Anda di halaman 1dari 7

Belajar dari Lima Kunci Sukses Pengembangan Pendidikan Kejuruan di Republik

Federal Jerman


Mujur Sahata E S Matondang, S.Pd.,M.Si


Pendahuluan
Berbicara masalah Pendidikan Kejuruan adalah suatu Topik yang menarik untuk
dibahas dalam suatu kerangka Sistem Pendidikan. Sejatinya sistem pendidikan
merupakan suatu tolak ukur Pembangunan suatu bangsa. Sistem Pendidikan yang
baik akan menghasilkan mutu Pendidikan yang baik pula. Mutu Pendidikan dapat
dinilai dari kualitas produk pendidikan itu sendiri yaitu Sumberdaya manusia.
Sumberdaya manusia yang berkualitas inilah yang menjadi salah satu modal penting
dari kemajuan pembangunan suatu Bangsa. Human Capital sering diistilahkan
dalam konteks Pembangunan. Dan memang tidak dapat dipungkiri sekaya apapun
suatu Negara dengan modal sumberdaya alamnya tanpa ada sumberdaya manusia
yang berkualitas untuk mengelola dan mengembangkannya mustahil Negara
tersebut dapat maju. Apalagi pengelolaan dan pengembangan sumberdaya alam
tersebut harus menggunakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). IPTEK
sebagai salah satu modal Pembangunan hanya dapat digunakan jika sumberdaya
manusianya mempunyai kualitas yang baik (Nachrowi, 2001).
Dalam Sistem Pendidikan Nasional Indonesia , Pendidikan Kejuruan merupakan
salah satu jenis pendidikan yang dilaksanakan (Pasal 15 UUSPN No.20/Tahun 2003).
Pendidikan kejuruan ini sebenarnya memiliki peran penting dalam memenuhi
kebutuhan tenaga kerja yang terampil dan mandiri. Pendidikan kejuruan selayaknya
menitikberatkan pembelajaran berbasis kerja, sesuai dengan yang diharapkan oleh
dunia usaha dan dunia industry. Akan tetapi kenyataannya bahwa Pendidikan
Kejuruan yang selama ini dilaksanakan mempunyai disparitas yang sangat
mencolok antara kemampuan yang diharapkan dunia kerja dengan lulusan yang
dihasilkan dunia pendidikan khususnya pendidikan kejuruan.
Salah satu sisi pendidikan kejuruan Jerman
Pada kesempatan yang diperoleh penulis mengikuti Program Pelatihan selama satu
tahun di Jerman, ada beberapa hal menarik yang dapat dipelajari pada sistem
pendidikan yang diterapkan disana, khususnya pendidikan kejuruan
(Berufsbildung). Sistem Pendidikan kejuruan yang dilaksanakan di Republik Federal
Jerman sangat baik. Diakui bahwa pendidikan merupakan kewajiban bersama dari
semua pihak, khususnya antara Pemerintah dan Dunia Usaha dan Industri. Siswa-
siswa di Jerman sangat menikmati belajar dengan mengalami dua pengalaman yang
saling mendukung yaitu belajar dan bekerja. Setiap siswa dari Pendidikan Kejuruan
sudah mengerti dengan apa yang dia pelajari dan bagaimana penerapannya di
dunia kerja. Apa yang dipelajari di sekolah merupakan kondisi aktual yang ada di
Industri atau usaha. Penuhnya perhatian daripada Industri untuk meningkatkan
kualitas daripada lulusan pendidikan kejuruan merupakan salah satu faktor
keberhasilan pendidikan mereka. Pendidikan bagi mereka adalah berorientasi pada
kerja. Sehingga tanggungjawab pembentukan kualitas lulusan merupakan
tanggungjawab bersama. Secara eksplisit tidak pernah ada Undang-Undang atau
aturan yang mewajibkan Dunia Industri/usaha untuk memperhatikan pendidikan
itu. Akan tetapi mereka merasa bertanggungjawab, karena memang mereka
membutuhkan kualitas tenaga kerja yang baik yang dihasilkan oleh pendidikan
untuk mendukung proses produksi dan pengembangan mereka.
Suatu ketika dalam sebuah perkuliahan di Universitas Magdeburg pernah terlontar
pertanyaan dalam suatu diskusi, Mengapa Dunia Industri/Dunia Usaha
memberikan perhatian penuh pada Pendidikan Kejuruan mereka, sedangkan tidak
ada satu aturanpun yang mewajibkan dunia Industri/usaha menopang atau ikut
berperan serta di bidang pendidikan ? Satu jawaban yang sangat sederhana akan
tetapi mempunyai makna sangat dalam, yaitu : mereka bangga mempunyai
kualitas. Artinya ketika mereka berperan serta dalam pendidikan mereka bisa
menjaga dan mengembangkan kualitas Produk/Jasa mereka.
Dari situasi tersebut jelas terlihat sistem pendidikan mereka telah ditata dan
dikembangkan sedemikian rupa. Terbukti untuk pendidikan kejuruan mereka
memiliki suatu badan yang bertugas memikirkan dan mengembangkan terus
pendidikan mereka. Badan ini disebut Bundesinstitut fr Berufsbildung (BiBB) atau
Federal Institut for Vocational Education and Training. Tugas Pokok mereka adalah :
1) Forschen (Penelitian), dimaksudkan untuk mendapatkan hal-hal baru yang
baru dan bermanfaat bagi pengembangan pendidikan
2) Beraten (Konsultasi), mereka bertugas memberikan saran dan ide bagi
pengembangan pendidikan kejuruan. Tidak hanya bagi kebutuhan
pendidikan Jerman, akan tetapi juga memberikan konsultasi bagi negara-
negara yang mau dan membutuhkan bantuan pengembangan pendidikan
kejuruan.
3) Zukunft gestalten (pembentukan/penyiapan masa depan), artinya melalui
usaha mereka telah memikirkan yang terbaik bagi masa depan pendidikan
kejuruan mereka, dan berhubungan dengan sistem, lulusan, kerjasama, dan
yang lainnya demi satu tujuan yaitu kemajuan teknologi yang berdampak
pada keberhasilan pembangunan dengan cerminan perekenomian yang
kuat.

