Anda di halaman 1dari 56

1

CASE BASED DISCUSSION



SEORANG ANAK LAKI-LAKI DENGAN DIARE AKUT DEHIDRASI
BERAT, FAIL TO THRIVE DAN STATUS GIZI KURANG

Diajukan untuk
Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kesehatan Anak
di RS SUNAN KALIJAGA DEMAK








Disusun oleh:
Kidung Alifa Sakti N.N
01.208.5696

Pembimbing:
dr. Ch. Rini Pratiwi, Sp.A


BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2013

2


HALAMAN PENGESAHAN


DIARE AKUT DEHIDRASI BERAT, FAIL TO THRIVE DAN STATUS
GIZI KURANG

Nama : Kidung Alifa Sakti NN
NIM : 01.208.5696
Fakultas : Kedokteran
Judul : Seorang Anak Laki-Laki Dengan Diare Akut Dehidrasi Berat, Fail
to Thrive dan Status Gizi Kurang
Bagian : Ilmu Kesehatan Anak
Pembimbing : dr. Ch. Rini Pratiwi, Sp.A








Demak, November 2013
Pembimbing,


dr. Ch. Rini Pratiwi, Sp.A



3

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Diare adalah berak konsistensi lunak sampai cair sebanyak 3 kali atau
lebih dalam satu hari. Angka kejadian diare pada anak usia balita masih cukup
tinggi dan termasuk penyebab morbiditas dan mortilitas utama di Negara
berkembang. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) tahun 2007,
angka prevalensi diare di Indonesia sebesar 9%. Kejadian diare tersebar pada
semua kelompok umur anak dengan prevalensi tertinggi pada anak usia balita
(16,7%). Menurut Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2007, rata-rata
jumlah kasus diare anak usia balita per tahun diatas 40%.
Gizi kurang di Negara berkembang banyak terdapat pada ibu dan anak
dimana sebagian besar disebabkan oleh karena factor asupan makanan yang tidak
adekuat (poor feeding) dan/atau factor penyakit (frequent infection). Apabila
berlangsung terus tanpa ada penanganan yang optimal akan menyebabkan anak
jatuh pada keadaan gizi buruk (malnutrisi). Menurut data yang diperoleh dari
Depkes (2010) memperlihatkan prevalensi gizi buruk di Indonesia terus menurun
dari 9,7% di tahun 2005 menjadi 4,9% di tahun 2010. Namun prevalensi gizi
buruk di Jawa Tengah dari tahun 2007-2009 mengalami kestabilan yaitu 4%.
Kejadian gizi buruk apabila tidak diatasi akan menyebabkan dampak yang buruk
untuk perkembangan dan pertumbuhan bagi balita.
Periode usia balita merupakan masa rawan pertumbuhan anak.
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik seorang anak, diantaranya tinggi
badan, berat badan, dan lingkar kepala. Perkembangan adalah bertambahnya
kemampuan fungsi individu, seperti kemampuan motorik kasar, halus,
pendengaran, penglihatan, komunikasi, bicara, emosi-sosial, kemandirian,
intelegensi, moral. Tumbuh kembang seorang anak dipengaruhi oleh banyak
factor, dibedakan menjadi dua kelompok yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik.
Faktor intrinsik berperan untuk mencukupi kebutuhan biopsikososial anak yang
4

terwujud dalam pola : asuh (nutrisi, pakaian, rumah, lingkungan, sanitasi,
imunisasi); asih (kasih saying); dan asah (stimulasi,komunikasi). Prevalensi gagal
tumbuh berkisar antara 1.3-20.9%, tergantung definisi dan kondisi demografis
populasi sampel. Delapan puluh persen anak dengan gagal tumbuh berusia kurang
dari 18 bulan. Prevalens gagal tumbuh yang harus dirawat di rumah sakit
mencapai 1-5% kasus


B. Tujuan
Pada makalah ini diajukan satu kasus anak dengan diare akut dehidrasi
berat, fail to thrive dan gizi kurang yang dirawat di RSUD Sunan Kalijaga
Demak. Penyajian kasus ini bertujuan untuk mempelajari lebih dalam tentang cara
mendiagnosis, penatalaksanaan di rumah sakit, dan pengelolaan secara
komprehensif dan holistik pada pasien dengan diare akut dehidrasi berat, fail to
thrive dan gizi kurang.

C. Manfaat
Penulisan laporan kasus ini diharapkan dapat membantu tenaga medis
untuk belajar menegakkan diagnosis, melakukan penatalaksanaan di rumah sakit,
dan pengelolaan secara komprehensif dan holistik pada pasien dengan diare akut
dehidrasi berat, fail to thrive dan gizi kurang.






5

BAB II
LAPORAN KASUS

1. IDENTITAS
1.1. Identitas Penderita
Nama penderita : An. O
Umur : 36 hari
Jenis kelamin : Laki-laki
Tempat : Ruang Bougenville
Tanggal masuk RS : 19-11-2013
Tanggal keluar RS : 28-10-2013
Alamat : Botorejo 01/02, Wonosalam Demak
1.2. Identitas Orang Tua
Nama Ayah : Tn. X
Pekerjaan : Tukang Becak
Nama Ibu : Ny. S
Pekerjaan : Penjual Makanan

2. ANAMNESIS
Alloanamnesis dengan ibu penderita pada hari Senin, tanggal 25
November 2013, jam 09.00 WIB di Ruang Bougenville RSUD Sunan Kalijaga
Demak, dan didukung dengan catatan medis.
a. Keluhan Utama:
BAB cair
b. Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang dari IGD dengan keluhan BAB cair. Keluhan telah
berlangsung sejak 3 hari. Dalam sehari BAB mencapai lebih dari 8 kali.
Volume tiap kali BAB banyak
1
/
3
gelas belimbing. BAB cair disertai ampas,
namun tidak disertai lendir dan tidak disertai darah, BAB berwarna kuning.
Terakhir BAB saat sebelum dibawa ke RS 2x. BAK tidak ada keluhan.
Keluhan disertai panas 1 hari naik turun, tidak disertai kejang dan mimisan.
6

Selain itu muntah setiap kali minum susu. Anak tampak tak mau minum.
Belum pernah dibawa berobat sebelumnya. Keluhan BAB cair dan demam
belum berhenti sehingga orang tua membawa anak ke RSUD Sunan Kalijaga
Demak. Riwayat alergi dan ganti susu formula disangkal. Sejak lahir pasien
hanya diberikan susu formula lactogen 1 dan tak memiliki keluhan BAB cair
sebelumnya. Pembuatan susu dalam 1 botol susu kecil (60 cc) diberikan 1
sendok takar memakai air hangat. Susu diberikan semau anak. Tiap kali susu
habis botol dicuci dengan sabun dan di rendam dalam air hangat. Ibu mengaku
jarang mencuci tangan.
d. Riwayat Penyakit Dahulu:
Sebelumnya anak tidak pernah sakit seperti ini.
e. Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak ada anggota keluarga lain yang mengalami keluhan seperti ini.
f. Riwayat Sosial Ekonomi:
Penderita adalah anak ketiga. Penderita tinggal bersama kedua orang tua
dan 2 saudara kandungnya. Pekerjaan ayah seorang tukang becak dan ibu
sebagai penjual makanan. Penghasilan keluarga 15.000-40.000 per hari. Biaya
pengobatan ditanggung JAMKESMAS. Dapur, kamar mandi dan toilet dalam
satu ruang tanpa sekat permanen. Lantai rumah terbuat dari batu bata,
kebersihan rumah kurang.
Kesan sosial ekonomi: Kurang
Kesan sanitasi : Buruk
g. Riwayat Kehamilan dan Pemeliharaan Prenatal
Ibu mengaku rutin memeriksakan kehamilan di bidan 1x setiap bulan
sampai usia kehamilan 7 bulan. Saat usia kehamilan memasuki 8 bulan, ibu
memeriksakan kehamilan di bidan 2x setiap bulan hingga lahir. Ibu juga
mengaku mendapat suntikan TT 1x. Ibu mengaku tidak pernah menderita
penyakit selama kehamilan, riwayat perdarahan selama kehamilan disangkal,
riwayat trauma selama kehamilan disangkal, riwayat minum obat tanpa resep
dokter dan jamu disangkal. Obatobatan yang diminum selama masa
kehamilan adalah vitamin dan obat penambah darah.
7

Kesan: riwayat kehamilan dan pemeliharaan prenatal baik.
h. Riwayat Persalinan:
- Persalinan : spontan di tolong bidan
- Usia dalam kandungan : 9 bulan 2 minggu
- Berat badan lahir : 2500 g
- Panjang badan lahir : Ibu lupa
Kesan: neonatus, cukup bulan, sesuai masa kehamilan, partus spontan.
i. Riwayat Imunisasi:
Imunisasi tidak jelas
Kesan: imunisasi tidak jelas. Ibu sulit menjelaskan tentang status
imunisasi anak. (KMS tidak disertakan)
j. Riwayat Gizi:
Sejak lahir pasien diberikan susu formula lactogen 1. Pembuatan susu
dalam 1 botol susu kecil (60 cc) diberikan 1 sendok takar memakai air
hangat. Susu diberikan semau anak.
Kesan : ASI tidak eksklusif
Kualitas kurang
Kuantitas cukup
k. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan:
Pertumbuhan:
Berat badan lahir 2500 g, panjang badan ibu lupa, berat badan
sekarang 2750 g, panjang badan sekarang 51,5 cm.
Perkembangan:
- Menatap : usia 1 bulan
Kesan: pertumbuhan dan perkembangan anak dalam batas normal sesuai usia.
3. PEMERIKSAAN FISIK
Hari Senin, tanggal 25 November 2013, jam 09.30 WIB di Ruang
Bougenville RSUD Sunan Kalijaga Demak.
Status Present:
Jenis kelamin : Laki-laki
Usia : 36 hari
8

