Anda di halaman 1dari 86

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

1
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
1. Daya dan Energi.
1.1.1. Energi
Energi listrik adalah kemampuan sistem listrik untuk melakukan kerja. Satuan pengukuran
energi listrik adalah J oule atau Watt jam. Disebut kerja (usaha) telah dilakukan, apabila
muatan sebesar Q Coulomb berpindah melalui perbedaan tegangan V Volt.
Work = V . Q J oule
Q = I . t Coulomb
atau W = V . I . t J oule
J adi, Energi = W = V . I . t J oule

1.1.2. Daya
Pengertian daya listrik adalah laju (rate) dari kerja yang dilakukan. Karena J oule adalah
satuan kerja, maka daya di ukur dalam J oule per detik. Istilah yang lebih umum untuk
satuan daya adalah Watt.
1 Watt = 1 J oule per detik
Energi atau Kerja (joule)
Sehingga Daya =
Waktu (detik)

V . I . t
P = Watt
t

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


2
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN

Dengan menggunakan formula hukum Ohm dapat diperluas menjadi,
P = V . I Watt
Karena V = I . R
V
2

maka P = I
2
. R atau P =
R

1.1.3. Macam Macam Beban.
Sebelum membahas macam-macam daya terlebih dahulu perlu diingat kembali perbedaan
antara arus searah (DC) dan arus bolak-balik (AC). Arus searah adalah arus yang arah maupun
harganya tetap terhadap waktu, contohnya batere atau aki. Arus bolak-balik adalah arus yang
arah dan harganya berubah-ubah terhadap waktu, lihat gambar 1.
Keluaran (output) alternator PLTU merupakan contoh arus bolak-balik. Perbedaan lain, bila
dilihat pada datanya adalah arus bolak-balik mempunyai frekuensi, sementara arus searah
frekuensinya tidak ada. Suatu peralatan listrik yang dialiri arus searah akan mengalami akibat
yang berbeda apabila dialiri arus bolak-balik. Secara umum jenis beban dalam rangkaian listrik
arus bolak-balik terdiri dari tiga, yaitu :
R (resistif)
L (induktif)
C (kapasitif)



Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


3
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
a. Rangkaian Resistif ( R )
Pada rangkaian resistif, tegangan sefasa dengan arus sehingga besarnya daya P =V . I.
Kurva daya selalu berada di atas nol (positif), lihat gambar 2. Di dalam rangkaian ini berlaku
hukum Ohm sebagaimana di dalam rangkai arus searah.







Gambar 1. Bentuk Arus Bolak-balik dan Arus Searah


Gambar 2. Kurva Daya Berbagi Beban

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


4
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
b. Rangkaian Induktif ( L )
Arus bolak-balik yang mengalir dalam rangkai induktif akan mengalami hambatan yang disebut
reaktansi induktif. Reaktansi induktif timbul akibat sifat arus bolak-balik. Suatu konduktor atau
kumparan apabila dialiri listrik akan timbul medan magnit disekelilingnya. Apabila harga dan
besarnya arus tersebut berubah-ubah sebagaimana pada arus bolak-balik, maka medan
magnitnya juga berubah-ubah (menguat-melemah). Perubahan ini menyebabkan garis-garis
gaya magnitnya memotong konduktor sehingga timbul gaya gerak listrik (ggl) induksi di
konduktor. Arah ggl ini selalu melawan gerakan arus yang menimbulkan medan magnit (hukum
Lenz), sehingga ggl induksi ini disebut ggl lawan. Sifat melawan arus yang menimbulkan ini
disebut induktansi dan rangkaiannya disebut induktif. Contoh beban induktif adalah
kumparan, motor, dan sebagainya. Di dalam rangkaian induktif bila arus naik, rangkaian
menyimpan energi di dalam medan magnit. Ketika arus turun rangkaian mengeluarkan energi
dari medan magnit. Oleh karena itu induktansi mempunyai pengaruh menginduksi ggl lawan
atau menunda perubahan arus. Akibatnya terjadi pergeseran fasa antara tegangan dan arus,
arus ketinggalan dari tegangan, lihat gambar 3.








Gambar 3. Rangkaian Induktif


Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


5
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Karena induktansi menyebabkan perlawanan terhadap aliran arus, maka disebut reaktansi
induktif dan diberi simbol X
L
. Reaktansi induktif tidak hanya tergantung pada induktansi, tetapi
juga pada frekuensi pasoknya. Besarnya reaktansi induktif adalah :
X
L
= 2 f . L
dimana
f = Frekuensi (Hz)
L = Induktansi (Henry)
c. Rangkaian kapasitif ( C ).
Apabila di dalam rangkaian induktif bersifat menghambat perubahan arus searah, maka dalam
rangkaian kapasitif, rangkaian menahan perubahan tegangan. Bila arus searah dialirkan pada
rangkaian kapasitif, maka muatan listrik akan disimpan dalam kapasitor yang bersifat seperti
aki. Pada mulanya arusnya tinggi dan tegangan rendah, arus makin lama makin turun karena
muatan yang simpan makin banyak, dan tegangan makin lama makin tinggi hingga akhirnya
sama dengan tegangan pasok. Pada saat itu pengisian berhenti. Bila kapasitor dihubungkan ke
sesuatu beban atau rangkaian, maka muatan di dalam kapasitor akan keluar hingga habis atau
tegangannya sama dengan nol. Tetapi bila kapasitor dihubungkan ke pasok arus bolak-balik
adanya kapasitansi menyebabkan penundaan timbulnya tegangan pada saat mengisi dan saat
membuang muatan, sehingga arus dan tegangan menjadi tidak sefasa, lihat gambar 4.






Gambar 4.Rangkaian Kapasitif.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


6
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Karena kapasitansi menyebabkan perlawanan perubahan tegangan, maka disebut reaktansi
kapasitif dan diberi simbul X
C
dalam satuan Ohm. Besar reaktansi kapasitif,
1
X
C
= dimana f = frekuensi (Hz)
2 f C C = kapasitansi (f)
Mengingat sifat-sifat rangkaian terhadap arus bolak-balik seperti tersebut di atas, maka jenis
dan perhitungan daya dalam arus bolak-balik berbeda dengan daya dalam arus searah. Di
dalam arus searah seperti telah dijelaskan di atas,
P = V . I Watt atau P = I
2
. R Watt


1.1.4. Macam-macam daya
Di dalam rangkaian arus bolak-balik ada tiga macam daya, yaitu :
Daya nyata (aktif)
Daya semu
Daya reaktif

a. Daya nyata (true power)
Daya nyata adalah daya yang dapat dilihat hasilnya dan merupakan hasil perkalian antara arus
dan tegangan dengan faktor daya (Cos ), dengan satuan Watt, ditulis :
P = V . I . Cos . Watt

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


7
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Faktor daya adalah pergeseran fasa antara arus dan tegangan. Di dalam rangkaian arus bolak-
balik, beban rangkaian merupakan gabungan dari beban R, L dan C. Oleh karena itu selalu
timbul perbedaan fasa antara arus dan tegangan. Besarnya sudut pergeseran fasa tergantung
dari kandungan L dan C dalam rangkaian. Faktor daya atau Cos merupakan perbandingan
antara hambatan R dan impedansi Z.
Bila dalam arus searah berlaku hukum Ohm untuk mencari hubungan antara, arus dan
hambatan, maka dalam arus bolak-balik formula tersebut berlaku. Tetapi hambatan arus bolak-
balik adalah impedansi Z. Impedansi adalah hasil penjumlahan secara aljabar dari R, X
L
, dan
X
C
atau ditulis :
Z = R
2
+(X
L
- X
C
)
2


Sehingga besarnya arus dapat dicari dengan menggunakan hukum Ohm.
V
I =
Z
Daya nyata merupakan daya yang menghasilkan panas setara dengan panas yang dihasilkan
peralatan tersebut bila dialiri arus searah.

b. Daya Semu (Apparent power)

Daya semu adalah daya yang mengabaikan adanya beban induktif dan beban kapasitif, atau
perkalian antara arus dan tegangan dengan satuan Voltampere.
P = V . I Voltampere

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


8
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Suatu rangkaian listrik arus bolak-balik secara teoritis tidak mungkin hanya terdiri dari beban R,
sehingga arus sefasa dengan tegangan. Oleh karena itu daya ini disebut daya semu, karena
dalam prakteknya kemungkinan arus sefasa dengan tegangan kecil sekali.

c. Daya Reaktif (Reaktif power)
Daya reaktif adalah daya hasil perkalian antara arus dan tegangan dengan sinus , dan
satuannya adalah Voltampere reaktif (Var).
P = V . I sin Voltampere reaktif (Var)
Ini adalah daya yang tidak menghasilkan kerja (panas) atau daya yang tidak berguna (Wattless
power), tetapi selalu timbul di dalam rangkaian arus bolak-balik. Daya ini tidak menghasilkan
panas tetapi memerlukan arus untuk energis atau memuati rangkaian induktif atau kapasitif.
Gambar 5. Menunjukkan kurva daya dalam berbagai rangkaian (resitif, induktif dan kapasitif).
Hubungan diantara ketiga daya dapat membentuk suatu segitiga dan disebut segitiga daya,
lihat gambar 6.
Daya semu ( S )
2
= Daya nyata ( P )
2
+ Daya reaktif ( Q )
2
S
2
= P
2
+ Q
2

Sudut antara daya nyata dengan daya semu adalah sudut , dan faktor daya juga dapat
dinyatakan sebagai perbandingan antara daya nyata dengan daya semu.
P
Faktor daya : Cos =
S




Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


9
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN











Gambar 5. Kurva Daya Rangkaian Induktif dan Kapasitif







Gambar 6. Segitiga Daya

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


10
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
2 RECTIFIER DAN INVERTER
2.1. Rectifier
Rectifier adalah alat yang digunakan untuk mengubah sumber arus bolak-balik (AC) menjadi
sinyal sumber arus searah (DC). Gelombang AC yang berbentuk gelombang sinus hanya dapat
dilihat dengan alat ukur CRO. Rangkaian rectifier banyak menggunakan transformator step
down yang digunakan untuk menurunkan tegangan sesuai dengan perbandingan transformasi
transformator yang digunakan. Penyearah dibedakan menjadi 2 jenis, penyearah setengah
gelombang dan penyearah gelombang penuh, sedangkan untuk penyearah gelombang penuh
dibedakan menjadi penyearah gelombang penuh dengan center tap (CT), dan penyearah
gelombang penuh dengan menggunakan dioda bridge.