Lima kunci keberhasilan pendidikan kejuruan Jerman

Dalam melaksanakan pengembangan pendidikan kejuruan mereka mempunyai lima
kunci sukses, The succes of German vocational education and training is based on
five characteristics wich also represent added value for development of VET system
in others countries yaitu :
1. Cooperation of government and industry
Bersama-sama antara Pemerintah dan Industri menyusun dan mendesain
kerangka pendidikan kejuruan dan demikian juga pelatihan. Kerjasama
dapat mencakup pembiayaan dan pengembangan kurikulum dan
implementasinya, serta bersama-sama melaksanakan assessment proses
dan lulusan pendidikan kejuruan itu. Demikian juga dilakukan sebuah
kesepakatan tentang sertifikasi kompetensi yang mencerminkan harapan
kualitas lulusan dengan tuntutan kompetensi sesuai standar yang berlaku di
Industri
2. Learning within the work process,
Tujuan dari pendidikan kejuruan Negara Republik Federal Jerman adalah
menciptakan kemampuan kerja para lulusannya yang adaptif dengan dunia
industri yang mereka miliki. Oleh karenanya pendidikan berorientasi kerja
mengharuskan para siswa/peserta (Teilnehmer) suatu kegiatan pendidikan
atau pelatihan kejuruan belajar di dua tempat pembelajaran yaitu di sekolah
dan di industry. Kombinasi pembelajaran tersebut sudah didesain
sedemikian rupa sehingga sinergitas antara pembelajaran di sekolah dengan
pembelajaran di industry sangat baik.
3. Acceptante of national standards
Penerapan standar nasional, merupakan salah satu kunci system pendidikan
kejuruan. Kualitas daripada pendidikan itu sendiri dijamin dengan
diterapkannya standar-standar pendidikan dan dipatuhi sebagai acuan
proses. Untuk memenuhi kualifikasi standar lulusan yang akan memasuki
pasar kerja, mereka juga menerapkan standar assessment yang benar-benar
ketat. Sehingga kualifikasi tersebut para lulusan dapat memenuhi tuntutan
persyaratan penerimaan tenaga kerja dengan mobilitas yang tinggi dan
penerimaan masyarakat yang baik. Rekruitmen tenaga kerja menjadi sangat
mudah dengan tersedianya tenaga kerja dengan kualifikasi yang baik. Dan
kemudahan dalam melanjutkan adaptasi dengan pengembangan pendidikan
berikutnya untuk memperbaiki kompetensi atau kualifikasi yang lebih tinggi
lagi.
4. Qualified vocational education and training staff
Kualifikasi tenaga pendidikan kejuruan adalah salah satu pondasi untuk
kualitas. Para tenaga pendidik kejuruan harus menguasai dan memahami
konsep Pedagogik Kejuruan (Berufspdagogik). Dengan memahami dari
konsep Pedagogik Kejuruan para Guru (tenaga kependidikan kejuruan)
mampu mendesain strategi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dunia
kerja. Menarik bahwa Pedagogik (Berufspdagogik) bukan hanya suatu
konsep yang dimiliki oleh dunia pendidikan, akan tetapi tetapi dunia
industry juga senantiasa menggunakan dan mengembangkan konsep
Pedagogik. Sehingga para peserta diklat atau siswa yang mengadakan
magang dan atau praktikum di suatu industry tetap dikendalikan dengan
konsep Pedagogik yang benar sesuai dengan semangat dan jiwa dari suatu
jenis pekerjaan. Itu menandakan bahwa industry atau dunia usaha tidak
hanya sekedar mengejar keuntungan ekonomi (profit) akan tetapi juga terus
menanamkan modal untuk pengembangan pendidikan kejuruan. Dalam
pandangan mereka pendidikan atau pelatihan yang mereka sediakan adalah
modal yang penting untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dari produk
yang mereka hasilkan.
5. Institutionalized research and career guidance
Kunci yang berikutnya adalah tersedianya instistusi Penelitian Pendidikan
Kejuruan (Berufsbildung) dan Konsultasi Karir. Mereka berfungsi untuk terus
melakukan penelitian yang berguna bagi pengembangan pendidikan
kejuruan dan pasar kerja. Penelitian melibatkan Pemerintah, pelaku