Lingkar kepala : 36 cm
Berat badan : 2750 g
Panjang badan : 51,5 cm
WAZ = BB median = 2,75-4,0 = -2,1 ( berat badan kurang )
SD 0,6
HAZ = TB median = 51,5 53,5 = -0,89 ( normal )
SD 2,30
WHZ = BB median = 2,75 3,6 = -2,125 ( kurang )
SD 0,4
Kesan : Gizi kurang perawakan normal berat badan kurang
Vital Sign:
N : 148 x/ menit, isi dan tegangan cukup
T : 37,5 C
RR : 42 x/ menit
Keadaan Umum : Tampak lemah, rewel
Kepala : mesocephal, ubun-ubun cekung
Rambut : hitam, tidak mudah dicabut
Mata : cekung (+/+), palpebra oedem (-), conjungtiva anemis (-),
sclera ikterik (-), pupil isokor 2 mm, reflek cahaya (+ / +),
reflek kornea (+ / +)
Telinga : ukuran dan bentuk normal, discharge (- / -), tidak nyeri,
tidak bengkak
Hidung : nafas cuping (-), sekret (-), epistaksis (-)
Mulut : bibir kering (+), sianosis (-), karies (-), lidah kotor (-),
perdarahan gusi (-)
Tenggorok : T1-T1, faring hiperemis (-)
Leher : simetris, tidak ada pembesaran kelenjar limfe
Thorax

Paru :
Inspeksi : simetris, retraksi (-)
Palpasi : sterm fremitus kanan sama dengan kiri
Perkusi : sonor seluruh lapang (posisi terlentang)
9

Auskultasi : suara dasar vesikuler, suara tambahan: wheezing
(- / -) dan ronkhi (- / -)
Kesan : Dalam Batas Normal
Jantung :
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba di sela iga V. linea
midclavicula sinistra, kuat angkat, teraba
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi : suara jantung I dan II normal, gallop (-), bising (-)
Kesan : Dalam Batas Normal
Abdomen :
Inspeksi : cembung, simetris
Auskultasi : bising usus meningkat
Palpasi : supel, turgor sangat lambat, massa (-), hepar
tidak teraba, lien tidak teraba
Perkusi : hipertimpani
Ekstremitas Superior Inferior
Akral dingin - / - - / -
Sianosis - / - - / -
Capillary refill < 2
Oedem - / - - / -
Genitalia : Laki-laki, ambiguous (-)
Pemeriksaan Neurologis
a) Sistem Motorik
Pergerakan : N/N N/N
Tonus : N/N N/N
Trofi : normal
Klonus : normal
Kekuatan otot : sulit dinilai
4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
10

Pemeriksaan Darah Rutin 19 November 2013
Hb 11,9 g/ dl
Ht 33%
Leukosit 12.800/ mm
3

Trombosit 422.000/ mm
3
Pemeriksaan Feses Rutin 19 November 2013
Faeces rutin
Makroskopis
Konsistensi
Lendir
Darah
Nanah
Mikroskopis
Eritrosit
Lekosit
Amoeba
Telur cacing
Pencernaan
Serat otot
Serat tumbuhan
Lemak
Amilum
Bakteri


Lembek
Negatif
Negatif
Negatif

Negatif
Negatif
-
-

Positif
Positif
Positif
Positif
Positif
Pemeriksaan GDS dan
Elektrolit
19 November 2013
GDS 86
Natrium 160,9
Kalium 5,49
Calsium 10,99
Magnesium 2,3
11

Chloride 120,1

5. DIAGNOSIS BANDING
BAB cair:
- Diare Akut e.c. Infeksi Bakteri dengan Dehidrasi Berat
- Diare Akut e.c. Malabsorbsi dengan Dehidrasi Berat
- Diare Akut e.c. Intoleransi Laktosa dengan Dehidrasi Berat
6. DIAGNOSIS KERJA
o Diagnosis Utama : Diare Akut
o Diagnosis Komorbid : Dehidrasi Berat
o Diagnosis Komplikasi : -
o Diagnosis Gizi : Fail to thrive, Gizi Kurang
o Diagnosis Sosial Ekonomi : Kurang
o Diagnosis Imunisasi : Imunisasi Dasar tidak jelas
o Diagnosis Pertumbuhan : Gizi kurang, perawakan normal, berat
badan kurang
o Diagnosis Perkembangan : Perkembangan sesuai
7. PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa:
Jaga kehangatan
Medikamentosa:
Terapi Awal :
Inf.KaEN 3B 20 tpm makro
Terapi Lanjutan bila status dehidrasi membaik :
Inf.KaEN 3B 6 tpm makro
Po : Paracetamol syr 3x
1
/
3
Cth
Zinc tab 1x10 mg
Diet : F75 12x 20-40 cc (naik bertahap)
8. MONITORING
Keadaan Umum
Tanda vital (nadi, pernafasan, suhu)
12

Tanda-tanda dehidrasi
Diuresis
Tanda-tanda overload cairan
Berat badan harian
Akseptabilitas nutrisi
9. PROGNOSIS
Qua ad vitam : dubia ad bonam
Qua ad sanam : dubia ad bonam
Qua ad fungsionam : dubia ad bonam
10. NASEHAT
1. Edukasi manfaat pemberian ASI pada bayi.
2. Biasakan mencuci tangan sebelum menyiapkan minuman, dan setelah
buang air besar dan buang air kecil.
3. Jaga kebersihan ibu dan anggota keluarga yang lain dan lingkungan tempat
tinggal serta peralatan minum bayi.
4. Jika panas, minum obat penurun panas, jika panas tidak turun, segera bawa
kepelayanan kesehatan.
5. Minum obat secara teratur yang diberikan sesuai anjuran dokter dan
kontrol teratur.
6. Edukasi cara pembuatan formula susu yang baik dan benar.










13

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
GIZI KURANG
Status gizi secara klinis dan antopometri (BB/PB atau BB/TB)
Status gizi Klinis Antopometri
Gizi buruk Tampak sangat kurus atau
edema pada kedua punggung
kaki sampai seluruh tubuh
<-3 SD atau 70 %
LILA <115 mm
Gizi kurang Tampak kurus -3SD sampai <-2 SD atau
80%
Gizi baik Tampak sehat -2 SD sampai + 2 SD
Gizi lebih Tampak gemuk >+2 SD
Diagnosis
Jika BB/TB atau BB/PB tidak dapat diukur, gunakan tanda klinis berupa anak
tampak sangat kurus (visible severe wasting) dan tidak mempunyai jaringan
lemak bawah kulit terutama pada kedua bahu, lengan, pantat dan paha; tulang iga
terlihat jelas, dengan atau tanpa adanya edema(lihat gambar).
Anak-anak dengan BB/U < 60% belum tentu gizi buruk, karena mungkin anak
tersebut pendek, sehingga tidak terlihat sangat kurus. Anak seperti itu tidak
membutuhkan perawatan di rumah sakit, kecuali jika ditemukan penyakit lain
yang berat.
Penilaian Awal
Pada setiap anak gizi buruk lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis. Anamnesis
terdiri dari anamnesis awal dan anamnesis lanjutan.
Anamnesis awal (untuk kedaruratan):
Kejadian mata cekung yang baru saja muncul
Lama dan frekuensi diare dan muntah serta tampilan dari bahan muntah
dan diare (encer/darah/lendir)
Kapan terakhir berkemih
Sejak kapan tangan dan kaki teraba dingin.
Bila didapatkan hal tersebut di atas, sangat mungkin anak mengalami dehidrasi
dan/atau syok, serta harus diatasi segera
14

Anamnesis lanjutan
(untuk mencari penyebab dan rencana tatalaksana selanjutnya, dilakukan setelah
kedaruratan ditangani):
Diet (pola makan)/kebiasaan makan sebelum sakit
Riwayat pemberian ASI Asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi
beberapa hari terakhir
Hilangnya nafsu makan
Kontak dengan pasien campak atau tuberkulosis paru
Pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir
Batuk kronik
Kejadian dan penyebab kematian saudara kandung
Berat badan lahir
Riwayat tumbuh kembang: duduk, berdiri, bicara dan lain-lain
Riwayat imunisasi
Apakah ditimbang setiap bulan
Lingkungan keluarga (untuk memahami latar belakang sosial anak)
Diketahui atau tersangka infeksi HIV
Pemeriksaan sis
Apakah anak tampak sangat kurus, adakah edema pada kedua punggung
kaki. Tentukan status gizi dengan menggunakan BB/TB-PB.
Tanda dehidrasi: tampak haus, mata cekung, turgor buruk (hati-hati
menentukan status dehidrasi pada gizi buruk).
Adakah tanda syok (tangan dingin,capillary refill time yang lambat,
nadilemah dan cepat), kesadaran menurun.Demam (suhu aksilar 37.5
C) atau hipotermi(suhu aksilar < 35.5 C).
Frekuensi dan tipe pernapasan : pneumonia atau gagal jantung
Sangat pucat
Pembesaran hati dan ikterus
Adakah perut kembung,bising usus melemah/meninggi,tanda asites, atau
adanyasuara seperti pukulan padapermukaan air (abdominal splash)
Tatalaksana Perawatan
Tanda defisiensi vitamin A pada mata:
o Konjungtiva atau kornea yang kering,bercak Bitot
o Ulkus kornea
o Keratomalasia
Ulkus pada mulut
Fokus infeksi: telinga, tenggorokan,paru, kulit
Lesi kulit pada kwashiorkor:
o hipo- atau hiper-pigmentasi
15

o deskuamasi
o ulserasi (kaki, paha, genital, lipatanpaha, belakang telinga)
o lesi eksudatif (menyerupai luka bakar),seringkali dengan infeksi
sekunder (termasuk jamur).
Tampilan tinja (konsistensi, darah, lendir).
Tanda dan gejala infeksi HIV.
Anak dengan defisiensi vitamin A seringkali fotofobia. Penting untuk memeriksa
mata dengan hati-hati untuk menghindari robeknya kornea.
Pemeriksaan laboratorium, terhadap Hb dan atau Ht, jika didapatkan anak sangat
pucat. untuk memudahkan penanganan penanganan gizi buruk dibagi berdasarkan
tanda bahaya dan tanda penting (syok, letargis, dan muntah/diare/dehidrasi), anak
gizi buruk dikelompokkan menjadi 5 kondisi klinis dan diberikan rencana terapi
cairan dan makanan yang sesuai.
Tatalaksana Perawatan
Pada saat masuk rumah sakit:
anak dipisahkan dari pasien infeksi
ditempatkan di ruangan yang hangat (2530C, bebas dari angin)
dipantau secara rutin
memandikan anak dilakukan seminimal mungkin dan harus segera
keringkan.
Demi keberhasilan tatalaksana diperlukan:
Fasilitas dan staf yang profesional (Tim Asuhan Gizi)
Timbangan badan yang akurat
Penyediaan dan pemberian makan yang tepat dan benar
Pencatatan asupan makanan dan berat badan anak, sehingga kemajuan
selama perawatan dapat dievaluasi
Keterlibatan orang tua.
Jika ditemukan ulkus kornea, beri vitamin A dan obat tetes mata kloram-
fenikol/tetrasiklin dan atropin; tutup mata dengan kasa yang telah dibasahidengan
larutan garam normal, dan balutlah. Jangan beri obat mata yangmengandung
steroid. Jika terdapat anemia berat, diperlukan penanganan segera

