Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
Pola pikir manusia dari tahun ke tahun terus berkembang. Hal ini terwujud
dalam berbagai kemajuan ilmu dan teknologi yang pada dasarnya bertujuan untuk
meningkatkan taraf dan kualitas hidup manusia itu sendiri. Perkembangan ilmu
dan teknologi mempengaruhi perkembangan ilmu kedokteran dan profesi
kedokteran.
Kemajuan tersebut selain menyebabkan peningkatan kualitas profesi
kedokteran, juga menyebabkan timbulnya aneka ragam permasalahan, antara lain
mahalnya pelayanan medik. Dengan berkembangnya ilmu dan teknologi terjadi
pula perubahan tata nilai dalam masyarakat, misalnya hal-hal yang dulu dianggap
wajar, dewasa ini dikatakan tidak wajar ataupun sebaliknya.
Masyarakat pun semakin kritis dalam memandang maalah yang ada,
termasuk pelayanan yang diberikan di bidang kesehatan. Masyarakat kini
menuntut agar seorang dokter atau suatu instansi kesehatan memberikan
pelayanan kesehatan yang lebih baik. Tidak jarang masyarakat merasa tidak puas
atas pelayanan kesehatan yang ada dan tidak tertutup kemungkinan seorang dokter
akan di tuntut di pengadilan.
Untuk menghindari hal-hal diatas, jelaslah bahwa profesi kedokteran
membutuhkan pedoman sikap dan perilaku tang harus dimiliki oleh seorang
dokter. Pedoman yang demikian dikenal dengan nama Kode Etik Kedokteran.
Untuk menjalankan dan mengamalkan kode etik tersebut seorang dokter juga
harus sudah dibekali dengan wawasan keagamaan yang kuat karena dalam ilmu
agama sudah tercakup pengetahuan mengenai moral dan akhlak yang baik antara
sesama manusia.








BAB II
ASPEK HUKUM DAN ETIKA KEDOKTERAN
A. Definisi dan batasan pengertian etika kedokteran
Medikolegal secara harfiah berasal dari dua pengertian yaitu medik yang
berarti profesi dokter dan legal yang berarti hukum. Sehingga batasan
medikolegal adalah ilmu hukum yang mengatur bagaimana profesi dokter ini
dilakukan sehingga memenuhi aturan-aturan hukum yang ada. Hal ini untuk
mencegah penyelewengan pelaksanaan profesional medis maupun
mengantisipasi dengan berkembang serta lajunya ilmu-ilmu kedokteran yang
tentunya terdapat hal-hal yang rawan terhadap hukum. (Arif,2009)
Etika merupakan bagian dari filsafat aksiologi yang mempelajari baik-
buruk, benar-salah, pantas-tidak pantas, dsb. Dalam penggunaan sehari-hari,
nilai/norma dalam masyarakat umum berlaku dan ditentukan oleh masyarakat
tertentu.
Dalam kode etik oleh Hammurabi, telah disusun bermacam-macam
sistem/peraturan mengenai para dokter. Terdapat pula beberapa bagian
mengenai norma-norma tinggi moral/akhlak dan tanggung jawab yang
diharapkan harus dimiliki oleh para dokter serta petunjuk-petunjuk mengenai
hubungan antar dokter-pasien dan beberapa masalah lain.
Dalam menjaga etika kedokteran, dibuthkan suatu pedoman agar . Kode
etik adalah adalah pedoman perilaku yang berisi garis garis besar, adalah
pemandu sikap dan perilaku. Dalam kedokteran, kode etik menyangkut 2 (
dua ) hal yang harus diperhatikan ialah :
1. Etik Jabatan Kedokteran ( Medical Ethics )
Menyangkut masalah yang berkaitan dengan sikap dokter terhadap teman
sejawat, para pembantunya serta terhadap masyarakat & pemerintah.
2. Etik Asuhan Kedokteran ( Ethics of Medical Care )
Mengenai sikap & tindakan seorang dokter terhadap penderita yang
menjadi tanggungjawabnya.(Ratna, 2001)
Pelanggaran etik tidak selalu berarti pelanggaran hukum, dan pelanggaran
hukum belum berarti pelanggaran etik.
