Anda di halaman 1dari 36

PROGRAM KERJA AKSELERASI TRANFORMASI POLRI MENUJU

POLRI YANG MANDIRI, PROFESIONAL DAN DIPERCAYA


MASYARAKAT

KEPUTUSAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No. Pol. : Kep / 37 / X /2008

Tentang

PROGRAM KERJA AKSELERASI TRANFORMASI POLRI
MENUJU POLRI YANG MANDIRI, PROFESIONAL
DAN DIPERCAYA MASYARAKAT

Bahwa dalam rangka percepatan pelaksanaan Rencana Strategis Polri 2005
2009dan Grand Strategi Polri 2005 -2025, dilakukan langkah-langkahakselerasi
Program Kerja Polri, maka dianggap perlu menetapkanKeputusan Kapolri
tentang Program Kerja Akselerasi Transformasi PolriMenuju Polri yang Mandiri,
Profesional dan Dipercaya Masyarakat.

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia.
3.Surat Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No.
Pol:Skep/360/VI/2005 tanggal 10 Juni 2005 tentang Grand Strategi Polri 2005-
2025.
4. Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No.Pol:
Kep/20/IX/2005 tanggal 7 September 2005 tentang Rencana StrategisKepolisian
Negara Republik Indonesia 2005 2009 (Renstra Polri).
5.Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No.
Pol:Kep/15/VI/2007 tanggal 12 Juni 2007 tentang Rencana Kerja Polri
Tahun2008.
6. Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No.Pol:
Kep/27/VI/2008 tanggal 10 Juni 2008 tentang Rencana Kerja Polri Tahun 2009.

MEMUTUSKAN


1. Program Kerja Akselerasi Transformasi Polri Menuju Polri yang Mandiri,
Profesional dan Dipercaya Masyarakat disusun dalam tiga buku yang saling
berhubungan,masing-masing Buku I tentang Naskah Program Kerja sebagai
Buku Induk(lampiran A), Buku II tentang Penjabaran Proram Kerja (lampiran B)
danBuku III tentang Pedoman Penjabaran kedua buku tersebut berisi rincian
kegiatan yang hendak dicapai oleh Satker atau Fungsi (lampiran C).
2.Program Akselerasi disusun dalam jangka waktu satu tahun
untukmemudahkan evaluasi dan penentuan sasaran prioritas selanjutnya
sesuaidengan Rencana Kerja Polri tahun 2010 dan Program akselerasi ini
bukanmenggantikan Rencana Kerja Tahunan Polri pada tingkat Satker di Markas
Besar, Polda, Polwil dan Polres, namun berjalan paralel sebagai akselerasi dari
Rencana Kerja yang sedang berjalan
3. Programakselerasi berlaku untuk seluruh jajaran Polri, sebagai
programpembenahan dan akselerasi terhadap pelaksanaan Grand Strategi Polri
2005 2025 yang disesuaikan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat
terhadap pelayanan Polri dan perkembangan dinamika lingkungan strategik.
4. Program akselerasi untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan produk-
produk penjabarannya pada unit organisasi dan Satker.
5. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 27 Oktober 2008
KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Drs. H. BAMBANG HENDARSO DANURI, M.M.
JENDERAL POLISI


PROGRAM KERJA AKSELERASI TRANSFORMASI POLRI
MENUJU POLRI YANG MANDIRI, PROFESIONAL
DAN DIPERCAYA MASYARAKAT


I. PENDAHULUAN

1. Umum

Pergantian pucuk pimpinan Polri sesuai amanat Undang-undang Nomor 2 tahun
2002 tentang Polri telah dapat dilalui dengan baik dimulai dari pengajuan calon
Kapolri oleh Presiden RI, proses fit and proper test DPR RI sampai dengan
pelantikan Kapolri oleh Presiden RI. Dan patut disyukuri bersama bahwa proses
pergantian pucuk pimpinan Polri telah berjalansecara konstitusional sehingga
pada satu sisi estafet kepemimpinanberlangsung dalam suasana yang harmoni
dan pada sisi lain merupakanmomentum yang dapat dijadikan tonggak
perubahan yang menjaminkesinambungan reformasi Polri ke depan. Hal ini
menjadi penting karenamasa jabatan Kapolri yang relatif singkat dapat
dimanfaatkan secaramaksimal.

Kondisi Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaipengemban amanah rakyat
saat ini membanggakan. Hal ini merupakan hasilkerja keras dari para pendahulu
dan seluruh jajaran, sehingga menjadikewajiban bersama untuk memelihara dan
mengakselerasikan kinerja dalamrangka proses transformasi Polri menuju Polri
yang profesional,bermoral dan modern serta dipercaya masyarakat. Dengan
demikian secaraprinsip tidak ada yang perlu diubah pada Grand Strategi, Visi
dan MisiPolri, demi keberlanjutan pembangunan Polri.

Eksistensiorganisasi Polri saat ini berada pada masa transisi yang terkait
denganaspek politik yakni pelaksanaan Pemilu 2009 dan pergantian
pucukpimpinan Polri. Kondisi tersebut menuntut konsekuensi dan
tanggungjawab besar untuk membangun soliditas secara berkelanjutan
danmeningkatkan kinerja yang dikelola secara baik serta memberikan
outputbagi organisasi Polri sesuai dengan harapan masyarakat.

Dampakikutan dari masa transisi antara lain adalah Polri masih
dihadapkanberbagai masalah eksternal dan internal. Masalah eksternal
ditandaidengan tingginya angka kejahatan konvensional dan
transnasional,pentingnya kerjasama antar departemen dan luar negeri dalam
wadah ICPOInterpol dan Aseanapol, serta pelaksanaan Pemilu 2009. Disamping
itukrisis keuangan global saat ini akan berdampak terhadap berbagai
aspekkehidupan nasional, khususnya ekonomi dan keamanan, merupakan
tantangantersendiri bagi Polri untuk dapat meminimalisasi dampak langsung
darikrisis yang terjadi, melalui upaya pemeliharaan misi bersama
pemerintahuntuk mengamankan kebijakan ekonomi nasional dan mengantisipasi
dampakatas gejolak perkembangan krisis ekonomi global yang terjadi.
Kemampuanmengantisipasi dan meminimalisasi dampak dari gejolak
lingkunganstrategik, merupakan bagian dari upaya Polri mewujudkan
kepercayaanmasyarakat dan sekaligus mengamankan pembangunan nasional.

Sedangkanmasalah internal, ditandai dengan belum optimalnya hasil reformasi
padaaspek struktural, instrumental dan kultural. Sekalipun reformasi
ketigaaspek tersebut dilaksanakan secara simultan, namun dirasakan
bahwakelemahan terletak pada reformasi bidang kultural, hal ini ditandaidengan
masih rendahnya kepercayaan masyarakat kepada Polri.

Terkait dengan hal tersebut, fokus kebijakan ke depan diarahkan
padaterbangunnya kepercayaan masyarakat (public trust) yang kokoh
denganmemanfaatkan sisa waktu dua tahun ke depan (Tahap I Trust Building
2005- 2010). Periode ini memiliki nilai strategis dan sekaligus juga masakritis
dalam rangka memantapkan organisasi Polri yang kuat dan
mampumelaksanakan tugasnya sebagai pelindung, pengayom dan
pelayanmasyarakat serta sekaligus sebagai penegak hukum yang dipercaya
olehrakyat.

Penyusunan program akselerasi ini, dititik beratkan padaperubahan perilaku
setiap anggota Polri dalam menjalankantugas-tugasnya menjawab tuntutan dan
harapan masyarakat akan pelayananprima Polri dan terwujudnya rasa aman.
Oleh karena itu transformasikultural yang diharapkan, diyakini hanya dapat
dicapai apabila didukungoleh komitmen seluruh anggota yang dilandasi
kesadaran bahwa Polriadalah insan Tribrata serta adanya pembenahan
instrumen dan struktursebagai pedoman yang diharapkan dapat mendukung
perubahan perilaku.

Dalamprogram akselerasi ini, keterpaduan dan keterkaitan dalam
penataaninstrumental dan struktural merupakan syarat yang tidak
dapatdipisahkan dalam membangun aspek kultural sebagai landasan yang
kokohmenuju Tahap II Grand Strategi Polri (2011 -2015).

Program KerjaKapolri tentang Akselerasi Transformasi Polri Menuju Polri
YangMandiri, Profesional dan Dipercaya Masyarakat disusun dalam tiga
bukuyang saling berhubungan, masing-masing Buku I tentang Program
Kerjasebagai Buku Induk yang berisi tentang Visi, Misi dan Pokok-pokokProgram
Akselerasi, Buku II berisi Penjabaran Program Akselerasimenjadi sub-program
untuk satu tahun kedepan yang memuat sasaran,indikator keberhasilan, target
yang akan dicapai, penanggung jawab,serta jangka waktu yang disusun ke
dalam setiap sub program kerja. Dan,Buku III merupakan Pedoman Penjabaran
dari Buku II yang berisi teknikmenjabarkan program kerja akselerasi menjadi
sub program kerja berupasejumlah langkah jangka pendek selama satu tahun,
yang pelaksanaannyadibagi ke dalam 4 triwulan.

2. Maksud dan Tujuan

a. Maksud
Maksudpenyusunan naskah Program Akselerasi Transformasi Polri Menuju
Polriyang Mandiri, Profesional dan Dipercaya Masyarakat adalah sebagaiprogram
kerja satu tahun Polri dalam rangka pembenahan dan akselerasiatas
pelaksanaan Grand Strategi Polri 2005-2025.
b. Tujuan
Untukdijadikan pedoman bagi seluruh jajaran Polri dalam melakukan
pembenahandan akselerasi khususnya pencapaian Tahap I Trust Building yang
akanberakhir tahun 2010 dalam Grand Strategi Polri 2005-2025.

3. Ruang lingkup.

Ruang lingkup dari muara pembenahan dan akselerasi diarahkan pada
perubahan kultural yang meliputi :
a. Penyempurnaan Grand Strategi Polri 2005-2025
b. Akselerasi akuntabilitas internal.
c. Akselerasi akuntabilitas eksternal.

Rangkumanpelaksanaan ketiga program tersebut, dibatasi dalam kurun waktu
satutahun (Oktober 2008 September 2009). Batasan waktu tersebut
untukmemudahkan evaluasi dan keberlanjutan program serta untuk
penentuanprioritas program selanjutnya.

4. Sistematika

a. BAB I PENDAHULUAN
b BAB II DASAR-DASAR KEBIJAKAN PROGRAM
c. BAB III KEBIJAKAN AKSELERASI UTAMA
d. BAB IV PELAKSANAAN PROGRAM AKSELERASI UTAMA
e. BAB V PENUTUP

II. DASAR-DASAR KEBIJAKAN PROGRAM

Landasan idiil dan Peraturan Perundangan
a. Landasan Idiil : Pancasila
b. Landasan Moril : Tri Brata dan Catur Prasetya
c. Landasan Konstitusionil :
1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

2)Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor VI/MPR/2000
tentangPemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara
RepublikIndonesia.

3) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat NomorVII/MPR/2000 tentang
Peran Tentara Nasional Indonesia dan PeranKepolisian Negara Republik
Indonesia,
d. Landasan Operasional:

1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia.
2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
3)Keputusan Kapolri No.Pol: Kep/53/X/2002 tangal 17 Oktober 2002
tentangOganisasi dan Tata Kerja Satuan-satuan Organisasi Pada Tingkat
MarkasBesar Kepolisian Negara Republik Indonesia.
4) Keputusan KapolriNo.Pol: Kep/54/X/2002 tanggal 17 Oktober 2002 yang
telah diubah menjadiKeputusan Kapolri No.Pol: Kep/7/I/2005 tanggal 31 Januari
2005 tentangOganisasi dan Tata Kerja Satuan-satuan Organisasi Pada
TingkatKepolisian Negara Republik Indonesia Daerah (Polda) Lampitan A
PoldaUmum, Lampiran B Polda Metro Jaya dan Lampiran C Polres.
5) SuratKeputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. Pol.
:SKEP/360/VI/2005 tanggal 10 Juni 2005 tentang Grand Strategi Polri 2005-
2025.
6) Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No.Pol. :
KEP/20/IX/2005 tanggal 7 September 2005 tentang RencanaStrategis Kepolisian
Negara Republik Indonesia 2005 2009 (RenstraPolri).
7) Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No.Pol. :
KEP/44/XII/2005 tanggal 5 Desember 2005 tentang SistemPerencanaan
Strategis Kepolisian Negara Republik Indonesia.
8)Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No.
Pol:KEP/15/VI/2007 tanggal 12 Juni 2007 tentang Rencana Kerja Polri 2008.
9)Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No.
Pol:KEP/27/VI/2008 tanggal 10 Juni 2008 tentang Rencana Kerja Polri 2009.
10)Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 15
Tahun2007 tanggal 17 Agustus 2007 tentang Naskah Dinas di
LingkunganKepolisian Negara Republik Indonesia.

6. Grand Strategi, Visi dan Misi Polri.

Dalamrangka mengemban tugas-tugas pemeliharaan kamtibmas, penegakan
hukum,perlindungan, pengayoman dan pelayanan masyarakat dalam
mewujudkankeamanan dalam negeri, tetap mengacu pada Grand Strategi Polri
(2005 -2025), Visi dan Misi Polri sebagai berikut:
a. Grand Strategi 2005-2025.
Grand Strategi Polri dirumuskan dalam tiga tahapan yang mencerminkan
upaya Polri secara gradual yaitu :

TahapI : TRUST BUILDING (2005 2010). Keberhasilan Polri dalam
menjalankantugas memerlukan dukungan masyarakat dengan landasan
kepercayaan(trust).

Tahap II : PARTNERSHIP BUILDING (2011 2015). Merupakankelanjutan dari
tahap pertama, di mana perlu dibangun kerjasama yangerat dengan berbagai
pihak yang terkait dengan pekerjaan Polri

TahapIII : STRIVE FOR EXCELLENCE (2016 2025). Membangun
kemampuanpelayanan publik yang unggul dan dipercaya masyarakat. Dengan
demikiankebutuhan masyarakat akan pelayanan Polri yang optimal dapat
diwujudkan.

b. Visi dan Misi Polri
Programpembangunan Polri ke depan diharapkan tetap mengacu pada Grand
StrategiPolri 2005 2025 di mana di dalamnya telah dirumuskan Visi dan
MisiPolri. Visi Polri :
Terwujudnya postur Polri yang profesional,bermoral dan modem sebagai
pelindung, pengayom dan pelayan masyarakatyang terpercaya dalam
melindungi masyarakat dan menegakkan hukum
Untuk mewujudkan Visi Polri telah disusun Misi Polri sebagai berikut:
a.Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan secara
mudah,tanggap/progresif dan tidak diskriminatif agar masyarakat bebas
darisegala bentuk gangguan fisik dan psikis.
b. Memelihara keamanandan ketertiban masyarakat sepanjang waktu di seluruh
wilayah sertamemfasilitasi keikutsertaan masyarakat dalam memelihara
kamtibmas dilingkungan masing-masing.
c. Memelihara Kamtibcar Lantas untuk menjamin keselamatan dan kelancaran
orang dan barang.
d.Mengembangkan perpolisian masyarakat (community policing) berbasiskepada
masyarakat patuh hukum (law abiding citizen).
e. Menegakkanhukum secara profesional dan obyektif, proporsional, transparan
danakuntabel untuk menjamin adanya kepastian hukum dan rasa keadilan.
f. Mengelola secara profesional, transparan dan akuntabel seluruh sumber daya
Polri guna mendukung keberhasilan tugas Polri.
7. Permasalahan yang dihadapi.
Masalahyang dihadapi Polri dalam melaksanakan fungsi kepolisian
dapatdibedakan atas masalah eksternal dan internal Polri yang meliputi :
c.Masalah eksternal ditandai dengan perlunya pengamanan perbatasan
danpulau-pulau terluar, kesiapan pengamanan pelaksanaan Pemilu 2009,
masihtingginya angka kejahatan konvensional dan transnasional dan
pentingnyakerjasama antar departemen serta luar negeri.
d. Masalah internalditandai dengan belum optimalnya hasil reformasi
struktural,instrumental dan kultural. Meskipun reformasi ketiga aspek
organisasitersebut telah dilaksanakan secara simultan, namun dirasakan
reformasibidang kultural masih belum memenuhi harapan masyarakat atas
pelayanankepolisian yang prima, yang ditandai dengan masih rendahnya
kepercayaanmasyarakat kepada Polri.
8. Posisi Awal.
Permasalahanyang dihadapi Polri sebagaimana diuraikan di atas, pada
hakekatnyamerupakan realita dan posisi awal yang secara tulus dan jujur
harusdisadari, oleh karena itu perlu dilakukan pembenahan dan akselerasiyang
diarahkan pada perubahan kultural dengan tetap mengacu kepadaGrand Strategi
Polri 2005-2025. Secara rinci posisi awal daripelaksanaan tugas Polri yang
menjadi fokus dari program akselerasi,meliputi:
a. Bidang perumusan tugas pokok.
Undang-UndangNomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia Pasal13 sampai dengan 19 telah memberikan 3 tugas pokok, 12
tugas-tugas dan37 kewenangan kepada Polri, namun sejauh ini belum ada
penataan danpembagian tugas dan kewenangan yang harus dilakukan oleh
setiaptingkatan unit organisasi dan satuan kewilayahan Polri. Sehingga
dapatterjadi tumpang tindih atau tidak ada yang melaksanakan dan
sulitnyamengukur kinerja organisasi.
b. Bidang organisasi.
Sebagaiorganisasi publik yang dinamis, maka untuk menjawab
perubahanlingkungan dan meningkatnya tuntutan masyarakat, perlu
dilakukanevaluasi terhadap struktur organisasi Polri secara umum, dan
secarakhusus melakukan restrukturisasi Detasemen 88/AT, Polair,
pembangunanINAFIS, PUSIKNAS, pembentukan Gugus Kendali Mutu dan
pembentukan satuanwilayah mengikuti pemekaran wilayah pemerintahan
daerah.
c. Bidang operasional.
Meskipunkinerja operasional Polri telah menunjukkan hasil yang baik
dandirasakan oleh masyarakat, namun demikian perlu dilakukan
pembenahandan peningkatan kinerja bidang operasional yang meliputi :
1) Pengamanan perbatasan dan pulau-pulau terluar.
2) Pengamanan Pemilu 2009.
3) Penanganan 4 jenis kejahatan yang menjadi prioritas.
4) Pelaksanaan Polmas.
d. Bidang kerjasama / HTCK.
Masihsering terjadinya miskordinasi, tumpang tindih, bahkan friksi dan
egosektoral antara Polri dengan departemen dan instansi terkait di dalamnegeri,
serta perlunya peningkatan dan perluasan kerjasama dengankepolisian /
lembaga di luar negeri, memerlukan pembenahan struktur daninstrumen
kerjasama dengan lembaga di dalam negeri dan lebih proaktifdalam membangun
kerjasama dengan kepolisian / lembaga di luar negeri.
e. Bidang tata kelola logistik.
Belumtertatanya pendataan logistik yang berkaitan dengan standar
minimumkebutuhan logistik yang harus tersedia pada setiap unit organisasi
dansetiap tingkatan satuan kewilayahan, disamping itu juga kepatuhanmengenai
pengadaan barang dan jasa di lingkungan Polri, termasukefektifitas dan efisiensi
penggunaan serta perawatannya menjadi sebuahtantangan untuk dilakukan
pembenahan sebagai akuntabilitas dalampengelolaan logistik sesuai dengan
Keppres No. 80 Tahun 2003.
f. Bidang tata kelola asset.
Sampaisaat ini Polri masih mendapatkan status disclaimer dari BPK karenabelum
tertibnya pencatatan, keberadaan dan status dari asset Polri,sehingga sulit
untuk dipertanggungjawabkan secara yuridis. Kondisi inijuga menuntut untuk
dilakukan pembenahan tata kelola asset sesuaidengan Sistem Akuntabilitas
Barang Milik Negara (SABMN).
g. Bidang tata kelola anggaran.
Masalahrendahnya penyerapan anggaran tahun 2008 menunjukkan Polri
belumefektif dalam menggunakan anggaran dan juga mengindikasikan belum
semuarencana kerja dapat berjalan sebagaimana mestinya.
h. Bidang manajemen mutu dan kinerja.
Sampaisaat ini Polri belum memiliki sebuah standar penilaian kinerjaorganisasi
dan individu yang obyektif, transparan dan akuntabel yangdapat digunakan
sebagai acuan dalam memberikan penghargaan (reward) danhukuman
(punishment}.
i. Bidang sumber daya manusia.
Rendahnyakompetensi terutama lulusan Bintara dan Perwira Pertama Polri,
masihbanyaknya keluhan tentang penyimpangan dalam penerimaan anggota
Polri,serta pembinaan karir yang belum menurut meritokrasi, obyektif,prestasi,
moral dan kompetensi, mengharuskan untuk segera dilakukanpenyempurnaan
proses rekrutmen dan pembenahan dalam pembinaan karir.
j. Bidang remunerasi dan kesejahteraan.
Harusdiakui bahwa tingkat kesejahteraan anggota Polri secara umum masih
jauhdari standar kebutuhan yang diperlukan. Oleh karena itu perlu
disusunsistem remunerasi yang tepat dan mengusulkan kepada pemerintah
sehinggadapat mendorong perbaikan kinerja sekaligus tingkat
kesejahteraananggota Polri.
k. Pemberdayaan Litbang.
Pemberdayaan peranLitbang dalam peningkatan kapasitas institusi Polri melalui
pengkajianakademik yang komprehensif terhadap faktor internal dan
eksternalorganisasi dengan mengikutsertakan lembaga pendidikan Polri
secarasinergi guna menghasilkan inovasi-inovasi baru dan terobosan
dalampelaksanaan fungsi kepolisian dan pemecahan masalah sosial
masyarakatsecara komprehensif dan multidisipliner. Dengan demikian Litbang
bukanmerupakan unit organisasi tempat anggota yang bermasalah, namun
sebagaipusat kajian Polri untuk mewujudkan center of excellence kepolisianyang
terbaik di kawasan regional.
I. Bidang pelayanan dan pengaduan masyarakat.
Terbukanyaakses yang luas, kemudahan mendapatkan pelayanan kepolisian,
kemudahanmemberikan dan mendapatkan informasi dengan cepat dan tepat,
merupakantuntutan masyarakat terhadap pelayanan kepolisian. Oleh karena
ituperlu dilakukan pembenahan dan pembangunan fasilitas pelayanan
danpengaduan masyarakat yang sesuai dengan situasi dan kemajuan
teknologiinformasi komunikasi.

