Anda di halaman 1dari 43

MALPRAKTEK ?

Salah mengobati, cara mengobati pasien


yang salah.
Tindakan yang salah
(Echos dan Shadly, Kamus Inggris Indonesia)
Praktek yang tidak benar atau mencelakakan;
tindakan kedokteran atau pembedahan yang
tidak trampil atau keliru.
(Kamus Kedokteran Dorland)
Lanjutan pengertian malpraktek
Praktek buruk dari seseorang yang memegang suatu
profesi (malus = bad = buruk).
Kelalaian atau negligence dalam pengertian umum
bukan suatu kejahatan, tindakannya dilakukan dengan
tidak ada unsur kesengajaan, tetapi dilakukan dengan
ceroboh, sembarangan, kurang teliti, tidak hati-hati;
tidak memperhatikan kebutuhan orang lain.
Bilamana kelalaian tidak menimbulkan kerugian/cedera
orang lain, tidak ada akibat hukum akan tetapi kelalaian
yang menyebabkan kerugian orang lain apalagi sampai
menyebabkan kematian maka kelalaian ini menjadi
serius dari kriminal (Guwandi, 2004)

Lanjutan pengertian malpraktek
Menjalankan pekerjaan yang buruk kualitasnya, tidak
lege artis.
Kelalaian seseorang untuk mempergunakan tingkat
ketrampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim
dipergunakan dalam penanganan pasien atau orang
yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama.
(M. Jusuf Nanafiah, 2009).


Lanjutan pengertian malpraktek

Setiap tindakan yg dilakukan tenaga kesehatan atau
orang-orang di bawah pengawasannya, atau penyedia
jasa kesehatan yg dilakukan terhadap pasiennya, baik
dlm hal diagnosis, terapeutik dan manajemen penyakit
yg dilakukan scr melanggar hukum, kepatutan,
kesusilaan dan prinsip-prinsip profesional baik
dilakukan dgn sengaja / krn kurang hati-hati yg
menyebabkan salah tindak, rasa sakit, luka, cacat,
kerusakan tubuh, kematian dan kerugian lainnya yg
menyebabkan perawat hrs bertanggungjawab baik scr
administratif, perdata maupun pidana ( Fuady, 2005:
dalam Alexandra Indriyanti, 2008)


PERAWAT DAPAT DIKATAKAN
MELAKUKAN MALPRAKTIK

1. Perawat kurang menguasai ilmu pengetahuan keperawatan dan
ketrampilan yg sudah berlaku umum dikalangan profesi
keperawatan.
2. Perawat memberikan Asuhan Keperawatan di bawah standar
Asuhan Keperawatan.
3. Perawat melakukan kelalaian berat / kurang hati-hati yg dpt
mencakup :
a. Tidak melakukan sesuatu tindakan yg seharusnya dilakukan.
b. Melakukan sesuatu tindakan yg seharusnya tidak dilakukan.
4. Melakukan tindakan Asuhan Keperawatan yg bertentangan dgn
hukum.
1. Senantiasa berpedoman pada standar Asuhan Keperawatan dan
Standar Prosedur Operasional Asuhan Keperawatan.
2. Bekerja secara Profesional, berdasarkan etik dan moral yg tinggi.
3. Ikuti peraturan perundang-undangan yg berlaku terutama ttg
kesehatan dan praktik keperawatan.
4. Jalin komunikasi yg harmonis dgn pasien dan keluarganya dan
jangan pelit informasi baik ttg diagnosa, pencegahan dan terapi.
5. Tingkatkan rasa kebersamaan, keakraban dan kekeluargaan
sesama sejawat dan tingkatkan kerja sama tim medik demi
kepentingan pasien.
6. Jangan berhenti belajar, selalu tingkatkan ilmu dan ketrampilan
dlm bidang yg ditekuni.





