Anda di halaman 1dari 27

PAPER

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT


TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Paralisis fasial adalah suatu kondisi dimana otot-otot wajah mengalami

kelumpuhan. Pada dasarnya, otot-otot pada wajah menjadi lumpuh karena kerusakan
nervus fasialis yang bisa disebabkan oleh trauma, infeksi, tumor, atau penyakit lain.
Penderita paralisis fasial akan mengalami kesulitan untuk menggerakkan sebagian
atau seluruh otot pada sisi wajah mereka yang terkena. Paralisis fasial tidak hanya
menunjukkan wajah yang disproporsi, tetapi juga menyebabkan kelainan lain seperti
kesulitan dalam menelan, berbicara dan mengunyah.
Bells Palsy adalah bentuk yang tersering dari paralisis fasial yang disebabkan
oleh inflamasi dari nervus fasialis, penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), akut dan
tidak disertai gangguan pendengaran, kelainan neurologi lainnya atau kelainan lokal.
Penyakit ini dapat terjadi sangat cepat dalam waktu 48 jam. Angka kejadian Bells
Palsy adalah 60-75% dari kasus paralisis fasial unilateral, dengan 63% dari kasus
tersebut mengenai wajah sebelah kanan. Penyebab kelumpuhan nervus fasialis
mungkin kongenital, infeksi, tumor, trauma, gangguan pembuluh darah dan idiopatik.
Biasanya kelumpuhan yang didapat sejak lahir (kongenital) bersifat ireversibel dan
terdapat bersamaan dengan anomali pada telinga dan tulang pendengaran.
Sebagai akibat proses infeksi di intrakranial atau infeksi telinga tengah, dapat
menyebabkan kelumpuhan nervus fasialis. Infeksi intrakranial yang menyebabkan
kelumpuhan ini sindrom Ramsey-Hunt, herpes optikus, dan infeksi telinga tengah
ialah otitis media supuratif kronis yang telah merusak kanal Fallopi. Tumor
intrakranial maupun ekstrakranial dapat menyebabkan kelumpuhan nervus fasialis.
Tumor intrakranial dapat berupa tumor serebelopontin, neuroma akustik dan
neuriloma. Tumor ekstrakranial dapat berupa tumor telinga dan tumor parotis.
Fraktur pars petrosa os temporal dan karena trauma kepala juga dapat
menyebabkan kelumpuhan nervus fasialis. Pengobatan dapat dikelompokkan dalam 2
bagian, yaitu pada kasus dengan gangguan hantaran ringan dan fungsi motor masih
baik,

pengobatan

ditujukan

untuk

menghilangkan

edema

saraf

dengan

medikamentosa. Pada kasus dengan gangguan hantaran berat atau sudah terjadi
1

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

denervasi total tindakan operatif segera harus dilakukan dengan teknik dekompresi
nervus fasialis transmastoid.
1.2.

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan paper ini adalah untuk mengetahui segala sesuatu yang

berhubungan dengan Facial Palsy mulai dari definisi, gejala klinis, hingga
penatalaksaaan agar penyakit ini dapat diketahui secara dini, sebelum terjadi
kerusakan saraf lebih lanjut dan dapat ditangani segera dan dengan tepat. Selain itu,
tujuan penulisan paper ini adalah sebagai salah satu syarat menyelesaikan Pendidikan
Profesi Dokter di Departemen Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan Kepala
dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum
Pusat Haji Adam Malik Medan.

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi dan Fisiologi
Nervus Fasialis merupakan saraf kranial terpanjang yang berjalan dalam
tulang, sehingga sebagian besar kelainan nervus fasialis terletak dalam tulang
temporal. Nervus fasialis terdiri dari tiga komponen, yaitu komponen motoris,
sensoris dan parasimpatis. Komponen motoris mensarafi otot wajah, kecuali muskulus
levator palpebra superior. Selain otot wajah, nervus fasialis juga mensarafi muskulus
stapedius dan venter posterior muskulus digastrikus1.
Komponen sensoris mempersarafi dua pertiga anterior lidah untuk mengecap,
melalui nervus korda timpani. Komponen parasimpatis memberikan persarafan pada
glandula lakrimalis, glandula submandibula dan glandula lingualis. Secara anatomis,
bagian motorik saraf ini terpisah dari bagian yang menghantar sensasi dan serabut
parasimpatis, yang terakhir ini sering dinamai saraf intermedius, atau pars intermedius
Wisberg. Sel sensoriknya terletak di ganglion genikulatum, pada lekukan saraf
kranialis di kanal fasialis. Sensasi pengecapan dari 2/3 bagian depan lidah dihantar
melalui saraf lingual ke korda timpani dan kemudian ke ganglion genikulatum1,2.
Inti motorik nervus fasialis (VII) terletak di pons. Serabutnya mengitari inti
nervus abducens (VI), dan keluar di bagian lateral pons. Nervus intermedius keluar di
permukaan lateral pons, di antara nervus fasialis dan nervus vestibulokoklearis (VII).
Nervus VII bersama nervus intermedius dan nervus VIII kemudian memasuki meatus
akustikus internus. Di sini nervus VII bersatu dengan nervus intermedius dan menjadi
satu berkas saraf yang berjalan dalam kanalis fasialis dan kemudian masuk ke dalam
os mastoid. Lalu keluar dari tulang tengkorak melalui foramen stilomastoid, dan
bercabang untuk mensarafi otot-otot wajah2.

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

Gambar 2.1. Perjalanan saraf fasialis yang memperlihatkan distribusi motoris,


sensoris dan parasimpatis3
Nervus fasialis mempunyai dua inti, yaitu inti superior dan inti inferior. Inti
superior mendapat persarafan dari korteks motor secara bilateral, sedangkan inti
inferior hanya mendapat persarafan dari satu sisi. Serabut dari ke dua inti berjalan
mengelilingi inti nervus VI, kemudian meninggalkan pons bersama-sama dengan
nervus VIII dan nervus intermedius, dan di dalam tulang temporal berjalan dalam
suatu saluran yang disebut kanal Fallopi. Dalam perjalanan di dalam tulang temporal,
nervus VII dibagi dalam 3 segmen, yaitu segmen labirin, segmen timpani, dan segmen
mastoid.

