Anda di halaman 1dari 18

MINYAK KEMANGI

Oleh :
Amalia Khoirunnisa 21030112060039
Restu Ayu Sella R 21030112060043
Yunda Pertiwi 21030112060125
Syaiful Khoirulloh 21030112060127


PSD III TEKNIK KIMIA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Negara kita termasuk negara penghasil minyak atsiri dan merupakan komoditi
yang menghasilkan devisa negara. Oleh karena itu dewasa ini minyak atsiri mendapat
perhatian yang cukup besar dari pemerintah Indonesia. Sampai saat ini Indonesia sudah
menghasilkan beberapa jenis minyak atsiri yaitu: minyak cengkeh, minyak kenanga,
minyak nilam, minyak akar wangi,minyak pala, minyak kayu putih, minyak sereh wangi
dan minyak kemangi. Permintaan minyak atsiri di Indonesia dan di luar negeri terus
meningkat dewasa ini, termasuk minyak atsiri dari minyak kemangi wangi, namun
ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan pasar masih
mengalami hambatan. Oleh sebab itu budidaya tanaman secara intensif diperlukan untuk
mengatasi masalah tersebut, baik secara kuantitas maupun kualitas.
Salah satu produk yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi dari dari daun
kemangi (Ocimum sanctum L) adalah minyak Atsiri. Sejak zaman dahulu, kemangi
disuling untuk diambil sari minyak atsirinya. John Henry menggolongkan minyak
kemangi sebagai minyak atsiri tinggi. Artinya, aroma kemangi segera hilang setelah 24
jam dioleskan ke tubuh. Sebagai perbandingan, minyak atsiri katagori sedang, akan
hilang aromanya setelah 3 hari dioleskan, sedangkan minyak atsiri katagori rendah,
aromanya hilang setelah seminggu. Komponen aroma dari minyak atsiri cepat
berinteraksi saat dihirup, senyawa tersebut berinteraksi dengan sistem syaraf pusat dan
langsung merangsang pada sistem olfactory, kemudian sistem ini akan menstimulasi
syaraf-syaraf pada otak dibawah kesetimbangan korteks serebral (Buckle, 1999).
Senyawa-senyawa berbau harum atau fragrance dari minyak atsiri
suatu bahan tumbuhan telah terbukti pula dapat mempengaruhi aktivitas lokomotor
(Buchbauer,
1991).


1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini mengetahui pengaruh lama penyulingan
terhadap rendeman miyak kemangi (Ocimum sanctum L),
1.3 Tujuan
1) Mendestilasi daun kemangi dengan metode destilasi dengan menggunakan pelarut air.
2) Menentukan kadar minyak yang terkandung dari hasil destilasi minyak sereh wangi
3) Melakukan analisa warna, total rendemen, total citronellal, total citronellol, berat
jenis, indeks bias, bilangan asam, bilangan penyabunan, dan putaran optik yang
dihasilkan.






















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kemangi (Ocimum americanum L.)
2.1.1. Sistematika Tanaman
Menurut Pitojo (1996) sistematika tumbuhan kemangi adalah sebagai berikut:
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Amaranthaceae
Famili : Lamiaceae
Genus : Ocimum
Spesies : Ocimum americanum L.
2.1.2. Deskripsi Tanaman
Kemangi dikenal dengan nama daerah Saraung, (Sunda), Lampes (Jawa Tengah),
Kemangek (Madura), Uku-uku (Bali), Lufe-lufe (Ternate), Hairy Basil (Inggris).
Kemangi merupakan tanaman semak semusim dengan tinggi 30-150 cm. batangnya
berkayu, segi empat, beralur, bercabang, dan memiliki bulu berwarna hijau.
Daunnya tunggal dan berwarna hijau, bersilang, berbentuk bulat telur, ujungnya
runcing, pangkal tumpul, tepi bergerigi, dan pertulangan daun menyirip. Bunga
majemuk berbentuk tandan memiliki bulu tangkai pendek berwarna hijau, mahkota
bunga berbentuk bulat telur dengan warna keunguan. Buah berbentuk
2.1.3. Budidaya Kemangi
Tanaman kemangi baik di budidayakan di daerah panas beriklim lembab, kemangi
dapat tumbuh baik di dataran rendah hingga 1100 m dari permukaan laut, tanaman
tersebut menyukai tempat terbuka dan mendapat cukup sinar matahari
2.1.4. Kandungan Kimia.
Kemangi mengandung minyak atsiri kurang dari 1% dengan komponen yang
penting adalah sineol, linalool, metil chavicol (estragol), dan hidrokarbon bertitik
didih rendah (pinene dan olefin terpene). Selain mengandung minyak atsiri,
kemangi juga mengandung protein, kalsium, dan belerang (Quisum,1951).
Dimana pada Penelitian di Jakarta mengandung eugenol (37,35%) cineol (21,44%)
thymol(9,67%), sedangkan Penelitian di Serang Sineol (40,03%) linalool(11,17%)
eugenol(13,94
(junal perkebunan litbang deptan )