Penanganan umum meliputi 10 langkah dan terbagi dalam 4 fase yaitu: fase
stabilisasi, fase transisi, fase rehabilitasi dan fase tindak lanjut.
16

No
Tindakan
pelayanan
Fase Stabilisasi
Fase
Transisi
Fase
Rehabilitasi
Fase
Tindak
Lanjut
H 1-2 H 3-7 H 8-14 Mgg ke 3 6 Mgg 7-26
1 Hipoglike
mi

2 Hipotermia
3 Dehidrasi
4 Elektrolit
5 Infeksi
6 Mikronutri
ent
Tanpa Fe Dengan Fe
7 Makanan
awal

8 Tumbuh
Kejar

9 Stimulasi
Sensoris

10 Persiapan
pulang

Memberikan
makanan awal
agar kondisi
anak stabil
Tanpa edema:
o Cairan : 130
ml/Kgbb
o Energi: 80-
100
Kkal/KgBB
o Protein : 1-1.5
g/Kgbb
Mempers
iapkan
anak
untuk
menerima
cairan
dan
energi
lebih
besar
Cairan :
150
ml/KgBB
Energi :
100-150
Kkal/kgB
B
Protein :
2-3
g/KgBB

Mengejar
pertumbuha
n
Cairan :
150 200
ml/KgBB
Energi :
150-220
Kkal/KgBB
Protein : 4-
6 g/KgBB


17

1. Mencegah dan Mengatasi Hipoglikemi
Semua anak dengan gizi buruk berisiko hipoglikemia (kadar gula darah< 3
mmol/L atau < 54 mg/dl) sehingga setiap anak gizi buruk harus diberi makan atau
larutan glukosa/gula pasir 10% segera setelah masuk rumah sakit. Pemberian
makan yang sering sangat penting dilakukan pada anak gizi buruk.
Jika fasilitas setempat tidak memungkinkan untuk memeriksa kadar gula
darah, maka semua anak gizi buruk harus dianggap menderita hipoglikemia dan
segera ditangani sesuai panduan.
Tatalaksana
Segera beri F-75 pertama atau modifikasinya bila penyediaannya
memungkinkan.
Bila F-75 pertama tidak dapat disediakan dengan cepat, berikan 50 ml
larutan glukosa atau gula 10% (1 sendok teh munjung gula dalam 50 ml
air) secara oral atau melalui NGT.
Lanjutkan pemberian F-75 setiap 23 jam, siang dan malam selama
minimal dua hari.
Bila masih mendapat ASI teruskan pemberian ASI di luar jadwal
pemberian F-75.
Jika anak tidak sadar (letargis), berikan larutan glukosa 10%
secaraintravena (bolus) sebanyak 5 ml/kg BB, atau larutan
glukosa/larutangula pasir 50 ml dengan NGT.
Beri antibiotik.
Pemantauan
Jika kadar gula darah awal rendah, ulangi pengukuran kadar gula darahsetelah 30
menit.
Jika kadar gula darah di bawah 3 mmol/L (< 54 mg/dl), ulangi pemberian
larutan glukosa atau gula 10%.
Jika suhu rektal < 35.5 C atau bila kesadaran memburuk, mungkin
hipoglikemia disebabkan oleh hipotermia, ulangi pengukuran kadar gula
darah dan tangani sesuai keadaan (hipotermia dan hipoglikemia)
Pencegahan
Beri makanan awal (F-75) setiap 2 jam, mulai sesegera mungkin (lihat Pemberian
makan awal) atau jika perlu, lakukan rehidrasi lebih dulu. Pemberian makan harus
teratur setiap 2-3 jam siang malam.
2. Mencegah dan Mengatasi Hipotermia
18

Diagnosis Suhu aksilar < 35.5 C
Tatalaksana
Segera beri makan F-75 (jika perlu, lakukan rehidrasi lebih dulu).
Pastikan bahwa anak berpakaian (termasuk kepalanya). Tutup
denganselimut hangat dan letakkan pemanas (tidak mengarah langsung
kepada anak) atau lampu di dekatnya, atau letakkan anak langsung pada
dada atau perut ibunya (dari kulit ke kulit: metode kanguru). Bila
menggunakan lampu listrik, letakkan lampu pijar 40 W dengan jarak 50
cm dari tubuh anak.
Beri antibiotik sesuai pedoman.
Pemantauan
Ukur suhu aksilar anak setiap 2 jam sampai suhu meningkat menjadi36.5
C atau lebih. Jika digunakan pemanas, ukur suhu tiap setengah jam.
Hentikan pemanasan bila suhu mencapai 36.5 C
Pastikan bahwa anak selalu tertutup pakaian atau selimut, terutama pada
malam hari
Periksa kadar gula darah bila ditemukan hipotermia
Pencegahan
Letakkan tempat tidur di area yang hangat, di bagian bangsal yang bebas
angin dan pastikan anak selalu tertutup pakaian/selimut
Ganti pakaian dan seprai yang basah, jaga agar anak dan tempat tidur tetap
kering
Hindarkan anak dari suasana dingin (misalnya: sewaktu dan setelahmandi,
atau selama pemeriksaan medis)
Biarkan anak tidur dengan dipeluk orang tuanya agar tetap
hangat,terutama di malam hari
Beri makan F-75 atau modifikasinya setiap 2 jam, mulai sesegera mungkin
sepanjang hari, siang dan malam.
3. Mencegah dan Mengatasi Dehidrasi
Diagnosis
Cenderung terjadi diagnosis berlebihan dari dehidrasi dan estimasi yang
berlebihan mengenai derajat keparahannya pada anak dengan gizi buruk. Hal ini
disebabkan oleh sulitnya menentukan status dehidrasi secara tepat pada anak
dengan gizi buruk, hanya dengan menggunakan gejala klinis saja. Anak gizi buruk
dengan diare cair, bila gejala dehidrasi tidak jelas,anggap dehidrasi ringan.
19

Catatan: hipovolemia dapat terjadi bersamaan dengan adanya edema.
Tatalaksana
Jangan gunakan infus untuk rehidrasi, kecuali pada kasus dehidrasi berat
dengan syok.
Beri ReSoMal, secara oral atau melalui NGT, lakukan lebih lambat
dibanding jika melakukan rehidrasi pada anak dengan gizi baik.
o beri 5 ml/kgBB setiap 30 menit untuk 2 jam pertama
o setelah 2 jam, berikan ReSoMal 510 ml/kgBB/jam berselang-
selingdengan F-75 dengan jumlah yang sama, setiap jam selama 10
jam.
Jumlah yang pasti tergantung seberapa banyak anak mau, volume
tinja yang keluar dan apakah anak muntah.
Catatan: Larutan oralit WHO (WHO-ORS) yang biasa digunakan
mempunyai kadar natrium tinggi dan kadar kalium rendah; cairan
yang lebih tepata dalah ReSoMal (lihat resep di bawah).
Selanjutnya berikan F-75 secara teratur setiap 2 jam sesuai tabel 27.
Jika masih diare, beri ReSoMal setiap kali diare. Untuk usia < 1 th: 50-100
ml setiap buang air besar, usia 1 th: 100-200 ml setiap buang air besar.
RESEP RESOMAL
ReSoMal mengandung 37.5 mmol Na, 40 mmol K, dan 3 mmol Mg per liter
Bila larutan mineral-mix tidak tersedia, sebagai pengganti ReSoMal dapatdibuat
larutan sebagai berikut:
20


Oleh karena larutan pengganti tidak mengandung Mg, Zn, dan Cu, maka dapat
diberikan makanan yang merupakan sumber mineral tersebut. Dapatpula diberikan
MgSO4 40% IM 1 x/hari dengan dosis 0.3 ml/kg BB,maksimum 2 ml/hari
Pemantauan
Pantau kemajuan proses rehidrasi dan perbaikan keadaan klinis setiapsetengah
jam selama 2 jam pertama, kemudian tiap jam sampai 10 jam berikutnya.
Waspada terhadap gejala kelebihan cairan, yang sangat berbahaya dan bisa
mengakibatkan gagal jantung dan kematian.
Periksalah:
frekuensi napas
frekuensi nadi
frekuensi miksi dan jumlah produksi urin
frekuensi buang air besar dan muntah
Selama proses rehidrasi, frekuensi napas dan nadi akan berkurang dan mulai ada
diuresis. Kembalinya air mata, mulut basah; cekung mata dan fontanel berkurang
serta turgor kulit membaik merupakan tanda membaiknya hidrasi, tetapi anak gizi
buruk seringkali tidak memperlihatkan tanda tersebut walaupun rehidrasi penuh
telah terjadi, sehingga sangat penting untuk memantau berat badan.
Jika ditemukan tanda kelebihan cairan (frekuensi napas meningkat 5x/menit dan
frekuensi nadi 15x/menit), hentikan pemberian cairan/ReSoMal segera dan
lakukan penilaian ulang setelah 1 jam.
Pencegahan :
Cara mencegah dehidrasi akibat diare yang berkelanjutan sama dengan pada anak
dengan gizi baik, kecuali penggunaan cairan ReSoMal sebagai pengganti larutan
oralit standar. Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan pemberian ASI
Pemberian F-75 sesegera mungkinBeri ReSoMal sebanyak 50-100 ml setiap
buang air besar cair.

21

4. Memperbaiki Gangguan keseimbangan elektrolit
Semua anak dengan gizi buruk mengalami defisiensi kalium dan magnesiumyang
mungkin membutuhkan waktu 2 minggu atau lebih untuk memperbaikin-ya.
Terdapat kelebihan natrium total dalam tubuh, walaupun kadar natrium serum
mungkin rendah. Edema dapat diakibatkan oleh keadaan ini. Jangan obatiedema
dengan diuretikum. Pemberian natrium berlebihan dapat menyebabkan kematian
Tatalaksana
Untuk mengatasi gangguan elektrolit diberikan Kalium dan
Magnesium,yang sudah terkandung di dalam larutan Mineral-Mix yang
ditambahkan kedalam F-75, F-100 atau ReSoMal
Gunakan larutan ReSoMal untuk rehidrasi
Siapkan makanan tanpa menambahkan garam (NaCl).

