Anda di halaman 1dari 19

52

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil dan Pembahasan Penelitian
Penelitian tentang perbedaan kadar hemoglobin antara mahasiswa Universitas IKIP
Mataram Fakultas Pendidikan dan Olahraga ( FPOK ) yang rutin melakukan olahraga futsal
secara selama 10 bulan secara bertutut-turut mulai dari bulan Januari hingga Oktober 2013
dengan mahasiswa IKIP Mataram Fakultas MIPA yang jarang berolahraga selama 10 bulan
secara bertutut-turut mulai dari bulan Januari hingga Oktober 2013. Penelitian ini
menggunakan masing-masing 86 responden dari yang diambil berdasarkan kriteria inklusi yang
telah ditentukan. Responden yang rutin melakukan olahraga futsal dan responden yang jarang
berolahraga telah diperiksa kadar hemoglobinnya dengan menggunakan alat Easy Touch.
Kemudian, data hasil pemeriksaan dianalisis untuk diketahui ada atau tidaknya perbedaan kadar
hemoglobin pada mahasiswa yang melakukan olahraga futsal pada siang hari dan malam hari
4.2. Analisa Univariat
4.2.1. Distribusi frekuensi mahasiswa Universitas IKIP yang melakukan olahraga futsal secara
rutin
Tabel 4.1. Distribusi frekuensi mahasiswa Universitas IKIP yang melakukan olahraga
futsal secara rutin berdasarkan usia


53







Sumber: Data primer yang diolah
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa dari 86 responden, paling banyak berusia
19-20 tahun sejumlah 41 responden (48%). Responden dengan usia 22-23 tahun adalah
responden paling sedikit yaitu sejumlah 18 responden (21%).
Untuk lebih jelasnya dapat di lihat dalam diagram 4.1 di bawah ini
UMUR JUMLAH
MAHASISWA
PERSENTASE
19 -20 41 48%
20-21 27 31%
22-23 18 21%
54


Diagram 4.1 Distribusi frekuensi mahasiswa Universitas IKIP yang melakukan olahraga futsal
secara rutin berdasarkan usia
Berdasarkan diagram dapat diketahui bahwa dari 86 responden, paling banyak berusia
18-19 tahun sejumlah 41 responden (48%). Responden dengan usia 22-23 tahun adalah
responden paling sedikit yaitu sejumlah 18 responden (21%).
4.2.2. Distribusi frekuensi mahasiswa yang rutin berolahraga futsal Januari-Oktober 2013
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi mahasiswa yang rutin berolahraga futsal Januari-Oktober 2013
BULAN JULAH ORANG FREKUENSI OLAH RAGA /
BULAN
JANUARI 30 6
29 7
41
27
18
48%
31%
21%
18 -19 20-21 22-23
frekuensi responden berdasarkan usia
julah persentase
55

27 8

FEBUARI 25 6
27 7
44 8

MARET 28 6
33 7
35 8

APRIL 39 6
27 7
30 8

MEI 42 6
24 7
20 8

JUNI 37 6
30 7
19 8

JULI 60 6
16 7
10 8

AGUSTUS 53 6
20 7
13 8

SEPTEMBER 30 6
38 7
28 8

OKTOBER 26 6
40 7
20 8




56





Diagram 4.2 Distribusi frekuensi mahasiswa yang rutin berolahraga futsal Januari-Oktober 2013

Pada tabel 4.2 dan diagram 4.2 distribusi frekuensi mahasiswa yang rutin berolahraga
futsal menunjukan bahwa frekuensi mahasiswa yang rutin berolahraga futsal sebanyak 6 kali
dalam sebulan yaitu pada bulan juli yang menunjukan frekuensi tertinggi dengan jumlah 60
mahasiswa yang rutin berolahraga futsal sedangkan frekuensi yang terendah pada bulan februari
dengan jumlah 25 mahasiswa yang rutin berolahraga futsal.
30
25
28
39
42
37
60
53
30
26
6 6 6 6 6 6 6 6 6 6
jan feb mar april mei jun jul agstus sep okt
FREKUENSI MAHASISWA YANG
BEROLAH RAGA FUTSAL PRIODE
JANUARI -OKTOBER

jumlah frekuensi
57


Diagram 4.3 Distribusi frekuensi mahasiswa yang rutin berolahraga futsal Januari-Oktober 2013
Frekuensi mahasiswa yang rutin berolahraga futsal sebanyak 7 kali dalam sebulan yaitu
pada bulan oktober yang menunjukan frekuensi tertinggi dengan jumlah 40 mahasiswa yang
rutin berolahraga futsal sedangkan frekuensi yang terendah pada bulan juli dengan jumlah 16
mahasiswa yang rutin berolahraga futsal.

