Anda di halaman 1dari 40

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Diare adalah penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di negara
berkembang, dengan perkiraan 1,3 milyar episode dan 3,2 juta kematian setiap tahun
pada balita. Secara keseluruhan anak-anak ini mengalami rata-rata 3,3 episode diare per
tahun, tetapi di beberapa tempat dapat lebih dari 9 episode per tahun. Sekitar 80%
kematian yang berhubungan dengan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan.
Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan
dan elektrolit melalui tinjanya (Departemen Kesehatan RI, 1999).
Di wilayah kerja Puskesmas, selama tahun 2008, diperoleh data pengunjung
Puskesmas Sambirejo baik rawat inap maupun rawat jalan sekitar 18.253. Dari jumlah
tersebut didapat 10 penyakit dengan angka kejadian terbesar, yaitu Rheumatik, ISPA,
infeksi kulit, alergi pada kulit, hipertensi, tukak lambung, typhoid, diare, DM, dan
konjunctivitis. Angka kejadian diare di Puskesmas Sambirejo masih cukup tinggi yaitu
terdapat 1.151 kasus pada tahun 2008. Namun, tidak didapatkan angka kematian akibat
diare di Puskesmas Sambirejo (Stratifikasi Puskesmas Sambirejo, 2008).
Mengingat adanya peningkatan angka kejadian diare tersebut maka perlu dilakukan
analisis mengenai faktor apa saja yang menjadi penyebab dan usaha apa yang bisa
dilakukan oleh masyarakat maupun pihak puskesmas untuk menurunkan angka kejadian
diare sehingga diperoleh derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
B. Perumusan Masalah
Bagaimana upaya menurunkan angka kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas
Sambirejo?
C. Tujuan Kegiatan
1. Umum
Menurunkan angka kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Sambirejo.
2. Khusus
a. Mencari faktor penyebab terjadinya peningkatan kejadian diare di wilayah kerja
Puskesmas Sambirejo.
b. Mencari alternatif penyelasaian masalah.
c. Membuat perencanaan kegiatan untuk menurunkan angka kejadian diare.
2
D. Manfaat Kegiatan
1. Bagi Mahasiswa
a. Mahasiswa mampu dan berpengalaman dalam menerapkan konsep pemecahan
masalah tentang upaya meningkatkan pengetahuan pola hidup sehat dalam rangka
menurunkan angka kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Sambirejo.
b. Dapat menerapkan konsep problem solving cycle.
2. Bagi Masyarakat
Menurunnya jumlah morbiditas pasien diare di Puskesmas Sambirejo.
3. Bagi Puskesmas
a. Memberikan masukan kepada puskesmas mengenai prioritas masalah di
Puskesmas Sambirejo.
b. Memberikan masukan pada Puskesmas Sambirejo menentukan program yang
efektif dan efisien untuk menurunkan angka kejadian diare.


3
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Landasan Teori
Diare
1. Definisi
Secara operasional, diare akut adalah buang air besar lembek / cair bahkan dapat
berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam
sehari) dan berlangsung kurang dari 14 hari (Depkes RI, 1999).
2. Etiologi dan Penyebaran Diare dalam Komunitas
Beberapa kuman patogen sebagai penyebab diare akut yaitu rotavirus (virus),
Escherichia coli enterotoksigenik, Shigella, Campylobacter jejuni, Vibrio cholarae
(bakteri) dan Cryptosporodium (Departemen Kesehatan RI, 1999).
3. Faktor Risiko
a. Tidak memberikan ASI sampai 2 Tahun.
b. Kurang gizi.
c. Campak.
d. Imunodefesiensi / Imunosupresi.
e. Usia.
4. Gejala Klinis (Departemen Kesehatan RI, 1999; Nelson, W.E, 2000)
a. Dehidrasi.
b. Gagal tumbuh dan malnutrisi.
c. Nyeri perut atau tenesmus.
d. Eritema pada daerah perianal.
e. Demam ringan.
f. Perut kembung.
g. Tinja bercampur darah dan mengandung cukup banyak lendir.

5. Prinsip Penatalaksanaan Diare (Hendarwanto.2002)
a Mencegah dan mengobati terjadinya dehidrasi.
b Memberi makanan bergizi.
c Mengobati masalah lain.


4
6. Pencegahan Diare
Melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat meliputi : kebersihan
perseorangan, kebersihan makanan, cara pemberian makanan pada bayi, penyediaan air
bersih, pembuangan tinja yang aman dan imunisasi.
Perilaku Hidup Bersih Sehat
1. Definisi
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang
dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan
sesorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan
aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya.
2. Jenis Kegiatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
a. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Bidang Gizi
misalnya :
1) makan dengan gizi seimbang
2) minum tablet besi selama hamil
3) memberi bayi ASI eksklusif
4) mengkonsumsi garam beryodium
5) memberi bayi kapsul vitamin A
b. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Bidang KIA dan KB
misalnya :
1) memeriksa kehamilan
2) persalinan ditolong tenaga kesehatan
3) menimbang balita setiap bulan
4) mengimunisasi lengkap bayi
5) ikut Keluarga Berencana
6) ibu hamil tidak merokok
7) memberikan ASI eksklusif sampai usia 6 bulan

5
c. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Bidang Kesehatan Lingkungan
misalnya :
1) Cuci tangan dengan sabun dan air setelah buang air besar
2) Menghuni rumah sehat
3) Memiliki akses dan menggunakan air bersih
4) Memiliki akses dan menggunakan jamban (perhatikan ada atau tidaknya
jamban, kebersihan jamban)
5) Memberantas sarang nyamuk (dengan program 3M : Menguras Bak Air,
Menutup Tempat Penampungan Air, Mengubur Barang Bekas). Menghindari
gigitan nyamuk dengan kasa ventilasi bukan dengan kelambu
6) Membuang sampah di tempat sampah, jangan membuang tikus mati di jalan
(sebaiknya dikubur), bunga manten jangan dibuang di jalan
7) Cuci tangan sebelum dan setelah makan
8) Menggunakan air bersih untuk keperluan sehari-hari
9) Dilarang merokok di tempat-tempat umum atau di dalam rumah
10) Mengepel lantai 2 kali sehari
d. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Bidang Pemeliharaan Kesehatan
misalnya :
1) Memiliki jaminan pemeliharaan kesehatan
2) Aktif mengurus UKBM atau sebagai kader
3) Memanfaatkan Puskesmas atau sarana kesehatan
e. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Bidang Gaya Hidup Sehat
misalnya :
1) Makan sayur dan buah-buahan setiap hari
2) Mandi dengan air bersih 2 kali sehari pagi dan sore
3) Menggosok gigi dengan air bersih setelah makan dan sebelum tidur
4) Buang air besar dan buang air kecil di kakus/jamban
6
5) Melakukan aktifitas fisik atau olah raga setiap hari
6) Memakai alas kaki (sandal, sepatu) bila bermain di tanah lembab
7) Tidak merokok di dalam rumah dan di tempat umum
8) Biasakan hidup antri dan tertib
f. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Bidang Obat dan Farmasi
1) Memiliki tanaman obat keluarga seperti jahe, lengkuas, kencur, kunyit, tanaman
adas dll yang bisa ditanam di sekitar rumah, kebun, dsb.
2) Tidak menggunakan NAPZA
3) Menggunakan obat Generik
4) Jauhkan anak dari bahan-bahan berbahaya atau beracun
g. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Bidang Kesehatan Jiwa
1) Mengikuti kegiatan keagamaan secara rutin (ibadah)
2) Aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan (interaksi sosial)
3) Ikut membantu korban bencana alam yang terjadi di daerah setempat ataupun di
daerah sekitarnya
4) Gotong royong dan kerja bakti dalam kegiatan pembangunan di desa
5) Rekreasi untuk mengistirahatkan pikiran
3. Kebersihan dan Kesehatan
Perilaku hidup bersih sehat dapat diterapkan dalam berbagai bidang dan di
berbagai tempat :
a. Pada diri sendiri meliputi : kebersihan badan, pakaian, dsb.
b. Pada keluarga/rumah meliputi : kebersihan linkungan dalam dan luar rumah,
peralatan makan, penggunanan air bersih dsb.
c. Pada lingkungan meliputi : kebersihan kebun, selokan, sungai, pembuangan
air dsb.


