Anda di halaman 1dari 9

2.1.

ASFIKSIA
2.1.1. Defenisi Asfiksia
Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan
pertukaran udara pernapasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia)
disertai dengan peningkatan karbon dioksida (hiperkapnea). Dengan demikian
organ tubuh mengalami kekurangan oksigen (hipoksia hipoksik) dan terjadi
kematian (Ilmu Kedokteran Forensik, 1!). "e#ara klinis keadaan asfiksia sering
disebut anoksia atau hipoksia (Amir, $%%&).
2.1.2. Etiologi Asfiksia
Dari segi etiologi, asfiksia dapat disebabkan oleh hal berikut (Ilmu
Kedokteran Forensik, 1!)'
1. (enyebab alamiah, misalnya penyakit yang menyumbat saluran
pernapasan seperti laringitis difteri atau menimbulkan gangguan
pergerakan paru seperti fibrosis paru.
$. )rauma mekanik yang menyebabkan asfiksia mekanik, misalnya trauma
yang mengakibatkan emboli udara *ena, emboli lemak, pneumotoraks
bilateral+ sumbatan atau halangan pada saluran napas dan sebagainya.
,. Kera#unan bahan yang menimbulkan depresi pusat pernapasan, misalnya
barbiturat dan narkotika.
(enyebab tersering asfiksia dalam konteks forensik adalah jenis asfiksia
mekanik, dibandingkan dengan penyebab yang lain seperti penyebab alamiah
ataupun kera#unan (Knight, 1- ).
2.1.3. Fisiologi
"e#ara fisiologi dapat dibedakan . bentuk anoksia (Amir, $%%&), yaitu'
1. Anoksia Anoksik (Anoxic anoxia)
(ada tipe ini /$ tidak dapat masuk ke dalam paru0paru karena'
)idak ada atau tidak #ukup /$. 1ernafas dalam ruangan tertutup,
kepala di tutupi kantong plastik, udara yang kotor atau busuk,
udara lembab, bernafas dalam selokan tetutup atau di pegunungan
yang tinggi. Ini di kenal dengan asfiksia murni atau sufokasi.
2ambatan mekanik dari luar maupun dari dalam jalan nafas seperti
pembekapan, gantung diri, penjeratan, pen#ekikan, pemitingan atau
korpus alienum dalam tenggorokan. Ini di kenal dengan asfiksia
mekanik.
$. Anoksia Anemia (Anemia anoxia)
Di mana tidak #ukup hemoglobin untuk memba3a oksigen. Ini didapati
pada anemia berat dan perdarahan yang tiba0tiba. Keadaan ini diibaratkan
dengan sedikitnya kendaraan yang memba3a bahan bakar ke pabrik.
,. Anoksia 2ambatan (Stagnant anoxia)
)idak lan#arnya sirkulasi darah yang memba3a oksigen. Ini bisa karena
gagal jantung, syok dan sebagainya. Dalam keadaan ini tekanan oksigen
#ukup tinggi, tetapi sirkulasi darah tidak lan#ar. Keadaan ini diibaratkan
lalu lintas ma#et tersendat jalannya.
.. Anoksia 4aringan (Hystotoxic anoxia)
5angguan terjadi di dalam jaringan sendiri, sehingga jaringan atau tubuh
tidak dapat menggunakan oksigen se#ara efektif. )ipe ini dibedakan atas'
6kstraseluler
Anoksia yang terjadi karena gangguan di luar sel. (ada kera#unan
"ianida terjadi perusakan pada enzim sitokrom oksidase, yang dapat
menyebabkan kematian segera. (ada kera#unan 1arbiturat dan
hipnotik lainnya, sitokrom dihambat se#ara parsial sehingga kematian
berlangsung perlahan.
Intraselular
Di sini oksigen tidak dapat memasuki sel0sel tubuh karena penurunan
permeabilitas membran sel, misalnya pada kera#unan 7at anastetik
yang larut dalam lemak seperti kloform, eter dan sebagainya.