29
27
33
27
24
30
16
20
38
40
7 7 7 7 7 7 7 7 7 7
jan feb mar april mei jun jul agstus sep okt
Chart Title
jumlah frekuensi
27
44
35
30
20
19
10
13
28
20
8 8 8 8 8 8 8 8 8 8
jan feb mar april mei jun jul agstus sep okt
Chart Title
jumlah frekuensi
58

Diagram 4.4 Distribusi frekuensi mahasiswa yang rutin berolahraga futsal Januari-Oktober 2013
Frekuensi mahasiswa yang rutin berolahraga futsal sebanyak 8 kali dalam sebulan yaitu
pada bulan februari yang menunjukan frekuensi tertinggi dengan jumlah 44 mahasiswa yang
rutin berolahraga futsal sedangkan frekuensi yang terendah pada bulan juli dengan jumlah 10
mahasiswa yang rutin berolahraga futsal.
4.2.3. DIstribusi frekuensi mahasiswa yang jarang berolahraga futsal Januari-Oktober 2013
Table 4.3 Distribusi frekuensi mahasiswa yang jarang berolahraga futsal Januari-Oktober 2013
BULAN JULAH ORANG FREKUENSI OLAH RAGA /
BULAN
JANUARI 49 1
37 2


FEBRUARI 38 1
48 2


MARET 51 1
37 2


APRIL 47 1
39 2


MEI 54 1
32 2


JUNI 58 1
28 2


JULI 61 1
27 2

59


AGUSTUS 44 1
42 2


SEPTEMBER 36 1
50 2


OKTOBER 40 1
46 2



Diagram 4.5 distribusi frekuensi mahasiswa yang jarang berolahraga
Pada tabel 4.2 dan diagram 4.5 distribusi frekuensi mahasiswa yang jarang berolahraga
menunjukan bahwa frekuensi mahasiswa yang jarang berolahraga sebanyak 1 kali dalam sebulan
yaitu pada bulan juli yang menunjukan frekuensi tertinggi dengan jumlah 61 mahasiswa yang
rutin berolahraga futsal sedangkan frekuensi yang terendah pada bulan September dengan jumlah
36 mahasiswa yangjarang berolahraga.
49
38
51
47
54
58
61
44
36
40
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
jan feb mar april mei jun jul agstus sep okt
Chart Title
jumlah frekuensi
60


Diagram 4.6 distribusi frekuensi mahasiswa yang jarang berolahraga
Frekuensi mahasiswa yang jarang berolahraga sebanyak 2 kali dalam sebulan yaitu pada
bulan september yang menunjukan frekuensi tertinggi dengan jumlah 50 mahasiswa yang jarang
berolahraga sedangkan frekuensi yang terendah pada bulan juli dengan jumlah 27 mahasiswa
yang jarang berolahraga.
4.2.4. Gambaran kadar hemoglobin pada mahasiswa FPOK IKIP Mataram yang rutin
melakukan olahraga futsal
Kadar hemoglobin pada mahasiswa yang rutin melakukan olahraga futsal dengan
menggunakan sebaran frekuensi dapat dilihat pada tabel 4.3, sebagai berikut :
Tabel. 4.5. Gambaran Kadar hemoglobin pada mahasiswa FPOK IKIP Mataram yang
rutin melakukan olahraga futsal
Kelompok Kadar Hemoglobin
Mean SD Min-Maks 95% Cl
37
48
37
39
32
28
27
42
50
46
2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
jan feb mar april mei jun jul agstus sep okt
Chart Title
jumlah frekuensi
61