III. KEBIJAKAN AKSELERASI UTAMA

Berdasarkanidentifikasi terhadap permasalahan aktual yang dihadapi oleh Polri
danposisi awal yang menjadi fokus kebijakan akselerasi, maka
untukmelanjutkan program Trust Building yang masih tersisa dua tahundikaitkan
dengan Visi dan Misi Polri pada Grand Strategi, disusunkebijakan program
akselerasi utama, sebagai berikut:
9. Program Akselerasi I : Keberlanjutan Program (sustainabilityprogram)
Akselerasikeberlanjutan program dibagi menjadi dua kegiatan utama
yaitumelanjutkan Visi dan Misi Polri, serta melanjutkan program prioritasyang
telah ditetapkan sebelumnya. Secara khusus sebagai implementasiVisi dan Misi
Polri, telah dirumuskan beberapa kebijakan sebagaiberikut:
a. Penyempurnaan Grand Strategi Polri 2005 2025,tidak hanya diarahkan pada
pencitraan Polri, tetapi juga memperhatikanaspek- aspek keamanan dalam
negeri, dengan mempertimbangkan tuntutankebutuhan masyarakat dan
tantangan global termasuk pengamanan wilayahperbatasan dan pulau-pulau
terluar.
b. Melanjutkan upayapemeliharaan dan peningkatan stabilitas kamtibmas
melalui programpenanggulangan 4 (empat) jenis kejahatan serta akselerasi
perpolisianmasyarakat.
c. Meningkatkan peran dan pemberdayaan penelitiandan pengembangan
(Litbang) Polri untuk melakukan kajian dan analisisdampak perkembangan
masyarakat terhadap pelaksanaan tugas pokok Polri.
d. Mengintensifkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi
untukmewujudkan efisiensi, transparansi dan akuntabilitas.
e.Meningkatkan kerjasama dalam dan luar negeri dalam
menghadapiperkembangan dan permasalahan global dengan prinsip
kebersamaan dankemitraan yang saling menguntungkan.
f. Menggali kearifan lokal masyarakat dan kearifan internal yang diimbangi
dengan kemampuan manajerial pimpinan Polri.
g. Perbaikan sistem pembinaan personal dan pendidikan Polri.Selanjutnya
program kerja prioritas yang telah dirumuskan dalamRencana Kerja Tahun 2008
terhadap 4 jenis kejahatan menjadi prioritastetap dilaksanakan, yang meliputi:
a. Pemberantasan perjudian.
b. Kejahatan narkotika dan sejenisnya.
c. Penanggulangan terorisme.
d. Kejahatan yang berpotensi merugikan kekayaan negara (korupsi,illegal
logging, illegal fishing dan illegal mining).
e. Perdagangan orang (trafficking in persons}.
f. Kejahatan premanisme dan anarkisme
g. Kejahatan jalanan
Dalamprogram akselerasi pertama, diprioritaskan pengembangan dan
pembentukankerjasama interdepartemen lintas sektoral, kepolisian internasional
dankerjasama dengan masyarakat melalui perpolisian masyarakat
(communitypolicing).
Di samping itu dalam rangka keberlanjutan terusdilakukan pengamanan wilayah
perbatasan dan pulau terluar, peningkatankinerja Den 88 / AT, Polair, INAFIS,
dan Pusiknas serta pembangunansatuan wiayah disesuaikan dengan pemekaran
wilayah pemerintahan.
10.Program Akeselerasi II : Peningkatan Kualitas Kinerja (performancequality
improvements}. Program akselerasi yang kedua adalah peningkatankualitas
kinerja organisasi (performance quality improvements}, yangmerupakan
kelanjutan program prioritas sebelumnya. Ada tiga hal yangmenjadi fokus
perhatian pada program ini yaitu mempercepat transformasikultural,
pembenahan sumber daya manusia dan sistem pendidikan Polri,serta
pengembangan budaya pelayanan.
a. Akselerasi TransformasiKultural diarahkan kepada perubahan perilaku dan
perubahan paradigma,maka dilakukan langkah-langkah yang dititik beratkan
pada beberapaaspek, yaitu:
1) Menginternalisasi nilai-nilai Tri brata dan Catur prasetya.
2) Membangun mentalitas dasar bahwa masyarakat dan polisi merupakan mitra
sejajar.
3) Memperjelas etos kerja dengan motivasi yang baik untuk bertindakberani,
jujur, bersih dan berhasil dalam menjalankan setiap tugas.
4) Menampilkan sosok yang rapih, bersih, tidak arogan dan bertutur katayang
sopan serta menghargai orang lain.
5) Meningkatkan efektifitas pengawasan dalam setiap pelaksanaan tugas.
6) Membangun kemampuan kepemimpinan yang kuat untuk memberikan
teladan bagi bawahannya dan masyarakat.
b.Akselerasi Pembenahan SDM Polri.
1)Pengelolaan sumber daya manusia Polri memiliki peran yang sangatstrategis
dalam meningkatkan kinerja, produktifitas dan pencapaianorganisasi.
Pembenahan pada SDM Polri dititik beratkan padapenyempurnaan proses
rekrutmen dan pembenahan pembinaan karir yangdidasarkan merit system.
Implementasi kebijakan pencarian bibit ungguldari putra daerah yang mengacu
pada local boy for the local job,kompetensi, transparansi, obyektif, dapat
dipertanggung jawabkan danbebas dari nepotisme. Dalam hal pembinaan karier
diterapkan the rightman on the right place yang didasarkan pada prestasi,
obyektif, adil,moralitas, pendidikan dan kompetensi melalui penilaian kinerja
yangakuntabel.
2) Sistem Pendidikan Polri sejalan dengan tuntutan masyarakat.
PembenahanSistem Pendidikan Polri sebagai bagian dari pembenahan sumber
dayamanusia Polri dengan tetap berpedoman kepada Sisdiknas, diarahkan
padapendidikan yang menghasilkan personel Polri yang profesional
denganmemperhatikan prinsip-prinsip :
a) Prinsip nilai tambah (valueadded. Setiap proses pendidikan haruslah
memberikan nilai tambah berupapenambahan kompetensi bagi peserta didik.
b) Prinsip kesamaanpeluang (equal opportunity). Setiap proses pendidikan
haruslahmemberikan peluang yang sama untuk lulusannya dalam meniti karir.
c)Prinsip keselarasan internal (internal alignment). Setiap programpendidikan
haruslah saling berkaitan dan saling mendukung dalampenciptaan SDM Polri
yang profesional.
d) Prinsip keselarasaneksternal (external alignment). Sistem Pendidikan di
dalam sebuahorganisasi haruslah mengacu kepada sistem pendidikan yang
lazimdipergunakan dan diakui oleh regulasi di sebuah negara.
e) Prinsipefisiensi (efficiency. Sistem pendidikan haruslah dilaksanakan
secaraefisien, baik dari sisi pemanfaatan sumber daya pendukung,
waktu,maupun biaya pelaksanaan.
f) Prinsip kesinambungan (sustainability).Proses belajar adalah suatu kegiatan
yang tidak pernah berhenti danharus dilaksanakan secara berkesinambungan.
c.Akselerasi Penanaman Budaya Melayani (service culture}.
Disadaribahwa tugas pelayanan kepada masyarakat selama ini dirasakan
masihbelum sesuai dengan harapan masyarakat. Oleh karena itu, arah
perubahanpada akselerasi budaya pelayanan adalah merubah dari polisi
sebagaipejabat menjadi polisi pelayan masyarakat sejati, memiliki
empatiterhadap berbagai masalah yang dirasakan oleh masyarakat dan
mampumemberikan pelayanan yang praktis, tidak bertele-tele, tulus,
cepattanggap, tidak membebani serta memberikan kepastian hukum
kepadapihak-pihak yang berperkara.
11. Program Akselerasi III :Komitmen Terhadap Organisasi (organizational
commitment). Tanpakomitmen, maka semua yang telah digariskan dalam
program akselerasipertama dan ke dua tidak akan punya makna. Untuk itu
ditegaskankomitmen yang akan dipegang bersama dalam mengelola organisasi
Polri kedepan, adalah :
a. Terkait dengan pengamanan Pemilu 2009,komitmen seluruh jajaran Polri
adalah bersikap netral dan tidak memihakkepada satu golongan tertentu. Tugas
pokok Polri adalah mengamankanjalannya pesta demokrasi tersebut dan tolok
ukur keberhasilannya adalahketika seluruh rakyat yang memiliki hak pilih dapat
menggunakan hakdemokrasinya dengan aman, bebas dan tanpa tekanan, serta
seluruhrangkaian tahapan Pemilu tahun 2009 dapat terlaksana dengan
aman,tertib dan lancar.
b. Terkait dengan kebijakan dan implementasipencegahan, pemberantasan, dan
penanggulangan berbagai tindak kejahatandan penyakit masyarakat, seperti
korupsi, perjudian, penyelundupan,illegal logging, illegal mining, illegal fishing,
narkoba, terorisme,kejahatan ekonomi (white collar crime), trafficking in
persons,premanisme dan kejahatan jalanan, seluruh jajaran Polri
menyatakankomitmen untuk menindak tegas tanpa kompromi.
c. Terkait denganbudaya pelayanan prima yang akan menjadi program yang
semakinditingkatkan pelaksanaannya. Polri harus menjadi institusi
yangmemberikan pelayanan publik terbaik (public service policing}.Kantor-
kantor pelayanan kepolisian harus dijadikan tempat yang nyamandan
menyenangkan, bukan tempat yang semrawut dan menakutkan.Membersihkan
kantor polisi dari berbagai penyimpangan dan perilaku yangmenyakiti hati
rakyat.
d. Terkait dengan kerjasama secaraeksternal bersama DPR, instansi pemerintah,
Pemda, Kompolnas, TNI, LSM,media, institusi pendidikan, kepolisian di negara
lain, lembagainternasional, dan pihak-pihak yang lain. Upaya maksimal akan
terusdidorong untuk meningkatkan kerjasama ini sehingga secara internalPolri
akan semakin efisien dan efektif dalam menjalankan tugasnya, dansecara
eksternal Polri akan semakin memiliki hubungan yang harmonis danmemberikan
dampak yang positif dan mutualis bagi peningkatan kualitasPolri maupun
kepentingan masyarakat.
e. Terkait dengan aspekpembinaan Polri, upaya reformasi internal Polri
(struktural,instrumental, dan kultural) yang selama ini telah berjalan
tetapdilanjutkan dan ditingkatkan dengan cara-cara kreatif
dalammengimplementasikan berbagai program peningkatan organisasi,
proseskerja, dan sumberdaya manusia.
f. Terkait dengan pengelolaankeuangan dan pengadaan sarana / prasarana Polri.
Akan dikelola sesuaidengan norma pengelolaan keuangan negara dan prosedur
pengadaan barangdan jasa sesuai ketentuan yang berlaku secara transparan,
obyektif,tepat sasaran serta bersih dari KKN.

