Anda di halaman 1dari 23

BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Stres psikososial dan kemampuan menghadapi gangguan kulit
Pengalaman klinis dari para ahli kulit menunjukkan bahwa kebanyakan
pasien mampu membuat penyesuaian yang tepat terhadap gangguan kulit mereka
dan tidak menemukan distress. Namun demikian, beberapa pasien dengan
penyakit kulit kronik dan kondisi mengubah penampilan dengan menjalani risiko
distress sosial, psikologis, dan fisik. Pengalaman distress psikososial dari pasien
ada bervariasi dan bergantung pada : (1) karakteristik gangguan kulit sendiri, (2)
karakteristik individual dari pasien dan situasi kehidupannya, (3) perilaku kultural
yang berhubungan dengan penyakit kulit (sering dinyatakan sebagai stigma).
1

2. 1. 1. Karakteristik gangguan dermatologis
Reaksi emosional terhadap kondisi kulit tertentu bervariasi dan
dipengaruhi oleh pemahaman sumbernya sendiri oleh pasien. Kondisi yang
diperoleh sejak lahir seperti noda anggur dapat memicu reaksi yang berbeda,
dibandingkan dengan yang dipicu oleh gangguan kulit yang diperoleh seperti
penyakit yang disebarkan secara seksual, dermatitis kontak, lichen simplex, dan
prurigo noduralis. Misalnya, dua yang terakhir dipicu oleh jejas dan dapat memicu
rasa tanggung jawab serta perasaan bersalah.
1
Dalam kondisi-kondisi yang dipicu secara genetik seperti dermatitis
atopik, psoriasis, respons pasien dapat meliputi mempersalahkan orangtua, dan
perasaan tidak beruntung, frustasi atau tidak berdaya. Penampilan lesi kulit
eksternal dapat menimbulkan beberapa tingkat gangguan penampilan yang
berbeda. Lesi-lesi kulit bisa merah, bula, oozing, krusta, atau rambut yang tebal
pada permukaan kulit. Simtom-simtom terkait dengan menetap gatal, panas, atau
nyeri yang tidak dapat ditoleran, dapat menambah distress, insomia, ansietas dan
depresi. Lokasi lesi di kulit dapat mempengaruhi kesadaran diri pasien dan
bagaimana pasien dipersepsikan oleh orang lain. Lesi yang bisa langsung dilihat
pada wajah dan tangan biasanya menyebabkan perhatian yang paling besar. Lesi
yang dijumpai pada badan dan bagian tubuh bisa merupakan sumber perhatian di
tempat-tempat umum seperti senam, klub kesehatan ataupun pantai.
1
Universitas Sumatera Utara
2. 1. 2. Karakteristik Individu
Usia dan jenis kelamin jelas panting sekali bila mempertimbangkan
kemampuan seseorang menghadapi penyakit kronik. Wanita muda yang menderita
psoriasis kemungkinan jauh lebih terganggu secara emosional dari pada pria yang
lebih tua dengan kondisi serupa. Kepribadian bisa mempengaruhi reaksi pasien
dan pengalaman subjektif penyakit dan kemampuan mengatasi. Pasien-pasien
dengan kepribadian narsissistik bisa memiliki "harapan kekaguman dan perhatian,
serta perhatian yang berlebihan mengenai bagaimana orang lain menganggap
mereka. Pasien dengan kondisi ini dapat dipermalukan oleh penyakit kulit yang
mengubah penampilan pribadinya. Pasien dengan gangguan kepribadian
borderline dapat menganggap penyakit kulit sebagai ancaman terhadap self-
image dan kebebasan (autonom) dan bereaksi dengan mood yang tidak stabil,
ansietas yang berat, dan takut ditinggalkan. Jika seseorang memiliki sifat obsesif-
kompulsif, gangguan kulit dapat mamicu perasaan tidak punya pengendalian pada
tubuhnya dan jijik yang berlebihan dengan perasaan tidak bersih atau kotor karena
lesi-lesi kulit dan pengobatan topikal. Adanya diagnosis gangguan psikiatrik pada
aksis I seperti depresi, gangguan obsesif-kompulsif, atau psikosis dapat
mempengaruhi kognitif pasien, pemikiran, dan kepercayaan tentang lesi-lesi
kulit. Pasien dengan delusi parasitosis bisa memiliki kepercayaan delusi tentang
eksposur terhadap parasit dan detail spesifik mengenai infestasi. Gangguan
depresif mayor adalah salah satu gangguan psikiatrik yang paling umum
ditemukan pada pasien-pasien dermatologi. Depresi bisa meningkatkan sensasi
gatal dalam gangguan kulit pruritik seperti dermatitis atopik, psoriasis, dan
urtikaria idiopatik kronik.
1

2. 1. 3. Body image dan self-schema
Menurut T.F. Cash dan T. Pruzinsky telah menyimpulkan bahwa
konseptualisasi body image adalah multifaceted dan terdiri dari beberapa persepsi,
perasaan dan pemikiran yang berhubungan tentang tubuh, dan ini terjalin dengan
perasaan inti tentang diri. Persepsi yang berhubungan dengan body image juga
memiliki komponen sosial dengan pengertian interpribadi dan estetika fisik
kultural. Self-schema memiliki banyak pada rujukan, termasuk tubuh ideal yang
Universitas Sumatera Utara
ditunjukkan secara sosial (ideal-ideal yang ditunjukkan dari media, budaya,
kelompok, dan keluarga), objective body dan tubuh ideal yang diinternalisir
(kompromi antara objective body dan ideal yang ditunjukkan secara sosial). Makin
besar kesenjangan antara tubuh yang dipersepsi dan tubuh ideal, makin besarlah
kekecewaan body image, yang berhubungan dengan harga diri yang lebih rendah.
Pada pasien dengan gangguan kulit yang merusak sacara kronik, persepsi self
image dapat berbeda yang tergantung pada sifat episodik, penampilan, dan
visibilitas lesi kulit. Perilaku yang menghindar dan sembunyi, ritual kompulsif,
depresi, dan ansietas sosial dapat juga terjadi.
1

2. 1. 4. Kesulitan Komunikasi
Studi-studi terbaru tentang hubungan antara gaya kelekatan dan membuka
diri pada pasangan menunjukkan bahwa individu yang aman dan ansietas atau
ambivalen dilaporkan lebih banyak penyingkapan diri dari pada dewasa yang
menghindari. Pola komunikasi dari individu - individu dengan ikatan aman
menunjukkan fleksibilitas yang lebih besar dan resiprositas emosional pada
berbagai masalah. Pada individu dengan penyakit kulit, perubahan dalam jaringan
sosial pasangan dapat terjadi melalui interaksi yang menurun dengan orang lain
dan peningkatan dalam kegiatan-kegiatan yang terikat di rumah. Penghindaran
bisa memiliki fungsi protektif, tetapi itu bisa juga menimbulkan kehilangan kawan
dan jaringan sosial yang terbatas. Studi Inggris melaporkan bahwa 84 persen dari
186 pasien psoriasis menyatakan bahwa isolasi sosial adalah aspek terburuk dari
penyakit mereka, berdasarkan kesulitan sosialnya.
1

2. 1. 5. Stigma mengenai penyakit kulit
Pada pasien dengan gangguan dermatologik analoginya "kegagalan kulit"
(dapat dibandingan terhadap kegagalan sistem organ lain dalam tubuh seperti
kegagalan jantung atau ginjal), menyatakan kegagalan kulit sebagai organ
ekspressi fisik, dengan demikian menimbulkan penolakan, malu, isolasi, dan
hendaya psikososial. Menurut L. H. Ginsberg dan B. G. Link mengamati
perasaan stigmatisasi pada pasien-pasien dengan psoriasis, dan analisis faktor dari
data yang menyatakan bahwa kepercayaan tentang stigmatisasi dapat
Universitas Sumatera Utara
dikelompokkan ke dalam enam dimensi: antisipasi dari penolakan (misalnya, saya
merasa tidak menarik secara fisik dan seksual bila psoriasis saya buruk);
sensitivitas terhadap pendapat orang lain (misalnya, kadang-kadang saya merasa
ditolak karena psoriasis saya); perasaan cacat (misalnya, saya yakin orang lain
berpikir bahwa pasien psoriasis adalah kotor); perasaan salah dan malu (misalnya,
psoriasis saya adalah sumber hinaan yang dalam dan malu bagi saya dan
keluarga); kerahasiaan (misalnya, saya mencoba untuk tidak membagi dengan
anggota keluarga yang jauh dari saya bahwa saya mengalami psoriasis), dan sifat
yang lebih positif yang tidak dipengaruhi oleh reaksi-reaksi negatif dari orang lain
(misalnya, jika anakku harus berkembang dengan psoriasis, dia dapat
mengembangkan kemampuan dirinya seakan-akan mengalami psoriasis).
Pengalaman penolakan sebelumnya dipertimbangkan sebagai prediktor yang kuat
dari keyakinan tersebut. Beberapa orang dengan gangguan kulit sering yakin
bahwa kesulitan utama mereka muncul dari reaksi orang lain terhadap penyakit
mereka, daripada penyakit itu sendiri.
1
Orang dengan penyakit kulit cenderung mengkonsep dirinya sendiri
sebagai yang tidak memiliki pengendalian permukaan tubuhnya. Studi-studi
psikoanalitik telah menggambarkan kulit sebagai batasan self (diri), yang
mencakup segala sesuatu yang diduga tertutup di dalam. Dalam istilah
unconscious, kulit dianggap sebagai pembatas terhadap kotoran, yang muncul dari
tubuh baik secara realitas maupun simbolis. Produk-produk tubuh dipersepsi
sebagai yang berbahaya dan merusak. Sigmund Freud merujuk kotoran sebagai
materi yang keluar dari tubuh. Mereka yang dipegaruhi dengan lesi kulit dalam
bentuk gundukan, kemerahan, kelupasan atau eksudat tidak mampu
mengendalikan "kotoran milik mereka" dan "impuls-impuls yang kotor milik
mereka" secara simbolis. Infeksi-infeksi yang berhubungan dengan penyakit kulit
yang jelas diasumsikan bersifat seksual. Perasaan bersalah yang unconscious
tentang desakan seksual dapat menyatakan kurangnya pengendalian simbolik atas
batin yang kotor atau "pemikiran dan keinginan yang kotor" dan lesi-lesi kulit di
persepsi sebagai tanda kotoran, perjangkitan, bahaya dan hukuman.
1
Hal tersebut menunjukkan bagian dari narsisisme normal yang ingin
dilihat dan dikagumi. Namun demikian, pada individu-individu dengan lesi kulit,
Universitas Sumatera Utara
akan dilihat dengan keheranan, takut atau memicu perasaan malu yang
menyakitkan dan penghinaan. Orang dengan kulit normal pada umumnya
cenderung menjauh secara fisik atau psikologis dari mereka yang menderita
penyakit kulit. Menurut Iona Ginsburg menyarankan bahwa ini dapat melibatkan
"identifikasi melarikan diri" dari orang yang menderita, yang diikuti oleh respons
empati yang negatif. Lesi kulit yang jelas melambangkan betapa cacat dan
rentannya seseorang, yang bila dipasangkan dengan perasaan malu dan keadaan
memalukan yang diamati mencetuskan kilasan yang sebentar diikuti oleh
penolakan dan kehilangan keharuan pada nyeri penderita dari kesadaran,
menghasilkan penolakan dan menjauhi dari orang-orang penyakit kulit.
Fenomena yang sama diamati pada pasien psoriasis, yang biasanya melaporkan
bahwa mereka akan menghindari penderita psoriasis walaupun mereka tidak
mengalami penyakit aktif.
1

2. 2. Depresi
Depresi merupakan salah satu bentuk sindrom gangguan kesimbangan
suasana perasaan (mood) yang sangat umum terjadi. Memang tidak semua kondisi
depresi harus dikategorikan sebagai gangguan sakit. Ada yang pencetusnya jelas
dan dapat teratasi sendiri. Adapula yang meskipun pencetusnya jelas namun
simtom atau sindrom depresinya berkepanjangan. Demikian dekatnya hal tersebut
dengan kehidupan sehari-hari, sehingga sering tidak dianggap sebagai suatu
penyakit atau kondisi sakit.
10
Depresi merupakan problem kesehatan masyarakat yang cukup serius.
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa depresi berada pada
urutan ke-4 penyakit di dunia. Sekitar 20% wanita dan 12% pria, pada suatu
waktu dalam kehidupannya pernah mengalami depresi.
10
Depresi bukanlah gangguan yang homogen, tetapi merupakan fenomena
yang kompleks. bentuknya sangat bervariasi, sehingga kita mengenal depresi
dengan simtom yang ringan, berat, dengan atau tanpa ciri psikotik,
berkomorbiditas dengan gangguan psikiatri lain atau atau dengan gangguan fisik
lain.
10

