Anda di halaman 1dari 46

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia adalah
meningkatnya usia harapan hidup (UHH) manusia Indonesia. Hampir setiap tahunnya negara
Indonesia selalu menempati peringkat keempat dunia, untuk kategori penduduk orang berusia
lanjut terbanyak di dunia yaitu setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Hal itu didorong
dengan keberhasilan pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan nasional telah mewujudkan
hasil yang positif diberbagai bidang, yaitu adanya kemajuan ekonomi, perbaikan lingkungan
hidup terutama dibidang kesehatan sehingga dapat meningkatkan umur harapan hidup manusia.

Sehat merupakan hak azasi setiap manusia. Sehat adalah keadaan dimana fisik, mental,
dan sosial dalam keadaan baik tidak hanya terbebas dari penyakit. Menurut UU Kes 23/1992,
kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial, yang memungkinkan setiap
orang hidup produkif secara sosial dan ekonomi.

Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya usia
harapan hidup penduduk. Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk,
menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut
Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, yang dimaksud
dengan lanjut usia adalah penduduk yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.




2

Selain itu menteri kesehatan RI telah menetapkan program jangka menengah tahun 2010
2014 yang disusun dalam sebuah rencana strategis Depkes. Pembangunan kesehatan yang
dilaksanakan saat ini juga mengacu pada Undang-undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025 dengan member perhatian khusus
pada penduduk yang renatan yaitu salah satunya usia lanjut. Visi Rencana Strategis yang ingin
dicapai Depkes adalah Masyarakat Yang Mandiri dan Berkeadilan. Visi ini dituangkan
menjadi 4 misi yaitu (1) Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan
masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani, (2) Melindungi kesehatan masyarakat
dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan,
(3) menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan, serta (4) Menciptakan tata
kelola keperintahan yang baik.

Pendekatan yang harus dilakukan dalam melaksanakan program kesehatan adalah
pendekatan keluarga dan masyarakat serta lebih memprioritaskan upaya memelihara dan
menjaga yang sehat semakin sehat serta merawat yang sakit agar menjadi sehat. Oleh karena itu
berbagai upaya harus dilaksanakan untuk mengatasi masalah ini dengan baik, diantaranya
dengan meningkatkan cakupan, keterjangkauan dan mutu pelayanan kesehatan, khususnya untuk
penduduk usia lanjut. Salah satu bentuk kegiatan yang perlu digalakkan agar tujuan dimaksud
dapat lebih cepat dicapai adalah mendorong pembentukan dan pemberdayaan berbagai Upaya
Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat khususnya usia lanjut.
Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebagai salah satu pelayanan kesehatan tingkat
masyarakat harus digerakkan untuk mencapai dusun sehat. Posyandu merupakan pos pelayanan
kesehatan dasar yang pada hakekatnya merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan untuk
masyarakat. Kegiatan Posyandu adalah kegiatan dari dan oleh dan untuk masyarakat, sehingga
pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana menjadi tanggung jawab bersama terutama
masyarakat sekitar.
Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah
tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa
mendapatkan pelayanan kesehatan. Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan
pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program
Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi
sosial dalam penyelenggaraannya.
3



Berdasarkan SPM 2012 yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang telah
ditetapkan target pelayanan pra usila dan usila sebesar 70%. Namun data Puskesmas salaman
periode Januari-maret tahun 2012 didapatkan cakupan pelayanan pra usila dan usila dengan
persentase 50,96% dan pencapaian yaitu 72,80% dari target Kabupaten Magelang. Kemudian
data Desa Salaman periode Januari-maret 2012 didapatkan hasil jumlah usila dan prausila yang
datang ke posyandu sebanyak orang 70 (cakupan 6,25%) dari sasaran bulan berjalan orang.
Hasil ini menunjukkan pencapaian sebesar 8,9 % yang masih dibawah dari target dinas kesehatan
yaitu sebesar 70%.
































4

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dirumuskan sebuah masalah yaitu apakah yang menyebabkan
rendahnya cakupan pelayanan pra usila dan usila di Desa Salaman?

1.3Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui penyebab rendahnya cakupan pelayanan pra usila dan usila Desa Salaman,
Kecamatan Magelang.
1.3.2 Tujuan khusus
a. Mengetahui data umum Dusun Kauman Desa Salaman , Kecamatan Salaman.
b. Mengidentifikasi penyebab rendahnya cakupan pelayanan pra usila dan usila di Dusun
Kauman desa Salaman, Kecamatan Salaman.
c. Menganalisa penyebab masalah yang muncul dalam pelaksanaan Posyandu pra usila dan
usila di Dusun Kauman Desa Salaman, Kecamatan Salaman.
d. Mencari alternatif pemecahan masalah pelaksanaan Posyandu pra usila dan usila di
Dusun Kauman Desa Salaman, Kecamatan Salaman.
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat bagi Puskesmas
Sebagai data dasar evaluasi kegiatan posyandu pra usila dan usila serta sebagai bahan
masukan untuk peningkatan pelayanan Posyandu pra usila dan usila.
1.4.2 Manfaat bagi masyarakat
Masyarakat lebih mengetahui kegiatan yang ada di Posyandu Lansia.
Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kegiatan posyandu lansia.
1.5 Metodologi Penelitian
Pengumpulan data dilakukan di Dusun Kauman,Desa Salaman, Kecamatan Salaman.
Kabupaten Magelang pada tanggal 15 mei 2012. Jenis data adalah data primer. Data
primer adalah data yang diperoleh melalui observasi atau wawancara langsung. Data
primer dari kegiatan ini diperoleh dengan cara mendatangi dan memberikan kuesioner
kepada 20 orang pra usila dan usila, selain itu juga dilakukan wawancara kepada kader
dan bidan desa.

5



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari Tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
panca indra manusia, yaitu: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui pendidikan, pengalaman orang
lain, media massa maupun lingkungan (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang. Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam menumbuhkan rasa percaya
diri maupun sikap dan perilaku setiap hari, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan
merupakan fakta yang mendukung tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil dari pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu
tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai (Drs. Sidi Gazalba) .
Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu knowledge.
Dalam encyclopedia of philosophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah
kepercayaan yang benar (knowledgement is justified true beliefed).
Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran. Dengan demikian, pengetahuan
merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Dalam kamus filsafat, dijelaskan
bahwa pengetahuan (knowledge) adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara
langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam peristiwa ini yang mengetahui (subjek)
memilliki yang diketahui (objek) di dalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang
mengetahui itu menyusun yang diketehui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif.
Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru dalam
diri orang tersebut menjadi proses berurutan :
1. Awarenes, dimana orang tersebut menyadari pengetahuan terlebih dahulu
terhadap stimulus (objek).
6

2. Interest, dimana orang mulai tertarik pada stimulus.
3. Evaluation, merupakan suatu keadaan mempertimbangkan terhadap baik
buruknya stimulus tersebut bagi dirinya.
4. Trial, dimana orang telah mulai mecoba perilaku baru.
5. Adaptation, dimana orang telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan
kesadaran dan sikap.