5. Mengobati Infeksi
Pada gizi buruk, gejala infeksi yang biasa ditemukan seperti demam,seringkali
tidak ada, padahal infeksi ganda merupakan hal yang sering terjadi. Oleh karena
itu, anggaplah semua anak dengan gizi buruk mengalami infeksi saat mereka
datang ke rumah sakit dan segera tangani dengan antibiotik.Hipoglikemia dan
hipotermia merupakan tanda infeksi berat.
Tatalaksana
Berikan pada semua anak dengan gizi buruk:
Antibiotik spektrum luas
Vaksin campak jika anak berumur 6 bulan dan belum pernah
mendapatkannya, atau jika anak berumur > 9 bulan dan sudah pernah
diberi vaksin sebelum berumur 9 bulan. Tunda imunisasi jika anak syok.
Pilihan antibiotik spektrum luas:
Jika tidak ada komplikasi atau tidak ada infeksi nyata, beri
Kotrimoksazolper oral (25 mg SMZ + 5 mg TMP/kgBB setiap 12 jam
selama 5 hari
Jika ada komplikasi (hipoglikemia, hipotermia, atau anak terlihat
letargisatau tampak sakit berat), atau jelas ada infeksi, beri:
o Ampisilin (50 mg/kgBB IM/IV setiap 6 jam selama 2 hari),
dilanjutkan dengan Amoksisilin oral (15 mg/kgBB setiap 8 jam
selama 5 hari) ATAU, jika tidak tersedia amoksisilin, beri
22

Ampisilin per oral (50 mg/kgBB setiap6 jam selama 5 hari)
sehingga total selama 7 hari, DITAMBAH:
o Gentamisin (7.5 mg/kgBB/hari IM/IV) setiap hari selama 7 hari.
Catatan:
Jika anak anuria/oliguria, tunda pemberian gentamisin dosis ke-
2 sampai ada diuresis untuk mencegah efek samping/toksik
gentamisin
Jika anak tidak membaik dalam waktu 48 jam, tambahkan Kloramfeniko
(25 mg/kgBB IM/IV setiap 8 jam) selama 5 hari.
6. Memperbaiki defisiensi zat gizi mikro
Semua anak gizi buruk mengalami defisiensi vitamin dan mineral. Meskipun
sering ditemukan anemia, jangan beri zat besi pada fase awal, tetapi tunggu
sampai anak mempunyai nafsu makan yang baik dan mulai bertambah berat
badannya (biasanya pada minggu kedua, mulai fase rehabilitasi), karena zat besi
dapat memperparah infeksi.
Tatalaksana
Berikan setiap hari paling sedikit dalam 2 minggu:
Multivitamin
Asam folat (5 mg pada hari 1, dan selanjutnya 1 mg/hari)
Seng (2 mg Zn elemental/kgBB/hari)
Tembaga (0.3 mg Cu/kgBB/hari)
Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai fase
rehabilitasi)
Vitamin A: diberikan secara oral pada hari ke 1 (kecuali bila telah
diberikan sebelum dirujuk), dengan dosis seperti di bawah ini :

7.
Pemberian makan awal untuk
stabilisasti dan transisi (Initial refeeding)
23

Pada fase awal, pemberian makan (formula) harus diberikan secara hati-hati sebab
keadaan fisiologis anak masih rapuh.
Tatalaksana
Sifat utama yang menonjol dari pemberian makan awal adalah:
Makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering dan rendah osmolaritas maupun
rendah laktosa
Berikan secara oral atau melalui NGT, hindari penggunaan parenteral
Energi: 100 kkal/kgBB/hari
Protein: 1-1.5 g/kgBB/hari
Cairan: 130 ml/kgBB/hari (bila ada edema berat beri 100 ml/kgBB/hari)
Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan, tetapi pastikan bahwa jumlah F-75
yang ditentukan harus dipenuhi.




Pada anak dengan nafsu makan baik dan tanpa edema, jadwal di atas dapat
dipercepat menjadi 2-3 hari.
Formula awal F-75 sesuai resep dan jadwal makan dibuat untuk mencukupi
kebutuhan zat gizi pada fase stabilisasi.
Pada F-75 yang berbahan serealia, sebagian gula diganti dengan tepung beras atau
maizena sehingga lebih menguntungkan karena mempunyai osmolaritas yang
lebih rendah, tetapi perlu dimasak dulu. Formula ini baik bagi anak gizi buruk
dengan diare persisten.
Jumlah F-75 per kali makan (130 ml/kg/hari) untuk anak tanpa edema
24
















Catatan:
a. Volume pada kolom ini dibulatkan dengan kelipatan 5 ml yang terdekat
b. Perubahan frekuensi makan dilakukan bila makanan dapat dihabiskan dan
toleransi baik (tidak muntah/diare)
c. Anak dengan edema ringan dan sedang ( + dan ++) juga menggunakan
tabel ini:
edema ringan (+): edema hanya pada punggung kaki
edema sedang (++): pada tungkai dan lengan
d. edema berat (+++): seluruh tubuh/anasarka


25






















Cara membuat formula WHO (F-75, F-100):
Campurkan gula dan minyak sayur, aduk sampai rata dan masukkan susu
bubuk sedikit demi sedikit, aduk sampai kalis dan berbentuk gel.
26

Tambahkan air hangat dan larutan mineral-mix sedikit demi sedikit sambil
diaduk sampai homogen dan volumenya menjadi 1000 ml. Larutan ini bisa
langsung diminum atau dimasak selama 4 menit.
Untuk F-75 yang menggunakan campuran tepung beras atau maizena,
larutan harus dididihkan (5-7 menit) dan mineral-mix ditambahkan setelah
larutan mendingin.
Apabila tersedia blender, semua bahan dapat dicampur sekaligus dengan
air hangat secukupnya. Setelah tercampur homogen baru ditambahkan air
hingga volume menjadi 1000 ml. Apabila tidak tersedia blender, gula dan
minyak sayur (dianjurkan minyak kelapa) harus diaduk dahulu sampai
rata, baru tambahkan bahan lain dan air hangat.
Pemberian makan sepanjang malam hari sangat penting agar anak tidak terlalu
lama tanpa pemberian makan (puasa dapat meningkatkan risiko kematian).
Apabila pemberian makanan per oral pada fase awal tidak mencapai kebutuhan
minimal (80 kkal/kgBB/hari), berikan sisanya melalui NGT. Jangan melebihi 100
kkal/kgBB/hari pada fase awal ini. Pada cuaca yang sangat panas dan anak
berkeringat banyak maka anak perlu mendapat ekstra air/cairan.
Pemantauan
Pantau dan catat setiap hari:
Jumlah makanan yang diberikan dan dihabiskan
Muntah
Frekuensi defekasi dan konsistensi feses
Berat badan.
8. Memberi Makanan Untuk Tumbuh kejar
Tanda yang menunjukkan bahwa anak telah mencapai fase ini adalah:
Kembalinya nafsu makan
Edema minimal atau hilang.
Tatalaksana
Lakukan transisi secara bertahap dari formula awal (F-75) ke formula tumbuh-
kejar (F-100) (fase transisi):
Ganti F 75 dengan F 100. Beri F-100 sejumlah yang sama dengan F-75
selama 2 hari berturutan.
Selanjutnya naikkan jumlah F-100 sebanyak 10 ml setiap kali pemberian
sampai anak tidak mampu menghabiskan atau tersisa sedikit. Biasanya hal
27

ini terjadi ketika pemberian formula mencapai 200 ml/kgBB/hari. Dapat
pula digunakan bubur atau makanan pendamping ASI yang dimodifikasi
sehingga kandungan energi dan proteinnya sebanding dengan F-100.
Setelah transisi bertahap, beri anak:
o pemberian makan yang sering dengan jumlah tidak terbatas (sesuai
kemampuan anak)
o energi: 150-220 kkal/kgBB/hari
o protein: 4-6 g/kgBB/hari.




Pemberian F-100 untuk anak gizi buruk fase rehabilitasi (minimum 150
ml/kg/hari)













28






Penilaian kemajuan
Kemajuan terapi dinilai dari kecepatan kenaikan berat badan setelah tahap transisi
dan mendapat F-100:
Timbang dan catat berat badan setiap pagi sebelum diberi makan
Hitung dan catat kenaikan berat badan setiap 3 hari dalam gram/kgBB/hari
Jika kenaikan berat badan:
kurang (< 5 g/kgBB/hari), anak membutuhkan penilaian ulang lengkap
sedang (5-10 g/kgBB/hari), periksa apakah target asupan terpenuhi, atau
mungkin ada infeksi yang tidak terdeteksi.
baik (> 10 g/kgBB/hari).





9. Memberi stimulasi sensorik dan emosional untuk tumbuh kembang
Lakukan:
ungkapan kasih sayang
lingkungan yang ceria
terapi bermain terstruktur selama 1530 menit per hari
aktivitas fisik segera setelah anak cukup sehat
keterlibatan ibu sesering mungkin (misalnya menghibur, memberi makan,
memandikan, bermain)
29

Sediakan mainan yang sesuai dengan umur anak
Penanganan kondisi penyerta
A. Masalah pada mata
Jika anak mempunyai gejala defisiensi vitamin A, lakukan hal seperti
dibawah ini.






