Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
LAPORAN KASUS
I. KASUS
1. Identitas pasien
Nama : Tn. YL
Jenis kelamin : Laki-laki
Tgl. Lahir : 20-9-1982
Alamat : Perum BPP Blok A no 5
No. RM : 665659
Tgl. Pemeriksaan : 30-5-2014
Dokter yang memeriksa : dr. Denny
Dokter muda : Amrilmaen Badawi

2. Anamnesis
Keluhan Utama :
Demam
Anamnesis Terpimpin :
Dialami sejak 3 hari SMRS, naik turun, mengigil (+). Demam turun
sebentar dengan obat penurun panas kemudian naik lagi. Perdarahan
hidung (+), dialami sejak 2 hari SMRS. Nyeri kepala (+). Mual ada,
muntah ada, frekuensi 2 kali berisi lendir dan darah. Warna muntahan
hitam dengan volume sekitar 50 cc. Nyeri ulu hati (+), menjalar (-),
tembus ke belakang (-). Batuk, lendir, sesak tidak ada.
BAK : lancar,kuning
BAB : warna hitam (+) dialami sejak 2 hari SMRS.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien tidak pernah ke daerah endemis malaria.
2

Pasien menyangkal adanya keluarga/tetangga yang sedang menderita
DBD
Pasien pernah mengalami penyakit DBD sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada keluarga yang menderita dengan penyakit yang sama.
Riwayat minum obat :
Paracetamol

3. Pemeriksaan Fisis
Status present :
Sakit Berat/Gizi Baik/Komposmentis
Tanda vital : T: 90/70mmHg
N: 138 x/mnt
P: 24 x/mnt Tipe : Thoracoabdominal
S: 38,0
0
C
Kepala : Ekspresi : Normal
Simetris muka : kiri = kanan
Deformitas : (-)
Rambut : lurus sukar di cabut
Mata : Eksoptalmus / Endoptalmus : (-)
Gerakan : Normal
Tekanan bola mata : t.d.p.
Kelopak mata : Hiperemis (-), ptosis (-), edema (-)
Konjungtiva : Anemis (+/+)
Sclera : Ikterus (-)
Kornea : Jernih
Pupil : Isokor, 2,5 mm/ 2,5 mm
Telinga : Tophi : (-)
3

Pendengaran : Normal
Nyeri tekan di prosessus mastoideus : (-)

Hidung : Perdarahan : (+)
Secret : (-)
Mulut : Bibir : Kering (+)
Tonsil : T1/ T1, Hiperemis (-)
Faring : Hiperemis (-)
Lidah : Kotor (-)
Gigi geligi : Caries (-)
Gusi : Perdarahan (+)
Leher : KGB : Tidak ada pembesaran
Kel. Gondok : Tidak ada pembesaran
DVS : R-2 cmH2O
Pembuluh darah : (-)
Kaku kuduk : (-)
Tumor : (-)
Dada : Inspeksi : Simetris kiri = kanan
Bentuk : Normochest
Pembuluh darah : (-)
Buah dada : Simetris kiri = kanan
Sela iga : Simetris kiri = kanan, kesan melebar (-)
Lain-lain : (-)
Paru : Palpasi : Fremitus raba (-) , nyeri tekan (-)
Perkusi : Paru kiri = Paru kanan : Sonor
Auskultasi :
Bunyi pernapasan : Vesikuler
Bunyi tambahan : Rh -/- Wh -/-
Jantung : Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
4

Palpasi : Ictus cordis tidak teraba, thrill (-)
Perkusi : Pekak, batas jantung kesan normal

Auskultasi :
BJ I/II : Murni, regular
Bunyi tambahan : Bising (-)
Perut : Inspeksi : Datar, ikut gerak napas
Palpasi : MT (-), NT (-)
Hati : Tidak ada pembesaran
Limpa : Tidak teraba
Ginjal : Tidak teraba
Perkusi : Timpani (+)
Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal
Alat kelamin : Tidak ada kelainan
Anus dan rectum : Tidak ada kelainan
Punggung :
- Palpasi : MT (-), NT (-)
- Nyeri ketok : (-)
- Auskultasi : t.d.p.
- Gerakan : Normal
Ekstremitas :
Edema : -/-
Petekie (+) = Rumple leede test (+)
Dingin (+)

