Anda di halaman 1dari 33

Pengaruh Perubahan Sosial Terhadap

Masyarakat Pedesaan

Ilustrasi Oleh atamarenaperdana93.blogspot.com
Perjalanan proses pembangunan tak selamanya mampu meberikan hasil sesuai
dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat di pedesaan. Pembangunan yang dilakukan di
masyarakat desa akan menimbulkan dampak social dan budaya bagi masyarakat. Pendapat ini
pada berlandaskan pada asumsi pembangunan itu adalah proses perubahan (sosial dan
budaya). Selain itu masyarakat pedesaan tidak dapat dilepaskan dari unsure- unsur pokok
pembangunan itu sendiri, seperti teknologi dan birokrasi.
Tekhnologi dan birokrasi merupakan perangkat canggih pembangunan namun dilain
sisi perangkat tersebut berhadapan dengan masyarakat pedesaan yang masih tradisional
dengan segala kekhasannya. Apalagi jika unsur-unsur pokok tersebut langsung diterapkan
tanpa mempertimbangkan aspek sosial, budaya, agama dan lain-lain, maka jangan harap
pembangunan akan berhasil. Pihak birokrasi akan sangat memerlukan usaha yang sangat
ekstra jika pola kebijakan yang dikeluarkan tidak tepat sasaran dan tidak berlandaskan pada
kebutuhan masyarakat khususnya di pedesaan.
Indonesia merupakan Negara yang kaya dengan sumberdaya alamnya dan sebagian
besar dimanfaatkan sebagai lahan agrarian. Tak salah jika kemudian kurang lebih enampuluh
persen penduduknya berkecimpung di dunia pertanian dan umumnya berada di pedesaan.
Dengan demikian, masyarakat desa yang agraris menjadi sasaran utama introduksi tekhnologi
segala kepentingan, kemajuan pertanian sangat melibatkan unsur-unsur poko tersebut. Oleh
sebab itu, masyarakat agrarislah yang pertama menderita perubahan sosial.
Namun tetap perlu diperhatikan bahwa setiap masyarakat mempunyai egonya
dalam segala bidang termasuk aspek tekhnologi dan kebijakan birokrasi. Perubahan yang
diharapkan dengan mengintroduksi tekhnologi seharusnya sesuai dengan apa yang menjadi
ego masyarakat tersebut, sehingga pola perubahan dapat diterima oleh masyarakat. Karena
setiap kebijakan dan introduksi tekhnologi yang diberikan pada masyarakat agraris di
pedaesaan akan memberikan dampak perubahan sosial yang multi dimensional.
Pelaksanaan kebijakan teknologi pertanian mempunyai jalinan yang sangat kuat
dengan aspek-aspek lainnya. Jika kita perincikan dimensi-dimensi perubahan tersebut, maka
akan terlihat sangat nyata terjadi perubahan dalam struktur, kultur dan interaksional.
Perubahan sosial dalam tiga dimensi ini, kalau dibiarkan terus akan merusak tatanan sosial
masyarakat desa. Maka dari itu sangat dibutuhkan kajian yang sangat mendalam untuk
mencegah dampak negatif dari kebijakan birokrasi dan asupan teknologi yang mengiringinya
terhadap masyarakat dan aparat yang menjalaninya.
II. 1. Teori Perubahan Sosial
Pengelompokkan teori perubahan sosial telah dilakukan oleh Strasser dan Randall.
Perubahan sosial dapat dilihat dari empat teori, yaitu teori kemunculan diktator dan
demokrasi, teori perilaku kolektif,
II.1.1. Teori Diktator
Teori yang disampaikan oleh Barrington Moore ini berusaha menjelaskan pentingnya
faktor struktural dibalik sejarah perubahan yang terjadi pada negara-negara maju. Negara-
negara maju yang dianalisis oleh Moore adalah negara yang telah berhasil melakukan
transformasi dari negara berbasis pertanian menuju negara industri modern. Secara garis
besar proses transformasi pada negara-negara maju ini melalui tiga pola, yaitu demokrasi,
fasisme dan komunisme.
Demokrasi merupakan suatu bentuk tatanan politik yang dihasilkan oleh revolusi
oleh kaum borjuis. Pembangunan ekonomi pada negara dengan tatanan politik demokrasi
hanya dilakukan oleh kaum borjuis yang terdiri dari kelas atas dan kaum tuan tanah.
Masyarakat petani atau kelas bawah hanya dipandang sebagai kelompok pendukung
saja, bahkan seringkali kelompok bawah ini menjadi korban dari pembangunan ekonomi
yang dilakukan oleh negara tersebut. Terdapat pula gejala penhancuran kelompok masyarakat
bawah melalui revolusi atau perang sipil. Negara yang mengambil jalan demokrasi dalam
proses transformasinya adalah Inggris, Perancis dan Amerika Serikat.
Berbeda halnya demokrasi, fasisme dapat berjalan melalui revolusi konserfatif yang
dilakukan oleh elit konservatif dan kelas menengah. Koalisi antara kedua kelas ini yang
memimpin masyarakat kelas bawah baik di perkotaan maupun perdesaan. Negara yang
memilih jalan fasisme menganggap demokrasi atau revolusi oleh kelompok borjuis sebagai
gerakan yang rapuh dan mudah dikalahkan. Jepang dan Jerman merupakan contoh dari
negara yang mengambil jalan fasisme.
Komunisme lahir melalui revolusi kaun proletar sebagai akibat ketidakpuasan atas
usaha eksploitatif yang dilakukan oleh kaum feodal dan borjuis. Perjuangan kelas yang
digambarkan oleh Marx merupakan suatu bentuk perkembangan yang akan berakhir pada
kemenangan kelas proletar yang selanjutnya akan mwujudkan masyarakat tanpa kelas.
Perkembangan masyarakat oleh Marx digambarkan sebagai bentuk linear yang mengacu
kepada hubungan moda produksi. Berawal dari bentuk masyarakat primitif (primitive
communism) kemudian berakhir pada masyarakat modern tanpa kelas (scientific
communism). Tahap yang harus dilewati antara lain, tahap masyarakat feodal dan tahap
masyarakat borjuis. Marx menggambarkan bahwa dunia masih pada tahap masyarakat borjuis
sehingga untuk mencapai tahap kesempurnaan perkembangan perlu dilakukan revolusi oleh
kaum proletar. Revolusi ini akan mampu merebut semua faktor produksi dan pada akhirnya
mampu menumbangkan kaum borjuis sehingga akan terwujud masyarakat tanpa kelas.
Negara yang menggunakan komunisme dalam proses transformasinya adalah Cina dan Rusia.
II.1.2. Teori Perilaku Kolektif
Teori perilaku kolektif mencoba menjelaskan tentang kemunculan aksi sosial. Aksi
sosial merupakan sebuah gejala aksi bersama yang ditujukan untuk merubah norma dan nilai
dalam jangka waktu yang panjang. Pada sistem sosial seringkali dijumpai ketegangan baik
dari dalam sistem atau luar sistem. Ketegangan ini dapat berwujud konflik status sebagai
hasil dari diferensiasi struktur sosial yang ada. Teori ini melihat ketegangan sebagai variabel
antara yang menghubungkan antara hubungan antar individu seperti peran dan struktur
organisasi dengan perubahan sosial.
Perubahan pola hubungan antar individu menyebabkan adanya ketegangan sosial
yang dapat berupa kompetisi atau konflik bahkan konflik terbuka atau kekerasan. Kompetisi
atau konflik inilah yang mengakibatkan adanya perubahan melalui aksi sosial bersama untuk
merubah norma dan nilai.

11
MARET
Perubahan Sosial Masyarakat Desa (paper)
Label: paper..
BAB I
PENDAHULUAN
I. 1. Latar Belakang
Setiap masyarakat manusia selama hidup pasti mengalami perubahan-perubahan, yang
dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok. Ada pula
perubahan-perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula
perubahan-perubahan yang lambat sekali, tetapi ada juga yang berjalan dengan cepat.
Perubahan-perubahan hanya akan dapat ditemukan oleh seseorang yang sempat meneliti
susunan dan kehidupan suatu masyarakat pada suatu waktu dan membandingkannya
dengan susunan dan kehidupan masyarakat pada waktu yang lampau. Seseorang yang
tidak sempat menelaah susunan dan kehidupan masyarakat desa di Indonesia misalnya
akan berpendapat bahwa masyarakat tersebut statis, tidak maju, dan tidak berubah.
Pernyataan demikian didasarkan pada pandangan sepintas yang tentu saja kurang
mendalam dan kurang teliti karena tidak ada suatu masyarakat pun yang berhenti pada
suatu titik tertentu sepanjang masa. Orang-orang desa sudah mengenal perdagangan, alat
transportasi modern, bahkan dapat mengikuti berita-berita mengenai daerah lain melalui
radio, televisi, dan sebagainya yang kesemuanya belum dikenal sebelumnya.
Perubahan-perubahan masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial,
pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam
masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat dunia dewasa ini merupakan gejala
yang normal. Pengaruhnya bisa menjalar dengan cepat ke bagian-bagian dunia lain berkat
adanya komunikasi modern. Penemuan-penemuan baru di bidang teknologi yang terjadi di
suatu tempat dengan cepat dapat diketahui oleh masyarakat lain yang berada jauh dari
tempat tersebut.
Perubahan dalam masyarakat memang telah ada sejak zaman dahulu. Namun, dewasa ini
perubahan-perubahan tersebut berjalan dengan sangat cepatnya sehingga membingungkan
manusia yang menghadapinya, yang sering berjalan konstan. Perubahan memang terikat
oleh waktu dan tempat. Akan tetapi, karena sifatnya yang berantai, perubahan terlihat
berlangsung terus, walau diselingi keadaan di mana masyarakat mengadakan reorganisasi
unsur-unsur struktur masyarakat yang terkena perubahan.
1. 2. Rumusan masalah
1. Bagaimanakah definisi perubahan sosial?
2. Bagaimanakah aspek-aspek perubahan sosial pada masyarakat desa?
3. Bagaimanakah pengertian mengenai pembangunan masyarakat desa?
1. 3. Tujuan
1. Mengetahui definisi perubahan social secara umum dan pada masyarakat desa.
2. Mengetahui aspek-aspek perubahan sosial pada masyarakat desa.
3. Mengetahui pembangunan masyarakat desa.s
I. 4. Manfaat
1. Memahami definisi perubahan social secara umum dan pada masyarakat desa.
2. memahami mengenai aspek-aspek perubahan sosial pada masyarakat desa.
3. Memahami pembangunan masyarakat desa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Perubahan Sosial
2.1.1. Definisi Perubahan Sosial
Banyak pengertian yang menjelaskan tentang bagaimana perubahan sosial tersebut terjadi dalam
masyarakat. Hal demikian disebabkan karena tiap-tiap masyarakat mempunyai kondisi lingkungan sosial
budaya dan alam yang berbeda. Beberapa ahli sosiologi pun mengartikan perubahan sosial berbeda-beda
menurut pandangannya masing-masing. Berikut adalah beberapa pengertian dari perubahan sosial
menurut para ahli.
a. John Lewis Gillin and John Philip Gillin
Menurut J.L Gillin dan J.P Gillin perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara-cara hidup
yang diterima, yang disebabkan oleh perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan
material, komposisi penduduk, ideology, maupun karena adanya difusi dan penemuan baru
dalam masyarakat tersebut.
b. Max Weber
Berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah perubahan situasi dalam masyarakat
sebagai akibat adanya ketidaksesuaian unsur-unsur (dalam buku Sociological Writings).
c. W. Kornblum
Berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah perubahan suatu budaya masyarakat
secara bertahap dalam jangka waktu lama (dalam buku Sociology in Changing World).
d. Selo Soemardjan
Selo Soemardjan mengatakan bahwa perubahan sosial adalah segala perubahan pada
lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi system
sosialnya. Termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola perilaku di antara
kelompok-kelompok dalam masyarakat tersebut.
e. Robert H. Leuser
Robert mengatakan bahwa perubahan sosial sebagai perubahan dalam segi fenomena sosial
di berbagai tingkat kehidupan manusia, mulai dari tingkat individu orang-perorangan sampai
tingkat dunia.
f. Kingsley Davis
Davis mengartikan perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur
dan fungsi masyarakat.
g. Robert Mac Iver
Dalam bukunya A Textbook of Society ia mengatakan bahwa perubahan sosial adalah
perubahan-perubahan dalam hubungan-hubungan sosial (social relationship) atau perubahan
terhadap keseimbangan hubungan sosial.
h. William F. Ogburn
William menyatakan bahwa perubahan sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan baik
material atau non material.
Dari beberapa pengertian diatas, perubahan sosial dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial
adalah perubahan yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian diantara unsur-unsur yang saling berbeda
yang ada dalam kehidupan sosial sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang tidak serasi
fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan.
2.1.2. Karakteristik Perubahan Sosial
Dengan memahami definisi perubahan sosial dan budaya di atas, maka suatu
perubahan dikatakan sebagai perubahan sosial budaya apabila memiliki karakteristik
sebagai berikut.
1. Tidak ada masyarakat yang perkembangannya berhenti karena
setiapmasyarakat mengalami perubahan secara cepat ataupun lambat.
2. Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan akan diikuti
perubahan pada lembaga sosial yang ada.
3. Perubahan yang berlangsung cepat biasanya akan mengakibatkan kekacauan
sementara karena orang akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan
perubahan yang terjadi.
4. Perubahan tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau spiritual saja
karena keduanya saling berkaitan.
2.1.3. Sebab-sebab Perubahan Sosial
Menurut Prof. Soerjono Soekamto ada dua penyebab terjadinya perubahan
sosial yaitu perubahan yang disebabkan oleh masyarakat itu sendiri (intern) dan dari
luar (ekstern).
1. Sebab Intern
Merupakan sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain:
Dinamika penduduk, yaitu pertambahan dan penurunan jumlah penduduk di suatu
desa. Pertambahan penduduk akan menyebabkan perubahan pada tempat
tinggal. Tempat tinggal yang semula terpusat pada lingkungan kerabat akan
berubah atau terpancar karena faktor pekerjaan. Berkurangnya penduduk
pedesan juga akan menyebabkan perubahan sosial budaya. Contoh perubahan
penduduk adalah program urbanisasi dan TKI.
Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat, baik penemuan
yang bersifat baru (discovery) ataupun penemuan baru yang bersifat
menyempurnakan dari bentuk penemuan lama (invention).
Munculnya berbagai bentuk pertentangan (conflict) dalam masyarakat.
2. Sebab Ekstern
Merupakan sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain:
Adanya pengaruh bencana alam.
Kondisi ini terkadang memaksa masyarakat suatu daerah untuk mengungsi
meninggalkan tanah kelahirannya. Apabila masyarakat tersebut mendiami
tempat tinggal yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan
keadaan alam dan lingkungan yang baru tersebut. Hal ini kemungkinan besar
juga dapat memengaruhi perubahan pada struktur dan pola kelembagaannya.
Adanya peperangan.
Peristiwa peperangan, baik perang saudara maupun perang antar negara dapat
menyebabkan perubahan, karena pihak yang menang biasanya akan dapat
memaksakan ideologi dan kebudayaannya kepada pihak yang kalah.
Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Bertemunya dua kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan perubahan. Jika
pengaruh suatu kebudayaan dapat diterima tanpa paksaan, maka disebut
demonstration effect. Jika pengaruh suatu kebudayaan saling menolak, maka
disebut cultural animosity. Jika suatukebudayaan mempunyai taraf yang lebih
tinggi dari kebudayaan lain, maka akan muncul proses imitasi yang lambat laun
unsur-unsur kebudayaan asli dapat bergeser atau diganti oleh unsur-unsur
kebudayaan baru tersebut.
2.1.4. Bentuk-bentuk Perubahan Sosial
Perubahan adalah sebuah kondisi yang berbeda dari sebelumnya. Perubahan itu
bisa berupa kemajuan maupun kemunduran.
Bila dilihat dari sisi maju dan mundurnya, maka bentuk perubahan sosial dapat
dibedakan menjadi:
1. Perubahan sebagai suatu kemajuan (progress)
Perubahan sebagai suatu kemajuan merupakan perubahan yang
memberi dan membawa kemajuan pada masyarakat. Hal ini tentu sangat
diharapkan karena kemajuan itu bisa memberikan keuntungan dan berbagai
kemudahan pada manusia. Perubahan kondisi masyarakat tradisional, dengan
kehidupan teknologi yang masih sederhana, menjadi masyarakat maju dengan
berbagai kemajuan teknologi yang memberikan berbagai kemudahan merupakan
sebuah perkembangan dan pembangunan yang membawa kemajuan. Jadi,
pembangunan dalam masyarakat merupakan bentuk perubahan ke arah
kemajuan (progress).
Perubahan dalam arti progress misalnya listrik masuk desa, penemuan alat-
alat transportasi, dan penemuan alat-alat komunikasi. Masuknya jaringan listrik
membuat kebutuhan manusia akan penerangan terpenuhi; penggunaan alat-alat
elektronik meringankan pekerjaan dan memudahkan manusia memperoleh
hiburan dan informasi; penemuan alat-alat transportasi memudahkan dan
mempercepat mobilitas manusia proses pengangkutan; dan penemuan alat-alat
komunikasi modern seperti telepon dan internet, memperlancar komunikasi jarak
jauh.
2. Perubahan sebagai suatu kemunduran (regress)
Tidak semua perubahan yang tujuannya ke arah kemajuan selalu berjalan
sesuai rencana. Terkadang dampak negatif yang tidak direncanakan pun muncul
dan bisa menimbulkan masalah baru. Jika perubahan itu ternyata tidak
menguntungkan bagi masyarakat, maka perubahan itu dianggap sebagai sebuah
kemunduran.
Misalnya, penggunaan HP sebagai alat komunikasi. HP telah
memberikan kemudahan dalam komunikasi manusia, karena meskipun dalam
jarak jauh pun masih bisa komunikasi langsung dengan telepon atau SMS.
Disatu sisi HP telah mempermudah dan mempersingkat jarak, tetapi disisi lain
telah mengurangi komunikasi fisik dan sosialisasi secara langsung. Sehingga
teknologi telah menimbulkan dampak berkurangnya kontak langsung dan
sosialisasi antar manusia atai individu.
Jika dilihat dari proses berlangsungnya, menurut Soerjono Soekamto perubahan
dapat dibedakan menjadi Evolusi dan Revolusi (perubahan lambat dan perubahan
cepat).
1. Evolusi
Evolusi adalah perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam proses
lambat, dalam waktu yang cukup lama dan tanpa ada kehendak tertentu dari
masyarakat yang bersangkutan. Perubahan-perubahan ini berlangsung
mengikuti kondisi perkembangan masyarakat, yaitu sejalan dengan usaha-usaha
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dengan kata lain,
perubahan sosial terjadi karena dorongan dari usaha-usaha masyarakat guna
menyesuaikan diri terhadap kebutuhan-kebutuhan hidupnya dengan
perkembangan masyarakat pada waktu tertentu. Contoh, perubahan sosial dari
masyarakat berburu menuju ke masyarakat meramu.
2. Revolusi
Revolusi, yaitu perubahan sosial mengenai unsur-unsur kehidupan atau
lembaga-lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relatif cepat. Seringkali
perubahan revolusi diawali oleh munculnya konflik atau ketegangan dalam
masyarakat, ketegangan-ketegangan tersebut sulit dihindari bahkan semakin
berkembang dan tidak dapat dikendalikan. Terjadinya proses revolusi
memerlukan persyaratan tertentu, antara lain:
a. Ada keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan.
b. Adanya pemimpin/kelompok yang mampu memimpin masyarakat tersebut.
c. Harus bisa memanfaatkan momentum untuk melaksanakan revolusi.
d. Harus ada tujuan gerakan yang jelas dan dapat ditunjukkan kepada rakyat.
e. Kemampuan pemimpin dalam menampung, merumuskan, serta
menegaskan rasa tidak puas masyarakat dan keinginan-keinginan yang
diharapkan untuk dijadikan program dan arah gerakan revolusi.
Contoh perubahan secara revolusi adalah peristiwa reformasi (runtuhnya rezim
Soeharto), peristiwa Tsunami di Aceh, semburan lumpur Lapindo (Sidoarjo).
Jika dilihat dari ruang lingkupnya, perubahan sosial dibagi menjadi dua, yaitu
perubahan social yang berpengaruh besar dan perubahan sosial yang
berpengaruh kecil.
1. Perubahan Kecil
Perubahan kecil adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur
sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau pengaruh yang berarti bagi
masyarakat. Contoh perubahan kecil adalah perubahan mode rambut atau
perubahan mode pakaian.
2. Perubahan besar
Perubahan besar adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur
struktur sosial yang membawa pengaruh langsung atau pengaruh berarti bagi
masyarakat. Contoh perubahan besar adalah dampak ledakan penduduk dan
dampak industrialisasi bagi pola kehidupan masyarakat.
Jika dilihat dari keadaannya, perubahan sosial dibagi menjadi dua yaitu,
perubahan yang Direncanakan dan Tidak Direncanakan.
1. Perubahan yang dikehendaki atau direncanakan
Perubahan yang dikehendaki atau yang direncanakan merupakan
perubahan yang telah diperkirakan atau direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-
pihak yang hendak melakukan perubahan di masyarakat. Pihak-pihak tersebut
dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang
mendapat kepercayaan masyarakat untuk memimpin satu atau lebih lembaga-
lembaga kemasyarakatan yang bertujuan untuk mengubah suatu sistem sosial.
Contoh perubahan yang dikehendaki adalah pelaksanaan pembangunan atau
perubahan tatanan pemerintahan, misalnya perubahan tata pemerintahan Orde
Baru menjadi tata pemerintahan Orde Reformasi.
2. Perubahan yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan
Perubahan yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan
merupakanperubahan yang terjadi di luar jangkauan pengawasan masyarakat
dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan.
Contoh perubahan yang tidak dikehendaki atau tidak direncanakan adalah
munculnya berbagai peristiwa kerusuhan menjelang masa peralihan tatanan
Orde Lama ke Orde Baru dan peralihan tatanan Orde Baru ke Orde Reformasi.
2.1.5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan Sosial Budaya
Terjadinya sebuah perubahan tidak selalu berjalan dengan lancar, meskipun
perubahan tersebut diharapkan dan direncanakan. Terdapat faktor yang mendorong
sehingga mendukung perubahan, tetapi juga ada faktor penghambat sehingga
perubahan tidak berjalan sesuai yang diharapkan.
Faktor pendorong perubahan Sosial
Faktor pendorong merupakan alasan yang mendukung terjadinya perubahan.
MenurutSoerjono Soekanto ada sembilan faktor yang mendorong terjadinya
perubahan sosial, yaitu:
1. Terjadinya kontak atau sentuhan dengan kebudayaan lain.
2. Sistem pendidikan formal yang maju
3. Sikap menghargai hasil karya orang dan keinginan untuk maju.
4. Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang.
5. Sistem terbuka dalam lapisan-lapisan masyarakat.
6. Penduduk yang heterogen.
7. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu
8. Orientasi ke masa depan
9. Nilai bahwa manusia harus selalu berusaha untuk perbaikan hidup.
Faktor penghambat perubahan
Banyak faktor yang menghambat sebuah proses perubahan. Menurut Soerjono
Soekanto, ada delapan buah faktor yang menghalangi terjadinya perubahan sosial,
yaitu:
1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat.
3. Sikap masyarakat yang mengagungkan tradisi masa lampau dan cenderung
konservatif.
4. Adanya kepentingan pribadi dan kelompok yang sudah tertanam kuat
(vestedinterest).
5. Rasa takut terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan dan menimbulkan
perubahan pada aspek-aspek tertentu dalam masyarakat.
6. Prasangka terhadap hal-hal baru atau asing, terutama yang berasal dari Barat.
7. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis.