B. Anemia berat
Transfusi darah diperlukan jika:
Hb < 4 g/dl
Hb 46 g/dl dan anak mengalami gangguan pernapasan atau tanda
gagal
jantung.
Pada anak gizi buruk, transfusi harus diberikan secara lebih lambat dan
dalam volume lebih kecil dibanding anak sehat. Beri:
Darah utuh (Whole Blood), 10 ml/kgBB secara lambat selama 3
jam,
Furosemid, 1 mg/kg IV pada saat transfusi dimulai.
C. Lesi kulit pada kwashiorkor
Defisiensi seng (Zn); sering terjadi pada anak dengan kwashiorkor dan
kulitnya akan membaik secara cepat dengan pemberian suplementasi seng.
Sebagai tambahan:
Kompres daerah luka dengan larutan Kalium permanganat (PK;
KMnO4) 0.01% selama 10 menit/hari.
Bubuhi salep/krim (seng dengan minyak kastor, tulle gras) pada
daerah yang kasar, dan bubuhi gentian violet (atau jika tersedia,
salep nistatin) pada lesi kulit yang pecah-pecah.
30

Hindari penggunaan popok-sekali-pakai agar daerah perineum
tetap kering.
D. Diare persisten
Tatalaksana
Giardiasis dan kerusakan mukosa usus
Jika mungkin, lakukan pemeriksaan mikroskopis atas spesimen feses.
Jika ditemukan kista atau trofozoit dari Giardia lamblia, beri Metronidazol
7.5 mg/kg setiap 8 jam selama 7 hari).
Intoleransi laktosa
Diare jarang disebabkan oleh intoleransi laktosa saja. Tatalaksana
intoleransi laktosa hanya diberikan jika diare terus menerus ini
menghambat perbaikan secara umum. Perlu diingat bahwa F-75 sudah
merupakan formula rendah laktosa.
Pada kasus tertentu:
ganti formula dengan yoghurt atau susu formula bebas laktosa
pada fase rehabilitasi, formula yang mengandung susu diberikan
kembali secara bertahap.
Diare osmotik
Diare osmotik perlu diduga jika diare makin memburuk pada pemberian F-
75 yang hiperosmolar dan akan berhenti jika kandungan gula dan
osmolaritasnya dikurangi.
Pada kasus seperti ini gunakan F-75 berbahan dasar serealia
dengan osmolaritas yang lebih rendah.
Berikan F-100 untuk tumbuh kejar secara bertahap.
E. Tuberkulosis
Jika anak diduga kuat menderita tuberkulosis, lakukan:
tes Mantoux (walaupun seringkali negatif palsu)
foto toraks, bila mungkin

31

10. Pemulangan dan tindak lanjut
Bila telah tercapai BB/TB > -2 SD (setara dengan >80%) dapat dianggap anak
telah sembuh. Anak mungkin masih mempunyai BB/U rendah karena anak
berperawakan pendek. Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap
dilanjutkan di rumah.
Berikan contoh kepada orang tua:
Menu dan cara membuat makanan kaya energi dan padat gizi serta
frekuensi pemberian makan yang sering.
Terapi bermain yang terstruktur
Sarankan:
Melengkapi imunisasi dasar dan/atau ulangan
Mengikuti program pemberian vitamin A (Februari dan Agustus)














32

DIARE
1. Definisi
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari
biasanya lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam.
Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih
dari 3 kali per hari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai
lendir dan darah.
2. Cara Penualaran Dan Faktor Resiko
Cara penularan diare pada umumnya melalui cara fekal oral yaitu
melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau
kontak langsung tangan dengan penderita atau barang-barang yang telah
tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat.
Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen
antara lain : factor-faktor yang meningkatkan resiko terjadinya diare,
antara lain:
Tidak diberikan ASI eksklusif pada 4-6 bulan pertama kehidupan
Penggunaan botol susu
Penyimapanan makanan masak pada suhu kamar
Penggunaan air minum yang tercemar
Tidak mencuci tangan setelah buang air besar dan sesudah membuang
tinja anak atau sebelum makan dan menyuapi anak
Tidak membuang tinja anak atau bayi dengan benar
Selain hal-hal tersebut, faktor lain yang dapat meningkatkan kecenderungan
untuk terjadinya diare antara lain: gizi buruk, imunodefisiensi, berkurangnya
keasaman lambung, menurunnnya motilitas usus, menderita campak dalam 4
minggu terakhir dan factor genetik.
3. Etiologi
a. Faktor infeksi
Infeksi enternal yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan
penyebab utama diare pada anak. Infeksi enternal ini meliputi :
Infeksi bakteri (10-20%): vibrio, E.coli, salmonella, shigella,
campylobacter, yersenia, aeromonas,berupa gram positif dan negative
Organisme Tipe Jumlah kasus
Keberhasilan
terapi dengan
33

antibiotika
Rotavirus Virus Hampir 50% kasus
yang datang
berobat, 5-10%
kasus di
masyarakat
Tidak efektif
ETEC Bakteri Sampai 25% diare
di semua umur
Tidak efektif
Tidak ditemukan
mikroorganisme
----
25% atau lebih Tidak efektif
Shigella Bakteri 1-5% efektif
Campilobacter Bakteri
5-10%
Hanya efektif pada
awal sakit
V. kolera Bakteri Di daerah endemic
mungkin
menyebabkan 1-
5% kasus yang
terdapat dipusat
ksehatan
efektif
Salmonella non
tipoid
Bakteri
Sampai 10%
Tidak efektif pada
diare tanpa
komplikasi

34



Infeksi virus (70%) : enterovirus , adenovirus, rotairus, astrovirus
Infeksi virus: sebagian besar adalah rotavirus
Dibuktikan Mungkin
Adenovirus Astrovirus
Rotavirus Calicivirus
Virus 27 nm (Norwalk) Coronavirus
Minirotavirus
Virus bulat kecil

Infeksi parasit : cacing (ascaris , trichiuris, oxyuris, strongyloides)
35

Protozoa (10%) :
Balantidium coli
Capillaria philippinensis
Cryptosporidium
Entamoeba hystolitica
Giardia lamblia
Isospora belli
Fasciolopsis busci
candida albicans
Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat
pencernaan seperti otitis media akut, tonsilofaringitis,
bronkopnemonia, ensefalitis. Keadaan terutama pada bayi dan anak
berumur dibawah 2 tahun.
b. Faktor malabsorbsi :
Malabsorbsi Karbohidrat (Gula). Malabsorbsi karbohidrat atau gula
adalah ketidakmampuan untuk mencerna dan menyerap (absorb) gula-
gula. Malabsorbsi gula-gula yang paling dikenal terjadi dengan
kekurangan lactase (juga dikenal sebagai intoleransi lactose atau susu)
dimana produk-produk susu yang mengandung gula susu, lactose,
menjurus pada diare. Lactose tidak diurai dalam usus karena
ketidakhadiran dari enzim usus, lactase, yang normalnya mengurai
lactose. Tanpa diurai, lactose tidak dapat diserap kedalam tubuh.
Lactose yang tidak tercerna mencapai usus besar dan menarik air
(dengan osmosis) kedalam usus besar. Ini menjurus pada diare.
Meskipun lactose adalah bentuk yang paling umum dari malabsorbsi
gula, gula-gula lain dalam diet juga mungkin menyebabkan diare,
termasuk fructose dan sorbitol.
Malabsorbsi Lemak. Malabsorbsi lemak adalah ketidakmampuan
untuk mencerna atau menyerap lemak. Malabsorbsi lemak mungkin
terjadi karena sekresi-sekresi pankreas yang berkurang yang adalah
perlu untuk pencernaan lemak yang normal (contohnya, disebabkan
oleh pankreatits atau kanker pakreas) atau oleh penyakit-penyakit dari
lapisan dari usus kecil yang mencegah penyerapan dari lemak yang
telah dicerna (contohnya, penyakit celiac). Lemak yang tidak tercerna
memasuki bagian terakhir dari usus kecil dan usus besar dimana
bakter-bakteri merubahnya kedalam senyawa-senyawa (kimia-kimia)
yang menyebabkan air disekresikan oleh usus kecil dan usus besar.
Lintasan melalui usus kecil dan usus besar juga mungkin lebih cepat
ketika ada malabsorbsi dari lemak.
4. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah :
Gangguan osmotik : akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak
dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus
meninggi, sehingga menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga
36

usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam
rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang
usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
Gangguan sekresi : akibat rangsangan tertentu (toksin) pada
dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit
ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena
terdapat peningkatan isi rongga usus

37



38



5. Manifestasi Klinis
Infeksi usus menimbulkan tanda dan gejala gastrointestinal serta
gejala lainya bila terjadi komplikasi ekstraintestinal termasuk manifestasi
neurologic. Gejala gastrointestinal bias berupa diare, kram perut, dan
munth. Sedangkan manifestasi sistemik bervariasi tergantung pada
penyebabnya.
Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung
sejumlah ion natrium, klorida dan bikarbonat. Kehilangan air dan
elektrolit ini bertambah bila ada muntah dan kehilangan air juga
akan meningkat bila ada panas. Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi,
asidosis metabolic, dan hipokalemia. Dehidrasi merupakan keadaan yang
paling berbahaya karena dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps
kardiovaskular dan kematian bila tidak diobati dengan tepat. Dehidrasi
yang terjadi menurut tonisistas plasma dapat berupa dehidrasi isotonic,
dehidrasi hipertonik (hipernatremik) atau dehidrasi hipotonik. Menurut
derajat dehidrasinya bisa tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan, dehidrasi
sedang, dehidrasi berat.
Infeksi ekstraintestinal yang berkaitan dengan bakteri enteric
pathogen antara lain : vulvovaginitis, infeksi saluran kemih, endokarditis,
39

osteomyelitis, meningitis, pneumonia, hepatitis, peritonitis dan septic
tromboplebitis. Gejala neurolgik dari infeksi usus bias berupa parestesia (
akibat makan ikan, kerang, monosodium glutamate), hipotoni dan
kelemahan otot.
Bila terdapat panas dimungkinkan karena proses peradangan atau
akibat dehidrasi. Panas badan umum terjadi pada penderita dengan
inflammatory diare. Nyeri perut yang lebih hebat dan tenesmus terjadi
pada perut bagian bawah serta rectum menunjukan terkenanya usus besar.
Mual dan muntah adalah symptom yang nonspesifik akan tetapi muntah
mungkin disebabkan oleh karena mikroorganisme yang menginfeksi
saluran cerna bagian atas seprti:enteric virus, bakteri yang memproduksi
enteroroksin, giardia, dan cryptosporidium.
Muntah juga sering terjadi pada non inflammatory diare. Biasanya
penderita tidak panas atu hanya subfebris, nyeri perutperiumbilikal tidak
berat, watery diare, menunjukan bahwa saluran makan bagian atas yang
terkena. Oleh karena pasien immunocompromise memerlukan perhatian
khusus, informasi tentang adanya imunodefisiensi atau penyakit.

