Anda di halaman 1dari 7

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kadar Kolesterol

Bonny Pabetting
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta

Abstrak
Hiperkolesterolemia adalah salah satu jenis dislipidemia yang sering berkomplikasi pada
penyakit serebrovaskular. Selain dipengaruhi oleh faktor familial, kadar kolesterol juga ditengarai
dapat dipengaruhi oleh faktor gaya hidup dan jenis kelamin. Penelitian ini berusaha mencari
hubungan antara faktor-faktor di atas dengan menggunakan desain deskriptif cross sectional di
wilayah kerja Puskesmas ABC. Hasil penelitian menunjukkan tidak satupun variabel independen
(kebiasaan merokok, IMT (indeks massa tubuh), jenis kelamin, dan paparan stres) yang menunjukkan
hubungan dengan kadar kolesterol pada subjek penelitian.
Kata kunci : merokok, IMT, jenis kelamin, stres, hiperkolesterolemia

Abstract
Hypercholesterolemia is one type of dyslipidemia that often leads to cerebrovascular
complication. Besides being influenced by familial factors, cholesterol levels are also suspected to be
influenced by lifestyle factors and sex. This research tries to find the relationship between the above
factors using a descriptive cross-sectional design in Puskesmas ABC. The results showed that none of
the independent variables (smoking habits, BMI (body mass index), gender, and exposure to stress)
showed any association with cholesterol levels in the study subjects.
Keywords: smoking, BMI, gender, stress, hypercholesterolemia

Pendahuluan
Latar belakang
Hiperkolesterolemia didefinisikan sebagai
tingkat kolesterol yang lebih tinggi dari
normal. Hiperkolesterolemia yang
dihasilkan dari perubahan metabolik
kolesterol, merupakan penyebab utama
dari gangguan kardiovaskular, seperti
atherosclerosis dan penyakit jantung
koroner. Hiperkolesterolemia akan
mengakibatkan terbentuknya plak
timbunan kolesterol bagian dari Low
Density Lipoprotein (LDL), sel otot,
beberapa protein, dan kalsium yang akan
menghambat aliran darah dalam pembuluh
darah dengan cara mempersempit
pembuluh darah, mengeraskan dinding
pembuluh darah dan menutup pembuluh
darah. Ketika penimbunan dalam darah ini
menjadi cukup besar, kolesterol
menghambat aliran darah yang kemudian
menimbulkan hipertensi.
Permasalahan
Apakah kebiasaan merokok, IMT (indeks
massa tubuh), jenis kelamin, dan paparan
stres dapat memengaruhi kadar total
kolesterol darah.
Hipotesis
Ha : terdapat hubungan antara kebiasaan
merokok, IMT, jenis kelamin, dan paparan
stres terhadap kolesterol total.
Ho : tidak terdapat hubungan antara
kebiasaan merokok, IMT, jenis kelamin,
paparan stres dan kolesterol total.
Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh kebiasaan merokok,
IMT (indeks massa tubuh), jenis kelamin,
dan paparan stres terhadapat kadar total
kolesterol darah.
Manfaat
Manfaat penelitian ini adalah sebagai
bahan informasi kepada masyarakat umum
dan tenaga kesehatan tentang faktor-faktor
yang dapat memengaruhi kadar kolesterol
darah.

Tinjauan Pustaka
Kerangka teori
Kolesterol adalah lipida struktural
(pembentuk struktur sel) yang berfungsi
sebagai komponen yang dibutuhkan dalam
kebanyakan sel tubuh. Sekitar 80% dari
kolesterol diproduksi oleh liver dan
selebihnya didapat dari makanan yang
kaya akan kandungan kolesterol seperti
daging, telur dan produk berbahan dasar
susu. Dari segi kesehatan, kolesterol
sangat berguna dalam membantu
pembentukan hormon atau vitamin D,
membantu pembentukan lapisan pelindung
disekitar sel syaraf, membangun dinding
sel, pelarut vitamin (vitamin A, D, E, K)
dan pada anak-anak dibutuhkan untuk
mengembangkan jaringan otaknya.