Rutin Olahraga
futsal
14,14 0,444 13,4-14,9 14.0467-14,2370

Jumlah responden yang rutin melakukan olahraga futsal dalam penelitian ini sebanyak 86
orang. Berdasarkan Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa responden yang memiliki nilai kadar
hemoglobin paling rendah 13,4 gr%. Sedangkan yang memiliki nilai kadar hemoglobin paling
tinggi 14,9 gr%. Rata-rata nilai kadar hemoglobin yang rutin melakukan olahraga futsal 14,44
gr%.
4.2.5. Gambaran kadar hemoglobin pada mahasiswa MIPA IKIP Mataram yang jarang
melakukan olahraga futsal
Tabel. 4.6. Gambaran Kadar hemoglobin pada mahasiswa MIPA IKIP Mataram yang jarang
melakukan olahraga
Kelompok Kadar Hemoglobin
Mean SD Min-Maks 95% Cl
Jarang
Olahraga futsal
13,61 0,429 13,1-14,4 13,5208-13,7047

Jumlah responden yang jarang melakukan olahraga dalam penelitian ini sebanyak 86
orang. Berdasarkan Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa responden yang memiliki nilai kadar
hemoglobin paling rendah 13,1 gr%. Sedangkan yang memiliki nilai kadar hemoglobin
paling tinggi 14,4 gr%. Rata-rata nilai kadar hemoglobin yang jarang melakukan olahraga
13,61 gr%.
62

4.2.6. Perbedaan antara nilai kadar Hemoglobin pada mahasiswa FPOK IKIP Mataram yang
rutin melakukan olahraga futsal dengan mahasiswa MIPA IKIP Mataram yang jarang
melakukan olahraga

Perbedaan nilai kadar hemoglobin pada mahasiswa FPOK IKIP Mataram yang
rutin melakukan olahraga futsal dengan mahasiswa MIPA IKIP Mataram yang jarang
melakukan olahraga dianalisis menggunakan t-test independen.

Variabel Mean N t P value
Kadar Hb pada
responden yang
rutin berolahraga
futsal
14,1419 86
1,102
0,000
Kadar Hb pada
responden yang
jarang melakukan
olahraga
13,6128 86 0,000

Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata kadar hemoglobin
pada mahasiswa yang rajin melakukan olahraga futsal 14,1419gr% dan pada mahasiswa
yang jarang melakuka olahraga sebesar 13,6128 gr% maka selisih nilai rata-rata kadar
hemoglobin antara mahasiswa yang rajin melakukan olahraga futsal dengan yang jarang
melakukan olahraga sebesar 0,5291. dari hasil statistik di peroleh P = 0,000 dengan =
0,05 dan t hitung = 1,102 < t tabel 1,989 maka Ho ditolak: ada perbadaan kadar
hemoglobin pada mahasiswa FPOK IKIP Mataram yang rutin melakukan olahraga futsal
dengan mahasiswa MIPA IKIP Mataram yang jarang melakukan olahraga.

63

4.3. Pembahasan Penelitian
4.3.1. Distribusi frekuensi mahasiswa Universitas IKIP yang melakukan olahraga futsal
secara rutin berdasarkan usia
Berdasarkan diagram dapat diketahui bahwa dari 86 responden, paling banyak
berusia 18-19 tahun sejumlah 41 responden (48%). Responden dengan usia 22-23 tahun
adalah responden paling sedikit yaitu sejumlah 18 responden (21%).
Masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami
perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa. Remaja yang
menjalani pendidikan di perguruan tinggi berada pada masa remaja akhir, yaitu usia 18-
22 tahun. Pada masa remaja kebutuhan tubuh akan energi jauh lebih besar dibandingkan
dengan sebelumnya, karena remaja akan lebih banyak melakukan aktivitas seperti
bermain, olahraga atau belajar. Pada usia ini aktivitas untuk anak laki-laki cenderung
lebih aktif dan lebih banyak bergerak daripada perempuan sehingga energi yang
dibutuhkan juga lebih banyak (Santrock, 2003).
Masa remaja merupakan masa pertumbuhan cepat dan terjadi perubahan dramatis
pada komposisi tubuh yang mempengaruhi aktivitas fisik dan respon terhadap latihan.
Terdapat peningkatan pada ukuran tulang dan massa otot serta terjadi perubahan pada
ukuran dan distribusi dari penyimpanan lemak tubuh (Chapman & Hall, 1996)
Aktivitas fisik pada anak dan remaja dipengaruhi oleh berbagai hal, diantaranya
adalah faktor fisiologis/perkembangan (misalnya, pertumbuhan, kesegaran jasmani,
keterbatasan fisik), lingkungan (fasilitas, musim, keamanan) dan faktor psikologis, sosial
dan demografi (pengetahuan, sikap, pengaruh orang tua, teman sebaya, status ekonomi,
jenis kelamin, usia).
64