8. Adat dan kebiasaan tertentu dalam masyarakat yang cenderung sukar diubah.
2.2. Aspek-Aspek Perubahan Sosial Pada Masyarakat Desa
2.2.1 Perubahan-perubahan Khusus
Disini yang dimaksud dengan aspek-aspek perubahan yaitu menyangkut tentang perubahan
khusus dalam masyarakat desa yang diperkirakan penting untuk memahami kehidupan masyarakat desa.
Hal ini dapat memperdalam pemahaman tentang dinamika kehidupan desa.
a) Urbanisasi dan Perkembangan Masyarakat Desa
Urbanisasi, terlebih dalam artinya sebagai proses pengotaan, adalah suatu bentuk khusus
modernisasi. Dengan kata lain, konsep modernisasi yang sangat luas cakupan pengertiannya itu
mendapatkan bentuknya yang khusus di pedesaan dalam konsep urbanisasi. Sebagaimana
diketahui urbanisasi adalah proses pengotaan (proses mengotanya suatu desa), proporsi
penduduk yang tinggal di desa dan di kota, dan perpindahan penduduk dari desa
ke kota (urbanward migration).
Urbanisasi dalam arti proses pengkotaan hakekatnya
menggambarkan proses perubahan dari suatu wilayah dengan
masyarakatnya yang semula adalah desa atau bersifat pedesaan
kemudian berubah dan berkembang menjadi kota atau bersifat
kekotaan. Dalam kenyataannya secara umum desa memang selalu
mengalami perubahan dan perkembangan. Cepat-lambatnya atau
besar-kecilnya perubahan dan perkembangan yang terjadi tergantung
pada banyak faktor, antara lain tergantung- kepada potensi wilayah
yang bersangkutan.Perubahan i tu secara umum cenderung
mengarah ke sifat -sifat perkotaan. Namun, tidak semua perubahan
dan perkembangan yang terjadi di desa itu dapat disimpulkan
sebagai proses pengkotaan (proses perubahan desa menjadikota).
Proses perubahan itu seringkali hanya merupakan proses
perubahan biasa saja, yang hakekatnya secara umum terjadi di
semua kelompok masyarakat. Menurut Roland L. Warren, proses
perubahan yang menunjukkan terjadinya metamorpose dari desa
menjadi kota hanya dapat disimak lewat adanya
gejala yangdisebut great change.
Indikator dari adanya great change ini adalah:
1. Division of labor, yakni bila pada desa itu telah menunjukkan
tumbuh dan berkembangnya kelompok-kelompok kerja yang
berbeda-beda tetapi saling ada ketergantungan atau jalinan.
2. Munculnya diferensiasi kepentingan dan asosiasi.
3. Semakin bertambahnya hubungan yang sistemik dengan
masyarakat yang lebih luas.
4. Muncul dan berkembangnya fenomena birokratisasi dan imperso-
nalisasi dalam kegiatan usaha;
5. Pengalihan fungsi-fungsi ke lembagaan bidang usaha yang
menguntungkan.
6. Adanya proses penerapan gaya hidup perkotaan.
7. Adanya proses perubahan nilai-nilai (Roland L. Warren, 1963: 54).
Yang sering diulas dalam berbagai pembahasan adalah
konsep urbanasasi dalam artian pergeseran penduduk dari
desa ke kota. Urbanisasi dalam artian ini banyak diulas berkaitan
dengan kerugian-kerugian yang dialami desa jika penduduknya
bermigrasi ke kota. Desa akan kehilangan para penduduknya dan itu
menyebabkan desa semakin sulit berkembang. Disamping itu ada
pula gejala urbanisasi yang tidak permanen. Artinya, para migran
tersebut tidak secara permanen menetap di kota. Jika tidak ada
peluang lagi bekerja di kota, mereka akan kembali ke desa. Di
desapun meski mereka lebih merasakan sebagai seorang warga
desa, namun selalu siap untuk bergerak ke kota apabila menemukan
peluang pekerjaan di kota.
b) Perubahan Kultural
Perubahan kultural (kebudayaan) adalah perubahan kebudayaan masyarakat desa dari
pola tradisional menjadi bersifat modern. Dalam hal ini yang dimaksud adalah kebudayaan desa
yang awalnya bersifat tradisional mulai dari alat yang digunakan, ideologi, pendidikan, sedikit
demi sedikit menjadi berkembang ke arah yang lebih modern.
Yang menjadi titik tolak utama pengertian pola kebudayaan
tradisional adalah yang dikemukakan oleh Paul H. Landis anEverett
M. Rogers. Seperti telah diuraikan dalam bab tersebut, nurut
Paul H. Landis keberadaan pola kebudayaan tradisional tentukan
oleh tiga faktor. Ketiga faktor itu adalah:
1. Sejauh mana ketergantungan masyarakat terhadap alam,
2. Bagaimana tingkat teknologi nya.
3. Bagaimana sistem. produksinya.
Pola kebudayaan tradisional akan tetap eksis apabila
masyarakat desa memiliki ketergantungan yang sangat besar
terhadap alam, namun dengan tingkat teknologi yang tinggi , dan
produksi yang hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga. Ini berarti bahwa apabila ketergantungan terhadapalam
berkurang atau bahkan hilang, tingkat teknologinya tinggi, dan
produksi ditujukan untuk mengejar keuntungan (profit orientecl),
maka kebudayaan tradisional menjadi kehilangan dasar eksistensinya
Dan hal tersebut menunjukkan perubahan cultural pada masyarakat
desa yang sudah terlihat. Selain hal tersebut meningkatnya teknologi
pada masyarakat desa juga menunjukkan semakin berubahnya
kebudayaan di desa. Ynag awalnya menggunakan alat pertanian yang
sederhana, sekarang mulai maju dengan menggunakan teknologi-
teknologi modern. Hal ini tidak buruk karena dapat semakin memajukan
desa kearah modern. Akan tetapi masih ada kendala dalam memajukan
desa kea rah modern.Hal ini disebabkan karena cara hi dup modern
menuntut bi aya ti nggi . Sebaliknya, cara hidup tradisional adalah
merupakan cara hidup yang relatif murah. Oleh karena itu, sekalipun
misalnya penduduk telah mendapatkan dan menyerap pengetahuan
baru dan budaya modern, namun pengaruhnya hanya sebatas sikap
dan pandangan hidup saja. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk
menerapkan gagasan hidup modern karena masalah struktural,
yakni karena mereka termasuk golongan miskin yang rendah tingkat
keberdayaannya.
c) Perubahan Struktural
Senada dengan uraian tentang perubahan kebudayaan di atas, bagian ini juga
mencoba mengungkapkan perubahan struktur masyarakat desa yang menjadi semakin
bersifat kompleks.
Struktur adalah bagaimana bagian-bagian dari sesuatu berhubungan satu dengan lain
atau bagaimana sesuatu tersebut disatukan. Struktur adalah sifatfundamental bagi setiap sistem.
Identifikasi suatu struktur adalah suatu tugas subjektif, karena tergantung pada asumsi kriteria
bagi pengenalan bagian-bagiannya danhubungan mereka. Karenanya, identifikasi kognitif suatu
struktur berorientasi tujuan dan tergantung pada pengetahuan yang ada.
d) Perubahan Lembaga dan Kelembagaan
Lembaga adalah sebagai wahana untuk memenuhi kebutuhan dalam
suatu masyarakat. Dalam kaitan ini kelembagaan adalah sebagai wujud dari
suatu tindakan bersama (Collective action). Jadi jika suatu masyarakat
menginginkan suatu kebutuhan baru dan beragam maka secara otomatis
lembaga lama akan tidak berfungsi lagi.
Seperti telah dijelaskan di atas, secara umum lembaga diartikan
sebagai wahana untuk memenuhi kebutuhan yang ada dalam suatu
masyarakat. Kelembagaan dalam kaftan ini adalah
tindakan bersama (collective action)yang memiliki pola atau tertib yang
jelas dalam upaya untuk mencapai tujuan atau kebutuhan tertentu.
ini berart i bahwa kel embagaan yang ada dal am suatu
masyarakat eksistensinya ditentukan oleh sifat dan ragam kebutuhan
yang ada dalam suatu masyarakat. Dengan demikian apabila dalam
masyarakatmuncul kebutuhan-kebutuhan baru yang semakin meluas
dan beragam, maka lembaga-lembaga lama menjadi kurang dapat
berfungsi. Sebagai konsekuensinya, lembaga-lembaga baru yang
instrumental bagi pemenuhan kebutuhan baru itu semakin dituntut
keberadaannya. Munculnya lembaga-lembaga baru di desa-desa belum
tentu rupakan tanggapan dari kebutuhan-kebutuhan baru yang
berkembang di tengah masyarakat itu. Lembaga-lembaga baru dapat
saja muncul berdasarkan program-program pembangunan yang
diadakanoleh Pemerintah. Sebagai contoh di Indonesia terdapat
seiurnfah mbaga baru seperti LSD/LKMD, BUD, KUD, LMD, BPD,
dan bagainya. Badan-badan lain di luar Pemerintah juga ikut menyum-
bang hadirnya lembaga-lembaga baru itu, seperti misalnya berbagai l embaga
dari berbagai LSM yang bergerak di pedesaan.
e) Perubahan dan Pembangunan dalam Bidang Pertanian
Perubahan dan pembangunan di bidang pertanian tidak lepas dari perubahan yang ada
di dunia ini khususya dalam IPTEK dan teknologi yang menunjang peningkatan dalam sektor
pertanian.
2.3. Pembangunan Masyarakat Desa
Pembangunan merupakan proses perubahan yang disengaja dan
direncanakan. Di samping itu, pembangunan berarti perubahan yang
disengaja atau direncanakan dengan tujuan untuk mengubah keadaan
yang tidak dikehendaki ke arah yang dikehendaki. Istilah pembangunan
umun juga dapat dipadankan dengan istilah development sekalipun istilah
development sebagai pembangunan tanpa perencanaan.akan tetapi
perkembangan masyarakat yang sering disebut ruraldevelopment maka
dapat pula disebut dengan moderanisasi. Sehingga pembangunan dapat
pula diartikan sebagai usaha yang di l akukan secara sadar
unt uk nciptakan perubahan sosial melalui modernisasi.
Di negara-negara berkembang, proses perubahan dan
perkembangan yang terjadi pada masyarakat, termasuk masyarakat
desa tidak terlepas dari campur tangan Pemerintah. Dengan demikian
jelas bahwa yang merencanakan dan merekayasa perubahan adalah
Negara. Campur tangan Negara ini dilakukan dengan tujuan untuk
mempercepat akselerasi pembangunan agar bangsanya tidaktertinggal dari
dunia, Barat.
Bagaimana rumusan pengertian pembangunan nasional kita?
Diawali dengan penugasan Deppernas oleh Presider untuk meran-
cangkan pola masyarakat adil dan makmur sebagai mana dimaksudkan
oleh Pembukaan UUD 1945, maka Undang-undang Nomor 85
Tahun1958 menyiratkan pengertian pembangunan nasional kita
sebagaiusaha untuk memperti nggi ti ngkat kehi dupan bangsa
Indonesi adengan j alan peningkatan produksi dan pengubahan
struktur perekonomian yang ada menjadi struktur perekonomian
nasional.Rumusan semacam ini ditegaskan kembali dalam Ketetapan MPRS
Nomor II/MPRS/1960 tentang Garis-garis Besar Pola Pembangunan Nasional
Bagaimana dengan pembangunan masyarakat desa? Pembangunan
masyarakat desa termasuk ke dalam pembangunan nasional. Secara lebih
khusus pembangunan masyarakat desa memiliki beberapa pengertian,
antara lain:
1. Menurut Pembangunan masyarakat desa berarti pembangunan
masyarakat tradi sional menj adi manusi a modern (Horton
dan Hunt, 1976, Alex Inkeles, 1965)
2. Pembangunan masyarakat desa berarti pembangunan karena
adanya masyarakat dan rasa percaya pada diri sendiri(Mukerjee
dalam Bhattacharyya, 1972).
3. Pembangunan pedesaan tidak lain dari pembangunan usaha tarsi
atau (Mosher, 1974, Bertrand, 1958).
Di sampi ng batasan-batasan tersebut, pembangunan desa
di Indonesia memiliki arti: pembangunan nasional yang ditujukan pada
usaha peningkatan taraf hidup masyarakat pedesaan, yang
menumbuhkan partisipasi aktif setiap anggota masyarakat terhadap
pembagian dan penciptaan hubungan yang selaras antara masyarakat dengan
lingkungannya.
BAB III
REVIEW JURNAL
Makalah ini menggambarkan hasil penilaian terhadap perubahan pengetahuan, sikap
dan perilaku masyarakat Desa Talise dan desa kontrolnya antara saat kegiatan proyek
pesisir dimulai tahun 1997/1998 dengan tahun 2000 yang merupakan tahun pertengahan
proyek.
Proyek Pesisir, bagian dari Program Pengelolaan Sumberdaya Alam (NRM II,USAID
BAPPENAS), sedang mengembangkan model desentralisasi dan penguatan pengelolaan
sumberdaya pesisir yang berbasis-masyarakat di empat desa di Sulawesi Utara. Desa
Talise merupakan salah satu desa di antara keempat desa di Sulawesi Utara yang dijadikan
sebagai desa proyek pengembangan model desentralisasi dan penguatan pengelolaan
sumberdaya wilayah pesisir yang berbasis-masyarakat tersebut. Proses pengelolaan
sumberdaya pesisir berbasis-masyarakat yang dilakukan di Desa Talise ini telah
berlangsung selama lebih dari empat tahun. Kegiatan ini difasilitasi dengan penempatan
penyuluh lapangan di desa secara full time selama lebih dari 2 tahun. Suatu tim teknis
mendukung penyuluh lapangan dengan kegiatan-kegiatan khusus seperti pelatihan
pemantauan terumbu karang berbasis-masyarakat, studi teknis mengenai pemilihan isu-isu,
pengukuran profil pantai, dan penyusunan peraturan desa. Proyek Pesisir
mengkoordinasikan perencanaan berbasis masyarakat dan implementasi ini melalui suatu
tim kerja antar instansi dalam tingkat kabupaten, yang lebih dikenal dengan Tim Kerja
Kabupaten, kelompok inti untuk penyusunan rencana pengelolaan desa dan badan
pengelola.
Salah satu bagian penting dari strategi proyek adalah melibatkan masyarakat dalam
kegiatan-kegiatan proyek. Berdasarkan pengalaman dari pengelolaan sumber daya pesisir
berbasis masyarakat yang telah dilakukan sebelumnya di seluruh dunia menunjukkan
betapa pentingnya keterlibatan atau peran serta masyarakat dalam setiap tahapan proses
kegiatan. Perbedaan jenis kelamin merupakan bagian yang penting dari strategi
keperansertaan, khususnya keterlibatan anggota masyarakat wanita dalam semua kegiatan
proyek. Oleh karena itu dalam pelaksanaan proses pembangunan dan pengelolaan di Desa
Talise peran serta masyarakat berdasarkan perbedaan jenis kelamin senantiasa menjadi
suatu perhatian.
Untuk menilai keefektifan kegiatan pengelolaan ini, Proyek Pesisir menentukan
beberapa desa kontrol. Maksudnya untuk menilai perubahan pengetahuan, sikap dan
perilaku masyarakat desa-desa proyek dibandingkan dengan masyarakat desa-desa kontrol
yang tidak mendapatkan intervensi dari Proyek Pesisir.
Proyek penelitian ini menggunakan metode wawancara dengan informan kunci,
pengamatan langsung, karena wawancara dengan informan merupakan kunci, pengamatan
langsung, dan menyebarkan kuesioner dengan metode acak berdasarkan letak tempat
tinggal merupakan metode yang digunakan dalam pengambilan data. Responden dipilih
wanita dan pria untuk menggali persepsi berdasarkan perbedaan jenis kelamin.
Dari hasil proyek telah diperoleh hasil dan pembahasan yang dibagi menjadi empat
sesuai dengan proyek penelitian.
1. Partisipasi, Pengetahuan dan Jenis Kelamin.
Gambaran mengenai pengetahuan dan peran serta responden berdasarkan jenis
kelamin terus mengalami tingkat pengetahuan dan partisipasi yang tinggi dari masyarakat
dalam kegiatan-kegiatan proyek kecuali dalam hal peran serta dalam organisasi proyek.
Pengetahuan responden pria dan wanita menunjukkan keefektifan kegiatan penyebaran
informasi tentang kegiatan proyek yang telah dilakukan. Tidak terdapat perbedaan antara
pengetahuan pria dengan wanita, hal ini didukung fakta yang menunjukkan 46 persen
partisipan dari kegiatan-kegiatan proyek yang formal (pertemuan-pertemuan, presentasi,
dan pendidikan lingkungan hidup) tercatat sebagai wanita. Sedangkan tingkat partisipasi
wanita yang lebih rendah dari pria dalam kegiatan-kegiatan proyek menunjukkan adanya
pembedaan antara pekerjaan pria dan wanita di masyarakat.
2. Perubahan Sosial Ekonomi.
Laju pertumbuhan penduduk Talise rata-rata setiap tahunnya adalah 6,56 persen. Faktor
migrasi sepertinya cukup berperan dalam laju pertumbuhan penduduk Talise yang cukup
tinggi ini. Pada periode ini terdapat kerusuhan di Maluku dan terdapat beberapa keluarga
dari daerah tersebut yang mengungsi ke Desa Talise. Faktor lainnya yang menyebabkan
pertambahan ini adalah peristiwa kelahiran dan pernikahan. Terdapat beberapa penduduk
Desa Talise yang menikah dengan orang luar desa dan kemudian menetap di Talise.
Kegiatan produktif paling utama penduduk Desa Talise masih sama antara tahun
1997 dengan tahun 2000 yaitu di bidang perikanan dan jumlah rumah tangga yang mata
pencaharian utamanya dibidang perikanan ini mengalami peningkatan yang besar. Hal ini
menunjukkan ketergantungan masyarakat terhadap perikanan di Desa Talise meningkat dan
dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada sumberdaya perikanan. Oleh karena itu,
perlu perhatian yang lebih tinggi terhadap pemanfaatan sumberdaya perikanan ini.
Diharapkan pendirian DPL dapat membantu menyediakan sumberdaya perikanan yang
lestari di Desa Talise.
Hasil pengukuran terhadap komponen MSL menunjukkan bahwa tidak terdapat
perubahan kesejahteraan ekonomi yang lebih baik di Desa Talise. Hal ini berarti proyek
tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi di Desa Talise.
Mengacu pada kegiatankegiatan proyek yang telah dilakukan, memang sangat sedikit
kegiatan proyek yang berkenaan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Talise
sehingga tidak terdapat peningkatan kesejahteraan ekonomi yang nyata.
3. Perubahan Persepsi Masyarakat Terhadap Masalah dan Kualitas Hidup.
Anggapan responden di Desa Talise dan desa kontrol mengenai keadaan rumah tangga
mereka dibandingkan lima tahun yang lalu dan kemungkinan lima tahun mendatang
mengalami perubahan yang nyata. Mereka merasa keadaan rumah tangga mereka lebih
baik dibandingkan lima tahun yang lalu dan akan lebih baik lagi untuk lima tahun kemudian.
Pada tahun 1998 termasuk tahun-tahun awal krisis ekonomi dan hal ini diduga
mempengaruhi persepsi responden di Desa Talise dan desa kontrol mengenai masa depan
mereka. Meskipun persentase persepsi lebih baikdi Desa Talise lebih tinggi dibandingkan
dengan desa kontrol, namun perbedaan tersebut tidak nyata. Hal ini berarti bahwa
perubahan persepsi masyarakat di Desa Talise terhadap kondisi rumah tangga
mereka tidak dapat dikatakan karena pengaruh proyek.
Hal menarik yang kiranya perlu dicermati dari alasan reponden mengenai perubahan
persepsi untuk kesejahteraan rumah tangga mereka adalah alasan akses pada
sumberdaya. Di Desa Talise alasan ini mengalami penurunan, baik peringkat alasan
maupun jumlah responden. Berbeda dengan yang terjadi di Desa Talise, untuk desa kontrol
alasan sumberdaya ini justru mengalami peningkatan, baik peringkat alasan maupun jumlah
responden. Walapun penurunan alasan akses pada sumberdaya di Desa Talise kecil,
namun kejadian ini kiranya dapat diduga karena ada hubungannya dengan pengelolaan
sumberdaya pesisir yang sedang dilakukan oleh masyarakat Desa Talise.
Begitu pula untuk alasan anggapan terhadap masalah hidup, alasan akses pada
sumberdaya merupakan alasan yang paling banyak dikemukakan pada tahun 1997. Pada
tahun 2000 alasan tersebut tidak muncul lagi. Persepsi masyarakat mengenai akses pada
sumberdaya merupakan hal yang sangat penting. Perubahan anggapan masyarakat
mengenai hal tersebut merupakan indicator bahwa kesepakatan yang telah dibuat antara
masyarakat Desa Talise dengan perusahaan budidaya mutiara telah berhasil. Masyarakat
Talise dengan pihak perusahaan, difasilitasi oleh Proyek Pesisir, telah menghasilkan sebuah
kesepakatan yang dikenal dengan Deklarasi Talise. Hasil kesepakatan ini salah satunya
adalah membolehkan masyarakat Talise untuk menangkap ikan di sekitar atau di
dalam lokasi budidaya dengan syarat tidak mengganggu atau merusak kegiatan budidaya.
Kegiatan penangkapan ikan tersebut sebelumnya dilarang. Bahkan bagi masyarakat yang
melanggar dikenakan hukuman oleh pihak perusahaan. Dengan adanya kesepakatan
tersebut akses masyarakat Talise terhadap sumberdaya menjadi lebih besar.
4. Perubahan Persepsi Pengaruh Kegiatan Manusia Terhadap Sumberdaya Alam.
Pada bagian keyakinan terhadap sumberdaya, penting untuk menentukan apakah
kegiatan-kegiatan proyek berpengaruh pada persepsi anggota masyarakat terhadap
lingkungan pesisir atau tidak. Hasil analisis menunjukkan bahwa proyek telah memiliki
pengaruh yang sangat positif dan nyata pada perubahan persepsi masyarakat di Desa
Talise. Pengetahuan masyarakat Desa Talise mengenai penggunaan bom dan akibat yang
ditimbulkannya juga mengalami peningkatan yang sangat nyata. Hal tersebut merupakan
pemahaman dan perilaku yang positif yang ditunjukkan masyarakat. Kegiatan-kegaiatan
proyek seperti pertemuan-pertemuan, pelatihan, presentasi, dan pendidikan lingkungan
hidup yang dilakukan di Desa Talise diduga berpengaruh banyak terhadap perubahan
persepsi ini.
Dari hasil penelitian proyek diatas dapat ditarik kesimpulan bahwad di Desa Talise,
kondisi perekonomian masyarakat mengalami sedikit penurunan sedangkan persepsi
mengenai masa depan yang akan lebih baik meningkat secara signifikan. Persepsi
masyarakat mengenai pengaruh kegiatan manusia terhadap sumberdaya alam juga
meningkat secara signifikan.
Hasil perbandingan antara Desa Talise dengan desa kontrol, hanya aspek persepsi
masyarakat mengenai pengaruh kegiatan manusia terhadap sumberdaya alam yang
berbeda nyata. Hasil ini menunjukkan bahwa proyek telah memiliki pengaruh yang sangat
nyata dalam merubah persepsi masyarakat Talise mengenai pengaruh-pengaruh kegiatan
manusia terhadap sumberdaya alam.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Definisi Perubahan Sosial
Perubahan sosial adalah proses di mana terjadi perubahan struktur dan fungi
suatu sistem social. Setiap masyarakat senantiasa berada dalam proses social. Dengan
kata lain, perubahan-perubahan social merupakan gejala yang melekat di setiap
masyarakat dapat diketahui dengan membandingkan keadaan masyarakat pada suatu
waktu tertentu dengan keadaannya pada masa lampau.
Misalnya dibeberapa masyarakat Indonesia pada umumnya pada masa lalu,
suami merupakan posisi yang sangat dominant dalam berbagai urusan yang sangat
dominant dalam berbagai urusan dalam kehidupan sebuah keluarga, sehingga apabila
suami tidak bekerja atau tidak mempunyai penghasilan, maka suatu keluarga secara
ekonomi akan lumpuh. Pada masyarakat modern sekarang ini suami tidak selalu
merupakan posisi yang menentukan jalanya keluarga.
Laju kecepatan peruban tidak selalu sama antara satu masyarakat dengan
masyarakat lain. Misalnya antara masyarakat desa dengan masyarakat kota. Demikian
juga antara masyarakat yang terisolasi (terasing) dengan masyarakat terbukaatau
mempunyai hubungan dengan masyarakat lain.masyarakat terisolasi mempunyai laju
perubahan yang sangat lambat, sehingga sering disebut masyarakat statis. Disebut
masyarakat statis tentu saja bukan berarti tidak mengalami perubahan sama sekali atau
mengalami stagnasi (kemandegan), tetapi perubahan-perubahan yang terjadi
berlangsung dengan lambatnya sehingga hampir tidak menunjukan gejala-gejala
perubahan. Sedangkan masyarakat yang terbuka hubungannya dengan masyarakat
luas mengalami perubahan-perubahan yang berlangsung dengan cepat, sehingga sering
disebutmasyarakat dinamis.
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat menimbulkan
ketidaksesuaian antara unsur-unsur social yang ada dalam masyarakat. Dengan kata
lain, perubahan-perubahan sosial akan mengubah struktur dan fungsi dari unsur-unsur
social dalam masyarakat. Dengan demikian perubahan social dalam masyarakat
mengandung pengertian ketidaksesuaian diantara unsure-usur social yang saling
berbeda dalam masyarakat sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang tidak
serasi fungsinyabagi masyarakt yang bersangkutan.
Apa yang dimaksud dengan perubahan social? Menurut prf. Selo
Soemardjan, perubahan social adalah perubahan-prubahan yang terjadi pada lembaga-
lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi system
sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilakunya di antar
kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Kingsley David memberikan difinisi perubahan social sebagai perubahan-
perubahan yang terjadi pada struktur dan fungsi masyarakat. Dari definisi ini dapat
ditegaskan bahwa dalam perubahan social dan system sosialnya. Struktur social
merupakan bentuk jalinan di antaraunsure-unsur social yang pokok dalam masyarakat,
yang menunjukan pada bentuk seluruh jaringan hubungan antarindiviu dalam
masyarakat dimana terjalin interaksi, interealism, dan komunikasi social. Sedangkan
system social menunjukan pada bagaimana hubungan antara unsure-unsur social dalam
masyarakat sehingga membentuk suatu kebulatan (totalitas) yang berfungsi.
Adapun Selo Soemardjan mengartikan perubahan social sebagai perubahan-
perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu
masyarakat yang mempengaruhi system sosialnya, termasuk di dalamnya nila-nilai,
skap-sikap dan pola-pola perilakunya di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Dari beberapa pendapat para ahli tersebut dapat ditarik benang merahnya bahwa
perubahan social adalah:
1. Perubahan pada segi structural masyaraka sepert pola-pola perilaku dan pola
interaksi antar anggota masyarakat.
2. Perubahan pada segi cultural masyarakat seoerti nilai-nilai, sikap-sikap, serta
norma-norma social masyarakat.
3. Merupakan perubahan diberbagai tingkat kehidupan manusia mulai dari tingkat
individual sehingga ke tingkat dunia.
4. Merupakan perubahan yang dapat menimbulkan ketidakseimbangan (disequilibrium)
dalam suatu system masyarakat.
Jika dibandingkan dengan perubahan sosial pada desa Talise yang menjadi objek jurnal
Desa talise tersebut sudah mengalami perubahan sosial yaitu perubahan-perubahan
yang menyangkut aspek-aspek partisipasi, pengetahuan dan jenis kelamin, aspek-aspek
perubahan sosial ekonomi,aspek-aspek persepsi masyarakat terhadap masalah dan
kualitas hidup, dan perubahan persepsi pengaruh kegiatan masyarakat terhadap
sumberdaya alam.
4.1.1 Karakteristik Perubahan Sosial
Dengan memahami definisi perubahan sosial dan budaya di atas, maka suatu
perubahan dikatakan sebagai perubahan sosial budayaapabila memiliki karakteristik
sebagai berikut. Pertama tidak ada masyarakat yang perkembangannya berhenti
karena setiapmasyarakat mengalami perubahan secara cepat ataupun lambat. Kedua
perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan akan diikuti perubahan pada
lembaga sosial yang ada. Ketiga perubahan yang berlangsung cepat biasanya akan
mengakibatkan kekacauan sementara karena orang akan berusaha untuk
menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Keempat perubahan tidak dapat
dibatasi pada bidang kebendaan atau spiritual saja karena keduanya saling berkaitan.
Maasyarakat desa Talise memang belum terlalu mengacu pada karakteristik
peubahan-perubahan tersebut, tetapi pada desa Talise sudah mulai dijumpai
perubahan kea rah moderanisasi meskipun tidak terlalu sempurna.
4.1.2 Sebab-sebab Perubahan Sosial
Menurut Prof. Soerjono Soekamto ada dua penyebab terjadinya perubahan
sosial yaitu perubahan yang disebabkan oleh masyarakat itu sendiri (intern) dan dari
luar (ekstern). Dalam review jurnal, sebab-sebab perubahan sosial sama halnya
dengan pendapat Prof. Soerjono Soekamto. Ini dapat dilihat dari isi review jurnal yang
menjelaskan tentang penyebab perubahan sosial, seperti:
1. Sebab Intern
Merupakan sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain:
Dinamika penduduk, yaitu pertambahan dan penurunan jumlah penduduk di suatu
desa. Pertambahan penduduk akan menyebabkan perubahan pada tempat
tinggal. Dimana telah disebutkan bahwa laju pertumbuhan penduduk Talise rata-
rata adalah 6,56 persen. Faktor migrasi sepertinya cukup berperan dalam laju
pertumbuhan penduduk Talise yang cukup tinggi. Selain itu adanya faktor lain
yang menyebabkan pertambahan ini adalah peristiwa kelahiran dan pernikahan.
Terdapat penduduk Talise yang menikah dengan orang luar desa dan kemudian
menetap di desa Talise.
Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat, baik
penemuan yang bersifat baru (discovery) ataupun penemuan baru yang bersifat
menyempurnakan dari bentuk penemuan lama (invention). Pada desa Talise
telah dikembangkan model desentralisasi dan penguatan pengelolaan
sumberdaya pesisir yang berbasis-masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa desa
Talise telah mendapatkan penemuan-penemuan baru dibidang pengetahuan
pengelolaan sumberdaya pesisir yang berbasis-masyarakat.
Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya perubahan-perubahan
besar. Masyarakat Talise dengan pihak perusahaan, difasilitasi oleh Proyek Pesisir, telah
menghasilkan sebuah kesepakatan yang dikenal dengan Deklarasi Talise. Hasil kesepakatan ini
salah satunya adalah membolehkan masyarakat Talise untuk menangkap ikan di sekitar atau
didalam lokasi budidaya dengan syarat tidak mengganggu atau merusak kegiatan budidaya.
Kegiatan penangkapan ikan tersebut sebelumnya dilarang. Bahkan bagi masyarakat yang
melanggar dikenakan hukuman oleh pihak perusahaan. Dengan adanya kesepakatan tersebut
akses masyarakat Talise terhadap sumberdaya menjadi lebih besar.
2. Sebab Ekstern
Merupakan sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain:
Adanya peperangan.
Adanya kerusuhan di Maluku menyebabkan beberapa keluarga dari daerah
tersebut mengungsi di daerah Talise dan lama-kelamaan keluarga tersebut
menetap dan tinggal di desa Talise.
Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Bertemunya dua kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan perubahan. Di
desa Talise ada beberapa warga yang menikah dengan warga daerah lain. Hal
ini tentunya akan menyebabkan bertemunya dua kebudayaan yang berbeda.
Sehingga dapat muncul perubahan-perubahan sosial masyarakat desa Talise.
4.1.3 Bentuk-bentuk Perubahan Sosial
Perubahan adalah sebuah kondisi yang berbeda dari sebelumnya. Perubahan itu bisa
berupa kemajuan maupun kemunduran.
Bila dilihat dari sisi maju dan mundurnya, maka bentuk perubahan sosial dapat
dibedakan menjadi perubahan sebagai suatu kemajuan (progress) dan
perubahan sebagai kemunduran (regress).Pada desa Talise menunjukkan
bahwa terjadi perubahan sebagai suatu kemajuan (progress). Perubahan
sebagai suatu kemajuan merupakan perubahan yang memberi dan
membawa kemajuan pada masyarakat.
Hal ini tentu sangat diharapkan karena kemajuan itu bisa memberikan
keuntungan dan berbagai kemudahan pada manusia. Perubahan kondisi
masyarakat tradisional, dengan kehidupan teknologi yang masih sederhana,
menjadi masyarakat maju dengan berbagai kemajuan teknologi yang
memberikan berbagai kemudahan merupakan sebuah perkembangan dan
pembangunan yang membawa kemajuan. Jadi, pembangunan dalam
masyarakat merupakan bentuk perubahan ke arah kemajuan (progress).
Sesuai yang telah dijelaskan dalam review jurnal yaitu kegiatan produktif
paling utama penduduk desa Talise masih sama antara tahun 1997,
sedangkan pada tahun 2000 yaitu di bidang perikanan dan jumlah rumah
tangga yang mata pencaharian utamanya di bidang perikanan ini mengalami
peningkatan yang sangat besar.
Jika dilihat dari proses berlangsungnya, menurut Soerjono Soekamto perubahan dapat dibedakan
menjadi Evolusi dan Revolusi (perubahan lambat dan perubahan cepat). Pada desa Talise,
perubahan terjadinya secara lambat, sehingga dikatakan evolusi. Lebih tepatnya lagi sesuai
teori Soerjono Soekamto yaitu Unilinier Theories of Evolution. Dimana teori ini menyatakan
bahwa manusia dan masyarakat mengalami perkembangan sesuai dengan tahap-tahap
tertentu, dari yang sederhana menjadi kompleks dan sampai pada tahap yang sempurna.
Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa laju perekonomian masyarakat desa Talise tiap
tahunnya mengalami peningkatan.
Jika dilihat dari ruang lingkupnya, perubahan sosial dibagi menjadi dua, yaitu perubahan social
yang berpengaruh besar dan perubahan sosial yang berpengaruh kecil. Pada desa Talise
perubahan sosial mengalami pengaruh yang besar. Perubahan besar adalah perubahan yang
terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang membawa pengaruh langsung atau pengaruh
berarti bagi masyarakat. Contoh nyata yaitu dampak dari jumlah penduduk yang semakin
meningkat akibat banyaknya migrasi dan dampak dari dijadikannya desa Talise sebagai desa
proyek pengembangan model desentralisasi dan penguatan pengelolaan sumberdaya wilayah
pesisir yang berbasis-masyarakat.
Jika dilihat dari keadaan nya, perubahan sosial dibagi menjadi dua yaitu, perubahanyang
Direncanakan dan Tidak Direncanakan. Pada desa Talise terjadi perubahan yang
direncanakan dan perubahan yang tidak direncanakan, yaitu:
1. Perubahan yang dikehendaki atau direncanakan
Perubahan yang dikehendaki atau yang direncanakan merupakan
perubahan yang telah diperkirakan atau direncanakan terlebih dahulu
oleh pihak-pihak yang hendak melakukan perubahan di masyarakat.
