Anda di halaman 1dari 6

PDIN I BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL

www.batan.go.id I www.infonuklir.com
ATOM S
Media Informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir
..
NO. ISSN 0215-0611
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus selalu tersedia
dalam jumlah yang cukup, mutu yang memadai, dan harga terjangkau untuk dapat
menjamin kelangsungan hidup. Bahan pangan umumnya mudah rusak baik
disebabkan oleh pengaruh cuaca, serangan serangga maupun mikroba terutama
yang dapat memproduksi toksin mematikan. Oleh karena itu, perlu dipikirkan
teknologi tepat guna yang dapat mencegah kerusakan berlanjut.
Teknologi pengawetan konvensional dengan cara pengeringan,
penggaraman, pemanasan, pembekuan dan pengasapan serta fumigasi, sampai saat
ini masih diterapkan untuk mempertahankan mutu sekaligus memperpanjang masa
simpan bahan pangan. Penambahan bahan pengawet sintetis masih seringkali
digunakan meskipun memberikan dampak negatif bagi kesehatan.
Pengembangan teknik nuklir dalam bidang pangan sudah terbukti dapat
menciptakan hal baru sebagai teknologi alternatif guna membantu memecahkan
berbagai masalah sanitasi yang dihadapi. Beberapa contoh aplikasi teknik nuklir
untuk tujuan tersebut dan telah dikembangkan antara lain untuk peningkatan daya
awet, keamanan pangan, dan sterilisasi bahan pangan tertentu.
APLIKASI TEKNIK NUKLIR
DALAM PENGAWETAN BAHAN PANGAN
Teknologi radiasi memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi konvensional, yaitu hemat
energi dan bahan, mudah dikontrol, dapat diproses dalam kemasan yang tidak tahan panas, tidak
meninggalkan residu, dan ramah lingkungan. Namun, sebagian masyararakat masih memiliki pemahaman
yang keliru tentang iradiasi pada bahan pangan. Oleh karena itu sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat
tentang manfaat teknologi tersebut harus terus ditingkatkan.
Aplikasi Teknologi Iradiasi Pada Bahan Pangan
Aspek Keamanan Makanan Iradiasi
Iradiasi merupakan suatu proses fisika yang dapat digunakan untuk mengawetkan dan meningkatkan
keamanan bahan pangan. J enis radiasi yang digunakan adalah radiasi berenergi tinggi yang disebut radiasi
pengion, karena menimbulkan ionisasi pada materi yang dilaluinya.
Energi yang dihasilkan oleh sumber radiasi dapat dimanfaatkan untuk tujuan menghambat
pertunasan dan pematangan serta membasmi serangga (dosis rendah) dan membunuh mikroba patogen
(dosis sedang), serta membunuh seluruh jenis bakteri yang ada (dosis tinggi), sehingga mutu bahan pangan
dapat tetap dipertahankan di dalam kemasan yang baik selama penyimpanan.
Sumber radiasi yang dapat digunakan untuk proses pengawetan bahan pangan terdiri dari 4 macam,
yaitu: Co-60, Cs-137, masing-masing menghasilkan sinar gamma, mesin berkas elektron dan mesin
generator sinar-X. Dengan menggunakan pembatas dosis iradiasi dan batas maksimum energi dari keempat
sumber tersebut, maka bahan pangan yang diawetkan dengan iradiasi tidak menjadi radioaktif. Uji
keamanan makanan iradiasi untuk konsumsi manusia dikenal dengan istilah wholesomeness test, mencakup
uji toksikologi, makro dan mikro nutrisi serta uji mikrobiologi dan sensorik.
Dalam teknologi iradiasi, terjadinya interaksi antara radiasi dengan materi/sel hidup dapat
menimbulkan berbagai proses fisika dan kimia di dalam materi tersebut, yang diantaranya dapat
menghambat sintesa DNA dalam sel hidup, misalnya mikroba. Proses ini yang selanjutnya dimanfaatkan
untuk berbagai tujuan, yaitu menunda pertunasan, membunuh serangga dan mikroba.

