Anda di halaman 1dari 37

KARSINOMA REKTUM

Definisi
Karsinoma rektum adalah karsinoma yang berkembang pada rektum.
Kanker kolorektal berlokasi di rektum (30%) (Welton, 2001)
Anatomi dan Fisiologi Rektum
Seara anatomi rektum terbentang dari !ertebre sakrum ke"3 sampai garis
anorektal. Seara #ungsional dan endoskopik, rektum dibagi men$adi bagian
ampula dan s#ingter. %agian s#ingter disebut $uga annulus hemoroidalis,
dikelilingi oleh muskulus le!ator ani dan #asia oli dari #asia supra"ani. %agian
ampula terbentang dari sakrum ke"3 ke di#ragma pel!is pada insersi muskulus
le!ator ani. &an$ang rrektum berkisa 10"1' m, dengan keliling 1' m pada
rectosigmoid junction dan 3' m pada bagian ampula yang terluas. &ada orang
de(asa dinding rektum mempunyai ) lapisan * mukosa, submukosa, muskularis
(sirkuler dan longitudinal), dan lapisan serosa (tim anatomi, 2001).
+ambar 1. anatomi rektum
,askularisasi daerah anorektum berasal dari arteri hemoroidalis superior,
media, dan in#erior. -rteri hemoroidalis superior yang merupakan kelan$utan dari
a. mesenterika in#erior, arteri ini berabang 2 kiri dan kanan. -rteri hemoroidalis
merupakan abang a. iliaka interna, arteri hemoroidalis in#erior abang dari a.
pudenda interna. ,ena hemoroidalis superior berasal dari ple.us hemoroidalis
internus dan ber$alan ke arah kranial ke dalam !. /esenterika in#erior dan
seterusnya melalui !. lienalis menu$u !. porta. ,ena ini tidak berkatup sehingga
tekanan alam rongga perut menentukan tekanan di dalamnya. 0al inilah yang
dapat men$elaskan ter$adinya hemoroid interna pada pasien"pasien hemoroid
interna. Karsinoma rektum dapat menyebar sebagai embolus !ena ke dalam hati.
,ena hemoroidalis in#erior mengalirkan darah ke !. pudenda interna, !. iliaka
interna dan sistem !ena ka!a.
&embuluh lim#e daerah anorektum membentuk pleksus halus yang
mengalirkan isinya menu$u kelen$ar lim#e inguinal yang selan$utnya mengalir ke
kelen$ar lim#e iliaka. 1n#eksi dan tumor ganas pada daerah anorektal dapat
mengakibatkan lim#adenopati inguinal. &embuluh rekrum di atas garis
anorektum ber$alan seiring dengan !. hemoroidalis seuperior dan melan$ut ke
kelen$ar lim#e mesenterika in#erior dan aorta.
&ersara#an rektum terdiri atas sistem simpatik dan parasimpatik. Serabut
simpatik berasal dari pleksus mesenterikus in#erior yang berasal dari lumbal 2, 3,
dan ),s erabut ini mengatur #ungsi emisi air mani dan e$akulasi. Serabut
parasimpatis berasal dari sakral 2, 3, dan ), serabut ini mengatur #ungsi ereksi
penis, klitoris dengan mengatur aliran darah ke dalam $aringan. 0al ini
men$elaskan ter$adinya e#ek samping dari pembedahan pasien"pasien dengan
karsinoma rekti, yaitu berupa dis#ungsi ereksi dan tidak bisa mengontrol buang
air keil atau miksi.
2ektum (bahasa latin *regere, 3meluruskan, mengatur 3) adalah ruangan
yang berasal dari u$ung usus besar (estela kolon sigmoid) dan berakhir di anus.
4rgan ini ber#ungsi sebagai tempat penyimpanan sementara #eses. %iasanya
rektum ini kosong karena tin$a disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada
kolon desenden. 5ika kolon desenden penuh dan tin$a masuk ke dalam rektum,
maka timbul keinginan untuk buang air besar. /engembangnya dinding rektum
karena penumpukan material di dalam rektum akan memiu sistem sara# yang
menimbulkan keinginan untuk de#ekasi. 5ira de#ekasi tidak ter$adi, seringkali
material akan dikembalikan ke usus besar, dimana penyerapan air akan kembali
dilakukan. 5ira de#ekasi tidak ter$adi untuk periode yang lama, kostipasi dam
pengerasan #eses akan ter$adi.
4rang de(asa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan itu, tetapi
bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot
yang penting untuk menunda buang air besar.
&roses de#ekasi dia(ali oleh ter$adi re#lek de#ekasi akibat u$ung"u$ung
serabut sara# retum terangsang ketika dinding retum teregang oleh massa
#eses. Sensasi retum ini berperan penting pada mekanisme ontiene dan $uga
sensasi pengisian retum yang merupakan bagian integral penting pada de#ekasi
normal. 6istensi dari retum akan menstimulasi reeptor regang pada dinding
retum, lantai pel!is dan kanalis anales. %ila #eses memasuki rektum, distensi
dinding retum mengirim signal a##erent yang menyebar melalui pleksus
mienterikus yang merangsang ter$adinya gelombang peristaltik pada kolon
desenden, kolon sigmoid dan retum sehingga #eses terdorong ke anus. Setelah
gelombang peristaltik menapai anus, s#ingter ani interna mengalami relaksasi
oleh adanya sinyal yang menghambat pleksus mienterikus7 dan s#ingter ani
e.terna pada saat tersebut mengalami relaksasi seara !olunter, ter$adilah
de#ekasi. &ada permulaan de#ekasi, ter$adi peningkatan tekanan intraabdominal
oleh kontraksi otot"otot kuadratus lumborum, muskulus retus abdominis, m.
obli8ue interna dan e.terna, m. trans!ersus abdominis dan dia#ragma. /.
puboerektalis yang mengelilingi anoretal $untion kemudian akan relaksasi
sehingga sudut anorektal akan men$adi lurus dan #eses akan die!akuasi. /.
s#ingter ani e.terna kemudian akan berkontraksi dan meman$ang ke kanalis
anales. 6e#ekasi dapat dihambat oleh kontraksi s#ingter ani eksterna yang berada
di ba(ah pengaruh kesadaran (!oulenter). %ila de#ekasi ditahan, s#ingter ani
akan tertutup, retum akan mengadakan relaksasi untuk mengakomodasi #eses.
Setelah proses e!akuasi selesai akan ter$adi losing re#le..
Epidemiologi Kanker Rectum
6i dunia kanker kolorektal menduduki peringkat ketiga pada tingkat
insiden dan mortalitas. &ada tahun 2002 terdapat lebih dari 1 $uta insiden kanker
dengan mortalitas lebih dari '0%. 9,'% pria penderita kanker terkena kanker
kolorektal, sedangkan pada (anita angkanya menapai 9,3% dari $umlah total
penderita kanker (depkes, 200:).
-ngka insiden tertinggi terdapat di ;ropa, -merika dan Selandia baru7
sedangkan angka insiden terendah terdapat di 1ndia, -merika Selatan dan -rab
1srael (soeripto, 2011). /ortalitas tertinggi di dunia ter$adi di 2epublik <he=
('2 per 100.000) sedangkan untuk mortalitas terendah terdapat pada negara
-lbania () per 100.000), di -merika Serikat 3' per 100.000 orang (Welton,
1999).
