Anda di halaman 1dari 9

KAJIAN KANDUNGAN KLOROFIL-a

PADA FITOPLANKTON TERHADAP PARAMETER KUALITAS AIR


DI TELUK TANJUNGPINANG KEPULAUAN RIAU

STUDY ON THE CONTENTS OF CHLOROPHYLL-a
I N PHYTOPLANKTON TO THE WATER QUALI TY PARAMETERS
I N THE GULF OF TANJ UNGPI NANG RI AU I SLANDS


Rian Hidayat
1
, Lily Viruly, S.TP, M.Si
2
, Diana Azizah, S.Pi, M.Si
2

Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji
No. HP: 0857 6504 8388/ Email: rian.hidayat46@yahoo.com



ABSTRAK

Perairan pesisir mendapat masukan dari buangan berbagai aktivitas manusia (pemukiman, jalur
transportasi dan industri) di daerah sekitarnya dan mengakibatkan terjadinya perubahan faktor fisika,
kimia, dan biologi pada perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan klorofil-a
pada fitoplankton dan hubungan kandungan klorofil-a pada fitoplankton terhadap parameter fisika- kimia
perairan di Teluk Tanjungpinang Kepulauan Riau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode survey dan analisis data menggunakan regresi linear berganda. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa kosentrasi klorofil-a di perairan Teluk Tanjungpinang Kepulauan Riau pada
kedalaman 0,2- 0,5 meter berkisar antara 9,52- 15,07 g/l dan dikategorikan sebagai perairan yang cukup
produktif. Hubungan kandungan klorofil-a pada fitoplankton terhadap parameter fisika- kimia perairan di
Teluk Tanjungpinang Kepulauan Riau adalah kuat, hasil analisis regresi didapat nilai koefisien korelasi (R)
dengan nilai 0,966, nilai Adjusted R
2
0,934, artinya persentase sumbangan pengaruh variabel suhu,
kecerahan, DO, pH, nitrat dan fosfat terhadap klorofil-a pada fitoplankton adalah sebesar 93,4% dan
sisanya dipengaruhi oleh faktor lain.

Kata kunci: Fitoplankton, Klorofil-a pada fitoplankton, Parameter fisika- kimia perairan

ABSTRACT

The coastal waters gets input from discharges of human activities (residential, transportation and industry)
in the surrounding area and resulted in a change of physical, chemical, and biological factors in the waters.
This research aims to determine the contents of chlorophyll-a in phytoplankton and its correlation with the
physico- chemical parameters of waters in the Gulf of Tanjungpinang Riau Islands. The method used in this
research was a survey method and analysis of the data using multiple linear regression. The results of this
research shows that the concentration of chlorophyll-a in the waters of Tanjungpinang Gulf Riau Islands at
a depth of 0,2- 0,5 meters ranged from 9,52- 15,07 g/l and categorized as a fairly productive waters.
Content of chlorophyll-a correlation in phytoplankton of the physico- chemical parameters of waters in the
Gulf of Tanjungpinang Riau Islands was strong, regression analysis results obtained correlation coefficient
(R) with a value 0,966, Adjusted R
2
value 0,934, which means the contribution percentage of the influence
temperature variable, brightness, DO, pH, nitrate and phosphate to the chlorophyll-a in phytoplankton
amounted to 93,4 % and the rest influenced by other factors.

Keywords: Phytoplankton, chlorophyll-a in phytoplankton, water physico- chemical parameters

PENDAHULUAN
Provinsi Kepulauan Riau merupakan wilayah
hampir 96 % nya adalah lautan. Jumlah penduduk
Tanjungpinang adalah 11,2% dari jumlah penduduk
Kepulauan Riau, hampir 60% atau 177.964 dari jumlah
penduduk masyarakat Tanjungpinang dengan 12.311
Jumlah Rumah Tangga berdomisili dipesisir kota
tersebut. Sayangnya, kesadaran masyarakat pesisir
dalam menjaga kebersihan laut masih dikatakan minim.
Akibat eksploitasi sumber daya laut secara tidak
bertanggungjawab ditambah dengan kurangnya upaya
pelestarian laut atau perairan pesisir di Kota
Tanjungpinang bisa saja menjadi bumerang bagi
kejayaan laut di Kepulauan Riau (BLH Kepulauan
Riau, 2011).
Berkembangnya kegiatan penduduk di
perairan pesisir Teluk Tanjungpinang Kepulauan Riau,
seperti bertambahnya pemukiman penduduk, kegiatan
industri rumah tangga, dan kegiatan penambangan
bauksit dapat berpengaruh terhadap kualitas air karena
limbah yang dihasilkan dari kegiatan penduduk
tersebut umumnya dibuang langsung ke perairan
pesisir. Masuknya buangan ke dalam perairan akan
mengakibatkan terjadinya perubahan faktor fisika,
kimia, dan biologi di dalam perairan tersebut.
Salah satu organisme yang hidup di ekosistem
perairan pesisir adalah fitoplankton. Fitoplankton di
dalam ekosistem perairan berperan sebagai pengubah
zat-zat anorganik menjadi zat-zat organik melalui
proses fotosintesis, yang kemudian dapat menentukan
produktivitas perairan. Proses fotosintesis memerlukan
klorofil, sehingga kandungan klorofil-a pada
fitoplankton itu sendiri dapat dijadikan indikator tinggi
rendahnya produktivitas suatu perairan (Alkatiri dan
Sardjana, 1998 dalam Roshisati, 2002).
Kandungan pigmen fotosintesis (terutama
klorofil-a) dalam air sampel menggambarkan biomassa
fitoplankton dalam suatu perairan. Klorofil-a
merupakan pigmen yang selalu ditemukan dalam
fitoplankton serta semua organisme autotrof dan
merupakan pigmen yang terlibat langsung (pigmen
aktif) dalam proses fotosintesis. Jumlah klorofil-a pada
setiap individu fitoplankton tergantung pada jenis
fitoplankton, oleh karena itu komposisi jenis
fitoplankton sangat berpengaruh terhadap kandungan
klorofil-a di perairan (Arifin, 2009).
Dengan Demikian, nilai kosentrasi atau
kandungan klorofil-a pada fitoplankton dipengaruhi
oleh faktor fisika- kimia perairan lainnya serta faktor
biologi. Sampai sejauh ini informasi mengenai
hubungan kandungan klorofil-a pada fitoplankton
terhadap parameter fisika- kimia perairan di Teluk
Tanjungpinang Kepulauan Riau masih belum
diketahui, sehingga perlu dilakukan penelitian di lokasi
tersebut.



Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Mengetahui kandungan klorofil-a pada
fitoplankton di Teluk Tanjungpinang
Kepulauan Riau.
2. Mengetahui hubungan kandungan klorofil-a
pada fitoplankton terhadap parameter fisika-
kimia perairan di Teluk Tanjungpinang
Kepulauan Riau.

Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Memberikan informasi mengenai kandungan
klorofil-a pada fitoplankton sebagai indikator
produktivitas perairan di Teluk Tanjungpinang
Kepulauan Riau.
2. Memberikan informasi bagi instansi atau
pihak terkait mengenai hubungan kandungan
klorofil-a pada fitoplankton terhadap
parameter fisika- kimia perairan, sehingga
dapat diketahui sejauh mana kualitas perairan
di Teluk Tanjungpinang Kepulauan Riau.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli
sampai dengan Agustus 2013 yang berlokasi di
perairan pesisir Teluk Tanjungpinang Kepulauan Riau.
Analisis sampel nitrat, fosfat dan kosentrasi klorofil-a
dilakukan di Laboratorium Ekologi Perairan dan Ilmu
Kelautan Universitas Riau, Pekanbaru.

Alat dan Bahan
Alat dibagi atas dua kelompok yaitu alat yang
digunakan di lapangan dan alat yang digunakan di
laboratorium. Adapun alat dan bahan yang digunakan
dalam penelitian ini di sajikan pada Tabel 2, 3 dan 4.
Tabel 2. Daftar alat yang digunakan di lapangan
No Alat Kegunaan
1 Secchi disc diameter
30cm
Mengukur kecerahan
2 Mulititest Model YK-
2005WA
Mengukur suhu air
3 Mulititest Model YK-
2005WA
Mengukur oksigen
terlarut
4 Refraktometer Mengukur salinitas
5 pH Meter Mengukur pH air
6 GPS Menentukan posisi
stasiun
7 Alat Tulis, Kamera
Digital
Mencatat dan
Dokumentasi
8 Ice Box Wadah penyimpanan
sampel
9 Gayung Air volume 1
liter
Mengambil air
10 Ember volume 10 liter Menampung air
11 Botol sampel 1 liter Menyimpan sampel air

Tabel 3. Daftar alat yang digunakan di
laboratorium
No Alat Kegunaan
1 Sentrifuge Hettich
Universal
Mengendapkan kertas saring
2 Spectronic 21 Mengukur biomassa
klorofil-a, nitrat dan fosfat
3 Spatula Menghancurkan kertas
saring
4 Peralatan Glas
(tabung reaksi, pipet
dll)
Membantu proses analisis
klorofil-a

Tabel 4. Daftar bahan yang digunakan dalam
penelitian
No Bahan Kegunaan
Bahan Utama
1 Sampel Air Bahan untuk analisis
klorofil-a
Bahan Pendukung
2 Penyaring Whatman GF/C
47 mm
Pore : 1,2 m / 0,42
Menyaring air
sampel
3 Aquades Mencuci alat
4 Kertas Alumunium foil Membungkus sampel
klorofil
5 Plastik Membungkus sampel
6 Aseton 90 % Melarutkan kertas
saring (klorofil-a)
7 Larutan brucine sulfat,
Larutan H
2
SO
4
, Larutan
NaCl, Larutan blanko
Menganalisa nitrat
8 Larutan Ammonium
molibdat, Larutan SnCl
2

Menganalisa fosfat

Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode survei, yaitu metode penelitian yang
tidak melakukan perubahan (tidak ada perlakuan
khusus) terhadap variabel yang akan diteliti dengan
tujuan untuk memperoleh serta mencari keterangan
secara faktual tentang objek yang diteliti. Data primer
dalam penelitian ini merupakan data hasil pengukuran
secara langsung terhadap parameter yang diamati,
sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi
pustaka dari berbagai sumber dan instansi terkait. Data
yang diperoleh tersebut ditabulasikan untuk selanjutnya
dibahas secara deskriptif statistik dan analisis regresi
linear berganda kemudian ditarik suatu kesimpulan.

Penentuan Stasiun Penelitian
Penentuan lokasi stasiun menggunakan
metode purposive sampling yaitu penentuan lokasi
berdasarkan atas adanya tujuan tertentu dan sesuai
dengan pertimbangan peneliti sendiri sehingga
mewakili populasi (Arikunto, 2006). Stasiun
pengamatan tersebut meliputi:
Stasiun I terletak di daerah dengan
karakteristik perairan terbuka dengan titik
koordinat LU : 00 56 07,4, LS : 104 26
13,6.
Stasiun II terletak di daerah dengan
karakteristik dekat pemukiman penduduk dan
jalur transportasi laut dengan titik koordinat
LU : 00 56 09,3, LS : 104 26 49,9.
Stasiun III terletak di daerah dengan
karakteristik penambangan bauksit dengan
titik koordinat LU : 00 56 10,8, LS : 104
28 16,0.
Stasiun IV terletak di daerah dengan
karakteristik estuaria dan mangrove dengan
titik koordinat LU : 00 56 14,9, LS : 104
27 39,3.
Pengambilan titik sampling dilakukan secara
tegak lurus ke arah laut dengan menetapkan tiga titik
sampling pada tiap stasiun, dimana jarak antar titik 20
m. Adapun sketsa titik sampling tiap stasiun dapat
dilihat pada Gambar 5.

