Anda di halaman 1dari 109

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Sejarah PT.PERTAMINA (Persero)

1.1.1. Sejarah Singkat

Bahan bakar minyak atau yang lebih dikenal dengan sebutan

BBM, saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian besar

masyarakat. Tugas untuk memenuhi kebutuhan BBM bagi masyarakat

luas ini diserahkan kepada PT. PERTAMINA (Persero). Hal ini didasari

oleh UUD 1945 pasal 33 dan UU No. 22 Tahun 2001. Dalam mengemban

tugas tersebut, PT. PERTAMINA (Persero) mengoperasikan beberapa

kilang minyak di dalam negeri, yaitu kilang Pangkalan Brandan, Dumai,

Plaju, Cilacap, Balikpapan, Balongan dan Kasim dengan kapasitas total

1.083.000 BPSD. Sasaran utama pengadaan dan penyaluran BBM dalam

menunjang pembangunan nasional adalah tersedianya BBM dalam jumlah

yang cukup, kualitas yang memenuhi spesifikasi, suplai yang

berkesinambungan, terjamin dan ekonomis.

Minyak dan gas bumi merupakan salah satu sumber devisa yang

memegang peranan penting dalam pembangunan nasional. Usaha

pengeboran minyak di Indonesia pertama kali dilakukan oleh Jan Raerink

pada tahun 1871 di Cibodas dekat Majalengka (Jawa Barat), namun usaha

tersebut mengalami kegagalan. Kemudian dilanjutkan oleh Aeilo Jan

Zykler yang melakukan pengeboran di Telaga Tiga (Sumatera Utara) dan

pada tanggal 15 Juni 1885 berhasil ditemukan sumber minyak komersial

yang pertama di Indonesia. Sejak itu berturut-turut ditemukan sumber

minyak bumi di Kruka (Jawa Timur) tahun 1887, Ledok Cepu (Jawa

Tengah) pada tahun 1901, Pamusian Tarakan tahun 1905 dan di Talang

Akar Pendopo (Sumatera Selatan) tahun 1921. Penemuan-penemuan dari

penghasil minyak yang lain mendorong keinginan perusahaan asing

seperti Royal Deutsche Company, Shell, Stanvac,Caltex dan perusahaan

lainnya untuk turut serta dalam usaha pengeboran minyak di Indonesia.

turut serta dalam usaha pengeboran minyak di Indonesia. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
turut serta dalam usaha pengeboran minyak di Indonesia. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
turut serta dalam usaha pengeboran minyak di Indonesia. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

1

Setelah kemerdekaan Indonesia, terjadi beberapa perubahan

pengelolaan perusahaan minyak di Indonesia. Pada tanggal 10 Desember

1957, atas perintah Mayjen Dr. Ibnu Soetowo, PT. EMTSU dirubah

menjadi PT. Perusahaan Minyak Nasional (PT. PERMINA). Kemudian

dengan PP No. 198/1961 PT. PERMINA dilebur menjadi PN. PERMINA.

Pada tanggal 20 Agustus 1968 berdasarkan PP No. 27/1968, PN.

PERMINA dan PN. PERTAMIN dijadikan satu perusahaan yang bernama

Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (PN.

PERTAMINA). Dan pada tanggal 15 September 1971, dengan landasan

UU No. 8/1971 PN. PERTAMINA dirubah menjadi PERTAMINA yang

merupakan satu-satunya perusahaan minyak nasional yang berwenang

mengelola semua bentuk kegiatan di bidang industri perminyakan di

Indonesia.

Seiring dengan perkembangan reformasi serta adanya keinginan

untuk berkembang menjadi lebih baik, maka terhitung sejak tanggal 17

September 2003 PERTAMINA berubah menjadi perusahaan perseroan

terbatas dengan perubahan nama menjadi PT. PERTAMINA (Persero)

berorientasi profit. Saat ini PT. PERTAMINA (Persero) mempunyai tujuh

buah kilang, namun hanya enam kilang yang aktif. Kilang RU-I

Pangkalan Brandan sudah tidak dioperasikan lagi karena tidak efisien.

Tabel 1.1.Kapasitas Produksi Kilang PT.PERTAMINA (Persero)

NAMA KILANG

KAPASITAS

RU-II

DUMAI

170.000

BPSD

RU-III

PLAJU

118.000

BPSD

RU-IV

CILACAP

348.000

BPSD

RU-V

BALIKPAPAN

260.000

BPSD

BALONGAN

125.000

BPSD

RU-VI

KLBB

52.000

BPSD

RU-VII

KASIM-SORONG

10.000

BPSD

TOTAL

1.083.000

BPSD

BPSD: Barrel Per Stream Day

Sumber: Direktorat Pengolahan, 2009 dalam Warta PERTAMINA

Januari 2011

Pengolahan, 2009 dalam Warta PERTAMINA Januari 2011 Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Pengolahan, 2009 dalam Warta PERTAMINA Januari 2011 Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Pengolahan, 2009 dalam Warta PERTAMINA Januari 2011 Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

2

1.1.2.

Visi dan Misi

Visi

“Menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia”

Misi

Menjalankan usaha minyak, gas serta energi baru dan

terbarukan secara terintegrasi berdasarkan prinsip-prinsip

komersial yang kuat.

1.1.3. Logo dan Slogan Perusahaan Pemikiran perubahan logo sudah dimulai sejak 1976 setelah terjadi

krisis PERTAMINA. Pemikiran tersebut dilanjutkan pada tahun-tahun

berikutnya dan diperkuat melalui Tim Restrukturisasi PERTAMINA

tahun 2000 (Tim Citra) termasuk kajian yang mendalam dan

komprehensif sampai pada pembuatan TOR dan perhitungan biaya. Akan

tetapi, program tersebut tidak sempat terlaksana karena adanya perubahan

kebijakan atau pergantian direksi. Wacana perubahan logo tetap

berlangsung sampai dengan terbentuknya PT. PERTAMINA (PERSERO)

pada tahun 2003. Adapun pertimbangan pergantian logo yaitu agar dapat

membangun semangat baru, mendorong perubahan corporate culture bagi

seluruh pekerja, mendapatkan imej yang lebih baik diantara global oil dan

gas companies serta mendorong daya saing perusahaan dalam

menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi, antara lain :

1. Perubahan peran dan status hukum perusahaan menjadi perseroan

2. Perubahan strategi perusahaan untuk mengadapi persaingan pasca PSO

dan semakin banyak terbentuknya entitas bisnis baru di bidang Hulu

dan Hilir.

Slogan ALWAYS THEREyang diterjemahkan menjadi

SELALU HADIR MELAYANI”. Dengan slogan ini diharapkan perilaku

seluruh jajaran pekerja akan berubah menjadi enterpreneur dan customer

oriented, terkait dengan persaingan yang sedang dan akan dihadapi

perusahaan. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini :

perusahaan. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini : Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
perusahaan. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini : Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
perusahaan. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini : Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

3

Gambar 1.1 Logo PT. PERTAMINA (Persero) Elemen logo merupakan representasi huruf P yang secara keseluruhan

Gambar 1.1 Logo PT. PERTAMINA (Persero)

Elemen logo merupakan representasi huruf P yang secara

keseluruhan merupakan representasi bentuk panah, dimaksudkan sebagai

PERTAMINA yang bergerak maju dan progresif. Warna-warna yang

berani menunjukkan langkah besar yang diambil PERTAMINA dan

aspirasi perusahaan akan masa depan yang lebih positif dan dinamis.

Warna warna tersebut adalah :

Biru : mencerminkan handal, dapat di percaya dan bertanggung jawab.

Hijau : mencerminkan sumber daya energi yang berwawasan lingkungan.

Merah : keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam menghadapai

berbagai macam keadaan.

1.1.4. Perkembangan PT. PERTAMINA (Persero) Sasaran utama pengadaan dan penyaluran BBM dalam menunjang

pembangunan nasional adalah tersedianya BBM dalam jumlah yang

cukup dengan kualitas yang memenuhi spesifikasi, suplai yang

berkesinambungan, terjamin, dan ekonomis. Pemenuhan kebutuhan BBM

merupakan tugas yang cukup berat bagi PT. PERTAMINA (Persero)

karena peningkatan kapasitas pengolahan minyak yang dimiliki

PERTAMINA tidak seimbang dengan lonjakan konsumsi BBM yang

dibutuhkan masyarakat pada saat itu.

Kendala yang dihadapi dalam meningkatkan kapasitas pengolahan

minyak dalam negeri adalah konsumsi yang meningkat sangat pesat dalam

beberapa tahun terakhir ini sebagai dampak pesatnya kegiatan

pembangunan. Disamping itu, kilang-kilang yang dioperasikan masih

menggunakan teknologi yang cukup tertinggal sehingga hasil yang

teknologi yang cukup tertinggal sehingga hasil yang Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
teknologi yang cukup tertinggal sehingga hasil yang Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
teknologi yang cukup tertinggal sehingga hasil yang Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

4

didapat tidak efisien. Oleh karena itu, dalam pembangunan kilang-kilang

baru dan memperluas kilang-kilang lama diterapkan teknologi baru yang

berwawasan lingkungan. Dalam mengoperasikan kilang-kilang dalam

negeri, tiga kebijakan utama selalu mendasari langkah PERTAMINA,

yaitu kepastian dalam pengadaan, pertimbangan ekonomi, pengadaan dan

keluwesan pengadaan.

1.2. Sejarah PT.PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan

1.2.1. Sejarah Singkat Dalam kaitan dengan upaya mengamankan kebijakan nasional di

bidang energi tersebut, keberadaan kilang Balongan mempunyai makna

yang besar, tidak saja bagi PT. PERTAMINA (Persero), tetapi juga bagi

bangsa dan negara. Di satu pihak ini dapat meningkatkan kapasitas

pengolahan di dalam negeri yang masih sangat dibutuhkan, di lain pihak

juga dapat mengatasi kendala sulitnya mengekspor beberapa jenis minyak

di dalam negeri dengan mengolahnya di kilang minyak di dalam negeri.

Keberadaan kilang Balongan ini juga merupakan langkah proaktif

PT. PERTAMINA (Persero) untuk dapat memenuhi kebutuhan dalam

negeri yang semakin hari semakin bertambah, khususnya untuk DKI

Jakarta dan sekitarnya. Dari studi kelayakan yang telah dilakukan,

pembangunan kilang Balongan diadakan dengan sasaran antara lain :

pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri, terutama Jakarta dan

sekitarnya

peningkatan nilai tambah dengan memanfaatkan peluang ekspor

memecahkan kesulitan pemasaran minyak mentah jenis Duri

pengembangan daerah

Daerah Balongan dipilih sebagai lokasi kilang dan proyek kilang

yang dinamakan Proyek Exor (Export Oriented Refinery) I. Pemilihan

Balongan sebagai lokasi Proyek Exor I berdasarkan atas:

1. Relatif dekat dengan konsumen BBM terbesar, yaitu Jakarta dan Jawa

Barat.

dengan konsumen BBM terbesar, yaitu Jakarta dan Jawa Barat. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
dengan konsumen BBM terbesar, yaitu Jakarta dan Jawa Barat. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
dengan konsumen BBM terbesar, yaitu Jakarta dan Jawa Barat. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

5

2.

Telah tersedianya sarana penunjang yaitu : Depot UPMS III, Terminal

DOH Karangampel, Conventional Buoy Mooring (CBM) dan Single

Buoy Mooring (SBM).

3. Dekat dengan sumber gas alam yaitu DOH-JJB (Jawa Bagian Barat)

dan BP.

4. Selaras dengan proyek pipanisasi BBM di Pulau Jawa.

5. Tersedianya lahan yang dibutuhkan yaitu bekas sawah yang kurang

produktif.

