Anda di halaman 1dari 5

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No.

1, (2012) 1-5

1
Abstrak Telah diaplikasikan TiO
2
anatase dan rutile
dengan komposisi 1%, 1,5%, dan 2% sebagai self cleaning
pada cat tembok menggunakan polietilen glikol (PEG) 6000
sebagai dispersant. Struktur TiO
2
yang digunakan yaitu
anatase yang berfungsi sebagai self cleaning dan rutile yang
berfungsi sebagai perlindungan terhadap sinar ultraviolet.
Pengujian self cleaning menggunakan 2 macam pengotor
yaitu lumpur dan pewarna makanan. Untuk mengetahui
distribusi TiO
2
pada cat dilakukan pengujian menggunakan
Atomic Force Microscopy (AFM). Untuk menghitung luas
area pengotor dan distribusi TiO
2
digunakan software
pengolahan citra. Hasil pengolahan citra menunjukkan TiO
2

2% dengan perbandingan anatase : rutile 90:10 memiliki luas
area pengotor paling kecil yang berarti memiliki sifat self
cleaning terbaik. Berdasarkan hasil pengujian AFM pada
komposisi tersebut menunjukkan distribusi TiO
2
yang lebih
merata dibandingkan dengan sampel yang lain.

Kata Kunci anatase. PEG, rutile, self cleaning, TiO
2

I. PENDAHULUAN
ENGGUNAAN cat pada umumnya digunakan untuk
memberikan keindahan pada cat tembok berupa
warna dan kilap. Disamping sebagai penunjang
keindahan bangunan, cat juga berfungsi memberikan
perlindungan dari pengaruh cuaca luar ataupun
debu/kotoran.Tidak bisa dipungkiri untuk kondisi seperti
di Indonesia, faktor debu ataupun lumpur sangat dominan.
Permukaan film (lapisan cat yang sudah mengering) akan
dengan mudah menjadi kotor dan kusam karena
debu/kotoran yang menempel sehingga diperlukan cat yang
memiliki kemampuan anti kotor agar debu/ kotoran tidak
menempel pada dinding. Untuk mengatasi masalah
tersebut maka diperlukan cat yang memiliki kemampuan
self cleaning.
Salah satu teknologi yang sedang dikembangkan untuk
aplikasi self cleaning pada cat adalah dengan
memanfaatkan fotokatalisis bahan TiO
2
. Fotokatalisis
merupakan proses reaksi kimia yang dibantu oleh energi
dari sinar ultraviolet. Efek fotokatalis TiO
2
dapat
mendekomposisi senyawa organik menjadi CO
2
dan H
2
O,
dimana pada penelitian ini efek fotokatalis TiO
2
akan
digunakan untuk mendekomposisi pengotor yang
menempel pada permukaan cat. Penggunaan TiO
2
pada cat
dapat berfungsi sebagai self cleaning tetapi efeknya adalah
resin/binder dari cat akan mudah mengalami kerusakan
karena TiO
2
merupakan fotokatalis yang menggunakan
sinar ultraviolet untuk prosesnya, sehingga resin yang
terbuat dari bahan polimer akan mengalami pecah
(cracking) karena efek dari sinar UV (Poulsen,2010)
sehingga untuk mengurangi hal tersebut diperlukan
komposisi massa dan fasa TiO
2
yang sesuai.
Dari penelitian yang dilakukan oleh (Slamet,2008)
polietilen glikol (PEG) telah berhasil digunakan untuk
mendistribusikan TiO
2
pada aplikasi rekayasa plastik anti
kabut dan swa bersih. Pada penelitian ini digunakan PEG
6000 sebagai dispersant TiO
2
, dikarenakan bahan TiO
2

merupakan powder yang partikelnya cenderung lengket
satu sama lain atau mengalami penggumpalan secara
mikroskopis, oleh karena itu diperlukan dispersant untuk
memisahkan partikel-partikel TiO
2
agar memiliki jarak
yang renggang apabila dicampurkan pada cat. Apabila
dispersant telah melapisi partikel TiO
2
, maka dispersant
akan mencegah terjadinya penggumpalan TiO
2
.
Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan bahan
TiO
2
pada cat tembok sehingga dapat dihasilkan cat yang
memiliki kemampuan self cleaning. Selanjutnya dilakukan
perbandingan sifat self cleaning antara cat tembok yang
telah dicampur dengan TiO
2
dengan cat tembok tanpa
campuran TiO
2
.

