Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar belakang
Permasalahan dalam agama islam terus ada dan senantiasa bisa
diselesaikan.Pada masa Rasulullah saw. permasalahan yang muncul dapat
langsung ditanyakan kepada Rasulullah sedangkan pada masa sahabat dalam
menyelesaikan masalah yang aktual pada waktu itu peranan ijtihad dirasa semakin
penting,karena tanpa ijtihad akan banyak masalah yang tidak diketahui status
hukumnya sementara wahyu(al-quran) dan al-hadits sudah terhenti.
Pada masa tabiin diperkirakan muncul pada masa awal berdirinya Bani
Umayyah dan berakhir pada abad ke II H. Dengan demikian periode ini
merupakan masa transisi antara sahabat dengan masa timbulnya Imam-imam
mazhab baik dari kalangan sunni dengan tokohnya atau dari kalangan Syiah.
Pada masa tabiin ini,umat islam sudah terpecah kepada tiga kelompok
,yaitu khawarij, syiah dan jumhur. Setiap golongan berpegang teguh kepada
pendapat masing-masing dan pada umumnya merasa bangga serta berusaha
mempertahankannya.Hal ini menimbulkan perbedaan pandangan dalam
menetapkan hukum islam.
Pada periode ini pula dikenal dua kecenderungan dalam metode
pelegislasian hukum Islam, pertama adalah aliran yang cenderung dalam
menetapkan hasil ijtihad lebih banyak menggunakan hadits Nabi dibandingkan
dengan menggunakan ijtihad meskipun keduanya tetap dijadikan sumber,kedua
dalam menetapkan fikih lebih banyak menggunakan sumber rayu atau ijtihad
ketimbang hadits, meskipun hadits juga banyak digunakan . Kedua kelompok
yang berbeda ini dikenal dengan ahlul rayi dan ahlul hadis. Makalah ini akan
mencoba memaparkan lebih lanjut tentang faktor-faktor yang melatar belakangi
munculnya kedua aliran tersebut, metode istinbat hukum serta tokoh-tokohnya
dan sebagainya.
2

B. Rumusan Masalah
Beberapa masalah yang akan kami bahas pada makalah ini yaitu :
1. Apakah pengertian ahlul hadis dan ahlul rayi?
2. Apakah Faktor faktor yang melatarbelakangi munculnya kedua aliran
ini?
3. Bagaimana metode istinbat hukum kedua aliran ini ?
4. Sebutkan tokoh tokoh kedua aliran ini ?
























3


BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Ahlul Hadits dan Ahlul Rayi
Kata rayu dalam bahasa Arab adalah masdar dari kata ra a yang secara
arti kata maknanya melihat atau berpikir.Obyek yang dikenai oleh
kata melihat dalam al-quran secara garis besar dapat dibagi dua macam,
yaitu obyek yang konkret dan yang abstrak.

B. Faktor faktor yang melatarbelakangi munculnya ahli hadits dan ahli
rayi
Munculnya dua kecendrungan ini dapat dipahami,terutama karena adanya dua
latar belakang historis dan sosial budaya yang berbeda. Ahlal-hadits muncul di wilayah
Hijaz adalah karena hijaz khususnya Madinah dan Mekkah adalah wilayah tempat nabi
bermukim dalam mengembangkan islam. Dengan demikian orang orang Islam di
wilayah ini lebih banyak mengetahui tentang kehidupan Nabi dan dengan sendirinya
banyak mendengar dan mengetahui hadits dari nabi. Sebaliknya, Irak atau Kufah, karena
jauhnya lokasi dari kehidupan Nabi, maka pengetahuan mereka akan hadits Nabi tidak
sebanyak yang diperoleh orang Islam di Hijaz.Di samping itu kehidupan sosial muamalat
begitu luas serta komplek karena lokasinya yang lebih maju dari HIjaz.
1

Tantangan kultural yang dihadapi oleh ulama pada masa ini juga mempengaruhi
metodologi dan kaidah-kaidah ijtihad mereka. Kelompok rasionalis (ahlu al-rayi), pada
umumnya, adalah para ulama yang selalu berhadapan dengan permasalahan masyarakat.
Ahlu al-ra'yi, menekankan pendidikan dan pengajarannya kepada pemahaman dan
kemampuan akal dalam berdiskusi dan berbantah.
2

Selain itu kombinasi antara faktor-faktor politik dengan perbedaan latar belakang
sosial budaya. Pusat atau ibu kota pemerintahan kekhalifahan Islam untuk pertama