2.1.2. Tingkat Pengetahuan
Notoatmodjo mengemukakan yang dicakup dalam domain kognitif yang mempunyai
enam tingkatan, pengetahuan mempunyai tingkatan sebagai berikut (Notoatmodjo,
2003) :
1. Tahu (Know)
Kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari, dari seluruh bahan
yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Cara kerja untuk mengukur bahwa
orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain : menyebutkan, menguraikan,
mengidentifikasikan dan mengatakan.
2. Memahami (Comprehension)
Kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi (Aplication)
Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau
kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai pengguna hukum-
hukum, rumus, metode, prinsip-prinsip dan sebagainya.
4. Analisis (Analysis)
Universitas Sumatera UtaraKemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
dalam suatu komponenkomponen, tetapi masih dalam struktur organisasi dan masih ada
7

kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja
seperti kata kerja mengelompokkan, menggambarkan, memisahkan.
5. Sintesis (Sinthesis)
Kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian dalam bentuk keseluruhan yang
baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi
baru dari formulasi yang ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu materi atau objek tersebut
berdasarkan suatu cerita yang sudah ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria
yang sudah ada (Notoatmodjo, 2003).
2.1.3. Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang
tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden.
Kedalamam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan
dengan tingkatan-tingkatan diatas (Notoadmojo, 2003)
a. Tingkat pengetahuan baik bila skor > 75%-100%
b. Tingkat pengetahuan cukup bila skor 60%-75%
c. Tingkat pengetahuan kurang bila skor < 60%


2.2 Perilaku
2.2.1 Defenisi Perilaku
Menurut Notoatmodjo (2003) perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas
manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh
pihak luar. Menurut Robert kwick (1974) perilaku adalah tindakan atau perbuatan
suatu organisme yang dapat diamati bahkan dapat dipelajari.
Menurut Ensiklopedia Amerika perilaku diartikan sebagai suatu aksi dan
reaksi organisme terhadap lingkungannya. Skiner (1938) seorang ahli psikologi
8

merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap
stimulus (rangsangan dari luar).

2.3 Definisi Posyandu Lansia
Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu
wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka
bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia yang merupakan pengembangan dari
kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya
melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh
masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya.
Posyandu lansia merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan bersumber daya
masyarakat atau/UKBM yang dibentuk oleh masyarakat berdasarkan inisiatif dan kebutuhan
itu sendiri khususnya pada penduduk usia lanjut.

2.3.1 Tujuan penyelenggaraan Posyandu Lansia
Tujuan pembentukan posyandu lansia secara garis besar antara lain :
a. Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga terbentuk
pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia
b. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam
pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut
2.3.2 Sasaran
Sasaran pelaksanaan pembinaan Kelompok Usia Lanjut, terbagi dua yaitu
a. Sasaran langsung
9

Kelompok pra usia lanjut (45-59 tahun)
Kelompok usia lanjut (60 atau lebih )
Kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi, yaitu usia lebih dari 70 tahun atau usia lanjut
berumur 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan
b. Sasaran tidak langsung
Keluarga dimana usia lanjut berada
Masyarakat di lingkungan usia lanjut
Organisasi sosial yang bergerak dalam pembinaan usia lanjut
Petugas kesehatan yang melayani kesehatan usia lanjut
Petugas lain yang menangani Kelompok Usia Lanjut
Masyarakat luas

2.3.3 Jenis Pelayanan Kesehatan
Jenis pelayanan kesehatan yang dapat diberikan kepada usia lanjut di kelompok sebagai
berikut:
a. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan,
seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air
besar/kecil dan sebagainya.
b. Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional
dengan menggunakan pedoman metode 2 (dua) menit.
c. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan
dan dicatat pada grafik indeks masa tubuh (IMT).
d. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan
denyut nadi selama satu menit.
e. Pemeriksaan hemoglobin menggunakan talquist, sahli atau cuprisulfat
f. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula
(diabetes mellitus)
10

g. tPemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai deteksi awal adanya
penyakit ginjal.
h. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan
pada pemeriksaan butir 1 hingga 7.
i. Penyuluhan Kesehatan. Penyuluhan bisa dilakukan di dalam maupun di luar kelompok
dalam rangka kunjungan rumah dan konseling kesehatan dan gizi sesuai dengan masalah
kesehatan yang di hadapi oleh individu dan atau Kelompok Usia Lanjut
j. Kunjungan rumah oleh kader disertai petugas bagi anggota Kelompok Usia Lanjut yang
tidak datangm dalam rangka kegiatan perawatan kesehatan masyarakat
k. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi
lanjut usia serta menggunakan bahan makanan yang berasal dari daerah tersebut
l. kegiatan olah raga seperti senam lanjut usia, gerak jalan santai untuk meningkatkan
kebugaran.
Kecuali kegiatan pelayanan kesehatan seperti diuraikan diatas, kelompok dapat melakukan
kegiatan non kesehatan di bawah bimbingan sektor lain, contohnya kegiatan kerohanian, arisan,
kegiatan ekonomi produktif, forum diskusi, penyaluran hobi dan lain-lain
2.3.4 Sarana dan Prasarana
Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan di posyandu lansia, dibutuhkan, sarana dan prasarana
penunjang, yaitu:
a. tempat kegiatan (gedung, ruangan atau tempat terbuka)
b. meja dan kursi
c. alat tulis
d. buku pencatatan kegiatan (buku register bantu)
e. Kia Usia Lanjut, yang berisi: timbangan dewasa, meteran pengukuran tinggi badan,
stetoskop, tensimeter, peralatan laboratorium sederhana, thermometer
f. Kartu Menuju Sehat (KMS) Usia Lanjut
g. Buku Pedoman Pemeliharaan Kesehatan (BPPK) Usia Lanjut

11



2.2.6 Mekanisme Pelayanan
Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang prima terhadap usia lanjut di kelompokan
mekanisme pelaksanaan kegiatan yang sebaiknya digunakan adalah system 5 tahapan (5 meja)
sabagai berikut:


1. Tahap Pertama: pendaftaran anggota Kelompok Usia Lanjut sebelum pelaksanaan
pelayanan
2. Tahap Kedua: pencatatan kegiatan sehari-hari yang dilakukan usila, serta penimbangan
berat badan dan pengukuran tinggi badan
3. Tahap Ketiga: pengukuran tekanan darah, pemeriksaan kesehatan, dan pemeriksaan
status mental
4. Tahap Keempat: pemeriksaan air seni dan kadar hemoglobin (laboratorium sederhana)
5. Tahap Kelima: pemberian penyuluhan dan konseling
2.3.7 Pembinaan dan Evaluasi
Pembinaan
Pengelolaan dan penyelenggaraan kegiatan kelompok usia lanjut sebagai suatu
bentuk pemberdayaan masyarakat, sangat tergantung dari peran masyarakat atau kelompok
usia lanjut itu sendiri. Pembinaan yang dilakukan berupa asistensi kepada masyarakat dan
kelompok usia lanjut dengan menggunakan prinsip kemitraan artinya dalam pelaksanaan
pembinaan masyarakat dan kelompok usia lanjut sebagai mitra petugas yang secara
bersama-sama menganalisis dan memecahkan dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki
kelompok.


Evaluasi
12

Untuk melakukan evaluasi secara baik dan akurat diperlukan beberapa indikator.
Indikator yang dimaksud meliputi input, proses, output. Selain itu dalam penyusunan
indikator harus memenuhi unsur SMART (Spesific, measurable, Achievable, Reliable,
Time bound).

