Anda di halaman 1dari 11

1

Referat Pediatri Sosial dan Tumbuh Kembang Kepada. Yth.


Ronaldi Noor Di Tempat
Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan Anak
A. Pendahuluan
Proses tumbuh kembang anak dapat berlangsung secara alamiah, tetapi proses
tersebut sangat tergantung kepada orang tua. Ahli tumbuh kembang telah lama
menyepakati konsep kognisi dan pembelajaran anak tergantung dari interaksi sosial
dengan orang dewasa dan telah diteliti pola asuh khusus yang memaksimalkan
kemampuan kognitif anak. Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa
balita. Karena pada masa ini pertumbuhan dasar akan mempengaruhi dan menentukan
perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini perkembangan kemampuan
berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional, dan intelegensia berjalan sangat
cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Perkembangan moral serta
dasar-dasar kepribadian juga dibentuk pada masa ini. Pada masa periode kritis ini,
diperlukan rangsangan atau stimulasi yang berguna agar potensinya berkembang.
Perkembangan anak akan optimal bila interaksi diusahakan sesuai dengan kebutuhan
anak pada berbagai tahap perkembangannya, bahkan sejak bayi masih dalam
kandungan.
1,2

Perhatian dan concern pada perkembangan bahasa dini sangat penting dalam
pengasuhan anak. Kemampuan bahasa dini sangat mempengaruhi perkembangan
secara umum, termasuk keberhasilan di sekolah dan kehidupan selanjutnya.
Kemampuan berbahasa dan kognitiv dibutuhkan dalam hal akademik sebelum mereka
memasuki sekolah formal. Anak yang tidak siap untuk sekolah pada usia 6 tahun
lebih beresiko mengalami masalah akademik, kepercayaan diri, depresi, isolasi sosial
dan masalah kesehatan. Pola asuh yang efektif adalah faktor penting dalam
pencapaian perkembangan anak yang optimal. Stimulasi yang diberikan orang tua,
seperti bicara dan bermain, sangat penting dalam perkembangan bahasa dan
2

kemampuan kognitif.
3,4
Hasil dari program bantuan secara dini untuk anak cacat
memberikan bukti bahwa investasi pada masa bayi dan balita mempengaruhi
kemampuan anak yang dapat bertahan selamanya.
5


B. Tumbuh Kembang Anak dan Faktor- Faktor yang Mempengaruhinya
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran-ukuran fisik anak, terutama tinggi
(panjang) badan. Berat badan lebih erat kaitannya dengan status gizi dan
keseimbangan cairan (dehidrasi, retensi cairan), namun dapat digunakan sebagai data
tambahan untuk menilai pertumbuhan anak. Pertambahan lingkar kepala juga perlu
dipantau, karena dapat berkaitan dengan perkembangan anak.
6,7
Perkembangan
adalah bertambahnya kemampuan fungsi-fungsi individu antara lain: kemampuan
gerak kasar dan halus, pendengaran, penglihatan, komunikasi, bicara, emosi- sosial,
kemandirian, intelegensia2-8 bahkan perkembangan moral.
8,9
Faktor penentu kualitas tumbuh kembang anak adalah potensi genetik-heredo
konstituinal (intrinsik) dan peran lingkungan (ekstrinsik). Gangguan tumbuh
kembang terjadi bila ada faktor genetik dan atau karena faktor lingkungan yang tidak
mampu mencukupi kebutuhan dasar tumbuh kembang anak. Peran lingkungan sangat
penting untuk mencukupi kebutuhan dasar tumbuh kembang anak yaitu kebutuhan
bio-psikosial terdiri dari kebutuhan biomedis/asuh (nutrisi, imunisasi, higiene,
pengobatan, pakaian, tempat tinggal, sanitasi lingkungan dan lain-lain) dan kebutuhan
psikososial/asih dan asah (kasih sayang, penghargaan, komunikasi, stimulasi bicara,
gerak, sosial, moral, intelegensi dan lain-lain) sejak masa konsepsi sampai akhir
remaja. Ibu (atau pengganti ibu) merupakan lingkungan pertama dan paling erat sejak
janin di dalam kandungan (bahkan sampai remaja) oleh karena itu disebut lingkungan
mikro, Ayah, kakak, adik, nenek-kakek, pengasuh, status sosial ekonomi berupa
sarana di dalam rumah, sanitasi, sarana bermain, nilai-nilai, aturan-aturan, dan lain-
lain merupakan lingkungan berikutnya dan dinamakan lingkungan mini.
9-11
3

