Anda di halaman 1dari 4

Implementasi Pembelajaran Fisika

Terintegrasi untuk Membentuk Pemahaman


Holistik dan Karakter Sadar Lingkungan
bagi Siswa SMA
Posted by: Yuli Ardika Prihatama in Gagasan & Inovasi March 13, 2013 0 101 Views

Berbicara tentang pendidikan karakter yang sekarang tengah marak dikaji untuk
dimplementasikan dalam dunia pendidikan di Indonesia ibarat lautan yang selalu berbuih
kemudian hilang kembali jika tidak segera diikuti dengan langkah implementatif. Sudah cukup
banyak seminar, lokakarya, workshop, dan berbagai acara pertemuan para ahli untuk mengkaji
masalah pendidikan karakter dan implementasinya pada berbagai disiplin ilmu dalam pendidikan
namun sampai sekarang belum terlihat proses secara nyata untuk mewujudkan pendidikan
karakter yang integral di dunia pendidikan. Justru terkadang pendidikan karakter hanya menjadi
isapan jempol bagi para siswa karena memang tidak ada perbedaan antara sebelum dan sesudah
diaplikasikannya pembelajaran berbasis karakter.
Misalnya dalam pembelajaran IPA, khususnya fisika, sejak pendidikan karakter mulai
dicanangkan dan diimplementasikan oleh sekolah sampai sekarang belum memberikan
perubahan yang signifikan. Realita yang ada di lapangan masih banyak siswa yang terbiasa
membuang sampah sembarangan, merusak tanaman, jajan makanan yang banyak mengandung
zat kimia, dan sebagainya. Bukankah pendidikan IPA seharusnya menumbuhkan karakter siswa
untuk lebih bersahabat dengan lingkungan dan memanfaatkan lingkungan sesuai dengan kadar
yang aman. Hal ini tidak mengherankan, karena masih banyak juga guru IPA yang merokok saat
mengajar, mengendarai mobil ke sekolah, dan berbagai tingkah aneh yang tidak mencerminkan
seorang cendekiawan dalam bidang IPA.
Tidak ada yang perlu disalahkan dengan realita tersebut karena ia merupakan bukti bahwa
pendidikan karakter yang sedang dibumikan oleh pemerintah kita ibarat api jauh dari panggang.
Sampai sekarang belum ada keynote yang jelas untuk dijadikan pedoman yang dapat
diimplementasikan secara nyata, karena memang bangsa kita saat ini baru sadar dan belajar
untuk bangkit dan mengejar keterbelakangan kualitas pendidikannya.
Maka dari itu, penulis tergerak hatinya untuk mencoba menawarkan sebuah solusi untuk
menjawab berbagai paradoks yang telah dipaparkan di atas. Membangun karakter bangsa melalui
dunia pendidikan berarti membangun insan pendidikan agar memiliki karakter unggul untuk
mewujudkan tujuan nasional. Ada sebuah kata kunci yang bagus, orang yang berkarakter
pastilah orang yang baik, tetapi orang yang baik belum tentu berkarakter karena orang yang
berkarakter adalah orang yang baik dan memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan
kebaikannya. Sesuai dengan latar belakang sebagai calon pendidik bidang ilmu fisika dan IPA,
maka penulis menawarkan sebuah konsep implementasi pembelajaran fisika terintegrasi
untuk membentuk pemahaman holistik dan karakter sadar lingkungan bagi siswa SMA.
Pembelajaran fisika terintegrasi merupakan sebuah gagasan yang digulirkan untuk memperbaiki
kualitas pendidikan di Indonesia agar para siswa SMA memiliki pemahaman dan cara berpikir
yang holistik terhadap permasalahan yang ada di lingkungan mereka. Gagasan ini muncul karena