Stasiun I II III IV



20 M


20 M


20 M


Garis Pantai

Gambar 5. Sketsa titik sampling tiap stasiun

Prosedur Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan pada saat
pasang antara jam 09.00 11.30 WIB sebanyak tiga
kali ulangan pada setiap stasiun pengamatan selama 1
bulan. Sampel klorofil-a pada fitoplankton diambil
dengan menggunakan ember yang memiliki volume 10
L sebanyak lima kali pada kedalaman 0,2 - 0.5 meter,
dimana pengambilan sampel air untuk fitoplankton ini
dilakukan secara horizontal, yang kemudian air sampel
air yang didapat disaring dengan menggunakan
plankton net No. 25, sampel air yang terjaring akan
terkumpul dalam bucket yang selanjutnya dimasukkan
ke dalam botol film berukuran 150 ml. Sedangkan
untuk pengamatan kelimpahan fitoplankton sampel air
diberi 3-4 tetes lugol 1 %.
Sampel air untuk nitrat dan fosfat diambil
pada permukaan perairan dengan menggunakan botol
sampel sebanyak 100 ml, untuk pengawetan sampel
nitrat ditambahkan larutan asam sulfat pekat sebanyak
2 tetes, sedangkan untuk sampel fosfat didinginkan.
Selanjutnya botol sampel nitrat dan fosfat tersebut
dibungkus dengan menggunakan alumunium foil dan
dimasukkan ke dalam ice box untuk menjaga keawetan
sample (Modifikasi metode Arifin, 2009).

Prosedur Pengumpulan Data
Metode dan alat yang digunakan dalam
pengukuran parameter biologi, fisika, dan kimia
perairan disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Metode dan alat yang digunakan dalam
pengukuran parameter biologi, fisika,
dan kimia perairan
No Parameter Satuan Alat dan Metode Keterangan
Biologi
1 Klorofil-a g/l Spektrofotometrik
/ekstrak aseton
Lab
Fisika
2 Kecerahan m Secchi disc/Visual In situ

3 Suhu
0
C Mulititest Model YK-
005WA
In situ
4 Salinitas

Refraktometer In situ
Kimia
5 DO mg/l Mulititest Model YK-
005WA
In situ
6 pH pH stick / Visual
7 Nitrat mg/l Spektrofotometer/
perhitungan, Brucine
Lab
8 Fosfat mg/l Spektrofotometer/
perhitungan
Lab

Identifikasi dan Perhitungan Kelimpahan
Fitoplankton
Pengamatan jenis fitoplankton dilakukan
dibawah mikroskop binokuler menggunakan metode
sapuan, sebelum pengamatan dilakukan botol sampel
dikocok terlebih dahulu supaya fitoplankton yang
terdapat didalam botol sampel tersebar merata dan
mempunyai kesempatan yang sama untuk terambil.
Fitoplankton yang telah diamati akan diidentifikasi
menurut buku Sachlan (1982) dalam Heriyanto (2009).
Untuk menghitung kelimpahan fitoplankton
digunakan rumus sebagai berikut (APHA, 1995 dalam
Herianto, 2009):
N =
X
x
1
x Z
Y V
Dimana:
N Kelimpahan fitoplankton (sel/l)
X Volume air yang tersaring (ml)
Y Volume 1 tetes (0,05 ml)
V Volume air yang disaring (liter)
Z Jumlah individu yang ditemukan (sel)

Pengukuran Parameter Biologi (Klorofil-a)
Prosedur pengukuran klorofil-a pada
fitoplankton sebagai berikut (Boyd, 1979 dalam
Heriyanto, 2009):
1. Menyaring air sampel sebanyak 150 ml
menggunakan filter milipore yang telah
dibasahi 1 ml larutan magnesium karbonat
dengan bantuan vakum syring.
2. Membran filter yang mengandung klorofil-a
dilipat empat kali sampai menjadi lipatan
kecil, lalu dimasukkan ke dalam tissue grinder
kemudian ditambah 5 ml aseton 90%.
3. Menggerus larutan filter yang telah di tambah
5 ml aseton 90% sampai dengan hancur
merata.
4. Kemudian menambahkan lagi 3,5 ml aseton
yang sama dan dilanjutkan penggerusan
sampai semua bagian filter hancur.
5. Memindahkan kedalam tabung reaksi untuk
disentrifus, tutup dengan penutup plastik, beri
label. Sentrifus tabung- tabung ekstraksi pada
putaran 3000 rpm selama 15 menit.
6. Lalu penyerapan (absorbance) cairan bening
diukur dengan spektrofotometer pada panjang
gelombang 665 nm dan 750 nm.
7. Kosentrasi klorofil-a dihitung dengan
persamaan Vollenweider (1969) dalam
Heriyanto (2009) sebagai berikut:
Klorofil-a (g/l ) = 11,9 (A
0
665 A
0
750) V/L x 1000/S
Keterangan:
A
0
665 adalah penyerapan spektrofotometer pada
panjang gelombang 665 nm
A
0
750 adalah penyerapan spektrofotometer pada
panjang gelombang 750 nm
V adalah ekstrak aseton (ml)
L adalah panjang jalan cahaya pada cuvet (cm)
S adalah volume sampel yang difilter (ml)
11,9 adalah Konstanta