2.2.1 Penyearah Setengah Gelombang
Penyearah setengah gelombang merupakan rangkaian penyearah yang paling sederhana, yaitu
yang terdiri dari satu dioda. Gambar 1 menunjukkan rangkaian penyearah setengah
gelombang. Rangkaian penyearah setengah gelombang memperoleh masukan dari sekunder
trafo yang berupa tegangan berbentuk sinus, vi =Vm Sin t (gambar 1 (b)). Vm merupakan
tegangan puncak atau tegangan maksimum. Harga Vm ini hanya bisa diukur dengan CRO,
sedangkan harga yang tercantum pada sekunder trafo merupakan tegangan efektif yang dapat
diukur dengan menggunakan volt meter. Hubungan antara tegangan puncak Vm dengan
tegangan efektif (Veff) atau tegangan rms (Vrms) adalah:






V
eff
= V
rms
= 1/2 Vm = 0.707 Vm

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


11
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN














Prinsip kerja penyearah setengah gelombang adalah bahwa pada saat sinyal input berupa
siklus positip maka dioda mendapat bias maju sehingga arus (i) mengalir ke beban (RL), dan
sebaliknya bila sinyal input berupa siklus negatip maka dioda mendapat bias mundur sehingga
tidak mengalir arus. Bentuk gelombang tegangan input (vi) ditunjukkan pada (b) dan arus beban
(i) pada (c) dari gambar 1. Arus dioda yang mengalir melalui beban RL (i) dinyatakan dengan:
dimana:
i = im . sin t, jika 0 t p (siklus positip)
i = 0 jika p t 2p (siklus negatif)
Im = Vm/ (Rf+RL)

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


12
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Resistansi dioda pada saat ON (mendapat bias maju) adalah Rf, yang umumnya nilainya lebih
kecil dari RL. Pada saat dioda OFF (mendapat bias mundur) resistansinya besar sekali atau
dalam pembahasan ini dianggap tidak terhingga, sehingga arus dioda tidak mengalir atau i =0.
Arus yang mengalir ke beban (i) terlihat pada gambar (c) bentuknya arus searah (satu arah)
yang harga rataratanya tidak sama dengan nol seperti pada arus bolak-balik. Arus rata-rata ini
(Idc untuk penyearah setengah gelombang) secara matematis dinyatakan:



Tegangan keluaran pada beban :
Vdc = Idc.RL

Apabila harga Rf jauh lebih kecil dari RL, yang berarti Rf bisa diabaikan, maka jika Vm =
Im.RL sehingga :



Dalam perencanaan rangkaian penyearah, hal penting untuk diketahui adalah harga tegangan
maksimum yang diijinkan terhadap dioda. Tegangan maksimum ini sering disebut PIV (peak-
inverse voltage) atau tegangan puncak balik. Hal ini karena pada saat dioda mendapat bias
mundur (balik) maka tidak arus yang mengalir dan semua tegangan dari sekunder trafo berada
pada dioda. PIV untuk penyearah setengah gelombang, yaitu :



Idc = Im = 0.318 Im
p
Vdc = 0.318 Im. RL
= 0.318 Vm


Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


13
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
2.2.2 Penyearah gelombang penuh center tap






(a) (b)









Gambar 2 menunjukkan rangkaian penyearah gelombang penuh dengan menggunakan trafo
CT. Terminal sekunder dari Trafo CT mengeluarkan dua buah tegangan keluaran yang sama
tetapi fasanya berlawanan dengan titik CT sebagai titik tengahnya. Kedua keluaran ini masing-
masing dihubungkan ke D1 dan D2, sehingga saat D1 mendapat sinyal siklus positip maka D2
mendapat sinyal siklus negatip, dan sebaliknya. Dengan demikian, D1 dan D2 hidupnya
bergantian. Namun karena arus i1 dan i2 melewati tahanan beban (RL) dengan arah yang

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


14
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
sama, maka iL menjadi satu arah. Rangkaian penyearah gelombang penuh ini merupakan
gabungan dua buah penyearah setengah gelombang yang hidupnya bergantian setiap
setengah siklus, sehingga arus maupun tegangan rata-ratanya adalah dua kali dari penyearah
setengah gelombang, yaitu :



Dan

Apabila harga Rf jauh lebih kecil dari RL, maka Rf bisa diabaikan, sehingga:



Tegangan puncak inverse yang dirasakan oleh dioda adalah sebesar 2Vm. Pada saat siklus
positip, dimana D1 sedang hidup (ON) dan D2 sedang mati (OFF), maka jumlah tegangan yang
berada pada dioda D2 yang sedang OFF tersebut adalah dua kali dari tegangan sekunder trafo.
Sehingga PIV untuk masing-masing dioda dalam rangkaian penyearah dengan trafo CT adalah:






Idc = 2 Im = 0.636 Im
p
Vdc = Idc.RL =2Im.RL
p
Vdc = 2 Vm = 0.636 Vm
p

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


15
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
2.2.3 Penyearah Gelombang Penuh Sistem Jembatan







Prinsip kerja rangkaian penyearah gelombang penuh sistem jembatan dapat dijelaskan melalui
gambar 3. Pada saat rangkaian jembatan mendapatkan positip dari siklus sinyal ac, maka :
- D1 dan D3 hidup (ON), karena mendapat bias maju
- D2 dan D4 mati (OFF), karena mendapat bias mundur
sehingga arus i1 mengalir melalui D1, RL, dan D3.
Apabila jembatan memperoleh siklus negatip, maka :
- D2 dan D4 hidup (ON), karena mendapat bias maju
- D1 dan D3 mati (OFF), karenamendapat bias mundur
sehingga arus i2 mengalir melalui D2, RL, dan D4.
Dengan demikian, arus yang mengalir ke beban (iL) merupakan penjumlahan dari dua arus i1
dan i2. Besarnya arus rata-rata pada beban adalah sama seperti penyearah gelombang penuh
dengan trafo CT, yaitu: Idc =2Im/p= 0.636 Im dan PIV masing-masing dioda adalah:



Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


16
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
2.2.4 Rangkaian Rectifier Teregulasi






Tujuan dari penggunaan rectifier yang teregulasi adalah untuk mendapatkan tegangan keluaran
yang konstan bila ada perubahan arus beban. Gambar 4. Asas Rectifier Teregulasi Penyearah
ini menggunakan tambahan sebuah rangkaian regulator, yang berfungsi agar daya keluaran
konstan. Komponen rangkaian terpadu (IC) untuk rangkaian penyerarah regulasi dapat
digunakan sebagai rangkaian regulator. Dengan menggunakan IC Regulator akan berlaku Vi
>Vo. Harga tegangan yang diserap oleh IC adalah sekitar Vo +3 Volt atau (Vi >>Vo + 3 Volt).
Untuk mendapatkan Vi >>Vo, perlu ditambahan transistor dalam konfigurasi emitor dengan
harga Vo <Vi jika transistor dalam kondisi jenuh.









Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


17
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
2.2.5 Rangkuman 1
Rectifier merupakan peralatan elektronika yang digunakan untuk mengubah tegangan listrik AC
menjadi DC. Rectifer dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu ; Rectifier setengah
gelombang dan rectifier gelombang penuh, sedangkan rectifier gelombang penuh masih dibagi
lagi menjadi dua jenis, yaitu Rectifier gelombang penuh dengan menggunakan CT, dan Rectifier
gelombang penuh dengan menggunakan jembatan dioda. Rectifier dapat digunakan untuk
keperluan catu daya pada rangkaian elektronika seperti ; HT (handy talky), televisi, Pesawat
radio CB (cityzen band) dan lain-lain.

2.2. Inverter
Inverter digunakan untuk mengubah tegangan input DC menjadi tegangan AC. Keluaran
inverter dapat berupa tegangan yang dapat diatur dan tegangan yang tetap. Sumber tegangan
input inverter dapat menggunakan battery, cell bahan bakar, tenaga surya, atau sumber
tegangan DC yang lain. Tegangan output yang biasa dihasilkan adalah 120 V 60 Hz, 220 V 50
Hz, 115 V 400 Hz.










Gambar 6 Prinsip kerja Inverter

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


18
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN

Prinsip Kerja Inverter Prinsip kerja inverter dapat dijelaskan dengan menggunakan 4 sakelar
seperti ditunjukkan pada Gambar 6. Bila sakelar S1 dan S2 dalam kondisi on maka akan
mengalir aliran arus DC ke beban R dari arah kiri ke kanan, jika yang hidup adalah sakelar S3
dan S4 maka akan mengalir aliran arus DC ke beban R dari arah kanan ke kiri. Inverter 20
dapat diklasifikasikan menjadi 2 macam : (1) inverter 1 fasa, (2) inverter 3 fasa. Inverter
biasanya menggunakan rangkaian modulasi lebar pulsa (pulse width modulation PWM).
Inverter juga dapat dibedakan dengan cara pengaturan tegangannya, yaitu : (1) jika yang diatur
tegangan input konstan disebut Voltage Fed Inverter (VFI), (2) jika yang diatur arus input
konstan disebut Current Fed Inverter (CFI), dan (3) jika tegangan input yang diatur disebut
Variable dc linked inverter.
2.2.6 Inverter Setengah Gelombang












Gambar 7

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


19
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Prinsip kerja dari inverter satu fasa dapat dijelaskan dengan gambar 7-a. Ketika transistor Q1
yang hidup untuk waktu T0/2, tegangan pada beban V0 sebesar Vs/2. J ika transistor Q2 hanya
hidup untuk T0/2, Vs/2 akan melewati beban. Q1 dan Q2 dirancang untuk bekerja saling
bergantian. Pada gambar 7-b menunjukkan bentuk gelombang untuk tegangan keluaran dan
arus transistor dengan beban resistif. Inverter jenis ini membutuhkan dua sumber DC, dan
ketika transistor off tegangan balik pada Vs menjadi Vs/2, yaitu :


= 0,45 Vs

2) Inverter Gelombang Penuh









Gambar 8. Inverter Gelombang Penuh


Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


20
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Inverter gelombang penuh ditunjukkan pada gambar 8-a. Ketika transistor Q1 dan Q2 bekerja
(ON), tegangan Vs akan mengalir ke beban tetapi Q3 dan Q4 tidak bekerja (OFF). Selanjutnya,
transistor Q3 dan Q4 bekerja (ON) sedangkan Q1 dan Q2 tidak bekerja (OFF), maka pada
beban akan timbul tegangan Vs. Bentuk gelombang ditunjukkan pada gambar 8-b. Tegangan
output didapatkan dari persamaan :



Contoh rangkaian inverter sederhana ditunjukkan seperti Gambar 9 di bawah ini.






Gambar 9. Contoh rangkaian Inverter
d. Rangkuman 2
Inverter adalah sebuah rangkaian elektronika yang digunakan untuk mengubah tegangan DC
menjadi tegangan AC. Prinsip kerja dari sebuah inverter adalah dengan menggabungkan
sebuah rangkaian multivibrator yang dihubungkan dengan sebuah transformator penaik
tegangan (Step Up). Inverter dapat digunakan untuk mensuplai beban dengan tegangan AC
dengan daya yang disesuaikan dengan daya tegangan DC yang tersedia. Contoh penggunaan
inverter dapat digunakan untuk rangkaian UPS (Uninterrupted Power Supply) untuk suplai
tegangan listrik bila terjadi pemutusan listrik dari PLN dengan tiba-tiba, radio CB (Cityzen
Band), SFC (Static Frequency Converter) dan lain-lain.
V 1 = 0.9 Vs

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


21
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
3 SINKRONISASI GENERATOR.
Bila dua sistem tegangan bolak-balik ( AC ) akan di paralel, maka kesamaan dari lima kondisi
atau parameter berikut ini harus dipenuhi. Kondisi tersebut adalah :
1. Tegangan
2. Frekuensi
3. Perbedaan fasa (sudut fasa )
4. Urutan fasa
5. Bentuk gelombang

Dua kondisi yang terakhir merupakan konstanta yang berkaitan dengan rancang bangun dan
operasinya tidak dapat dikontrol. Sedang tiga kondisi lainnya harus dikontrol agar tegangan
frekuensi dan sudut fasanya sama sebelum dihubungkan. Proses ini disebut sebagai
Mensinkronkan .

3.1. Prosedur Sinkroni sasi Generator.
Sebelum melakukan sinkronisasi generator dengan sistem jaringan (infinite bus), pastikan
bahwa :
a. Pemutus tenaga ( circuit breaker ) generator dalam keadan terbuka.
b. Pemutus tenaga sistem eksitasi generator dalam keadan terbuka.
c. Mesin berputar pada putaran nominal dengan governor pada posisi minimum.
d. Semua kondisi unit normal dan memuaskan untuk di sinkronisaikan.
e. Sistem jaringan telah bertegangan dan pemisah pada bus sudah masuk.




Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


22
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Prosedur sinkron pada generator secara manual adalah sebagi berikut :
a. Atur putaran mesin dengan kontrol governor hingga putarannya sama dengan kecepatan
frekuensi sistem.
b. Periksa sistem eksitasi, kemudian masukan pemutus tenaga penguat medan ( field
breaker ).
c. Naikan arus eksitasi, periksa tegangan generator bila tegangan generator mencapai normal,
masukan sistem pengatur tegangan (AVR ) ke posisi auto.
d. Masukan switch synchroscope keposisi manual. Dan lihat apakah kecepatan mesin fast
atau slow dibanding kecepatan sistem.
e. Atur eksitasi agar tegangan generator sama dengan tegangan sistem. Atur frekuensi dan
sudut fasa dengan menggunakan kontrol governor agar synchroscope berputar perlahan
kearah fast.
f. Pada saat jarum synchroscope mendekati titik nol ( jam 12 ), tekan tombol pemutus tenaga
generator sehingga CB masuk pada saat jarum menunjuk titik nol. Generator telah sinkron.
g. Matikan peralatan sinkronisasi dan selektor switch.