7
4. Manfaat Hidup Bersih dan Sehat
a. Bagi diri sendiri
1) Di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat dari pepatah ini
dapat diambil kesimpulan bahwa jika kita menerapkan perilaku hidup
bersih dan sehat akan menimbulkan ketenangan hati dan jiwa.
2) Mencegah datangnya penyakit khususnya penyakit infeksi yang
diakibatkan kurangnya kesadaran berperilaku hidup bersih dan sehat
seperti diare, penyakit infeksi saluran pernapasan dll.
3) Menghemat biaya pengobatan karena memperkecil kemungkinan
datangnya penyakit tadi.
4) Dengan memiliki kesehatan fisik dan jiwa yang seimbang, akan tercipta
kondisi yang dinamis dalam diri kita.
b. Bagi Rumah Tangga
1) Setiap anggota keluarga meningkat kesehatannya dan tidak mudah sakit
2) Anak tumbuh sehat dan cerdas
3) Produktivitas kerja anggota keluarga meningkat
4) Pengeluaran biaya rumah tangga dapat difokuskan untuk pemenuhan gizi
keluarga, pendidikan, dan modal usaha untuk peningkatan pendapatan
keluarga
c. Bagi Masyarakat
1) Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat
2) Masyarakat mampu mencegah dan menaggulangi masalah-masalah
kesehatan
3) Masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada
4) Masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber
Masyarakat (UKBM) seperti posyandu, jaminan pemeliharaan kesehatan,
tabungan ibu bersalin (TABULIN), arisan jamban, kelompok pemakai air,
ambulans desa, dan lain-lain.

8
d. Bagi lingkungan
1) Menurunnya prevalensi penyakit dan penularannya yaitu penyakit yang
disebabkan perilaku hidup yang tidak bersih dan sehat.
2) Terciptanya lingkungan yang bersih, nyaman untuk dihuni.
e. Bagi Pemerintah Kabupaten/ Kota
1) Peningkatan persentase Rumah Tangga Sehat menunjukkan kinerja dan
citra Pemerintah Kabupaten/Kota yang baik
2) Biaya yang tadinya dialokasikan untuk menanggulangi masalah-masalah
kesehatan dapat dialihkan untuk pengembangan lingkungan yang sehat
dan penyediaan sarana pelayanan kesehatan yang merata, bermutu, dan
terjangkau.
3) Kabupaten/Kota dapat dijadikan pusat pembelajaran bagi daerah lain dalam
pengembangan PHBS di rumah tangga
f. Penilaian Rumah Tangga Sehat
Untuk menilai rumah tangga sehat digunakan 16 variabel, yang terdiri dari 10
indikator nasional dan 6 indikator local Jawa Tengah. Spuluh alat ukur
(indikator) PHBS nasional yang terdiri dari 7 indikator PHBS dan 3 indikator
GHS.
Tujuh indikator dan definisi operasional PHBS :
1) Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pertolongan pertama
pada persalinan balita termuda dalam rumah tangga dilakukan oleh
tenaga kesehatan (dokter, bidan, dan paramedik lainnya).
2) Bayi diberi ASI eksklusif adalah bayi termuda usia 0-6 bulan mendapat
ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan.
3) Mempunyai jaminan pemeliharaan kesehatan adalah anggota-anggota
rumah tangga mempunyai pembiayaan pra upaya kesehatan seperti
ASKES, Kartu Sehat, Dana Sehat, Jamsostek, Asuransi Perusahaan, dll.
4) Ketersediaan air bersih adalah rumah tangga yang memiliki akses
terhadap air bersih dan menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari
yang berasal dari : air dalam kemasan, air ledeng, air pompa, sumber
9
terlindung, mata air terlindung, dan penampungan air hujan. Sumber air
pompa, sumur dan mata air telindung berjarak minimal 10 m dari tempat
penampungan kotoran atau air limbah.
5) Ketersediaan jamban sehat adalah rumah tangga yang memiliki atau
menggunakan jamban leher angsa dengan tangki septik atau lubang
penampung kotoran sebagai pembuangan akhir.
6) Kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni adalah rumah tangga
yang mempunyai luas lantai rumah yang ditempati dan digunakan untuk
keperluan sehar-hari dibagi dengan jumlah penghuni (9 m
2
/orang).
7) Lantai rumah bukan tanah adalah rumah tangga yang mempunyai rumah
dengan bagian bawah/dasar/alas terbuat dari semen, papan, ubin dan
kayu.
Tiga indikator gaya hidup sehat (GHS) dan definisi operasional :
1) Tidak merokok di dalam rumah adalah penduduk/anggota rumah tangga
umur 10 tahun ke atas tidak merokok di dalam rumah selama ketika
berada bersama anggota keluarga lainnya selam satu bulan terakhir.
2) Melakukan aktifitas fisik setiap hari adalah penduduk/anggota rumah
tangga umur 10 tahun ke atas dalam satu minggu terakhir melakukan
aktivitas fisik (sedang maupu berat) minimal 30 menit setiap hari.
3) Makan buah dan sayur setiap hari adalah anggota rumah rumah tangga
umur 10 tahun ke atas yang mengkonsumsi minimal 3 porsi buah dan 2
porsi sayuran atau sebaliknya setiap hari dalam satu minggu terakhir.
Indikator lokal Jawa Tengah yaitu :
1) Penimbangan balita.
2) Anggota rumah tangga membuang sampah pada tempat yang semestinya.
3) Anggota rumah tangga terbiasa mencuci tangan sebalum makan dan
sesudah BAB.
4) Anggota rumah tangga menggosok gigi minimal 2 kali sehari.
5) Anggota rumah tangga tidak minum miras dan tidak menyalahgunakan
narkoba.
10
6) Anggota rumah tangga melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk)
minimal seminggu sekali.
g. Penilaian PHBS institusi Pendidikan
1) Kuku siswa bersih
2) Siswa tidak merokok
3) Gigi bersih
4) Memakai sepatu
5) Ada UKS / P3K
6) Ada Dokter kecil
7) Ada Dana Sehat / JPKM
8) Ada pemberantasan Sarang Nyamuk
9) Ada Air bersih
10) Ada Tempat sampah
11) Warung Sekolah bersih (Bakti Husada, 2007)
B. Kerangka Pemikiran
Untuk mencari pemecahan masalah, perlu dicari sumbu berbagai permasalahan
yang timbul dengan menggunakan bagan tulang ikan sesuai dengan Teori Blum.
Bagan 1. (Bagan Tulang Ikan)