IV. PELAKSANAAN PROGRAM AKSELERASI UTAMA

Program akselerasi utama pada dasarnya merupakan pedoman pencapaian
target dan kinerja yang akan dilaksanakan Polri dan jajaran guna
mengakselerasikan upaya menuju Polri yang mandiri, profesional dan dipercaya
masyarakat.
Program akselerasi utama dilaksanakan triwulan keempat tahun anggaran 2008
dan Tahun Anggaran 2009 yang difokuskan pada peningkatan kinerja dan citra
Polri yang harus dicapai dengan titik berat pada pembangunan Polri sebagai
penegak hukum terdepan dengan didukung oleh komponen masyarakat dan
aparat penegak hukum lainnya.
Program akselerasi utama ini merupakan program jangka pendek, yang
dilaksanakan setiap triwulan yang dimulai dari bulan Oktober 2008 sampai
dengan September 2009, untuk menjawab tantangan dan harapan masyarakat.
12. Tantangan yang dihadapi Polri.
Sejumlah tantangan dan isu yang akan menjadi perhatian Polri dalam satu tahun
ke depan digolongkan menjadi tantangan yang dihadapkan pada akuntabilitas
eksternal dan internal yang perlu dicarikan solusi secara cepat, tepat, efektif dan
efisien.
a. Tantangan Akuntabilitas Eksternal.
Adalah sejumlah tantangan dan isu yang berasal dari luar Polri yang bersifat
lokal, nasional, regional maupun internasional dalam kurun waktu satu tahun ke
depan, sebagai berikut:
1) Pengamanan wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar.
Dalam rangka meningkatkan pelayanan Polri, memelihara keamanan dalam
negeri dan menjaga keutuhan NKRI di wilayah perbatasan dan pulau-pulau
terluar, maka perlu dilakukan akselerasi pembangunan satuan wilayah
kepolisian, terutama di perbatasan dan pulau-pulau terluar Kalimantan Barat,
Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Timur
.
2) Empat jenis kejahatan yang menjadi sasaran Prioritas.
Dari empat jenis kejahatan yang menjadi sasaran pelaksanaan tugas Polri
(kejahatan konvensional, transnasional, kejahatan terhadap kekayaan negara
dan yang berdampak kontinjensi) ditentukan beberapa jenis kejahatan yang
berdampak luas dan meresahkan masyarakat sebagai prioritas penindakan :
a) Kejahatan konvensional
Kejahatan konvensional merupakan kejahatan dengan isu paling mendasar dan
sering terjadi ditengah masyarakat, memiliki lingkup lokal dan meresahkan
masyarakat. Penindakan terhadap kejahatan ini dirasakan langsung oleh
masyarakat. Bentuk kejahatan tersebut diantaranya perjudian, pencurian
kekerasan/pemberatan, pencurian kendaraan bermotor, penganiayaan,
pembunuhan, perkosaan, penipuan, penggelapan, pembakaran, pengrusakan,
pemalsuan, penculikan, dan pemerasan. Termasuk premanisme dan kejahatan
jalanan yang perlu penanganan secara intensif, terutama yang terjadi di lokasi
obyek vital, yang dapat berimplikasi pada kerugian ekonomi dan kepercayaan
internasional. Selanjutnya dari 4 jenis kejahatan yang marak terjadi, ditentukan
beberapa bentuk kejahatan yang menjadi prioritas akselerasi, sebagai berikut:
(1) Perjudian.
Perjudian di Indonesia telah menjadi sebuah kejahatan besar yang terorganisir,
canggih dan bersifat lintas batas negara. Penindakan terhadap berbagai bentuk
perjudian akan tetap dilaksanakan secara konsisten tanpa pandang bulu,
sekaligus merupakan bukti dari keseriusan Polri untuk memberantas perjudian.
Selain bentuk perjudian yang telah dikenal beroperasi disejumlah tempat di
Indonesia yang membutuhkan adanya ruang dan waktu, namun saat ini muncul
perjudian dalam bentuk baru yang menggunakan perkembangan teknologi
informasi atau internet. Oleh karenanya, selain mencegah dan memberantas
perjudian konvensional yang telah ada, perjudian bentuk baru melalui internet
harus dicegah dan diberantas.
(2) Premanisme.
Premanisme apapun bentuknya, termasuk debt collector yang ada di daerah-
daerah dan menimbulkan kesan Polri sudah tidak mampu mengatasi harus
dilakukan penindakan secara tegas dan terukur.
(3) Kejahatan Jalanan (street crime)
Khusus di kota-kota besar tertentu, kejahatan jalanan sangat meresahkan
masyarakat. Kejahatan jalanan biasanya terkait dengan infrastruktur perkotaan,
oleh karena itu selain dilakukan penindakan secara tegas juga perlu dilakuan
koordinasi dengan pemerintah kota. Pencegahan terhadap semua bentuk
kejahatan jalanan (street crime) dilakukan dengan mengoptimalkan patroli polisi
sebagai back bone dan kring reserse sebagai upaya proaktif dalam mencegah
terjadinya kejahatan jalanan.
b) Kejahatan transnasional.
(1) Terorisme.
Tertangkapnya sejumlah pelaku aksi terorisme di Indonesia bukan berarti bahwa
aksi terorisme di Indonesia telah berakhir. Dalam konteks global, terorisme
masih menjadi ancaman bagi Indonesia. Dengan demikian Polri tidak akan
berhenti memerangi terorisme dengan penegakkan hukum maupun
menggunakan konsep deradikalisasi (usaha meredam kelompok-kelompok
radikal). Konsep tersebut menjadi kebanggaan bagi Indonesia karena konsep
deradikalisasi yang diperkenalkan Polri dalam menangani teroris telah diadopsi
oleh beberapa negara dalam rangka pemberantasan terorisme. Oleh karena itu
upaya-upaya peningkatan pencegahan dan penindakan terorisme tetap akan
dilanjutkan, termasuk dengan meningkatkan efektifitas dan efisiensi peran
Detasemen 88/AT.
(2) Narkoba.
Narkoba merupakan isu yang cukup signifikan bagi Polri. Badan narkotika
nasional (BNN) mencatat bahwa di Indonesia sekitar empat juta jiwa sekarat
mengidap ketergantungan Narkoba dan Rp. 30 triliun terbuang percuma akibat
praktek penyalahgunaan Narkoba. Setiap tahunnya sekitar 15 ribu jiwa tewas
sia-sia. Saat ini Indonesia tak lagi hanya sekedar sebagai transit perdagangan
Narkoba, tetapi telah menjadi pasar potensial sekaligus produsen Narkoba. Oleh
karena itu upaya pencegahan dan pemberantasan Narkoba harus ditingkatkan
secara terus menerus menjadi program prioritas Polri ke depan.
(3) Perdagangan Manusia (trafficking in persons / Tips}.
Polri terus melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
perdagangan manusia. Hal ini disadari bahwa kejahatan ini mempunyai
keterkaitan dengan pola rekrutmen dan pengiriman TKI ke luar negeri. Bahkan
kegiatan yang berkedok pengiriman TKI menjadi pintu awal terjadinya tindak
pidana.
c) Kejahatan yang merugikan kekayaan negara (korupsi, illegal logging, illegal
fishing, illegal mining).
Penindakan terhadap kejahatan korupsi, illegal logging, illegal fishing, illegal
mining terus dilaksanakan secara maksimal sepanjang tahun untuk
menyelamatkan kekayaan negara.
d) Kejahatan yang berimplikasi kontinjensi.
(1) Anarkhisme.
Anarkisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok / organisasi massa tertentu
yang dapat berimplikasi kontinjensi merupakan kejahatan yang sejak dini harus
dilakukan upaya-upaya penindakan secara tegas. Penindakan terhadap
premanisme dan anarkisme merupakan bagian dari upaya Polri menciptakan
rasa aman kepada setiap warga negara.
(2) Konflik komunal.
Konflik komunal yang dilatar belakangi oleh isu kesukuan, agama, ras dan antar
golongan memiliki potensi yang cukup tinggi terjadi pada masyarakat Indonesia
yang majemuk. Konflik yang terjadi dapat menimbulkan rasa takut masyarakat
dan dampak yang luas pada seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu upaya
pencegahan harus dikedepankan, dengan melibatkan semua komponen dan
dengan memperhatikan konvensi sosial (budaya masyarakat setempat).
3) Pengamanan Pemilu Tahun 2009. Munculnya potensi gangguan keamanan
dan ketertiban masyarakat yang dapat memicu konflik horizontal dan vertikal.
Pemilu sebagai agenda demokrasi di Indonesia perlu dilakukan pengamanan
oleh Polri namun dalam pelaksanaannya Polri wajib bersikap netral dan tidak
memihak kepada kekuatan politik manapun.
4) Pengembangan Kerjasama. Kerjasama dengan sejumlah instansi dalam
negeri maupun internasional dengan tujuan melakukan pencegahan dan
penanggulangan tindak kejahatan.
b. Tantangan Akuntabilitas Internal. Tantangan internal Polri yang dihadapi
adalah sebagai berikut:
1) Reformasi Polri. Reformasi Polri menjadi isu utama dan esensial, mengingat
pembangunan Polri bertujuan untuk menciptakan Poiri yang mandiri,
profesional, dan dipercaya masyarakat. Reformasi Poiri bukanlah sebagai suatu
proses yang dapat ditempuh dalam jangka pendek, namun juga bukan ditempuh
dalam jangka waktu yang tak terbatas. Artinya harus ada batas waktu yang
jelas untuk melakukannya dan sekaligus dapat diukur. Dengan demikian,
sejumlah langkah akselerasi dan kelengkapan penunjang reformasi Poiri perlu
dilakukan, terutama dalam hal reformasi kultural yang menjadi satu kesatuan
dengan pembenahan struktural dan instrumental, seperti restrukturisasi
organisasi, penerapan manajemen mutu dan kinerja, serta Sistem Pendidikan
Poiri yang lebih profesional.
Untuk menunjang aspek kultural, maka sebagai posisi sentralnya adalah pada
pembenahan Sistem Pendidikan Poiri yaitu untuk membentuk personel Poiri
yang profesional dengan memperhatikan prinsip-prinsip pendidikan yaitu adanya
nilai tambah (value added), kesamaan peluang (equal opportunity), keselarasan
internal (internal alignment), keselarasan eksternal (external alignment),
efisiensi (efficiency) dan kesinambungan (sustainability). Pembenahan sistem
pendidikan perlu dilakukan dengan komitmen yang tinggi menghadapi tantangan
pembenahan internal terutama dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil
pendidikan yang bebas dari penyelewengan yang terjadi di lembaga pendidikan
dan pelatihan Poiri.
Peningkatan kinerja pada SPN mutlak harus dilakukan meliputi kurikulum,
tenaga pendidikan, sarana dan prasarana yang memadai sesuai kebutuhan guna
meningkatkan kualitas kinerja dan kompetensi para bintara lulusan SPN. Bahan
ajaran yang diberikan di SPN harus betul-betui dapat menjawab tantangan tugas
yang dihadapi di lapangan. Peningkatan kualitas para bintara mencerminkan
kinerja kepolisian secara menyeluruh, karena sekitar 90 % dari jumlah anggota
Polri adalah Bintara.
Pada Secapa Polri, dilakukan peningkatan kurikulum yang dapat memastikan
bahwa para lulusan secapa benar-benar memiliki kompetensi yang memadai
sebagai first line supervisor. Untuk pendidikan perwira sumber sarjana (PPSS)
diperlukan peningkatan kualitas maupun kuantitas karena secara spesifik Polri
terus membutuhkan keahlian-keahlian tertentu dan spesialis guna mendukung
secara teknis tugas-tugas operasional Polri.
Untuk Selapa Polri dan PTIK dilakukan pembenahan kurikulum mengingat posisi
strategis dari para lulusannya untuk menjadi mediator dalam transformasi
kebijakan unsur pimpinan kepada bawahan. Peningkatan kurikulum diarahkan
untuk terampil dalam memecahkan persoalan-persoalan di lapangan, di mana
para perwira lulusannya ditempatkan. Selanjutnya dalam rangka pengakuan,
memajukan dan mengembangkan ilmu kepolisian di Indonesia, maka PTIK
sebagai lembaga pendidikan tinggi Polri harus dipayungi oleh sebuah lembaga
pendidikan ilmiah dalam hal ini adalah Universitas Indonesia melalui
pengembangan Fakultas Ilmu Kepolisian. Oleh karena itu jabatan Gubernur PTIK
dan Dekan PTIK harus kembali dipisah sesuai dengan Keputusan Bersama
antara Kapolri dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor Nomor :
0214/0/1980 dan No. Pol. : Kep/12/VIII/80 tentang Pembinaan dan Tanggung
Jawab Bidang Akademik Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian oleh Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Demikian pula Sespim Polri perlu peningkatan kurikulum agar dapat member!
bobot kualitas untuk kepentingan regenerasi Polri terutama membangun
komitmen, moral, kompetensi, dan Visi yang dapat membawa Polri menjadi
lebih maju dan mampu menjawab tantangan-tantangan yang semakin komplek.
Peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan di berbagai lembaga
pendidikan dan pelatihan Polri tersebut diiringi dengan peningkatan disiplin dan
moralitas serta dedikasi yang tinggi melalui peningkatan kompetensi,
pembenahan pembinaan karier tenaga pendidik dan kependidikan, peningkatan
sarana dan prasarana pendidikan yang memadai serta penindakan tegas
terhadap penyelewengan yang terjadi, seperti pengaturan ranking, nepotisme
dalam penerimaan, penempatan, dan lainnya.
2) Tata Kelola (governance}, Polri harus mengadopsi berbagai prinsip tata kelola
yang baik, berkaitan dengan:
a) Tata kelola logistik.
(1) Berupa kepatuhan untuk menjalankan kepres no. 80 tahun 2003 mengenai
pengadaan barang dan jasa di lingkungan instansi pemerintah,
(2) Efektivitas dan efisiensi pengadaan dan penggunaan barang dan jasa.
Efektivitas berarti sesuai dengan kebutuhan, sedangkan efisiensi berarti tidak
memerlukan biaya yang tinggi.
b) Tata kelola asset.
Berkaitan dengan pencatatan Sistem Akuntabilitas Barang Milik Negara (SABMN)
terhadap semua asset negara sehingga jelas statusnya. Sampai saat ini Polri
masih mendapatkan status disclaimer dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) RI,
