Anda di halaman 1dari 25

7.

KEKERINGAN
Kekeringan adalah keadaan kekurangan pasokan air pada suatu daerah dalam masa
yang berkepanjangan (beberapa bulan hingga bertahun-tahun). Biasanya kejadian ini muncul
bila suatu wilayah secara terus-menerus mengalami curah hujan di bawah rata-rata. Musim
kemarau yang panjang akan menyebabkan kekeringan karena cadangan air tanah akan habis
akibat penguapan (evaporasi), transpirasi, ataupun penggunaan lain oleh manusia.
Kekeringan dapat menjadi bencana alam apabila mulai menyebabkan suatu wilayah
kehilangan sumber pendapatan akibat gangguan pada pertanian dan ekosistem yang
ditimbulkannya. Dampak ekonomi dan ekologi kekeringan merupakan suatu proses
sehingga batasan kekeringan dalam setiap bidang dapat berbeda-beda. Namun, suatu
kekeringan yang singkat tetapi intensif dapat pula menyebabkan kerusakan yang signifikan.
7.1. IKLIM DAN CUACA
Cuaca adalah keadaan udara pada saat tertentu dan di wilayah tertentu yang relatif
sempit dan pada jangka waktu yang singkat. Cuaca itu terbentuk dari gabungan unsur
cuaca dan jangka waktu cuaca bisa hanya beberapa jam saja. Misalnya: pagi hari, siang
hari atau sore hari, dan keadaannya bisa berbedabeda untuk setiap tempat serta setiap
jamnya. Di Indonesia keadaan cuaca selalu diumumkan untuk jangka waktu sekitar 24
jam melalui prakiraan cuaca hasil analisis Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG),
Departemen Perhubungan. Untuk negara negara yang sudah maju perubahan cuaca
sudah diumumkan setiap jam dan sangat akurat (tepat).
Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam waktu satu tahun yang
penyelidikannya dilakukan dalam waktu yang lama (minimal 30 tahun) dan meliputi
wilayah yang luas.

UNSUR-UNSUR CUACA DAN IKLIM
Ada beberapa unsur yang mempengaruhi cuaca dan iklim, yaitu suhu udara, tekanan
udara, kelembaban udara dan curah hujan.
1. SUHU UDARA
Suhu udara adalah keadaan panas atau dinginnya udara. Alat untuk mengukur suhu
udara atau derajat panas disebut thermometer. Biasanya pengukuran dinyatakan
dalam skala Celcius (C), Reamur (R), dan Fahrenheit (F). Suhu udara tertinggi di
muka bumi adalah di daerah tropis (sekitar ekuator) dan makin ke kutub, makin
dingin. Di lain pihak, pada waktu kita mendaki gunung, suhu udara terasa dingin
jika ketinggian bertambah. Kita sudah mengetahui bahwa tiap kenaikan bertambah
100 meter, suhu udara berkurang (turun) rata-rata 0,6o C. Penurunan suhu semacam
ini disebut gradient temperatur vertikal atau lapse rate. Pada udara kering, besar
lapse rate adalah 1
o
C.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya suhu udara suatu daerah adalah:
a. Lama penyinaran matahari.
b. Sudut datang sinar matahari.
c. Relief permukaan bumi.
d. Banyak sedikitnya awan.
e. Perbedaan letak lintang.

2. TEKANAN UDARA
Kepadatan udara tidak sepadat tanah dan air. Namun udarapun mempunyai berat
dan tekanan. Besar atau kecilnya tekanan udara, dapat diukur dengan menggunakan
barometer. Orang pertama yang mengukur tekanan udara adalah Torri Celli (1643).
Alat yang digunakannya adalah barometer raksa. Tekanan udara menunjukkan
tenaga yang bekerja untuk menggerakkan masa udara dalam setiap satuan luas
tertentu. Tekanan udara semakin rendah apabila semakin tinggi dari permukaan laut.

3. KELEMBABAN UDARA
Di udara terdapat uap air yang berasal dari penguapan samudra (sumber yang
utama). Sumber lainnya berasal dari danau-danau, sungai-sungai, tumbuh-
tumbuhan, dan sebagainya. Makin tinggi suhu udara, makin banyak uap air yang
dapat dikandungnya. Hal ini berarti makin lembablah udara tersebut. Alat untuk
mengukur kelembaban udara dinamakan hygrometer atau psychrometer.
Ada dua macam kelembaban udara:
1) Kelembaban udara absolut, ialah banyaknya uap air yang terdapat di udara pada
suatu tempat. Dinyatakan dengan banyaknya gram uap air dalam 1 m udara.
2) Kelembaban udara relatif, ialah perbandingan jumlah uap air dalam udara
(kelembaban absolut) dengan jumlah uap air maksimum yang dapat dikandung
oleh udara tersebut dalam suhu yang sama dan dinyatakan dalam persen (%).
4. CURAH HUJAN
Curah hujan yaitu jumlah air hujan yang turun pada suatu daerah dalam waktu
tertentu. Alat untuk mengukur banyaknya curah hujan disebut Rain gauge. Curah
hujan diukur dalam harian, bulanan, dan tahunan.
Curah hujan yang jatuh di wilayah Indonesia dipengaruhi oleh beberapa factor
antara lain:
- bentuk medan/topografi
- arah lereng medan
- arah angin yang sejajar dengan garis pantai
- jarak perjalanan angin di atas medan datar
Hujan ialah peristiwa sampainya air dalam bentuk cair maupun padat yang
dicurahkan dari atmosfer ke permukaan bumi. Garis pada peta yang menghubungkan
tempat-tempat yang mempunyai curah hujan yang sama disebut I sohyet dan Apabila
kondensasi uap air di udara terus berlangsung, titik-titik air yang membentuk awan akan
bertambah banyak dan bergulung menjadi lebih besar. Titik air yang besar akan menjadi
labih berat sehingga kemudian jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan. Titik-titik air
hujan pada umumnya berjari-jari 0,3-3 mm, sedangkan pada hujan rintik-rintik berjari-
jari antara 0,04-0,3 mm.
Selain hujanyang berupa cairan, ada pula hujan yang berupa padatan, yaitu
hujan salju dan hujan es. Hal ini terjadi karena uap air langsung menjadi padat
berbentuk kristal, apabila terjadi penurunan suhu antara -15
o
C sampai -20
o
C. Proses itu
dinamakan sublimasi.
Klasifikasi hujan
a. Berdasarkan ukuran butirannya ,hujan dibedakan menjadi:
1) hujan gerimis/drizzle, diameter butir-butirannya kurang dari 0,5 mm.
2) hujan salju/snow, terdiri dari kristal-kristal es yang temperatur udaranya berada di
bawah titik beku.
3) hujan batu es, merupakan curahan batu es yang turun di dalam cuaca panas dari
awan yang temperaturnya di bawah titik beku; dan
4) hujan deras/rain, yaitu curahan air yang turun dari awan yang temperaturnya di
atas titik beku dan diameter butirannya kurang lebih 7 mm.

b. Berdasarkan proses terjadinya, hujan dibedakan atas:
1) Hujan Frontal
Hujan frontal adalah hujan yang terjadi di daerah front, yang disebabkan oleh
pertemuan dua massa udara yang berbeda temperaturnya. Massa udara
panas/lembab bertemu dengan massa udara dingin/padat sehingga berkondensasi
dan terjadilah hujan.