4.3.2. Lama waktu berolahraga
Jumlah responden yang rutin melakukan olahraga futsal dalam penelitian ini
sebanyak 86 orang. Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa responden yang
memiliki nilai kadar hemoglobin paling rendah 13,4 gr%. Sedangkan yang memiliki nilai
kadar hemoglobin paling tinggi 14,9 gr%. Rata-rata nilai kadar hemoglobin yang rutin
melakukan olahraga futsal 14,44 gr%. Sedangkan Jumlah responbanyak 86 orang.
Berdasarkan penelitian ini yang jarang melakukan olahraga dapat diketahui bahwa
responden yang memiliki nilai kadar hemoglobin paling rendah 13,1 gr%. Sedangkan
yang memiliki nilai kadar hemoglobin paling tinggi 14,4 gr%. Rata-rata nilai kadar
hemoglobin yang rutin melakukan olahraga futsal 13,61 gr%.
Menurut Bahri dkk., (2009), aktivitas fisik manusia sangat mempengaruhi kadar
hemoglobin dalam darah. Pada individu yang secara rutin berolahraga kadar
hemoglobinnya akan sedikit naik. Halini disebabkan karena jaringan atau sel akan lebih
banyak membutuhkan O2 (oksigen) ketika melakukan aktivitas.Aktivitas fisik remaja
dilakukan pada saat yang bebas dan dipilih berdasarkan kebutuhan dan ketertarikan
masing-masing individu. Hal ini termasuk latihan dan olahraga. Latihan merupakan
bagian dari aktivitas fisik yang terencana, terstruktur, berulang dan bertujuan untuk
meningkatkan atau menjaga kesegaran jasmani, sedangkan olahraga termasuk sebuah
bentuk aktivitas fisik yang melibatkan kompetisi (Kurpad et al., 2004).
Menurut Pate (1984), salah satu yang mempengaruhi kesegaran jasmani adalah
kapasitas pembawa oksigen. Oksigen dibawa oleh aliran darah ke jaringan sel-sel tubuh,
termasuk sel-sel otot jantung. Pengangkutan O2 ini dimaksudkan untuk menunjang
proses metabolisme aerob yang terjadi di dalam mitokondria dan khususnya beta oksidasi
65

pada metabolisme lemak selain proses oksidasi pada siklus krebs. Energi yang terjadi
akan dipakai untuk kerja eksternal jantung yang ditandai dengan kontraksi dan relaksasi
jantung. Terdapat hubungan yang erat antara laju konsumsi oksigen miokardium dengan
kerja yang dihasilkan oleh jantung. Makin kuat jantung bekerja maka semakin banyak O2
yang dibutuhkan oleh sel-sel jantung. Oleh karena hemoglobin memegang peranan
penting dalam fungsi transportasi oksigen dalam darah. Konsentrasi hemoglobin yang
rendah dapat mengurangi angka maksimal pengiriman oksigen ke jaringan, sehingga
akan mengurangi O2 maksimal dan mengganggu kapasitas kesegaran jasmani (Pate,
1984)
Hemoglobin dibentuk dalam sitoplasma sel sampai stadium retikulosit. Setelah
inti sel dikeluarkan, RNA juga hilang dari dalam sitoplasma, sehingga dalam sel darah
merah tersebut tidak dapat dibentuk protein lagi, begitu juga berbagai enzim yang
sebelumnya terdapat dalam sel darah merah. Proses pembentukan sel darah merah salama
120 hari (Suyono, 2001).
4.3.3. Perbedaan antara nilai kadar Hemoglobin pada mahasiswa FPOK IKIP Mataram
yang rutin melakukan olahraga futsal dengan mahasiswa MIPA IKIP Mataram
yang jarang melakukan olahraga
Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa nilai rata-rata kadar hemoglobin pada
mahasiswa yang melakukan olahraga 14,1419gr%dan yang melakukan olahraga futsal
pada malam hari 13,553 maka selisih nilai rata-rata kadar hemoglobin antara mahasiswa
yang rutin melakukan olahraga futsal dengan yang jarang melakukan olahraga 0,5291.
Hasil uji statistik t-test independen diperoleh P = 0,000 (P < = 0,05) dengan demikian
hipotesis statistik diterima yang secara statistik terdapat perbedaan kadar hemoglobin
66

