Anda di halaman 1dari 6

Sarana Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat

Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan


kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan
dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di
masyarakat. Upaya kesehatan bersumber daya masyarakat
(UKBM) diantaranya adalah Posyandu, Polindes, dan Pos
Obat Desa (POD).
Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang
paling dikenal oleh masyarakat. Posyandu menyelenggarakan
minimal 5 program prioritas yaitu kesehatan ibu dan anak,
keluarga berencana, perbaikan gizi, imunisasi dan
penanggulangan diare. Untuk memantau perkembangannya
posyandu dikelompokkan menjadi 4 strata yaitu posyandu
strata pratama, posyandu strata madya, posyandu strata
purnama dan posyandu strata mandiri.
Polindes merupakan salah satu bentuk peran serta
masyarakat dalam rangka mendekatkan pelayanan kebidanan
melalui penyediaan tempat pertolongan persalinan dan
pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga
berencana.
Warung Obat Desa (WOD) merupakan
wujud peran serta masyarakat dalam hal pengobatan
sederhana, terutama untuk penyakit yang sering terjadi pada
masyarakat setempat. Namun kenyataan yang terjadi di
Propinsi Kalimantan Tengah Warung Obat Desa ini belum
berkembang dengan baik, sehingga pada tahun 2005 dilakukan
kembali sosialisasi untuk menggairahkan kembali semangat
masyarakat menghidupkan kembali Warung Obat Desa.
.

upaya-upaya pembinaan untuk pemberdayaan masyarakat di
bidang kesehatan ditingkatkan melalui program-program yang
telah ada yakni program penganggulangan dan pencegahan
penyakit menular DBD melalui pengaktifan kembali gerakan
Jumat bersih yang diutamakan pemberantasan sarang
nyamuk, pemberdayaan upaya kesehatan bersumberdaya
masyarakat Polindes, Posyandu, untuk mencegah dan
mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat
serta bencana dengan mendorong menjadi Desa Siaga.
Dalam rangka mewujudkan visi Masyarakat Yang Mandiri
Untuk Hidup Sehat denggan misi Membuat Rakyat Sehat,
Departemen Kesehatan telah menetapkan empat strategi utama
yaitu : 1. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat
untuk hidup sehat 2. Meningkatkan akses masyarakat terhadap
pelayanan kesehatan berkualitas 3. Meningkatkan sistem
surveilans, monitoring dan informasi kesehatan; dan 4.
Meningkatkan pembiayaan kesehatan
Sasaran utama pembangunan kesehatan nasional adalah
mewujudkan masyarakat mandiri untuk hidup sehat tanpa
memperhatikan status sosial masyarakat, kaya dan miskin,
pintar dan bodoh, di desa maupun di kota, di daerah tertinggal
maupun di daerah maju.
.

