Anda di halaman 1dari 23

STANDARD PERENCANAAN

IRIGASI












PERSYARATAN TEKNIS
BAGIAN

PENYELIDIKAN MODEL HIDROLIS
PT 04
DAFTAR ISI

1. PENDAHULUAN
Umum ................................................................................... 1
Deskripsi Pekerjaan ................................................................ 2
Lokasi Pekerjaan ................................................................... 2
Fungsi 2
Tujuan 2
Lingkup Pekerjaan ................................................................. 3

2. PENYELIDIKAN / UJI MODEL
Pengumpulan Data ................................................................. 4
Data Hidrologi ...................................................................... 4
Data Pengukuran (Peta) ........................................................ 5
Data Sedimen ....................................................................... 5
Data Geologi Teknik .............................................................. 5
Tipe Model Uji ....................................................................... 6
Skala Model ........................................................................... 7
Pelaksanaan Penyelidikan Uji / Model ....................................... 8

3. JADWAL WAKTU PELAKSANAAN UJI MODEL ............... 10
4. PENGAWASAN ................................................................ 10
5. LAIN-LAIN ..................................................................... 10
6. LAMPIRAN-LAMPIRAN .................................................. 12

1. PENDAHULUAN

1.1 Umum
Ada 2 (dua) cara pengujian model dalam memecahkan persoalan-
persoalan pada bangunan air dan persungaian yaitu dengan model
matematis dan model fisik berskala.

Model matematis dilakukan dengan cara simulasi perilaku hidrolis
kedalam rumusan-rumusan matematika dan kemudian dilakukan
perhitungan dengan menggunakan komputer, model ini biasanya
digunakan untuk studi banjir, gejala perubahan morfologi seperti
degradasi dan agradasi yang akan terjadi di sungai.

Model fisik berskala adalah model hidrolis yang digunakan untuk
melakukan simulasi perilaku hidrolis pada prototipe bangunan air yang
telah direncanakan dengan skala lebih kecil dimana informasi detail
dalam 3 (tiga) dimensi, perilaku fisik seperti aliran air, sedimen dan
keterkaitannya dengan waktu dikaji atau diteliti.

2 (dua) uji model tersebut dapat dilakukan secara bersamaan untuk
saling melengkapi sehingga didapat informasi-informasi yang dibutuhkan
oleh ahli atau perencana hidraulik sehingga hal itu bermanfaat untuk
mengambil kesimpulan-kesimpulan dalam memecahkan persoalan
perencanaan teknis.

Tetapi yang sering terjadi, pemilik pekerjaan mengalami kendala dana
dan waktu yang terbatas maka uji model biasanya hanya dilakukan
dengan 1 (satu) cara saja dengan alasan penghematan biaya dan
terbatasnya waktu, dan uji model yang sering digunakan adalah uji
model fisik berskala karena diharapkan dapat memberikan informasi-
informasi teknis yang lebih banyak dan detail.

Untuk itu diberikan syarat-syarat untuk bendung yang perlu dimodelkan
yaitu:
1. Jika beda tinggi muka air di hulu dan hilir bendung = 7m
2. Jika q
100
min = 15 m
3
/det/m

1.2 Deskripsi Pekerjaan
1.2.1 Lokasi Pekerjaan
Lokasi pekerjaan harus diuraikan dengan jelas mencakup: nama Propinsi,
nama Kabupaten, nama Sungai dimana pekerjaan akan dilaksanakan,
nama daerah irigasi, jalan masuk ke lokasi pekerjaan.

Fungsi
Memeriksa dan memantapkan desain hidraulik suatu bangunan.
Mendapatkan dimensi dan tata letak bangunan yang relatif paling
baik ditinjau dari segi hidraulik.
Mendapatkan alternatif desain.
Mengurangi dan mengoptimumkan biaya pelaksanaan.
Memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi
saat dan setelah bangunan dibuat.
Mengurangi dan meminimalkan dampak negatif terhadap
bangunan lain dan lingkungan disekitarnya.
Mendapatkan panduan operasi dan pemeliharaan bangunan.