40


Tatalaksana Diare menurut WHO
a. Rehidrasi
b. Dukungan nutrisi
c. Suplementasi Zinc
d. Antibiotik Selektif
e. Edukasi orang tua
A. Rehidrasi
1. Rencana terapi A: Untuk mengobati diare di rumah (penderita diare tanpa
dehidrasi)
Gunakan cara ini untuk mengajari ibu :
Teruskan mengobati anak diare di rumah
Berikan terapi awal bila terkena diare
Jelaskan kepada ibu tentang 4 aturan perawatan di rumah:
Berikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya untuk mencegah
dehidrasi.
o Gunakan cairan rumah tangga yang dianjurkan seperti
oralit, makanan yang cair (seperti sup, air tajin) dan kalau
tidak ada air matang gunakan larutan oralit untuk anak
seperti dijelaskan dibawah.
o Berikan larutan ini sebanyak anak mau, berikan jumlah
larutan oralit seperti dibawah
o Teruskan beri larutan ini hingga diare berhenti.
41

Beri Tablet Zinc
o Dosis zinc untuk anak-anak:
<6 bulan : 10 mg(1/2 tablet) per hari
>6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari
o Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut, meskipun
anak telah sembuh
o Untuk bayi, tablet zinc dapat dilarutkan dengan air matang,
ASI atau oralit, untuk anak-anak yang lebih besar, zinc
dapat dikunyah atau dilarutkan di air matang atau oralit.
o umur <6 bulan : tablet (10 mg) perhari
o umur >6 bulan : 1 tablet (20 mg) perhari
Beri anak makan untuk mencegah kurang gizi
Bawa anak ke petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam 3 hari
atau menderita sebagai berikut :
o Buang air bear cair lebih sering
o Muntah terus menerus
o Rasa haus yang nyata
o Makan atau minum sedikit
o Demam
o Tinja berdarah
Anak harus diberi oralit di rumah apabila :
o Setelah mendapat rencana terapi B atau C
o Tidak dapat kembali ke petugas kesehatan bila diare
memburuk
o Memberikan oralit kepad semua anak dengan diare yang
datang ke petugas kesehatan merupakan kebijakan
pemerintah
Ketentuan pemberian Oralit Formula Baru :
Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru
Larutak 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 liter air matang,
untuk persediaan 24 jam
Berikan oralit kepada anak setiap kali buang air besar, dengan
ketentuan : untuk anak berumur kurang dari 2 tahun berikan 50-
100 ml tiap kali buang air besar. Untuk anak lebih dari 2 tahun atau
lebih, berikan 100-200 ml tiap kali buang air besar.
Jika dalam 24 jam persediaan oralit itu masih tersisa, maka sisa
larutan harus dibuang.
Tunjukkan kepada ibu cara member oralit:
Berikan 1 sendok teh tiap 1-2 menit untuk anak dibawah 2 tahun
42

Berikan beberapa teguk dari gelas untuk anak yang lebih tua
Bila anak muntah tunggulah 10 menit. Kemudian berikan cairan
lebih lama (misalnya 1 sendok tiap 2-3 menit)
Bila diare berlanjut setelah oralit habis, beritahu ibu untuk
memeberikan cairan lain seperti dijelaskan dalam cairan pertama
atau kembali kepada petugas kesehatan untuk mendapat tambahan
oral



















43
























44

B. Dukungan Nutrisi
Makanan diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada waktu
anak sehat, untuk mengganti nutrisi yang hilang serta mencegah agar tidak
terjadi gizi buruk. Adanya perbaikan nafsu makan menandakan fase
kesembuhan. ASI tetap diteruskan selama terjadinya diare cair akut maupun
diare akut berdarah dan diberikan dengan frekuensi yang lebih sering dari
biasanya. Anak umur 6 bulan keatas sebaiknya mendapat makan seprti
biasanya.
C. Suplementasi Zinc
Zinc termasuk mikronutrien yang mutlak dibutuhkan untuk memelihara
kehidupan yang optimal. Dasar pemikiran penggunaan zinc dalam pengobatan
diare akut didasarkan pada efeknya terhadap imun atau terhadap struktur dan
fungsi saluran cerna dan terhadap proses perbaikan epitel saluran cerna selama
diare. Pemberian zinc pada diare dapat meningkatkan absorbs air dan elektrolit
oleh usus halus meningkatkan kecepatan regenerasi epitel usus, meningkatkan
jumlah brush border apical, dan meningkatkan respon imun yang
mempercepat pembersihan patogen di usus. Pengobatan dengan zinc cocok
ditetapkan di negara-negara berkembang seprti Indonesia yang memiliki
banyak masalah terjadinya kekurangan zinc di dalam tubuh karena tingkat
kesejahteraan yang rendah dan daya imunitasnya yang kurang memadai.
Pemberian zinc dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak.
Dosis zinc untuk anak-anak:
- anak dibawah umur 6 bulan : 10 mg (1/2 tablet) per hari
- anak diatas umur 6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari
Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut, meskipun anak telah sembuh
dari diare. Untuk bayi tablet zinc diberikan dalam air matang, ASI atau oralit.
Untuk anak lebih besar, zinc dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang
atau oralit
D. Antibiotik Selektif
Antibiotic tidak diberikan pada kasus diare cair akut kecuali dengan indikasi
yaitu pada diare berdarah dan cholera.
Secara umum tatalaksana pada disentri dikelola sama dengan kasus diare lain
sesuai dengan acuan tatalaksana diare akut. Hal khusus mengenai tatalaksana
disentri adalah pemberian antibiotic oral selama 5 hari yang masih sensitive
terhadap shigella menurut pola kuman setempat. Pada psien rawat jalan
dianjurkan pemberian sefalosporin generasi ketiga seperti sefikxim 5
mg/KgBB/ hari per oral.
Pemeriksaan tinja dapat dilakukan untuk menyingkirkan adanya amebiasis.
Temuan trofozoit atau kista amoeba atau giardia mendukung diagnosis
45

amebiasis atau giardisis. Berikan metronidazol 7.5 mg/KgBB 3x sehari
untuk kasus amebiasis dan metronidazol 5 mg/KgBB 3x sehari untuk
kasus giardiasis selama 5 hari. Temuan leukosit dalam jumlah banyak (> 10
LPB) atau makrofag mendukung diagnosis shigella atau bakteri invasif
lainnya. Pemberian antibiotic yang tidak rasional justru akan memperpanjang
lamanya diare karena akan menggangu keseimbangan flora usus dan selain itu,
pemberian antibiotic yang tidak rasional akan mempercepat resistensi kuman
terhadap antibiotic, serta menambah biaya pengobatan yang tidak perlu.
6. Edukasi Orang tua
Nasihat pada orang tua untuk segera kembali bila ada demam, tinja
berdarah, muntah berulang, makan atau minum sedikit, sangat haus, diare
makin sering atau belum membaik.
7. Komplikasi
Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak,
dapat terjadi berbagai macam komplikasi seperti :
Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
Renjatan hipovolemik.
Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah,
bradikardi, perubahan pada elektrokardiogram).
Hipoglikemi
Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase
karena kerusakan vili mukosa usus halus.
Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik.
Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga
mengalami kelaparan.
8. Prognosis
Secara umum prognosis untuk diare akut pada anak bergantung
pada penyakit penyerta/komplikasi yang terjadi.Jika diarenya segera di
tangani sesuai dengan kondisi umum pasien maka kemungkinan pasien
dapat sembuh.Yang paling penting adalah mencegah terjadinya dehidrasi
dan syok karena dapat berakibat fatal.jika terdapat penyakit penyerta yang
memberatkan keadaan pasien maka perlu di lakukan pengobatan terhadap
penyakitnya selain penanganan terhadap diare.

Oleh karna itu perlu di
lakukan diagnosa pasti berdasarkan pemeriksaan penunjang lain yang
membantu, sehingga dapat di lakukan penanganan yang tepat sesuai
Penyebab/kausal dari diare yang di alaminya
9. Pencegahan
Karena penularan diare menyebar melalui jalur fekal-oral,
penularannya dapat dicegah dengan menjaga higiene pribadi yang baik. Ini
termasuk sering mencuci tangan setelah keluar dari toilet dan khususnya
selama mengolah makanan. Kotoran manusia harus diasingkan dari daerah
pemukiman, dan hewan ternak harus terjaga dari kotoran manusia. Karena
46

makanan dan air merupakan penularan yang utama, ini harus diberikan
perhatian khusus. Minum air, air yang digunakan untuk membersihkan
makanan, atau air yang digunakan untuk memasak harus disaring dan
diklorinasi. Jika ada kecurigaan tentangkeamanan air atau air yang tidak
dimurnikan yang diambil dari danau atau air, harus direbus dahulu
beberapa menit sebelum dikonsumsi. Ketika berenang di danau atau
sungai, harus diperingatkan untuk tidak menelan air. Semua buah dan
sayuran harus dibersihkan menyeluruh dengan air yang bersih (air rebusan,
saringan, atau olahan) sebelum dikonsumsi. Limbah manusia atau hewan
yang tidak diolah tidak dapat digunakan sebagai pupuk pada buah-buahan
dan sayuran. Semua daging dan makanan laut harus dimasak. Hanya
produk susu yang dipasteurisasi dan jus yang boleh dikonsumsi. Wabah
EHEC terakhir berhubungan dengan meminum jus apel yang tidak
dipasteurisasi yang dibuat dari apel terkontaminasi, setelah jatuh dan
terkena kotoran ternak. Vaksinasi cukup menjanjikan dalam mencegah
diare infeksius, tetapi efektivitas dan ketersediaan vaksin sangat terbatas.
Pada saat ini, vaksin yang tersedia adalah untuk V. colera, dan demam
tipoid. Vaksin kolera parenteral kini tidak begitu efektif dan tidak
direkomendasikan untuk digunakan. Vaksin oral kolera terbaru lebih
efektif, dan durasi imunitasnya lebih panjang. Vaksin tipoid parenteral
yang lama hanya 70 % efektif dan sering memberikan efek samping.
Vaksin parenteral terbaru juga melindungi 70 %, tetapi hanya
memerlukan 1 dosis dan memberikan efek samping yang lebih sedikit.
Vaksin tipoid oral telah tersedia, hanya diperlukan 1 kapsul setiap dua
hari selama 4 kali dan memberikan efikasi yang mirip dengan dua vaksin
lainnya.



