Hiperkolesterolemia
Hiperkolesterolemia adalah suatu kondisi
yang ditandai dengan tingkat kolesterol
yang sangat tinggi dalam darah.
Peningkatan kolesterol dalam darah
disebabkan kelainan pada tingkat
lipoprotein. Hiperkolestrolemia dapat
diklasifikasikan menjadi :
a. Hiperkolesterolemia Primer
Hiperkolsterolmia primer adalah
gangguan lipid yang terbagi
menjadi 2 bagian, yakni
hiperkolesterol poligenik dan
hiperkolesterol familial.
Hiperkolesterol poligelik
disebabkan oleh berkurangnya
daya metabolisme kolestrol, dan
meningkatnya penyerapan lemak.
Hiperkolesterolemia familial
adalah meningkatnya kadar
kolesterol yang sangat dominan
(banyak) akibat ketidakmampuan
reseptor LDL. Penderita biasanya
akan mengalami gangguan
penyakit jantung koroner (PJK)
dengan kadar kolesterol mencapai
1.000 mg/dl.
b. Hiperkolesterolemia Sekunder
Hiperkolesterolemia Sekunder
terjadi akibat penderita mengidap
suatu penyakit tertentu, stress, atau
kurang gerak (olahraga). Berbagai
macam obat juga dapat
meningkatkan kadar kolesterol.
Wanita yang telah masuk masa
menopause (berhenti haid) jika
diberi terapi estrogen akan
mengalami peningkatan kadar
kolesterol.
c. Hiperkolesterolemia Turunan
Hiperkolesterolemia ini terjadi
akibat kelainan genetis atau mutasi
gen pada tempat kerja reseptor
LDL, sehingga menyebabkan
pembentukan jumlah LDL yang
tinggi atau berkurangnya
kemampuan reseptor LDL.
Kejadian ini biasanya ditandai
dengan kadar kolesterol yang
mencapai 400 mg/dl dan kadar
HDL dibawah 35 mg/dl, meskipun
penderita sering berolahraga,
memakan makanan berserat, jarang
mengkonsumsi lemak hewani dan
tidak merokok.
Kerangka konsep
Metode penelitian adalah deskriptif dengan
desain cross sectional. Penelitian ini ingin
mencari tahu hubungan antara variabel
independen (kebiasaan merokok, IMT
(indeks massa tubuh), jenis kelamin,
paparan stres) dengan variabel total
kolesterol sebagai variabel dependennya.




Metodologi Penelitian
Desain penelitian
Desain yang digunakan adalah penelitian
deskriptif cross sectional (potong-lintang)
yaitu data dikumpulkan dalam suatu waktu
untuk dianalisis tanpa mengikuti
perjalanan pajanan dan outcome pada
subjek penelitian
Tempat dan waktu penelitian
Penelitian dilakukan di wilayah kerja
puskesmas ABC, kecamatan DEF, Jakarta
Barat pada tanggal 8 Juli 2014.
Sumber data
Sumber data yang digunakan adalah
sumber data primer dari pengukuran untuk
variabel IMT; kuesioner untuk variabel
jenis kelamin, kebiasaan merokok dan
pajanan stres; serta pemeriksaan darah
untuk variabel total kolesterol.
Populasi
Populasi penelitian merupakan seluruh
warga yang berdomisili di wilayah kerja
puskesmas ABC. Pada tahun 2014 tercatat
jumlah warga sebesar 1400 orang.
Teknik pengambilan sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan
teknik simple random sampling. Setelah
itu, didapatkan 140 orang sampel sebelum
dikurangi dengan kriteria eksklusi.
Kriteria inklusi
Kriteria inklusi meliputi seluruh warga
yang berdomisisli di wilayah kerja
puskesmas ABC dan berusia antara 21
tahun sampai 59 tahun pada hari
pengumpulan data.
Kriteria eksklusi
Dari total 140 orang, 5,7% (n=8) menolak
berpartisipasi dalam penelitian, dan 1,4%
(n=2) tidak dapat dimasukkan sebagai
subjek karena sedang menjalani
pengobatan untuk hiperkolesterolemia.
Sampel
Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi
di atas, terdapat 130 orang (9,28%) yang
berpartisipasi sebagai subjek penelitian
Identifikasi variabel
Variabel dependen adalah total kolesterol.
Variabel independen adalah kebiasaan
merokok, IMT, jenis kelamin, dan paparan
stres.
Definisi operasional dan instrumen
pengumpulan data
Total kolesterol adalah kadar kolesterol
serum yang diperoleh melalui pemeriksaan
darah di laboratorium. Selanjutnya, bila
dibagi menjadi kategori, kadar kolesterol
normal adalah <200 mg/dL dan
hiperkolesterol adalah 200 mg/dL.
Kebiasaan merokok, jenis kelamin, dan
stres merupakan data yang didapatkan dari
subjek melalui kuesioner.
IMT adalah indeks yang menghubungkan
massa tubuh seseorang dengan tinggi
badannya. IMT diperoleh dari pengukuran
berat badan dan tinggi badan lalu dihitung
dengan cara membagi berat badan dengan
tinggi badan kuadrat. IMT <18,5 disebut
under weight, 18,5-25 disebut normal
weight, dan >25 disebut over weight.
Cara kerja
Setelah ditentukan sampelnya,
pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan pengukuran langsung,
pemeriksaan laboratorium dan pengisian
kuesioner. Data selanjutnya ditabulasi dan
diolah menggunakan program SPSS v.16.
Etika penelitian
Penelitian ini merupakan bersifat deskriptif
sehingga tidak ada eksperimen yang
dilakukan kepada subjek dalam bentuk apa
pun. Semua subjek telah memberikan
persetujuan tertulis mengenai penggunaan
hasil pemeriksaan dirinya untuk digunakan
di dalam penelitian ini.