Spesifik artinya indikator yang diusulkan bersifat khusus.
Terukur artinya indikator yang diusulkan dapat diukur.
Mudah didapat artinya indikator yang diusulkan optimis dapat dicapai.
Terpercaya artinya indikator tersebut dapat dipercaya.
Waktu tertentu artinya adanya kurun waktu yang jelas.
Disamping persyaratan diatas, hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan:
Indikator bersifat dinamis, artinya dapat berubah sesuai dengan perkembangan/
keadaan.
Mudah diperoleh, artinya dapat diamati, tersedia informasi/datanya.
Beragam, artinya adanya perbedaan antara unit yang diamati.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas, ditetapkan beberapa indikator yang dapat
dijadikan bahan untuk mengevaluasi tingkat perkembangan kegiatan usia lanjut di bidang
kesehatan, sebagai berikut:
a. Frekuensi pertemuan atau pelaksanaan kegiatan selama satu tahun
b. Kehadiran kader
c. Pelayanan kesehatan:
1). Cakupan penimbangan (berat badan dan tinggi badan) (CB) yaitu presentase usia
lanjut anggota kelompok yang ditimbang berat badan serta diukur tinggi badan
Cara penghitungan: CB = A x 100%
B X C

Keterangan:
CB: Cakupan penimbangan
A: Jumlah usia lanjut anggota kelompok yang ditimbang berat badan serta diukur
tinggi badan dalam setahun
B: Jumlah anggota kelompok
C: Frekuensi pertemuan pertahun
13

2). Cakupan pemeriksaan laboratorium sederhana (urine dan darah/Hb) (CL)
Didalam buku petunjuk pengisian KMS usia lanjut tertulis bahwa
pemeriksaan laboratorium dilakukan setiap 3 bulan sekali. Mengingat keterbatasan
sarana dan prasarana yang ada, maka untuk mengetahui strata kelompok usia lanjut
dilakukan perhitungan sebagai berikut:
Cakupan pemeriksaan laboratorium sederhana (urine dan darah/Hb) (CL) yaitu
presentase jumlah usia lanjut anggota kelompok yang mendapat pemeriksaaan
laboratorium sederhana (urine dan darah/Hb) minimal 1 kali dalam setahun
Cara penghitungan : CL = A x 100%
B

Keterangan:
CL: Cakupan pemeriksaan laboratorium sederhana (urine dan darah/Hb)
A: Jumlah usia lanjut anggota kelompok yang diperiksa laboratorium sederhana
(urine dan darah/Hb) minimal 1 kali dalam setahun
B: Jumlah anggota kelompok
3). Cakupan hasil pemeriksaan kesehatan (CK) yaitu presentase jumlah usia lanjut
anggota kelompok yang mendapat pemeriksaaan kesehatan (termasuk pengukuran
tekanan darah dan pemeriksaan status mental) dalam setahun. Cara penghitungan
sama seperti cakupan penimbangan (berat badan dan tinggi badan)
4). Cakupan penyuluhan (CP) yaitu presentase jumlah usia lanjut anggota kelompok
yang mendapat penyuluhan dalam setahun. Cara penghitungan sama seperti
cakupan penimbangan (berat badan dan tinggi badan)
d. Senam usia lanjut
Frekuensi pelaksanaan senam usia lanjut selama satu tahun
e. Kegiatan sektor terkait antara lain:
- Pengajian/ pendalaman agama untuk kelompok usia lanjut
- Diskusi atau pertemuan ceramah (pertanian, tenaga kerja, dll)
- Usaha ekonomi produktif
- Rekreasi, dll
f. Tersedianya dana untuk penyelenggaraan kegiatan kelompok usia lanjut
14

Tingkat perkembangan Kelompok Usia Lanjut dapat digolongkan menjadi empat
tingkat sebagai berikut :
a. Kelompok Usia Lanjut Pratama
- Kelompok yang belum mantap.
- Kegiatan terbatas dan tidak rutin setiap bulan (frekuensi < 8 kali).
- Kader aktif terbatas
- Perlu dukungan dana dari Pemerintah
b. Kelompok Usia Lanjut Madya
- Kelompok yang telah berkembang
- Kegiatan hampir setiap bulan (paling sedikit 8 kali setahun)
- Jumlah kader aktif > 3 orang
- Cakupan program 50%

- Perlu dukungan dana dari Pemerintah
c. Kelompok Usia Lanjut Purnama
- Kelompok yang sudah mantap
- Kegiatan lengkap (paling sedikit 10 kali setahun)
- Kegiatan tambahan diluar kesehatan
- Cakupan program 60%
d. Kelompok Usia Lanjut Mandiri
- Kegiatan secara teratur dan mantap
- Kegiatan tambahan yang beragam
- Cakupan program/kegiatan baik
- Memiliki Dana Sehat dan JPKM yang mantap

15


BAB III
KERANGKA PENELITIAN
















LINGKUNGAN

Fisik
Kependudukan
Sosial Budaya
Sosial Ekonomi
Kebijakan

INPUT

Man 1 Bidan, 2 kader
Moneyswadaya masyarakat
Method 5 meja
Material 2 rumah penduduk,
Machinetimbangan,
tensimeter, stetoskop

PROSES
Cakupan pelayanan
Prausila & usila di Dusun
Kauman RT 02
Rendahnya cakupan
pelayanan prausila dan usila
di dusun Kauman Rt 02
- Kurangnya pemahaman lansia akan
kegiatan di posyandu lansia
- Kurangnya minat lansia untuk
memeriksakan diri ke posyandu

Rendanhya jumlah Prausila &
usila di Dusun Kauman yang
datang ke posyandu lansia
16


Gambar 3.2 kerangka konsep

Rendahnya Cakupan
pelayanan Prausila & usila
di Dusun Kauman Rt 02
Jadwal posyandu
lansia
Kurangnya kegiatan
di posyandu
Pengetahuan
bidan,kader, prausila
dan usila
Kurangnya
pengetahuan tentang
posyandu lansia
17

BAB 1V
METODE PENELITIAN

Pengumpulan data dilakukan di Dusun Kauman, Kecamatan Salaman. Kabupaten Magelang
pada tanggal 15 mei 2012. Jenis data adalah data primer. Data primer adalah data yang diperoleh
melalui observasi atau wawancara langsung. Data primer dari kegiatan ini diperoleh dengan cara
mendatangi dan memberikan kuesioner kepada 20 orang pra usila dan usila, selain itu juga
dilakukan wawancara kepada kader dan bidan desa.
Data yang diperoleh kemudian diolah secara deskriptif untuk selanjutnya dilakukan
identifikasi masalah, kemudian dianalisa penyebab masalah dengan berdasar pendekatan sistem,
yaitu dengan melihat input, proses, dan output. Kemudian ditentukan penyebab yang paling
mungkin, selanjutnya ditentukan alternatif pemecahan masalahnya. Kemudian ditetapkan
pemecahan masalah yang yang paling mungkin dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Data didapatkan dari hasil wawancara yang langsung ditujukan kepada bidan desa (Ibu
Rina), para kader, dan masyarakat prausila-usila Dusun Kauman Desa Salaman Kecamatan
Salaman Kabupaten Magelang. Sedangkan data sekunder didapat dari data Standar Pelayanan
Minimal (SPM) Puskesmas Salaman. Data yang didapat diolah secara deskriptif dengan siklus
pemecahan masalah sebagai berikut :
IV.1Batasan Judul
Laporan kegiatan ini berjudul Rencana Peningkatan Cakupan Program Posyandu Pra Usila dan
Usila di Desa Salaman Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang Evaluasi Manajemen Program
Puskesmas Salaman Periode Januari-Maret 2012 memiliki pengertian sebagai berikut:
a. Rencana Peningkatan Cakupan: Rencana untuk meningkatkan total hasil kegiatan yang
dilakukan perbulan yang kemudian dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan.
b. Cakupan: presentase hasil perbandingan antara jumlah lansia yang mendapatkan pelayanan
di posyandu lansia dengan jumlah seluruh lansia yang ada di wilayah tersebut.
c. Program :Kegiatan yang terstruktur and mempunyai suatu tujuan
d. Posyandu: Suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat
dari Keluarga Berencana dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan
18

dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga. Berencana
yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini.
e. Pra usia lanjut (usila): Adalah seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
f. Usia lanjut (usila): Adalah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.
g. Desa Salaman: Adalah salah satu desa di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang,
Provinsi Jawa Tengah.
h. Kecamatan Salaman: Adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa tengah
i. Kabupaten Magelang: Adalah salah satu kabupaten di propinsi Jawa Tengah
j. Evaluasi: Adalah suatu penilaian terhadap sebuah kegiatan setelah kegiatan tersebut
dilaksanakan.
k. Manajemen: Pengaturan suatu program/kegiatan untuk mencapai suatu tujuan
Puskesmas: Unit pelayanan kesehatan tingkat kecamatan yang merupakan perpanjangan tangan
dari pemerintah dalam menangani masalah kesehatan.