UPAYA PENCEGAHAN MALPRAKTIK
KEPERAWATAN



Seorang perawat yg menyimpang dr standar profesi keperawatan
melakukan kesalahan profesi / kunsfout atau malpraktek
keperawatan ttp belum tentu ia melakukan malpraktek yg dipidana.
Malpraktek keperawatan yg dipidanakan membutuhkan pembuktian
adanya unsur culpa lata atau kelalaian berat :
1. Bertentangan dengan hukum.
2. Akibatnya dapat dibayangkan.
3. Akibatnya dapat dihindarkan.
4. Perbuatannya dapat dipersalahkan.
Pasal 359, 360 & 361 KUHP menyebabkan mati atau luka-
luka krn kealpaannya 5 Tahun Penjara.




ASPEK PIDANA MALPRAKTEK

Bila terdapat malpraktek dimana RS dan perawat
digugat scr perdata maka culpa levis/kelalaian
ringan/geringe schuld sudah cukup u/ menjatuhkan
putusan bayar kerugian kepada pasien.
Aspek perdata malpraktek Keperawatan meliputi :
1. Menyimpang dari standar profesi keperawatan.
2. Ada kelalaian/kurang hati-hati meskipun Cuma
culpa levis.
3. Ada kaitan kausal antara tindakan Keperawatan
dgn kerugian yg diakibatkan o/ tindakan tersebut.



ASPEK PERDATA MALPRAKTEK


Lanjutan (perdata)

Pasal 1365
Barangsiapa yang berbuat salah sehingga seorang lain menderita
kerugian, berwajib mengganti kerugian itu.

Pasal 1366
Setiap orang bertanggung jawab, bukan hanya atas kerugian
yang disebabkan perbuatan-perbuatan, melainkan juga atas
kerugian yang disebabkan kelalaian atau kesembronoannya.
Lanjutan (perdata)
Pasal 1367
Seseorang tidak hanya bertanggungjawab atas kerugian
yang disebabkan perbuatannya sendiri, melainkan juga
atas kerugian yang disebabkan perbuatan orang-orang
yang menjadi tanggungannya, atau disebabkan
barangbarang yang berada di bawah pengawasannya

Pasal 1338
- persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai
UU & mengikat bagi yg membuatnya.
- persetujuan itu tdk bisa ditarik kembali selain dgn
sepakat kedua belah pihak / alasan-alasan yg o/
UU dinyatakan cukup untuk itu.
- persetujuan harus dilakukan dengan itikad baik
Dalam pemberian Asuhan Keperawatan, Perawat juga tidak
terlepas dari suatu fakta kehidupan bahwa sebagai manusia
maka mereka takkan luput berbuat kesalahan.
Kesalahan terjadi pada setiap pekerjaan, yang tergantung
kepada tugasnya, tentu dengan berbagai konsekuensi. Bisa
ringan, bisa berat.
Untuk Perawat, maka konsekuensi suatu kesalahan bisa
berakibat serius terhadap pasien yang sebenarnya hendak
diberi pertolongan.
Dalam proses pemberian pelayanan kesehatan ada yang
disebut dengan medical error dan medical negligence.


MEDICAL NEGLIGENCE.

Medical error adalah sebagai suatu ketidak berhasilan
untuk menyelesaikan suatu tindakan yang terencana atau
penggunaan suatu rencana yang keliru untuk mencapai
suatu tujuan, tetapi tidak termasuk tindakan yang dilakukan
dengan sengaja atau tindakan sembarangan sehingga
mencelakaan pasien. (Liang B.A, dalam Guwandi J, 2007,
60).




MEDICAL ERROR
MEDICAL NEGLIGENCE
Medical negligence atau kelalaian medis adalah
ketentuan legal yang terdiri atas 3 unsur :
Terdapat hubungan antara Perawat dan pasien.
Perawat itu telah melanggar kewajibannya,
karena tidak memenuhi standar pemberian
pelayanan kesehatan.
Pelanggaran ini telah menyebabkan pasien
menderita kerugian yang sebenarnya dapat
dibayangkan dan secara wajar dapat dicegah.
(Guwandi, J, 2007, 51).