Sekitar 13'.000 kasus baru kanker kolorektal ter$adi di -merika Serikat
setiap tahunya dan menyebabkan angka kematian sekitar ''.000. Sepertiga kasus
ter$adi di kolon dan 2>3 di rektum. adenokarsinoma merupakan $enis terbanyak
(9?%), $enis lainnya yaitu karsinoid (0,1%), lim#oma (1,3%), dan sarkoma
(0,3%) (Ste(art, 2001).
1nsidensi kanker kolorektal di 1ndonesia ukup tinggi, demikian $uga
kematiannya. 1nsiden pada pria sebanding dengan (anita, dan lebih banyak pada
orang muda. 6i negara barat, perbandingan insiden laki"laki dan (anita 3*1, dan
merupakan penyakit orang usia lan$ut (Syamsuhidayat, 200:).
&ada tahun 2002 kanker kolorektal berada pada peringkat kedua pada
pria setelah kanker paru, sedangkan pada (anita kanker kolorektal menduduki
peringkat ke tiga setelah kanker payudara dan kanker ser!ik (boyle, 200)).
0istopatologisnya dari kanker rektal sebesar 9:% berupa
adenokarsinoma, 2% lainnya (termasuk karsinoid tumor), 0,)% epidermoid
karsinoma dan 0,?% berupa saroma. Sedangkan untuk lokasinya sebagian besar
berada di rektum ('1,:%) diikutio oleh kolon sigmoid (1?,?%), kolon desenden
(?,:%), kolon trans!ersum (?,0:%), kolon asenden (@,?%) dan multi#okal
(0,2?%).
%erdasarkan penelitian pada tahun 200:"2010, angka ke$adian kanker
kolorektal di 2S -WS Samarinda ber$umlah 1:0 orang, $umlah pria lebih banyak
yaitu ?1 orang dan (anita :' orang, dan untuk $enis terbanyak didapatkan hasil
adeno <a (130 orang), muinous <a () orang), signet sel ring ell a () orang),
ly#oma () orang), arinoid a (2 orang), saroma (2 orang) serta berdasarkan
usia sampel didapatkan terbanyak pada usia 31")0 tahun (/ukhtar, 2010).
Karsinoma rektum biasanya ter$adi pada usia tua pada dekade ke @.
%agaimanapun $uga karsinoma dapat ter$adi pada usia berapapun.
Faktor Resiko
;tiologi dari kanker rektum sendiri belum diketahui, namun beberapa
#aktor resiko telah ditemukan dapat menyebabkan ter$adinya kanker rektum.
%eberapa #aktor resiko yang berperan adalah
1. Aaktor genetik seperti A-& dan 0B&<<
2. Inflamatory bowel disease seperti penyakit hron dan olitis ulserati#
Cerdapat peningkatan resiko berkembangnya kanker kolorektal dengan
penderita 1%6 dalam (aktu yang lama, sebanyak 3% setelah 1' tahun,
'% setelah 20 tahun dan '% setelah 2' tahun.
3. 6iet (lemak, protein, daging dan kalori)
). kelebihan berat badan
lebih dari 20 penelitian, menakup lebih dari 3000 kasus seara konsisten
mendukung bah(a terdapat hubungan yang positi# antara obesitas dan
ke$adian kanker rektum. Cer$adi kenaikan resiko 1'% pada orang yang
o!er(eight (%/1D2'%) dan resiko meningkat men$adi 33% pada
obesitas (%/1D30).
'. 4bat"obatan BS-16 atau kemopre!etion
obat"obatan BS-16 akan menghambat produksi prostaglandin melalui
hambatan paa <4E. <4E akan merangsang angiogenesis pada kanker
rektum. penelitian kohort dan kasus kontrol menun$ukkan bah(a
golongan BS-16 seperti piroksikam dan aspirin dapat menegah
terbentuknya adenoma atau menyebabkan regresi polip adenoma pada
A-&.
:. /erokok
perokok $angka lama (periode induksi 30")0 tahun) mempunyai resiko
1,'"3 kali lebih banyak.
@. &engobatan sulih hormon
terdapat hubungan yang terbalik antara estrogen replacement therapy
(;2C) dengan CS0 dengan ke$adian kanker rektum.
?. -lkohol
9. Kalsium
kalsium akan menurunkan angka kekambuhan adenoma seara
bermakna. 6osis yang dipakai 12'0"2000 mg.
10. !itamin
!itamin ;, !itamin 6 dan asam #olat )00mg>hari menurunkan ke$adian
kanker rektum. (Fahari, 2009)
Etiologi dan atogenesis
Seara umum dinyatakan bah(a untuk perkembangan kanker rektum
sama seperti kanker yang lain yang masih belum diketahui penyebabnya, namun
diduga hal tersebut ter$adi akibat interaksi berbagai #aktor yakni #aktor
lingkungan dan #aktor genetik. Aaktor lingkungan yang multipel berinteraksi
dengan predisposisi genetik atau de#ek yang didapat dan berkembang men$adi
kanker kolon dan rektum (Syamsuhidayat, 200:).
Cumorigenesis kanker kolorektal berdasar pada penyakit genetik, yang
merupakan akumulasi dari alterasi genetik dan ekspansi sel klonal yang agresi#
yang bertumbuh epat melebihi sel progenitor. Ciga kategori utama yang
berimplikasi pada perkembangan kanker kolorektal adalah onkogen seperti K"
ras, gen supresor tumor -&<, 6<<, p'3 dan /<<, dan ketidaksesuaian gen
seperti h/S02, h/G01, h&/S, dan h&/S2. (Welton, 2001).
&ada tahun 1990, Aearon dan ,ogelstein mengungkapkan bah(a untuk
ter$adinya kanker, terdapat minimal lima gen yang bermutasi. Sedangkan
penelitian lebih lan$ut menun$ukkan minimal tu$uh gen yang beralterasi yang
ter$adi sebelum berkembangnya kanker. 5alur ini sering disebut dengan G40
(loss of heterogenitas) yang didapat dari perkembangan kanker kolorektal yang
di(ariskan dan sporadik.
Cerdapat $uga $alur yang berkembang, yang diinisiasi oleh de#ek akibat
ketidaksesuaian gen. &ada kasus ini ter$adi replikasi yang salah yang mengarah
pada instabilitas mirosatelite dan mal#ungsional dari gen. Cumor ini disebut
denga 2;2 (replication error) yang ditemukan kurang lebih 20%. Sehingga
terdapat multipel genetik #aktor yang menghasilkan ter$adinya keganasan
kolorektal.
-&< gen
+en -&< (adenomatous polypolis oli) berlokasi di hromosom
lengan pan$ang '8. 0al tersebut bermani#estasi pada A-&
(#amilial adenomatous polyposis) dan Sindrom +arnerHs dan yang
paling sering CurotHs syndrom. -&< yang bermutasi ditemukan
pada sebagian besar tumor kolorektal, yang terdeteksi pada :3%
adenoma dan merupakan :0% dari karsinoma. /utasi dari
adenoma dan arsinoma tidak hanya ter$adi pada $aringan sekitar,
yang mengindikasikan mutasi somatik.
6<< gen
+en 6<< (deleted in oloretal arinoma) yang berlokasi di
krosomom lengan pan$ang 1? (1?8). +en memproduksi gen yang
melibatkan adhesi sel dan interaksi dari matrik sel yang
berpengaruh pada penegahan pertumbuhan tumor, in!asi# dan
metastase.
Seond (inati!ating) mutation
+eneti #ator
Aield e##et
I mutational rate
-&< gene
G40 path(ay
//2 gene
2;2 path(ay
/irosatelite instability
<lonal gro(th
<arinoma
metastasis
;n!iromental #ators
1nitial mutation
Somati mutation or alleli loss
K"ras, 6<<, &"'3
/ukosa rektum yang normal sel"sel epitelnya beregenerasi setiap : hari.