pada mahasiswa yang rutin melakukan olahraga futsal dengan mahasiswa yang jarang
melakukan olahraga.
Berdasarkan hasil pengukuran nilai kadar hemoglobin pada mahasiswa yang rutin
melakukan olahraga futsal dengan yang jaranag melakukan olahraga didapatkan
mahasiswa yang rutin melakukan olahraga futsal lebih tinggi nilai kadar hemoglobinnya
dibandingkan mahasiswa yang jarang melakukan olahraga Hal ini sesuai dengan hasil
analisis data yang menunjukkan perbedaan kadar hemoglobin pada mahasiswa yang rutin
melakukan olahraga futsal dengan mahasiswa yang jarang melakukan olahraga.
Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan di
Universitas Andalas Padang oleh Hardjanto (2002) menyatakan bahwa didapatkan kadar
hemoglobin mengalami kenaikan pada siswa SMK di Surabaya yang dilatih olahraga
aerobik secara rutin, kenaikan antara 0,2-2 gr%. Penelitian Ianti (2008) juga menyatakan
terjadi peningkatan kadar Hemoglobin setelah melakukan senam aerobik, baik pada jenis
senam low impact maupun pada jenis senam high impact. Menurut Itsnainiyah (2007),
ada hubungan antara kadar hemoglobin dengan kesegaran jasmani. Aktivitas fisik adalah
setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran
energi. Olahraga merupakan salah satu aktivitas fisik yang sangat membutuhkan energi
lebih (WHO, 2010). Energi yang menjadi sumber pergerakan tubuh salah satunya berasal
dari Adeno Tri Phospat (ATP) yang digunakan untuk pergerakan otot (Guyton & Hall,
1997). Bila oksigen tersedia di dalam tubuh secara normal, maka mitokondria akan
memproduksi ATP secara optimal. Individu yang secara rutin berolahraga kadar
hemoglobinnya akan naik. Hal ini disebabkan karena jaringan atau sel akan lebih banyak
membutuhkan oksigen ketika melakukan aktivitas (Bahri dkk., 2009).
67

Oksigen masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan saat inspirasi. Pada saat
inspirasi, otot pernapasan menarik oksigen, kemudian masuk ke dalam paru-paru sampai
ke alveolus dan oksigen akan diikat oleh hemoglobin yang ada di dalam sel darah merah.
Sel darah merah dengan hemoglobin yang sudah mengikat oksigen di dalamnya akan
mendistribusikan oksigen ini ke seluruh sel-sel di dalam tubuh agar bisa dipakai oleh
sel tersebut. Hemoglobin adalah protein yang kaya akan zat besi. Memiliki afinitas (daya
gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oksihemoglobin di dalam
sel darah merah. Dengan melalui fungsi ini maka oksigen dibawa dari paru-paru ke
jaringan-jaringan (Evelyn, 2009).
Pembentukan sel darah ini akan terus berlangsung sampai kebutuhan oksigen
dalam jaringan terpenuhi. Hemoglobin disintesis dalam sel darah merah dan mampu
berikatan dengan oksigen sehinggajika proses pembentukan sel darah merah terus
berlangsung maka kadar hemoglobin akan meningkat (Guyton & Hall, 1997).
Afinitas (daya ikat) hemoglobin pada oksigen dipengaruhi oleh suhu tubuh,
keasaman (pH) darah, dan konsentrasi bahan-bahan kimia dalam darah. Pada keadaan
suhu udara rendah, tekanan oksigen tinggi dan keasaman darah tinggi, afinitas
hemoglobin pada oksigen meningkat. Sebaliknya pada kondisi tekanan oksigen rendah,
suhu tinggi, dan keasaman rendah afinitas hemoglobin pada oksigen menurun (Ganong,
2003). Kegiatan fisik yang meningkat mengakibatkan kebutuhan energi juga meningkat
sehingga dibutuhkan kadar oksigen yang lebih banyak untuk mnghasilkan energi melalui
proses glikolisis atau glikogenolisis secara aerob (Bahri dkk., 2009).
Kebutuhan energi diperoleh dari sistem energi glikolisis dan glikogen. Glikolisis
dapat menghasilkan energi melalui proses aerob dan anaerob. Sistem aerob
68