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

Gambar 2.2. Anatomi topografis dari nervus fasialis4


Segmen labirin terletak antara akhir kanal akustik internus dan ganglion
genikulatum. Panjang segmen ini 2-4 milimeter. Segmen timpani (segmen vertikal)
terletak di antara bagian distal ganglion genikulatum dan berjalan ke arah posterior
telinga tengah, kemudian naik ke arah tingkap lonjong dan stapes, lalu turun dan
kemudian terletak sejajar dengan kanalis semisirkularis horizontal. Panjang segmen
ini kira-kira 12 milimeter. Segmen mastoid mulai dari dinding medial dan superior
kavum timpani. Perubahan posisi dari segmen timpani menjadi segmen mastoid,
disebut segmen pyramidal atau genu eksterna. Bagian ini merupakan bagian paling
posterior dari nervus VII, sehingga mudah terkena trauma pada saat operasi.
Selanjutnya segmen ini berjalan ke arah kaudal menuju foramen stilomastoid. Panjang
segmen ini 15-20 milimeter. Setelah keluar dari dalam tulang mastoid, nervus VII
menuju ke glandula parotis dan terbagi untuk mensarafi otot-otot wajah. Di dalam
tulang temporal nervus VII memberikan 3 cabang penting, yaitu nervus petrosus
superior mayor, nervus stapedius dan korda timpani.
Nervus petrosus superior mayor yang keluar dari ganglion genikulatum dan
memberikan rangsang untuk sekresi pada kelenjar lakrimalis. Nervus stapedius yang
mensarafi muskulus stapedius dan berfungsi sebagai peredam suara. Korda timpani
yang memberikan serabut perasa pada duapertiga lidah bagian depan 2,3. Fakta bahwa
serabut aferen sensorik membawa sensasi dari saluran telinga luar dan propriosepsi
5

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

dari

wajah

adalah

hal

yang

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

bertentangan.

Serabut-serabut

ini

diketahui

bertanggungjawab untuk otalgia yang dialami pada Bells palsy dan erupsi vesikuler
pada infeksi herpes zoster4.
2.2. Definisi
Kelumpuhan nervus fasialis merupakan kelumpuhan otot-otot wajah. Pasien
tidak dapat menggerakkan otot wajah, sehingga tampak wajah pasien tidak simetris.
Dalam menggerakkan otot ketika menggembungkan pipi dan mengerutkan dahi
tampak sekali wajah pasien tidak simetris. Kelumpuhan nervus fasialis merupakan
gejala, sehingga harus dicari penyebab dan ditentukan derajat kelumpuhannya dengan
pemeriksaan tertentu guna menentukan terapi dan prognosisnya 2.
2.3. Epidemiologi
Bentuk dari paralisis wajah yang paling sering adalah Bells Palsy. Prevalensi
dari Bells Palsy di beberapa negara cukup tinggi. Di Inggris dan Amerika berturutturut adalah 22,4 dan 22,8 penderita per 100.000 penduduk per tahun. Di Belanda 1
penderita per 5000 orang dewasa dan 1 penderita per 20.000 anak per tahun. Bells
Palsy dapat menyerang pria dan wanita pada setiap usia dengan tingkat persentase
morbiditas yang sama5.
2.4. Etiologi
Penyebab paralisis wajah akut yang lebih sering diuraikan dalam tabel. Lebih
dari setengah presentasi adalah akibat Bells palsy. Trauma adalah etiologi paling
sering kedua, menyebabkan sekitar 20% kasus. Kelumpuhan bukan Bells pada setiap
gejala berikut: tanda-tanda tumor, vesikel, keterlibatan saraf kranial multipel, infeksi
tulang temporal, trauma, kelumpuhan saat lahir, tanda-tanda lesi sistem saraf pusat,
dan mononukleosis infeksiosa akut6.
TABEL 2.1. Diagnosa banding kelumpuhan fasial akut yang sering6
Infeksi
Bells palsy (mononeuritis herpes simpleks)
Otikus herpes zoster (sindrom Ramsay Hunt)
Otitis media dengan efusi
Otitis media supuratif akut
Mastoiditis koalesens
Otitis media kronik
6

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

Otitis eksterna maligna (osteomielitis dasar otak)


Tuberkulosis
Penyakit Lyme*
Sindrom imunodefisiensi yang didapat
Mononukleosis infeksius
Trauma
Fraktur tulang temporal*
Trauma lahir
Kontusio/laserasi fasial
Luka penetrasi, wajah dan tulang temporal
Cedera iatrogenik
Neoplasia
Kolesteatoma
Glomus jugulare atau timpanikum
Karsinoma (primer atau metastase)
Neuroma fasial
Schwannoma saraf kranial bawah
Meningioma
Leukemia
Histiositosis
Rabdomiosarkoma
Kongenital
Cedera kompresi
Sindrom Mbius
Paralisis bibir bawah
Idiopatik
Kelumpuhan fasial rekuren
Sindrom Melkersson-Rosenthal

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

Metabolik dan sistemik


Sarkoidosis*
Sindrom Guillain-Barr*
Gangguan autoimun
*bisa muncul dengan kelumpuhan bilateral
2.5. Patofisiologi
Salah satu kelemahan terbesar dalam pengertian kita mengenai degenerasi dan
regenerasi neural adalah kurangnya pengetahuan kejadian yang terjadi pada tingkat
molekuler. Uji elektrofisiologis saat ini tidak dapat mendiferensiasi tingkat cedera.
karenanya, prognostikasi terbatas, yang menjelaskan mengapa degenerasi saraf yang
lengkap bisa mengalami perbaikan yang normal seluruhnya atau tidak sama sekali.

