Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

HUKUM TRANSPORTASI
Hukum Pengangkutan Laut, Darat dan Udara












Tugas Kelompok ini disusun sebagai salah satu cara mengikuti
mata kuliah Hukum Transportasi

Disusun Oleh :

1. Mujirin NIM : 1100874201347
2. M. Tabri NIM : 1100874201250
3. Kalimudin NIM : 1100874201299
4. Hendro Martono NIM : 1100874201331
5. Juhana NIM : 1100874201314
6. Radja NIM : 1100874201178

Semester VI
FAKULTAS HUKUM
JURUSAN HUKUM PERDATA
UNIVERSITAS BATANGHARI
JAMBI
2014

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan karunia dan nikmat bagi umat-Nya.
Alhamdulilaah Makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah HUKUM
TRANSPORTASI dengan Judul Hukum Pengangkutan Laut, Darat dan Udara, karena
terbatasnya ilmu yang dimiliki oleh kami maka Makalah ini jauh dari sempurna untuk itu
saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan.
Tidak lupa kami sampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak
yang telah turut membantu dalam penyusunan Makalah ini. Semoga bantuan dan
bimbingan yang telh diberikan kepada kami mendapat balasan yang setimpal dari Allah
SWT. Amin
Akhirnya penulis berharap semoga Makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan
umumnya bagi pembaca.
Jambi , Maret 2014


Penulis







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.... i
DAFTAR ISI.... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.....
B. Rumusan Masalah ....
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian ....
1. Hukum Transportasi Laut .
2. Hukum Transportasi Darat ..
3. Hukum Transportasi Udara .
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ...
DAFTAR PUSTAKA...






BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kegiatan bisnis , pengankutan laut, darat dan udara di butuhkan dan
peranannya sangat penting karena selain sebagai alat fisik yang membawa barang-
barang dar produsen ke konsumen, juga sebagai alat penentu harga barang-barang
tersebut. Di samping itu, jika di tinjau dari beberapa segi, pengangkutan banyak
mempunyai manfaat, antara lain sebagai berikut ;
1. Dari kepentingan pengirim barang, pengirim memperoleh manfaat untuk
konsumsi pribadi maupun keuntungan komersial.
2. Dari segi pengangkut barang, pengangkut mendapat keuntungan material
sejumlah uang atau keuntuangan immaterial, berupa peningkatan kepercayaan
masyarkat atau jasa angkutan yang di usahakan oleh pengangkut
3. Dari kepentingan penerimaan barang, penerima barang mendapat manfaat
untuk kepentingan konsumsi pribadi maupun keuntungan komersial.

Dari beberapa uraian di atas penting bagi kami untuk menjelaskan peranan
penting alat transportasi laut, darat dan udara. Hal ini demi kelancaran kegiatan
ekonomi maupun kegiatan sosial masyarakat, baik itu dalam negeri maupun luar
negeri (kegiatan internasional).

B. Rumusan Masalah
1. Hal-hal apa saja yang diatur dalam Pengangkutan Darat, Udara dan Laut ?





BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Transportasi memegang peranan yang sangat penting dalam bisnis nasional
maupun internasional. Pada dasarnya kendaraan yang di pergunakan manusia
adalah kuda, unta, kapal kayu dan lainnya yang bisa menjadi transportasi mereka.
Transportasi akan menjamin kelancaran lalu lintas barang dalam perdagangan
nasional maupun internasional dan menjamin hak kepemilikan atas barang dengan
pengeluaran dokumen pengapalan yang sangat vital seperti bill of lading, airways
bill dan lain-lain. Berikut ini akan kita bahas beberapa hukum yang mengatur adanya
pengangkutan yang dimanfaatkan sebagai transportasi masa kini :

1. Hukum Transportasi Laut
Hukum transportasi laut terdiri dari dua kata yakni hukum dan laut. Jadi
hukum laut adalah hukum yang mengenai laut, baik bersifat publik, maupun
bersifat ke perdataan. Hukum laut bersifat publik kalau menyangkut masalah
umum, sebaliknya hukum laut bersifat perdata apabila menyangkut
perseorangan. Khusus mengenai pengangkutan laut tidak di jumpai definisinya
dalam KUHD. Namun dalam PP No. 17 tahun 1988 di jumpai mengenai
pengangkutan laut.
Setiap kegiatan pelayaran yang menggunakan kapal laut untuk
mengangkut penumpang, barang dan atau hewan untuk satu perjalanan atau
lebih dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain antara beberapa pelabuhan. (Pasal
1 angka 1 PP No. 17 tahun 1988)
Berkaitan dengan pengaturan pengangkutan laut, pada awalnya hanya di
atur dalam KUHD buku II, Bab V karena KUHD ini merupakan warisan dari Hindia
Belanda, namun kemudian di ganti menjadi I dan di sempurnakan pada tanggal
17 september 1992 dengan UU No. 21 tahun 1992 tentang pelayaran .


