Anda di halaman 1dari 5

Cara Menanam Seledri Yang Baik Dan

Benar
by admin on December 29, 2013 with 0 Comments in Artikel
Seledri (Apium graveolens L. Dulce) adalah tanaman sayuran dari famili Umbelliferae yang
berasal dari Mediterania sekitar Laut Tengah. Tanaman ini kemudian menyebar ke berbagai
wilayah, diantaranya di Dataran Cina, Asia Tengah, India, Mediterania, Etiopia, Amerika
Serikat, serta Meksiko Selatan dan tengah. Di Indonesia, seledri masih belum menjadi komoditi
utama para petani sehingga sulit untuk menentukan sentra dan tanam, luas panen dan besarnya
produksi nasional.
Untuk dapat tumbuh dengan baik, seledri harus ditanam di daerah subtropis dengan ketinggian
1.000-1.200 m dpl, suhu udara 15o-24o C, kelembaban berkisar antara 80-90%, Curah hujan
berkisar antara 60-100 mm/bulan, dan lahan harus mendapat penyinaran matahari yang cukup.
Lahan yang ideal untuk tanaman seledri adalah tanah yang gembur, subur, mengandung bahan
organik, serta tata udara dan air yang baik.

Tanah yang paling baik untuk budidaya seledri adalah tanah jenis Andosol, karena mengandung
unsur-unsur yang mendukung pertumbuhan tanaman seledri, seperti: pH tanah antara 5,5-6,5,
mengandung cukup natrium, boron, dan kalsium. Karena jika kekurangan ketiga unsur tersebut,
maka pertumbuhan tanaman seledri akan kerdil, kuncup dan pucuk mengering, dan batang serta
tangkai daun retak-retak.
Untuk membudidayakan tanaman seledri memang tidak mudah mengingat persyaratan-
persyaratan khusus yang dibutuhkan oleh tanaman ini untuk dapat tumbuh dengan baik. Namun,
karena secara teknis budidaya seledri hampir mirip dengan tanaman sayuran yang lain, maka
juga tidak dapat dikatakan sulit. Berikut teknik dan cara menanam seledri yang baik:
1. Pembibitan
Perkembangbiakan seledri dapat dilakukan secara generatif lewat bijinya maupun vegetatif yakni
dengan anakannya. Namun, memperbanyak seledri dengan menggunakan biji lebih sering
dilakukan untuk tujuan komersial. Biji yang akan dijadikan benih tersebut berasal dari varietas
unggul yang memiliki kemampuan atau daya berkecambah > 90%. Proses pembenihan diawali
dengan :
- Merendam benih ke dalam air hangat bersuhu 55o-60o C selama 15 menit. Benih selanjutnya
disemai di bedengan yang berukuran lebar 100-120 cm, tinggi 30-40 cm dan panjang sesuai
kondisi lahan.
- Cara membuat bedengan dengan mengolah tanah sedalam 30-40 cm dan mencampur tanah
yang diolah tersebut dengan pupuk kandang matang sebanyak 2 kg/m2. Bedengan dinaungi
plastik bening atau nyaman daun kelapa, setinggi 120-150 cm di sisi timur dan 80-100 cm di sisi
barat.
- Semaikan benih di atas bedengan di dalam alur/larikan sedalam 0,5 cm dengan jarak antar alur
10-20 cm. Benih kemudian ditutup dengan tanah tipis dan bedengan disiram sampai seluruh
permukaannya lembab.
- Benih yang sudah disemai tersebut, pada hari ke 15-25 disemprot dengan pupuk daun. Tanah
bedengan, tepatnya di antara alur/larikan diberi larutan 10 gram NPK/10 liter air. Jika bibit
terserang hama, semprotkan pestisida konsentrasi rendah (30-50% dosis anjuran) pada bibit
tersebut. Setelah benih berumur 1 bulan atau telah memiliki 3-4 helai daun, pindahkan bibit
tersebut ke media tanam.
2. Pengolahan Media Tanam
Pengolahan media tanam dilakukan dengan mencangkul lahan sedalam 30-40 cm dan
membiarkannya selama 15 hari. Campur tanah olahan dengan kapur kalsit atau dolomite jika pH
tanah kurang dari 6.5. Dosisnya sebanyak 1-2 ton kapur untuk setiap hektar lahan, tergantung
dari besarnya pH tanah serta kandungan Alumunium di dalam tanah.
Di atas tanah yang telah diolah tersebut kemudian dibuat bedengan dengan lebar 80-100 cm,
tinggi 30 cm, dan panjang sesuai dengan kondisi lahan, sementara jarak antar bedengan antara
30-40 cm. Campurkan pupuk kandang dengan tanah bedengan sebanyak 10-20 ton pupuk
kandang untuk setiap 1 hektar lahan. Buatlah parit di antara bedengan yang satu dengan yang
lain.

