Anda di halaman 1dari 14

1

Thalasemia menyebabkan Kelainan pada Gen Globin


Yohana Anggreini Inangele
102011380
Mahasiswa Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat
renysayangpapa@yahoo.com


Pendahuluan
Thalassemia (Talasemia) merupakan penyakit darah resesif autosomal yang diwariskan atau
diturunkan. Dimana terjadi gangguan pada sel darah merah. Pada penderita thalassemia, cacat
genetic menyebabkan tingkat pembentukan salah satu rantai-rantai globin yang menyusun
hemoglobin menjadi berkurang. Sintesa salah satu rantai globin yang berkurang tersebut dapat
menyebabkan pembentukan molekul hemoglobin yang abnormal, sehngga menyebabkan anemia,
sebagai gejala khas thalassemia yang nampak.

Gen Globin
Rantai globin yang terapat pada semua varian hemoglobin memiliki sekuens asam amino
yang mirip satu sama lain tetapi dikode oleh gen-gen like dan like yang masing-masing
membentuk suatu gugus gen yang terletak pada kromosom yang terpisah. Gugus gen globin
like terletak pada kromosom 16 yang membentang sepanjang lebih dari 25 kb dan mengandung
satu gen globin zeta (), dua salinan gen globin alpha (1, 2), satu gen globin theta () yang
belum diketahui fungsinya serta tiga pseudogenes (, 1, 2).
Gen-gen globin tersebut di atas berekspresi secara spesifik sesuai dengan tingkat perkembangan,
gen-gen globin tersebut dihidupkan dan dimatikan untuk menghasilkan bentuk hemoglobin
yang sesuai pada tingkat perkembangan yang berbeda (haemoglobin switching). Dengan
terjadinya switching, pada masa dewasa ditemukan HbA (
2

2
).
1

2

Rantai dan yang membentuk HbA panjangnya hampir sama. Rantai terdiri dari 141 asam
amino sedangkan rantai b terdiri dari 146.
2

Setiap gen berfungsi untuk mengontrol sifat dan fungsi tubuh manusia dan telah bekerja
selama manusia masih dalam masa embrio. Gen terdapat di setiap sel tubuh manusia dan setiap
gen selalu berpasangan. Dan diantara sejumlah besar gen dalam tubuh manusia, gen globin
adalah salah satu gen yang memiliki fungsi untuk mengontrol pembentukan hemoglobin pada
setiap sel darah merah, apabila gen ini hilang atau terjadi perubahan struktur/bentuk maka akan
menyebabkan kelainan salah satu contohnya adalah Talasemia yang terjadi karena tidak
terbentuknya rantai globin dalam tubuhnya.


Hukum Mendel
3

Hukum mendel merupakan hukum hereditas yang menjelaskan tentang prinsip-prinsip
penurunan sifat pada organisme. Sebelum menjadi suatu hukum, banyak ahli biologi yang belum
mengakui makalah berjudul Experiment in Plant Hybridization. Makalah tersebut berisi hasil
percobaan persilangan-persilangan tanaman serta hipotesis mendel tentang pewarisan material
genetik dari induk (tertua) kepada anaknya. Pendapat atau teori mendel tentang hereditas.
Dari karya ini, orang mulai mengenal konsep gen (Mendel menyebutnya Faktor). Gen
adalah pembawa sifat. Alel adalah ekspresi alternatif dari gen dalam kaitan dengan suatu sifat.
Setiap individu disomik selalu memiliki sepasang alel, yang berkaitan dengan suatu sifat yang
khas, masing-masing berasal dari tertuanya. Status dari pasangan alel ini dinamakan genotip.
Apabila suatu individu memiliki suatu alel yang sama, maka genotip individu itu dalam keadaan
homozigot. Genotip terkait dengan sifat yang teramati. Sifat yang terkait dengan sutau genotip
disebut fenotip.
Hukum mendel ini juga berkaitan dengan pembahasan mengenai kelainan pada gen
globin, yaitu pada tingkat cara pewarisan suatu penyakit yang diturunkan dari orang tua kepada
anaknya.