para siswa mengalami dikotomi atau trikotomi atau mungkin banyak kotomi pengetahuan.
Mereka mengkotak-kotakan pengetahuan yang mereka pelajari di sekolah dan seoalah-olah tidak
ada kaitannya sama sekali. Sehingga pembelajaran yang mereka ikuti hanyalah bagaimana
mengerti sebuah teori kemudian menggunakan dalam sebuah soal yang sederhana dan mungkin
lebih tepatnya penuh dengan khayalan karena barangkali soal-soal ulangan yang mereka
kerjakan tidak pernah terealisasi dalam kehidupan nyata. Maka dari itu, pembelajaran Fisika
terintegrasi ditawarkan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Permasalahan selanjutnya, bagaimana cara mengimplementasikan pembelajaran Fisika
terintegrasi tersebut? Sebelum kita kaji lebih jauh ada baiknya kita ulas tentang standar
kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD). Dalam Permendiknas RI nomor 23 tahun 2006
dijelaskan bahwa standar kompetensi digunakan sebagai pedoman untuk menentukan kualitas
lulusan/ peserta didik. Kompetensi dasar adalah rincian dari standar kompetensi yang berupa
poin-poin kompetensi yang harus dikuasai peserta didik agar dapat dinyatakan lulus atau telah
menjalani proses belajar dengan baik. Masing-masing SK dan KD tersebut terbagi dalam
berbagai mata pelajaran yang tersusun secara berjenjang mulai dari pendidikan dasar sampai
pendidikan tinggi. Adapun konsep fisika terintegrasi adalah sebuah cara untuk
mengkombinasikan berbagai SK dan KD dalam pembelajaran fisika dalam sebuah obyek kajian
nyata yang ada di lingkungan sekitar sehingga mampu memicu pikiran peserta didik untuk
berpikir holistik, realistis dan solutif. Fisika terintegrasi dapat diaplikasikan untuk jenjang
pendidikan menengah yaitu SMA
Contoh aplikasi pembelajaran Fisika terintegrasi adalah pada pembahasan tentang Pembangkit
Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dan dampaknya terhadap lingkungan. Adalah suatu kesalahan jika
pembahasan nuklir hanya milik orang fisika. Dan lebih salah lagi jika nuklir hanya boleh
dipelajari dalam fisika. Dengan model pembelajaran fisika terintegrasi, pembahasan tentang
nuklir adalah sebuah pembahasan yang sangat menakjubkan karena di dalamnya akan ada
observasi, eksplorasi, dan refleksi. Dimensi yang akan dirasakan para peserta didik tidak hanya
bagaimana mereka memahami nuklir sebagai sebuah hal yang menakjubkan di alam, tetapi juga
dimensi kekaguman terhadap kekuasaan Allah yang Maha Mengatur dan Maha Memelihara.
Bagaimana bentuk kombinasi keterpaduan SK dan KD dalam pembelajaran Fisika terintegrasi
untuk kajian tentang nuklir tersebut? Berdasarkan uraian sebelumnya, model keterpaduan yang
paling sesuai dalam mengkombinasikan SK dan KD untuk pembelajaran fisika teringrasi adalah
keterpaduan jaringan (network), yaitu keterpaduan yang melibatkan SK dan KD dari berbagai
mata pelajaran yang berbeda rumpun karena dalam pembahasan nuklir SK dan KD mata
pelajaran ilmu alam, sosial, statistika, bahkan kajian keagamaan juga bisa masuk di dalamnya,
meskipun kajian sains paling dominan di dalamnya.
Kemudian bagaimana membuat derivasi kajian tentang nuklir tersebut? Hal ini dapat dilakukan
dengan cara membuat tabel derivasi agar kita lebih mudah merumuskan indikator dan metode
pembelajaran yang akan digunakan. Tabel identifikasinya misalnya adalah sebagai berikut:

No. Derivasi Permasalahan Disiplin Ilmu dan SK-KD
1. Radioaktivitas dan perhitungan
matematisnya
FisikaSK :Menunjukkan
penerapan konsep fisika inti dan
radioaktivitas dalam teknologi
dan kehidupan sehari-hariKD
:Mengidentifikasi karakteristik
inti atom dan radioaktivitas
2. Reaktor Nuklir dan teknik pembangunan
PLTN
FisikaSK :Menunjukkan
penerapan konsep fisika inti dan
radioaktivitas dalam teknologi
dan kehidupan sehari-hariKD
:Mendeskripsikan pemanfaatan
radoaktif dalam teknologi dan
kehidupan seharihari
3. Sumber daya alam efisiensi sumber energy ..
4. Analisis dampak lingkungan pembangunan
PLTN

5. Analisis dampak sosial ekonomi sebelum
dan sesudah pembangunan PLTN
.
6. dst .
Dengan adanya derivasi kajian di atas, maka pembahasan tentang nuklir menjadi lebih jelas dan
terarah.
Selanjutnya, pembelajaran dapat direncanakan secara fragmented berdasarkan table tersebut
dengan diawali sebuah pertemuan untuk menjelaskan keseluruhan materi yang akan dibahas.
Dengan cara ini, pembelajaran Fisika akan terasa menyenangkan dan bermakna. Siswa akan
mengenal permasalahan di sekitarnya dalam dimensi yang kompleks karena pemahaman yang
holistic.
Dalam realisasinya, guru fisika dapat mengajak guru lain secara tim untuk mengkaji
permasalahan yang diluar kajian fisika sehingga sekaligus dapat menyampaikan konsep materi
dalam disiplin ilmu yang lain. Jadi model pembelajaran ini tidak menutup kemungkinan
terjadinya kolaborasi dan kombinasi antar mata pelajaran dalam satu pekan pembelajaran di
sekolah.
Akhirnya, dengan pembelajaran fisika terintegrasi ini, akan lahir jiwa-jiwa baru yang sadar akan
kondisi sekelilingnya dan kemudian diwujudkan dalam berbagai aksi kepedulian terhadap
lingkungan. Inilah karakter yang seharusnya terbentuk dari siswa yang sudah sekian tahun
sekolah. Bukan sekedar tahu dan pandai mengerjakan soal di atas kertas, tetapi bagaimana
mereka turun ke lapangan dan menyelesaikan permasalahan sesuai dengan ilmu yang mereka
dapatkan di bangku belajar. Fisika, kimia, biologi, matematika, ekonomi, geografi, dan yang
lainnya hendaknya dapat dipahami sebagai ilmu yang saling melengkapi dan akan digunakan
dalam menyelesaikan berbagai masalah kehidupan. Ilmu-ilmu tersebut tidak dapat berdiri sendiri
sebagai pedoman penyelesaian masalah yang kompleks, tetapi saling berkait menjadi sebuah
solusi,
Demikianlah sedikit uraian tentang Implementasi pembelajaran fisika terintegrasi dalam rangka
membentuk pemahaman holistic dan karakter sadar lingkungan bagi siswa SMA. Tulisan ini
hanyalah sebagai pemicu otak kita untuk berpikir dan tidak akan berarti apa-apa ketika orang-
orang yang membaca tulisan ini tidak tergerak hatinya untuk segera mengambil peran dalam
memperbaiki kualitas pendidikan kita. Semoga tulisan ini dapat menjadi salah satu sumber
inspirasi bagi para calon pendidik di negeri ini untuk melahirkan generasi-generasi penerus yang
hebat dan bertanggung jawab atas lingkungannya.
Referensi:
Kemendiknas. 2009. Pendidikan Karakter : Kumpulan Artikel di Media Massa 2009. Jakarta :
Kemendiknas
Permendiknas RI nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan beserta
lampirannya
Sumber: http://www.zonaperubahan.net/2011/09/25/implementasi-pembelajaran-fisika-
terintegrasi-untuk-membentuk-pemahaman-holistik-dan-karakter-sadar-lingkungan-bagi-siswa-
sma/