4. Pemeriksaan Laboratorium
Tanggal 30/5/2014
- Hgb : 10,4
5

- Ht : 28,2
- Leukosit : 4,8 x 10
3
/l
- Plt :2 x 10
3
/l
- IgG/IgM Dengue : Positif/Positif
- Ureum/Kreatinin : 34/0,2
- SGOT /SGPT : 323/239

5. Resume
Seorang laki-laki berusia 31 thn masuk rumah sakit dengan keluahn
demam yang dialami sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam naik
turun dan demam turun jika minum obat penurun panas (paracetamol)
kemudian naik lagi. Pasien mengalami perdarahan hidung sejak 2 hari sebelum
masuk rumah sakit. Pasien juga mengeluhkan nyeri kepala. Mual ada, muntah
ada frekuensi 2x berisi lendir dan darah, warna hitam dengan volume sekitar
50cc. Nyeri ulu hati (+), menjalar (-), tembus ke belakang (-). Batuk, lendir,
dan sesak tidak ada. BAK lancar warna kuning. BAB warna hitam (+) sejak 2
hari SMRS. Riwayat penyakit dahulu pasien pernah menderita penyakit DBD
sebelumnya. Riwayat penyakit keluarga tidak ada keluarga yang menderita
dengan penyakit yang sama sekarang. Dari pemeriksaan fisik ditemukan
perdarahan pada hidung, akral dingin, dan rumple leede (+). Dari pemeriksaan
laboratorium Hgb : 10.4, Ht : 28.2, Leukosit : 4.8 x 10
3
/l, Plt : 2 x 10
3
/l,
IgG/IgM dengue: positif/positif, SGOT : 323, SGPT : 239.
6. Assesment
- DHF grade III dengan Dengue Shock Syndrome (DSS)
- Anemia ec. Perdarahan
- Peningkatan enzim transaminase

7. Planning
6

Pengobatan
R/ Oksigen via nasal kanul 2-4 liter/menit
R/ IVFD Asering 20 ml/kgBB/jam : 30-120 menit
R/ Paracetamol 500 mg 3x1
R/ Adona 1 amp/8j/drips IV
R/ Omeprazole 40 mg/12j/IV
R/ Transfusi TC 6 Unit
Rencana Pemeriksaan
Analisis Gas Darah
PT, APTT, D-Dimer
Kontrol Darah Rutin

8. Prognosis
Ad functionem : Dubia et bonam
Ad sanationem : Dubia et Bonam
Ad vitam : Dubia et Bonam

9. Follow up
HARI
PERAWATAN
31-5-2014 1-6-2014 2-6-2014 3-6-2014 4-6-2014
TANDA VITAL T :100/70 mmHg
N : 80 x/i
P : 22 x/i
S : 37,8
0
C
T : 100/70 mmHg
N : 100 x/i
P : 28 x/i
S : 37,4
0
C
T : 110/70 mmHg
N : 80 x/i
P : 24 x/i
S : 37
0
C
T : 110/70 mmHg
N : 84 x/i
P : 21 x/i
S : 36,7
0
C
T : 110/70 mmHg
N : 100 x/i
P : 28 x/i
S : 37,4
0
C
KU SS/GC/CM SS/GC/CM SR/GC/CM SR/GC/CM SS/GC/CM
KELUHAN
UTAMA
Demam (+) sejak
2 hari SMRS.
Mimisan (+).
Mual (+), muntah
Demam (-) tadi
malam. Mimisan (-
) . Mual (+),
muntah (-), NUH (-
Demam (-) tadi
malam. Mimisan
(-) . Mual (+),
muntah (-), NUH
Demam (-) tadi
malam. Mimisan (-
) . Mual (+),
muntah (-), NUH (-
D Demam (-) tadi
malam. Mimisan (-
) . Mual (+),
muntah (-), NUH (-
7