3

Hukum Mendel ini terbagi mejadi 2, yaitu :
A. Hukum Mendel (HukumSegregasi/Pemisahan)
Pada waktu berlangsung pembentukan gamet, tiap pasang gen akan disegregasi ke
dalam masing-masing gamet yang terbentuk. Hukum ini berlaku untuk persilangan dengan satu
sifat beda (monohybrid).
B. Hukum Mendel II (HukumPengelompokansecarabebas/asortasi)
Pada pembentukan sel kelamin (gamet), alel mengadakan kombinasi secara bebas
sehingga sifatyang muncul dalam keturunannya beraneka ragam. Hukum ini berlaku untuk
persilangan dengan dua sifatbeda (dihibrid) atau lebih (polihibrid).
Hipotesis alternatif menyatakan bahwa dua pasang alel akan terpisah secara independen satu
sama lain. Dengan kata lain, gen akan dikemas ke dalam gamet dalam semua kemungkinan
kombinasi alel, selama setiap gamet mempunyai satu alel untuk setiap gen. Dalam contoh di
atas, empat kelas gamet akan dihasilkan dalam kuantitas yang sama yaitu YR, Yr, yR, dan yr.
Jika sperma empat kelas bercampur dengan ovum empat kelas, akan terdapat 16 (4x4) cara alel
berkombinasi dalam generasi F2 dengan probabilitas yang sama. Kombinasi ini menghasilkan
empat kategori fenotip dengan perbandingan 9:3:3:1 (9 kuning-bulat, 3 hijau-bulat, 3 kuning-
keriput, 1 hijau-bulat). Ketika Mendel melakukan percobaan dan kemudian mengklasifikasikan
keturunan F2, dia memperoleh perbandingan 315:108:101:32, yang mendekati 9:3:3:1.
Analisis silsilah menjadi permasalahan yang lebih serius ketika alel yang bersangkutan
menyebabkan penyakit herediter yang menimbulkan cacat atau kematian dan bukan variasi
manusia yang tidak berbahaya seperti garis-rambut dan konfigurasi cuping. Akan tetapi, untuk
kelaianan yang diwarisi sebagai sifat-sifat Mendelian yang sederhana, teknik analisis silsilah
yang sama ini juga berlaku:

Mutasi
Mutasi Gen yaitu perubahan gen dalam kromosom (letak dan sifat) yang menyebabkan
perubahan sifat individu tanpa perubahan jumlah dan susunan kromosomnya lazim disebut
MUTASI saja.
4

Jenis Mutasi
4

Mutasi berdasarkan tingkatannya atau bagian yang bermutasi.
1. Mutasi Gen (mutasi titik)
Mutasi gen terjadi karena perubahan struktur basa pada DNA. Akibatnya terjadi
perubahan kodon sehingga mengubah urutan asam amino pada polipeptida yang
terbentuk. Dengan demikian akan mengganggu proses metabolisme sel dan sifat sel.
Terdiri atas:
Mutasi tidak bermakna (nonsense mutation), yakni ketika triplet (basa
nitrogen) berubah tetapi tidak mempengaruhi terhadap protein yang dibentuk.
Mutasi penggantian basa
Transisi: purin purin
Transversi: purin pirimidin
2. Mutasi Kromosom (aberasi kromosom)
Mutasi kromosom adalah mutasi yang menyebabkan terjadinya perubahan pada
jumlah dan struktur kromosom.
Perubahan jumlah kromosom, ada dua yaitu aneuploid dan euploid.
Aneuploid adalah penambahan atau pengurangan satu atau beberapa
kromosom pada ploid (genom) sehingga kandungan kromosom di
dalam nukleus bukan merupakan kelipatan dari jumlah kromosom
haploidnya. Penambahan satu kromosom (2n+1), disebut trisomi.
Pengurangan satu kromosom (2n-1), disebut monosomi.
Euploid adalah perubahan jumlah kromosom pada tingkat ploidi
(genom). Jumlah kromosom organisme euploid merupakan kelipatan
dari jumlah kromosom pada satu genom. Pengurangan kromosom dari
diploid akan menghasilkan monoploid dan peningkatan jumlah
kromosom menghasilkan poliploid.
Perubahan struktur kromosom, terdiri atas delesi, duplikasi, inversi, dan
translokasi.
Delesi adalah hilangnya dua atau lebih nukleotida yang berdampingan.
5