3.2. Pengaruh Perbedaan Tegangan, Frekuensi dan sudut fasa.
Bila pada saat CB menutup, kesamaan dari mensinkronkan sirkuit generator dengan sistem
tidak terpenuhi, maka akan terjadi gangguan listrik. Tingkat gangguan ini tergantung kepada
perbedaan dari kondisi yang telah ditentukan.
a. Tegangan
Antara tegangan generator ( yang akan dipararel ) dengan tegangan sistem jaringan harus
sama besarnya ( nilainya ). Untuk menyamakan, maka tegangan generator harus diatur, yaitu
dengan mengatur arus eksitasinya. Apabila tegangan generator lebih tinggi dari tegangan
sistem, maka mesin ( generator ) akan mengalami sentakan beban M Var lagging ( induktif );
artinya generator mengirim daya reaktif ke sistem. Sebaliknya bila tegangan generator lebih
rendah dari pada tegangan sistem, mesin akan mengalami sentakan beban M Var Leading
( kapasitif ), artinya generator menyerap daya reaktif dari sistem.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


23
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
b. Frekuensi
Frekuensi generator dan frekuensi sistem harus sama (match). Untuk menyamakan, maka
putaran generator harus diatur, yaitu dengan cara mengatur katup governor ( aliran uap masuk
turbin ). J ika frekuensi generator lebih tinggi dari pada frekuensi sistem, sistem akan mengalami
sentakan beban MW dari mesin, artinya mesin membangkitkan MW. Sebaliknya jika generator
frekuensinya lebih rendah dari pada sistem, mesin akan mengalami sentakan MW dari sistem ,
artinya mesin menjadi motor.
c. Perbedaan Fasa
Sudut fasa antara generator dan sistem harus sama. Untuk menyamakannya fasa generator
harus diatur, yaitu dengan cara mengatur kecepatan generator dengan katup governor. Apabila
terjadi perbedaan fasa antara generator dengan sistem akan mengakibatkan sentakan
perpindahan daya antara mesin dan sistem. Hal ini mengakibatkan kondisi gangguan dan
terjadinya sirkulasi arus antara mesin dan sistem yang besarnya ditentukan oleh perbedaan
antara keduanya.
Di dalam penyediaan listrik, perusahaan listrik mempunyai kewajiban untuk menyediakan
kualitas listrik yang stabil kepada pelanggan. Kualitas tersebut meliputi frekuensi dan tegangan
yang selau konstan.
Frekuensi di Indonesia menggunakan standard 50 Hz. Variasi frekuensi sebaiknya tidak
melebihi 1 % dari 50 Hz, yaitu : 49,5 - 50,5Hz atau 2970 - 3030 Rpm.
Bila ferkuensi menyimpang dari 50 Hz , maka jam listrik dan putaran motor akan berubah
sehingga untuk peralatan yang presisi atau teliti perubahan ini dapat mengakibatkan
terganggunya operasi alat. Batas waktu penyimpangan yang diperbolehkan dan tidak
menimbulkan pengaruh adalah selama 10 detik.
J ika jumlah pembangkitan MW melebihi kebutuhan pelanggan ( konsumen ), maka kelebihan
energi ini menaikan putaran rotor semua turbin generator yang terhubung ke sistem sehingga
frekuensi naik. Sebaliknya bila kebutuhan beban pelanggan lebih besar dari MW yang
dibangkitkan , maka semua turbin generator putarannya berkurang sehingga frekuensi nya
turun .

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


24
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Tegangan nominal untuk sistem tegangan rendah kepada pelanggan adalah 220 Volt. Variasi
tegangan yang disarankan tidak melebihi 6 % dari tegangan nominalnya. J adi untuk tegangan
nominal 220 Volt rentangnya adalah 206,8~233,2 V. Tidak seperti frekuensi, tingkat ( level )
tegangan pada seluruh sistem tidak sama. Tegangan sistem dapat dipengaruhi oleh keadaan
setempat atau lingkungan.
3.3. Sudut Fasa dan Synchroscope.
Seringkali terdapat kerancuan antara perbedaan fasa dan frekuensi. Frekuensi adalah
banyaknya siklus ( sinusoida ) dalam satu detik dari suatu sirkuit listrik. Sedang perbedaan fasa
adalah pergeseran sudut antara satu sirkuit dengan sirkuit listrik yang lain untuk fasa yang
sama, lihat gambar.7.
Untuk dapat melihat perbedaan fasa secara grafis diperlukan instrument osiloscope. Tetapi
didalam penerapannya menjadi tidak praktis untuk memasang osiloskop pada panel listrik (
alternator ). Sebagai gantinya dipasang synhroskop dan lampu untuk mengetahui perbedaan
fasa ini. Didalam sinkroskop ini hanya ditunjukan keterangan slow , dan fast, serta titik atau
garis yang terletak diantaranya. Apabila jarum menunjuk kearah slow, artinya fasa alternator
tertinggal dibelakang fasa sistem, sedang apabila jarum menunjuk kearah fast, artinya, fasa
alternator lebih cepat dari fasa sistem.
Perbedaan fasa adalah nol apabila jarum sinkroskop menunjukan titik nol ( jam 12 ) atau garis
tegak diantara slow dan fast. Untuk sinkronisasi harus dilakukan pada saat jarum bergerak
pelan kearah fast atau berhenti pada posisi titik nol atau mendekati titik nol antara slow dan fast.
Apabila jarum berhenti tidak pada posisi titik nol, sinkronisasi tidak boleh dilakukan, karena ini
berarti masih ada perbedaan fasa. Dan besarnya perbedaan fasa adalah jarak antara jarum
berhenti dengan titik nol. Sinkronisasi yang dilakukan pada saat sudut fasa tidak sama dengan
nol atau mendekati nol dapat mengakibatkan kerusakan pada trafo dan alternator, karenan hal
ini berarti terjadi sentakan aliran arus sirkulasi dari alternator ke sistem atau dari sistem ke
alternator.




Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


25
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN















Gambar 7. Kurva Perbedaan Fasa dan Synchroscope





Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


26
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
4. EKSITASI DAN PENGATUR TEGANGAN OTOMATIS.
4.1. Eksitasi
Eksitasi adalah sistem mengalirkan pasok listrik DC untuk penguat medan rotor alternator.
Dalam keadaan start atau beroperasi sendiri tegangan alternator tergantung pada besarnya
arus eksitasi. Apabila arus eksitasi berubah tegangan alternator juga berubah. Tetapi alternator
yang beroperasi paralel dengan sistem jaringan, tegangannya relatif konstan. Perubahan arus
eksitasi tidak merubah tegangan tetapi menyebabkan berubahnya faktor kerja ( Cos ) dan
daya reaktif ( Var ).
Terdapat dua cara mengalirkan arus eksitasi ke rotor alternator, yaitu :
Sistem eksitasi dengan sikat ( brus excitation )
Sistem eksitasi tanpa sikat ( brushless excitation )

4.1.1 Eksitasi dengan sikat.
Sistem eksitasi dengan sikat terdiri dari alternator DC atau alternator AC yang arusnya
disearahkan yang berfungsi sebagai main eksiter, slipring, pilot eksiter atau generator frekuensi
tinggi, penyearah dan pengatur tegangan otomatis. Didalam sistem ini pilot eksiter atau
permanen magnet generator ( PMG ) atau HFG, medan magnetnya adalah magnet permanen.
Banyaknya kutub biasanya 16, sehingga menghasilkan frekuensi 400 Hz. Keluaran dari pilot
exsiter adalah AC dan dialirkan melalui penyearah. Didalam penyearah ini tegangan diubah
menjadi DC dan digunakan untuk mengontrol kumparan medan eksiter utama ( main exciter ).
Gambar..8 memperlihatkan konfigurasi sistem eksitasi dengan sikat untuk alternator 300 MW
tipikal. Didalam sistem ini eksitasi untuk alternator diproduksi melalui tiga tahap, yaitu pilot
eksiter, main eksiter, dan alternator. Untuk mengalirkan arus eksiter dari main eksiter ke rotor
alternator digunakan slipring dan sikat arang. Demikian pula penyaluran arus dari pilot eksiter
ke main eksiter.


Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


27
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN













Gambar.8. Sistem Eksitasi

4.2. Eksitasi tanpa si kat.
Penggunaan sikat dan slipring untuk menyalurkan arus eksiter kerotor alternator mempunyai
kelemahan, karena besarnya arus yang dapat dialirkan oleh sikat arang relatif kecil. Oleh
karena itu alternator dengan kapasitas yang besar tidak mampu lagi mengalirkan arus eksitasi
dengan sikat dan slipring, sehingga digunakan sitem eksitasi tanpa sikat. Sistem eksitasi tanpa
sikat pada dasarnya terdiri atas komponen yang sama dengan sistem eksitasi dengan sikat,
tetapi penyearah arus dilakukan dengan peralatan yang berputar ( rotary ). Gambar.9
memperlihatkan konfigurasi sitem eksitasi tanpa sikat.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


28
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Pengontrolan arus eksitasi tetap dilakukan pada sisi masuk eksiter utama. Keluaran dari main
eksiter adalah tegangan AC tiga fasa pada sisi rotornya. Tegangan ini disearahkan didalam
penyearah berputar ( rotating rectifier ) dan disalurkan ke alternator melalui poros. J adi tidak
diperlukan lagi adanya slipring dan sikat.









Gambar.9. Sistem Eksitasi Tanpa Sikat

4.3. Pengaturan Tegangan Otomati s.
Kondisi beban listrik yang selalu berubah menuntut adanya sistem pengatur beban dan
tegangan yang selalu dapat mengikuti perubahan sehingga diperoleh output frekuensi dan
tegangan yang stabil. Alat untuk mengontrol beban ( frekuensi ) adalah governor valve, sedang
alat untuk menjaga agar tegangan tetap stabil adalah pengatur tegangan otomatis (PTO atau
AVR ). Tugas utama dari AVR secara singkat sebagai berikut :
a. Mengontrol tegangan terminal generator dalam batas-batas yang ditetapkan, yang secara
tidak langsung membantu mengontrol tegangan sistem.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


29
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
b. Mengatur pembagian daya reaktif diantara mesin-mesin yang beroperasi paralel pada
sistem.
c. Mengontrol arus medan untuk mejaga mesin berada dalam sinkronisme dengan sistem saat
beroperasi, terutama sekali pada faktor daya satu atau leading, tergantung pada
pembebanan mesin.
d. Menaikkan eksitasi medan ketika sisitem dalam keadaan terganggu untuk menjaga mesin
agar selalu dalam sinkronisme dengan sistem.

Gambar .10 menunjukan sekema rangkaian pengatur tegangan otomatis sederhana.
Kumparan stator PMG atau pilot eksiter memasok daya ke AC eksiter( eksiter utama ) melalui
rangkaian pengatur tegangan. Besarnya daya ( arus eksitasi ) ke AC eksiter ditunjukkan oleh
perbedaan antara tegangan terminal alternator dan tegangan referensi oleh balance meter.
Perbedaan ini bisa berharga minus ( - ) dan ( +).
Apabila perbedaan tersebut berharga minus, maka AVR menghasilkan sinyal boost, yaitu
penambahan arus eksiter ke AC eksiter. Sebaliknya jika perbedaan itu berharga plus, maka
AVR menghasilkan sinyal buck, yaitu pengurangan arus eksiter ke AC eksiter. Apabila tidak
ada perbedaan antara tegangan terminal alternator dengan tegangan referensi, maka sinyal
keluaran AVR menjadi nol , artinya tidak ada penambahan dan tidak ada pengurangan arus
eksitasi ke AC eksiter.








Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


30
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN







Gambar 10. Diagram Blok AVR













Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


31
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
5. KOPLING MAGNETIK DAN KAPASITAS GENERATOR.