2. Sejarah perundang-undangan laut
Sejarah perundang-undangan laut dan peraian darat, sebagai yang telah
di atur dalam buku kedua KUHD, I mulai sebelum berlakunya S. 1933-47 jis 38-
dan 2 yang mulai berlaku pada 1 april 1938. Sebelum berlakunya undang-
undang tersebut, perkembangan perundang-undangan pelayaran laut dan
perairan mengikuti jalannya sejarah perundang-undangan tentang pelayaran laut
dan darat di negeri belanda.
Sebab menurut pasal 131 I.S.perundang-undangan hukum dagang itu
selalu konkordans dengan perundang-undangan di negeri Belanda, sejarah
perundang-undangan tersebut berhenti pada saat di undangkannya 1848-23,
tanggal 30 april 1847 yang mulai belaku pada 1 mei 1848. Perundangan tersebut
berlaku di indonesia, yaitu kitab undang-undang hukum dagang (KUHD ).

3. Jenis Pengangkutan Laut
Ada empat macam pelayelenggaraan pengangkutan laut, baik menurut PP
17 tahun 1988 tentang penyelenggaraan Pengangkutan Laut maupun menurut
UU No. 21 tahun 1992 tentang pelayaran.
a. Pelayaran Dalam Negeri
Menurut PP No. 17 tahun 1988, pelayaran dalam negeri merupakan
kegitan angkutan laut antar pelabuhan di indonesia yang di lakukan secara
tetap dan teratur dan / atau dengan pelayaran yang tidak tetap dan tidak
teratur dengan menggunakan jenis kapal.
Selanjutnya, pasal 73 UU no. 21 tahun 1992 menyatakan bahwa
penyelenggaraan pelayaran laut dalam negeri ini di lakukan dengan
menggunakan kapal berbendera Indonesia dan kapal berbendera asing yang
di operasikan oleh badan hukum Indonesia dalam keadaan tertentu dalam
memenuhi persyaratan yang di tetapkan oleh pemerintah.



b. Pelayaran Rakyat
Menurut PP No. 17 tahun 1988, pelayaran rakyat merupakan kegiatan
angkutan laut khusus untuk barang atau hewan antar pelabuhan di Indonesia
dengan menggunakan kapal layar motor sesuai dengan persyaratan
diantaranya :
Dilakukan oleh perusahaan dalam salah satu badan usaha, termasuk
koprasi. Memiliki unit usaha perahu layar atau kapal motor dengan ukuran
sampai dengan 850 M3 isi kotor atau kapal motor dengan ukuran sampai 100
M3.
Sementara itu, pasal 77 UU No. 21 tahun 1992 mengatakan bahwa
pelayaran rakyat sebagai usaha rakyat yang bersifat tradisional merupakan
bagian dari usaha angkutan perairan, mempunyai peranan yang penting dan
karakteristik sendiri.

c. Pelayaran Perintis
Menurut pasa 84 UU No. 21 1992 pelayaran perintis ini berupa
angkutan perairan yang menghubungkan daerah daerah terpencil dan
belum berkembang. Adapun sebagai penyelenggara adalah pemerintah.
Mengenai pelayaran perintis ini, PP No. 17 tahun 1988 menyatakan bahwa
perlayaran perintis merupakan kegiatan angkutan laut yang dilakukan secara
tetap dan teratur.

d. Pelayaran Luar Negeri
Pelayaran luar negeri merupakan pelayaran samudera sebagai
kegiatan angkutan laut dari negeri yang di lakukan secara tetap dan teratur
atau dengan pelayaran tidak tetap dan tidak menggunakan semua jenis kapal
(pasal 9 ayat (5) PP No. 17 tahun 1988). Pelayaran luar negeri ini, menurut
UU No. 21 tahun 1992, dilakukan oleh badan hukum Indonesia yang menurut
UU No. 1 tahun 1985 berbentuk perseroan terbatas dan atau perusahaan
asing .
4. Pihak-pihak dalam Pengangkutan Laut
a. Pengangkutan
Mengenai pengangkutan tidak di jumpai definisinya dalam kitab
undang-undang hukum dagang (KUHD). Namun, menurut HMN.
Poerwosutjipto (1985 : 4), pengangkutan adalah orang yang mengikat diri
untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan atau orang dari suatu
tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat.
b. Pengiriman Barang
Pengirim belum tentu pemilik barang, sering kali dalam praktek
pengirim adalah ekspiditur atau perantara lain dalam bidang pengangkutan.
Pasal 86 ayat (1) menyatakan bahwa ekspeditur adalah orang yang
pekerjaannya menyuruh orang lain untuk menyelenggarakan pengangkutan
barang-barang.
Karena merupakan perantara, ada dua jenis perjanjian yang perlu di
buat oleh ekspeditur, yaitu sebagai berikut ;
1. Perjanjian yang di buat oleh ekspeitur dengan pengirim tersebut dengan
perjanjian ekspedisi, yaitu perjanjian timbal balik antara ekpeditur
dengan pengirim, dimana ekspeditur mengikatkan diri untuk mencari
pengangkut yang baik bagi si pengirim, sedangkan si pengirim mengikat
diri untuk membayar profesi kepada ekpeditur.
2. Perjanjian antara ekpeditur atas nama pengirim dengan pengangkut di
sebut perjanjian pengangkutan.