2) Hujan Zenithal/ Ekuatorial/ Konveksi/ Naik Tropis
Jenis hujan ini terjadi karena udara naik disebabkan adanya pemanasan
tinggi. Terdapat di daerah tropis antara 23,5o LU - 23,5o LS. Oleh karena itu
disebut juga hujan naik tropis. Arus konveksi menyebabkan uap air di ekuator
naik secara vertikal sebagai akibat pemanasan air laut terus menerus. Terjadilah
kondensasi dan turun hujan. Itulah sebabnya jenis hujan ini dinamakan juga hujan
ekuatorial atau hujan konveksi. Disebut juga hujan zenithal karena pada umumnya
hujan terjadi pada waktu matahari melalui zenith daerah itu. Semua tempat di
daerah tropis itu mendapat dua kali hujan zenithal dalam satu tahun.

3) Hujan Orografis/Hujan Naik Pegunungan
Terjadi karena udara yang mengandung uap air dipaksa oleh angin mendaki
lereng pegunungan yang makin ke atas makin dingin sehingga terjadi kondensasi,
terbentuklah awan dan jatuh sebagai hujan. Hujan yang jatuh pada lereng yang
dilaluinya disebut hujan orografis, sedangkan di lereng sebelahnya bertiup angin
jatuh yang kering dan disebut daerah bayangan hujan.

5. AWAN
Awan ialah kumpulan titik-titik air/kristal es di dalam udara yang terjadi karena
adanya kondensasi/sublimasi dari uap air yang terdapat dalam udara. Awan yang
menempel di permukaan bumi disebut kabut.
a. Menurut morfologinya (bentuknya)
Berdasatkan morfologinya, awan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
1) Awan Commulus yaitu awan yang bentuknya bergumpal-gumpal (bunar-
bundar) dan dasarnya horizontal.
2) Awan Stratus yaitu awan yang tipis dan tersebar luas sehingga dapat menutupi
langit secara merata. Dalam arti khusus awan stratus adalah awan yang
rendah dan luas.
3) Awan Cirrus yaitu awan yang berdiri sendiri yang halus dan berserat,
berbentuk seperti bulu burung. Sering terdapat kristal es tapi tidak dapat
menimbulkan hujan.
b. Berdasarkan ketinggiannya
Berdasarkan ketinggiannya, awan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
1) Awan tinggi (lebih dari 6000 m 9000 m), karena tingginya selalu terdiri
dari kristal-kristal es.
a) Cirrus (Ci) : awan tipis seperti bulu burung.
b) Cirro stratus (Ci-St) : awan putih merata seperti tabir.
c) Cirro Cumulus (Ci-Cu) : seperti sisik ikan.
2) Awan sedang (2000 m 6000 m)
a) Alto Comulus (A-Cu) : awan bergumpal gumpal tebal.
b) Alto Stratus (A- St) : awan berlapis-lapis tebal.
3) Awan rendah (di bawah 200 m)
a) Strato Comulus (St-Cu) : awan yang tebal luas dan bergumpalgumpal.
b) Stratus (St) : awan merata rendah dan berlapis-lapis.
c) Nimbo Stratus (No-St) : lapisan awan yang luas, sebagian telah
merupakan hujan.
4) Awan yang terjadi karena udara naik, terdapat pada ketinggian 500m1500 m
a) Cummulus (Cu) : awan bergumpal-gumpal, dasarnya rata.
b) Comulo Nimbus (Cu-Ni): awan yang bergumpal gumpal luas dan sebagian
telah merupakan hujan, sering terjadi angin ribut.
7.2. KERUSAKAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)
Pencemaran air di Indonesia saat ini semakin memprihatinkan. Pencemaran air
dapat diartikan sebagai suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air
seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Perubahan ini
mengakibatkan menurunnya kualitas air hingga ke tingkat yang membahayakan
sehingga air tidak bisa digunakan sesuai peruntukannya. Fenomena alam seperti gunung
berapi, badai, gempa bumi dll juga mengakibatkan perubahan terhadap kualitas air, tapi
dalam pengertian ini tidak dianggap sebagai pencemaran.
Pencemaran air, baik sungai, laut, danau maupun air bawah tanah, semakin hari
semakin menjadi permasalahan di Indonesia sebagaimana pencemaran udara dan
pencemaran tanah. Mendapatkan air bersih yang tidak tercemar bukan hal yang mudah
lagi. Bahkan pada sungai-sungai di lereng pegunungan sekalipun.
Pencemaran air di Indonesia sebagian besar diakibatkan oleh aktifitas manusia
yang meninggalkan limbah pemukiman, limbah pertanian, dan limbah industri termasuk
pertambangan. Limbah pemukiman mempunyai pengertian segala bahan pencemar yang
dihasilkan oleh daerah pemukiman atau rumah tangga. Limbah pemukiman ini bisa
berupa sampah organik (kayu, daun dll), dan sampah nonorganik (plastik, logam, dan
deterjen).
Limbah pertanian mempunyai pengertian segala bahan pencemar yang dihasilkan
aktifitas pertanian seperti penggunaan pestisida dan pupuk. Sedangkan limbah industri
mempunyai pengertian segala bahan pencemar yang dihasilkan aktifitas industri yang
sering menghasilkan bahan berbahaya dan beracun (B3).
Asian Development Bank (2008) pernah menyebutkan pencemaran air di
Indonesia menimbulkan kerugian Rp 45 triliun per tahun. Biaya yang akibat
pencemaran air ini mencakup biaya kesehatan, biaya penyediaan air bersih, hilangnya
waktu produktif, citra buruk pariwisata, dan tingginya angka kematian bayi.
Dampak lainnya yang tidak kalah merugikan dari pencemaran air adalah
terganggunya lingkungan hidup, ekosistem, dan keanekaragaman hayati. Air yang
tercemar dapat mematikan berbagai organisme yang hidup di air.
Sungai dengan Daerah Aliran Sungai di sekitarnya
Daerah Aliran Sungai di Indonesia semakin mengalami kerusakan lingkungan
dari tahun ke tahun. Kerusakan lingkungan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) meliputi
kerusakan pada aspek biofisik ataupun kualitas air.
Indonesia memiliki sedikitnya 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai. Dari
5,5 ribu sungai utama panjang totalnya mencapai 94.573 km dengan luas Daerah Aliran
Sungai (DAS) mencapai 1.512.466 km
2
. Selain mempunyai fungsi hidrologis, sungai
juga mempunyai peran dalam menjaga keanekaragaman hayati, nilai ekonomi, budaya,
transportasi, pariwisata dan lainnya.
Saat ini sebagian Daerah Aliran Sungai di Indonesia mengalami kerusakan
sebagai akibat dari perubahan tata guna lahan, pertambahan jumlah penduduk serta
kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan DAS. Gejala
Kerusakan lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dilihat dari penyusutan luas
hutan dan kerusakan lahan terutama kawasan lindung di sekitar Daerah Aliran Sungai.
Dampak Kerusakan DAS. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terjadi
mengakibatkan kondisi kuantitas (debit) air sungai menjadi fluktuatif antara musim
penghujan dan kemarau. Selain itu juga penurunan cadangan air serta tingginya laju
sendimentasi dan erosi. Dampak yang dirasakan kemudian adalah terjadinya banjir di
musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau.
Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) pun mengakibatkan menurunnya kualitas
air sungai yang mengalami pencemaran yang diakibatkan oleh erosi dari lahan kritis,
limbah rumah tangga, limbah industri, limbah pertanian (perkebunan) dan limbah
pertambangan. Pencemaran air sungai di Indonesia juga telah menjadi masalah
tersendiri yang sangat serius.

7.3. PENGERTIAN HUJAN BUATAN
Hujan buatan adalah hujan yang dibuat oleh campur tangan manusia dengan
membuat hujan dari bibit-bibit awan yang memiliki kandungan air yang cukup,
memiliki kecepatan angin rendah yaitu sekitar di bawah 20 knot, serta syarat lainnya.
Ujan buatan dibuat dengan menaburkan banyak garam khusus yang halus dan dicampur
bibit / seeding ke awan agar mempercepat terbentuknya awan jenuh. Untuk menyemai /
membentuk hujan deras, biasanya dibutuhkan garam sebanyak 3 ton yang disemai ke
awan potensial selama 30 hari. Hujan buatan saja bisa gagal dibuat atau jatuh di tempat
yang salah serta memakan biaya yang besar dalam pembuatannya.
Juhan buatan umumnya diciptakan dengan tujuan untuk membantu daerah yang
sangat kering akibat sudah lama tidak turun hujan sehingga dapat mengganggu
kehidupan di darat mulai dari sawah kering, gagal panen, sumur kering, sungai / danau
kering, tanah retak-retak, kesulitan air bersih, hewan dan tumbuhan pada mati dan lain
sebagainya. Dengan adanya hujan buatan diharapkan mampu menyuplai kebutuhan air
makhluk hidup di bawahnya dan membuat masyarakat hidup bahagia dan sejahtera.
Hujan yang berlebih pada suatu lokasi dapat menimbulkan bencana pada kehidupan di
bawahnya. Banjir dan tanah longsor adalah salah satu akibat dari hujan yang berlebihan.
Perubahan iklim di bumi akhir-akhir ini juga mendukung persebaran hujan yang tidak
merata sehingga menimbulkan berbagai masalah di bumi. Untuk itu kita sudah
semestinya membantu menormalkan iklim yang berubah akibat ulah manusia agar anak
cucu kita kelak tidak menderita dan terbunuh akibat kesalahan yang kita lakukan saat
ini.
Media yang bisa ditempeli uap air contohnya partikel garam di atas lautan yang
bisa menyerap uap air sehingga membentuk kumpulan yang besar. Asap juga bisa
sebagai media untuk berkumpulnya uap air. Bibit hujan ini akan bergerak sesuai dengan
tiupan angin.

7.3.1. TUJUAN HUJAN BUATAN
Hujan buatan umumnya diciptakan dengan tujuan untuk membantudaerah
yang sangat kering akibat sudah lama tidak turun hujan sehinggadapat
mengganggu kehidupan di darat mulai dari sawah kering, gagalpanen, sumur
kering, sungai / danau kering, tanah retak-retak, kesulitanair bersih, hewan dan
tumbuhan pada mati dan lain sebagainya. Denganadanya hujan buatan diharapkan
mampu menyuplai kebutuhan airmakhluk hidup di bawahnya dan membuat masyarakat hidup
bahagiadan sejahtera.

7.3.2. SEJARAH TERJADINYA HUJAN BUATAN
Sejarah Hujan buatan di dunia dimulai pada tahun 1946 oleh penemunya
Vincent Schaefer dan Irving Langmuir, dilanjutkan setahun kemudian 1947 oleh
Bernard Vonnegut. Yang sebenarnya dilakukan oleh manusia adalah
menciptakan peluang hujan dan mempercepat terjadinya hujan. Nama yang
digunakan sebagai upaya membuat hujan dengan menggunakan cara siklus
hidrologi, ada penguapan air, pembentukan awan, dan turun menjadi
hujan.Sehingga mempercepat peluang terjadinya hujan.

7.3.3. CARA MEMBUAT HUJAN BUATAN
Cara membuat hujan buatan dengan menyemai awan dengan
menggunakan bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air) sehingga partikel-
partikel air lebih cepat terbentuk dan hujan pun turun. Awan yang dijadikan
sasaran dalam kegiatan hujan buatan adalah jenis awan Cumulus (Cu) yang
aktif, dicirikan dengan bentuknya yang seperti bunga kol. Awan Cumulus terjadi
karena proses konveksi.
Awan Cumulus terbagi dalam 3 jenis, yaitu: Strato Cumulus (Sc) yaitu
awan Cumulus yang baru tumbuh ; Cumulus, dan Cumulonimbus (Cb) yaitu
awan Cumulus yang sangat besar dan mungkin terdiri beberapa awan Cumulus
yang bergabung menjadi satu.
Jenis awan Cumulus (Cu) yang bentuknya seperti bunga kol, merupakan jenis
awan yang dijadikan sebagai sasaran penyemaian dalam kegiatan hujan buatan.
Ada beberapa metode untuk menyemai bahan semai kedalam awan . Yang
paling sering dan biasa dilakukan adalah menggunakan pesawat terbang. Selain
menggunakan pesawat terbang, modifikasi pesawat terbang juga dapat dilakukan
dari darat dengan menggunakan sistem statis melalui wahana Ground Base
Generator (GBG) pada daerah pegunungan untuk memodifikasi awan-awan
orografik dan juga menggunakan wahana roket yang diluncurkan ke dalam
awan.
Di Indonesia, sejak tahun 1998 BPPT dan PT. INCO bekerja sama dengan
perusahaan dari Amerika memakai metode penyemain awan dengan teknologi
flare perak iodida. Dengan teknologi ini, pesawat yang dibutuhkan untuk
menemai awan tidak perlu besar, cukup pesawat kecil yang dilengkapi dengan
24 tabung flare perak iodida yang di pasang di sayap pesawat terbang dan bak
peluncur roket.
Setelah posisi awan, arah dan keepatan angin diketahui pesawat pun menuju
awan potensial dan flare pun mulai dinyalakan dengan mematik listrik otomatis
dari kokpit pesawat. Setelah itu tinggal menunggu hasilnya.
Bahan untuk mempengaruhi proses yang terjadi di awan terdiri dari dua jenis
yaitu
1. Bahan untuk membentuk es, dikenal dengan glasiogenik, berupa Perak
Iodida (AgI)
2. Bahan untuk menggabungkan butir-butir air di awan, dikenal dengan
higroskopis, berupa garam dapur atau Natrium Chlorida (NaCl), atau CaCl2
dan Urea.