5.1. Kopling Magnetik.
Begitu suatu generator disinkronisasikan ke sistem biasanya mesin diberi beban minimum
(block load ). Hal ini dilakukan dengan menaikan kontrol governor sehingga uap mengalir lebih
banyak ke turbin. Tetapi begitu ini terjadi timbul perbedaan potensial (tegangan) antara
kumparan stator dan tegangan terminal generator.
Perbedaan tegangan ini menyebabkan arus mengalir dalam kumparan stator sehingga
menimbulkan medan magnet yang berputar pada kecepatan sinkron (sistem). Medan magnet
ini berinteraksi dengan rotor dan membentuk kopling magnet antara rotor dengan stator
melintas celah udara.
Kopling magnetik ini menghasilkan suatu torsi pada rotor yang besarnya sama tetapi
berlawanan dengan torsi masukan uap, sehingga kecepatan rotor tidak bertambah, tetapi
terkunci pada sistem oleh kopling magnetik.
Medan magnet didalam celah udara ini dapat dibayangkan seperti pita elastik yang
kekuatannya tergantung pada medan magnetik rotor dan medan magnetik yang ditimbulkan
oleh aliran arus didalam konduktor-konduktor stator. Kopling magnitik ini merupakan media
yang memindahkan energy mekanik menjadi energy listrik (MW). Namun harus diingat bahwa
kedua medan magnet tadi berputar dalam keadaan yang sama, jadi stasioner (diam) satu sama
lain.

5.1.1 Sudut Bebas.
Bagaimanapun untuk menciptakan medan magnet yang disebabkan aliran arus stator, pertama
rotor harus dinaikan kecepatan sudutnya terhadap tegangan terminal sampai torsi lawan yang
dihasilkan oleh kopling terimbangi torsi input. Hubungan sudut ini dikenal sebagai sudut beban
atau sudut rotor, lihat gambar.11.


Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


32
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN







Gambar 11. Sudut Beban atau Sudut Rotor
J ika kekuatan kopling magnetik berubah karena perubahan eksitasi ( arus rotor ), arus stator
atau pemasukan uap, maka akan ada suatu hubungan gerakan maju ( sudut rotor dinaikan )
atau mundur (sudut rotor berkurang ), dalam arah putaran, hingga posisi kesetimbangan yang
baru dicapai. J ika kopling magnetik dibentang atau diperlemah secara berlebihan, maka kopling
akhirnya akan putus dan rotor tidak lagi berada dalam sinkronisme dengan sistem. Kopling
tersebut dapat terputus karena dua cara, yaitu :
1. Menjaga kekuatan magnetik sama, tetapi menaikan torsi input
2. Menjaga torsi input tetap sama tetapi mengurangi kekuatan magnetik dengan mengurangi
arus rotor atau arus stator.
Bila kopling magnetik putus, maka operasi generator tidak stabil dan kondisi ini disebut sebagai
ketidak stabilan (instability) generator atau beroperasi tidak sinkron (asychron) karena
kecepatan rotor tidak lagi berada dalam sinkronisme dengan sistem.
Ada dua macam operasi tidak sinkron yang berbeda yaitu : penggelinciran kutub ( pole
slipping ) dan benar-benar operasi tidak sinkron ( true asynchronous ).
Penggelinciran kutub adalah kondisi dimana kopling magnetik terputus karena kekuatan
magnetik tidak cukup, tetapi eksitasi masih ada. Rotor akan dipercepat relatif lambat bila
kopling magnetik putus pada 120
0
- 130
0
pertama, dan lebih cepat untuk 230
0
berikutnya.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


33
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Kopling kemudian terbentuk lagi dan mengurangi kecepatan rotor, tetapi kekuatannya tidak
cukup sehingga putus lagi dan mulai penggelinciran kutub lagi.
Pengoperasian tidak sinkron dianggap suatu kehilangan total eksitasi medan. Pada kondisi ini
tidak ada pengurangan gaya terhadap putaran rotor, tetapi generator menyerap semua arus
magnetisainya (MVAR) dari sistem, dan beroperasi sebagai generator induksi.
Dalam kasus lain, kondisi tersebut tidak dapat dibiarkan dan oleh karena itu pada semuanya
kecuali unit-unit yang kecil, dipasang proteksi untuk mendeteksi dan mentripkan unit dari
sistem. Untuk unit yang kecil menyingkronkan kembali dapat dilakukan dengan mengurangi
aliran uap masuk ( governor ), dan menaikan eksitasi medan, keduanya mendorong rotor untuk
kembali berada dalam sinkronisme dengan sistem.

5.2 Kurva Kemampuan Alternator.
Satu cara yang mudah untuk mempertunjukan faktor-faktor yang membatasi operasi generator
adalah dengan bentuk diagram.Diagram ini disebut capability atau power chart. Pada umumnya
suatu diagram capability disediakan untuk setiap generator dengan harga sesungguhnya yang
diberikan oleh generator itu.
Dalam gambar.12a, ditunjukan diagram tersebut ditandai dengan faktor-faktor pembatasan
masing-masing dan digambarkan hanya sebagai suatu tipe, tanpa diberikan harga
sesungguhnya.
Diagram capability sesungguhnya digambarkan pada perkiraan bahwa tegangan terminal
generator dipertahankan pada harga nominalnya. J ika mengoperasikan pada tegangan yang
berbeda dari harga ini, maka diagram tidak dapat dipakai lagi. Dengan cara yang sama
digambarkan dengan menganggap bahwa semua susunan pendingin dan parameter-parameter
berada pada configurasi dan harga rancangan.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


34
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN











Gambar 12a. Diagram Kapabilitas Generator
Diagram capability generator dapat digunakan bersama dengan pengukuran MW dan MVAR
untuk memperkirakan parameter-parameter seperti faktor daya, arus rotor, arus stator dan
sudut motor ( beban ). Bila batas-batas pengoperasian diperjelas seperti pada gambar 12b,
dapat dimengerti bahwa lingkar batas pengoperasian yang diperlihatkan pada suatu vektor
meter dihasilkan dari diagram capability. Dapat ditambahkan bahwa jarak dari batas kesetabilan
sesungguhnya ( practical stability limit ) ke kanan dari garis sudut rotor 75
0
, adalah suatu garis
batas keamanan yang didasarkan terutama pada tipe apa AVR yang digunakan dan kecepatan
reaksinya terhadap perubahan tegangan terminal generator, dan apakah suatu sikuit
Pembatas VAR ( VAR limiter ) disediakan. J ika suatu generator dioperasikan dengan AVR
keluar ( AVR switched out ), yaitu dengan kontrol eksitasi manual, maka tidak ada kontrol
penstabilan ketika kondisi beban berubah sehingga harus diberikan batas keamanan yang lebih
luas. Diagram capabilty biasanya menunjukan dua batas kestabilan yaitu, satu untuk AVR
posisi otomatis dan lainnya ketika AVR posisi manual.


Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


35
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
5.3 Faktor- Faktor yang membatasi Out-Put Generator.
Dalam merancang dan membuat konstruksi suatu alternator maka pabrik menetapkan berapa
kemampuan maksimum operasi kontinyu ( maximum continous rating ) dari mesin meliputi :
MW
MVA
p.f (cos )
Tegangan stator
Arus stator
Tegangan rotor
Arus stator

Perlu diingat bahwa :
MW
pf = = Cos
MVA

MVA = V. stator x I stator x 3






Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


36
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Pengoperasian alternator harus sedemikian sehingga batasaan rancangan tidak dilampaui.







Gambar 12b. Kurva Kapabilitas Generator.
Perlu diingat bahwa :
MW
1. Faktor daya = = Cos. , dimana adalah sudut fasa
MVA

2. MVA = KV stator x KA stator x 3
= KV x KA x 3

Pengoprasian generator harus sedemikian rupa, sehingga tidak satupun batas rancangan
dilampaui, karena bila dilampaui akan menimbulkan kerusakan pada alternator. Ada lima batas
operasional rancangan listrik dan masing-masing harus diperhatikan .


Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


37
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
a. Batas Arus Rotor
Batas ini ditentukan oleh tipe dan klasifikasi isolasi kumparan rotor. Pada umumnya rotor
alternator diisolasi dengan kelas B, dan ini berarti material ( bahan ) isolasi yang digunakan
tahan terhadap temperatur sampai 130
0
C. Diatas temperatur ini isolasi kumparan memburuk
karena panas sehingga memperpendek umur mesin yang akhirnya menimbulkan kerusakan.
Oleh karena itu temperatur operasi normal maksimum harus dibatasi pada suatu harga yang
akan mencegah menurunnya kemampuan. Kenaikan temperatur rotor maksimum sebenarnya
pada alternator tertentu ditentukan oleh tipe metoda pendingin rotor dan bagaimana susunan
aliran pendinginan rotor, dan juga berdasarkan pada temperatur pendingin sisi dingin yang
ditetapkan (40
0
C ). J ika temperatur gas dingin, tekanan dan kecepatan aliran dianggap
konstan pada nilai ratednya, maka temperatur rotor hanya tergantung pada besarnya arus
medan ( rotor ). Arus medan maksimum yang diizinkan biasanya ditentukan oleh pabrik dan ini
berhubungan dengan batas temperatur rotor maksimum yang diizinkan untuk tipe isolasi yang
digunakan.

b. Batas Arus Stator
Sebagaimana dinyatakan pada rotor, arus stator dibatasi oleh temperatur maksimum yang
diizinkan untuk tipe material bahan isolasi yang digunakan. Temperatur kumparan-kumparan
terutama akan bergantung pada arus stator yang mengalir melalui kumparan-kumparan stator
tersebut, dengan anggapan bahwa temperatur masuk pendingin kumparan stator dan laju aliran
konstan.
Oleh karena itu pabrik menetapkan arus stator maksimum yang diizinkan dan ini akan
berhubungan dengan temperatur maksimum yang diizinkan untuk klas isolasi yang digunakan
(klas B). J ika alternator dioperasikan dengan mengalirkan arus stator harga maksimum,pada
tegangan terminal generator, maka harga MVA maksimum operasi kontinyu tercapai.

c. Batas MW.
Harga MW maksimum operasi kontinyu ditentukan oleh kemampuan pembangkit uap (steam
generation ) dan nilai daya kuda (HP) dari turbin ketimbang nilai generator.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


38
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Alternator dalam teorinya sanggup membangkitkan out put MW yang harganya sama dengan
nilai MVA, dengan membuat arus pada stator sefasa dengan tegangannya, (yaitu ketika
beroperasi pada faktor daya satu). Bagaimanapun, sebaiknya pembangkit daya nyata (MW)
alternator juga harus mampu memasok daya reaktif (MVAR), dan oleh karena itu alternator
dirancang untuk beroperasi pada faktor daya lagging (contohnya 0,85 lag).
Hal ini berarti bahwa bila arus stator maksimum mengalir, nilai out put MVA tercapai, tetapi
karena out put MW adalah sama dengan MVA x Cos , maka hanya 85% dari out put MVA
adalah MW (misalnya Cos =0,85). Oleh karena itu diperlukan uap yang lebih sedikit dan
daya turbin yang lebih kecil untuk memutar generator.

d. Batas Arus Rotor Mini mum ( Batas Stabilitas )
Daya yang dipasok ke alternator, pada kecepatan konstan, adalah sebanding dengan torsi yang
diberikan pada rotor alternator oleh turbin. Daya ini harus diimbangi oleh suatu torsi listrik yang
berlawanan dari dalam generator, bila tidak rotor akan dipercepat. J ika tegangan sistem
jaringan dan kondisi frekwensi dianggap konstan, maka torsi keseimbangan maksimum dimana
alternator dapat menahan ditentukan oleh tingkat flux magnit yang ditimbulkan oleh arus medan
rotor didalam celah udara yang memberikan kopling antara stator dan rotor. Makin kuat kopling
medan magnetik, makin kuat rotor terkunci ke stator.
J ika lebih banyak uap yang dialirkan ke turbin dan karenanya torsi rotor, meningkat sehingga
kopling magnetik akan direntang dan akhirnya akan terputus, menghasilkan percepatan pada
rotor. Hal ini akan menyebabkan suatu gangguan listrik yang cukup besar pada sistem dan
mungkin juga menyebabkan panas lebih yang tinggi pada stator dan rotor. Suatu pengurangan
arus medan, tanpa pengurangan uap akan menghasilkan gangguan yang sama. Pemutusan
kopling magnetik diikuti dengan kehilangan kestabilan mesin tidak dapat dihindari. Oleh karena
itu alternator harus dioperasikan dengan arus rotor yang cukup untuk menjamin bahwa kopling
magnetik cukup kuat untuk menjaga kestabilan alternator pada semua out put beban.




Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


39
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
e. Batas Pemanasan Uj ung Stator
Dengan arus stator yang tinggi pada faktor daya leading, cenderung terjadi pemanasan dari
bagian-bagian ujung inti stator. Tetapi batas pemanasan ujung biasanya dicapai jika batas
kestabilan dilampaui, oleh karena itu dalam operasi normal batas pemanasan ujung tidak
tercapai.


















Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


40
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
6. TRANSFORMATOR.
Salah satu keuntungan penggunaan sistem arus bolak-balik dibanding sistem arus searah
adalah tegangannya dapat diubah-ubah sehingga jatuh tegangan pada pelanggan dapat lebih
mudah dikontrol. Alat untuk mengubah-ubah tegangan disebut transformator. Transformator
untuk menaikan tegangan disebut step up transformer, dan untuk menurunkan tegangan
disebut step down transformer.

6.1 Prinsip Kerj a.
Transformator terdiri dari inti yang terbuat dari laminasi besi, kumparan primer dan kumparan
silinder, lihat gambar.13





Gambar 13. Diagram Transfomator
Bila tegangan bolak-balik (V
1
) dihubungkan pada kumparan primer, maka timbul medan magnet
(flux). Medan magnet ini mengalir dalam inti dan arahnya berubah-ubah. Kecepatan perubahan
medan magnet sesuai dengan frekwensi arus bolak-balik. Kuat medan magnet ditentukan oleh
besarnya arus yang mengalir dan banyaknya lilitan dalam kumparan yang dinyatakan dalam
ampere lilit.
Karena kumparan primer dan sekunder terletak pada inti yang sama, maka kedua kumparan
akan terpotong oleh medan magnet yang arahnya berubah-ubah, akibatnya timbul GGL pada
kedua kumparan. Besarnya GGL induksi tergantung pada kuat medan magnet dan banyaknya
lilitan dalam kumparan. Arah GGL induksi selalu berlawanan dengan arah arus yang

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


41
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
membangkitkannya. J ika N
1
dan N
2
adalah banyaknya lilitan pada kumparan primer dan
sekunder, maka :
GGL induksi di primer ( E
1
) Banyaknya lilitan primer ( N
1
)
=
GGL induksi di sekunder ( E
2
) Banyaknya lilitan sekunder ( N
2
)

E
1
N
1

atau =
N
2
N
2

Bila kumparan sekunder dalam keadaan terbuka, tegangan terminal V
2
sama dengan GGL
induksi E
2
. Arus primer mengalir sangat kecil karenanya GGL induksi E
1
sama dengan
tegangan terminal V
1
, tetapi arahnya berlawanan.
E
1
V
1
N
1

J adi : =

=


E
2
V
2
N
2

Arus primer yang sangat kecil disebut sebagai arus memagnetisasi karena adanya fluks di inti.

6.2. Tap Charger.
Pengubah sadapan (tap changing), adalah suatu cara penyetelan tegangan sekunder dengan
merubah jumlah lilitan pada salah satu kumparan transformator. Pengubahan tap dapat
dilakukan pada saat transformator dalam keadaan tanpa beban atau saat berbeban. Bagian
yang disadap dapat dapat pada ujung fasa, ujung netral atau pada tengah-tengah kumparan.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


42
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Titik tap umumnya dipasang pada sisi kumparan tegangan tinggi, karena arusnya lebih rendah.
Pengubah tap tanpa beban seringkali dipasang pada transformator yang bebannya konstan,
tetapi dapat diubah jika perubahan beban yang tetap memerlukan penyetelan tegangan
sekunder (beban dinaikan mengakibatkan penurunan tegangan sekunder). Perubahan setelan
sadapan (tap setting) dapat dengan memindah dan membuat lagi sambungan berbaut atau
dengan suatu saklar. Kedua cara ini hanya dilakukan pada transformator tanpa beban. Dasar
pengaturan pengubahan tap tanpa beban diperlihatkan dalam diagram gambar .14.







Gambar 14. Off Load Tap Charger.
Suatu pengubah tap berbeban (on load tap charger) adalah peralatan untuk mengubah
perbandingan lilitan kumparan suatu transformator yang bertegangan atau berbeban. Pada
transformator generator atau transformator-transformator jaringan, alat pengubah tap ini sangat
penting untuk mengendalikan variasi tegangan kepada kondisi beban berubah.
Perubahan tegangan ini harus dilakukan saat beban karenanya alat pengubah tap harus
mampu untuk mengubah perbandingan lilitan tanpa mengganggu pasok tersebut. Hal ini berarti
ketika mengubah posisi tap, harus dilakukan dengan membuat kontak posisi baru sebelum
posisi kontak yang lama dibuka. Ini dapat menyebabkan terjadinya hubungan singkat lilitan dan
arus yang besar. Oleh karena itu dicegah dengan menggunakan resistor atau reaktor. Gambar
15. Memperlihatkan pengaturan untuk mengubah tap saat berbeban tipe resistor.



Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


43
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN










Gambar 15. On Load Tap Charger.

Diverter (pengalih) dan saklar-saklar selektor dijalankan dengan motor melalui mekanisme
penggerak yang rumit baik secara lokal ataupun remote control, tetapi dilengkapi handel untuk
dioperasikan manual pada saat motor atau penggeraknya gagal bekerja. Dengan gambar 15,
ditunjukan urutan pengoperasian yang terkait dalam suatu pengubah tap dari posisi 1 ke posisi
2, sebagai berikut :
1. Kotak a dan kotak b pada mulanya tertutup seperti diperlihatkan, dan arus beban
diambil melalui kontak b pada saklar diverter dan saklar selektor 1.
2. Begitu sinyal pengubah tap diberikan saklar diverter bergerak kekiri, kontak b membuka
dan arus beban sekarang mengalir melalui kontak a dan resistor R1.
3. Saklar diverter meneruskan gerakannya dan menutup kontak d sehingga resistor R1 dan
R2 sekarang berada dalam sirkuit tap 1 dan tap 2.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


44
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
4. Gerakan selanjutnya dari saklar diverter adalah membuka kotak a , sehingga arus beban
mengalir ke tap 2 melalui resistor R2 dan akhirnya menutup kotak c, dan menghubung
singkat resistor R2.
5. J ika selanjutnya dibutuhkan mengubah tap ke posisi 3, maka saklar selektor S1
dipindahkan ke tap 3 sebelum saklar diverter bekerja seperti urutan di atas, tetapi dalam
arah yang terbalik.

6.3. Arus dan Daya Trafo.
Efisiensi trafo pada saat berbeban mendekati 100%, sehingga untuk memudahkan dalam
perhitungan efisiensi trafo dianggap 100%. Proses transformasi tegangan pada trafo
sesunguhnya mengalami kerugian, yaitu : rugi tembaga, rugi histerisis dan rugi arus pusar
(Eddy current). Efisiensi trafo sesungguhnya sekitar 96 -98% untuk trafo kapasitas besar.
Karena efisiensi trafo dianggap 100%, maka daya pada sisi primer sama dengan daya pada sisi
sekunder.
P primer =P skunder.
V
1
. I
1
. Cos
1
= V
2
. I
2
Cos
2

Pada beban penuh faktor daya primer hampir sama dengan faktor daya sekunder, dan dalam
perhitungan faktor daya tersebut dianggap sama, sehingga :
V
1
. I
1
= V
2
. I
2
V
1
/ V
2
=I
2
/ .I
1
Dari perbandingan di atas diketahui bahwa arus berbanding terbalik terhadap tegangan. J adi
trafo yang menaikan tegangan arusnya rendah, sedang trafo yang menurunkan tegangan
arusnya lebih tinggi. Bila terminal sekunder dihubungkan ke beban, arus I
2
mengalir, dan
dengan berpedoman hukum Lenz, maka diketahui bahwa medan magnet yang arahnya
melawan medan magnet yang telah ada sehingga melemahkan atau mengurangi kekuatan
magnetnya. Akibatnya ggl di kumparan primer berkurang sehingga arus I
1
bertambah, untuk
mengimbangi penurunan kekuatan magnet (demagnetise) tadi. Setiap perubahan arus

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


45
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
sekunder menyebabkan perubahan arus primer yang sebanding, sampai amper tura seimbang
terjadi.
I
1
/ I
2
= N
2
/ N
1
atau I
1
. N
1
= I
2
. N
2

atau dapat dikatakan arus berbanding terbalik terhadap banyaknya lilitan.

















Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


46
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
7. TRAFO PENGUKURAN.
Pengukuran tegangan dan arus yang sangat tinggi, misalnya di switch gear secara langsung
dengan volt meter atau amper meter dipanel ruang kontrol adalah sangat berbahaya . demikian
pula sinyal deteksi untuk proteksi tegangan tinggi tidaklah mungkin menggunakan tegangan
tinggi langsung ke peralatan proteksi, karena selain sangat berbahaya terhadap manusia juga
memerlukan perlatan yang sangat besar. Untuk keperluan pengukuaran dan proteksi tegangan
yang relatif tinggi, disediakan trafo tegangan (VT) dan trafo arus ( CT ) yang out putnya adalah
tegangan dan arus yang randah.

7.1 Transformator arus.
Konstruksi dasar dari trasformator arus (CT) diperlihatkan pada gambar 16.






Gambar 16. Transformator Arus.
Konduktor utama merupakan kumpuran primer yang menghidupkan GGL dan oleh karena itu
arus yang mengalir dalam kumparan sekunder sebanding dengan aliran arus primer, standar
yang bisa digunakan untuk relay- relay proteksi dan instrument adalah 5,1 dan 0,5 amper.
Keluaran (Skunder) Trafo arus sirkuit tidak boleh terbuka, jika sisi primer nya sedang ada arus
yang mengalir, jika sirkuitnya sekunder, maka trafo harus dihubungkan singkat.

7.2 Transformator Tegangan.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


47
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Transformator tegangan ada dua macam yaitu transformator tegangan belitan (Wound VT) dan
transformator tegangan kapasitor (Capasitor VT) lihat gambar 17. transformator tegangan
belitan pada dasarnya adalah suatu transformator daya kecil yang out put dayanya hanya
sampai beberapa ratus volt amper.
Tipe ini digunakan pada tegangan sampai 150 kV, tetapi penggunaan TV tipe ini menjadi
sangat mahal dan mudah rusak, kadang kadang akibat bencana alam.oleh karena itu, utuk
tegangan 150 kv, dan yang lebih tinggi digunakan tipe ke dua. Trasformator tegangan kapasitor
adalah suatu pembagi tegangan dengan transformator belitan kecil yang dipasang pada sisi
tegangan rendah dari susunan kapasitor.
Karena transformator belitan hanya untuk melayani tegangan tegangan yang relatif rendah,
maka masalah isolasi menjadi berkurang. Tegangan sekunder distandarkan pada 110 V, setara
dengan tegangan phasa 63,5 V.











8. SISTEM PASOK LISTRIK.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


48
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Sistem PLTU memerlukan sejumlah peralatan bantu seperti pompa, fan dan sebagainya untuk
dapat membangkitkan tenaga listrik. Hampir semua peralatan ini menggunakan tenaga listrik,
dan sebagian peralatan bantu digerakkan dengan motor listrik.
Besarnya tenaga listrik yang diperlukan untuk menjalankan alat-alat bantu bervariasi antara
sekitar 6 % untuk PLTU kecil, hingga 4 % untuk PLTU dengan kapasitas 1000 MW. Sistem
yang mendistribusikan daya untuk pasok motor dan semua peralatan listrik di PLTU sering
disebut sitem alat bantu listrik Suatu Pemakaian sendiri .

8.1. Sistem Pasok Alat Bantu.
Sebelum memabahas sitem pasok alat bantu, karenanya perlu mengetahui alat-alat bantu
yang harus dipasok.
Alat-alat bantu station (Umum).
Alat-alat bantu listrik secara umum dapat diklasifikasikan menjadi 2 kelompok pasok daya, yaitu
:
a. Alat-alat bantu penting (urgen).
Adalah yang berkaitan langsung dengan kelangsungan jalannya unit PLTU, dan bila hilang
(mati) akan segera menyebabkan pengurangan keluaran unit.
Contoh alat bantu urgen antara lain adalah Compressor,FD fan, Mill (untuk PLTU batu bara)
atau pompa residu (untuk PLTU minyak). Tentu saja secara rinci ada perbedaan jumlah atau
jenis alat bantu yang digunakan di PLTU tergantung pabrik pembuat dan kondisi setempat.
b. Alat bantu pelayanan (service).
Adalah alat yang apabila hilang (mati) tidak akan berpengaruh pada output PLTU hingga
interval waktu tertentu. Alat bantu yang termasuk dalam kelompok ini adalah unit pemurnian air,
crane, atau turning gear atau alat bantu yang tidak termasuk dalam kelompok urgen.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


49
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
J umlah serta jenis alat bantu pelayanan ini juga berbeda antara PLTU satu dengan lainnya
tergantung kapasitas unit, jarak (konfigurasi) dan sebagainya. Alat bantu yang memerlukan
daya listrik yang paling besar adalah pompa air pengisi (BFP) dan pompa air pendingin (CWP).