1
Prof.Dr.H.Amir Syarifuddin,Ushul Fiqh Jilid 1,cet. 1, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu,1997),hal.
29.
2
Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani dan Muhammad Zuhri, Hukum Islam dalam Lintasan
Sejarah, (Jakarta : PT Raya Grafindo Persada, 1996), hal. 100.
4

kalinya sejak masa Ali bin Abi Thalib berpindah dari Madinah ke Kufah, dan kemudian
ke Syria (Damaskus). Hal ini, praktis menyebabkan wilayah Hijaz menjadi relatif aman
dari berbagai pergolakan dan gelombang budaya serta ide-ide dari luar yang memasuki
pusat pemerintahan.
Kehidupan di Hijaz berlangsung mudah dan sederhana, karena relatif terisolasi.
Hijaz juga merupakan tempat hidup Nabi Saw dan tempat lahirnya pemerintahan Islam.
Oleh sebab itu, terdapat banyak sekali hadits di wilayah ini, selain ketetapan-ketetapan
hukum yang dibuat oleh tiga khalifah pertama, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan
Utsman bin Affan. Di sisi lain, Irak merupakan daerah baru dan asing bagi umat Islam.
Ketika pemerintahan Islam berpusat di sini, beragam kebudayaan dari berbagai daerah
bercampur-baur sehingga memunculkan beragam situasi dan peristiwa baru yang berada
di luar pengalaman para ulama Islam pada masa ini. Di samping itu, hadits-hadits tidak
mudah didapatkan sebagaimana di Hijaz karena jumlah Sahabat yang tinggal di Irak
relatif sedikit.
Pada dasarnya, Irak merupakan tempat lahirnya hadits-hadits palsu, dan juga di
kemudian hari menjadi tempat tumbuhnya sebagian besar sekte yang menyimpang.
Karena tidak mau percaya begitu saja pada keabsahan hadits yang dikutip, para ulama
Irak cenderung lebih sedikit menggunakan hadits dibandingkan dengan para ulama Hijaz.
Beberapa hadits yang dianggap akurat oleh para ulama Irak hanya diterima setelah
terpenuhinya persyaratan yang sangat cermat. Akibat dari keadaan ini adalah corak
pemikiran hukum Irak dan para ulamanya yang lebih cenderung bergantung pada akal
dan logika daripada Sunnah Nabi Saw.
Menurut Dr. Huzaemah dalam bukunya Pengantar Perbandingan Mazhab, ada
beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya dua aliran tersebut, yaitu :
1. Hadits-hadits Nabi saw. dan fatwa-fatwa para sahabat di irak tidak
sebanyak di hijaz. Karena itu, fuqaha irak harus memeras otak dan
berusaha keras untuk memahami pengertian nash dan illat dalam rangka
penetapan hukum dari syara, agar pengertian hukum tersebut tidak
terbatas hanya yang tertera dalam teksnya saja.
2. Irak merupakan pusat pergolakan politik dan pusat pertahanan golongan
syiah dan khawarij yang salah satu akibat negatifnya ialah adanya
pemalsuan terhadap hadits-hadits Rasulullah. Oleh sebab itu fuqaha irak
sangat hati-hati dalam menerima hadits. Bila ada hadits yang tidak sesuai
5

dengan Maqsid al-syariah(tujuan umum prinsip-prinsip syara)adi
tersebut mereka tawilkan atau mereka tinggalkan.
3. Karena faktor lingkungan hidup yang berbeda . Irak pernah lama dikuasai
Persia. Sehingga mempengaruhi hubungan keperdataan dan adat kebiasaan
orang Irak, yang sama sekali tidak dikenal di Hijaz. Sementara di Hijaz
sejak masa Rasulullah, Sahabat, Tabiin dan Tabitabiin (para imam
mujtahidin) hampir tidak ada perubahan berarti , sehingga setiap kejadian
hampir ditemukan hukumnya dalam sunah Rasulullah atau fatwa Sahabat
dan tabiin.
3