Untuk mempercepat pembangunan kesehatan, Depkes telah
menetapkan visi Masyarakat yang Mandiri Untuk Hidup
Sehat dan misi Membuat Rakyat Sehat . Untuk
mencapai visi dan misi tersebut dilakukan melalui 4 strategi
utama yaitu menggerakkan dan memberdayakan masyarakat
untuk hidup sehat, meningkatkan akses masyarakat terhadap
pelayanan kesehatan yang berkualitas, meningkatkan sistem
surveilans, monitoring dan informasi kesehatan serta
meningkatkan pembiayaan kesehatan.
Menkes menyatakan, strategi menggerakkan dan
memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat didasarkan atas
pemahaman dasar bahwa kesehatan masyarakat tergantung
pada masyarakat itu sendiri. Ahli kesehatan, Blum
menyatakan bahwa status kesehatan dipengaruhi faktor utama
yaitu perilaku masyarakat yang sehat, lingkungan hidup yang
sehat dan tersedianya pelayanan kesehatan yang bermutu dan
terjangkau. Perilaku dan lingkungan yang sehat tergantung
pada masyarakat, sedangkan pelayanan kesehatan merupakan
tanggung jawab pemerintah dan masyarakat melalui
pengembangan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat
(UKBM), kata Menkes.
Pondok Pesantren yang sehat akan meningkatkan kualitas para
santri penghuninya. Pondok pesantren yang sehat akan
menjadi contoh dan panutan masyarakat di sekitarnya untuk
hidup sehat. Sedangkan para kyai berperan sebagai sumber
rujukan kehidupan berwawasan sehat. Para santri berperan
sebagai inovator, motivator, activator dan implementator
perilaku hidup bersih dan sehat serta pengembangan berbagai
upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat. Pondok
pesantren diharapkan menjadi penentu arah pengembangan
umat Islam, yang merupakan sebagian besar masyarakat
Indonesia, papar Menkes.
Penggerakan masyarakat melalui Poskestren yang merupakan
wujud UKBM di lingkungan pondok pesantren mempunyai
prinsip dari, oleh dan untuk warga pondok pesantren yang
mengutamakan pelayanan promotif (peningkatan) dan
preventif (pencegahan) tanpa mengabaikan aspek kuratif
(pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan) melalui
binaan Puskesmas setempat. Pada prinsipnya pengembangan
Poskestren adalah upaya masyarakat, karena itu Menkes
mengharapkan dalam pengembangan Poskestren para
pengasuh tidak terpaku pada bantuan pemerintah sebagaimana
yang dicontohkan Ponpes Salaf ini, ujar Siti Fadilah Supari.
Menkes juga mengharapkan Ponpes tidak hanya
memberdayakan masyarakat Pesantren, tetapi juga seluruh
masyarakat desa melalui Desa Siaga. Desa Siaga adalah desa
yang masyarakatnya memiliki kesiapan sumberdaya dan
kemampuan mencegah dan mengatasi masalah kesehatan.
Desa Siaga dapat terwujud melalui pengembangan Poskestren
dan Poskesdes.
Pelayanan yang disediakan oleh Poskestren adalah pelayanan
kesehatan yang meliputi promotif, preventif, rehabilitatif, dan
kuratif pengobatan. Khusus untuk pelayanan kuratif dan
beberapa pelayanan preventif tertentu seperti imunisasi dan
pemeriksaan kesehatan dilaksanakan oleh petugas kesehatan.
Termasuk dalam upaya promotif antara lain konseling
kesehatan, penyuluhan kesehatan, perlombaan di bidang
kesehatan dan olah raga secara teratur. Sedangkan upaya
preventif meliputi pemeriksaan berkala, penjaringan kesehatan
santri, imunisasi, kebersihan diri dan kebersihan lingkungan.
Upaya kuratif dan rehabilitatif meliputi pengobatan sederhana
dan rujukan kasus.
Tempat penyelenggaraan Poskestren, sekurang-kurangnya
dilengkapi dengan tempat pemeriksaan, tempat konsultasi
(gizi, sanitasi dan lain-lain), serta tempat penyimpanan obat.
Selain sarana tersebut Poskestren perlu dilengkapi dengan
peralatan medis (sesuai jenis pelayanan), peralatan non medis
( sarana pencatatan, meja, kursi, lemari sesuai kebutuhan)
serta obat-obatan ( jenis dan jumlah obat-obatan di Poskestren
sesuai dengan petunjuk Kepala Puskesmas setempat)
.
Pemberdayaan Kesehatan Desa
oleh:elontah tanggal: 09.Apr.2008 1447 Klik
PERMASALAHAN utama pembangunan kesehatan adalah
masalah perilaku masyarakat. Sampai saat ini, sebagian
anggota masyarakat belum berperilaku hidup bersih dan sehat.
Dalam upaya mendorong kemandirian masyarakat untuk
berperilaku hidup bersih dan sehat, dibutuhkan partisipasi
masyarakat melalui pembangunan kesehatan yang berupa
Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM).
Bentuk-bentuk UKBM yang sudah ada pada saat ini antara
lain Posyandu, Saka Bakti Musada (SBH), Pos Upaya
Kesehatan Kerja (UKK), dan Dana Sehat.Namun pada
perkembangannya, perannya belum begitu menggembirakan,
bahkan berkesan masih berjalan sendiri-sendiri. Dua belas
November 2007 lalu merupakan Hari Kesehatan Nasional ke-
43. Peringatannya bertema "Rakyat Sehat, Negara Kuat".
Tujuan dari tema itu adalah menggerakkan masyarakat untuk
berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) agar tercipta
kemandirian masyarakat di bidang kesehatan.
Di Provinsi Jawa Tengah, peringatan tersebut diisi dengan
kegiatan-kegiatan yang bersifat pemberdayaan masyarakat,
misalnya seminar, dialog interaktif, dan pemberantasan sarang
nyamuk (PSN), yang kemudian ditutup dengan acara puncak
yaitu kegiatan Jambore Poliklinik Kesehatan Desa (JPKD).
Dasar Musyawarah
Apa yang disebut Poliklinik Kesehatan Desa (PKD)? Ia adalah
suatu upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM)
yang dibentuk oleh, untuk, dan bersama masyarakat setempat
atas dasar musyawarah desa/kelurahan dan didukung oleh
tenaga kesehatan profesional untuk melakukan upaya
promotif, preventif, dan kuratif sesuai dengan kewenangannya
di bawah pembinaan teknis Puskesmas (Peraturan Gubernur
No 90/ 2005).
Dengan demikian PKD adalah merupakan aset desa yang
pengelolaan dan kesinambungannya sepenuhnya bergantung
kepada pemerintah/ masyarakat desa/ kelurahan. Gagasan
awal didirikannya PKD adalah dari Gubernur Jawa Tengah
waktu itu (Mardiyanto). Gagasan itu muncul setelah melihat
permasalahan kesehatan yang ada, misalnya gizi buruk,
penyakit-penyakit menular, serta penyakit infeksi lainnya yang
banyak diderita oleh masyarakat miskin dan tinggal di
pedesaan.
Harapan dengan adanya PKD tersebut, permasalah kesehatan
di Jawa Tengah akan segera teratasi. Pendirian PKD dilakukan
dengan memanfaatkan adanya Pondok Bersalin Desa
(Polindes) dan tenaga bidan yang ada di 4.322 desa, yang
selama ini hanya memberikan pelayanan kesehatan ibu dan
anak saja.
Polindes tersebut kemudian dikembangkan menjadi PKD,
yang tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan ibu dan
anak, tetapi yang paling utama adalah pemberdayaan
masyarakat, deteksi dini, serta kegawatdaruratan.
Program pemberdayaan "dianggap" program yang kurang
populis, karena tidak ada sumbangsihnya dengan pendapatan
asli daerah (PAD), bahkan ada yang menganggap hanya
membebani pemerintah daerah, serta tidak menghasilkan apa-
apa. Hal tersebut sangatlah wajar, karena hasil dari
pemberdayaan masyarakat tidak bisa dinikmati dan dilihat
secara cepat, namun memerlukan waktu dan proses yang lama.
Hal tersebut sangatlah wajar, karena selama ini masyarakat
hanya dijadikan objek pembangunan semata. Masyarakat
jarang dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi dalam pembangunan kesehatan sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan serta potensi yang ada. Akibatnya,
terhadap program-program yang ditawarkan oleh pemerintah,
masyarakat kurang mempunyai rasa handarbeni.
Pemberdayaan masyarakat adalah segala upaya fasilitasi yang
bersifat noninstruktif guna meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan masyarakat agar mampu mengidentifikasi
masalah, merencanakan dan mencari pemecahannya dengan
memanfaatkan potensi setempat dan fasilitas yang ada, baik
dari instansi lintas sektoral maupun LSM dan tokoh
masyarakat (UNICEF, 1999).
Hasil dari pemberdayaan masyarakat adalah kemandirian
masyarakat dan keluarga. Dengan demikian, pemberdayaan
masyarakat merupakan proses, sedangkan kemandirian
masyarakat merupakan hasilnya. Karenanya, kemandirian
masyarakat bisa diartikan sebagai kemampuan untuk dapat
mengidentifikasi masalah, merencanakan, dan melakukan
pemecahan masalahnya dengan memanfaatkan potensi
setempat, tanpa bergantung kepada bantuan dari luar.
Program-program yang berbentuk pemberdayaan masyarakat,
sudah saatnya mendapatkan prioritas dalam pembangunan,
khususnya di bidang kesehatan. Potensi yang ada di
masyarakat terus digali dan dikembangkan, sehingga
masyarakat diharapkan bisa mengupayakan kesehatannya
secara mandiri tanpa menggantungkan kepada pemerintah.
Oleh: dr. Hartanto, M.Med.Sc.