1.2.3 Tujuan
Hal-hal yang menjadi pertimbangan perlu tidaknya dilakukan
penyelidikan atau uji model adalah :
(a) Apakah kondisi lokasi bangunan-bangunan yang direncanakan akan
menimbulkan masalah-masalah yang tidak bisa dipecahkan dengan
pengalaman yang ada.
(b) Apakah masalah-masalah bangunan begitu kompleks sehingga
dengan parameter-parameter dan standar perencanaan yang ada
tidak memungkinkan dibuat suatu perencanaan akhir yang dapat
diterima.
(c) Apakah aturan-aturan pendahuluan untuk eksploitasi dan
pemeliharaan bangunan nanti tidak dapat ditetapkan berdasarkan
pengalaman sebelumnya.
(d) Apakah hasil-hasil penyelidikan model akan banyak menghemat
biaya konstruksi termasuk kegiatan operasi dan pemeliharaannya.
(e) Atau untuk mendapatkan bentuk hidraulik bangunan air berikut
bangunan pelengkap lainnya yang mendukung, ditinjau dari kinerja,
keamanan, biaya dan meminimalkan dampak negatif dari bangunan
air yang direncanakan dan bagian-bagiannya terhadap lingkungan.

1.2.4 Lingkup Pekerjaan
Bagian-bagian bangunan utama yang diselidiki dalam uji hidrolis model
antara lain :
(a) Lokasi dan tata letak umum bangunan pengelak
(b) Pekerjaan pengaturan sungai di hulu bangunan
(c) Bentuk mercu bendung pelimpah tetap
(d) Pintu-pintu utama bendung gerak termasuk bentuk ambangnya
(e) Kolam olak
(f) Pembilas/pengambilan sehubungan dengan pengelakan sedimen
(g) Saluran pengarah dan kantong lumpur


2. PENYELIDIKAN / UJI MODEL
Pekerjaan penyelidikan/uji model dibagi kedalam tiga tahapan yaitu :
(a) Pengumpulan data dan pembuatan asumsi pendahuluan
(b) Deskripsi model
(c) Penyelidikan/uji model yang akan dilakukan

2.1 Pengumpulan Data
Data-data dasar yang diperlukan laboratorium uji model adalah :
(a) Data hidrologi
(b) Data geometri sungai, saluran, dan bangunan
(c) Data sedimen (kalau ada)
(d) Data geologi teknik
(e) Hasil perencanaan pendahuluan yang telah dilakukan (gambar
desain, nota perhitungan)

Data-data dasar lain yang diperlukan dicari sendiri oleh teknisi dari
laboratorium uji model dan ahli atau teknisi laboratorium juga perlu
melakukan survei atau pengamatan lapangan dengan didampingi oleh
perencana pekerjaan.

2.1.1 Data Hidrologi
Data dapat diberikan dalam bentuk lengkung (kurva) muka air vs debit
(stage discharge curves). Bila data-data asli tidak tersedia, dapat
menggunakan data-data dari sungai yang berdekatan dan serupa. Kurva-
kurva debit yang di dapat dari hulu atau hilir dan kurva angkutan
sedimen yang akan dipakai dalam uji model harus diketahui dan disetujui
oleh perencanaan pekerjaan.


2.1.2 Data Pengukuran (peta)
Diperlukan beberapa parameter yang sangat berguna dalam memberi
data masukan tentang morfologi sungai, antara lain geometri sungai,
meliputi: alur, palung dan lembah sungai secara vertikal dan horizontal,
denah, dimana data yang diperlukan adalah :
(a) Panjang
(b) Lebar
(c) Kemiringan
(d) Ketinggian ( elevasi )
(e) Kekasaran

Data tersebut dapat diperoleh dengan cara pengukuran langsung
dilapangan.

