Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I
PENDAHULUAN
Sistem muskuloskeletal manusia merupakan jalinan berbagai jaringan, baik itu
jaringan pengikat, tulang maupun otot yang saling berhubungan, sangat khusus, dan
kompleks. Fungsi utama sistem ini adalah sebagai penyusun bentuk tubuh dan alat
untuk bergerak.
1
Oleh karena itu, jika terdapat kelainan pada sistem ini maka kedua
fungsi tersebut juga akan terganggu. Infeksi muskuloskeletal merupakan penyakit
yang umum terjadi dapat melibatkan seluruh struktur dari sistem muskuloskeletal dan
dapat berkembang menjadi penyakit yang berbahaya bahkan membahayakan jiwa.
2

Osteomielitis adalah infeksi tulang dan sumsum tulang. Osteomielitis akut
terutama ditemukan pada anak-anak. ulang yang sering terkena ialah femur bagian
distal, tibia bagian proksimal, humerus, radius dan ulna bagian proksimal dan distal,
serta !ertebra. Osteomielitis masih merupakan permasalahan di negara kita karena
hal-hal berikut.
",#
- ingkat higienis yang masih rendah dan pengertian mengenai pengobatan
yang belum baik.
- $iagnosis yang sering terlambat sehingga biasanya berakhir dengan
osteomielitis kronis.
- Fasilitas diagnostik yang belum memadai di puskesmas.
- %ngka kejadian tuberkulosis di Indonesia pada saat ini masih tinggi sehingga
kasus-kasus tuberkulosis tulang dan sendi juga masih tinggi.
- &engobatan osteomielitis memerlukan waktu yang 'ukup lama dan biaya
tinggi.
- (anyaknya penderita dengan fraktur terbuka yang datang terlambat dan
biasanya datang dengan komplikasi osteomielitis.
2
BAB II
ISI
2.1. DEFINISI OSTEOMIELITIS
Osteomielitis )berasal dari kata osteo dan mielitis* adalah radang
tulang yang disebabkan oleh organisme piogenik, walaupun berbagai organ infeksi
lain juga dapat menyebabkannya. Ini dapat tetap terlokalisasi atau dapat tersebar
melalui tulang, melibatkan sumsum, korteks, jaringan kanselosa, dan periosteum.
"
3
+ambar 1. +ambaran patosiologi osteomielitis
,

2.2. KLASIFIKASI OSTEOMIELITIS
Osteomielitis se'ara umum dapat diklasifikasikan berdasarkan
perjalanan klinis, yaitu osteomielitis akut, subakut, dan kronis. -al tersebut
tergantung dari intensitas proses infeksi dan gejala yang terkait.
,
2.2.1. Osteomielitis Hematogen Akt
Osteomielitis hematogen akut merupakan infeksi tulang dan sumsum tulang
akut yang disebabkan oleh bakteri piogen di mana mikroorganisme berasal dari fokus
di tempat lain dan beredar melalui sirkulasi darah. .elainan ini sering ditemukan
pada anak-anak dan sangat jarang pada orang dewasa. $iagnosis yang dini sangat
penting oleh karena prognosis tergantung dari pengobatan yang tepat dan segera.
/
a* 0tiologi
Sebanyak 12 3 disebabkan oleh Stafilokokus aureus hemoliticus
)koagulasi positif* dan jarang oleh streptokokus hemolitikus. &ada anak umur di
bawah # tahun sebanyak ,2 3 disebabkan oleh Hemofilus influenza. %dapun
4
organisme lain seperti B. Colli, B. Aerogenus kapsulata, Pneumococcus sp,
Salmonella tifosa, Pseudomonas aerogenus, Proteus mirabilis, Brucella sp, dan
bakteri anaerobik yaitu Bakteroides fragilis juga dapat menyebabkan
osteomielitis hematogen akut.
2,,,4
Faktor predisposisi osteomielitis akut adalah sebagai berikut.
,
5mur, terutama mengenai bayi dan anak-anak
6enis kelamin, lebih sering pada laki-laki daripada wanita
dengan perbandingan #71.
rauma, hematogen akibat trauma pada daerah metafisis,
merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya
osteomielitis hematogen akut.
8okasi, osteomielitis hematogen akut sering terjadi pada
daerah metafisis karena daerah ini merupakan daerah aktif
tempat terjadinya pertumbuhan tulang.