B. Kode etik kedokteran Indonesia
Etika Kedokteran mempunyai 3 ( tiga ) azas pokok, yaitu :
1. O t o n o m i
a. Hal ini membutuhkan orang orang yang kompeten, dipengaruhi
oleh kehendak dan keinginannya sendiri dan kemampuan
(kompetensi). Memiliki pengertian pada tiap-tiap kasus yang dipersoalkan
memilik kemampuan untuk menanggung konsekuensi dari keputusan yang
secara otonomi atau mandiri telah diambil.
b. Melindungi mereka yang lemah, berarti kita dituntut untuk
memberikan perlindungan dalam pemeliharaan, perwalian, pengasuhan
kepada anak-anak, para remaja dan orang dewasa yang berada dalam kondisi
lemah dan tidak mempunyai kemampuan otonom ( mandiri )
2. Bersifat dan bersikap amal, berbudi baik
Dasar ini tercantum pada etik kedokteran yang sebenarnya bernada negatif
; PRIMUM NON NOCERE (janganlah berbuat merugikan / salah).
Hendaknya kita bernada positif dengan berbuat baik dan apabila perlu
kita mulai dengan kegiatan yang merupakan awal kesejahteraan para
individu /masyarakat.
3. K e a d i l a n
Azas ini bertujuan untuk menyelenggarakan keadilan dalam transaksi
dan perlakuan antar manusia, umpamanya mulai mengusahakan
peningkatan keadilan terhadap si individu dan masyarakat dimana
mungkin terjadi risiko dan imbalan yang tidak wajar dan bahwa
segolongan manusia janganlah dikorbankan untuk kepentingan golongan
lain. ( kodeki, MKEK,2002 )
Sebagai pedoman dalam berperilaku, Kode Etik Kedokteran mengandung
beberapa ketentuan yang kesemuanya tertuang dalam Mukaddimah dan
kedua puluh pasalnya. Secara umum pasal-pasal tersebut dapat dibedakan
menjadi 5 bagian, yaitu :

1) Kewajiban umum seorang dokter
Pasal 1
Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan
mengamalkan sumpah dokter.
Pasal 2
Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan
profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi.
Pasal 3
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak
boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya
kebebasan dan kemandirian profesi.
Pasal 4
Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang
bersifat memuji diri.
Pasal 5
Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya
tahan psikis maupun fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan
kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan pasien.
Pasal 6
Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan
dan menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru
yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang dapat
menimbulkan keresahan masyarakat.
Pasal 7
Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat
yang telah diperiksa sendiri kebenarannya.
Pasal 7a
Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan
pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan
moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan
penghormatan atas martabat manusia.

Pasal 7b
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan
pasien dan sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan
sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter
atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan,
dalam menangani pasien
Pasal 7c
Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak
sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga
kepercayaan pasien.
Pasal 7d
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban
melindungi hidup makhluk insani.
Pasal 8
Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus
memperhatikan kepentingan masyarakat dan memperhatikan
semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial,
serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang
sebenar-benarnya.
Pasal 9
Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang
kesehatan dan bidang lainnya serta masyarakat, harus saling
menghormati
2) Kewajiban dokter terhadap pasien
Pasal 10
Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan
segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam
hal ini ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau
pengobatan, maka atas persetujuan pasien,ia wajib menujuk pasien
kepada dokten yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.

Pasal 11
Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar
senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya
dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya.
Pasal 12
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang
diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu
meninggal dunia.
Pasal 13
Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu
tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain
bersedia dan mampu memberikannya.
3) Kewajiban dokter terhadap teman sejawat
Pasal 14
Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia
sendiri ingin diperlakukan.
Pasal 15
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dan teman
sejawat, kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur
yang etis.
4) Kewajiban dokter terhadap diri sendiri
Pasal 16
Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat
bekerja dengan baik.
Pasal 17
Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi kedokteran/kesehatan.
5) Penutup
Kode Etik Kedokteran Indonesia disusun dalam 3 (tiga) kelompok,
yaitu : kewajiban dokter, yaitu kewajiban umum, kewajiban kepada
pasien, kewajiban kepada diri sendiri dan teman sejawatnya.
Keharusan mengamalkan kode etik disebutkan dalam lafal sumpah
dokter yang didasarkan pada PP No. 26 tahun 1960. Ini berarti
terbuka kemungkinan memberikan sanksi kepada mereka yang
melanggan kode etik.