IV.2 Definisi Operasional
Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah
tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa
mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan
pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program
Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi
sosial dalam penyelenggaraannya
Cakupan adalah presentase hasil perbandingan antara jumlah Prausila & Usila yang datang ke
posyandu di Dusun Kauman dibagi jumlah Prausila & usila yang ada di dusun
Kauman.pertanyaan yang terlampir d kuesioner ada 10 pertanyaan, yang diantaranya 1-6
pertanyaan meliputi tentang pengetahuan posyandu prausila dan usila dan pertanya 7-10 tentang
perilaku prausila dan usila terhadap posyadu tersebut.





19




Batasan Operasional
a. Pra usia lanjut (usila): Adalah seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
b. Usia lanjut (usila): Adalah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.


IV.3 Ruang Lingkup Kegiatan
a Lingkup lokasi: Dusun Kauman desa Salaman, Kecamatan Salaman, Kabupaten
Magelang.
b Lingkup waktu: Januari-maret 2012
c Lingkup sasaran: Cakupan pelayanan pra usila dan usila
d Lingkup metode: Kuesioner, wawancara, pencatatan, dan pengamatan
e Lingkup materi: Evaluasi kegiatan Posyandu pra usila dan usila di Desa salaman
periode Januari-maret 2012.

IV.4 Kriteria Eksklusi dan Inklusi
Kriteria Inklusi
Bidan, kader, prausila dan usila di dusun kauman.
Kriteria Eksklusi
Prausila & Usila Dusun Kauman yang tidak ada di rumah








20

BAB V
HASIL PENELITIAN



V.1. PROFIL DESA SALAMAN
V.1.1. SEJARAH DESA

Desa salaman secara administrative termasuk dalam wilayah Kecamatan Salaman,
Kabupaten Magelang. Terletak di sebelah barat kantor Kecamatan Salaman dengan jarak 500
meter dari kantor Kecamatan Salaman.
Desa Salaman merupakan pintu gerbang selatan daerah wisata Candi Borobudur dari arah
Purworejo.
Salaman mempunyai makna Perdamaian atau Keselamatan, nama tersebut diambil dari
nama salah satu sesepuh yang ada di wilayah Salaman yaitu Simbah Kyai ABDUSSALAM
beliau dimakamkan di Dusun Brengkel I RT 02/05 Desa Salaman.
Bunderan adalah sejarah untuk Desa Salaman dimana dahulu terdapat Tugu pada
pertigaan Jalan Raya Magelang Purworejo dan Purworejo Borobudur yang sampai sekarang
istilah Bunderan masih dipakai walaupun Tugu tersebut sudah tidak ada.
Adapun Kepala Desa yang pernah menjabat:
Kepala Desa I : MALIKI dari Dusun Nusupan
Kepala Desa II : SLEPO dari Dusun Soco
Kepala Desa III : BADAWI dari Dusun Brengkel I
Kepala Desa IV : ATMODIHARDJO dari Dusun Brengkel I
Kepala Desa V : DULRAHMAN dari Dusun Kauman
Kepala Desa VI : ATMODIHARDJO dari Dusun Brengkel I
Kepala Desa VII : SOEHARTO dari Dusun Nusupan
Dari Tahun 1983 1991
Kepala Desa VIII : M A CHOIRUDIN dari Dusun Brengkel II
Dari Tahun 1991 1998
Kepala Desa IX : M A CHOIRUDIN dari Tahun 1998- 2007
Kepala Desa X : H. TOAT SUBAKTI dari Dusun Soco

Dari Tahun 2007 sekarang









21

V. 1. 2. KONDISI GEOGRAFIS
Desa Salaman merupakan salah satu desa di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang yang
berbatasan dengan:
- sebelah utara : Desa Kebonrejo dan Desa Sidomulyo
- sebelah timur : Desa Ngadirejo
- sebelah selatan : Desa Menoreh
- sebelah barat : Desa Kalisalak
Secara geografis terletak pada 7
0
34 34 sampai dengan 7
0
35 02 LS dan 110
0
07 41 sampai
dengan 110
0
09 07 BT.


V. 1. 3. LUAS WILAYAH
1. Luas Wilayah:
Luas wilayah Desa Salaman 134,498 Ha, yang terbagi menjadi 6 Dusun dengan
13 RW dan 54 RT meliputi:
Tabel 3. Luas Wilayah Desa Salaman
NO DUSUN RW RT KETERANGAN
1 Nusupan 2 12
2 Soco 2 10
3 Brengkel I 3 10
4 Brengkel II 2 6
5 Gadean 2 6
6 Kauman 2 9

2. Permukaan Lahan:
Tabel 4. Permukaan Lahan
NO PERUNTUKAN LUAS (Ha) KET
1 Pertanian subur 57,004
2 Pertanian sedang 7
3 Pertanian tandus 6
4 Irigasi 13
5 Lain-lain Pekarangan, Bangunan dan lain-lain : 55, 045
Ha
Lahan sawah : 64,22 Ha
- Irigasi Setengah Sederhana: 27%
- Irigasi Teknis: 36%
Lahan bukan sawah : 55,045 Ha
- Tegalan: 20%
- Sisanya digunakan untuk Jalan dan Makam



22

V. 1. 4. JUMLAH PENDUDUK
1. Jumlah Kepala Keluarga: 1,330 KK
2. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin
Laki-laki : 2.101 orang

Perempuan : 2.183 orang

1. Jumlah penduduk menurut Dusun
Tabel 5. Jumlah penduduk menurut Dusun

NO

DUSUN
Jenis Kelamin
Laki-Laki Perempuan
1 Nusupan 436 468
2 Soco 425 413
3 Brengkel I 487 5-7
4 Brengkel II 245 255
5 Gadean 210 210
6 Kauman 298 330

4. Jumlah penduduk menurut pemeluk agama per 1 Januari 2011
Agama Islam : 4.296 orang
Agama Kristen : 126 orang
Agama Katholik : 78 orang
Agama Hindu : - orang
Agama Buddha : 1 orang
TOTAL : 4.501 orang
1. Jumlah penduduk menurut mata pencaharian

Tabel 6. Jumlah penduduk menurut mata pencaharian

NO
MATA
PENCAHARIAN

JUMLAH

KET
1 PNS PNS, TNI, POLRI,
Pensiunan: 532 2 ABRI/POLRI
3 Pensiunan
4 Petani 774
5 Swasta 140
23

6 Pedagang 211
7 Jasa (angkutan) 23
8 Tukang 86
9 Peternakan 183
10 Perikanan 28
11 Kerajinan 13
12 Lain-lain 2456

1. Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan
Tabel 7. Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan
NO TINGKATAN JUMLAH KET
1 Tidak tamat SD 129
2 Tamat SD 1100
3 Tamat SLTP 604
4 Tamat SLTA 634
5 Tamat D1 4
6 Tamat D2 6
7 Tamat D3 20
8 Tamat S1 46
9 Tamat S2 7
10 Tamat S3
11 Belum sekolah 734

24


2. Jumlah penduduk menurut penderita cacat
Tabel 8. Jumlah penduduk menurut penderita cacat
NO PENDERITA JUMLAH KET
1 Tubuh 1
2 Rungu 1
3 Mental 2