Sarana kesehatan bersumberdaya masyarakat sbb:
1. Puskesmas
2. Puskesmas Pembantu (Pustu)
3. Pondok Bersalin Desa (Polindes) atau Pos Kesehatan
Nagari
Pondok Bersalin Desa (Polindes) berfungsi sebagai sarana
pelayanan persalinan dan pemeriksaan kehamilan serta
pelayanan kesehatan lainnya di desa/nagari.
4. Puskesmas Keliling (Puskel)
Seluruh Puskesmas yang ada di Kabupaten Sijunjung sudah
dilengkapi dengan fasilitas Puskesmas Keliling (Puskel) roda
4 dan untuk puskesmas yang strategis dilengkapi dengan 2
(dua) unit Puskel. Setiap tahun selalu diadakan Puskel baru
melalui dan DAK non-DR bidang Kesehatan untuk mengganti
Puskel yang sudah berumur lebih dari 10 tahun.

IPKS (Indeks Potensi keluarga sehat), merupakan indikator
yang merupakan gambaran adanya partisipasi masyarakat (ada
7 indikator), salah satu indikator kadarzi (menimbang anak)
termasuk dalam IPKS. IPKS menjadi salah satu sukses
Kepala Daerah.
Ke tujuh indikator tersebut adalah :
Tersedianya air bersih
Tersedianya jamban keluarga
Lantai rumah bukan dari tanah
Bila ada PUS menjadi peserta KB
Bila punya balita mengikuti kegiatan penimbangan
Tidak ada anggota keluarga yang merokok
Menjadi anggota keluarga dana sehat.



D. Jenis-jenis indikator
Jenis indikator ada 3, yaitu indikator input, indikator proses
dan indikator output/outcome. Apabila diuraikan sebagai
berikut :
Indikator Input
Yaitu indikator yang berkaitan dengan penunjang pelaksanaan
program dan turutmenentukan keberhasilan program.
Seperti : tersedia air bersih, tersedia jamban yang bersih,
tersedia tempat sampah,dll.
Indikator Proses
Yaitu indikator yang menggambarkan bagaimana proses
kegiatan/program berjalanatau tidak.
Seperti: terpelihara tempat penampungan air, tersedia alat
pembersih jamban,digunakan dan dipeliharanya tempat
sampah dan lain-lain.
Indikator output/outcome
Yaitu indikator yang menggambarkan bagaimana hasil output
suatu program kegiatan telah berjalan atau tidak.
Seperti : Digunakannya air bersih, digunakannya jamban, di
halaman dan di dalam ruangan dalam keadaan bersih dll.
Ukuran-ukuran yang sering digunakan sebagai indikator
adalah angka absolut, rasio, proporsi, angka/tingkat. Yang
perlu diingat suatu indikator tidak selalu menjelaskan keadaan
secara keseluruhan, tetapi kadang-kadang hanya memberi
petunjuk (indikasi) tentang keadaan keseluruhan tersebut
sebagai suatu pendugaan (proxy).

E. Indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Mengacu pada pengertian perilaku sehat, indikator ditetapkan
berdasarkan area / w-ilayah
1. Indikator Nasional
Ditetapkan 3 indikator, yaitu:
a. Persentase penduduk tidak merokok.
b. Persentase penduduk yang memakan sayur-sayuran dan
buah-buahan.
c. Persentase penduduk melakukan aktifitas fisik/olah raga.
Alasan dipilihnya ke tiga indikator tersebut berdasarkan issue
global dan regional (Mega Country Health Promotion
Network. Healthy Asean Life Styles), seperti merokok telah
menj adi issue global, karena selain mengakibatkan penyakit
seperti
jantung, kankerparu-paru juga disinyalir menjadi entry point
untuk narkoba.
Pola makan yang buruk akan berakibat buruk pada semua
golongan umur, bila terjadi pada usia balita akan menj adikan
generasi yang lemah/generasi yang hilang dikemudian hari.
Demikian juga bila terjadi pada ibu hamil akan melahirkan
bayi yang kurang sehat, bagi usia produktif akan
mengakibatkan produktifitas menurun.Kurang aktifitas fisik
dan olah raga mengakibatkan metabolisme tubuh terganggu,
apabila berlangsung lama akan menyebabkan berbagal
penyakit, seperti jantung, paru-paru, dan lain-lain.
2. Indikator Lokal Spesifik
Yaitu indikator nasional ditambah indikator lokal spesifik
masingmasing daerah sesuai dengan situasi dan kondisi
daerah.
Ada 16 indikator yang dapat digunakan uttuk rnengukur
perilaku sehat sebagai berikut :
1. lbu hamil memeriksakan kehamilannya.
2. Ibu melahirkan ditolong oleh tenaga kesehatan.
3. Pasangan usia subur (PUS ) memakai alat KB.
4. Balita ditimbang.
5. Penduduk sarapan pagi sebelum melakukan aktifitas.
6. Bayi di imunisasi lengkap.
7. Penduduk minum air bersih yang masak.
8. Penduduk mengaiuiakan jamban sehat.
9. Penduduk mencuci tangan pakai sabun.
10. Penduduk menggosok gigi sebelum tidur.
11. Penduduk tidak menggunakan napza.
12. Penduduk mempunyai Askes/ tabungan/ uang/ emas.
13 . Penduduk wamta memeriksakan kesehatan secara berkala
den, SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri).
14. Penduduk memeriksakan kesehatan secara berkala un
mengukur hipertensi.
15. Penduduk wanita memeriksakan kesehatan secara berkala
dengan Pap Smear.
16. Perilaku seksual dan indikator lain yang diperlukan sesuai
prioritas masalah kesehatan yang ada didaerah.
3. Indikator PHBS di tiap tatanan
Indikator tatanan sehat terdiri dari indikator perilaku dan
indik, lingkungan di lima tatanan, yaitu tatanan rumah tangga,
tatanan terr kerja, tatanan tempat umum, tatanan Sekolah,
tatanan sarana kesehatan.

