Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

PENGEMBANGAN MASYARAKAT

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SUSTAI NABLE DEVELOPMENT) DI DALAM
CONTOH PENGEMBANGAN MASYARAKAT
Makalah ini disusun untuk memenuhi nilai ujian tengah semester mata kuliah Pengembangan
Masyarakat







Disusun oleh :
Tegar Perkasa 170510100055



JURUSAN ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2013
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pada zaman yang sudah termakan oleh modernisasi dan globalisasi, keadaan ini memaksa
masyarakat yang hidup pada zaman itu harus berpikir untuk membuat dan memecahkan segala
sesuatu dengan efektif dan efisien.
Pembangunan merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan masyarakat, baik dari
pola pikir maupun dari kebiasaannya. Salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam
pengembangan masyarakat adalah pembangunan yang berkelanjutan. Dengan ini, suatu
masyarakat memiliki peluang untuk menyetarakan pola pikir dan kebiasaannya pada tahap
modernisasi dan globalisasi.
Pada makalah ini akan dicantumkan beberapa contoh pengembangan masyarakat dilihat
dari sisi pengembangan pola pikir, kebiasaan dan pengembangan fisik. Contoh-contoh
pengembangan masyarakat tersebut akan dilihat penerapan dan bentuknya berdasarkan pada
konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Berdasarkan hal tersebut, kita
dapat melihat keberlanjutan dari suatu upaya pengembangan masyarakat.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, penulis merumuskan beberapa pertanyaan penelitian
terkait dengan tema penelitian pada makalah ini, pertanyaan penelitian tersebut antara lain :
1. Apa saja contoh pengembangan masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan konsep
pembangunan berkelanjutan?
2. Bagaimana penerapan konsep pembangunan berkelanjutan pada contoh-contoh
pengembangan masyarakat tersebut?

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Makalah ini akan mengkaji tentang contoh-contoh kongkrit dari pengembangan
masyarakat dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Makalah ini bertujuan untuk
menjelaskan dan memperlihatkan :
1. Contoh-contoh dari pengembangan masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan
konsep pembangunan berkelanjutan
2. Bentuk penerapan konsep pembangunan berkelanjutan pada contoh-contoh
pengembangan masyarakat tersebut
Dengan kata lain, makalah ini bermanfaat sebagai salah satu sumber refrensi dalam
mengkaji penerapan pembangunan berkelanjutan dalam contoh-contoh pengembangan
masyarakat di tempat lain.












BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Konsep Pembangunan Berkelanjutan
Dalam suatu pengembangan masyarakat, salah satu hal penting yang harus diperhatikan
adalah keberlanjutan dari suatu upaya pengembangan masyarakat tersebut. Keberlanjutan ini
menjadi salah satu faktor penting karena hal ini menjadi indikator dari suatu upaya
pengembangan masyarakat.
Menurut World Commision of Environment and Development (WCED), pembangunan
berkelanjutan didefinisikan sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan sekarang tanpa
mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya (WCED,
1987) (dalam Iskandar, 2009 : 40). Secara eksplisit definisi pembangunan berkelanjutan secara
luas terdiri dari 3 aspek prinsip, yaitu ekologi, ekonomi, dan sosial dengan aspek ekologi dan
ekuitas sosial merupakan aspek utama (Iskandar, 2009 : 3).
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, pembangunan berkelanjutan dalam suatu
pengembangan masyarakat dapat terwujud apabila ketiga aspek prinsip seperti aspek ekologi,
ekonomi dan sosial dapat terpenuhi. Oleh karena itu makalah ini akan memperlihatkan
penerapan pembangunan berkelanjutan dalam contoh-contoh pengembangan masyarakat dengan
memperhatikan aspek ekologi, ekonomi dan sosialnya.