8etabolik
Di sini asfiksia terjadi karena hasil metabolik yang mengganggu
pemakaian /$ oleh jaringan seperti pada keadaan uremia.
"ubstrat
Dalam hal ini makanan tidak men#ukupi untuk metabolisme yang
efisien, misalnya pada keadaan hipoglikemia.
2.1.4. Patologi
Dari pandangan patologi, kematian akibat asfiksia dapat dibagi dalam $
golongan (Amir, $%%&), yaitu'
1. (rimer (akibat langsung dari asfiksia)
Kekurangan oksigen ditemukan di seluruh tubuh, tidak tergantung pada
tipe dari asfiksia. "el0sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen.
1agian0bagian otak tertentu membutuhkan lebih banyak oksigen, dengan
demikian bagian tersebut lebih rentan terhadap kekurangan oksigen.
(erubahan yang karakteristik terlihat pada sel0sel serebrum, serebellum,
dan basal ganglia.
Di sini sel0sel otak yang mati akan digantikan oleh jaringan glial,
sedangkan pada organ tubuh yang lain yakni jantung, paru0paru, hati,
ginjal dan yang lainnya perubahan akibat kekurangan oksigen langsung
atau primer tidak jelas.
$. "ekunder (berhubungan dengan penyebab dan usaha kompensasi dari
tubuh)
4antung berusaha mengkompensasi keadaan tekanan oksigen yang rendah
dengan mempertinggi outputnya, akibatnya tekanan arteri dan *ena
meninggi. Karena oksigen dalam darah berkurang terus dan tidak #ukup
untuk kerja jantung, maka terjadi gagal jantung dan kematian berlangsung
dengan #epat. Keadaan ini didapati pada'
(enutupan mulut dan hidung (pembekapan).
/bstruksi jalan napas seperti pada mati gantung, penjeratan,
pen#ekikan dan korpus alienum dalam saluran napas atau pada
tenggelam karena #airan menghalangi udara masuk ke paru0paru.
5angguan gerakan pernafasan karena terhimpit atau berdesakan
(Traumatic asphyxia).
(enghentian primer dari pernafasan akibat kegagalan pada pusat
pernafasan, misalnya pada luka listrik dan beberapa bentuk kera#unan.
2.1.5. Stadium Pada Asfiksia
(ada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala yang dapat
dibedakan dalam . stadium (Amir, $%%&), yaitu'
1. "tadium Dispnea
)erjadi karena kekurangan /$ disertai meningkatnya kadar 9/$ akan
merangsang pusat pernafasan, gerakan pernafasan (inspirasi dan ekspirasi)
bertambah dalam dan #epat disertai bekerjanya otot0otot pernafasan
tambahan. :ajah #emas, bibir mulai kebiruan, mata menonjol, denyut nadi
dan tekanan darah meningkat. 1ila keadaan ini berlanjut, maka masuk ke
stadium kejang.
$. "tadium Kejang
1erupa gerakan klonik yang kuat pada hampir seluruh otot tubuh,
kesadaran hilang dengan #epat, spinkter mengalami relaksasi sehingga
feses dan urin dapat keluar spontan. Denyut nadi dan tekanan darah masih
tinggi, sianosis makin jelas. 1ila kekurangan /$ini terus berlanjut, maka
penderita akan masuk ke stadium apnoe.
,. "tadium Apnea
Korban kehabisan nafas karena depresi pusat pernafasan, otot menjadi
lemah, hilangnya refleks, dilatasi pupil, tekanan darah menurun,
pernafasan dangkal dan semakin memanjang, akhirnya berhenti bersamaan
dengan lumpuhnya pusat0pusat kehidupan. :alaupun nafas telah berhenti
dan denyut nadi hampir tidak teraba, pada stadium ini bisa dijumpai
jantung masih berdenyut beberapa saat lagi.
8asa dari saat asfiksia timbul sampai terjadinya kematian sangat
ber*ariasi. ;mumnya berkisar antara ,0< menit.