7.4. ANALISIS VEGETASI
Pada tipe penggunaan lahan hutan, dilakukan metode analisis vegetasi. Hal ini
dilakukan mengingat tingkat diversitas pada hutan yang cukup bergam bila dibandingkan
dengan lahan lainnya yang sebagian besar merupakan vegetasi homogen. Untuk tipe
penggunaan lahan desa Rowoboni berupa hutan rakyat maka dibuat plot-plot. Plot yang
dibuat didasarkan pada wilayah yang cukup representatif dari lahan hutan. Pada masing-
masing lahan diukur dengan menggunakan metode petak kuadrat dengan distribusi plot
random. Indikator sampling yang akan dianalisis antara lain memenuhi syarat seperti yang
direkomendasikan Mueller-Dombois dan Ellenberg (1974), yaitu :
harus cukup luas untuk memuat seluruh jenis yang dimiliki komunitas tumbuhan
tersebut.
habitatnya harus seragam dalam area plot sejauh dapat ditentukan oleh pandangan
seseorang.
tumbuhan penutup harus sedapat mungkin seragam. Sebagai contoh tidak
menunjukan perbedaan yang besar atau tidak terdapat dominasi suatu jenis pada
sebagian areal sampel dan dominasi jenis yang berbeda pada bagian yang lain.
Dalam setiap petak ukur terdiri dari 4 plot yang masing-masing luasannya adalah 4 m 2, 25
m2, 100 m2, 400 m2
Dilakukan pengamatan pada masing-masing plot berdasarkan tingkat pohon, tiang (pohon
kecil), sapihan dan semai. Parameter yang diamati meliputi jenis, jumlah individu yang ada
dan luas penutupan lahan oleh suatu tumbuhan. Selain itu juga dilakukan pendataan terhadap
herba sebagai tumbuhan bawah. Untuk jenis jenis vegetasi yang belum dapat dikenali,
bagian tumbuhan diambil untuk diidentifikasi lebih lanjut dengan menggunakan buku
panduan







8. KUALITAS AIR BURUK
1. Pengertian Kualitas Air
Kualitas air adalah kondisi kalitatif air yang diukur dan atau di uji berdasarkan
parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku (Pasal 1 keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115
tahun 2003). Kualitas air dapat dinyatakan dengan parameter kualitas air. Parameter ini
meliputi parameter fisik, kimia, dan mikrobiologis(Masduqi,2009).
Menurut Acehpedia (2010), kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian
tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau
uji kenampakan (bau dan warna). Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemaliharaan air
sehingga tercapai kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin agar
kondisi air tetap dalam kondisi alamiahnya.

2. Hubungan Antar Kualitas Air
Menurut Lesmana (2001), suhu pada air mempengaruhi kecepatan reaksi kimia, baik
dalam media luar maupun dalam tubuh ikan. Suhu makin naik, maka reaksi kimia akan
ssemakin cepat, sedangkan konsentrasi gas akan semakin turun, termasuk oksigen.
Akibatnya, ikan akan membuat reaksi toleran dan tidak toleran. Naiknya suhu, akan
berpengaruh pada salinitas, sehingga ikan akan melakukan prosess osmoregulasi. Oleh ikan
dari daerah air payau akan malakukan yoleransi yang tinggi dibandingkan ikan laut dan ikan
tawar.
Manurut Anonymaus(2010), laju peningkatan pH akan dilakukan oleh nilai pH awal.
Sebagai contoh : kebutuhan jumlah ion karbonat perlu ditambahkan utuk meningkatkan satu
satuan pH akan jauh lebih banyak apabila awalnya 6,3 dibandingkan hal yang sama
dilakukan pada pH 7,5. kenaikan pH yang akan terjadi diimbangi oleh kadar Co2 terlarut
dalan air. Sehingga, Co2 akan menurunkan pH.

8.1. PARAMETER KUALITAS AIR
1. Paremeter fisika
a) Kecerahan
Kecerahan adalah parameter fisika yang erat kaitannya dengan proses
fotosintesis pada suatu ekosistem perairan. Kecerahan yang tinggi menunjukkan daya
tembus cahaya matahari yang jauh kedalam Perairan.. Begitu pula
sebaliknya(Erikarianto,2008).
Menurut Kordi dan Andi (2009), kecerahan adalah sebagian cahaya yang
diteruskan kedalam air dan dinyetakan dalam (%). Kemampuan cahaya matahari
untuk tembus sampai kedasar perairan dipengaruhi oleh kekeruhan (turbidity) air.
Dengan mengetahui kecerahan suatu perairan, kita dapat mengetahui sampai dimana
masih ada kemungkinan terjadi proses asimilasi dalam air, lapisan-lapisan manakah
yang tidak keruh, yang agak keruh, dan yang paling keruh. Air yang tidak terlampau
keruh dan tidak pula terlampau jernih, baik untuk kehidupan ikan dan udang
budidaya.

b) Suhu
Menurut Nontji (1987), suhu air merupakan faktor yang banyak mendapat
perhatian dalam pengkajian- pengkajian kaelautan. Data suhu air dapat dimanfaatkan
bukan saja untuk mempelajari gejala-gejala fisika didalam laut, tetapi juga dengan
kaitannya kehidupan hewan atau tumbuhan. Bahkan dapat juga dimanfaatkan untuk
pengkajian meteorologi. Suhu air dipermukaan dipengaruhi oleh kondisi
meteorologi. Faktor- faktor metereolohi yang berperan disini adalah curah hujan,
penguapan, kelembaban udara, suhu udara, kecepatan angin, dan radiasi matahari.
Suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu penyebaran
organisme baik dilautan maupun diperairan tawar dibatasi oleh suhu perairan
tersebut. Suhu sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kehidupan biota air.
Secara umum, laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan kenaikan suhu, dapat
menekan kehidupan hewan budidaya bahkan menyebabkan kematian bila
peningkatan suhu sampai ekstrim(drastis)(Kordi dan Andi,2009).