(+), NUH (+).
Nyeri Kepala (+)
). Nyeri Kepala (-) (-). Nyeri Kepala
(-)
). Nyeri Kepala (-) ). Nyeri Kepala (-)
KEPALA ANEMIS : +/+
IKTERUS : -/-
DVS : R+1
cmH2O
ANEMIS : +/+
IKTERUS :-/-
DVS : R+1
cmH2O
ANEMIS : -/-
IKTERUS :-/-
DVS : R+1
cmH2O
ANEMIS : -/-
IKTERUS : -/-
DVS : R+1
cmH2O
ANEMIS : +/+
IKTERUS :-/-
DVS : R+1
cmH2O
THORAKS BP : vesikuler
RH : -/-
Wh : -/-
BP : vesikuler
RH : -/-
Wh : -/-
BP : vesikuler
RH : -/-
Wh : -/-
BP : vesikuler
RH : -/-
Wh : -/-
BP : vesikuler
RH : -/-
Wh : -/-
ABDOMEN BU : (+) kesan
normal
H : ttb
L : ttb
BU : (+) kesan
normal
H : ttb
L : ttb
BU : (+) kesan
normal
H : ttb
L : ttb
BU : (+) kesan
normal
H : ttb
L : ttb
BU : (+) kesan
normal
H : ttb
L : ttb
EKSTREMITAS EDEMA : -/- EDEMA : -/- EDEMA : -/- EDEMA : -/- EDEMA : -/-
DIAGNOSA
UTAMA
DHF gr.II DHF gr.II DHF gr.II DHF gr.II DHF gr.II
TERAPI Banyak minum
2-3 liter/hari
Connecta infus
terpasang
cabang 2
IVFD asering
20 tts/menit
IVFD asering
20 tts/menit
Paracetamol
500mg 3x1 tab
Inj. Vit. K 1
amp/24j/iv
Inj. Methyl
prednisolon
125mg/24j/iv
Maxiliv tab 2x1
Banyak minum
2-3 liter/hari
Connecta infus
terpasang cabang
2
IVFD asering 20
tts/menit
IVFD asering 20
tts/menit
Paracetamol
500mg 3x1 tab
Inj. Vit. K 1
amp/24j/iv
Inj. Methyl
prednisolon
125mg/24j/iv
Maxiliv tab 2x1
Banyak minum
2-3 liter/hari
Connecta infus
terpasang
cabang 2
IVFD asering
20 tts/menit
IVFD asering
20 tts/menit
Paracetamol
500mg 3x1 tab
Inj. Vit. K 1
amp/24j/iv
Inj. Methyl
prednisolon
125mg/24j/iv
Maxiliv tab 2x1
Banyak minum
2-3 liter/hari
Connecta infus
terpasang cabang
2
IVFD asering 20
tts/menit
IVFD asering 20
tts/menit
Paracetamol
500mg 3x1 tab
Inj. Vit. K 1
amp/24j/iv
Inj. Methyl
prednisolon
125mg/24j/iv
Maxiliv tab 2x1
Banyak minum
2-3 liter/hari
Connecta infus
terpasang cabang
2
IVFD asering 20
tts/menit
IVFD asering 20
tts/menit
Paracetamol
500mg 3x1 tab
Inj. Vit. K 1
amp/24j/iv
Inj. Methyl
prednisolon
125mg/24j/iv
Maxiliv tab 2x1
8

Omeprazole
40mg/12j/iv

Omeprazole
40mg/12j/iv

Omeprazole
40mg/12j/iv

Omeprazole
40mg/12j/iv

Omeprazole
40mg/12j/iv


II. DISKUSI

Pada anamnesis, pasien demam yang dialami sejak 3 hari yang lalu
sebelum masuk rumah sakit dan dirasakan secara terus menerus, sempat turun
dengan minum paracetamol namun naik lagi. Pasien juga mengalami
perdarahan hidung sejak 2 hari SMRS. Dari pemeriksaan tersebut, demam
terjadi secara mendadak, bersifat bifasik, menetap 3-7 hari, dalam 24 jam
terasa ngilu pada kedua tangan dan kaki. Terdapat manifestasi perdarahan
spontan berupa perdarahan hidung. Selain itu, pada anamnesis juga
didapatkan bahwa pasien memiliki riwayat BAB berwarna hitam dan muntah
berwaran hitam dengan volume 50 cc.
Pada pemeriksaan fisik, pasien mengeluh nyeri ulu hati dan rumple
leede (+). Dari pemeriksaan tersebut, terdapat uji turniket positif berarti
fragilitas kapiler meningkat. Dinyatakan positif bila terdapat > 10 petekie
dalam diameter 2,5 cm di lengan bawah bagian volar termasuk fossa cubiti.
Selain itu ditemukan tekanan darah 90/70 mmHg, yang menunjukkan tekanan
darah menyempit (20 mmHg) dan ekstremitas dingin.
Pada pemeriksaan laboratorium Hgb : 10.4 , Ht : 28,2, Leukosit : 4.8 x
10
3
/l, Plt : 2 x 10
3
/l, SGOT : 323, SGPT : 239. Dari pemeriksaan
laboratorium tersebut, platelet mengalami penurunan ( N : 150 x 10
3
/l - 450 x
10
3
/l) dan pemeriksaan IgG/IgM dengue memberikan hasil positif/positif.
Jadi, dari semua pemeriksaan yang telah dilakukan kita dapat
mengambil kesimpulan bahwa pasien didiagnosis dengan Demam Berdarah
9