Universitas Sumatera Utara
Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ)
Indonesia Edisi III, depresi adalah suatu gangguan suasana perasaan (mood), yang
mempunyai simtom utama: afek depresi, kehilangan minat, dan kegembiraan serta
berkurangnya aktivitas, serta beberapa simtom lain, seperti konsentrasi dan
perhatian yang berkurang, harga diri dan kepercayaan diri kurang, gagasan atau
perbuatan yang membahayakan diri atau bunuh diri, tidur yang terganggu dan
nafsu makan berkurang.
11
Depresi merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan sejumlah gejala
klinik yang manifestasinya bisa berbeda pada masing-masing individu. Diagnostic
and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition (DSM-IV),
merupakan salah satu instrumen yang digunakan untuk menegakkan diagnosis
depresi.
10
Menurut revisi teks edisi ke empat dari Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR), gangguan depresif mayor (berat)
didefinisikan sebagai satu atau lebih episode depresif berat tanpa adanya riwayat
episode manik, campuran, atau hipomanik. Suatu episode depresif mayor harus
ada dialami sekurang-kurangnya selama 2 minggu, dan secara tipikal seorang
pasien mengalami depresi dan / atau kehilangan minat dalam kebanyakan
aktivitas. Seseorang dengan diagnosis episode depresif mayor harus juga
mengalami paling sedikit 4 simtom dari kriteria yang mana termasuk perubahan
nafsu makan dan berat badan, perubahan tidur dan aktivitas, pengurangan energi,
perasaan bersalah, masalah pikiran dan dalam membuat keputusan, serta adanya
pikiran berulang tentang kematian atau bunuh diri.
12,13
Dampak akne terhadap kesan tubuh dianggap sebagai faktor yang
berkontribusi untuk depresi. Karena respons terhadap pengobatan akne adalah
bervariasi dan restitutio ad integrum sering tidak segera dicapai, pengalaman
penyakit pasien bisa sama dengan pengalaman peristiwa buruk yang tidak
terkontrol. Menurut model ketidakberdayaan psikologis yang dipelajari oleh
Seligman, pengalaman ini dapat juga mengakibatkan gangguan depresif.
5
Temuan hubungan masalah akne yang dilaporkan sendiri dengan simtom
depresif dan ansietas dapat dijelaskan dalam beberapa cara :
14

a. Depresi dan ansietas dapat mengakibatkan peningkatan dalam pelaporan
sendiri pada pasien akne. Siswa-siswa dengan simtom depresi dan ansietas
Universitas Sumatera Utara
bisa mempersepsi lebih banyak penyakit kulit sehingga lebih mungkin
melaporkannya dan menyatakan keparahannya. Atau kemungkinan
keadaan jiwa individu mempengaruhi keparahan akne. Bahkan, telah
dilaporkan bahwa akne membaik pada pasien depresi yang diobati dengan
Paroxetine.
b. Akne dapat menjadi faktor kontribusi terhadap depresi dan ansietas. Ini
bisa dimodulasi dengan negative self-image, harga diri yang rendah dan
gangguan sosial dan pekerjaan yang ditemukan pada pasien akne.
c. Ada faktor lain yang turut mempengaruhi angka akne dan simtom depresif
dan ansietas, misalnya perubahan hormon yang terjadi selama puber bila
angka akne dan gangguan afektif diketahui meningkat.

2. 3. Psikopatologi
Kerusakan yang timbul akibat akne bisa mengakibatkan konsekuensi
emosional yang serius, termasuk depresi, fobia sosial, amarah, dan harga diri yang
rendah. Satu studi melaporkan 5,6 % prevalensi ide bunuh diri pada remaja dan
dewasa muda dengan akne wajah nonkistik. Pada studi yang luas dari 4.376
pasien dengan gangguan dermatologis, 53% pasien dengan akne dilaporkan
bahwa ada hubungan kronologis yang dekat (latensi rerata 2 hari) antara stres
emosional dan eksaserbasi lesi akne mereka.
18
Dalam sebuah studi 317 siswa yang berusia 14-16 tahun, mereka dengan lesi
signifikan (lebih dari 12 lesi) memiliki tingkat kesulitan perilaku dan emosional
yang lebih tinggi dari pada mereka dengan akne minimal. Remaja sangat peka
terhadap masalah-masalah penerimaan di antara sesama dan sangat menyadari
penampilan mereka. Mereka rentan mengalami fobia sosial dan dapat merasa
terganggu dalam gaya hidupnya. Akne dapat secara signifikan mengganggu
interaksi sosial, kegiatan olah raga, prestasi sekolah dan perkencanan.
18







Universitas Sumatera Utara
2. 3. 1. Simtom-simtom depresif yang berhubungan dengan akne
Simtom-simtom depresif yang berhubungan dengan akne adalah reaksi
yang sering terhadap keprihatinan kesan tubuh (body image) pada kaum remaja
dan orang-orang muda. Ada hubungan positif yang sangat signifikan antara akne
dan self-image yang buruk. Dalam sebuah studi, pasien selalu menilai akne
sebagai yang lebih berat dari pada yang dibuat oleh klinisan, dan mereka menilai
kepuasannya dengan hasil pengobatan lebih rendah dari pada penilai dermatolog.
Beda dengan psoriasis, keparahan akne belum tentu berkorelasi dengan keparahan
depresi, dan bahkan akne ringan sampai sedang dan dihubungkan dengan depresi,
ide bunuh diri, dan bunuh diri yang berhasil. Sering kali, adanya gangguan
psikiatrik primer seperti obsessive-compulsive disorder (OCD), gangguan waham,
atau gangguan makan bisa menambah terhadap keparahan dan kronik akne.
Contoh yang baik adalah akne excoriee, di mana kebutuhan pasien untuk selalu
menusuk lesi akne yang mengakibatkan kerusakan berat dari skar.
18
Depresi dan bunuh diri terjadi pada remaja dan dewasa muda. Meskipun
laporan kasus menyarankan hubungan antara isotretinoin dan depresi dan bunuh
diri, studi observasi dan studi epidemiologik, yang teliti dengan desain berbeda
tidak menunjukkan adanya pengaruh penggunaan isotretinoin dalam terjadinya
depresi dan ide bunuh diri yang meningkat. Ini adalah bijaksana bagi praktisi
untuk melanjutkan penggunaan isotretinoin untuk mengobati akne berat,
meskipun pada saat sama menginformasikan pada pasien dan keluarganya bahwa
simtom-simtom depresif seharusnya di nilai secara aktif pada setiap kunjungan,
dan bila perlu rujuk pada ahli psikiater dan penghentian isotretinoin seharusnya
dipertimbangkan.
2
Suatu studi prospektif mengevaluasi simtom-simtom depresif dan kualitas
hidup dari pasien akne yang diobati dengan isotretinoin dibandingkan dengan
dapat pengobatan antibiotik / topikal dalam waktu 6 bulan ditemukan tidak
terdapat perbedaan simtom-simtom depresif yang signifikan pada ke dua
kelompok. Pengobatan akne yang berhasil dengan isotretinoin telah dihubungkan
dengan pengurangan simtom-simtom ansietas dan depresi dan pengaruh
psikologis positif pada sebagian besar pasien. Meskipun kurangnya data ilmiah
yang kuat, isotretinoin telah dihubungkan dengan keberadaan depresi berat pada
beberapa pasien.
1
Universitas Sumatera Utara

Uhlenhake E dan kawan-kawan, pada tahun 2010 menemukan depresi 2-3
kali lebih sering pada pasien-pasien akne dibandingkan populasi umum, dimana
8,8 % pasien akne memiliki depresi klinis. Mayoritas kasus depresi dan
pengobatan antidepresan telah di observasi pada pasien usia 18 tahun dengan
presentasi tertinggi pada kelompok usia 36-64 tahun. Sekitar 65,2 % populasi
akne pada wanita dilaporkan 2 kali lebih banyak daripada depresi pada pria
( 10,6 % wanita vs 5,3 % pria). Keterbatasan penelitian ini, hanya melaporkaan
pasien-pasien yang mencari pengobatan untuk akne mereka dan juga telah
melaporkan depresi klinis. Ini mungkin prevelensi total akne dan hubungan
depresi di bawah perkiraan dan associated depression.
3
Aktan S dan kawan-kawan, pada tahun 2000 meneliti prevalensi akne
pada remaja 2657 siswa sekolah menemukan 615 subjek (23, 1 %) dinilai
memiliki akne. Prevalensi anak pria dan wanita adalah berturut-turut 16,1 % dan
29,2 % ( p < 0,01). Dua ratus dua puluh lima (15,8 %) dari 1424 pria dan hanya
109 (18,8 %) dari 1233 anak wanita memiliki akne yang sedang / berat / sangat
berat ( p < 0,01). Kelompok akne dan kontrol menunjukkan tidak terdapat
perbedaan yang digunakan pada skor sub skala ansietas dan depresi pada Hospital
Anxiety Depression Scale (HAD). Keparahan akne tidak berkorelaksi dengan skor
sub skala ansietas / depresi berdasarkan HAD.
29

Purvis D dan kawan-kawan, pada tahun 2006, penelitian analisis sekunder
pada survei cross-sectional, menemukan masalah akne berhubungan dengan
perubahan probabilitas simtom-simtom depresif dengan rasio 2,04; ansietas
dengan rasio 2,3 dan percobaan bunuh diri dengan rasio 1,83 pada model logistik
termasuk umur, jenis kelamin, etnik, sekolah dan status ekonomi. Hubungan akne
dan percobaan bunuh diri menetap setelah di kontrol untuk simtom-simtom
depresif dan ansietas dengan rasio 1,50 (1,21-1,86).
14

Unsal A dan Ayrancl U, pada tahun 2006, studi epidemiologi dengan
sampel pelajar usia 14-19 tahun dari 6 sekolah SMU pada daerah Turki Barat
dengan menggunakan alat ukur BDI, telah mendapatkan jumlah 846 siswa
menyelesaikan survei tentang simtom depresi pada kelompok studi 51,9 % (439)
pria dan 48,1 % (407) wanita, dengan usia rerata 16,3 1,1 tahun. Menurut skala
prevalensi simtom depresi adalah 30,7 % (n = 260), 22,6 % pada pria (n = 99) dan
39,6 % pada wanita(n = 161). Setiap jenis masalah fisik (37,3 %) dengan
Universitas Sumatera Utara
penyakit-penyakit memerlukan pengobatan (51,1 %), mereka dengan akne
vulgaris (35,2 %) dan mereka yang telah mengalami setiap jenis masalah (47,3 %).
8


2. 4. Instrumen penilaian yang digunakan.
Untuk mendukung dermatolog dalam tugas yang penting tapi sulit ini, kita
menganalisa instrumen screening yang digunakan untuk mendeteksi depresi yang
dapat digunakan pada pasien dewasa yang menderita akne. Dalam konteks ini,
angka ideal screening diharapkan akan memberikan sensitivitas tinggi yaitu
90%, dikombinasikan dengan tingkat spesifitas yang tinggi. Selain itu, perlu
upaya instrumen screening diterima oleh pasien, dan dapat segera diselesaikan
tanpa kesulitan oleh pasien yang terdiri dari berbagai kelompok usia dan
kemampuan intelektual. Selanjutnya, waktu yang dibutuhkan untuk pengkajian
instrumen akan diusahakan seringkas mungkin.
9

Instrumen self-rating lebih cocok untuk mengevaluasi tingkat penyakit
pada pasien depresif sebagai screening pasien untuk simtom-simtom depresinya
(misalnya, Beck Depression Inventory, atau the Carroll Rating Scale for
Depression).
9
World Health Organization 5 Well Being Index terdiri dari 5 pertanyaan
yang merefleksikan ada atau tidaknya sejahtera yang dihubungkan dengan
perasaan sejahtera (lihat tabel 1). Pengukuran positif well being lebih dari
simtom-simtom depresi, dipertimbangkan lebih mudah di terima oleh pasien
kurangnya positif well being di percaya dapat mengetahui kemungkinan depresi.
Jumlah well being index dengan tingkat 5 keseringan ( hampir sepanjang waktu
lebih dari 2 minggu yaitu nilai 5; tidak pernah dalam 2 minggu akhir yaitu nilai 0).
Nilai kasar di bawah 13 mengindikasikan keadaan tidak sejahtera dan diperlukkan
adanya test untuk depresi.
9

Well Being Index (versi tahun 1998) adalah dicetak dengan izin masing-
masing dari 5 pernyataan untuk menilai bagaimana perasaan skala dalam dua
minggu terakhir dengan memperhatikan jumlah tertinggi rerata yang membuat
lebih sejahtera.
9



Universitas Sumatera Utara
Tabel 1. WHO- 5 Well Being Index (versi tahun 1998)

Sepanjang
waktu
Hampir
sepanjang
waktu
Lebih dari
setengah
hari /
waktu
Kurang
dari
setengah
hari /
waktu
Kadang-
kadang
Tidak
pernah
1 Saya merasa gembira dan
memiliki semangat yang besar

5

4

3

2

1

0
2 Saya merasa rileks dan santai


5

4

3

2

1

0
3 Saya merasa aktif dan kuat


5

4

3

2

1

0
4 Saat saya bangun merasa cukup
istirahat

5

4

3

2

1

0
5 Saya merasa hari-hari saya diisi
dengan sesuatu yang menarik
perhatian saya.

5

4

3

2

1

0
Penilaian :
Nilai kasar yang dihitung di jumlahkan dari 5 jawaban rentang nilai rerata dari skor
0-25.
Skor 0 menunjukkan kemungkinan terburuk dan skor 25 mewakili kemungkinan hal
yang terbaik dalam kehidupan.
Untuk mendapatkan nilai presentasi dari 0 hingga 100 maka nilai rerata dikali
dengan 4. Nilai presentasi 0 menunjukkan kemungkinan terburuk, dimana nilai 100
menyatakan kemungkinan yang terbaik dalam kehidupan.
Intrepretasi
Jika nilai rerata di bawah 13 atau jika jawab 0 hingga 1 dari 5 butir pertanyaan, maka
direkomendasikan menggunakan mayor depression ICD-10 inventing.
Nilai skor di bawah 13 mengindikasikan keadaan yang buruk dan dianjurkan untuk
menjalani test untuk dapat menurut ICD-10.
Monitoring Perbaikan
Dalam rangka memonitoring perbaikan dalam well being nilai persentasi biasa
digunakan 10% perbedaan mengindikasikan perubahan yang penting.