2 Parameter Kimia
a) pH
Menurut Andayani(2005), pH adalah cerminan derajat keasaman yang diukur dari
jumlah ion hidrogen menggunakan rumus pH = -log (H+). Air murni terdiri dari ion H+dan
OH- dalam jumlah berimbang hingga Ph air murni biasa 7. Makin banyak banyak ion
OH+ dalam cairan makin rendah ion H+ dan makin tinggi pH. Cairan demikian disebut
cairan alkalis. Sebaliknya, makin banyak H+makin rendah PH dan cairan tersebut bersifat
masam. Ph antara 7 9 sangat memadai kehidupan bagi air tambak. Namun, pada keadaan
tertantu, dimana air dasar tambak memiliki potensi keasaman, pH air dapat turun hingga
mencapai 4.
pH air mempengaruhi tangkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan
jasad renik. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh hewan budidaya.
Pada pH rendah( keasaman tinggi), kandungan oksigan terlarut akan berkurang, sebagai
akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktivitas naik dan selera makan akan berkurang. Hal
ini sebaliknya terjadi pada suasana basa. Atas dasar ini, maka usaha budidaya perairan akan
berhasil baik dalam air dengan pH 6,5 9.0 dan kisaran optimal adalah ph 7,5 8,7(Kordi
dan Andi,2009).

b) Oksigan Terlarut / DO
Mnurut Wibisono (2005), konsentrasi gas oksigen sangat dipengaruhi oleh suhu,
makin tinggi suhu, makin berkurang tingkat kelarutan oksigen. Dilaut, oksigen terlarut
(Dissolved Oxygen / DO) berasal dari dua sumber, yakni dari atmosfer dan dari hasil proses
fotosintesis fitoplankton dan berjenis tanaman laut. Keberadaan oksigen terlarut ini sangat
memungkinkan untuk langsung dimanfaatkan bagi kebanyakan organisme untuk kehidupan,
antara lain pada proses respirasi dimana oksigen diperlukan untuk pembakaran
(metabolisme) bahan organik sehingga terbentuk energi yang diikuti dengan pembentukan
Co2 dan H20.
Oksigen yang diperlukan biota air untuk pernafasannya harus terlarut dalam air.
Oksigen merupakan salah satu faktor pembatas, sehinnga bila ketersediaannya didalam air
tidak mencukupi kebutuhan biota budidaya, maka segal aktivitas biota akan terhambat.
Kebutuhan oksigen pada ikan mempunyai kepentingan pada dua aspek, yaitu kebutuhan
lingkungan bagi spesies tertentu dan kebutuhan konsumtif yang terandung pada
metabolisme ikan(Kordi dan Andi,2009).

c) CO2
Karbondioksida (Co2), merupakan gas yang dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan air
renik maupun tinhkat tinggi untuk melakukan proses fotosintesis. Meskipun peranan
karbondioksida sangat besar bagi kehidupan organisme air, namun kandungannya yang
berlebihan sangat menganggu, bahkan menjadi racu secara langsung bagi biota budidaya,
terutama dikolam dan ditambak(Kordi dan Andi,2009).
Meskipun presentase karbondioksida di atmosfer relatif kecil, akan tetapi keberadaan
karbondioksida di perairan relatif banyak,kerana karbondioksida memiliki kelarutan yang
relatif banyak.

d) Amonia
Makin tinggi pH, air tambak/kolam, daya racun amnia semakin meningkat, sebab
sebagian besar berada dalam bentuk NH3, sedangkan amonia dalam molekul (NH3) lebih
beracun daripada yang berbentuk ion (NH4+). Amonia dalam bentuk molekul dapat bagian
membran sel lebih cepat daripada ion NH4+ (Kordi dan Andi,2009).
Menurut Andayani(2005), sumber amonia dalam air kolam adalah eksresi amonia
oleh ikan dan crustacea. Jumlah amonia yang dieksresikan oleh ikan bisa diestimasikan dari
penggunaan protei netto( Pertambahan protein pakan- protein ikan) dan protein prosentase
dalam pakan dengan rumus :
Amonia Nitrogen (g/kg pakan) = (1-0- NPU)(protein+6,25)(1000)
Keterangan : NPU : Net protein Utilization /penggunaan protein netto
Protein : protein dalam pakan
6,25 : Rati rata-rata dari jumlah nitrogen.

e) Nitrat nitrogen
Menurut Susana (2002), senyawa kimia nitrogen urea (N-urea) ,algae memanfaatkan
senyawa tersebut untuk pertumbuhannya sebagai sumber nitrogen yang berasal dari senyawa
nitrogen-organik. Beberapa bentuk senyawa nitrogen (organik dan anorganik) yang terdapat
dalam perairan konsentrasinya lambat laun akan berubah bila didalamnya ada faktor yang
mempengaruhinya sehingga antara lain akn menyebabkan suatu permasalahan tersendiri
dalam perairan tersebut.
Menurut Andayani(2005), konsentasi nitrogen organik di perairan yang tidak
terpolusi sangat beraneka ragam. Bahkan konsentrasi amonia nitrogen tinggi pada kolam
yang diberi pupuk daripada yang hanya biberi pakan. Nitrogen juga mengandung bahan
organik terlarut. Konsentrsi organik nitrogan umumnya dibawah 1mg/liter pada perairan
yang tidak polutan. Dan pada perairan yang planktonya blooming dapat meningkat menjadi
2-3 mg/liter.


f) Orthophospat
Menurut Andayani (2005), orthophospat yang larut, dengan mudah tesedia bagi
tanaman, tetapi ketersediaan bentuk-bentuk lain belum ditentukan dengan pasti. Konsentrasi
fosfor dalam air sangat rendah : konsentasi ortophospate yang biasanya tidak lebih dari 5-
20mg/liter dan jarang melebihi 1000mg/liter. Fosfat ditambahkan sebagai pupuk dalam
kolam, pada awalnya tinggi orthophospat yang terlarut dalam air dan konsentrasi akan turun
dalam beberapa hari setelah perlakuan.
Menurut Muchtar (2002), fitoplankton merupakan salah satu parameter biolagi yang
erat hubungannya dengan fosfat dan nitrat. Tinggi rendahnya kelimpahan fitoplankton
disuatu perairan tergantung tergantung pada kandungan zat hara fosfat dan nitrat. Sama
halnya seprti zat hara lainnya, kandungan fosfat dan nitrat disuatu perairan, secara alami
terdapat sesuai dengan kebutuhan organisme yang hidup diperairan tersebut.