2. Hukum Transportasi Darat
a. Masalah Pengangkutan
Transportasi ini akan menjamin kelancaran lalu lintas barang dalam
perdagangan nasional maupun internasional dan menjamin hak kepemilikan
atas barang dengan pengeluaran dokumen pengapalan yang sangat vital
seperti bill of lading, airways bill dan lain-lain .
Pasal 506 ayat 1 KUHD mendefinisikan bill of lading atau konsumen
sebagai suatu surat yang bertanggal dalam yang mana si pengangkut
menerangkan bahwa ia telah menerima barang-barang tersebut untuk
diangkutnya ke suatu tujuan tertentu dan menyerahkanya ke situ kepada
orang tertentu, begitu pula menerangkan dengan syarat-syarat apakah
barang-barang itu akan diserahkan. Dari ketentuan pasal tersebut fungsi dari
B/L yaitu:
1. sebagai surat bukti perjanjian pengangkutan.
2. sebagai surat bukti penerimaan barang
3. sebagai bukti pemilikan barang (document of title)

3. Hukum Transportasi Udara
Aturan internasional yang mengatur mengenai pengangkutan melalui
udara adalah:
a. Warsaw convetion (original) 1929
Dalam Warsaw convention, dokumen angkutannya disebut air
consignment note (ACN) yang bukan merupakan document of title . ACN
ditandatangani carrier setelah barang diterima. ACN tediri dari tiga bagian
yaitu :
1. first part, untuk carrier.
2. Second part, untuk consignee (penerima barang)
3. Third part, untuk consignor (pengirim)


b. Warsaw convention yang diamandemen tahun 1955
Dalam Warsaw convention yang diamandemen, dokumen
angkutannya disebut air way bill (AWB). Air way bill ini cukup memuat point
keberangkatan dan destinasi. Kontrak angkutan udara dapat dilakukan
meelalui Warsaw convention yang pertama telah di amandemen.

c. Non-convention carriage
1. Dokumen Angkutan Udara
Jika suatu kredit mensyaratkan dokumen angkutan udara, kecuali
apabila ditentukan lain di dalam kredit, bank akan menerima suatu
dokumen yang secara nyata menunjukan nama pengangkut (carrier)
dan ditandatangani. Demikian pula dengan dokumen yang disahkan oleh
pengangkut (carrier) atau agen yang ditunjuk atas nama pengangkut
(carrier).
2. Yang Dapat Diterima Bank
Dalam pasal 27 UCP 500 diatur mengenai ciri-ciri dokumen
angkutan udara, dan pada pasal 28 UCP 500 juga diatur mengenai
angkutan darat, kereta api atau jalan air dan dokumen lainnya yang
dapat diterima oleh bank. Dokumen lainnya ini yang dapat idterima oleh
bank ini menyangkut dokumen angkutan pos dan kurir terdapat di dalam
pasal 29 UCP 500 dan dokumen angkutan lainnya yang diterbitkan oleh
freight forwarder terdapat pada pasal 30 UCP 500. selain itu UCP 500
juga mengatur mengenai klausula on deck, shippers load and count,
pada pasal 31, yang terdapat dalam dokumen pengangkutan modal
transport.

d. Courir Dan Post Receipts
Jika kredit mensyaratkan suatu tanda terima pos (post receipts) atau
certificate of posting, kecuali apabila ditentukan lain di dalam kredit bank
akan menerima, suatu tanda terima pos atau sertificate of posting yang
secara nyata telah dibubuhi cap atau disahkan dan diberi tanggal di tempat
dari mana kredit menyebutkan barang tersebut dikapalkan atau dikirimkan
dan tanggal tersebut akan dianggap sebagai tanggal pengapalan atau
pengiriman, dan dalam semua hal memenuhi ketentuan kredit.