9utrisi, lingkungan dan imunitas yang buruk serta adanya
fokus infeksi sebelumnya )seperti bisul, tonsilitis* merupakan
faktor predisposisi osteomielitis hematogen akut.
2,"
b* &atologi dan &atogenesis
&enyebaran osteomielitis terjadi melalui dua 'ara, yaitu sebagai
berikut.
,,:
1. &enyebaran umum
;elalui sirkulasi darah berupa bakterimia dan
septikemia
;elalui embolus infeksi yang menyebabkan infeksi
multifokal pada daerah-daerah lain.
2. &enyebaran lokal
Subperiosteal abses akibat penerobosan abses melalui
periostium
Selulitis akibat abses subperiosteal menembus sampai di
bawah kulit
&enyebaran ke dalam sendi sehingga terjadi artritis
septik.
5
&enyebaran ke medula tulang sekitarnya sehingga
sistem sirkulasi dalam tulang terganggu. -al ini
menyebabkan kematian tulang lokal dengan
terbentuknya tulang mati yang disebut sekuestrum.
+ambar 2. Skema perjalanan penyakit osteomielitis
2
+ambar skematis perjalanan penyakit osteomielitis
a* Fokus infeksi pada lubang akan berkembang dan pada tahap ini
menimbulkan edema periosteal dan pembengkakan jaringan lunak.
b* Fokus kemudian semakin berkembang membentuk jaringan eksudat
inflamasi yang selanjutnya terjadi abses subperiosteal serta selulitis di
bawah jaringan lunak
'* Selanjutnya terjadi ele!asi periosteum diatas daerah lesi, infeksi
menembus periosteum dan terbentuk abses pada jaringan lunak di mana
abses dapat mengalir keluar melalui sinus pada permukaan kulit. 9ekrosis
tulang akan menyebabkan terbentuknya sekuestrum dan infeksi akan
berlanjut kedalam ka!um medula.
6
&atologi yang terjadi pada osteomielitis hematogen akut tergantung
pada umur, daya tahan penderita, lokasi infeksi serta !irulensi kuman. Infeksi
terjadi melalui aliran darah dari fokus tempat lain dalam tubuh pada fase
bakterimia dan dapat menimbulkan septikemia.
1
0mbolus infeksi kemudian
masuk kedalam juksta epifisis pada daerah metafisis tulang panjang. &roses
selanjutnya terjadi hiperemi dan edema didaerah metafisis disertai
pembentukan pus. erbentuknya pus menyebabkan tekanan dalam tulang
bertambah. &eninggian tekanan dalam tulang mengakibatkan terganggunya
sirkulasi dan timbul trombosis pada pembuluh darah tulang yang akhirnya
menyebabkan nekrosis tulang. $i samping itu pembentukan tulang baru yang
ekstensif terjadi pada bagian dalam periosteum sepanjang diafisis )terutama
anak-anak* sehingga terbentuk suatu lingkungan tulang seperti peti mayat
yang disebut in!olu'rum dengan jaringan sekuestrum didalamnya. &roses ini
terlihat jelas pada akhir minggu kedua. %pabila pus menembus tulang, maka
terjadi pengaliran pus )discharge* dari in!olu'rum keluar melalui lubang yang
disebut kloaka atau melalui sinus pada jaringan lunak dan kulit.
&ada tahap selanjutnya akan berkembang menjadi osteomielitis kronis.
&ada daerah tulang kanselosa, infeksi dapat terlokalisir serta diliputi oleh
jaringan fibrosa yang membentuk abses tulang kronik yang disebut abses
(rodie.
",,
'* +ambaran .linis
Osteomielitis hematogen akut berkembang se'ara progresif atau 'epat.
&ada keadaan ini mungkin dapat ditemukan adanya infeksi bakterial pada kulit
dan saluran napas atas. +ejala lain dapat berupa nyeri yang konstan pada daerah
infeksi, nyeri tekan, dan terdapat gangguan fungsi anggota gerak yang
bersangkutan.
+ejala-gejala umum timbul akibat bakterimia dan septikemia berupa
panas tinggi, malaise serta nafsu makan yang berkurang. &ada pemeriksaan
7
fisik ditemukan adanya gejala nyeri tekan dan gangguan pergerakan sendi oleh
karena pembengkakan sendi dan gangguan akan bertambah berat bila terjadi
spasme lokal.
d* &emeriksaan <adiologis
&emeriksaan foto polos dalam sepuluh hari pertama, tidak ditemukan
kelainan radiologik yang berarti dan mungkin hanya ditemukan pembengkakan
jaringan lunak.