yang berarti pencatatan assetnya belum tertib dan tidak jelas keberadaan dan
statusnya, sehingga masih banyak asset yang tidak bisa
dipertanggungjawabkan. Masalah tata kelola asset akan dituntaskan dalam
waktu 3 bulan menjelang akhir tahun 2008.
c)Tata Kelola Anggaran.
Berkaitan dengan 2 (dua) hal, yaitu (1) Penyerapan anggaran, serta (2)
Efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran. Sampai saat ini (awal bulan
Oktober 2008) penyerapan anggaran tahun 2008 ternyata berjalan sangat
lambat. Hal ini mengindikasikan bahwa Polri belum menjalankan semua rencana
kerja sesuai dengan jadwal. Penyerapan anggaran harus segera diselesaikan
dalam waktu 3 bulan menjelang akhir tahun 2008.
3) Kesejahteraan.
Perbaikan kesejahteraan dipastikan akan mendorong terjadinya perbaikan
kinerja Polri dimasa depan. Prinsip dasar kerja Polri adalah pengabdian, namun
tidak dapat diabaikan bahwa aspek kesejahteraan menjadi salah satu faktor
pemicu utama untuk munculnya kinerja tinggi dan budaya melayani di Polri.
Oleh karenanya perlu secara proaktif menyusun sistem remunerasi yang tepat
untuk Polri dan segera mengusulkan kepada pemerintah. Penyusunan sistem
remunerasi mengacu kepada beberapa prinsip sebagai berikut (bestpractice}.
a) Keadilan Internal
Remunerasi yang diberikan kepada setiap personil Polri harus adil secara
internal, yang dilandaskan pada perimbangan beban tugas dan tanggungjawab
jabatan yang diemban oleh masing-masing orang.
b) Keadilan Eksternal
Remunerasi yang diberikan kepada setiap personil Polri harus pula adil secara
eksternal, yang dilandaskan pada perimbangan terhadap beban tugas dan
tanggungjawab jabatan yang setara di organisasi lain yang sejenis, baik institusi
pemerintahan di Indonesia (terutama institusi pemerintahan yang telah
melakukan perubahan sistem remunerasi dalam rangka reformasi birokrasi
seperti di Departemen Keuangan, Mahkamah Agung, BPKP, serta institusi sejenis
seperti KPK, Kejaksaan, KPPU, dan lain-lainnya), maupun institusi kepolisian di
negara-negara lain.
c) Kecukupan Ekonomis.
Remunerasi yang diberikan kepada setiap personil Polri juga perlu
mempertimbangkan kecukupan secara standar kelayakan ekonomi, yang
dilandaskan pada tingkat kebutuhan hidup, tingkat inflasi, dan indikator ekonomi
lainnya.
d) Memberikan Motivasi.
Remunerasi yang diberikan kepada setiap personil haruslah dapat mendorong
peningkatan motivasi melalui penghargaan finansial yang diberikan, sehingga
dapat mendorong kinerja setiap personil.
e) Menghargai Prestasi dan Keahlian.
Remunerasi yang diberikan kepada setiap personil harus terkait dengan kinerja
dan keahlian.
f) Ketersediaan Anggaran
Tingkat remunerasi yang diberikan harus juga mempertimbangkan kesanggupan
penyediaan anggaran secara bertahap.
4) Masalah Pencitraan.
Pencitraan Polri merupakan salah satu yang perlu diperbaiki. Perbaikan citra
Polri berkaitan dengan bagaimana kinerja dan kualitas pelayanan yang diberikan
oleh para personil Polri. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu langkah terobosan
untuk mengatasi masalah pencitraan ini. Tindakan yang akan dilakukan adalah
dengan memperjelas standar etika kerja di semua Satwil dan Satker, terutama
di sentra pelayanan kepolisian. Harus ada pedoman apa yang harus dilakukan
(do) dan tidak boleh dilakukan (donf) dan ditempelkan dalam bentuk poster di
tempat tersebut. Kemudian dilakukan pemberantasan pungli sesuai dengan
standar etika kerja tersebut, baik yang sifatnya eksternal dari masyarakat,
maupun internal Polri sendiri. Program pemberantasan pungli ini dilakukan
dalam 3 bulan pertama dan dimulai dari sekarang, dan harus tuntas akhir tahun
ini. Disadari bahwa hal tersebut adalah pekerjaan besar dan berat, namun harus
dilakukan demi pencitraan Polri yang bersih, profesional, dan patuh hukum.
13. Garis Besar Program Kerja (Oktober 2008 September 2009).
Dengan memperhatikan sejumlah isu dan permasalahan tersebut, maka
Program Kerja satu tahun Kapolri yang dimulai pada Oktober 2008 hingga
September 2009 adalah buah pikiran yang disampaikan di depan Dewan
Perwakilan Rakyat.
Implementasi program kerja ini, akan terus menerus dievaluasi dan ditindak
lanjuti setiap triwulan agar dapat berjalan secara berkesinambungan sesuai
dengan yang diharapkan. Secara umum, program kerja selama satu tahun ke
depan dapat dilihat rinciannya per-triwulan pada bagian berikut:
a. Mengatasi Sejumlah Permasalahan Eksternal Polri
1) Melanjutkan pencegahan dan pemberantasan kejahatan konvensional dan
kejahatan prioritas dengan lebih mengoptimalkan penyelesaian kasus, serta
berperan lebih proaktif dalam hal pencegahan.
2) Melakukan Operasi Kepolisian Pengamanan Pemilu Tahun 2009.
3) Meningkatkan kerjasama :
a) Inter Departemen : untuk 3 hal utama, yaitu (1) Penyelesaian kasus
kejahatan, (2) Peningkatan kompetensi dan profesionalisme Polri, serta (3)
Masalah tata kelola negara supaya jelas akuntabilitasnya.
b) Lembaga Internasional terutama untuk 2 hal utama, yaitu (1) Penyelesaian
kasus kejahatan trans-nasional, serta (2) Peningkatan kompetensi dan
profesionalisme Polri melalui benchmarking terhadap best-practice kepolisian di
luar negeri.
b. Mengatasi Sejumlah Permasalahan Internal Polri.
1) Melakukan Reformasi Struktural :
a) Melakukan restrukturisasi Detasemen 88/AT.
b) Melakukan restrukturisasi Polair.
c) Melakukan pembangunan INAFIS (Indonesia automatic fingerprint
identification system).
d) Melakukan pembangunan Pusiknas (pusat informasi kriminal nasional).
e) Pembentukan gugus kendali mutu dibawah koordinasi Itwasum Polri.
f) Pembentukan Satwil mengikuti pemekaran wilayah.
g) Evaluasi struktur organisasi Polri secara umum.
2) Melakukan Reformasi Instrumental:
a) Meningkatkan akuntabilitas tata kelola logistik.
b) Meningkatkan akuntabilitas tata kelola asset.
c) Meningkatkan akuntabilitas tata kelola anggaran.
d) Menyusun usulan sistem remunerasi.
e) Menerapkan manajemen mutu dan manajemen kinerja.
f) Memperbaiki sistem rekrutmen personil.
3) Melakukan Reformasi Kultural
a) Menerapkan pakta integritas dengan fokus utama melakukan pembersihan
Polri dari pungli.
b) Menerapkan standar budaya melayani.
c) Menyiapkan implementasi Sistem Pendidikan Polri yang baru.
d) Melakukan pengembangan terhadap Polmas.
14. Rincian Program Kerja Triwulan Pertama (Oktober 2008 Desember 2008).
a. Eksternal
1) Pengamanan perbatasan dan pulau-pulau terluar.
Membangun satuan wilayah kepolisian di perbatasan dan pulau-pulau terluar,
terutama di perbatasan dan pulau-pulau terluar di Kalimantan Barat, Kalimantan
Timur dan Nusa Tenggara Timur.
2) Empat jenis Kejahatan yang menjadi sasaran prioritas. Melanjutkan program
pencegahan dan pemberantasan empat jenis kejahatan yang menjadi prioritas
yang telah berjalan dengan baik, dengan mengutamakan upaya pencegahan
secara proaktif dan pemetaan jaringan/kelompok kejahatan (crime mapping)
terutama pada obyek vital dan fasilitas umum lainnya yang dapat menimbulkan
gangguan yang berdampak luas dan berimplikasi pada pelaksanaan Pemilu
2009.
3) Pengamanan Pemilu
Komitmen seluruh jajaran Polri adalah bersikap netral dan tidak memihak
kepada salah satu golongan tertentu. Tugas pokok Polri adalah mengamankan
jalannya pesta demokrasi tersebut dan salah satu tolok ukur keberhasilan adalah
ketika seluruh rakyat Indonesia yang memiliki hak pilih dapat menggunakan hak
demokrasinya dengan aman, bebas, dan tanpa tekanan. Polri juga harus
bersikap proaktif bukan reaktif, artinya tidak hanya menunggu pengaduan atas
terjadinya masalah, melainkan juga berperan untuk mencegah terjadinya
masalah melalui tindakan preventif dan preemtif.
Pengamanan Pemilu dilakukan dengan memperhatikan kondisi masyarakat dan
keragaman karakter sosial budaya masyarakat setempat. Dengan demikian para
Kasatwil harus memahami betul kondisi sosial budaya masyarakat di daerah
yang menjadi tanggung jawabnya.
Pada triwulan awal ini, segenap jajaran Polri harus sudah merencanakan
persiapan pengamanan Pemilu 2009. Fase ini adalah awal atau inisiasi bagi
persiapan pengamanan dalam rangka penyelenggaraan pemilu. Perencanaan
dimulai dengan melakukan inventarisasi potensi gangguan keamanan yang ada,
pilihan-pilihan tindakan, hingga sumber daya yang akan digunakan. Kegiatan
yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
a) Mempelajari semua pola pelaksanaan pemilu, baik Pemilu 1999 serta 2004,
maupun berbagai pilkada di berbagai daerah di Indonesia, baik tingkat propinsi
maupun kabupaten / kota. Polri harus mampu membuat peta potensi kerusuhan
di seluruh wilayah Indonesia berkaitan dengan pengalaman empiris pemilu dan
pilkada.
b) Mengindetifikasi berbagai potensi gangguan keamanan, dan mampu
memetakan sejak dari tingkat pelaksanaan pemungutan suara di lapangan,
sampai dengan muaranya di KPU tingkat nasional. Potensi ini antara lain adalah
pencurangan surat suara, sabotase, dan sebagainya. Setiap kepala Satwil di
tingkat terendah yaitu Kapolsek harus menjadi ujung tombak pelaksanaan di
lapangan, sedangkan untuk tingkat kabupaten / kota dilakukan oleh Kapolres /
Kapolresta / Kapoltabes / Kapolwil / Kapolwiltabes, dan di tingkat propinsi oleh
Kapolda. Untuk luar negeri akan dibentuk tim khusus.
c) Menyiapkan piranti lunak berupa prosedur standar untuk pengamanan pemilu,
mulai dari tingkat nasional, sampai ke tingkat kecamatan atau Polsek. Khusus
untuk luar negeri akan dibuat prosedur standar khusus.
d) Menyiapkan pihak-pihak yang menjadi penanggung jawab setiap kegiatan
operasional pengamanan pemilu, baik yang operasional di lapangan, maupun
dukungan (support). Penanggung jawab ini harus memahami prosedur standar
serta job description masing-masing.
e) Mengaktifkan peran intelijen dalam mengantisipasi potensi gangguan
keamanan. Intelijen berperan sebagai telinga untuk Polri dalam rangka
melakukan tindakan yang sifatnya proaktif untuk pengamanan pemilu.
4) Kerjasama
a) Interdepartemen.
(1) Meningkatkan koordinasi dengan sejumlah instansi terkait dalam rangka
penyelesaian kasus kejahatan, terutama kasus-kasus yang menjadi sorotan
masyarakat. Tujuannya agar penanganan kasus-kasus berhasil dengan baik
yang diakibatkan dari adanya komunikasi dan kerjasama, misalnya dalam
penanganan kasus pembalakan liar, terorisme, korupsi dan lain-lain.
(2) Menjalin kerjasama untuk lebih meningkatkan kompetensi dan
profesionalisme Polri, terutama dengan lembaga pendidikan seperti perguruan
tinggi serta badan pengawas seperti Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).
(3) Melakukan koordinasi mengenai tata kelola fungsi pemerintahan agar tidak
terjadi tumpang tindih dalam akuntabilitas dan pelaksanaannya. Perlu antisipasi
berbagai produk regulasi yang berpotensi mengurangi atau membatasi
kewenangan Polri dalam melakukan penegakan hukum dan ketertiban
masyarakat, misalnya Rancangan Undang-undang Keamanan Nasional,
Rancangan Undang-undang Transportasi, Rancangan Undang-undang
Daktiloskopi dan Rancangan Revisi KUHAP.
b) Internasional.
(1) Tujuan pertama untuk meningkatkan koordinasi dengan kepolisian dari
negara lain di dunia untuk penanganan kejahatan transnasional. Sebagai upaya
untuk mempermudah gerak dan langkah Polri dalam menjangkau sejumlah
pelaku kasus kejahatan yang telah berada diluar negeri. Kasus-kasus tersebut
diantaranya adalah ; terorisme, illegal logging, illegal minning, illegal traficking
dan illegal fishing, serta penyelundupan (barang maupun manusia). (2) Tujuan
kedua untuk menjalin kerjasama internasional dalam rangka meningkatkan
kompetensi dan profesionalisme Polri. Tujuan yang hendak dicapai adalah terjadi
pemutakhiran kompetensi dan profesionalisme yang telah dimiliki melalui
kerjasama pendidikan serta benchmarking terhadap best practices praktek
kepolisian di beberapa negara maju.
b. Internal.
1) Reformasi Struktural
a) Melakukan restrukturisasi terhadap Detasemen 88 Anti Teror. Restrukturisasi
ini diantaranya adalah dengan menempatkan Detasemen 88 Anti Teror (Den
88/AT) secara selektif pada 8 wilayah berikut:
(1) Wilayah I berkedudukan di Medan, meliputi Polda Nanggroe Aceh
Darussalam, Polda Sumatera Utara, Polda Sumatera Barat
(2) Wilayah II berkedudukan di Palembang, meliputi Polda Sumatera Selatan,
Polda Riau, Polda Kepri, Polda Lampung, Polda Bengkulu, Polda Jambi, dan Polda
Bangka Belitung.
(3) Wilayah III berkedudukan di Jakarta, meliputi Polda Metro Jaya, Polda
Banten, dan Polda Jawa Barat.
(4) Wilayah IV berkedudukan di Surabaya, meliputi Polda Jawa Tengah, Polda
Jawa Timur, dan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta.
(5) Wilayah V berkedudukan di Denpasar, meliputi Polda Bali, Polda Nusa
Tenggara Barat, dan Polda Nusa Tenggara Timur.
(6) Wilayah VI berkedudukan di Samarinda, meliputi Polda Kalimantan Timur,