Dikutip dari Henkel V, Moehrenschlager M, Hegerl U, Moeller HJ, Ring J, Worret WI. Screening
for depression in adult acne vulgaris patients: tools for the dermatologist. Journal of cosmetic
dermatology; 2002; 1; 202-7.

Untuk melihat pengaruh psikososial akne menggunakan kuesioner yang
dilaporkan sendiri (self-report questionnaire). Dimana partisipan ditanyakan
tingkat respons mereka (skala 5 point : 1) tidak pernah; 2) jarang; 3) kadang-
kadang; 4) sering; 5) sepanjang waktu), untuk pernyataan-pernyataan berikut
terhadap kemampuan seorang untuk menikmati senang dan menjalankan aktivitas
Universitas Sumatera Utara
kehidupan sehari-hari yang diadaptasi dari laporan-laporan oleh Tan H dan
kawan-kawan yaitu:
7,15
a) Aku berpikir tentang jerawatku.
b) Aku memiliki pengendalian terhadap jerawatku.
c) Orang orang mentertawakan aku karena jerawat.
d) Aku nyaman dalam situasi orang-orang melihat jerawatku.
e) Aku dapat memiliki teman baru bahkan dengan jerawatku.
f) Aku tidak merasa seperti menghilang.
g) Aku merasa bagus mengenai diriku bahkan dengan jerawat.
h) Aku menyukai apa yang aku lihat di dalam cermin.
i) Aku terpengaruh oleh komentar mengenai jerawatku.
j) Jerawat membuat aku merasa depresi.
k) Aku frustasi dengan jerawatku.
l) Aku khawatir mengenai jejas dari jerawat.
Skor yang lebih tinggi maka pengaruh psikososial lebih bermakna dalam
kedua cara pandangan baik positif dan negatif.
7
Beck Depression Inventory (BDI) dikembangkan untuk mengukur
manifestasi perilaku depresi pada remaja dan dewasa. Alat ukurnya di desain
untuk menstandarisasi penilaian keparahan depresi agar dapat memonitor
perubahan sepanjang waktu atau untuk menjelaskan gangguannya secara
sederhana. Pokok-pokok dalam BDI orisinilnya diperoleh dari observasi pasien-
pasien depresi yang dibuat sepanjang perjalanan psikoterapi psikoanalitik. Sikap
dan simtom-simtom yang muncul secara spesifik terhadap kelompok pasien ini
dijelaskan oleh rentetan pernyataan, dan suatu nilai angka diberikan untuk setiap
pemyataan.
16
BDI terdiri dari kumpulan 21 pokok, masing-masingnya dengan rentetan
empat pernyataan. Pernyataan menjelaskan keparahan simtom sepanjang
rangkaian kesatuan nomor urut dari tidak ada atau ringan (nilai 0) ke berat (nilai
3). Walaupun instrumen orisinilnya dimaksudkan untuk dibacakan dengan kuat
oleh seorang pewawancara yang mencatat pilihan subjeknya, skalanya kemudian
telah digunakan sebagai kuesioner yang dilaporkan sendiri (self-report
Universitas Sumatera Utara
questionnaire).

Nilai keparahan depresi dibuat dengan menyimpulkan nilai-nilai
dari pokok-pokoknya yang disokong dari setiap pokoknya.
16


Keuntungan dari BDI adalah mudah digunakan (di isi sendiri oleh pasien),
menggunakan bahasa yang sederhana, dan mudah dinilai. Kerugiannya adalah
bahwa ada bias-bias yang telah diketahui (misalnya, wanita, pendidikan yang
rendah, remaja, orang tua, dan individu-individu yang memiliki komorbid
diagnosis psikiatri cenderung memiliki nilai yang lebih tinggi).
16
Pada Tahun 1996 versi baru dari Beck Depression Inventory II (BDI II)
dengan modifikasi dari items untuk mereflesikan kriteria DSM IV. Dan untuk
mempermudahkan kata-kata yang dipublikasikan mencakupan waktu diperluas
memasukkan kata dua minggu akhir.
16
Penggunaan BDI II biasanya dapat diselesaikan dalam waktu 5-10 menit.
Beck Depression Inventory II adalah melengkapi kuesioner dengan menggunakan
kertas dan pensil dan dapat dilakukkan sendiri atau dipersentasikan secara oral.
Alat ukur ini terdiri dari 21 item yang di isi sediri terdiri dari 4 poin antara 0 3.
Batas-batas nilai kasar antara 0-63, dan kemudian di ubah ke dalam klasifikasi
berdasarkan cut scores. Total skor antara 0-13 dipertimbangkan minimal, 14-19
ringan, 20-28 sedang, 29-63 berat.
17

2. 5. Akne Vulgaris
2. 5. 1. Definisi
Akne adalah inflamasi kelenjar pilosebasea dalam bagian-bagian tubuh
tertentu (terutama melibatkan wajah dan badan) yang paling sering terjadi pada
masa remaja dan manifestasi sendiri, sebagai comedones (comedonal acne),
papulopostules, atau nodules and cysts (nodulocytic acne and acne conglobata).
Komplikasi-komplikasi yang mungkin seperti skar atropi, depresi, atau
hipertropik bisa muncul dari seluruh jenis, tapi khususnya pada acne nodulocystic
dan conglobata acne.
18

Akne Vulgaris merupakan suatu gangguan dari unit pilosebasea yang
umum dijumpai, dapat sembuh sendiri dan terutama ditemukan pada remaja. akne
vulgaris ditandai dengan adanya papul folikular non inflamasi (komedo) dan
adanya papul inflamasi, pustul dan nodul bentuk yang berat. Akne vulgaris
Universitas Sumatera Utara
mengenai daerah kulit dengan populasi kelenjar sebasea yang paling padat; antara
lain pada daerah wajah, dada bagian atas, dan punggung.
1

2. 5. 2. Epidemiologi
Akne adalah gangguan kulit yang sangat umum diantara orang muda dan
biasanya dimulai pada usia 10 - 17 tahun pada wanita dan 14 - 19 tahun pada pria.
Perjalanan biasanya self-limiting, dan kebanyakan individu membaik dalam
beberapa bulan sampai beberapa tahun. Akne dapat bertahan sampai dekade ke
dua atau ke tiga, khususnya pada wanita; dimana pria cenderung memiliki bentuk
akne yang lebih berat.
1