8.1.1. Sistem Pasok Alat Bantu Station
Hal yang dapat dicatat dari skema dasar sistem pasok alat bantu station adalah, (lihat
gambar.18).









Gambar 18a. Sistem Pasok Alat Bantu

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


50
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN

Gambar 18b. Sistem Pasok Alat Bantu.


Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


51
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
1. Alat bantu urgen dihubungkan ke unit board, dan alat bantu pelayan ke station board.
2. Station board dipasok dari dua sumber, yaitu dari luar melalui bus tegangan jaringan di
switch yard dimana alternator dihubungkan atau dari alternator. J adi alat bantu pelayanan
dipasok melalui station trafo dari sistem jaringan.
3. Unit board dihubungkan ke station board melalui suatu penghubung (interconector). Bila
alternator sudah sinkron ke sistem jaringan, unit board dipasok oleh alternator melalui unit
transformer. Untuk keperluan start, pasok untuk alat bantu urgen dan pelayanan diambil
dari station trafo.

8.2. Tegangan Pasok Alat Bantu.
Alat-alat bantu dipasok dengan tingkat tegangan yang berbeda, yaitu 11kV, 6 kV dan 415 Volt,
tiga fasa dengan menggunakan trafo alat bantu (axiliary trafo). Pemilihan tegangan tergantung
pada dua faktor utama :
a. Ukuran station trafo harus cukup untuk beban yang paling tinggi.
Kapasitas station trafo beban pelayanan +beban operasi satu unit +beban start satu unit
(misal 52,7 MVA).
Umumnya laju arus (rate) maksimum untuk switch gear alat bantu dirancang 3000 Amp. oleh
karena itu tegangan yang cocok dipilih untuk menyesuaikan persyaratan ini , karena
MVA = 3 x kV x kA

MVA 52.7
maka kV = = = 10,3 kV
3 x kA 3 x 3


Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


52
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Standart tegangan yang digunakan untuk contoh diatas dipilih 11KV.

b. Ukuran motor-motor yang dipasok
Daya sebanding dengan Volt x Ampere, oleh karena itu makin tinggi tegangan, makin
berkurang arus untuk keluaran (out-put) yang sama. Maka luas penampang kumparan dapat
dikurangi yang berarti ukuran fisik motor juga berkurang. Tetapi hal ini mengakibatkan perlunya
menggunakan isolasi yang mampu menahan tegangan lebih tinggi. Oleh karena itu pabrik
motor harus melakukan kompromi antara mengurangi jumlah tembaga untuk kumparan dan
persyaratan isolasi yang lebih tinggi. Hasil kompromi terutama ditentukan oleh ekonomi
(harga) untuk ukuran motor tertentu.

8.3. Sistem Pasok Darurat ( Esensial ).
Didalam sistem PLTU, motor-motor alat bantu dan sistem kelistrikan lainnya adalah sangat
penting untuk keamanan manusia, unit, perlengkapan dan pengoperasiannya. Oleh karena itu
harus disediakan sistem pasok khusus untuk menjamin bahwa pada saat terjadi ganguan pada
pasok normal, tetap tersedia pasok untuk alat-alat bantu dan sistem kelistrikan sehingga
keamanan manusia, unit dan perlengkapan lainnya tetap terlindungi.
Pada umumnya pasok khusus atau biasa disebut pasok esensial (darurat) disediakan dengan
menggunakan batere yang dapat memasok, motor- motor DC (seperti pompa pelumas dan
perapat), atau dapat berfungsi sebagai pasok cadangan (back up) untuk alat bantu yang
biasanya dipasok DC (seperti kontrol dan proteksi, penerangan darurat, pemadam kebakaran,
peralatan komunikasi dan sebagainya). Semua alat bantu ini normalnya dipasok dari panel AC
melalui penyearah atau batere charges.
Dari gambar.19. Terlihat bahwa penyearah atau unit charger normalnya mempertahankan
tegangan batere agar selalu konstan dan memasok alat bantu DC. Bila pasok AC gagal, maka
alat bantu dipasok secara langsung dari batere. Sistem batere terpisah dipasang untuk
menyediakan pasok dengan tegangan standar DC dan batere akan mempertahankan pasok DC
untuk selama beberapa jam.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


53
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN








Gambar 19. Sistem Pasok Darurat.
Alat bantu lain, seperti instrumen dan kontrol komputer dan sistem alaram, yang memerlukan
pasok AC harus dijamin kelangsungan pasoknya dan tidak terputus.
Sistem pasok ini ditunjukan pada gambar .20.
Sistem ini pada dasarnya terdiri dari panel DC 240V batere yang di charge dengan penyearah/
charger. Panel DC 240V memberikan pasok AC 415V tiga fasa dengan inverter ke panel
distribusi AC. Dari bus 415V dapat ditranformasikan untuk menyediakan pasok AC 110V atau
disearahkan lagi untuk keperluan pasok DC. Alternatif pasok ke inverter adalah dengan
menggunakan motor (DC) generator set. Cara ini mempunyai keuntungan tambahan, yaitu
dapat diperoleh tegangan AC tiga fasa untuk memasok panel distribusi AC. Cara lain yang lebih
umum digunakan untuk penyediaan pasok darurat adalah dengan diesel generator set (gen-
set). Sistem pasok ini dilengkapi dengan fasilitas kontrol otomatis yang dapat start dan stop
diesel-generator ketika pasok normal terganggu.




Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


54
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN









Gambar 20. Sistem Pasok Darurat dengan Inverter











Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


55
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
9. MOTOR.

Sebagian besar motor yang digunakan di PLTU adalah motor AC tiga fasa. Hanya beberapa
buah motor yang digerakkan oleh sumber DC. Motor DC biasanya digunakan sebagai motor
stand-by atau emergency untuk alat bantu yang vital (penting).
Gaya menggerakan (torsi) pada kedua jenis motor dihasilkan oleh interaksi medan magnet dari
bagian yang diam dan bagian berputar. Semua motor terdiri dari bagian yang diam (disebut
stator untuk motor AC dan sistem medan pada motor DC) dan bagian berputar (disebut rotor
pada motor AC dan jangkar pada motor DC).

9.1. Motor Arus Searah.
Motor DC terdiri dari bagian yang diam, yaitu rangka (frame) dan sistem medan dan bagian
berputar, yaitu jangkar. Lihat gambar.21.









Gambar 21.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


56
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Rangka terbuat dari besi tuang atau baja dan mempunyai 4 kutub menghadap jangkar.
Kumparan terdiri dari sejumlah lilitan dipasang pada tiap kutub, sehingga jika arus DC mengalir
sistem medan menjadi magnit dengan kutub - kutubnya.
J angkar terbuat dari laminasi besi dan membentuk inti lingkaran dengan alur-alur disusun
sepanjang permukaannya. Poros penggerak dipasang ditengah jangkar dan disangga pada tiap
ujungnya oleh bantalan. Kumparan dipasang pada alur jangkar, sehingga menjadi magnet bila
dialiri arus.

9.1.1. Prinsip kerja
J ika jangkar dan medan dialiri arus DC, maka keduanya menjadi magnet, sehingga akan ada
gaya antara jangkar dan medan. Bila medan magnet disusun dengan arah yang sesuai, gaya
antara kutub pada medan dan kutub pada jangkar akan menyebabkan jangkar berputar dan
menghasilkan daya mekanik pada poros.
Untuk memasok arus kekumparan jangkar yang berputar dibutuhkan kontak geser. Selain itu
juga diperlukan alat untuk merubah arus DC yang mengalir di kumparan jangkar secara
kontinyu untuk menghasilkan gerakan berputar. Kedua persyaratan ini dilakukan dengan
menggunakan komutator. Komutator ini berbentuk cincin yang terdiri dari segmen-segmen dan
terisolasi satu sama lain dipasang pada poros jangkar. Kumparan jangkar dihubungkan ke tiap
segmen komutator. Arus masuk dan meninggalkan komutator (kumparan jangkar) melalui sikat
arang. Gambar. 22, menunjukan konstruksi komutator.

9.1.2. Jenis dan konstruksi
Terdapat tiga jenis motor DC, yaitu :
Motor seri
Motor shunt
Motor campuran (compound)

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


57
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Gambar.23, menunjukan tiga macam diagram motor DC.



















Gambar 22. Konstruksi komutator.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


58
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN




















Gambar 23c. Motor Compound
Gambar 23c. Motor Shunt.
Gambar 23a. Motor Seri

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


59
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
9.2. Motor Arus Bolak Balik.
Motor ini biasa disebut motor induksi. Umumnya biasa bekerja dengan putaran (kecepatan)
tetap dan dianggap sebagai yang paling handal.
Motor induksi terdiri dari rangka dan inti besi berlaminasi yang berbentuk alur-alur sebagai inti
membentuk silinder stator. Kumparan stator tiga fasa dipasang didalam alur-alur membentuk
lingkaran bagian dalam silinder stator, lihat gambar .24.










Gambar 24. Kumparan stator 3 phasa
inti rotor berlaminasi berbentuk silinder dengan alur-alur pada permukaan luar membawa
konduktor atau kumparan. Rotor dan stator dipisahkan oleh celah yang lebarnya sekitar 3mm.
Kumparan stator dihubungkan ke pasok utama dan terisolasi sesuai dengan tegangan yang
digunakan. Rotor dapat berupa tipe rotor belitan atau rotor sangkar tupai, lihat gambar 25.



Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


60
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN














Gambar 25. Konstruksi Rotor

9.2.1. Prinsip kerja.
Bila kumparan stator dihubungkan kepasok AC, timbul medan magnet sebagai mana dalam
motor DC. Tetapi sifat bolak-balik dari pasok AC membuat medan magnet juga berubah-ubah
Susunan kumparan stator dibuat sedemikian rupa sehingga medan magnet tersebut berputar.
Medan magnet ini menghubungkan (link) stator dan rotor, lihat gambar 26, sehingga
menyebabkan arus terinduksi didalam kumparan rotor. Arus yang mengalir didalam rotor
menghasilkan medan magnet yang berinteraksi dengan medan magnet putar stator. Akibatnya

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


61
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
timbul gaya pada rotor yang membuatnya berputar dalam arah yang sama dengan medan
magnet putar menghasilkan energi mekanik pada poros.












Gambar 26.
Kecepatan medan magnet berputar tergantung pada :
1. Frekuensi pasok AC
2. Banyaknya kutub pada kumparan stator.

Banyaknya kutub kumparan stator dapat 2, 4, 6, dan seterusnya, setiap perubahan banyaknya
kutub menyebabkan percepatan rotor berubah. Kecepatan medan berputar disebut kecepatan
sinkron dan dapat dihitung dengan formula berikut :

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


62
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
f x 60
Kecepatan sinkron = Rpm
P
Dimana f =frekuensi pasok listrik
p =banyak pasang kutub magnet stator

J adi apabila suatu motor induksi mempunyai empat kutub (2 pasang) stator, maka kecepatan
sinkron :

50 x 60
=1500 Rpm
2
Kecepatan rotor motor induksi tidak pernah sama dengan kecepatan sinkron, karena bila hal ini
terjadi pengaruh induksi antara medan magnet putar stator dan kumparan rotor atau gaya pada
rotor akan menjadi nol. Pada kenyataannya kecepatan rotor (poros) motor induksi saat berputar
tanpa beban adalah sekitar 2990 Rpm untuk motor satu pasang kutub dan sekitar 1490 Rpm
untuk motor dengan dua pasang kutub. Motor induksi mengatur sendiri kecepatan dan arus
yang mengalir karena kebutuhan beban. Perbedaan kecepatan antara medan putar dan rotor,
menyebabkan medan magnet stator memotong rotor, sehingga timbul ggl. Karen kumparana
rotor terhubung singkat, maka arus mengalir dan menghasilkan torsi. Bila beban naik,
kecepatan rotor berkurang dan medan magnet stator memotong lebih banyak rotor, sehingga
menginduksi arus yang lebih besar di rotor. Akibatnya torsi yang timbul naik untuk mengimbangi
kenaikan beban mekanik. stator akan menarik arus lebih tinggi dari pasok.



Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


63
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
9.2.2. Jenis motor induksi
Ada 2 jenis motor induksi dan hal ini dibedakan menurut jenis rotornya, yaitu :
1. Motor induksi dengan rotor sangkar
2. Motor induksi dengan rotor belitan
Motor induksi dengan rotor sangkar adalah jenis motor induksi yang banyak digunakan, karena
konstruksinya lebih sederhana dan lebih murah. Motor jenis ini putarannya konstan. Rotornya
terdiri dari inti dengan alur-alurnya diisi konduktor membentuk sangkar. Kedua ujung konduktor
dihubung singkat dengan ring ( cincin ).
Motor induksi dengan rotor belitan, yaitu rotornya berisi kumparan 3 fasa. Ketiga ujung
kumparan dihubungkan jadi satu membentuk titik bintang. Sedang tiga ujung kumparan yang
lain dihubungkan keluar dengan slip ring yang dipasang pada poros.
Dari slip ring dapat dihubungkan ke resistor untuk pengaturan putaran saat start atau
dihubungkan singkat melalui sikat arang. Motor jenis ini mempunyai torsi lebih besar dari jenis
pertama, tapi lebih besar dan mahal.

9.3. Metode Start Motor.
Salah satu kelemahan motor induksi yaitu kecepatannya tidak dapat bervariasi kecuali dengan
peralatan khusus. Tetapi kelemahan yang sangat mengganggu adalah arusnya sangat besar
pada saat start. Arus start ini dapat mencapai 6 kali arus beban penuh. Usaha untuk
mengurangi arus start yang tinggi terus dilakukan antara lain dengan memperbesar tahanan
rotor. Tetapi pengurangan arus start harus mempertimbangkan torsi yang cukup untuk
percepatan.

9.3.1. Start Motor Dengan Tahanan Luar.
Pada motor induksi dengan rotor belitan seperti gambar 27, tahanan luar dipasang atau
disambungkan kerotor belitan melalui slip ring yang dipasang pada poros.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


64
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Motor distart dengan membuat tahanan maksimum dalam sirkuit rotor. Begitu motor naik
putarannya tahanan rotor dikurangi secara berangsur-angsur hingga terhubung singkat pada ke
3 slip ring. Dalam kondisi ini daya yang dihasilkan pada rotor sama seperti pada rotor sangkar.

9.3.2. Metode start motor sangkar
Sebagaimana telah dikatakan bahwa besarnya arus start (arus mula) motor jenis rotor sangkar
adalah sampai 6 kali arus beban penuh. Misalnya untuk motor 150 Hp (110 kW) , 3.3.KV. Arus
beban penuh kira-kira 230 A, maka arus start yang diserap menjadi kira-kira 1150 sampai 1330
A. Oleh karena itu start langsung tidak dapat dilakukan karena arus yang besar memerlukan
sumber pasok yang cukup dan diameter kabel yang besar, sehingga harus digunakan metode
lain untuk menstart motor ukuran besar. Metode yang lebih umum digunakan ialah dengan
menurunkan tegangan suplai dan ini dapat dicapai dengan :
Metode start bintang / delta
Metode start auto tranformator
Metode start dengan sangkar ganda









Gambar 27. Start Motor dengan Tahanan Luar.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


65
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
a. Start dengan metode bintang / segi tiga
Pada gambar terlihat bahwa kedua ujung tiap pasa kumparan (semua ada 6 ) dibawa keluar
motor dan dihubungkan pada saklar khusus yang mempunyai 3 posisi, START , OFF , RUN
. Pada posisi START kumparan terhubung bintang dan pada posisi RUN kumparan terhubung
delta . Dengan demikian tegangan tiap fasa waktu start adalah 1/ 3 dari tegangan pasoknya
dan torsi start juga akan berkurang menjadi (1/ 3 )
2
atau 1/3 dari torsi jika distart langsung.
Penurunan torsi start merupakan salah satu keburukan dari metode ini, selain itu pengawatan
pada saklar pemindah dan pemindahan dari hubungan bintang ke segi tiga juga relatif rumit.
Prosedur start motor adalah memindahkan handel saklar dari
posisi off ke posisi Start dan menunggu sesaat hingga motor berjalan dengan kecepatan
operasi. Selanjutnya handel dipindahkan dengan cepat dari posisi Start melalui Off ke posisi Run.
Pada beberapa instalasi, gerakan dari posisi Start ke posisi Run dilakukan secara otomatis.

b. Start dengan auto transformer.
Gambar 28, .memperlihatkan metode start dengan menggunakan auto transformator. Pasok
motor diberikan melalui auto transformator dan saklar start (start switch) kumparan stator. Bila
stator dihubungkan pada posisi start, maka kumparan-kumparan tersebut dipasok dengan
tegangan yang diturunkan dari output (sekunder) auto transformator dan dalam posisi Run
diambil langsung dari pasok. Biasanya, diatur dengan beberapa sadapan tiap fasa supaya
diperoleh tegangan output yang lebih sesuai untuk diberikan kepada motor.





Gambar 28 metode start menggunakan auto transformator.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


66
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Pada saat motor distart, tegangan pasok diturunkan sesuai dengan perbandingan kumparan
transformator sehingga arus start dan torsi berkurang sebesar kuadrat perbandingan tegangan
trafo.
Arus start dengan auto transformator (Tegangan output)
2

=
Arus start dengan start langsung Tegangan pasok

Keuntungan penggunaan auto trafo dibanding tipe start / delta adalah tidak diperlukan
sambungan 6 kawat dan stater switch (saklar start) yang rumit.














Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


67
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
10. Switchgear.
Switch gear atau peralatan penghubung adalah suatu alat yang mampu menghubungkan,
menghantarkan, dan memutuskan arus listrik. Pada umumnya switchgear yang terpasang di
PLTU disebut Circuit Breaker (CB) atau pemutus tenaga (PMT).

10.1. Tugas switch gear adalah sebagai beri kut :
1. Menyalakan (switch on) dan mematikan (switch off) peralatan dan rangkaian listrik.
2. Mampu menghantarkan arus beban penuh
3. Mampu menahan arus start rangkaian motor
4. Mampu menahan tegangan penuh melintas kontaknya ketika terbuka
5. Mampu menahan panas aliran arus, gaya elektro magnet, dan pengaruh busur
6. Mampu menghubungkan dan memutuskan arus induktif dan atau kapasitif
7. Mampu memutuskan arus gangguan untuk mengeluarkan peralatan yang rusak, atau
menahan arus gangguan sampai PMT yang lain membebaskan gangguan
8. Mampu menutup (menghubungkan) pada rangkaian yang terganggu dan segera membuka
kembali
9. Contoh besarnya arus ganguan , pada tegangan 400 KV, arus normalnya 4.000 Amp; arus
gangguan 50.000 Amp. PMT harus dirancang untuk mampu menahan pemutusan arus
ganguan hingga tingkat tersebut. Kemampuan PMT memutuskan arus gangguan disebut
Rating atau Rupturing capacity dan dengan satuan MVA. Kerja PMT yang terbesar
adalah saat memutuskan arus (beban), karena pada saat itu timbul busur api akibat
terputusnya arus.





Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


68
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
10.2. Jenis Switchgear
Terdapat beberapa jenis PMT, tetapi secara umum dapat dikelompokan menjadi 4, sesuai
dengan media peredam busur apinya.
a. PMT minyak ( OCB )
b. PMT udara ( ABB )
c. PMT gas ( GCB )
d. PMT vakum ( VCB )
PMT minyak merupakan PMT paling tua, dan digunakan untuk tegangan rendah hingga
tegangan sangat tinggi. PMT udara lebih murah dan lebih aman dibanding PMT minyak. PMT
ini banyak digunakan untuk tegangan rendah hingga tegangan ekstra tinggi. PMT gas
merupakan PMT yang kini banyak digunakan karena bentuknya ringkas (kecil), tetapi
mempunyai kapasitas tinggi dan dapat digunakan hingga tegangan ekstra tinggi. Lebih aman
dan bebas pemeliharaan (free maintenance). PMT vakum biasanya digunakan untuk tegangan
rendah hingga menengah. Bebas pemeliharaan dan ringkas (simple).

10.3. Konstruksi san Prinsip Kerj a.
a. PMT minyak (OCB)
Kontak-kontak pada PMT minyak direndam dalam tangki. Pada PMT kapasitas rendah kontak-
kontak dari ketiga fasanya ditempatkan dalam satu tangki. Pada PMT minyak kapasitas besar
kontak-kontak setiap fasa ditempatkan didalam tangki terpisah, tetapi dikopel bersama, lihat
gambar 29.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


69
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN











Gambar 29.
Kontak diam dan kontak gerak ditempatkan dalam suatu peralatan kontrol busur khusus,
disebut explosion pot atau turbulator pot. Proses pemutusan, begitu kontak gerak mulai
bergerak terpisah dari kontak diam, timbul busur api. Minyak bergerak memutuskan busur ini
sehingga terbentuk gas yang menimbulkan tekanan didalam pot dan gas mengalir sebagai
mana ditunjukan pada gambar 30a. Kontak gerak makin jauh dan busur api makin panjang
hingga memotong vent samping. Busur ini menyebabkan minyak tetap terpisah sampai arus
mendekati nol, dan tekanan gas yang ada akan mendorong busur kesamping melalui vent
sehingga busur padam, lihat gambar.30b. Minyak dingin yang terdekat cenderung naik
temperaturnya menyerap panas, sehingga timbul sirkulasi konveksi penggantian minyak
didalam pot.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


70
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN

Gambar 30 a. Gambar 30 b.
Minyak selain memadamkan busur api juga menjadi isolasi penghalang antara komponen yang
hidup (bertegangan) dan tangki metal serta kontak saat PMT terbuka.
Tangki PMT minyak berisi minyak dalam jumlah yang besar sehingga selalu ada resiko
kebakaran. Oleh karena itu jenis PMT ini harus dilengkapi dengan sistem pemadam kebakaran.

b. PMT udara (ABB)
Ada dua jenis PMT udara, yaitu PMT udara alami Air break circuit breaker (ABCB) dan PMT
udara bertekanan Air blash circuit breaker (ABB). ABCB hanya mempunyai kemampuan
sampai tegangan menengah, sementara ABB dapat digunakan hingga untuk tegangan ekstra
tinggi. Rakitan kontak dipasang didalam interrupter head terisolasi, dan pada tiap fasa dapat
terdiri hingga 12 interrupter yang dipasang seri, tergantung pada tegangan kerjanya. J ika sinyal
trip diberikan, udara kempa bertekanan tinggi menggerakan kontak untuk terbuka. Tetapi udara
yang sama juga digunakan untuk mendinginkan dan menghembus (memadamkan) busur

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


71
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
sebelum akhirnya membuang ke atmosfir, lihat gambar.31. ABB terdiri dari dua jenis, yaitu
bertekanan dan tidak bertekanan.









Gambar 31.
ABB tidak bertekanan.
ABB tidak bertekanan merupakan rancangan yang lebih dahulu. Pada ABB ini udara kerja
disimpan didalam penampung (reciever) yang dipasang secara mendatar dibawah head.
Interrupter head terpasang tegak di atas reciever. Bila sinyal trip diterima katup blast yang
terpasang pada receiver membuka sehingga udara naik ke interrupter head dan mendorong
kontak untuk membuka sekaligus memadamkan busur api. Begitu kontak utama terbuka,
selanjutnya katup blast mentrip dan kontak interrupter menutup kembali. Kelemahan jenis ini
adalah adanya penundaan (delay) waktu antara pembukaan katup head dan pembukaan katup
interrupter head.




Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


72
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
ABB bertekanan.
Didalam jenis ini seluruh bagian PMT, yaitu receiver, kolom penyangga, dan interrupter head
terisi udara bertekanan. Katup pembuang (exhaust) dipasang antara kontak utama dan atmosfir
untuk membuang udara penggerak dan peredam busur ke atmosfir. Setelah pembukaan, katup
pembuang menutup lagi dan kontak terjaga terpisah, sementara seluruh sistem tetap
bertekanan. Penutupan (closing) PMT dilakukan dengan udara bertekanan menggerakan piston
untuk menutup kontak kembali.
Penurunan (kehilangan) tekanan udara yang cepat didalam PMT jenis ini, dapat menyebabkan
penutupan kembali (reclosing) atau loncatan bunga api yang tidak dijamin keamanannya
dengan akibat kerusakan terutama pada saat alternator shut down. Oleh karena itu dibuat
sequence (urutan) setelah PMT membuka, beberapa detik kemudian lengan isolasi (pemisah)
juga membuka. Gambar 32, menunjukan contoh PMT udara bertekanan.













Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


73
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN



















Gambar 32 . PMT Udara bertekanan


Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


74
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
c. PMT dengan Media Gas (GCB).
Media gas yang digunakan pada tips PMT ini adalah gas SF6 (sulphur hexafluoride) sifat-sifat
gas SF6 murni ialah tidak berwarna, tidak berbau, tidak beracun dan tidak mudah terbakar.
Pada temperatur di atas 150 C gas SF6 mempunyai sifat tidak merusak metal, plastik dan
bermacam-macam bahan yang umumnya digunakan dalam pemutus tenaga tegangan tinggi.
Sebagai isolasi listrik, gas SF6 mempunyai kekuatan dielektrik yang tinggi (2,35 kali udara) dan
kekuatan dielektriknya bertambah dengan pertambahan tekanan. Sifat lain dari gas SF6 ialah
mampu mengembalikan kekuatan dielektrik dengan cepat, setelah arus bunga api listrik melalui
titik nol.
PMT SF6 ada 2 tipe, yaitu :
* Tipe tekanan tunggal (single pressure type).
* Tipe tekanan ganda (double pressure type) dimana pada saat ini sudah tidak diproduksi lagi

Pada PMT tipe tekanan tunggal PMT diisi gas SF6 dengan tekanan tinggi kira-kira 5 Kg/cm
2
.
Selama pemisahan kontak-kontak gas SF6 ditekan ke dalam suatu tabung / cylinder yang
menempel pada kontak bergerak.
Pada waktu pemutusan gas SF6 ditekan melalui nozzle dan tiupan ini yang mematikan busur
api.
Pada tipe tekanan ganda gas dari sistem tekanan tinggi dialirkan melalui nozzle ke gas sistem
tekanan rendah selama pemutusan busur api.
Pada sistem gas tekanan tinggi tekanan gas berkurang lebih 12 Kg/cm
2
dan pada sistem gas
tekanan rendah, tekanan gas kurang lebih 2 Kg/cm
2
. Gas pada sistem tekanan rendah
kemudian dipompakan kembali ke sistem tekanan tinggi.




Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


75
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Gambar 23. Menunjukkan konstruksi PMT gas SF6.
Prinsip kerja dari PMT gas ini serupa dengan PMT udara, hanya saja peredam busur apinya
menggunakan gas SF6.


G
a
m
b
a
r






Gambar 23. Konstruksi PMT Gas.
d. PMT Vakum (hampa).
Sistem peredaman busur api listrik dengan hampa udara, busur api terjadi sangat kecil karena
di dalam ruang hampa tidak terdapat media atau elektron-elektron bebas yang memungkinkan
terjadinya proses busur api listrik yang besar. Maka ruang hampa merupakan dielektrikum yang
baik. Peralatan hubung dengan hampa (vaccum) sangat praktis di dalam pemeliharaan seperti
seakan-akan bebas pemeliharaan. Alat hubung semacam ini dapat digunakan pada peralatan
tegangan menengah.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


76
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN











Gambar 24 Peralatan Hubung Dengan Sistem Hampa
Pada peralatan hubungan dengan hampa, antara dua kontak yang menghubungkan di
desain satu kontak diam dan satu kontak gerak.








Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


77
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
11. PROTEKSI ALTERNATOR DAN TRANSFORMATOR.

Gangguan sistem daya adalah keadaan tidak normal (abnormal) suatu bagian sistem yang
mempengaruhi peralatan utama seperti alternator , trafo, busbar, dan sebagainya.
Gangguan tersebut dapat menyebabkan kerusakan alat, dan terganggunya sistem secara
keseluruhan. Oleh karena itu untuk mencegah kerusakan dan kelangsungan pasok sistem
tenaga listrik bagian atau alat yang terganggu harus diisolasi atau dipisahkan dari sistem dan
dipadamkan.
Peralatan utama listrik PLTU adalah alternator dan trafo, yang harus diberi pengaman atau
proteksi untuk melindungi dari kerusakan yang lebih fatal. Skema rangkaian pengaman pada
alternator dan trafo ditunjukan pada gambar 34.











Gambar 34. Skema Rangkaian Pengaman Alternator dan Trafo.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


78
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
PROTECTION CONCEPT FOR A LARGE GENERATOR IN UNIT CONNECTION
G - Generator
T - Unit Transformer
S - Circuit Breaker
LS - Load switch ;
(which can switch normal load currents)
Relay :
1. Differential Protection generator
2. Differential Protection, unit transformator.
3. Differential Protection, service trasformator.
4. Stator eart fout protection.
5. Inter- trunt fault protection.
6. Eart fault protection starting circuit.
7. over curerrent Protection sevice transormer.
8. Overccurents protections exiter trasformer.
9. Staror over load protection.
10. Reserve power protection.
11. Over voltage protections.
12. Minumum impedance or maximum current / minimum voltager bac-up protection.
13. Asynchornous running protection.
14. Asymmetrical load protection.
15. Minimum frequensi protection.
16. Rotor eart fault protection.
17. Rotoroverloadprotection.
( * Coutesy : Brown Boveri, Switzerland )

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


79
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
11.1. Proteksi Alternator.
a. Proteksi differential
Proteksi ini dibuat untuk mendeteksi gangguan didalam daerah yang tertutup. Proteksi hanya
peka terhadap gangguan di daerah yang diproteksi dan di luar daerah ini tetap stabil tidak
terganggu, lihat gambar 35.















Gambar 35. Proteksi Diferential.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


80
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Batas daerah yang diproteksi adalah posisi CT. Dalam kondisi sehat (normal), arus yang masuk
daerah yang diproteksi sama dengan arus meninggalkan daerah yang diproteksi. Pada saat
terjadi gangguan kedua harga arus menjadi tidak sama, sehingga mengerjakan relay untuk
proteksi. Relay ini digunakan untuk mengirim sinyal Trip ke PMT dan stop valve, bila ia bekerja.
Relay ini dipasang untuk proteksi alternator terhadap hubung singkat antara fasa atau hubung
singkat antar lapisan dalam satu kumparan generator atau trafo.

b. Proteksi Beban tidak Seimbang (Negative phase sequence).
Bila terjadi gangguan beban tidak seimbang didalam sistem, suatu arus gangguan termasuk
komponen urutan fasa negative akan mengalir didalam mesin sinkron yang terhubung
dengannya. Arus lebih fasa negative akan menimbulkan medan didalam mesin yang berputar
dalam arah yang berlawanan, termasuk arus putar (Eddy) yang besar pada permukaan rotor,
sehingga menaikan temperatur secara cepat. Bila hal ini berlangsung dalam waktu yang tidak
lama arus fasa negatif didalam mesin akan mengakibatkan kerusakan rotor yang fatal.
Relay ini dipasang untuk mencegah kerusakan akibat arus lebih urutan fasa negatif pada mesin
sinkron. Simbol relay adalah 4 6G.

c. Proteksi Hubung Tanah
Gangguan fasa ke tanah terjadi didalam celah alur kumparan stator. Arus gangguan ini secara
langsung dihubungkan ketanah melalui Neutral earthing resistor. Bila arus hubung tanah ini
cukup besar akan menyebabkan kebakaran berat pada inti dan kumparan stator, sehingga
diperlukan waktu dan biaya yang tinggi untuk memperbaikinya.

d. Proteksi Volt perherzt
Proteksi ini untuk mencegah panas lebih pada rotor alternator akibat overfluxing. Bila tegangan
dan frekuensi tidak seimbang lagi, maka penambahan eksitasi dapat melebihi batas yang
ditenttukan. Hal ini akan menyebabkan rotor sangat panas oleh arus eksitasi yang sangat tinggi
sehingga dapat terbakar. Hal ini dapat terjadi pada saat proses shut down mesin ketika PMT

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


81
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
alternator sudah terbuka dan putaran turbin sudah turun sementara AVR masih posisi otomatis,
sehingga untuk mempertahankan tegangan konstan, arus eksitasi harus ditambah terus.

11.2. Proteksi Bantalan alternator.
Ketika alternator beroperasi akan selau timbul suatu ketidak seimbangan magnetisme didalam
mesin. Hal ini akan menyebabkan terinduksi tegangan rendah didalam badan rotor dan poros.
Bila tidak dihambat tegangan ini akan menyebabkan arus mengalir ke rangkaian berimpedansi
rendah, yaitu badan rotor, bantalan, perapat dan pondasi alternator.










Gambar 36. Proteksi Bantalan Alternator
Arus ini akan menyebabkan kerusakan yang serius pada permukaan bantalan dan minyak
pelumas. Oleh karena itu arus ini dicegah melewati bantalan dengan menyisipkan isolasi dalam
posisi untuk mengisolasi bantalan, perapat poros dan pipa-pipa yang terkait dari rangka
alternator, lihat gambar 36.


Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


82
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
11.3. Proteksi Trafo.
Sebagaimana pada alternator, pada trafo juga dilengkapi dengan froteksi defferensial untuk
mengamankan trafo dari gangguan hubungan singkat antara fasa dan hubungan singkat antara
kunduktor dalam suatu kumparan (fasa)
a. Relay Bucholz
Relay Bucholz digunakan untuk semua trafo yang berkapasitas besar. Rek ini secara langsung
mendeteksi gangguan listrik pada trafo. Bila terjadi hubungan singkat didalam trafo, timbul
panas yang menyebabkan minyak trafo sebagian berubah menjadi gas dan gelembung gas.
Tekanan minyak didalam tangki trafo naik dan gas serta gelembung gas naik dari tangki menuju
oil Conservation, lihat gambar 37.
Relay Buchokz dipasang pada pipa penghubung antara tangki dan oil conservator. Akibat
naiknya gas minyak ke Consevator akhirnya aliran ini mengangkat relay Buchokz sehingga
kontak merkuri terhubung dan memberikan aliran. Apabila hal ini berlangsung terus gas yang
naik ke Conservator semakin banyak sehingga kontak ke dua dari relay Buchokz kerja dan
memberi sinyal untuk trip PMT.
Trafo yang tidak mempunyai oil Conservator menggunakan Sudden Pressure Relay untuk
mentrip PMT.
b. Relay Temperatur Belitan Trafo
Panas lebih pada belitan trafo oleh beban lebih yang berlangsung lama atau gangguan
peralatan pendingin tidak segera menimbulkan bahaya atau kerusakan. Tetapi keadaan seperti
ini akan berpengaruh terhadap umur kerja trafo.
Panas yang tinggi menyebabkan merosotnya kemampuan material isolasi. Oleh karena itu
semua trafo dilengkapi dengan proteksi terhadap panas lebih denganmenggunakan indikasi
terperatur kumparan.
Sistem proteksi ini terdiri dari tabung tertutup, pipa kapiler dan sistem indikator pipa bowdon
yang terisi dengan cairan atau gas. Tabung (bulb) dipasang di sisi atas tangki trafo dalam
kantong. lihat gambar 38. Bagian paling panas didalam kumparan akan lebih tinggi dari pada
temperatur minyak pada sisi atas tangki.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


83
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN
Hal ini dikonpensasi dengan coil pemanas yang dipasang sekitar kantong tabung, yang dipasok
dari CT didalam rangkaian kumparan utama.











Gambar 37. Relay Bucholz.
Mekanisme indikator dipasangi dengan dua switch mercury, 1 memberi aliran bila temperatur
kumparan mencapai Setting, yang ke dua mentrip trafo dengan membuka RMT, bila temperatur
mencapai setting trip (105
0
C).






Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


84
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN


















Gambar 38. Relay Temperatur Belitan Trafo.



Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan


85
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
TEORI KELISTRIKAN






79

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan