Anda di halaman 1dari 16

Wuchereria Bancrofti

Wuchereria bancrofti merupakan parasit manusia yang menyebabkan


filariasis bancrofti atau wuchereria bancrofti, penyakit ini tergolong ke dalam
filariasis limfatik, bersamaan dengan penyakit yang disebabkan oleh Brugia
malayi dan Brugia timori. Parasit ini tersebar luas di daerah yang beriklim tropis
diseluruh dunia. Cacing dewasa jantan dan betina hidup disaluran dan kelenjar
limfe, bentuknya halus seperti benang dan berwarna putih susu, cacing betina
berukuran 65!"" mm # ",$5 mm serta mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung
dengan ukuran $5"%"" mikron # &' mikron dan yang jantan (" mm # ",! mm.
)ikrofilaria ini hidup di dalam darah dan terdapat dialiran darah tepi pada waktu
waktu tertentu saja. jadi mempunyai periodisitas.
Pada umumnya microfilaria Wuchereria bancrofti bersifat periodisitas
nokturna, artinya mikrofilaria hanya terdapat di dalam darah tepi pada waktu
malam hari. Pada siang hari mikrofilaria terdapat di kapiler alat dalam *Paruparu,
+antung, ,injal- .i daerah Pasifik, mikrofilaria W.bancrofti mempunyai perioditas
subperiodikdiurna. )ikrofilaria terdapat di dalam darah siang dan malam, tetapi
jumlahnya lebih banyak pada waktu siang. .aur hidup wuchereria bancrofti
memerlukan waktu sangat panjang masa pertumbuhan parasit di dalam tubuh
nyamuk kirakira $ minggu dan masa pertumbuhan parasit di dalam tubuh
manusia kirakira & bulan, sama dengan masa pertumbuhan dalam Presbytis
cristata *lutung-. .i daerah perkotaan parasit ini ditularkan oleh nyamuk Cule#
/uinguefasciatus, di pedesaan 0ektor penularannya berupa nyamuk 1nopheles
atau nyamuk 1edes.
Brugia malayi
Brugia malayi dapat dibagi dalam dua 0arian yaitu yang hidup pada
manusia dan yang hidup manusia dan hewan misalnya kucing, kera. Penyakit
yang disebabkan oleh Brugia malayi disebut dengan 2ilariasis malayi .Brugia
malayi hanya terdapat di 1sia, dari 3ndia sampai ke +epang. Cacing dewasa jantan
dan betina hidup di saluran dan pembuluh limfe, bentuknya halus seperti benang
dan berwarna putih susu. Cacing betina berukuran 55 mm# ",!6 mm dan
mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung ukuran microfilaria Brugia malayi
adalah $""$6" mikron # ' mikron dan yang jantan berukuran $$$% mm # ","4
mm.
Perioditasi mikrofilaria Brugia malayi adalah periodik nokturna, sub
periodik nokturna, atau nan periodik mikrofilaria terdapat dalam darah tepi siang
dan malam, tetapi jumlahnya lebih banyak pada waktu malam hari. .aur hidup di
dalam nyamuk kurang dari !" hari dan pada manusia kurang dari % bulan
mengalami dua kali pergantian kulit berkembang dari lar0a stadium 3 menjadi
lar0a stadium 33 dan 333. .i dalam tubuh nyamuk parasit ini Brugia malayi yang
hidup pada manusia di tularkan oleh nyamuk 1nopheles barbirostris dan yang
hidup pada hewan di tularkan nyamuk )ansonia.

Brugia timori
Brugia timori hanya terdapat pada manusia. Penyakit yang di sebabkan
oleh Brugia timori di sebut 2ilariasis timori. Brugia timori hanya terdapat di
3ndonesia 5imur di pulau 5imor, 2lores, 6ote, 1lor dan beberapa pulau kecil di
7usa 5engara 5imur. Cacing dewasa betina dan jantan hidup di saluran dan
pembuluh limfe. Bentuknya halus seperti benang dan berwarna putih susu, cacing
betina berukuran $!%4 mm # ",! mm dan yang jantan !%$% mm # ","' mm,
cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung dan ukuran mikrofilaria
Brugia timori adalah $'"%!" mikron # & mikron. Perioditas mikrofilaria Brugia
timori adalah periodik nokturna. .aur hidup di dalam nyamuk kurang dari !" hari
dan pada manusia kurang dari % bulan, Brugia timori yang hidup pada manusia
ditularkan oleh nyamuk 1nopheles barbirotis.