Perkiraan prevalensi adalah sulit; data tetap berkisar antara 30 dan 85 %
yang berusia 11-30 tahun. Studi epidemiologis representative di kota Jerman
menunjukkan prevalensi akne 26,8 % pada sampel populasi umum. Prevalensi
akne pada sampel representative wanita Prancis (usia 25-40 tahun) adalah 17 %.
Pada pasien-pasien akne paska remaja, yaitu akne setelah usia 25 tahun, onset
yang lambat terlihat pada 18,4 % wanita dan 8,3 % pria.
5
Akne vulgaris lebih sering dijumpai pada populasi pria dibandingkan
wanita pada usia remaja. Namun pada usia dewasa, akne vulgaris lebih sering
dijumpai pada wanita. Akne vulgaris dapat timbul pada beberapa minggu dan
bulan pertama kelahiran saat bayi masih berada di bawah pengaruh hormon
maternal dan kadar hormon androgen yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal bayi
masih sangat sedikit. Akne vulgaris pada neonatus ini dapat sembuh secara
spontan. Akne vulgaris pada remaja biasanya dimulai sebelum onset pubertas, saat
kelenjar adrenal mulai menghasilkan dan melepaskan lebih banyak hormon
androgen. Akne vulgaris tidak hanya terbatas pada usia remaja. Pada usia
45 tahun, 5 % baik pria maupun wanita dapat memiliki akne vulgaris.
1
Pada populasi barat akne vulgaris diperkirakan mengenai 79-95 %
populasi usia remaja.
19
Pada pria dan wanita yang berusia lebih dari 45 tahun,
40-45 % diantaranya memiliki akne vulgaris pada wajah, dimana pada wanita
12 % dan pria 3 % menetap hingga usia pertengahan.
20
Meskipun demikian, hanya
ada beberapa penelitian mengenai prevalensi akne vulgaris pada remaja di Asia.
Dalam suatu penelitian yang dilakukkan terhadap 1.045 remaja usia 13-19 tahun
di Singapura, hasilnya memperlihatkan bahwa 88 % diantaranya ternyata
Universitas Sumatera Utara
memiliki akne vulgaris. Dari jumlah tersebut, (5,4 %) diklasifikasikan sebagai
akne ringan, 40 % akne vulgaris sedang, dan 8,6 % akne vulgaris berat.
15
Di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H. Adam Malik Medan,
berdasarkan data yang diperoleh dari rekam medis selama periode Januari-
Desembar 2008, dari total 5.573 pasien yang berobat ke Poliklinik Ilmu
Kesehatan Kulit dan Kelamin, 107 pasien (1,91 %) diantaranya merupakan pasien
akne vulgaris. Dari jumlah tersebut, berusia 0-12 tahun (8,41 %), berusia 13-35
tahun (90,6 %) dan berusis 36-65 tahun (0,93 %).

2. 5. 3. Etiologi
Meskipun etiologi yang pasti penyakit ini belum diketahui, namun ada
berbagai faktor yang berkaitan dengan patogenesis penyakit.
21
Akne memiliki etiologi multifaktor. Empat proses kontribusi yang telah
diidentifikasi adalah :
22
Sekresi sebum yang meningkat.
Follicular differentiation tidak normal yang mengakibatkan pemblokiran
saluran pilosebasea (menimbulkan komedo).
Kolonisasi saluran pilosebasea dengan propionibacterium acnes.
Pelepasan mediator inflamasi.
Sekresi androgen adalah pemicu utama untuk akne remaja. Namun
demikian, keparahan akne berbeda dari individu ke individu, dimana faktor lain
yang akan di pertimbangkan, yaitu :
22
Faktor-faktor genetik (anggota keluarga pernah akne).
Faktor-faktor endokrin (tingkat hormon androgenik yang lebih tinggi),
karena :
Polycystic ovaries.
kortikosteroid yang berlebihan (misalnya, pengobatan steroid dosis
tinggi ataupun penggunaan jarang, penyakit Chusing).
Stres psikologis dan depresi.
Faktor-faktor lingkungan seperti :
22

Kosmetik termasuk pelembab (moisturizers) tertentu, alas bedak dan
pomade (hati-hati lanolin, petrolatum, minyak nabati, butyl stearate,
Universitas Sumatera Utara
lauryl alcohol dan asam oleic).
Minyak petroleum (yang mengakibatkan chloracne).
Physical occlusion dari headbands dan chin straps (misalnya under a
violinists chin).
Obat merupakan faktor penyebab atau yang memperburuk:
22

Hormonal- systemic steroids, kontrasepsi [termasuk progestrone-
only pill (POP), depo-provera, dan lai-lain].
Antiepileptik (carbamazepine, phenytoin dan phenobarbital).
Terapi antituberculous (ethionamide, isoniazid dan rifampicin).
Lithium dan amoxapine.
Ciclosporin.
Vitamin B.

2. 5. 4. Pengaruh faktor psikoendokrin dan psikoimunologi terhadap
timbulnya akne
Stres dicatat sebagai mengakibatkan akne dalam 50%. Sebanyak 67% dari
siswa medis terhadap timbulnya akne tahun ke-6 menganggap stres sebagai
faktor pengaruh yang penting. Walaupun stres emosional dicurigai
mengeksaserbasi akne vulgaris, laporan-laporan sebelumnya yang menemukan
pengaruhnya terhadap keparahan akne masih bersifat anecdotal. Hanya sedikit
studi eksperimen yang membawa bukti dimana stres secara kenyataan
mengeksaserbasi akne.
5

Dalam studi sebelumnya, Lorenz dan kawan-kawan, telah menunjukkan
bahwa jumlah lesi-lesi akne meningkatkan beberapa hari setelah wawancara yang
stressful dimana amarah di picu secara sengaja. Etiopatologi akne yang diketahui
menyongkong bahwa ada hubungan psikoendokrin dan psikoimunologi. Hanya
sedikit studi yang menekan hubungan ini, meskipun diketahui bahwa hormon
yang dikendalikan oleh sesuatu sirkuit yang dirangkai ke central nervous system
(CNS) terlibat dalam patogenesis akne. Beberapa mekanisme telah diusulkan


Universitas Sumatera Utara
tentang mengapa stres dapat memperburuk akne vulgaris. Studi-studi sekarang
telah menunjukkan bahwa sebum manusia mengekspresikan reseptor fungsional
pada hormon corticotropin-releasing, melanocortins, beta-endorphin, vasoactive
intestinal polypeptide, neuropeptide Y dan calcitonin gene-related peptide.
Setelah pengikatan ligand, reseptor-reseptor ini memodulasi produksi cytokines
inflamasi, proliferation, differentation, lipogenesis dan metabolisme androgen
dalam sebum. Dengan menggunakan aksi autokrin, parakrin dan endokrin, faktor-
faktor neuroendoerine ini kelihatannya meneruskan stres yang di picu secara
sentral ke kelenjar sebasea, akhirnya mempengaruhi masa klinis dari akne.
Kortikosteroid dan androgen adrenal yang meningkat, kedua-duanya hormon yang
diketahui memperburuk akne, dilepaskan selama periode-periode stres yang
emosional. Zat P bisa menstimulasi lipogenesis kelenjar sebasea yang diikuti oleh
proliferasasi Propionibacterium acnes, dan bisa menghasilkan pengaruh terhadap
kelenjar sebasea oleh provokasi reaksi-reaksi inflamasi melalui mast cells.
Akhirnya, stres psikologis dapat memperlambat penyembuhan lesi sampai 40%,
yang dapat merupakan sebuah faktor dalam perbaikan lesi-lesi akne (gambar 2).
5








Gambar 1. Pengaruh faktor psikoendokrin dan psikoimunologi terhadap
timbulnya akne.
CNS = Central nervous system, ACTH : Adrenocorticotropin, TSH : Tyroid-stimulating
hormone, STH : Somatrotropic hormone

Dikutip dari : Niemeier V, Kupfer J, Gieler U. Acne vulgaris-psychosomatic aspects.
Journal complilation. Blackwell Verlag, Berlin. JDDG; 2006.4:1027-36.