6. Tersedianya sarana infrastruktur.

Start Up Kilang PT.PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan

dilaksanakan pada bulan Oktober 1994, dan diresmikan oleh Presiden

Soeharto pada tanggal 24 Mei 1995. Peresmian ini sempat tertunda dari

perencanaan sebelumnya (30 Januari 1995) dikarenakan unit Residue

Catalytic Cracking (RCC) di kilang mengalami kerusakan. Unit RCC ini

merupakan unit terpenting di kilang PERTAMINA RU-VI karena

merupakan unit yang merubah residu menjadi minyak ringan yang lebih

berharga. Kapasitas unit ini merupakan yang terbesar di dunia untuk saat

ini. Kilang RU-VI Balongan memiliki beberapa keunikan dan keunggulan,

antara lain :

a) Dirancang dengan Engineering adecuacy yang memenuhi kebutuhan

operasional dengan tingkat fleksibilias tinggi. Hal ini menunjukan

bahwa pada umumnya parameter operasional telah dicapai rata-rata

berada di atas unjuk kerja yang dirancang.

b) Merupakan unit RCC terbesar di dunia saat ini.

c) Fitur dari unit proses RCC baik berupa kemampuan peralatan untuk

mendukung pola operasi beyond design ataupun field product yang

dihasilkan merupakan produk konsep rekayasa dan rancang bangunnya

optimal.

d) Fleksibilitas feed yang tinggi terutama Unit CDU, yaitu rata-rata rasio

feed crude pada saat ini Duri : Minas = 50 : 50 dibanding desain awal

(80:20), sedangkan Unit RCC yang menyesuaikan kapasitas rasio feed

sedangkan Unit RCC yang menyesuaikan kapasitas rasio feed Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
sedangkan Unit RCC yang menyesuaikan kapasitas rasio feed Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
sedangkan Unit RCC yang menyesuaikan kapasitas rasio feed Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

6

dapat dioperasikan, yaitu AR : DMAR = 45 : 55 dibandingkan dengan

desain awal 35 : 65.

e) Peralatan utama Unit RCC, yaitu Main Air Blower dan Wet Gas

Compressor yang dioperasikan untuk menunjang operasi Unit RCC

kapasitas 115%. Rancangan konsep CO Boiler merupakan pertama di

dunia yang memiliki tiga fungsi, yaitu : sebagai CO Boiler, auxiliaries

boiler dan waste heat boiler.

f) Pada saat ini merupakan satu-satunya kilang dalam negeri yang

memproduksi premium (bensin) tanpa timbal (Kilang Langit Biru

Balongan).

1.2.2. Visi dan Misi

Visi

“Menjadi Kilang Terkemuka di Asia Tahun 2025”

Misi

a. Mengolah minyak bumi untuk memproduksi BBM, BBK dan

Non BBM secara tepat jumlah, mutu, waktu dan berorientasi

laba serta berdaya saing tinggi untuk memenuhi kebutuhan

pasar.

b. Mengoperasikan kilang yang berteknologi maju dan terpadu

secara aman, handal, efisien, dan berwawasan lingkungan

c. Mengelola aset RU VI balongan secara professional yang

didukung oleh sistem manajemen yang tangguh berdasarkan

semangat kebersamaan, keterbukaan dan prinsip saling

menguntungkan.

kebersamaan, keterbukaan dan prinsip saling menguntungkan. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
kebersamaan, keterbukaan dan prinsip saling menguntungkan. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
kebersamaan, keterbukaan dan prinsip saling menguntungkan. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

7

1.2.3.

Logo dan Slogan

Logo dan slogan PT. PERTAMINA RU-VI Balongan dapat dilihat

pada gambar berikut.

PERTAMINA RU-VI Balongan dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 1.2. Logo PT.PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan Logo

Gambar 1.2. Logo PT.PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan

Logo PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan memiliki

makna sebagai berikut :

1. Lingkaran : fokus ke bisnis inti dan sinergi

2. Gambar

: konstruksi generator dan reaktor di unit RCC yang

menjadi ciri khas dari PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan

3. Warna :

a. Hijau

b. Putih : berarti bersih, professional, proaktif, inovatif, dan dinamis

: berarti selalu menjaga kelestarian lingkungan hidup

dalam setiap tindakan yang selalu berdasarkan kebenaran

c. : berarti loyal kepada visi PT. PERTAMINA (Persero)

Biru

d. : keagungan PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI

Kuning

Slogan dari PT.PERTAMINA(Persero) RU-VI Balongan yaitu

Meraih Keunggulan Komperatif dan Kompetitif ”. Penjelasan dari

slogan tersebut adalah sebagai berikut:

Meraih: Menunjukkan upaya maksimum yang penuh dengan

ketekunan dan keyakinan serta profesionalisme untuk mewujudkan visi

PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan.

Keunggulan Komperatif : Keunggulan dasar yang dimiliki PT.

PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan dibandingkan dengan kilang

(Persero) RU-VI Balongan dibandingkan dengan kilang Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
(Persero) RU-VI Balongan dibandingkan dengan kilang Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
(Persero) RU-VI Balongan dibandingkan dengan kilang Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

8

sejenis, yaitu lokasi yang strategis karena dekat pasar BBM dan Non

BBM.

Keunggulan Kompetitif : Keunggulan daya saing terhadap

kilang sejenis dalam hal efisiensi, mutu, produk, dan harga.

1.3. Lokasi Kilang

Kilang PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI didirikan di Balongan, salah

satu kecamatan di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Untuk penyiapan lahan

kilang, yang semula sawah tadah hujan, diperlukan pengurukan dengan pasir

laut yang diambil dari pulau Gosong Tengah. Pulau ini berjarak ±70 km arah

bujur timur dari pantai Balongan. Kegiatan penimbunan ini dikerjakan dalam

waktu empat bulan dimulai dari bulan Oktober. Transportasi pasir dari tempat

penambangan ke area penimbunan dilakukan dengan kapal yang selanjutnya

dipompa ke arah kilang. Batas ekologis PERTAMINA RU-VI Balongan adalah :

: Laut Jawa

Utara

: Sungai Prawiro Kepolo

Barat

: Sungai Gebeng Sawit

Timur

: Jalan Negara Indramayu Cirebon

Selatan

Timur  : Jalan Negara Indramayu – Cirebon Selatan Gambar 1.3. Lokasi PT. PERTAMINA RU-VI Balongan

Gambar 1.3. Lokasi PT. PERTAMINA RU-VI Balongan

Sejak tahun 1970, minyak dan gas bumi dieksploitasi di daerah ini.

Sebanyak 224 buah sumur berhasil digali dan yang berhasil diproduksi adalah

sumur berhasil digali dan yang berhasil diproduksi adalah Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
sumur berhasil digali dan yang berhasil diproduksi adalah Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
sumur berhasil digali dan yang berhasil diproduksi adalah Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

9

sumur Jatibarang, Cemara, Kandang Haur Barat, Kandang Haur Timur, Tugu

Barat, dan lepas pantai. Sedangkan produksi minyak buminya sebesar 239,65

MMSCFD disalurkan ke PT. Krakatau Steel, PT. Pupuk Kujang, PT.

Indocement, Semen Cibinong, dan Palimanan. Depot UPPDN-III sendiri baru

dibangun pada tahun 1980 untuk mensuplai kebutuhan bahan bakar di daerah

Cirebon dan sekitarnya. Area kilang terdiri dari:

Sarana kilang

Sarana perumahan

: 250 ha daerah konstruksi kilang

: 200 ha daerah penyangga

: 200 ha

Ditinjau dari segi teknis dan ekonomis, lokasi ini cukup strategis dengan

adanya faktor pendukung, antara lain:

a. Bahan Baku

Sumber bahan baku yang diolah di PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI

Balongan adalah:

1. Minyak mentah Duri, Riau (awalnya 80%, saat ini 50% feed).

2. Minyak mentah Minas, Dumai (awalnya 20%, saat ini 50% feed).

3. Gas alam dari Jawa Barat bagian timur sebesar 18 Million Metric

Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD).

b. Air

Sumber air yang terdekat terletak di Waduk Salam Darma, Rejasari,

kurang lebih 65 km dari Balongan ke arah Subang. Pengangkutan

dilakukan secara pipanisasi dengan pipa berukuran 24 in dan kecepatan

operasi normal 1.100 m 3 serta kecepatan maksimum 1.200 m 3 . Air

tersebut berfungsi untuk steam boiler, heat exchangers (sebagai

pendingin), air minum, pemadam kebakaran dan kebutuhan perumahan.

Dalam pemanfaatan air, kilang Balongan ini mengolah kembali air

buangan dengan sistem wasted water treatment, di mana air keluaran di-

recycle ke sistem ini. Secara spesifik tugas unit ini adalah memperbaiki

kualitas effluent parameter NH 3 , fenol, dan COD sesuai dengan

persyaratan lingkungan.

3 , fenol, dan COD sesuai dengan persyaratan lingkungan. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
3 , fenol, dan COD sesuai dengan persyaratan lingkungan. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
3 , fenol, dan COD sesuai dengan persyaratan lingkungan. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

10

c.

Transportasi

Lokasi kilang RU-VI Balongan berdekatan dengan jalan raya dan lepas

pantai utara yang menghubungkan kota-kota besar sehingga

memperlancar distribusi hasil produksi, terutama untuk daerah Jakarta

dan Jawa Barat. Marine facilities adalah fasilitas yang berada di tengah

laut untuk keperluan bongkar muat crude oil dan produk kilang. Fasilitas

ini terdiri dari area putar tangker, SBM, rambu laut, dan jalur pipa

minyak. Fasilitas untuk pembongkaran peralatan dan produk (propylene)

maupun pemuatan propylene dan LPG dilakukan dengan fasilitas yang

dinamakan jetty facilities.

 

d.

Tenaga Kerja

 

Tenaga kerja yang dipakai di PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI

Balongan terdiri dari dua golongan, yaitu golongan pertama,

dipekerjakan pada proses pendirian Kilang Balongan yang berupa tenaga

kerja lokal non-skill sehingga meningkatkan taraf hidup masyarakat

sekitar, sedangkan golongan kedua, yang dipekerjakan untuk proses

pengoperasian, berupa tenaga kerja PT. PERTAMINA (Persero) yang

telah berpengalaman dari berbagai kilang minyak di Indonesia.

1.4.

Bahan Baku dan Produk PT. PERTAMINA (Persero)

RU-VI Balongan

Minyak mentah yang diolah PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI

Balongan, berasal dari Minas dan Duri dengan perbandingan 65% : 35% sampai

50% : 50%. Unit-unit yang termasuk dalam operasi pengilangan RU-VI

Balongan dan hubungan antara unit dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.4.1. Crude Distillation Unit (CDU) Pada awalnya CDU dirancang untuk mengolah minyak mentah

Duri dan Minas dengan perbandingan 80% : 20%, dengan kapasitas

sebesar 125 MBSD (828,1 m 3 /jam). Namun, dalam perkembangan

selanjutnya dengan pertimbangan optimasi, sekarang ini unit lebih sering

dengan pertimbangan optimasi, sekarang ini unit lebih sering Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
dengan pertimbangan optimasi, sekarang ini unit lebih sering Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
dengan pertimbangan optimasi, sekarang ini unit lebih sering Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

11

dioperasikan dengan perbandingan 50% - 65% minyak mentah Duri dan

35% - 50% minyak mentah Minas.

Kapasitas umpan minyak mentah dan gas alam adalah sebagai

berikut:

a. Minyak mentah Duri dengan laju alir 603 ton/jam.

b. Minyak mentah Minas dengan laju alir 150 ton/jam.

c. Gas alam dari Jawa Barat bagian timur sebesar 18 MMSCFD.

Total laju alir minyak mentah Minas dan Duri sama dengan yang

masuk

kontaminan logam serta komponen lain yang tidak dikehendaki pada

proses. Produk yang dihasilkan CDU yaitu:

a. C 4 - 170 BPSD.

b. Naphta 5.460 BPSD.

c. Kerosene 11.270 BPSD.

d. Gasoil 23.300 BPSD.

e. Atmosferik Residue 86.760 BPSD.