Duplikasi adalah mutasi yang terjadi akibat penambahan ruas
kromosom atau gen dengan ruas yang telah ada sebelumnya.
Inversi adalah penataan kembali struktur kromosom melalui
pemutaran arah suatu ruas kromosom. Inversi menyebabkan
kromosom mutan memiliki ruas yang urutan basanya merupakan
kebalikan dari urutan basa kromosom.
3. Mutasi Letal
Mutasi letal yaitu mutasi pada alel yang telah dikenal dan hasilnya menyebabkan
kematian mutan. Misalnya, kematian mutan yang memiliki alel-alel letal yang
berhubungan dengan kelainan darah (anemia sel darah merah bulan sabit).
4. Mutasi Kondisonal
Mutasi kondisional yaitu mutasi yang menyebabkan alel berekspresi pada kondisi
tertentu. Pada kondisi normal, kondisi mutan terlihat sama dengan jenis liar (normal)
yang lain. Misalnya, mutasi kondisional terhadap suhu yang dialami oleh Drosophila.
Drosophila mutan peka terhadap suhu panas dan akan mati pada suhu lingkungan
30C.
5. Mutasi Biokimia
Mutasi biokimia yaitu mutasi yang menyebabkan mutan tidak mampu melakukan
metabolisme tertentu.
6. Mutasi Resitan
Mutasi resitan yaitu mutasi yang menyebabkan mutan kebal (resistan) terhadap bahan
penghambat yang biasanya dirasakan oleh organisme normal. Misalnya, gulma mutan
yang tahan terhadap herbisida.
Mutasi dibedakan atas beberapa faktor, yaitu:
a. Berdasar tipenya
1) Mutasi somatis, terjadi pada sel soma atau sel tubuh dan kurang mempunyai
arti genetik.
6

2) Mutasi germinal, terjadi pada sel germ (kelamin) di dalam gonad dan dapat
diwariskan.
b. Berdasar jumlah faktor keturunan
1) Mutasi bertahap (mikro), terjadi pada sekelompok kecil faktor keturunan.
2) Mutasi lompatan (makro), terjadi pada sejumlah besar atau mungkin seluruh
faktor keturunan.
c. Berdasar manfaat
1) Merugikan, munculnya ciri yang tidak adaptif pada individu atau populasi.
2) Menguntungkan, munculnya ciri yang semakin adaptif terhadap individu dan
lingkungan.

Mutasi pada manusia
5

Di bawah ini dapat diketahui beberapa mutasi pada manusia yang diakibatkan bukan dari
mutasi buatan, sehingga diharapkan kita dapat menghindarkan diri dari unsur-unsur
mutagen.

DNA
DNA merupakan senyawa kimia yang terpenting pada makhluk hidup. DNA memiliki
fungsi untuk menyampaikan atau membawa informasi genetik suatu sel makhluk hidup dari
generasi ke generasi berikutnya. Susunan kimiawi DNA yaitu Gula Pentose (Deoxyribosa), asam
fosfat, basa nitrogen yang terdiri atas pirimidin (sitosin dan timin), purin (adenin dan guanine).
Pada molekul DNA, jumlah A=T dan C=G menghasilkan A+G = T+C, yang berarti jumlah basa
purin = basa pirimidin (chargaff). DNA terdiri dari dua rantai polinukleotida yang saling
melingkar, membentuk double helix secara anti paralel (arah berlawanan).
1. Replikasi (sintesis) DNA
Replikasi DNA bersifat semikonservatif, yaitu kedua untai tunggal DNA bertindak
sebagai cetakan untuk pembuatan untai-untai DNA baru; seluruh untai tunggal cetakan
dipertahankan dan untai yang baru dibuat dari nukleotida-nukleotida.
7

