Anda di halaman 1dari 27

BANTUAN HIDUP DASAR

(BHD)
INDIKASI
1. Henti napas
Henti napas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernapasan dari
korban/pasien.
Henti napas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar. Henti
napas dapat terjadi pada keadaan:
Tenggelam
Stroke
Obstruksi jalan napas
Epiglotitis
Overdosis obat-obatan
Tersengat listrik
Infark miokard
Tersambar petir
Koma akibat berbagai macam kasus.
Pada awal henti napas oksigen masih dapat masuk kedalam darah untuk beberapa menit dan
jantung masih dapat mensirkulasikan darah ke otak dan organ vital lainnya, jika pada keadaan ini
diberikan bantuan napas akan sangat bermanfaat agar korban dapat tetap hidup dan mencegah
henti jantung.
2. Henti jantug
Pada saat terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti sirkulasi. Henti sirkulasi ini
akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen. Pernapasan yang
terganggu (tersengal-sengal) merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung.Bantuan hidup
dasar merupakan bagian dari pengelolaan gawat darurat medik yang bertujuan:
1. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi.
2. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi dari korban yang
mengalami henti jantung atau henti napas melalui Resusitasi Jantung Paru (RJP).
Resusitasi jantung Paru terdiri dari 2 tahap, yaitu :
Survei Primer (Primary Survey), yang dapat dilakukan oleh setiap orang Survei Sekunder
(Secondary Survey), yang hanya dapat dilakukan oleh tenaga
medis dan paramedis terlatih dan merupakan lanjutan dari survei primer.
SURVEI PRIMER
Dalam survei primer difokuskan pada bantuan napas dan bantuan sirkulasi serta defibrilasi.
Untuk dapat mengingat dengan mudah tindakan survei primer dirumuskan dengan abjad A,
B, C, dan D, yaitu
A airway (jalan napas)
B breathing (bantuan napas)
C circulation (bantuan sirkulasi)
D defibrilation (terapi listrik)

Sebelum melakukan tahapan A (airway), harus terlebih dahulu dilakukan prosedur awal
pada korban/pasien, yaitu :
1. Memastikan keamanan lingkungan bagi penolong
2. Memastikan kesadaran dari korban/pasien.
Untuk memastikan korban dalam keadaan sadar atau tidak penolong harus melakukan
upaya agar dapat memastikan kesadaran korban/pasien, dapat dengan cara menyentuh
atau menggoyangkan bahu korban/pasien dengan lembut dan mantap untuk mencegah
pergerakan yang berlebihan, sambil memanggil namanya atau Pak !!! / Bu!!! / Mas!!!
/Mbak !!!.
3. Meminta pertolongan.
Jika ternyata korban/pasien tidak memberikan respon terhadap panggilan, segera minta bantuan
dengan cara berteriak "Tolong !!!" untuk mengaktifkan sistem pelayanan medis yang lebih lanjut.
4. Memperbaiki posisi korban/pasien.
Untuk melakukan tindakan BHD yang efektif, korban/pasien harus dalam posisi terlentang dan
berada pada permukaan yang rata dan keras. jika korban ditemukan dalam posisi miring atau
tengkurap, ubahlah posisi korban ke posisi terlentang. Ingat! penolong harus membalikkan korban
sebagai satu kesatuan antara kepala, leher dan bahu digerakkan secara bersama-sama. Jika posisi
sudah terlentang, korban harus dipertahankan pada posisi horisontal dengan alas tidur yang keras
dan kedua tangan diletakkan di samping tubuh.
5. Mengatur posisi penolong.
Segera berlutut sejajar dengan bahu korban agar saat memberikan bantuan napas dan sirkulasi,
penolong tidak perlu mengubah posisi atau menggerakkan lutut.
A (AIRWAY) Jalan NapasSetelah selesai melakukan prosedur dasar, kemudian dilanjutkan dengan
melakukkan tindakan :
1. Pemeriksaan jalan napas.
Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh benda asing.
Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan
dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi dengan sepotong kain, sedangkan sumbatan oleh
benda keras dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan. Mulut dapat
dibuka dengan tehnik Cross Finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk
Pada mulut korban.
2. Membuka jalan napas.
Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa pada korban tidak sadar
tonus otot-otot menghilang, maka lidah dan epiglotis akan menutup farink dan larink, inilah
salah satu penyebab sumbatan jalan napas. Pembebasan jalan napas oleh lidah dapat dilakukan
dengan cara Tengadah kepala topang dagu (Head tild - chin lift) dan Manuver Pendorongan
Mandibula. Teknik membuka jalan napas yang direkomendasikan untuk orang awam dan
petugas, kesehatan adalah tengadah kepala topang dagu, namun demikian petugas kesehatan
harus dapat melakukan manuver
lainnya.