&ada adenoma ter$adi perubahan genetik yang mengganggu proses di#erensiasi
dan maturasi sel"sel tersebut, yang dimulai dengan inakti!asi gen adenomatous
polyposis coli (APC) yang menyebabkan replikasi yang tidak terkontrol. 6engan
peningkatan $umlah sel tersebut menyebabkan ter$adi mutasi yang mengakti!asi
K-ras onkogen dan mutasi gen p5, hal ini akan menegah apoptosis dan
memperpan$ang hidup sel.
6iet rendah serat dan tinggi karbohidrat akan mengakibatkan perubahan
pada #lora #eses dan perubahan degradasi garam"garam empedu atau hasil
pemeahan protein dan lemak, dimana sebagian besar =at"=at ini bersi#at
karsinogenik. 6iet rendah serat akan menyebabkan pemekatan =at yang
berpotensi karsinogenik dalam #eses yang ber!olume keil, selain itu masa
transisi #eses akan meningkat. -kibatnya kontak =at yang berpotensi
karsinogenik dengan mukosa usus bertambah lama (prie, 200:).
Kanker retum terutama adenokarsinoma (munul dari epitel usus)
dimulai sebagai polip $inak tetapi dapat men$adi ganas dan menyusup serta
merusak $aringan normal serta meluas ke dalam struktur sekitarnya. Sel kanker
ini dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke dalam tubuh yang lain
(paling sering metastase ke hati).
Cerdapat 3 kelompok kanker rektum berdasarkan perkembanganya *
1. kelompok yang diturunkan (inherited) yang menakup kurang
dari 10%
2. kelompok sporadik yang menakup sekitar @0%
3. kelompok #amilial yang menakup 20%
Kelompok yang diturunkan adalah pasien yang (aktu dilahirkan sudah
dengan mutasi sel germinati!um pada salah satu alel dan ter$adi mutasi
somatikalel yang lain. <ontohnya adalah A-& (Aamilial -denomatous &olyposis)
dan 0B&<< (0ereditary Bon &olyposis <oloretal <aner). 0B&<< terdapat
pada sekitar '% dari kanker kolon dan rektum. kelompok sporadik
membutuhkan dua mutasi somatik, satu pada masing"masing alelnya.
Kelompok #amilial tidak sesuai ke dalam salah satu dominan inherited
syndrom di atas (A-& dan 0B&<<) dan lebih dari 3'% ter$adi pada orang muda.
/eskipun kelompok #amilial dari kanker kolon dapat ter$adi kebetulan sa$a, ada
kemungkinan peran ligkungan atau mutasi germinati!um yang sedang
berlangsung.
Cerdapat dua model utama per$alanan perkembangan kanker kolon dan
rektum yaitu G40 (Goss o# 0etero=ygoity) dan 2;2 (2epliation ;rror).
/odel G40 menakup mutasi tumor gen supresor meliputi gen -&<, 6<< dan
p'3 serta akti!asi onkoge yaitu K"ras, ontohnya perkembangan polip adenoma
men$adi karsinoma. Sementara model 2;2 karena adanya mutasi gen
/S02,h/G01, h&/S1, h&/S2. /odel terakhir ini seperti pada 0B&<<. &ada
bentuk sporadik, ?0% berkembang le(at model G40 dan sisanya berkembang
le(at model 2;2 (Fahari, 2009).
+ambaran mikroskopis
&ada stadium dini karsinoma rekti hanya membentuk daerah penebalan
yang terlokalisir pada mukosa normal atau ben$olan keras (nodule) pada
adenoma yang telah ada papiloma !illous. 6engan pertumbuhan yang ter$adi,
massa akan membesar dan men$adi beberapa bentuk (samiad$i, 199:)
1. polipoid (auli #lo(er arsinoma)
%erupa massa seperti $amur yang menon$ol dalam lumen usus (#ungating
mass), dengan in#iltrasi minimal ke dinding usus. &enon$olan lesi dapat
halus atau kasar, oleh karena pertumbuhan yang epat akan menyebabkan
nekrosis dan akan ter$adi ulserasi pada beberapa tempat.
-danya massa tumor pada epitel kelen$ar mukosa rektum akan
memproduksi lendir, serta adanya nekrosis dan ulserasi pada massa
tumor akan menimbulkan keluhan berak darah, berak lendir dan rasa
tidak puas setelah berak
2. Jlserati#
%erupa ulkus maligna yang khas dengan tepi tak rata dan dasar berkerak,
berbentuk sirkuler dan kasar. 5enis pertumbuhan ini sering mengin#iltrasi
dinding rektum sehingga ter$adi de#ormitas dan penyempitan. %entuk
ulserati# selain menimbulkan keluhan berak darah"lendir, diare palsu dan
apabila telah ter$adi penyempitan lumen akan memberikan keluhan tin$a
pipih seperti tahi kambing.
3. -nuler (stenosing arsinoma)
Cumbuh dari ulkus maligna, lesi akan meluas mengelilingi dinding usus
dan akhirnya kedua tepinya bertemu membentuk ulserasi yang anuler.
Sering menimbulkan stenosis, paling khas terlihat pada sigmoid, disebut
Kstring"striture arsinomaK.
&ada bentuk ini keluhan berak darah dan lendir tidak $elas, keluhan yang
sering dikeluhkan adalah adanya kesukaran de#ekasi dengan tin$a pipih
seperti kambing.
). 1n#iltrati#
/enimbulkan penebalan di#us pada dinding usus, sebagian besar tertutup
oleh mukosa yang utuh. 6an terdapat ulserasi pada beberapa tempat.
-pabila telah ter$adi ulserasi akan memberikan keluhan berupa berak
lendir dan darah.
'. Koloid
%erupa masa tumor yang besar seperti gelatin. 6apat menimbulkan
ulserasi dan in#iltrasi yang luas. %entuk ini terutama akan memberikan
keluhan berupa kesukaran de#ekasi oleh karena adanya massa tumor yang
besar dan adanya tin$a pipih seperti tahi kambing, apabila ter$adi ulserasi
akan memberikan ge$ala berak darah dan lendir.
Deteksi Dini
Karsinoma rekti seringkali asimtomatis dan ditemukan dalam keadaan
lan$ut. 6eteksi dini dapat diartikan adalah in!estigasi>penemuan kasus pada
indi!idu asimtomatik yang bertu$uan untuk mendeteksi adanya penyakit pada
stadium dini sehingga dapat dilakukan terapi kurati#.
1ndikasi
Seara umum dapat dibedakan 2 kelompok yaitu populasi umum dan kelompok
resiko tinggi
&ada populasi umum dilakukan pada usia di atas )0 tahun.