Replikasi DNA adalah proses penggandaan molekul DNA untai ganda. Pada sel, replikasi
DNA terjadi sebelum pembelahan sel. Prokariota terus-menerus melakukan replikasi
DNA. Pada eukariota, waktu terjadinya replikasi DNA sangatlah diatur, yaitu pada fase S
daur sel, sebelum mitosis atau meiosis I. Penggandaan tersebut memanfaatkan enzim
DNA polimerase yang membantu pembentukan ikatan antara nukleotida-nukleotida
penyusun polimer DNA. Proses replikasi DNA dapat pula dilakukan in vitro dalam
proses yang disebut reaksi berantai polimerase (PCR).
Garpu replikasi
Garpu replikasi atau cabang replikasi (replication fork) ialah struktur yang terbentuk ketika DNA
bereplikasi. Garpu replikasi ini dibentuk akibat enzim helikase yang memutus ikatan-ikatan
hidrogen yang menyatukan kedua untaian DNA, membuat terbukanya untaian ganda tersebut
menjadi dua cabang yang masing-masing terdiri dari sebuah untaian tunggal DNA. Masing-
masing cabang tersebut menjadi "cetakan" untuk pembentukan dua untaian DNA baru
berdasarkan urutan nukleotida komplementernya. DNA polimerase membentuk untaian DNA
baru dengan memperpanjang oligonukleotida (RNA) yang dibentuk oleh enzim primase dan
disebut primer.
DNA polimerase membentuk untaian DNA baru dengan menambahkan nukleotidadalam hal
ini, deoksiribonukleotidake ujung 3'-hidroksil bebas nukleotida rantai DNA yang sedang
tumbuh. Dengan kata lain, rantai DNA baru (DNA "anak") disintesis dari arah 5'3', sedangkan
DNA polimerase bergerak pada DNA "induk" dengan arah 3'5'. Namun demikian, salah satu
untaian DNA induk pada garpu replikasi berorientasi 3'5', sementara untaian lainnya
berorientasi 5'3', dan helikase bergerak membuka untaian rangkap DNA dengan arah 5'3'.
Oleh karena itu, replikasi harus berlangsung pada kedua arah berlawanan tersebut. Replikasi
DNA. Mula-mula, heliks ganda DNA (merah) dibuka menjadi dua untai tunggal oleh enzim
helikase (9) dengan bantuan topoisomerase (11) yang mengurangi tegangan untai DNA. Untaian
DNA tunggal dilekati oleh protein-protein pengikat untaian tunggal (10) untuk mencegahnya
membentuk heliks ganda kembali.
8

Primase (6) membentuk oligonukleotida RNA yang disebut primer (5) dan molekul DNA
polimerase (3 & 8) melekat pada seuntai tunggal DNA dan bergerak sepanjang untai tersebut
memperpanjang primer, membentuk untaian tunggal DNA baru yang disebut leading strand (2)
dan lagging strand (1). DNA polimerase yang membentuk lagging strand harus mensintesis
segmen-segmen polinukleotida diskontinu (disebut fragmen Okazaki (7)). Enzim DNA ligase (4)
kemudian menyambungkan potongan-potongan lagging strand tersebut.
Pembentukan leading strand
Pada replikasi DNA, untaian pengawal (leading strand) ialah untaian DNA yang disintesis
dengan arah 5'3' secara berkesinambungan. Pada untaian ini, DNA polimerase mampu
membentuk DNA menggunakan ujung 3'-OH bebas dari sebuah primer RNA dan sintesis DNA
berlangsung secara berkesinambungan, searah dengan arah pergerakan garpu replikasi.
Pembentukan lagging strand
Lagging strand ialah untaian DNA yang terletak pada sisi yang berseberangan dengan leading
strand pada garpu replikasi. Untaia n ini disintesis dalam segmen-segmen yang disebut fragmen
Okazaki. Pada untaian ini, primase membentuk primer RNA. DNA polimerase dengan demikian
dapat menggunakan gugus OH 3' bebas pada primer RNA tersebut untuk mensintesis DNA
dengan arah 5'3'. Fragmen primer RNA tersebut lalu disingkirkan (misalnya dengan RNase H
dan DNA Polimerase I) dan deoksiribonukleotida baru ditambahkan untuk mengisi celah yang
tadinya ditempati oleh RNA. DNA ligase lalu menyambungkan fragmen-fragmen Okazaki
tersebut sehingga sintesis lagging strand menjadi lengkap.
2. Transkripsi
Transkripsi DNA merupakan proses pembentukan RNA dari DNA sebagai cetakan.
Proses transkripsi menghasilkan mRNA, rRNA dan tRNA.