#11 (CDU). Feed pada CDU masih mengandung

ke

unit

Pada unit CDU, bahan baku diolah dengan proses fraksinasi biasa

(atmospheric pressure). Gasoil dari CDU masih bersifat tidak stabil

sehingga perlu diolah di unit GHT (Gasoil Hydrotreating). Sedangkan

residu dari CDU akan diolah di unit Atmosferic Residue

Hydrodemetalization Unit (AHU) dan RCC. Spesifikasi bahan baku dan

produk CDU dapat dilihat pada tabeldibawah ini:

Tabel 1.2 Spesifikasi Bahan Baku CDU

Analisis

Satuan

Spesifikasi

Minas

Duri

o

API

-

35,2

21,1

Densitas

g/ml

0,8485

0,924

Viskositas pada,

     

400°C

cSt

23,6

591

500uy°C

cSt

11,6

272,4

Kadar S

% wt

0,08

0,21

cSt 11,6 272,4 Kadar S % wt 0,08 0,21 Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
cSt 11,6 272,4 Kadar S % wt 0,08 0,21 Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
cSt 11,6 272,4 Kadar S % wt 0,08 0,21 Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

12

Conradson Carbon

%

wt

2,8

7,4

Pour point

 

°C

36

34

Aspal

%

wt

0,5

0,4

Vanadium

ppm wt

< 1

1

Nikel

ppm wt

8

32

Jumlah asam

mg KOH / g

< 0,05

1,19

Garam

lb / 1000 bbl

11

5

   

0,6

0,3

Air

%

vol

Wild naphta

Wild naphta

 

GO HTU

LCO HTU

Densitas, 15 o C

kg / m 3

0,719

0,866

Kadar S

Ppm

2

N/A

RVP

Psia

N/A

1,5

Tabel 1.3Spesifikasi Produk CDU

Analisis

 

Satuan

 

Spesifikasi

Kandungan C 5 +

%

wt

2

max

RVP

Psia

9

max

20% vol ASTM

%

vol

200 max

Kandungan air

ppm vol

0

Gap antara 5% ASTM vol kerosene dan 95% ASTM vol naphta

o

C

12

min

Flash Point

o

C

41

min

Gap antara 5% vol LGO dan 95% vol kerosene

o

C

7

Flash Point

o

C

68

Overlap antara 5% vol HGO dan 95% vol LGO

o

C

10

40% Evaporated

o

C

300

Flash Point

o

C

90

10% vol Evaporated Point

o

C

350

Produk

TBP Cut Point dari Crude 0 C

Naphta

65-145

 

Kerosene

145-240

 

LGO

240-330

 

HGO

330-370

 

Atmospheric Residu

> 370

 

Sumber: Pedoman Operasi unit CDU Pertamina Exor-1 Balongan

Sumber: Pedoman Operasi unit CDU Pertamina Exor-1 Balongan Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Sumber: Pedoman Operasi unit CDU Pertamina Exor-1 Balongan Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Sumber: Pedoman Operasi unit CDU Pertamina Exor-1 Balongan Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

13

Bahan Baku Penunjang dan Aditif

a. Bahan Kimia

Bahan kimia yang digunakan pada proses pengolahan crude oil di PT.

PERTAMINA RU-VI Balongan adalah sebagai berikut:

1. Soda Kaustik (NaOH), berfungsi untuk menetralisasi dan menaikkan

pH raw water, regenerasi resin di proses condensate degasser dan

menyerap senyawa sulfur seperti H 2 S, merkaptan COS, dan CS 2.

2. Anti Oksidan (C 14 H 24 N 2 ), berfungsi untuk mencegah pembentukan gum

(endapan yang menggumpal) dalam produk naphta dan polygasoline.

Pembentukan gum dapat mengakibatkan terjadinya penyumbatan pada

filter atau karburator pada mesin bahan bakar kendaraan atau mesin

pengguna premium atau polygasoline.

3. Corrosion Inhibitor, adalah asam karboksilat yang merupakan produk

reaksi dalam hidrokarbon alifatik dan aromatik atau garam amina dari

asam fosfat dengan penambahan solvent. Bahan kimia ini berfungsi

mencegah terjadinya korosi pada overhead line 11-C-101, mencegah

korosi sepanjang cooling water, dan mengurangi laju korosi di over

head systemflash rectifier dengan pembentukan filming.

4. Monoethanol Amine (C 2 H 4 OH)NH 2 , berfungsi untuk menyerap

senyawa COS dan CS 2 serta senyawa sulfur lainnya yang terdapat

dalam fraksi C 3.

5. Demulsifier, merupakan senyawa campuran dengan berat molekul

tinggi seperti oxyalkilated resin dan amina dalam pelarut alkohol dan

aromatik. Berfungsi menghindari emulsi dan memecah emulsi minyak

sehingga dapat mempercepat pemisahan di desalter. Bahan kimia ini

diinjeksikan ke crude charge secara kontinyu pada sisi suction pump,

untuk membantu pencampuran atau difusi bahan kimia ke dalam

minyak.

6. Anti Foulant, berfungsi untuk menghindari fouling di preheating

system.

berfungsi untuk menghindari fouling di preheating system. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
berfungsi untuk menghindari fouling di preheating system. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
berfungsi untuk menghindari fouling di preheating system. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

14

7.

Wetting Agent, merupakan senyawa campuran oxylakilated

alkanoamines dan alkylaryl sulfonates dalam air, metanol, isopropanol.

Wetting agent berfungsi memecah minyak yang mengelilingi padatan

dan memindahkan padatan tersebut dari fasa minyak ke fasa cair

sehingga mudah untuk dipisahkan.

8. Sodium Nitrat (NaCO 3 ), berfungsi untuk menetralisir senyawa klorida

yang dapat menyebabkan korosi austentic stainles steel di permukaan

tube heater.

9. Soda Ash (Na 2 CO 3 ), berfungsi untuk menetralisir senyawa klorida yang

dapat menyebabkan korosi austentic stainles steel di permukaan tube

heater.

10. Trisodium Phosphate (Na 3 PO 4 ), berfungsi untuk menghindari fouling

dan mengatur pH.

11. Clorine (Cl 2 ), berfungsi sebagai desinfektan pada raw water dan

mencegah terbentuknya lumut atau kerak.

12. Sodium Phospat Monohydrat (NaH 2 PO 4 H 2 O), berfungsi untuk

membantu penyerapan senyawa dasar nitrogen (amoniak) dan

entrainment solvent.

13. LPG odorant, untuk memberi bau sebagai detektor kebocoran LPG.

b. Katalis, Adsorbent dan Resin

Katalis, adsorbent, dan resin yang digunakan pada proses pengolahan crude

oil di PT. PERTAMINA RU-VI Balongan adalah sebagai berikut:

1. Clay, berfungsi untuk meningkatkan stabilitas warna dari fraksi kero.

2. S-19 Katalis Hidrokarbon, diperlukan pada reaksi penjenuhan olefin

dan penghilangan belerang, halida, nitrogen, dan logam.

3. Aurora berfungsi untuk perengkahan residue di unit RCU

4. Resin berfungsi sebagai ion exchanger pada unit HTU

1.4.2. Naphta Processing Unit (NPU)

Unit NPU di PT. PERTAMINA RU-VI Balongan terdiri dari tiga seksi

unit, yaitu:

RU-VI Balongan terdiri dari tiga seksi unit, yaitu: Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
RU-VI Balongan terdiri dari tiga seksi unit, yaitu: Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
RU-VI Balongan terdiri dari tiga seksi unit, yaitu: Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

15

a. Naphta hydrotreating unit (Unit #31)

Unit ini adalah unit proses pemurnian katalitik dengan

memakai katalis dan aliran gas H 2 murni untuk mengubah kembali

sulfur organik dan O 2 serta N 2 yang terdapat dalam fraksi karbon.

b. Platforming unit (Unit #32)

Unit ini bertugas untuk menghasilkan gasoline dengan octane

number minimum 98.

c. Penex unit (Unit #33)

Unit ini bertujuan untuk melaksanakan proses catalytic

isomerization dari pentanes, hexanes, dan campuran dari CCR

Regeneration Process Unit.

1.4.3. Atmospheric Residue Hydrodemetallization Unit (AHU)

Residue yang dihasilkan dari CDU diolah dalam unit AHU. Pada

unit ini terjadi pengurangan kadar logam Vanadium dan Nikel serta

Conradson CarbonResidue (CCR) untuk menyiapkan feed pada unit

RCC. Produk yang dihasilkan dari unit AHU yaitu:

a. C 4 - 170.500 Nm 3 /h

b. Naphta 900 Nm 3 /h

c. Kerosene 2.550 Nm 3 /h

d. Gasoil 5.900 Nm 3 /h

e. Demetalized Residue (DMAR) 50.300 Nm 3 /h

Residu yang keluar dari unit AHU merupakan umpan pada unit RCC.

1.4.4. Gas Oil Hydrotreating Unit (GO HTU)

Gas Oil Hydrotreating Unit adalah unit yang mengolah gasoil yang

belum stabil dari unit CDU dan AHU. Fungsi utama unit ini adalah

mengambil senyawa sulfur dan menaikkan colour stability dengan cara

menjenuhkan senyawa-senyawa tak jenuh. Produk yang dihasilkan,

yaitu:

a. C 2 dan Lighter

: 2.350 Nm 3 /h

yaitu: a. C 2 dan Lighter : 2.350 Nm 3 /h Program Studi Diploma III Jurusan
yaitu: a. C 2 dan Lighter : 2.350 Nm 3 /h Program Studi Diploma III Jurusan
yaitu: a. C 2 dan Lighter : 2.350 Nm 3 /h Program Studi Diploma III Jurusan

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

16

b. Wild Naphta

: 750 BPS

c. Gasoil

: 31.600 BPSD

1.4.5. Residue Catalytic Craker (RCC)

Dalam RCC terjadi pengolahan residu dari unit CDU dan AHU

menjadi berbagai macam produk, seperti:

a. C 2 dan Lighter

: 2.350 Nm 3 /h

b. Propylene

: 6.950 BPSD

c. Propane

: 1.950 BPSD

d. Mixed C 4

: 5.050 BPSD

e. Polygasoline

: 6.000 BPSD

f. Naphta

: 46.450 BPSD

g. Light Cycle Oil (LCO)

: 15.850 BPSD

h. Decant Oil (DCO)

: 400 BPSD

1.4.6. Unsaturated Gas Plant

Unsaturated gas plant berfungsi untuk memisahkan produk puncak

Main Column RCC menjadi stabilized Gasoline, LPG dan Non

Condensable Lean Gas (offgas). Sebagian dari offgas akan dipakai

sebagai lift gas, sedangkan sebagian lagi dipakai sebagai fuel gas setelah

di-treating di amine absorber untuk menghilangkan gas H 2 S dan CO 2 .

1.4.7. Kero Hydrotreating Unit (Kero-HTU)

Kero-HTU merupakan unit pengolahan kerosene yang belum stabil

dari unit CDU dan AHU. Fungsi utama unit ini adalah mengambil

senyawa sulfur dan menaikkan colour stability dengan menjenuhkan

senyawa-senyawa tak jenuh. Produk yang dihasilkan unit Kero-HTU

adalah:

a. C 2 dan Lighter

b. Wild Naphta

c. Treated Kerosene

a. C 2 dan Lighter b. Wild Naphta c. Treated Kerosene Program Studi Diploma III Jurusan
a. C 2 dan Lighter b. Wild Naphta c. Treated Kerosene Program Studi Diploma III Jurusan
a. C 2 dan Lighter b. Wild Naphta c. Treated Kerosene Program Studi Diploma III Jurusan

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

17

Dari

unit-unit

di

atas,

dihasilkan

produk

PT.

PERTAMINA

(Persero) RU-VI Balongan yang dapat dilihat pada dibawah ini.