6eteksi dini pada kelompok masyarakat yang beresiko tinggi adalah *
a. penderita kolitis ulserati# atau hron disease selama D10 tahun
b. penderita yang telah dilakukan polipektomi karena adenoma kolon dan
rektum
. indi!idu dengan ri(ayat keluarga menderita kanker rektum
d. indi!idu dengan ri(ayat keluarga memiliki risiko karsinoma rektum '
kali lebih tinggi
Cabel 1 kriteria resiko pada indi!idu dengan ri(ayat KK2 (kriteria
-msterdam)
Cingkat resiko Kriteria
Cinggi &aling sedikit 3 anggota keluarga
menderita KK2 atau paling sedikit 2
anggota dengan KK2 dan 1 dengan
karsinoma endometrial pada paling
sedikit 2 generasi. Satu dari anggota
keluarga telah menderita di ba(ah usia
'0 tahun dan salah satu anggota yang
didiagnosis adalah silsilah pertama
keluarga
ditemukan pemba(a (arier) gen
0B&<
anggota keluarga yag tidak diu$i
Sedang Seorang anggota keluarga silsilah
pertama menderita KK2 pada usia L)'
tahun atau dua anggota keluarga silsilah
pertama menderita KK2 (seorang pada
usia L'' tahun atau dua atau tiga
anggota keluarga (salah seorang pada
usia L'' tahun) dengan KK2 atau
karsinoma endometrial yang merupakan
silsilah pertama
2endah Seseorang yang tidak memenuhi kriteria
tinggi atau sedang
-pabila tidak dilakukan terapi @% penderita A-& akan menderita adenoma
pada usia 21 tahun7 '0% pada usia 39 tahun7 dan 90% pada usia )' tahun.
(Fahari, 2009).
Diagnosis Klinis
+e$ala klinis yang munul pada keganasan rektum dibagi menurut tiga
kategori, yaitu onset yang kronis, ge$ala obstruksi akut, dan per#orasi akut. 6ari
ketiga ge$ala tersebut, ge$ala yang paling sering munul adalah ge$ala kronis,
obstruksi, dan per#orasi yang diikuti dengan peritonitis (Walton, 1999).
&erdarahan adalah ge$ala yang paling sering ditemukan dari keganasan
kolorektal. Cetapi pada umumnya, penderita didiagnosis dengan hemoroid, yang
lebih umum ter$adi. &erdarahan dapat ber(arna hitam, maroon, ungu atau merah
erah tergantung lokasi.
&erubahan dalam kebiasan buang air besar adalah ge$ala kedua yang
paling sering dikeluhkan, baik dengan diare atau dengan kosntipasi. 0al tersebut
berhubungan dengan lokasi dari kanker kolorektal. Sakit perut $uga berhubungan
dengan perubahan kebiasaan buang air besar. Karsinoma pada rektum
memberikan ge$ala tenesmus, diikuti dengan pel!ic pain apabila kanker telah
melibatkan sara# siati.
+e$ala kronis pada umumnya sama dengan ge$ala keganasan yang lain
seperti kehilangan na#su makan, malaise, demam, berat badan turun, massa pada
abdominal dan ge$ala pada saluran kemih (#rekuensi, pnuematuria, dan
#ealuria). %akteremia yang diakibatkan oleh "treptococcus bo!is adalah bakteri
yang sering menimbulkan mani#estasi pada keganasan kolorektal.
&er#orasi adalah ge$ala ketiga yang munul pada karsinoma kolorektal.
+e$ala ini dapat berakibat peritonitis terlokalisasi atau peritonitis yang
generalisasi atau berhubungan dengan #istula !esikourinaria.
a. -namnesa
%erikut ini merupakan ge$ala yang sering dikeluhkan *
6iare palsu atau Kspurious diarrhea#
diare palsu merupakan keluhan %-% yang #rekuen tapi hanya sedikit
yang keluar disertai dengan lendir dan darah serta adanya rasa tidak puas
setelah %-%. Cer$adinya diare palsu oleh karena adanya proses
keganasan pada epitel kelen$ar mukosa rektum, berupa suatu massa
tumor dimana tumor akan merangsang keinginan untuk de#ekas, tetapi
yang keluar hanya sedikit disertai sekresi kelen$ar berupa mukus dan
darah oleh karena rapuhnya massa tumor.
%-% berlendir
%-% berlendir seperti halnya diare palsu merupakan mani#estasi adanya
proses keganasan pada epitel kelen$ar mukosa rektum dan hal ini $arang
didapatkan pada penderita hemoroid
Aeses pipih seperti kotoran kambing
%entuk #eses yang pipih seperti kotoran kambing sangat tergantung dari
bentuk makroskopis massa tumor pada rektum. &ada stadium dini dimana
tumor masih keil dan tidak berbentuk anuler, $arang ditemukan
perubahan bentuk #eses.
&enurunan berat badan
&enurunan berat badan pada umumnya akan ter$adi pada semua penderita
dengan keganasan, terutama stadium lan$ut. &enderita dengan keganasan
akan mengalami perubahan metabolisme oleh karena adanya reaksi
in#lamasi tumor dengan host. -danya peningkatan metabolisme protein,
karbohidrat, dan lemak akan menyebabkan keseimbangan energi protein
men$adi negati# sehingga diikuti dengan penurunan berat badan. &ada
karsinoma rekti ter$adi obstruksi parsial sehingga penderita akan
mengeluhkan perut terasa kembung dan na#su makan menurun
&erdarahan berampur tin$a
&erdarahan pada karsinoma rektum akibat adanya proses in#lamasi pada
massa tumor. Si#at perdarahan yang keluar akan berampur dengan tin$a
dan ber(arna kehitaman $ika massa tumor pada kolon proksimal,
sedangkan darah yang keluar akan ber(arna merah segar $ika lokasi
massa tumor pada kolon distal
Cabel 2. &erbandingan antara karsinoma rektum dengan karsinoma kolon kiri
dan kanan
Kolon kanan Kolon kiri 2ektum
Cipe tumor ,egetati# Stenotik 1n#iltrati#
Jlserati# Jlserati#
,egetati#
-spek klinis Kolitis 4bstruksi &roktitis
Byeri Karena
penyusupan
4bstruksi Cenesmus
6e#ekasi 6iare Konstipasi
progresi#
Cenesmus terus
menerus
4bstruksi 5arang 0ampir selalu Cidak $arang
6arah pada #eses Samar Samar atau
mikroskpis
/akroskopis
Aeses Bormal Bormal &erubahan bentuk
6ispepsia Sering 5arang 5arang
/emburuknya KJ 0ampir selalu Gambat Gambat
-nemia 0ampir selalu Gambat Gambat
Cabel 3. ringkasan diagnosis karsinoma kolorektal
Kolon kanan -nemia dan kelemahan
6arah samar di #eses
6ispepsia
&erasaan tidak enak di perut kanan
ba(ah
/assa di perut kanan ba(ah
Kolon kiri &erubahan pola de#ekasi
6arah di #eses
+e$ala dan tanda obstruksi
2ektum &erdarahan di rektum
6arah di #eses
&erubahan pola de#ekasi
&asa de#ekasi masih ada perasaan tidak
puas atau penuh
&enemuan tumor pada olok dubur
&enemuan tumor pada
retosigmoidoskopi
b. &emeriksaan Aisik
&emeriksaan #isik dilakukan untuk menari kemungkinan metastase
seperti pembesaran K+% atau hepatomegali. 6ari pemeriksaan olok
dubur dapat diketahui (irinione, 200') *
-danya tumor retum
Gokasi dan $arak dari anus
&osisi tumorL melingkar menyumbat lumen
&erlengketan dengan $aringan sekitar
. &emeriksaan &enun$ang 6iagnosis
-da beberapa tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kanker rektum
antara lain (Sh(art, 200').
1. %iopsi
Kon#irmasi adanya malignansi dengan pemeriksaan biopsy sangat
penting. 5ika ditemukan tumor dari salah satu pemeriksaan diatas,
biopsy harus dilakukan. Seara patologi anatomi, adenoarinoma
merupakan $enis yang paling sering yaitu sekitar 90"9'% dari kanker
usus besar. 5enis lainnya ialah karsinoma sel skuamosa, arinoid
tumors, adenomatous carcinomas$ dan undifferentiated tumors%
2. &emeriksaan Cumor /arker * <;- (Carcinoma &mbryonic Antigent)$
<- 2)2, <- 19"9
3. J$i A4%C ('aecal (ccult )lood *est) untuk melihat perdarahan
$aringan.