Polda Kalimantan Selatan, Polda Kalimantan Barat, dan Polda Kalimantan
Tengah.
(7) Wilayah VII berkedudukan di Makasar, meliputi Polda Sulawesi Selatan,
Polda Sulawesi Tengah, Polda Sulawesi Tenggara, Polda Sulawesi Utara, dan
Polda Gorontalo.
(8) Wilayah VIII berkedudukan di Ambon, meliputi Polda Maluku, Polda Maluku
Utara, dan Polda Papua.
b) Melakukan Restrukturisasi Terhadap Polisi Perairan (Polair).
Meningkatkan peran Polair sebagai penyidik di laut dan peran dalam melakukan
patroli di laut untuk meningkatkan efektifitas pelaksanaan tugas pengamanan
dalam rangka back up satuan kewilayahan dengan memperhatikan tingkat
kerawanan wilayah dan menempatkan Polair yang siap dioperasionalkan serta
sekaligus untuk menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Terkait dengan peningkatan peran pembinaan keamanan, maka peningkatan
peran Samapta juga perlu dilakukan secara berkesinambungan agar mampu
meningkatkan kinerja dalam pencegahan kejahatan (upaya preventif), dan
sebagai wujud dari kehadiran polisi berseragam di semua lini. Untuk itu perlu
disusun rencana pengembangan Samapta dalam rangka meningkatkan
efektifitas dan efisiensi. Khusus untuk mendukung peningkatan peran Polair
dilakukan restrukturisasi dengan membangun 6 Pangkalan Gerak Polair menurut
wilayah, yaitu:
(1) Sat Polair wilayah I di Tanjung Batu Kepulauan Riau, meliputi wilayah
perairan Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau,
Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, dan
Lampung.
(2) Sat Polair wilayah II di Tarakan, meliputi wilayah perairan Kalimantan Timur,
Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
(3) Sat Polair wilayah III di Bitung, meliputi wilayah perairan Sulawesi Utara,
Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Gorontalo.
(4) Sat Polair wilayah IV di Kupang, meliputi wilayah perairan Bali, Nusa
Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
(5) Sat pol air wilayah V di Sorong, meliputi wilayah perairan Papua, Maluku,
dan Maluku Utara.
(6) Sat Polair wilayah VI di Jakarta, meliputi wilayah perairan Banten, Jakarta,
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Agar semua upaya peningkatan peran pembinaan keamanan (Polair dan
Samapta), baik di laut maupun di daratan melalui Polisi Berseragam dapat
berjalan dengan baik, diperlukan adanya komitmen moral dan integritas kuat,
yang didukung upaya peningkatan profesionalitas.
c) Menyiapkan Rencana Pembangunan Indonesian automatic fingerprint
information system (INAPIS)
d) Menyiapkan rencana pembangunan Pusat Informasi Kriminal Nasional
(Pusiknas)
e) Melakukan pembentukan satuan wilayah berkaitan dengan pemekaran
wilayah pemerintahan. Sebagai konsekuensi dari adanya pemekaran wilayah di
berbagai propinsi di Indonesia, maka akan dibentuk satuan wilayah baru sesuai
kebutuhan.
f) Melakukan kajian ulang organisasi dengan menampung usulan dari bawah
(bottom-up} dalam rangka perubahan struktur organisasi Polri. Kajian
restrukturisasi dilakukan dengan maksud untuk penyesuaian dan penyegaran
organisasi Polri yang telah ada. Diharapkan dengan restrukturisasi ini, tugas
pokok, fungsi dan peran Polri dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien.
Prinsip yang harus dipegang dalam restrukturisasi ini adalah hemat struktur
kaya fungsi dengan membentuk pokja dengan rencana kerja sebagai berikut:
(1) Triwulan pertama. Diharapkan adanya masukan dari masing-masing Satker
tentang bentuk dan tipe organisasi yang dibutuhkan.
(2) Triwulan ke dua. Pokja melakukan analisa masukan dari satker untuk
merumuskan bentuk dan tipe organisasi yang ideal.
(3) Triwulan ke tiga. Pilihan bentuk dan tipe organisasi yang menjadi pilihan
pokja dilaporkan kepada Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara untuk
selanjutnya dimintakan pengesahan.
(4) Triwulan ke empat. Diharapkan bentuk dan tipe organisasi yang telah
disetujui oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dapat operasional penuh.
2) Reformasi Instrumental
a) Mempercepat diseminasi penyelenggaraan tata kelola logistik, yaitu
kepatuhan terhadap Keppres 80 / 2003 mengenai pengadaan barang dan jasa.
Dengan mengacu keppres tersebut, semua proses pengadaan barang dan jasa
pada akhir tahun 2008, tidak lagi ditemukan penyimpangan terhadap kepatuhan
tata kelola logistik.
b) Mempercepat diseminasi tata kelola asset Polri, memperbaiki inventarisasi
asset sesuai dengan prinsip manajemen asset milik negara melalui Sistem
Akuntabilitas Barang Milik Negara (SABMN). Dengan demikian, pada saat diaudit
kembali oleh BPK, maka kondisi disclaimer atau tata kelola yang buruk tidak lagi
melekat pada Polri, oleh karenanya harus tuntas pada akhir tahun 2008.
c) Mempercepat pelaksanaan berbagai program kerja untuk dapat menyerap
anggaran secara efektif sesuai peruntukannya (tepat guna) serta efisiensi dan
akuntabel dalam penggunaanya. Dengan waktu yang tersisa 3 (tiga) bulan
sampai menjelang akhir tahun 2008, tetap mengacu pada rencana kerja dan
anggaran Polri 2008 yang sudah ditetapkan sebelumnya.
d) Melakukan kajian remunerasi Polri sebagai bagian dari reformasi birokrasi
Polri. Kajian diantaranya dapat berupa melakukan studi banding terhadap
sejumlah departemen yang telah/sedang melakukan reformasi birokrasi,
khususnya masalah remunerasi yang merupakan bagian dari peningkatan
kesejahteraan, seperti Departemen Keuangan, Mahkamah Agung dan lain
sebagainya, maupun terhadap organisasi kepolisian di negara lain. Kajian
remunerasi ini menyangkut perbandingan standar gaji dan tunjangan pada
sesaman institusi pemerintahan dan organisasi kepolisian di berbagai negara,
termasuk asuransi keselamatan kerja, tunjangan/fasilitas perumahan, tunjangan
transportasi, dan tunjangan kesehatan.
e) Melakukan penjajakan kerjasama di setiap kesatuan wilayah dan Mabes
dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kesejahteraan personil Polri baik
untuk perumahan, transportasi, kesehatan, dan lainnya. Kerjasama ini misalnya
untuk pemberian fasilitas perumahan layak dan murah dengan pihak pemerintah
daerah, institusi perbankan milik pemerintah, dan pengembang.
f) Melakukan kajian untuk menerapkan sistem manajemen mutu dan
manajemen kinerja. Tujuannya adalah mempersiapkan pemahaman tugas
pokok, fungsi dan peran Polri, guna diarahkan menuju pencapaian mutu dan
kinerja yang baik dari setiap personilnya. Pada tahap awal dibentuk tim khusus
untuk implementasi manajemen mutu dan kinerja di lingkungan Polri. Tim ini
akan mengkaji semua konsep dan kerangka manajemen mutu dan kinerja yang
ada serta memformulasikannya sedemikian rupa sehingga dapat diterapkan
dengan segala kekhasan organisasi Polri.
g) Menyusun rencana peningkatan kapasitas institusi Polri (capacity building}
dalam melakukan penelitian dan pengembangan (Litbang) Kepolisian. Tujuannya
adalah untuk menyiapkan suatu perencanaan komprehensif guna meningkatkan
kemampuan Polri dalam melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan
(Litbang) Kepolisian, dengan mensinergikan berbagai lembaga pendidikan dan
pelatihan di lingkungan Polri, sehingga mampu menghasilkan berbagai pemikiran
dan terobosan baru dalam meningkatkan fungsi kepolisian. Rencana
peningkatan kapasitas penelitian dan pengembangan ini akan meningkatkan
kemampuan Polri menjadi center of excellence dalam bidang kepolisian sehingga
dapat menjadi salah satu acuan praktek kepolisian terbaik di tingkat regional.
3) Reformasi Kultural
a) Menyusun Pakta Integritas (komitmen moral dan standar etika kerja) baru
yang dilengkapi dengan mekanisme reward and punishment Pakta Integritas ini
kemudian disarikan dalam bentuk poster dos and dontt (panduan hal-hal yang
boleh dan tidak boleh dilakukan), dan kemudian dipasang di setiap Satwil dan
Satker, terutama sentra pelayanan kepolisian di seluruh Indonesia. Pakta
integritas ini akan berisikan hal-hal sebagai berikut:
(1) Melakukan pembersihan pungli, baik di dalam tubuh Polri (internal) maupun
terhadap pihak luar (eksternal).
(2) Memberikan kemudahan akses bagi masyarakat untuk menyampaikan
keluhan melalui lembaga penampung pengaduan di setiap kesatuan, serta
menindaklanjuti penyelesaian pengaduan dan melaporkan hasilnya secara
periodik kepada Kapolri.
(3) Menyelenggarakan apel pagi di lapangan bagi satuan operasional yang
dikontrol oleh pimpinan disetiap lini sebagai sarana pengendalian dan
pengawasan bagi para bawahannya yang melaksanakan tugas di pos-pos
pelayanan kepolisian sehingga dapat dipastikan Polri mampu member!
pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.
(4) Menghilangkan kebiasaan melakukan kegiatan-kegiatan diluar tugas-tugas
pokok, seperti kebiasaan anjangsana dan budaya setor muka.
(5) Menghilangkan sikap pemimpin yang suka melempar kesalahan kepada
bawahan.
(6) Menghilangkan kebiasaan melibatkan istri pejabat dalam kegiatan kedinasan,
misalnya mutasi, mengurus kasus, dan lain-lainnya.
(7) Menghentikan kesenangan pejabat yang dapat membebani bawahan,
termasuk diantaranya budaya setor bawahan kepada atasan.
(8) Meningkatkan peran fungsi pembinaan (personil, logistik, keuangan) dan
propam sesuai dengan prosedur dan tata kerja yang telah disepakati untuk
mewujudkan internal trust dan menghilangkan saling curiga, saling
menyalahkan, dan memanfaatkan kewenangan untuk keuntungan pribadi.
Langkah penyusunan dan pelaksanaan pakta integritas ini dilakukan sebagai
moral guidance dan motivasi bagi setiap personil Polri untuk meningkatkan
moralitas, integritas dan profesionalisme.
a) Menandatangani dan menerapkan Pakta Integritas di seluruh satuan kerja
dan satuan kewilayahan, serta menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan
bertanggung jawab.
b) Menyusun Standar Budaya Melayani (service culture} disetiap sentra
pelayanan kepolisian, lengkap dengan panduan dan indikator keberhasilan (key
performance indicators / KPI). Tujuannya adalah sebagai langkah awal bagi
penerapan budaya melayani dimanapun bagi setiap personil Polri.
c) Melakukan sosialisasi standar budaya melayani secara internal kepada seluruh
satuan kerja, satuan wilayah dan secara eksternal kepada masyarakat. Proses
ini merupakan penyatuan pemahaman budaya melayani yang akan diterapkan
sebagai wujud dari penampilan wajah humanis Polri kepada masyarakat.
d) Mendiseminasikan hasil penerapan Polmas percontohan yang telah dilakukan
dibeberapa Satwil yang berhasil / terbaik se-Indonesia sebagai langkah untuk
memperluas penerapan Polmas di Indonesia. Dengan demikian, semua Satwil
bisa mempelajari kiat sukses dan menyusun pedoman yang disesuaikan dengan
kondisi lokal setempat.
Diseminasi Polmas ini meliputi :
(1) Model dan bentuk standar layanan kepolisian, terutama yang berkaitan
dengan keamanan dan ketertiban masyarakat, yang bersifat humanis atau
ramah kepada masyarakat, lebih proaktif, dan sesuai dengan kondisi sosial
budaya masyarakat setempat.
(2) Inti dari Polmas adalah kemitraan dan penyelesaian masalah yang dihadapi
komunitas. Dengan demikian komunikasi, mendatangi dan edukasi kepada
masyarakat merupakan kunci keberhasilan dari kegiatan Polmas. Jika ini sudah
dilakukan, maka masyarakat akan memberi apresiasi terhadap kegiatan Polmas.
(3) Pemberdayaan masyarakat agar mampu berperan aktif dalam melakukan
pengamanan di lingkungannya sendiri.
Salah satu aspek yang masih menjadi kelemahan dalam menerapkan Polmas
adalah kuantitas dan kualitas personel Polri yang duduk di dalam jabatan
Binamitra belum memadai dan memiliki kompetensi untuk mengemban Polmas
dengan baik. Dengan demikian, program pendidikan untuk membentuk personal
Polmas harus segera direncanakan agar kompetensi menjadi merata bagi
anggota di lingkungan Polri. Percepatan pendidikan personel untuk Polmas perlu
dilakukan di lingkungan Polri maupun melalui kerjasama dengan luar negeri.
e) Penerapan Polmas yang lebih terstandarisasi dan merata di seluruh Satwil.
Tujuannya adalah supaya penerapan Polmas ditengah masyarakat memiliki
standar pencapaian yang terukur, dapat ditentukan kualitas Polmas yang terbaik
bagi masyarakat.
f) Mematangkan konsep Sistem Pendidikan Polri yang telah dibuat sebelumnya
agar sesuai dengan konteks tantangan Polri saat ini dan ke depan, dan
memudahkan dalam proses implementasinya.
15. Rincian Program Kerja Triwulan Kedua (Januari 2009 Maret 2009). a.
Eksternal
1) Pengamanan perbatasan dan pulau-pulau terluar
Melanjutkan program pembangunan satuan wilayah kepolisian di perbatasan dan
pulau-pulau terluar, terutama di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Nusa
Tenggara Timur yang telah dilakukan di triwulan sebelumnya.
2) Penanganan empat jenis kejahatan yang menjadi sasaran Prioritas.
Melanjutkan program pemberantasan dan pencegahan kejahatan prioritas yang
telah dilakukan di triwulan sebelumnya.
3) Pengamanan Pemilu
a) Memastikan kesiapan operasi pengamanan Pemilu. Di dalam program kerja
ini berbagai latihan dan gelar pasukan ditujukan untuk mematangkan kesiapan
operasi kepolisian pengamanan Pemilu. Latihan ini harus dilakukan secara
berkala, melibatkan berbagai unsur kesatuan di dalam Polri, juga melibatkan
masyarakat, dan yang terpenting juga melibatkan unsur partai politik peserta
Pemilu, dan pihak KPU/ KPUD.
b) Memfasilitasi terbentuknya kesepakatan menciptakan Pemilu damai dengan
partai politik peserta Pemilu. Pada fase ini, Polri berfungsi sebagai mediator yang
kemudian mengajak seluruh partai politik peserta Pemilu melakukan ikrar untuk
mendukung penyelenggaraan Pemilu yang damai.
Pada tingkat pusat, Mabes Polri harus menjadi inisiator untuk memfasilitasi
kesepakatan ini dengan menggandeng semua pimpinan pusat partai politik
melakukan ikrar mendukung penyelenggaraan Pemilu secara damai. Sedangkan
pada tingkat propinsi, Polda melakukan hal yang sama dengan melibatkan
pimpinan daerah partai politik, dan pada tingkat Kabupaten / Kota dilakukan
oleh Kapolres / Kapolresta / Kapoltabes / Kapolwil / Kapolwiltabes dengan
melibatkan pimpinan partai di tingkat Kabupaten / Kota.
c) Mendorong partisipasi Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) Polmas
untuk turut serta dalam pengamanan Pemilu. FKPM sebagai media kerjasama
Polri dan masyarakat sangat berperan dalam pengamanan Pemilu, di mana
secara dini yang didasari oleh kesukarelaan masyarakat dapat menjaga
kelancaran proses pelaksanaan Pemilu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
mengaktifkan pertemuan FKPM yang melibatkan masyarakat, mengajak
masyarakat berdiskusi, meminta masukan dari masyarakat, dan sebagainya.
4) Kerjasama
a) Interdepartemen.
Melanjutkan peningkatan koordinasi dengan sejumlah instansi terkait perihal
penyelesaian kasus kejahatan, terutama kasus-kasus yang menjadi sorotan
masyarakat, ataupun dalam rangka peningkatan profesionalisme, serta
akuntabilitas terhadap asset negara yang dikelola oleh Polri.
b) Internasional
(1) Melanjutkan peningkatan kerjasama internasional yang bertujuan untuk
meningkatkan koordinasi dengan kepolisian dari negara lain di dunia dalam
penanganan kejahatan transnasional.
(2) Melanjutkan dan memperluas jalinan kerjasama internasional yang bertujuan
untuk meningkatkan kompetensi serta profesionalisme Polri. Internal
1) Reformasi Struktural
a) Melanjutkan restrukturisasi Detasemen 88 Anti Teror.
b) Melanjutkan restrukturisasi Kepolisian Perairan (Polair).
c) Melaksanakan Implementasi Penggunaan INAFIS (Indonesian automatic finger
print information system)
d) Melaksanakan implementasi penggunaan Pusat Informasi Kriminal Nasional
(Pusiknas).
e) Melanjutkan pembentukan satuan wilayah sesuai dengan pemekaran wilayah
yang terjadi.
f) Membentuk Kelompok Kerja (Pokja) dan menyusun usulan Struktur Polri yang
baru sebagai hasil kajian yang telah dilakukan pada triwulan sebelumnya.
2) Reformasi Instrumental
a) Menyusun dan mengajukan usulan sistem remunerasi Polri yang baru kepada
pemerintah. Sistem remunerasi yang baru diharapkan akan menyeimbangkan
antara beban tugas yang dihadapi dengan kesejahteraan yang didapatkan oleh
personil Polri, sehingga diharapkan dapat memotivasi pencapaian kinerja yang
bermutu. Bersamaan dengan usulan sistem remunerasi tersebut juga dibuat
usulan besarnya anggaran Polri tahun 2010, agar sistem remunerasi ini dapat
dilaksanakan pada TA. 2010.
b) Melaksanakan kerjasama di setiap kesatuan wilayah dan mabes dengan
berbagai pihak untuk meningkatkan kesejahteraan personil Polri baik untuk
perumahan, transportasi, dan kesehatan.
c) Menerapkan sistem manajemen mutu dan manajemen kinerja yang baru
diseluruh satuan kerja dan wilayah Polri. Dalam penerapan ini, secara bertahap
namun pasti, seluruh jajaran Polri akan mengimplementasikan sistem tersebut.
d) Meningkatkan transparansi dan konsistensi sistem rekrutmen, terutama untuk
Bintara. Untuk rekrutmen Akpol, sudah berjalan dengan baik. Sehingga
diharapkan dapat menekan atau bahkan menghapuskan kemungkinan terjadinya
pungutan liar atau kecurangan dalam proses rekrutmen, serta meningkatkan
penerapan local boy for local jotT.
e) Mematangkan dan menyampaikan usulan rencana peningkatan kapasitas Polri
dalam melakukan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kepolisian.
3) Reformasi Kultural.
a) Menindaklanjuti pengawasan dan evaluasi pelaksanaan Pakta Integritas di
setiap kesatuan.
b) Menerapkan budaya melayani di seluruh Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK)
sesuai dengan standar yang telah disusun pada triwulan sebelumnya.
c) Mengadakan program pemilihan Sentra Pelayanan Kepolisian terbaik dalam
penerapan budaya melayani, serta bersih dari pungli (clean and accountable) di
mana pada setiap triwulan akan diumumkan sentra layanan kepolisian terbaik,
dan setiap tahunnya akan diberikan penghargaan (award) kepada sentra
pelayanan kepolisian terbaik selama kurun waktu 1 tahun. Hal ini bertujuan
untuk memotivasi setiap sentra pelayanan dalam memberikan pelayanan yang
terbaik bagi masyarakat, sehingga dalam waktu yang singkat Polri dapat
mencapai target sebagai institusi pelayanan publik terbaik di Indonesia.
.d) Melanjutkan diseminasi hasil penerapan Polmas percontohan yang telah
dilakukan dibeberapa Satwil yang berhasil/terbaik se-Indonesia. Tujuannya
adalah untuk penyebarkan keberhasilan penerapan Polmas tersebut ke seluruh
Indonesia secara merata, terstandarisasi dan berkualitas.
e) Menyiapkan implementasi Sistem Pendidikan Polri yang baru berupa
penyiapan berbagai piranti lunak pendukung dan sumber daya manusia yang
kompeten.
16. Rincian Program Kerja Triwulan Ketiga (April 2009 Juni 2009). a. Eksternal
1) Pengamanan perbatasan dan pulau-Dulau terluar. Melanjutkan program
pembangunan satuan wilayah kepolisian di wilayah perbatasan dan pulau-pulau
terluar di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Timur, telah
dilakukan pada triwulan sebelumnya.
2) Penanganan empat jenis kejahatan yang menjadi sasaran Prioritas.
Melanjutkan program pemberantasan dan pencegahan kejahatan prioritas yang
telah dilakukan pada triwulan sebelumnya.
3) Pengamanan Pemilu.
Melakukan operasional pengamanan pelaksanaan Pemilu sesuai dengan
perencanaan yang telah dilakukan sebelumnya:
a) Segenap jajaran Polri berada pada tingkat kesiapsiagaan tinggi, harus berada
di tempat kerja masing-masing sesuai penugasannya.
b) Anggota disebar sesuai dengan derajat potensi kerusuhan di setiap wilayah
yang sudah diidentifikasi sebelumnya, serta tempat-tempat yang berkaitan
dengan Pemilu, seperti TPS, PPS, KPUD, sampai KPU.
c) Secara proaktif menjalin koordinasi dengan para pimpinan partai politik untuk
menjaga ketertiban umum, dan fungsi intelijen terus ditingkatkan.
d) Jika ada kerusuhan, langsung segera ditangani dalam waktu sesingkat-
singkatnya, langsung dilokalisir, dan tidak menyebar menjadi kerusuhan besar.
4) Kerjasama
a) Interdepartemen
Melanjutkan peningkatan koordinasi dengan sejumlah instansi terkait
menyangkut penyelesaian kasus kejahatan, terutama kasus-kasus yang menjadi
sorotan masyarakat.
b) Internasional
(1) Melanjutkan peningkatan kerjasama internasional yang bertujuan untuk
meningkatkan koordinasi dengan kepolisian dari negara lain di dunia untuk
penanganan kejahatan transnasional.
(2) Melanjutkan dan memperluas jalinan kerjasama internasional yang bertujuan
untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme Polri Internal
1) Reformasi Struktural
a) Restrukturisasi Den 88/AT, Pangkalan Gerak Polair, Pembangunan INAFIS dan
PUSIKNAS sudah operasional penuh.
b) Melanjutkan pembentukan satuan wilayah sesuai dengan pemekaran wilayah
yang terjadi (jika ada).
c) Finalisasi usulan Struktur Polri yang baru.
d) Mengajukan usulan Struktur Polri yang baru kepada pemerintah.
2) Reformasi Instrumental.
a) Mematangkan persiapan pelaksanaan sistem remunerasi Polri yang baru,
yang akan diimplementasikan di tahun 2010.
b) Melanjutkan pelaksanaan kerjasama di setiap kesatuan wilayah dan Mabes
dengan berbagai pihak untuk peningkatan kesejahteraan personil Polri dalam hal
perumahan, transportasi, dan kesehatan.
c) Melanjutkan penerapan sistem manajemen mutu dan manajemen kinerja
yang baru diseluruh satuan kerja dan wilayah Polri. Diharapkan terjadi
peningkatan secara terus-menerus bertitik tolak dari hasil evaluasi pelaksanaan
di triwulan sebelumnya, dengan kurva semakin baik.
d) Meningkatkan pengawasan pelaksanaan rekrutmen, terutama untuk Bintara.
e) Melaksanakan implementasi peningkatan kapasitas Polri dalam melakukan
penelitian dan pengembangan (Litbang) kepolisian. Indikator keberhasilan
kegiatan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kepolisian ini adalah dengan
secara reguler (misalnya triwulan) dapat dihasilkan pemikiran dan terobosan
baru dalam meningkatkan fungsi kepolisian, yang kemudian dapat didiseminasi
(melalui forum seminar, jurnal, ataupun media lainnya) dan diujicobakan di
lapangan.
3) Reformasi Kultural
a) Menindaklanjuti pengawasan dan evaluasi pelaksanaan Pakta Integritas di
setiap kesatuan.
b) Melanjutkan penerapan standar budaya melayani dengan melakukan
sosialisasi program pemberian penghargaan Sentra Pelayanan Kepolisian
terbaik.
c) Mengumumkan Sentra Pelayanan Kepolisian terbaik dalam triwulan pertama
pelaksanaan program penghargaan budaya melayani.
d) Mengadakan program pemilihan implementasi Polmas terbaik untuk FKPM,
kemudian FKPM terbaik akan diumumkan setiap triwulan dan diakhir tahun akan
diberikan penghargaan (award) kepada FKPM dengan pelaksanaan Polmas
terbaik.
e) Melanjutkan persiapan implementasi Sistem Pendidikan Polri yang baru.
.
17. Rincian Program Kerja Triwulan Keempat (Juli 2009 September 2009)
a. Eksternal
1) Pengamanan perbatasan dan pulau-pulau terluar.
Menuntaskan pembangunan satuan wilayah kepolisian di wilayah perbatasan dan
pulau-pulau terluar di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara
Timur.
2) Penanganan empat jenis kejahatan yang menjadi sasaran Prioritas.
Melanjutkan program pencegahan dan pemberantasan kejahatan prioritas yang
telah dilakukan pada triwulan sebelumnya.
3) Pengamanan Pemilu
Melanjutkan operasional pengamanan pelaksanaan Pemilu, sama seperti
triwulan sebelumnya.
4) Kerjasama
a) Inter Departemen
Melanjutkan peningkatan koordinasi dengan sejumlah instansi terkait
menyangkut penyelesaian kasus kejahatan, terutama kasus-kasus yang menjadi
sorotan masyarakat.
b) Internasional
(1) Melanjutkan peningkatan kerjasama internasional yang bertujuan untuk
meningkatkan koordinasi dengan kepolisian dari negara lain di dunia untuk
penanganan kejahatan transnasional.
(2) Melanjutkan dan memperluas jalinan kerjasama internasional yang bertujuan
untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme Polri.
b. Internal
1) Reformasi Struktural
a) Restrukturisasi Den 88/AT, Pangkalan Gerak Polair, Pembangunan INAFIS dan
PUSIKNAS sudah operasional penuh.
b) Melanjutkan pembentukan satuan wilayah sesuai dengan pemekaran wilayah
yang terjadi.c) Mendapatkan persetujuan pemerintah untuk struktur organisasi
Polri yang baru.
d) Menyiapkan implementasi struktur organisasi Polri yang baru.
2) Reformasi Instrumental
a) Mematangkan persiapan pelaksanaan sistem remunerasi Polri yang baru,
yang akan diimplementasikan di tahun 2010.
b) Melanjutkan pelaksanaan kerjasama di setiap kesatuan wilayah dan Mabes
dengan berbagai pihak untuk peningkatan kesejahteraan personil Polri dalam hal
perumahan, transportasi, dan kesehatan.
c) Melanjutkan penerapan sistem manajemen mutu dan manajemen kinerja
yang baru diseluruh satuan kerja dan wilayah Polri, sesuai dengan hasil evaluasi
pelaksanaan pada triwulan sebelumnya.
d) Meningkatkan pengawasan pelaksanaan rekrutmen, terutama untuk Bintara
di SPN.
e) Melanjutkan pelaksanaan implementasi peningkatan kapasitas penelitian dan
pengembangan (Litbang) kepolisian, sehingga fungsi Litbang Polri dapat menjadi
inisiator perubahan di lingkungan Polri, yang dapat menghasilkan praktek
kepolisian terbaik dan peningkatan kinerja Polri.
3) Reformasi Kultural
a) Menindaklanjuti pengawasan dan evaluasi pelaksanaan pakta integritas di
setiap kesatuan.
b) Melanjutkan penerapan Standar Budaya Melayani di seluruh Sentra Pelayanan
Kepolisian sesuai dengan hasil evaluasi pelaksanaan pada triwulan sebelumnya.
c) Mengumumkan Sentra Pelayanan Kepolisian terbaik pada triwulan berjalan.
d) Melanjutkan program penerapan Polmas sesuai standar terbaik di seluruh
FKPM yang ada, dan secara terus-menerus melakukan peningkatan sesuai hasil
evaluasi pelaksanaan pada triwulan sebelumnya.
e) Mengumumkan FKPM terbaik dalam pelaksanaan Polmas pada triwulan
berjalan.
f) Melanjutkan persiapan implementasi Sistem Pendidikan Polri yang baru.

