penghambatan sintesis prostaglandin mempunyai kemampuan untuk menurunkan aliran
rangsang dari saraf afferent (nociceptive afferents), sehingga berperan sebagai analgesik lemah.
Substansi yang dapat menghambat efek atau pelepasan autokoid lainnya (selain prostaglandin)
diduga mempunyai peran sebagai analgesik. Glukokortikoid mampu menghambat pelepasan dan
produksi autokoid, serta mempunyai efek analgesik perifer.
Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul hormon
kortikosteroid memasuki sel jaringan melalui membran plasma secara difusi pasif, kemudian
bereaksi dengan reseptor protein yang spesifik dalam sitoplasma sel jaringan dan membentuk
kompleks reseptor-steroid. Kompleks ini akan mengalami perubahan konformasi dan akan
bergerak menuju nukleus dan berikatan dengan kromatin. Ikatan ini akan menstimulasi transkripsi
RNA dan sintesis protein spesifik. Induksi sintesis protein ini merupakan perantara efek fisiologis
steroid. Steroid akan merangsang transkripsi dan sintesis protein spesifik di hati. Steroid juga
bersifat sebagai katabolik pada sel limfoid dan fibroblas. Selain itu, steroid juga merangsang
sintesis protein yang bersifat menghambat atau toksik terhadap sel-sel limfoid. Umumnya
kortikosteroid dibedakan menjadi dua golongan, yaitu glukokortikoid dan mineralokortikoid. Efek
utama glukokortikoid diantaranya adalah penyimpanan glikogen di hati dan efek anti-inflamasi.
Prototipe glukokortikoid diantaranya adalah kortisol. Kortisol dan analog sintetiknya dapat
mencegah atau menekan munculnya gejala peradangan akibat radiasi, zat kimia, infeksi, mekanik,
dan alergen. Kortisol dapat menghambat migrasi leukosit ke tempat radang dan aktivitas
fagositosis, serta menghambat manifestasi inflamasi yang sudah berlanjut. Kortikosteroid sebagai
terapi antiinflamasi bekerja dengan cara menghambat gejala inflamasi (Ganiswarna et al. 1995).
Menurut Farell dan Kelleher (2003), glukokortikoid dapat mengambat aktivasi sel T dan sekresi
sitokin. Peran glukokortikoid sebagai anti-inflamasi terjadi melalui ikatan dengan intracellular
glucocorticoid receptor (GR). Menurut Martin (1989), glukokortikoid dapat berperan sebagai
anti-inflamasi dan imunosupresan. Beberapa aktiftas glukokortikoid sebagai anti-inflamasi :
- Menghambat dilatasi kapiler dan penurunan permeabilitas kapiler
- Penurunan ekstravasasi plasma
- Penurunan pergerakan neutrofil dan monosit ke daerah radang
- Penurunan aktivasi makrofag melalui penghambatan produksi limfokin oleh limfosit
- Mengurangi pembentukan kolagen dan mukopolisakarida
- Mengurangi pelepasan mediator inflamasi karena kestabilan membran sel lisosom dan sel
mast
- Glukokortikoid menginduksi pelepasan protein spesifik (lipocortin atau lipomodulin) dari
leukosit. Lipocortin kemudian akan menghambat enzim fosfolipase A2 yang berperan dalam
produksi asam arachidonat dari membran sel. Adanya hambatan terhadap produksi eikosanoid
yang merupakan mediator inflamasi, maka glucocorticoid mampu menghambat peradangan.
Selain berperan sebagai anti-inflamasi, glukokortikoid juga berperan dalam menekan respon
imun, beberapa aktivitas glukokortikoid sebagai imunosupresan diantaranya adalah :
- Peningkatan pelepasan neutrofil dari sumsum tulang, tetapi menurunkan pemasukan
neutrofil ke daerah radang
- Eosinofil terletak jauh dari sirkulasi perifer dan jauh dari daerah radang, sehingga terjadi
eosinopenia
- Monosit tidak dilepaskan dalam jangka lama dari sumsum tulang, sehingga menyebabkan
monositopenia
- Limfosit juga tidak terdapat di daerah radang dalam jangka lama
- Produksi interleukin 2 (growth factor sel T) dihambat sehingga menyebabkan penurunan
proliferasi sel T