). +igital ,ectal &-amination atau biasa disebut retal touhM (olok
dubur).
Sekitar @'% karsinoma rekti dapat dipalpasi pada pemeriksaan retal.
&emeriksaan dengan retal touhM akan mengenali tumor yang
terletak sekitar 10 m dari retum, massa akan teraba keras dan
menggaung.
+ambar 2. olok dubur
&ada pemeriksaan olok dubur ini yang harus dinilai adalah*
a. Keadaan tumor* ekstensi lesi pada dinding retum serta letak
bagian terendah terhadap inin anorektal, er!i. uteri, bagian
atas kelen$ar prostat atau u$ung os oygis.
b. /obilitas tumor * hal ini sangat penting untuk mengetahui
prospek terapi pembedahan. Gesi yang sangat dini biasanya masih
dapat digerakkan pada lapisan otot dinding retum. &ada lesi yang
sudah mengalami ulserasi lebih dalam umumnya ter$adi
perlekatan dan #iksasi karena penetrasi atau perlekatan ke struktur
ekstrarektal seperti kelen$ar prostat, buli"buli, dinding posterior
!agina atau dinding anterior uterus.
. ;kstensi pen$alaran yang diukur dari besar ukuran tumor dan
karakteristik pertumbuhan primer dan sebagian lagi dari
mobilitas atau #iksasi lesi.
'. Aoto 2ontgen dengan barium enema yaitu airan yang mengandung
barium, dimasukkan melalui retum untuk kemudian dilakukan #oto
rontgen
:. ;ndoskopi
a. Sigmoidoskopi
Naitu sebuah prosedur untuk melihat bagian dalam rektum dan
sigmoid apakah terdapat polip kanker atau kelainan lainnya. -lat
sigmoidosope dimasukkan melalui retum sampai kolon sigmoid,
polip atau sampel $aringan dapat diambil untuk biopsy. Ale.ible
sigmoidosopi setiap ' tahun dimulai pada umur '0 tahun merupakan
metode yang direkomendasikan untuk sreening seseorang yang
asimptomatik yang berada pada tingkatan risiko menengah untuk
menderita kanker kolon. Sebuah polip adenomatous yang ditemukan
pada #le.ible sigmoidosopi merupakan indikasi untuk dilakukannya
kolonoskopi, karena meskipun keil (L10 mm), adenoma yang berada
di distal kolon biasanya berhubungan dengan neoplasma yang
letaknya pro.imal pada :"10% pasien.
b. Kolonoskopi
6apat digunakan untuk menun$ukkan gambaran seluruh mukosa
kolon dan retum. Sebuah standar kolonoskopi pan$angnya dapat
menapai 1:0 m. Kolonoskopi merupakan ara yang paling
akurat untuk dapat menun$ukkan polip dengan ukuran L 1m dan
keakuratan dari pemeriksaan kolonoskopi sebesar 9)%, lebih baik
daripada barium enema yang keakuratannya hanya sebesar :@%.
2
Sebuah kolonoskopi $uga dapat digunakan untuk biopsy,
polipektomi, mengontrol perdarahan dan dilatasi dari striktur.
Kolonoskopi merupakan prosedur yang sangat aman dimana
komplikasi utama (perdarahanL komplikasi anestesi, dan
per#orasi) hanya munul kurang dari 0,2% pada pasien.
Kolonoskopi merupakan ara yang sangat berguna untuk
mendiagnosis dan mana$emen dari in#lammatory bo(el disease,
non akut di!ertiulitis, sigmoid !ol!uus, gastrointestinal bleeding,
megakolon non toksik, striktur kolon dan neoplasma. Komplikasi
lebih sering ter$adi pada kolonoskopi terapi daripada diagnosti
kolonoskopi, perdarahan merupakan komplikasi utama dari
kolonoskopi terapeutik, sedangkan per#orasi merupakan
komplikasi utama dari kolonoskopi diagnosti (depkes, 200:)
@. ,irtual <olonosopy (<C <olonography)
Kolonoskopi !irtual merupakan diagnosti non"in!asi# yang baru,
menggunakan ."ray dan so#t(are omputer untuk melihat dua dan
tiga dimensi dari seluruh usus besar dan retum untuk mendeteksi
polip dan kanker kolorektal (/ukhtar, 2010).
?. 1maging Cehnik
/21, <C san, Cransretal ultrasound merupakan bagian dari tehnik
imaging yang digunakan untuk e!aluasi, staging dan tindak lan$ut
pasien dengan kanker kolon, tetapi tehnik ini bukan merupakan
sreening test (Sh(artm 200').
a. <C san
<C san dapat menge!aluasi abdominal a!ity dari pasien
kanker kolon preoperati!e. <C san dapat mendeteksi metastase ke
hepar, kelen$ar adrenal, o!arium, kelen$ar lim#e dan organ lainnya
di pel!is. <C san sangat berguna untuk mendeteksi rekurensi pada
pasien dengan nilai <;- yang meningkat setalah pembedahan
kanker kolon. Sensiti#itas <C san menapai ''%. <C san
memegang peranan penting pada pasien dengan kanker kolon
karena si#atnya dalam menentukan stage dari lesi sebelum tindakan
operasi. &el!i <C san dapat mengidenti#ikasi in!asi tumor ke
dinding usus dengan akurasi menapai 90% dan mendeteksi
pembesaran kelen$ar getah bening D1 m pada @'% pasien.
19
&enggunaan <C dengan kontras dari abdomen dan pel!is dapat
mengidenti#ikasi metastase pada hepar dan daerah intraperitoneal.
+ambar 3. <C san abdomen
b. /21
/21 lebih spesi#ik untuk tumor pada hepar daripada <C san dan
sering digunakan pada klari#ikasi lesi yang tidak teridenti#ikasi
dengan menggunakan <C san. Karena sensiti#itasnya yang lebih
tinggi daripada <C san. /21 dipergunakan nuntuk
mengidenti#ikasi metastase ke hepar (%ro(n, 2001).
. ;ndoskopi Jltrasound (;JS)
;JS seara signi#ikan menguatkan penilaian preoperati!e dari
kedalaman in!asi tumor, terlebh untuk tumor retal. Keakurasian
dari ;JS sebesar 9'%, @0% untuk <C dan :0% untuk 6igital
2ektal ;.amination. &ada kanker retal, kombinasi pemakaian
;JS untuk melihat adanya tumordan digital retal e.amination
untuk menilai mobilitas tumor seharusnya dapat meningkatkan
ketepatan renana dalam terapi pembedahan dan menentukan
pasien yang telah mendapatkan keuntungan dari preoperati#
kemoradiasi. Cransrektal biopsy dari kelen$ar lim#e perirektal bisa
dilakukan diba(ah bimbingan ;JS.
Cable ). diagnosis karsinoma retum
<ara pemeriksaan &ersentase
<olok dubur )0%
Kolonoskopi 100%
2etosigmoideskopi @'%
Aoto kolon dengan barium kontras 90%
Klasifikasi karsinoma rectum
1. %erdasarkan klasi#ikasi 6ukes
Stadium 0
&ada stadium 0, kanker ditemukan hanya pada bagian paling
dalam rektum, yaitu mukosa sa$a, disebut $uga carsinoma in
situ.