Tabel 1.4. Produk PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan

 

Jenis Produk

Kapasitas

Satuan

A

BBM

Motor Gasoline Kerosene Automotive Diesel Oil Industrial Diesel Oil Decant Oil Fuel Oil

58,000

BPSD

11,900

BPSD

27,000

BPSD

16,000

BPSD

9,300

BPSD

565

Ton

B

Non BBM

LPG

545

Ton

Propylene

125

Ton

Sulphur

29,8

Ton

Sumber: PERTAMINA, 2007

Spesifikasi untuk tiap produk adalah sebagai berikut :

1. Premium

Bilangan Oktan

: 87 min

Kandungan TEL ml/USG

: 0,54 max

RVP pada 100 0 F,psi

: 9 max

Kandungan GUM, mg/100 ml

: 4 max

Kandungan Sulfur, %berat

: 0,2 max

Copper Strip Corrotion, 3 hr/122 0 F

: number 1 max

Kandungan Mercaptan, %berat

: 0,015 max

Warna

: kuning

Kandungan zat pewarna, gr/100 USG

: 0,5 max

2. Pertamax

Bilangan Oktan

: 92 min

Kandungan Belerang, %wt

: 0,1 max

Kandungan Timbal, gr/ml

: 0,013 max

Kandungan Aromatic

: 50 max

gr/ml : 0,013 max Kandungan Aromatic : 50 max Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
gr/ml : 0,013 max Kandungan Aromatic : 50 max Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
gr/ml : 0,013 max Kandungan Aromatic : 50 max Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

18

Density, kg/m 3

: 780 max

Kandungan merkaptan, %wt

: 0,002 max

Warna

: biru

Getah purwa, mg/100 ml

: 4

3. Pertamax Plus

Bilangan Oktan

: 95 min

Kandungan Belerang, %wt

: 0,1 max

Kandungan Timbal, gr/ml

: 0,013 max

Kandungan Aromatic

: 50 max

Density, kg/m 3

: 780 max

Kandungan merkaptan, %wt

: 0,002 max

Warna

: Merah

Getah purwa, mg/100 ml

: 4

4. Kerosene

Spesific Gravity

: 0,835 max

Smoke Point, ml

: 17 min

Flash Point, ABEL 0 F

: 100 min

Kandungan Sulfur, %berat

: 0,2 max

Copper Strip corrotion, 3hr/122 0 F

: number 1 max

5. Industrial Diesel Fuel

Spesific Gravity

: 0,84-0,92

Viskositas pada 100 0 F,Csts

: 3,5-7,5

Pour point, 0 F

: 65 max

Kandungan Sulfur, % berat

: 1,5 max

Conradson Carbon Residue,% berat

: 1 max

Kandungan air,% vol

: 0,25 max

Sedimen, % berat

: 0,02 max

Kandungan abu,% berat

: 0,02 max

Flash Point, PNCC 0 F

: 154 min

6. Decant Oil

Viskositas Csts pada 122 0 F

: 180 max

Decant Oil Viskositas Csts pada 122 0 F : 180 max Program Studi Diploma III Jurusan
Decant Oil Viskositas Csts pada 122 0 F : 180 max Program Studi Diploma III Jurusan
Decant Oil Viskositas Csts pada 122 0 F : 180 max Program Studi Diploma III Jurusan

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

19

Kandungan Sulfur, % berat

: 4 max

Kandungan abu, % berat

: 0,1 max

Flash point, 0 C

: 62 max

Kandungan Katalis, ppm

: 30 max

Sedimen, % berat

: 0,15 max

MCR, % berat

: 18 max

7. LPG

RVP pada 100 0 F, psig

: 120 max

Copper Strip Corrotion, 3 hr/122 0 F

: number 1 max

Kandungan Metana, % berat

: 0

Kandungan Etana, % berat

: 0,2 max

Kandungan Propana & Butana % berat

: 97,5 min

Kandungan Pentana, % berat

: 2,5

Kandungan Heksana, % berat

: nil

Merkaptan ditambahkan

8. Propylene

: 50 ml/1000 USG

Propylene, % mol (kemurnian)

: 99,6 min

Total Parafin, % mol

: 0,4 max

Kandungan Metana, ppm

: 20 max

Kandungan Etilen, ppm

: 25 max

Kandungan Etana, ppm

: 300 max

Kandungan Propana, ppm

: 5 max

Kandungan Pentana, ppm

: 10 max

Asetilene, ppm

: 5 max

Metiasetilen, propadien, 1-3 butadiene

: 2 max

Total Butane, ppm

: 100 max

Pentane, ppm

: 100 max

Hidrogen, ppm

: 20 max

Nitrogen, ppm

: 100 max

CO, ppm

: 0,5 max

CO 2 , ppm

: 1 max

max CO, ppm : 0,5 max CO 2 , ppm : 1 max Program Studi Diploma
max CO, ppm : 0,5 max CO 2 , ppm : 1 max Program Studi Diploma
max CO, ppm : 0,5 max CO 2 , ppm : 1 max Program Studi Diploma

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

20

O 2 , ppm

: 1 max

Kandungan Air, ppm

: 2,5 max

Total sulfur, ppm

: 1 max

Amoniak, ppm

: 5 max

1.5. Struktur Organisasi Perusahaan

PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan mempunyai struktur

organisasi yang menerangkan hubungan kerja antar bagian yang satu dengan

yang lainnya dan juga mengatur hak dan kewajiban masing-masing bagian.

Tujuan dari dibuatnya struktur organisasi adalah untuk memperjelas dan

mempertegas kedudukan suatu bagian dalam menjalankan tugas sehingga akan

mempermudah untuk mencapai tujuan dari organisasi yang telah ditetapkan.

Maka biasanya struktur organisasi dibuat sesuai dengan tujuan dari organisasi itu

sendiri.

dibuat sesuai dengan tujuan dari organisasi itu sendiri. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
dibuat sesuai dengan tujuan dari organisasi itu sendiri. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
dibuat sesuai dengan tujuan dari organisasi itu sendiri. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

21

Gambar 1.4. Struktur organisasi PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan Struktur organisasi terbagi atas beberapa bidang

Gambar 1.4. Struktur organisasi PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan

Struktur organisasi terbagi atas beberapa bidang yang masing-masing

mempunyai fungsi dan tanggung jawab sebagai berikut :

a. Bidang Perencanaan dan Perekonomian

Berfungsi memonitor, mengkoordinir terlaksananya ketersediaan minyak

mentah menjadi produk BBM dan non BBM. Bidang ini bertanggung

jawab dalam memenuhi kebutuhan minyak secara nasional.

b. Bidang Enginering dan Pengembangan

Berfungsi mengevaluasi, menganalisa serta melakukan penelitian dan

pengembangan untuk kehandalan operasi kilang. Bidang ini bertanggung

jawab atas kehandalan operasi Kilang RU-VI dalam jangka panjang.

atas kehandalan operasi Kilang RU-VI dalam jangka panjang. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
atas kehandalan operasi Kilang RU-VI dalam jangka panjang. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
atas kehandalan operasi Kilang RU-VI dalam jangka panjang. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

22

c.

Bidang Keuangan

Berfungsi dalam pengelolaan pelaksanaan tata usaha keuangan dalam

rangka menunjang kegiatan operasional RU-VI. Bidang ini bertanggung

jawab atas terjaminnya arus dana, kegiatan keuangan secara keseluruhan

untuk menunjang operasional Kilang.

d. Bidang Sumber Daya Manusia

Berfungsi menunjang kelancaran operasi dalam perencanaan dan

pengembangan, pembinaan, mutasi, remunerasi dan rekrutasi, hubungan

industrial dan kesejahteraan pekerja, mengatur organisasi serta mengatur

pola hidup sehat.

e. Bidang Umum

Berfungsi menunjang kegiatan operasi meliputi pelayanan hukum,

keamanan, fasilitas kesehatan kepada karyawan dan keluarganya serta

menjadi perantara hubungan antara perusahaan dan masyarakat sekitarnya.

f. Bidang Jasa dan Sarana Umum

Berfungsi dalam pengelolaan, pengawasan dan pengendalian atas

penerimaan, pengadaan dan distribusi material yang dibutuhkan bagi

keperluan kegiatan operasional kilang. Bidang ini bertanggung jawab atas

terjaminnya persediaan material, jasa angkutan alat ringan dan berat serta

kelancaran pelayanan jasa perkantoran dan jasa perumahan RU-VI.

g. Bidang Sistem Informasi dan Komunikasi

Berfungsi menyelenggarakan komunikasi intern dan extern kilang

sehingga informasi yang dibutuhkan segera didapat.Bidang ini

bertanggung jawab atas kelancaran komunikasi untuk memperoleh

informasi bagi para pekerja di lingkungan PT. Pertamina.

h. Bidang HSE

Berfungsi dalam penyelenggaraan kegiatan keselamatan kerja,

pengendalian kebakaran dan pencemaran lingkungan. Bidang ini

bertanggung jawab atas terciptanya keadaan yang aman dan selamat bagi

tenaga kerja, sarana, lingkungan dan kehandalan operasi.

tenaga kerja, sarana, lingkungan dan kehandalan operasi. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
tenaga kerja, sarana, lingkungan dan kehandalan operasi. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
tenaga kerja, sarana, lingkungan dan kehandalan operasi. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

23

1.6.

Energy Conservation & Loss Control (ECLC)

Bagian ECLC pada PERTAMINA ini bertugas mendata dan menghitung

seberapa banyak loss yang terjadi baik dari pemakaian sumber energi maupun

loss dari proses pengolahan produk yang berlangsung. Dari hasil perhitungan

yang dilakukan bagian ECLC dapat diketahui berapa pengeluaran tak ternilai

yang dialami PERTAMINA dalam proses pengolahannya dan kemudian dapat

diambil tindak penanggulangannya. Jadi bagian ECLC menangani masalah

pelaksanaan konservasi energi dalam hal penggunaan energi secara efisien dan

sebagai pendukung program loss control. Dalam proses pengolahan minyak

bumi, losses merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari namun harus

diupayakan untuk diminimalisasi. Adanya losses tersebut akan mengurangi

profit, oleh karena itu diperlukan upaya untuk meminimalisasi loss atau yang

dikenal losscontrol.

1.7. Jam Kerja

Berdasarkan jam kerja, karyawan dapat dibedakan atas, karyawan shift

dan karyawan regular.

a. Jam kerja shift

Jam kerja shift dilakukan secara bergilir, berlaku bagi karyawan yang

terlibat langsung dalam kegiatan produksi dan pengamanan pabrik. Jam kerja

shift diatur sebagai berikut:

Day shift

: 08.00 16.00

Swing shift

: 16.00 24.00

Night shift

: 24.00 08.00

Karyawan shit terbagi atas 4 kelompok yaitu A,B,C dan D dimana jadwal

kerja dari masing-masing kelompok adalah bekerja selama 3 hari berturut-turut

pada shift yang sama dan setelah itu libur selama 1 hari kemudian bergeser ke

jam shift berikutnya untuk 3 hari selanjutnya, begitu seterusnya.

berikutnya untuk 3 hari selanjutnya, begitu seterusnya. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
berikutnya untuk 3 hari selanjutnya, begitu seterusnya. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
berikutnya untuk 3 hari selanjutnya, begitu seterusnya. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

24

b. Jam kerja regular

Jam kerja regular ini berlaku bagi karyawan yang tidak terlibat langsung

dalam kegiatan produksi dan pengaman. Jam kerja ini berlaku bagi karyawan

tingkat staff ke atas. Jadwal kerja jam regular sebagai berikut :

Senin Kamis

: 07.00 16.00 WIB

Istirahat

: 12.00 12.30 WIB

Jum’at

: 07.00 16.00 WIB

Istirahat

: 11.30 13.30 WIB

Sabtu dan Minggu

: Libur

1.8. Lindungan Lingkungan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja

PERTAMINA telah mengambil suatu kebijakan untuk selalu

memprioritaskan aspek KK dan LL dalam semua kegiatan migas untuk

mendukung pembangunan nasional. Manajemen PERTAMINA RU-VI sangat

mendukung dan ikut berpartisipasi dalam program pencegahan kerugian baik

terhadap karyawan, harta benda perusahaan, terganggunya kegiatan operasi serta

keamanan masyarakat sekitarnya yang diakibatkan oleh kegiatan perusahaan.

Pelaksanaan tugas dari Bidang LKKK ini berlandaskan :

a. UU No. 1/1970

Mengenai keselamatan kerja karyawan yang dikeluarkan oleh Depnaker

b. UU No. 2/1951

Mengenai ganti rugi akibat kecelakaan kerja yang dikeluarkan oleh Depnaker

c. PP No. 11/1979

Mengenai persyaratan teknis pada kilang pengolahan untuk keselamatan

kerja, yang dikeluarkan oleh Dirjen Migas

d. UU No. 23/1997

Mengenai ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup

e. PP No. 27/1999

Mengenai ketentuan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang

dikeluarkan oleh pemerintah Republik Indonesia

(AMDAL) yang dikeluarkan oleh pemerintah Republik Indonesia Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
(AMDAL) yang dikeluarkan oleh pemerintah Republik Indonesia Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
(AMDAL) yang dikeluarkan oleh pemerintah Republik Indonesia Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

25

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh LKKK RU-VI untuk mendukung

program diatas terdiri , antara lain :

1. Seksi Keselamatan Kerja, tugas-tugas yang dilakukan antara lain :

a. Mengawasi keselamatan jalannya operasi kilang

b. Bertanggung jawab terhadap alat-alat keselamatan kerja

c. Bertindak sebagai instruktur safety

d. Membuat rencana kerja pencegahan kebakaran

2. Seksi Pelatihan, tugas-tugas yang dilakukan :

a. Menyiapkan dan mengadakan pelatihan bagi karyawan dan kontraktor

agar lebih menyadari tentang keselamatan kerja

b. Membuat dan menyebarkan buletin LKKK pada karyawan agar wawasan

karyawan tentang LKKK meningkat

3. Seksi Fire, tugasnya antara lain :

a. Membuat prosedur emergency agar penanggulangan berjalan dengan baik

b. Mengelola regu pemadam kebakaran agar selalu siap bila suatu waktu

diperlukan

c. Mengadakan pemeriksaan kehandalan alat-alat pemadam kebakaran.

d. Mengadakan dan menyiapkan pelatihan bagi karyawan dan kontraktor

agar lebih menyadari tentang keselamatan kerja

e. Membuat dan menyebarkan bulletin

4. Seksi Lindung Lingkungan, tugasnya antara lain :

a. Memprogram Rencana Kelola Lingkungan dan Rencana Pemantauan

Lingkungan (RKL dan RPL).

b. Mengusulkan tempat-tempat pembuangan limbah dan house keeping.