8.2. PENYEBAB PENCEMARAN AIR
Banyak penyebab sumber pencemaran air, tetapi secara umum dapat dikategorikan
menjadi 2 (dua) yaitu sumber kontaminan langsung dan tidak langsung. Sumber langsung
meliputi efluen yang keluar dari industri, TPA sampah, rumah tangga dan sebagainya.
Sumber tak langsung adalah kontaminan yang memasuki badan air dari tanah, air tanah atau
atmosfir berupa hujan (Pencemaran Ling. Online, 2003). Pada dasarnya sumber
pencemaran air berasal dari industri, rumah tangga (pemukiman) dan pertanian. Tanah dan
air tanah mengandung sisa dari aktivitas pertanian misalnya pupuk dan pestisida.
Kontaminan dari atmosfir juga berasal dari aktifitas manusia yaitu pencemaran udara yang
menghasilkan hujan asam.

Komponen Pencemaran Air
Saat ini hampir 10 juta zat kimia telah dikenal manusia, dan hampir 100.000 zat kimia telah
digunakan secara komersial. Kebanyakan sisa zat kimia tersebut dibuang ke badan air atau
air tanah. Sebagai contoh adalah pestisida yang biasa digunakan di pertanian, industri atau
rumah tangga, detergen yang biasa digunakan di rumah tangga atau PCB yang biasa
digunakan pada alat-alat elektronik.
Erat kaitannya dengan masalah indikator pencemaran air, ternyata komponen pencemaran
air turut menentukan bagaimana indikator tersebut terjadi. Menurut Wardhana (1995),
komponen pencemaran air yang berasal dari industri, rumah tangga (pemukiman) dan
pertanian dapat dikelompokkan sebagai bahan buangan:
1. padat
2. cairan berminyak
3. organic dan olahan bahan makanan
4. berupa panas
5. anorganik
6. zat kimia

Bahan buangan padat
Yang dimaksud bahan buangan padat adalah adalah bahan buangan yang berbentuk padat,
baik yang kasar atau yang halus, misalnya sampah. Buangan tersebut bila dibuang ke air
menjadi pencemaran dan akan menimbulkan pelarutan, pengendapan ataupun pembentukan
koloidal.
Apabila bahan buangan padat tersebut menimbulkan pelarutan, maka kepekatan atau berat
jenis air akan naik. Kadang-kadang pelarutan ini disertai pula dengan perubahan warna air.
Air yang mengandung larutan pekat dan berwarna gelap akan mengurangi penetrasi sinar
matahari ke dalam air. Sehingga proses fotosintesa tanaman dalam air akan terganggu.
Jumlah oksigen terlarut dalam air menjadi berkurang, kehidupan organisme dalam air juga
terganggu.
Terjadinya endapan di dasar perairan akan sangat mengganggu kehidupan organisme dalam
air, karena endapan akan menutup permukaan dasar air yang mungkin mengandung telur
ikan sehingga tidak dapat menetas. Selain itu, endapan juga dapat menghalangi sumber
makanan ikan dalam air serta menghalangi datangnya sinar matahari.
Pembentukan koloidal terjadi bila buangan tersebut berbentuk halus, sehingga sebagian ada
yang larut dan sebagian lagi ada yang melayang-layang sehingga air menjadi keruh.
Kekeruhan ini juga menghalangi penetrasi sinar matahari, sehingga menghambat fotosintesa
dan berkurangnya kadar oksigen dalam air.

Bahan buangan organic dan olahan bahan makanan
Bahan buangan organic umumnya berupa limbah yang dapat membusuk atau terdegradasi
oleh mikroorganisme, sehingga bila dibuang ke perairan akan menaikkan populasi
mikroorganisme. Kadar BOD dalam hal ini akan naik. Tidak tertutup kemungkinan dengan
berambahnya mikroorganisme dapat berkembang pula bakteri pathogen yang berbahaya
bagi manusia. Demikian pula untuk buangan olahan bahan makanan yang sebenarnya adalah
juga bahan buangan organic yang baunya lebih menyengat. Umumnya buangan olahan
makanan mengandung protein dan gugus amin, maka bila didegradasi akan terurai menjadi
senyawa yang mudah menguap dan berbau busuk (misal. NH
3
).
Bahan buangan anorganik
Bahan buangan anorganik sukar didegradasi oleh mikroorganisme, umumnya adalah logam.
Apabila masuk ke perairan, maka akan terjadi peningkatan jumlah ion logam dalam air.
Bahan buangan anorganik ini biasanya berasal dari limbah industri yang melibatkan
penggunaan unsure-unsur logam seperti timbal (Pb), Arsen (As), Cadmium (Cd), air raksa
atau merkuri (Hg), Nikel (Ni), Calsium (Ca), Magnesium (Mg) dll.
Kandungan ion Mg dan Ca dalam air akan menyebabkan air bersifat sadah. Kesadahan air
yang tinggi dapat merugikan karena dapat merusak peralatan yang terbuat dari besi melalui
proses pengkaratan (korosi). Juga dapat menimbulkan endapan atau kerak pada peralatan.
Apabila ion-ion logam berasal dari logam berat maupun yang bersifat racun seperti Pb, Cd
ataupun Hg, maka air yang mengandung ion-ion logam tersebut sangat berbahaya bagi
tubuh manusia, air tersebut tidak layak minum.
Bahan buangan cairan berminyak
Bahan buangan berminyak yang dibuang ke air lingkungan akan mengapung menutupi
permukaan air. Jika bahan buangan minyak mengandung senyawa yang volatile, maka akan
terjadi penguapan dan luas permukaan minyak yang menutupi permukaan air akan
menyusut. Penyusutan minyak ini tergantung pada jenis minyak dan waktu. Lapisan minyak
pada permukaan air dapat terdegradasi oleh mikroorganisme tertentu, tetapi membutuhkan
waktu yang lama.
Lapisan minyak di permukaan akan mengganggu mikroorganisme dalam air. Ini disebabkan
lapisan tersebut akan menghalangi diffusi oksigen dari udara ke dalam air, sehingga oksigen
terlarut akan berkurang. Juga lapisan tersebut akan menghalangi masuknya sinar matahari
ke dalam air, sehingga fotosintesapun terganggu. Selain itu, burungpun ikut terganggu,
karena bulunya jadi lengket, tidak dapat mengembang lagi akibat terkena minyak.

Bahan buangan berupa panas (polusi thermal)
Perubahan kecil pada temperatur air lingkungan bukan saja dapat menghalau ikan atau
spesies lainnya, namun juga akan mempercepat proses biologis pada tumbuhan dan hewan
bahkan akan menurunkan tingkat oksigen dalam air. Akibatnya akan terjadi kematian pada
ikan atau akan terjadi kerusakan ekosistem. Untuk itu, polusi thermal inipun harus dihindari.
Sebaiknya industri-industri jika akan membuang air buangan ke perairan harus
memperhatikan hal ini.

