Anda di halaman 1dari 17

0

STATUS UJIAN
PSIKIATRI





Pembimbing:
dr. Arundhati, Sp.KJ



Disusun oleh :
PURNAMANDALA
030.08.195


KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA
RS. SOEHARTO HEERDJAN
PERIODE 7 JULI 15 AGUSTUS 2014
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA


1

STATUS PSIKIATRI

Nomor Rekam Medis : xx . xx . xx
Nama pasien : Tn. O H
Nama dokter yang merawat : dr. Asmara Hadi Sp.KJ
Masuk RS pada tanggal : -
Rujukan/datang sendiri/keluarga : Tn. H (keluarga)
Riwayat Perawatan : Tidak pernah dirawat sebelumnya
I. IDENTITAS
Nama : TN. O H
Tempat & tanggal lahir : Pandeglang, usia 33 tahun
Jenis kelamin : laki- laki
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Suku bangsa : Jawa
Alamat : -
Status perkawinan : belum menikah
Pekerjaan : Buruh tani

II. RIWAYAT PSIKIATRI
Autoanamnesis dilakukan di Ruang Perkutut RSJSH pada:
31 Juli 2014 pukul 10.00 WIB
1 Agustus 2014 pukul 16.00 WIB\
2 Agustus 2014 pukul 10.00 WIB
Alloanamnesis dilakukan via telepon pada 1 Agustus 2014 pukul 09.00 WIB.
2
A. Keluhan Utama
Pasien dibawa keluarganya ke RSJSH karena mengamuk di rumah sejak 1
hari SMRS.

B. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dibawa keluarganya ke RSJSH karena mengamuk di rumah. Pasien
marah marah dan membanting barang barang di rumah sejak satu hari SMRS. 1 hari
Sebelumnya pasien ditemukan di daerah yang jauh dari rumah, pasien berjalan pada
malam hari tanpa menggunakan alas kaki. Menurut keluarga pasien, pasien berjalan
seperti tanpa sadar.
Saat diwawancara pasien merasakan lebih tenang, setelah dirawat selama satu
bulan di RSJSH. Pasien mengaku mengamuk ngamuk di rumah karena teringat dan
kesal terhadap kejadian masa lalu pasien dimana pasien merasa bersalah karena saat
ayahnya meninggal, pasien dibawa kakak iparnya ke pesantren untuk berobat. Pasien
mengakui sering jalan pada malam hari tanpa alas kaki sebelumnya, pasien
mengeluhkan hal tersebut dilakukan tanpa sadar, seperti ada yang mengendalikan
pasien. Pasien sangat meyakini bahwa dirinya dikendalikan saat itu, akan tetapi tidak
ada perintah atau suruhan siapapun. Pasien menyangkal adanya suara, atau orang yang
selalu di sekitar pasien. Saat ini pasien lebih senang sendiri dan tidak terlalu menyukai
keramaian.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Psikiatri Sebelumnya
Menurut keluarga pasien, pertama kali mengamuk pada tahun 2007, Selain
mengamuk pasien sering terlihat bergerak gerak mulutnya seperti berbicara tetapi tidak
ada suara. Saat itu pasien dibawa kakak iparnya ke pesantren dan di rawat sampai
tenang selama 40 hari. Saat pasien dirawat, ayah pasien meninggal dunia. Setelah
tenang pasien diberitahu bahwa ayahnya meninggal, dan pasien saat itu sedih biasa,
pasien tetap melakukan kegiatan sehari harinya menggantikan ayahnya untuk bertani di
sawah. Menurut keluarga sejak saat itu, saat melamun pasien sering terlihat berbicara
dan tertawa sendiri tanpa ada suara dan lawan bicara. Hal seperti ini sering sekali
terjadi saat pasien melamun dan sendirian
3
Pada tahun 2012 pasien mengamuk kembali, selain mengamuk pasien sempat
menyayat kakinya dengan pecahan kaca. Saat ditanya pasien mengakui hal tersebut
dilakukan karena merasa bersalah dan kesal tidak ada saat ayah pasien meninggal.
Selain itu pasien sering berjalan keliling malam-malam tanpa jelas, oleh karena itu
pasien hanya diikat di rumah oleh keluarganya. Menurut keluarga setelah terlihat
tenang pasien dilepas dam kembali ke aktivitas sehari hari bertani. Dalam pergaulan
pasien mulai lebih sering sendiri, dan sering melamun seperti sebelumnya.
2 hari SMRS, menurut keluarga, pasien mulai sering berjalan kaki dan keluar
tanpa tujuan. Menurut pasien, ia dikendalikan kekuatan dari luar yang tidak diketahui
pasien. Pasien merasa tidak sadar dan dibawa ke daerah yang jauh. Pasien sadar saat
pasien sudah berada di tempat yang jauh, dan pasien pulang sendiri kerumah.Sesampai
di rumah pasien mengamuk, pasien marah marah tidak jelas dan membanting barang-
barang dirumah. Pasien dibawa keluarganya ke RSJSH atas anjuran tetangga pasien
yang dokter di RSU Pandeglang.