9

Pembentukan RNA dilakukan oleh enzim RNA polymerase. Proses transkripsi terdiri dari 3
tahap yaitu :
4,5
1. Inisiasi
enzim RNA polymerase menyalin gen, sehingga pengikatan RNA polymerase terjadi pada
tempat tertentu yaitu tepat didepan gen yang akan ditranskripsi. Tempat pertemuan antara
gen (DNA) dengan RNA polymerase disebut promoter. Kemudian RNA polymerase
membuka double heliks DNA. Salah satu utas DNA berfungsi sebagai cetakan.
Nukleotida promoter pada eukariot adalah 5-GNNCAATCT-3 dan 5- TATAAAT-3.
Simbul N menunjukkan nukleotida (bisa berupa A, T, G, C). Pada prokariot, urutan
promotornya adalah 5-TTGACA-3 dan 5-TATAAT-3.
2. Elongasi
Enzim RNA polymerase bergerak sepanjang molekul DNA, membuka double heliks dan
merangkai ribonukleotida ke ujung 3 dari RNA yang sedang tumbuh.
3. Terminasi
terjadi pada tempat tertentu. Proses terminasi transkripsi ditandai dengan terdisosiasinya
enzim RNA polymerase dari DNA dan RNA dilepaskan.

mRNA pada eukariota mengalami modifikasi sebelum ditranslasi, sedangkan pada prokariota
misalnya pada bakteri, mRNA merupakan transkripsi akhir gen. mRNA yang baru ditranskrip
ujung 5nya adalah pppNpN, dimana N adalah komponen basa-gula nukleotida, p adalah fosfat.
mRNA yang masak memiliki struktur 7mGpppNpN, dimana 7mG adalah nukleotida yang
membawa 7 metil guanine yang ditambahkan setelah transkripsi. Pada ujung 3 terdapat
pNpNpA(pA)npA. Ekor poli A ini ditambahkan berkat bantuan polymerase poli (A). tetapi
mRNA yang menyandikan histon, tidak memiliki poli A.
Hasil transkripsi merupakan hasil yang memiliki intron (segmen DNA yang tidak
menyandikan informasi biologi) dan harus dihilangkan, serta memiliki ekson yaitu ruas yang
membawa informasi biologis. Intron dihilangkan melalui proses yang disebut splicing. Proses
splicing terjadi di nukleus.
4


10

Splicing dimulai dengan terjadinya pemutusan pada ujung 5, selanjutnya ujung 5 yang bebas
menempelkan diri pada suatu tempat pada intron dan membentuk struktur seperti laso yang
terjadi karena ikatan 5-2fosfodiester. Selanjutnya tempat pemotongan pada ujung 3 terputus
sehingga dua buah ekson menjadi bersatu.
rRNA dan tRNA merupakan hasil akhir dari proses transkrips, sedangkan mRNA akan
mengalami translasi.
tRNA adalah molekul adaptor yang membaca urutan nukleotida pada mRNA dan mengubahnya
menjadi asam amino.

3. Translasi
Pada prokariota yang terdiri dari satu ruang, proses transkripsi dan translasi terjadi
bersama-sama. Translasi merupakan proses penerjemahan kodon-kodon pada mRNA menjadi
polipeptida. Dalam proses translasi, kode genetic merupakan aturan yang penting. Dalam kode
genetic, urutan nukleotida mRNA dibawa dalam gugus tiga - tiga. Setiap gugus tiga disebut
kodon. Dalam translasi, kodon dikenali oleh lengan antikodon yang terdapat pada tRNA.
Mekanisme translasi adalah:
1. Inisiasi
Proses ini dimulai dari menempelnya ribosom sub unit kecil ke mRNA. Penempelan terjadi
pada tempat tertentu yaitu pada 5-AGGAGGU-3, sedang pada eukariot terjadi pada struktur
tudung (7mGpppNpN). Selanjutnya ribosom bergeser ke arah 3 sampai bertemu dengan
kodon AUG. Kodon ini menjadi kodon awal. Asam amino yang dibawa oleh tRNA awal
adalah metionin. Metionin adalah asam amino yang disandi oleh AUG. pada bakteri,
metionin diubah menjadi Nformil metionin. Struktur gabungan antara mRNA, ribosom sub
unit kecil dan tRNA-Nformil metionin disebut kompleks inisiasi. Pada eukariot, kompleks
inisiasi terbentuk dengan cara yang lebih rumit yang melibatkan banyak protein initiation
factor.
2. Elongasi
Tahap selanjutnya adalah penempelan sub unit besar pada sub unit kecil menghasilkan dua
tempat yang terpisah . Tempat pertama adalah tempat P (peptidil) yang ditempati oleh
tRNA-Nformil metionin. Tempat kedua adalah tempat A (aminoasil) yang terletak pada
11