Hasil penelitian

Tabel 1 Karakteristik subjek penelitian menurut variabel numerik
Mean SD Median Modus Range Min-Max
IMT 22,77 3,82 22,65 23 15,20 16,83 - 32,03
Total kolesterol 237,16 29,36 240 200 142 167 - 309
n = 130

Tabel 2 Karakteristik subjek penelitian menurut variabel kategorik
Variabel Frekuensi Persentasi
IMT Under weight 19 14,6
Normal weight 79 60,8
Over weight 32 24,6
Merokok Ya 107 82,3
Tidak 23 17,7
Jenis Kelamin Pria 89 68,5
Wanita 41 31,5
Stres Ya 58 44,6
Tidak 72 55,4
Kolesterol Normal 8 6,2
Hiperkolesterol 122 93,8
n = 130

Tabel 3 Crosstabulation kebiasaan merokok dan total kolesterol










Kolesterol Total
Normal Hiperkolesterol
Merokok Tidak C : 6 C : 101 107
E: 6,6 E : 100,4 107,0
Ya C : 2 C : 21 23
C : 1,4 E : 21,6 23,0
Total C : 8 C : 122 130
E : 8,0 E : 122,0 130,0
Tabel 4 Crosstabulation IMT dan total kolesterol
Kolesterol Total
normal hiperkolesterol
IMT under weight C : 3 C : 16 C : 19
E : 1,2 E : 17,8 E : 19,0
normal weight C : 2 C : 77 C : 79
E : 4,9 E : 74,1 E : 79
over weight C : 3 C : 29 C : 32
E : 2,0 E : 30 E : 32,0
Total C : 8 C : 122 C : 130
E : 8,0 E : 122,0 E :
130,0


Tabel 5 Crosstabulation jenis kelamin dan total kolesterol
Kolesterol Total
Normal Hiperkolesterol
Jenis Kelamin Pria C : 6 C : 83 89
E : 5,5 E : 83,5 89,0
Wanita C : 2 C : 39 41
E : 2,5 E : 38,5 41,0
Total C : 8 C : 122 130
E : 8,0 E : 122,0 130,0


Tabel 6 Crosstabulation pajanan stres dan total kolesterol
Kolesterol Total
Normal Hiperkolesterol
Stres Tidak C : 4 C : 54 58
E : 3,6 E : 54,4 58,0
Ya C : 4 C : 68 72
E : 4,4 E : 67,6 72,0
Total C : 8 C : 122 130
E : 8,0 E : 122,0 130,0

Pembahasan
Tabel 1 dan 2 mengilustrasikan
karakteristik subjek penelitian dari data
hasil pengukuran dan kuesioner. Yang
cukup menarik perhatian adalah tingginya
frekuensi subjek dengan total
kolesterol >200 yakni sebesar 93,8%.
Tabel 3 menunjukkan
pengelompokan atas variabel kebiasaan
merokok dan total kolesterol yang telah
dikategorikan. Setelah diuji dengan
Fishers exact test, tidak ditemukan
hubungan antara kebiasaan merokok dan
total kolesterol, p = 0,58.
Tabel 4 menunjukkan
pengelompokan atas variabel kebiasaan
merokok dan total kolesterol yang telah
dikategorikan. Setelah diuji dengan Chi-
square test, tidak ditemukan hubungan
antara IMT dan total kolesterol, X
2
(2, N =
130) = 4,96, p = 0,08.
Tabel 5 menunjukkan
pengelompokan atas variabel Jenis
kelamin dan total kolesterol yang telah
dikategorikan. Setelah diuji dengan Chi-
square test, tidak ditemukan hubungan
antara jenis kelamin dan total kolesterol,
X
2
(1, N = 130) = 0,00, p = 0,98.
Tabel 6 menunjukkan
pengelompokan atas variabel pajanan stres
dan total kolesterol yang telah
dikategorikan. Setelah diuji dengan
Fishers exact test, tidak ditemukan
hubungan antara pajanan stres dan total
kolesterol, p = 1,00.

Penutup
Kesimpulan dan saran
Dari hasil penelitian, tidak satu pun dari
variabel independen (kebiasaan merokok,
IMT, jenis kelamin, dan paparan stres)
yang memiliki pengaruh terhadap kadar
kolesterol darah. Dengan demikian,
hipotesis ditolak.

Daftar Pustaka
1.