Komoditi yang akan diiradiasi wajib memenuhi kriteria higienis dan dengan kontaminasi awal
serendah mungkin. Sumber radiasi pengion yang menghasilkan sinar gamma dan sinar-X untuk
pengawetan bahan pangan telah ditetapkan batasan maksimalnya masing-masing sebesar 5 MeV dan
Sosialisasi dan edukasi publik di Surabaya (Pameran Bahari 2010)
10 MeV untuk mesin berkas elektron. Batasan ini dibuat berdasarkan pembentukan imbas radioaktif.
Radioaktivitas imbas baru akan timbul pada atom-atom bahan yang diiradiasi bila energi yang digunakan di
atas 5 MeV untuk radiasi gamma. Batas energi untuk sumber elektron lebih tinggi karena radioaktivitas
imbas yang timbul pada energi kurang dari 16 MeV sangat sedikit jumlahnya dan relatif berumur pendek.
Pembentukan residu zat radioaktif yang berasal dari sumber radiasi pada bahan pangan sama sekali
tidak ada, karena radionuklida sumber radiasi tersimpan rapat dalam kapsul logam yang berlapis. Selama
proses berlangsung, bahan pangan sama sekali tidak menempel pada sumber.
Iradiasi secara umum dapat digambarkan sebagai seberkas sinar yang menembus dengan kekuatan
yang berbeda bergantung pada panjang gelombang dan berbanding terbalik dengan frekuensinya. Oleh
karena itu, proses radiasi tidak meninggalkan residu apapun, baik pada bahan yang disinari, maupun berada
di sekitarnya, sehingga proses tersebut benar-benar aman, bersih dan ramah lingkungan.
Proses penyinaran dengan menggunakan radiasi pengion merupakan proses dingin karena tidak
menimbulkan kenaikan suhu pada bahan yang dilaluinya. Energi yang diserap bahan pangan dengan teknik
tersebut jauh lebih rendah dari energi makanan yang dipanaskan. Akibatnya perubahan unsur kimia yang
terjadi akibat radiasi secara kuantitatif juga lebih sedikit. Senyawa kimia yang terbentuk akibat radiasi
bergantung pada komposisi bahan dan jumlahnya akan meningkat sesuai dengan bertambahnya dosis
radiasi. Perubahan kimia dapat ditekan dengan mengatur suhu dan kadar air bahan, serta menghilangkan
oksigen udara di sekeliling bahan yang diiradiasi.
Sebagaimana diutarakan sebelumnya bahwa iradiasi dapat menimbulkan perubahan kimia pada
bahan pangan, maka timbul kekhawatiran bahwa iradiasi dapat mempengaruhi nilai gizi dari bahan
tersebut. Dari hasil penelitian terbukti bahwa hilangnya zat gizi pada makanan yang diiradiasi sampai dosis
1 kGy tidak nyata. Iradiasi bahan pangan pada dosis sedang (1-10 kGy) dapat menurunkan beberapa unsur
mikro nutrisinya apabila udara dan suhu serta kondisi selama proses tidak diatur dengan baik. Perlakuan
kombinasi antara pengaturan kondisi iradiasi (dosis, suhu, oksigen) dan teknik pengemasan dapat
mempertahankan mutu dan nutrisi pada bahan pangan olahan siap saji.
Beberapa jenis vitamin seperti riboflavin, niacin dan vitamin D cukup tahan terhadap radiasi, tetapi
vitamin A, B, C dan E sangat peka. Pada umumnya, penurunan kadar vitamin dalam bahan pangan akibat
iradiasi hampir sama saja dengan penurunan akibat pemanasan. Pada sterilisasi panas, kadar thiamin, niacin
dan pridoksin masing-masing mengalami penurunan 80, 35 dan 16%, sedangkan pada sterilisasi radiasi
o
dengan dosis 45 kGy yang dilakukan pada suhu -79C (CO padat) masing-masing hanya mengalami
2
penurunan sebesar 15%, 22%, dan 2%.
Paparan radiasi pengion dapat menyebabkan kerusakan DNA pada sel hidup termasuk sel mikroba
khususnya yang bersifat patogenss Namun, aplikasi iradiasi dosis sedang (1-10 kGy) tidak dapat
menyebabkan terjadinya mutasi pada mikroba yang bersifat lebih patogen atau resisten terhadap radiasi.
Sebagian besar bakteri patogen vegetatif, tidak berspora dan gram negatif sangat peka terhadap radiasi,
sedangkan bakteri berspora umumnya lebih tahan, kecuali diiradiasi pada dosis tinggi (>10 kGy).