kodon ke dua dan kosong. Proses elongasi terjadi saat tRNA dengan antikodon dan asam
amino yang tepat masuk ke tempat A.
Akibatnya kedua tempat di ribosom terisi, lalu terjadi ikatan peptide antara kedua asam
amino. Ikatan tRNA dengan Nformil metionin lalu lepas, sehingga kedua asam amino yang
berangkai berada pada tempat A. Ribosom kemudian bergeser sehingga asam amino-asam
amino-tRNA berada pada tempat P dan tempat A menjadi kosong. Selanjutnya tRNA
dengan antikodon yang tepat dengan kodon ketiga akan masuk ke tempat A, dan proses
berlanjut seperti sebelumnya.
3. Terminasi
Proses translasi akan berhenti bila tempat A bertemu kodon akhir yaitu UAA, UAG, UGA.
Kodon-kodon ini tidak memiliki tRNA yang membawa antikodon yang sesuai. Selanjutnya
masuklah release factor (RF) ke tempat A dan melepaska rantai polipeptida yang terbentuk
dari tRNA yang terakhir. Kemudian ribosom berubah menjadi sub unit kecil dan besar.
7

THALASEMIA
1,2
Thalassemia adalah penyakit keturunan dengan gejala utama pucat, perut tampak
membesar karena pembengkakakan limpa dan hati, dan apabila tidak diobati dengan baik akan
terjadi perubahan bentuk tulang muka dan warna kulit menjadi menghitam. Penyebab penyakit
ini adalah kekurangan salah satu zat pembentuk hemoglobin (Hb) sehingga produksi hemoglobin
berkurang. Thalassemia adalah kelainan pada produksi hemoglobin yg diwariskan. Produksi
protein (globin) pada Hb menurun dan bentuknya abnormal. Sehingga sel darah merah menjadi
lebih kecil (microcytic) dan lebih pucat (hypochromic).Thalassemia berasal dari Yunani
Thalasso yang berarti laut dan hemia yang berarti darah.Pada penderita thalassemia, gen-gen
yangmengkode hemoglobin berubah (mutasi) atau delesi. Thalassemia adalah penyakit genetik
yang diturunkan secara autosomal resesif menurut hukum Mendel dari orang tua kepada anak-
anaknya. Penyakit thalassemia meliputi suatu keadaan penyakit dari gelaja klinis yang paling
ringan (bentuk heterozigot) yang disebut thalassemia minor atau thalassemia trait (carrier =
pengemban sifat) hingga yang paling berat (bentuk homozigot) yang disebut thalassemia mayor.
Bentuk heterozigot diturunkan oleh salah satu orang tuanya yang mengidap penyakit
thalassemia, sedangkan bentuk homozigot diturunkan oleh kedua orang tuanya yang mengidap
penyakit thalassemia.
12

Penyebab thalassemia
Penyakti thalassemia disebabkan oleh adanya kelainan / perubahan / mutasi pada gen
globin alpha atau gen globin beta sehingga produksi rantai globin tersebut berkurang dan sel
darah merah mudah sekali rusak atau umurnya lebih pendek dari sel darah normal (120 hari).
Bila kelainan pada gen globin alpha maka penyakitnya disebut thalassemia alpha, sedangkan
kelainan pada gen globin beta akan menyebabkan penyakit thalassemia beta. Karena di Indonesia
thalassemia beta lebih sering didapat, maka selanjutnya kami hanya akan menjelaskan mengenai
thalassemia beta.

Thalassemia dibagi menjadi 2, yaitu :
A. Thalassemia alfa
Thalassemia alpha terjadi bila 1 atau lebih gen penyusun rantai alpha-globin dari
hemoglobin berubah atau hilang. Bila ada lebih dari 2 gen yang terpengaruh, maka akan terjadi
anemia sedang hingga berat. Alpha thalassemia major dapat menyebabkan terjadinya keguguran.
penurunan produksi rantai alpha globin yg disebabkan delesi atau mutasi 1 atau lebih gen alpha
globin pada kromosom 16.
Empat gen dilibatkan di dalam membuat globin alfa yang merupakan bagian dari
hemoglobin, Dua dari masing-masing orangtua.Thalassemia alfa terjadi dimana satu atau lebih
varian gen ini hilang.
Orang dengan hanya satu gen mempengaruhi disebut silent carriers dan tidak punya
tanda penyakit.
Orang dengan dua gen mempengaruhi disebut thalassemia trait atau thalassemia alfa
akan menderita anemia ringan dan kemungkinan menjadi carrier
Orang dengan tiga gen yang yang dipengaruhi akan menderita anemia sedang sampai
anemia berat atau disebut penyakit hemoglobin H.
Bayi dengan empat gen dipengaruhi disebut thalassemia alfa mayor atau hydrops fetalis.
Pada umumnya mati sebelum atau tidak lama sesudah kelahiran.
Jika kedua orang menderita alfa thalassemia trait ( carriers) memiliki seorang anak, bayi
bisa mempunyai suatu bentuk alfa thalassemia atau bisa sehat.

13

B. Thalassemia Beta
Melibatkan dua gen didalam membuat beta globin yang merupakan bagian dari
hemoglobin, masing-masing satu dari setiap orangtua. Beta thalassemia terjadi ketika satu atau
kedua gen mengalmi variasi.
4
Cara penurunannya
Penyakit ini diturunkan melalui gen yang disebut sebagai gen globin beta yang terletak
pada kromosom 11. Pada manusia kromosom selalu ditemukan berpasangan. Gen globin beta
ini yang mengatur pembentukan salah satu komponen pembentuk hemoglobin. Bila hanya
sebelah gen globin beta yang mengalami kelainan disebut pembawa sifat thalassemia beta.
Seorang pembawa sifat thalassemia tampak normal / sehat, sebab masih mempunyai 1 belah
gen dalam keadaan normal (dapat berfungsi dengan baik). Seorang pembawa sifat
thalassemia jarang memerlukan pengobatan. Bila kelainan gen globin terjadi pada kedua
kromosom, dinamakan penderita thalassemia (homosigot / Mayor). Kedua belah gen yang
sakit tersebut berasal dari kedua orang tua yang masing-masing membawa sifat thalassemia.
Pada proses pembuahan, anak hanya mendapat sebelah gen globin beta dari ibunya dan
sebelah lagi dari ayahnya. Bila kedua orang tuanya masing-masing pembawa sifat
thalassemia maka pada setiap pembuahan akan terdapat beberapa kemungkinan.
Kemungkinan pertama si anak mendapat gen globin yang berubah (gen thalassemia) dari
bapak dan ibunya, maka anak akan menderita thalassemia. Sedangkan bila anak hanya
mendapat sebelah gen thalassemia dari ibu atau ayah, maka anak hanya membawa penyakit
ini. Kemungkinan lalin adalah anak mendapatkan gen globin normal dari kedua orang
tuanya.

pengobatan penyakit thalassemia
Sampai saat ini belum ada obat yang menyembuhkan penyakit thalssemia secara total.
Pengobatan yang paling optimal adalah transfusi darah seumur hidup dan mempertahankan kadar
Hb selalu sama atau 12 g/dl dan mengatasi akibat samping transfusi darah.
14

Kesimpulan
Penyakit thalasemia benar adanya disebabkan oleh pewarisan gen dari kedua
orangtua yang diturunkan secara autosomal. Kedua orang tuanya memiliki sifat thalasemia
yang kemudian diturunkan pada anak pertama sampai anak ketiga. Penyakit thalasemia ini
belum dapat diobati tetapi bisa dicegah dengan cara menghindari perkawinan antara 2 orang
pembawa sifat thalasemia.

Daftar Pustaka
1. Hoffbrand AV, Pettit JE, Moss PAH. Hematologi. Edisi ke-4. Jakarta: EGC;
2005.h.64-9.
2. Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG. Biologi. Jakarta: Erlangga; 2002.h.271.
3. Robbins, Cotran. Dasar-dasarPatiologiPenyakit. Edisi 7. Jakarta. EGC.2009.h.101-3.
4. Aryuliani D, Muslim C, Manaf S, Endang W, Winarni. Biologi. Edisi 3. Jakarta. Esis
2004.
5. Dawn B M, Allan D M, Colleen M S. BiokimiaKedokteranDasar. Jakarta EGC. 2002.