V. 1. 5. KONDISI BANGUNAN DAN SARANA UMUM
1. Balai Desa : 1 buah, luas 18 x 14 m
2
2. Kantor Desa : 1 buah, luas 13 x 6 m
2
3. Pasar : -
4. Tempat Ibadah

Tabel 9. Tempat ibadah Desa Salaman
NO TEMPAT IBADAH JUMLAH KET
1 Masjid 7
2 Mushola 10
3 Gereja -






25

V.1.1 Data Dusun Kauman
Jumlah kepala keluarga : 1.330 kepala keluarga
Penduduk dusun : pria : 298 jiwa, wanita : 330 jiwa
Angka kelahiran : 18
Angka kematian : 11
Warga yang menikah : 32


Pada tanggal 15 mei 2012, telah dilakukan survei mengenai pengetahuan para Pra Usila dan
Usila di Dusun Kauman RT 02 desa salamam. Karena keterbatasan waktu, sampel yang diambil
adalah para Pra Usila dan Usila yang berada di dusun Kauman. Kuisioner dibuat dengan
pertanyaan terstruktur tentang pengetahuan pra usila dan usila tentang fungsi dan kegiatan
posyandu, perilaku dan sikap pra usila terhadap kegiatan posyandu serta faktor-faktor yang
mempengaruhi tidak optimalnya pelaksanaan kegiatan posyandu lansia sehingga berkurangnya
minat mereka terhadap posyandu lansia. Data responden sebagai berikut:
Tabel 5.8 Data responden

Usia: Pra Usila Usila
10 orang 10 orang
Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja
50% 50%
Sebagian pekerjaan mereka adalah guru, selain itu pedagang.dan sebagian besar pendidikan
mereka lulusan SLTP.








26

V.2 Hasil Survey
V.2.1 Hasil kuesioner

KUESIONER USILA
Nama:
Umur:
Pekerjaan:
Pendidikan:
1. Apakah anda tahu tentang posyandu lansia?
a. Tahu b. Tidak tahu
2. Adakah posyandu lansia di tempat anda?
a. Ada b. Tidak c. Tidak Tahu
3. Apakah posyandu yang ada cukup jauh dicapai?
a. ya b. Tidak
4. Apakah kegiatan-kegiatan di posyandu lansia? (boleh lebih dari 1)
a. Pemeriksaan kegiatan sehari-hari,
b. status mental
c. timbang badan
d. ukur tinggi badan
e. ukur tekanan darah
f. Periksa darah (hemoglobin) dan urin
g. Penyuluhan/konseling
h. pemberian makanan tambahan
i. senam lansia
j. Tidak tahu
5. Apaka di posyandu lansia melakukan pengobatan?
a. Ya b. tidak
6. Apakah anda tau informasi mengenai posyandu lansia ?
a. ya b. tidak
7. Apakah anda pernah datang ke posyandu lansia ?
a. Ya b. tidak
8. Mengapa anda belum pernah datang ke posyandu lansia ? ( bagi yang tidak pernah datang)
a) Tidak tahu
b) Tahu tapi malas
c) Keterbatasan fisik
d) Tidak ada waktu
e) Lain-lain
9. Apakah anda rutin datang ke posyandu ?
a. Ya b. Tidak
10. Mengapa anda tidak rutin dating ke posyandu ? (Bagi yang tidak rutin datang )
a. Tidak ada kehadiran dokter
b. tidak ada waktu

Kriteria :
Ya=1
1 jawaban = 1

Tidak tahu = 0
27

Pengetahuan

Tabel 5.8 daftar perhitungan kuesioner

Pertanyaan RESPONDEN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1
2 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1
3 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1
4 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1
5 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1
6 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1
Jumlah
jawaban
responden
6 6 1 4 4 5 1 6 4 6



Pertanyaan RESPONDEN
11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0
3 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0
4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Jumlah
jawaban
responden
0 0 0 0 0 1 0 0 0 0


Keterangan tingkat pengetahuan responden :
Pengetahuan baik : 10-8
Pengetahuan cukup baik: 7-5
Pengetahuan kurang baik: 5-3
Tidak mengetahui:0-2
Kesimpulan :
Pengetahuan baik: 0%
Pengetahuan cukup baik: 0,5 %
Pengetahuan kurang baik:2 %
Tidak tahu:60%







28


Perilaku

Pertanyaan RESPONDEN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
7 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1
8 1 0 0 1 0 1 0 0 0 1
9 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0
Jumlah
jawaban
responden
3 1 0 3 1 2 0 1 1 2

Pertanyaan RESPONDEN
11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Jumlah
jawaban
responden
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0


Keterangan :
Perilaku aktif : 3
Perilaku kurang aktif : 1-2
Perilaku tidak aktif : 0
Kesimpulan :
Perilaku aktif : 10 %
Perilaku kurang aktif : 25 %
Perilaku tidak aktif : 65 %

Dari hasil survei didapatkan terdapatnya responden sebanyak 60% yang tidak mengetahui
adanya posyandu yang ditujukan untuk lansia, yang mereka ketahui posyandu itu hanya untuk
bayi dan balita. Kemudian dapat disimpulkan pula kurangnya penyuluhan baik secara kelompok
maupun perorangan mengenai kesehatan lansia.
Adapun beberapa alasan responden tidak menghadiri kegiatan posyandu lansia selain
ketidaktahuan adanya posyandu lansia adalah tidak hadirnya dokter pada posyandu, tidak adanya
waktu, dan responden masih merasa sehat sehingga tidak perlu datang ke posyandu lansia. Hal
ini dapat dikarenakan kurangnya pengetahuan bahwa kegiatan di posyandu lansia tidak hanya
kegiatan pengobatan.

29

Alasan responden yang pernah datang namun sekarang tidak datang lagi ke posyandu lansia
dikarenakan tidak ada pengobatan yang diberikan di posyandu. Alasan lainnya adalah tidak
mempunyai waktu untuk hadir di kegiatan posyandu dikarenakan harus menunggui
dagangannya, adanya anak kecil yang dititipkan (mengurus cucu) sehingga tidak dapat
meninggalkan rumah.


V.2.2Hasil Wawancara dengan kader
Kader yang aktif di posyandu Usila di dusun Kauman berjumlah 2 orang. Wawancara
dilakukan pada masing-masing kader saat kegiatan posyandu berlangsung.
Dari 2 kader yang diwawancarai, mereka mengatakan bahwa posyandu lansia ini memakai
sistem 5 meja yaitu pendaftaran, penimbangan, pencatatan, pengobatan, dan penyuluhan
Pada saat meja I, pendaftaran, lansia yang datang mendaftarkan dirinya. Untuk lansia
yang baru pertama kali hadir, maka diperlukan data diri yang lebih lengkap.
Setelah meja I, dilanjutkan ke meja II, penimbangan. Pada meja II, ditimbang berat badan
lansia, diukur tinggi badan, dan tekanan darah. Pengukuran tinggi badan tidak selalu
dilakukan dikarenakan tinggi badan relatif menetap, sehingga hanya diukur pada lansia yang
baru pertama kali hadir di posyandu. Di posyandu lasia ini terdapat 1 buah timbangan, 1
buah tensi meter beserta stetoskop, dan sebuah pengukur tinggi badan. Kondisi alat-alat
tesebut masih baik, dan dapat digunakan. Namun bila jumlah lansia yang hadir banyak,
jumlah tensimeter yang hanya satu, menjadi kendala yang cukup berarti.