Lanjutan
Medical negligence atau kelalaian medis adalah suatu
sifat yang kurang hai-hati, kurang waspada atau
kelalaian tingkat dasar (Arrest Hoge Raad tanggal 3
Februari 1913, dalam Guwandi J, 2007, 30).
Jonkers (dalam Guwandi J, 2007,30) menyebutkan ada 4
(empat) unsur kelalaian sebagai tolok ukur di dalam
Hukum Pidana.
1. bertentangan dengan hukum.
2. akibatnya dapat dibayangkan.
3. akibatnya dapat dihindarkan ;
4. Perbuatannya dapat dipersalahkan kepadanya .

Medical negligence atau kelalaian medis adalah
kekurangan perhatian menurut ukuran wajar.
Kegagalan untuk melakukan apa yang
seseorang yang bersifat hati-hati secara wajar
akan melakukan atau justru melakukan apa yang
seseorang yang wajar tidak akan melakukan di
dalam kasus tersebut (Bost v. Riley, Hammond
and Catamba Memorial Hospital, 1979, dalam
Guwandi J. 2007, 30).
Lanjutan
Lanjutan
Medical negligence atau kelalaian medis adalah suatu
kegagalan untuk bersikap hati-hati yang umumnya
seseorang yang wajar dan hati-hati akan melakukan di
dalam keadaan tersebut, ia merupakan suatu tindakan
yang seorang dengan hati-hati yang wajar tidak akan
melakukan di dalam keadaan yang sama atau
kegagalan untuk melakukan apa yang seseorang lain
secara hati-hati yang wajar justru akan melakukan di
dalam keadaan yang sama. (Blacks Law Dictionary,
1979, dalam Guwandi J, 2007, 31).


Lanjutan
Jadi, medical negligence sebagai berikut ; suatu
kegagalan untuk bersikap hati-hati dan kurang
waspada yang mana pada umumnya seseorang
akan melakukannya dalam keadaan tersebut,
seseorang baru bisa dikatakan melakukan medical
negligence apabila terdapat hubungan antara
dokter dan pasien, dokter itu telah melanggar
kewajibannya dengan melakukan profesinya
dibawah standar (sub standar) dan kegagalan itu
menyebabkan pasien menderita kerugian.
DELEGATION
Pendelegasian (pelimpahan wewenang) merupakan
salah satu elemen penting dalam fungsi pembinaan.
Sebagai manajer perawat dan bidan menerima prinsip-
prinsip delegasi agar menjadi lebih produktif dalam
melakukan fungsi-fungsi manajemen lainnya.
(Handoko.1997).
Penendelegasian adalah bagian dari manajemen yang
memerlukan latihan manajemen professional dan
dikembangkan untuk dapat menerima pendelegasian
tanggung jawab secara structural.(Swanbrug. 2000).

KONDISI KETIDAKEFEKTIAN DALAM
PENDELEGASIAN
Delegasi dalam praktek keperawatan professional sering mengalami
masalah, dimana proses delegasi tidak dilaksanakan secara efektif. Hal
ini diarenakan tiga hal :
under delegasi : Pelimpahan tugas terlalu sedikit. Staf diberi
wewenang yang sangat sedikit, terbatas dan sering tidak terlalu
jelas.
over-delegasi : Pemberian delegasi berlebihan. Di sini dapat terjadi
penyalahgunaan wewenang.
unproper delegasi : Pelimpahan yang tidak tepat.Kesalahan yang
ditemukan adalah, pemberian tugas limpah, orang yang tepat, dan
alasan delegasi hanya karena faktor senang/tidak senang.
Pelimpahan ini tidak efektif karena kecendrungan pimpinan menilai
pekerjaanya berdasarkan unsur Subyektif
WAKTU PELAKSANAAN
Tugas rutin : Tugas yang dapat didelegasikan kepada staf
Tugas yang tidak mencukupi waktunya : Staf didelegasikan untuk
menyelesaikan tugas manajer keperawatan
Peningkatan kemampuan : Pendelegasian bertujuan meningkatkan
kemampuan staf dan tim melalui proses pembelajaran
Delegasi sebaiknya tidak diberikan untuk tugas-tugas yang terlalu
teknis (membutuhkan keahlian tertentu) dan tugas yang
berhubungan dengan kepercayaan/kerahasiaan institusi.