1. Indikator tatanan rumah tangga :
a. Perilaku :
1. Tidak merokok
2. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
3. Imunisasi
4. Penimbangan balita
5. Gizi Keluarga/sarapan
6. Kepesertaan Askes/JPKM
7. Mencuci tangan pakai sabun
8. Menggosok gigi sebelum tidur
9. Olah Raga teratur
b. Lingkungan :
1. Ada jamban
2. Ada air bersih
3 . Ada tempat sampah
4. Ada SPAL
5. Ventilasi
6. Kepadatan
7. Lantai
2. Indikator tatanan tempat kerja :
a. Perilaku
1. Menggunakan alat pelindung
2. Tidak merokok/ada kebijakan dilarang merokok
3 . Olah Raga teratur
4. Bebas Napza
5. Kebersihan
6. Ada Asuransi Kesehatan
b. Lingkungan
1. Ada jamban
2. Ada air bersih
3. Ada tempat sampah
4. Ada SPAL
5. Ventilasi
6. Pencahavaan
7. Ada K3 (Kesehatan Keselamatan Kerja)
8. Ada kantin
9. Terbebas dari bahan berbahaya
10. Ada klinik
3. Indikator tatanan tempat umum
a. Perilaku
1. Kebersihan jamban
2 . Kebersihan lingkungan
b. Lingkungan
1. Ada jamban
2. Ada air bersih
3 . Ada tempat sampah
4. Ada SPAL
5. Ada K3 (Kesehatan Keselamatan Kerja)
4. Indikator Tatanan Sekolah :
a. Perilaku
1. Kebersihan pribadi
2. Tidak merokok
3. Olah raga teratur
4. TidakmenggunakanNAPZA
b. Lingkungan
I. Ada jamban
2. Ada air bersih
3. Ada tempat sampah
4. Ada SPAL
5. Ventilasi
6. Kepadatan
7. Ada warung sehat
8. Ada UKS
9. Ada taman sekolah
5. Indikator tatanan sarana kesehatan
a. Perilaku
I. Tidak merokok
2. Kebersihan lingkungan
3. Kebersihan kamar mandi
b. Lingkungan
1. Ada j amban
2. Ada air bersih
3. Ada tempat sampah
4. Ada SPAL
5. Ada IPAL (RS)
6. Ventilasi
7. Tempat cuci tangan
8. Ada pencegahan serangga

F. Cara memperoleh data PHBS
Ada beberapa indikator perilaku sehat yang dapat diperoleh
dengan cara
1. Menggunakan sumber data yang sudah tersedia seperti
?? SUSENAS (Survai Sosial Ekonomi Nasional)
?? SDKI (Survai Demografi dan Kesehatan Indonesia)
?? SAKERTI (Survai Kehidupan Rumah Tangga Indonesia)
?? SURKESNAS (Survai Kesehatan Nasional)
?? SEM (Studi Evaluasi Manfaat), dll.
Sampel data tersebut di ambil sampai dengan tingkat
Kabupaten/Kota saja. Oleh karena itu, daerah dapat
mengembangkan survai cepat PHBS dari tingkat
kabupaten/kota sampai tingkat desa dengan metode sampel
WHO yaitu 210 KK/kabupaten/kota, sehingga tingkat akurasi
dan penajaman permasalahan dapat diperoleh.
2. Mengembangkan survai khusus, apabila ingin memperoleh
data yang khusus seperti survai PBHS balk kuantitatif maupun
kualitatif sesuai perilaku lainnya.
3. Menggunakan laporan yang sudah ada.