Analisis Data
Tingkat kesuburan suatu perairan ditentukan
dengan membandingkan kosentrasi klorofil-a
(Vollenweider, 1969 dalam Heriyanto, 2009).
Kandungan klorofil-a pada fitoplankton kurang dari 1
g/l adalah perairan yang tidak produktif, kandungan
klorofil-a pada fitoplankton 1-20 g/l adalah perairan
yang cukup produktif, sedangkan kandungan klorofil-a
pada fitoplankton lebih dari 20 g/l adalah perairan
yang produktif.
Analisis regresi linear berganda dipergunakan
untuk melihat pola hubungan antara kandungan
klorofil-a dengan beberapa parameter fisika- kimia
perairan, sehingga dapat diketahui kondisi perairan di
Teluk Tanjungpinang Kepulauan Riau. Dari persamaan
regresi dapat diketahui parameter yang signifikan dan
paling berpengaruh terhadap kandungan klorofil-a pada
lokasi penelitian. Secara matematis persamaan regresi
berganda dapat digambarkan sebagai berikut (Sudjana,
2006):
Y = a + b
1
x
1
+ b
2
x
2
+ + b
7
x
7
+ e
Dimana:
Y = Kandungan klorofil-a x
3
= DO
a = Konstanta x
4
= Salinitas
e = Error x
5
= pH
b
1
,b
2
,...,b
7
= Koefisien regresi x
6
= Nitrat
x
1
= Kecerahan x
7
= Fosfat
x
2
= Suhu

HASIL DAN PEMBAHASAN
Komposisi Jenis dan Kelimpahan Fitoplankton
Berdasarkan hasil analisis fitoplankton di
kawasan perairan Teluk Tanjungpinang Kepulauan
Riau, untuk masing-masing stasiunnya ditemukan 3
kelas fitoplankton. Kelas fitoplankton yang ditemukan
terdiri dari kelas Baccilariophyceae, kelas
Chlorophyceae dan kelas Cyanophyceae. Komposisi
jenis dari kelas Baccilariophyceae ditemukan lebih
banyak dari pada kelas Chlorophyceae dan yang paling
sedikit komposisinya adalah kelas Cyanophyceae. Hal
ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Basmi
(1999) bahwa diatom (Bacillariophyceae) dan
Dinophyceae merupakan jenis fitoplankton yang paling
penting dan umum terdapat di laut. Sedangkan,
Cyanophyceae merupakan jenis fitoplankton yang
paling sedikit dijumpai. Selain itu Smith dalam
Dianthani (2003), mengemukakan bahwa kelas
Cyanophyceae 2/3 dari jumlah spesiesnya terdapat di
air tawar sedangkan sisanya di perairan laut.
Grafik komposisi jenis fitoplankton pada ke
empat stasiun penelitian dapat dilihat pada Gambar 8.


Gambar 8. Grafik komposisi jenis dari masing-
masing kelas fitoplankton pada setiap stasiun
pengamatan
Kelimpahan Fitoplankton pada masing-
masing stasiun penelitian di perairan Teluk
Tanjungpinang Kepulauan Riau dapat dilihat pada
Tabel 7.
Tabel 7. Kelimpahan (sel/l) fitoplankton yang
ditemukan di perairan Teluk
Tanjungpinang Kepulauan Riau
No Kelas
Kelimpahan (sel/l)
Stasiun
I
Stasiun
II
Stasiun
III
Stasiun
IV
1 Baccilariophyceae 1440 1200 1140 1980
2 Chlorophyceae 960 900 1080 1080
3 Cyanophyceae 600 540 600 840
Jumlah 3000 2640 2820 3900

Kelimpahan fitoplankton di suatu perairan
selalu berubah seiring dengan perubahan-perubahan
yang terjadi di lingkungan. Kelimpahan fitoplankton
pada setiap lokasi pengamatan berkisar antara 2640
3900 sel/l, dimana kelimpahan tertinggi pada stasiun
IV (3900 sel/l) dan terendah pada stasiun II (2640
sel/l).
Komposisi kelimpahan fitoplankton pada
masing-masing stasiun penelitian dapat dilihat pada
Tabel 8.
Tabel 8. Komposisi kelimpahan (%) fitoplankton
yang ditemukan di perairan Teluk
Tanjungpinang Kepulauan Riau
No Kelas
Komposisi Kelimpahan (%)
Stasiun
I
Stasiun
II
Stasiun
III
Stasiun
IV
1 Baccilariophyceae 48,0 45,5 40,4 50,8
2 Chlorophyceae 32,0 34,1 38,3 27,7
3 Cyanophyceae 20,0 20,4 21,3 21,5

Komposisi kelimpahan fitoplankton pada
setiap stasiun pengamatan didominasi oleh kelas
Baccilariophyceae yang berkisar antara 40,4 50,8 %.
Kemudian kelas Chlorophyceae dan Kelas
Cyanophyceae masing-masing komposisi kelimpahan
berkisar antara 27,7 38,3 % dan 20,0 21,5 %. Kelas
Baccilariophyceae mendominasi kelimpahan
fitoplankton di perairan tersebut, hal ini diduga karena
organisme dari kelas Baccilariophyceae mempunyai
toleransi dan daya adaptasi yang tinggi terhadap
perubahan lingkungan laut. Raymont dalam Arinardi et
al. (1994) menyatakan bahwa kelas fitoplankton yang
sering dijumpai di laut dalam jumlah yang besar adalah
kelas Baccilariophyceae. Hal yang sama juga
dinyatakan oleh Odum (1998) bahwa jenis fitoplankton
tersebut merupakan produsen yang dominan pada
tingkat trofik di wilayah perairan manapun.