ALASAN PENDELEGASIAN
Ada beberapa alasan mengapa pendelegasian diperlukan.
1.Pendelegasian memungkinkan manajer perawat/bidan mencapai
hasil yang lebih baik dari pada semua kegiatan ditangani sendiri.
2.Agar organisasi berjalan lebih efisien.
3.Pendelegasian memungkinkan manajer perawat/bidan dapat
memusatkan perhatian terhadap tugas-tugas prioritas yang lebih
penting.
4.Dengan pendelegasian, memungkinkan bawahan untuk tumbuh dan
berkembang, bahkan dapat dipergunakan sebagai bahan informasi
untuk belajar dari kesalahan atau keberhasilan.
CARA BAGI MANAJER PERAWAT AGAR
BERHASIL DALAM PENDELEGASIAN
1. Membuat perencanaan ke depan dan mencegah
masalah.
2. Menetapkan tujuan dan sasaran yang realistis.
3. Menyetujui standar kerja.
4. Menyelaraskan tugas atau kewajiban dengan
kemampuan bawahan.
5. Melatih dan mengembangkan staf bawahan dengan
memberikan tugas dan wewenang baik secara tertulis
maupun lisan.
CARA BAGI MANAJER PERAWAT AGAR
BERHASIL DALAM PENDELEGASIAN
6. Melakukan kontrol dan mengkoordinasikan pekerjaan
bawahan dengan mengukur pencapaian tujuan
berdasarkan standar serta memberikan umpan balik
prestasi yang dicapai.
7. Kunjungi bawahan lebih sering dan dengarkan
keluhankeluhannya.
8. Bantu mereka untuk memecahkan masalahnya dengan
memberikan ide ide baru yang bermanfaat.
9. Memberikan reward atas hasil yang dicapai.
10. Jangan mengambil kembali tugas yang sudah
didelegasikan.


TEKNIK PENDELEGASIAN
Manajer perawat pada seluruh tingkatan dapat
menyiapkan tugas-tugas yang dapat didelegasikan dari
eksekutif perawat sampai eksekutif departemen atau
kepala unit, dan dari kepala unit sampai perawat/bidan
klinis.
Delegasi mencakup kewenangan untuk persetujuan,
rekomendasi atau pelaksanaan.
Tugas-tugas seharusnya dirangking dengan waktu yang
diperlukan untuk melaksanakannya dan sebaiknya satu
kewajiban didelegasikan pada satu waktu.


KAPAN TIDAK DILAKUKAN DELEGASI
Hindari mendelegasikan kekuasaan dan tetap mempertahankan
moral dalam pelaksanaannya.
Kontrol dilakukan khusus pada pekerjaan yang sangat teknis atau
tugas tugas yang melibatkan kepercayaan. Hal ini merupakan hal
yang kompleks dalam manajemen keperawatan,
sehingga memerlukan pengetahuan dan kemampuan yang khusus.
Manajer perawat yang akan menangani hal tersebut seharusnya
memiliki kemampuan ilmu manajemen dan perilaku.
Mendelegasikan tugas dan tanggung jawab dapat menyebabkan
perawat klinis berasumsi bahwa manajer tidak mampu untuk
menangani tanggung jawab kepemimpinannya
terhadap manajemen keperawatan


FUNGSI MANAJER DALAM PENDELEGASIAN
AGAR LEBIH EFEKTIF
Dalam pendelegasian untuk hasil yang lebih efektif,
perawat manajer harus mengetahui tentang :
1.pendidikan dan pengalaman setiap staf
2.peran dan fungsi perawat yang ditetapakan di RS sakit
tersebut
3.mengetahui ruang lingkup tugas manajer keperawatan
dan kedudukan dalam organisasi
4.mengetahui batas wewenang dalam melaksanakan tugas
dan tanggung jawabnya
5.mengetahui hal-hal yang dapat didelegasikan kepada
staf dan tenaga non keperawatan.