Setelah meja kedua, dilanjutkan ke meja III yaitu pencatatan. Para lansia tersebut
menyerahkan kartu menuju sehatnya. Bila lansia tersebut tidak mempunyai kartu menuju
sehat dikarenakan baru pertama kali datang ke posyandu tersebut maka akan diberikan yang
baru. Pencatatan dilakukan di dua tempat yaitu di kartu menuju sehat lansia dan buku khusus
pencatatan. Namum bila lansia tersebut tidak membawanya, maka akan dicatat di buku
pencatatan kemudian pada pertemuan berikutnya, pengukuran yang lalu dipindahkan di kartu
menuju sehat.
Pada meja IV, dilakukan pengobatan oleh bidan. Pengobatan dilakukan bila lansia
tersebut memiliki keluhan dan bila merupakan hal yang gawat maka lansia tersebut akan di
30

rujuk ke puskesmas. Selain kegiatan tersebut, terdapat pemeriksaan lab sederhana seperti
pengukuran glukosa urin yang dilakukan berkala setiap 3 bulan sekali
Pada meja V, dilakukan penyuluhan baik perorangan. Penyuluhan perorangan khususnya
ditujukan untuk lansia dengan resiko tinggi seperti yang mempunyai tekanan darah tinggi.

Kader-kaderpun menyebutkan beberapa alasan mengapa lansia yang tidak hadir,
diantaranya karena lansia tersebut merasa sehat dan tidak memerlukan posyandu. Kalaupun
mereka sakit, akan langsung berobat ke dokter ataupun puskesmas karena di posyandu tidak
terdapat dokter. Selain itu banyak lansia yang mempunyai alasan tidak ada waktu untuk
datang ke posyandu dikarenakan harus bekerja. Alasan kegiatan lansia tersebut lebih cocok
untuk usia yang lebih tua seperti umur 70 tahunan juga sering menjadi alasan untuk para pra
usila.



V.2.3 Hasil Wawancara dengan Bidan Desa
Menurut bidan desa, penyebab kurangnya cakupan pelayanan posyandu pra usila dan
usila adalah para pra usila dan usila masih menganggap bahwa posyandu adalah tempat
pengobatan, sehingga mereka lebih memilih datang ke posyandu bila mereka dalam keadaan
sakit. Hal ini juga dapat dikarenakan kurangnya pengetahuan lansia mengenai posyandu.







BAB VI
PEMBAHASAN
31


6.1 Analisis Penyebab Masalah


Hasil cakupan kegiatan Posyandu Lansia desa Salaman pada bulan Januari Maret 2012,
yang masih menjadi masalah perlu diupayakan pemecahannya dengan menggunakan
kerangka pikir pendekatan system.Analisis kemungkinan penyebab masalah ditinjau dari
1komponen input, proses dan lingkungan dapat dilihat pada tabel berikut:


Tabel 6.1 Analisis penyebab rendahnya cakupan pelayanan Posyandu prausila dan usila:
Komponen Kelebihan Kekurangan
Input Man - Terdapatnya tenaga
kesehatan (bidan,
perawat, dokter)
- Terdapatnya 2 orang
kader yang mengelola
posyandu lansia
- Kurangnya kader yang aktif
untuk mengelola posyandu
lansia.
- Tidak ada kehadiran dokter di
kegiatan posyandu
Money
- Swadaya masyarakat
Minimnya dana swadaya dari
lansia sendiri berupa iuran
Method - Terdapatnya metode 5
meja dalam pelaksanaan
posyandu lansia

Material -Terdapat rumah 2 penduduk
yang kondisinya baik, dan
rumah kepala dusun

Machine -Tersedianya sarana seperti
meja, kursi, alat tulis yang
cukup, timbangan, meteran
- Kurangnya sarana seperti KMS,
tensimeter yang dapat digunakan
hanya 1 buah.
32

stetoskop,tensimeter,thermo.
meter.
Proses P1 -Terdapat jadwal kapan dan
dimana posyandu lansia akan
dilaksanakan secara tetap
-Terdapatnya pengumuman
melalui pengeras suara
mengenai jadwal posyandu
lansia
-Terdapatnya penjelasan
mengenai posyandu lansia
serta manfaatnya terhadap
pra uslia/usila yang
jarang/tidak hadir

- waktu posyandu lansia
bersamaan dengan kegiatan
keseharian lansia khususnya
lansia yang masih bekerja atau
berdagang
- Terkadang posyandu lansia
diadakan berbarengan dengan
posyandu balita
P2 - Sudah dilakukan
pengumuman dan penjelasan
mengenai posyandu lansia
-Dilakukannya metode 5
meja

- Penjelasan mengenai posyandu
lansia tidak tercapai kesemua
sasaran sehingga masih adanya
lansia yang tidak mengetahui
tentang posyandu lansia
- Tidak adanya kegiatan
tambahan di sektor lain yang
dapat menarik minat pra usila
dan usila yang tidak hadir
- Tidak terdapatnya pendekatan
terhadap keluarga yang
mempunyai lansia
- Kurangnya penyuluhan
mengenai kesehatan terhadap
lansia
P3 - Adanya SPM tentang Belum terealisasi pengawasan dan
33
































posyandu lansia
(kapan??)
pemantauan program posyandu
dengan baik
Lingk
ungan
( Fisik
dan
Non
Fisik )
Pasien,
keluarga,
masyarakat
dan
lingkungan
- Kurangnya pemahaman lansia
akan kegiatan di posyandu
lansia.
- Kurangnya minat lansia untuk
melakukam pemeriksaan
dikarenakan tidak hadirnya
dokter di posyandu.
- Kurangnya dukungan dari
keluarga lansia
34

Gambar 5.2 Fish bone

















PROSES

Waktu posyandu lansia
bersamaan dengan kegiatan lain
lansia
Terkadang posyandu lansia
dilaksanakan berbarengan
dengan posyandu balita
Penjelasan mengenai posyandu lansia tidak tercapai kesemua sasaran
sehingga masih adanya lansia yang tidak mengetahui tentang posyandu
lansia
Tidak adanya kegiatan tambahan di sektor lain yang dapat menarik
minat pra usila dan usila yang tidak hadir
Tidak terdapatnya pendekatan terhadap keluarga yang mempunyai
lansia
Kurangnya penyuluhan mengenai kesehatan terhadap lansia
- Kurangnya kader yang aktif untuk mengelola posyandu
lansia
- Tidak hadirnya dokter di kegiatan posyandu
INPUT

MAN

MONEY

MATERIAL

METHOD
E
MACHINE

P1

P3

P2

LINGKUNGAN

Kurangnya sarana seperti KMS,
tensimeter yang dapat digunakan
hanya 1 buah.