Grafik Perjalanan Penyakit











Tahun 2007 (40 hari) 2009 (100 hari) 2014 (1 bulan)
Keluhan Timbul pertama
kali gejala psikotik
namun pasien
hanya berobat di
pesantren. Saat di
Gejala psikotik
timbul kembali
sampai menyakiti
diri sendiri. Pasien
hanya diikat di
Gejala psikotik
timbul kembali,
dan pasien
mangamuk di
rumah.
2007
2009 2014
4
pesantren ayah
pasien meninggal
rumah oleh
keluarganya.

2. Riwayat Medis Lainnya
Riwayat demam, kejang berulang, trauma dan operasi disangkal oleh pasien.

3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif dan Alkohol
Pasien menyangkal pernah mengkonsumsi obat - obatan terlarang dan alkohol.
Serta pasien menyangkal merokok.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat prenatal dan perinatal
Masa ini dilalui dengan baik, pasien tergolong anak yang sehat, tanpa
ada keterlambatan pada proses tumbuh kembang. Pasien sudah dapat berjalan
diatas usia 1 tahun. Pasien tidak pernah mengalami sakit yang berat dan tiadak
pernah mengalami trauma saat kecil
2. Riwayat masa kanak awal (0-3 tahun)
Keluarga mengatakan pasiensangat ceria dan sangat aktif dalam
bermain, tidak ada keterlambatan dalam proses belajar dan masuk sekolah
3. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pasien diakui keluarga sebagai anak yang ceria dimasa kecilnya,
memiliki banyak teman bermain, punya prestasi yang kurang bagus namun
tidak pernah tinggal kelas. Pasien termasuk anak yang baik dan tidak pernah
melanggar aturan
4. Riwayat masa kanak akhir (pubertas) dan remaja
a. Hubungan Sosial
Walaupun pasien anak yang pendiam dan tertutup, pasien masih mau
menurut terhadap orang tua. Pasien tidak pernah memiliki masalah dengan
keluarganya, teman ataupun tetangganya. Pasien tidak mempunyai sahabat
dekat , pasien hanya mempunyai beberapa teman biasa saja. Pasien sering
ikut berkumpul dengan teman temannya, akan tetapi pasien hanya diam saja.
Pasien lebih merasa tenang dan nyaman jika sendiri saja.
b. Riwayat Sekolah
5
Pasien menyelesaikan pendidikannya hanya sampai SD. Walaupun
tidak terlalu bagus, pasien tidak pernah tinggal kelas. Pasien tidak
melanjutkan sekolah karena permasalahan biaya.
c. Perkembangan Kognitif dan Motorik
Pasien mampu untuk menulis dan membaca. Menurut keluarga tidak
ada hambatan. Tidak ada gangguan dalam perkembangan. Sejak lulus SD
pasien bekerja sebagai petani dengan ayahnya.
d. Problem emosi atau fisik khusus remaja
Sejak kecil, pasien merupakan pribadi yang tertutup dan lebih banyak
diam. Pasien dikenal sebagai orang yang pendiam namun sering berkumpul,
tidak pernah marah ataupun berkelahi denggan teman. Menurut keluarga,
pasien cukup banyak temannya.