KEBERHASILAN
Dalam pendelegasian agar dapat behasil perawat manajer
harus memeprhatikan sebagai berikut :
1.Komunikasi yang jelas dan lengkap
2.Ketersediaan sumber dan sarana
3.Perlunya suatu monitoring atau kontrol
4.Adanya pelaporan mengenai perkembangan tugas yang
dilimpahkan
5.Disiplin dalam pemberian wewenang
6.Bertanggung jawab dalam pembinaan moral staf
7.Menghindari kesalahan penyampaian dalam
pendelegasian


HAMABATN PENDELEGASIAN
Hambatan hambatan pada delegator.
1.Kemampuan yang diragukan oleh dirinya sendiri
2.Meyakini bahwa seseorang mengetahui semua rincian
3.Saya dapat melakukannya lebih baik oleh diri saya
sendiri buah pikiran yang keliru.
4.Kurangnya pengalaman dalam pekerjaan atau dalam
mendelegasikan
5.Rasa tidak aman
6.Takut tidak disukai
7.Penolakan untuk mengakui kesalahan

LANJUTAN HAMABATN PENDELEGASIAN
8. Kurangnya kepercayaan pada bawahan
9. Kesempurnaan, menyebabkan kontrol yang berlebihan
10. Kurangnya ketrampilan organisasional dalam
menyeimbangkan beban kerja
11. Kegagalan untuk mendelegasikan kewenangan yang
sepadan dengan tanggung jawab.
12. Keseganan untuk mengembangkan bawahan
13. Kegagalan untuk menetapkan kontrol dan tindak lanjut
yang efektif.

LANJUTAN HAMABATN PENDELEGASIAN
Hambatan hambatan pada yang diberi delegasi.
1.Kurangnya pengalaman
2.Kurangnya kompetensi
3.Menghindari tanggung jawab
4.Sangat tergantung dengan boss
5.Kekacauan [disorganization]
6.Kelebihan beban kerja
7.Terlalu memperhatikan hal hal yang kurang bermanfaat

LANJUTAN HAMABATN PENDELEGASIAN
Hambatan hambatan dalam situasi.
1.Kebijakan tertuju pada satu orang
2.Tidak ada toleransi kesalahan
3.Kekritisan keputusan
4.Urgensi, tidak ada waktu untuk menjelaskan [krisis
manajemen]
5.Kebingungan dalam tanggung jawab dan kewenangan.
6.Kekurangan tenaga
CONFIDENTIALITY / KERAHASIAAN
PEBGERTIAN.
1.Sesuatu yg sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang
lain:(Kamus Besar Bahasa Indonesia).
2.Segala sesuatu yang diketahui oleh orang-orang tersebut dalam pasal
3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan
kedokteran (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun
1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran)

DASAR HUKUM CONFIDENTIALITY /
KERAHASIAAN
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam
Medis.
Pasal 10
Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat
penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat
pengobatan pasien harus dijaga kerahasiaanya
oleh dokter, dokter gigi, tenaga kesehatan tertentu,
petugas pengelola dan pimpinan sarana pelayanan
kesehatan.

Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit,
riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan dapat dibuka
dalam hal :
Untukkepentingan kesehatan pasien.
Memenuhi permintaan aparatur penegak hukum
dalam rangka penegakan hukum atas perintah
pengadilan.
Permintaan dan/atau persetujuan pasien sendiri.
Permintaan institusi/lembaga berdasarkan
ketentuan perundang-undangan, dan
Untuk kepentingan penelitian, pendidikan, dan
audit medis, sepanjang tidak menyebutkan
identitas pasien.