2.1.6. Tanda Kadinal Asfiksia
"elama beberapa tahun dilakukan autopsi untuk mendiagnosis kematian
akibat asfiksia, telah ditetapkan beberapa tanda klasik (Knight, 1-), yaitu'
a. )ardieu=s spot (Petechial hemorrages)
)ardieu=s spot terjadi karena peningkatan tekanan *ena se#ara akut
yang menyebabkan o*erdistensi dan rupturnya dinding perifer
*ena, terutama pada jaringan longgar, seperti kelopak mata,
diba3ah kulit dahi, kulit dibagian belakang telinga, circumoral
skin, konjungti*a dan sklera mata. "elain itu juga bisa terdapat
dipermukaan jantung, paru dan otak. 1isa juga terdapat pada
lapisan *iseral dari pleura, perikardium, peritoneum, timus,
mukosa laring dan faring, jarang pada mesentrium dan intestinum.
b. Kongesti dan /edema
Ini merupakan tanda yang lebih tidak spesifik dibandingkan
dengan ptekie. Kongesti adalah terbendungnya pembuluh darah,
sehingga terjadi akumulasi darah dalam organ yang diakibatkan
adanya gangguan sirkulasi pada pembuluh darah. (ada kondisi
*ena yang terbendung, terjadi peningkatan tekanan hidrostatik
intra*askular (tekanan yang mendorong darah mengalir di dalam
*askular oleh kerja pompa jantung) menimbulkan perembesan
#airan plasma ke dalam ruang interstitium. 9airan plasma ini akan
mengisi pada sela0sela jaringan ikat longgar dan rongga badan
(terjadi oedema).
#. "ianosis
8erupakan 3arna kebiru0biruan yang terdapat pada kulit dan
selaput lendir yang terjadi akibat peningkatan jumlah absolut 2b
tereduksi (2b yangtidak berikatan dengan /$). Ini tidak dapat
dinyatakan sebagai anemia, harus ada minimal < gram hemoglobin
per 1%% ml darah yang berkurang sebelum sianosis menjadi bukti,
terlepas dari jumlah total hemoglobin. (ada kebanyakan kasus
forensik dengan konstriksi leher, sianosis hampir selalu diikuti
dengan kongesti pada 3ajah, seperti darah *ena yang kandungan
hemoglobinnya berkurang setelah perfusi kepala dan leher
dibendung kembali dan menjadi lebih biru karena akumulasi darah.
d. )etap #airnya darah
)erjadi karena peningkatan fibrinolisin paska kematian. 5ambaran
tentang tetap #airnya darah yang dapat terlihat pada saat autopsi
pada kematian akibat asfiksia adalah bagian dari mitologi forensik.
(embekuan yang terdapat pada jantung dan sistem *ena setelah
kematian adalah sebuah proses yang tidak pasti, seperti akhirnya
pen#airan bekuan tersebut diakibatkan oleh en7im fibrinolitik. 2al
ini tidak rele*an dalam diagnosis asfiksia
2.1.!. Tanda K"usus Asfiksia
Didapati sesuai dengan jenis asfiksia (Amir, $%%!), yaitu'
a. (ada pembekapan, kelainan terdapat disekitar lobang hidung dan
mulut. Dapat berupa luka memar atau le#et. (erhatikan bagian di
belakang bibir luka akibat penekanan pada gigi, begitu pula di
belakang kepala atau tengkuk akibat penekanan. 1iasanya korban
anak0anak atau orang yang tidak berdaya. 1ila dilakukan dengan
bahan halus, kadang0kadang sulit mendapatkan tanda0tanda
kekerasan.
b. 8ati tergantung. Kematian terjadi akibat tekanan di leher oleh
pengaruh berat badan sendiri. Kesannya leher sedikit memanjang,
dengan bekas jeratan di leher. Ada garis ludah di pinggir salah satu
sudut mulut. 1ila korban #ukup lama tergantung, maka lebam
mayat didapati di kedua kaki dan tangan. >amun bila segera
diturunkan, maka lebam mayat akan didapati pada bagian terendah
tubuh. 8uka korban lebih sering pu#at, karena peristi3a kematian
berlangsung #epat, tidak sempat terjadi proses pembendungan.