Bahan buangan zat kimia
Bahan buangan zat kimia banyak ragamnya, tetapi dalam bahan pencemar air ini akan
dikelompokkan menjadi :
a. Sabun (deterjen, sampo dan bahan pembersih lainnya).
b. Bahan pemberantas hama (insektisida),
c. Zat warna kimia,
d. Zat radioaktif

8.3. TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR BERSIH

PROSES PENGOLAHAN
1. Saringan Pasir Lambat Konvensional
Secara umum, proses pengolahan air bersih dengan saringan pasir lambat
konvensional terdiri atas unit proses yakni bangunan penyadap, bak penampung, saringan
pasir lambat dan bak penampung air bersih .
Unit pengolahan air dengan saringan pasir lambat merupakan suatu paket. Air baku
yang digunakan yakni air sungai atau air danau yang tingkat kekeruhannya tidak terlalu
tinggi. Jika tingkat kekeruhan air bakunya cukup tinggi misalnya pada waktu musim hujan,
maka agar supaya beban saringan pasir lambat tidak telalu besar, maka perlu dilengkapi
dengan peralatan pengolahan pendahuluan misalnya bak pengendapan awal dengan atau
tanpa koagulasi bahan dengan bahan kimia.
Umumnya disain konstruksi dirancang setelah didapat hasil dari survai lapangan baik
mengenai kuantitas maupun kualitas. Dalam gambar desain telah ditetapkan proses
pengolahan yang dibutuhkan serta tata letak tiap unit yang beroperasi. Kapasitas pengolahan
dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.
Biasanya saringan pasir lambat hanya terdiri dari sebuah bak yang terbuat dari beton,
ferosemen, bata semen atau bak fiber glass untuk menampung air dan media penyaring
pasir. Bak ini dilengkapi dengan sistem saluran bawah, inlet, outlet dan peralatan kontrol.
Untuk sistem saringan pasir lambat konvensional terdapat dua tipe saringan yakni :
Saringan pasir lambat dengan kontrol pada inlet (Gambar 1).
Saringan pasir lambat dengan kontrol pada outlet. (Gambar 2).
Kedua sistem saringan pasir lambat tersebut mengunakan sistem penyaringan dari atas ke
bawah (down Flow).
Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan
kebutuhan yang diperlukan. Biasanya saringan pasir lambat hanya terdiri dari sebuah bak
yang terbuat dari beton, ferosemen, bata semen atau bak fiber glass untuk menampung air
dan media penyaring pasir. Bak ini dilengkapi dengan sistem saluran bawah, inlet, outlet dan
peralatan kontrol.


Gambar 1 Komponen Dasar Saringan Pasir Lambat Sistem Kontrol Inlet

Keterangan :A. Kran untuk inlet air baku dan pengaturan laju penyaringan
B. Kran untuk penggelontoran air supernatant
C. Indikator laju air
D. Weir inlet
E. Kran untuk pencucian balik unggun pasir dengan air bersih
F. Kran untuk pengeluaran/pengurasan air olahan yang masih kotor
G. Kran distribusi
H. Kran penguras bak air bersih
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada sistem saringan pasir lambat antara lain yakni :
Bagian I nlet
Struktur inlet dibuat sedemikian rupa sehingga air masuk ke dalam saringan tidak
merusak atau mengaduk permukaan media pasir bagian atas. Struktur inlet ini biasanya
berbentuk segi empat dan dapat berfungsi juga untuk mengeringkan air yang berada di atas
media penyaring (pasir).
Lapisan Air di Atas media Penyaring (supernatant)
Tinggi lapisan air yang berada di atas media penyaring (supernatant) dibuat
sedemikian rupa agar dapat menghasilkan tekanan (head) sehingga dapat mendorong air
mengalir melalui unggun pasir. Di samping itu juga berfungsi agar dapat memberikan waktu
tinggal air yang akan diolah di dalam unggun pasir sesuai dengan kriteria disain.

Gambar 2 Komponen Dasa Saringan Pasir Lambat Sistem Kontrol Outlet.

Keterangan :A. Kran untuk inlet air baku
B. Kran untuk penggelontoran air supernatant
C. Kran untuk pencucian balik unggun pasir dengan air bersih
D. Kran untuk pengeluaran/pengurasan air olahan yang masih kotor
E. Kran pengatur laju penyaringan
F. Indikator laju alir
G. Weir inlet kran distribusi
H. Kran distribusi
I. Kran penguras bak air bersih
Bagian Pengeluaran (Outlet)
Bagian outlet ini selain untuk pengeluran air hasil olahan, berfungsi juga sebagai
weir untuk kontrol tinggi muka air di atas lapisan pasir.
Media Pasir (Unggun Pasir)
Media penyaring dapat dibuat dari segala jenis bahan inert(tidak larut dalam air atau
tidak bereaksi dengan bahan kimia yang ada dalam air). Media penyaring yang umum
dipakai yakni pasir silika karena mudah diperoleh, harganya cukup murah dan tidak mudah
pecah. Diameter pasir yang digunakan harus cukup halus yakni dengan ukuran 0,2-0,4 mm.
Sisten Saluran Bawah (drainage)
Sistem saluran bawah berfungsi untuk mengalirkan air olahan serta sebagai
penyangga media penyaring. Saluran ini tediri dari saluran utama dan saluran cabang,
terbuat dari pipa berlubang yang di atasnya ditutup dengan lapisan kerikil. Lapisan kerikil
ini berfungsi untuk menyangga lapisan pasir agar pasir tidak menutup lubang saluran bawah.
Ruang Pengeluaran
Ruang pengeluran terbagi menjadi dua bagian yang dipisahkan dengan sekat atau
dinding pembatas. Di atas dinding pembatas ini dapat dilengkapi dengan weir agar limpasan
air olahannya sedikit lebih tinggi dari lapisan pasir. Weir ini berfungsi untuk mencegah
timbulnya tekanan di bawah atmosfir dalam lapisan pasir serta untuk menjamin saringan
pasir beroperasi tanpa fluktuasi level pada reservoir. Dengan adanya air bebas yang jatuh
melalui weir, maka konsentrasi oksigen dalam air olahan akan bertambah besar.
Pengolahan air bersih dengan menggunakan sistem saringan pasir lambat konvensional ini
mempunyai keunggulan antara lain :
Tidak memerlukan bahan kimia, sehingga biaya operasinya sangat murah.
Dapat menghilangkan zat besi, mangan, dan warna serta kekeruhan.
Dapat menghilangkan ammonia dan polutan organik, karena proses penyaringan
berjalan secara fisika dan biokimia.
Sangat cocok untuk daerah pedesaan dan proses pengolahan sangat sederhana.
Sedangkan beberapa kelemahan dari sistem saringan pasir lambat konvensiolal tersebut
yakni antara lain :
Jika air bakunya mempunyai kekeruhan yang tinggi, beban filter menjadi besar,
sehingga sering terjadi kebutuan. Akibatnya waktu pencucian filter menjadi pendek.
Kecepatan penyaringan rendah, sehingga memerlukan ruangan yang cukup luas.
Pencucian filter dilakukan secara manual, yakni dengan cara mengeruk lapisan pasir
bagian atas dan dicuci dengan air bersih, dan setelah bersih dimasukkan lagi ke
dalam bak saringan seperti semula.
Karena tanpa bahan kimia, tidak dapat digunakan untuk menyaring air gambut.
Untuk mengatasi problem sering terjadinya kebuntuan saringan pasir lambat akibat
kekeruhan air baku yang tinggi, dapat ditanggulangi dengan cara modifikasi disain saringan
pasir lambat yakni dengan menggunakan proses saringan pasir lambat UP Flow
(penyaringan dengan aliran dari bawah ke atas).
2. Sistem Saringan Pasir Lambat Up Flow
Teknologi saringan pasir lambat yang banyak diterapkan di Indonesia biasanya
adalah saringan pasir lambat konvesional dengan arah aliran dari atas ke bawah (down
flow), sehingga jika kekeruhan air baku naik, terutama pada waktu hujan, maka sering
terjadi penyumbatan pada saringan pasir, sehingga perlu dilakukan pencucian secara manual
dengan cara mengeruk media pasirnya dan dicuci, setelah bersih dipasang lagi seperti
semula, sehingga memerlukan tenaga yang cucup banyak. Ditambah lagi dengan faktor
iklim di Indonesia yakni ada musim hujan air baku yang ada mempunyai kekeruhan yang
sangat tinggi. Hal inilah yang sering menyebabkan saringan pasir lambat yang telah
dibangun kurang berfungsi dengan baik, terutama pada musim hujan.
Jika tingkat kekeruhan air bakunya cukup tinggi misalnya pada waktu musim hujan,
maka agar supaya beban saringan pasir lambat tidak telalu besar, maka perlu dilengkapi
dengan peralatan pengolahan pendahuluan misalnya bak pengendapan awal atau saringan
Up Flow dengan media berikil atau batu pecah, dan pasir kwarsa / silika. Selanjutnya dari
bak saringan awal, air dialirkan ke bak saringan utama dengan arah aliran dari bawah ke atas
(Up Flow). Air yang keluar dari bak saringan pasir Up Flow tersebut merupakan air olahan
dan di alirkan ke bak penampung air bersih, selanjutnya didistribusikan ke konsumen
dengan cara gravitasi atau dengan memakai pompa.
Diagram proses pengolahan serta contoh rancangan konstruksi saringan pasir lambat Up
Flow ditunjukkan pada Gambar (3).