5. Masa Dewasa
a. Riwayat Pekerjaan
Pasien sejak lulus SD bertani dengan ayahnya sampai dewasa. Selain
bertani pasien sempat berkerja di bangunan, akan tetapi hanya sebentar
karena pasien tidak nyaman. Pasien lebih memilih sebagai petani.
b. Riwayat psikoseksual dan pernikahan
Pasien belum menikah, bahkan sampai saat ini pasien tidak pernah
berpacaran. Menurut pasien, pasien belum membutuhkan pendamping dan
tidak terlalu penting, dikarenakan belum ada penghasilan yang cukup untuk
membiayai hidup orang. Selain itu pasien merasa sulit dekat dengan wanita
karena tidak punya handphone, sempat pasien dipinjamkan oleh keponakan
pasien, akan tetapi pasien tidak mengerti cara menggunakannya.
c. Riwayat Pendidikan Militer
Pasien tidak memiliki riwayat pendidikan militer
d. Riwayat Pendidikan
Pasien menyelesaikan pendidikannya sampai SD.

e. Latar Belakang Agama
Pasien merupakan pemeluk agama Islam. Pasien mengikuti ajaran
Islam sebagaimana mestinya, seperti menunaikan ibadah shalat 5 waktu,
puasa maupun zakat.
6
f. Aktivitas Sosial
Pasien memiliki hubungan sosial yang baik dengan tetangga dan
teman-temannya, namun pasien tidak memiliki sahabat dekat dan hanya
memiliki sedikit teman biasa saja.
g. Keadaan Aktivitas Saat di Rumah dan Lingkungan Sekitar
Pasien tidak memiliki masalah dengan keluarga dan tetangganya.
Pasien hanya sesekali berinteraksi dengan keluarga dan tetangganya.

h. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien tidak mempunyai riwayat pelanggaran hukum
i. Riwayat Seksual
Pasien tidak mempunyai riwayat hubungan seksual sebelum menikah
dan pelecehan seksual.
E. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak ke 4 dari enam bersaudara. Menurut keluarga, tidak
ada keluarga yang seperti pasien. Baik saudara kandung atau saudara dari kakek
nenek pasien.
Genogram










Keterangan
Laki-laki
Perempuan
Pasien
Atau
Meninggal
7


F. Riwayat Sosial Ekonomi.
Pasien tinggal di rumah peninggalan ayah pasien bersama ibu, kakak dan adik pasien
beserta keluarga. Keluarga pasien termasuk keluarga kurang mampu. Pasien
mendapat penghasilan hanya dari bertani di tempat yang dikelola oleh kakak iparnya
saat ini.
G. Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya
1. Impian
Pasien ingin bertani kembali
2. Fantasi
-
3. Sistem nilai
Pasien menganggap dirinya sakit di pikirannya dan dibawa kesini karena prilakunya
4. Dorongan kehendak
Ingin pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarga.
5. Hal yang menjadi sumber kejengkelan atau frustasi dan yang membuat bahagia atau
senang
Hal yang membuat jengkel atau frustasi :
Teringat ketiadaan pasien saat ayah pasien meninggal
Hal yang membuatnya bahagia atau senang :
Bekerja di pertanian dan berkumpul dengan keluarga






II. STATUS MENTAL
Dilakukan pada tanggal 31 Juli 2014 pukul 10.00 WIB di Ruang Perkutut RS.
Jiwa Soehart Heerdjan.

A. Deskripsi Umum
8
1. Penampilan Umum
Tampak sesuai umur, tubuh terlihat kurus, kulit sawo matang. Pada saat dilakukan
wawancara, pasien tampak melakukan perawatan diri dengan baik, postur baik, dan
tampak tenang

2. Kesadaran
- Neurologis/biologis: compos mentis
- Psikologis : terganggu
- Sosial : baik
3. Perilaku dan aktivitas motorik
Sebelum wawancara: pasien sedang duduk - duduk di ruangan
Selama wawancara: pasien duduk dengan tenang, ekspresi wajah tenang , kontak
mata dengan pemeriksa kurang adekuat
Setelah wawancara: pasien kembali untuk makan dan istirahat dengan tenang
4. Pembicaraan
Pasien menjawab pertanyaan yang diajukan dengan volume suara pelan, dan
spontan.
5. Sikap terhadap pemeriksa : kooperatif