Pihak-pihak tersebut dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau
sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat untuk
memimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan yang
bertujuan untuk mengubah suatu sistem sosial. Contoh pada desa Talise
yaitu menjadikan desa Talise sebagai desa proyek pengembangan model
desentralisasi dan penguatan pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir
yang berbasis-masyarakat.
2. Perubahan yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan
Perubahan yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan
merupakanperubahan yang terjadi di luar jangkauan pengawasan
masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang
tidak diharapkan. Contoh nyata yaitu adanya kerusuhan di Maluku yang
menyebabkan beberapa keluarga mengungsi di desa Talise dan ada pula
imigran serta adanya kelahiran dan perkawinan beda daerah yang dapat
menyebabkan perubahan sosial.
4.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan Sosial Budaya
Terjadinya sebuah perubahan tidak selalu berjalan dengan lancar, meskipun
perubahan tersebut diharapkan dan direncanakan. Terdapat faktor yang mendorong
sehingga mendukung perubahan, tetapi juga ada faktor penghambat sehingga
perubahan tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Pada desa Talise tentunya ada
beberapa faktor pendorong perubahan sosial dan faktor penghambat perubahan
sosial, faktor-faktor tersebut yaitu:
Faktor pendorong perubahan Sosial
Faktor pendorong merupakan alasan yang mendukung terjadinya perubahan.
Menurut Soerjono Soekanto ada sembilan faktor yang mendorong terjadinya
perubahan sosial, yaitu:
Terjadinya kontak atau sentuhan dengan kebudayaan lain.
Bertemunya budaya yang berbeda menyebabkan manusia saling
berinteraksi dan mampu menghimpun berbagai penemuan yang telah dihasilkan,
baik dari budaya asli maupun budaya asing, dan bahkan hasil perpaduannya. Hal
ini dapat mendorong terjadinya perubahan dan tentu akan memperkaya
kebudayaan yang ada.
Sistem pendidikan formal yang maju
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang bisa mengukur tingkat
kemajuan sebuah masyarakat. Pendidikan telah membuka pikiran dan
membiasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini akan
memberikan kemampuan manusia untuk menilai apakah kebudayaan
masyarakatnya memenuhi perkembangan zaman, dan perlu sebuah perubahan
atau tidak.
Sikap menghargai hasil karya orang dan keinginan untuk maju.
Sebuah hasil karya bisa memotivasi seseorang untuk mengikuti jejak karya.
Orang yang berpikiran dan berkeinginan maju senantiasa termotivasi untuk
mengembangkan diri
Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang.
Penyimpangan sosial sejauh tidak melanggar hukum atau merupakan
tindak pidana, dapat merupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial budaya.
Untuk itu, toleransi dapat diberikan agar semakin tercipta hal-hal baru yang
kreatif.
Sistem terbuka dalam lapisan-lapisan masyarakat.
Open stratification atau sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial
vertikal atau horizontal yang lebih luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat
tidak lagi mempermasalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan
sesamanya. Hal ini membuka kesempatan kepada para individu untuk dapat
mengembangkan kemampuan dirinya.
Penduduk yang heterogen.
Masyarakat heterogen dengan latar belakang budaya, ras, dan ideologi
yang berbeda akan mudah terjadi pertentangan yang dapat menimbulkan
kegoncangan sosial. Keadaan demikian merupakan pendorong terjadinya
perubahan-perubahan baru dalam masyarakat untuk mencapai keselarasan
sosial.
Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu
Rasa tidak puas bisa menjadi sebab terjadinya perubahan. Ketidakpuasan
menimbulkan reaksi berupa perlawanan, pertentangan, dan berbagai gerakan
revolusi untuk mengubahnya
Orientasi ke masa depan
Kondisi yang senantiasa berubah merangsang orang mengikuti dan
menyesusikan dengan perubahan. Pemikiran yang selalu berorientasi ke masa
depan akan membuat masyarakat selalu berpikir maju dan mendorong
terciptanya penemuan-penemuan baru yang disesuaikan dengan perkembangan
dan tuntutan zaman.
Nilai bahwa manusia harus selalu berusaha untuk perbaikan hidup.
Usaha merupakan keharusan bagi manusia dalam upaya memenuhi
kebutuhannya yang tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang
terbatas. Usaha-usaha ini merupakan faktor terjadinya perubahan.
Faktor penghambat perubahan
Banyak faktor yang menghambat sebuah proses perubahan. Menurut Soerjono
Soekanto, ada delapan buah faktor yang menghalangi terjadinya perubahan sosial,
yaitu:
1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat.
3. Sikap masyarakat yang mengagungkan tradisi masa lampau dan cenderung
konservatif.
4. Adanya kepentingan pribadi dan kelompok yang sudah tertanam kuat
(vestedinterest).
5. Rasa takut terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan dan menimbulkan
perubahan pada aspek-aspek tertentu dalam masyarakat.
6. Prasangka terhadap hal-hal baru atau asing, terutama yang berasal dari Barat.
7. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis.
8. Adat dan kebiasaan tertentu dalam masyarakat yang cenderung sukar diubah.
4.2 Hubungan aspek-aspek perubahan sosial pada masyarakat dengan jurnal
penelitian perubahan sosial masyarakat desa Talase sebelum dan sesudah
adanya proyek.
Yang dimaksud dengan aspek-aspek perubahan yaitu menyangkut tentang perubahan khusus
dalam masyarakat desa yang diperkirakan penting untuk memahami kehidupan masyarakat desa. Hal ini
dapat memperdalam pemahaman tentang dinamika kehidupan desa. Aspek-aspek sosial pada
masyarakat desa yang meliputi berbagai macam hal yang menyebabkan perubahan sosial pada
masyarakat desa. Aspek aspek itu diantaranya adalah :
a) Urbanisasi dan Perkembangan Masyarakat Desa
Urbanisasi, terlebih dalam artinya sebagai proses pengotaan, adalah suatu bentuk khusus modernisasi.
Dengan kata lain, konsep modernisasi yang sangat luas cakupan pengertiannya itu mendapatkan bentuknya
yang khusus di pedesaan dalam konsep urbanisasi. Sebagaimana diketahui urbanisasi adalah proses pengotaan
(proses mengotanya suatu desa), proporsi penduduk yang tinggal di desa dan di kota, dan perpindahan
penduduk dari desa ke kota (urbanward migration).
b) Perubahan Kultural
Perubahan kultural (kebudayaan) adalah perubahan kebudayaan masyarakat desa dari pola tradisional
menjadi bersifat modern. Dalam hal ini yang dimaksud adalah kebudayaan desa yang awalnya bersifat
tradisional mulai dari alat yang digunakan, ideologi, pendidikan, sedikit demi sedikit menjadi berkembang ke arah
yang lebih modern.
c) Perubahan Struktural
Struktur adalah bagaimana bagian-bagian dari sesuatu berhubungan satu dengan lain atau bagaimana
sesuatu tersebut disatukan. Struktur adalah sifat fundamental bagi setiap sistem. Identifikasi suatu struktur
adalah suatu tugas subjektif, karena tergantung pada asumsi kriteria bagi pengenalan bagian-bagiannya
dan hubungan mereka. Karenanya, identifikasi kognitif suatu struktur berorientasi tujuan dan tergantung
pada pengetahuan yang ada.
d) Perubahan Lembaga dan Kelembagaan
Lembaga adalah sebagai wahana untuk memenuhi kebutuhan dalam suatu masyarakat. Dalam kaitan ini
kelembagaan adalah sebagai wujud dari suatu tindakan bersama (Collective action). Jadi jika suatu masyarakat
menginginkan suatu kebutuhan baru dan beragam maka secara otomatis lembaga lama akan tidak berfungsi
lagi.
e) Perubahan dan Pembangunan dalam Bidang Pertanian
Perubahan dan pembangunan di bidang pertanian tidak lepas dari perubahan yang ada di dunia ini
khususya dalam IPTEK dan teknologi yang menunjang peningkatan dalam sector pertanian.
Pada jurnal penelitian terhadap perubahan pengetahuan dan perilaku masyarakat Desa Talise terhadap
adanya proyek Pesisir, yang merupakan bagian dari Program Pengelolaan Sumberdaya Alam (NRM II,USAID
BAPPENAS), tidak terlalu ditemukan aspek-aspek perubahan sosial seperti yang ada literatur buku serjono
soekamto.
Urbanisasi dan Perkembangan Masyarakat Desa
Ditinjau dari aspek urbanisasi, pada hasil penelitian terhadap masyarakt desa Talise ditemukan
kesesuaian aspek urbanisasi itu sendiri. Aspek urbanisaasi sendiri yang memiliki arti sebagai proses
pengotaan, adalah suatu bentuk khusus modernisasi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian pada desa
Talise. Pada masyarakat desa talise dewasa ini telah ditemukan banyak masyarakat yang memiliki
pengetahuan-pengetahuan maju dan cenderung modern. Hal ini disebabkan oleh makin berkembang nya
proyek-proyek pabrik yang banyak melibatkan warga desa Talise sehingga banyak masyarakat nya yang
semakin bnerpikiran maju. Pada ddesa Talise tidak terdpat perbedaan pengetahuan antar pria dan wanita.
Hal ini saja sudah menunjukkan kemajuan terhadap masyarakat desa itu sendiri. Selain itu pada desa
Talise telah banyak dijumpai perempuan-perempuan yang bekerja dan mengikuti proyek. Hal ini juga
menunjukkan pengotaan pada desa Talise, klarena para perempuan di desa tidak lagi hanya bertugas di
dapur seperti halnya waniat desa pada umumnya. Hal ini menunjukkan adanya aspek urbanisasi pada
desa Talise.
Perubahan Kultural
Aspek perubahan kultural yang merupakan perubahan kebudayaan pada masyarakat desa,
Perubahan kultural (kebudayaan) adalah perubahan kebudayaan masyarakat desa dari pola tradisional
menjadi bersifat modern. Dalam hal ini yang dimaksud adalah kebudayaan desa yang awalnya bersifat
tradisional mulai dari alat yang digunakan, ideologi, pendidikan, sedikit demi sedikit menjadi berkembang
ke arah yang lebih modern.
Aspek perubahan ini telah ural pada desa Talise. Hal ini dapat dilihat dari telah banyaknya wanita
yang mengikuti berbagai kegiatan proyek, maupun mengikuti bekerja dalam budidaya mutiara, atau juga
dalam pengolahan perikanan. Kebudayaan masyarakat pedesaan yang cenderung menyuruh wanita
berdiam diri di rumah, memasak, tidak perlu berpengetahuan tinggi, sirna sudah. Masyarakat desa Talise
sekarang ini semakin banyak menggunakan tenaga kerja baik priya ataupun wanita. Sehinggan dapat
diartikan bahwa sedikit demi sedikit desa Talise telah mengalami perubahan kebudayaan.
Perubahan Struktural
Aspek Perubahan structural merupakan aspek yang merubah struktur-
struktur pada sebuah Desa. Gambaran tentang pola pemukiman masyarakat
desa dalam Bab IV dalam garis besarnya membedakan pola pemukiman
mengelompok
(the farm village type) dengan pola pemukiman memencar (the pure and
arranged isolated farm type). Yang pertama menjadi ciri pola
pemukimanAsia umumnya dan yang ke dua menjadi ciri umum
pola pemukiman Barat. Dalam kerangka perspektif evolusioner
pemilahan ini bi sa memberi kesan bahwa pol a pemukiman
mengelompok tersebut adalah pola pemukiman masyarakat desa
tradisional, sedang pola pemukimanmenyebar adalah pola pemukiman yang
modern. lebih lanjut, kerangkapemikiran semacam ini juga akan mendorong
pada kesimpulan bahwa dalam proses perkembangan yang terjadi. maka pola
pemukiman mengelompok akan berubah
,
ke arah pola pemukiman
memencar. Kesimpulan semacam ini tidaklah benar. Mengapa terjadi pola
pemukiman yang bersifat mengelompok maupun memencar lebih tepat
dijelaskan lewat determinan lainnya daripada dijelaskan berdasar tingkat
kemajuan masyarakatnya. Setidaknya secara teoritis dapat dirumuskan
bahwa untuk daerah-daerah yang tingkat kepadatan penduduknya
rendah, pemilikan tanah per petani luas dan tingkat kesuburan tanah
yang rendah, akan cenderung menciptakan pola pemukiman menyebar
(pola pemukim berjauhan satu sama l ai n). Sebal i knya, untuk daerah-
daerah yang ti ngkat kepadatan penduduknya tinggi, pemilikan tanah per
petani sempit, dan tingkat kesuburan tanahnya tinggi, akan cenderung
menciptakan pola pemukiman mengelompok.