2.1.3 Data Sedimen
Data-data sedimen yang diperlukan adalah :
(a) Volume sedimen dasar dan sedimen layang disungai, lengkap
dengan hubungan terhadap waktu dan debit sungai.
(b) Ukuran dan distribusi butir.
(c) Komposisi kimia.

Data-data tersebut sebaiknya didapatkan dari hasil pengambilan contoh
sedimen di sungai, yang dilakukan oleh ahli atau teknisi laboratorium uji
model.

2.1.4 Data Geologi Teknik
Deskripsi mengenai kondisi geologi tanah meliputi :
- Jenis batuan, massive atau material lepas.
- Singkapan batuan, termasuk armoring.
2.2 Tipe Model Uji
Awal dari penyelidikan/uji model adalah hasil perencanaan pendahuluan.
Penyelidikan model uji hidrolis untuk bangunan-bangunan utama akan
merupakan kombinasi antara model hidrolis dasar bergerak dan model
hidrolis dasar tetap.
(a) Model hidrolis dasar tetap, digunakan untuk mempelajari pola aliran
terutama seperti
- konfigurasi dinding sayap
- pengambilan dan pintu-pintu bilas
- dinding pemisah atau pilar-pilar jembatan
- kinerja kolam olak dalam meredam gelombang-gelombang
permukaan dan turbulensi
- pola aliran di saluran primer ke kantong lumpur serta di kantong
lumpur sendiri dan di sekeliling bangunan bilas di ujung kantong
lumpur
(b) Model hidrolis dasar bergerak, diperlukan untuk penyelidikan
perubahan morfologi sungai antara lain terjadinya penggerusan lokal
disekitar bangunan-bangunan utama atau lebih jauh lagi ke hulu
atau ke hilir dimana ada kemungkinan terjadinya perubahan
morfologi sungai yang membahayakan bangunan-bangunan yang
dibuat.

Gejala gerusan yang perlu diselidiki adalah :
Dalamnya gerusan di depan pengambilan dan pembilas
Gerusan di depan tubuh bendung yang disebabkan oleh aliran
silang tiga dimensi
Gerusan di sekeliling pilar jembatan
Gerusan di depan tembok sayap
Gerusan di hilir kolam olak
Gerusan di sekeliling krip dan bangunan-bangunan pengarah
aliran yang lain
Gerusan akibat exploitasi pintu bilas dan pintu bendung gerak
Untuk menyelidiki perilaku bangunan-bangunan utama irigasi dipakai
model 3 (tiga) dimensi, sedangkan untuk menyelidiki bentuk mercu,
koefisien debit, koefisien pintu air dan peredam energi digunakan model
2 (dua) dimensi.

2.3 Skala Model
Skala model pada umumnya berkisar antara 1 : 10 sampai 1 : 50, tetapi
bergantung juga pada luas ruang yang tersedia di laboratorium dan
persyaratan minimum untuk kesamaan antara model dan prototipe.
Model untuk bangunan utama adalah tanpa distorsi, artinya
perbandingan antara skala horizontal dan skala vertikal adalah 1 (satu)
atau dengan kata lain, skala adalah rasio dan perbandingan antara
besaran yang ada di model dan di lapangan.

Ukuran model untuk sungai, panjangnya dari as bangunan utama yang
di uji ke hulu sepanjang 10 (sepuluh) kali lebar sungai di hulu bangunan,
sedangkan ke hilir sepanjang 5 (lima) kali lebar sungai di hilir bangunan.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap skala model :
a. Tujuan dan apa yang ingin dihasilkan.
b. Dimensi hidraulik sistim yang disimulasikan.
c. Kemampuan laboratorium dan peralatan yang digunakan.
d. Ketelitian permodelan minimum yang harus dihasilkan.

Jenis-jenis skala model :
a. Model tanpa distorsi adalah model yang mempunyai skala
horizontal dan vertikal yang sama
(n
v
= n
h
).
b. Model dengan distorsi adalah model yang di desain dengan skala
horizontal dan vertikal yang berbeda.