5. Seksi Rekayasa, tugas-tugas yang dilakukan antara lain :

a. Mereview gambar-gambar dan dokumen proyek

b. Melakukan evaluasi-evaluasi semua kegiatan yang berhubungan dengan

LKKK. Hal ini diperlukan untuk mencegah kecelakaan, kebakaran,

maupun pencemaran lingkungan dari segi engineering.

maupun pencemaran lingkungan dari segi engineering. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
maupun pencemaran lingkungan dari segi engineering. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
maupun pencemaran lingkungan dari segi engineering. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

26

1.9.

Sistem Kontrol

Di PERTAMINA RU-VI Balongan mempunyai sistem kontrol yang

sebagian besar sistem kontrolnya menggunakan kontrol automatik dan manual.

Sebagian besar kontrol terpusat pada DCS (Distributed Control System) yaitu

RCC complex, HTU complex, ARHDM complex dan CDU complex, H 2 Plant.

Kontrol yang digunakan adalah kontrol pneumatik karena yang diproses adalah

bahan yang mudah terbakar dan kemudian diubah menjadi signal elektrik

(digital) agar dapat terbaca di DCS.

menjadi signal elektrik (digital) agar dapat terbaca di DCS. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
menjadi signal elektrik (digital) agar dapat terbaca di DCS. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
menjadi signal elektrik (digital) agar dapat terbaca di DCS. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

27

BAB II

DESKRIPSI PROSES

2.1. Konsep Proses

Crude Distillation Unit (CDU) merupakan unit utama pemroses

crude oil. Di unit CDU, crude oil dipisahkan fraksi-fraksinya secara

distilasi (pemisahan berdasar perbedaan titik didih) sehingga dihasilkan

produk-produk straight run naphta, straight run kerosene, untreated

gasoil dan atmospheric residue. Produk SR-naphta dan SR-kerosene

merupakan produk akhir dari CDU, sedangkan produk gasoil dan residue

merupakan produk antara (intermediate) yang akan diolah lebih lanjut di

unit GO HTU serta AHU dan RCU.

Proses distilasi dalam kilang minyak bumi merupakan proses

pengolahan secara fisika yang primer yang mengawali semua proses-

proses yang diperlukan untuk memproduksi BBM dan Non-BBM. Proses

distilasi ini dapat menggunakan satu kolom atau lebih menara distilasi,

misalnya residu dari menara distilasi atmosferik dialirkan ke menara

distilasi hampa atau ke menara distilasi bertekanan. Prinsip proses di

CDU adalah cracking minyak mentah dan pemisahan produk.

Sebelum masuk ke menara distilasi atmosferik, crude oil harus

bebas dari garam yang terlarut dalam crude oil. Proses pemisahan garam

terlarut dilakukan dengan electrostatic water separation atau desalting.

Crude oil bebas garam selanjutnya dipanaskan secara bertahap dengan

menggunakan Heat Exchanger lalu furnace untuk menaikkan

temperaturnya sampai diantara 330 dan 385 o C tergantung pada komposisi

crude oil. Selanjutnya crude oil masuk menara distilasi atmosferik untuk

proses hydrocracking dengan bantuan steam.

Overhead vapor yang dihasilkan masuk ke condenser untuk

memisahkan off gas dan naphta. Sebagian naphta di-refluks kembali ke

dalam menara distilasi sedangkan naphta yang diambil sebagai produk

disebut straight run naphta. Off gas yang dihasilkan dialirkan ke unit

Amine Treatment untuk dihasilkan LPG berupa uap murni (net vapor

Treatment untuk dihasilkan LPG berupa uap murni (net vapor Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
Treatment untuk dihasilkan LPG berupa uap murni (net vapor Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
Treatment untuk dihasilkan LPG berupa uap murni (net vapor Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

28

product). Fraksi-fraksi minyak, seperti kerosene, light gas oil (LGO) dan

heavy gas oil (HGO) di-side draw dengan beberapa pump around di

sepanjang menara. Kerosene, LGO dan HGO masing-masing masuk ke

splitter untuk dipisahkan lagi, fase uapnya dikembalikan lagi ke menara

distilasi dan fase cairnya sebagai produk utama (kerosene) maupun produk

intermediate (LGO dan HGO). Atmospheric residue, yang merupakan

fraksi berat pada menara distilasi diambil sebagai bottom produk.

Sebagian diumpankan ke unit AHU dan RCC untuk proses penghilangan

kadar logam dan sulfur serta proses cracking lebih lanjut, sebagian lagi

dialirkan ke storage tank sebagai cadangan.

Tinjauan Thermodinamika

Secara umum, analisa thermodinamika bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu

matematis dan simulasi. Secara matematis, harga H, secara matematis bisa

dihitung dengan rumus (Fundamental of Petroleum Refining, 2010 p. 56):

Dengan,

H

H ig

= ( − ) + 岫

= enthalpy, kJ/kg

= enthalpy ideal gas, kJ/kg

H ig ref = enthalpy ideal gas pada 298 K, kJ/kg

Sedangkan harga K di tiap stream bisa dihitung dengan rumus (Fundamental of

Petroleum Refining, 2010 p. 59):

Dengan,

K

=

= Konstanta Kesetimbangan

= Fugasitas Liquid

= Fugasitas Vapor

Sedangkan harga Z di tiap stream bisa dihitung dengan rumus (Fundamental of

Petroleum Refining, 2010 p. 59):

rumus (Fundamental of Petroleum Refining, 2010 p. 59): Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
rumus (Fundamental of Petroleum Refining, 2010 p. 59): Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
rumus (Fundamental of Petroleum Refining, 2010 p. 59): Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

29

傑=

欠岫岻

−決 岫 + 決岻 + 決岫 − 決岻

Dengan,

Z

=

Compressibility factors

V

= molar volume

a,b

= konstanta virial

Secara simulasi, analisa bisa dilakukan dengan melakukan simulasi

menara distilasi dengan menggunakan AspenTech Hysys. Komposisi crude oil

terdiri atas berbagai macam fraksi yang akan dipisahkan di menara distilasi.

Fraksi-fraksi tersebut akan diambil di beberapa titik di sepanjang menara distilasi

dengan menggunakan pump around dan condenser di puncak menara distilasi.

Menara distilasi beroperasi pada temperatur 250 o F - 600 o F dengan tekanan 19,7

psia - 32,7 psia.

Hasil analisa thermodinamika yang diperoleh dengan cara simulasi adalah sebagai

berikut:

Stream

Enthalpy(kJ/kg)

Heat capacity (kJ/kg o C)

Compressibility

Equilibrium

factors (Z)

K-values

       

2.951e-06

Crude Oil

-1397

2.727

-

77.23

       

6.016e-02

Off Gas

-2328

1.635

-

5.013e+07

Naphta

-2199

1.968

6.205

e-03

0

Kerosene

-1752

2.660

9.055

e-03

0

Diesel

       

(LGO)

-1697

2.645

1.259

e-02

0

AGO (HGO)

-1567

2.752

1.642

e-02

0

Residue

-1415

2.832

2.329

e-02

0

0 Residue -1415 2.832 2.329 e-02 0 Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
0 Residue -1415 2.832 2.329 e-02 0 Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
0 Residue -1415 2.832 2.329 e-02 0 Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

30

2.2.

Diagram Alir Proses

Berikut ini adalah diagram alir proses Refinery Oil secara umum:

ini adalah diagram alir proses Refinery Oil secara umum: Gambar 2.1. Diagram alir proses Pengolahan minyak

Gambar 2.1. Diagram alir proses Pengolahan minyak mentah (Fundamentals of Petroleum Refining, 2010).

minyak mentah (Fundamentals of Petroleum Refining, 2010). Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
minyak mentah (Fundamentals of Petroleum Refining, 2010). Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
minyak mentah (Fundamentals of Petroleum Refining, 2010). Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

31

2.3.Deskripsi proses 2.3.1Unit HSC (Hydro Skimming Complex)

Unit ini terdiri dari Distillation Treating Unit (DTU) dan

Na phtaProcessing Unit (NPU).

2.3.1.1 DTU (Distillation and Treating Unit)

Unit ini terdiri dari Crude distillation unit (Unit #11), Amine

treatment (Unit #23), Sour water stripper (Unit #24), Sulphur plant

(Unit 25) dan Caustic soda (Unit 64).

2.3.1.1.1 Unit #11: CDU (Crude Destilation Unit)

CDU merupakan Atmospheric Distillation Tower dan

didesain untuk mengolah campuran crude oil dengan kapasitas

maksimal sebesar 125.000 BPSD (765,750 T/H), yang terdiri dari

50 % Duri crude oil dan 50 % Minas crude oil. Produk yang

dihasilkan CDU adalah: Residu ex-CDU diolah lebih lanjut di

ARHDM & RCC.

Tabel 2.1 Produk CDU

Fuel Gas

0.3

LPG

0.83

Naphta

26.46

Kerosene

60.96

LGO

91.42

HGO

43.16

Residue

542.62

Sumber : PERTAMINA, 2005

Unit CDU terdiri dari dua seksi, yaitu:

1. Seksi Crude Distillation

Seksi Crude Distillation dirancang untuk mendistilasi campuran

crude oil dan menghasilkan destilat overhead terkondensasi, gas oil dan

residu.

2. Seksi Overhead fraksinasi dan Stabilizer

Seksi Overhead fraksinasi dan Stabilizer dirancang untuk distilasi

lanjutan kondensat overhead menjadi produk LPG, naphta dan kerosene.

Unit CDU ini juga dirancang untuk mengolah campuran

Wild Naphta dari Gas Oil dan Light Cycle Oil (LCO)

campuran Wild Naphta dari Gas Oil dan Light Cycle Oil (LCO) Program Studi Diploma III Jurusan
campuran Wild Naphta dari Gas Oil dan Light Cycle Oil (LCO) Program Studi Diploma III Jurusan
campuran Wild Naphta dari Gas Oil dan Light Cycle Oil (LCO) Program Studi Diploma III Jurusan

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

32

Hydrotreater. Unit ini beroperasi dengan baik pada kapasitas

antara 50-100% kapasitas desain dengan faktor On Stream 0,91.

Langkah proses:

Minyak mentah Duri dan Minas dicampur di off site (area tank

farm) dan dialirkan oleh crude oil charge pump (11-P-101 A/B) melalui

cold preheater train dan desalter menuju furnace (F-101). Minyak mentah

mula-mula dipanaskan oleh produk light gas oil (LGO), kemudian oleh

HGO (Heavy Gas Oil), residu, top pump around dan intermediate residu

pada exchanger (11-E-101) sampai (11-E-105) secara seri sebelum masuk

ke desalter yang dipasang berurutan (11-V-101 A/B).

Wash water dipanaskan oleh desalter effluent water pada

exchanger (11-E-116). Kemudian diinjeksikan ke dalam minyak mentah di

upstream mixing valve pada desalter crude oil charge pump (11-P-102

A/B) melalui hot preheated train. Lalu dipanaskan oleh mid pump around,

intermediate residue, HGO produk, bottom pump around dan hot residue

pada exchanger (11-E-106) sampai (11-E-111) secara berurutan.

Minyak mentah yang keluar terakhir dari preheater exchanger

memiliki tekanan yang masih cukup untuk menekan terjadinya penguapan.

Sehingga flow measurement dan kontrol untuk 8 pass dari crude

charge heater (11-F-101) masih memenuhi syarat sebagaimana mestinya.

Minyak mentah yang sudah berupa vapor mengalir melalui bagian

konveksi dan radian heater, kemudian masuk ke flash zone dari main

fraksionator (11-C-101) untuk fraksinasi. Overhead stream dari (11-C-

101) terdiri dari kerosene dan fraksi ringan yang selanjutnya mengalir ke

overhead kondenser (11-E-114) dan akan terkondensasi.