2.1.5. Manfaat Kemangi
Menurut tim peneliti dari Center for New Crops and Plant Products, Purdue
University, AS, daun kemangi terbukti ampuh untuk menyembuhkan sakit kepala,
pilek, diare, sembelit, cacingan, dan gangguan ginjal sakit maag, perut kembung,
masuk angin, kejang-kejang, dan badan lesu. Selain itu, aroma kemangi dapat
menolak gigitan nyamuk. Sedangkan untuk Minyak atsiri kemangi dapat digunakan
untuk pijat aroma terapi karena minyak atsiri kemangi dapat meringankan dan
menyegarkan tubuh , muntah-muntah, infeksi usus, radang lambung, serta gas dalam
usus. Juga, gangguan kepala (seperti sakit telinga, demam, sakit saluran hidung,
migrain), gangguan otot (kejang-kejang atau kram), dan gangguan saraf
(kecemasan, depresi, histeria, lemah saraf, insomia).



















III
PROSES PRODUKSI
Dalam produksi minyak kemangi yang berasal dari daun kemangi , dapat dilakukan
dengan diekstraksi dengan 4 macam cara, yaitu :
1. Penyulingan (Distillation)
Proses pemisahan komponen yang berupa cairan atau padatan dari 2 macam campuran
atau lebih berdasarkan perbedaan titik uapnya, dan proses ini dilakukan terhadap minyak
atsiri yang tidak larut dalam air. Jumlah air yang menguyap bersama-sama dengan uapair
ditentukan oleh 3 faktor, yaitu besarnya tekanan uap yang digunakan, berat molekul dari
masing-masing komponen dalam minyak, dan kecepatan minyak keluar dari bahan yang
mengandung minyak.
Pada permulaan penyulingan, hasil sulingan sebagian besar terdiri dari komponen minyak
yang bertitik didih rendah, selanjutnya disusul dengan komponen yang bertitik didih lebih
tinggi dan pada saat mendekati akhir penyulingan jumlah minyak dalam hasil sulingan akan
bertambah kecil. Proses penyulingan minyak dapat dipercepat dengan menaikkan suhu dan
tekanan atau menggunakan sistim superheated steam.
Akan tetapi hal ini hanya dapat dilakukan terhadap minyak atsiri yang sukar mengalami
dekomposisi pada suhu yang lebih tinggi. Ekstraksi minyak atsiri dengan cara penyulingan
mempunyai beberapa kelemahan, yaitu :
Tidak baik digunakan terhadap beberapa jenis minyak yang mengalami kerusakan oleh
adanya panas dan air.
Minyak atsiri yang mengandung fraksi ester akan terhidrolisa karena adanya air dan
panas.
Komponen minyak yang larut dalam air tidak dapat diekstrak.
Komponen minyak yang bertitik didih tinggi yang menentukan bau wangi dan
mempunyai daya fiksasi terhadap bau sebagian tidak ikut tersuling dan tetap tertinggal
dalam bahan.
Bau wangi minyak yang dihasilkan sedikit berubah dari bau wangi alamiah.