B. Alam Perasaan
1. Mood : Euthym
2. Afek : Luas
3. Keserasian :Serasi
4. Pengendalian : baik

C. Fungsi Intelektual
1. Taraf pendidikan, pengetahuan dan kecerdasan
Taraf Pendidikan : SD (sesuai dengan taraf pendidikan)
Pengetahuan Umum : Baik (pasien dapat menyebutkan presiden indonesia
sekarang)
Kecerdasan : Kurang (pasien tidak mampu menjawab soal hitungan
yang ditanyakan oleh pemeriksa)
9
2. Daya Konsentrasi : Terganggu (pasien tidak dapat menjawab pertanyaan
7 serial test dengan benar)
3. Orientasi
Daya Orientasi Waktu : Terganggu (pasien tidak dapat mengidentifikasi hari,
tanggal, bulan dan tahun)
Daya Orientasi Tempat : Baik (pasien mengetahui dimana ia berada sekarang)
Daya Orientasi Personal : Baik (pasien mengenali pemeriksa sebagai dokter)
4. Daya Ingat
Daya Ingat Jangka Panjang: Baik (pasien ingat nama sekolahnya terdahulu)
Daya Ingat Jangka Pendek: Baik (pasien ingat hari ini sarapan apa dan lauk makan
apa saja)
Daya Ingat Sesaat : Baik(pasien mampu mengingat nama pemeriksa
setelah beberapa menit)
5. Kemampuan Visuospatial : Baik (Pasien dapat menirukan gambar yang di buat
pemeriksa)
6. Kemampuan menulis : Baik (Pasien mampu menulis nama pemeriksa
maupun kata lain)
7. Pikiran Abstrak : Terganggu (pasien kurang tepat dalam menyebutkan
persamaan jeruk dan apel)
8. Kemampuan Menolong Diri : Baik (pasien mau makan dan mandi secara teratur)

D. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi:
Audio disangkal oleh pasien
Visual disangkal oleh pasien
2. Ilusi : Tidak ada
3. Depersonalisasi : Tidak ada
4. Derealisasi : Tidak ada

E. Proses Pikir
1. Arus Pikir
Produktivitas : Cukup
Kontinuitas Pikiran : koheren
10
Hendaya Berbahasa : Tidak ada.
Pasien mengunakan bahasa secara lazim sesuai dengan tata bahasa.
2. Isi Pikir
Preokupasi : Tidak ada
Waham :Waham kendali, pasien meyakini berjalan jauh tanpa alas kaki seperti
dibawa dan bukan kemauan pasien.
F. Pengendalian Impuls : Baik

G. Daya Nilai
1. Daya nilai sosial
kurang (pasien terkesan menarik diri dan tidak suka bersosialisasi dengan
penghuni lain )
2. Uji daya nilai
Baik (pasien jika melihat anak kecil terjatuh di jalan pasien akan menolongnya)
3. Penilaian realita
Terganggu (karena ada waham)

H. Tilikan :Derajat 4

I. Taraf Dapat Dipercaya : Dapat dipercaya









III. STATUS FISIK
Dilakukan pada tanggal 31 Juli 2014 pukul 10.00 WIB di Ruang Perkutut RS.
Jiwa Soehart Heerdjan.

11
A. Status Internus
1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran : Compos Mentis
3. Tensi : 110/90
4. Nadi : 76 kali/menit
5. Pernafasan dan suhu : 14 kali/menit, suhu tidak dilakukan
6. Sistem kardiovaskular : tidak dilakukan pemeriksaan
7. Sistem respiratorius : tidak dilakukan pemeriksaan
8. Sistem gastrointestinal : tidak dilakukan pemeriksaan
9. Extremitas : Dalam batas normal

B..Status Neurologis
GCS : 15 (E4,V5,M6)
Kaku kuduk : (-)
Pupil : Bulat, isokor
Kesan parase nervus kranialis : (-)
Motorik : Kekuatan (5), tonus baik, rigiditas (-), spasme (-),
hipotoni (-), eutrofi, tidak ada gangguan keseimbangan
dan koordinasi
Sensorik : Tidak ada gangguan sensibilitas
Reflex fisiologis : Normal
Reflex patologis : (-)
Gejala ekstrapiramidal : (-)
Stabilitas postur tubuh : Normal
Tremor di kedua tangan : (-)