C. Tata cara mengistinbat hukum kedua aliran ini

Ahlu rayi dalam mengistimbatkan hukum lebih cenderung menggunakan
rayu dalam setiap kasus yang dihadapi mereka berusaha mencari illat-nya
sehingga dengan iillat ini mereka dapat menyamakan hukum kasus yang
dihadapi dengan hukum yang ada nash-nya.Sikap ahli rayi (ulama Irak ) ini
bukan berarti meninggalkan Sunnah Rasulullah saw. , tetapi sikap itu mereka
ambil karena sangat sedikit sunnah Rasulullah saw. yang bisa mereka temukan.
Adapun para ulama Madinah (ahli riwayah) banyak menggunakan adi-adi
Rasulullah saw. ,karena mereka sangat mudah dapat melacak sunnah Rasulullah
di daerah tersebut.
4

Para ahlul riwayah (ahli adi) bila dalam menetapkan hukum suatu
masalah tidak ditemukan hukumnya dalam nash al-quran dan al-sunnah, mereka
berpaling kepada praktek dan pendapat para sahabat. Mereka menggunakan rayu
hanya alam keadaaan terpaksa. Adapun ahli rayi dalam menetapkan hukum
berlandaskan pada beberapa asumsi dasar, antara lain :
a. Nash-nash syariah sifatnya terbatas, sedangkan peristiwa-peristiwa
hukum selalu baru dan senantiasa berkembang. Oleh sebab itu, terhadap
peristiwa-peristiwa yang tidak ada nash nya , ijtihad didasarkan kepada
rayu, sesuai ucapan Muaz bin jabal ketika diutus oleh Rasulullah ke

3
DR. Huzaemah Tahido Yanggo, Pengantar Perbandingan Mazhab,(cet. 1, Jakarta :Logos, 1997
)hal. 36.
4
Dr.H.Nasrun Haroen, M.A.,Ushul Fiqh I,( cet. 2 , Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997)hal. 9.
6

yaman , bahwa bila ia tidak menemukan nash dari Quran dan Sunnah, ia
akan berijtihad dengan rayu (pendapat) nya.
b. Setiap hukum syara dikaitkan dengan illat tertentu dan ditujukan untuk
tujuan tertentu. Tugas utama seorang faqih ialah menemukan illat ini.
Oleh sebab itu, ijtihad merupakan upaya menghubungkan suat kasus
dengan kasus lain karena illatnya, atau membatalkan berlakunya satu
hukum karena diduga tidak ada illatnya.
Dalam asumsi pertama, ijtihad sama dengan rayu; dan dalam asumsi
kedua , ijtihad sama dengan qiyas.
5

Adapun contoh perbedaaan kedua aliran ini dalam menyelesaikan masalah
yaitu :
a. Kasus: zakat 40 ekor kambing adalah 1 ekor kambing:
a. Pendapat Ahlu Hadits (fuqoha Hijaz) : harus membayar zakatnya
dengan wujud 1 ekor kambing sesuai yang diterangka hadits dan
dianggap belum menjalankan kewajiban apabial dibayar dengan
harga yang senilai.
b. Pendapat Ahlu Rayu (Fuquha Irak) : muzakki wajib membayar
zakatnya itu dengan 1 ekor kambing atau dengan harga yang
senilai dengan seekor kambing.
b. Kasus: zakat fitrah itu 1 sha` tamar (kurma) atau syair (gandum)
Pendapat Ahlu Hadits (fuqoha Hijaz) : harus membayar zakatnya
dengan 1 sha` tamar sesuai yang diterangkan hadis dn dianggap
belum menjalankan kewajiban apabiala dibayar dengan harga yang
senilai.
Pendapat Ahlu Ra`yu (fuqoha Irak) : muzakki wajib membayar
zakat fitrah itu dengan 1 sha` tamar atau denagn haraga senilai 1
sha` tamar tersebut.
c. Mengembalikan kambing yang terlanjur diperas air susunya harus
dikembalikan dengan 1 sha` tamar.

5
Dr.Huzaemah Tahido Yanggo, Pengantar Perbandingan Mazhab, (cet. 1, Jakarta :
Logos,1997)hal.33-34.
7

Pendapat Ahlu Hadits (fuquha Hijaz): harus menggantinya dengan
membayar 1 sha` tamar sesuai yang diterangka hadis dan dianggap belum
menjalankan kewajiban apabila dibayar dengan harga yang senilai.
- Pendapat Ahlu Ra`yu (fuqoha Irak) : menggantinya dengan harga yang
senilai dengan ukuran air susu yang diperas berati telah menunaikan
kewajiban. Dari contoh diatas kita dapat mengetahui ahli hadis dari nash-
nash ini menurut apa yang ditunjuk oleh ibarat-ibaratnya secara lahiri, dan
mereka tidak membahas illat tasyri (sebab disyariatkan). Sedangkan ahli
ra`yi memahami nas-nash tersebut menurut maknanya dan maksud
disyariatkan oleh sang pembuat syariat, Allah SWT.
Masih banyak contoh-contoh penyelesaian masalah menggunakan
rayi begitu pula dengan menggunakan adi Rasulullah saw.