C. Aspek hukum pelayanan kedokteran
Seorang dokter dalam menjalankan tugasnya mempunyai alasan yang
mulia, yaitu berusaha untuk menyehatkan tubuh pasien, atau setidak-tidaknya
berbuat untuk mengurangi penderitaan pasien. Oleh karenanya dengan alasan
yang demikian wajarlah apabila apa yang dilakukan oleh dokter itu layak untuk
mendapatkan perlindungan hukum sampai batas-batas tertentu. Sampai batas
mana perbuatan dokter itu dapat dilindungi oleh hukum, inilah yang menjadi
permasalahan. Mengetahui batas tindakan yang diperbolehkan menurut hukum,
merupakan hal yang sangat penting, baik bagi dokter itu sendiri maupun bagi
pasien dan para aparat penegak hukum.
Masalahnya sekarang, adalah sangat sulit untuk menentukan kapan suatu
tindakan medis memenuhi patokan atau standar pelayanan kesehatan. Pengaturan
hukum seperti yang tercantum dalam KUHPerdata masih bersifat terlalu umum.
Untuk itu diperlukan adanya suatu pengaturan yang isinya mengatur hubungan
antara pasien dengan dokter. Dalam kaitannya dengan hal ini Van der Mijn (1989
: 57) mengemukakan adanya sembilan alasan tentang perlunya pengaturan hukum
yang mengatur hubungan antara pasien dengan dokter.

1. Adanya kebutuhan pada keahlian keilmuan medis.
2. Kualitas pelayanan kesehatan yang baik.
3. Hasil guna.
4. Pengendalian biaya.
5. Ketertiban masyarakat.
6. Perlindungan hukum pasien.
7. Perlindungan hukum pengemban profesi kesehatan.
8. Perlindungan hukum pihak ketiga, dan
9. Perlindungan hukum kepentingan hukum.
Dari apa yang dikemukakan oleh Van der Mijn diatas, dapat dilihat bahwa
hubungan antara pasien dengan dokter mempunyai aspek etis dan aspek yuridis.
Artinya hubungan itu diatur oleh kaidah hukum, baik yang tertulis maupun yang
tidak tertulis. Dengan demikian baik pasien maupun dokter mempunyai kewajiban
dan tanggung jawab secara etis dan yuridis, sebagai konsekuensinya mereka juga
bertanggung jawab dan bertanggung gugat secara hukum.
Hukum kesehatan menurut Anggaran Dasar Perhimpunan Hukum
Kesehatan Indonesia (PERHUKI), adalah semua ketentuan hukum yang
berhubungan langsung dengan pemeliharaan / pelayanan kesehatan dan
penerapannya. Hal ini menyangkut hak dan kewajiban baik dari perorangan dan
segenap lapisan masyarakat sebagai penerima pelayanan kesehatan maupun dari
pihak penyelenggara pelayanan kesehatan dalam segala aspeknya, organisasi,
sarana, pedoman standar pelayanan medik, ilmu pengetahuan kesehatan dan
hukum serta sumber-sumber hukum lainnya.
Hukum kedokteran merupakan bagian dari hukum kesehatan, yaitu yang
menyangkut asuhan / pelayanan kedokteran (medical care / sevice)Pada masa kini
dapat disepakati luas ruang lingkup peraturan hukum untuk kegiatan pelayanan
kesehatan menurut ilmu kedokteran mencakup aspek-aspek di bidang pidana,
hukum perdata, hukum administrasi, bahkan sudah memasuki aspek hukum
tatanegara.
Persyaratan pendidikan keahlian, menjalankan pekerjaan profesi, tatacara
membuka praktek pengobatan, dan berbagai pembatasan serta pengawasan profesi
dokter masuk dalam bagian hukum administrasi. Hak dan kewajiban yang timbul
dari hubungan pelayanan kesehatan, persetujuan antara dokter dan pasien serta
keluarganya, akibat kelalaian perdata serta tuntutannya dalam pelayanan
kesehatan masuk bagian hukum perdata. Kesaksian, kebenaran isi surat
keterangan kesehatan, menyimpan rahasia, pengguguran kandungan, resep obat
keras atau narkotika, pertolongan orang sakit yang berakibat bahaya maut atau
luka-luka masuk bagian hukum pidana.