Keterangan :
1. Pengetahuan dan perilaku masyarakat
a. Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai diare
1
a
2
a
c
b
a
c
b
3
Menurunnya angka
kejadian diare di
wilayah kerja
Puskesmas Sambirejo
Kab. Sragen
b
d
11
b. Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS)
c. Kesadaran masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
d. Tingkat pendidikan dan sosial ekonomi
2. Lingkungan
a. Sumber air bersih
b.Jenis tanah
c. Vektor pembawa penyakit
3. Kinerja pelayanan kesehatan
a. Program Dinas Kesehatan dan instansi terkait dalam promosi Diare serta
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
b. Protokol Rumah Sakit dan instansi terkait serta peran tenaga kesehatan di
tingkat PHC.
Berdasarkan bagan tulang ikan di atas, maka kita dapat menentukan prioritas
alternatif pemecahan masalah yaitu mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) yang diharapkan dapat menurunkan angka kejadian diare di wilayah kerja
Puskesmas Sambirejo Kabupaten Sragen.
12
BAB III
METODE PEMECAHAN MASALAH

A. Metode Pemecahan Masalah
Sistem pemecahan masalah yang dipakai adalah metode Problem solving cycle
yang secara umum tersusun sebagai berikut :
a. Pertama-tama dimulai dengan pekerjaan pengumpulan data atau keterangan atau
informasi.
b. Setelah data terkumpul, maka dilakukan pengolahan, penyajian dan pengambilan
kesimpulan.
c. Selanjutnya, berbagai masalah yang ditemukan, baik yang menyangkut organisasi
ataupun keadaan kesehatan yang ada di masyarakat perlu dicarikan jalan keluarnya.
Idealnya semua masalah ini dapat diselesaikan sedemikian rupa sehingga tujuan dari
didirikannya fasilitas kesehatan dapat tercapai. Tapi dalam kehidupan sehari-hari,
haruslah diakui bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan sekaligus. Dalam
keadaan seperti ini, mau tidak mau prioritas masalah haruslah disusun. Adapun cara
untuk menyusun prioritas masalah kesehatan banyak macamnya. Salah satu
diantaranya ialah dengan memakai metode penilaian terhadap beberapa indikator
yang telah ditetapkan. Indikator yang telah ditetapkan tersebut ialah :
1). Berat ringannnya masalah yang ditimbulkan (severity) yakni seberapa jauh
akibat yang ditimbulkan oleh masalah kesehatan tersebut. Jika akibat yang
ditimbulkan lebih besar, maka masalah kesehatan tersebut harus lebih
diprioritaskan untuk diselesaikan.
2). Jumlah masyarakat yang terkena (prevalence), jika suatu masalah kesehatan
menyerang jumlah masyarakat yang besar, maka selayaknyalah harus
diprioritaskan.
3). Kenaikan angka penyakit (rate of increase), jika kenaikannya dalam waktu
singkat mencolok sekali, maka masalah tersebut harus diprioritaskan pula.
4). Keinginan masyarakat (degree unmeet needs), jika masyarakat telah lama
menginginkan masalah kesehatan tersebut diselesaikan, tapi sampai saat ini
belum terpenuhi, maka masalah tersebut termasuk prioritas yang tinggi.
13
5). Keuntungan sosial yang diperoleh (social benefit), jika yang diselesaikannya
masalah kesehatan tersebut akan memperoleh keuntungan sosial yang tinggi
maka masalah kesehatan tersebut selayaknya diutamakan pemecahannya.
6). Rasa prihatin masyarakat (public concern), makin besar rasa prihatin
masyarakat terhadap masalah kesehatan tersebut, seyogyanya makin
diprioritaskan.
7). Teknologi yang tersedia (technical feasibility), jika tersedia teknologi yang tepat
dan sesuai untuk menyelesaikan masalah tersebut, maka masalah kesehatan ini
baik diprioritaskan.
8). Sumber yang tersedia (resources avaibility), jika tersedia sumber yang cukup
yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi,
maka masalah kesehatan yang dimaksud termasuk prioritas.
9). Dukungan politik (political climate), jika terdapat dukungan politik yang besar
untuk masalah kesehatan yang dihadapi, maka sebaiknya masalah tersebut
masuk ke dalam prioritas, karena kemungkinan berhasilnya penyelesaian
masalah kesehatan yang dimaksud akan lebih besar.
d. Setelah prioritas masalah kesehatan dapat ditemukan, maka selanjutnya pekerjaan
perencanaan dilanjutkan dengan menyusun berbagai kemungkinan jalan keluar
(alternatif solution) yang kiranya dapat digunakan untuk menyelesaikan
permasalahan kesehatan yang dimaksud.
e. Dari semua jalan keluar yang telah susun kemudian dipilih jalan keluar yang terbaik.
Ada satu rumus yang dapat dipakai untuk memilih prioritas jalan keluar, yakni :
P =

P = prioritas jalan keluar yang akan dipilih
M = magnitude, yakni besarnya permasalahan yang dihadapi, yang ditinjau dari
jumlah penduduk yang terkena serta luas daerah yang terserang.
V = vunerability yakni sampai seberapa jauh masalah tersebut dapat
diselesaikan, yang dapat diukur misalnya dengan memperhatikan
kemungkinan penurunan jumlah kasus yang terkena, seandainya rencana
tersebut dilaksanakan.
M x V x I
C
14
I = importancy yakni derajat kepentingan diselesaikannya masalah tersebut
yang dapat diketahui misalnya kalinan, kematian dan lainnya sebagaimana
yang mungkin timbul jika permasalahan tersebut tidak diselesaikan.
C = cost atau biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan rencana yang disusun
Jika nilai P yang diperoleh makin besar, maka jalan keluar tersebut makin baik untuk
dilaksanakan.
f. Selanjutnya jika nilai P dari masing-masing kemungkinan jalan keluar telah dihitung,
pilihlah beberapa rencana yang nilai P nya besar, untuk kemudian dilanjutkan dengan
pengujian lapangan terhadap masing-masing jalan keluar tersebut.
g. Setelah dapat dipilih satu jalan keluar yang dipandang paling baik, maka selanjutnya
dilakukan penyusunan rencana kerja selengkapnya dari jalan keluar yang terpilih
tersebut.
h. Selanjutnya laksanakanlah program tersebut sesuai dengan rencana yang telah
disusun.
i. Setelah itu lakukanlah pengumpulan data yang diperlukan pada penilaian. Berbeda
dengan pengumpulan data pada tahap pertama maka disini data yang dikumpulkan
bersifat terbatas, yakni sesuai dengan ruang lingkup program yang dilaksanakan.
j. Selanjutnya lakukanlah penilaian, yakni melihat apakah tujuan yang telah ditetapkan
tercapai atau tidak. Secara teoritis ada tiga kemungkinan disini yakni :
1). Tujuan tercapai dengan memuaskan. Dalam keadaan sseperti ini pelaksanaan
program dapat diteruskan.
2). Tujuan tercapai sebagian. Disini perlu dicari kenapa hanya sebagian tujuan saja
yang tercapai. Jika telah ditemukan, lakukanlah penyesuaian-penyesuaian
(modifikasi) untuk kemudian dapat dilaksanakan kembali.
3). Tujuan sama sekali tidak tercapai. Dalam keadaan yang seperti ini mungkin
masalah yang ditetapkan tidak sesuai, oleh karena itu harus kembali kepada
tahap menetapkan masalah kesehatan, atau mungkin data yang dikumpulkan
tidak baik, yang jika benar halnya, harus kembali kepada tahap pengumpulan
data awal.
Jika kesepuluh tahap problem solving cycle ini dituangkan dalam satu bagan, terlihat
dalam bagan 2.