Universitas Sumatera Utara
2. 5. 5. Patofisiologi
Timbul akne akibat perubahan-perubahan pola keratinisasi yang diikuti
oleh penghambat kreatin yang padat pada sekresi sebum dari kelenjar sebasea.
Keratin plugs disebut komedo, yang mengakibatkan penyumbatan dan
pengumpulan sebum dalam unit-unit pilosebaceous. Ini diikuti oleh interaksi yang
kompleks dari androgen dan bakteri (propionibacterium acne) dalam kelenjar
sebasea yang tersumbat. Androgen menstimulasi kelenjar sebasea untuk
menghasilkan lebih banyak sebum. Lipase yang mengandung bakteri
menguraikan lipid ke dalam asam lemak dan menghasilkan mediator-mediator pro
inflamasi seperti IL-1 tumor necrosis factor (TNF-). Asam-asam lemak dan
proinflammatory cytokines mengakibatkan respons inflamasi steril; jika
mengelumbung, dinding folikel pecah, kandungan [sebum, lipid, asam lemak,
keratin dan bakteri] memasuki dermis, yang memicu respons benda asing yang
inflamasi. Ini menimbulkan pembentukan pustul, nodul dan skar. Pasien-pasien
dengan akne vulgaris sering mengalami eksaserbasi lesi akne yang di picu stres.
Mekanisme yang dirumuskan melibatkan aktivitas induksi stres pada aksis
hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) yang diikuti oleh sekresi glucocorticoids
dan androgen yang meningkat, dan mengeksaserbasi respons inflamasi dalam unit
pilosebasea. Tingkat ansietas yang lebih tinggi pada pasien dengan akne kistik
telah dihubungkan dengan kadar catecholamine darah yang lebih tinggi, dan
menurun dengan pengobatan akne. Stres psikologis dari akne dapat berperan
dalam mengeksaserbasi selanjutnya dari lesi-lesi akne melalui meningkatnya
kadar catecholamine.
1










Universitas Sumatera Utara


















Gambar 2. Patofisiologi akne

Dikutip dari : Zaenglein LA, Graber EM, Thiboutot DM, Strauss JS, Acne vulgaris and
acneiform eruptions. In: Wolff K, Goldsmith LA, Kaa SI, Gilchrest BA, Paller AS,
Leffell DJ, editors. Fitz patricks dermatology n general medicine. 7
th
ed. New
York: Mc Graw- Hill Medical; 2008. p. 691.



2. 5. 6. Gambaran klinis
Tempat predileksi akne vulgaris adalah di muka, bahu, dada bagian atas,
dan punggung bagian atas. Lokasi kulit lain, misalnya leher, lengan atas, dan
glutea kadang-kadang terkena erupsi kulit polimorfi, dengan gejala predominan
salah satunya, komedo, papul yang tidak beradang. Dapat disertai rasa gatal,
namun umumnya keluhan pasien adalah keluhan estetis. Komedo adalah simtom
patognomonik bagi akne berupa papul miliar yang ditengahnya mengandung
sumbatan sebum, bila berwarna hitam akibat mengandung unsur melanin disebut
komedo hitam atau komedo terbuka (black comedo, open comedo). Sedang bila
berwarna putih kerana letaknya lebih dalam sehingga tidak mengandung unsur
melanin disebut sebagai komedo putih atau komedo tertutup (white comedo, close
comedo).
21
Akne vulgaris persisten (82%) adalah akne vulgaris yang menetap sejak
masa remaja. Mereka memiliki akne vulgaris hampir sepanjang waktu dan dapat
mengalami eksaserbasi selama periode menstruasi. Lesi yang timbul cenderung
berupa lesi papulonodular, berlokasi di atas seluruh bagian bawah wajah dan leher.
23
Universitas Sumatera Utara
Akne vulgaris onset lambat timbul setelah pubertas dan dapat dibagi
menjadi 2, yaitu a) akne vulgaris pada dagu, yaitu akne inflamasi dengan lesi-lesi
di sekitar mulut dan dagu. komedo jarang ditemukan, mengenai wanita dan
mengalami eksaserbasi selama periode menstruasi, serta cenderung menjadi
resisten terhadap pengobatan dan menghasilkan eritema paska inflamasi dengan
hipopigmentasi atau hiperpigmentasi dan skar, serta b) akne vulgaris sporadik,
yaitu akne vulgaris yang timbul kemudian tanpa alasan yang jelas atau
berhubungan dengan suatu penyakit sistemik. Jenis ini dapat berlokasi dimana
saja. Pada pasien yang berusia lebih dari 60 tahun, lesi ini tampaknya lebih sering
pada daerah badan dibandingkan wajah.
23
Tidak diketahui alasan mengapa akne vulgaris persisten pada orang
dewasa. Wanita dengan akne vulgaris persisten memiliki sekresi sebum yang lebih
besar dibandingkan yang tanpa akne vulgaris, dan rokok tampaknya menjadi suatu
faktor predisposisi bagi keadaan ini sedangkan faktor-faktor eksternal lain seperti
kosmetik, obat-obatan, atau jenis pekerjaan tidak mempunyai pengaruh apapun.
23

Akne vulgaris non inflamasi (dengan mikro dan makro komedo) dilaporkan lebih
sering pada wanita perokok dibandingkan bukan perokok pada wanita usia 25-50
tahun (41,5% berbanding 9,7%)
24
, suatu fakta yang dikonfirmasi dari penelitian
yang dilakukan oleh Schafer dan kawan-kawan, tahun 2001 yang menyatakan
bahwa prevalensi akne vulgaris lebih besar terlihat pada perokok (40,8%)
dibandingkan bukan perokok (25,5%).
25
Merokok tampaknya menjadi suatu
faktor yang berperan penting dalam, meningkatkan prevalensi dan menambah
tingkat keparahan akne vulgaris. Kira-kira 50% pasien memiliki riwayat
menderita akne vulgaris post adolescent dalam keluarga derajat pertamanya,
suatu faktor yang diketahui meningkatkan risiko terkena akne Vulgaris pada usia
dewasa sebesar 3,93 %.
26
Sekitar 85% wanita melaporkan simtom-simtom yang memburuk selama
periode premenstruasi. Sekitar sepertiga dari wanita-wanita ini memiliki keadaan
hiperandrogenisme.
23
Hiperandrogenisme harus dipertimbangkan pada pasien
wanita dengan akne vulgaris yang berat, onset yang mendadak, atau berhubungan
dengan hirsutisme atau gangguan siklus menstruasi. Gejala klinis tambahan
hiperandrogenisme antara lain gambaran cushingoid, peningkatan libido,
klitoromegali, suara yang lebih berat, akantosis nigrikans, dan alopesia
androgenetika. Wanita dengan hiperandrogenisme dapat memiliki resistensi
Universitas Sumatera Utara
insulin. Mereka memiliki risiko lebih besar untuk terkena penyakit kardiovaskular
dan diabetes melitus.
27
Pasien dengan keadaan seperti ini dan mereka dengan akne
vulgaris onset lambat dapat memiliki gangguan metabolik androgen perifer,
ovarium dan adrenal sehingga memerlukan pemeriksaan khusus.
23
Berbagai riwayat pengobatan dalam keluarga harus benar-benar diteliti
dan mengeksklusi faktor-faktor pencetus sebagaimana yang telah disebutkan
sebelumnya, yaitu obat-obatan, bahan kosmetik komedogenik, dan rokok.
23,28

