Anda di halaman 1dari 10

Pengidap HIV Keluhkan Kelangkaan Obat

Karena Tertahan Bea Cukai


Dias Asilatiningsih - detikHealth
Jumat, 15/08/2014 09:09 WIB

Info Penyakit Info Obat
Alzheimer
Deskripsi
Penyebab
Gejala
Pengobatan
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Amnesia
Ilustrasi (dok:
Thinkstock)
Berita Lainnya
Selamat! 135 Tenaga Puskesmas Teladan Dapat Laptop dari Kemenkes
Paling Komplet, Lab Balitbangkes Jadi Primadona Laboratorium di Indonesia
Tak Pernah Dipuji Saat Kecil, Anak Bisa Jadi Narsis Saat Dewasa
Asal Tak Berlebihan, Selfie Pun Ada Manfaatnya
5 Macam Gangguan Jiwa yang Bermula dari Foto Selfie
Jakarta, Para pengidap HIV (Human Imunodeficiency Virus) belakangan sulit mendapatkan
obat. Indonesia AIDS Coallition (IAC) mengeluhkan obat-obat life saving yang diimport dari
India tersebut terlalu lama tertahan di bea cukai.

"Obat ARV yang dibeli dengan APBN dan bantuan dana dari Global Fund sudah tiba hampir
sebulan lalu namun faktanya sampai hari ini belum bisa didistribusikan," kata Irwandy Widjaja
dari IAC dalam rilisnya, seperti dikutip Jumat (15/8/2014).

Lamanya obat-obat ARV (Anti Retroviral) tersebut tertahan di bea cukai dikhawatirkan akan
menghambat pengobatan. Pemberian obat yang terputus-putus berisiko memicu resistensi atau
kebalnya virus terhadap obat-obatan yang selama ini diberikan.

"ARV ini kan jenis obat live saving. Mestinya pemerintah kita atau bea cukai dalam konteks ini
mempunyai kebijakan yang memudahkan sehingga obat bisa segera terdistribusi," lanjut
Irwandy.

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) membenarkan bahwa selama ini masalah
pendistribusian obat sering terhambat di Bea Cukai. Kondisi ini terjadi pada ARV lini 2 yang
dibeli dengan dana Global Fund. Untuk lini 1 yang dibeli sendiri oleh pemerintah melalui Kimia
Farma, menurutnya tidak ada masalah.

"Biasanya tertahan di bea cukai. Tetapi selama ini masih cukup aja dan aman-aman saja," Dr
Fonny J Silfanus, MKes, Deputi Sekretaris KPAN Bidang Program, saat ditemui baru-baru ini.

Tak Cuma Kecelakaan, Gangguan Mental
Juga Butuh Pertolongan Pertama
Firstrianisa Gustiawati - detikHealth
Jumat, 15/08/2014 11:03 WIB

Info Penyakit Info Obat
Abses Periodontal
Deskripsi
Penyebab
Gejala
Pengobatan
Amblyopia
Aneurisma Otak
Ilustrasi (dok:
Thinkstock)
Berita Lainnya
Selamat! 135 Tenaga Puskesmas Teladan Dapat Laptop dari Kemenkes
Paling Komplet, Lab Balitbangkes Jadi Primadona Laboratorium di Indonesia
Tak Pernah Dipuji Saat Kecil, Anak Bisa Jadi Narsis Saat Dewasa
Asal Tak Berlebihan, Selfie Pun Ada Manfaatnya
5 Macam Gangguan Jiwa yang Bermula dari Foto Selfie
Jakarta, Apa yang terlintas di benak orang-orang saat mendengar 'pertolongan pertama'?
Mungkin CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) untuk orang yang kecelakaan, tenggelam, atau
korban kebakaran yang akan pertama kali diingat. Tapi, bagaimana dengan korban gangguan
kesehatan mental? Jika tidak ditangani dengan cepat, akibatnya mereka akan terkena serangan
panik, depresi, atau keinginan untuk melukai diri sendiri.

Melihat kasus tersebut, Bettu Kitchener, CEO dari Mental Health First Aid, Australia, berinisiatif
untuk membuat pelatihan pertolongan pertama terhadap pasien gangguan kesehatan mental.
"pertolongan pertama biasa tidak bisa menangani gangguan kesehatan mental seperti ini,"
ujarnya, dikutip dari ABC Australia, Jumat (15/8/2014).

Kitchener juga menambahkan bahwa dalam beberapa tahun ini, satu dari lima orang Austalia
yang berusia di atas 16 tahun didiagnosis menderita gangguan kesehatan mental. "jangan cuma
tingal diam, kita juga harus memberikan pertolongan segera pada pasien tersebut," tuturnya.