15
Bagan 2. Skema Penyelesaian Masalah dengan problem solving cycle























(Azwar,1996)

B. Lokasi, Waktu dan Metode Pengumpulan Data
1. Lokasi dan Waktu Kegiatan
Kegiatan dilaksanakan di Puskesmas Sambirejo Kabupaten Sragen.
Dilaksanakan pada tanggal 11 19 Agustus 2009 pada saat penulis melakukan
kegiatan kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat / PBL III Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret.

Pengumpulan data


Menentukan tujuan dan
menyusun penyelesaian
masalah
Uji coba
Memilih cara penyelesaian
dari sejumlah alternatif cara
yang mungkin
Melaksanakan kegiatan
penyelesaian masalah
Memilih masalah yang
diprioritaskan
Evaluasi hasil intervensi
Masalah yang ditentukan
Analisa data
Penyusunan rencana
penyeleaian masalah
Sebagian
tercapai
Tercapai
Modifikasi
Tak Tercapai
16
2. Metode Pengumpulan Data
Data diperoleh dengan hasil kuesioner dan wawancara terstruktur pada
masyarakat pengunjung Puskesmas Sambirejo Kabupaten Sragen yang memiliki
riwayat diare pada diri atau keluarganya.
C. Definisi Operasional
Diare akut adalah buang air besar lembek/cair bahkan dapat berupa air saja yang
frekuensinya lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari) dan berlangsung
kurang dari 14 hari (Depkes RI, 1999).
D. Subjek Masalah
Subjek masalah adalah masyarakat pengunjung Puskesmas Sambirejo Kabupaten
Sragen. Jumlah sampel ditentukan dengan random sampling diambil sebanyak 30 sampel.



17
BAB IV
HASIL PENELITIAN

Berdasarkan data mentah yang diperoleh dari survei terhadap 30 pengunjung
Puskesmas Sambirejo Kabupaten Sragen yang memiliki riwayat diare pada diri atau
keluarganya, dengan menggunakan kuesioner dan wawancara terstruktur serta melakukan
penilaian :
1. Pengetahuan dan perilaku masyarakat
a. Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai diare
b. Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
c. Kesadaran masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
d. Tingkat pendidikan dan sosial ekonomi
2. Lingkungan
a. Sumber air bersih
b. Jenis tanah
c. Vektor pembawa penyakit
3. Kinerja pelayanan kesehatan
a. Program Dinas Kesehatan dan instansi terkait dalam promosi Diare serta perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS)
b. Protokol Rumah Sakit dan instansi terkait serta peran tenaga kesehatan di tingkat PHC.

Karakteristik Demografi Responden Penelitian
Tabel 1 memperlihatkan karakteristik demografi pendidikan responden. Responden
sejumlah 30 orang bertempat tinggal di Kecamatan Sambirejo. Sebanyak 18 orang (60%)
berpendidikan terakhir lebih rendah dari Sekolah Menengah Pertama (SMP). Responden
yang berumur antara 20-50 tahun sebanyak 20 orang (67%). Sebagian besar responden yaitu
sejumlah 9 orang (30%) memiliki pekerjaan sebagai pegawai swasta.
Tabel 1. Karakteristik demografi responden
Sumber : Data primer, Agustus 2009
Data responden
Jenis kelamin Jml Pendidikan Jml Umur Jml Pekerjaan Jml
Pria 17 <SMP 18 <20 6 Buruh 2
Wanita 13 SMP 3 20-50 20 Swasta 9
>SMP 9 >50 4 Pelajar 5
Petani 6
18
Ibu RT 1
Wiraswasta 2

Tidak
bekerja 5
Jumlah 30 Jumlah 30 Jumlah 30 Jumlah 30













Dari hasil kuesioner didapatkan :
A. Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai diare
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan masyarakat
tentang batasan diare
Tigkat Pengetahuan masyarakat
tentang batasan diare
Benar 23
Salah 4
Tidak tahu 3
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009

Dari tabel 2 didapatkan jumlah responden yang menjawab benar sebanyak 23
responden (77%). Sedangkan responden yang menjawab salah sebesar 4 responden
(13%). Dan ada 3 responden (10%) yang tidak mengetahui tentang batasan diare.

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Responden
mengenai Bahaya Diare
Tingkat Pengetahuan Responden
mengenai Bahaya Diare
Tahu 9
Tidak tahu 21
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009

<20
20%
20-50
67%
>50
13%
Umur

Buruh
6%
Swasta
30%
Pelajar
17%
Petani
20%
Ibu
RT
3%
Wiraswas
ta
7%
Tidak
bekerja
17%
Pekerjaan

Tahu
30%
Tidak
tahu
70%
Tingkat pengetahuan responden
mengenai bahaya diare

Benar
77%
Salah
13%
Tidak
tahu
10%
Tingkat pengetahuan
masyarakat tentang batasan
diare
19


Dari tabel 3 didapatkan responden yang mengetahui bahaya diare sebanyak
sebanyak 9 responden (30%). Sedangkan yang menjawab tidak tahu 21 responden (70%).

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Responden
mengenai Penyebab Diare
Tingkat Pengetahuan Responden
mengenai Penyebab Diare
Benar 5
Salah 15
Tidak tahu 10
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009
Dari tabel 4 didapatkan responden yang mengetahui penyebab diare paling sering
akibat infeksi sebanyak 5 responden (17%), yang menjawab karena masuk angin biasa 15
responden (50%) dan responden yang menjawab tidak tahu 10 responden (33%).

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Responden
mengenai Manfaat Oralit dalam Penanganan Diare
Tingkat Pengetahuan
Responden mengenai
Manfaat Oralit dalam
Penanganan Diare
Tahu 25
Tidak tahu 5
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009
Dari tabel 5 didapatkan responden yang mengetahui manfaat oralit dalam penangan diare 25
responden (83%). Sedangkan yang menjawab tidak tahu 5 responden (17%).

