Anda di halaman 1dari 3

Perspektif Islam

Bisnis dalam syariah Islam pada dasarnya termasuk kategori muamalat yang hukum asalnya
adalah boleh berdasarkan kaedah Fiqh,Al-Ashlu fil muamalah al-ibahah hatta yadullad dalilu
ala tahrimiha (Pada dasarnya segala hukum dalam muamalah adalah boleh, kecuali ada
dalil/prinsip yang melarangnya)
Islam memahami bahwa perkembangan budaya bisnis berjalan begitu cepat dan dinamis.
Berdasarkan kaedah fikih di atas, maka terlihat bahwa Islam memberikan jalan bagi manusia
untuk melakukan berbagai improvisasi dan inovasi melalui sistem, teknik dan mediasi dalam
melakukan perdagangan.
Namun, Islam mempunyai prinsip-prinsip tentang pengembangan sistem bisnis yaitu harus
terbebas dari unsur dharar (bahaya), jahalah (ketidakjelasan) dan zhulm ( merugikan atau tidak
adil terhadap salah satu pihak). Sistem pemberian bonus harus adil, tidak menzalimi dan tidak
hanya menguntungkan orang yang di atas. Bisnis juga harus terbebas dari unsur MAGHRIB,
singkatan dari lima unsur. 1, Maysir (judi), 2, Aniaya (zhulm), 3. Gharar (penipuan), 4 Haram,5,
Riba (bunga), 6. Iktinaz atau Ihtikar dan 7. Bathil.
Kalau kita ingin mengembangkan bisnis MLM, maka ia harus terbebas dari unsur-unsur di atas.
Oleh karena itu, barang atau jasa yang dibisniskan serta tata cara penjualannya harus halal, tidak
haram dan tidak syubhat serta tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.di atas..
MLM yang menggunakan strategi pemasaran secara bertingkat (levelisasi) mengandung unsur-
unsur positif, asalkan diisi dengan nilai-nilai Islam dan sistemnya disesuaikan dengan syariah
Islam. Bila demikian, MLM dipandang memiliki unsur-unsur silaturrahmi, dakwah dan tarbiyah.
Menurut Muhammad Hidayat, Dewan Syariah MUI Pusat, metode semacam ini pernah
digunakan Rasulullah dalam melakukan dakwah Islamiyah pada awal-awal Islam. Dakwah Islam
pada saat itu dilakukan melalui teori gethok tular (mulut ke mulut) dari sahabat satu ke sahabat
lainnya. Sehingga pada suatu ketika Islam dapat di terima oleh masyarakat kebanyakan.(Lihat,
Azhari Akmal Tarigan, Ekonomi dan Bank Syariah, FKEBI IAIN, 2002, hlm. 30)
Bisnis yang dijalankan dengan sistem MLM tidak hanya sekedar menjalankan penjualan produk
barang, tetapi juga jasa, yaitu jasa marketing yang berlevel-level (bertingkat-tingkat) dengan
imbalan berupa marketing fee, bonus, hadiah dan sebagainya, tergantung prestasi, dan level
seorang anggota. Jasa marketing yang bertindak sebagai perantara antara produsen dan
konsumen. Dalam istilah fikih Islam hal ini disebut Samsarah / Simsar. (Sayyid Sabiq, Fikih
Sunnah, jilid II, hlm 159)
Kegiatan samsarah dalam bentuk distributor, agen, member atau mitra niaga dalam fikih Islam
termasuk dalam akad ijarah, yaitu suatu transaksi memanfaatkan jasa orang lain dengan imbalan,
insentif atau bonus (ujrah) Semua ulama membolehkan akad seperti ini (Fikih Sunnah, III, hlm
159).
Sama halnya seperti cara berdagang yang lain, strategi MLM harus memenuhi rukun jual beli
serta akhlak (etika) yang baik. Di samping itu komoditas yang dijual harus halal (bukan haram
maupun syubhat), memenuhi kualitas dan bermafaat. MLM tidak boleh memperjualbelikan
produk yang tidak jelas status halalnya. Atau menggunakan modus penawaran (iklan) produksi
promosi tanpa mengindahkan norma-norma agama dan kesusilaan.
Insentif dan penghargaan
Perusahaan MLM biasa memberi reward atau insentif pada mereka yang berprestasi.
Islam membenarkan seseorang mendapatkan insentif lebih besar dari yang lainnya disebabkan
keberhasilannya dalam memenuhi target penjualan tertentu, dan melakukan berbagai upaya
positif dalam memperluas jaringan dan levelnya secara produktif. Kaidah Ushul Fiqh
mengatakan: Besarnya ijrah (upah) itu tergantung pada kadar kesulitan dan pada kadar
kesungguhan.
Penghargaan kepada Up Line yang mengembangkan jaringan (level) di bawahnya (Down Line)
dengan cara bersungguh-sungguh, memberikan pembinaan (tarbiyah, pengawasan serta
keteladanan prestasi (uswah) memang patut di lakukan. Dan atas jerih payahnya itu ia berhak
mendapat bonus dari perusahaan, karena ini selaras dengan sabda Rasulullah: Barangsiapa di
dalam Islam berbuat suatu kebajikan maka kepadanya diberi pahala, serta pahala dari orang yang
mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun(hadist).
Intensif diberikan dengan merujuk skim ijarah. Intensif ditentukan oleh dua kriteria, yaitu dari
segi prestasi penjualan produk dan dari sisi berapa berapa banyak down line yang dibina
sehingga ikut menyukseskan kinerja. ?