2.2. Contoh-Contoh dari Pengembangan Masyarakat
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa makalah ini akan menunjukan contoh-
contoh dari pengembangan masyarakat berupa resensi maupun gambaran umum dari suatu upaya
pengembangan masyarakat. Contoh pengembangan masyarakat yang akan ditunjukan dalam
makalah ini berupa pengembangan masyarakat dari aspek fisiknya dan aspek pola pikir
masyarakatnya. Berikut adalah contoh-contoh dari pengembangan masyarakat tersebut :

2.2.1. Artikel Dukungan Program Pengembangan Desa Mandiri Energi (DME) Di
Propinsi Sumatera Utara Melalui Percepatan Difusi dan Pemanfaatan Teknologi
Biobriket dari Limbah Padat Industri Pengelolahan Kelapa Sawit dalam
penelitian Bagus Giri Yudanto

Pemanfaatan biomasa sawit sebagai energi alternatif oleh masyarakat di sekitar
industri perkebunan kelapa sawit belum banyak digunakan. Padahal paket teknologi
yang dihasilkan oleh institusi penelitian dan pengembangan sudah banyak. Tujuan dari
kegiatan ini adalah melakukan transfer paket teknologi konversi energi cangkang
kelapa sawit kepada masyarakat di sekitar industri perkebunan kelapa sawit secara
sistimatis guna mendukung program pemerintah dalam hal pengembangan program
Desa Mandiri Energi (DME) di Provinsi Sumatra Utara. Diharapkan kegiatan ini dapat
memberikan dampak nyata dan berdaya guna bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat
di sekitar industri perkebunan kelapa sawit.
Pelaksanaan difusi teknologi dilakukan melalui pendekatan proaktif dan
partisipatif dengan sasaran pengambil kebijakan dan pengguna paket teknologi. Hasil
kegiatan difusi paket teknologi biobriket yang dilaksanakan di 2 lokasi, yaitu PT.
Perkebunan Nusantara (PTPN) II dan IV di Provinsi Sumatra Utara menunjukkan
bahwa masyarakat merespon dengan antusias introduksi paket teknologi yang
didifusikan.
Hal ini mengingat bahwa untuk memenuhi kebutuhan energi pada skala rumah
tangga (rata-rata 90.000 Kcal/bulan/KK, dengan asumsi 1 KK berjumlah 4 orang)
mereka mengeluarkan biaya relatif lebih murah sekitar Rp12.500,untuk pembelian 25
kg cangkang sawit dibandingkan pembelian LPG 8 kg sekitar Rp40.800,- dan minyak
tanah 12 L dengan nilai Rp106.500,-. Selain murah, untuk mendapatkan cangkang
sawit juga relatif lebih mudah dibandingkan bahan bakar LPG dan minyak tanah.
Saat ini model kelembagaan yang telah dibangun untuk pengembangan
Program DME di Provinsi Sumatra Utara telah diusulkan dalam kegiatan Sistim
Inovasi Daerah (SiDa) Provinsi Sumatra Utara dan akan menjadi prioritas program
utama.
2.2.2. Artikel Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Di Daerah Rawan Longsor
Lahan (Studi Kasus di Pegunungan Menoreh Kabupaten Kulonprogo DIY)
dalam penelitian Kuswaji Dwi Priyono

Daerah pegunungan merupakan daerah yang potensial untuk kegiatan
pertanian, namun mempunyai kendala adanya ancaman erosi dan longsorlahan.
Karakteristik wilayahnya yang berpegunungan dengan kemiringan lereng lebih 40%
dan sifat tanah yang sedang berkembang memerlukan perlakuan khusus dalam
pengelolaan lahannya dengan menerapkan pembangunan pertanian yang
berkelanjutan.
Titik-titik kejadian bencana longsorlahan di Pegunungan Menoreh Kabupaten
Kulonprogo justru terjadi pada luasan lahan dengan kerapatan vegetasi yang relatif
tinggi. Jenis vegetasi yang dominan pada titik kejadian longsorlahan tersebut adalah
sengon laut dan maoni. Jenis tanaman tersebut merupakan tanaman yang bernilai
ekonomi tinggi yang dibutuhkan dalam jumlah besar oleh industri kertas dan meabel.
Orientasi bisnis inilah yang menyebabkan penduduk menanamnya dengan
kerapatan tinggi, namun tanaman dengan kerapatan yang tinggi ini menyebabkan
beban massa tanah di lahan yang miring tersebut menjadi meningkat selanjutnya
memicu terjadinya bencana longsorlahan.
Masalah tersebut memerlukan tinjauan ulang sistem pertanian yang
berorientasi bisnis (agribisnis) menjadi agriculture yang dikenal sebagai pertanian
berkelanjutan. Pertanian yang berkelanjutan ini adalah tanaman yang mempunyai
sistem perakaran dalam yang dapat mencegah longsor, namun tetap memungkinkan
petani melakukan kegiatan pertanian musimannya.
Pegunungan Menoreh dahulu dikenal sebagai penghasil buah duren dan
manggis, serta pertanian lahan kering dengan ketela pohon dan umbi-umbian harus
diusahakan kembali karena merupakan keunggulan local agriculture di daerah rawan
bencana longsor.