GRADASI

Gradasi yang menunjukkan ringan sampai berat penyakit diperlukan bagi
pilihan pengobatan. Ada berbagai pola pembagian gradasi penyakit akne vulgaris
yang dikemukanan.
21
Menurut Wasitaatmadja pada tahun 1982 di Bagian Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo membuat gradasi akne
vulgaris sebagai berikut:
21
1. Ringan : - Beberapa lesi tidak beradang pada 1 predileksi.
- Sedikit lesi tidak beradang pada beberapa tempat
predileksi.
- Sedikit lesi beradang pada 1 predileksi.
2. Sedang : - Banyak lesi tidak beradang pada 1 predileksi.
- Beberapa lesi tidak beradang pada lebih dari 1
predileksi.
- Beberapa lesi beradang pada 1 predileksi.
- Sedikit lesi beradang pada lebih dari 1 predileksi.
3. Berat : - Banyak lesi tidak beradang pada lebih dari 1
- Banyak lebih beradang pada 1 atau lebih predileksi
predileksi.
Catatan : Sedikit : < 5, beberapa: 5-10, banyak : > 10 lesi
Tidak beradang : komedo putih, komedo hitam, papul.
Beradang : Pustul, nodus, kista.


Universitas Sumatera Utara
2. 5. 7. Diagnosis banding
Pyschogenic excoration dicirikan oleh goresan yang berlebihan atau
tusukan pada kulit normal atau kulit dengan irregularitas permukaan ringan. Itu
diperkirakan terjadi pada 2% pasien dermatologis. Komorbiditas psikiatrik pada
pasien dengan pyschogenic excoration, khususnya gangguan mood dan ansietas
adalah umum. Pasien-pasien dengan pyschogenic excoration sering mengalami
gangguan komorbid, termasuk gangguan obsessif-kompulsif, gangguan dismorfik
tubuh, gangguan penyalahgunaan zat, gangguan makan, trichotillmania,
compulsive buying, gangguan kepribadian obsessif-kompulsif dan gangguan
kepribadian borderline. Ada sedikit studi pengobatan farmakologi terhadap pasien
dengan psichogenic excoration. Studi-studi kasus, percobaan terbuka dan studi
double blind kecil telah menunjukkan kemanjuran dari selective serotonin
reuptake inhibitors ( SSRIs) pada psychogenic excoration. Belum ada percobaan
terkontrol terhadap pengobatan perilaku ataupun pengobatan psikodinamis untuk
psichogenic excoration.

Sinonim pyschogenic excoration yaitu : neurotic
excoriation, acne excoriee, pathological or compulsive skin picking, dan
dermatotillomania.
5

Erupsi akneiformis yang disebabkan oleh induksi obat, misalnya
kortikosteroid, INH, barbiturat, bromida, yodida, defenil, hidantoin, trimetadion,
andrenocorticotropic hormone (ACTH), dan lainnya, klinis berupa erupsi papul
pustul mendadak tanpa adanya komedo di hampir seluruh bagian tubuh. Dapat
disertai demam dan dapat terjadi di semua usia.
21
Akne venenata dan akne akibat rangsangan fisis. Umumnya lesi monomorfi,
tidak gatal, bisa berupa komedo atau papul, dengan tempat predileksi di tempat
kontak zat kimia atau rangsang fisisnya.
21
Rosasea merupakan penyakit peradangan kronik di daerah muka dengan
simtom eritema, pustul, telangiekstasi dan kadang-kadang disertai hipertrofi,
kelenjar sebasea. Tidak terdapat komedo kecuali bila kombinasi dengan akne.
21
Dermatitis perioral yang terjadi terutama pada wanita dengan gejala klinis
polimorfi, eritema, papul, pustul, di sekitar mulut yang terasa gatal.
21


Gangguan dismorfik tubuh adalah suatu sindrom yang dikarakteristikkan
oleh distress yang sekunder terhadap defect yang dibayangkan pada penampilan
seseorang. Walaupun itu adalah gangguan psikiatrik, kebanyakan pasien-pasien
Universitas Sumatera Utara
terkena banyak ke ahli dermatolog atau bedah plastik untuk memperbaiki yang
mereka persepsikan. Gangguan dismorfik tubuh adalah gangguan psikiatrik yang
relatif umum, dimana pasien-pasien mendatangi bedah kosmetik untuk
pengobatan defect yang mereka persepsikan atau bayangkan. Pengobatan secara
pembedahan biasanya terbukti tidak memuaskan terhadap pasien dan terhadap
praktisioner. Kadang-kadang, pasien dengan gangguan dismorfik tubuh dengan
keluhan subjektif akne yang merusak penampilan secara berat. Pasien-pasien
dengan gangguan dismorfik tubuh beresiko lebih besar untuk bunuh diri, 22%
pasien dengan gangguan dismorfik tubuh telah mencoba bunuh diri. Sebagian
besar orang dengan gangguan dismorfik tubuh mencari dan menerima pengobatan
non psikiatri, walaupun pengobatan demikian jarang memperbaiki seluruh simtom
gangguan dismorfik tubuh. Provider seharusnya memperhatikan gangguan
dismorfik tubuh, persentase klinisnya dan pengobatan yang manjur (terapi SSRIs
dan terapi perilaku kognitif).
5

Kerangka Konsep








Nilai well being index
Skor < 13
mengindikasikan keadaan
tidak kesejahteraan
Respons pasien akne
vul-garis terhadap
pengaruh psikososial
akne vulgaris
Karekteristik
demografik :
-Umur
- Jenis kelamin
- Pendidikan
- Pekerjaan
Gradasi penyakit akne
vulgaris
Ciri kepribadian pada
pasien akne vulgaris
Sindrom depresif
(minimal, ringan,
sedang, berat)
Pasien akne
vulgaris








Universitas Sumatera Utara