V. PENUTUP

Dengan semakin besarnya tuntutan dan harapan dari masyarakat terhadap
kinerja dan citra Polri serta dinamika perkembangan lingkungan, maka
pelaksanaan program akselerasi utama menjadi tantangan bagi Polri, terutama
untuk dapat mewujudkan hasil segera (quick wins} berupa berbagai langkah
nyata perubahan dan peningkatan kinerja Polri, khususnya dalam hal reformasi
kultural di internal Polri.
Untuk itu dituntut perhatian dan keseriusan dari seluruh jajaran Polri dalam
menindaklanjuti dan memahami program ini yang merupakan penajaman dari
Rencana Kerja Tahun 2008 dan Tahun 2009 yang memanfaatkan sisa waktu dua
tahun dari tahap pertama Grand Strategi Poiri yakni pencapaian trust building.
Dengan demikian program akselerasi ini disusun dengan memperhatikan
dukungan anggaran yang telah diprogramkan dan diimplementasikan dengan
baik oleh seluruh jajaran Poiri.
Dalam rangka menjamin keberhasilan program akselerasi secara konsisten dan
berkesinambungan dilakukan analisa dan evaluasi per-triwulan. Mengingat
program akselerasi ini merupakan ikhtiar bersama untuk mencapai dan
mewujudkan Poiri yang mandiri, profesional, dan dipercaya masyarakat, maka
seluruh anggota Poiri wajib untuk melaksanakannya secara baik.

Diposkan oleh PERPUSTAKAAN di 00.34
http://pustakabagopscianjur.blogspot.com/2010/11/program-kerja-akselerasi-
tranformasi.html