Yang perlu mendapat perhatian adalah gejala semakin pecahnyadesa
sebagai suatu unit kesatuan komunitas kecil seiring
denganperkembangan yang terjadi. Pola pemukiman mengelompok (the
farmvillage type) hakekatnya merupakan gambaran desa pada
tingkati sol asi yang masi h t i nggi . Dal am kondi si semacam i ni ,
pol apemukiman tersebut sangat berpengaruh pada organisasi
sosialmasyarakatnya. Sementara dalam proses perkembangan yang
terjadisaat ini, tingkat keterisolasian semacam itu telah tidak dapat
bertahanlagi. Hal ini disebabkan ol eh semakin menyebar dan
meluasnyajaringan transportasi dan komunikasi beserta beragai media
massanya, di samping semakin intensifnya sistem ekonomi kapitalisme
yangbersifat global.
Sejalan dengan perkembangan ini, maka desa tidak lagi sangat
tergantung pada sektor pertanian. Desa semakin berubah menjadi bagian
dari sistem sosial -ekonomis dari masyarakat yang lebih besar. Desa-
desa di Indonesia, yang umumnya berpola mengelompok(the farm
village type), semula juga merupakan suatu komunitas kecil yang padu
secara sosial. Terlebih di luar Jawa yang kebanyakan diperkuat oleh
ikatan kekeluargaan, kehidupan sosialnya menjadi sangat kuat. Oleh
karena itu, dalam sifatnya yang demikian ini, desa-desa itu menjadi basis dari
unit pembangunan, dengan tujuan agar mendapatkan tumpuan yang
kuat dari masyarakat. Badan Usaha Unit Desa (BUUD).
Bagaimana dan sejauh mana proses perubahan berpengaruh
terhadap struktur horisontal masyarakat desa? Sebagaimana telah
dikemukakan dalam Bab IV, kelompok yang sangat penting
danrupakan komponen utama struktur horisontal masyarakat desa alah
keluarga, ketetanggaan (neighborhood), dan komunitas (desa). Dari ke tiga
kelompok itu keluarga adalah merupakan kelompok yang keluarganyayang
sangat besar pengaruhnya terhadap dimensi struktur horisontal
masyarakat desa. Untuk desa yang masih sangat bersahaja, keluarga
dapat mengendal ikan peri laku warga desa bai k secara perorangan
maupun kelompok.
Dari keputusan memilih pasangan hidup, penentuan saat dan
upacara pernikahan, sampai masalah agama, kepercayaan, atau bahkan
pandangan hidup, semuanya berada dalam pengendalian keluarga.
Kekuasaan keluarga semacam ini, yang oleh D. Sanderson disebut family
control, merembes sampai ke tingkat tetanggaan dan komunitas. Artinya,
baik ketetanggaan maupun komunitas adalah merupakan semacam
kepanjangan tangan keluaryang memberikan kondisi bagi terlaksananya
proses pengendalian luarga (family control). Dengan demikian ke tiga
kelompok itu bukanlah kelompok-kelompok yang terdeferensiasi
sebagaimana laziimnya yang terdapat di kota-kota, melainkan saling
melengkapi satu sama lain. Terlebih untuk masyarakat desa yang grasinya
didasarkan atas ikatan darah (genealogic), pengaruh family
control tersebut lebih kuat lagi.
Ditinjau dari aspek perubahan structural, yang merupakan aspek-aspek peruabahan keadaan desa
ataupun perubahan pekerjaan masyarakat desa, jika dibandingkan dengan rangkupan penelitian jurnal
dapat dikataka hampir sama, atau sesuai. Karena pada rangkuman jurnal ditemui bahwa pada desa Talise
telah dijumpai semaki n menyebar dan mel uasnyajaringan transportasi dan komunikasi beserta
beragai media massanya, di samping semakin intensifnya sistem ekonomi kapitalisme yang bersifat
global. Sejalan dengan perkembangan ini, desa Talise tidak lagi sangat tergantung pada sektor
pertanian. Desa semakin berubah menjadi bagian dari si stem sosi al -ekonomis dari masyarakat
yang lebih besar. Desa talise, telah banyak mengikuti berbagai macam pekerjaan yang
berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan pengertian perubahan struktural yang terdapat pada
tinajauan pustaka.
Perubahan Lembaga dan Kelembagaan
Perubahan kelembagaan pada desa Talise mengalami perubahan pada tiap lembaganya. Hal ini
disamping adanya bantuan dari pemerintah juga akibat adanya proyek-proyek yang dilakukan oleh para
peneliti-peneliti demi kemajuan dan desa Talise itu sendiri.Saat ini pengelompokan seperti
pengelompokan proyek telah juga membentuk lembaga lembaga lembaga modern. Hal ini sesuai denagn
buku Soerjono soekamto yang mengatakan bahwa perubahan kelembagaan diantaranya adal ah yang
berkai tan dengan pengaruh moderni sasi . Sejalan dengan proses modernisasi yang sedang terjadi,
terjadi pula bahan atau pergantian dari lembaga-lembaga lama yang bersifat tradisional menjadi
atau digantikan oleh lembaga-lembaga baru yang modern.
Perubahan semacam ini bukan hanya menyangkut jenis atau lamanya, melainkan juga
karakteristik yang terlekat padanya. Lembaga atau kelembagaan lama umumnya dilandasi oleh
komunalisme masyarakat desa dan fungsi-fungsi yang membaur (diffused),sedangkan l embaga atau
kel embagaan baru l ebi h bertumpu pada i ndi vi dualitas dan diferensiasi fungsi . Lembaga atau
kelembagaan lama umumnya dilandasi oleh komunalisme masyarakat desa dan fungsi-fungsi yang
membaur , sedangkan l embaga atau kel embagaan baru l ebi h bertumpu pada i ndi vi dualitas dan
diferensiasi fungsi . di sini pada desa Talise kelembagaannya hampir mengikut dan menyesuaikan denag
hal tersebut karena adanya proyek-proyek dari perkotaan yang mengkibatkan masyarakat semakin
berpikiran maju.
Sedangkan aspek Perubahan dan pembangunan di bidang pada desa Talise tidak sesuai dengan
literatur buku. Hal ini disebabkan rata-rata pekerjaan pada masyarakat desa talise cenderung pada bidang
perikanan. Hal ini disebabkan letak desa talise sendiri yang meruapakan daerah pesisir pantai. Sehingga
pada aspek perubahan dan pengembangan pertanian tida sesuai dengan ajaran pada buku atau literatur.
5.3 Pembahasan Pembangunan
Banyak definisi mengenai arti pembangunan, salah satunya adalah proses perubahan secara
dimensional yang memuat peubahan-perubahan sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi
sosial Todaro. Disisi lain pembangunan dapat juga perubahan dari suatu kondisi nasional tertentu
menuju kondisi nasional lain yang lebih menyejahterakan (Saul M. Kant), dan dengan definisi tersebut
dapat kita mengartikan pembangunan sebagai proses transformasi yang lebih mengarah pada tujuan
yang lebih baik dan kemajuan atau perubahan sosial.
Dalam teori pembangunan (grand theory of development) senantiasa memiliki muatan, dalam
hal ini kita akan menggunakan definisi dari Todaro (1999) bahwa pilar pembangunan memiliki tiga inti :
kecukupan, jati diri (self esteem), dan kebebasan (freedom). Jika diterjemahkan lebih jauh, kecukupan
memiliki maksud bahwa terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar mulai dari sandang, pangan, papan,
kesehatan, pendidikan. Jati diri jika dikaji lebih jauh memiliki makna bahwa penemuan terhadap
konsepsi diri dan bagaimana menggunakannya sebagai doktrin dalam menjalani kehidupan (self
orientation). Yang terakhir adalah kebebasan atau kemampuan memilih, dan hal ini jika dijadikan
sebagai pandangan maka turunannya adalah pada terjewantahkannya hak-hak invidu pada persoalan
atau kondisi kebebasan politik, keamanan, kepastian akan hukum, kemerdekaan beraspirasi atau
berekspresi, tersalurkannya aspirasi secara politik, dan terdapatnya persamaan akan kesempatan-
kesempatan yang ada.
Otonomi daerah (otoda) No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah yang dicetuskan
juga belum terimplementasikan pada semua segmen pada lapisan masyarakat, mungkin ini pula yang
menjadi kelemahan pembangunan bangsa secara umum, dan pembangunan pedesaan secara
khususnya. Mengapa demikian, dikarenakan konsep-konsep tersebut terlalu mengawan-awan pada
kebutuhan kepentingan semata dan belum tersosialisasi dengan baik pada masyarakat dan masih
banyaknya birokrat belum mampu memaknai arti dan bagaimana mengimplemantasikannya, serta
instrumen apa yang mesti digunakan agar sasaran tercapai.
5.3.1 Bagaimana Membangun Desa
Pedesaan adalah perangkat negara yang secara administratif paling kecil dan sederhana di
seluruh nusantara ini kita mengenal misalnya nagari di Sumatera Barat, Huta di Sumatera
Utara, kampung di Kalimantan Barat, kampong di Sulawesi Selatan, Ngata di Sulawesi Tengah,
serta desa di Jawa dan Madura. Satuan-satuan sosial yang ada itu terbentuk atas dasar ikatan teritorial,
genealogis (keturunan) atau keduanya. Demikian pula luas wilayah mereka beragam ada yang sangat
luas ada pula yang tidak.
Dilihat dari arti pembangunan, pembangunan pada desa Talise ini cukup signifikan. Hail ini terlihat dari
perkembangan pengetahuan, partisipasi dan jenis kelamin, perubahan sosial ekonomi, perubahan persepsi
masyarakat terhadap masalah dan kualitas hidup, serta mengenai perubahan persepsi pengaruh kegiatan
manusia terhadap sumberdaya alam.
1) Pengetahuan, partisipasi dan jenis kelamin
Gambaran mengenai pengetahuan dan peran serta responden berdasarkan jenis kelamin pada
tabel pengamatan, perkembangan yang meningkat yaitu pengetahuan mengenai partisipasi dalam
penyusunan rencana pengolaan dan tahu proyek. Namun, pada keikutsertaan masyarakat dalam
organisasi proyek, cukup rendah. Sehingga pada desa ini tingkat pembangunannya cukup berjalan
lancar dalam kegiatan proyek namun lemah dalam kegiatan keorganisasiannya. Hali ini dapat
terjadi dikarenakan tingkat pengetahuan tentang keorganisasian kurang. Selain itu, dapat
disebabkan karena tingkat sumber daya manusianya tidak dapat mengikuti perkembangan
khususnya di bidang keorganisasian.
2) Perubahan sosial ekonomi
Pada segi sosial ekonomi, desa Talise mengalami laju pertumbuhan
ekonominya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk
di desa kontrolpada desa Taslise ini kegiatan yang produktif yaitu dibidang
perikanan dan pertanian sedangkan di desa control kegiatan produktif tetap di
bidang perikanan diikuti bidang-bidang lainnya. Kebalikan dengan Desa Talise,
persentase rumah tangga yang mata pencaharian paling utamanya di bidang
perikanan mengalami penurunan.