Klorofil- a Pada Fitoplankton
Kosentrasi klorofil-a di Teluk Tanjungpinang
Kepulauan Riau berkisar antara 9,52- 15,07 g/l.
Kosentrasi klorofil-a terendah ditemukan pada stasiun
II dengan nilai 9,52 g/l, dan klorofil-a tertinggi pada
stasiun IV dengan nilai 15,07 g/l (Gambar 8). Rata-
rata klorofil-a selama penelitian pada setiap stasiun
pengamatan disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Rata- rata klorofil-a pada setiap stasiun
pengamatan
No Stasiun Rata- rata klorofil-a ( g/l )
1 I 10,91
2 II 9,52
3 III 9,72
4 IV 15,07

Berdasarkan Tabel 9 terlihat bahwa rata- rata
kosentrasi klorofil-a pada setiap stasiun di perairan
Teluk Tanjungpinang Kepulauan Riau menunjukan
nilai yang bervariasi. Variasi kosentrasi klorofil-a di
perairan Teluk Tanjungpinang Kepulauan Riau
0
20
40
60
80
100
I II III IV
K
o
m
p
o
s
i
s
i

J
e
n
i
s

(
%
)
Stasiun
Baccilariophyceae
Chlorophyceae
Cyanophyceae

disebabkan keadaan kualitas perairan masing- masing
stasiun pengamatan berbeda- beda. Hal ini disebabkan
kondisi lingkungan sekitar stasiun akan mempengaruhi
keadaan kualitas air antara lain kosentrasi klorofil-a
yang ada dalam perairan tersebut.
Grafik rata- rata klorofil-a (g/l) pada ke
empat stasiun penelitian dapat dilihat pada Gambar 10.


Gambar 10. Grafik rata-rata klorofil-a (g/l) pada
setiap stasiun penelitian

Tingginya kosentrasi klorofil-a pada stasiun
IV disebabkan oleh tingginya kandungan unsur hara
diduga berada di daerah estuaria dan mangrove,
kemudian memiliki kelimpahan fitoplankton (3900
sel/l) yang lebih tinggi dari stasiun lainnya. Rendahnya
kosentrasi klorofil-a pada stasiun II disebabkan oleh
rendahnya kandungan unsur hara dan terletak di daerah
pemukiman penduduk dan jalur transportasi laut
dengan kelimpahan fitoplankton sebesar (2640 sel/l),
sehingga kebutuhan untuk pertumbuhan dan
perkembangan fitoplankton kurang dan klorofil akan
berkurang. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Valiela
(1984) dalam Roshisati (2002) bahwa unsur hara
merupakan faktor penting dalam proses pertumbuhan
dan reproduksi fitoplankton.
Berdasarkan Tabel 9 maka dapat dikatakan
bahwa perairan Teluk Tanjungpinang Kepulauan Riau
dikategorikan sebagai perairan yang cukup produktif
karena memiliki nilai rata- rata konsentrasi klorofil-a
sebesar 11,36 g/l. Kandungan klorofil-a pada
fitoplankton di suatu perairan dapat digunakan sebagai
salah satu ukuran biomassa fitoplankton dan dijadikan
petunjuk dalam melihat kesuburan perairan. Kualitas
perairan yang baik merupakan tempat hidup yang baik
bagi fitoplankton, karena kandungan klorofil-a
fitoplankton itu sendiri dapat dijadikan indikator tinggi
rendahnya produktivitas suatu perairan (Ardiwijaya,
2002).

Parameter Fisika-kimia Perairan
Hasil analisis parameter fisika-kimia perairan
yang berpengaruh terhadap klorofil-a pada fitoplankton
di perairan Teluk Tanjungpinang Kepulauan Riau
disajikan dalam Tabel 10.
Tabel 10. Rata-rata hasil pengukuran parameter
fisika dan kimia di stasiun pengamatan
Parameter Satuan
Stasiun
Kepmen
LH
No.51
Th 2004
I II III IV
FIsika
Suhu
0
C 31,8 30,7 30,5 30,3 Alami
Salinitas
0
/
00
31,7 31,3 30,7 30,3 Alami
Kecerahan m 2,1 1,4 1,4 1,6 Alami
Kimia
DO mg/l 8,0 6,8 7,3 8,8 > 5
pH 7,5 6,6 7,3 6,6 7 8,5
Nitrat mg/l 0,084 0,064 0,088 0,064 0,008
Fosfat mg/l 0,243 0,166 0,230 0,216 0,015

Dari Tabel 10 terlihat bahwa suhu di lokasi
penelitian berkisar antara 30,3 31,8 C. Nilai suhu
pada keempat stasiun tersebut relatif sama dan tidak
menunjukkan adanya perbedaan walaupun terdapat
variasi dalam kisaran yang sempit. Hal ini dikarenakan
keadaan cuaca pada saat pengukuran suhu relatif sama
sehingga suhu tidak mengalami perubahan atau
fluktuasi. Secara umum kisaran suhu yang diperoleh
selama penelitian merupakan kisaran yang masih dapat
mendukung kehidupan fitoplankton. Kisaran suhu ini
sesuai dengan pernyataan Nontji (1993) yang
mengemukakan bahwa suhu perairan Nusantara
umumnya berkisar antara 28 - 31C. Sedangkan
kisaran suhu yang optimum bagi pertumbuhan
fitoplankton di perairan berkisar antara 20 - 30C
(Effendi, 2003). Suhu dilokasi penelitian masih
termasuk dalam kisaran tersebut.
Nilai salinitas yang terukur pada setiap stasiun
pengamatan berkisar antara 30,3 31,7 . Nilai
salinitas tersebut hampir sama pada setiap stasiun
pengamatan. Variasi salinitas dapat menentukan
kelimpahan dan distribusi fitoplankton. Salinitas
merupakan salah satu parameter yang menentukan
jenis-jenis fitoplankton yang terdapat dalam suatu
perairan, tergantung dari sifat fitoplankton tersebut
apakah eurihalin atau stenohalin. Secara umum,
salinitas permukaan perairan laut di Indonesia rata-rata
berkisar antara 32-34 (Dahuri et al., 1996).
Nilai kecerahan di lokasi penelitian berkisar
antara 1,4 2,1 m. Menurut Basmi (1995) kecerahan
penting karena erat kaitannya dengan proses
fotosintesis yang terjadi di perairan secara alami.
Kecerahan menunjukan sampai sejauh mana cahaya
dengan intensitas tertentu dapat menembus kedalaman
perairan. Dari total sinar matahari yang jatuh ke
atmosfer dan bumi, hanya kurang dari 1% yang
ditangkap oleh klorofil (di darat dan air), yang dipakai
untuk fotosintesis.
Hasil pengukuran oksigen terlarut (DO) pada
keempat stasiun menunjukkan kisaran antara 6,8 8,8
0
2
4
6
8
10
12
14
16
Stasiun I Stasiun II Stasiun III Stasiun IV
K
l
o
r
o
f
i
l
-
a
(

