Anda di halaman 1dari 3

Menebar Virus Optimisme

Politik, memang menjadi headline media di tahun 2014 ini. Selepas pemilu legislatif 9
April lalu, publik makin dibuat penasaran dengan siapa yang akan maju sebagai capres dan
cawapres 9 Juli mendatang. Hampir semua media, baik cetak maupun elektronik berbondong-
bondong menyuguhkan suatu panggung sandiwara. Panggung untuk menaikkan citra dan
elektabilitas. Prinsipnya, semakin sering seorang tokoh muncul di media masa, semakin
populer tokoh itu. Kepopuleran tokoh akan berbanding lurus dengan elektabilitas partai, yang
tentunya akan menaikkan jumlah suara di pemilu presiden kedepan. Terdengar klasik
memang, tapi itulah faktanya.
Berbicara mengenai media, sungguh menggelitik rasanya ketika membaca konten
berita akhir-akhir ini. Media cenderung menekan porsi good news dan menaikkan porsi bad
news disetiap pemberitaannya. Media yang notabene seperti makanan wajib bagi masyarakat
Indonesia sudah melunturkan optimisme publik dalam memandang bangsanya. Bagaimana
tidak? Setiap hari konten berita sudah bisa ditebak, mulai dari kasus korupsi, penangkapan
narkoba, kasus perceraian selebriti, hingga yang heboh belakangan ini adalah kasus
paedophilia. Bukan, saya bukan menuntut untuk tidak memberitakan konten tersebut, tapi
porsi untuk berita berbau negatif sudah seharusnya ditekan atau minimal seimbang dengan
konten berita yang lebih edukatif dan inspiratif. Bayangkan saja, ada berapa banyak orang
yang akan tertular virus pesimisme dari pemberitaan media saat ini. Bayangkan negara besar
yang katanya kaya akan sejarah perjuangan, kebudayaan, dan keindahan alamnya akan
dinihilkan dengan berita negatif tentangnya. Bagaimana Indonesia maju dan bersaing dengan
negara lain kalau rakyatnya sudah pesimis dulu memandang bangsanya.
Kembali ke pemilu presiden, ada satu pertanyaan yang membuat saya mengernyitkan
dahi, Apakah Indonesia akan maju ya kalau Pak X terpilih menjadi presiden? terdengar naif
tapi sungguh masa depan Indonesia tidak bisa ditentukan oleh siapa yang akan meraih
kemenangan 9 juli mendatang. Jangan menganggap kalau masa depan Indonesia hanya
ditentukan oleh presidennya yang akan berganti tiap 5 atau 10 tahun sekali. Kemajuan bangsa
ini tidak hanya bersifat periodik tapi haruslah berkelanjutan. Kalau 2014 ini Indonesia
mendapat pemimpin yang baik dan sesuai yang dicita-citakan rakyat mungkin dia akan
menjadi motor atau penggerak perubahan ke arah yang lebih baik, tapi kalau ternyata
mendapat pemimpin yang tidak sesuai dengan kriteria pemimpin yang dicitakan, akankah
Indonesia menunggu di tahun 2019, 2024 atau seterusnya untuk bisa maju? Saya raya tidak.
Tidak akan.
Ada sebuah generasi yang saya namakan generasi optimis. Generasi ini bukan
jawaban atas pertanyaan siapa yang akan memikul beban memajukan negara ini, tapi generasi
inilah yang sudah turun tangan membangun dan memajukan bangsa ini. Banyak yang sudah
mereka lakukan untuk memperbaiki bangsanya. Bukan hanya berteriak-teriak di jalanan
menuntut ini dan itu dari pemerintah, tapi mereka lebih dari sekedar itu. Yang perlu digaris
bawahi disini adalah, dibutuhkan suatu kelompok masyarakat yang bisa menganalisa
permasalahan apa saja yang dihadapi negaranya, kemudian mencari solusi atas masalah
tersebut, untuk selanjutnya bergerak dan bukan malah melakukan kritisi bodoh yang
memojokkan salah satu pihak. Jujur, untuk menemukan siapa saja generasi ini, saya sedikit
kesulitan dan saya merasa harus bercermin. Apakah saya termasuk generasi ini?