Aqueous ammonia dan corrosion inhibitor diinjeksikan ke line

overhead untuk mengurangi korosi. Overhead stream dari (11-E-114)

sebagian besar terkondensasi, kecuali gas inert dan sedikit hidrokarbon

ringan yang akan terpisah di overhead accumulator (11-V-102). Gas yang

terkondensasi dilewatkan ke off gas KO-drum (11-V-103) kemudian ke

furnace (11-F-101) untuk dibakar.

(11-V-103) kemudian ke furnace (11-F-101) untuk dibakar. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
(11-V-103) kemudian ke furnace (11-F-101) untuk dibakar. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
(11-V-103) kemudian ke furnace (11-F-101) untuk dibakar. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

33

Kondensat dari overhead distilat dipompakan ke stabilizer unit.

Sour kondensat dari (11-V-102) dipompakan ke sour water stripper unit.

LGO dan HGO dikeluarkan dari (11-C-101) dengan level kontrol sebagai

site streamproduct yang kemudian masuk ke stripper (11-C-102) dan (11-

C-103), dimana fraksi ringannya akan di-stripping oleh stream. Stripping

menggunakan low pressure steam, yang sudah dipanaskan di bagian

konveksi (11-F-101) menjadi superheated steam, sebelum diinjeksi ke

stripper. Produk LGO dipompakan dari (11-C-102) dan digunakan sebagai

pemanas crude di preheated train (11-E-101). Produk HGO dipompakan

dari (11-P-106) dan digunakan sebagai pemanas crude di preheated train

(11-E-108) dan (11-E-102) secara berurutan. Campuran dari gas oil bisa

juga dialirkan ke storage melalui pressure control setelah didinginkan di

gasoil train cooler (11-E-102).

Residu di-stripping dengan steam di dalam stripping water (11-C-

101) dengan menggunakan superheated stream. Kemudian residu

dipompakan dari (11-C-101) untuk digunakan sebagai pemanas crude di

preheated train (11-E-111, 110, 107, 105, dan 103 secara berurutan).

Normal operasi residu dialirkan ke ARHDM dan RCC Unit.

Untuk mengambil panas dari (11-C-101) selain dengan overhead

condensing system juga digunakan tiga pump around stream:

a. Top pump around stream diambil dari tray nomor 5 dari kolom

fraksinator dan dipompakan ke crude preheated train (11-E-104) untuk

memanaskan crude kemudian dikembalikan di bottom train.

b. Middle pump around stream diambil dari tray nomor 15 pada kolom

fraksinator dan dipompakan ke spliter reboiler (11-E-122).

c. Bottom pump around stream diambil dari tray nomor 25 dari kolom

fraksinator dan dipompakan ke stabilizer reboiler (11-E-120).

Kemudian dialirkan ke crude preheated train (11-E-109) sebelum

dikendalikan ke tray nomor 22.

train (11-E-109) sebelum dikendalikan ke tray nomor 22. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
train (11-E-109) sebelum dikendalikan ke tray nomor 22. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
train (11-E-109) sebelum dikendalikan ke tray nomor 22. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

34

2.3.1.1.2

Unit #23 : ATU (Amine Treating Unit) Amine treater dirancang untuk mengolah sour gas serta

untuk menghilangkan kandungan H 2 S yang terikut dalam sour gas.

Proses yang dipakai adalah SHEEL ADIP Process, yang

menggunakan larutan MDEA (Methyl di-ethanol amine) sebagai

larutan penyerap. Kapasitas terpasang Amine treater adalah 49.200

Nm 3 /H (base case). Unit ini terdiri dari tiga alat utama, yaitu:

1. Off gas absorber

Off gas absorber berfungsi untuk mengolah off gas dari

CDU, AHU, GO HTU. Keluarannya digunakan untuk fuel gas

system dan umpan gas Hydrogen plant. Kapasitasnya sebesar

18.522 Nm 3 /jam.

2. RCC Unsaturated Gas

RCC Unsaturated Gas berfungsi untuk mengolah sour gas

dari RCC unit dan hasilnya ke Fuel Gas System. Kapasitasnya

sebesar 39.252 Nm 3 /jam.

3. Amine regenerator

Amine regenerator berfungsi untuk meregenerasi larutan

amine setelah digunakan dalam kedua absorber di atas dengan

kapasitas 100% gas yang keluar. Spesifikasi produknya yang keluar

dari masing-masing menara mengandung H 2 S maksimal 50 ppm

volume.

Langkah Proses:

Umpan unit ini berasal dari off gas CDU (Unit #11), GO HTU

(Unit #14), LCO-HTU (Unit #21), dan ARHDM (Unit #12 dan Unit #13).

Umpan dicampur menjadi satu kemudian dilewatkan ke exchanger (14-E-

201) dengan menggunakan air pendingin, kemudian ditampung di vessel

gas KO Drum (14-V-101). Produk bawahnya berupa HC drain yang

dibuang ke flare. Sedangkan produk atasnya masuk ke dalam off gas

absorber (14-C-210).

produk atasnya masuk ke dalam off gas absorber (14-C-210). Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
produk atasnya masuk ke dalam off gas absorber (14-C-210). Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
produk atasnya masuk ke dalam off gas absorber (14-C-210). Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

35

Produk atas dari off gas absorber berupa treated off gas yang

ditampung di (16-V-107) akan dijadikan fuel gas system dan umpan

H 2 plant.

Sedangkan produk bawah dari off gas absorber dicampur dengan

produk bawah RCC UnstGas Absorber (16-C-105) dan RCC Unst Treated

Gas KO Drum (16-V-107). RCC UnsaturatedGas Absorber mengolah off

gas dari Lean Gas KO Drum.

Campuran di atas sebagian dilewatkan di rich amine filter (23-S-

103). Sedangkan sebagian lagi di-bypass dan dicampur kembali, kemudian

dilewatkan di exchanger (23-E-102), kondisi aliran disesuaikan dengan

regenerator (23-C-101). Reboiler yang digunakan pada regenerator

menggunakan pemanas Low Pressure Steam. Produk keluaran reboiler

yang berupa cairan dimasukkan kembali ke regenerator pada bagian dasar

kolom, sedangkan produk uapnya dimasukkan ke regenerator dengan

posisi setingkat di atas cairan.

Produk atas regenerator (23-C-101) dilewatkan ke kondensor (23-

E-104), kemudian ditampung di vessel (23-V-101). Cairan yang keluar

vessel ditambahkan make-up water dan dipompa untuk dijadikan refluk.

Uap dari vessel merupakan Sour Gas Sulphur Plant. Sedangkan produk

bawah regenerator dicampur dengan amine dari Amine Tank (23-T-101)

yang dialirkan dengan menggunakan pompa (23-P-103). Campuran

produk bawah tersebut digunakan sebagai pemanas pada (23-E-102),

kemudian dipompa dengan (23-P-101-A/B), lalu sebagian dilewatkan ke

lean amine filter (23-S-101) dan lean amine carbon filter (23-S-102).

Produk keluarannya dicampur kembali, sebagian dilewatkan di exchanger

(23-E-101) dan sebagian di-bypass.

Dari exchanger (23-E-101), aliran diteruskan ke RCC Unsaturated

Gas Absorber (16-C-105). RCC Unsaturated Gas Absorber mengolah off

gas dari Lean Gas KO Drum, produk atasnya berupa treated off gas yang

ditampung di (16-V-107). Off gas tersebut digunakan untuk fuel gas

system dan sebagai umpan H 2 plant.

untuk fuel gas system dan sebagai umpan H 2 plant. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik
untuk fuel gas system dan sebagai umpan H 2 plant. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik
untuk fuel gas system dan sebagai umpan H 2 plant. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

36

2.3.1.1.3 Unit # 24 : SWS (Sour Water Stripper) Fungsi utama SWS adalah untuk membersihkan air sisa

proses (sour water) dari sisa minyak dan gas-gas yang ada

(khususnya NH 3 dan H 2 S), sehingga air sisa proses tersebut

menjadi bersih (stripped water) dan dapat dipakai kembali sebagai

air proses.

Langkah Proses:

1. Seksi Sour Water Stripper (SWS)

Seksi Sour Water Stripper (SWS) terdiri dari dua train

yang perbedaannya didasarkan atas feed berupa air buangan proses

yang diolah. Kemampuan pengolahannya dirancang untuk train

No.1 sebesar 67 m 3 /jam dan untuk train No.2 sebesar 65, 8 m 3 /jam.

A. Train No.1: memproses air buangan yang berasal dari CDU,

AHU, GO HTU dan LCO HTU.

B. Train No.2: memproses air buangan yang berasal dari RCC

Complex.

Fungsi kedua train adalah menghilangkan H 2 S dan NH 3

yang ada di air sisa proses. Selanjutnya air yang telah diolah tersebut

disalurkan ke Effluent Treatment Facility atau diolah kembali ke

CDU dan AHU. Sedangkan gas yang mempunyai kandungan H 2 S

yang cukup tinggi (Sour Gas) digunakan sebagai feed di Sulphur

Plant.

2. Seksi Spent Caustic Treating

Seksi ini mempunyai kapasitas 17,7 m 3 /hari. Spent Caustic

yang berasal dari beberapa unit operasi selanjutnya dinetralkan

dengan asam sulfat (H 2 SO 4 ) dan disalurkan ke effluent facility.

Ditinjau dari sumber Spent Caustic yang diproses seksi ini

dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

A. Spent Caustic yang rutin (routinous) dan non rutin (intermittent)

yang berasal dari unit-unit:

dan non rutin (intermittent) yang berasal dari unit-unit: Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
dan non rutin (intermittent) yang berasal dari unit-unit: Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
dan non rutin (intermittent) yang berasal dari unit-unit: Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

37

LPG Treater Unit (LPGTR)

Gasoline Treater Unit (GTR)

Propylene Recovery Unit (PRU)

Catalytic Condensation Unit (Cat. Cond.)

B. Spent Caustic merupakan regenerasi dari unit-unit:

Gas Oil Hydrotreater (GO-HTU)

Light Cycle Oil Hydrotreater (LCO-HTU)

2.3.1.1.4 Unit #25 : SP (Sulphur Plant)

Sulphur Plant adalah unit untuk merecovery sulfur dari

acid gas yang dihasilkan Amine treater (#23) dan H 2 S stripper

Train no. 1 SWS (#24), dengan kapasitas sebesar 29.8 T/H intake.

Sulfur plant terdiri dari suatu unit Claus untuk menghasilkan

sulfur, lalu diikuti dengan Sulfur flaker dan fasilitas penyimpanan

sulfur padat. Di Sulfur plant juga terdapat fasilitas pembakaran

(incinerator #25) untuk mengolah gas sisa (tail gas) dari unit Claus

dan NH 3 rich gas dari unit SWS.

2.3.1.2 NPU (Naphta Processing Unit)

Seksi NPU terdiri dari 3 unit, yaitu: Naphta Hydrotreating

Unit (Unit #31), Platforming Unit (Unit #32), Continuous Catalyst

Regeneration (CCR) Unit (Unit #32) dan Penex Unit (Unit #33).

2.3.1.2.1 Unit #31: NHTU (Naphta Hydrotreating Unit)

Unit Naphta Hydrotreating Process (NHTU) dengan

fasilitas kode 31 didesain untuk mengolah nafta dengan kapasitas

52.000 BPSD atau (345 m 3 /jam) dari Straight Run Naphta.

Bahan yang digunakan sebagian besar diimpor dari

beberapa Kilang PT. PERTAMINA (Persero) dengan

menggunakan kapal serta dari kilang sendiri, yaitu naphta ex-Crude

Distillation Unit (unit #11). Unit NHTU merupakan proses

pemurnian katalitik dengan memakai katalis dan menggunakan

pemurnian katalitik dengan memakai katalis dan menggunakan Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
pemurnian katalitik dengan memakai katalis dan menggunakan Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
pemurnian katalitik dengan memakai katalis dan menggunakan Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

38

aliran gas H 2 murni untuk merubah kembali sulfur organik, O 2 , dan

N 2 yang terdapat dalam fraksi hidrokarbon. Selain itu berfungsi

untuk pemurnian dan penghilangan campuran metal organik dan

campuran olefin jenuh. Oleh karena itu, fungsi utama dari NHTU

dapat disebut juga sebagai operasi pembersihan. Dengan demikian,

unit ini sangat kritikal untuk operasi kilang unit selanjutnya

(downstream).