g
/
l
)

mg/l, dimana nilai DO tertinggi berada di stasiun IV
sebesar 8,8 mg/l dan terendah pada stasiun II sebesar
6,8 mg/l. Nilai ini masih dalam kisaran baku mutu
menurut Kepmen LH (2004) yaitu >5 mg/l. Nilai ini
juga sesuai dengan tingkat kelimpahan fitoplankton
pada setiap stasiun penelitian, dimana pada kelimpahan
fitoplankton yang tinggi menghasilkan oksigen yang
lebih banyak dibandingkan dengan kelimpahan
fitoplankton yang lebih rendah. Ini terjadi karena
oksigen terlarut merupakan produksi dari hasil
fotosintesis (Rimper, 2002).
Nilai pH yang terukur di lokasi penelitian
berkisar antara 6,6 7,5. Nilai pH pada lokasi
penelitian ini kurang dari nilai ambang baku mutu yaitu
7 - 8,5 menurut Kepmen - LH (2004). Menurut Syam
(2002) Derajat keasaman (pH) perairan yang cocok
untuk pertumbuhan organisme air berkisar antara 6 - 9.
Nilai pH di lokasi penelitian berada pada kisaran
tersebut sehingga masih baik untuk kehidupan
organisme.
Kandungan nitrat yang ditemukan pada setiap
stasiun pengamatan berkisar antara 0,0646 0,0882
mg/l. Nilai ini berada diatas ambang baku mutu (0,008
mg/l) menurut Kepmen - LH (2004). namun, Sverdrup
et al. dalam Hermana (2007) menyatakan bahwa
kisaran nitrat di laut adalah 1 600 g/l. Jika
dikonversikan maka konsentrasi nitrat yang diperoleh
masih termasuk kedalam kisaran tersebut yaitu 64,6
88,2 g/l. tetapi kisaran tersebut cukup rendah untuk
pertumbuhan fitoplankton, dimana menurut Kennish
(1990) menyatakan bahwa kandungan nitrat yang
optimum untuk pertumbuhan fitoplankton berkisar
antara 0,9 3,5 mg/l dan akan menjadi faktor pembatas
apabila kurang dari 0,44 mg/l, dan menurut Prowse
dalam Basmi (2000) menyatakan bahwa pertumbuhan
optimal fitoplankton terjadi bila kandungan nitrat
dalam air 3,9 15,5 ppm.
Fosfat merupakan unsur yang penting
terutama bagi pertumbuhan fitoplankton. Hasil
pengukuran fosfat pada setiap stasiun pengamatan
berkisar antara 0,1167 0,2434 mg/l, dimana nilai
fosfat tertinggi berada pada stasiun I sebesar 0,2434
mg/l dan nilai fosfat terendah pada stasiun II sebesar
0,1167 mg/l. Nilai ini menurut Kepmen - LH (2004)
juga telah berada diatas ambang baku mutu (0,015
mg/l).

Hubungan Kandungan Klorofil-a Pada
Fitoplankton Terhadap Parameter Fisika- Kimia
Perairan
Dalam menganalisis hubungan kandungan
klorofil-a pada fitoplankton terhadap parameter fisika
kimia perairan digunakan metode analisis regresi linier
berganda. Analisis ini digunakan karena mampu
mengukur pengaruh antara lebih dari satu variabel
prediktor/ variabel bebas (parameter fisika- kimia
perairan) terhadap parameter terkait (klorofil-a pada
fitoplankton). Sebelum dilakukan analisis regresi linier
berganda terlebih dahulu dipastikan data yang ada
sudah melewati uji asumsi kelasik (uji autokorelasi,
heterosekedastisitas, normalitas dan multikolinearitas).
Berdasarkan hasil analisis regresi didapat nilai
koefisien korelasi (R) dengan nilai 0,966 menunjukkan
bahwa hubungan antara perameter fisika kimia air dan
klorofil-a pada fitoplankton adalah kuat. Kemudian
nilai Adjusted R
2
bernilai 0,934, artinya persentase
sumbangan pengaruh variabel suhu, kecerahan, DO,
pH, nitrat dan fosfat terhadap klorofil-a pada
fitoplankton adalah sebesar 93,4% dan sisanya
dipengaruhi oleh faktor lain.
Uji normalitas menggunakan grafik plot
probabilitas normal untuk standar residual dapat dilihat
pada Gambar 11.