Morfologi Cacing Filaria
8ecara umum daur hidup ketiga spesies cacing tersebut tidak berbeda.
.aur hidup parasit terjadi didalam tubuh manusia dan tubuh nyamuk. Cacing
dewasa *disebut makrofilaria- hidup di saluran dan kelenjar limfe, sedangkan
anaknya *disebut mikrofilaria- ada di dalam sistem peredaran darah.
!. )akrofilaria
)akrofilaria *cacing dewasa- berbentuk silindris, halus seperti benang
berwarna putih susu dan hidup sistem limfe. Cacing betina bersifat o0o0i0ipar dan
berukuran 55!"" mm # ",!6 mm, dapat menghasilkan jutaan mikrofilaria. Cacing
jantan berukuran lebih kecil 9 55 mm # ","4 mm dengan ujung ekor melingkar.
$. )ikrofilaria
Cacing dewasa betina setelah mengalami fertilisasi mengeluarkan jutaan
anak cacing yang di sebut mikrofilaria. :kuran mikrofilaria $""6"" ;m # ';m
dan mempunyai sarung. 8ecara mikrokopis morfologi spesies mikrofilaria dapat
di bedakan berdasarkan ukuran ruang kepala serta warna sarung pada pewarnaan
giemsa, susunan inti badan, jumlah dan letak inti pada ujung ekor.
Jenis Mikrofilaria Yang Terdapat Di Indonesia Dalam Sediaan Darah
e!arnaan "iemsa
#o $arakteristik W%Brancofti B%Malayi B%Timori
!
,ambaran umum
dalam sediaan darah
)elengkung
mulus
)elengkung
kaku dan patah
)elengkung
kaku dan patah
$
Perbandingan lebar dan
panjang ruang kepala
!<! !<$ !<%
% Warna sarung
5idak
berwarna
)erah muda 5idak berwarna
( :kuran panjang *=m- $("%"" !&5$%" $65%$5
5 3nti badan
>alus tersusun
rapi
?asar
berkelompok
?asar
berkelompok
6
+umlah inti di ujung
ekor
" $ $
& ,ambaran ujung ekor
8eperti pita ke
arah ujung
:jung agak
tumpul
:jung agak
tumpul
&ar'a Dalam Tu(uh #yamuk
Pada saat nyamuk menghisap darah manusia@hewan yang mengandung
mikrofilaria, maka mikrofilaria akan terbawa masuk ke dalam lambung nyamuk
dan melespaskan selubungnya, kemudian menembus dinding lambung dan
bergerak menuju otot atau jaringan lemak di bagian dada. 8etelah 9 % hari
mikrofilaria mengalami perubahan bentuk menjadi lar0a stadium ! *A!-
bentuknya seperti sosis berukuran !$5$5" ;m # !"!& ;m dengan ekor runcing
seperti cambuk. 8etelah 9 6 hari lar0a tumbuh menjadi lar0a stadium $ *A$-
disebut lar0a preinfektif yang berukuran $""%""" ;m # !5%" ;m dengan ekor
yang tumpul atau memendek. Pada stadium $ ini lar0a menunjukkan adanya
gerakan. >ari ke '!" pada spesies Brugia atau pada hari ke !"!( pada spesies
Wuchereria lar0a tumbuh menjadi lar0a stadium % *A%- yang berukuran 9 !(""
;m # $" ;m Aar0a stadium A% tampak panjang dan ramping di sertai dengan
gerakan yang aktif stadium % ini merupakan cacing infektif.
atogenesis Filariasis
Perkembangan klinis filariasis dipengaruhi oleh faktor kerentanan indi0idu
terhadap parasit, seringnya mendapat gigitan nyamuk, banyaknya lar0a infektif
yang masuk ke dalam tubuh dan adanya infeksi sekunder oleh bakteri atau jamur.