Gambar 2.3. Tahap-tahap kerusakan neural6


Secara sederhana, cedera saraf digambarkan dalam istilah neuropraksia,
aksonotmesis, atau neurotmesis. Neuropraksia terjadi saat sebuah lesi menekan aliran
aksoplasma dari somata ke akson distal. Saraf tersebut dapat hidup dan kembali ke
fungsi normal saat blokade dihilangkan. Pada uji saraf neurapraksia, uji eksitabilitas
saraf

(NET),

elektromiografi

uji

rangsang

bangkitan

maksimal
(ENOG),

(MST),

dan

menunjukkan

elektroneurografi
temuan

normal,

atau
dan

elektromiografi (EMG) gagal untuk menunjukkan kekuatan aksi motorik volunter,


dimana uji-uji ini tidak bisa dilakukan melewati blokade6,7.
Aksonotmesis menggambarkan keadaan degenerasi Wallerian distal terhadap
lesi yang dikarakterisir oleh pemeliharaan sarung endoneural dari akson motorik.
Secara elektris, jika aksonotmesis lengkap dan sejati, NET, MST, dan ENOG akan
menunjukkan degenerasi yang cepat dan lengkap. EMG tidak akan menunjukkan unit
8

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

motorik volunter, dan setelah 10 sampai 14 hari, kekuatan fibrilasi miogenik menjadi
sangat jelas. Selama tubulus endoneural tetap terjaga, regenerasi menuju pelat akhir
motorik yang asli akan berjalan sampai pemulihan total.
Pada neurotmesis, lesinya menuntun kepada degenerasi Wallerian dan
hilangnya tubulus endoneural. Oleh karenanya, uji elektrofisiologis memberi hasil
yang serupa dengan yang ditemukan pada aksonotmesis namun, hasilnya kurang dapat
diprediksi. Proses regenerasi bergantung pada kelengkapan cedera terhadap semua
komponen jaringan ikat saraf, termasuk endoneurium, perineurium yang mengikat
akson ke dalam fasikulus, dan epineurium yang melingkupi fasikulus ke dalam saraf
biasa. Hilangnya tubulus endoneural memastikan timbulnya hasil sinkinesis jika
regenerasi terjadi. Lebih jauh, pertumbuhan neurofilamen ditentukan oleh kondisi di
tempat cedera dan dapat dihalangi oleh iskemia dan jaringan parut.

Gambar 2.4. Klasifikasi Kerusakan Saraf Perifer6


Sunderland menguraikan lima tingkat cedera neural berdasarkan integritas
komponen jaringan ikat. Berdasarkan pola ini, cedera tingkat pertama sepadan dengan
neurapraksia; cedera tingkat kedua, dengan aksonotmesis; dan tingkat ketiga sampai
kelima, dengan neurotmesis. Cedera tingkat ketiga, keempat, dan kelima, secara
berurut, sesuai dengan hilangnya endoneurium, hilangnya endoneurium dan
perineurium dan hilangnya endoneurium, perineurium, dan epineurium.

2.6. Manifestasi Klinis


9

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

Riwayat yang teliti mempersempit cakupan diagnosa banding dan mengurangi


jumlah penelitian laboratorium yang diperlukan untuk menetapkan penyebab. Hampir
semua penyebab kelumpuhan wajah bisa memiliki onset yang mendadak, tapi
tampilan yang tertunda melambangkan banyak penyebab traumatis dan infeksius.
Kelumpuhan yang paling sering berkembang selama 2 sampai 3 minggu
pertama setelah onset, menyebabkan degenerasi yang lengkap atau degenerasi yang
tidak lengkap dengan kejadian pemulihan, apakah secara klinis

maupun

elektrofisiologis. Setiap kelumpuhan yang menunjukkan perkembangan lebih dari 3


minggu pertama harus dievaluasi secara menyeluruh untuk neoplasma.

Gambar 2.5. Perbedaan gejala klinis lesi nervus fasialis dan lesi supranuklear6
Secara umum, pasien yang memiliki penyebab kelumpuhan wajah yang
tertunda atau tidak lengkap memiliki perbaikan fungsi wajah yang memuaskan. Pasien
yang mengalami kelumpuhan lengkap, jika disertai dengan bukti elektris degenerasi
lengkap, memiliki prognosa yang lebih berhati-hati untuk kembali memiliki gerakan
fasial yang normal. Gejala dan tanda yang berhubungan menyediakan petunjuk
10

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

diagnostik. Mati rasa di bagian tengah dan bawah wajah, otalgia, hiperakusis,
berkurangnya air mata, dan gangguan rasa sering ditemukan pada Bells palsy dan
sindrom Ramsay Hunt. Nyeri telinga yang sangat dan erupsi vesikuler adalah tanda
infeksi herpes zoster.

Gambar 2.6. Perbedaan gejala klinis sindrom Ramsay-Hunt dengan Bells


Palsy6
Tuli sensorineural dan vertigo dapat menyertai herpes zoster otikus dengan
keterlibatan saraf wajah tapi bukan Bells palsy. Kejadian trauma biasanya nyata,
terdapat riwayat cedera kepala atau wajah, kontusio atau laserasi terhadap penyebaran
saraf ekstrakranial, tanda Battle, atau hemotimpanum. Kedutan wajah hadir bersama
dengan kelemahan yang berkembang dengan lambat dan gejala-gejala saraf kranial
lainnya biasanya mengindikasikan tumor.
Kelumpuhan wajah yang rekuren juga bisa mengindikasikan tumor, walau
beberapa disfungsi yang persisten cenderung terjadi di antara episode fungsi yang
memburuk. Penyebab yang lebih sering dari kelumpuhan rekuren termasuk Bells
palsy dan sindrom Melkersson-Rosenthal. Sekitar 7% pasien Bells palsy mengalami
kelumpuhan rekuren, dimana setengah dari rekurensi terjadi pada sisi ipsilateral.
Sindrom Melkersson-Rosenthal sering familial, dan kejadian kelumpuhan wajah
pertama biasanya terjadi sebelum usia 20 tahun. Temuan yang berhubungan
mencakup edema fasial, terutama bibir atas, lidah yang retak dan sakit kepala migrain.
Setiap riwayat yang teliti mencakup keadaan medis lainnya yang dapat
dilibatkan dalam diagnosa banding kelumpuhan: kanker, sarkoidosis, gangguan

11

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

autoimun, dan pembedahan sebelumnya pada fossa posterior, tulang temporal, atau
parotid.
2.7. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik mencakup penilaian menyeluruh kepala dan leher dengan
pemeriksaan mikroskopik telinga, penilaian menyeluruh traktus aerodigestif atas, dan
penilaian saraf kranial (III sampai XII). Karena penyebab paling sering kelumpuhan
wajah dapat ditemukan pada tulang temporal, inspeksi tertutup kanalis telinga luar,
membran timpanik, dan cleft telinga tengah merupakan keharusan. Temuan fisik yang
nyata memperkuat diagnosa infeksius, neoplastik, dan traumatik. Defisit multipel
saraf kranial tanpa lesi traumatik merupakan tanda awal infeksi lanjut intrakranial
atau dasar tengkorak, neoplasma jinak atau ganas yang melibatkan tulang temporal,
atau kelainan sistemik, seperti sindrom Guillain-Barr.
TABEL 2.2. Tahap Diagnosa Kelumpuhan Wajah6
Riwayat
Onset
Durasi
Laju perkembangan
Rekuren atau familial
Gejala yang berhubungan
Penyakit medis utama atau pembedahan sebelumnya
Pemeriksaan fisik
Evaluasi lengkap kepala dan leher
Otoskopi
Pemeriksaan traktus aerodigestivus atas
Penilaian saraf kranial (III-XII)
Palpasi kelenjar parotid dan leher
Evaluasi neurologis
Tanda-tanda serebelar
Motorik
Kelumpuhan fasial
Lengkap vs tidak lengkap (paresis)
Keterlibatan segmental vs uniform
12