Dengue derajat 3 (Dengue Shock Syndrome) karena pada pasien terjadi
demam yang disertai perdarahan spontan di kulit dan perdarahan lain berupa
epistaksis, melena dan hematesis disertai penurunan trombosit, dan
penyempitan tekanan nadi.
Sesuai dengan prinsip pengobatan pada Demam Dengue, pasien
diberikan terapi suportif dan terapi simptomatik. Penatalaksanaan demam
berdarah disesuaikan dengan derajat keparahan. Penatalaksanaan ditujukan
untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran plasma dan memberikan
terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan. Terapi cairan berupa
IVFD RL 40 tpm untuk membantu mengencerkan kekentalan darah yang
memekat sehingga oksigen dapat terus dialirkan ke setiap sel tubuh sindrom
syok dapat teratasi. Terapi simptomatik berupa paracetamol diberikan untuk
menurunkan demam, dan omeprazole diberikan untuk mengurangi nyeri ulu
hati Pemberian adona diindikasikan untuk menangani perdarahan dan transfusi
untuk menggantikan darah yang keluar melalui perdarahan spontan.
Pada pasien DSS seperti ini memberikan pemeriksaan penunjang lebih
lanjut untuk mengetahui ada atau tidak terjadinya DIC ( Dissaminated
Intravascular Coagulation ). Pemberian heparin bagi pasien DSS dengan DIC
merupakan terapi yang biasanya dilakukan.






10




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. DEFINISI
Infeksi virus dengue adalah suatu infeksi virus akut yang disebabkan oleh
virus dengue dengan manifestasi demam, sakit kepala, nyeri otot atau persendian,
ruam dan trombositopenia. Demam berdarah dengue (DBD) adalah salah satu
bentuk dari infeksi virus dengue disertai dengan perembesan plasma yand
ditandai dengan hemokonsentrasi. Perembesan plasma yang terjadi bisa saja
menyebabkan syok hipovolemik yang sering kita sebut sebagai dengue shock
syndrome .
(1,2)

Gambar 1. Manifestasi dari infeksi virus dengue.
(2)


II. ETIOLOGI DAN CARA PENULARAN
11

Transmisi dari virus dengue tergantung terhadap 2 faktor, yaitu faktor biotik
dan abiotic. Faktor biotik meliputi virus, vektor, dan host. Sedangkan faktor
abiotic termasuk suhu, kelembaban, dan lokasi.
(4)

II.1. Virus Dengue
Infeksi virus dengue disebabkan oleh virus dengue yang termasuk
dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus adalah virus
dengan diameter 30-50 nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal
dengan berat molekul 4x10
6
. Virus dengue memiliki 3 protein struktural dan
7 protein non-struktural (NS). Diantara 7 protein struktural, envelope
glycoprotein atau yang sering kita kenal dengan NS-1 merupakan salah satu
protein yang sering dideteksi bagi pasien tersangka infeksi virus dengue.
(1,4)
Terdapat 4 macam serotipe virus dengue yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-
3, dan DEN-4 yang semuanaya bisa menyebabkan demam dengue. Ketika
seseorang terinfeksi degan serotipe manapun, maka orang tersebut akan
mendapatkan kekebalan seumur hidup terhadap serotipe tersebut. Seringkali
infeksi kedua kali dengan serotipe lainnya atau infeksi virus multiple
(terinfeksi lebih dari serotipe dalam satu waktu) menjadi peneybab
keparahan dari infeksi dengue yaitu dengue shock syndrome.
(1,3,4)