Kurangnya pemahaman lansia akan kegiatan di posyandu
lansia.
Kurangmya minat lansia untuk memeriksakan diri ke
posyandu dikarenakan tidak hadirnya dokter
Kurangnya dukungan dari keluarga lansia
Lansia tidak dapat hadir karena waktu kegiatan
kesehariannya bersamaan dengan posyandu lansia


Lansia tidak dapat hadir karena jadwal kegiatan
kesehariannya bersamaan dengan posyandu lansia
Lansia tidak dapat hadir karena jadwal kegiatan
kesehariannya bersamaan dengan posyandu lansia

Cakupan pelayanan
pra usila dan usila
sebesar 15,8% dari
Dusun kauman
target dinkes 70%
- Minimnya dana swadaya
masyarakat
- Penggunaan dana belum
maksimal

Belum terealisasi
pengawasan dan
pemantauan program
posyandu dengan baik
35

6.2 Daftar Masalah
Adapun daftar malasah yang ada adalah sebagai berikut:
1. Kurangnya kader yang aktif untuk mengelola posyandu lansia
2. Tidak ada kehadiran dokter di kegiatan posyandu
3. Minimnya dana swadaya masyarakat
4. Penggunaan dana belum maksimal
5. Kurangnya sarana seperti KMS, tensimeter yang dapat digunakan hanya 1 buah.
6. Kurangnya pemahaman lansia akan kegiatan di posyandu lansia yaitu adanya anggapan
bahwa posyandu lansia merupakan tempat pengobatan
7. Kurangnya minat lansia untuk memeriksakan diri ke posyandu dikarenakan tidak hadir
dokter
8. Kurangnya dukungan dari keluarga lansia
9. Lansia tidak dapat hadir karena waktu kegiatan kesehariannya bersamaan dengan
posyandu lansia
10. Waktu posyandu lansia bersamaan dengan kegiatan keseharian
11. Terkadang posyandu lansia dilaksanakan berbarengan dengan posyandu balita.
12. Penjelasan mengenai posyandu lansia tidak tercapai kesemua sasaran sehingga masih
adanya lansia yang tidak mengetahui tentang posyandu lansia
13. Tidak adanya kegiatan tambahan di sektor lain yang dapat menarik minat pra usila dan
usila yang tidak hadir
14. Tidak terdapatnya pendekatan terhadap keluarga yang mempunyai lansia
15. Kurangnya penyuluhan mengenai kesehatan terhadap lansia
16. Belum terealisasi pengawasan dan pemantauan program posyandu dengan baik








36

6.3 Penyebab Masalah yang Paling Mungkin
Setelah dilakukan konfirmasi kepada bidan dan kader, serta dilakukan wawancara dengan
responden maka didapatkan penyebab masalah yang paling mungkin yaitu:
1. Kurangnya pemahaman lansia akan kegiatan di posyandu lansia serta manfaatnya
2. Kurangmya minat lansia untuk memeriksakan diri ke posyandu dikarenakan tidak adanya
dokter

3. Waktu posyandu lansia bersamaan dengan kegiatan keseharian lansia khususnya lansia
yang masih bekerja atau berdagang
4. Tidak adanya kegiatan tambahan di sektor lain yang dapat menarik minat pra usila dan
usila yang tidak hadir

















37

6.4 Penentuan Alternatif Pemecahan Masalah
Setelah menemukan penyebab paling mungkin masalah rendahnya cakupan pelayanan pra
usila dan usia di Dusun Banjaran maka langkah selanjutnya ialah menyusun alternatif pemecahan
penyebab paling mungkin masalah tersebut. Alternatif pemecahan masalah tersebut di atas dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.


Tabel 6.4 Alternatif Pemecahan Masalah
No. Penyebab Masalah Alternatif Pemecahan Masalah
1. Kurangnya pemahaman lansia akan
kegiatan di posyandu lansia serta
manfaatnya
Bekerjasama dengan perangkat
dusun dan tokoh masyarakat
untuk mensosialisasikan kepada
lansia dan keluarga mengenai
kegiatan posyandu lansia dan
manfaatnya
2. Kurangnya minat lansia untuk
memeriksakan diri ke posyandu
dikarenakan tidak ada kehadiran dokter

Pemberdayaan peran dokter muda
yang ada di puskesmas dan
mendatangkan dokter ke
posyandu lansia secara berkala
3. Jadwal posyandu lansia bersamaan dengan
kegiatan keseharian lansia khususnya
lansia yang masih bekerja atau berdagang

Dilakukan musyawarah untuk
menetapkan jadwal posyandu
yang sangat memungkinkan bagi
banyak pihak





4. Tidak adanya kegiatan tambahan di sektor
lain yang dapat menarik minat pra usila
dan usila yang tidak hadir
Dikembangkan lagi kegiatan yang
bermanfaat di sektor lain
38


6.5 Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah
Setelah menentukan alternative pemecahan masalah, selanjutnya adalah melakukan
penggabungan alternatif pemecahan masalah. Berikut ini digambarkan penggabungan alternative
pemecahan masalah :

Tabel 6.5 Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah
Penyebab Masalah












Alternatif Pemecahan Masalah
Kurangnya pemahaman
lansia akan kegiatan di
posyandu lansia serta
manfaatnya
Bekerjasama dengan perangkat dusun
dan tokoh masyarakat untuk
mensosialisasikan kepada lansia dan
keluarga mengenai kegiatan
posyandu lansia dan manfaatnya
Kurangnya minat lansia
untuk datang ke
posyandu dikarenakan
tidak adanya dokter

Pemberdayaan peran dokter muda
yang ada di puskesmas dan
mendatangkan dokter ke posyandu
lansia secara berkala
Jadwal posyandu lansia
bersamaan dengan
kegiatan keseharian
lansia khususnya lansia
yang masih bekerja atau
berdagang

Dilakukan musyawarah untuk
menetapkan jadwal posyandu yang
sangat memungkinkan bagi banyak
pihak
Tidak adanya kegiatan
tambahan di sektor lain
yang dapat menarik
minat pra usila dan usila

Dikembangkan lagi kegiatan yang
menarik dan bermanfaat di sektor lain


39


Rekapitulasi Alternatif Pemecahan Masalah
Rekapitulasi (penggabungan) alternatif pemecahan masalah ini adalah :
1. Bekerjasama dengan perangkat dusun dan tokoh masyarakat untuk
mensosialisasikan kepada lansia dan keluarga mengenai kegiatan posyandu
lansia dan manfaatnya.
2. Pemberdayaan peran dokter muda yang ada di puskesmas dan mendatangkan
dokter ke posyandu lansia secara berkala
3. Dilakukan musyawarah untuk menetapkan jadwal posyandu yang sangat
memungkinkan bagi banyak pihak
4. Dikembangkan lagi kegiatan yang menarik dan bermanfaat di sektor lain

6.6 Penentuan PrioritasAlternatif Pemecahan Masalah
Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah, selanjutnya dilakukan penentuan prioritas
alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan kriteria matriks. Berikut ini adalah rumus
kriteria matriks :
M . I . V
C
1. Efektivitas Program
Pedoman untuk mengukur efektivitas program :
a. Magnitude ( M ) : besarnya penyebab masalah yang dapat diselesaikan
b. Importancy ( I ) : Pentingnya cara penyelesaian masalah
c. Vulnerability ( V ) :Sensitifitas cara penyelesaian masalah
2. Efisiensi Program
Biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan masalah (cos ). Kriteria cost diberi nilai 1-5
. Bila cost nya makin kecil maka nilainya mendekati 1.
Skor :
Magnitude Importancy Vulnerability Cost
1 : Tidak magnitude 1 : Tidak penting 1 : Tidak sensitif 1 : Sangat murah
2:Kurang magnitude 2 : Kurang penting 2 : Kurang sensitif 2 : Murah
40


3: Cukup magnitude 3 : Cukup penting 3 : Cukup sensitif 3 : Cukup murah
4 : Magnitude 4 : Penting 4 : Sensitif 4 : Kurang murah
5:Sangat Magnitude 5 : Sangat penting 5 : Sangat sensitif 5 : Tidak murah


Untuk mendapatkan nilai dari setiap point M, I, V dan C, dilakukan penilaian menggunakan
metode Hanlon kualitatif, sebagai berikut :
Tabel 6.7 Hasil Akhir Penentuan Prioritas Pemecahan Masalah
Penyelesaian Masalah Nilai Kriteria Hasil
Akhir
Prioritas
M I V C ( M . I . V
) / C
Bekerjasama dengan perangkat dusun dan tokoh
masyarakat untuk mensosialisasikan kepada lansia dan
keluarga mengenai kesehatan lansia, kegiatan posyandu
lansia dan manfaatnya.
4 5 4 2 40 I
Pemberdayaan peran dokter muda yang ada di
puskesmas dan mendatangkan dokter ke posyandu
lansia secara berkala
3 4 3 4 9 III
Dilakukan musyawarah untuk menentukan waktu yang
tepat untuk diadakannya posyandu lansia
4 4 3 2 24 II
Mengembangkan kegiatan yang bermanfaat di sektor
lain
3 3 4 4 9 IV