MEMBUKA JALAN NAFAS
Head tild - Chin lif
B (BREATHING) Bantuan napas
Terdiri dari 2 tahap :
1. Memastikan korban/pasien tidak bernapas.
Dengan cara melihat pergerakan naik turunnva dada, mendengar bunyi napas dan merasakan
hembusan napas korban/pasien. Untuk itu penolong harus mendekatkan telinga di atas mulut dan
hidung korban/pasien, sambil tetap mempertahankan jalan napas tetap terbuka. Prosedur ini
dilakukan tidak boleh melebihi 10 detik.
2. Memberikan bantuan napas.
Jika korban/pasien tidak bernapas, bantuan napas dapat dilakukkan melalui mulut ke mulut, mulut
ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara memberikan
hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap kali hembusan
adalah 1,5 - 2 detik dan volume udara yang dihembuskan adalah 7000 - 1000 ml (10 ml/kg) atau
sampai dada korban/pasien terlihat mengembang. Penolong harus menarik napas dalam pada saat
akan menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang cukup. Konsentrasi oksigen yang
dapat diberikan hanya 16 - 17%. Penolong juga harus memperhatikan respon dari korban/pasien
setelah diberikan bantuan napas.
Cara memberikan bantuan pernapasan :
o Mulut ke mulut
Bantuan pernapasan dengan menggunakan cara ini merupakan cara yang tepat dan efektif untuk
memberikan udara ke paru-paru korban/pasien. Pada saat dilakukan hembusan napas dari mulut ke
mulut, penolong harus mengambil napas dalam terlebih dahulu dan mulut penolong harus dapat
menutup seluruhnya mulut korban dengan baik agar tidak terjadi kebocoran saat mengghembuskan
napas dan juga penolong harus menutup lubang hidung korban/pasien dengan ibu jari dan jari
telunjuk untuk mencegah udara keluar kembali dari hidung. Volume udara yang diberikan pada
kebanyakkan orang dewasa adalah 700 - 1000 ml (10 ml/kg). Volume udara yang berlebihan dan laju
inpirasi yang terlalu cepat dapat menyebabkan udara memasuki lambung, sehingga terjadi distensi
lambung.

o Mulut ke hidung
Teknik ini direkomendasikan jika usaha ventilasi dari mulut korban tidak memungkinkan, misalnya
pada Trismus atau dimana mulut korban mengalami luka yang berat, dan sebaliknya jika melalui
mulut ke hidung, penolong harus menutup mulut korban/pasien.

o Mulut ke Stoma
Pasien yang mengalami laringotomi mempunyai lubang (stoma) yang menghubungkan trakhea
langsung ke kulit. Bila pasien mengalami kesulitan pernapasan maka harus dilakukan ventilasi dari
mulut ke stoma.


C (CIRCULATION) Bantuan sirkulasi
Terdiri dari 2 tahapan :
1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung korban/pasien.
Ada tidaknya denyut jantung korban/pasien dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis di
daerah leher korban/ pasien, dengan dua atau tiga jari tangan (jari telunjuk dan tengah) penolong
dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea, kemudian kedua jari digeser ke bagian
sisi kanan atau kiri kira-kira 1 - 2 cm raba dengan lembut selama 5 - 10 detik.Jika teraba denyutan
nadi, penolong harus kembali memeriksa pernapasan korban dengan melakukan manuver tengadah
kepala topang dagu untuk menilai pernapasan korban/pasien. Jika tidak bernapas lakukan bantuan
pernapasan, dan jika bernapas pertahankan jalan napas.

2. Memberikan bantuan sirkulasi.
Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung, selanjutnya dapat diberikan bantuan sirkulasi atau
yang disebut dengan kompresi jantung luar, dilakukan dengan teknik sebagai berikut :
o Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang iga kanan atau kiri sehingga
bertemu dengan tulang dada (sternum).
o Dari pertemuan tulang iga (tulang sternum) diukur kurang lebih 2 atau 3 jari ke atas. Daerah
tersebut merupakan tempat untuk meletakan tangan penolong dalam memberikan bantuan sirkulasi.
o Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan di atas telapak
tangan yang lainnya, hindari jari-jari tangan menyentuh dinding dada korban/pasien, jari-jari
tangan dapat diluruskan atau menyilang.
o Dengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat
badannya secara teratur sebanyak 15 kali dengan kedalaman penekanan berkisar antara 1.5 - 2 inci
(3,8 - 5 cm).o Tekanan pada dada harus dilepaskan keseluruhannya dan dada dibiarkan
mengembang kembali ke posisi semula setiap kali melakukan kompresi dada. Selang waktu yang
dipergunakan untuk melepaskan kompresi harus sama dengan pada saat melakukan kompresi. (50%
Duty Cycle).
o Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah posisi tangan pada saat
melepaskan kompresi.
o Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian napas adalah 15 : 2, dilakukan baik oleh 1 atau 2 penolong
jika korban/pasien tidak terintubasi dan kecepatan kompresi adalah 100 kali permenit (dilakukan 4
siklus permenit), untuk kemudian dinilai apakah perlu dilakukan siklus berikutnya atau tidak.Dari
tindakan kompresi yang benar hanya akan mencapai tekanan sistolik 60 - 80 mmHg, dan diastolik
yang sangat rendah, sedangkan curah jantung (cardiac output) hanya 25% dari curah jantung
normal. Selang waktu mulai dari menemukan pasien dan dilakukan prosedur dasar sampai
dilakukannya tindakan bantuan sirkulasi (kompresi dada) tidak boleh melebihi 30 detik.




D (DEFIBRILATION)
Defibrilation atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan istilah defibrilasi adalah suatu terapi
dengan memberikan energi listrik. Hal ini dilakukan jika penyebab henti jantung (cardiac arrest)
adalah kelainan irama jantung yang disebut dengan Fibrilasi Ventrikel. Dimasa sekarang ini sudah
tersedia alat untuk defibrilasi (defibrilator) yang dapat digunakan oleh orang awam yang disebut
Automatic External Defibrilation, dimana alat tersebut dapat mengetahui korban henti jantung ini
harus dilakukan defibrilasi atau tidak, jika perlu dilakukan defibrilasi alat tersebut dapat memberikan
tanda kepada penolong untuk melakukan defibrilasi atau melanjutkan bantuan napas dan bantuan
sirkulasi saja.