1. Hubungan antara dokter dan pasien
Dalam praktik sehari-hari, dapat dilihat berbagai hal yang menyebabkan
timbulnya hubungan antara pasien dengan dokter, hubungan itu terjadi terutama
karena beberapa sebab: antara lain karena pasien sendiri yang mendatangi dokter
untuk meminta pertolongan mengobati sakit yang dideritanya. Dalam keadaan
seperti ini terjadi persetujuan kehendak antara kedua belah pihak, artinya para
pihak sudah sepenuhnya setuju untuk mengadakan hubungan hukum. Hubungan
hukum ini bersumber pada kepercayaan pasien terhadap dokter, sehingga pasien
bersedia memberikan persetujuan tindakan medik (informed consent), yaitu suatu
persetujuan pasien untuk menerima upaya medis yang akan dilakukan setelah ia
mendapat informasi dari dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukan
untuk menolong dirinya, termasuk memperoleh informasi mengenai segala risiko
yang mungkin terjadi.
Di indonesia informed consent dalam pelayanan kesehatan, telah
memperoleh pembenaran secara yuridis melalui Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 585/Menkes/1989. Walaupun dalam kenyataannya untuk
pelaksanaan pemberian informasi guna mendapatkan persetujuan itu tidak
sederhana yang dibayangkan, namun setidak-tidaknya persoalannya telah diatur
secara hukum, sehingga ada kekuatan bagi kedua belah pihak untuk melakukan
tindakan secara hukum.
Pokok persoalan yang menyebabkan sulitnya menerapkan informed
consent di indonesia, adalah karena terlalu banyak kendala yang timbul dalam
praktik sehari-hari, antara lain: bahasa yang digunakan dalam penyampaian
informasi sulit di pahami oleh masyarakat khususnya pasien atau keluarganya,
batas mengenai banyaknya informasi yang dapat di berikan tidak jelas, masalah
campur tangan keluarga atau pihak ketiga dalam hal pemberian persetujuan
tindakan medis sangat dominan, dan sebagainya. Di samping itu juga tentang
informasi dan consent sering terdapat perbedaan kepentingan antara pasien
dengan dokter. Perbedaan kepentingan ini jika tidak memenuhi titik temu yang
memuaskan kedua belah pihak, akan menyebabkan timbulnya konflik
kepentingan. Misalnya pasien berkepentingan untuk penyembuhan penyakit yang
di deritanya, akan tetapi mengingat risiko yang akan timbul berdasarkan informasi
yang di perolehnya dari dokter, pasien atau keluarganya menolak memberi
persetujuan, sedangkan pada sisi lain dokter yang akan melakukan perawatan
membutuhkan persetujuan tersebut.
Alasan lain yang menyebabkan timbulnya hubungan antara pasien dengan
dokter, adalah karena keadaan pasien yang sangat mendesak untuk segera
mendapatkan pertolongan dari dokter, misalnya karena terjadi kecelakaan lalu
lintas, terjadi bencana alam, maupun karena adanya situasi lain yang
menyebabkan keadaan pasien sudah gawat, sehingga sangat sulit bagi dokter yang
menangani utnuk mengetahui dengan pasti kehendak pasien. Dalam keadaan
seperti ini dokter langsung melakukan apa yang disebut dengan zaakwaarneming
sebagaimana diatur dalam Pasal 1354 KUHPerdata, yaitu suatu bentuk hubungan
hukum yang timbul bukan karena adanya Persetujuan Tindakan Medik terlebih
dahulu, melainkan karena keadaan yang memaksa atau keadaan darurat.
Hubungan antara dokter dengan pasien yang terjadi seperti ini merupakan salah
satu ciri transaksi terapeutik yang membedakannya dengan perjanjian biasa
sebagaimana diatur dalam KUHPerdata.
Dari hubungan pasien dengan dokter yang demikian tadi, timbul
persetujuan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam
Pasal 1601 KUHPerdata. Bagi seorang dokter, hal ini berarti bahwa ia telah
bersedia untuk berusaha dengan segala kemampuannya memenuhi isi perjanjian
itu, yakni merawat atau menyembuhkan penyakit pasien. Sedang pasien
berkewajiban untuk mematuhi aturan-aturan yang ditentukan oleh dokter
termasuk memberikan imbalan jasa. Masalahnya sekarang adalah: Bagaimana jika
pasien menolak usul perawatan atau usaha penyembuhan yang ditawarkan oleh
dokter?
Tegasnya dalam hubungan antara pasien dengan dokter diperlukan adanya
persetujuan, karena dengan adanya persetujuan ini berakibat telah tercapainya
ikatan perjanjian yang menimbulkan hak dan kewajiban secara timbal balik.
Perjanjian ini mempunyai kekuatan mengikat dalam arti mempunyai kekuatan
sebagai hukum yang dipatuhi oleh kedua pihak.