Stadium 1
&ada stadium 1, kanker telah menyebar menembus mukosa
sampai lapisan muskularis dan melibatkan bagian dalam
dinding retum tapi tidak menyebar ke bagian terluar dinding
retum ataupun keluar dari retum. 6isebut $uga +u.es A
rectal cancer.
Stadium 11
&ada stadium 11, kanker telah menyebar keluar retum ke
$aringan terdekat namun tidak menyebar ke lim#onodi.
6isebut $uga +u.es ) rectal cancer.
Stadium 111
&ada stadium 111, kanker telah menyebar ke lim#onodi
terdekat, tapi tidak menyebar ke bagian tubuh lainnya.
6isebut $uga +u.es C rectal cancer.
Stadium 1,
&ada stadium 1,, kanker telah menyebar ke bagian lain tubuh
seperti hati, paru, dan o!arium. 6isebut $uga +u.es A rectal
cancer.
+ambar ). Stadium Karsinoma 2ektum
2. %erdasarkan system CB/
Cabel 2. CB/>/odi#ied 6ukes <lassi#iation System
TNM
STADIUM
MODIFIED
DUKES
STADIUM
DESKRISI
C1 B0 /0 - Cumor terbatas pada submukosa
C2 B0 /0 %1 Cumor terbatas pada musularis
propia
C3 B0 /0 %2 &enyebaran transmural
C2 B1 /0 <1 C2, pembesaran kelen$ar mesenteri
C3 B1 /0 <2 C3, pembesaran kelen$ar
mesenteri
C) <2 &enyebaran ke organ yang
berdekatan
-ny C, /1 6 /etastasis $auh
enatalaksanaan
%erbagai $enis terapi dapat digunakan pada pasien dengan kanker
rektum. Ciga terapi standar yang digunakan antara lain adalah *
1. &embedahan
&embedahan merupakan terapi yang paling la=im digunakan terutama
untuk stadium 1 dan 2 kanker rektum, bahkan pada suspek stadium 3
$uga masih dapat dilakukan pembedahan. Seiring perkembangan ilmu
pengetahuan, sekarang sebelum dioperasi pasien diberi presurgical
treatment berupa radiasi dan kemoterapi. &enggunaan kemoterapi
sebelum pembedahan dikeanl sebagai neoadju!ant chemotherapy,
dan terapi ini biasanya digunakan pada pasien dengan kanker retum
stadium 2 dan 3. &ada pasien lainnya yang hanya dilakukan
pembedahan, meskipun sebagian $aringan kanker sudah diangkat saat
operasi, beberapa pasien masih membutuhkan kemoterapi atau radiasi
pasa pembedahanyang dapat dilakukan, antara lain*
a. ;ksisi lokal
;ksisi loal $ika kanker ditemukan pada stadium paling
dini, tumor dapat dihilangkan tanpa melakukan pembedahan
le(at abdomen. 5ika tumor ditemukan dalam bentuk polip, maka
operasinya disebut polypectomy% ;ksisi loal melalui rektoskop
dapat dilakukan pada karsinoma terbatas. Seleksi penderita harus
dilakukan dengan teliti, antara lain dengan menggunakan
endoskopi ultrasonogra#ik untuk menentukan tingkat penyebaran
didalam dinding retum lan adanya kelen$ar ganas pararektal.
b. Go( -nterior 2esetion (G-2)
/etode ini digunakan untuk lesi yang terletak di tengah
atau 1>3 atas retum, Jntuk masa tumor lebih ' m dari anokutan
dipertimbangkan reseksi retum rendah (Go( -nterior
2esetion>G-2) sehingga tidak perlu dikolostomi.
2ektum terbagi atas 3 bagian yaitu 1>3 atas, tengah dan
ba(ah. Kanker yang berada dilokasi 1>3 atas dan tengah (' s>d 1'
m dari garis dentale) dapat dilakukan restorati!e anterior
resection kanker 1>3 distal retum merupakan masalah pelik.
5arak antara pinggir ba(ah tumor dan garis dentale merupakan
#aktor yang sangat pentinguntuk menentukan $enis operasi.
+ambar '. -. Go( -nterior 2esetion, %.< olonanal anastomose
+oligher dkk berdasarkan pengalamannya menyatakan bah(a
kegagalan operasi G-2 akan ter$adi pada kanker retum dengan
$arak ba(ah retum normal 2 m. -ngka ' m telah diterima
sebagai $arak keberhasilan terapi. 0asil penelitian yang dilakukan
oleh !enara dkk pada 2)3 kasus menyimpulkan bah(a $arak lebih
dari 3 m dari garis dentate aman untuk dialukan operasi
restorati!e resection. Colonal anastomosis diilhami oleh hasil
operasi 2a!ith dan Sabiston yang dilakukan pada kasus Kolitis
ulerati#. 4perasi ini dapat diterapkan pada kanker retum letak
ba(ah, diaman teknik stapler tidak dapat dipergunakan. Gokal
eksisi dapat diterapkan untuk mengobati kanker retum dini yang
terbukti belum memperlihatkan tanda"tanda metastasis ke
kelen$ar getah bening. 4perasi ini dapat dilakukan melalui
beberapa pendekatan yaitu transanal, transpinteri transsaral.
&endekatan transphinter dan transsaral memungkinkan untuk
adapat mengamati kelen$ar mesorektal untuk mendetksi
kemungkianan telah ter$adi metastasis. Sedang pendekatan
transanal memiliki kekurangan untuk mengamati keterlibatan
kelen$ar pararektal.
2eseksi anterior rendah pada retum dilakukan melelui
laparotomi dengan menggunakan alat stapler untuk membuat
anastomosis kolorektal atau koloanal rendah.
. -bdominal perineal resetion (/iles &roedure)
Jntuk masa tumor L ' m dari anokutan. &engangkatan
kanker rektum biasanya dilakukan dengan reseksi
abdominoperianal, termasuk pengangkatan seluruh retum,
mesorektum dan bagian dari otot le!ator ani dan dubur. &rosedur
ini merupakan pengobatan yang e#ekti# namun mengharuskan
pembuatan kolostomi permanen.
&ada tumor retum 1>3 tengah dialkukan reseksi dengan
mempertahankan s#ingter anus, Sedangkan pada tumor 1>3 distal
dilakukan amputasi retum melalui reseksi abdominoperineal
Ouenu"/iles. &ada operasi ini anus turut dikeluarkan.
&ada pembedahan abdominoperineal menurut Ouenu
/iles, retum dan sigmoid dengan mesosigmoid dilepaskan,
termasuk kelen$ar lim#e pararektum dan retroperitoneal sampai
kelen$ar lim#e retroperitoneal. Kemudian melalui insisi perineal
anus dieksisi dan dikeluarkan seluruhnya dengan rektum melalui
abdomen.
1ndikasi dan Kontraindikasi ;ksisi Gokal Kanker 2ektum
1. 1ndikasi
- Cumor bebas, berada ? m dari garis dentate
- C1 dan C2 yang dipastikan dengan pemeriksaan
ultrasound
- Cermasuk well differentiated atau moderately seara
histology
- Jkuran kurang dari 3") m
2. Kontraindikasi
- Cumor tidak $elas
- Cermasuk C3 yang dipastikan dengan ultrasound
- Cermasuk poorly differentiated seara histologi

2. 2adiasi
&adakasus stadium 2 dan 3, radiasi dapat mengeilakn ukuran
tumor sebelum dialkukan pembedahan. 6alam hal ini radiasi
berperan sebagai preoperati!e treatment. &eran lainnya radioterapi
adalah sebagai terapi tambahan untuk kasus tumor lokal yang telah
diangkat melalui pembedahan dan untuk penanganan kasus
metastasis $auh. 5ika radioterapi pasa pembedahan dikombinasikan
dengan kemoterapi, maka akan menurunkan resiko kekambuhan
lokal di pel!is sebesar ):% dan menurunkan angka kematian sebesar
29%. &ada penanganan metastasis $auh, radiasi telah terbukti dapat
mengurangi e#ek dari metastasis tersebut terutama pada otak.