C. Pemeriksaan Penunjang
Hb : 14.9 g/dl
Eritrosit : 5.3 jt/mm
3

Leukosit : 9000 /mm
3

Trombosit : 272.000 U/L
Radiologi : cor, pulmo normal
IV. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
12
Pasien seorang laki laki usia 33 tahun dengan perawakan sesuai usianya. Pendidikan
terakhir pasien SD dan tidak pernah tinggal kelas. Sejak lulus SD pasien bekerja
bertani bersama ayahnya. Pada saat SD pasien tampak riang dan sering bergaul,
setelah SD pasien lebih sering bekerja. Pasien adalah orang yang tertutup dan
pendiam. Ketika berkumpul pasien hanya diam dan tidak pernah berbicara. Pasien
lebih tenang jika sendirian. Gejala pertama kali timbul pada tahun 2007 dan hilang
setelah pasien dirawat di pesantren. Gejala timbul kembali pada tahun 2009 sampai
pasien pernah menyayat kakinya dengan pecahan kaca. Gejala mereda setelah pasien
diikat oleh keluarga. Terakhir gejala timbul pada akhir bulan juni. Pasien adalah anak
keempat dari enam bersaudara. Kerapihan dan kebersihan cukup baik, saat
wawancara pasien kooperatif.
Kesadaran kompos mentis, mood euthym, afek luas, keserasian serasi, waham
kendali, meyakini bahwa pasien dibawa dan tidak sadar saat berjalan kaki yang jauh
saat keluar rumah tanpa alas kaki. Tilikan derajat 5.

VI. FORMULASI DIAGNOSTIK
Diagnosis Aksis I :
Berdasarkan anamnesis, pasien tidak memiliki riwayat cedera kepala, riwayat
tindakan operatif, dan riwayat kondisi medik lain yang dapat secara langsung ataupun tidak
langsung mempengaruhi fungsi otak. Berdasarkan pemeriksaan fisik juga tidak ditemukan
kondisi medis umum yang dapat mempengaruhi fungsi otak. Pasien tidak mengalami
gangguan yang bermakna yang menimbulkan gangguan jiwa. Oleh karena itu, gangguan
mental organik (F00-09) dapat disingkirkan.
Pada pasien tidak ditemukan riwayat merokok, penggunaan alkohol, dan konsumsi
obat-obatan terlarang. Sehingga diagnosis gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan
zat psikoaktif (F10-19) dapat disingkirkan.
Pada pasien terdapat gejala-gejala psikotik bicara sendiri tanpa suara, mengamuk,
marah-marah, dan waham kendali. Pasien sudah menunjukan gejala perubahan perilaku sejak
lama yang diketahui sejak 2007.
Dari gejala dan tanda diatas, diagnosis lebih diberatkan pada F.20.0 yaitu gangguan
skizofrenia paranoid, dimana pada riwayat penyakit sekarang terdapat gejala dan tanda
seperti, gangguan isi pikir berupa waham kendali dan tilikan derajat 4.

Diagnosis aksis II
13
Semasa remaja dan dewasa seringkali pasien mentup dirinya untuk terbuka
kepada orang lain mengenai apa yang dialami, dirasakan, dan lebih memilih untuk
tertutup. Pasien lebih senang berdiam dan menyendiri. Pasien dikenal cukup sering
berkumpul dengan teman temannya akan tetapi hanya diam dan tidak berbicara Pasien
lebih menyukai bekerja yang sifatnya hanya sendiri yang mengerjakan. Dari hasil
anamnesis pasien memiliki gangguan kepribadian skizoid karena hanya memenuhi 3
kriteria PPDGJ 3 yaitu
1. Kurang tertarik mengalami pengalaman seksual dengan orang lain
2. Hampir selalu memilih aktivitas yang dilakukan sendiri
3. Tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab dan tidak
ada keinginan menjalin hubungan seperti itu

Diagnosis aksis III
Pada anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium didapatkan
pasien dalam keadaan normal

Diagnosis aksis IV
Terdapat masalah psikososial terhadap primary support group "keluarga" karena
keluarga berpendidikan rendah dan ekonomi kurang sehingga jika pasien mengamuk
dan gejala timbul, pasien hanya dibawa ke pesantren atau diikat dirumah. Masalah
lainnya adalah masalah jauhnya rumah dengan fasilitas kesehatan.
Diagnosis aksis V
Skala GAF :
GAF HLPY : 75 ( gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam sosial,
pekerjaan dll )
GAF saat masuk : 60 (gejala sedang, disabilitas sedang)
GAF Current : 70 ( gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam sosial )


VII. EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I : Skizofrenia tipe paranoid
Aksis II : Gangguan kepribadian skizoid
Aksis III : tidak ada
Aksis IV : Masalah dengan primary support group dan akses pelayanan
14
Aksis V : Global Assessment of Functioning Scale (GAF)
HLPY : 75 ( gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan
dalam sosial, pekerjaan dll )
Saat masuk : 60 (gejala sedang, disabilitas sedang)
Current :70 ( gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan
dalam sosial )