Gambar (3) : Diagram proses pengolahan air bersih dengan teknologi saringan pasir
lambat Up Flow ganda.
Dengan sistem penyaringan dari arah bawah ke atas (Up Flow), jika saringan telah
jenuh atau buntu, dapat dilakukan pencucian balik dengan cara membuka kran penguras.
Dengan adanya pengurasan ini, air bersih yang berada di atas lapisan pasir dapat berfungi
sebagai air pencuci media penyaring (back wash). Dengan demikian pencucian media
penyaring pada saringan pasir lambat Up Flow tersebut dilakukan tanpa pengeluran atau
pengerukan media penyaringnya, dan dapat dilakukan kapan saja.
Saringan pasir lambat Up Flow ini mempunyai keunggulan dalam hal pencucian media
saringan (pasir) yang mudah, serta hasilnya sama dengan saringan pasir yang konvesional.
Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan
kebutuhan yang diperlukan.
KRITERIA PERENCANAAN SARINGAN PASIR LAMBAT UP FLOW
Untuk merancang saringan pasir lambat Up Flow, beberapa kriteria perencanaan
yang harus dipenuhi antara lain :
Kekeruhan air baku lebih kecil 10 NTU. Jika lebih besar dari 10 NTU perlu
dilengkapi dengan bak pengendap dengan atau tanpa bahan kimia.
Kecepatan penyaringan antara 5 10 M
3
/M
2
/Hari.
Tinggi Lapisan Pasir 70 100 cm.
Tinggi lapisan kerikil 25 -30 cm.
Tinggi muka air di atas media pasir 90 120 cm.
Tinggi ruang bebas antara 25- 40 cm.
Diameter pasir yang digunakan kira-kira 0,2-0,4 mm
Jumlah bak penyaring minimal dua buah.
Unit pengolahan air dengan saringan pasir lambat merupakan suatu paket. Air baku yang
digunakan yakni air sungai atau air danau yang tingkat kekeruhannya tidak terlalu tinggi.
Jika tingkat kekeruhan air bakunya cukup tinggi misalnya pada waktu musim hujan, maka
agar supaya beban saringan pasir lambat tidak telalu besar, maka perlu dilengkapi dengan
peralatan pengolahan pendahuluan misalnya bak pengendapan awal atau saringan Up
Flow dengan media berikil atau batu pecah.
Secara umum, proses pengolahan air bersih dengan saringan pasir lambat Up Flow sama
dengan saringan pasir lambat Up Flow terdiri atas unit proses:
Bangunan penyadap
Bak Penampung / bak Penenang
Saringan Awal dengan sistem Up Flow
Saringan Pasir Lambat Utama Up Flow
Bak Air Bersih
Perpipaan, kran, sambungan dll.
Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan
kebutuhan yang diperlukan.

OPERASI DAN PERAWATAN
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal pengoperasian saringan pasir lambat
dengan arah aliran dari atas ke bawah antara lain yakni :
Kecepatan penyaringan harus diatur sesuai dengan kriteria perencanaan.
Jika kekeruhan air baku cukup tinggi sebaiknya kecepatan diatur sesuai dengan
kecepatan disain mimimum (5 M
3
/M
2
.Hari).
Pencucian media penyaring (pasir) pada saringan awal (pertama) sebaiknya
dilakukan minimal setelah 1 minggu operasi, sedangkan pencucian pasir pada
saringan ke dua dilakukan minimal setelah 3 4 minggu operasi.
Pencucian media pasir dilakukan dengan cara membuka kran penguras pada tiap-tiap
bak saringan, kemudian lumpur yang ada pada dasar bak dapat dibersihkan dengan
cara mengalirkan air baku sambil dibersihkan dengan sapu sehingga lumpur yang
mengendap dapat dikelurakan. Jika lupur yang ada di dalam lapisan pasir belum
bersih secara sempurna, maka pencucian dapat dilakukan dengan mengalirkan air
baku ke bak saringan pasir tersebut dari bawah ke atas dengan kecepatan yang cukup
besar sampai lapisan pasir terangkat (terfluidisasi), sehingga kotoran yang ada di
dalam lapisan pasir terangkat ke atas. Selanjutnya air yang bercampur lumpur yang
ada di atas lapisan pasir dipompa keluar sampai air yang keluar dari lapisan pasir
cukup bersih.