MELAKUKAN BHD 1 DAN 2 PENOLONG
Orang awam hanya mempelajari cara melakukan BHD 1 penolong. Teknik BHD yang dilakukan oleh
2 penolong menyebabkan kebingungan koordinasi. BHD 1 penolong pada orang awam lebih efektif
mempertahankan sirkulasi dan ventilasi yang adekuat, tetapi konsekuensinya akan menyebabkan
penolong cepat lelah.
BHD 1 penolong dapat mengikuti urutan sebagai berikut :
1. Penilaian korban
Tentukan kesadaran korban/pasien (sentuh dan goyangkan korban dengan lembut dan mantap),
jika tidak sadar, maka
2. Minta pertolongan serta aktifkan sistem emergensi.
3. Jalan napas (AIRWAY)
o Posisikan korban/pasien
o Buka jalan napas dengan manuver tengadah kepala-topang dagu.4. Pernapasan (BREATHING)
4. Nilai pernapasan untuk melihat ada tidaknya pernapasan dan adekuat atau tidak
pernapasan korban/pasien.
5. Jika korban/pasien dewasa tidak sadar dengan napas spontan, serta tidak ada trauma leher (trauma
tulang belakang) posisikan korban pada posisi mantap (Recovery positiotion), dengan tetap
menjaga jalan napas tetap terbuka.
6. Jika korban/pasien dewasa tidak sadar dan tidak bernapas, lakukkan bantuan napas.

Di Amerika serikat dan di negara lainnya dilakukan bantuan napas awal sebanyak 2 kali, sedangkan
di Eropa, Australia, New Zealand diberikan 5 kali. Jika pemberian napas awal terdapat kesulitan,
dapat dicoba dengan membetulkan posisi kepala korban/pasien, atau ternyata tidak bisa juga maka
dilakukan :
setiap kali membuka jalan napas untuk menghembuskan napas, sambil mencari benda yang
menyumbat di jalan napas, jika terlihat usahakan dikeluarkan.
asing.

-tanda adanya sirkulasi dengan
meraba arteri karotis, bila nadi ada cek napas, jika tidak bernapas lanjutkan kembali bantuan
napas.
C Sirkulasi (CIRCULATION)
Periksa tanda-tanda adanya sirkulasi setelah memberikan 2 kali bantuan pernapasan dengan cara
melihat ada tidaknva pernapasan spontan, batuk atau pergerakan. Untuk petugas kesehatan terlatih
hendaknya memeriksa denyut nadi pada arteri Karotis.
1. jika ada tanda-tanda sirkulasi, dan ada denyut nadi tidak dilakukan kompresi dada,
hanya menilai pernapasan korban/pasien (ada atau tidak ada pernapasan)
2. Jika tidak ada tanda-tanda sirkulasi, denvut nadi tidak ada lakukan kompresi dada
o Letakkan telapak tangan pada posisi yang benar
o Lakukan kompresi dada sebanyak 15 kali dengan kecepatan 100 kali
permenit
o Buka jalan napas dan berikan 2 kali bantuan pernapasan.
o Letakkan kembali telapak tangan pada posisi yang tepat dan mulai kembali
kompresi 15 kali dengan kecepatan 100 kali permenit.
o Lakukan 4 siklus secara lengkap (15 kompresi dan 2 kali bantuan
pernapasan)

6. Penilaian Ulang
Sesudah 4 siklus ventilasi dan kompresi kemudian korban dievaluasi kembali,
kompresi dan bantuan napas dengan rasio 15 : 2.

permenit dan
monitor nadi setiap saat.
ka sudah terdapat pernapasan spontan dan adekuat serta nadi teraba, jaga agar jalan napas tetap
terbuka kemudian korban/pasien ditidurkan pada posisi sisi mantap.

PENATALAKSANAAN OBSTRUKSI JALAN NAPAS OLEH BENDA ASING .
Pengertian obstruksi jalan napas oleh benda asing :
Obstruksi jalan napas oleh benda asing pada orang dewasa sering terjadi pada saat makan,
daging merupakan penyebab utama obstruksi jalan napas meskipun demikian berbagai macam bentuk
makanan yang lain berpotensi menyumbat jalan napas pada anak-anak dan orang dewasa.
Benda asing tersebut dapat menyebabkan obstruksi jalan napas sebagian (parsial) atau
komplit (total). Pada obstruksi jalan napas partial korban mungkin masih mampu melakukan
pernapasan, namun kualitas pernapasan dapat baik atau buruk. Pada korban dengan pernapasan yang
masih baik, korban biasanya masih dapat melakukan tindakan batuk dengan kuat, usahakan agar
korban tetap bisa melakukan batuk dengan kuat sampai benda asing tersebut dapat keluar. Bila
sumbatan jalan napas partial menetap, maka aktifkan sistem pelayanan medik darurat. Obstruksi jalan
napas partial dengan pernapasan yang buruk harus diperlakukan sebagai Obstruksi jalan napas
komplit.Obstruksi jalan napas komplit (total), korban biasanya tidak dapat berbicara, bernapas, atau
batuk. Biasanya korban memegang lehernya diantara ibu jari dan jari lainya. Saturasi oksigen akan
dengan cepat menurun dan otak akan mengalami kekurangan oksigen sehingga menyebabkan
kehilangan kesadaran, dan kematian akan cepat terjadi jika tidak diambil tindakan segera.
Penatalaksanaan obstruksi jalan napas oleh benda asing:
Manuver Heimlich
Untuk mengatasi obstruksi jalan napas oleh benda asing dapat dilakukan manuver Heimlich
(hentakan subdiafragmaabdomen). Suatu hentakan yang menyebabkan peningkatan tekanan pada
diafragma sehingga memaksa udara yang ada di dalam paru-paru untuk keluar dengan cepat sehingga
diharapkan dapat mendorong atau mengeluarkan benda asing yang menyumbat jalan napas. Setiap
hentakan harus diberikan dengan tujuan menghilangkan obstruksi, mungkin dibutuhkan hentakan 6 -
10 kali untuk membersihkan jalan napas.Pertimbangan penting dalam rnelakukan manuver Heimlichi
adalah kemungkinan kerusakan pada organ-organ besar.

