Anda di halaman 1dari 6

1.

Definisi
Demensia adalah gangguan fungsi intelektual dan memori didapat yang
disebabkan oleh penyakit otak, yang tidak berhubungan dengan tingkat kesadaran.
Demensia merujuk pada sindrom klinis yang mempunyai bermacam penyebab. Pasien
dengan demensia harus mempunyai gangguan memori selain kemampuan mental lain
seperti berpikir abstrak, penilaian, kepribadian, bahasa, praksis, dan visuospasial.
Defisit yang terjadi harus cukup berat sehingga mempengaruhi aktivitas kerja dan
sosial secara bermakna.
1
Demensia merupakan suatu sindrom akibat penyakit otak, biasanya bersifat
kronik atau progresif serta terdapat gangguan fungsi luhur (fungsi kortikal yang
multipel), termasuk daya ingat, daya pikir, daya orientasi, daya pemahaman,
berhitung, kemampuan belajar, berbahasa, dan daya kemampuan menilai. Kesadaran
tidak berkabut. Biasanya disertai hendaya fungsi kognitif dan ada kalanya diawali
dengan kemerosotan (deteriotation) dalam pengendalian emosi, perilaku sosial, atau
motivasi. Sindrom ini terjadi pada penyakit Alzheimer, serebrovaskuler, dan pada
kondisi lain yang secara primer atau sekunder mengenai otak.
2
Walaupun sebagian besar kasus demensia menunjukkan penurunan yang
progresif dan tidak dapat pulih, namun bila merujuk pada definis di atas maka
demensia dapat pula terjadi mendadak (misalnya pada pasca stroke atau cidera
kepala), dan beberapa penyebab demensia dapat sepenuhnya pulih (misalnya:
hematoma subdural, toksisitas obat, dan depresi) bila dapat diatasi dengan cepat dan
tepat. Demensia dapat muncul pada usia berapapun meskipun pada umumnya muncul
setelah usia 65 tahun.
1
Penting pula membedakan demensia dengan delirium. Delirium merupakan
keadaan confusion (kebingungan)., biasanya timbul mendadak, ditandai dengan
gangguan memori dan orientasi (sering dengan konfabulasi) dan biasanya disertai
dengan gerakan abnormal, halusinasi, ilusi, dan perubahan afek. Untuk membedakan
dari demensia, pada delirium terdapat penurunan tingkat kesadaran selain dapat pula
hiperalert. Delirium biasanya biasanya berfluktuasi intensitasnya dan dapat menjadi
demensia bila kelainan yang mendasari tidakteratasi. Penyebab paling seing delirium
meliputi ensefalopati akibat penyakit infeksi, toksik, dan faktor nutrisi atau penyakit
sistemik. Pasien demensia sendiri secara khusus cenderung untuk timbul delirium.
1

2. Epidemiologi
Insiden demensia meningkat secara bermakna seiring dengan meningkatnya usia.

3. Diagnosis
Terdapat beberapa kriteria diagnostik untuk menegakkan diagnosis demensia
vaskular, yaitu:
3
a. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi ke empat (DSM-IV)
b. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III)
c. International Classification of Diseases (ICD-10)
d. The state of California Alzheimers Disease Diagnostic and Treatment Centers
(ADDTC)
e. National Institute of Neurological Disorders and Stroke and the Association
Internationale pour la Recherche Et lenseignement en Neurosciences (NINDS-
AIREN)
Dengan menggunakan kriteria diagnostik yang berbeda didapatkan prevalensi
demensia yang berbeda, dimana prevalensi tertinggi didapatkan bila menggunakan
kriteria DSM-IV dan terendah bila menggunakan kriteria NINDS-AIREN.
Consortium of Canadian Centers for Clinical Cognitive Research menyatakan bahwa
tidak ada kriteria diagnostik yang lebih baik dari berbagai kriteria yang ada. DSM-IV
mempunyai sensitivitas yang tinggi tetapi spesifitasnya rendah.
4
Diagnosis demensia menurut DSM-IV adalah menggunakan kriteria sebagai
berikut.
1

A. Adanya defisit kognitif multipleks yang dicirikan oleh gangguan memori dan
satu atau lebih dari gangguan kognitif berikut ini:
1) Gangguan memori (ketidakmampuan untuk mempelajari informasi baru
atau untuk mengingat informasi yang baru saja dipelajari)
2) Satu atau lebih gangguan kognitif berikut:
- Afasia (gangguan berbahasa)
- Apraksia (gangguan kemampuan untuk mengerjakan aktivitas motorik,
sementara fungsi mototik normal).
- Agnosia (tidak dapat mengenal atau mengidentifikasi suatu benda
walaupun fungsi sensoriknya normal).
- Gangguan dalam fungsi eksekutif (merancang, mengorganisasikan, daya
abstraksi, dan membuat urutan).
B. Defisit kognitif pada kriteria A1 dan A2 yang menyebabkan gangguan fungsi
sosial dan okupasional yang jelas. Defisit yang terjadi buka terjadi saat timbulnya
delirium.

Evaluasi terhadap pasien dengan kecurigaan demensia harus dilakukan dari
berbagai segi, karena selain menetapkan seorang pasien mengalami demensia tau
tidak, juga harus ditentukan berat-ringannya penyakit, serta tipe demensianya
(penyakit Alzheimer, demensia vaskular, atau tipe yang lain). Hal ini berpengaruh
padatatalaksanan dan prognosisnya.
1
Berikuit kriteria diagnosis beberapa tipe
demensia menurut DSM-IV
:5

a. Kriteria Diagnosis Demensia Alzheimer
A. Adanya defisit kognitif multipleks yang dicirikan oleh gangguan memori dan
satu atau lebih dari gangguan kognitif berikut ini:
1) Gangguan memori (ketidakmampuan untuk mempelajari informasi baru
atau untuk mengingat informasi yang baru saja dipelajari)
2) Satu atau lebih gangguan kognitif berikut:
- Afasia (gangguan berbahasa)
- Apraksia (gangguan kemampuan untuk mengerjakan aktivitas motorik,
sementara fungsi mototik normal).
- Agnosia (tidak dapat mengenal atau mengidentifikasi suatu benda
walaupun fungsi sensoriknya normal).
- Gangguan dalam fungsi eksekutif (merancang, mengorganisasikan,
daya abstraksi, dan membuat urutan).
B. Defisit kognitif pada kriteria A1 dan A2 yang menyebabkan gangguan fungsi
sosial dan okupasional yang jelas. Perjalanan penyakit ditandai dengan onset
yang bertahap dan penurunan kognitif berlanjut.
C. Defisit. Kognitif pada criteria A1 dan A2 tidak disebabkan oleh:
1. Kondisi-kondisi sistim saraf pusat lainnya yang menyebabkan deficit
progresif memori dan kognitif (mis. Penyakit
serebrovaskuler,Parkinson,Huntington,Pick,hematoma
subdural,Hidrosefalus tekanan normal,tumor otak).
2. Kondisi-kondis sistemik yang diketahui menyebabkan dementia (mis.
Hipotiroidism,defisiensi vitamin ab12 atu asam
folat,niacin,hiperkalsemia,neurosifilis,infeksi HIV).
3. Kondisi-kondisi yang diinduksi zat.
E. Deficit-defisit ini terutama tidak terjadi selama adanya delirium.
F. Gangguan ini bukan disebabkan oleh gangguan axis I lainnya (mis.Gangguan
Deprsif Mayor,Schizophrenia).

b. Kriteria Diagnosis Demensia Vaskular:
A. Adanya defisit kognitif multipleks yang dicirikan oleh gangguan memori dan
satu atau lebih dari gangguan kognitif berikut ini:
1) Gangguan memori (ketidakmampuan untuk mempelajari informasi baru
atau untuk mengingat informasi yang baru saja dipelajari)
2) Satu atau lebih gangguan kognitif berikut:
- Afasia (gangguan berbahasa)
- Apraksia (gangguan kemampuan untuk mengerjakan aktivitas
motorik, sementara fungsi mototik normal).
- Agnosia (tidak dapat mengenal atau mengidentifikasi suatu benda
walaupun fungsi sensoriknya normal).
- Gangguan dalam fungsi eksekutif (merancang, mengorganisasikan,
daya abstraksi, dan membuat urutan).
B. Defisit kognitif pada kriteria A1 dan A2 yang menyebabkan gangguan fungsi
sosial dan okupasional yang jelas. Defisit yang terjadi buka terjadi saat
timbulnya delirium.
C. Tanda dan gejala neurologik fokal (refleks fisiologik meningkat, refleks
patologik positif, paralisis pseudobulbar, gangguan langkah, kelumpuhan
anggota gerak) atau bukti laboratorium dan radiologik yang membuktikan
adanya gangguan peredaran darah otak (GPOD), seperti infark multipleks
yang melibatkan korteks dan subkorteks, yang dapat menjelaskan kaitannya
dengan munculnya gangguan.
D. Defisit yang ada tidak terjadi selama berlangsungnya delirium.