2adioterapi umumnya digunakan sebagai terapi paliati# pada pasien
dengan tumor lokal yang unresectable.
Cerdapat dua ara pemberian terapi radiasi, yaitu dengan eksternal
radiasi dan internal radiasi. &emilihan ara radiasi diberikan
tergantung pada tipe dan stadium dari kanker. ;ksternal radiasi
(&-tewrnal )eam *herapy) merupakan penanganan dimana radiasi
tingkat tinggi seara tepat diarahkan pada sel kanker. Se$ak radiasi
digunakan untuk membunuh sel kanker, maka dibutuhkan pelindung
khusus untuk melindungi $aringan yang sehat sekitarnya. Cerapi
radiasi tidak menyakitkan dan pemberian radiasi hanya berlangsung
beberapa menit. 1nternal radiasi (brachytherapy$ implant radiation)
menggunaka radiasi yang diberikan ke dalam tubuh sedekat mungkin
pada sel kanker. Subsatnsi yang menghasilkan radiasi disebut
radioisotope, dapat dimasukkan dengan ara oral, parenteral atau
implant langsung pada tumor. 1nternal radiasi memberiakan tingkat
radiasi yang lebih tinggi dengan (aktu yang relati# singkat bila
dibandingkan dengan eksternal radiasi, dan beberapa penanganan
internal radiasi seara sementara menetap di dalam tubuh %rakiterapi
dapat diberikan sebagai terapi ad$u!ant terapi, baik perioperati#,
diberikan pada keadaan dimana pada tindakan operasi didapatkan
adanya residu tumor tanpa adanya keterlibatan kelen$ar, dengan
dilakukan pemasangan aplikator radiasi saat operasi, dan radiasi
dilakukan beberapa saat setelah operasi. /aupun $uga dalam bentuk
postoperati#, diberikan pada keadaan dimana setelah operasi
didapatkan adanya residu tumor . 6engan tu$uan de#initi#, brakiterapi
dapat diberikan sebagai terapi kombinasi radiasi eksterna P
brakhiterapi interstitial maupun intraka!iter maupun brakhiterapi
intraka!iter dan implantasi.( +ondho(iard$o, 2003).
Kombinasi preoperati!e radiasi eksterna dengan tindakan eksisi dan
interstitial perioperati# brakiterapi dilaporkan 4tme=guine11
memberikan hasil lokal kontrol ?0% pada ' tahun dengan tingkat
kontrol #ungsi sphinkter menapai 100 % pada kasus keganasan
rektum letak menengah atau rendah. Sehingga tindakan ini
dian$urkan dilakukan pada kasus"kasus tersebut yang tidak menapai
toleransi atau menolak operasi. &ada kasus keganasan anal dan
rektum baik primer dengan kombinasi 2; dan interstitial %C,
maupun pada kasus kambuh lokal pasa terapi, didapatkan hasil
respons komplit pada 100 % keganasan anal dan @'% pada
keganasan rektum%
3. Kemoterapi
Adju!ant chemotherapy digunakan untuk menangani pasien yang
tidak terbukti memiliki penyakit residual tetapi beresiko tinggi
mengalami kekambuhan. Cerapi ini digunakan pada tumor yang
menembus sangat dalam atau tumor lokal yang bergerombol (stadium
2 dan 3). Cerapi standar kemoterapi tersebut adalah Aluorourail ('"
AJ) yang dikombinasikan dengan Geuo!orin $ika tidak tersedia.
&rotokol kemoterapi ini telah terbukti menurunkan angka
kekambuhan sebesar 1'% dan menurunkan angka kematian sebesar
10%. (Sh(art, 200').
%erikut ini adalah tabel tentang rekomendasi kemoterapi dan
radioterapi pada pasien kanker rektum setelah dilakukan
pembedahan. (<agir, 200').
Stage 2ekomendasi terapi
Stage 1 Canpa terapi ad$u!ant
Stage 2 atau 3 Kemoradiasi neoad$u!an selama '
minggu
Gesi keil>menengah Kemoterapi dasar '"AJ dengan E2C
(1?0 +y ' hari>minggu)
1stirahat selama : minggu
;ksisi mesorektal total
1stirahat ) minggu
Gan$utkan kemoterapi dasar '"AJ
selama ? minggu
Gesi luas Kemoterapi pre dan postoperasi
;ksisi mesorektal total
Stage 1, G-2 atau -&2 paliasi>penegahan
untuk sumbatan atau perdarahan
Kemoterapi ad$u!ant
' AJPleko!erin dengan E2C
indi!idual
). &enanganan 5angka &an$ang
Cerdapat beberapa kontro!ersi tentang #rekuensi pemeriksaan
#ollo( up untuk rekurensi tumor pada pasien yang telah ditangani
dengan kanker kolon. %eberapa tenaga kesehatan telah menggunakan
pendekatan nihilisti (karena prognosis sangat $elek $ika terdeteksi
adanya rekurensi dari kanker). Sekitar @0% rekurensi dari kanker
terdeteksi dalam $angka (aktu 2 tahun, dan 90% terdeteksi dalam
(aktu ) tahun. &asien yang telah ditangani dari kanker kolon
mempunyai insiden yang tinggi dari metahronous kanker kolon.
6eteksi dini dan penatalaksanaan yang tepat pada pasien ini dapat
meningkatkan prognosa. ;!aluasi #ollo( up termasuk pemeriksaan
#isik, sigmoidoskopi, kolonoskopi, tes #ungsi hati, <;-, #oto polos
thora., barium enema, li!er san, /21, dan <C san (Silalahi, 200:).
Cingginya nilai <;- preoperati# biasanya akan kembali normal
antara : minggu setelah pembedahan.
1. ;!aluasi klinik
Selama ' tahun setelah tindakan pembedahan, target utama
#ollo( up adalah untuk mendeteksi tumor primer baru. %eberapa
pasien kanker kolorektal membentuk satu atau beberapa tempat
metastasis di hepar, paru"paru, atau tempat anastomosis diamana
tumor primer telah diangkat.
2
2. 2ontgen
Aoto rontgen terlihat sama baiknya bila dibandingkan dengan <C
san dalam mendeteksi rekurensi.
3. Kolonoskopi
&asien yang mempunyai iesi obstruksi pada kolonnya harus
melakukan kolonoskopi 3 samapai : bulan setelah pembedahan,
untuk meyakinkan tidak adanya neoplasma yang tertinggal di
kolon. Cu$uan dilakukannya endoskopi adalah untuk mendeteksi
adanya metahronous tumor, suture line rekurensi atau kolorektal
adenoma. 5ika obstruksi tidak ada maka kolonoskopi dilakukan
pada satu sampai tiga tahun setelah pembedahan. 5ika negati!e
maka endoskopi dilakukan lagi dengan inter!al 2"3 tahun.
). <;-
/eningkatnya nilai <;- menandakan diperlukannnya
pemeriksaan lebih $auh untuk mengidenti#ikasi tempat rekurensi
dan biasanya sangat membantu dalam mengidenti#ikasi
metastasis ke hepar. 5ika diurigai adanya metastasis ke pel!is,
maka /21 lebih membantu diagnose daripada <C san.