B. Pengetahuan dan kesadaran tentang PHBS
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kebiasaan Memasak Air Minum



Benar
17%
Salah
50%
Tidak
tahu
33%
Tingkat pegetahuan
responden mengenai
penyebab diare

Tidak
tahu
17%
Tiahu
83%
Tingkat pengetahuan responden
mengenai manfaat oralit dalam
pengangan diare
20
Perilaku responden memasak
air minum
Selalu 29
Kadang 1
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009



Dari tabel 6 didapatkan responden yang selalu memasak terlebih dahulu air minum
sebanyak 29 responden (97%) dan hanya 1 responden (3%) yang kadang tidak
memasaknya terlebih dahulu.

Tabel 7. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku Menutup Makanan
Perilaku responden menutup
makanan dengan tudung saji
Selalu 25
Kadang 3
Tidak pernah 2
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009

Dari tabel 7 didapatkan 25 responden (83%) yang selalu menutupi makanan yang
dihidangkan dengan tudung saji untuk melindungi dari lalat dan binatang, responden yang
kadang-kadang menutup makanan sebanyak 3 responden (10%), sedangkan yang tidak
pernah menutup makanan sebanyak 2 responden (7%).

Tabel 8. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku Mencuci Tangan Sebelum
Menyiapkan Makanan, Sebelum Makan, dan Setelah Buang Air Besar

Kebiasaan mencuci tangan
sebelum menyiapkan makanan,
sebelum makan, dan setelah
buang air besar
Selalu 26
Kadang 4
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009

Selalu
97%
Kadang
3%
Perilaku responden
memasak air minum

Selalu
83%
Kadang
10%
Tidak
pernah
7%
Perilaku responden menutup
makanan dengan tudung saji

Selalu
87%
Kadang
13%
Kebiasaan mencuci
tangan
21

Dari tabel 8 didapatkan responden yang selalu mencuci tangan sebelum
menyiapkan makanan, sebelum makan, dan setelah buang air besar sebanyak 26 responden
(87%), sedang yang hanya kadang-kadang saja sebanyak 4 responden (13%).

Tabel 9. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap terhadap Makanan yang
Dihinggapi Lalat
Sikap terhadap makanan
yang dihinggapi lalat
Tetap dimakan 4
Dimasak lagi/dibuang 15
Tidak tentu 11
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009



Dari tabel 9 didapatkan responden yang membuang atau memasak kembali
makanan yang dihinggapi lalat sebanyak 15 responden (50%), sedang 4 responden (13%)
tetap memakannya, 11 responden (37%) menjawab tidak tentu.

Tabel 10. Distribusi Frekuensi Responden yang Memiliki Jamban / WC
Memiliki jamban / WC
Ya 24
Tidak 6
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009




Dari tabel 10 didapatkan 24 responden (80%) mempunyai jamban / WC sendiri
sedang 6 orang (20%) tidak mempunyai.



Tetap
dimakan
13%
Dimasak
lagi/dibua
ng
50%
Tidak
tentu
37%
Sikap terhadap makanan
yang dihinggapi lalat

Ya
80%
Tidak
20%
Memiliki Jamban / WC
22
Tabel 11. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kebiasaan Buamg Air besar di
Jamban




Sumber : Data primer, Agustus 2009

Dari tabel 11 didapatkan responden yang selalu BAB di jamban sebanyak 20
responden (67%),sedang 8 responden (27%) hanya kadang-kadang dan 2 responden (6%)
tidak pernah.

Tabel 12. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jarak Sumur dengan Tempat
Pembuangan Jamban
Jarak sumur dengan pembuangan
jamban
<10 m 7
>10 m 5
Tidak punya sumur 18
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009
Dari tabel 12 didapatkan responden yang jarak sumurnya dalam jarak aman
sebanyak 5 responden (17%), sedangkan 7 responden (23%) jarak sumur dengan
pembuangan kurang dari 10 meter. Sementara 18 responden (60%) tidak punya sumur.
C. Pengaruh Lingkungan terhadap Kejadian Diare
Tabel 13. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sumber Air Minum
Sumber air minum
Sumur 10
Sungai 2
PAM 18
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009

Kebiasaan BAB di jamban
Selalu 20
Kadang 8
Tidak pernah 2
Jumlah 30

Selalu
67%
Kadang
27%
Tidak
pernah
6%
Kebiasaan BAB di
jamban

<10 m
23%
>=10 m
17%
Tidak
punya
sumur
60%
Jarak sumur dengan
pembuangan jamban

Sumur
33%
Sungai
7%
PAM
60%
Sumber air minum
23
Dari tabel 13 didapatkan responden yang sumber air minumnya berasal dari sumur
sebanyak 10 responden (33%), dari sungai 2 orang (7%),sedang dari PAM 18 orang
(60%).

Tabel 14. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Tanah di Sekitar Rumah
Jenis tanah sekitar rumah
Tanah berasir 3
Tanah Liat 27
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009


Dari tabel 14 didapatkan 3 responden (10%) yang tanahnya pasir dan 27 responden
(90%) yang tanahnya jenis tanah liat.

Tabel 15. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kondisi Lingkungan yang Banyak
Lalat
Kondisi lingkungan banyak lalat
Ya 26
Tidak 4
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009
Dari tabel 15 didapatkan responden yang menyebutkan ada banyak lalat dirumah
sebanyak 26 responden (87%), sedangkan 4 responden (13%) yang menyebutkan tidak
banyak lalat.

D. Kegiatan Penyuluhan
Tabel 16. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan bahwa Pernah
Diadakan Penyuluhan tentang Kesehatan Lingkungan.
Penyuluhan tentang kesehatan
lingkungan
Sering 5
Jarang 18
Tidak pernah 7
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009

Pasir
10%
Liat
90%
Jenis tanah sekitar
rumah

Ya
87%
Tidak
13%
Kondisi lingkungan
banyak lalat

Sering
17%
Jarang
60%
Tidak
pernah
23%
Penyuluhan tentang
kesehatan lingkungan
24
Dari tabel 16 didapatkan 18 responden (60%) menjawab jarang diadakan
penyuluhan tentang kesehatan lingkungan. Sedang 5 orang (17%) menjawab sering, dan 7
orang (23%) menjawab tidak pernah.

Tabel 17. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan bahwa Pernah
Diadakan Penyuluhan tentang Diare.
Penyuluhan tentang diare
Sering 3
Jarang 9
Tidak pernah 18
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009

Dari tabel 17 didapatkan 18 responden (60%) yang tidak pernah mendapatkan
penyuluhan tenyang diare. Sebanyak 3 responden (10%) menjawab sering, 9 responden
(30%) menjawab jarang.

Tabel 18. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sumber Informasi tentang PHBS
dan Diare
Sumber informasi tentang
PHBS dan Diare
Petugas Kesehatan 5
Teman 1
Media massa 14
Tidak pernah 10
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009
Dari tabel 18 didapatkan responden yang mendapat informasi mengenai PHBS
dan diare dari petugas kesehatan sebanyak 5 responden (17%), responden yang mendapat
informasi dari teman sebanyak 1 responden (3%), dari media massa sebanyak 14
responden (47%), tidak pernah mendapatkan informasi sebanyak 10 orang (33%).