Manuver Heimlich pada korban sadar dengan posisi berdiri atau dudukPenolong harus berdiri di
belakang korban, melingkari pinggang korban dengan kedua lengan, kemudian kepalkan satu tangan
dan letakkan sisi jempol tangan kepalan pada perut korban, sedikit di atas pusar dan di bawah ujung
tulang sternum. Pegang erat kepalan tangan dengan tangan lainnya, Tekan kepalan ke perut dengan
hentakan yang cepat ke arah atas. Setiap hentakan harus terpisah dan dengan gerakan yang jelas.


Manuver Heimlich pada korban yang tergeletak (tidak sadar)
Korban harus diletakkan pada posisi terlentang dengan muka keatas. Penolong berlutut disisi paha
korban. Letakkan salah satu tangan pada perut korban di garis tengah sedikit di atas pusat dan jauh
dibawah ujung tulang sternum, tangan kedua diletakkan diatas tangan pertama. Penolong menekan
kearah perut dengan hentakan yang cepat kearah atas. Manuver ini dapat dilakukan pada korban sadar
jika penolongnya terlampau pendek untuk memeluk pinggang korban.

Manuver Heimlich pada yang dilakukan sendiri :
Pengobatan diri sendiri terhadap obstruksi jalan napasKepalkan sebuah tangan, letakkan sisi ibu jari
pada perut diatas pusat dan dibawah tulang sternum, genggam kepalan itu dengan kuat dan berikan
tekanan ke atas ke arah diafragma dengan gerakan cepat, jika tidak berhasil dapat dilakukan tindakan
dengan menekan perut pada tepi meja atau belakang kursi.
Penyapuan jari
Manuver ini hanya dilakukan atau digunakan pada korban tidak sadar, dengan muka
menghadap keatas buka mulut korban dengan memegang lidah dan rahang diantara ibu jari dan jari-
jarinya, kemudian mengangkat rahang bawah. Tindakan ini akan menjauhkan lidah dari
kerongkongan serta menjauhkan benda asing yang mungkin menyangkut ditempat tersebut.
Masukkan jari telunjuk tangan lain menelusuri bagian dalam pipi, jauh ke dalam kerongkongan di
bagian dasar lidah, kemudian lakukan gerakan mengait untuk melepaskan benda asing serta
menggerakkan benda asing tersebut ke dalam mulut sehingga memudahkan untuk diambil. Hati-hati
agar tidak mendorong benda asing lebih jauh kedalam jalan napas.
PENATALAKSANAAN JALAN NAPAS
Mengenali adanya sumbatan jalan napas. Penyebab utama jalan napas pada pasien tidak sadar
adalah hilangnya tonus otot tenggorokan sehingga pangkal lidah jatuh menyumbat farink dan
epiglotis menutup larink. Bila pasien masih bernapas sumbatan partial menyebabkan bunyi napas saat
inspirasi bertambah (stridor), sianosis (tanda lanjut) dan retraksi otot napas tambahan. Tanda ini akan
hilang pada pasien yang tidak bernapas.Tahap dasar membuka jalan napas tanpa alatTengadahkan
kepala pasien disertai dengan mengangkat rahang bawah ke depan. Bila ada dugaan cedera pada leher
lakukan pengangkatan rahang bawah ke depan disertai dengan membuka rahang bawah (Jaw thrust),
jangan lakukan ekstensi kepala. Apabila pasien masih bernapas spontan, untuk menjaga jalan napas
tetap terbuka posisikan kepala pada kedudukan yang tepat. Pada keadaan yang meragukan untuk
mempertahankan jalan napas pasanglah oral/nasal airway.
Tahap dasar membuka jalan napas dengan alat. Apabila manipulasi posisi kepala tidak dapat
membebaskan jalan napas akibat sumbatan oleh pangkal lidah atau epiglotis maka lakukan
pemasangan alat bantu jalan napas oral/nasal. Sumbatan oleh benda asing diatasi dengan perasat
Heimlich atau laringoskopi disertai dengan pengisapan atau menjepit dan menarik keluar benda asing
yang terlihat.
Alat bantu jalan napas orofaring (oropharyngeal airway)
Alat bantu jalan napas orofaring menahan pangkal lidah dari dinding belakang faring. Alat ini
berguna pada pasien yang masih bernapas spontan atau saat dilakukan ventilasi dengan sungkup dan
bagging dimana tanpa disadari penolong menekan dagu ke bawah sehingga jalan napas tersumbat.
Alat ini juga membantu saat dilakukan pengisapan lendir dan mencegah pasien mengigit pipa
endotrakheal (ETT).