Gambar 11. Grafik plot probabilitas normal untuk
standar residual
Berdasarkan Gambar 11 data observasi
mendekati distribusi normal, yaitu ditunjukkan dengan
titik-titik yang secara acak dan tidak berpola berada
disekitar garis diagonal. Jadi asumsi mengenai
kenormalan data terpenuhi atau data hasil pengamatan
tersebut bisa dianalisis dengan menggunakan regresi
linear.
Faktor abiotik mencakup parameter fisika -
kimia perairan yang akan menentukan kelimpahan
fitoplankton sebagai komponen biotik di suatu
perairan. Variasi fitoplankton pada suatu perairan dapat
disebabkan oleh beberapa faktor lingkungan yaitu
suhu, kecerahan, DO, pH, nitrat dan fosfat.
Rachmawati (1999) menyatakan bahwa konsentrasi
klorofil-a mempunyai korelasi yang erat dengan fosfor,
suhu, nitrogen, dan nilai kecerahan.
Menurut Arinardi (1996), tinggi rendahnya
konsentrasi klorofil-a fitoplankton dapat digunakan
sebagai petunjuk kelimpahan sel fitoplankton dan juga
potensi organik di suatu perairan. Klorofil-a digunakan
sebagai indikator dari kelimpahan fitoplankton,
sementara kelimpahan fitoplankton berhubungan
dengan siklus alami dari ketersediaan nutrien dan
dengan input nitrat dan fosfat.

Uji F (ANOVA)
Pengujian ini dilakukan untuk menguji
pengaruh variabel bebas (parameter fisika- kimia
perairan) secara bersama/ serentak terhadap variabel
terikat (klorofil-a pada fitoplankton), sehingga dapat
digunakan sebagai pendekatan untuk melihat bias atau
tidaknya persamaan regresi yang dihasilkan.
Berdasarkan hasil uji F didapatkan nilai p-value F
adalah 11,699 (F hitung > F Tabel = 4,95) dengan nilai
signifikan sebesar 0,008 ( 0,008 < 0,05) yang berarti
model regresi tersebut dapat digunakan untuk
memprediksi/ menjelaskan hubungan anatara variabel
bebas dan terikat. Dengan kata lain dapat disimpulkan
bahwa parameter suhu, kecerahan, DO, pH, nitrat dan
fosfat secara bersama-sama berpengaruh nyata
terhadap klorofil-a pada fitoplankton.

Uji t
Pengujian ini dilakukan untuk menguji
hubungan tiap-tiap variabel bebas (parameter fisika
kimia air) terhadap variabel terikat (klorofil-a pada
fitoplankton) secara terpisah. Berdasarkan Tabel uji t di
dapat nilai signifikan dari masing-masing variabel.
Dimana nilai signifikan untuk variabel suhu sebesar
0,007 < 0,05, variabel kecerahan sebesar 0,001 < 0,05,
variabel DO sebesar 0,036 < 0,05, variabel pH 0,010 <
0,05 dan nitrat sebesar 0,028 < 0,05 dengan nilai t
hitung ke lima variabel ini telah memenuhi syarat
statistik yaitu > t Tabel (2,6), sehingga dapat
disimpulkan bahwa perubahan parameter suhu,
kecerahan, DO, pH dan nitrat berpengaruh nyata
terhadap klorofil-a pada fitoplankton. Sedangkan untuk
parameter fosfat diperoleh nilai signifikan > 0,05
sehingga dapat diartikan perubahan parameter fosfat
tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan klorofil-a
pada fitoplankton.
Adapun persamaan regresi yang terbentuk
berdasarkan hasil perhitungan analisis regresi linear
berganda adalah sebagai berikut :
Y = 480 13,211 X
1
+ 35,754 X
2
4,958 X
3
14,994 X
4
+
227,490 X
5
+ e
Berdasarkan hasil regresi linear berganda
tersebut dapat diketahui seberapa besar pengaruh
masing-masing variabel bebas terhadap klorofil-a pada
fitoplankton dalam bentuk angka kuantitatif statistik.
Khusus untuk parameter yang memiliki pengaruh
secara nyata terhadap klorofil-a pada fitoplankton, nilai
koefisien / pengaruh tertinggi terdapat pada parameter
nitrat (227,49), lalu tertinggi ke-2 disusul oleh
kecerahan (35,754), pH (-14,994) selanjutnya adalah
parameter suhu dan DO dengan nilai masing-masing
sebesar -13,211 dan -4,958.
Sedangkan untuk parameter fosfat
berdasarkan perhitungan statistik pada dasarnya
memiliki pengaruh dengan nilai koefisien yang cukup
tinggi yaitu sebesar 32,35 namun berdasarkan nilai
signifikan parameter ini tidaklah memiliki pengaruh
yang nyata terhadap variabel terikat. Sehingga dengan
demikian dapat disimpulkan, walaupun dengan nilai
koefisien yang cukup besar namun dengan nilai
signifikan yang tidak memenuhi asumsi dan kriteria
(>0,05) nilai tersebut tidak bisa lebih jauh untuk di
interpretasikan dalam memprediksi besaran pengaruh
untuk parameter ini, karena dengan kondisi yang
demikian dianggap hasil yang ada memiliki nilai bias
yang besar dan berdampak pada kesimpulan yang
salah.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
untuk mengetahui kandungan klorofil-a pada
fitoplankton dan hubungan kandungan klorofil-a pada
fitoplankton terhadap parameter fisika- kimia perairan
di Teluk Tanjungpinang Kepulauan Riau diperoleh
informasi sebagai berikut :
1. Kosentrasi klorofil-a di perairan Teluk
Tanjungpinang Kepulauan Riau pada
kedalaman 0,2 0,5 meter berkisar antara
9,52- 15,07 g/l. Kosentrasi klorofil-a
terendah ditemukan pada stasiun II terletak di
daerah dengan karakteristik dekat pemukiman
penduduk dan jalur transportasi laut dengan
nilai 9,52 g/l, dan klorofil-a tertinggi pada
stasiun IV terletak di daerah dengan
karakteristik estuaria dan mangrove dengan
nilai 15,07 g/l. Perairan Teluk
Tanjungpinang Kepulauan Riau dikategorikan
sebagai perairan yang cukup produktif karena
memiliki nilai rata- rata kosentrasi klorofil-a
sebesar 11,36 g/l.
2. Hubungan kandungan klorofil-a pada
fitoplankton terhadap parameter fisika- kimia
perairan di Teluk Tanjungpinang Kepulauan
Riau adalah kuat, hasil analisis regresi didapat
nilai Adjusted R
2
0,934, artinya persentase
sumbangan pengaruh variabel suhu,
kecerahan, DO, pH, nitrat dan fosfat terhadap
klorofil-a pada fitoplankton adalah sebesar
93,4% dan sisanya dipengaruhi oleh faktor
lain. Nilai koefisien / pengaruh tertinggi
terdapat pada parameter nitrat yaitu (227,49).