VIII. DAFTAR PROBLEM
1. Organobiologis : Tidak terdapat faktor herediter
2. Psikologis : Terdapat waham kendali
3. Sosiobudaya :Primary support group "keluarga" karena
keluarga berpendidikan rendah dan ekonomi
kurang
Masalah jauhnya tempat tinggal dari rumah sakit


IX. DIAGNOSIS BANDING
skizofrenia yang tidak tergolongkan
X. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanasionam : dubia ad malam

A . Faktor yang memperingan :
o Pasien menyadari dirinya sakit dan mau berobat
o Tidak terdapat faktor herediter
o Dukungan keluarga yang baik
o Hubungan emosional dalam keluarga baik
o Onset pada usia dewasa
B. Faktor yang memperberat :
o Tidak terdapat faktor pencetus timbulnya gejala.
o Kepatuhan meminum obat dan pendidikan keluarga yang rendah
o Akses kesehatan yang agak jauh dari rumah dan ekonomi keluarga yang kurang
X. PENATALAKSANAAN
15
Psikofarmaka :
Risperidone 2x2 mg
Psikoedukasi
Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit pasien dan keharusan pasien untuk
minum obat dan untuk terus kontrol
Menjelaskan kepada keluarga pasien tentang gangguan jiwa pasien, bahwa
gangguan jiwa pasien bukanlah dari hal hal mistis, menjelaskan bahwa kelainan
berasal dari ketidak seimbangan zat-zat di otak yang dapat mempengaruhi
prilaku pasien.
Menjelaskan agar keluarga pasien mensupport dan membantu pasien untuk
memenuhi kontrol dan pengobatan.
Psikoterapi
Terapi Suportif
Meyakinkan pasien bahwa pasien ketika berjalan jalan jauh tanpa tujuan bukan
dibawa kekuatan dari luar dan menjelaskan hal tersebut ada di diri pasien.
Mengajarkan keterampilan yang sesuai dengan kemampuan dan pendidikannya.
CBT
Social Learning Program
Menolong dan mengajarkan pasien untuk mengenal prilaku prilaku yang
sesuai. Dapat dilakukan terapi kelompok dimana pasien diajarkan untuk
berbagi kepada teman teman dan pendamping terapi.
Social Skill Training
Mengajarkan pasien agar mudah untuk bersosialisasi, dimana melatih
kemampuan percakapan agar pasien menjadi lebih mudah beradaptasi di
masyarakat.



XI.DISKUSI TOPIK

A. Diagnostik
Skizofrenia Paranoid
16
Gejala- gejala yang didapatkan pada pasien ini seperti waham kendali berupa berjalan
jauh tanpa tujuan yang dilakukan pasien, tidak disadari dan pasien merasakan kekuatan
dari luar yang membawa pasien dan pasien tidak bisa menolak. pasien meyakini hal
tersebut.
Skizofrenia tak terincikan
Memenuhi gejala-gejala psikotik yang sudah disebutkan diatas, tetapi masih belum
bisa menentukan yang lebih menonjol ke tipe skizofrenia tipe paranoid, hebrefrenik,
katatonik sehingga harus di tinjau lebih lanjut.

B.TATA LAKSANA
Risperidone
Diberikan obat golongan atipikal sebagai terapi pilihan karena pengobatan dengan
golongan ini bekerja tidak hanya di reseptor dopamine saja, obat ini juga bekerja pada
reseptor serotonin, serta memiliki efek samping yang rendah untuk menimbulkan gejala
EPS. Dosis Resperidon dimulai dengan 1 mg/ hari selama beberapa hari, jika respon
kurang atau tidak ada dapat dinaikan menjadi 2 mg/ hari, kemudian dapat terus dinaikan,
tetapi pada dosis 4-6 mg perlu evaluasi setiap 2 -3 minggu. Dosis optimal obat adalah 2-4
mg/ hari dan dosis maksimal yang dianjurkan adalah 6 mg/ hari.

C.FAKTOR ORGANOBIOLOGIS
Pada awalnya pemeriksa menanggapi bahwa buyut pasien memiliki riwayat serupa,
dimana melihat alam lain, dan bisa membaca pikiran dan masa depan orang lain. Setelah
diwawancarai, keluarga mengakui bahwa buyutnya adalah orang pintar dan tokoh di
desanya. Hal yang diliat untuk masa depan seseorang atau membaca pikiran orang, diakui
merupakan kelebihan buyutnya dan selalu tepat. Oleh karena itu, hal ini tidak dimasukan
ke dalam faktor resiko.