Dalam praktiknya, baik hubungan antara pasien dengan dokter yang diikat
dengan transaksi terapeutik, maiupun yang didasarkan pada zaakwaarneming,
sering menimbulkan terjadinya kesalahan atau kelalaian, dalam hal ini jalur
penyelesaiannya dapat dilakukan melalui Majelis Kode Etik Kedokteran. Jika
melalui jalur ini tidak terdapat penyelesaian, permasalahan tersebut diselesaikan
melalui jalur hukum dengan melanjutkan perkaranya ke pengadilan.
Pada sisi lain, walaupun secara yuridisdiperlukan adanya persetujuan
tindakan medis untuk melakukan perawatan, namun dalam kenyataannya sering
terjadi bahwa suatu perawatan walaupun tanpa persetujuan tindakan medik,
apabila tidak menimbulkan kerugian bagi pasien, hal tersebut akan didiamkan saja
oleh pasien. Namun jika kesalahan atau kelalaian dilakukan oleh dokter dan akibat
dari kesalahan tersebut menimbulkan kerugian atau penderitaan bagi pasien, maka
persoalan tersebut akan diselesaikan oleh pasien atau keluarganya melalui jalur
hukum. Dalam praktik seperti ini terlihat betapa sulitnya posisi dokter dalam
melakukan pelayanan kesehatan, baik pada tahap diagnosa maupun pada tahap
perawatan, sehingga dari mereka diperlukan adanya sikap ketelitian dan kehati-
hatian yang sunguh-sungguh.
2. Hak dan kewajiban dokter-pasien
Pada bagian ini akan dibahas tentang hak dan kewajiban para pihak secara
umum, pembahasan tentang hal ini dirasakan sangat penting karena kenyataan
menunjukkan, bahwa akibat adanya ketidakpahaman mengenai hak dan
kewajiban, menyebabkan adanya kecenderungan untuk mengabaikan hak-hak
pasien sehingga perlindungan hukum pasien semakin pudar. Selain itu dalam
praktik sehari-hari banyak falta menunjukkan, bahwa swcara umum ada anggapan
dimana kedudukan pasien lebih rendah dari kedudukan dokter, sehingga dokter
dianggap dapat mengambil keputusan sendiri terhadap pasien mengenai tindakan
apa yang dilakukannya,. Sebenarnya jika dilihat dari sudut perjanjian terapeutik
pendapat seperti ini, merupakan pendapat yang keliru karena dengan adanya
perjanjian terapeutik tersebut kedudukan antara dokter dengan pasien adalah sama
dan sederajat.
Dalam pandangan hukum, pasien adalah subjek hukum mandiri yang
dianggap dapat mengambil keputusan untuk kepentingan dirinya. Oleh karena itu
adalah suatu hal yang keliru apabila menganggap pasien selali tidak dapat
mengambil keputusan karena ia sedang sakit. Dalam pergaulan hidup normal
sehari-hari, biasanya pengungkapan keinginan atau kehendak dianggap sebagai
titik tolak untuk mengambil keputusan. Dengan demikian walaupun seorang
pasien sedang sakit, kedudukan hukumnya tetap sama seperti orang sehat. Jadi,
secara hukum pasien juga berhak mengambil keputusan terhadap pelayanan
kesehatan yang akan dilakukan terhadapnya, karena hal ini berhubungan erat
dengan hak asasinya sebagai manusia. Kecuali apabila dapat dibuktikan bahwa
keadaan mentalnya tidak mendukung untuk mrngambil keputusan yang
diperlukan.
Dalam hubungannya dengan hak asasi manusia, persoalan mengenai
kesehatan ini dinegara kita diatur dalam UU No. 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan, dimana dalam Bab III Pasal 1 Ayat (1) dan Pasal 4 menyebutkan:
Pasal 1 (1): Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Selanjutnya dalam Pasal 4 dinyatakan: Setiap orang mempunyai hak yang sama
dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal.
Sehubungan dengan hak atas kesehatan tersebut yang harus dimiliki oleh
setiap orang, negara memberi jaminan untuk mewujudkannya. Jaminan ini antara
lain diatur dalam Bab IV mulai dari Pasal 6 sampai Pasal 9 UU No. 23 Tahun
1992 tentang Kesehatan pada bagian tugas dan tanggung jawab pemerintah.