47

FAIL TO THRIVE (GAGAL TUMBUH)
DEFINISI
Gagal tumbuh bukan merupakan suatu diagnosis tersendiri, akan tetapi
menggambarkan bahwa seorang anak yang tidak dapat mencapai potensi
pertumbuhan sesuai usianya. Meskipun sering ditemukan pada usia di bawah 2
tahun, tetapi gagal tumbuh dapat terjadi kapan saja pada masa anak anak.
Berbagai rekomendasi telah dikemukan oleh para ahli untuk mendefinisikan
seorang anak dengan gagal tumbuh. Ada tiga criteria umum untuk menetukan
gagal tumbuh dengan menggunakan kurva pertumbuhan NCHS/CDC-2000:
1. Anak umur kurang dari 2 tahun dengan berat badan di bawah persentil ke-
3 sesuai usianya pada lebih dari sau kali pengukuran.
2. Anak umur kurang dari 2 tahun dengan berat badan per umur kurang dari
80%.
3. Anak umur kurang dari 2 tahun dengan penurunan berat badan memotong
2 persentil mayor atau lebih dari pada kurva pertumbuhan.
Kita harus berhati-hati untuk mengaplikasikan definisi tersebut tanpa data-data
longitudinal karena pertumbuhan adalah sesuatu peristiwa yang berlangsung
secara dinamis dan kontinu. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
sehubungan dengan criteria tersebut di atas, antara lain anak dengan perawakan
pendek, bayi kecil masa kehamilan, dan bayi premature. Selama pertumbuhan
anak mengikuti/pararel garis kurva pertumbuhan normal maka tidak dapat disebut
sebagai gagal tumbuh.
ETIOLOGI
Gagal tumbuh dapat disebabkan oleh berbagai factor, non organic maupun
organic. Gagal tumbuh karena factor non orgnik umumnya terjadi akibat factor
lingkungan dan psikososial dan sering dihubungkan dengan interaksi yang buruk
antara ibu dan bayi, baik selama dalam kandungan maupun setelah lahir. Keadaan
ini menyebabkan asupan makanan yang tidak adekuat. Gagal tumbuh akibat faktor
organik umumnya disebabkan oleh masalah medis seperti yang tertuang pada
Gagal tumbuh juga dapat disebabkan oleh kombinasi faktor organik dan non
organik. Sekitar separuh kasus gagal tumbuh dengan penyebab organic memiliki
latar belakang factor psikososial yang dapat memperberat faktor organik tersebut.
DIAGNOSIS
Untuk menentukan seorang anak mengalami gagal tumbuh maka harus
dilakukan pendekaan secara menyeluruh, meliputi:
48

- menilai penanganan diet, pemberian makan atau kebiasaan makan,
respon anak terhadap pemberian makan.
- riwayat kelahiran (berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala
saat lahir, data riwayat kehamilan ibu)
- data tinggi badan orangtua untuk menilai tinggi potensial genetik
anak
- data pertumbuhan sebelumnya, riwayat perkembangan, gambaran
pola tidur anak, riwayat kesehatan anak untuk mengetahui apakah
terdapat penyakit kronis, penyakir genetik, alergi atau adanya suatu
sindrom atau adanya gangguan gizi sebagai penyebab dari gagal
tumbuh.
- riwayat pengobatan sebelumnya maupun pengobatan yang saat ini
didapat.
- aktor sosial keluarga, interaksi ibu dan anak, serta lingkungan
tempat anak dibesarkan.
Penyebab organik gagal tumbuh
1. Kongenital:kelainan kromosom (sind Down), disgenesis gonad (Sindrome
Turner)
2. Dysplasia skeletal (akondroplasia, dll)
3. Metabolik: Inborn error of metabolism
4. System imun: Imunodefisiensi kronik, HIV, tuberkulosis, infeksi berulang,
ISK kronik atau pielonefritis
5. Gastrointestinal: kelainan anatomis oral atau esofagus, caries dentis,
stenosis pylorus, GERD, IBD, alergi, parasit atau infeksi usus kronis,
penyakit saluran empedu, insufisiensi pankreas, penyakit hepar kronik
6. Renal: renal tubular asidosis, gagal ginjal kronis
7. Kardiopulmonal: gagal jantung, asma, displasia bronkopulmoner, fibrosis
cystic, tonsilitis dan adenoid kronik
8. Neurologi: Palsi serebral, gangguan perkembangan
9. Sensoris: Anosmia, buta
10. Endokrin: Hipotiroid, Diabetes melitus tipe 1, Insufiensi adrenal, kelainan
hipofisis, rikets-hipofosfatemia, defisiensi growth hormone
11. Lain lain: Kanker, Sindroma diensefalik, Penyakit Reumatik, Keracunan
timbal
Sangat penting untuk mengevaluasi perkembangan anak pada saat anak
didiagnosis dengan gagal tumbuh karena anak dengan gagal tumbuh mempunyai
insiden lebih tinggi untuk mengalami keterlambatan perkembangan dibandingkan
dengan populasi normal.
Pemeriksaan fisik yang lengkap ditujukan untuk:
(1) Mengidentifikasi adanya gambaran dismorfik untuk melihat kemungkinan
adanya kelainan bawaan, kelainan endokrin, atau suatu sindrom tertentu. Hal ini
49

dilakukan dengan mengukur tinggi atau panjang badan, berat badan, dan lingkar
kepala. Pengukuran ini harus dilakukan 2-3 kali untuk meningkatkan akurasi hasil
pengukuran sebelumnya. Untuk melihat proporsi tubuh harus dilakukan dengan
inspeksi dan pengukuran rentang lengan, segmen atas (SA) dan segmen bawah
(SB) tubuh, serta rasio SA/SB. Pada saat lahir rasio SA/SB sekitar 1.7 dan
berkurang menjadi 1,0 pada umur 10 tahun dan rasio ini menetap sampai dewasa.
Bila hasil pemeriksaan ditemukan disproporsi tubuh, maka dipikirkan suatu
diplasia skeletal. Status pubertas diperiksa dengan menggunakan stadium Tanner.
Disamping itu perlu dicari tanda-tanda spesifik suatu sindrom seperti webbed
neck, wide carring angle (cubitus valgus), low posterior hairline, high arched
palate, short fourth metacarpal, multiple nevi. Perlu dicari kelainan endokrin yang
menyebabkan gagal tumbuh seperti hipotiroid, defisiensi growth hormone, dan
insufisiensi adrenal.
(2) Deteksi adakah tanda tanda penyakit kronik atau penyakit sistemik seperti:
- Penyakit susunan saraf pusat: mikrosefali, sindrom diensefali
- Penyakit jantung: sianosis, jari tabuh
- Gangguan gastrointestinal dan penyakit hati seperti colitis ulseratif,
enteropati gluten, atau penyakit Crohn.
- Gagal ginjal kronik, asidosis tubular renal.
- Penyakit paru kronik, misalnya cystic fibrosis
- Penyakit jaringan ikat seperti dermatomiositis
(3) Penilaian kemungkinan adanya tanda-tanda kekerasan pada anak
(4) Penilaian tanda tanda malnutrisi
Pengukuran secara tepat dengan memplot berat badan, tinggi badan dan
lingkar kepala pada kurva pertumbuhan sesuai dengan usia dan jenis kelaminnya
sangat penting mengevaluasi kemungkinan terjadinya gagal tumbuh pada seorang
anak. Jika hasil pengukuran tersebut di bawah persentil ketiga maka harus dicari
kemungkinan penyakit organik yang mendasarinya. Jika berat badan per umur
kurang dari tinggi badan per umur makan anak tersebut kurang gizi. Anak dengan
constitutional delay umumnya pendek dan kurus, sedangkan jika terdapat kelainan
endokrin maka anak tampak pendek dan gemuk.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium tidak digunakan untuk menentukan adanya gagal
tumbuh pada anak, akan tetapi digunakan untuk melakukan evaluasi kemungkinan
penyebab gagal tumbuh. Pemeriksaan laboratorium dibutuhkan untuk menunjang
temuan klinis yang didapat dari anamnesis dan pemeriksaan fisis.
Tabel Pemeriksaan laboratorium pada anak gagal tumbuh
50

1. Darah lengkap serta laju endap darah
2. urinalisis
3. Analisis Faeses rutin
4. Tes tuberkulin
5. Analisis gas darah dan elektrolit serum
6. Fungsi ginjal
7. Fungsi hati
8. Screening HIV
9. TSH dan T4 bebas
10. Atas indikasi: Hormon Gonadotropin (FSH,LH,Sex steroid), 17-OHP, IGF-1
dan IGFP-3, GH, Tes Metabolik, analisis kromosom, Anti endomesial antibodies
dan sweat chloride pada pasien yang mempunyai riwayat steatore.
Pemeriksaan pencitraan yang diperlukan dalam membantu menentukan etiologi
gagal tumbuh meliputi;
1. Bone age
2. Bone survey
3. Ultrasonografi , MRI, ekokardiografi (atas indikasi)
Diagnosis Banding
Parameter pertumbuhan anak merupakan dasar pendekatan sistematik untuk
melakukan diagnosis banding. Tiga kategori gambaran pertumbuhan digunakan
untuk membantu klinisi dalam memikirkan diagnosis banding.
1. Gagal tumbuh dengan mikrosefali. Anak dengan mikrosefali dibagi lagi
atas ada tidaknya kelainan neurologis. Anak dengan mikrosefali tetapi
tidak menunjukkan kelainan neurologis, kemungkinan pertumbuhan
kepala terhambat akibat malnutrisi berat. Anak dengan mikrosefali dengan
gejala neurologis yang menonjol perlu dicari adanya infeksi TORCH,
kondisi teratogenik, genetic, serta trauma otak.
2. Gagal tumbuh dengan perawakan pendek tanpa mikrosefali perlu
dievaluasi apakah perawakan pendek itu bersifat primer atau terjadi akibat
pertambahan berat badan yang tidak adekuat. Pada anak perawakan
pendek primer perlu dievaluasi kemungkinan adanya sindrom genetik
51

yang berhubungan dengan perawakan pendek demikian juga keadaan
teratogenik dan endokrinologi.
3. Gagal tumbuh dengan tinggi badan terhadap umur dan lingkar kepala yang
normal. Evaluasi penyebab sebaiknya dimulai dari menilai apakah nutrisi
yang masuk telah adekuat. Sering ditemukan anak yang tidak mampu atau
tidak ingin menerima makanan yang diberikan. Pada kasus ini,anak
mempunyai selera makan yang kurang, malas, tidak menghendaki jenis
makanan tertentu, atau terdapat disfungsi oromotor (gangguan neurologis
untuk mengisap ,mengunyah,dan menelan). Selera makan yang jelek
menjadi kebiasaan pada anak yang pernah sakit atau kurang gizi. Mereka
terbiasa dengan masukan kalori yang tidak adekuat. Kondisi lain yang
perlu dipertimbangkan pada anak dengan berat badan rendah tetapi tinggi
badan dan lingkar kepalanya normal adalah adanya kehilangan kalori
lewat muntah, malabsorpsi, atau keadaan hipermetabolik. Suatu kondisi
yang jarang tapi sangat penting adalah sindrom Russel dienfalik yang
dihubungkan dengan sindrom diensefalik (anak sangat kurus, tinggi badan
dan lingkar kepala normal, terjadi akibat tumor pada kiasma optikum).
Tata Laksana
Tata laksana utama pada gagal tumbuh adalah mengetahui penyebab yang
mendasarinya dan memperbaiki keadaan tersebut. Hal ini membutuhkan
pendekatan bertahap sesuai klinik dan respon pengobatan sehingga diperlukan
kerja sama yang komprehensif antara dokter,perawat, ahli gizi, pekerja social, dan
ahli rehabilitasi medik. Sebagian besar kasus membutuhkan intervensi nutrisi dan
modifikasi perilaku yang bermakna. Edukasi keluarga mengenai kebutuhan gizi
dan cara pemberian makan pada anak sangat penting dalam tata laksana anak
dengan gagal tumbuh. Anak yang tidak respon terhadap modifikasi nutrisi dan
perilaku membutuhkan evaluasi lebih lanjut. Ada dua hal utama yagn dibutuhkan
anak dengan gagal tumbuh yaitu kebutuhan akan diet tinggi kalori untuk tumbuh
kejar dan pemantauan minimal satu kali sebulan sampai tercapai pertumbuhan
yang normal. Perawatan di rumah sakit jarang dibutuhkan kecuali jika gagal
dengan tata laksana rawat jalan, pada gagal tumbuh yang berat atau gagal tumbuh
yang disertai penyakit berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Gagal tumbuh pada bayi dan anak harus diintervensi sesegera mungkin
terutama jika kurva pertumbuhan berat badan berdasarkan panjang badan dibawah
70% . Malnutrisi yang terjadi pada usia yang lebih dini dapat berakibat buruk
pada perkembangan otak. Setelah diatasi kedaruratannya, prioritas penanganan
selanjutnya adalah observasi selama beberapa minggu untuk memonitor asupan,
keluaran, pertumbuhan, pola makan,interaksi dan cirri bayi dan anak. Dahulu
observasi ini dilakukan di rumah sakit, tetapi saat ini akan lebih baik dilakukan di
lingkungannya sendiri (misal: rumah) sampai penyebab gagal tumbuh dapat
diidentifikasikan.
52