Hal-hal di luar rumah, sanitasi lingkungan, polusi, tetangga, teman bermain,
sarana pelayanan kesehatan, sarana pendidikan formal dan non formal, sarana
bermain, adat-budaya, dan lain-lain merupakan lingkungan meso yang secara
langsung atau tak langsung dapat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
Program pemerintah, organisasi profesi, perguruan tinggi, LSM, kebijakan
internasional WHO, Unicef dan lain-lain merupakan lingkungan makro yang secara
tidak langsung dapat berperan pada tumbuh kembang anak. Bayi dan balita terutama
sangat dipengaruhi oleh lingkungan mikro (ibu) dan mini (keluarga), walaupun
lingkungan meso dan makro juga berpengaruh. Semakin tua umur anak maka
semakin luas dan semakin kompleks pengaruh bio-psikososial dari lingkungan
terhadap tumbuh kembangnya.
10,11
Perkembangan anak juga dipengaruhi oleh stimulasi dan psikologis.
Rangsangan/stimulasi khususnya dalam keluarga, misalnya dengan penyediaan alat
mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain akan
mempengaruhi anak dlam mencapai perkembangan yang optimal. Seorang anak yang
keberadaannya tidak dikehendaki oleh orang tua atau yang selalu merasa tertekan
akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan perkembangan.
12

C. Defenisi Pola Asuh
Pengasuhan adalah orang yang melaksanakan tugas membimbing, memimpin,
atau mengelola. Menurut Darajat mengasuh anak maksudnya adalah mendidik dan
memelihara anak itu, mengurus makan, minum, pakaiannya, dan keberhasilannya dalam
periode yang pertama sampai dewasa. Dengan pengertian diatas dapat dipahami bahwa
pengasuhan anak yang dimaksud adalah kepemimpinan, bimbingan, yang dilakukan
terhadap anak berkaitan dengan kepentingan hidupnya.
13

Pengertian pola asuh orang tua terhadap anak merupakan bentuk interaksi antara
anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan yang berarti orang tua
mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai
kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan setempat dan
masyarakat. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga, mengajar,
4

mendidik, serta memberi contoh bimbingan kepada anak-anak untuk mengetahui,
mengenal, mengerti, dan akhirnya dapat menerapkan tingkah laku yang sesuai dengan
nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Pola asuh yang ditanamkan tiap
keluarga berbeda dengan keluarga lainnya. Hal ini tergantung dari pandangan pada diri
tiap orang tua.
14

D. Tipe Pola Asuh
Orang tua mempunyai berbagai macam fungsi yang salah satu diantaranya
mengasuh putra-putrinya. Dalam mengasuh anak, orang tua dipengaruhi oleh budaya
yang ada dilingkungannya. Disamping itu, orang tua diwarnai oleh sikap-sikap tertentu
dalam memelihara, membimbing, dan mengarahkan putra-putrinya. Sikap tersebut
tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang berbeda-beda, karena orangtua
mempunyai pola pengasuhan tertentu. Tipe pola asuh terdiri dari dua dimensi perilaku
yaitu Directive Behavior dan Supportive Behavior. Directive Behavior melibatkan
komunikasi searah di mana orangtua menguraikan peran anak dan memberitahu anak apa
yang harus mereka lakukan, di mana, kapan, dan bagaimana melakukan suatu tugas.
Supportive Behavior melibatkan komunikasi dua arah di mana orang tua mendengarkan
anak, memberikan dorongan, membesarkan hati, memberikan teguran positif dan
membantu mengarahkan perilaku anak.
13