Hak atas pelayanan kesehatan memerlukan penanganan yang sungguh-
sungguh, hal ini diakui secara internasional sebagaimana diatur dalam The
Universal Declaration of Human Rights tahun 1948. beberapa pasal yang
berkaitan dengan hak atas pelayanan kesehatan dan hak atas diri sendiri antara
lain dimuat dalam Article 3 yang berbunyi:
Everyone has the right to life, liberty and the security of person. Selanjutnya
dalam Article 5 disebutkan: No one shall be subjected to torture or to cruel,
inhuman or degrading treatmen
Ketentuan lainnya dimuat dalam Article 7 dan 10. Ketentuan Article 7
menyebutkan:
No one shall be subjected to torture or to cruel, inhuman degrading treatment
In particular, no one shall be subjected without his free consent to medical or
scientific experimentation.
Dan ketentuan Article 10 mengatur tentang:
All persons deprived of their liberty shall be treated with humanity and with
respect for the inherent dignity of the human person
Berbicara mengenai hak-hak pasien dalam pelayanan kesehatan, secara umum hak
pasien tersebut dapat dirinci sebagai berikut.
1. Hak pasien atas perawatan
2. Hak untuk menolak cara perawatan tertentu
3. Hak untuk memilih tenaga kesehatan dan rumah sakit yang akan merawat
pasien.
4. Hak atas informasi.
5. Hak untuk menolak perawatan tanpa izin.
6. Hak atas rasa aman.
7. Hak atas pembatasan terhadap pengaturan kebebasan perawatan.
8. Hak untuk mengakhiri perjanjian perawatan.
9. Hak atas twenty-for-a-day-visitor-rights
10. Hak pasien menggugat atau menuntut.
11. Hak pasien mengenai bantuan hokum.
12. Hak pasien untuk menasihatkan mengenai percobaan oleh tenaga kesehatan
atau ahlinya.
Berbarengan dengan hak tersebut pasien juga mempunyai kewajiban, baik
kewajiban secara moral maupun secara yuridis. Secara moral pasien berkewajiban
memelihara kesehatannya dan menjalankan aturan-aturan perawatan sesuai
dengan nasihat dokter yang merawatnya. Beberapa kewajiban pasien yang harus
dipenuhinya dalam pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut:
1. Kewajiban memberikan informasi.
2. Kewajiban melaksanakan nasihat dokter atau tenaga kesehatan.
3. Kewajiban untuk berterus terang apabila timbul masalah dalam hubungannya
dengan dokter atau tenaga kesehatan.
4. Kewajiban memberikan imbalan jasa.
5. Kewajiban memberikan ganti-rugi, apabila tindakannya merugikan dokter atau
tenaga kesehatan.
Berdasarkan pada perjanjian terapeutik yang menimbulkan hak dan
kewajiban bagi para pihak, dokter juga mempunyai hak dan kewajiban sebagai
pengemban profesi. Hak-hak dokter sebagai pengemban profesi dapat dirumuskan
sebagai berikut.
1. Hak memperoleh informasi yang selengkap-lengkapnya dan sejujur-
jujurnya dari pasien yang akan digunakannya bagi kepentingan
diagnosis maupun terapeutik.
2. Hak atas imbalan jasa atau honorarium terhadap pelayanan yang
diberikannya kepada pasien.
3. Hak atas itikad baik dari pasien atau keluarganya dalam melaksanakan
transaksi terapeutik.
4. Hak membela diri terhadap tuntutan atau gugatan pasien atas
pelayanan kesehatan yang diberikannya.
5. Hak untuk memperoleh persetujuan tindakan medik dari pasien atau
keluarganya.
Disamping hak-hak tersebut, dokter juga mempunyai kewajiban yang
harus dilaksanakan. Jika diperhatikan Kode Etik Kedokteran Indonesia yang
tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan R.I. No. 34 Tahun 1983,
didalamnya terkandung beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan oleh dokter
di Indonesia. Kewajiban-kewajiban tersebut meliputi:
1) Kewajiban umum;
2) Kewajiban terhadap penderita;
3) Kewajiban terhadap teman sejawatnya;
4) Kewajiban terhadap diri sendiri.
Berpedoman pada isi rumusan kode etik kedokteran tersebut, Hermien
Hadiati Koeswadji mengatakan bahwa secara pokok kewajiban dokter dapat
dirumuskan sebagai berikut.