Pertolongan pertama pada pasien gangguan mental tidak untuk mengajarkan orang bagaimana
caranya menjadi konsultan atau ahli kesehatan mental. Sama seperti pertolongan pertama pada
umumnya, kegiatan ini dilakukan untuk menjaga orang tersebut tetap aman dari situasi krisis
sampai mereka mendapatkan penanganan langsung dari profesional.

Pertolongan pertama bisa dilakukan saat kita melihat seseorang terkena gejala gangguan mental,
serangan panik, gangguan berpikir, emosi, dan perilaku, trauma karena kecelakaan atau KDRT,
besikap lebih agresif, melukai diri sendiri, atau bahkan keinginan untuk bunuh diri.

Pelatihan First Aid Mental Health ini mengenalkan para konsultan, perawat, dan pendidik
tentang tindakan yang dapat dilakukan oleh mereka saat melihat gejala gangguan mental.
Kegiatan ini dilakukan agar tidak ada orang yang melakukan kesalahan selama menangani pasien
gejala gangguan mental, seperti menggunakan kata kasar, memaksa pasien untuk memasang
senyuman di wajah mereka, dan overprotektif.

Tindakan yang harus dilakukan adalah pendekatan langsung terhadap pasien, dengarkan dan
jangan hakimi dia, berikan support dan informasi terkait pengobatan, dorong pasien untuk
berobat ke ahli, dan beri dukungan lain seperti menyarankan strategi penangan terhadap dirinya
sendiri. Dari seluruh tindakan yang bisa dilakukan. "Mendengarkan dan tidak menghakimi
pasien adalah cara utama dalam pertolongan pertama ini," tutup Kitchener.

Tengah Dikembangkan, Jam Tangan untuk
Memonitor Gejala Parkinson
Firstrianisa Gustiawati - detikHealth
Jumat, 15/08/2014 10:32 WIB

Info Penyakit Info Obat
Alergi Kulit
Deskripsi
Penyebab
Gejala
Pengobatan
Anorexia Nervosa
Angina Pektoris

Berita Lainnya
Selamat! 135 Tenaga Puskesmas Teladan Dapat Laptop dari Kemenkes
Paling Komplet, Lab Balitbangkes Jadi Primadona Laboratorium di Indonesia
Tak Pernah Dipuji Saat Kecil, Anak Bisa Jadi Narsis Saat Dewasa
Asal Tak Berlebihan, Selfie Pun Ada Manfaatnya
5 Macam Gangguan Jiwa yang Bermula dari Foto Selfie
Jakarta, Kini banyak perusahaan teknologi menciptakan alat canggih yang dapat memonitor
kondisi kesehatan. Terinspirasi dari hal tersebut, yayasan Michael J Fox mencoba menggunakan
sensor yang dapat dipakai di tangan untuk memonitor gejala penyakit Parkinson.

Yayasan ini telah bekerja sama dengan perusahaan teknologi terkenal, Intel, untuk membekali
pasien dengan jam tangan pintar. Chief Executive dari perusahaan ini pun ternyata didiagnosis
terkena parkinson, demikian dikutip dari BBC, Kamis (14/8/2014). Perusahaan ini telah
melakukan tes pada tahun ini dan berencana segera merilis aplikasinya agar dapat memudahkan
studi dokter dalam mencari cara pengobatan yang berbeda.

Aktor Michael J Fox telah membuat yayasan ini pada tahun 2000 di New York. Yayasan ini
dibuat setelah ia didiagnosis terkena degenerative neurological disorder. Walaupun penyebab
pastinya belum diketahui, parkinson dipercaya terjadi karena adanya faktor gen dan lingkungan.

Gejala parkinson di antaranya tremor dan gerakan yang tidak terkontrol, termasuk
ketidakseimbangan sistem koordinasi tubuh, gerakan yang melambat, kehilangan kemampuan
mencium, dan kemampuan bicara dan mengunyah yang menjadi bermasalah. Diperkirakan
sekitar 5 juta orang di dunia yang terkena parkinson adalah orang lanjut usia.

Todd Sherer, chief execitive dari yayasan ini menyatakan dibuatnya alat ini dapat menjadi
kesempatan untuk kita mengungkapkan terobosan baru untuk penderita parkonson. "Dengan alat
ini, kita dapat mengerti bagaimana pasien parkinson hidup dengan penyakitnya, bagaimana
respon mereka terhadap perawatan yang dijalani, dan kebutuhan apa yang belum diberikan," ujar
Sherer.

Percobaan terhadap alat ini akan dilakukan dengan memberikan alat sensor kepada 16 pasien
parkinson dan 9 orang pengontrol selama empat hari. Jam yang digunakan oleh pasien dapat
menampung 300 data yang direkam setiap detik, dan dapat membaca 1 GB data dari pasien.