Tabel 19. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan bahwa Pernah
Diadakan Penyuluhan tentang Imunisasi.



Sering
10%
Jarang
30%
Tidak
pernah
60%
Penyuluhan tentang
diare

Petugas
Kesehata
n
17%
Teman
3%
Media
massa
47%
Tidak
pernah
33%
Sumber informasi tentang PHBS
dan Diare
25
Penyuluhan tentang imunisasi
Sering 14
Jarang 11
Tidak pernah 5
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009


Dari tabel 19 mengenai distribusi frekuensi responden berdasarkan pengetahuan
bahwa pernah diadakan penyuluhan tentang imunisasi, didapatkan responden yang
mengetahui bahwa sering diadakan penyuluhan tentang imunisasi sebanyak 14 responden
(46%), responden yang mengetahui bahwa jarang diadakan penyuluhan tentang imunisasi
sebanyak 11 responden (37%), responden yang mengetahui bahwa tidak pernah diadakan
penyuluhan tentang imunisasi sebanyak 5 responden (17%).

E. Pengetahuan dan kesadaran tentang PHBS di bidang KIA
Tabel 20. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Lama Pemberian ASI Eksklusif





Sumber : Data primer, Agustus 2009


Dari tabel 20 mengenai distribusi frekuensi responden berdasarkan lama pemberian
ASI eksklusif, didapatkan responden yang memberikan ASI eksklusif selama < 6 bulan
sebanyak 8 responden (27%), responden yang memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan
sebanyak 11 responden (36%), responden yang tidak tahu tentang ASI Eksklusif sebanyak
11 responden (37%).




Lama pemberian ASI Eksklusif
<6 bulan 8
6 bulan 11
Tidak tahu 11
Jumlah 30

Sering
46%
Jarang
37%
Tidak
pernah
17%
Penyuluhan tentang
imunisasi

<6 bulan
27%
6 bulan
36%
Tidak
tahu
37%
Lama pemberian ASI
Eksklusif
26

Tabel 21. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pemberian Imunisasi pada Anak




Sumber : Data primer, Agustus 2009

Dari tabel 21 mengenai distribusi frekuensi responden berdasarkan pemberian
imunisasi pada anak didapatkan responden yang mengimunisasi anak sesuai jadwal
sebanyak 27 responden (90%), sedangkan yang tidak sesuai jadwal sebanyak 3 orang
(10%).

Tabel 22. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku Membersihakan Botol
Susu Sebelum Memberikan Susu pada Anak






Sumber : Data primer, Agustus 2009
Dari tabel 22 mengenai distribusi frekuensi responden berdasarkan perilaku
membersihakan botol susu sebelum memberikan susu pada anak didapatkan responden
yang selalu membersihkan botol denganair panas sebanyak 24 responden (80%),
responden yang kadang membersihakan botol dengan air panas sebanyak 3 respondeng
(10%), sedangkan yang tidak pernah sebanyak 3 responden (10%).







Imunisasi anak sesuai jadwal
Ya 27
Tidak 3
Jumlah 30
Membersihakan botol susu dengan
air panas sebelum memberikan susu
pada anak
Selalu 24
Kadang 3
Tidak pernah 3
Jumlah 30

Ya
90%
Tidak
10%
Imunisasi anak sesuai
jadwal

Selalu
80%
Kadang
10%
Tidak
pernah
10%
Membersihkan botol
susu dengan air panas
27

Tabel 23. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku Mencuci Tangan
Sebelum Membeuat dan Memberikan Makanan / Susu untuk Anak Balita




Sumber : Data primer, Agustus 2009
Sumber : Data primer, Agustus 2009

Dari tabel 23 didapatkan responden yang mencuci tangan sebelum membuat dan
memberikan makanan / susu kepada anak balita sebanyak 29 (97%), sedangkan yang
kadang kadang sebanyak 1 (3%).

Tabel 24. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Pemberian Makanan
tambahan pada Anak Balita






Sumber : Data primer, Agustus 2009
Dari tabel 24 mengenai distribusi frekuensi responden berdasarkan usia pemberian
makanan tambahan pertama kali pada anak balita, didapatkan responden yang memberikan
makanan tambahan pada balita usia < 5 bulan sebanyak 15 responden (50%), yang
memberikan makanan tambahan pada usia 5-6 bulan sebanyak 11 responden (37%), yang
memberikan makanan tambahan pada usia > 6 bulan sebanyak 1 responden (3%),
sedangkan yang tidak tahu sebanyak 3 respoden (10%).




Kebiasaan mencuci tangan
sebelum membuat dan
memberikan susu makanan / susu
untuk anak balita
Ya 29
Kadang 1
Jumlah 30
Usia anak saat pemberian
makanan tambahan pertama kali
<5 bulan 15
5-6 bulan 11
>6 bulan 1
Tidak tahu 3
Jumlah 30

Ya
97%
Kadang
3%
Kebiasaan mencuci tangan sebelum
membuat dan memberikan
makanan / susu untuk anak balita

<5
bulan
50%
5-6
bulan
37%
>6
bulan
3%
Tidak
tahu
10%
Usia anak saat pemberian
makanan tambahan pertama
kali
28

Tabel 25. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku terhadap Susu yang Tidak
Habis Diminum
Susu yang tidak habis diminum
Dibuang 24
Disimpan untuk nanti
diminumkan lagi 5
Tidak tentu 1
Jumlah 30
Sumber : Data primer, Agustus 2009

Dari tabel 25 didapatkan responden yang membuang susu yang tidak habis diminum
sebanyak 24 responden (80%), responden yang menimpan susu kemudian dimiumkan lagi
sebanyak 5 responden (17%), sedangkan yang tidak tentu dalam menyikapi sebanyak 1
responden (3%).