Dalam hal menetapkan nilai insentif ini, ada tiga syarat syariah yang harus dipenuhi, yakni:adil,
terbuka, dan berorientasi falah (keuntungan dunia dan akhirat). Insentif (bonus) seseorang (Up
line ) tidak boleh mengurangi hak orang lain di bawahnya (downline), sehingga tidak ada yang
dizalimi. Sistem intensif juga harus transparan diinformasikan kepada seluruh anggota, bahkan
dalam menentukan sistemnya dan pembagian insentif (bonus), para anggota perlu diikutsertakan,
sebagaimana yang terjadi di MLM Syariah Ahad-Net Internasional. Dalam hal ini tetap
dilakukan musyawarah, sehingga penetapan sistem bonus tidak sepihak. Selanjutnya, keuntungan
dalam bisnis MLM, berorientasi pada keuntungan duniawi dan ukhrawi. Imam Al-Ghazali dalam
Ihya Ulumuddin mengatakan bahwa keuntungan dalam Islam adalah keuntungan dunia dan
akhirat. Keuntungan akhirat maksudnya, bahwa dengan menjalankan bisnis itu, seseorang telah
dianggap menjalankan ibadah, (asalkan bisnisnya sesuai dengan syariah). Dengan bisnis,
seseorang juga telah membantu orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Penting disadari, pemberian penghargaan dan cara menyampaikannya hendaknya tetap dalam
koridor tasyakur, untuk menghindarkan penerimanya dari takabur (bangga/sombong) dan kufur
nikmat, apalagi melupakan Tuhan. MLM yang Islami senantiasa berpedoman pada akhlak
Islam..
Sebagaimana disebut di atas bahwa penghargaan yang diberikan kepada anggota yang
sukses mengembangkan jaringan, dan secara sungguh-sunguh memberikan pembinaan
(tarbiyah), pengawasan serta keteladanan prestasi (uswah), harus selaras dengan ajaran agama
Islam. Karena itu, applause ataupun gathering party yang diberikan atas prestasi seseorang,
haruslah sesuai dengan nilai-nilai aqidah dan akhlak. Ekspressi penghargaan atas kesuksesan
anggota MLM, tidak boleh melampaui batas (bertantangan dengan ajaran Islam). Applause yang
diberikan juga tidak boleh mengesankan kultus individu, mendewakan seseorang. Karena hal itu
dapat menimbulkan penerimanya menjai takabbur, dan ujub. Perayaan kesuksesan
seharusnya dilakukan dalam bingkai tasyakkur. (Lihat, Drs.H.Muhammad Hidayat, MBA,
Analisis Teoritis Normatif MLM dalam Perspektif Muamalah, 2002)
Karena itu pula, Islam sangat mengecam seseorang yang dalam menjalankan aktivitas bisnis dan
perdagangannya semakin jauh dari nilai-nilai ketuhanan. Firman Allah, Mereka tidak lalai dari
mengingat Allah dalam melakukan bisnis dan jual beli. Mereka mendirikan shalat dan
membayar zakat (QS.24:37)
Dari ayat tersebut dapat ditarik pemahaman bahwa seluruh aktivitas bisnis tidak boleh
melupakan Tuhan dan jauh dari nilai-nilai keilahian, baik dalam kegiatan produksi, distribusi,
strategi pemasaran, maupun pada saat menikmati kesuksesan (menerima penghargaan dan
applause).
Jadi, dalam menjalankan bisnis MLM perlu diwaspadai dampak negatif psikologis yang mungkin
timbul, sehingga membahayakan kepribadian, seperti yang dilansir Dewan Syariah Partai
Keadilan, yaitu adanya eksploitasi obsesi yang berlebihan untuk mencapai terget jaringan dan
penjualan. Karena terpacu oleh sistem ini, suasana yang tak kondusif kadang mengarah pada
pola hidup hura-hura ala jahiliyah, seperti ketika mengadakan acara pertemuan para members .
Kewajaran harga produk
Setiap perdagangan pasti berorientasi pada keuntungan. Namun Islam sangat menekankan
kewajaran dalam memperoleh keuntungan tersebut. Artinya, harga produk harus wajar dan tidak
dimark up sedemikian rupa dalam jumlah yang amat mahal, sebagaimana yang banyak terjadi di
perusahaan bisnis MLM saat ini. Sekalipun Al-quran tidak menentukan secara fixed besaran
nominal keuntungan yang wajar dalam perdagangan, namun dengan tegas Al-quran berpesan,
agar pengambilan keuntungan dilakukan secara fair, saling ridha dan menguntungkan. Firman
Allah :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan
bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang saling ridha di antara kamu. Dan janganlah kamu
membunuh dirimu, sesungguhnya Allah maha Penyayang kepadamu. )QS.4:29).
Dalam konteks ini, tidak sedikit masyarakat yang berpendapat bahwa produk yang ditawarkan
perusahaan MLM sangat mahal dan terlalu eksklusif, sehingga kerap kali memberatkan anggota
yang berada di level bawah (down line) serta masyarakat pemakai dan sangat menguntungkan
level di atasnya (up line). Seringkali harga produk dimark up sampai dua bahkan tiga kali lipat
dari harga yang sepatutnya. Hal ini seharusnya dihindari, karena cara ini adalah mengambil
keuntungan dengan cara yang bathil, karena mengandung unsur kezaliman, yakni memberatkan
masyarakat konsumen.
Penetapan harga yang terlalu tinggi dari harga normal, sehingga memberatkan konsumen, dapat
dianalogikan dengan ghabn, yaitu menjual satu barang dengan harga tinggi dari harga pasar.