Dalam perkembangan pengolahan minyak atsiri telah dikenal 3 macam sistim penyulingan.
1.1 Penyulingan dengan Air (Water distillation)
Pada sistim penyulingan dengan air, bahan yang akan disuling langsung kontak dengan
air mendidih. Suatu keuntungan dari penggunaan sistim penyulingan ini adalah karena
baik digunakan untuk menyuling bahan yang berbentuk tepung dan bunga-bungaan yang
mudah membentuk gumpalan jika kena panas. Kelemahan dari cara penyulingan tersebut
adalah karena tidak baik digunakan untuk bahan-bahan yang fraksi sabun, bahan yang
larut dalam air dan bahan yang sedang disuling dapat hangus jika suhu tidak diawasi.
1.2 Penyulingan dengan Air dan Uap (Water and Steam Distillation)
Pada sistim penyulingan ini, bahan diletakkan di atas piring yang berupa ayakan yang
terletak beberapa sentimeter di atas permukaan air dalam ketel penyuling. Kecepatan
difusi uap melalui bahan dan keluarnya minyak dari sel kelenjar minyak ditentukan oleh
beberapa faktor, yaitu :
Kepadatan bahan dalam ketel penyulingan
Tekanan uap
Berat jenis dan kadar air bahan
Berat molekul dari komponen kimia dalam minyak.
Keuntungan dengan menggunakan sistim penyulingan tersebut adalah karena uap berpenetrasi
secara merata kedalam jaringan bahan dan susu dapat dipertahankan sampai 100C. Lama
penyulingan relatif lebih singkat, rendemen minyak lebih besar dan mutunya lebih baik jika
dibandingkan dengan minyak hasil dari sistim penyulingan dengan air.
1.3 Penyulingan dengan Uap (Steam Distillation)
Pada sistim ini, air sebagai sumber uap panas terdapat dalam boiler yang letaknya
terpisah dari ketel penyulingan. Uap yang dihasilkan mempunyai tekanan lebih tinggi
dari tekanan udara luar. Penyulingan dengan uap sebaiknya dimulai dengan tekanan uap
yang rendah (kurang lebih 1 atmosfir), kemudian secara berangsur-angsur tekanan uap
dinaikkan menjadi kurang lebih 3 atmosfir. Jika permulaan penyulingan dilakukan pada
tekanan tinggi, maka komponen kimia dalam minyak akan mengalami dekomposisi. Jika
minyak dalam bahan di anggap sudah habis tersuling, maka tekanan uap perlu diperbesar
lagi yang bertujuan untuk menyuling komponen kimia yang bertitik didih tinggi.
Sistim penyulingan ini baik digunakan untuk mengekstraksi minyak dari biji-bijian, akar
dan kayu-kayuan pada umnumnya mengandung komponen minyak yang bertitik didih
tinggi, misalnya minyak cengkeh, kayu manis, akar wangi, coriander, sereh ,dan
minyak boise de rose, sassafras, cumin, Cedar wood, kamfer, kayu putih,
pimento, eucalyptus dan jenis minyak lainnya yang bertitik didih tinggi.
Sistim penyulingan ini tidak baik dilakukan terhadap bahan yang mengandung minyak
atsriri yang mudah rusak oleh pemanasan dan air. Minyak yang dihasilkan dengan cara
penyulingan, baunya akan sedikit berubah dari bau asli alamiah, terutama minyak atsiri
yang berasal dari bunga-bungaan.
2. Pressing
Ekstraksi minyak atsiri dengan cara pengepressan umumnya dilakukan terhadap
bahan berupa biji, buah atau kulit luar yang dihasilkan dari tanaman yang termasuk famili
citrus, karena minyak dari famili tanaman tersebut akan mengalami kerusakan jika
diekstraksi dengan cara penyulingan. Karena tekanan pengepressan maka sel-sel yang
mengandung minyak akan pecah dan minyak akan mengalir ke permukaan bahan.
Beberapa jenis minyak yang dapat diekstrasi dengan cara pengepressan adalah minyak
almon, apricot, lemon, minyak kulit jeruk, mandarin, grape fruit, dan beberapa