Ketika membaca salah satu postingan di jejaring sosial sepekan yang lalu, saya dibuat
gusar. Inti dari postingan tersebut adalah kekecewaan terhadap anak zaman sekarang dari
mulai sekolah dasar hingga sarjana tapi berakhir sebagai koruptor, yang ditutup dengan
tagline Inikah Indonesia? Sangat persuasif, setidaknya untuk mendorong saya menulis
artikel ini. Publik saat ini sudah teracuni media yang membombardir pemberitaan dengan
korupsi. Saya akui korupsi adalah budaya laten, tapi bukan berarti tidak bisa diberantas
bukan? Ketika mencuatnya beragam kasus korupsi, suap, gratifikasi, dan sejenisnya, banyak
yang berargumen bahwa negara ini makin bobrok saja. Tapi kalau boleh saya menganalisa,
kasus korupsi yang terkuak belakangan ini adalah menunjukkan semakin pro-aktifnya
pemerintah dalam upaya pemberantasan korupsi. Semakin gigihnya pemerintah melalui KPK
dalam mengembalikan uang negara yang telah diambil oleh tikus bernama koruptor tanpa
tebang pilih, mulai dari anggota dewan terhormat, menteri, hingga Ketua MK RI. Bolehlah
kita membenci koruptor tapi lantas jangan menggeneralisasi lembaga dan elite pemerintahan
sebagai koruptor. Kalau berprasangka saja sudah buruk, bagaimana mau membangun
Indonesia.
Presiden SBY melalui akun twitternya @SBYudhoyono pernah mencuit bahwa
Indonesia masuk dalam 10 negara dengan ekonomi terbesar di dunia setelah Amerika Serikat,
Tiongkok, India, Jepang, Jerman, Rusia, Brazil, Perancis, dan Inggris. Sebuah harapan baru
memang apalagi Indonesia adalah negara dengan iklim investasi yang menyegarkan bagi
kalangan investor untuk menanamkan modalnya ke Indonesia. Lalu, dengan harapan baru itu,
apakah kita hanya sekedar berharap? Hanya sekedar menunggu orang lain untuk bertindak
dulu, baru kita mengikutinya? Bisa jadi seperti itu, tapi alangkah lebih baik apabila kita
menjadi motor bagi diri kita sendiri untuk setidaknya menanamkan optimisme terhadap
bangsa ini.
Dari generasi optimis yang telah saya singgung diawal tadi, inilah beberapa orang
yang saya rasa sungguh luar biasa dalam membangun bangsanya ke arah yang lebih baik.
Adalah Anies Baswedan, rektor yang juga pencetus ide Gerakan Indonesia Mengajar (GIM),
suatu organisasi yang pengabdiannya terhadap pendidikan di Indonesia patut di apresiasi. Tim
pengajar dari Gerakan Indonesia Mengajar melakukan aktivitas pengabdian untuk mengajar di
daerah terluar dan terpencil di Indonesia seperti Kepulauan Sangihe, Kabupaten Fakfak,
hingga Rote, NTT. Bahkan gerakan ini turut memicu semangat bagi para mahasiswa dari
berbagai universitas dan institut untuk membentuk badan mahasiswa yang serupa dengan
GIM. Tidak hanya Anies Baswedan, ada Butet Manurung yang mengajarkan baca, tulis, dan
menghitung kepada anak-anak masyarakat suku anak dalam, yang dikenal sebagai Orang
Rimba, yang tinggal di hutan bukit Duabelas, Jambi. Kisah Sokola Rimba begitu
menginspirasi banyak orang, bahwa masih ada orang yang peduli terhadap masa depan
bangsanya, mereka memilih bertindak untuk isu pemerataan pendidikan di Indonesia daripada
berteriak kesana kemari menuntut pemerataan.
Kemudian, ketika pemilu presiden sudah di depan mata ada sebuah pertanyaan
muncul, siapakah yang berperan dalam memajukan bangsa ini? Apakah presiden? Apakah
generasi optimis semisal Mas Anies dan Butet? Saya jawab bukan, itu bukanlah tanggung
jawab mereka saja. Kemajuan bangsa Indonesia ada di tangan kita semua, saya dan anda.
Generasi muda pengubah bangsa sangat diharapkan bisa membangun negerinya dengan sikap
penuh optimis, kritis, kreatif, dan inovatif. Dibutuhkan suatu cara pandang baru dalam
memandang negara ini, dan generasi muda saat ini membutuhkan itu. Kritis terhadap setiap
pemberitaan media, tidak skeptis terhadap negara dan politik nasional, adalah langkah awal
untuk mewujudkan visi Indonesia kedepan. Dan ketika saya sudah memilih optimis menatap
masa depan Indonesia, bagaimana dengan anda?