Cara pemasangan
o Bersihkan mulut dan faring dari segala kotoran
o Masukan alat dengan ujung mengarah ke chefalad
o Saat didorong masuk mendekati dinding belakang faring alat diputar 180
o Ukuran alat dan penempatan yang tepat menghasilkan bunyi napas yang
nyaring pada auskultasi paru saat dilakukan ventilasi
o Pertahankan posisi kepala yang tepat setelah alat terpasang
Bahaya
o Cara pemasangan yang tidak tepat dapat mendorong lidah ke belakang atau
apabila ukuran terlampau panjang epiglotis akan tertekan menutup rimaglotis
sehingga jalan napas tersumbat
o Hindarkan terjepitnya lidah dan bibir antara gigi dan alat
o Jangan gunakan alat ini pada pasien dimana refleks faring masih ada karena
dapat menyebabkan muntah dan spasme laring
Alat bantu napas nasofaring (nasopharyngeal airway)
Alat ini berbentuk pipa polos terbuat dari karet atau plastik. Biasanya digunakan pada pasien yang
menolak menggunakan alat bantu jalan napas orofaring atau apabila secara tehnis tidak mungkin.
memasang alat bantu jalan napas orofaring (misalnya trismus, rahang mengatup kuat dan cedera berat
daerah mulut).
Cara pernasangan
Pilih alat dengan ukurang yang tepat, lumasi dan masukkan menyusuri bagian tengah
dan dasar rongga hidung hingga mencapai daerah belakang lidah
Apabila ada tahanan dengan dorongan ringan alat diputar sedikit.Bahaya
Alat vang terlalu panjang dapat masuk oesophagus dengan secgala akibatnya
Alat ini dapat merangsang, muntah dan spasme laring
Dapat menyebabkan perdarahan akibat kerusakan mukosa akibat pernasangan, oleh
sebab itu alat penghisap harus selalu siap saat pernasangan.
Ingat !!
Selalu periksa apakah napas spontan timbul setelah pemasangan alat ini.
Apabila tidak ada napas spontan lakukan napas buatan dengan alat bantu napas yang
memadai.
Bila tidak ada alat bantu napas yang memadai lakukan pernapasan dari mulut ke mulut
Pernapasan buatan
Pernapasan mulut ke mulut dan mulut ke hidung
Cara ini merupakan tehnik dasar bantuan napas. Upayakan memakai pelindung (barrier) antara mulut
penolong dengan pasien berupa lembar plastik/silikon berlubang ditengah atau memakai sungkup,
sungkup khusus ini dikenal dengan nama Pocketfacemask. Keterbatasan cara ini adalah konsentrasi
oksigen ekspirasi penolong rendah (16-17%).
Pernapasan mulut ke sungkup muka (pocket facemask)
Memegang sungkup dengan tepat memerlukan latihan dan konsentrasi, akan tetapi alat ini merupakan
alat bantu efektif untuk napas buatan. Sungkup muka ini memiliki beberapa ukuran, bening untuk
memudahkan melihat adanya regurgitasi dan memiliki lubang masuk untuk oksigen tambahan.
Keuntungan dari penggunaan sungkup muka ini adalah mencegah kontak langsung dengan pasien dan
dapat memberikan oksigen tambahan
Cara melakukan
Bila memungkinkan lakukan dengan dua penolong, posisi dan urutan tindakan sama seperti
tanpa menggunakan sungkup, kecuali pada tehnik ini digunakan sungkup sebagai pelindung, Jadi
diperlukan keterampilan memegang sungkup. Dengan dua penolong seorang melakukan kompresi
dada dan yang lain melakukan napas buatan. Bila tersedia berikan oksigen tambahan dengan aliran 10
liter/menit (FiO2 =50%) dan 15 liter/menit (FiO2=80%). Bila tidak ada penolakan pasang alat bantu
jalan napas orofaring. Tengadahkan kepala dan pasang sungkup pada mulut dan hidung pasien
dengan cara ibu jari dan telunjuk kedua tangan menekan sungkup sedangkan tiga jari kedua tangan
menarik mandibula sambil tetap mempertahankan kepala dalam posisi tengadah, sehingga tidak
terjadi kebocoran. Berikan tiupan melalui lubang sungkup sambil memperhatikan gerakan dada, tiup
dengan lambat dan mantap dengan lama inspirasi 1-2 detik. Pada pasien dengan henti jantung dengan
jalan napas belum terlindungi lakukan 2 ventilasi setiap 15 kompresi dada. Apabila jalan napas
terlindungi (misalnya sudah terpasang ETT, Laringeal Mask Airway atau Combitube) lakukan
kompresi 100 kali/menit dengan ventilasi dilakukan. tanpa menghentikan kompresi (asingkron) tiap 5
detik (kecepatan 12 kali/menit). Apabila ada penolong ketiga lakukan tekanan pada krikoid untuk
mencegah distensi lambung dan regurgitasi.
Bantuan napas dengan. menggunakan bagging sungkup dan alat bantu jalan napas lainnya.
Bagging telah lama digunakan sebagai alat bantu napas utama dikombinasikan. dengan alat bantu
jalan napas lainnya misalnya sungkup muka, ETT, LMA, dan Combitube. Penggunaan bagging
memungkinkan pemberian oksigen tambahan. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat
menggunakan bagging :
Volume tidal berkisar antara 10-15 ml/kg BB
Bagging dewasa umum mempunyai volume 1600 ml.
Bila memungkingkan bagging dilakukan oleh dua penolong untuk mencegah
kebocoran, seorang penolong mempertahankan sungkup dan kepala pasien, dan yang
lainnya melakukan pemijatan bagging
Masalah kebocoran dan kesulitan mencapai volume tidal yang cukup tidak akan terjadi
jika dipasang ETT, LMA, atau Combitube.
Tahap lanjut membuka jalan napas.
Pernasangan pipa endotrakeal (ETT)
Pemasangan pipa endotrakeal menjamin terpeliharanya jalan napas dan sebaiknya dilakukan sesegera
mungkin oleh penolong yang terlatih.
Keuntungan :
Terpeliharanya jalan napas
Dapat memberikan oksigen dengan konsentrasi tinggi
Menjamin tercapainya volume tidal yang, diinginkan
Mencegah teriadinya aspirasi
Mempermudah penghisapan lendir di trakea
Merupakan jalur masuk beberapa obat-obat resusitasi
Karena kesalahan letak pipa endotrakeal dapat menyebabkan kematian maka
tindakana ini sebaiknya dilakukan oleh penolong yang terlatih
Indikasi pemasangan :
Henti jantung
Pasien sadar yang tidak mampu bernapas dengan baik (edema paru, Guillan-Bare
syndrom, sumbatan jalan napas)
Perlindungan jalan napas tidak memadai (koma, arefleksi)
Penolong tidak mampu memberi bantuan napas dengan cara konvensional
Persiavan alat untuk pemasangan pipa endotrakeal (ETT)
denya