membutuhkan oksigen untuk memproduksi energi sementara anaerob tidak, karena
anaerob adalah pembakaran tanpa oksigen. Tekanan darah dan denyut jantung
menggambarkan fungsi kardiovaskular dan berperan dalam penentuan tingkat intensitas
latihan. Peningkatan intensitas latihan akan berakibat pada meningkatnya tekanan darah
dan denyut jantung karena tingginya kebutuhan tubuh akan energi. Energi dalam jumlah
besar dihasilkan oleh sistem aerob dimana suplai oksigen memegang peranan penting
dalam proses produksi energi ini sehingga semakin tinggi jumlah oksigen dalam darah
maka semakin tinggi pula sistem aerob memegang peranan dalam sistem produksi energi
(Ganong, 2003).
Kematian sel-sel manusia mengalami metabolisme aerob yang membutuhkan
oksigen di dalam prosesnya, apabila kekurangan oksigen maka tubuh akan mengganti
proses metabolisme aerob dengan anaerob, yang menghasilkan energi lebih sedikit
daripada metabolisme aerob sehingga energi tersebut tidak cukup untuk mempertahankan
membran sel, yang menyebabkan sel mengalami kerusakan dan kematian (Guyton &
Hall, 1997).
4.4. Keterbatasan Penelitian
4.4.1. Penelitian ini tidak mengontrol pola makan responden, yaitu nutrisi khususnya makanan
yang mengandung zat besi dan protein juga berpengaruh terhadap pembentukan
hemoglobin.
4.4.2.



69

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1.SIMPULAN
5.1.1. Berdasarkan penelitian ini menunjukan bahwa karakteristik responden berdasarkan
usia pada penelitian ini paling banyak berusia 19-20 tahun sejumlah 41 responden
(48%). Responden dengan usia 22-23 tahun adalah responden paling sedikit yaitu
sejumlah 18 responden (21%).
5.1.2. Berdasarkan waktu bermain futsal frekuensi mahasiswa yang rutin berolahraga
futsal menunjukan bahwa lebih tinggi frekuensi mahasiswa yang rutin berolahraga
futsal sebanyak 6 kali dalam sebulan yaitu pada bulan juli yang menunjukan
frekuensi tertinggi dengan jumlah 60 mahasiswa sedangkan frekuensi mahasiswa
yang rutin berolahraga sebanyak 8 kali yang terendah pada bulan juli dengan
jumlah 10 mahasiswa.
5.1.3. Berdasarkan mahasiswa yang rutin melakukan olahraga futsal memiliki nilai kadar
hemoglobin paling rendah 13,4 gr%. Sedangkan yang memiliki nilai kadar
hemoglobin paling tinggi 14,9 gr%. Rata-rata nilai kadar hemoglobin yang rutin
melakukan olahraga futsal 14,44 gr%.
5.1.4. Pada hasil penilitian ini menunjukan bahwa mahasiswa yang jarang melakukan
olahraga memiliki nilai kadar hemoglobin paling rendah 13,1 gr%. Sedangkan
yang memiliki nilai kadar hemoglobin paling tinggi 14,4 gr%. Rata-rata nilai kadar
hemoglobin yang jarang melakukan olahraga 13,61 gr%.
5.1.5. Hasil statistik antara mahasiswa yang rutin melakukan olahraga futsal dengan
mahasiswa yang jarang melakukan olahraga peroleh P = 0,000 dengan = 0,05
70

dan t = 1,102 maka Ho ditolak yang berarti bahwa ada perbadaan kadar
hemoglobin pada mahasiswa FPOK IKIP Mataram yang rutin melakukan olahraga
futsal dengan mahasiswa MIPA IKIP Mataram yang jarang melakukan olahraga.

5.2.SARAN
5.2.1. Untuk mempertahankan hemoglobin yang nomal, serta memperbaiki pola hidup agar
lebih baik lagi teutama rutin melakukan olahraga.
5.2.2. Selain itu perlu adanya penelitian lain yang serupa dengan pengendalian variabel
pengganggu(indeks massa tubuh , mendeteksi penyakit kronis dan tes kesehatan)secara
lebih ketat.