II.2. Vektor
Virus dengue ditularkan ke manusia melalu gigitan nyamuk. Aedes
aegypti adalah vektor dengue yang tersering.
(2,4)
Aedes aegypti merupakan
nyamuk yang bisa ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Distribusi dari
nyamuk Ae. Aegypti pun dibatasi oleh ketinggian. Biasanya nyamuk ini
tidak ditemukan di ketinggi 1000m dari permukaan laut. Nyamuk ini
menjadi vektor paling efisien bagi virus karena bersifat antropofilik dan
tumbuh subur di dekat manusia serta seringkali hidup di dalam ruangan.
(3)
12

Selain nyamuk Aedes agypti, terdapat pula vnyamuk lain yang bisa
menjadi vektor bagi virus ini. Aedes albopictus, Aedes polynesiensis, dan
beberapa dari Aedes scutellaris ditemukan bisa menjadi vektor bagi virus
dengue.
(3)

II.3. Cara Penularan
Virus dengue dapat menular kemanusia dari gigitan nyamuk. Nyamuk
yang tidak terinfeksi mendapatkan virus ketika mereka menghisap darah
dari individu yang terinfeksi. Virus berkembang pada tubuh nyamuk selama
1-2 minggu dan ketika mencapai kelenjar ludah nyamuk, virus dapat
bertransmisi pada manusia saat nyamuk menghisap darah manusia. Setelah
nyamuk yang infeksius menggigit manusia, virus akan bereplikasi pembuluh
limfa dan selama 2-3 hari akan menyebar ke seluruh tubuh melau darah.
Virus bersirkulasi dalam darah selama 4-5 hari selama masa demam dan
akan hilang dalam waktu sehari ketika suhu tubuh menurun.
(3)


Gambar 2. Nyamuk Aedes aegypti menggigit manusia dan mentransmisikan virus dengue.
(5)


III. EPIDEMIOLOGI
Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik Barat dan
Karibia. Di Asia Tenggara, angka kejadian DBD meningkat dari dibawah 100.000
kasus pada tahun 1950-1960an menjadi 200.000 kasus pada tahun 90an.
Peningkatan angka kejadian juga dilaporkan terjadi diluar dari area tropis dan
subtropis.
(5)
13


Gambar 3. Distribusi Geografis Dengue.
(5)
Di Indonesia DBD telah menjadi masalah kesehatan masyarakat selama 41
tahun terakhir. Sejak tahun 1968 telah terjadi peningkatan

persebaran jumlah
provinsi dan kabupaten/kota yang endemis DBD, dari 2 provinsi dan 2 kota,
menjadi 32 (97%) dan 382 (77%)

kabupaten/kota pada tahun 2009. Provinsi
Maluku, dari tahun 2002 sampai tahun 2009 tidak ada laporan kasus DBD. Selain
itu terjadi

juga peningkatan jumlah kasus DBD, pada tahun 1968 hanya 58 kasus
menjadi 158.912 kasus pada tahun 2009.
(8)

Gambar 4. Angka Insiden DBD per 100.000 penduduk di Indonesia tahun 1968-2009.
(8)


IV. GEJALA KLINIS
14

Menurut WHO 2009, Gambaran klinis dari penderita dengue dibagi atas 3
fase yaitu fase febris, fase kritis dan fase pemulihan.
(8)
A. Fase Febris
Pada fase ini biasanya demam mendadak tinggi 2-7 hari, suhu tubuh
biasanya mencapai 39-40
0
C, bersifat bifasik. Pada fase ini juga biasanya
disertai rash atau eritema kulit yang bisa ditemukan pada wajah, leher, atau
dada pada 2-3 hari pertama. Ruam berkembang berbentuk makopapular pada
hari ketiga hingga hari keempat.
(4,8)

Selain itu dapat pula ditemukan nyeri seluruh tubuh, mialgia, atralgia
dan sakit kepala. Pada beberapa kasus ditemukan pua nyeri pada tenggorokan,
injeksi farings dan konjugtiva, anoreksia, mual dan muntah. Pada fase ini
dapat pula ditemukan tanda perdarahan seperti uji turniket positif atau peteki
dan perdarahan mukosa.Walaupun jarang bisa juga ditemukan epistaksis
hebat, perdarahan pervaginam dan perdarahan gastrointestinal.
(4,8)