Beberapa prinsip dasar yang harus dipenuhi dalam penentuan skala
model, antara lain : kriteria kesesuaian kondisi aliran, kekasaran
hidraulik, dinamika pergerakan partikel air dan sedimen, kesesuaian gaya
seret dan gaya seret kritis, kesesuaian angkutan muatan sedimen.
Prinsip keserupaan/similaritas antara model dan prototipe, mencakup :
similaritas geometri, kinematik dan dinamik.

2.4 Pelaksanaan Penyelidikan / Uji Model
Bagian ini menjelaskan urutan penyelidikan atau uji model yang akan
dilaksanakan yaitu :
Pembuatan konstruksi model berskala (sungai tanpa bangunan
didasarkan pada gambar-gambar dan data-data topografi yang
tersedia dan didahului perhitungan rumus-rumus skala (n)).
Verifikasi antara model dengan prototipe, dengan pembuatan
kurve debit untuk model yang bersangkutan.
Membandingkan kurva-kurva debit di dalam model dengan kurva-
kurva yang ditemukan pada prototipe.
Bila diperkirakan akan terjadi penurunan dasar sungai
(degradasi), maka keadaan ini harus dimasukkan ke dalam
penyelidikan kurve debit dengan cara menurunkan tinggi dasar
dan muka air dengan angka tertentu.
Perimbangan transportasi sedimen harus dijaga dengan cara
menentukan banyaknya sedimen yang akan dimasukkan ke
sebelah hulu model untuk mengupayakan agar degradasi atau
agradasi tidak terjadi pada waktu yang lama.
Pelaksanaan uji model harus mengikuti standar-standar uji model
fisik yang ditetapkan dalam SNI antara lain :
SNI 03 3408 1994
SNI 03 3409 1994
SNI 03 3410 1994
SNI 03 3411 1994
SNI 03 3965 1995
Penyelidikan dilakukan dalam kelompok-kelompok atau babak
untuk setiap perubahan model. Hasil yang dicapai dalam masing-
masing babak dan dampaknya, didiskusikan antara perencana
dan laboratorium.
Proses penyelidikan dicatat dalam sketsa dan foto dimana elevasi
garis-garis kontur ditandai dengan jelas.
Pada umumnya dalam pembuatan model harus memperhatikan :
batas model, geometri sungai dan bangunan, kekasaran,
pembuatan inlet dan outlet model sedangkan untuk konstruksi
model, yang diperhatikan adalah :
- pemasangan alat-alat ukur debit di udik dan di hilir model.
- bagian-bagian/komponen bangunan lainnya.
- pemilihan material.
- pekerjaan workshop.
Aspek-aspek penting lainnya yang perlu di selidiki adalah :
- aliran menuju bangunan.
- profil muka air, pusaran air (vortex), aliran menyilang.
- kecepatan.
- kavitasi.
- penggerusan dan pengaruh degradasi dasar sungai.

3. JADWAL WAKTU PELAKSANAAN UJI MODEL
Pihak laboratorium harus menyusun jadwal waktu dalam bentuk bagan
kegiatan/waktu yang akan mereka lakukan, dimana ditunjukkan berapa
waktu yang diperlukan untuk keseluruhan tahapan penyelidikan.
Jadwal waktu tersebut harus mencakup :
(a) waktu yang diperlukan untuk mobilisasi
(b) waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan dan evaluasi data
(c) waktu untuk pelaksanaan uji model yang meliputi :
- pembuatan model
- penyelidikan perbabak
- analisis dan interpretasi data
(d) diskusi mengenai masalah-masalah teknis dengan pemberi pekerjaan
(e) pelaporan

4. PENGAWASAN
Perencana harus mengawasi jalannya pelaksanaan uji model untuk dapat
mengambil keputusan-keputusan terhadap kemungkinan adanya
penyelidikan tambahan maupun benar tidaknya arah penyelidikan secara
keseluruhan.