Selama lebih dari satu periode, partisipan akan menulis catatan harian dengan menggunakan
pulben dan pensil lalu menghadiri dua kunjungan klinik yang telah dirancang untuk penelitian
ini. Sebagai tambahan, mereka juga akan mencatat pergerakan tubuh partisipan saat bergerak dan
tidur. Langkah selanjutnya adalah merilis aplikasi yang dapat membuat pasien merekam
bagaimana perasaan mereka dan bagaimana perawatan terhadap mereka.

Aplikasi ini digunakan untuk dapat mengukur kemanjuran obat dan menginformasikan tim medis
saat mereka menentukan resep. Nah, percobaan untuk alat ini akan dilakukan di Boston, New
York, dan Israel. "Kami masih terus mengolah datanya," ujar Ronald Kasabia, general manager
dari big data solution di Intel.

Peneliti masih ingin memahami bagaimana pergerakan dan tremor yang terjadi pada pasien
parkinson. Mereka masih harus mencari tahu apa yang terjadi dengan pasien dalam menit ke
menit, 24 jam sehari, dan 365 hari per tahun, bagaimana tremor terjadi dan bagaimana kebiasaan
tidur pasien. Intel mengatakan akan menjaga dan menganonimkan data demi keamanan privasi
pasien.

Parkinson's UK menerima dengan baik penemuan ini, tapi menurutnya masih terlalu dini untuk
mengetahui sejauh mana alat ini berfungsi. "Yang utama dari penggunaan alat ini adalah untuk
membantu klinis membuat keputusan dan membantu orang dengan Parkinson agar mendapatkan
perawatan yang baik dan menyenangkan," kata Suma Surendranath, profesional engangement
manager dari yayasan ini.

Tambah Jam Tidur, Trik Ampuh Redam
Kebiasaan Makan Fast Food
Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Jumat, 15/08/2014 09:32 WIB

Info Penyakit Info Obat
Deskripsi
Penyebab
Gejala
Pengobatan
Amblyopia
Amnesia
Ilustrasi (dok:
Thinkstock)
Berita Lainnya
Selamat! 135 Tenaga Puskesmas Teladan Dapat Laptop dari Kemenkes
Paling Komplet, Lab Balitbangkes Jadi Primadona Laboratorium di Indonesia
Tak Pernah Dipuji Saat Kecil, Anak Bisa Jadi Narsis Saat Dewasa
Asal Tak Berlebihan, Selfie Pun Ada Manfaatnya
5 Macam Gangguan Jiwa yang Bermula dari Foto Selfie
Chicago, Fast food seperti burger dan donat memang enak dan praktis. Namun kandungan
garam dan gulanya yang berlebihan sudah dipastikan bisa menyebabkan obesitas bila dikonsumsi
secara berlebihan. Lantas bagaimana meredam keinginan untuk makan fast food?

Sebuah studi menemukan orang dewasa yang kelebihan berat badan sekaligus kurang tidur rata-
rata butuh 96 menit waktu ekstra untuk tidur tiap malamnya.

Dengan waktu ekstra tersebut, keinginan untuk makan makanan manis dan asin seperti fast food
akan menurun hingga 62 persen. Nafsu makan mereka juga akan berkurang sebanyak 14 persen.

Akan tetapi dari mana peneliti dapat menyimpulkan bila waktu yang dibutuhkan adalah 96
menit? Di awal studi, peneliti meminta sejumlah partisipan mengenakan alat khusus yang akan
menghitung berapa lama waktu yang dihabiskan partisipan untuk tidur selama sepekan.

Hasilnya rata-rata partisipan tidur selama kurang dari 6,5 jam tiap malam. Setelah itu, masing-
masing dari mereka diminta melaporkan tentang kebiasaan tidur, lingkungan rumah dan gaya
hidupnya.

Dua pekan berikutnya, partisipan diminta untuk mengikuti saran peneliti agar dapat
mengoptimalkan tidur mereka. Tipsnya antara lain mengurangi jam nonton TV atau main
internet sebelum tidur.

Di akhir studi, rata-rata partisipan menambah jam tidurnya sebanyak 96 menit setiap malam.
Mereka juga mengaku tidak ngantukan dan lebih berenergi di pagi hari. Di sisi lain, mereka jadi
tak mudah lapar dan tak lagi gemar mengonsumsi makanan manis atau bergaram.

"Kalau kita kurang tidur, kita akan cenderung mencari kompensasi berupa tambahan energi
dengan makan. Tapi karena yang banyak tersedia adalah fast food, maka kita lebih memilih
makanan yang tak sehat dan memakannya dengan porsi yang berlebihan," terang peneliti Dr Esra
Tasali dari University of Chicago Medicine seperti dikutip dari jurnal Appetite, Jumat
(15/8/2014).

Namun Dr Tasali memastikan keinginan itu akan pudar dengan menambah jam tidur.
"Kebanyakan orang merasa punya banyak tanggungan sehingga tak punya waktu untuk tidur.
Padahal ini harus dipaksakan, terutama bila kita tak ingin mengalami obesitas," tutupnya.