2.2.3. Artikel Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan PLTMH Di Desa Depok
Kecamatan Lebakbarang Kabupaten Pekalongan dalam penelitian Ahmad
Alfiyan Ariwibowo dkk.


Cadangan energi Indonesia dari bahan bakar fosil hanya dapat bertahan
beberapa puluh tahun lagi. Jika tidak ada efisiensi maka cadangan tersebut akan lebih
cepat habis. Perlu dipikirkan alternatif energi yang sifatnya terbarukan.
Desa-desa terpencil memiliki potensi sumberdaya air yang dapat
dikembangkan menjadi pembangkit skala kecil. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro
Hidro (PLTMH) merupakan salah satu alternatif solusi yang dapat menembus
keterbatasan akses transportasi, teknologi hingga biaya. Partisipasi masyarakat yang
kurang aktif dalam pengelolaan PLTMH mengakibatkan adanya friksi di masyarakat
yang pada akhirnya dapat mengganggu layanan listrik dan keberlanjutan PLTMH. Di
samping itu masyarakat tidak memperoleh transfer of knowledge.
Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengelolaan PLTMH,
partisipasi masyarakat dan pengelolaan lingkungan pada PLTMH di Desa Depok
Kecamatan Lebakbarang Kabupaten Pekalongan Provinsi Jawa Tengah yang
beroperasi mulai tahun 2008. Jenis penelitian ini adalah kualitatif.
Data diperoleh melalui kuesioner, wawancara dan observasi langsung. Hasil
penelitian didapat bahwa PLTMH di Desa Depok sudah tidak beroperasi melayani
pelanggan karena generator dan panel listrik sudah rusak sejak juli 2010.
Kerusakan disebabkan penggunaan arus listrik yang berlebihan (overload).
Partisipasi masyarakat pada pengelolaan PLTMH di Desa Depok pada saat
perencanaan berada di level consultation, pembangunan berada di level manipulation,
pengelolaan berada di level citizen control, monitoring dan evaluasi berada di level
manipulation.
Pengelolaan lingkungan dilakukan dengan berusaha menghasilkan
limbah/pencemar yang sedikit. Kegiatan PLTMH dapat membuat masyarakat untuk
selalu menjaga lingkungan. Pengelolaan PLTMH di Desa Depok disarankan agar
dijalankan pengawasan oleh beberapa tokoh masyarakat yang ditunjuk dan peraturan
yang tegas agar dapat berkelanjutan.
BAB III
PENUTUP
3.1. Analisis
Suatu upaya pengembangan masyarakat memiliki metodenya masing-masing agar dapat
dilaksanakan dan diterima oleh suatu masyarakat. Biasanya, pengembangan masyarakat
menggunakan pendekatan sustainable development dalam merancang dan melaksanakan
program pengembangan masyarakat tersebut. Maksudnya adalah program pengembangan
masyarakat tersebut memiliki ketiga aspek prinsip sustainable development dalam rancangan dan
pelaksanaan program tersebut. Aspek ekologi, ekonomi, dan sosial harus berjalan beriringan dan
selalu bersinergi agar suatu pengembangan masyarakat dapat berjalan secara berkelanjutan.
Apabila salah satu aspek saja tidak terpenuhi maka pengembangan masyarakat tersebut tidak bisa
dibilang berjalan secara berkelanjutan.
Mungkin terlalu awal untuk menyimpulkan ketiga artikel pengembangan masyarakat
yang ada dalam makalah ini berjalan secara berkelanjutan atau tidak. Namun, penulis hanya
mencoba untuk menjelaskan aspek ekologi, ekonomi dan sosial yang terdapat dalam artikel-
artikel tersebut.
Aspek sosial yang terdapat dalam ketiga artikel tersebut dapat dilihat dari keterlibatan
masyarakat dalam upaya pengembangan masyarakat tersebut. Dalam kasus artikel 2.2.1,
masyarakat yang terlibat adalah pengambil kebijakan dan pengguna paket teknologi. Pada kasus
artikel 2.2.2, masyarakat yang terlibat yaitu petani di pegunungan Menoreh. Sedangkan
masyarakat yang terlibat dalam kasus artikel 2.2.3 yaitu warga desa Depok Kecamatan
Lebakbarang Kabupaten Pekalongan Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, hal-hal yang terdapat
aspek sosial seperti interaksi, relasi, status sosial dan lain-lain.
Aspek ekologi yang dimaksud dalam sustainable development adalah pemanfaatan,
pengelolaan dan ketersediaan SDA bagi masa sekarang dan masa depan. Dalam kasus artikel
2.2.1, aspek ekologi yang dikelola adalah daur ulang limbah padat industri kelapa sawit menjadi
biobriket. Pada kasus artikel 2.2.2, aspek ekologi yang dikelola adalah pemanfaatan lahan
pertanian pada lahan miring. Sedangkan aspek ekologi yang terdapat pada kasus artikel 2.2.3
adalah pemanfaatan air dalam PLTMH.