",,,12
+ambar ". &royeksi %& pada tibia dan fibula proksimal= terlihat
gambaran destruksi awal kortikal diafisis fibula
11
+ambaran destruksi tulang dapat terlihat setelah sepuluh hari )2
minggu* berupa refraksi tulang yang bersifat difus pada daerah metafisis dan
pembentukan tulang baru di bawah periosteum yang terangkat. Sedangkan
pemeriksaan ultrasonografi dapat memperlihatkan adanya efusi pada sendi.
,
8
+ambar #. <adiografi tulang tibia dengan osteomielitis= tampak destruksi tulang pada
tibia dengan pembentukan tulang subperiosteal
11
e* &engobatan
o &emberian antibiotik se'epatnya sesuai dengan penyebab utama yaitu
Stafilokokus aureus sambil menunggu hasil biakan kuman. %ntibiotik
diberikan selama "-/ minggu dengan melihat keadaan umum dan laju
endap darah penderita. %ntibiotik tetap diberikan hingga 2 minggu
setelah laju endap darah normal.
o Istirahat dan pemberian analgesik juga diperlukan untuk
menghilangkan nyeri.
o %pabila setelah 2# jam pengobatan lokal dan sistemik antibiotik gagal
)tidak ada perbaikan keadaan umum*, maka dapat dipertimbangkan
drainase bedah. &ada drainase bedah, pus subperiosteal die!akuasi
untuk mengurangi tekanan intra-oseus kemudian dilakukan
pemerikasaan biakan kuman. $rainase dilakukan selama beberapa hari
dengan menggunakan 'airan 9a>l 2,13 dan dengan antibiotik.
1,",,
2.2.2. Osteomielitis Hematogen S!akt
9
+ejala osteomielitis hematogen subakut lebih ringan oleh karena organisme
penyebabnya kurang purulen dan penderita lebih resisten.
a* 0tiologi
Osteomielitis hematogen subakut biasanya disebabkan oleh Stafilokokus
aureus dan umumnya berlokasi di bagian distal femur dan proksimal tibia.
b* &atologi
(iasanya terdapat ka!itas dengan batas tegas pada tulang kanselosa dan
mengandung 'airan seropurulen. .a!itas dilingkari oleh jaringan granulasi
yang terdiri atas sel-sel inflamasi akut dan kronik dan biasanya terdapat
penebalan trabekula.
'* +ambaran .linis
Osteomielitis hematogen subakut biasanya ditemukan pada anak-anak
dan remaja. +ambaran klinis yang dapat ditemukan adalah atrofi otot, nyeri
lokal, sedikit pembengkakan, dan dapat pula penderita menjadi pin'ang.
erdapat rasa nyeri pada daerah sekitar sendi selama beberapa minggu atau
mungkin berbulan-bulan. Suhu tubuh biasanya normal.
2,,,1
d* &emeriksaan <adiologis
$engan foto <ontgen biasanya ditemukan ka!itas berdiameter 1-2 'm
terutama pada daerah metafisis dari tibia dan femur atau kadang-kadang pada
daerah diafisis tulang panjang.
10
+ambar ,. <adiologi abses (rodie pada epifisis distal tibia pada anak usia " tahun
,
2.2.". Osteomielitis K#onis
Osteomielitis kronis umumnya merupakan lanjutan dari osteomielitis akut
yang tidak terdiagnosis atau tidak diobati dengan baik. Osteomielitis kronis juga
dapat terjadi setelah fraktur terbuka atau setelah tindakan operasi pada tulang.
a* 0tiologi
(akteri penyebab osteomielitis kronis terutama oleh Stafilokokus
aureus )4, 3*, atau E colli, Proteus sp atau Pseudomonas sp.
b* &atologi
Infeksi tulang dapat menyebabkan terjadinya sekuestrum yang
menghambat terjadinya resolusi dan penyembuhan spontan yang normal pada
tulang. Sekuestrum ini merupakan benda asing bagi tulang dan men'egah
terjadinya penutupan kloaka )pada tulang* dan sinus )pada kulit*. Sekuestrum
diselimuti oleh in!olu'rum yang tidak dapat keluar?dibersihkan dari tulang
ke'uali dengan tindakan operasi. &roses selanjutnya terjadi destruksi dan
sklerosis tulang yang dapat terlihat pada foto <ontgen.