II. METODE PENELITIAN
A. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini
antara lain : Nano TiO
2
Degussa P25 struktur anatase dan
rutile, akuades, polietilen glikol dengan berat molekul
6000, cat paragon warna putih, dan papan asbes sebagai
objek untuk pengecatan dengan ukuran 10 x 10 cm . Pada
tabel 1 menunjukkan prosentase TiO
2
yang digunakan pada
penelitian ini.
B. Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri
dari peralatan untuk pembuatan sampel dan peralatan
untuk karakterisasi. Peralatan yang digunakan pembuatan
sampel adalah timbangan digital, gelas kimia, gelas ukur,
magnetic stirrer, furnace, kuas, mixer. Peralatan
karakterisasi yaitu X-ray Diffraction (XRD) Phillips
XPert MPD untuk mengetahui struktur TiO
2
, Fourier
Transform Infrared (FTIR) thermo scientific tipe nicolet
iS10 untuk mengetahui jenis ikatan kimia yang ada dalam
suspensi TiO
2
/PEG 6000, Atomic Force Microscope
(AFM) untuk mengetahui distribusi TiO
2
pada lapisan cat
yang sudah mengering. Untuk membandingkan sifat self
Aplikasi TiO
2
Sebagai Self Cleaning pada Cat
Tembok dengan Dispersant Polietilen Glikol (PEG)
Nining Kusmahetiningsih
1)
, Dyah Sawitri
2)

Jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: joe@ep.its.ac.id
2)

P
2

cleaning dan distribusi TiO
2
digunakan software
pengolahan citra

III. HASIL DAN DISKUSI

A. Karakterisasi XRD

Pada gambar 1 merupakan hasil XRD dari nano-TiO
2

Degussa P25. Hasil uji XRD pada Gambar 1 memiliki
puncak yang sesuai dengan data standar TiO
2
fasa anatase
pada 2 = 25,26; 37.76; 47,94 ; 53,9 dan 62,64, sehingga
dapat diketahui bahwa nano-TiO
2
Degussa P25 merupakan
fasa anatase.

Gambar. 1. Hasil uji XRD nano-TiO2 Degussa P25 anatase.

Gambar. 2. Hasil uji XRD nano-TiO2 Degussa P25 rutile.

Gambar 2 adalah hasil XRD nano-TiO
2
Degussa
P25 yang telah dikalsinasi dengan suhu 1000
o
C selama 2.
Dari gambar 2 memiliki puncak yang sesuai dengan data
standar TiO
2
fasa rutile pada 2 = 27,46; 36,10; 44,06;
54,34; dan 56,64 sehingga dapat dikatakan bahwa telah
berhasil dilakukan pembentukan TiO
2
yang memiliki fasa
rutile.

B. Pengujian Self Cleaning
Pengujian self cleaning dilakukan dengan
menggunakan dua jenis pengotor yaitu lumpur dan
pewarna makanan. Sampel yang telah diberi pengotor
kemudian dijemur selama 40 jam dengan rentang
pengambilan foto setiap 10 jam.
Hasil pengujian self cleaning dengan pengotor lumpur
ditunjukkan pada gambar 3 sampai dengan gambar 7.


Gambar 3. Sampel awal sebelum dijemur.



Gambar 4. Sampel setelah penjemuran 10 jam.



Gambar 5. Sampel setelah penjemuran 20 jam.



Gambar 6. Sampel setelah penjemuran 30 jam.

Tabel 1.
Prosentase TiO2
Nomor
Sampel
TiO2 (%) Anatase : Rutile
1 1 10 : 90
2 1 50 : 50
3 1 90 : 10
4 1.5

10 : 90
5 1.5 50 : 50
6 1.5 90 : 10
7 2

10 : 90
8 2 50 : 50
9
10
2
Cat biasa
90 : 10
-


JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-5

3

Gambar 7. Sampel setelah penjemuran 40 jam.

Dari gambar 3 sampai gambar 7 terlihat bahwa pada
sampel 1 semakin lama dilakukan penjemuran maka
pengotor yang menempel pada sampel semakin berkurang,
hal ini juga terjadi untuk sampel yang lain. Gambar 7
merupakan kondisi ketika sampel telah dijemur selama 40
jam. Dari gambar tersebut terlihat bahwa sampel
kesembilan lebih bersih dibandingkan dengan sampel yang
lain.
Hasil pengujian self cleaning dengan pengotor lumpur
ditunjukkan pada gambar 8 sampai dengan gambar 12.


Gambar 8. Sampel awal sebelum dijemur.


Gambar 9. Sampel setelah penjemuran 10 jam.


Gambar 10. Sampel setelah penjemuran 20 jam.


Gambar 11. Sampel setelah penjemuran 30 jam.