5. LAIN-LAIN
Pelaporan mengenai hasil penyelidikan model diserahkan kepada
pemberi pekerjaan dalam jangka waktu yang tidak ditetapkan bersama
dan dilengkapi table, grafik, dan foto dan 1 (satu) softcopy.

Cakupan/materi laporan meliputi :
Pendahuluan
Data bangunan
Survei hidraulik lapangan
Pembuatan model
Pengujian model
Kesimpulan dan saran
Lampiran









6. LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1 Contoh Perjanjian

SURAT PERJANJIAN KERJA SAMA

SATUAN KERJA :
NO. KODE SATUAN KERJA :
PEKERJAAN : Penyelidikan hidrolis dengan model untuk
Bendung
di Propinsi
NOMOR KONTRAK :
LAMPIRAN : 1. Surat Perintah Mulai Kerja No.
tanggal
2. Surat Penunjukan Puslitbang Sumber
Daya Air No .
tanggal
3. Berita Acara Hasil Evaluasi dan
Negosiasi Penawaran
No tanggal
4. Surat Kepala Puslitbang Sumber Daya
Air No
tanggal
5. Rencana Anggaran Biaya
6. Jadwal Waktu Pelaksanaan
7. Kerangka Acuan Kerja (KAK)
8. Lain-lain

..

Pada hari ini, tanggal .bulan . Tahun kami
yang bertanda tangan dibawah ini :

1.
.

. , selanjutnya disebut :

PIHAK KESATU
2.
Kepala Satuan Kerja yang
bertindak untuk dan atas nama ... , beralamat
di.... .. ,
selanjutnya disebut :

PIHAK KEDUA

Dengan ini menyatakan telah membuat perjanjian kerja sama sebagai
berikut, bahwa berdasarkan :

1. ;
2. ;
3. ;

kedua belah pihak telah sepakat untuk membuat Perjanjian kerja sama
mengenai pelaksanaan pekerjaan : Penyelidikan hidrolis dengan model
Bendung... di propinsi . dengan ketentuan-
ketentuan sebagaimana tercantum pasal-pasal sebagai berikut :

Pasal 1
PENJELASAN UMUM
PIHAK KESATU dalam jabatannya tersebut di atas memberi tugas kepada
PIHAK KEDUA dan PIHAK KEDUA menerima tugas itu untuk
melaksanakan pekerjaan penyelidikan hidrolis dengan model
sebanyak buah, yaitu bendung .. di
propinsi

Pasal 2
URAIAN TUGAS PEKERJAAN
Tugas pekerjaan yang dimaksud dalam pasal 1 di atas adalah meliputi :
1. Pengumpulan data hidrolis
2. Pembuatan model
3. Penyelidikan hidrolis dengan model antara lain untuk :
a. Memeriksa kapasitas pelimpahan bendung
b. Memeriksa pergerakan sedimen
c. Memeriksa penggerusan yang terjadi di hilir bendung
4. Dan lain-lain hal seperti tercantum dalam kerangka acuan kerja (KAK)
terlampir.
Pasal 3
REFERENSI PEKERJAAN
Dalam melaksanakan pekerjaan teknis ini berlaku dan mengikat hal-hal
seperti tercantum di bawah ini :
1. Syarat-syarat pelaksanakan pekerjaan perencanaan teknis, yang
tercantum dalam kerangka acuan kerja (KAK) seperti yang
terlampir dalam Surat Perjanjian Kerja Sama ini.
2. Rencana pelaksanaan dan rencana pengerahan tenaga ahli/expert
yang telah disetujui oleh kedua belah pihak.
3. Catatan-catatan hasil diskusi maupun seminar-seminar yang
diadakan oleh kedua belah pihak maupun petunjuk-petunjuk
lisan/tertulis yang diberikan oleh PIHAK KESATU.
4. Undang-undang untuk pelaksanaan pekerjaan di Indonesia.