e. Freight Forwarder
Bank hanya akan menerima dokumen yang diterbitkan oleh freight
forwarder jika dokumen tersebut nyata-nyata menunjukan nama freight
forwarder sebagai suatu pengangkut (carrier) atau pengelola pengangkutan
multimodal. Dokumen ini ditandatangani atau disahkan oleh freight
forwarder sebagai pengangkut (carrier) atau pengelola angkutan multimodal.
Bank juga akan menerima dokumen menunjukan nama pengangkut
(carrier) atau pengelola angkutan multimodal dan ditanda tangani dan
disahkan oleh freight forwarder tersebut sebagai agen yang ditunjuk untuk
atau atas nama pengangkut (carrier) atau pengelola angkutan multimodal .

f. Klausa on deck, shippers load and count
Bank akan menerima suatu dokumen angkutan yang tidak
menunjukan, dalam hal angkutan laut atau lebih dari satu alat angkut
(modal transport) termasuk angkutan melalui laut, bahwa barang-barang
tersebut dimuat atau akan dimuat diatas geladak. Meskipun demikian, bank
akan menerima dokumen angkutan yang berisikan catatan bahwa barang-
barang tersebut boleh diangkut di atas geladak, asal saja dokumen tersebut
tidak secara khusus menyebutkan bahwa barang-barang tersebut dimuat
atau akan dimuat di atas geladak .
Demikian juga dokumen yang memiliki klausula seperti shippers load
and count atau said by shipper to contain atau kata-kata yang memiliki
akibat serupa, serta dokumen yang menunjukan bahwa pengirim barang
merupakan pihak lain yang bukan beneficiary kredit tersebut.

g. Dokumen Angkutan Yang Tidak Cacat
Clean transport document (dokumen angkutan yang tidak cacat)
adalah dokumen yang tidak mencantumkan klausula atau catatan yang
menyatakan secara jelas kondisi barang atau kemasan yang cacat.
Bank akan menolak dokumen angkutan yang memuat klausula atau
catatan dimaksud kecuali kredit secara jelass menyatakan klausula atau
catatan yang dimaksud dapat diterima. Demikian pula bank akan
menganggap suatu persyaratan dalam suatu kredi yang mengharuskan
dokumen angkutan mencantumkan klausula clean on board telah
terpenuhi apabila dokumen angkutan tersebut memenuhi persyaratan
mengenai clean transport document yang diatur dalam pasal 32 UCP500 ini.
Selain itu juga harus memenuhi peraturan sebagaimana diatur dalam pasal
23 (mengenai marine/ocean bill of lading), pasal 24 (non negotiable sea way
bill), pasal 25 (charter party bill of lading), pasal 26 (multimodal transport),
pasal 27 (dokumen angkutan udara), pasal 28 (dokumen angkutan jalan,
kereta api atau jalan air), serta pasal 30 (dokumen yang diterbitkan freight
forwarder).













BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hukum Transportasi Laut
Hukum laut terdiri dari dua kata yakni hukum dan laut. Jadi hukum laut
adalah hukum yang mengenai laut, baik bersifat publik, maupun bersifat ke
perdataan . Hukun laut bersifat publik kalau menyangkut masalah umum,
sebaliknya hukum laut bersifat perdata apabila menyangkut perseorangan.
Khusus mengenai pengangkutan laut tidak jumpai definisinya dalam KUHD.
Namun dalam PP No. 17 tahun 1988 di jumpai mengenai pengangkutan laut.
Hukum Transportasi Darat
Transportasi ini akan menjamin kelancaran lalu lintas barang dalam
perdagangan nasional maupun internasional dan menjamin hak kepemilikan atas
barang dengan pengeluaran dokumen pengapalan yang sangat vital seperti bill
of lading, airways bill dan lain-lain .
Hukum Transportasi Udara
Aturan internasional yang mengaur mengenai pengangkutan melalui udara












DAFTAR PUSTAKA

HMN. Poerwosutjipto. 2000. Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia Hukum
Pelayaran Laut dan Perairan Darat. Jakarta: Djambatan
Widjaja, Gunawan. Ahmad Yani. 2003. Seri Hukum Bisnis Transaksi Bisnis Internasional
(Ekspor-Impor & Imbal Beli). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
HMN. Poerwosutjipto. 1995. Pengertian Pokok Hukum Dagang. Pengetahuan Dasar
Hukum Dagang. Jakarta: Djambatan.
Asyhadie, Zaeni. 2005. Hukum Bisnis Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia. Jakarta:
PT Raja Grafindo
Fuady , Munir. 1994. Hukum Bisnis dalam Teori dan Praktik. Bandung: Citra Aditya Bakti
Sumantoro. 1990. Pengantar Tentang Pasar Modal di Indonesia. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada
Abdul khadir Muhammad. 1999. Hukum Perusahaan Indonesia. Bandung: Citra Aditya
Bakti.
www.google.com