D. Tokoh-tokoh kedua aliran ini
Sebagaimana kita ketahui kedua aliran besar ini yaitu ahli rayi yang
terletak di Irak serta Kufah dan ahli riwayah yang terletak di Hijaz
(Madinah dan Mekkah).Setiap kota memiliki tokoh-tokoh besar yang
menjadi panutan dan memberikan sumbangan pada perkembangan ijtihad
di daerah yang bersangkutan. Tokoh di Mekah yang terkenal adalah :
Atha ibnu abi Rabh(W.114 H) dan Amr Ibn Dinr (W.126 H). Di
Madinah muncul tokoh-tokoh diantaranya : Said bin musayyab (W. 94
H), Urwah Ibn Zubair (W. 94 H) dan Abu Bakar Ibn Abd. Rahmn (W.95
H).
Beberapa tokoh yang termasuk dalam kelompok ahl rayu adalah sebagai
berikut:
1. Alqamah bin Qais an-NakhaI (w. 62 H).
2. Masruq bin Hajda al-Hamadzani (w. 63).
3. al-Qadi Syuraih bin Haris bin Qais (w. 78).
4. Said bin Jubair (w. 95 H).
5. al-Syabi Abu Amr bin Syarhil al-Hamadzani (w. 114).

8

Di antara tokoh-tokoh terkemuka dari kelompok ahl al-hadis adalah para
fuqaha yang tujuh, yaitu:

1. Abu Bakar bin Abd al-Rahman bin Haris bin Hisyam (w. 94 H).
2. al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar (w. 107 H.)
3. Urwah bin Zubeir bin Awwam (w. 94 H.)
4. Said bin al-Musayyab (w. 94 H.).
5. Sulaiman bin Yasar (w. 107 H).
6. Kharij bin Zaid bin Tsabit (w. 100 H.).
7. Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Masud (w. 98 H.).
6





















6
Amir sabri, Al-rayi dan Al- Hadits, http://amirsabri.blogspot.com/2013/01/al-rayi-dan-al-
hadis.html ( 6 April 2014).
9






BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Ahl al-Hadis dan Ahl Rayi adalah dua kecenderung dalam metode
pelegislasian hukum Islam. Hal ini dikarenakan faktor sumber hadis,
homoginitas dan heteroginitas penduduk yang mendiami tempat tersebut.
Ahl Hadis yang berkembang di Hijaz mempunyai banyak sumber hadis
karena sahabat yang mendengar nabi lebih banyak tinggal di wilayah ini,
di samping itu, penduduknya juga termasuk homogen yang tentu tidak
akan melahirkan terlalu banyak persoalan. Sedangkan Ahl Rayi yang
berkembang di Iraq lebih sedikit mendapatkan hadis, baik karena
sumbernya atau kehati-hatian mereka dalam menseleksi hadis karena
banyaknya hadis maudhu. Iraq juga dikenal dengan masyarakat yang
heterogen dan berlatar berbagai perdaban, percampuran perdaban inilah
yang melahirkan berbagai masalah yang membutuhkan pemecahan
hukum.
Meski dikatakan sebagai Ahli Rayi, mereka masih menggunakan
hadis, perbedaannya dengan Ahl Hadis adalah dalam mendahulukan rayu
ketimbang hadis ahad yang oleh Ahl Hadis, hadis ahad didahulukan
ketimbang rayu.




10






DAFTAR PUSTAKA


Haroen N. Ushul Fiqh .Cet. 2 ; Jakarta: Logos Wacana Ilmu,1997.
Hasan A. Perbandingan Mazhab.Cet. 3 ; Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
1998.
Syarifuddin A. Ushul Fiqh Jilid 1,Cet 1 ; Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997.
Sabri ,Amir. Al-rayi dan Al- Hadits,http://amirsabri.blogspot.com/2013/01/al-
rayi-dan-al-hadis.html ( 6 April 2014).
Yanggo HT. Pengantar Perbandingan Mazhab.Cet. 1; Jakarta: Logos,1997.