Meskipun dengan cara analisis kimia tidak ditemukan senyawa apapun yang dapat membahayakan
kesehatan, namun uji toksikologi terhadap bahan pangan yang diawetkan dengan radiasi masih tetap
Aspek Kimia
Aspek Gizi
Aspek Mikrobiologi
Aspek Toksikologi
dilakukan, terutama apabila ada pengembangan jenis produk yang baru. Uji coba keamanan pangan
dilakukan berdasarkan kode etik (ethical clearance) baik pada hewan maupun manusia. Sebagai relawan,
responden perlu mengisi inform consent untuk meyakinkan kesediannya. Uji toksikologi terhadap bahan
pangan iradiasi dilakukan dengan prosedur yang jauh lebih teliti dan paling lengkap bila dibandingkan
dengan pengujian terhadap proses konvensional.
Hasil pengujian pangan iradiasi yang dilakukan para pakar yang bergabung di dalam International
Food Irradiation Project (IFIP) dan berpusat di Karlshruhe membuktikan bahwa teknik iradiasi yang
diterapkan untuk memproses bahan pangan jauh lebih aman dibandingkan teknik pengolahan konvensional
lainnya.
Persyaratan yang berlaku dalam pemilihan bahan pengemas yang digunakan sebagai pembungkus
makanan atau bahan pangan yang akan diiradiasi harus tetap diperhatikan. Bahan dan teknik pengemasan
merupakan unsur yang tidak kalah penting, karena mutu dari bahan pangan yang diiradiasi sangat
bergantung pada kekuatannya. Bahan pengemas yang flexible dalam bentuk laminasi saat ini lebih
banyak disukai daripada wadah yang terbuat dari kaleng, terutama untuk pembungkus makanan siap saji
yang diiradiasi. Bahan pengemas tersebut umumnya dibuat secara khusus dan bersifat tahan terhadap
o
radiasi, suhu -79C, kedap udara serta tidak mudah terkelupas, sehingga mampu mempertahankan mutu
o
makanan di dalamnya untuk jangka panjang pada suhu kamar (28 - 30C).
Sebelum bahan pangan diiradiasi, dosis yang akan diterapkan sesuai tujuannya harus sudah
diketahui. Dosimetri ditujukan untuk menetapkan tingkat keseragaman dosis, sehingga bahan pangan
benar-benar menerima jumlah paparan dosis yang sama sesuai dengan tujuan iradiasi.

Penelitian makanan iradiasi sudah dikembangkan sejak tahun 1968, dan aplikasinya terus
mengalami peningkatan yang sangat nyata. Makanan iradiasi lazim pula disebut iradiasi pangan telah
dikomersialisasikan meskipun hanya terbatas pada kebutuhan ekspor ke berbagai negara di Eropa, Amerika
dan Timur Tengah. Komersialisasi bahan pangan iradiasi dilakukan berdasarkan peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 701/MENKES/PER/VIII/2009, Undang-undang Pangan RI No. 7/1996,
Label Pangan No. 69/1999 par. 34 dan peraturan perdagangan internasional dari segi komersialisasinya.
Aspek Pengemasan
Aspek Dosimetri
Perkembangan Makanan Iradiasi di Indonesia
Produk-produk
makanan yang
diiradiasi
Iradiasi Pangan PATIR - BATAN Tahun 2010 Iradiasi Pangan Komersial Tahun 2010
Peraturan standar internasional untuk makanan iradiasi Codex General Standard for Irradiated
Foods (Codex stan 106-1983 Rev.2003) telah mengalami revisi pertama pada tahun 2003. Tambahan
peraturan tentang dosis terabsorpsi untuk makanan yang disterilisasi dengan dosis di atas 10 kGy harus
mengacu pula pada undang-undang yang berlaku.
Dosis rendah <1 kGy
Menunda proses pematangan buah dan menghambat pertunasan pada rimpang dan umbi- umbian;
mencegah perkembangbiakan serangga dan hama gudang.
Dosis sedang 1-10 kGy
Dekontaminasi, eliminasi kapang/khamir dan bakteri patogen tidak berspora.
Dosis tinggi >10 kGy
Kombinasi perlakuan antara bahan pengemas, pembekuan dan iradiasi pada dosis sterilisasi
terhadap bahan pangan/makanan untuk keperluan khusus (masyarakat rentan terinfeksi penyakit,
astronot, militer, jamaah haji dan kegiatan di luar rumah/outdoor activities serta pemakaian lain
yang tidak bergantung pada fasilitas pendingin selama penyimpanan). Produk ini dapat bertahan
lebih dari setahun pada suhu kamar.