.

Indikator PHBS Rumah Tangga
a. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
Adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga keehatan
(bidan, dokter dan tenaga para medis lainnya)
b. Memberi bayi ASI eksklusif
Adalah bayi usia 0 6 bulan hanya diberi ASI saja
tanpa memberikan tambahan makanan atau minuman
lain.
c. Menimbang bayi dan balita
Penimbangan bayi dan balita dimaksudkan untuk
memantau pertumbuhannya setiap bulan.
d. Menggunakan air bersih
Air adalah kebutuhan dasar yang dipergunakan sehari-
hari untuk minum, memasak, mandi, berkumur,
membersihkan lantai, mencuci alat-alat dapur,
mencuci pakaian, dan sebagainya, agar kita tidak
terkena penyakit atau terhindar dari sakit.
e. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
Air yang tidak bersih banyak mengandung kuman dan
bakteri penyebab penyakit. Bila digunakan, kuman
berpindah ke tangan. Pada saat makan, kuman dengan
cepat masuk ke dalam tubuh, yang bisa menimbulkan
penyakit. Sabun dapat membersihkan kotoran dan
membunuh kuman, karena tanpa sabun kotoran dan
kuman masih tertinggal di tangan.
f. Menggunakan jamban sehat
Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai
fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas
tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa
atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi
dengan unit penampungan kotoran dan air untuk
membersihkannnya.
g. Memberantas jentik di rumah
Rumah bebas jentik adalah rumah tangga yang estela
dilakukan pemeriksaan jentik secara berkala tidak
terdapat jentik nyamuk.
h. Makan buah dan sayur setiap hari
Setiap anggota rumah tangga mengkonsumsi minimal
3 porsi buah dan 2 porsi sayuran atau sebaliknya setiap
hari. Makan sayur dan buah setiap hari sangat penting,
karena mengandung vitamin dan mineral yang
mengatur pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh.
i. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
Aktivitas fisik adalah melakukan pergerakan anggota
tubuh yang menyebabkan pengeluaran tenaga yang
sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik,
mental, dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap
sehat dan bugar sepanjang hari.
j. Tidak merokok di dalam rumah
Setiap anggota keluarga tidak boleh merokok di dalam
rumah. Rokok ibarat pabrik bahan kimia. Dalam satu
batang rokor yang dihisap akan dikeluarkan sekitar
4.000 bahan kimia berbahaya, diantaranya yang paling
berbahaya adalah nikotin, tar, dan Carbon Monoksida
(CO).

.....................................