jenis minyak lainnya.
3. Ekstraksi dengan Pelarut Menguap (Solvent Extraction)
Prinsip dari ekstraksi ini adalah melarutkan minyak atsiri dalam bahan dengan
pelarut organik yang mudah menguap. Proses ekstraksi biasanya dilakukan dalam suatu
wadah (ketel) disebut extractor. Berbagai tipe extractor yang telah dikenal adalah
bonotto extractor,Kennedy extractor,Bollmann extractor, De Smet extractor,
Hilderbrandt extractor, dan Carrousal exrtractor.Ekstraksi dengan pelarut organik
umumnya digunakan untuk mengekstraksi minyak atsiri yang mudah rusak oleh
pemanasan uap dan air, seperti untuk mengekstrak minyak dari bunga-bungaan misalnya
bunga cempaka, melati, mawar, hyacinth, tuberose, narcissus, gardenis,
lavender, lily, minose, kenanga, labdanum,violet flower, dan geranium.
Bunga-bungaan yang masih segar dimasukan ke dalam extractor dan
selanjutnya pelarut menguap yang murni dipompakan ke dalam extractor. Berbagai
pelarut yang biasa digunakan adalah petroleum ether, carbon tetra chlorida, chloroform,
dan pelarut lainnya yang bertitik didih rendah. Pelarut organik akan berpenetrasi ke
dalam jaringan bunga-bungaan dan akan melarutkan minyak serta bahan non volatile
yang berupa resin, lilin dan beberapa macam zat warna
Komponen non volatile tersebut merupakan kotoran dalam minyak atsiri, dan
kotoran tersebut dapat dipisahkan dengan cara penyulingan pada suhu rendah dan
tekanan vakum. Dengan cara penyulingan ini maka pelarut beserta minyak atsiri akan
menguap dan selanjutnya uap tersebut dikondensasikan, sedangkan komponen non
volatile tetap tertinggal dalam ketel penyuling. Hasil kondensasi yang merupakan
campuran dari pelarut dan minyak atsiri, disebut concrete. Jika concrete tersebut
dilarutkan dalam alkohol, maka minyak atsiri akan larut sempurna, sedangkan fraksi lilin
tidak dapat larut dan akan membentuk endapan keruh.
4. Ekstraksi dengan Lemak Padat
Proses ekstraksi ini digunakan khusus untuk mengekstraksi minyak bunga-
bungaan, dalam rangka mendapatkan mutu dan rendemen minyak yang tinggi. Pada
umumnya bunga setelah dipetik akan tetap hidup secara fisiologis. Daun bunga terus
menjalankan proses hidupnya dan tetap memproduksi minyak atsiri dan minyak ytang
terbentuk dalam bunga akan menguap dalam waktu singkat.
Kegiatan bunga dalam memproduksi minyak akan terhenti dan mati jika kena
panas, kontak atau terendam dalam pelarut organik. Dengan demikian pelarut hanya
dapat mengekstraksi minyak yang terdapat dalam sel bunga yang terbentuk pada saat
bahan tersebut kontak dengan pelarut, sedangkan minyak atsiri yang teebentuk
sebelumnya sebagian besar telah menguap. Dengan demikian ekstraksi menggunakamn
pelarut menguap menghasilkan rendemen minyak yang rendah.
Untuk mendapatkan rendemen minyak yang lebih tinggi dan mutu yang baik,
maka selama proses ekstraksi berlangsung perlu dijaga agar proses fisiologi dalam bunga
tetap berlangsung dalam waktu selama mungkin, sehingga bunga tetap dapat
memproduksi minyak atsiri. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengekstraksi minyak
bunga menggunakan lemak hewani atau nabati
PERLAKUAN PENDAHULUAN
Bahan dan Alat Yang Digunakan
Bahan Yang Digunakan
1. Daun Kemangi
2. Air
Alat Yang Digunakan
1. Gelas ukurr
2. Beaker glass
3. Kompor listrik
4. Timbangan
5. Pengaduk
6. Refraktometer
7. Pipet tetes
8. Statif dan klem
9.Corong
10.Kapas
11.Polarimeter
Gambar Alat
Gambar Alat Utama Destilasi Vakum :