Terapi ditujukan pada penyebab yang mendasari terjadinya gagal tumbuh dasar.
Terapi substitusi hormon tiroid perlu diberikan jika gagal tumbuh disebabkan oleh
hipotiroid, demikian juga apabila disebabkan karena penyakit sistemik maka
diatasi penyakitnya tersebut. Terapi gagal tumbuh bersifat multifaktorial dan
secara umum dibagi menjadi pengobatan jangka panjang dan jangka pendek,
melibatkan ibu dan lingkungan serta interaksi ibu dan bayi. Pengobatan pada bayi
termasuk nutrisi, terapi perkembangan dan tingkah laku, serta mengatasi
komplikasi yang terjadi. Pendekatan tata laksana pada ibu dan lingkungan
memerlukan identifikasi dan modifikasi stressor lingkungan dan perbaikan system
perlindungan. Perbaikan interaksi ibu-anak dibutuhkan jika keberhasilan
perawatan di RS akan dilanjutkan di rumah.
Prognosis
Untuk mencapai pertumbuhan dewasa yang normal, maka prognosis gagal
tumbuh tergantung dari penyebab gagal tumbuh itu sendiri. Intervensi dini sangat
penting untuk mengurangi risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang
berkelanjutan atau menetap. Gangguan pertumbuhan dalam 6 bulan pertama
berhubungan dengan gangguan mental dan psikomotor pada tahun kedua. Makin
cepat timbulnya gangguan tumbuh dan makin berat penyakit yang mendasari
maka prognosis makin kurang baik. Gagal tumbuh jangka panjang sering disertai
penyakit kronik yang berat atau malnutrisi sejak dini. Banyak anak, terutama di
Negara berkembang yang menderita malnutrisi ringan atau sedang dan anak anak
cenderung memiliki prognosis yang lebih baik terutama jika dilakukan intervensi
sejak dini. Terdapat kondisi spesifik mempengaruhi hasil pengeluaran intervensi
yang dilakukan pada anak yang gagal tumbuh. Sebagai contoh, bayi prematur atau
bayi yang mengalami pertumbuhan janin terhambat asimetris sering
memperlihatkan pacu tumbuh yang lebih baik dibandingkan dengan bayi yang
mengalami pertumbuhan bayi janin simetris. Perlu diingat bahwa faktor genetik
juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan seorang anak.
Dampak terhambatnya pertumbuhan terhadap perkembangan intelektual
dan tingkah laku tergantung dari penyebabnya. Malnutrisi berat yang lama dan
timbul dini berhubungan gangguan perkembangan system saraf, cenderung
bersifat permanen. Defisiensi mikronutrien dalam contohnya anemia defisiensi
besi berhubungan dengan gangguan tingkah laku. Gangguan pertumbuhan selama
bayi dan anak merupakan faktor risiko potensial unuk pertumbuhan dan
perkembangan selanjutnya. Prognosisnya baik jika kebutuhan medis, nutrisi dan
psikososial keluarga tercukupi.



53

BAB IV
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN


A. PEMBAHASAN
Ilustrasi Kasus dan Diagnosis
Pada kasus ini pasien An. O. didiagnosis menderita DADB, Fail to
Thrive dan Gizi kurang, setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis didapatkan BAB cair (+) >
8x/hari, ampas (+), lendir (-), volume tiap kali BAB banyak
1
/
3
gelas
belimbing sejak 3 hari lalu. BAK (+) normal, anak muntah 2x/hari, mual
(+) setiap makan muntah, demam tinggi (+), anak terlihat lemas (+) dan
kurus, minum susah,. Dari pemeriksaan fisik didapatkan BB = 2750 kg,
PB = 51,5 cm, UUB cekung, mata cowong, mulut kering, turgor sangat
lambat dan bising usus meningkat. Pada pemeriksaan penunjang Darah
rutin didapatkan Hb 11,9 gr%, Ht 33%, Leu 12.800/mmk, Tr
422.000/mmk, pada Fese Rutin didapatkan Amoeba (-), Bakteri (+), pada
pemeriksaan GDS dan elektrolit masih dalam batas normal.
Berdasarkan Status Gizi Antropometri NCHS maka Berat Badan
Menurut Umur 2,1; Tinggi Badan Menurut Umur - 1,04; Berat Badan
Menurut Panjang Badan - 2,125; Kesan : Berat Badan kurang Perawakan
normal, Gizi kurang. Berdasarkan Status Gizi Antropometri NCHS pada
follow-up hari perawatan 1-3 telah melewati -3 SD lebih dari 1
pengukuran sehingga dinyatakan fail to thrive.
Berdasarkan anamnesa dan hasil pemeriksaan diatas An. KR
menderita Diare Akut yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari.
Buang air besar encer tersebut disertai lendir dan tanpa disertai darah.
Berdasarkan kriteria penilaian derajat dehidrasi :
54



Berdasarkan klasifikasi diatas An. KR menderita Diare Akut dengan
Dehidrasi Berat. Maka untuk penatalaksanaannya menggunakan
Penatalaksanaan Diare Rencana Terapi C

Penanganan
a. Farmakologis
Pada hari perawatan pertama, pasien ini diberikan Infus KAEN 3B 20
tpm makro sebagai rehidrasi karena status dehidrasi berat pada bayi,
Paracetamol syr 3 x
1
/
3
cth (bila panas), Zinc tab 1x10 mg untuk membantu
reepitelisasi mukosa usus.
Pada hari perawatan kedua pasien ini diberikan infus Infus KAEN 3B
6 tpm makro sebagai maintenance kebutuhan cairan bayi, Paracetamol syr 3
x
1
/
3
cth (bila panas), Zinc tab 1x10 mg untuk membantu reepitelisasi
mukosa usus
b. Nonfarmakologis
Terapi nonfarmakologis yang diberikan meliputi tirah baring,
jaga kehangatan dan pemberian F75 12x20-40cc secara bertahap
Prognosis
Prognosis quo ad vitam pada pasien ini ialah dubia ad bonam
karena pada perawatan sewaktu-waktu pasien dapat jatuh ke dalam kondisi
55

dehidrasi dan syok yang mengancam nyawa, tetapi bila penatalaksaaan
yang dilakukan sesuai maka pasien dapat membaik.
Prognosis quo ad sanam pada pasien ini juga dubia ad bonam
karena sewaktu-waktu dapat saja pasien kembali menderita diare dan gizi
buruk kembali bila di lingkungan kebersihan yang kurang dan asupan gizi
yang kurang baik.
Prognosis quo ad fungsionam pada pasien ini juga dubia ad bonam
karena dapat saja timbul komplikasi pada pasien ini bila pasien jatuh ke
dalam kondisi syok. Bila klinis membaik, maka fisiologi pasien dapat
kembali baik.

Pemulangan Pasien
Pasien dipulangkan pada hari perawatan ke-10, karena sudah
memenuhi kirteria pemulangan yaitu tidak demam selama 24 jam tanpa
antipiretik, BAB sudah tidak cair, nafsu makan membaik, tampak perbaikan
secara klinis, BB meningkat, ibu telah mendapat konseling gizi.

B. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan mengenai kasus yang terjadi dan tinjauan pustaka
yang ada maka pada laporan kasus ini dapat disimpulkan bahwa anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, yang dilakukan telah tepat dan
mengarah ke diagnosis penyakit, yaitu DADB, fail to thrive dan Gizi Kurang,
penatalaksanaan yang dilakukan telah tepat dan sesuai dengan kepustakaan yang
ada. Karena itu untuk prognosis pada pasien ini yang dirasa tepat adalah dubia ad
bonam, kerena pasien dapat saja jatuh dalam kondisi dehidrasi, syok, gizi buruk
dan dapat pula membaik bila penanganannya tepat.



56

DAFTAR PUSTAKA

Departemen kesehatan republic Indonesia. Buku Bagan Tatalaksana
Anak Gizi buruk Buku I-II. 2007
Hassan R, Alatas H. Ilmu kesehatan anak. Edisi 2. Jakarta: Balai
PenerbitFKUI.2000.
Irwanto,Roim A, Sudarmo SM.Diare akut anak dalam ilmu penyakit
anak diagnosa dan penatalaksanaan ,Ed Soegijanto S : edisi ke 1 jakarta
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2011, Pedoman Pelayanan
Anak Gizi Buruk
Sunita Almatsier, Penuntun Diet edisi baru, Instalasi Gizi Perjan RS
Dr. Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi Dietsien Indonesia, 2004
Subagyo B. Nurtjahjo NB. Diare Akut, Dalam: Juffrie M, Soenarto
SSY, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyani NS, penyunting. Buku ajar
Gastroentero-hepatologi:jilid 1. Jakarta
Wastoro D. Dadiyanto. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Semarang :
Badan Penerbit Universitas Dipenogoro. 2011
WHO. Buku Saku Pelayanan kesehatan Anak Di Rumah Sakit. 2009