8ecara umum pekembangan klinis filariasis dapat dibagi menjadi fase dini dan
fase lanjut. Pada fase dini timbul gejala klinis akut karena infeksi cacing dewasa
bersamasama dengan infeksi oleh bakteri dan jamur. Pada fase lanjut terjadi
kerusakan saluran kelenjar limfe, kerusakan katup saluran limfe, termasuk
kerusakan saluran limfe kecil yang terdapat di kulit. Pada dasarnya perkembangan
klinis filariasis tersebut disebabkan karena cacing filaria dewasa yang tinggal
dalam saluran limfe menimbulkan pelebaran *dilatasi- saluran limfe bukan
penyumbatan *obstruksi- sehingga terjadi gangguan fungsi sistem limfatik <
!. Penimbunan cairan limfe menyebabkan aliran limfe menjadi lambat dan
tekanan hidrostatiknya meningkat, sehingga cairan limfe masuk ke
jaringan menimbulkan edema jaringan. 1danya edema jaringan akan
meningkatkan keretanan kulit terhadap infeksi bakteri dan jamur yang
masuk melalui lukaluka kecil maupun besar. keadaan ini dapat
menimbulkan peradangan akut *acute attack-
$. 5erganggunya pengangkutan bakteri dari kulit atau jaringan melalui
saluran limfe ke kelenjar limfe. 1kibatnya bakteri tidak dapat dihancurkan
*fagositosis- oleh sel 6eticulo Bndothelial 8ystem *6B8- bahkan mudah
berkembang biak dapat menimbulkan peradangan akut *acute attack-.
%. 3nfeksi bakteri berulang akan menyebabkan serangan akut berulang
*recurrent acute attack- sehingga menimbulkan berbagai gejala klinis
sebagai berikut <
a. ,ejala peradangan lokal berupa peradangan oleh cacing dewasa
bersamasama dengan bakteri Caitu <
!. Aimfangitis < peradangan di saluran limfe
$. Aimfadenitis < peradangan di kelenjar limfe
%. 1deno limfangitis *1.A- < peradangan saluran dan kelenjar limfe
(. 1bses *lanjutan 1.A-
5. Peradangan oleh spesies Wuchereria bancrofti di daerah genital
*alat kelamin- dapat menimbulkan epididimitis, funikulitis, dan
orkitis
b. ,ejala peradangan umum berupa demam, sakit kepala, sakit otot, rasa
lemah.
(. ?erusakan sistem limfatik termasuk kerusakan saluran limfa kecil yang
ada di kulit, menyebabkan menurunnya kemampuan untuk mengalirkan
cairan limfe dari kulit dan jaringan ke kelenjar limfe sehingga dapat terjadi
limfedema.
5. Pada penderita limfedema serangan akut berulang oleh bakteri atau jamur
akan menyebabkan penebalan dan pengerasan kulit, hiperpigmentasi,
hiperkeratosis dan peningkatan pembentukan jaringan ikat *fibrose tissue
formation- sehingga terjadi peningkatan stadium limfedema dimana
pembengkakan yang semula terjadi hilang timbul *piting- akan menjadi
pembengkakan menetap *non piting-.
"e)ala $linis Filariasis
,ejala klinis filariasis terdiri dari gejala klinis akut dan kronis. Pada
kronisnya gejala klinis filariasis yang disebabkan oleh infeksi W.Barofti, B.malayi
dan B.5imori adalah sama, tetapi gejala klinis akut tampak lebih jelas dan lebih
berat pada infeksi oleh B.malayi, B.timori. 3nfeksi W.bancrofti dapat
menyebabkan kelainan pada saluran kemih dan alat kelamin, tetapi infeksi oleh
B.malayi, B,timori tidak menimbulkan kelainan pada saluran kemih dan alat
kelamin.
*% "e)ala $linis +kut
,ejala klinis akut berupa limfadenitis, limfangitis, adenolimfangitis yang
disertai demam, sakit kepala, rasa lemah dan timbulnya abses. 1bses dapat pecah
dan kemudian mengalami penyembuhan dengan meninggalkan parut, terutama di
daerah lipat paha dan ketiak. Parut lebih sering terjadi pada infeksi B.malayi,
B.timori dibandingkan karena infeksi W.bancrofti, demikian juga dengan
timbulnya limfangitis dan limfadenitis tetapi sebaliknya pada infeksi W.bancrofti
sering terjadi peradangan buah pelir *orkitis-, peradangan epididimus
*epididimitis- dan peradangan funikulus spermatikus *funikulitis-.