Dibuang
80%
Disimpan,
dimunim
kan lagi
17%
Tidak
tentu
3%
Susu yang tidak habis diminum
29
BAB V
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil wawancara didapatkan bahwa sebagian besar responden
mengetahui tentang diare namun tidak menyadari bahwa diare dapat menyebabkan kematian.
Meskipun responden tidak mengetahui bahaya diare, namun sebagian besar responden
tanggap dengan kejadian diare dalam keluarganya, sehingga mereka langsung membawa
anggota keluarga yang diare ke dokter atau Puskesmas. Sebagian responden menyadari
bahwa diare adalah suatu keadaan yang tidak normal sehingga harus segera diobati. Mereka
belum dapat memberikan pertolongan pertama pada anggota keluarganya yang mengalami
diare dengan memberikan oralit, meskipun mengetahui kegunaan oralit untuk penderita diare.
Responden lebih memilih langsung membawa penderita ke tenaga kesehatan.
Sebagian besar responden juga tidak mengetahui penyebab diare, namun mereka
mengetahui bagaimana berperilaku hidup bersih untuk mencegah timbulnya diare. Hampir
semua respond en selalu memasak air untuk minum dan menutup makanan agar tidak
dihinggapi lalat. Sebagian besar responden juga telah mengetahui pentingnya mencuci tangan
sebelum makan dan setelah BAB, meskipun terdapat beberapa respoden yang belum
mepraktekkan pengetahuannya tersebut. Beberapa responden mengaku malas jika setiap kali
akan makan, harus selalu mencuci tangan dengan sabun, apalagi jika sedang bepergian.
Demikian juga dengan makanan yang telah dihinggapi lalat, beberapa responden terkadang
merasa sayang untuk membuang atau tidak memakan makanana yang telah terkontaminasi
tersebut.
Sistem pembuangan jamban di daerah Sambirejo telah baik, ditandai dengan sebagian
besar responden yang telah memiliki WC dan jamban , serta telah menggunakannya.
meskipun demikian masih ada sebagian kecil responden yang tidak memiliki WC dan
jamban, sehingga mereka biasa BAB di sungai. Mereka merasa belum perlu membuat WC
dan jamban karena adanya sungai di dekat rumah mereka. Sumber air minum masyarakat
Sambirejo berasal dari PAM dan sumur, namun masih ada responden yang mengambil air
dari sungai. Sebagian besar responden mengaku di lingkungan rumahnya masih banyak
terdapat lalat, sehingga mereka menutup makanan dengan tudung saji untuk menghindari
timbulnya penyakit. Jenis tanah di Sambirejo menurut sebagian besar responden adalah tanah
liat dan sebagian besar responden yang memiliki sumur, membuat jamban pada jarak > 10 m
dengan sumurnya.
30
Menurut hasil wawancara, sebagian besar responden mengaku jarang diadakan
penyuluhan mengenai kesehatan lingkungan dan tidak pernah diadakan penyuluhan tentang
diare di tempat tinggalnya. Mereka mengetahui informasi tentang PHBS dan diare
kebanyakan dari media massa seperti TV, radio, koran dan majalah. Namun informasi
tersebut dirasa sangat terbatas dan kurang informatif. Kebanyakan responden kurang bisa
memahami pentingnya PHBS yang mereka dapatkan melalui media massa, sehingga
kesadaran untuk melaksankan PHBS dengan benar dan terus-menerus masih rendah.
Menurut sebagian besar responden, penyuluhan tentang imunisasi sudah sering
dilakukan, baik secara interpersonal, yaitu ketika seorang ibu melahirkan di bidan, maupun
secara kolektif yaitu saat posyandu balita. Pengetahuan tentang pemberian ASI eksklusif
masih kurang, terlihat dari hasil wawancara yang menunjukkan bahwa ssebagian besar
responden masih tidak tahu mengenai ASI eksklusif yang harus diberikan sampai usia 6
bulan. Sebagian responden mengganti dengan susu sapi sebelum6 bulan, bahkan banyak yang
memberikan makanan tambahan pada bayi sebelum usia 5 bulan. Sebagian besar responden
tidak mengethui pentingnya ASI bagi daya tahan tubuh bayi, dan tidak mengetahui kesiapan
bayi dalam menerima makanan tambahan.
Berdasarkan beberapa kemungkinan penyebab rendahnya pengetahuan dan kesadaran
masyarakat mengenai PHBS dan diare di kecamatan Sambirejo, maka dapat dilakukan upaya
untuk mengatasi hal tersebut. Salah satu upaya yang efektif adalah penyuluhan secara
langsung terhadap masyarakat, sehingga diharapkan dengan upaya tersebut masyarakat
mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap mengenai PHBS dan diare. Selain upaya
peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai PHBS dan diare di kecamatan
Sambirejo, perlu dibuat media promosi tertulis seperti pamphlet atau buku panduan
mengenai PHBS dan diare agar masyarakat dapat mempelajari sendiri serta mengingat segala
sesuatu tentang PHBS di mana pun.


31
BAB V I
PENATALAKSANAAN DAN PEMECAHAN MASALAH

A. Penyebab Masalah
Berdasarkan hasil kuesioner yang telah dilakukan, didapatkan beberapa penyebab
tingginya angka kejadian diare di Puskesma Sambirejo antara lain :
1. Pengetahuan masyarakat tentang diare yang masih kurang
2. Pengetahuan masyarakat tentang PHBS yang masih kurang
3. Kesadaran masyarakat tentang PHBS yang masih kurang
4. Tingkat pendidikan masyarakat rendah
5. Masih banyak terdapat vektor pembawa penyakit di lingkungan tempat tinggal
masyarakat
6. Promosi diare dan PHBS oleh tenaga kesehatan masih kurang

B. Memilih Prioritas Penyebab Masalah
Dengan mempertimbangkan efektifitas dan efisiensi pemecahan masalah yang ada,
maka tidak semua penyebab akan diambil pemecahannya, namun dipilih penyebab
masalah yang paling mendasar sehingga penyebab lain ikut teratasi. Untuk menentukan
prioritas penyebab masalah, dianjurkan menggunakan teknik kriteria matriks (Azwar,
1996).
Tabel 10. Teknik Kriteria Matrik untuk Memilih Prioritas Penyebab Masalah
No Daftar masalah I Jumlah
P S R
I
D
U
S
B
P
B
P
C
PSRIDUSBPBPC
1 Pengetahuan masyarakat tentang
Diare dan PHBS yang masih
kurang
5 5 5 4 5 4 5 50000
2 Peran tenaga kesehatan dirasa
kurang dalam hal promosi PHBS
kepada masyarakat
5 5 4 5 5 4 4 40000
3 Masih banyak vector pembawa
penyakit di lingkungan tempat
tinggal
4 4 4 3 5 4 2 7680
4 Tingkat pendidikan masyarakat
rendah
3 2 2 2 2 2 2 192

Keterangan :
I = Importancyi/I (Pentingnya masalah)
P = Prevalence/P (Besarnya masalah)
32
S = Severity/S (Akibat yang ditimbulkan oleh masalah)
SB = Social Benefit/SB (Keuntungan sosial karena selesainya masalah)
RI = Rate of Increase/RI (Kenaikan besarnya masalah)
DU = Degree of Unmeetneed/DU (Derajat keinginan masyarakat yang belum
terpenuhi)
PB = Public Concern/PB (Rasa perihatin masyarakat terhadap masalah)
PC = Political Climate/PC (Suasana Politik)
Kriteria penilaian :
1 : tidak penting
2 : agak penting
3 : cukup penting
4 : penting
5 : sangat penting
Berdasarkan kriteria matriks di atas, maka prioritas penyebab masalahnya adalah
sebagai berikut:
1. Pengetahuan masyarakat tentang Diare dan PHBS yang masih kurang
2. Peran tenaga kesehatan dirasa kurang dalam hal promosi PHBS kepada masyarakat
3. Masih banyak vektor pembawa penyakit di lingkungan tempat tinggal masyarakat
4. Tingkat pendidikan masyarakat rendah

C. Alternatif Jalan Keluar Masalah
Alternatif jalan keluar yang ditempuh untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat
tentang tentang diare dan PHBS antara lain :
1. Penyuluhan mengenai diare dan PHBS baik oleh tenaga kesehatan maupun kader
masyarakat melalui berbagai forum yang ada, baik Posyandu, PKK, maupun kegiatan
kemasyarakatan lainnya.
2. Perlu ditingkatkan promosi diare dan PHBS melalui leaflet, pamflet, dan poster