'* +ambaran .linis
&enderita sering mengeluhkan adanya 'airan yang keluar dari
luka?sinus setelah operasi yang bersifat menahun. .elainan kadang-kadang
disertai demam dan nyeri yang hilang timbul di daerah anggota gerak tertentu.
11
&ada pemeriksan fisik ditemukan adanya sinus, fistel atau sikatriks bekas
operasi dengan nyeri tekan. ;ungkin dapat ditemukan sekuestrum yang
menonjol keluar melalui kulit. (iasanya terdapat riwayat fraktur terbuka atau
osteomielitis pada penderita.
",,
d* &emeriksaan <adiologis
1. Foto polos
&ada foto <ontgen dapat ditemukan adanya tanda-tanda porosis
dan sklerosis tulang, penebalan periosteum, ele!asi periosteum dan
mungkin adanya sekuestrum.
+ambar /. +ambaran sekuestrum pada tibia dengan osteomielitis kronis
,
2. > Scan dan ;<I
&emeriksaan ini bermanfaat untuk membuat ren'ana
pengobatan serta untuk melihat sejauh mana kerusakan tulang terjadi.
12
+ambar 4. <adiografi osteomielitis kronis= tampak reaksi sklerorik )a* dan
abses yang meluas dari tulang hingga jaringan lunak )b @ '*
11
e* &engobatan
&engobatan osteomielitis kronis terdiri atas pemberian
antibiotik dan tindakan operatif.
1. &emberian 12antibiotik
Osteomielitis kronis tidak dapat diobati dengan
antibiotik semata-mata. &emberian antibiotik ditujukan untuk7
A men'egah terjadinya penyebaran infeksi pada tulang
sehat= dan
A mengontrol eksaserbasi akut.
2. indakan operatif
indakan operatif dilakukan bila fase eksaserbasi akut
telah reda setelah pemberian antibiotik yang adekuat. Operasi
yang dilakukan bertujuan untuk7
13
A mengeluarkan seluruh jaringan nekrotik, baik jaringan
lunak maupun jaringan tulang )sekuestrum* sampai ke
jaringan sehat sekitarnya. Selanjutnya dilakukan drainase
dan dilanjutkan se'ara kontinu selama beberapa hari= dan
A sebagai dekompresi pada tulang dan memudahkan
antibiotik men'apai sasaran dan men'egah penyebaran
osteomielitis lebih lanjut.
2,,
2.2.$. Osteomielitis %a&a Tlang Lain
a' Tengko#ak
(iasanya osteomielitis pada tulang tengkorak terjadi sebagai akiebat
perluasan infeksi di kulit kepala atau sinusitis frontalis.

&roses destruksi
setempat atau difus. <eaksi periosteal biasanya tidak ada atau sedikit sekali. $i
bawah ini adalah gambaran > Scan kepala pada pasien dengan osteomielitis
tuberkulosis.
14
+ambar :. +ambaran radiologis osteomielitis pada tulang tengkorak
11
!' Man&i!la
(iasanya terjadi akibat komplikasi fraktur, abses gigi, atau ekstraksi
gigi. 9amun, infeksi osteomielitis juga dapat menyebabkan fraktur pada mulut.
Infeksi terjadi melalui kanal pulpa merupakan yang paling sering dan diikuti
higienitas oral yang buruk dan kerusakan gigi.
(' Pel)is
Osteomielitis pada tulang pel!is paling sering terjadi pada bagian sayap
tulang ilium dan dapat meluas ke sendi sakroiliaka. Sendi sakroiliaka jarang
15
terjadi. &ada foto terlihat gambaran destruksi tulang yang luas, bentuk tak
teratur, biasanya dengan sekuester yang multipel. Sering terlihat sklerosis pada
tepi lesi. Se'ara klinis sering disertai abses dan fistula.
(edanya dengan tuberkulosis, ialah destruksi berlangsung lebih 'epat,
dan pada tuberkulosis abses sering mengalami kalsifikasi. $alam diagnosis
diferensial perlu dipikirkan kemungkinan keganasan.
Osteitis pubis merupakan infeksi bagian bawah yang sekitar simfisis
pubis yang merupakan komplikasi dari operasi dari prostat dan kandung kemih
atau, jarang akibat operasi pel!is lainnya.