Setelah dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah maka didapatkan
urutannya adalah:
1. Bekerjasama dengan perangkat dusun dan tokoh masyarakat untuk mensosialisasikan
kepada lansia dan keluarga mengenai kegiatan posyandu lansia dan manfaatnya.
2. Dilakukan musyawarah untuk menentukan waktu yang tepat untuk diadakannya posyandu
lansia
3. Pemberdayaan peran dokter muda yang ada di puskesmas dan mendatangkan dokter ke
posyandu lansia secara berkala
4. Mengembangkan kegiatan yang menarik dan bermanfaat di sektor lain.
41


6.7 Strategi Pemecahan Masalah
Berdasarkan alternatif pemecahan masalah, kemudian ditentukan strategi pemecahan
masalah sebagai berikut:
Tabel 6.4 Tabel Strategi Pemecahan Masalah
No. Strategi Pemecahan Masalah Kegiatan
1. Bekerjasama dengan perangkat dusun dan
tokoh masyarakat untuk mensosialisasikan
kepada lansia dan keluarga mengenai
kegiatan posyandu lansia dan manfaatnya
Bekerjasama dengan perangkat dusun
dan tokoh masyarakat, kemudian
disosialisasikan secara kelompok atau
per individu terhadap lansia mengenai
kegiatan posyandu lansia dan
manfaatnya
Pembinaan terhadap keluarga yang
mempunyai lansia mengenai
kesehatan lansia, kegiatan posyandu
lansia dan manfaatnya
2. Dilakukan musyawarah untuk menentukan
waktu yang tepat untuk diadakannya
posyandu lansia
Dilakukan pertemuan untuk
memusyawarahkan dan diputuskan
waktu yang tepat untuk diadakannya
posyandu lansia
3. Pemberdayaan peran dokter muda yang ada
di puskesmas dan mendatangkan dokter ke
posyandu lansia secara berkala
Pembuatan jadwal rutin kunjungan
petugas kesehatan (dokter muda atau
dokter umum)
4. Mengembangkan kegiatan yang menarik dan
bermanfaat di sektor lain seperti kegiatan
kerohanian, arisan, kegiatan ekonomi
produktif, forum diskusi, penyaluran hobi,
dan lain-lain
Membuat kegiatan-kegiatan seperti
arisan, senam lansia, kegiatan rohani,
penyaluran hobi dan lain-lain




42

Rencana Tindak Lanjut Kegiatan
Rencana kegiatan yang telah dibuat sebagai upaya dari strategi pemecahan masalah
selanjutnya dibuat dalam sebuah tabel Plan of Action yang meliputi kegiatan, tujuan, sasaran,
waktu, dana, lokasi, pelaksana, metode dan tolak ukur keberhasilan strategi pemacahan
masalah tersebut yang disesuaikan dengan masalah yang telah ditentukan:

Tabel 6.8 Rencana Kegiatan Untuk Meningkatkan Cakupan Pelayanan Pra Usila dan Usila
No
.
Kegiatan Tujuan Sasaran Pelaksana Waktu Dana Lokasi Metode Tolak Ukur
1. Bekerjasama dengan
perangkat dusun dan
tokoh masyarakat
Mempermudah
sosialisasi kepada
pra usila dan usila
tentang kegiatan
posyandu lansia dan
manfaatnya

Perangkat
dusun
Tokoh
masyarakat
Bidan,
kader

1
bulan
sekali
Swadaya
Masyara
kat
Balai Desa Musyawara
h
Tercapainya
sosialisasi
posyandu
lansia
2. Musyawarah untuk
membuat jadwal
diadakannya posyandu
lansia
Menemukan waktu
yang tepat untuk
mengadakan
posyandu lansia
Masyarakat
lansia
dusun
Banjaran
Bidan,
kader
6
bulan
sekali
Swadaya
Masyara
kat
Balai desa musyawara
h
Meningkatnya
daftar
kehadiran
lansia di
posyandu
lansia
3. Pembuatan jadwal rutin
kunjungan dokter muda
Meningkatkan mutu Dokter Petugas 1 puskesmas Musyawara Bertambahnya
43

ke posyandu lansia pelayanan
kesehatan terhadap
lansia
muda puskesmas
, dokter
tahun
sekali
h mutu
pelayanan
kesehatan
lansia
4. Membuat kegiatan-
kegiatan yang menarik
dan bermanfaat di sector
lain seperti arisan, senam
lansia, kegiatan rohani,
penyaluran hobi dan lain-
lain
Meningkatkan
minat lansia untuk
mengikuti kegiatan
posyandu lansia
masyarakat
lansia
Dusun
Banjaran
Petugas
puskesmas
, bidan
desa,
kader,
tokoh
masyaraka
t
1
bulan
sekali
Swadaya
masyarak
at Dusun
Banjaran
Balai desa musyawara
h
Bertambahnya
minat lansia
untuk
mengikuti
kegiatan
posyandu
lansia









44



Tabel 6.9 Ghann Chart

Kegiatan Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Bekerjasama
dengan
perangkat dusun
dan tokoh
masyarakat

2. Musyawarah untuk
membuat jadwal
diadakannya
posyandu lansia

3. Pembuatan
jadwal rutin
kunjungan dokter
muda ke
posyandu lansia

4. Membuat
kegiatan-
kegiatan yang
menarik dan
bermanfaat di
sector lain seperti
arisan, senam
lansia, kegiatan
rohani,
penyaluran hobi
dan lain-lain

45

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan survei, wawancara, dan observasi mengenai posyandu lansia maka
dapat disimpulkan bahwa pengetahuan prausila dan usila mengenai posyandu lansia masih
kurang yaitu beranggapan bahwa posyandu lansia merupakan tempat berobat sehingga bila
lansia tersebut merasa sehat, mereka tidak datang ke posyandu. Oleh karena itu diperlukan
kerjasama dengan tokoh masyarakat dan perangkat desa untuk mempermudah sosialisasi
mengenai pentingnya posyandu lansia terhadap lansia maupun keluarga lansia tersebut
berada.

7.2 Saran
Pelaksanaan program posyandu lansia yang telah ada harus dimaksimalkan.
Pembekalan dan pembinaan kader harus dioptimalkan karena kader mempunyai peran yang
penting dalam mengajak para lansia untuk ikut serta di posyandu lansia. Pelaksanaan
posyandu perlu di tingkatkan khususnya di pelayanan kesehatan. Diperlukan pula dokter
muda yang datang secara berkala di posyandu lansia untuk melakukan pemeriksaan dan
pengobatan terhadap lansia dan dapat memperdayakan dokter muda yang ada dalam
pelayanan kesehatan


46

DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-undang no.23 Tahun 1992.
Availableat:http://www.dpr.go.id/uu/uu1992/UU_1992_23.pdf. Accessed on:
May,6,2012
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman pengelolaan kegiatan
Kesehatan di kelompok usia lanjut, 2003.
3. Hartoyo. Instrumes analisa penyebab untuk pemecahan masalah. Handout:
Magelang; 2011.
4. Erfandi, Pengelolaan Posyandu lansia tahun April 2012 Available at:
http://puskesmas-oke.blogspot.com/2009/04/pengelolaan-posyandu-
lansia.html.accessed on May,7,2012.
5. Notoadmojo, Soekidjo. Metodologi Penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta,2005