o Perempuan : No 7,0 ; 7,5 ; 8,0
o Laki laki : No 8,0 ; 8,5o Keadaan emergensi : No 7,5







ap lendir (Suction aparatus)
Tekhnik pemasangan
-alat yang diperlukan dan pilih ETT sesuai ukuran


setinggi 10 cm di oksiput dan pertahankan kepala tetap ekstensi


kanan, sisihkan lidah ke kiri.
Masukan bilah sampai sampai mencapai dasar lidah, perhatikan agar lidah atau bibir
tidak terjepit diantara bilah dan gigi pasien
- 40 , jangan sampai
menggunakan gigi sebagai titik tumpu

dari cuff ETT melewati pita suara 1-2 cm atau pada orang dewasa kedalaman ETT
19-23 cm
0 detik

lambung kemudian pada paru kanan dan kiri sambil memperhatikan pengembangan
dada

ETT dan lakukan hiperventilasi ulang selama 30 detik kemudian lakukan intubasi
kembali

secukupnya sampai tidak terdengar lagi suara kebocoran di mulut pasien saat dilakukan
ventilasi


12 liter/menit)
Penekanan krikoid (Sellick Manuever) :
Perasat ini dikerjakan saat intubasi untuk mencegah distensi lambung, regurgitasi
isi lambung dan membantu dalam proses intubasi. Perasat ini dipertahankan sampai balon
ETT sudah dikembangkan.Cara melakukan Sellick maneuver :
Cara puncak tulang tiroid (Adam's Apple)
Geser jari sedikit ke kaudal sepanjang garis median sampai menemukan lekukkan kecil
(membran krikotiroid)
Geser lagi jari sedikit ke bawah sepanjang garis median hingga ditemukan tonjolan
kecil tulang (kartilago krikoid)
Tekan tonjolan ini diantara ibu jari dan telunjuk ke arah dorsokranial. Gerakan ini akan
menyebabkan oesophagus terjepit diantara bagian belakang kartilago krikoid dengan tulang belakang
dan lubang trakhea/rimaglotis akan terdorong ke arah dorsal sehingga lebih mudah terlihat.
Memastikan letak ETT dengan menggunakan alat
Berbagai alat mekanik atau elektronis dapat digunakan untuk tujuan ini misalnva detektor end
tidal CO2 (kwantitatif dan kwalitatif). Melakukan bantuan napas dengan ETT selama RJP. Volume
tidal napas berkisar antara 10-15 ml/kg BB, secara klinis keadaan dapat diketahui dengan pengamatan
dada. Dengan volume 10 ml/kg BB dada akan tampak mulai mengembang dan dengan 15 ml/kg BB
dada akan mengembang, lebih besar lagi (naik antara 4-6 cm). Bila tidak diberikan oksigen tambahan
dan pada pasien gemuk berikan volume yang lebih besar sedangkan bila diberikan oksigen tambahan
atau pada pasien kurus berikan volume yang lebih kecil. Kecepatan pemberian napas berkisar antara
10-12 kali/menit atau satu kali setiap 5-6 detik dengan lama inspirasi sekitar 2 detik. Pada keadaan ini
tidak ada lagi perbandingan antara kompresi dan ventilasi. Kecepatan kompresi berkisar 100
kali/menit, sedangkan ventilasi diberikan setiap 5 detik (tidak perlu seirama dengan kompresi).
Komplikasi pemasangan ETT



ndrin) dan ujung ETT.




hipertensi, takikardi dan aritmia.
onkus. Umumnya masuk kebronkus kanan, untuk
mengatasinya tarik ETT 1-2 cm sambil dilakukan inspeksi gerakan dada dan auskultasi
bilateral.
Penanganan jalan napas pada pasien trauma
Gerakan kepala dan leher yang berlebihan pada pasien cedera leher dapat menyebabkan
cedera yang lebih hebat. Pasien trauma muka, multiple dan kepala harus dianggap disertai dengan
cedera leher.Langkah pernanganan pada pasien atau tersangka cedera leher.
1. Jangan tengadahkan kepala, hanya angkat rahang dan buka mulut pasien
2. Pertahankan kepala pada posisi netral selama nianipulasi jalan napas.
3. Pasien fraktur basis dan tulang muka lakukan pemasangan ETT dalam keadaan tulang
belakang distabilisasi.
4. Bila tidak dapat dilakukan intubasi lakukan krikotiroidektomi atau trakheostomi.
5. Bila diputuskan untuk dilakukan intubasi melalui hidung (blind nasal intubation) maka
harus dilakukan oleh penolong yang berpengalaman.
6. Bila pasien melawan dapat diberikan obat pelemas otot dan penenang.
Tehnik tambahan untuk penanganan jalan napas invasif dan ventilasi
Ada dua alat bantu jalan napas yang termasuk kelas IIb yaitu :