Pasal 4
CARA PELAKSANAAN PEKERJAAN
Pekerjaan-pekerjaan tersebut pada pasal 1 harus berpedoman pada
kerangka acuan kerja (KAK) yang merupakan lampiran Surat Perjanjian
Kerja Sama ini.
Pasal 5
JANGKA WAKTU PELAKSANAAN
PIHAK KEDUA melaksanakan pekerjaan tersebut pada pasal 2 dalam
jangka waktu .. hari kalender, terhitung mulai dari waktu setelah
ditandatangani SPKS ini dan pembayaran uang muka kerja diterima oleh
PIHAK KEDUA selambat-lambatnya pada tanggal . (terhitung
mulai dari waktu setelah . hari ditandatangani Surat Perintah Mulai
Kerja).
Pasal 6
PENYERAHAN HASIL PEKERJAAN
1. Pekerjaan dianggap selesai setelah ditemukan bentuk yang paling
baik dan aman dilihat dari segi hidrolis.
2. PIHAK KEDUA akan mengundang PIHAK KESATU untuk
menyaksikan model terakhir tersebut, disertai uraian
perbandingan dari model-model terdahulu sampai dengan
terakhir ini.
3. Serah terima pekerjaan disertai laporan tertulis pada kertas
ukuran kwarto yang dilampiri gambar-gambar dan foto, lengkap
dengan saran-saran perbaikan.

Pasal 7
PEKERJAAN TAMBAH / KURANG
1. Pekerjaan tambah/kurang hanya dianggap syah apabila ada
perintah tertulis dari PIHAK KESATU, dalam hal ini Direksi
Pekerjaan.
2. Setiap selisih volume pekerjaan yang diakibatkan dari
penambahan/pengurangan pekerjaan seperti tersebut pada ayat
1 akan diperhitungkan dengan berpedoman pada Rencana
Anggaran Biaya dengan melalui negosiasi kedua belah pihak.
3. Pekerjaan tambah/kurang tidak dapat dipakai sebagai alasan
untuk mengubah waktu penyelesaian pekerjaan, kecuali atas
persetujuan PIHAK KESATU secara tertulis.

Pasal 8
KETERLAMBATAN PEKERJAAN
1. Apabila terjadi keterlambatan pelaksanaan dalam jangka waktu
penyelesaian pekerjaan seperti dalam pasal 4 Surat Perjanjian
Kerja Sama ini, PIHAK KEDUA diharuskan mengajukan
perpanjangan waktu pelaksanaan yang disampaikan secara
tertulis lengkap dengan alasan keterlambatannya dan
berkewajiban melanjutkan pekerjaan tersebut sampai selesai
dengan waktu yang ditentukan oleh PIHAK KESATU dengan tidak
menuntut penambahan biaya dari PIHAK KESATU.
2. Perpanjangan waktu dapat diberikan oleh PIHAK KESATU, jika
alasan keterlambatan sudah dapat diterima.

Pasal 9
DIREKSI PEKERJAAN
Direksi pekerjaan adalah Kepala Seksi Survai dan Pengukuran pada Sub
Direktorat Perencanaan Teknis Direktorat Irigasi atau pejabat yang
ditunjuk olehnya.

Pasal 10
BIAYA
Biaya pelaksanaan pekerjaan tersebut dalam pasal 1 ditetapkan sebesar
Rp..
(.rupiah). Dengan perincian
sebagai berikut :

a. Pos gaji/upah Rp
b. Pos bahan-bahan Rp
c. Pos peralatan Rp
d. Pos biaya perjalanan Rp
e. Konstruksi Rp
f. Lain-lain pengeluaran Rp

Jumlah Rp
Dibebankan pada DIPA Satuan Kerja


Pasal 11
CARA PEMBAYARAN
11.1 Cara pembayaran beaya pelaksanaan pekerjaan akan
dilaksanakan melalui Kantor Perbendaharaan Negara
.. , melalui Surat Kuasa Penerbitan S.P.M.