Penilaian Rumah Tangga Sehat
Untuk menilai rumah tangga sehat digunakan 16 variabel,
yang terdiri dari 10 indikator nasional dan 6 indikator local
Jawa Tengah. Spuluh alat ukur (indikator) PHBS nasional
yang terdiri dari 7 indikator PHBS dan 3 indikator GHS.
Tujuh indikator dan definisi operasional PHBS :
a. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah
pertolongan pertama pada persalinan balita termuda
dalam rumah tangga dilakukan oleh tenaga kesehatan
(dokter, bidan, dan paramedik lainnya).
b. Bayi diberi ASI eksklusif adalah bayi termuda usia 0-6
bulan mendapat ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan.
c. Mempunyai jaminan pemeliharaan kesehatan adalah
anggota-anggota rumah tangga mempunyai pembiayaan
pra upaya kesehatan seperti ASKES, Kartu Sehat, Dana
Sehat, Jamsostek, Asuransi Perusahaan, dll.
d. Ketersediaan air bersih adalah rumah tangga yang
memiliki akses terhadap air bersih dan menggunakannya
untuk kebutuhan sehari-hari yang berasal dari : air dalam
kemasan, air ledeng, air pompa, sumber terlindung, mata
air terlindung, dan penampungan air hujan. Sumber air
pompa, sumur dan mata air telindung berjarak minimal 10
m dari tempat penampungan kotoran atau air limbah.
e. Ketersediaan jamban sehat adalah rumah tangga yang
memiliki atau menggunakan jamban leher angsa dengan
tangki septik atau lubang penampung kotoran sebagai
pembuangan akhir.
f. Kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni adalah
rumah tangga yang mempunyai luas lantai rumah yang
ditempati dan digunakan untuk keperluan sehar-hari
dibagi dengan jumlah penghuni (9 m
2
/orang).
g. Lantai rumah bukan tanah adalah rumah tangga yang
mempunyai rumah dengan bagian bawah/dasar/alas
terbuat dari semen, papan, ubin dan kayu.
Tiga indikator gaya hidup sehat (GHS) dan definisi
operasional :
a. Tidak merokok di dalam rumah adalah penduduk/anggota
rumah tangga umur 10 tahun ke atas tidak merokok di
dalam rumah selama ketika berada bersama anggota
keluarga lainnya selam satu bulan terakhir.
b. Melakukan aktifitas fisik setiap hari adalah
penduduk/anggota rumah tangga umur 10 tahun ke atas
dalam satu minggu terakhir melakukan aktivitas fisik
(sedang maupu berat) minimal 30 menit setiap hari.
c. Makan buah dan sayur setiap hari adalah anggota rumah
rumah tangga umur 10 tahun ke atas yang mengkonsumsi
minimal 3 porsi buah dan 2 porsi sayuran atau sebaliknya
setiap hari dalam satu minggu terakhir.
Indikator lokal Jawa Tengah yaitu :
1) Penimbangan balita.
2) Anggota rumah tangga membuang sampah pada tempat
yang semestinya.
3) Anggota rumah tangga terbiasa mencuci tangan sebalum
makan dan sesudah BAB.
4) Anggota rumah tangga menggosok gigi minimal 2 kali
sehari.
5) Anggota rumah tangga tidak minum miras dan tidak
menyalahgunakan narkoba.
6) Anggota rumah tangga melakukan PSN (Pemberantasan
Sarang Nyamuk) minimal seminggu sekali.

Penilaian PHBS institusi Pendidikan
1) Kuku siswa bersih
2) Siswa tidak merokok
3) Gigi bersih
4) Memakai sepatu
5) Ada UKS / P3K
6) Ada Dokter kecil
7) Ada Dana Sehat / JPKM
8) Ada pemberantasan Sarang Nyamuk
9) Ada Air bersih
10) Ada Tempat sampah
11) Warung Sekolah bersih
..................................
Peran kader dalam pemberdayaan rumah tangga sehat
a. Kader kelompok dasawisma
1) Kegiatan kunjungan rumah
Setiap rumah tangga dikunjungi secara berkala,
misalnya 3 bulan sekali atau setiap bulan terutama
untuk :
i. Anggota rumah tangga yang mempunyai masalah
kesehatan.
ii. Anggota rumah tangga yang tidak mampu mengatasi
masalah
2) Kegiatan gerakan kebersihan lingkungan seperti
Gerakan Jumat Bersih untuk pemberantasan sarang
nyamuk di desa/kelurahan.
3) Kegiatan Pos Kesehatan Desa
Seperti terlibat dalam penyebaran informasi kesehatan
dan aktif dalam bersiap siaga dan penanggulangan
masalah kesehatan.
b. Kader posyandu
a. Kegiatan penyuluhan dan penimbangan balita di
posyandu setiap bulan
b. Kegiatan pencatatan dan pemantauan / status gizi dan
kesehatan anak balita di posyandu setiap bulan
c. Kegiatan konseling pertumbuhan balita untuk
membantu ibu balita mengenal masalah pertumbuhan
balita dan pencegahannya
c. Kader PKK
1) Terlibat dalam penyusunan rencana pelaksanaan dan
penilaian lomba PHBS di rumah tangga di tingkat
desa/ kelurahan
2) Berperan aktif dalam sosialisasi PHBS di rumah
tangga ke seluruh kader desa / kelurahan
3) Terlibat dalam pemantauan kemajuan pencapaian
rumah tangga sehat di wilayahnya melalui pencatatan
PHBS di rumah tangga
.....................................
Manfaat PHBS Bagi Masyarakat
i Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat
ii Masyarakat mampu mencegah dan menaggulangi
masalah-masalah kesehatan
iii Masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang
ada
iv Masyarakat mampu mengembangkan Upaya
Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) seperti
posyandu, jaminan pemeliharaan kesehatan, tabungan
ibu bersalin (TABULIN), arisan jamban, kelompok
pemakai air, ambulans desa, dan lain-lain.