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

Unilateral vs bilateral
Uji Schirmer
Penelitian laboratorium
Audiometri percakapan dan nada murni
Uji elektrofisiologis
Uji Eksitabilitas Saraf (NET)
Uji Rangsang Maksimal (MST)
Elektroneurografi (ENoG)
Elektromiografi (EMG)
Penelitian radiografi
Tomografi terkomputerisasi
Pencitraan resonansi magnetik
Pertimbangan lainnya
Hitung darah lengkap dan diferensial dengan laju sedimentasi
Uji antibodi serum
Antibodi antinuklir serum (ANA) dan faktor reumatoid (RF)
Radiograf x-ray dada
Pungsi lumbar dengan uji cairan serebrospinal
Pemeriksaannya berfokus pada fungsi motorik saraf wajah. Istilah paresis
digunakan untuk menjelaskan paralisis yang tidak lengkap, jika tidak ada gerakan
otot-otot wajah, paralisis dijelaskan sebagai lengkap. Kesalahan yang sering adalah
menghubungkan pergerakan kelopak mata atas akibat otot levator palpebra superior
(saraf kranial III) dengan fungsi saraf wajah dan salah menggambarkan temuan
sebagai paresis fasial. Pemeriksaan fungsi nervus fasialis adalah untuk menentukan
letak lesi dan menentukan derajat kelumpuhannya. Derajat kelumpuhan ditetapkan
berdasarkan hasil pemeriksaan fungsi motorik yang dihitung dengan persen (%)1,6.
1. Pemeriksaan fungsi saraf motorik
Terdapat 10 otot-otot utama wajah yang bertanggung jawab untuk terciptanya
mimik dan ekspresi wajah seseorang. Adapun urutan kesepuluh otot tersebut adalah:
a. M. frontalis: diperiksa dengan cara mengangkat alis ke atas.
b. M. sourcilier: diperiksa dengan cara mengerutkan alis.
13

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

c. M. piramidalis: diperiksa dengan cara mengangkat dan mengerutkan hidung ke


atas.
d. M. orbikularis okuli: diperiksa dengan cara memejamkan kedua mata kuat-kuat
e. M. zigomatikus: diperiksa dengan cara tertawa lebar sambil memperlihatkan
gigi.
f. M. relever komunis: diperiksa dengan cara memoncongkan mulut ke depan
sambil memperlihatkan gigi.
g. M. businator: diperiksa dengan cara menggembungkan kedua pipi.
h. M. orbikularis oris: diperiksa dengan menyuruh penderita bersiul.
i. M. triangularis: diperiksa dengan cara menarik kedua sudut bibir ke bawah.
j. M. mentalis: diperiksa dengan cara memoncongkan mulut yang tertutup rapat ke
depan.
Pada tiap gerakan dari ke sepuluh otot tersebut, kita bandingkan antara kanan
dan kiri:
a. Untuk gerakan yang normal dan simetris dinilai dengan angka tiga (3).
b. Sedikit ada gerakan dinilai dengan angka satu (1).
c. Diantaranya dinilai dengan angka dua (2).
d. Tidak ada gerakan sama sekali dinilai dengan angka nol (0).
TABEL 2.3. Klasifikasi derajat kerusakan saraf House-Brackmann7
Kelas
I.
II.

Normal
Disfungsi ringan

Karakteristik
Fungsi fasial normal pada semua daerah
Secara kasar
Kelemahan ringan terlihat pada inspeksi
tertutup
Dapat mengalami sinkinesis yang sangat
ringan. Saat istirahat, simetris dan tonus
normal
Gerakan
Dahi: fungsi sedang samapi baik
Mata: penutupan sempurna dengan sedikit
usaha

III.

Disfungsi sedang

Mulut: sedikit asimetris


Secara kasar
14

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

Jelas, tapi bukan perbedaan disfigur antara


dua sisi. Sinkinesis dapat dikenali tapi
tidak berat, kontraktur, atau spasme
hemifasial
Saat istirahat, simetris dan tonus normal
Gerakan
Dahi: gerakan ringan sampai sedang
Mata: penutupan sempurna dengan usaha
Mulut:
IV.

Disfungsi agak berat

agak

lemah

dengan

usaha

maksimal
Secara kasar
Kelemahan

jelas

dan

atau

asimetris

disfigur. Saat istirahat, simetris dan tonus


normal
Gerakan
Dahi: tidak ada
Mata: penutupan tidak sempurna
V.

Disfungsi berat

Mulut: asimetris dengan usaha maksimal


Secara kasar
Hanya sedikit gerakan yang jelas. Saat
istirahat, asimetris
Gerakan
Dahi: tidak ada
Mata: penutupan tidak sempurna

VI.