LANJUTAN DASAR HUKUM CONFIDENTIALITY / KERAHASIAAN
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran :
Pasal 47
Rekam medis harus disimpan dan dijaga kerahasiaannya oleh
dokter atau dokter gigi dan pimpinan sarana pelayanan
kesehatan.
Pasal 48
Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik
kedokteran wajib menyimpan rahasia kedokteran.
Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan
kesehatan pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak
hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien
sendiri, atau berdasarkan ketentuan perundangundangan.

LANJUTAN DASAR HUKUM CONFIDENTIALITY / KERAHASIAAN
Pasal 51
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan
praktik kedokteran mempunyai kewajiban :
merahasiakan segala sesuatu yang
diketahuinya tentang pasien, bahkan juga
setelah pasien itu meninggal dunia.

LANJUTAN DASAR HUKUM CONFIDENTIALITY / KERAHASIAAN
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 26 Tahun 1960 tentang Lafal Sumpah
Dokter Indonesia.
Saya akan merahasiakan segala
sesuatu yang saya ketahui karena
pekerjaan saya dan karena keilmuan
saya sebagai dokter

LANJUTAN DASAR HUKUM CONFIDENTIALITY / KERAHASIAAN
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun
1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran.
Pasal 1
Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala
sesuatu yang diketahui oleh orang-orang tersebut dalam
pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya
dalam lapangan kedokteran.
LANJUTAN DASAR HUKUM CONFIDENTIALITY / KERAHASIAAN
Pasal 4
Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai : wajib
simpan rahasia kedokteran yang tidak atau tidak
dapat dipidana menurut pasal 322 atau pasal 112
Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Menteri
Kesehatan dapat melakukan tindakan administratif
berdasarkan pasal 11 Undang-undang tentang
Tenaga Kesehatan.
Berdasarkan pasal 322 KUHP, maka membocorkan
rahasia jabatan, dalam hal ini rahasia kedokteran
LANJUTAN DASAR HUKUM CONFIDENTIALITY / KERAHASIAAN








DAFTAR PUSTAKA.



1. Alexandra I.D, 2008, Etika dan Hukum Kesehatan, Pustaka Book Publisher,
Yogyakarta.
2. Bambang Purnomo., 1982, Hukum Pidana Karangan Ilmiah, PT. Bina Aksara,
Jakarta.
3. Christiawan R, 2003, Aspek Hukum Kesehatan Dalam Upaya Medis Transpantasi
Organ Tubuh, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.
4. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., 1988, Kamus Bahasa Indonesia,
Jakarta.
5. Fred Ameln, 1991, Kapita Selekta Hukum Kedokteran, Grafikatama Jaya, Jakarta.
6. Fuady M, 2005, Perbuatan Melawan Hukum (Pendekatan Kontemporer), Penerbit
PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.






7. Guwandi J, 2003, Dokter, Pasien dan Hukum, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta.
8. Guwandi J, 2005, Rahasia Medis, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta.
9. Guwandi J, 2007, Hukum Medik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta.
10. Guwandi J, 2008, Medical Error dan Hukum Medis, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta.
11. Guwandi J, 2008, Hukum dan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta.
12. Hanafiah M.J, 2009, Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan, edisi 4, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
13. Henry Cambell Black. MA., 1990., Blacks Low Dictionary Sixth Edition, St Paul
Minn, west Publishing CO.




14. Hermien H.K, 1998, Hukum Kedokteran (Studi Tentang Hubungan Hukum
Dalam Mana Dokter Sebagai Salah Satu Pihak), Penerbit PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung.
15. Hermien H.K, 2002, Hukum Untuk Perumahsakitan, Penerbit PT. Citra Aditya
Bakti, Bandung.
16. Indriyanti D.A., 2008, Etika dan Hukum Kesehatan, Pustaka Book Publisher,
Yogyakarta.Kartono M.
17. Moeljatno, 2008, Asas-asas Hukum Pidana, edisi revisi, Rineka Cipta, Jakarta.