Ekonomi (dalam hal ini dunia usaha dan Industri) dan elemen sosial lainnya.
Hasilnya mendorong pendidikan kejuruan tersebut untuk mengetahui apa
yang sedang berkembang di dunia industri, dan bagaimana kebutuhan dunia
industri atau dunia usaha terhadap kompetensi lulusan pendidikan kejuruan
dapat secara dini diidentifikasi. Sehingga pendidikan kejuruan yang
melibatkan sekolah dan industri juga dapat menerapkan strategi nyata
dalam proses pembelajaran (Lernprozess). Hasilnya juga digunakan untuk
mengembangkan konsep-konsep pembelajaran baru (Lernkonzepte).
Konsultasi karir dimaksudkan sebagai bagian dukungan layanan konsultasi
informasi pasar kerja , hal ini juga dimaksudkan sebagai bagian
pengembangan pendidikan kejuruan.
Refleksi
Berdasarkan lima kunci sukses pendidikan kejuruan di Jerman ada beberapa hal
dari sekian banyak pengalaman mengenai pendidikan kejuruan disana, yaitu :
1. Keperdulian industri untuk ikut mengembangkan kualitas pendidikan
kejuruan merupakan hal yang sangat patut dicontoh. Sekalipun tanpa aturan
wajib dari pemerintah, akan tetapi industri merasa bertanggungjawab akan
kualitas pendidikan mereka. Alasan yang sangat sederhana akan tetapi
sangat penting yang mereka lontarkan adalah : mereka bangga mempunyai
kualitas. Demikiankah sudah sikap dari para kalangan Dunia Industri/Usaha
yang ada di Indonesia untuk ikut berperan meningkatkan kualitas
pendidikan khususnya pendidikan kejuruan? Sepertinya jawaban untuk
pertanyaan ini masih sangat jauh dari kenyataan. Menurut hemat penulis
masih sedikit Dunia Industri yang perduli dengan pendidikan. Orientasi
bisnis dengan pendekatan ekonomi membentuk dikotomi antara Dunia
Usaha/Industri dengan Dunia Pendidikan. Kecenderungan pemikiran bahwa
dunia pendidikan yang dilibatkan dalam Dunia Industri seperti magang atau
praktikum hanya membebani saja. Sekalipun terjadi kerjasama antara dunia
usaha/industri belum mempunyai konsep yang jelas. Anggapan bahwa
peserta praktikum atau magang di industri hanya sebagai tenaga kerja tanpa
konsep pembimbingan pembelajaran berbasis kerja belum ada. Sehingga
begitu pentingnya dunia usaha dan industri mengerti konsep Pedagogik
khususnya kejuruan (Berufspdagogik). Sehingga para siswa kejuruan yang
mengadakan magang atau praktikum dapat terarah melaksanakan
pembelajaran di Industri/Usaha.
Sesungguhnya bahwa daya saing industri itu sendiri adalah terletak pada
sumberdaya manusia yang menguasai pengetahuan dan teknologi
(Hartarto,2004) inilah salah satu alasan industri Jerman sangat peduli
dengan pendidikan. Dalam artian mereka sendiri telah mempersiapkan
tenaga-tenaga terampil untuk bekerja di Perusahaan mereka.
2. Perlunya suatu Institusi yang dapat melaksanakan dan bertanggungjawab
melakukan penelitian dan pengembangan pendidikan kejuruan tersebut
seperti Bundesinstitut fr Berufsbildung (BiBB) atau Federal Institut for
Vocational Education and Training.
3. Sekali lagi bahwa Industri dan dunia usaha mempunyai peran penting dalam
pengembangan pendidikan kejuruan di Indonesia. Tinggal sekarang
bagaimanakah merubah pola pikir mereka. Dan bagaimana upaya
pemerintah untuk mewujudkannya. Secara kebijakan sebenarnya
pemerintah punya kekuatan, akan tetapi sepertinya belum dilakukan usaha
intensif. Sehingga gaung sekolah kejuruan sebagai salah satu penopang
pembangunan belum terlampau diminati oleh peserta didik.


Literatur
Hartarto, Airlangga.,2004. Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia. Penerbit
Andi. Yogyakarta.
Nachrowi, D. Nachrowi., 2001. Analisis Sumber Daya Manusia, Otonomi Daerah dan
Pengembangan Wilayah dalam Tiga Pilar Pengembangan Wilayah. Pusat
Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah BPPT. Jakarta.
________., 2009. Modernising Vocational Education and Training. Federal Institute for
Vocational Education and Training. Bonn, Germany.