1. Bahwa ia wajib merawat pasiennya dengan cara keilmuan yang ia miliki
secara adekuat. Dokter dalam perjanjian tersebut tidak menjanjikan
manghasilkan satu resultaat atau hasil tertentu, karena apa yang dilakukannya
itu merupakan upaya atau usaha sejauh mungkin sesuai dengan ilmu yang
dimilikinya. Karenanya bukan merupakan inspanningssverbintenis. Ini berarti
bahwa dokter wajib berusaha dengan hati-hati dan kesungguhan (met zorg eh
inspanning) menjalankan tugasnya. Perbedaan antara resultaatverbintenis
dengan inspanningserbintenis ini yakni dalam hal terjadi suatu kesalahan.
2. Dokter wajib menjalankan tugasnya sendiri (dalam arti secara pribadi dan
bukan dilakukan oleh orang lain) sesuai dengan yang telah diperjanjikan,
kecuali apabila pasien menyetujui perlu adanya seseorang yang mewakilinya
(karena dokter dalam lafal sumpahnya juga wajib menjaga kesehatannya
sendiri).
3. Dokter wajib memberi informasi kepada pasiennya mengenai segala sesuatu
yang berhubungan dengan penyakit atau penderitaannya. Kewajiban dikter ini
dalam hal perjanjian perawatan (behandelingscontract) menyangkut dua hal
yang ada kaitannya dengan kewajiban pasien.
Di samping itu ada beberapa perbuatan atau tindakan yang dilarang
dilakukan oleh dokter, karena perbuatan tersebut dianggap bertentangan dengan
etik kedokteran. Perbuatan atau tindakan yang dilarang tersebut adalah sebagai
berikut.
1. Melakukan suatu perbuatan yang bersifat memuji diri sendiri.
2. Ikut serta dalam memberikan pertolongan kedokteran dalam segala
bentuk, tanpa kebebasan profesi.
3. Menerima uang selain dari imbalan yang layak sesuai dengan jasanya,
meskipun dengan sepengetahuan pasien atau keluarganya.
Dengan demikian jika diperhatikan isi kode etik kedokteran tersebut dapat
disimpulkan bahwa: kode etik kedokteran mengandung tuntutan agar dokter
menjalankan profesinya berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Apalagi
sebagian besar dari masyarakat, terutama yang tinggal dipedesaan belum memiliki
pengertian yang cukup tentang cara memelihara kesehatan. Oleh karena itu, upaya
untuk memberikan bimbingan dan penerangan kepada masyarakat tentang
kesehatan, merupakan salah satu tugas dokter yang tidak kalah pentingnya dari
pekerjaan penyembuhan. Malahan tugas dokter tidak terbatas pada pekerjaan
kuratif dan preventif saja, jabatan profesi dokter, lebih-lebih di pedesaan,
sebetulnya meliputi semua bidang kegiatan masyarakat, artinya dokter harus ikut
aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Atas dasar hal tersebut, jika motivasi seorang dokter dalam bekerja karena
uang dan kedudukan, dokter tersebut dapat di golongkan dalam motivasi rendah.
Jika dokter cenderung untuk bekerja sedikit dengan hasil banyak, dokter yang
bersangkutan akan tergelincir untuk melanggar kode etik dan sumpahnya.
Sebaliknya jika motivasinya berdasarkan pada keinginan untuk memenuhi
prestasi, tanggung jawab dan tantangan dari tugas itu sendiri, akan mudah baginya
untuk menghayati dan mangamalkan kode etik dan sumpahnya. Di samping itu
dia senantiasa akan melakukan profesinya menurut ukuran yang tertinggi, serta
meningkatkan keterampilannya sehingga kemampuan untuk melaksanakan
tugasnya tidak perlu disangsikan lagi.


















Daftar pustaka
Arif,Rahman dkk, 2009, Tanya Jawab ilmu kedokteran Forensik, badan penerbit
Universitas Diponegoro, Semarang
Buku Memahami Berbagai Etika Profesi & Pekerjaan Penulis Ismantoro Dwi
Yuwono,S.H, Penerbit Pustaka Yustisia. http://www.ilunifk83.com/c2-
kesehatan-dan-ilmu-kedokteran

Samil, Ratna, 2001, Etika Kedokteran Indonesia, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, jakarta
Budiyanto, Hukum dan Etik Kedokteran, Standar Profesi Medis Dan Audit Medis
(artikel), available at : http://budi399.wordpress.com/about/ . accessed : 12
agustus 2014-08-13