Metastase
6ari 100 pasien dengan karsinoma kolorektal, '0 orang sembuh dengan
pembedahan, 1' akan berkembang dengan rekurensi lokal dan 3' orang
berkembang dengan metastase $auh. 4rgan"organ yang men$adi tempat metastase
adalah hati sebanyak @'%, paru"paru 1'% dan tulang serta otak sebanyak '%
(Walton, 2001).
Gi!er
&ada pasien yang ter$adi metastase pada hepar, kematian ter$adi
akibat kegagalan #ungsi hati. <C san dengan kontras pada arteri
dan !ena merupakan pemeriksaan penun$ang terbaik untuk
mendeteksi adanya metastasis. JS+ $uga bisa digunakan, tetapi
tidak dapat mendeteksi semua lesi pada hepar dan lesi pada
e.trahepati intraabdominal. Cerapi untuk metastase pada li!er
masih men$adi perdebatan. Cerapi bedah yang digunakan adalah
reseksi sebagai terapi utama keuali reseksi mayor diindikasikan.
2egimen kemoterapi termasuk sistemik, intraarterial, dan
intraportal menun$ukkan perbaikan. Cerapi kemoterapi dan
bedah>bedah beku menun$ukkan keutungan yang tidak $auh
berbeda.
&aru"paru
Kanker kolorektal yang bermetastase di paru sebanyak 1'%.
&emeriksaan yang dilakukan adalah #oto thora. dan <C san dada
untuk mendeteksi adanya metastase. Cerapi bedah yang digunakan
adalah reseksi dengan Kopen thoracotomy# atau thoraosopi
apabila lesi kurang dari 3 m di ba(ah permukaan paru. Gesi
metastase yang dapat direseksi adalah soliter, lesi primer sudah
terkontrol, dan tidak ada metastase $auh yang lain dan keadaan
umum yang bagus.
Terapi Kanker Kolorektal Rekuren
2ekurensi kanker kolorektal ter$adi Q @0% dalam 2 tahun setelah operasi.
2ekuren lokal karsinoma rektum ter$adi 3%"32%. Cerapi yang digunakan ada
beberapa *
4perasi adalah terapi yang terbaik yang bisa disarankan
untuk lesi lokal rekuren. Cerapi yang digunakan adalah
reseksi. %edah radikal digunakan untuk pasien tertentu dan
tipenya bergantung pada lokasinya.
&ndos.opic laser therapy untuk lesi rekuren yang tidak
dapat direseksi, namun timbul obstruksi dan perdarahan, maka
digunakan laser.
*umor stenting untuk pasien yang terdapat ge$ala"ge$ala
obstruksi
2adioterapi eksternal radioterapi adalah terapi yang paling
banyak digunakan untuk lesi rekuren dari karsinoma rektum.
,ilalon melaporkan penurunan 92% berespon terhadap rasa
sakit dan pengurangan massa tumor sebanyak ?0%. "ur!i!al
rate setelah radioterapi adalah 20 bulan!
Kemoterapi 'AJ dan mytoin (Walton, 2001).
rognosis
Stage merupakan #aktor prognosis yang paling penting. +rade histology
seara signi#ikan mempengaruhi tingkat sur!i!al disamping stadium. &asien
dengan well differentiated karsinoma (grade 1 dan 2) mempunyai ' year sur!i!al
lebih baik dibandingkan dengan poor differentiated karsinoma (grade 3 dan )).
Gokasi kanker terlihat sebagai #aktor prognosti yang independen. &ada stage
yang sama pasien dengan tumor yang berada di retum mempunyai prognoa
yang lebih buruk biala dibandingkan dengan tumor yang berada di kolon.
Seara keseluruhan 5 year sur!i!al rates untuk kanker retal adalah
sebagai berikut*
a. Stadium 1 R @2%
b. Stadium 11 R ')%
. Stadium 111 R 39%
d. Stadium 1, R @%
'0% dari seluruh pasien mengalami kekambuhan yang dapat berupa
kekambuhan lokal, $auh maupun keduanya. Kekambuhan lokal lebih sering
ter$adi. &enyakit kambuh pada '"30% pasien, biasanyapada 2 tahun pertama
setelah operasi. Aaktor"#aktor yang mempengaruhi terbentuknya rekurensi
termasuk kemampuan ahli bedah, stadium tumor, lokasi, dan kemampuan untuk
memperoleh batas"batas negati!e tumor (<irinione, 200').

6-AC-2 &JSC-K-
-bhay, %aghat. 2011. Colon and ,ectal Cancer% /umbai * 5asap
%asu, S. et al. 2009. ,ecent Ad!ance in *he /anagement of Carcinoma
Colorectal. 6o!e &ress 5ournal <linial and ;.piremental +astroentrologi.
%ro(n, +ina. 2010. ,ectal Carcinoma "taging 0 A Practical Approach. 2oyal
/eyden 0ospital
%rukner, &itrell, dan /errik. 2001. Adenocarcinoma of Colon and ,ectum%
<rom(ell, 5ohn., Santiago, and /aret. 200:. *reatment of ,ectal Carcinoma.
Che Be( ;ngland 5ournal /ediine 3'' *23.
+ondho(iard$o, S. 2003. %rakhiterapi dalam Cerapi Kanker -norektal. /akara
Kesehatan, ,ol. @ Bo.2 hal :3"::.
;li=abeth, <irinione. 200'. ,ectal Cancer. -!ailable #rom ;"mediine
/iles. 200'. Current /anagement of ,ectal Cancer. <urrent &roblem Surgery
Aebruari 200'
/ukhtar, S. 2010. Colorectal Cancer in A% 1ahab "jahrani 2eneral 3ospital
"amarinda% &ast )orneo% "amarinda%
/oertel, <harles. 199). Chemoterapy for Colorectal Carcer. Che Be( ;ngland
5ournal o# /ediine -pril 1999
&oynter, 5enyy et al. 200'. "tatins and *he ,is. of Colorectal Cancer. Che Be(
;ngland 5ournal o# /ediine 200'*3'2*21?)"92.
&rie S, dan Wilson, G. 200:. &ato#isiologi. Konsep Klinis &roses"&roses
&enyakit. ,olume 2 ;disi :. 5akarta * ;+<
Syamsuhidayat 2, 5ong Wim 6. 200). %uku -$ar 1lmu %edah ;disi ke 2.
5akarta * ;+<
Samiad$i, S. 199'. -kurasi Keluhan %erak 6arah dan &enurunan %erat %adan
dalam 6iagnosis Karsinoma 2ekti. Cesis. Semarang * Aakultas Kedokteran
Jni!ersitas 6iponegoro
Cim &enga$ar -natomi. 2001. Situs -bdominis. Gaboratorium -natomi dan
0istologi. Surabaya * Aakultas Kedokteran Jni!ersitas -irlangga.
Fahari, -sril. 2009. 6eteksi 6ini, 6iagnosa dan &enatalaksanaan Kanker Kolon
dan 2ektum. Suplement /a$alah Kedokteran -ndalas dalam 2angka
6iesnalies '3 AK Jnand.
Sh(art= S1, 200'. "chwart45s Principle of "urgery 6
th
. Jnited States o#
-meria * Che /+ra("0ill <ompanies.
Welton, /. G, ,arma, +. / dan -merhauser. 2001. )asic "cience and Clinical
&!idence. Be( Nork * Springer",erla