Laryngeal Mask airway (LMA)
LMA berupa sebuah pipa dengan ujung distal yang menyerupai sungkup dengan tepi yang
mempunvai balon sekelilingnya. Pada terpasang bagian sungkup ini harus berada di daerah
hipofaring, sehingga saat balon dikembangkan maka bagian terbuka dari sungkup akan menghadap
kearah lubang trakhea membentuk bagian dari jalan napas.
Beberapa kelebihan LMA sebagai alat bantu jalan napas adalah :
Dapat dipasang tanpa laringoskopi.
atau leher sehingga menguntungkan pada pasien dengan cedera leher atau pada pasien
yang sulit dilakukan visualisasi lubang trakhea.
Karena LMA tidak perlu masuk kedalam trakhea maka resiko kesalahan intubasi
dengan segala akibatnya tidak ditemukan pada LMA.
Kekurangan LMA adalah tidak dapat melindungi kemungkinan aspirasi sebaik ETT.
Combitube
Alat ini merupakan gabungan ETT dengan obturator oesophageal. Pada alat ini terdapat 2
daerah berlubang, satu lubang di distal dan beberapa lubang ditengah, lubang lubang ini dihubungkan
melalui 2 saluran yang terpisah dengan 2 lubang di proksimal yang merupakan interface untuk alat
bantu napas. Selain itu terdapat 2 buah balon, satu proksimal dari lubang distal dan satu proksimal
dari deretan lubang di tengah. Ventilasi melalui trakhea dapat dilakukan melalui lubang distal (ETT)
dan tengah (obtutator). Alat ini dimasukan tanpa laringoskopi, dari penelitian dengan cara
memasukan seperti ini 80% kemungkinan masuk ke eosophagus. Setelah alat ini masuk kedua balon
dikembangkan dan dilakukan pemompaan, mula-mula pada obturator seraya dilakukan inspeksi dan
auskultasi apabila ternyata dari pengamatan ini tidak tampak adanya ventilasi paru pemonpaan
dipindahkan pada ETT dan lakukan kembali pemeriksaan klinis. Kinerja ventilasi, oksigenasi dan
perlindungan terhadap aspirasi alat ini sepadan dengan ETT dengan keunggulan lebih mudah
dipasang dibanding ETT.KrikotiroidektomiTindakan ini dilakukan untuk membuka jalan napas
sementara dengan cepat, apabila cara lain sulit dilakukan. Pada tekhnik ini membran krikotiroid
disayat kecil vertikal, dilebarkan dan dimasukan ETT.
Trakheostomi
Tekhnik ini bukan pilihan pada keadaan darurat (life saving). Tindakan ini sebaiknya
dilakukan di kamar bedah oleh seorang yang ahli. Ada dua jenis yang biasa dipakai :
1. Penghisap faring yang kaku, pada alat ini diperlukan tekanan negatif yang rendah
sekali.
2. Penghisap trakheobronkhial yang lentur, alat ini mempunyai syarat :
o Ujung harus tumpul dan sebaiknya memiliki lubang di ujung dan di
samping
o Lebih panjang dari ETT
o Licin
o Steril dan sekali pakai
Cara melakukan penghisapan lendir
1. Lakukan hiperventilasi dengan Fi02 100% selama 15 - 30 detik
2. Gunakan kateter trakheobronkhial dengan diameter tidak lebih dari ? diameter dalam
ETT
3. Lama penghisapan tidak lebih dari 10 detik
4. Bila setelah penghisapan selama 10 detik ternyata masih belum bersih maka dapat
dilakukan pengisapan kembali, diantara pengisapan harus diselingi dengan ventilasi
seperti diatas.
5. Setelah selesai pengisapan lakukan hiperventilasi dengan FiO2 100 % selama 15 - 30
detikRJP



TERAPI EOKSIGEN
Terapi oksigen adalah memberikan aliran gas lebih dari 20% pada tekanan 1 atmosfir
sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam darah.
Tujuan :
Mempertahan oksigen jaringan yang adekuat
Menurunkan kerja napas
Menurunkan kerja jantung


Indikasi :
Penurunan PaO2
Keadaan lain seperti; gagal napas akut, syok, keracunan CO
Pemberian oksigen selalu tepat untuk pasien dengan gangguan sirkulasi atau napas
akut dengan ketentuan sebagai berikut :
Tanpa gangguan napas oksigen diberikan 2 liter/ menit melalui kanul binasal.
Dengan gangguan napas sedang oksigen diberikan 5 - 6 liter/menit melalui kanul
binasal.
Dengan gangguan napas berat, gagal jantung, henti jantung, gunakan sistem yang dapat
memberikan oksigen 100%.
Pada pasien dimana rangsang napas tergantung pada keadaan hipoksia (mis. Asma)
berikan oksigen kurang dari 50% dan awasi ketat.
Atur kadar oksigen berdasarkan kadar gas darah (PaO2) atau saturasi (SaO2)
Dalam keadaan darurat gunakan alat bantu napas yang lebih canggih (mis. bagging),
lakukan intubasi dan berikan oksigen 100%.
Persiapan alat :
1. Sumber oksigen (tabung atau sumber oksigen sentral)
2. Tabung pelembab (humidifier).
3. Pengukur aliran oksigen (flow meter)
4. Alat pemberian oksigen (tergantung metoda yang dipakai)
Metoda pemberian oksigen :

o Aliran rendah konsentrasi rendah (Low flow low concentration)


o Aliran rendah konsentrasi tinggi (Low flow high concentration)



o Aliran tinggi konsentrasi rendah (High flow low concentration)

o Aliran tinggi konsentrasi tinggi (High flow high concen tration)