Karakteristik rumah tangga secara fisik digunakan sebagai ukuran
kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat. Untuk melihat perubahan ekonomi
yang terjadi pada tiap rumah tangga, maka skala MSL (Material Style of Life)
digunakan. Skala ini menggunakan 28 karakteristik rumah tangga yang disurvei
yang meliputi struktur rumah tangga seperti jendela, dinding, atap; juga fasilitas
rumah tangga seperti air ledeng, WC dan listrik; dan perabotan rumah tangga
seperti kompor, televisi, lemari dan sebagainya. Tabel 4 memperlihatkan bahwa
nilai-nilai MSL menunjukkan sedikit perubahan di Desa Talise. Komponen rumah
dan perabotan mengalami peningkatan sedangkan komponen fasilitas dan
struktur bangunan rumah tangga mengalami penurunan. Sementara di desa
kontrol, komponen rumah dan perabotan meningkat secara nyata komponen
fasilitas mengalami sedikit penurunan dan komponen struktur bangunan rumah
tangga mengalami sedikit peningkatan. Lewat fasilitasi dari proyek Pesisir
sebagian masyarakat Talise (220 KK) kini telah memiliki sertifikat kepemilikan
tanah. Walaupun mereka baru mendapatkan sertifikat untuk tanah pekarangan
namun hal ini sangat membantu. Seperti terlihat pada Tabel 5, mereka sudah
tidak takut lagi membangun rumah, merasa senang dan tidak khawatir lagi, dan
lain-lainnya.
3) Perubahan persepsi masyarakat terhadap masalah dan kualitas hidup
Di Talise, terdapat peningkatan jumlah responden yang menyatakan bahwa
keadaan rumah tangga mereka lebih baik dibandingan lima tahun yang lalu.
Pada tahun 1997 jumlah responden yang menyatakan hal tersebut sebesar 54
persen dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 64 persen. Perubahan persepsi
antara tahun 1997 dengan tahun 2000 tersebut berbeda nyata Persepsi
responden di desa-desa kontrol juga mengalami peningkatan. Responden yang
menyatakan mereka lebih baik pada tahun 1997 sebesar 20 persen dan tahun
2000 meningkat menjadi 54 persen. Alasan ekonomi merupakan alasan pertama
yang paling banyak dikemukakan responden, dalam hal perubahan persepsi
untuk kesejahteraan rumah tangga mereka, pada tanggapan pertama tahun
1997. Alasan ekonomi ini mengalami penurunan pada tahun 2000.
Namun demikian, alasan ekonomi ini tetap merupakan alasan yang paling
banyak dikemukakan responden. Alasan karena inflasi mengalami peningkatan
yang cukup besar. Alasan inflasi ini merupakan alasan kedua yang paling banyak
dikemukan responden Desa Talise pada tahun 2000. Tanggapan terhadap
pertanyaan mengenai anggapan responden menyangkut masalah hidup dapat
dilihat pada table pengamatan mengenaai anggapan terhadap masalah di alasan
pertama dalam desa Talise desa kontrol, responden yang menyatakan Tidak
ada masalah mengalami peningkatan yang besar. Di Desa Talise, alasan akses
pada sumberdaya merupakan alasan yang paling banyak dikemukakan pada
tahun 1997 dan pada tahun 2000 alasan tersebut tidak ada lagi.
4) Perubahan persepsi pengaruh kegiatan manusia terhadap sumberdaya alam
Pada bagian keyakinan terhadap sumberdaya, penting untuk menentukan
apakah kegiatan-kegiatan proyek berpengaruh pada persepsi anggota
masyarakat terhadap lingkungan pesisir atau tidak. Hasil analisis menunjukkan
bahwa proyek telah memiliki pengaruh yang sangat positif dan nyata pada
perubahan persepsi masyarakat di Desa Talise. Pengetahuan masyarakat Desa
Talise mengenai penggunaan bom dan akibat yang ditimbulkannya juga
mengalami peningkatan yang sangat nyata. Hal tersebut merupakan
pemahaman dan perilaku yang positif yang ditunjukkan masyarakat. Kegiatan-
kegaiatan proyek seperti pertemuan-pertemuan, pelatihan, presentasi, dan
pendidikan lingkungan hidup yang dilakukan di Desa Talise diduga berpengaruh
banyak terhadap perubahan persepsi ini.
Perusahaan budidaya mutiara merupakan salah satu lapangan kerja yang
ada di Desa Talise dan desa sekitarnya. Walaupun sudah terdapat Deklarasi
Talise (kesepakatan penyelesaian konflik antara masyarakat dengan pihak
perusahaan) tapi masih terdapat masyarakat yang menganggap perusahaan
budidaya mutiara ini merugikan. Masyarakat yang merasa dirugikan adalah para
nelayan karena kehadiran perusahaan di lingkungan mereka menyebabkan area
penangkapan menjadi terbatas.
Dalam mengelola lingkungan pedesaan ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam
mengeksplorasi. Komponen-komponen yang dapat menjadi alat perhatian, bahwa komponen
penting pedesaan adalah jenis pekerjaan, lingkungan alam, ukuran komunitas, kepadatan
penduduk, heterogenitas dan homogenitas penduduk, diferensiasi dan stratifikasi sosial, mobilitas
sosial dan sistem interaksi sosial.
Mengamati komponen yang pertama adalah jenis pekerjaan, rata-rata pekerjaan yang digeluti
masyarakat pedesaan adalah bertani, berkebun, dll, dengan memanfaatkan sumber daya alam
yang ada seperti hutan, air, dan lahan yang belum terkelola. Pekerjaan mereka rata-rata secara
fungsional dalam artian lahan garapan berdekatan dengan rumah tinggal. Komponen desa yang
kedua adalah hubungan masyarakat dengan lingkungan alam sekitar dimana ai menetap atau
bermukim, sifat dari pekerjaan pertanian yang didominasi secara pelaku oleh penduduk desa
berada dalam ruang terbuka. Sedangkan komponen desa yang ketiga adalah besaran ukuran
komunitas, jika ditinjau dari besaran komunitas masyarakat pedesaan maka besarannya tidak
sepadat jika dibandingkan dengan wilayah perkotaan, hal ini dikarenakan sifat dasar dari sistem
pertanian telah menghambat terciptanya konsentrasi penduduk petani dalam komunitas besar
dengan ribuan penduduk, dan sifat fundamental lainnya rata-rata petani yang bermukim di
pedesaan karena keberadaan lahan mengharuskan petani berada secara permanen dekat lahan
pertaniannya.
Gambaran penduduk pedesaan juga sangatlah homogen hal ini dapat dimaklumi dikarenakan
mereka lahir dan dibesarkan di wilayah tersebut, adapun yang menjadi titik homogenitas mereka
pada wilayah pekerjaan, ras, pendidikan dan gaya hidup (life style) dan ditopang kuat oleh sistem
interaksi sosial antara komunitas dengan komunitas kurang terjalin sehingga interaksi internal
semakin kuat dengan gambaran demikian maka diferensiasi sosial ditingkat pedesaan sangat
kurang aktual, dengan kondisi cenderung terkungkung demikian maka mobilitas sosial dari
masyarakat semakin mengarah pada alur urbanisasi dengan pengharapan perubahan kehidupan
yang lebih dan memberikan masalah tersendiri bagi kehidupan perkotaan.
Selain yang demikian diatas kemandirian lokal masyarakat pedesaan perlu pula menjadi
sorotan sebagai pilar membangun wilayah pedesaan. Dasar kemandirian lokal seperti yang
digambarkan mantan rektor Universitas Hasanuddin, Radi A Gany bahwa kemandirian lokal dapat
dijadikan kesimpulan subjek pembangunan yang dapat mencakup orang perorangan, kelompok,
daerah, dan kawasan dalam hal : pengelolaan potensi dan sumber daya lokal, pemeliharaan akan
kelestarian dan fungsi kualitas lingkungan hidup, dan pengembangan kerjasama dengan subjek
pembangunan lainnya dalam suatu kesatuan masyarakat.
5.3.2 Pemberdayaan Masyarakat Sebagai Solusi
Telah dimaklumi bahwa pembangunan pedesaan telah sedikit mengalami kemajuan namun
masih banyak kendala yang menjadi hambatan dan masih perlu mendapat perhatian guna
pembenahan. Kendala-kendala tersebut antara lain a). Terbatasnya lapangan pekerjaan diluar
sektor pertanian, b). Lemahnya keterkaitan kegiatan ekonomi, baik secara sektoral maupun spasial,
ataupun hubungan antara pedesaan dan kota, c). Masih rendahnya kualitas sumberdaya manusia
di pedesaan, d). Rendahnya kualitas sarana dan prasarana, serta pelayanan di wilayah pedesaan,
e). Lemahnya kelembagaan dan organisasi berbasis masyarakat, f). Lemahnya koordinasi antar
bidang dalam pembangunan pedesaan.
Hakikat pembangunan masyarakat adalah pembangunan dari bawah (bottom-up), dalam artian
membangun dengan menjadikan masyarakat yang dominan masyarakat petani dengan berbasis
pada pedesaan. Banyak instrumen yang dapat dijadikan jembatan dalam mencapai pembangunan
masyarakat pedesaan antara lain, kesamaan sinergi konsep antara Lembaga Swadaya Masyarakat
dengan lembaga pemerintah. Disatu sisi terjadi pengawasan atas kondisi yang terjadi pada
masyarakat pedesaan dan disisi lain terdapat monitoring yang dilakukan pemerintah yang memiliki
keterbatasan dalam sumber daya dan dalam menjangkau wilayah-wilayah pedesaan.
Perlu dilirik bahwa sebenarnya masyarakat pedesaan terkadang bukan modal berupa dana
segar atau bantuan hibah yang mereka perlukan akan tetapi bagaimana menemukan dan
menumbuhkan semangat hidup. Dengan perpaduan elemen Lembaga non Government dan sinergi
dengan pemerintah diharapakan akan menjadi pemicu pembangunan, karena pilar-pilar tersebut
masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada pembangunan masyarakat pedesaan
memadukan pertumbuhan dan pemerataan guna mencapai kesejahteraan dan tercapainya konsep
atas bottom-up,dalam artian pemberdayaan yang kita pahami bersama adalah sebuah konsep
pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Pemberdayaan juga meliputi penguatan
individu sebagai anggota masyarakat, tetapi juga pranata-pranata yang ada di dalam masyarakat
dan demikian pula dengan institusi-institusi sosial yang dimiliki masyarakat pedesaan. Tapi perlu
menjadi catatan bahwasanya pemeberdayaan masyarakat pedesaan bukan menjadi sebuah
ketergantungan pada berbagai program akan tetapi menjadi kemandirian atas diri masyarakat,
memampukan, dan membagun kemampuan untuk memajukan diri menuju kehidupan yang lebih
baik, bermartabat dan tentunya memiliki jati dirinya sendiri sebagai doktrin membenahi hidup.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil makalah ini dapat ditarik kesimpulan yaitu perubahan sosial dapat
disimpulkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi akibat adanya
ketidaksesuaian diantara unsur-unsur yang saling berbeda yang ada dalam kehidupan
sosial sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang tidak serasi fungsinya bagi
masyarakat yang bersangkutan.
Selain itu kesimpulan yang dapat penulis temukan dari makalah ini adalah
setiap masyarakat senantiasa berada dalam proses sosial, dengan kata lain perubahan-
perubahan sosial merupakan gejala yang melekat di setiap masyarakat dapat diketahui
dengan membandingkan keadaan masyarakat pada suatu waktu tertentu dengan
keadaannya pada masa lampau.
Tidak ada satu pun perubahan sosial yang tidak membawa pengaruh bagi
masyarakat. Perubahan sosial akan membawa pengaruh positif bagi kehidupan
masyarakatnya, tetapi juga berdampak negatif. Dampak atau akibat dari perubahan
sosial yaitu semakin kompleksnya alat dan perlengkapan dalam memnuhi kebutuhan
hidup,majunya teknologi diberbagaibidang kehidupan, industri berkembang maju,
tercipta stabilitas politik,meningkatkan tarap hidup masyarakat, dan sebagainya.
5.2 Saran
Dari pembahasan mengenai perubahan sosial ini, kami menyarankan agar masyarakat
desa mampu mengenali karakteristik desanya agar mampu mengikuti perubahan sosial
tanpa mengubah struktur desa tersebut. Sehingga unsur dari desa tersebut tidak hilang dan
masih mampu mempertahankan aspek-aspek yang ada dalam desa tersebut.