Anda di halaman 1dari 4

IJTIHAD

SYARAT-SYARAT IJTIHAD
a. Menguasai bahasa Arab
Ulama Ushul telah bersepakat, bahwa mujtahid disyaratkan harus menguasai bahasa Arab,
karena al-Quran diturunkan sebagai sumber syariat dalam bahasa Arab. Demikian juga
dengan Sunnah yang berfungsi sebagai penjelas dari al-Quran, juga tersusun dengan bahasa
Arab.
Imam Ghazali memberikan kriteri penguasaan bahasa Arab oleh seorang mujtahid, dengan
mengatakan: seorang mujtahid harus mampu memahami ucapan orang Arab dan kebiasaan-
kebiasaan yang berlaku dalam pemakaian bahasa Arab di kalangan mereka. Sehingga ia bisa
membedakan antara ucapan yang sharih, zhahir, dan mujmal; hakekat danmajaz; yang umum
yang khusus; muhkam dan mutasyabih; muthlaq dan muqayad, nash serta mudah atau tidaknya
dalam pemahaman.
b. Mengerti nasakh dan mansukh
Syarat ini telah ditentukan oleh imam Syafii dalam kitabnya ar-Risalah, sebagaimana ia
mensyaratkan kemampuan berbahasa Arab. Persyaratan ini didasarkan kepada kedudukan dan
nilai al-Quran sebagai pedoman dan sumber utama syariat yang bersifat abadi sampai hari
qiamat. Karena ilmu yang terkandung di dalamnya begitu luas, sampai-sampai Ibnu Umar
mengatakan bahwa Barangsiapa menguasai al-Quran, sesungguhnya ia telah membawa missi
kenabian(nubuwwah).
Para ulama berpendapat bahwa seorang mujtahid harus mengerti secara mendalam ayat-ayat
yang membahas tentang hukum yang terdapat dalam al-Quran yang jumlahnya kira-kira ada 500
ayat. pengetahuannya terhadap ayat-ayat tersebut harus mendalam sampai pada
yang khas dan am serta takhshish yang datang dari as-Sunah. Demikian juga harus mengerti
ayat-ayat yang dinasakh hukumnya berdasarkan teori bahwa pada ayat-ayat al-Quran itu terdapat
ayat yang menasakh dan yang dinasakh. Dengan menguasai ayat-ayat hukum tersebut, seorang
mujtahid juga harus mengerti meskipun secara global isi ayat-ayat yang lain merupakan suatu
kesatuan yang utuh yang tidak bisa dipisah-pisahkan satu begaian dengan bagian yang lain.
Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Asnawi: Sesungguhnya untuntuk mengetahui perbedaan
antara ayat-ayat hukum dengan ayat lainnya harus mengerti keseluruhannya.
c. Mengerti Sunnah (Hadits)
Syarat ini telah disepakati secara bulat oleh para ulama, bahwa seorang mujtahid harus mengerti
betul tentang sunnah, baik qauliyah (perkataan), filiyah (perbuatan),
maupun taqririyah (ketetapan), minimal pada setiap pokok masalah (bidang) menurut pendapat
bahwa ijtihad itu bisa dibagi pembidangannya. Menurut pendapat yang menolak adanya
pembidangan dalam ijtihad, maka seorang mujtahid harus menguasai seluruh Sunnah yang
mengandung hukum taklifi, dengan memahami isinya serta menangkap maksud hadits dan
kondisi yang melatarbelakangi datangnya suatu hadits. Mujtahid juga harus
mengetahui nasakh dan mansukh dalam Sunnah, am dan khasnya, muthlaq danmuqayadnya,
takhshish dan yang umum. Demikian juga harus mengerti alur riwayat dan sanad hadits,
kekuatan perawi Hadits, dalam arti mengetahui sifat dan keadaan perawi Hadits yang
menyampaikan Hadits-hadits Rasulullah s.a.w.
d. Mengetahui letak ijma dan khilaf
Dengan mengetahui letak ijma yang telah disepakati para ulama salaf, maka seorang mujtahid
diharuskan juga mengetahui ikhtilaf (perbedaan pendapat) yang terjadi di antara fuqaha,
misalnya perbedaan pendapat serta metode antara ulama Fiqh di Madinah dan Ulama Fiqh di
Irak. Dengan demikian, mujtahid secara rasional akan mampu membeda-bedakan antara
pendapat yang shahih dengan yang tidak shahih, kaitan dekat atau jauhnya dengan sumber al-
Quran dan hadits. Imam Syafii mewajibkan seorang mujtahid memiliki kemampuan demikian,
sebagaimana dijelaskan dalam kitabnya ar-Risalah.
e. Mengetahui Qiyas
Imam syafii mengatakan, bahwa ijtihad itu sesungguhnya adalah mengetahui jalan-jalan qiyas.
Bahkan, dia juga mengatakan bahwa ijtihad itu adalah qiyas itu sendiri. Oleh sebab itu, seorang
mujtahid harus mengetahui perihal qiyas yang benar. Untuk itu, dia harus mengatahui hukum-
hukum asal yang ditetapkan berdasar nash-nash sebagai sumber hukum tersebut, yang
memungkinkan seorang mujtahid memilih hukum asal yang lebih dekat dengan obyek yang
menjadi sasaran ijtihadnya.
Pengetahuan tentang qiyas demikian memerlukan mujtahid mengetahui tiga hal, yaitu:
1. Mengetahui seluruh nash yang menjadi dasar hukum asal beserta illatnya untuk dapat
menghubungkan dengan hukum furu (Cabang).
2. mengetahui aturan aturan qiyas dan batas-batasnya, seperti tidak boleh mengqiyaskan
dengan sesuatu yang tidak bisa meluas hukumnya, serta sifat-sifat illatnya sebagai dasar qiyas
dan faktor yang menghubungkan denganfuru.
3. Mengetahui metode yang dipakai oleh ulama salaf yang shalih dalam mengetahui illat-
illat hukum dan sifat-sifat yang dipandang sebagai prinsip penetapan dan penggalian hukum
fiqh.