D. Menentukan Prioritas Jalan Keluar
Cara untuk memilih prioritas jalan keluar yang dianjurkan adalah memakai teknik
kriteria matriks, yang didasarkan pada kriteria efektivitas dan efisiensi jalan keluar
(Azwar, 1996)
Tabel 11. Teknik Kriteria Matrik untuk Memilih Prioritas Pemecahan Masalah
33
No
Cara
penyelesaian masalah
Efektivitas
T R C
Prioritas

MxIxVxTxR
C
M I V
1. Penyuluhan mengenai diare dan
PHBS baik oleh tenaga
kesehatan maupun kader
masyarakat melalui berbagai
forum yang ada, baik Posyandu,
PKK, maupun kegiatan
kemasyarakatan lainnya.
4 4 3 4 3 4 144
2. Perlu ditingkatkan promosi
tetang diare dan PHBS melalui
leaflet, pamflet, dan poster
4 4 3 3 3 4 108

Kriteria efektivitas :
M = Magnitude (besarnya masalah yang dapat diselesaikan)
I = Importancy (pentingnya jalan keluar)
V = Vunerability (sensitifitas jalan keluar)
T = Tecnology (kelayakan teknologi)
R = Resource (sumber daya yang tersedia)
Kriteria penilaian efektivitas :
1 = tidak efektif
2 = agak efektif
3 = cukup efektif
4 = efektif
5 = paling efektif
Kriteria efisiensi
C = Efficiency-Cost (semakin besar biaya yang diperlukan semakin tidak efisien)
Kriteria penilaian efisiensi :
1 = paling efisien
2 = efisien
3 = cukup efisien
4 = agak efisien
5 = tidak efisien
Dari perhitungan formulasi di atas didapatkan bahwa memberikan penyuluhan
mengenai diare dan PHBS baik oleh tenaga kesehatan maupun kader masyarakat melalui
berbagai forum yang ada, baik Posyandu, PKK, maupun kegiatan kemasyarakatan lainnya
34
adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah tingginya angka kejadian diare di wilayah
kerja puskesmas Sambirejo, kabupaten Sragen.































35
BAB VII
RENCANA KEGIATAN

Usulan rencana kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat di wilayah
kerja Puskesmas Sambirejo tentang Diare dan PHBS adalah sebagai berikut:
A. Nama Kegiatan
Penyuluhan tentang Diare dan PHBS
B. Tujuan Umum
Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja puskesmas Sabirejo
kabupaten Sragen.
C. Tujuan Khusus
Menurunnya angka kejadian diare di wilayah kerja puskesmas Sabirejo kabupaten
Sragen.
D. Sasaran
Warga masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Sambirejo.
E. Waktu dan Mekanisme Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan pada forum-forum masyarakat yang ada, baik Posyandu,
PKK, maupun kegiatan kemasyarakatan lainnya
F. Materi
Materi penyuluhan dibuat sepraktis mungkin agar mudah untuk diingat dan
dilaksanakan. Adapun materi yang diberikan meliputi:
1. Definisi Diare dan PHBS
2. Penyebab diare
3. Penatalaksanaan diare dengan oralit
4. Pentingnya PHBS
5. Mencuci tangan dengan sabun dan air setiap akan makan, menyiapkan makanan,
setelah makan, serta setelah BAB
6. Memiliki dan menggunakan jamban untuk BAB
7. Menggunakan air bersih untuk keperluan sehari-hari
8. Menutup makanan
9. Memberikan ASI eksklusif sampai usia bayi 6 bulan
36
Materi diberikan dengan berbagai media dan menggunakan metode two way
traffic (dua arah) yaitu selama memberikan materi bisa diselingi tanya jawab. Pada akhir
kunjungan, dibuat komitmen bersama untuk melaksanakan PHBS.

G. Pelaksana
1. Jajaran UPTD Puskesmas Sambirejo, dalam hal ini adalah bidang Kesling (kesehatan
lingkungan)
2. Bidan desa dengan dibantu oleh kader posyandu di Puskesmas Sambirejo, kader
dasawisma, kader PKK.

H. Biaya
Berasal dari dana operasional puskesmas yang dialokasikan untuk upaya
peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

I. Kriteria Keberhasilan dan Metode Evaluatif
1. Meningkatnya tingkat kesehatan masyarakat di wilayah kerja puskesmas Sambirejo,
kabupaten Sragen
2. Menurunnya angka kejadian diare di wilayah kerja puskesmas Sabirejo kabupaten
Sragen.














37
BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN

1. KESIMPULAN
1. Berdasarkan hasil survei, sebagian besar masyarakat di wilayah kerja puskesmas
Sambirejo belum menyadari pentingnya PHBS
2. Masih kurangnya kegiatan penyuluhan mengenai diare dan PHBS di wilayah kerja
puskesmas Sambirejo
3. Dari analisis pemecahan masalah, didapatkan jalan keluar terhadap rendahnya
pengetahuan tentang diare dan kesadaran tentang PHBS yaitu dengan memberikan
penyuluhan mengenai diare dan PHBS oleh tenaga kesehatan kepada masyarakat

2. SARAN
1. Tenaga kesehatan diharapkan lebih telaten dalam memberikan penyuluhan kepada
masyarakat yang sebagian besar mempunyai tingkat pendidikan rendah.
2. Selain penyuluhan, perlu adanya promosi melalui leaflet, dan pamflet tentang diare
dan PHBS.
3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel dan cakupan wilayah
yang lebih besar, untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih akurat














38
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, A. 1996. Menuju Mutu Pelayanan Kesehatan yang Lebih Bermutu. Yayasan Penerbit
IDI, Jakarta.

Bakti Husada, 2007, Buku Pedoman Perilaku Hidup Bersih Sehat di
Rumah Tangga : Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. 2006. PHBS. www.promosikesehatan.com

Departemen Kesehatan RI Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan
Penyehatan Lingkungan Pemukiman.1999. Buku Ajar Diare. Departemen
Kesehatan RI. Jakarta

Hendarwanto.2002. Diare Akut Karena Infeksi. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I.
Balai Penerbit FK UI. Jakarta

Murdjati. 1996. Administrasi Kesehatan. Administrasi Kesehatan dan Upaya Kesehatan
Masyarakat. UNS. Surakarta

Nelson, W.E. 2000. Penyakit protozoa. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Volume 2.
EGC. Jakarta

Stratifikasi Puskesmas Sambirejo, Sragen. 2008. Profil Tahun 2008. Sekretariat
Puskesmas Sambirejo.













39

Laporan PROBLEM SOLVI NG CYCLE

UPAYA PENURUNAN ANGKA KEJADIAN DIARE DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS SAMBIREJO KABUPATEN SRAGEN










Disusun Oleh :
KELOMPOK 379 B
Antony Satriawan G0001051
Yunia Hastami G0002022
Muhammad Reza G0002105
Herry Yudhi Istanto G0003011
Dian Fitri Astuti G0003075
Lilik Yudhantoro G0003128
Ratih Widowati G0004180

Pembimbing:
Dr. Zainal Abidin, M.Kes
Dr. Sri Herawati, M.M.

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
S U R A K A R T A
2009
40