1,,
+ambar 1. Osteomielitis pada tulang pel!is= pada ;<I potongan koronal tampak
osteomielitis luas dengan artritis seprik pada pinggul kanan )B*, tampak dislokasi
pada pinggul kanan dan gas dalam sendi akibat komunikasi dari ulkus dekubitus luas
)tanda panah*
11
16
d) Osteomielitis %a&a Tlang Belakang
Certebra adalah tempat yang paling umum pada orang dewasa terjadi
osteomielitis se'ara hematogen. Organisme men'apai badan !ertebra yang
memiliki perfusi yang baik melalui arteri tulang belakang dan menyebar dengan
'epat dari ujung pelat ke ruang diskus dan kemudian ke badan !ertebra. Sumber
bakteremia termasuk dari saluran kemih )terutama di kalangan pria di atas usia
,2*, abses gigi, infeksi jaringan lunak, dan suntikan intra!ena yang
terkontaminasi, tapi sumber bakteremia tersebut tidak tampak pada lebih dari
setengah pasien. (anyak pasien memiliki riwayat penyakit sendi degeneratif
yang melibatkan tulang belakang, dan beberapa melaporkan terjadinya trauma
yang mendahului onset dari infeksi. 8uka tembus dan prosedur bedah yang
melibatkan tulang belakang dapat menyebabkan osteomielitis !ertebral
nonhematogen atau infeksi lokal pada diskus !ertebra.
Osteomielitis pada !ertebra jarang terjadi, hanya 123 dari seluruh
infeksi tulang dan dapat mun'ul pada seluruh usia. .uman penyebab terbanyak
ialah Staphylococcus aureus dan Eschericia coli. &asien yang menderita
penyakit ini sering memiliki riwayat infeksi kulit atau pel!is. &enyebaran
infeksi biasanya menuju badan !ertebra daripada bagian yang lainnya, dan pada
bagian yang mengandung banyak darah. (adan !ertebrae memiliki banyak
pembuluh darah, khususnya di bawah end plate di mana terdapat sinusoid yang
besar dengan aliran pelan sehingga berpotensi untuk terjadi infeksi.
",,

17
+ambar 12. <adiografi osteomielitis pada tulang belakang= tampak abses pre!ertebral
)B* dan destruksi pada area diskus 1-12 yang juga meluas hingga kanalis spinalis
11
2.". DIA*NOSA BANDIN*
(iasanya, gambaran radiografi osteomielitis sangat karakteristik dan diagnosis
mudah dibuat sesuai dengan riwayat klinis, dan pemeriksaan radiologis tambahan.
9amun demikian, osteomielitis dapat juga meniru kondisi lainnya seperti tumor
tulang.
1. Osteo Sa#koma
;erupakan tumor ganas primer tulang yang paling sering dengan
prognosis yang buruk. .ebanyakan penderita berumur antara 12-2, tahun.
&aling sering ditemukan sekitar lutut, yaitu lebih dari ,2 3. ulang D tulang
yang sering terkena adalah femur distal, tibia proksimal, humerus proksimal,
18
dan pel!is. &ada tulang panjang, tumor biasanya mengenai bagian metafisis.
+aris epifisier merupakan barrier dan tumor jarang menembusnya.
,

+ambaran radiologik tampak destruksi tulang yang berawal pada
medula dan terlihat sebagai daerah yang radiolusen dengan batas yang tidak
tegas. &ada stadium dini terlihat reaksi periosteal seperti garis-garis tegak
)Sunray appearance*.
12
$engan membesarnya tumor, selain korteks juga
tulang subperiosteal akan dirusak oleh tumor yang meluas ke luar tulang,
berbentuk segitiga )segitiga >odman*. &ada stadium dini +ambaran tumor ini
sukar dibedakan dengan osteomielitis.
+ambar 11. <adiografi dan spesimen periosteal osteosarkoma femur
proksimal anteroposterior dan lateral= pada wanita /4 tahun dengan
periosteal osteosarkom
,

2. Sa#koma E+ing
umor ganas primer ini paling sering mengenai tulang panjang.
.ebanyakan diafisis. ulang yang juga sering terkena adalah pel!is dan tulang
19
iga. 4,3 dari penderita di bawah umur 22 tahun, paling sering antara ,-1,
tahun.