Paralisis total

Mulut: gerakan sedikit


Tidak ada gerakan

15

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

2. Tonus
Pada keadaan istirahat tanpa kontraksi maka tonus otot menentukan
kesempurnaan mimi/ekspresi muka. Freyss menganggap penting akan fungsi tonus
sehingga mengadakan penilaian pada setiap tingkatan kelompok otot muka, bukan
pada setiap otot. Cawthorne mengemukakan bahwa tonus yang jelek memberikan
gambaran prognosis yang jelek. Penilaian tonus seluruhnya berjumlah lima belas (15)
yaitu seluruhnya terdapat lima tingkatan dikalikan tiga untuk setiap tingkatan. Apabila
terdapat hipotonus maka nilai tersebut dikurangi satu (-1) sampai minus dua (-2) pada
setiap tingkatan tergantung dari gradasinya.
3. Sinkinesis
Sinkinesis menentukan suatu komplikasi dari paresis fasialis. Cara
mengetahuinya adalah:
1. Penderita diminta untuk memejamkan mata kuat-kuat kemudian kita melihat
pergerakan otot-otot pada daerah sudut bibir atas. Kalau pergerakan normal pada
kedua sisi dinilai dengan angka dua (2). Kalau pergerakan pada sisi paresis lebih
dibandingkan dengan yang normal nilainya dikurangi satu (-1) atau dua (-2),
tergantung dari gradasinya.
2. Penderita diminta untuk tertawa lebar sambil memperlihatkan gigi, kemudian kit
melihat pergerakan otot-otot pada sudut mata bawah. Penilaian seperti pada (a).
3. Sinkinesis juga dapat dilihat pada waktu penderita berbicara (gerakan emosi)
dengan memperhatikan pergerakan otot-otot di sekitar mulut. Nilai satu (1) kalau
pergerakan normal. Nilai nol (0) kalau pergerakan tidak simetris.
4. Hemispasme
Hemispasme merupakan suatu komplikasi yang sering dijumpai pada
penyembuhan paresis fasialis yang berat. Diperiksa dengan cara penderita diminta
untuk mengedip-ngedipkan mata maka akan jelas tampak gerakan otot-otot pada
sudut bibir bawah atau sudut mata bawah. Pada penderita yang berat kadang otot-otot
platisma di daerah leher juga ikut bergerak. Untuk setiap gerakan hemispasme dinilai
dengan angka minus satu (-1). Fungsi motorik otot-otot tiap sisi wajah orang normal
seluruhnya berjumlah lima puluh atau 100%. Gradasi paresis fasialis dibandingkan
dengan nilai tersebut, dikalikan dua untuk presentasenya.

16

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

5. Gustometri
Sistem pengecapan pada 2/3 anterior lidah dipersarafi oleh nervus korda
timpani, salah satu cabang nervus fasialis. Pada pemeriksaan fungsi nervus korda
timpani adalah perbedaan ambang rangsang antara kanan dan kiri. Freyss menetapkan
bahwa beda 50% antara kedua sisi adalah patologis.
6. Schirmer Test atau Naso-Lacrymal Reflex
Dianggap sebagai pemeriksaan terbaik untuk mengetahui fungsi serabutserabut pada simpatis dari nervus fasialis yang disalurkan melalui nervus petrosus
superfisialis mayor setinggi ganglion genikulatum. Cara pemeriksaan dengan
meletakkan kertas hisap atau lakmus lebar 0,5 cm, panjang 5-10 cm pada dasar
konjungtiva.
7. Refleks Stapedius
Untuk menilai refleks stapedius digunakan elektroakustik impedans meter,
yaitu dengan cara memberikan rangsang pada muskulus stapedius yang bertujuan
untuk mengetahui fungsi nervus stapedius1.
2.8. Pemeriksaan Penunjang
Berdasarkan gabungan fungsi aferen-eferen dari saraf kranial VII, uji topografi
yang pernah populer (uji Schirmer, penilaian refleks stapedial, elektrogustrometri, dan
aliran saliva) untuk menentukan tempat lesi dan untuk menentukan prognosa saat ini
sebenarnya sudah tidak terpakai lagi. CT dan pencitraan resonansi magnetik (MRI)
lebih baik menunjukkan tempat lesi.

Gambar 2.7. Uji Schirmer6


17

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

Prognosis kembalinya fungsi motorik paling baik ditetapkan dengan uji


elektrofisiologis serial. Uji Schirmer masih berguna untuk menghitung jumlah air
mata pada mata yang terlibat. Berkurangnya sekresi air mata menunjukkan kebutuhan
penanganan yang agresif untuk melindungi kornea.
Beberapa penelitian mungkin diindikasikan dalam evaluasi paralisis fasial
akut, tergantung pada temuan dalam riwayat dan pemeriksaan fisik. Karena ada begitu
banyak masalah yang timbul di dalam tulang temporal dan proksimitas saraf kranial
ketujuh dan kedelapan dalam fossa posterior, audiometri harus dilakukan pada semua
kasus kelumpuhan wajah.
Jika

pemeriksaan

menunjukkan

paralisisnya

lengkap,

penelitian

elektrofisiologis dilakukan untuk menetapkan titik akhir degenerasi dan prognosis


pemulihan. Pencitraan adalah hal yang penting pada setiap kasus dengan etiologi yang
tidak pasti atau paralisis rekuren atau atipik.
CT dengan resolusi tinggi terhadap tulang temporal adalah penelitian pilihan
untuk penelitian kanalis fallopi. Setiap penyebab kelumpuhan wajah yang
berhubungan dengan destruksi tulang (mastoiditis, kolesteatoma, tumor, trauma tulang
temporal) paling baik terlihat dengan CT. MRI lebih baik dari CT dalam diferensiasi
jaringan lunak. MRI paling berguna jika dicurigai ada keterlibatan infeksius atau
neoplastik pada saraf (kelumpuhan wajah idiopatik, herpes zoster, dan scwahnnoma
fasial).

Jika

diagnosa

tidak

pasti,

penelitian

laboratorium

lainnya

dapat

dipertimbangkan untuk menyingkirkan diskrasia darah, gangguan autoimun, penyakit


Lyme, sarkoidosis, dan penyakit sistem saraf pusat.
Uji populer saat ini yang digunakan untuk menetapkan prognosis kembalinya
fungsi adalah NET, MST, ENOG, dan EMG. Uji serial dapat menetapkan titik akhir
degenerasi, tapi satu uji yang dilakukan pada satu waktu selama paralisis hanya
menyediakan informasi yang terbatas. Uji-uji tersebut saling melengkapi dan jika
digunakan dengan tepat dapat menjelaskan secara akurat kelengkapan degenerasi.
TABEL 2.4. Uji elektrofisiologis
Uji
Uji
saraf

Indikasi
Interpretasi
Keterbatasan
eksitabilitas Paralisis lengkap Perbedaan
ambang Tidak berguna pada
durasi <3 mgg

<3,5 mamp

hari

pertama

setelah onset atau


selama
18

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

Uji

rangsang Sama

maksimal

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

penyembuhan
yang Tidak objektif

seperti Kelemahan

NET

bermakna atau tidak


ada

kontraksi

degenerasi

lanjut

dengan
Elektroneurografi

Sama

prognosa

terlindung
seperti Degenerasi

NET dan MST

otot:

<90%: Hasil positif palsu

prognosa baik; >90%: dalam


prognosa

Elektromiografi

deblocking

dipertanyakan
akut mu aktif: akson motor Tidak dapat menilai

Paralisis
durasi

fase

kurang intak

dari 1 mgg

derajat

mu+kekuatan fibrilasi: atau

Kronik paralisis degenerasi parsial


durasi lebih dari polifasik

mu:

degenerasi
prognosis

penyembuhan
saraf

2 mgg
regenerasi
NET, uji eksitabilitas saraf; MST, tes rangsang maksimal; mu, unit motorik.
Peraturan umum diterapkan dalam penggunaan uji-uji ini. NET, MST, dan
ENOG merupakan uji yang paling dapat diaplikasikan dalam evaluasi paralisis akut
(yaitu, saat sarafnya ada dalam fase degeneratif). Selama degenerasi, NET akan
menunjukkan peningkatan perbedaan ambang antarsisi, MST kelemahan fasial yang
lebih besar, dan ENOG persentase akson motorik intak yang lebih rendah. Hasilnya
akan mencapai titik nadir atau titik akhir, dan sarafnya akan memasuki fase
penyembuhan.
Hal ini dapat segera terjadi pada pemeriksaan klinis atau bisa tertunda,
tergantung pada penyebab dan luasnya cedera saraf. Uji-uji ini tidak menyediakan
informasi yang berhubungan selama paresis, dimana adanya pergerakan fasial pada
pemeriksaan menunjukkan bahwa saraf tersebut intak dan terutama neurapraksia, dan
prognosa kesembuhan pada titik tertentu adalah baik.
Penyebab paling sering dari paralisis fasial akut (Bells palsy, trauma, infeksi)
menghasilkan degenerasi saraf dalam 3 minggu pertama setelah onset lumpuh, dan
NET, MST, serta ENOG menyediakan informasi paling akurat dalam kerangka waktu
19

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

ini. Meskipun demikian, jika akson neurapraksia mulai sembuh, depolarisasi asinkron,
membedakan velositas konduksi pada akson motorik, kekuatan aksi miogenik akhir
yang buruk, dan kontraksi otot yang buruk dapat menghasilkan laporan status saraf
yang positif-palsu dan bahkan dapat menunjukkan bahwa sarafnya sudah degenerasi
lengkap.
EMG dikombinasi dengan NET, MST, dan ENOG sangat membantu dalam
mengeliminasi hasil positif-palsu, dimana gambaran unit motorik aktif volunter
menunjukkan integritas akson yang utuh dalam fase penyembuhan. Uji ini berguna
pada fase paling awal degenerasi, dimana adanya unit motorik menunjukkan sebuah
saraf yang intak dengan cedera yang tidak lengkap.
Dalam 3 hari pertama setelah onset paralisis lengkap, hasil NET, MST, dan
ENOG memberi sedikit informasi yang berguna, dimana degenerasi Wallerian distal
terhadap daerah rangsangan tidak terjadi, hasilnya selalu menunjukkan degenerasi
yang tidak lengkap dan prognosis yang baik. Karena keterbatasan ini, prognosis tidak
bisa ditetapkan menggunakan NET, MST, atau ENOG sampai hari keenam atau
ketujuh setelah onset paralisis.
Keterbatasan utama dari EMG adalah ketidakmampuan untuk mendiferensiasi
saraf neurapraksia total dari saraf yang mengalami degenerasi lengkap pada fase
degenerasi akut. Meskipun demikian, EMG adalah pelengkap dalam evaluasi paralisis
akut dan penting dalam evaluasi paralisis yang bertahan lama. Adanya kekuatan
fibrilasi miogenik dan tidak adanya unit motorik volunter menunjukkan degenerasi
saraf lengkap, adanya baik kekuatan fibrilasi maupun unit motorik menunjukkan lesi
yang tidak lengkap, dan munculnya unit motorik polifasik menandakan saraf
mengalami regenerasi.

NET (Nerve Excitability Test)


Pada NET, gelombang ambang yang dibutuhkan untuk memperoleh kontraksi

otot yang terlihat pada sisi wajah yang normal dibandingkan dengan nilai yang
dibutuhkan pada tempat yang sesuai di sisi paralisis. Gelombang itu, yang diukur
dalam milliampere, dikirimkan perkutan dalam denyut gelombang kwadrat durasi 0,3ms pada laju satu per detik sepanjang batang utam saraf wajah dan cabang-cabangnya.
Perbedaan ambang tiap sisi dihitung untuk tempat rangsangan. Perbedaan antarsisi
sebesar 3,0 sampai 3,5 mA cocok dengan degenerasi lanjut. Lauman dan Jongkees
20

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

menemukan disfungsi saraf reversibel untuk nilai dibawah 3,5 mA dan prognosa yang
tidak baik untuk perbedaan yang lebih dari 3,5 mA.

MST (Maximal Stimulation Test)


MST adalah modifikasi dari NET yang menggunakan tingkat gelombang yang

cukup untuk mendepolarisasi semua akson motorik yang mendasari satelit


rangsangan. Respons otot wajah dikelaskan secara subjektif berdasarkan derajat
kontraksi (sebanding, agak menurun, menurun, atau tidak ada). Penurunan yang
bermakna atau tidak adanya gerakan fasial menandakan degenerasi lanjut. Jika
respons terhadap MST tetap normal selama 10 hari, 88% pasien mengalami
pengembalian lengkap dan 12% pengembalian fungsi fasial yang sedang. Jika respons
menurun, 73% mengalami pengembalian fungsi yang lengkap. Jika respons hilang,
pengembalian tidak terjadi sampai bulan keempat.