Kanul binasal
Paling sering digunakan untuk pemberian oksigen, memberikan FiO2 24 - 44% dengan
aliran 1 - 6 liter/menit. Merupakan alat dengan aliran rendah dan konsentrasi rendah (low
flow low concentration), kadar yang dihasilkan tergantung pada besarnya aliran dan
volume tidal napas pasien. Kadar oksigen bertambah 4% untuk setiap tambahan 1
liter/menit oksigen, misalnya aliran 1 liter/menit = 24%, 2 liter/menit 28% dan seterusnya
dengan maksimal 6 liter/menit.
Keuntungan :
l dan laju napas teratur



Kerugian :
Dapat menyebabkan iritasi pada hidung, bagian belakang telinga tempat tali binasal
FiO2 akan berkurang apabila pasien bernapas dengan. mulut
Sungkup muka sederhana
Aliran yang diberikan 6 - 10 liter/menit dengan konsentrasi oksigen mencapai 60%.
Merupakan sistem aliran rendah dengan hidung, nasofaring dan orofaring sebagai
penyimpan anatomic.
Sungkup muka dengan kantong rebreathing
Aliran yang diberikan 6 - 10 liter/menit dengan konsentrasi oksigen mencapai 80%.
Udara inspirasi sebagian bercampur dengan udara ekspirasi sepertiga bagian volume
ekshalasi masuk ke kantong, dua pertiga bagian bagian volume ekshalasi melewati lubang-
lubang pada bagian samping
Sungkup muka dengan kantong nonrebreathing
Aliran yang diberikan 8 - 12 liter/menit dengan konsentrasi oksigen mencapai
100%. Udara inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi dan tidak dipengaruhi oleh
udara luar.
Kerugian pada penggunaan sungkup1. Mengikat (sungkup harus terus melekat pada pipi/wajah pasien
untuk mencegah
kebocoran.
2. Lembab
3. Pasien tidak dapat makan, minum atau berbicara.
4. Dapat terjadi aspirasi jika pasien muntah, terutama pada pasien tidak sadar atau anak
Sungkup Venturi
Memberikan aliran yang bervariasi dengan konsentrasi oksigen berkisar 24 - 50%. Dipakai
dengan pasien dengan tipe ventilasi yang tidak teratur. Alat ini digunakan pada pasien
dengan hiperkarbi yang disertai dengan hipoksemi sedang sampai berat.
PENATALAKSANAAN PASKA RESUSITASI JANTUNG PARU
Perawatan paska resusitasi dilakukan segera setelah pasien kembali pada sirkulasi
spontan sampai pasien dipindahkan ke unit perawatan intensif. Perawatan yang efektif pada
periode ini akan memberikan hasil yang memuaskan terutama untuk perbaikan pada fungsi
serebral.
Tindakan yang harus segera dilakukan :
1. Melakukan pengkajian berdasarkan ABCD sekunder
2. Airway Jalan napas
Mempertahankan jalan napas.
Memastikan letak ETT dengan pemeriksaan fisik (auskultasi paru kanan-kiri,
lambung) pemantauan end tidal CO2 dan rontgen foto torak.
3. Breathing (bantuan napas)
Memberikan oksigen
Memberikan tekanan positif seperti bantuan ventilasi dengan bagging atau ventilasi
mekanik
Periksa perkembangan dada
Periksa saturasi oksigen (pulse oksimetri) dan analisa gas darah (AGD)
Pada pasien yang bernapas spontan tetapi membutuhkan ventilasi mekanik, maka
harus diberikan obat pelemas otot dan sedasi.
Periksa kemungkinan terjadinya komplikasi seperti pneumotoraks, patah tulang iga
dan letak ETT yang salah.
4. Circulation (sirkulasi)
Periksa tanda-tanda vital pasien
Berikan cairan NaCl atau dekstrosa aapat diberikan apabila pasien mempunyai
riwayat hipoglikemia
Pemantauan EKG dan tekanan darah
Pemantauan produksi urine Jika pada saat henti jantung dengan irama VF pasien belum mendapat
anti aritmia
maka obat anti aritmia dapat diberikan secara bolus kemudian dilanjutkan dengan
pernberian dosis pemeliharaan.
Apabila anti aritmia sudah diberikan pada saat resusitasi maka pemberian anti
aritmia tersebut dilanjutkan dengan dosis pemeliharan.
5. Diagnosis Banding
Penyebab henti jantung dapat diketahui dengan cara melakukan :
Pemeriksaan rontgen foto toraks
Anamnesis ulang
Pemeriksaan fisik
Perekaman EKG 12 lead
Pemeriksaan elektrolit darah.
6. Tindakan lain
Memasang nasogastric tube (NGT)
Memasang kateter urine
Mengatasi secara cepat gangguan keseimbangan elektrolit.