Saran
Diharapkan dapat dilakukan penelitian
lanjutan mengenai hubungan kandungan klorofil-a
pada fitoplankton terhadap parameter fisika- kimia
perairan di Teluk Tanjungpinang Kepulauan Riau
dengan waktu yang lebih lama, stasiun serta titik
sampling yang lebih banyak sehingga dapat lebih
mewakili lokasi dan menganalisis faktor-faktor
perairan lainnya.



UCAPAN TERIMAKASIH
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan
ungkapan terima kasih kepada Ibu Lily Viruly, S.TP,
M.Si sebagai Pembimbing I dan Ibu Diana Azizah,
S.Pi, M.Si sebagai Pembimbing II, atas segala saran
dan masukkannya. Ungkapan terima kasih kepada
Ayahanda dan Ibunda tercinta, serta keluarga besar
yang telah memberikan doa, dukungan moral dan
material. Tidak lupa kepada teman-teman MSP 09 atas
kerjasama, motivasi dan kepeduliannya selama ini serta
semua pihak yang telah membantu baik secara
langsung maupun tidak langsung dalam pelaksanaan
penelitian ini yang tidak dapat penulis sebutkan
namanya satu persatu.

DAFTAR PUSTAKA
Ardiwijaya, R.R. 2002. Distribusi Horizontal Klorofil-
a dan Hubungannya Dengan Kandungan
Unsur Hara Serta Kelimpahan Fitoplankton di
Teluk Semangka, Lampung. Program Studi
Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP),
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK).
Institut Pertanian Bogor (IPB). Skripsi (tidak
dipublikasikan).
Arifin, R. 2009. Distribusi Spasial dan Temporal
Biomassa Fitoplankton (Klorofil-a) dan
Keterkaitannya dengan Kesuburan Perairan
Estuari Sungai Brantas, Jawa Timur. Program
Studi MSP. FPIK. IPB. Bogor. Skripsi (tidak
dipublikasikan).
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.
Arinardi, 1996. Kisaran Kelimpahan dan Komposisi
Plankton Predominan di Perairan Kawasan
Tengah Indonesia. LIPI. Bogor.
Basmi, J. 1999. Planktologi. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor (IPB).
Balai Lingkungan Hidup Kepulauan Riau, 2009. Status
Lingkungan Hidup Provinsi Kepulauan Riau
(Tekanan Terhadap Lingkungan).
Dahuri, R.,J. Rais, S.P. Ginting dan M.J., Sitepu. 1996.
Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan
Lautan secara Terpadu. PT. Pradnya Paramita.
Jakarta, Indonesia.
Dianthani, D. 2003. Identifikasi Jenis Plankton di
Perairan Muara Badak, Kalimantan Timur.
Makalah Falsafah Sains Program Pasca
Sarjana S3 IPB. Bogor.
http://tumoutou.net/702_05123/
Dianthani.pdf.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi
Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan
Perairan. Penerbit Kanisus. Yogyakarta.
Herianto. 2009. Kesuburan Perairan Waduk Nagedang
Desa Giri Sako Kecamatan Logas Tanah Darat
Kabupaten Kuantan Singingi Riau, Ditinjau
Dari Kosentrasi Klorofil-a Fitoplankton.
Program Studi MSP. FAPERIKA. UNRI.
Pekanbaru. Skripsi (tidak dipublikasikan).
Hermana, A. 2007. Sebaran Fitoplankton di Perairan
Selatan Jawa dan Selatan Nusa Tenggara
Indonesia (CRUISE SO-184 RV. SONNE).
Departemen Manajemen Sumberdaya
Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Djambatan, Jakarta.
367 hal.
Odum, E. P., 1998. Dasar-dasar Ekologi.
Diterjemahkan Oleh T. Samingan. Gadjah
Mada Universty Press. Yogyakarta. 574 hal.
Rachmawati, R. 1999. Struktur komunitas fitoplankton
dan Kaitannya Dengan Unsur Hara N dan P di
Daerah Inlet Waduk Ir. H. Juanda, Jawa Barat.
PS-MSP FPIK IPB. Bogor. Skripsi (tidak
dipublikasikan).
Rimper, J., 2002. Kelimpahan Phytoplankton dan
Kondisi Hydroseanografi Perairan Teluk
Manado. Makalah Pengantar Falsafah Sains
Pasca Sarjana S3 IPB. Bogor.
http://tumoutou.net/702_05123/joice_rimper.h
tm
Roshisati, I. 2002. Distribusi Spasial Biomassa
Fitoplankton (Klorofil-a) di Perairan Teluk
Lampung pada Bulan Mei, Juli, dan
September 2001. Program Studi MSP. FPIK.
IPB. Bogor. 71 hal. Skripsi (tidak
diplublikasikan).
Sudjana. 2006. Metode Stasistika. Tarsito. Bandung.
Syam, A.R. 2002. Produktivitas Primer Fitoplankton
dan Perbandingan Beberapa Karakteristik
Biofisikimia Perairan Teluk Jakarta dan Teluk
Lampung. Program Pascasarjana. IPB. Bogor.
128 hal.