Langkah Proses:

Unit NHTU didesain oleh UOP. Unit ini terdiri dari 4 seksi yaitu:

1. Seksi Oxygen Stripper

Feed naphta masuk ke unit NHDT dari tangki intermediate yaitu

42-T-107 A/B/C atau dari proses lainnya. Tangki tersebut harus dilengkapi

dengan gas blanketing untuk mencegah O 2 yang terlarut dalam nafta,

khususnya feed dari tangki. Kandungan O 2 atau olefin dalam feed dapat

menyebabkan terjadinya polimerisasi dari olefin dalam tangki bila

disimpan terlalu lama. Polimerisasi dapat juga terjadi apabila kombinasi

feed reaktor yang keluar exchanger tidak dibersihkan sebelumnya. Hal ini

akan menyebabkan terjadinya fouling yang berakibat pada hilangnya

efisiensi transfer panas.

Keberadaan campuran O 2 juga dapat merugikan operasi Unit

Platformer. Setiap campuran O 2 yang tidak dihilangkan pada unit

hydrotreater akan menjadi air dalam unit Platforming, yang menyebabkan

kesetimbangan air-klorida pada katalis Platforming akan terganggu.

2. Seksi Reaktor

Seksi reaktor mencakup: reaktor, separator, recycle gas

compressor, sistem pemanas atau sistem pendingin. Campuran sulfur dan

nitrogen akan meracuni katalis di Platforming serta akan membentuk H 2 S,

NH 3 yang akan masuk ke reaktor dan selanjutnya dibuang ke seksi

downstream. Recycle gas mengandung H 2 yang mempunyai kemurnian

tinggi, disirkulasikan oleh recycle gas compressor saat reaksi

hydrotreating dengantekanan H 2 pada kondisi atmosfer.

hydrotreating dengantekanan H 2 pada kondisi atmosfer. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
hydrotreating dengantekanan H 2 pada kondisi atmosfer. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
hydrotreating dengantekanan H 2 pada kondisi atmosfer. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

39

3.

Seksi Naphta Stripper

Seksi Naphta Stripper didesain untuk memproduksi Sweet Naphta

yang akan membuang H 2 S, air, hidrokarbon ringan serta melepas H 2 dari

keluaran reaktor.

4. Seksi Naphta Splitter

Seksi Naphta Splitter didesain untuk memisahkan Sweet Naphta

yang masuk menjadi 2 aliran, yaitu Light Naphta (dikirim langsung ke

unit Penex) dan Heavy Naphta sebagai feed padaunit Platforming.

2.3.1.2.2 Unit #32: PLT (Platforming)

Unit Proses Platforming dengan fasilitas kode 32

didesain untuk memproses 29,000 BPSD (192 m 3 /jam) heavy

hydrotreated naphta yang diterima dari unit proses NHT (Facility

Code 31). Tujuan unit proses platforming adalah untuk

menghasilkan aromatik dari nafta dan parafin untuk digunakan

sebagai bahan bakar kendaraan bermotor (motor fuel) karena

memiliki angka oktan yang tinggi.

Unit Platforming terdiri atas seksi-seksi berikut:

Seksi Reactor

Seksi Net Gas Compressor

Seksi Debutanizer

Seksi Recovery Plus

Net gas (hidrogen) dari unit proses CCR Platforming

ditransfer untuk digunakan pada unit proses NHT (Naphta

Hydrotreating) dan unit Penex.

2.3.1.2.3 Unit #32: CCR (Continuous Catalyst Regeneration)

Tugas unit CCR adalah untuk meregenerasi katalis

yang telah terdeaktivasi akibat reaksi reforming pada seksi

platforming. Dalam seksi reaksi tersebut, katalis reforming

platforming. Dalam seksi reaksi tersebut, katalis reforming Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
platforming. Dalam seksi reaksi tersebut, katalis reforming Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
platforming. Dalam seksi reaksi tersebut, katalis reforming Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

40

terdeaktivasi lebih cepat karena coke menutupi katalis dengan laju

yang lebih cepat. Oleh sebab itu, pemulihan kembali aktivitas dan

selektivitas katalis dalam seksi regenerasi katalis akan memastikan

kontinuitas reaksi platforming. Dengan cara ini reaksi platforming

akan tetap kontinyu beroperasi, sementara katalis diregenerasi

secara kontinyu.

Dua fungsi utama CCR CycleMax adalah sirkulasi

katalis dan regenerasi katalis dalam suatu sirkuit kontinyu. Hal ini

berlangsung melalui 4 langkah seksi regenerasi, yaitu pembakaran

coke, oksi-klorinasi, pengeringan dan akhirnya reduksi. Kemudian

katalis siap berfungsi pada reaksi platforming pada sirkuit

berikutnya. Urutan dan logika sirkuit tersebut dikendalikan oleh

The Catalyst Regenerator Control System (CRCS).

2.3.1.2.4 Unit #33: Penex

Tujuan unit Penex adalah proses catalytic

isomerization dari pentana, hexana dan campuran dari

CCRRegeneration Process Unit. Reaksi yang terjadi menggunakan

hidrogen pada tekanan atmosfer, dan berlangsung di fixed

bedcatalyst pada pengoperasian tertentu yang dapat mengarahkan

proses isomerisasi dan meminimisasi proses hydrocracking. Proses

ini sangat sederhana dan bebas hambatan. Pelaksanaannya pada

tekanan rendah, temperatur rendah, LHSV yang tinggi, dan tekanan

hidrogen parsial rendah.

Penex terdiri dari lima bagian utama sebagai berikut:

1. Sulphur guard bed

Tujuan utama sulphur guard adalah untuk melindungi

katalis dari sulfur yang terbawa di dalam liquid feed, meskipun

sebagian besar sulfur telah mengalami pengurangan di dalam unit

NHT. Kandungan sulfur diharapkan berada di bawah level aman

selama operasi HOT (Hydrogen One Throught) Penex sebagai

selama operasi HOT (Hydrogen One Throught) Penex sebagai Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
selama operasi HOT (Hydrogen One Throught) Penex sebagai Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
selama operasi HOT (Hydrogen One Throught) Penex sebagai Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

41

jaminan apabila kandungan sulfur di dalam feed cukup tinggi

akibat adanya gangguan pada unit NHT.

2. Liquid feed dan make-up gas drier

Semua normal paraffin sebagai feedstock dan make-up

hydrogen harus dikeringkan terlebih dahulu sebelum masuk

reaktor. Drier berfungsi sebagai alat untuk membersihkan/

menghilangkan air dari normal paraffin, karena air akan meracuni

katalis pada saat digunakan.

3. Reactors, associated heaters, dan exchangers

Seksi reaktor terdiri dari heat exchanger yang berfungsi

untuk mengoptimalkan energi utilitas. Proses isomerisasi

berlangsung di dalam reaktor dan mengubah normal parafin

menjadi isoparafin hingga mencapai efisiensi 100%.

Untuk mengurangi kerugian akibat pemakaian katalis,

katalis dapat diganti sebagian saja. Selain itu juga dapat dilakukan

dengan menaikan LHSV, seperti butiran katalis yang kecil. Proses

isomerisasi dan benzene hydrogenasi adalah proses eksotermik,

yang menyebabkan kenaikan temperatur reaktor. Disyaratkan

menggunakan sistem dua reaktor untuk mengatur temperatur tinggi

dengan reaktor yang dilengkapi heat exchanger dengan media

pendingin cold feed.

Sebagian besar isomerisasi berlangsung dengan kecepatan

tinggi pada reaktor pertama dan sisanya temperatur rendah pada

reaktor yang kedua, untuk menghindari reaksi balik.

4. Product stabilizer

Sebagai promotor ditambahkan perchloride secara kontinyu

yang akan terpecah menjadi hydrogen chloride (HCl) dalam jumlah

yang sangat kecil. Keluaran reaktor disebut product (yaitu

Penexate, yang mengandung isoparafin) yang dipisah dari

stabilizergas dengan product stabilizer. Jumlah gas yang keluar

dari stabilizer sangat kecil, hal ini disebabkan oleh pemilihan jenis

sangat kecil, hal ini disebabkan oleh pemilihan jenis Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
sangat kecil, hal ini disebabkan oleh pemilihan jenis Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
sangat kecil, hal ini disebabkan oleh pemilihan jenis Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

42

katalis yang menghasilkan hydrocracking dari C 5 /C 6 feed yang

berubah. Kandungan stabilizer gas adalah sebagai berikut:

Gas hidrogen yang tidak dipakai di dalam reaktor.

Gas-gas ringan (C 1 sampai C 4 ) yang dimasukkan dengan make

up gas dan yang timbul di dalam reaktor akibat proses

hydrocracking.

Gas HCl (berasal dari perchloride) yang dapat dibersihkan di

Caustic Scrubber.

Setelah itu stabilizer gas masuk refinery fuel gas system.

5. Caustic scrubber

Caustic scrubber sangat diperlukan untuk membersihkan

hidrogen klorida (HCl). Material balance untuk scrubber ini

menunjukkan 10% wt larutan caustic diturunkan hingga 2% wt

yang dipakai untuk proses pemurnian, selanjutnya akan dibuang

dan diganti setiap minggu kira-kira 104,3 m 3 . Teknik khusus dapat

dikembangkan untuk penetralan dari caustic yang dipakai, dengan

menginjeksikan Sulfuric acidke dalam aliran ini.

2.3.2 Unit DHC (Distillation and Hydrotreating Complex)

2.3.2.1 Unit #12 dan #13 : AHU (Atmospheric Residu

Hydrodemetallization Unit)

Unit AHU merupakan unit yang mengolah Atmospheric

Residue dari Crude Distillation Unit (CDU) menjadi produk yang

disiapkan sebagai umpan (feed) untuk Residue Catalytic Cracker

(RCC).

Unit AHU beroperasi dengan kapasitas 58.000 BPSD (384

m 3 /jam). Selain mengolah residu, unit ini juga berfungsi mengurangi

kandungan logam Nikel (Ni), Vanadium (V), dan Mikro Carbon

Residue (MCR) yang dibawa oleh residu dari unit CDU.

Carbon Residue (MCR) yang dibawa oleh residu dari unit CDU. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik
Carbon Residue (MCR) yang dibawa oleh residu dari unit CDU. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik
Carbon Residue (MCR) yang dibawa oleh residu dari unit CDU. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

43

Unit AHU terdiri dari dua train yang diberi nomor 12 dan

13. Masing-masing train memiliki tiga buah reaktor, sedangkan

fraksionator yang hanya satu digunakan bersama-sama.

Bahan Baku:

Atmospheric Residue (AR) ex-CDU

Reaksi-reaksi yang terjadi pada unit AHU:

Carbon residue removal

Micro Carbon Residue (MCR) merupakan bagian dari residu

yang berbentuk padat apabila dipanaskan dengan temperatur tinggi

tanpa adanya H 2.

Tahapan pengambilan MCR adalah :

1. Penjenuhan cincin poliaromatik dengan hidrogen.

2. Pemecahan cincin jenuh poliaromatik.

3. Konversi (perubahan) molekul-molekul besar menjadi

molekul-molekul yang lebih kecil.

Dengan menggunakan hidrogen akan terjadi pemecahan

reaksi polimerisasi yang menyebabkan terbentuknya coke. Sebagai

hasilnya adalah produk yang mengandung sedikit molekul-molekul

besar, yang menyebabkan rendahnya konsentrasi MCR dalam

poduk.

Hydrodemetallization

Nikel merupakan logam yang utama dan memiliki kandungan

terbanyak dalam campuran residu dari Minas dan Duri.

Pada reaksi ini terjadi dua tahapan:

1. Initial reversible hydrogenation (reaksi hidrogenasi).

2. Terminal hydrogenolysis dari ikatan metal hidrogen.

Hydrodenitrogenation

Nitrogen secara parsial diambil dari bahan baku dengan

hidrogenasi membentuk ammonia (NH 3 ) dan hidrokarbon. Amonia

membentuk ammonia (NH 3 ) dan hidrokarbon. Amonia Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
membentuk ammonia (NH 3 ) dan hidrokarbon. Amonia Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
membentuk ammonia (NH 3 ) dan hidrokarbon. Amonia Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

44

diambil dari reaktor effluent, sehingga hanya hidrokarbon yang

tertinggal dalam produk.

Hydrocracking

Hydrocracking merupakan proses pemecahan molekul

hidrokarbon dengan boiling range yang tinggi menjadi molekul

dengan boiling range yang rendah, terjadi hampir pada semua

proses dengan lingkungan hidrogen yang berlebih.