c. Kriteria Diagnosis Demensia Akibat Kondici Medik Umum Lain
A. Adanya defisit kognitif multipleks yang dicirikan oleh gangguan memori dan
satu atau lebih dari gangguan kognitif berikut ini:
1) Gangguan memori (ketidakmampuan untuk mempelajari informasi baru
atau untuk mengingat informasi yang baru saja dipelajari)
2) Satu atau lebih gangguan kognitif berikut:
- Afasia (gangguan berbahasa)
- Apraksia (gangguan kemampuan untuk mengerjakan aktivitas
motorik, sementara fungsi mototik normal).
- Agnosia (tidak dapat mengenal atau mengidentifikasi suatu benda
walaupun fungsi sensoriknya normal).
- Gangguan dalam fungsi eksekutif (merancang, mengorganisasikan,
daya abstraksi, dan membuat urutan).
B. Defisit kognitif pada kriteria A1 dan A2 yang menyebabkan gangguan fungsi
sosial dan okupasional yang jelas.
C. Gangguan memori ini tidak terjadi bersamaan dengan delirium.
D. Adanya bukti2 dari riwayat,pemeriksaan fisik atau temuan laboratoris yang
menunjukan bahwa gangguan ini adalah konsekuensi fisiologis langsung dari
suatu kondisi medis umum (termasuk trauma fisik).

d. Kriteria Diagnosis Demensia Persisten Terinduksi Zat
A. Adanya defisit kognitif multipleks yang dicirikan oleh gangguan memori dan
satu atau lebih dari gangguan kognitif berikut ini:
1) Gangguan memori (ketidakmampuan untuk mempelajari informasi baru
atau untuk mengingat informasi yang baru saja dipelajari)
2) Satu atau lebih gangguan kognitif berikut:
- Afasia (gangguan berbahasa)
- Apraksia (gangguan kemampuan untuk mengerjakan aktivitas
motorik, sementara fungsi mototik normal).
- Agnosia (tidak dapat mengenal atau mengidentifikasi suatu benda
walaupun fungsi sensoriknya normal).
- Gangguan dalam fungsi eksekutif (merancang, mengorganisasikan,
daya abstraksi, dan membuat urutan).
B. Defisit kognitif pada kriteria A1 dan A2 yang menyebabkan gangguan fungsi
sosial dan okupasional yang jelas.
C. Defisit tidak terjadi hanya pada saat delirium dan bertahan melampau durasi
yang umum pada intoksikasi atau keadaan putus zat.
D. Terdapat bukti dari anamnesis, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium
bahwa defisit tersebut secara etiologi berkaitan dengan efek persisten
penggunaan zat (contoh: alkohol,inhalan, sedatif).

e. Kriteria Diagnosis Demensia Akibat Etiologi Multipel
A. Adanya defisit kognitif multipleks yang dicirikan oleh gangguan memori dan
satu atau lebih dari gangguan kognitif berikut ini:
1) Gangguan memori (ketidakmampuan untuk mempelajari informasi baru
atau untuk mengingat informasi yang baru saja dipelajari)
2) Satu atau lebih gangguan kognitif berikut:
- Afasia (gangguan berbahasa)
- Apraksia (gangguan kemampuan untuk mengerjakan aktivitas
motorik, sementara fungsi mototik normal).
- Agnosia (tidak dapat mengenal atau mengidentifikasi suatu benda
walaupun fungsi sensoriknya normal).
- Gangguan dalam fungsi eksekutif (merancang, mengorganisasikan,
daya abstraksi, dan membuat urutan).
B. Defisit kognitif pada kriteria A1 dan A2 yang menyebabkan gangguan fungsi
sosial dan okupasional yang jelas.
C. Gangguan memori ini tidak terjadi bersamaan dengan delirium.
D. Terdapat bukti dari anamnesis, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium
bahwa gangguan tersebut memiliki lebih dari satu etiologi.