Gambar 12. Sampel setelah penjemuran 40 jam.

Pengujian self cleaning dengan pengotor pewarna pada
kondisi awal ditunjukkan oleh gambar 8, selanjutnya
setelah dilakukan penjemuran selama 10 jam (gambar 9)
20 jam (gambar 11) dan 30 jam (gambar 11) terlihat
bahwa terjadi degradasi pengotor pewarna.
Pada gambar 12 yaitu kondisi sampel setelah dilakukan
penjemuran selama 40 jam memperlihatkan bahwa sampel
satu sampai sembilan lebih bersih dibandingkan dengan
sampel ke sepuluh.
Tabel 2 menunjukkan fungsi pada trendline dan laju
degradasi awal degradasi pengotor lumpur. Fungsi
trendline dan laju degradasi awal pengotor pewarna
ditunjukkan pada tabel 3.
Tabel 2.
Hasil pengolahan citra pengujian self cleaning dengan pengotor lumpur
Nomor
Sampel
TiO2 (%)
Anatase :
Rutile

Fungsi pada
trendline
Laju
degradasi
awal pengotor
(cm
2
/menit)
1 1 10 : 90 93.07e
-0.46x
0.0152
2 1 50 : 50 115.86e
-0.49x
0.0192
3 1 90 : 10 113.3e
-0.56x
0.0188
4 1.5

10 : 90 93.49e
-0.37x
0.0152
5 1.5 50 : 50 114.03e
-0.5x
0.0189
6 1.5 90 : 10 142.21e
-0.6x
0.0237
7 2 10 : 90 92.92e
-0.37x
0.0151
8 2 50 : 50 132.77e
-0.57x
0.0221
9 2 90 : 10 212.18e
-0.83x
0.0354
10 Cat biasa - 116.32e
-0.48x
0.0192


Tabel 3.
Hasil pengolahan citra pengujian self cleaning dengan pengotor pewarna
Nomor
Sampel
TiO2 (%)
Anatase :
Rutile

Fungsi pada
trendline
Laju
degradasi
awal pengotor
(cm
2
/menit)
1 1 10 : 90 78.29e
-0.47x
0.0129
2 1 50 : 50 73.08e
-0.55x
0.0121
3 1 90 : 10 71.69e
-0.64x
0.0119
4 1.5

10 : 90 61.96e
-0.39x
0.0101
5 1.5 50 : 50 76.78e
-0.43x
0.0126
6 1.5 90 : 10 104.58e
-0.603x
0.0127
7 2 10 : 90 92.92e
-0.75x
0.0174
8 2 50 : 50 55.03e
-0.76x
0.0092
9 2 90 : 10 53.98e
-0.95x
0.009
10 Cat biasa - 68.81e
-0.29x
0.0108

Berdasarkan tabel 2 dan tabel 3, sampel TiO
2
2 %
dengan perbandingan anatase : rutile 90:10 memiliki nilai
ekponen paling negatif.
Dari gambar 7 dan gambar 13 yaitu gambar setelah
sampel dijemur selama 40 jam diproses dengan
menggunakan software pengolahan citra untuk mengukur
4

luas sisa pengotor dan prosentase sisa pengotor dari
pengotor yang masih ada pada sampel.


Gambar 13. Grafik nilai luas sisa pengotor dan prosentase sisa pengotor
lumpur pada pengujian self cleaning.


Gambar 14. Grafik nilai luas sisa pengotor dan prosentase sisa pengotor
pewarna pada pengujian self cleaning.

Gambar 13 dan 14 memperlihatkan bahwa sampel yang
memiliki nilai luas sisa pengotor dan prosentase sisa
pengotor paling kecil adalah sampel TiO2 2% dengan
anatase : rutile 90:10.

C. Pengujian Dispersi TiO
2
pada cat dengan Atomic
Force Microscope (AFM)
Pengujian dispersi TiO
2
dilakukan pada sampel TiO
2

1% dengan perbandingan anatase : rutile 50:50 dan TiO
2

2% dengan perbandingan anatase : rutile 90:10. Untuk
mengetahui dispersi TiO
2
digunakan pengolahan citra
untuk mengukur nilai luas partikel TiO
2
, prosentase
partikel TiO
2
, dan luas rata-rata partikel TiO
2
.
Pada gambar 15 merupakan gambar hasil pengujian
AFM untuk sampel TiO
2
1% dengan perbandingan anatase
: rutile 50:50 dan TiO
2
2% dengan perbandingan anatase :
rutile 90:10. Bagian gambar yang memiliki nilai intensitas
yang lebih besar (terang) merupakan partikel-partikel
TiO
2
.