Menurut Bernhard sebagai pengasuh dan pembimbing dalam keluarga, orang tua
sangat berperan dalam meletakkan dasar-dasar perilaku bagi anaknya. Orang tua juga
dapat merealisasikan dan menciptakan situasi dan kondisi yang dihayati anak-anaknya
agar memiliki dasar-dasar dalam pengembangan diri. Dengan upaya ini berarti orang tua
telah merealisasikan pelaksanaan undang-undang No.11 tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (UUSPN) yang menyebutkan pendidikan dalam keluarga
memberikan keyakinan agama, nilai budaya yang mencakup nilai moral dan aturan-
aturan pergaulan serta pandangan, ketrampilan, dan sikap hidup yang mendukung
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara kepada anggota keluarga yang
bersangkutan.
Menurut Wayson anak yang disiplin diri memiliki keteraturan diri berdasarkan
nilai agama, nilai budaya, aturan-aturan pergaulan, pandangan hidup, dan sikap hidup
5

yang bermakna bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan Negara. Artinya, tanggung
jawab orang tua adalah mengupayakan agar anak berdisiplin diri untuk melaksanakan
hubungan dengan Tuhan yang menciptakannya, dirinya sendiri, sesama manusia, dan
lingkungan alam dan mahkluk hidup lainnya berdasarkan nilai moral. Orang tua yang
mampu berprilaku seperti diatas, berarti mereka telah mencerminkan nilai-nilai moral dan
bertanggung jawab untuk mengupayakannya.
13

Beberapa pendapat mengenai tipe pola asuh orang tua diantaranya sebagai
berikut
13,14
:
a. Tipe pola asuh menurut Baumrind terdiri dari dua tipe yaitu:
1. Pola Asuh Otoriter
Menurut Baumrind pola asuh otoriter adalah bentuk pola asuh yang
menekankan pada pengawasan orangtua atau kontrol yang ditujukan kepada anak
untuk mendapatkan ketaatan dan kepatuhan. Pola asuh otoriter adalah
pengasuhan yang kaku, dictator, dan memaksa anak untuk selalu mengikuti
orangtua tanpa banyak alasan. Perilaku orangtua dalam berinteraksi dengan anak
bercirikan tegas, suka menghukum, anak dipaksa untuk patuh terhadap aturan-
aturan yang diberikan oleh orangtua tanpa merasa perlu menjelaskan kepada anak
apa guna dan alasan dibalik aturan tersebut, serta cenderung mengekang
keinginan anaknya. Pola asuh otoriter dapat berdampak buruk pada anak, yaitu
anak merasa tidak bahagia, ketakutan, tidak terlatih untuk berinisiatif ( kurang
berinisiatif), selalu tegang, cenderung ragu, tidak mampu menyelesaikan masalah
(kemampuan problem solving-nya buruk), kemampuan komunikasinya buruk
serta mudah gugup, akibat seringnya mendapat hukuman dari orang tua. Anak
menjadi tidak disiplin dan nakal, pola asuh seperti ini anak diharuskan untuk
berdisiplin karena keputusan dan peraturan ada ditangan orang tua.

2. Pola Asuh Demokratis
Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang bercirikan adanya hak dan
kewajiban orang tua dan anak adalah sama dalam arti saling melengkapi, anak
dilatih untuk bertanggung jawab dan menentukan perilakunya sendiri agar dapat
berdiplin. Menurut Shochib orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis
6

banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk berbuat keputusan secara
bebas, berkomunikasi dengan lebih baik, mendukung anak untuk memiliki
kebebasan sehingga anak mempunyai kepuasan sedikit menggunakan hukuman
badan untuk mengembangkan disiplin. Pola asuh demokratis dihubungkan
dengan tingkah laku anak-anak yang memperlihatkan emosional positif, sosial,
dan pengembangan kognitif.
Teori sistem keluarga menjelaskan bahwa penting di dalam sosialisasi
seorang anak tidak hanya erat hubungan dengan keluarga, tetapi keseluruhan
kombinasi dari tingkah laku tersebut. Orang tua mempunyai berbagai macam
fungsi yang salah satu diantaranya ialah mengasuh putra-putrinya. Dalam
mengasuh anak, orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungannya.
Di samping itu, orang tua diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara,
membimbing dan mengarahkan putra-putrinya. Sikap tersebut tercermin dalam
pola pengasuhan kepada kepada anaknya yang berbeda-beda, karena orang tua
mempunyai pola asuhan tertentu. Pola asuhan itu menurut Baumrind terdiri dari
tiga tipe, otoriter, demokratis, dan permissive .Kemudian tiga pengasuhan ini
dikembangkan oleh Maccoby dan Martin dengan menambah tipe pola asuh yang
keempat, yaitu uninvolved parenting

b. Tipe Pola Asuh menurut Hoffman, terdiri atas tiga tipe yaitu
13,14
:

1. Pola asuh bina kasih
Adalah suatu teknik disiplin dimana orangtua memberi penjelasan atau alasan
mengapa anak harus mengubah perilakunya. Pada tipe asuh seperti ini dijumpai
perilaku orang tua yang directive dan supportive tinggi.

2. Pola asuh unjuk kuasa
Adalah perilaku orangtua tertentu yang menghasilkan tekanan-tekanan
eksterivenal pada anak agar mereka berperilaku sesuai dengan keinginan
orangtua. Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orangtua yang directive-nya
tinggi dan supportive rendah.
7

3. Pola asuh lepas kasih
Adalah pertanyaan-pertanyaan nonfisik dari rasa dan sikap tidak setuju orangtua
terhadap perilaku anak dengan implikasi tidak diberikannya lagi kasih saying
sampai anak merubah perilakunya. Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku
orangtua yang directive dan supportive rendah.

c. Tipe Pola Asuh menurut Hersey dan Blanchard terdiri dari empat tipe yaitu:

1. Telling
Perilaku orang tua yang directive-nya tinggi dan supportive rendah disebut
dengan telling, karena dikarasteristikkan dengan komunikasi satu arah antara
orangtua dengan anak. Di mana orang tua menentukan peran anak dan
mengatakan apa, bagaimana, kapan dan di mana anak harus melakukan berbagai
tugas.

2. Selling
Perilaku orang tua yang directive dan supportive tinggi disebut dengan selling,
karena sebahagian besar arahan yang ada diberikan oleh orang tua. Orang tua
juga berusaha melalui komunikasi dua arah yang membolehkan anak untuk
mengajukan pertanyaan dan memberikan dukungan serta dorongan.

3. Participating
Perilaku orangtua yang directive-nya rendah dan supportive tinggi disebut
participating, karena orangtua dan anak saling berbagi dalam membuat keputusan
melalui komunikasi dua arah. Anak memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk
berbagi ide tentang bagaimana suatu masalah itu dipecahkan dan membuat
kesepakatan dengan orangtua apa yang harus dilakukan.

4. Delegating
Perilaku orangtua yang directive dan supportive rendah disebut dengan
delegating, karena meskipun orang tua tetap menetapkan apa yang harus
8

dilakukan dalam menghadapi suatu masalah, namun anak diperbolehkan untuk
menjalankan apa yang diinginkannya dan memutuskan kapan, di mana dan
bagaimana mereka melakukan satu hal.

Konsep dari keempat pola ini mempunyai arti yang sama dengan ketiga pola
asuh yang dikemukakan oleh Baumrind yaitu pola asuh otoriter, demokrasi, dan
permessive (, serta neglectful oleh Maccoby dan Martin.

E. Dampak Pola Asuh terhadap Perkembangan Anak
Pola asuh berhubungan dengan perkembangan anak. Dalam sebuah penelitian
skala besar yang melibatkan 12.500 keluarga dan anak-anak yang lahir antara tahun
1991-1992. Penelitian ini menemukan bahwa
15
:
1. Frekuensi interaksi ibu-anak signifikan meningkatkan skor perkembangan
motorik kasar dan motorik halus di masa depan (future fine and gross
development)
2. Stimulasi yang sering di lingkungan rumah signifikan meningkatkan
perkembangan motorik kasar-halus dan social.
3. Aktivitas di luar rumah juga meningkatkan skor perkembangan motorik halus
dan social di masa depan.
Anak dengan orangtua yang sering membawa anaknya beraktifitas di luar
memiliki tingkatan perkembangan motorik halus dan social yang baik. Tingkatan
interaksi anak-orangtua tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan ukuran
perkembangan saat ini tapi memiliki efek pada perkembangan masa depan dari
motorik kasar dan halus. Sebaliknya, lingkungan rumah memiliki hubungan
signifikan dengan perkembangan social, motorik halus, dan motorik kasur. Namun,
tidak ada asosiasi signifikan terhadap perkembangan di masa depan. Hubungan antara
lingkungan rumah dan perkembangan anak berjalan secara kontemporer. Kesimpulan
penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
15