Berikut adalah komponen alatnya :


Keterangan :
1. Steamer 4.Destilator 7.Pompa
2. Manometer 5.Tangki penyimpanan minyak
3. Panel 6.Rangka





1. gelas ukur 2. beaker glass 3. kompor listrik






4. timbangan 5. Pengaduk 6. refraktometer

7. Pipet tetes 8. Statif dan klem

9. Corong laboratorium 10. Kapas 11. Polarimeter
CARA KERJA
Bahan Baku

Penanganan bahan baku
(Pencucian/perajangan/pengeringan)

Bahan baku
(Segar/kering, tanpa rajang/rajang)

Penyulingan
(Pengaturan tekanan, suhu. Laju alir dan lama penyulingan tergantung komoditi)

Pendinginan

Pemisahan

Penyaringan
(kain Teflon, sablon atau di tambah Na sulfat anhidrat 1%)

Minyak Atsiri

Pengemasan

Penyimpanan

Penjelasan :
- Pengeringan dapat mempercepat proses ekstraksi dan memperbaiki mutu
minyak, namun selama pengeringan kemungkingan sebagian minyak akan
hilang karena penguapan dan oksidasi oleh udara (Ketaren, 1985). Beberapa
jenis bahan baku tidak perlu dikeringkan, seperti jahe, lajagoan, dan bahan
lain yang disuling dalam keadaan segar untuk mencegah kehilangan aroma
yang diinginkan. Pencucian biasanya dilakukan untuk bahan-bahan yang
berasal dari tanah seperti akar wangi, dan rimpang. Tujuannya adalah untuk
membersihkan bahan dari kotoran yang menempel, mencegah hasil minyak
agar tidak kotor, dan efisiensi pemuatan bahan dalam ketel suling. Perajangan
bertujuan untuk memudahkan penguapan minyak atsiri dari bahan,
memperluas permukaan suling dari bahan dan mengurangi sifat kamba. Pada
umumnya perajangan dilakukan pada ukuran 20 30 cm.
- Pada pross penyulingan ini, tekanan, suhu, laju alir, dan lama penyulingan
diatur berdasarkan jenis komoditi. Lama penyulingan sangat bervariasi mulai
dari 3-5 jam untuk sereh wangi, 5 8 jam untuk minyak nilam dan cengkeh,
10 14 jam untuk minyak pala, dan 10-16 jam untuk minyak akar wangi
bergantung kepada jenis bahan baku (basah / kering), penggunaan tekanan
dan suhu penyulingan. Tekanan uap yang tinggi dapat menyebabkan
dekomposisi pada minyak, oleh karena itu penyulingan lebih baik dimulai
dengan tekanan rendah, kemudian meningkat secara bertahap sampai pada
akhir proses. Selama proses penyulingan, uap air yang terkondensasi dan
turun ke dasar ketel harus dibuang secara periodik melalui keran pembuangan
air untuk mencegah pipa uap berpori terendam, karena hal ini dapat
menghambat aliran uap dari boiler ke ketel suling
- Pada proses pendinginan, suhu air pendingin yang masuk ke dalam tabung
atau kolam pendingin yang ideal sekitar 25-30 derajat C, dan suhu air keluar
maksimum 40 50 derajat C. Suhu air keluar tersebut dapat diatur dengan
memperbesar / memperkecil debit air pendingin yang masuk ke dalam tabung
/ kolam pendingin.
- Pemisahan minyak dari tabung pemisah sebaiknya tidak diciduk (diambil
dengan gayung), karena hal itu akan menyebabkan minyak yang telah terpisah
dari air akan kembali terdispersi dalam air dan sulit memisah kembali,
sehingga mengakibatkan kehilangan (loses).
Minyak yang dihasilkan masih terlihat keruh karena mngandung sejumlah kecil air dan kotoran
yang terdispersi dalam minyak. Air tersebut dipsahkan dengan menyaring minyak menggunakan
kain teflon / sablon. Pemisahan air juga dapat dilakukan dengan menambahkan zat pengikat air
Berupa Natrium Sulfat anhidrat (Na2SO4) sebanyak 1% selanjutnya diaduk dan disaring.
(http://minyakatsiriindonesia.wordpress.com)
Pemasaran Minyak Kemangi
Distribusi pemasaran minyak kemangi
Rantai pemasaran dau kemangi menjadi minyak kemangi dimulai dari
petani kemangi. Petani kemangi menjual daun kemangi kepada pengumpul kecil.
Pengumpul kecil melakukan dua kegiatan yaitu pertama, menjual daun kemangi
segar langsung kepada penyuling. Kegiatan kedua , menjual daun kemangi segar
sebagai lalapan. Pengumpul besar membeli Kemudian agroindustri kecil
penyulingan menjual minyak kemangi kepada pengumpul minyak kemangi
dahulu, baru kemudian pengumpul minyak kemangi menjual minyak kemangi
yang telah dikumpulkan dari beberapa penyuling kecil kepada industry
penyulingan besar atau langsung kepada perusahaan eksportir.
Dalam penelitian ini umumnya penyuling menjual hasil produksinya kepada
pengumpul minyak kemangi. Hasil minyak pala dari para industri kecil umumnya
tidak seragam antara industri yang satu dengan yang lain, maka pengumpul atau
agen eksportir umumnya melakukan proses pencampuran agar dihasilkan minyak
kemangi yang seragam. Pengumpul harus dapat mengatur perbandingan
campuran masing-masing minyak sehingga diperoleh kandungan yang diinginkan
eksportir.
Kendala Pemasaran
Meskipun minyak atsiri terutama minyak kemangi cukup menggiurkan namun industri minyak
atsiri memiliki persoalan utama yaitu mutu yang rendah serta harga yang rendah dan berfluktuasi.
Mutu yang rendah sangat erat kaitannya dengan beberapa faktor penyebab, antara lain rendahnya
kapasitas SDM sebagai petani maupun penyuling, pengelolaan bisnis yang tradisional dengan
segala keterbatasannya, dan teknologi serta teknik produksi yang masih tradisional dan
berkualitas rendah. Rendahnya kapasitas SDM industri minyak atsiri merupakan salah satu
penyebab rendahnya mutu dan rendahnya harga minyak atsiri dan sekaligus merupakan tantangan
dan ancaman bagi kelangsungan usaha industri minyak atsiri dimasa yang akan datang.
Solusi Pemasaran
Indonesia sebagai negara pengekspor minyak atsiri yang penting di dunia harus
mengupayakan pengembangan, kualitas dan nilai minyak atsiri dan produk turunannya. Produksi
minyak atsiri merupakan proses yang kompleks. Peningkatan efisiensi produksi memerlukan
peningkatan produktivitas tanaman, perbaikan penanganan pasca panen, ekstraksi dan
peningkatan nilai tambah yang didukung pengendalian dan jaminan mutu agar diperoleh mutu
tinggi dan konsisten. Peningkatan Atsiri Indonesia merupakan keharusan dioptimalkannya
beberapa hal mencakup mutu (quality), biaya (cost), dan penyediaan (delivery). Perlu menetapkan
visi bersama untuk mencapai mutu produk yang sesuai dengan permintaan pasar, dan
diimplementasikan di semua rantai nilai mulai penyediaan bahan baku berkualitas, penerapan
GAP (Good Agricultural Practices) maupun GMP (Good Manufacturing Practices), efisiensi
biaya proses, tataniaga, serta sistem pasokan bahan baku dan produk yang terkendali untuk
mencapai kapasitas tepat jumlah dan waktu sesuai permintaan.
Sistem pemasaran minyak atsiri harus dibangun sehingga terjamin ketersediaan pasokan
dengan harga yang adil. Pada saat ini, sistem pemasaran yang kurang efisien masih sering terjadi,
mengingat produsen minyak atsiri adalah industri kecil menengah yang berbasis bahan baku
alam, maka sering terjadi kekurangan stok atau kelangkaan. Ketimpangan pada pengambilan nilai
tambah dan panjangnya rantai pemasaran juga menyebabkan sulit berkembangnya industri
minyak atsiri dan cenderung terbentuk kelompok yang dominan dalam pemasaran.









BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
Negara kita termasuk negara penghasil minyak atsiri dan merupakan komoditi
yang menghasilkan devisa Negara. Sampai saat ini Indonesia sudah menghasilkan
beberapa jenis minyak atsiri salah satunya minyak kemangi.Namun meskipun
minyak atsiri cukup banyak menjanjikan namun mutu yang rendah serta harga yang
rendah dan berfluktuasi dipasaran membuat industry ini menjadi kurang begitu nampak
di Negara kita,sehingga peningkatan efisiensi produksi memerlukan peningkatan
produktivitas tanaman, perbaikan penanganan pasca panen, ekstraksi dan peningkatan
nilai tambah yang didukung pengendalian dan jaminan mutu agar diperoleh mutu tinggi
dan konsisten.



REVISI
Pada destilasi vacuum tekanan operasinya 0,4 atm(300 mmHg absolute)
Fajar dan Reza
Berapa % kandungan minyak atsiri dalam minyak kemangi dan jelaskan alat alat destilasi
vacumm serta kegunaan bagiannya
Jawab
Dalam minyak kemngi terdpat 1% minyak atsiri
Bagian alat alatnya
1. Steam : sebagai sumber panas agar terjadi penguapan pada proses destilasi
2. Manometer : mengatur tekanan pompa
3. Panel : mengatur alat destilasi on/off
4. Destilator : tabung letak terjadinya destilasi
5. Tabung minyak : untuk menampung minyak hasil destilasi
6. Rangka : Sebagai kerangka untuk destilasi vacuum agar dapat berdiri
kokoh
7. Pompa : pompa vacuum untuk mengatur kondisi destilatorpada kondisi vacuum
yaitu kondisi tekanan oerasinya 0,4 atm((300 mmHg absolute)

2. Komponen aktif dalam minyak atsiri
Penelitian di Jakarta
eugenol (37,35%)
cineol (21,44%)
thymol(9,67%)

Penelitian di Serang

Sineol (40,03%),
linalool(11,17%)
eugenol(13,94
(junal perkebunan litbang deptan )
Alur pemasaran Minyak kemangi