B. Fase Kritis
Terjadi pada hari ke 3-7 dan ditandai dengan penurunan suhu tubuh
disertai kenaikan permeabilitas kapiler dan timbulnya kebocoran plasma yang
biasanya berlangsung selama 24-48 jam. Kebocoran plasma sering didahului
dengan penuruna trombosit. Pada fase ini dapat terjadi syok.
(8)

C. Fase pemulihan
Bila fase kritis terlewati maka terjadilah pengembalian cairan dari
ekstravaskular ke intravaskular secara perlahan pada 48-72 jam setelahnya.
Keadaan umum penderita membaik, nafsu makan kembali serta hemodinamik
membaik.
(8)

15


Gambar 5. Perjalan penyakit pada infeksi virus dengue.
(8)


V. PATOGENESIS
Berdasarkan data yang ada, diketahui bahwa menkanisme imunopatologis
berperan terhadap terjadinya DBD dan bentuk yang lebih parah berupa DSS.
Adapun respon imun yang berperan adalah:
(1)

a. Respon humoral berupa pembentukan antibodi yang berperan dalam proses
netralisasi virus, sitolisis yang dimediasi komplemen dan sitotoksisitas yang
dimediasi oleh antibody. Antibodi terhadap virus dengue berperan dalam
mempercepat replikasi virus pada monosit atau makrofag. Hipotesis ini
disebut antibody dependent enchanment.
b. Limfosit T berupa T-helper (CD4) dan T-Sitotoksik (CD8) berperdan dalam
respon imun seluler terhadap virus dengue
c. Monosit dan makrofag berperan pada fagositosis virus dengan opsonisasi
antibodi. Namun proses fagositosis ini menyebabkan replikasi virus
meningkat.
d. Aktivasi komplemen oleh kompleks imun menyebabkan tebrentuknya C3a
dan C5a.
16


Gambar 6. Immunopatogenesis demam berdarah dengue.
(
1)

Selain teori diatas, pada tahun 1973 Halstead mengajukan sebuah hipotesis
tentang secondary heterologous infection yang menyatakan bahwa DHF terjadi
bila seseorang terinfeksi ulang virus dengue dengan tipe yang berbeda. Re-infeksi
menyebabkan reaksi anamnestik antibodi sehingga mengakibatkan konsentrasi
kompleks imun yang tinggi.
(1)

Gambar 7. secondary heterologous infection
(1)
17

VI. DIAGNOSIS
Menurut WHO, kriteria yang harus dipenuhi untuk menegakkan diagnosis
DBD adalah sebagai berikut:
(4)

A. Manifestasi Klinis
- Demam, perlangsungan akut, tinggi dan terus menerus, berlangsung
selama 2-7 hari pada kebanyakan kasus.
- Adanya manifestasi perdarahan berupa perdarahan provokatif (uji turniket
positif) maupun perdarahan spontan (peteki, purpura, epistaksis,
perdarahan gusi, hematesis dan/atau melena)
- Hepatomegali atau pembesaran hati
- Syok, dengan manifestasi berupa takikardi, nadi melemah, tekanan nadi
menyempit, dan akral dingin.
B. Pemeriksaan Laboratorium
- Trombositopenia ( 100.00 sel per mm
3
)
- Hemokonsentrasi, yaitu peningkatan nilai hematokrit 20%
Dengan ditemukannya dua dari 4 gejala klinis yang ada disertai temuan
laboratorium berupa trombositopenia dan hemokonsentrasi, demam berdarah
dengue sudah dapat ditegakkan.
(4)
Berdasarkan temuan klinis dan laboratorium tadi, Demam Berdarah Dengue
dapat diklasifikasikan berdadarkan derajat keparahan. DBD dibagi dalam 4
derajat yaitu:
(1,3,4)
1. DBD Grade I
Memberikan gejala demam, sakit kepalam nyeri retro-orbital, mialgia dan
artralgia ditambah uji turniket memberikan hasil positif. Selain itu pada
hasil laboratorium ditemukan adanya trombositopenia dan peningkatan
hematokrit sebagai tanda terjadinya kebocoran plasma.
18