ENoG ( Electroneuronography )
Diperkenalkan oleh Esslen dan dipopulerkan oleh Fisch, ENOG memberikan

analisa kuantitatif degenerasi saraf. Tingkat gelombang supramaksimal yang dipakai


dengan elektroda bipolar secara perkutan pada batang utama saraf wajah menciptakan
depolarisasi akson motorik yang sinkron, dengan demikian menimbulkan penambahan
kekuatan aksi miogenik pada otot-otot fasial yang terekam dengan elektroda
permukaan bipolar. Amplitudo antarpuncak dari kekuatan ini secara langsung
proporsional terhadap jumlah akson motorik yang intak. Dibandingkan dengan
amplitudo kekuatan yang bangkit dari sisi normal, ini bisa dipakai untuk menghitung
persentase akson yang intak. Lebih dari 90% degenerasi menunjukkan prognosis yang
buruk untuk pemulihan segera atau lengkap dari fungsi fasial. Cedera traumatis yang
mengalami degenerasi lebih dari 90% dalam 6 hari setelah cedera mengalami lesi
lengkap. Pada Bells palsy, pasien dengan degenerasi lebih dari 95% dalam 2 minggu
pertama dari onset jatuh ke kategori prognostik terlindung.
Penting untuk para klinisi untuk mengerti sumber kesalahan pengujian. Secara
alami, tingkat pengalaman dokter atau teknisi melakukan pengujian adalah variabel
penting. Dua paradigma pengujian digunakan untuk ENOG: penempatan lead standar
dan penempatan lead optimal (OLP). Pengujian pertama menempatkan elektroda
perekam pada lokasi anatomis yang sama pada kedua sisi wajah, biasanya pada sudut
lateral lipatan nasolabial serta lateral dan inferior dari komisura oral. Teknik OLP
21

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

menggunakan penempatan berulang dari elektroda perekam sampai respons maksimal


terdeteksi. Penggunaan perekat elektroda dan jumlah dari tekanan yang diberikan
terhadap elektroda perekam dan perangsang dapat mempengaruhi hasil dari semua
cara uji elektris. Faktor-faktor pasien seperti usia, obesitas, dan jenis kelamin juga
dapat mempengaruhi hasil uji NET.
Coker dkk membandingkan hasil uji NET dengan ENOG pada pasien dengan
paralisis fasial akut. Penelitian ini bermaksud untuk menilai hubungan hasil dari
kedua uji tersebut. Mereka menemukan bahwa uji-uji tersebut menampilkan
hubungan eksponensial, bukan linear. Tingkat tertinggi korelasi terlihat saat teknik
OLP digunakan pada uji ENOG. Tidak ada contoh kekuatan aksi yang dapat diukur
pada ENOG OLP dan tidak ada respons pada NET. Kurangnya hubungan yang tepat
antara kedua pengujian menjelaskan ketidakmampuan untuk memperoleh depolarisasi
sinkron yang konsisten dari akson yang masih hidup, dimana penulis mengusulkan
untuk dijelaskan dengan fenomena deblocking atau demielinasi parsial; namun,
perbedaan NET yang lebih besar merupakan prediksi dari respons yang berkurang
terhadap ENOG. Penulis menyimpulkan bahwa dua uji tersebut saling melengkapi
dalam penilaian paralisis fasial6.
2.9.

Penatalaksanaan6
Pengobatan terhadap parese nervus VII dapat dikelompokkan dalam 3 bagian:

1. Pengobatan terhadap parese nervus fasialis


a. Fisioterapi
1. Heat Therapy, Face Massage, Facial Exercise
Basahkan handuk dengan air panas, setelah itu handuk diperas dan diletakkan
dimuka hingga handuk mendingin. Kemudian pasien diminta untuk memasase
otot-otot wajah yang lumpuh terutama daerah sekitar mata, mulut dan daerah
tengah wajah. Masase dilakukan dengan menggunakan krim wajah dan idealnya
juga dengan menggunakan alat penggetar listrik. Setelah itu pasien diminta untuk
berdiri didepan cermin dan melakukan beberapa latihan wajah seperti
mengangkat alis mata, memejamkan kedua mata kuat-kuat, mengangkat dan
mengerutkan hidung, bersiul, menggembungkan pipi dan menyeringai. Kegiatan
ini dilakukan selama 5 menit 2 kali sehari.
2. Electrical Stimulation

22

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

Stimulasi energi listrik dengan aliran galvanic berenergi lemah. Tindakan ini
bertujuan untuk memicu kontraksi buatan pada otot-otot yang lumpuh dan juga
berfungsi untuk mempertahankan aliran darah serta tonus otot.
b. Farmakologi
Obat-obatan yang dapat diberikan dalam penatalaksanaan parese nervus
fasialis antara lain:
1. Asam Nikotinik
Pada parese nervus fasialis yang dikarenakan iskemia asam nikotinik dan obatobatan yang bekerja menghambat ganglion simpatik servikal digunakan untuk
memicu vasodilatasi sehingga dapat meningkatkan suplai darah ke nervus
fasialis.
2. Vasokonstriktor, Antimikroba
Obat ini diberikan pada kelumpuhan nervus fasialis yang disebabkan oleh
kompresi nervus fasialis pada kanal falopi. Obat ini bekerja mengurangi
bendungan, pembengkakan, dan inflamasi pada keadaan diatas.
3. Steroid
Obat ini diberikan untuk mengurangi proses inflamasi yang menyebabkan
Bells Palsy. Prednisolon dimulai dalam 72 jam dari onset, dengan dosis
maksimal 40-60 mg/hari dan prednisolon maksimal 70 mg adalah 1 mg per kg
per hari peroral selama enam hari diikuti empat hari tapering off8.
4. Sodium Kromoglikat
Diberikan pada parese nervus fasialis jika dipikirkan adanya reaksi alergi.
5. Antivirus
Baru-baru ini antivirus diberikan dengan atau tanpa penggunaan prednisone
secara simultan.
c. Pengobatan Psikofisikal
Akupuntur, biofeedback, dan electromyographic feedback dilaporkan dapat
membantu pentembuhan Bells Palsy.

23

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

2. Pengobatan Sekuele (Gejala Sisa)


Pengobatan terhadap gejala sisa yang dapat dilakukan antara lain:
a. Depresi
Pasien dengan parese nervus fasialis memiliki ketakutan bahwa mereka
memiliki penyakit yang mengancam jiwa ataupun penyakit yang melibatkan
pembuluh darah otak. Konseling dan terapi kelompok yang melibatkan penderita
dengan usia yang sama terbukti efektif untuk mengatasi depresi tersebut.
b. Nyeri
Sebagian pasien dengan Bells Palsy dan hampir seluruh pasien dengan Herpes
Zoster Cephalic merasakan nyeri. Nyeri ini dapat diatasi dengan analgesic nonnarkotik. Dapat diberikan steroid dengan dosis awal 1 mg/ kg BB/ hari dan tapering
off setelah 10 hari penggunaan.
c. Perawatan Mata
Secara umum, Perawatan mata ditujukan untuk menjaga kelembaban mata
agar tidak terjadi keratitis dan kerusakan kornea. Pasien diminta untuk mengedipkan
mata 2 sampai 4 kali permenit disamping penggunaan obat tetes mata.
3. Indikasi Untuk Operasi
Pada kasus dengan gangguan hantaran berat atau sudah terjadi denervasi total,
tindakan operatif segera harus dilakukan dengan teknik dekompresi nervus fasialis
transmastoid2.
2.10.