+ambaran radiologik tampak lesi destruksi yang bersifat infiltrat yang
berawal di medula, pada foto terlihat sebagai daerah-daerah radiolusen. umor
'epat merusak korteks dan tampak reaksi periosteal, sebagai garis-garis yang
berlapis-lapis menyerupai kulit bawang )onion peel appearance*. umor
membesar dengan 'epat, biasanya dalam beberapa minggu tampak destruksi
tulang yang luas dan pembengkakan jaringan lunak yang besar karena
infiltrasi tumor ke jaringan sekitar tulang.
2,",,


+ambar 12. <adiografi fibula sinistra anteroposterior dan lateral= pada anak
perempuan usia 4 tahun dengan Sarkoma 0wing
,
BAB III
KESIMPULAN
20
Osteomielitis adalah infeksi tulang atau sumsum tulang. Osteomielitis dapat
menyerang orang pada semua usia. &emeriksaan penunjang atau pen'itraan yang
dapat dilakukan adalah foto polos, > Scan, dan ;<I yang memiliki keunggulan
masing-masing. &ada pemeriksaan foto polos radiologi akan kita dapatkan hilangnya
gambaran fasia, gambaran litik pada tulang )radiolusen*, sekuester, dan in!olukrum.
&ada > Scan pun akan didapatkan gambaran serupa, namun gambaran tampak lebih
jelas, gambaran didapat dari segala arah . 6aringan yang keras se'ara umum lebih baik
ditunjukan oleh > Scan. +ambaran ;<I lebih jelas menunjukkan perluasan
patologis tulang dan jaringan lunak sekitarnya. Sedangkan pemeriksaan Scan
radioisotop sensitif untuk osteomielitis disebabkan sifat radioisotop pada bone Scan
akan memperlihatkan daerah kerusakan sel tulang atau gambaran kehitaman yang
memusat pada daerah sel-sel yang rusak, namun tidak spesifik, karena kerusakan sel
tidak hanya ditunjukan oleh osteomielitis saja.
+ambaran radiografi foto polos osteomielitis sangat khas dan diagnosis dapat
mudah dibuat disesuaikan dengan riwayat klinis, sehingga pemeriksaan radiologis
tambahan lainnya seperti > Scan dan ;<I jarang diperlukan.
2,",,
DAFTA, PUSTAKA
21
1. Sjamsuhidajat <, $e 6ong E. (uku ajar ilmu bedah, edisi re!isi. 6akarta7
0+>. 1114= 12,:-/#.
2. Eilson S'ott >. >hapter : D orthopedi' infe'tions. $alam7 >urrent diagnosis
@ treatment in orthopedi's, fourth edition. 9ew Orleans7 he ;'+raw--ill
>ompanies. 222/
". <asjad >hairuddin. &engantar ilmu bedah ortopedi. 6akarta7 Farsif
Eatampone. 2224
#. Sabiston $>. (uku ajar bedah bagian II. 6akarta7 0+>. 2222.
,. >anale S, (eaty 6-. >hapter 1/ D Osteomyelitis. $alam7 >ampbellGs
operati!e orthopaedi's, 11th ed. &ennsyl!ania7 Saunders 0lse!ier &ublishing.
2224.
/. (rinker. <e!iew of orthopaedi' infe'tions. &ennsyl!ania7 Saunders >ompany.
2221.
4. S'hwartH SI, Shires +, Spen'er F>. Intisari prinsip-prinsip ilmu bedah.
6akarta7 0+>. 2222.
:. hompson 6>. >hapter 4 D thigh and hip. $alam7 9etterGs 'on'ise atlas of
orthopaedi' anatomy, 1st ed. &hiladelphia7 Saunders 0lse!ier &ublishing.
2222.
1. Eittman $ietmar, >ondon <obert 0. Surgi'al infe'tions. $alam7 OIford
teItbook of surgery. OIford7 OIford 5ni!ersity &ress. 2222.
12. Sjahriar <, dkk. <adiologi diagnostik. 6akarta7 Fakultas .edokteran
5ni!ersitas Indonesia. 2221.
22
11. <einus Eilliam <. >hapter 12 D imaging approa'h to mus'uloskeletal
infe'tions. $alam7 $iagnosti' imaging of mus'uloskeletal diseases.
&hiladelphia7 Springer. 2212.
12. Sutton, $a!id. eItbook of radiology and imaging, !olume 2, se!enth edition.
&hiladelphia7 Springer. 2212.