(ada pembukaan kulit di daerah leher, didapati resapan darah
setentang jeratan, demikian juga di pangkal tenggorokan dan
oesophagus. )anda0tanda pembendungan seperti pada keadaan
asfiksia yang lain juga didapati. ?ang khas disini adalah adanya
perdarahan berupa garis yang letaknya melintang pada tunika
intima dari arteri karotis interna, setentang dengan tekanan tali
pada leher.
)anda0tanda diatas tidak didapati pada korban yang digantung
setelah mati, ke#uali bila dibunuh dengan #ara asfiksia. >amun
tanda0tanda di leher tetap menjadi petunjuk yang baik.
2.1.#. Pemeiksaan $ena%a"
a. (ada pemeriksaan luar jena7ah dapat ditemukan (Ilmu Kedokteran
Forensik, 1!)'
1. "ianosis pada bibir, ujung0ujung jari dan kuku.
2. (embendungan sistemik maupun pulmoner dan dilatasi jantung
kanan merupakan tanda klasik pada kematian akibat asfiksia.
3. :arna lebam mayat merah0kebiruan gelap dan terbentuk lebih
#epat. Distribusi lebam mayat lebih luas akibat kadar
karbondioksida yang tinggi dan akti*itas fibrinolisin dalam
darah sehingga darah sukar membeku dan mudah mengalir.
4. )erdapat busa halus pada hidung dan mulut yang timbul akibat
peningkatan akti*itas pernapasan pada fase 1 yang disertai
sekresi selaput lendir saluran napas bagian atas. Keluar
masuknya udara yang #epat dalam saluran sempit akan
menimbulkan busa yang kadang0kadang ber#ampur darah
akibat pe#ahnya kapiler. Kapiler yang lebih mudah pe#ah
adalah kapiler pada jaringan ikat longgar, misalnya pada
konjungti*a bulbi, palpebra dan subserosa lain. Kadang0kadang
dijumpai pula di kulit 3ajah
. 5ambaran pembendungan pada mata berupa pelebaran
pembuluh darah konjungti*a bulbi dan palpebra yang terjadi
pada fase $. Akibatnya tekanan hidrostatik dalam pembuluh
darah meningkat terutama dalam *ena, *enula dan kapiler.
"elain itu, hipoksia dapat merusak endotel kapiler sehingga
dinding kapiler yang terdiri dari selapis sel akan pe#ah dan
timbul bintik0bintik perdarahan yang dinamakan sebagai
Tardieu!s spot.
(enulis lain mengatakan bah3a Tardieu!s spot ini timbul karena
permeabilitas kapiler yang meningkat akibat hipoksia.
b. (ada pemeriksaan dalam jena7ah dapat ditemukan (Ilmu Kedokteran
Forensik, 1!)'
1. Darah ber3arna lebih gelap dan lebih en#er, karena fibrinolisin
darah yang meningkat paska kematian.
2. 1usa halus di dalam saluran pernapasan.
3. (embendungan sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh
sehingga menjadi lebih berat, ber3arna lebih gelap dan pada
pengirisan banyak mengeluarkan darah.
4. (etekie dapat ditemukan pada mukosa usus halus, epikardium
pada bagian belakang jantung belakang daerah
aurikulo*entrikular, subpleura *iseralis paru terutama di lobus
ba3ah pars diafragmatika dan fisura interlobaris, kulit kepala
sebelah dalam terutama daerah otot temporal, mukosa epiglotis
dan daerah sub0glotis.
. 6dema paru sering terjadi pada kematian yang berhubungan
dengan hipoksia.
". Kelainan0kelainan yang berhubungan dengan kekerasan, seperti
fraktur laring langsung atau tidak langsung, perdarahan faring
terutama bagian belakang ra3an krikoid (pleksus *ena
submukosa dengan dinding tipis).