Pasal 12
PAJAK DAN BEA MATERAI
1. Pajak
Disesuaikan dengan Undang-undang dan peraturan perpajakan
yang berlaku.
2. Bea Meterai
Penyelesaian Bea Materai menjadi tanggung jawab PIHAK
KEDUA.

Pasal 13
PERSELISIHAN
1. Segala perselisihan atau problem yang dihadapi akan
diselesaikan/dicari jalan keluarnya secara musyawarah antara
kedua belah pihak.
2. Jika cara musyawarah ini tidak memberikan penyelesaian, maka
PIHAK KESATU bersama-sama PIHAK KEDUA menyetujui untuk
meminta penyelesaian dari instansi yang lebih tinggi Departemen
Pekerjaan Umum.


Pasal 14
DOMISILI
PIHAK KESATU dan PIHAK KEDUA memilih tempat dan alamat yang
tetap dalam Surat Perjanjian Kerja Sama ini pada Kantor Panitera
Pengadilan Negeri

Pasal 15
PENYIMPANGAN
Segala sesuatu yang bersifat melengkapi/mengubah isi Surat Perjanjian
Kerja Sama ini akan diatur bersama atas persetujuan kedua belah pihak
dan untuk pelaksanaannya ditampung dalam bentuk Addendum
Pasal 16
16.1 PIHAK KEDUA dibebaskan dari tanggung jawab atas kerugian dan
keterlambatan penyelesaian pekerjaan yang telah ditetapkan,
apabila terjadi keadaan memaksa (Force Majeure).
16.2 Keadaan memaksa (Force Majeure) yang dimaksud di atas antara
lain :
16.2.1 Bencana Alam
16.2.2 Keadaan keamanan yang tidak mengizinkan
16.2.3 Peristiwa-peristiwa lain di luar kemampuan PIHAK KEDUA
yang disetujui PIHAK KESATU.
16.3 Setiap peristiwa keadaan memaksa seperti tersebut di atas harus
mendapatkan pengesahan secara tertulis dari PIHAK KESATU.

Pasal 17
PENUTUP
1. Surat Perjanjian Kerja Sama ini beserta lampiran-lampiran tidak
dapat dipisahkan dan dianggap sah setelah ditandatangani oleh
kedua belah pihak.
2. Surat Perjanjian Kerja Sama ini dibuat dalam rangkap 23 ( dua
puluh tiga ). Lembar ke-1 sampai dengan ke-5 ditandatangani asli
oleh kedua belah pihak dan diperuntukkan :
Lembar ke-1 : PIHAK KESATU
Lembar ke-2 : PIHAK KEDUA
Lembar ke-3 : Bendahara Satuan Kerja Direktorat Irigasi di
Bandung
Lembar ke-4 : Kepala Kantor Perbendaharaan Negara
setempat
Lembar ke-5 : Badan Pemeriksa Keuangan di Jakarta
Lembar ke-6 : Badan Pengawas Keuangan dan
Pembangunan di Jakarta
Lembar ke-7 : Direktur Jenderal Sumber Daya Air di Jakarta
Lembar ke-8 : Inspektur Jenderal Kementerian Pekerjaan
Umum di Jakarta
Lembar ke-9 : Direktur Irigasi di Jakarta
Lembar ke-10 : Kepala Biro Keuangan Kementerian
Pekerjaan Umum di Jakarta
Lembar ke-11 - 13 : Kantor Perbendaharaan Negara setempat
Lembar ke-14 : Kepala Bagian Keuangan Direktorat Jenderal
Sumber Daya Air di Jakarta
Lembar ke-15 : Kantor Perbendaharaan Negara setempat
Lembar ke-16 : Arsip PIHAK KEDUA


PIHAK KEDUA
PEMIMPIN ..........................
..........................................
..........................................



(.........................)
PIHAK KESATU
PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN
..........................................
..........................................



(.........................)