(a) (b)
Gambar 15. Hasil pengujian AFM TiO2 a)1% dengan perbandingan
anatase : rutile 50:50, b) TiO2 2% dengan perbandingan
anatase : rutile 90:10

Tabel 4 berikut menunjukkan nilai luas partikel TiO
2
,
prosentase partikel TiO
2
, dan luas rata-rata partikel TiO
2
.
dari hasil pengolahan citra pada gambar pengujian
dispersi TiO
2
dengan AFM :

Tabel 4.
Hasil pengolahan citra pengujian self cleaning dengan pengotor pewarna
Nomor
Sampel
TiO2
(%)
Anatase :
Rutile
Luas sisa
pengotor
(cm
2
)
Average
Size
(cm
2
)
Prosentase
sisa pengotor
(cm
2
)
1 1 10 : 90 15.445 0.065 19.9
2 2 50 : 50 11.656 0.037 14.3

D. Diskusi.
Pada pengujian self cleaning dengan pengotor
lumpur, dari gambar 7 dapat dilihat sampel yang paling
bersih adalah sampel ke sembilan yaitu sampel TiO
2
2 %
dengan perbandingan anatase : rutile 90:10.
Berdasarkan hasil pengolahan citra dapat diperoleh
fungsi trendline dan nilai laju degradasi awal pengotor
lumpur seperti pada tabel 2. Dari gambar 4.15 terlihat
bahwa grafik seluruh sampel memiliki fungsi eksponensial
negatif (y = Ae
-ax
), semakin negatif nilai a maka semakin
cepat grafik menurun mendekati sumbu x. Pada saat awal
(0-10 jam) laju degradasi pengotor besar dan secara
bertahap mengalami penurunan. Dari tabel 2, TiO
2
2 %
dengan perbandingan anatase : rutile 90:10 memiliki nilai a
paling negatif yaitu -0.83 dan laju degradasi awal
pengotor yang paling besar yaitu 0.0354 cm
2
/menit, hal ini
menunjukkan proses degradasi pengotor pada komposisi
tersebut berlangsung lebih baik dan lebih cepat
dibandingkan dengan sampel yang lain.
Berdasarkan gambar 13 yaitu grafik nilai luas sisa
pengotor dan prosentase sisa pengotor dari sampel ke
sembilan bernilai paling kecil, hal ini menunjukkan sifat
self cleaning-nya semakin baik. Dari gambar 13 dapat
diketahui bahwa nilai luas sisa pengotor dan prosentase
sisa pengotor semakin kecil seiring bertambahnya nilai
struktur anatase yang digunakan untuk setiap prosentase
TiO
2
. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dijelaskan
bahwa semakin besar jumlah TiO
2
dengan struktur anatase
yang digunakan maka efek fotokatalis akan menjadi
semakin baik sehingga akan menghasilkan sifat self
cleaning yang semakin baik.
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-5