2. DBD Grade II
Memenuhi krtieria DBD grade I disertai tanda-tanda perdarahan spontan
seperti perdarahan gusi, epsitaksis, melena dan/atau hematesis.
3. DBD Grade III
Pasien dikategorikan kedalam DBD grade III jika memenuhi kriteria DBD
grade II disertai tanda-tanda adanya kegagalan sirkulasi.
4. DBD Grade IV
Pasien dikategorikan DBD grade IV jika memenuhi kriteria DBD grade III
disertai dengan tekanan darah dan nadi yang tidak terukur.
Pasien dikatakan mengalami Dengue Shock Syndrome jika mengalami DBD
grade III-IV. Kondisi pasien yang menjadi syok biasanya tiba-tiba memburuk
setelah demam selama 2-7 hari. Terdapat tanda khas dari kegagalan sirkulasi yaitu
kulit menjadi dingin dan nadi menjadi cepat dan lemah. Pasien mungkin awalnya
letargi, kemudian menjadi gelisah dan dengan cepat memasuki stadium kritis dari
syok Nyeri abdomen akut seringkali dikeluhkan sebelum terjadinya syok.
(2)
Selain tanda tadi, DSS juga seringkali ditandai dengan menyempitnya tekanan
nadi (20 mmHg) dan disertai terjadinya hipotensi. Pasien dengan syok berada
dalam bahaya kematian jika tidak diatasi dengan baik. Pasien bisa saja masuk
kedalam stadium syok yang lebih dalam dengan tekanan darah dan nadi yang
tidak terukur.
(1,8)

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Pemeriksaan Laboratorium

B. Pemeriksaan Radiologi
VIII. PENATALAKSANAAN
19

Sampai hari ini, tidak ada terapi spesifik untuk demam dengue. Prinsip utama
pengobatan pada penyakit ini cuma berupa terapi suportif. Steroid, antiviral,
maupun karbazokrom tidak memiliki peran yang berarti. Dengan terapi suportif
yang adekuat angka kemtian dapat diturunkan hingga 1%. Pemeliharaan cairan
sirkulasi adalah tindakan yang paling penting dalam penanganan kasus DBD.
Asupan cairan harus tetap dijaga, terutama cairan oral. Jika asupan cairan oral
tidak bisa dipertahankan maka dibutuhkan suplemen cairan melalui intravena
untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi.
(1,5)
Selain terapi cairan, paracetamol bisa digunakan untuk sebagai obat penurun
panas dan analgesik. Aspirin dan dan NSAID lainnya sebaiknya dihindari karena
bisa meningkatkan resiko terjadinya Reyes syndrome dan hemoragik. Assesmen
dari kondisi pasien berupa pemeriksaan lab harus dievaluasi setiap 24 jam untuk
mengawasi tanda-tanda terjainya syok.
(5)

Protokol pengobatan infeksi virus dengue yang digunakan di Indonesia
terbagi dalam 5 kategori yaitu:
(1)
Protokol 1: Penanganan Tersangka DBD (probable) tanpa syok
Protokol 2: Pemberian cairan pada tersangka DBD di ruang rawat
Protokol 3: Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan nilai
hematokrit >20%
Protokol 4: Penatalaksanaan perdarahan spontan pada DBD
Protokol 5:Tatalaksana Dengue Syok Sindrome

IX. PROGNOSIS



20













DAFTAR PUSTAKA
1. Suhendro, Nainggolan L, Chen K, Pohan HT. Demam berdarah dengue.
Dalam: Sudoyo, A. et.al. (editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III.
Edisi V. Jakarta:Pusat Penerbitan IPD FKUI, 2009.p.1731-1735
2. Who yg chapter
3. World Health Organization. Dengue, dengue haemorrhagic fever and dengue
shock syndrome in the context of the integrated management of childhood
illness. Department of Child and Adolescent Health and Development.
WHO/FCH/CAH/05.13. Geneva, 2005
4. Who yg comprehensive
5. Gibbons RV, Vaughn DW. Dengue: An Escalating Problem. BMJ 2002;
324:1563-6
6. Liolios A. Volume resuscitation: the crystalloid vs colloid debate revisited.
Medscape 2004. Available from: URL: http://www.medscape.com/
viewarticle/480288
21

7. Wills BA, Nguyen MD, Ha TL, Dong TH, Tran TN, Le T, et al. Comparison
of three fluid solutions for resuscitation in dengue shock syndrome. N Engl J
Med 2005; 353:87789
8.