Prognosis
Setelah kelumpuhan fasial perifer, regenerasi saraf yang rusak, terutama serat

otonom dapat sebagian atau pada arah yang salah. Serat yang terlindung mungkin
memberikan akson baru yang tumbuh ke dalam bagian yang rusak. Persarafan baru
yang abnormal ini, dapat menjelaskan kontraktur atau sinkinesis (gerakan involunter
yang mengikuti gerakan volunter) dalam otot-otot mimik wajah, contohnya timbul
gerakan elevasi involunter dari sudut mata, kontraksi platysma, atau pengerutan dahi
saat memejamkan mata. Sindrom air mata buaya (refleks gastrolakrimalis
paradoksikal) tampaknya didasarkan oleh persarafan baru yang salah. Di perkirakan
bahwa serat sekretoris untuk kelenjar air liur tumbuh ke dalam selubung Schwann dari
serat yang cedera yang berdegenerasi dan pada asalnya serat tersebut bertanggung
jawab untuk glandula lakrimalis. Clonic facial spasm, yaitu timbulnya kedutan secara
24

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

tiba-tiba (shock-like) pada wajah yang dapat terjadi pada satu sisi wajah saja pada
stadium awal, kemudian mengenai sisi lainnya.
Komplikasi lain yang sering terjadi adalah akibat regenerasi motor inkomplit
yaitu regenerasi suboptimal yang menyebabkan paresis seluruh atau beberapa
muskulus fasialis. Kemudian akibat regenerasi sensorik inkomplit yang menyebabkan
disgeusia (gangguan pengecapan), ageusia (hilang pengecapan), dan disestesia
(gangguan sensasi atau sensasi yang tidak sama dengan stimuli normal)6,8.

25

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

BAB 3
KESIMPULAN
Kelumpuhan nervus fasialis merupakan kelumpuhan otot-otot wajah. Pasien
tidak dapat menggerakkan otot wajah, sehingga tampak wajah pasien tidak simetris.
Dalam menggerakkan otot ketika menggembungkan pipi dan mengerutkan dahi
tampak sekali wajah pasien tidak simetris. Kelumpuhan nervus fasialis merupakan
gejala, sehingga harus dicari penyebab dan ditentukan derajat kelumpuhannya dengan
pemeriksaan tertentu guna menentukan terapi dan prognosisnya.
Bentuk dari paralisis wajah yang paling sering adalah Bells Palsy. Prevalensi
dari Bells Palsy di beberapa negara cukup tinggi. Di Inggris dan Amerika berturutturut adalah 22,4 dan 22,8 penderita per 100.000 penduduk per tahun. Lebih dari
setengah presentasi adalah akibat Bells palsy. Trauma adalah etiologi paling sering
kedua, menyebabkan sekitar 20% kasus. Kelumpuhan bukan Bells pada setiap gejala
berikut: tanda-tanda tumor, vesikel, keterlibatan saraf kranial multipel, infeksi tulang
temporal, trauma, kelumpuhan saat lahir, tanda-tanda lesi sistem saraf pusat, dan
mononukleosis infeksiosa akut.
Berdasarkan gabungan fungsi aferen-eferen dari saraf kranial VII, uji topografi
yang pernah populer (uji Schirmer, penilaian refleks stapedial, elektrogustrometri, dan
aliran saliva) untuk menentukan tempat lesi dan untuk menentukan prognosa saat ini
sebenarnya sudah tidak terpakai lagi. CT dan pencitraan resonansi magnetik (MRI)
lebih baik menunjukkan tempat lesi.
Penatalaksanaan dari kelumpuhan wajah dibagi pada 3 bagian yaitu
pengobatan dengan fisioterapi, medikamentosa, dan psikofisikal. Kemudian dilakukan
pengobatan terhadap sekuele (gejala sisa) serta apabila terdapat indikasi untuk operasi
yaitu gangguan sinyal yang berat. Prognosis dari kelumpuhan nervus fasialis
tergantung kepada regenerasi saraf yang rusak, terutama serat otonom dapat sebagian
atau pada arah yang salah, regenerasi motor inkomplit yaitu regenerasi suboptimal
yang menyebabkan paresis seluruh atau beberapa muskulus fasialis dan regenerasi
sensorik inkomplit yang menyebabkan disgeusia (gangguan pengecapan), ageusia
(hilang pengecapan), dan disestesia (gangguan sensasi atau sensasi yang tidak sama
dengan stimuli normal).

26

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : ASTRIE HANANDA F.


NIM
: 090100299

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjarifuddin, Bashiruddin J, Bramantyo B. 2007. Kelumpuhan Nervus Fasialis
Perifer. In : Soepardi EA, Iskandar N editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. 6th ed. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
2. SM. Lumbantobing. 2006. Neurologi Klinik, Pemeriksaan Fisik dan Mental.
Jakarta: Balai Penerbit FK-UI.
3. Munilson J., Edward Y., Triana W. 2010. Diagnosis dan Penatalaksanaan
Bells Palsy. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Available from:
http://repository.unand.ac.id/17446/1/DIAGNOSIS_DAN_TATALAKSANA_
BELLS_PALSY_.pdf [Accessed 19 Juli 2014].
4. May, Mark and Barry M. Schaizkin. 2000. The Facial Nerve. New York :
Thieme.
5. Sunaryo U. 2012. Bells Palsy. Surabaya. Fakultas Kedokteran Universitas
Wijaya Kesuma. Available from:
http://fkuwks2012c.files.wordpress.com/2013/06/pakar-bells-palsy.pdf
[Accessed 19 Juli 2014].
6. Rahmia, P. 2013. Wajah Mencong. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Trisakti. Available from:
http://www.scribd.com/doc/225409286/referat-Paralisis-Akut-Saraf-Wajah
[Accessed 19 Juli 2014].
7. John YS Kim. Facial Nerve Paralysis. Available from:
www.emedicine.com/plastic/topic522.htm. [Accessed 19 Juli 2014].
8. Lowis H., Gaharu M. 2012. Bells Palsy, Diagnosis dan Tata Laksana di
Pelayanan Primer. Jakarta: J Indon Med Assoc. Available from:
http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/viewFile/1118/11
04 [Accessed 19 Juli 2014].

27