3. Teknik Penanaman
Meski seledri dapat ditanam dengan cara tumpangsari, namun untuk tujuan komersil, seledri
harusnya ditanam sebagai tanaman tunggal atau monokultur. Untuk menanam bibit tanaman
seledri, dilakukan dengan melakukan hal-hal berikut ini:
- Buatlah terlebih dahulu lubang tanam di dalam bedengan dengan jarak tanam 25 x 30 cm.
- Bibit seledri yang telah memiliki 3 4 helai daun yang ada di lahan persemaian dicabut
bersama akarnya dengan hati-hati. Jika masih ada bibit yang belum memiliki 3 4 helai daun,
tinggalkan di ladang persemaian untuk digunakan sebagai tanaman sulam.
- Tanamkan satu bibit untuk setiap lubang tanam, dan padatkan tanah di sekitar batang. Sebelum
ditanam, rendamlah terlebih dahulu akar bibit selama 15 menit ke dalam larutan pestisida
Benlate atau Derosol dengan konsentrasi 50% dari anjuran.
- Setelah bibit ditanam, siramlah bedengan dengan air bersih hingga lembab. Tutup permukaan
bedengan dengan mulsa jerami padi kering setebal 3-5 cm, dan mulsa tersebut jangan menutupi
bibit seledri.
4. Pemeliharaan Tanaman
Selama masa pemeliharaan, lakukan penyulaman saat tanaman berumur 7-15 hari. Ganti bibit
yang mati dan ganti dengan bibit tanaman yang baru. Untuk penyiangan, dilakukan bersamaan
dengan penggemburan dan pemupukan yakni pada saat umur tanaman 2 dan 4 minggu.
Agar unsur hara dalam lapisan tanah senantiasa tercukupi, berikan pupuk susulan sebagai
berikut:
a. Larutan air dengan pupuk NPK dengan dosis 2-3 kg pupuk NPK (15-15-15 atau 16-16-16)
dengan 200 liter air. Larutan pupuk sebanyak 200-250 cc tersebut kemudian disiramkan ke tanah
sejauh 20 cm dari batang.
b. Larutan pupuk lengkap yang mengandung seluruh unsur hara sebanyak 2-3 kg dengan 200
liter air, yang disiramkan sejauh 20 cm dari batang sebanyak 150-200 cc.
c. Menaburkan campuran pupuk ZA dan KCl (3:2) ke dalam larikan sejauh 5-10 cm dari lubang
tanam.
d. Pupuk tablet yang mengandung seluruh unsur hara dengan cara membenamkan satu tablet
seberat 2-3 gram ke dalam 10 cm di sekeliling batang.
e. Untuk menjadikan tanaman hijau dan subur, tambahan garam dapur sebanyak 50 kg untuk
setiap hektar lahan.
Selama proses pemeliharaan tanaman, pengairan atau penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari pada
awal tanam. Selanjutnya pengairan dikurangi menjadi 2-3 kali seminggu, tergantung dari kondisi
cuaca. Tapi yang pasti jangan sampai kondisi tanah kering, serta jangan sampai ada air yang
tergenang atau becek.
5. Panen dan Pasca Panen
Masa panen tanaman seledri terhitung cepat,yakni 1-3 bulan setelah tanam, tergantung dari jenis
varietasnya. Untuk varietas Tall-Utah misalnya, sudah dapat dipanen pada umur 3 minggu
setelah tanam, Kintsai pada umur 50, dan varitas Florida 683 pada umur 125 hari setelah tanam.
Tanaman seledri dapat dipanen ketika Pertumbuhannya telah maksimal dengan ditandai
banyaknya daun , mencapai ketinggian tertentu, dan telah menghasilkan anakan. Cara
memanennya dilakukan dengan mencabut seluruh tanaman atau memetik batang 1-2 minggu
sekali. Potong tanaman seledri pada pangkal batang secara periodic, hingga pertumbuhan anakan
berkurang.

Untuk jenis seledri umbi, cara panennya dilakukan dengan memetik daun-daunnya saja yang
dilakukan secara periodik hingga tanaman tidak lagi produktif. Jika budidaya tanaman seledri ini
dilakukan dengan baik, untuk setiap hektar lahan dapat menghasilkan 50 kuintal seledri. Bahkan
untuk jenis seledri Tall-Utah bisa memberikan hasil lebih dari 100 ton/ha.
Seledri yang telah dipanen selanjutnya disortir dengan membuang tangkai daun yang rusak atau
terkena hama. Agar seledri bersih dari kotoran serta dari residu pestisida, cucilah dengan air yang
mengalir sebelum ditiriskan di rak-rak. Penyortiran dilakukan berdasarkan ukuran dan jenisnya
untuk disesuaikan dengan permintaan pasar.