5
Pengujian self cleaning dengan menggunakan
pengotor pewarna makanan menunjukkan hasil yang sama
dengan pengujian self cleaning menggunakan pengotor
lumpur yaitu sampel yang memiliki sifat self cleaning
terbaik adalah sampel TiO
2
2 % dengan perbandingan
anatase : rutile 90:10. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel
3 yang menunjukkan jika sampel ke sembilan memiliki
nilai nilai luas sisa pengotor dan prosentase sisa pengotor
paling kecil. Dari grafik pada gambar 14 menunjukkan
nilai luas sisa pengotor dan prosentase sisa pengotor
semakin kecil seiring bertambahnya nilai struktur anatase
yang digunakan untuk setiap prosentase TiO
2
.
Laju degradasi pengotor pewarna juga merupakan
fungsi eksponensial negative, artinya laju degradasi
pengotor pada saat awal penjemuran besar dan secara
bertahap mengalami penurunan. Dari tabel 4.7, TiO
2
2 %
dengan perbandingan anatase : rutile 90:10 memiliki nilai a
paling negatif yaitu -0.95, sehingga pada komposisi
tersebut memiliki kemampuan degradasi pengotor yang
lebih baik dibandingkan dengan sampel yang lain.
Hasil pengujian dispersi TiO
2
menggunakan Atomic
Force Microscope (AFM) ditunjukkan gambar 15. Pada
gambar tersebut dapat diketahui bahwa bagian yang
memiliki intensitas lebih tingi (berwarna putih) merupakan
TiO
2
(Hasan, 2008), Oleh karena itu untuk mengetahui
nilai dispersi TiO
2
maka dilakukan pengolahan citra untuk
mengetahui nilai luas partikel TiO
2
, prosentase partikel
TiO
2
, dan luas rata-rata partikel TiO
2
. Pada bagian gambar
hasil AFM yang intensitasnya lebih tinggi. Pengujian
dispersi TiO
2
dilakukan pada dua sampel yaitu TiO
2
1%
dengan perbandingan anatase : rutile 50:50 dan TiO
2
2%
dengan perbandingan anatase : rutile 90:10. Dari tabel 4
dapat diketahui bahwa sampel TiO
2
2% memiliki nilai
average size yang lebih kecil daripada TiO
2
1%, hal
tersebut menunjukkan bahwa dispersi TiO
2
pada sampel
TiO
2
2% dengan perbandingan anatase:rutile 90:10 lebih
merata. Sampel TiO
2
2% dengan perbandingan anatase :
rutile 90:10 memiliki sifat self cleaning yang baik karena
dispersi TiO
2
pada permukaan film cat lebih merata.
Distribusi TiO
2
pada permukaan film cat akan
mempengaruhi proses fotokatalis yang terjadi, semakin
merata dispersi TiO
2
maka proses fotokatalis akan menjadi
semakin baik.
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengambilan data dan analisa hasil
yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan ini sebagai
berikut :
1. Dalam penelitian ini, TiO
2
telah berhasil
diaplikasikan pada cat tembok untuk menghasilkan
sifat self cleaning, yang ditunjukkan oleh hasil
pengolahan citra.
2. Sampel yang memiliki kemampuan self cleaning
terbaik adalah sampel TiO
2
2% dengan perbandingan
anatase : rutile 90 :10 dengan persamaan laju
degradasi yaitu 212.18e
-0.83X
untuk pengotor lumpur
dan 53.98e
-0.95X
untuk pengotor pewarna
3. Cat tembok dengan campuran TiO
2
memiliki sifat self
cleaning yang lebih baik dibandingkan dengan cat
tembok tanpa campuran TiO
2
.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Aprilita, N.H, Kartini, I, Ratnaningtyas, S.H. 2008. Self-cleaning
Kaca Berbasis Lapis Tipis TiO2 dengan Perlakuan Asam dan Asam
Palmitat sebagai Model Polutan, Indo. J. Chem., 2008, 8 (2), 200
206.
[2] Benedix, Roland., et al. 2000, Application of Titanium Dioxide
Photocatalysis to Create Self-Cleaning Building Materials,
LACER No. 5, 2000.
[3] Burgess, K.D. Self Cleaning Titania-Polyurethane Composites.
2007. Faculty of Graduates Studies, The university of Western
Ontario, London.
[4] Charpentier, Paul A., et al. 2010. Self Cleaning Coating, PCT WO
2010/078649 A2.
[5] Diebold, U. 2003. The surface science of titanium dioxide. Surface
science report 48: 53-229.
[6] Ferreira TA, Rasband W. 2010. Thesoftware pengolahan citra
User Guide Version 1.43. Canada: McGill University.
[7] Hillebrandt, Poulsen. et al. 2010. Self Cleaning Coating
Composition. PCT WO 2010/269997 A1.
[8] Macias, L, T. 2003. The Design and Evaluation of A Continuous
Photocatalytic Reactor Utilizing Titanium Dioxida in Thin Film of
Mesoporous Sililca. A Thesis for the
[9] Degree of Master of Science in Chemical Engineering in
Mississippi State University.
[10] M. M. Hasan, et al. 2008. Effects of Annealing Treatment on
Optical Properties of Anatase TiO2 Thin Films.International
Journal of Chemical and Biological Engineering 1:2 2008.
[11] M. Schiavello. 1997. Heterogeneous Photocatalysis. John Wiley &
Sons.
[12] Palupi, Endang. 2006. Degradasi Methylene Blue dengan Metode
Fotokatalisi dan Fotoelektrokatalisis Menggunakan Film TiO2.
Departemen Fisika, Institut Pertanian Bogor.
[13] PENG Bing, HUANG Yi,CHAI Li-yuan, et al. 2007. Influence of
polymer dispersants on dispersion stability of nano-TiO2 aqueous
suspension and its application in inner wall latex paint. J. Cent.
South Univ. Technol. (2007)04049006.
[14] Slamet, C.H.D, Alwi, J. Viriya. 2008, Rekayasa plastik berlapis
nanokristal TiO2 untuk aplikasi anti kabut dan swa-bersih.
Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia.
[15] Tristantini, et al. 2011. Modification of TiO2 Nanoparticle with
PEG and SiO2 For Anti-fogging and Self-cleaning Application.
IJET-IJENS Vol: 11 No: 02.