,% "e)ala klinis $ronis
,ejala klinis kronis terdiri dari limfedama, lymp scrotum, kiluria, hidrokel
a. Aimfedema
Pada infeksi W.bancrofti terjadi pembengkakan seluruh kaki, seluruh
lengan, skrotum, penis, 0ul0a 0agina dan payudara, sedangkan pada infeksi
Brugia terjadi pembengkakan kaki dibawah lutut, lengan dibawah siku dimana
siku dan lutut masih normal.
b. Aymph 8crotum
1dalah pelebaran saluran limfe superfisial pada kulit scrotum, kadang
kadang pada kulit penis, sehingga saluran limfe tersebut mudah pecah dan
cairan limfe mengalir keluar dan membasahi pakaian. .itemukan juga lepuh
*0esicles- besar dan kecil pada kulit, yang dapat pecah dan membasahi
pakaian. 3ni mempunyai resiko tinggi terjadinya infeksi ulang oleh bakteri dan
jamur, serangan akut berulang dan dapat berkembang menjadi limfeda
skrotum. :kuran skrotum kadangkadang normal kadangkadang sangat besar
c. ?iluria
1dalah kebocoran atau pecahnya saluran limfe dan pembuluh darah di
ginjal *pel0is renal- oleh cacing filaria dewasa spesies W.bacrofti sehingga
cairan limfe dan darah masuk ke dalam saluran kemih. ,ejala yang timbul
adalah sebagai berikut<
!. 1ir kencing seperti susu karena air kencing banyak mengandung
lemak, dan kadangkadang disertai *haematuria-
$. 8ukar kencing
%. ?elelahan tubuh
(. ?ehilangan berat badan
d. >ydrocele
1dalah pelebaran kantung buah Dakar karena tertumpuknya cairan
limfe di dalam tunica 0aginalis testis. >ydrocele dapat terjadi pada satu atau
dua kantung buah Dakar dengan gambaran klinis dan epidemiologis sebagai
berikut<
!. :kuran skrotum kadangkadang normal tetapi kadangkadang sangat
besar sekali, sehingga penis tertarik dan tersembunyi.
$. ?ulit pada skrotum normal, lunak dan halus
%. ?adangkadang akumulasi cairan limfe di sertai dengan komplikasi
yaitu komplikasi dengan Chyle *Chylocele-, darah *>aematocele- atau
nanah *Pyocele-. :ji transiluminasi dapat digunakan untuk
membedakan hidrokel dengan komplikasi dan hidrokel tanpa
komplikasi. :ji transiluminasi ini dapat di kerjakan oleh dokter
puskesmas yang telah di latih.
>ydrocele banyak ditemukan di daerah endemis W.bancrofti dan
digunakan sebagai indikator adanya infeksi W,bancrofti.
Diagnosis Filariasis
!. .iagnosis Parasitologi
a. .eteksi parasit yaitu menemukan mikrofilaria di dalam darah, cairan
hidrokel atau cairan kiluria pada pemeriksaan sediaan darah tebal dan
teknik konsetrasi ?nott, membran filtrasi.Pengambilan darah harus
dilakukan pada malam hari *setelah pukul $"."" wib- mengingat
periodiditas microfilaria umumnya nokturna. Pada pemeriksaan
hispatologi kadangkadang potongan cacing dewasa dapat ditemukan di
saluran dan kelenjar limfe dari jaringan yang dicurigai sebagai tumor.
b. 5eknik biologi molekuler dapat digunakan untuk medeteksi parasit melalui
.71 parasit dengan menggunakan reaksi rantai polimerase *Polymerase
Chain Reaction/PCR-. 5eknik ini mampu memperbanyak .71 sehingga
dapat digunakan untuk mendeteksi parasit pada cryptic infection.
$. 6adiodiagnosis
a. Pemeriksaan dengan ultrasonografi *:8,- pada skrotum dan kelenjar getah
bening inguinal pasien akan memberikan gambaran cacing yang bergerak
gerak. 3ni berguna terutama untuk e0aluasi hasil pengobatan. Pemeriksaan
ini hanya dapat digunakan infeksi filaria oleh W.bancrofti.
b. Pemeriksaan Aimfosintigrafi dengan menggunakan dekstran atau albumin
yang ditandai dengan Dat radioaktif menunjukan adanya abnormalitas
sistem limfatik sekalipun pada penderita yang asimptomatik
mikrofilaremia.