Hydrodesulphurization

Pada proses ini bahan baku mengalami proses desulfurisasi,

yaitu hidrogenasi dari komponen yang mengandung sulfur

membentuk hidrocarbon dan H 2 S. Kemudian H 2 S diambil dari

effluent reaktor sehingga hanya hidrokarbon yang terdapat dalam

produk minyak.

Langkah Proses:

Seksi Feed

Seksi feed adalah pemanasan awal dan penyaringan kotoran feed

sebelum dialirkan ke feed surge drum. Feed Atmospheric Residue (AR)

didapat langsung dari CDU (Hot AR) atau dari tangki 42-T-104 A/B (Cold

AR).

Setelah kedua feed bergabung dan dipanaskan, feed kemudian

masuk ke feed filterberukuran 25 mikron, dimana padatan atau solid yang

dapat menyebabkan deposit pada top katalis reaktor pertama akan disaring

dan terakumulasi di elemen filter.

Feed yang sudah difiltrasi dialirkan ke Filtered Feed Surge Drum

12-V-501 yang di “blanket” dengan nitrogen. Kemudian feed dipanaskan

kembali ke furnace sebelum dialirkan secara paralel ke modul 12 dan 13.

Seksi Reaksi

Masing-masing modul terdiri atas tiga reaktor yang disusun secara

seri dengan spesifikasi yang sama. Karena reaksi Hydrotreating adalah

eksotermis, maka temperatur campuran oil/gas akan naik pada saat

maka temperatur campuran oil/gas akan naik pada saat Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
maka temperatur campuran oil/gas akan naik pada saat Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
maka temperatur campuran oil/gas akan naik pada saat Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

45

bereaksi. Untuk mengatur kenaikan temperatur dan mengontrol kecepatan

reaksi diinjeksikan Cold Quench Recycle Gas. Effluent reactor kemudian

dialirkan ke seksi pendinginan dan pemisahan.

Seksi Pendinginan dan Pemisahan Produk Reaktor

Pendinginan pertama dilakukan di exchanger, dimana sebagian

panasnya diambil oleh combine feed reactor selanjutnya effluent

feedreactor mengalir ke Hot High Pressure Separator (HHPS).

Fungsi HHPS adalah untuk mengambil residu oil dari effluent

reactor sebelum didinginkan, karena residu yang mengandung endapan

akan menyumbat exchanger di effluents vapor cooling train. Dengan

temperatur 370 o C residu sudah mempunyai cukup sumber panas untuk

memisahkan naphta,kerosene dan produk gas oil pada atmospheric

fractionator.

Aliran liquid panas dari HHPS mengalir ke Hot Flow Pressure

Separator, dimana uap yang terpisah dari liquid panas dalam HHPS ini

banyak mengandung H 2 , NH 3 , CH 4 , gas ringan hidrokarbon, dan liquid

hidrokarbon lainnya. Uap tersebut selanjutnya didinginkan di Heat

Reactor, dimana panas dari HE ini akan ditransfer ke Combine Feed

Reactor. Setelah itu aliran campuran uap dialirkan ke Effluent Air Cooler

masuk ke Cold HighPressure Separator (CHPS).

Recycle gas yang kaya hidrogen serta terpisah dari minyak dan air,

sebagian masuk ke Recycle Gas Compressor dan sebagian lagi ke unit

Hydrogen Membrane Separator untuk dimurnikan.

Air yang terkumpul di bottom drum CLPS dialirkan ke Sour Water

Stripper (SWS). Sedangkan minyaknya dipanaskan terlebih dahulu dengan

Heat Exchanger sebelum dialirkan ke Atmospheric Fractionator.

Liquid dari bottom HHPS di-flash di dalam Hot Low Pressure

Separator (HLPS). Uap yang kaya H 2 dipisahkan untuk recovery dan

produk minyak berat digabung dengan produk HLPS modul 13, kemudian

dialirkan ke Fractionator. Flash gas dari HLPS modul 12 dan 13

didinginkan dengan exchanger dan air cooler sebelum di-flash di Cold low

dengan exchanger dan air cooler sebelum di-flash di Cold low Program Studi Diploma III Jurusan Teknik
dengan exchanger dan air cooler sebelum di-flash di Cold low Program Studi Diploma III Jurusan Teknik
dengan exchanger dan air cooler sebelum di-flash di Cold low Program Studi Diploma III Jurusan Teknik

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

46

Pressure Drum (CLPFD). Flash gas dari CLPFD yang kaya akan H 2

dialirkan ke make up gas compressor untuk dikompresi dan dikembalikan

ke unit AHU. Liquid ringan di-flash kembali bersama dengan liquid dari

CHPS ke CLPS.

Seksi Recycle Gas

Aliran gas yang kaya hidrogen dari CHPS terbagi dua, sebagian

dikembalikan ke reaktor dengan Recycle Gas Compressor dan sebagian

aliran (Bleed Stream) ke Membrane Separation Unit.

Seksi Fraksinasi

Seksi fraksinasi memisahkan produk AHU menjadi Naphta,

Kerosene, Diesel dan Hydrodemetallized Atmospheric Residue (DMAR)

yang diperoleh melalui Atmospheric Fractionator dibantu dua buah

stripper. Sebelum dikirim ke luar, nafta dimurnikan di Naphta Stabilizer

sedangkan Kerosene didalam Clay Treater.

Atmospheric Fractionator terdiri dari dua seksi, yaitu seksi atas

(top) yang mempunyai 32 tray dengan diameter 3,2 meter dan seksi bawah

(bottom) yang mempunyai 15 tray dengan diameter 3,66 meter. Jarak antar

tray pada kedua seksi dalam kolom sebesar 610 mm. Produk Heavy Oil

dari HLPS masuk ke fraksionator pada tray 33. Cold Feed dari CLPS

masuk ke fraksionator pada tray 28 (tray di atas flash zone). Pada seksi

Bottom Fraksionator diinjeksikan stripping steam yang telah dipanaskan

lebih lanjut (Superheated Steam) di seksi konveksi pada furnace.

Produk Atmospheric Fraksionator terdiri dari:

Sour Gas

Unstabilized Naphta

Kerosene

Gas Oil

DMAR sebagai RCC Feed

Overhead vapor dari fraksionator sebagian terkondensasi dalam

fraksionator Overhead Air Cooler. Vapor dan Liquid ini dialirkan ke

Overhead Accumulator. Vapor dari air Cooler dinaikkan tekanannya

Accumulator. Vapor dari air Cooler dinaikkan tekanannya Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Accumulator. Vapor dari air Cooler dinaikkan tekanannya Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Accumulator. Vapor dari air Cooler dinaikkan tekanannya Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

47

dengan off gas compressor. Kompresor ini mempunyai dua stage dimana

outlet compressorstage pertama didinginkan pada interstage cooler dan

kondensat liquid dipisahkan dalam interstage KO Drum. Kemudian vapor

dikompresi pada stage kompresor kedua. Unstabilized Naphta dari

overhead accumulator dicampur dengan aliran vapor yang sudah

dikompresikan. Aliran dua fase ini selanjutnya didinginkan dalam cooler.

Unstabilized Naphta, sour water dan net off gas dipisahkan dalam

Sour Gas Separator. Off gas dialirkan ke fuel gas treating, sedangkan

unstabilized naphta dipanaskan sebelum di-treating di Naphta Stabilizer,

didinginkan lalu dikirim ke tangki.

Feed untuk GasOil Stripper diambil dari tray 24 dan direfluks ke

tray 22. Produk Gas Oil dapat dikirim langsung ke Gas Oil

HydrotreatingUni kemudian ke tangki produk.

Kerosene dialirkan dari down comer pada tray ke-10 fraksionator.

Kemudian dipanaskan kembali dengan bottomfraksionator stripper vapor

pada kerosene side cut stripper untuk dikembalikan ke fraksionator

melalui tray ke-9. Selanjutnya kerosene diproses dalam clay treater untuk

memperbaiki kestabilan warna sebelum dikirim ke tangki penimbunan.

Bottom fraksionator yang menghasilkan DMAR, dipompa dan

dibagi menjadi dua aliran:

1. Aliran terbanyak digunakan untuk memanaskan feed dingin di

fraksionator, dan selanjutnya memanaskan AR yang akan masuk ke

Feed Filter.

2. Aliran yang sedikit digunakan untuk memanaskan kerosene stripper

reboiler.

Kemudian kedua aliran di atas bergabung dan dapat langsung

dikirim ke RCC unit, atau didinginkan lebih lanjut sebelum dialirkan ke

tangki. Sebagian aliran bottom fractionator pada downstream digunakan

sebagai backwash pada feed filter, lalu bergabung kembali dengan aliran

produk DMAR ke RCC dan tangki.

kembali dengan aliran produk DMAR ke RCC dan tangki. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
kembali dengan aliran produk DMAR ke RCC dan tangki. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia
kembali dengan aliran produk DMAR ke RCC dan tangki. Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

48

Tabel 3.2 Produk ARHDM

C

4 -

170500 Nm 3 /H

Naphta

900

Kerosene

2550

Gas Oil

5900

Residue

50300

Sumber : PERTAMINA, 2005

2.3.2.2 HTU (Hydro Treating Unit)

2.3.2.2.1 Unit #14 : GO-HTU (Gas Oil Hydro Treating Unit)

Unit ini mengolah gas oil yang tidak stabil dan korosif

(mengandung sulfur dan nitrogen) dengan bantuan katalis dan

hidrogen menjadi gas oil yang memenuhi ketentuan pasar dengan

kapasitas 32.000 BPSD (212 m 3 /jam). Feed untuk gas oil diperoleh

dari Crude Distillation Unit (CDU) dan Atmospheric Residue

Hydrometalization Unit (AHU).

Make up hydrogen akan disuplai dari hydrogen plant

yang telah diolah sebelumnya oleh Steam Methane Reformer dan

unit Pressure Swing Adsorption (PSA). Katalis hydrotreating yang

digunakan mengandung oksida nikel/molybdenum di dalam alumina

base yang berbentuk bulat atau extrudate.

GO-HTU terdiri dari dua seksi, yaitu:

1. Seksi Reaktor, untuk proses reaksi dengan katalis dan hidrogen.

2. Seksi fraksionasi, untuk memisahkan gas oil hasil reaksi dari

produk lain, seperti off gas, wild naphta, hydrotreatedgas oil.

Langkah Proses:

Seksi Feed

Feed GO-HTU yang berasal dari ARHDM, CDU dan storage

dialirkan melalui feed filter (14-S-101) untuk menghilangkan partikel

padat yang lebih besar dari 25 mikron, kemudian masuk ke feed surge

lebih besar dari 25 mikron, kemudian masuk ke feed surge Program Studi Diploma III Jurusan Teknik
lebih besar dari 25 mikron, kemudian masuk ke feed surge Program Studi Diploma III Jurusan Teknik
lebih besar dari 25 mikron, kemudian masuk ke feed surge Program Studi Diploma III Jurusan Teknik

Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

49

drum (14-V-101). Air yang terbawa oleh feed dari tangki akan terpisah

di bottom feed surge drum, sedangkan yang tidak terpisah ditahan oleh

wire mesh blanket agar tidak terikut ke suction pompa feed kemudian

dialirkan ke sour water header. Tekanan fuel gas dalam drum ini diatur

oleh split range sebagai pressure balance section dari reaktor charge

pump. Hal ini dilakukan untuk mencegah tercampurnya feed dengan

udara.

GO dari surge drum dipompa oleh pompa (14-P-102) ke

Combined Feed Exchanger (14-E-101) sebagai feed bypass. Kemudian

masuk ke inlet effluent reaktor sebelum masuk ke HE kedua. Setelah

keluar dari HE kedua, diinjeksikan air yang berasal dari Wash Water

Pump (14-P-103) selama start up. Lalu feed dapat langsung dialirkan ke

High Pressure Stripper (14-C-101).

Seksi Reaktor

Feed dan recycle gas dipanaskan terlebih dahulu oleh effluent

reaktor di dalam Combined Feed Exchanger (14-E-101), kemudian

campuran GO dan H 2 bergabung dan langsung ke Charge Heater (14-

F-101) dan dipanaskan sampai temperatur reaksi. Feed dalam dapur

kemudian masuk di bagian atas reaktor (14-R-101) dan didistribusikan

dengan merata diatas permukaan bed katalis melalui inlet dari

vapour/liquid tray. Karena reaksinya bersifat eksotermis, maka

temperatur yang keluar dari reaktor akan lebih tinggi dari temperatur

feed. Panas hasil reaksi bersama panas yang terkandung dalam feed

reaktor akan diambil oleh Combined Feed Exchanger untuk