Aspek ekonomi yang dimaksud dalam dalam sustainable development ini adalah
kemandirian dalam bidang finansial setelah partisipasi masyarakat dalam mengelola SDA namun
tetap memperhatikan kelestarian untuk masa yang akan datang. Finansial yang terdapat pada
kasus artikel 2.2.1 adalah biaya rumah tangga yang dikeluarkan menjadi lebih murah apabila
masyarakatnya terus memanfaatkan sumber energy alternative tersebut. Aspek ekonomi yang
terdapat pada kasus artikel 2.2.2 yaitu keuntungan yang dilakukan masyarakat apabila
melakukan pendekatan agribisnis pada pertanian mereka. Sedangkan aspek ekonomi yang
terdapat pada artikel 2.2.3 adalah dapat menekan biaya pengeluaran rumah tangga dalam hal
pengeluaran yang berhubungan dengan listrik dengan memanfaatkan PLTMH sebagai sumber
energy alternative bagi masyarakat.





















Daftar Pustaka

Ariwibowo, Ahmad Alfiyan dkk. 2012. Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan PLTMH Di
Desa Depok Kecamatan Lebakbarang Kabupaten Pekalongan. Semarang :
Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponogoro.
Iskandar, Johan. 2009. Ekologi Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan. Bandung : Program
Studi Magister Ilmu Lingkungan Universias Padjadjaran
Priyono, Kuswaji Dwi. 2010. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Di Daerah Rawan
Longsor Lahan (Studi Kasus di Pegunungan Menoreh Kabupaten Kulonprogo
DIY). Surakarta : Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Yudanto, Bagus Giri. 2012. Dukungan Program Pengembangan Desa Mandiri Energi (DME) Di
Propinsi Sumatera Utara Melalui Percepatan Difusi dan Pemanfaatan Teknologi
Biobriket dari Limbah Padat Industri Pengelolahan Kelapa Sawit. Prosiding
Insinas 2012. Hlm 49-55.

















LAMPIRAN




















Gambaran Aspek-Aspek Pembangunan Berkelanjutan
Salah Satu Bendungan PLTMH di Pekalongan
Pegunungan Menoreh dengan Pertaniannya