%. .iagnosis 3munologi
.eteksi antigen dengan immuno chromatographic test *3C5- yang
menggunakan antibody monoklonal telah dikembangkan untuk mendeteksi
antigen W.bancrofti dalam sirkulasi darah. >asil tes positif menunjukkan adanya
infeksi aktif walaupun mikrofilaria tidak ditemukan dalam darah. .eteksi antibodi
dengan menggunakan antigen rekombinan telah dikembangkan untuk deteksi
antibodi subklas 3g,( pada filariasis Brugia. ?adar antibodi 3g,( meningkat pada
penderita mikrofilaremia. .eteksi antibodi tidak dapat membedakan infeksi
lampau dan infeksi aktif. Pada stadium obstruktif mikrofilaria sering tidak
ditemukan lagi dalam darah kadangkadang microfilaria tidak dijumpai di dalam
darah tetapi ada di dalam cairan hidrokel atau cairan kiluria.
enentuan Stadium &imfedema
Aimfedema terbagi dalam & stadium atas dasar hilang tidaknya bengkak,
ada tidaknya lipatan kulit, ada tidaknya nodul *benjolan-, mossy foot *gambaran
seperti lumut- serta adanya hambatan dalm melaksanakan akti0itas seharihari.
Penentuan stadium ini penting bagi petugas kesehatan untuk memberikan
perawatan dan penyuluhan yang tepat kepada penderita. Penentuan stadium
limfedema mengikuti kriteria sebagai berikut <
!. Penentuan stadium limfedema terpisah antara anggota tubuh bagian kiri
dan kanan, lengan dan tungkai.
$. Penentuan stadium limfedema lengan *atas, bawah- atau tungkai *atas,
bawah- dalam satu sisi dibuat dalam satu stadium lumfedema.
%. Penentuan stadium limfedema berpihak pada tanda stadium yang terberat.
(. Penentuan stadium limfedema dibuat %" hari setelah serangan akut
sembuh.
5. Penentuan stadium limfedema dibuat sebelum dan sesudah pengobatan dan
penatalaksanaan kasus.
Stadium &imfedema-Tanda $e)adian Bengkak. &ipatan Dan Ben)olan ada
enderita $ronis Filariasis
"e)ala
Stadium
*
Stadium
,
Stadium
/
Stadium
0
Stadium
1
Stadium
2
Stadium
3
Bengkak di
kaki
)enghila
ng waktu
bangun
tidur pagi
)enetap )enetap )enetap )enetap,
meluas
)enetap,
meluas
)enetap,
meluas
Aipatan 5idak ada 5idak ada .angkal .angkal .alam, .angkal, .angkal,
kulit kadang
dangkal
dalam dalam
7odul 5idak ada 5idak ada 5idak ada 5idak ada 5idak ada 1da ?adang
kadang
)ossy
lesion
5idak ada 5idak ada 5idak ada 5idak ada 5idak ada 1da ?adang
kadang
>ambatan
berat
5idak 5idak 5idak 5idak 5idak 5idak 1da
4#"5B+T+#
era!atan umum 6
3stirahat ditempat tidur, pindah tempat ketempat yang dingin akan
mengurangi derajat serangan akut
1ntibiotik dapat diberikan untuk infeksi sekunder dan abses
Pengikatan di daerah pembendungan akan mengurangi edema
engo(atan spesifik 6
!. Pengobatan infeksi
2okus pengobatan yang terbukti efektif adalah pengobatan di komunitas.
>al ini dilakukan melalu penurunan angka mikrofilaremia dengan pemberian
dosis satu kali pertahun. Pengobatan perorangan ditujukan untuk menghancurkan
parasit dan mengeleminasi, mengurangi, atau mencegah kesakitan. >ingga saat ini
W>E menetapkan dietilcarbamaDine *.BC- sebagai obat satusatunya yang
efektif, aman, dan relatif murah. Pemberian dilakukan dengan pemberian .BC 6
mg@kgBB@hari selama !$ hari. Pengobatan ini dapat diulang ! hingga 6 bulan
kemudian bila perlu, atau .BC selama $ hari per bulan * 6' mg@kgBB@hari-.
Ebat lain yang dapat digunakan adalah 30ermektin. 7amun obat ini tidak
dapat membunuh cacing dewasa * nonmakrofilarisidal-, sehingga terapi tersebut
tidak dapat menyembuhkan secara keseluruhan. 1lbendaDole bersifat
makrofilarisidal untuk W. bancrofti dengan pemberian setiap hari selama $%
minggu. 7amun dikatakan obat ini belum optimal. +adi untuk mengobati indi0idu,
.BC masih digunakan.