9

Tabel 1. Pengaruh Pola Asuh dan Keterlibatan orang tua pada Perkembangan
Anak
15



Terdapat perubahan keterlibatan orangtua dengan anaknya berdasarkan
perubahan waktu. Interaksi ibu-anak meningkat pada periode 6-38 bulan dan kembali
stabil dari 38-42 bulan. Tingkat pemberian pendidikan dan stimulasi di rumah
meningkat dari 6-38 bulan dan stabil pada 30-42 bulan. Namun, aktivitas di luar
menurun pada periode yang sama, turun pada periode 6-18 bulan sebelum kembali
sedikit. Pada penelitian lain ditemukan bahwa ibu dengan pendidikan dan pendapatan
keluarga yang lebih tinggi lebih berinteraksi dengan anak-anak mereka, melakukan
kegiatan luar dengan mereka dan memberikan lingkungan rumah yang menstimulai
daripada ibu dengan pendidikan kurang dan pendapatan rumah tangga yang lebih
rendah,seperti terlihat di tabel 2.
15












10

Tabel 2. Pengaruh pola asuh dan factor-faktor yang terlibat
15





















11

Daftar Pustaka
1. Drob EM, Harden KP. Early Childhood Cognitive Development and Parental
Cognitive Stimulation: Evidence for Reciprocal Gene-Environment
Transactions. Dev Sci 2012; 15(2): 2509.
2. Kania N. Stimulasi Tumbuh Kembang Anak untuk Mencapai Tumbuh
Kembang yang Optimal. Sari Pediatri 2005;2:1-10
3. Hart B, Riesly TR. Meaningful Differences in the Everyday Experience of
Young American Children. Baltimore, MD: Brookes; 2005.
4. Tamis-LeMonda CS, Shannon JD, Cabrera NJ, Lamb ME. Fathers and
mothers at play with their 2- and 3-year-olds: contributions to language and
cognitive development. Child Dev. 2004;75(6):1806 1820
5. Fenichel E, Mann TL. Early Head Start for low-income families with infants
and toddlers. Future Child. 2001;11(1):134 141
6. Needlman RD. Growth and development. Dalam: Behrman dkk, penyunting.
Nelson Textbook of Pediatrics; edisi-16. Tokyo: Saunders, 2000. h. 23-65.
7. Hagerman RJ. Growth & development. Dalam: Hay WW dkk, penyunting.
Current pediatric diagnosis & treatment; edisi-12. Connecticut: Prentice-Hall,
1995.h. 65-84.
8. Berk LE. Child development; edisi-5. Singapore: Allyn and Bacon, 2000. h.
479-519.
9. Sularyo TS. Periode kritis pada tumbuh kembang balita. Dalam: Sularyo TS
dkk, penyunting. Deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang
anak dalam upaya optimalisasi kualitas sumber daya manusia. Naskah
lengkap PKB IKA FKUI; 21-23 November 1996. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI, 1996.
10. Ismael S. Tumbuh kembang anak dalam pencapaian potensi sumber daya
manusia yang tangguh. Pidato pengukuhan guru besar FKUI. Jakarta: FKUI,
1991.
11. Kobayashi N. Biological basis of social pediatrics, a view of system theory
and ecology. Bull Int Pediat Ass 1985; 3:197-201.
12. Chamidah AN. Deteksi Dini Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan
Anak. Sari Pediatri 2008;10:1-8
13. Schochib. Pola Asuh Orang Tua Untuk Membantu Anak Mengembangkan
Disiplin Diri, 1998. Jakarta : Rineka Cipta.
14. Gunarsa, Singgih. Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga. BPK
Jakarta: Gunung Mulia, 2000. h 86-9
15. Gutman LM, Fonstein L. Parenting Behaviours and Childrens Development
from Infancy to Early Childhood: Changes, Continuities, and Contributions.
Centre for Research on the Wider Benefits of Learning 2007;2:1-25