TINGKATAN MUJTAHID
Mujtahid terbagi kepada beberapa tingkat, yaitu mujtahid mustaqil, mujtahid muntasib, mujtahid
fi al-mazhab, dan mujtahid fi at-tarjih .
1. Mujtahid Mustaqil (independen) adalah tingkat tertinggi, disebut juga sebagai al-mujtahid fi
al-Syari, atau Mujtahid Mutlaq. Untuk sampai ke tingkat ini seseorang harus memenuhi syarat-
syarat tersebut. Mereka disebut mujtahid mustaqil, yang berarti independen, karena mereka
terbebas dari bertaqlid kepada mujtahid lain, baik dalam metode istinbat (ushul fiqh) maupun
dalam furu (fikih hasil ijtihad). Mereka sendiri mempunyai metode istinbat, dan mereka
sendirilah yang menerapkan metode instinbat itu dalam berijtihad untuk membentuk hukum
fikig. Contohnya, para imam mujtahid yang empat orang, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik,
Imam SyafiI, dan Imam Ahmad bin Hanbal.
2. Mujtahid Muntasib, yaitu mujtahid yang dalam masalah ushul fiqh, meskipun dari segi
kemampuannya ia mampu merumuskannya, namun tetap berpegang kepada Ushul Fiqh Abu
Hanifah. Akan tetapi, mereka bebas dalam berijtihad, tanpa terikat dengan seorang mustaqil.
Menurut Ibn Abidin (w. 1252 H), seorang pakar fikih mashab Hanafi, seperti dikutip Satria
Efendi, termasuk dalam kelompok ini murid-murid Abu Hanifah, seperti Muhammad bin al-
Hasan al-Syaibani dan Qadhi Abu Yusuf. Dari kalangan Syafiiyah antara lain adalah al-
Muzanni, dan dari kalangan Malikiyah antara lain Abdurrahman bin al-Qasim, dan Abdullah bin
wahhab. Mujtahid seperti ini dinisbahkan kepada salah seorang mujtahid mustaqil karena
memakai metode istinbatnya.
3. Mujtahid fi al-Mazhab, yaitu tingkat mujtahd yang dalam Ushul Fiqh dan furu bertaklid
kepada imam mujahid tertentu. Mereka disebut mujtahid karena mereka berijtihad
mengistibatkan hukum pada permasalahan-permasalahan yang tidak ditemukan dalam buku-
buku mazhab imam mujtahid yang menjadi panutannya. Mereka tidak lagi melakukan ijtihad
pada masalah-masalah yang sudah ditegaskan hukumnya dalam buku-buku fikhih mazhabnya.
Misalnya, Abu Al-Hasan karkhi (260 H-340H), Abu jafar at Thahawi (230 -321 H) dan al-
Hasan bin Ziyad (w.204 H) dari kalangan hanafiyah, Muhammad bin Abdullah al-Abhari (289
H-375 H) dari kalangan Malikiyah, dan Ibnu Abi Hamid al-Asfrini (344 H-406 H) dari kalangan
syafiiyah.
4. Mujtahid fi at-Tarjih, yaitu mujtahid yang kegiatannya bukan mengistinbatkan hukum tetapi
terbatas memperbandingkan berbagai mazhab atau pendapat, dan mempunyai kemampuan untuk
mentarjih atau memilih salah satu pendapat terkuat dari pendapat-pendapat yang ada, dengan
memakai metode tarjih yang telah dirumuskan oleh ulama-ulama mujtahid sebelumnya. Dengan
metode ini, ia sanggup mengemukakan di mana kelemahan dalil yang dipakai dan dimana
keunggulannya