Bfek samping .BC dibagi dalam $ jenis. Cang pertama bersifat
farmakologis, tergantung dosisnya, angka kejadian sama baik pada yang terinfeksi
filariasis maupun tidak. Cang kedua adalah respon dari hospes yang terinfeksi
terhadap kematian parasit, sifatnya tidak tergantung pada dosis obatnya tapi pada
jumlah parasit dalam tubuh hospes.
1da $ jenis reaksi < !- 6eaksi sistemik dangan atau tanpa demam, berupa
sakit kepala, sakit pada berbagai bagian tubuh, sendisendi, pusing, anoreksia,
lemah, hematuria transien, reaksi alergi, muntah, dan serangan asma. 6eaksi ini
terjadi karena kematian filaria dengan cepat dapat menginduksi banyak antigen
sehingga merangsang system imun dan dengan demikian menginduksi berbagai
reaksi. 6eaksi ini terjadi beberapa jam setelah pemberian .BC dan berlangsung
tidak lebih dari % hari. .emam dan reaksi sistemik jarang terjadi dan tidak terlalu
hebat pada dosis kedua dan seharusnya. 6eaksi ini akan hilang dengan sendirinya.
$-. 6eaksi lokal dengan atau tanpa demam, berupa limfadenitis, abses, ulserasi,
transien limfedema, hidrokel, funikulitis, dan epididymitis. 6eaksi ini cenderung
terjadi kemudian dan berlangsung lebih lama sampai beberapa bulan, tetapi akan
menghilang dengan spontan.
6eaksi lokal cenderung terjadi pada pasien dengan riwayat
adenolimfangitis, berhubungan dengan keberadaan cacing dewasa atau lar0a
stadium 3F dalam tubuh hopses. Bfek samping pada pemberian i0ermektin,
patogenesisnya dama dengan pada pemberian .BC hanya lebih ringan pada
penderita filariasis malayi dibandingkan filariasis bankrofti.
$. Pengobatan penyakit
encegahan 6
!. Pencegahan masal
Barubaru ini, khususnya dengan dikenalnya pengobatan dosis tunggal,
sekali pertahun, $ regimen obat *albendaDol ("" mg dengan i0ermectin $""
mg@kgBB cukup efektif. >al ini merupakan pendekatan alternatif dalam
menurunkan jumlah mikrofilaria dalam populasi.
Pada pengobatan masal *program pengendalian filariasis- pemebrian .BC
dosis standar tidak dianjurkan lagi mengingat efek sampingnya. :ntuk itu .BC
diberikan dengan dosis lebih rendah 6 mg@kgBB, dengan jangka waktu pemberian
yang lebih lama untuk mencapai dosis total yang sama misalnya dalam bentuk
garam .BC ",$",(G selama 4!$ bulan. 1tau pemberian obat dilakukan
seminggu sekali, atau dosis tunggal setiap 6 bulan atau ! tahun. Pencegahan
dengan 0ektor ini dengan cara memberantas 0ektor nyamuk dan menyingkirkan
tanaman pistia stratiotes dengan 2eno#oilen %" gram merupakan obat murah dan
memuaskan terhadap tumbuhan air ini.
$. Pencegahan indi0idu
?ontak dengan nyamuk terinfeksi dapat dikurangi melalui penggunaan
obat oles anti nyamuk, kelambu, atau insektisida.
%. 8trategi W>E untuk membasmi filariasis limfatik
)emiliki $ komponen < !-. )enghentikan penyebaran infeksi *contoh
iterupsi transmisi-. :ntuk interupsi transmisi daerah endemic filarial harus
diketahui, kemudian pengobatan masal diterapkan untuk mengobati populasi
beresiko. .ibanyak negara, program dilakukan dengan pemberian dosis tunggal $
obat bersamaan ! kali per tahun. Ebat yang diberikan adalah albendaDole dan
.BC atau i0ermektin. .osis ini harus diberikan selama (6 tahun. 1lternatf lain
dengan penggunaan garam terfortifikasi dengan .BC selama ! tahun. $-.
)eringankan beban penderita *contoh kontrol morbiditas-. .iperluakan edukasi
untuk meningkatkan kewaspadaan pada pasien yang mengalami infeksi. .engan
edukasi diharapkan pasien akan meningkatkan hygiene lokal sehingga mencegah
episode inflamasi akut.