Aplikasi Dosis Iradiasi Sesuai Tujuan
Logo dan Produk Makanan Iradiasi
PANGAN IRADIASI
Tujuan Iradiasi :
Penyelenggara Iradiasi :
- Nama :
- Alamat :
Waktu proses : bln, thn.
Nama Negara :
LOGO
RADURA
Tidak Boleh Diiradiasi Ulang
Label harus memenuhi ketentuan
sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan, juga harus
memuat: tulisan PANGAN IRADIASI;
tujuan iradiasi; tulisan TIDAK BOLEH
DIIRADIASI ULANG; Nama dan
alamat penyelenggara iradiasi; tanggal
iradiasi dalam bulan dan tahun; nama
negara tempat iradiasi dilakukan. Pada
label juga dilengkapi dengan logo radura
(radiation durable).
No. Jenis Pangan Tujuan Iradiasi
Dosis Serap
Maksimum (kGy)
1. Umbi lapis dan umbi akar Menghambat pertunasan selama penyimpanan 0,15
2. Sayur dan buah segar (selain yang termasuk
kelompok 1)
a. Menunda pematangan
b. Membasmi serangga
c. Memperpanjang masa simpan
d. Perlakukan karantina*
1,0
1,0
2,5
1,0
3. Produk olahan sayur dan buah** Memperpanjang masa simpan 7,0
4. Mangga Memperpanjang masa simpan
0,75
5. Manggis a. Membasmi serangga
b. Perlakukan karantina
1,0
1,0
6. Serealia dan produk hasil penggilingannya,
kacang-kacang, biji-bijian penghasil minyak,
polong-polong, buah kering
a. Membasmi serangga
b. Mengurangi jumlah mikroba
1,0
5,0
7. Ikan, pangan laut (seafood segar maupun
beku)
a. Mengurangi jumlah mikroorganisme patogen
tertentu**
b. Memperpanjang masa simpan
c. Mengontrol infeksi oleh parasit tertentu**
5,0
3,0
2,0
8. Produk olahan ikan dan pangan laut a. Mengurangi jumlah mikroorganisme patogen
tertentu**
b. Memperpanjang masa simpan
8
10
9. Daging dan unggas serta hasil olahannya (segar
maupun beku)
a. Mengurangi jumlah mikroorganisme patogen
tertentu**
b. Memperpanjang masa simpan
c. Mengontrol infeksi oleh parasit tertentu**
d. Menghilangkan bakteri salmonella
7,0
3,0
2,0
7,0
10. Sayuran kering, bumbu, rempah, rempah
kering (dry herbs) dan herbal tea
a. Mengurangi jumlah mikroorganisme patogen
tertentu**
b. Membasmi serangga
10,0
1,0
11. Pangan yang berasal dari hewan yang
dikeringkan
a. Membasmi serangga
b. Membasmi mikroba, kapang dan khamir
1,0
5,0
12. Pangan olahan siap saji berbasis hewani*** Sterilisasi dan membasmi mikroba patogen termasuk
mikroba berspora serta memperpanjang masa simpan
65
J enis pangan, tujuan iradiasi dan dosis serap maksimum berdasarkan Lampiran I PERMENKES
No.701/Menkes/Per/VIII/2009.
* Dosis serap minimum dapat disesuaikan untuk membasmi organisme pertunasan pengganggu tumbuhan/organisme pengganggu
tumbuhan karantina. Untuk lalat buah: 0,15 kGy
o
Dikombinasi dengan pencelupan dalam air hangat pada suhu 55C selama 5 menit
** Dosis minimum dapat ditetapkan dengan mempertimbangkan tujuan perlakuan untuk menjamin mutu higienis pangan
*** Wajib memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh institusi berwenang tentang iradiasi pangan dosis di atas 10 kGy
Pusat Diseminasi Iptek Nuklir
Gedung Perasten : J l. Lebak Bulus Raya No. 49, Pasar J umat, J akarta 12440
Kotak Pos : 4390, J akarta 12043, Indonesia, Telp.: (021) 7659401, 7659402
Fax.: (021) 75913833, Email : pdin@batan.go.id, infonuk@jkt.bozz.com
www.batan.go.id, www.infonuklir.com
Design by Agus Rial